TARIAN SAJOJO DARI PAPUA INDONESIA

23  100 

Teks penuh

(1)

1.

TARIAN SAJOJO DARI PAPUA

Tarian tradisional Papua ini sering di mainkan dalam berbagai kesempatan seperti untuk penyambutan tamu terhormat, penyambutan para turis asing yang datang ke Papua serta dimainkan adalah dalam upacara adat.

Tarian yang biasa dibawakan oleh masyarakat pantai maupun masyarakat pegunungan pada intinya dimainkan atau diperankan dalam berbagai

kesempatan yang sama seperti: dalam penyambutan tamu terhormat, dalam penyambutan para turis asing dan yang paling sering dimainkan adalah dalam upacara adat.

Khususnya tarian panah biasanya dimainkan atau dibawakan oleh

masyarakat pegunungan dalam acara pesta bakar batu atau yang biasa disebut dengan barapen oleh masyarakat pantai. tarian ini dibawakan oleh para pemuda yang gagah perkasa dan berani.

Ada beberapa hal menarik pada tarian ini. Tari ini mengutamakan gerakan hentakan kaki dan tangan biasa juga di tarikan bersama dan tiap penari dapat bergerak ke kiri atau kekanan, belakang atau tatap muka atau maju serong kanan/ kiri dengan ketegasan gerak tari ini dapat di tarikan oleh 30,50 orang atau lebih sekaligus tanpa bersentuhan satu sama lain, setip penari utamakan kesamaan gerak denga penari lainnya.

Tari sajojo dan tari saman dari Aceh memiliki persamaan pada gerakannya yaitu dengan menghentak hentakan, tetapi perbedaannya pada tari saman di Aceh menghentak atau menepuk dengan tangan sang penari itu lalu jika di tari sajojo di papua para penari menghentak-hentakan kakinya dan

(2)

Filosofi tarian sajojo adalah tarian yang di lakukan pada saat perang. dalam tarian ini jumlah bulu berwarna kuning yang disisipkan pada hiasan kepala seorang ondoafi ternyata menandakan jumlah orang yang telah tewas dalam perang suku.

Hingga kini Papua adalah tempat dimana nilai-nilai tradisi itu masih dipegang oleh penduduk aslinya. Tak heran jika, selain kekayaan alamnya memikat hati para investor yang melihatnya sebagai sumber keuntungan tak terperi, Papua juga adalah surga bagi para antropolog di seluruh dunia.

Salah satu ekspresi budaya adalah seni. Sebagai masyarakat dengan tradisi lisan sangat kuat, ekspresi seni di Papua didominasi oleh musik, lagu, cerita rakyat, dan tarian, yang masih dapat ditemukan di seluruh daratan Papua. Jika kita pergi ke kampung-kampung, akan terkesan betapa banyak hal dahulu dilakukan dengan lagu, musik, dan tari. Salah satu seni yang sangat menggumkan dari papua adalah tarian contohnya tari sajojo.

2.

Tari Yospan tarian Persahabatan Muda-mudi

Papua

Tarian Tradisional Indonesia - Tarian Yospan adalah salah satu tarian yang berasal dari daerah Papua. Yospan tergolong dalam jenis tari pergaulan atau atau tarian persahabatan antara muda-mudi di masyarakat Papua.

Yosim Pancar atau biasa disingkat Yospan, merupakan penggabungan dari dua tarian rakyat di Papua, yaitu Yosim dan Pancar. Sejarah kemunculan tarian Yospan, bisa kita runut dari asal mula dua tarian sebelum mengalami penggabungan

menjadi Yospan.

(3)

berasal dari wilayah teluk Saireri (Serui, Waropen). Sementara Pancar adalah tarian yang berkembang di Biak Numfor dan Manokwari awal 1960-an semasa zaman kolonial Belanda di Papua.

Awal sejarah kelahirannya adalah dengan meniru gerakan-gerakan akrobatik di udara, dengan penamaan merujuk pada pancaran gas (jet). Maka tarian yang meniru gerakan akrobatik udara ini mula-mula disebut Pancar Gas, dan disingkat menjadi Pancar.

Sejak kelahirannya awal 1960-an, Pancar sudah memperkaya gerakannya dari sumber-sumber lain, termasuk dari gerakan alam. Karena kepopulerannya, tarian Yospan sering diperagakan dalam setiap event, kegiatan penyambutan, acara adat, dan festival seni budaya.

Yospan juga sering ditampilkan di Manca Negara untuk memenuhi undangan atau mengikuti Festival disana. Bahkan salah satu tarian warga Biak-Papua ini, selalu digelar setiap bulan Agustus. Mereka menari sepanjang jalan Imam Bonjol dengan di iringi musik khas Papua (Agustus 2008).

Keunikan dari tarian ini selain pada pakaian, alat musiknya, dan aksesoris, warna dan jenis pakaian yang digunakan masing-masing Grup Seni tari/sanggar seni Yospan berbeda-beda, namun tetap dengan ciri khas aksesoris Papua yang hampir sama.

Alat-alat musik yang digunakan dalam mengiringi tarian Yospan adalah Gitar, Ukulele (Juk), Tifa dan Bass Akustik (stem bass). Irama dan lagu Tari Yospan secara khusus sangat membangkitkan kekuatan untuk tarian. Keunikan lainnya yang sangat nampak adalah kebebasan gerak dalam tarian Yosim dan peniruan gerakan “aekrobati” dipadukan secara dinamis.

Jadi tarian Yosim Pancar terdiri dari dua regu, yaitu Regu Musisi dan Penari. Penari Yospan lebih dari satu orang atau grup, dengan gerakan yang penuh semangat, menarik dan dinamik. Di dalam tarian ini terdapat aneka bentuk gerak tarian seperti tari Gale-gale, tari Pacul Tiga, tari Seka, Tari Sajojo, tari Balada serta tari

Cendrawasih.

(4)

dalam terian ini, siapa saja boleh ikut masuk dalam lingkaran dan bisa langsung bergerak mengikuti penari lain. Tidak peduli apakah mereka laki-laki atau

perempuan, tua atau muda, komen atau amber. Dengan posisi para penari

biasanya membentuk lingkaran dan berjalan berkeliling sambil menari, diiringi oleh musisi.

Maka tak heran melalui tarian Yospan, komunikasi masyarakat Papua dengan pendatang menjadi positif, sekaligus memperkenalkan musik serta lagu-lagu kekinian yang diciptakan para seniman Papua.

3.

Tari Lenso Tarian Tradisional Dari Maluku

Tarian tradisional satu ini merupakan salah satu tarian penyambutan yang berasal dari Maluku. Namanya adalah Tari Lenso.

Apakah Tari Lenso itu?

Tari Lenso adalah salah satu tarian tradisional dari daerah Maluku. Tarian ini merupakan tarian yang dibawakan oleh para penari wanita dengan menggunakan sapu tangan atau selendang sebagai ciri khas dan atribut menarinya. Tari Lenso merupakan salah satu tarian tradisional yang cukup terkenal di Maluku dan sering ditampilkan di berbagai acara yang bersifat adat, hiburan, maupun pertunjukan seni budaya.

Sejarah Tari Lenso

Menurut sejarahnya, Tari Lenso sudah ada sejak bangsa Portugis datang ke Maluku. Konon tarian ini dulunya merupakan tarian yang berasal dari bangsa Portugis, kemudian dikembangkan dan diadaptasi dengan budaya masyarakat lokal di sana. Setelah bangsa Portugis meninggalkan Maluku, tarian ini masih terus ditarikan oleh masyarakat di sana, hingga akhirnya menjadi suatu tradisi dan berkembang seperti sekarang ini.

(5)

Namun, Tari Lenso di Minahasa dan di Maluku sedikit berbeda. Di Minahasa, Tari Lenso biasanya ditarikan oleh penari pria dan wanita, untuk atribut yang digunakan biasanya menggunakan selendang. Sedangkan di Maluku, Tari Lenso biasanya hanya ditarikan oleh para penari wanita saja, dan atribut yang digunakan untuk menari adalah sapu tangan.

Fungsi Dan makna Tari Lenso

Di Maluku, Tari Lenso ini biasanya lebih difungsikan sebagai tarian penyambutan. Tarian ini dapat dimaknai sebagai ungkapan selamat datang dan rasa gembira masyarakat dalam menyambut tamu tersebut. Hal ini bisa dilihat dari ekspresi dan gerakan tarinya yang lemah lembut, menggambarkan kesantunan, rasa hormat, dan penerimaan dengan tulus kasih.

Pertunjukan Tari Lenso

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, Tari Lenso biasanya hanya dibawakan oleh para penari wanita saja. Jumlah penari lenso ini biasanya terdiri dari 6-9 orang penari. Dalam pertunjukan Tari Lenso, para penari menggunakan kostum baju adat mereka dan menari dengan menggunakan sapu tangan sebagai atribut menarinya. Gerakan dalam tari lesno biasanya lebih didominasi oleh gerakan tangan yang melambai ke depan dan gerakan kaki melangkah. Dalam Tari Lenso ini terdapat 3 gerakan utama, yaitu gerak maju, gerak jumput dan gerak mundur. Semua gerakan tersebut tentunya disesuaikan dengan irama musik pengiringnya.

Pengiring Tari Lenso

Dalam pertunjukan Tari Lenso biasanya diiringi oleh alunan musik tradisional. Di Maluku biasanya Tari Lenso diiringi oleh alunan musik tradisional seperti totobuang dan tifa. Irama yang dimainkan biasanya merupakan irama bertempo sedang dan menggambarkan keceriaan.

Kostum Tari Lenso

Dalam pertunjukannya, para penari biasanya menggunakan busana adat khas Maluku. Pada bagian atas biasanya menggunakan baju sejenis kebaya berwarna putih. Sedangkan di bagian bawah biasanya menggunakan kain panjang khas Maluku. Pada bagian rambut biasanya digelung atau disanggul kemudian diberi hiasan bunga sebagai pemanis. Kemudian penari juga membawa sapu tangan di tangan mereka.

Perkembangan Tari Lenso

Dalam perkembangannya, Tari Lenso masih dilestarikan dan dikembangkan hingga sekarang. Berbagai kreasi dan variasi juga sering ditambahkan di setiap

(6)

4.

Tari Cakalele Tarian Tradisional Dari Maluku

Utara

Tarian tradisional satu ini merupakan salah satu tarian perang yang cukup terkenal di daerah Maluku. Namanya adalah Tari Cakalele.

Apakah Tari Cakalele itu?

Tari Cakalele adalah tarian tradisional sejenis tarian perang yang berasal dari daerah Maluku Utara. Tarian ini umumnya ditarikan oleh para penari pria, namun ada juga beberapa penari wanita sebagai penari pendukung. Tari Cakalele

merupakan salah satu tarian tradisional yang cukup terkenal di Maluku Utara dan sering ditampilkan di berbagai acara adat maupun hiburan. Selain itu tarian ini juga sering ditampilkan di berbagai acara budaya serta promosi pariwisata baik tingkat daerah, nasional, bahkan internasional.

Sejarah Tari Cakalele

Menurut beberapa sumber sejarah yang ada, Tari Cakalele ini dulunya berasal dari tradisi masyarakat Maluku Utara. Pada saat itu tarian ini dilakukan sebagai tarian perang para prajurit sebelum menuju medan perang maupun sepulang dari medan perang. Selain itu tarian ini juga menjadi sering dijadikan sebagai bagian dari upacara adat masyarkaat di sana.

Tari calale ini kemudian meluas ke daerah-daerah sekitar, karena pengaruh

kerajaan pada saat itu. Tarian ini kemudian dikenal di daerah lain seperti di daerah Maluku Tengah dan sebagian wilayah Sulawesi, salah satunya di Sulawesi Utara. Di kalangan masyarakat Minahasa, Cakalele juga dikenal dan menjadi bagian dari tarian perang mereka, yaitu Tari Kabasaran.

Fungsi Dan Makna Tari Cakalele

(7)

Pertunjukan Tari Cakalele

Tari Cakalele ini biasanya ditarikan secara berkelompok dan dibawakan oleh penari pria serta penari wanita sebagai penari pendukungnya. Dalam pertunjukannya penari pria menari menggunakan parang (pedang) dan salawaku (tameng) sebagai atribut menarinya. Sedangkan penari wanita biasanya menggunakan lenso (sapu tangan) sebagai atribut menarinya. Selain itu dalam Tari Cakalele ini, biasanya dipimpin oleh seorang penari yang berperan sebagai Kapitan (pemimpin tarian) dan seorang yang menggunakan tombak yang menjadi lawan tandingnya.

Dalam pertunjukan Tari Cakalele para penari menari dengan gerakannya yang khas mengikuti genderang musik pengiring. Gerakan para penari pria dan penari wanita dalam tarian ini sangat berbeda. Gerakan penari pria biasanya lebih didominasi oleh gerakan lincah para penari sambil tangan memainkan parang dan salawaku, serta gerakan kaki berjingkrak-jingkrak secara bergantian. Sedangkan gerakan para penari wanita didominasi oleh gerakan tangan yang diayunkan ke depan secara bergantian serta gerakan kaki yang dihentakan dengan cepat mengikuti iringan musik pengiring.

Pengiring Dalam Tari Cakalele

Dalam pertunjukan Tari Cakalele biasanya diiringi oleh iringan musik tradisional seperti tifa, gong, dan bia (kerang yang ditiup). Irama yang dimainkan dalam mengiringi tarian ini biasanya merupakan irama yang bertempo cepat layaknya genderang perang pada zaman dahulu, sehingga dapat memicu semangat para penari dan tak jarang membuat para penonton terbawa suasana tersebut. Gerakan para penari biasanya disesuaikan dengan musik pengiring ini. Karena kadang irama yang dimainkan bisa jadi kode saat berganti gerakan atau formasi para penari.

Kostum Tari Cakalele

Kostum yang digunakan dalam pertunjukan Tari Cakalele biasanya menggunakan kostum khusus. Para penari pria biasanya menggunakan pakaian perang yang didominasi warna merah dan kuning tua, serta dilengkapi dengan senjata seperti parang, salawaku, dan tombak. Untuk kostum kapitan biasanya menggunakan penutup kepala yang dihiasi dengan bulu-bulu ayam. Sedangkan untuk penari wanita biasanya menggunakan pakaian adat berwarna putih dan kain panjang pada bagian bawah. Serta menggengam lenso atau sapu tangan sebagai atribut

menarinya.

Perkembangan Tari Cakalele

Dalam perkembangannya, Tari Cakalele hingga kini masih terus dilestarikan dan dikembangkan oleh masyarakat di sana. Berbagai kreasi dan variasi juga sering ditambahkan dalam pertunjukannya agar menarik, namun tidak menghilangkan ciri khas dan keaslian dari tarian tersebut. Tari Cakalele ini juga masih sering

(8)

5.

Tari Topeng Malangan Kesenian Tradisional

dari Malang, Jawa Timur

Kesenian ini merupakan salah satu jenis tari topeng tradisional yang khas dari kabupaten Malang, Jawa Timur. Namanya adalah Tari Topeng Malangan.

Apakah Tari Topeng Malangan itu?

Tari Topeng Malangan adalah pertunjukan kesenian tari dimana semua

pemerannya menggunakan topeng. Kesenian ini merupakan salah satu kesenian tradisional dari Malang, Jawa Timur. Tari Topeng Malangan ini hampir sama dengan Wayang wong, namun yang membedakan adalah pemerannya

menggunakan topeng dan cerita yang sering dibawakan merupakan cerita panji.

Tari Topeng Malangan ini dilakukan oleh beberapa orang dalam satu kelompok seni atau sanggar tari dengan menggunakan topeng dan kostum sesuai tokoh dalam cerita yang dibawakan. Cerita yang angkat dalam pertunjukan Tari Topeng

Malangan biasanya adalah cerita panji dengan tokoh –tokoh seperti Raden Panji Inu Kertapati (Panji Asmarabangun), Galuh Candrakirana, Dewi Ragil Kuning, Raden Gunungsari dan lain – lain.

Dalam pertunjukan Tari Topeng Malangan ini biasanya dibagi menjadi beberapa sesi. Pertama dilakukan Gending giro yaitu iringan musik gamelan yang dilakukan oleh pengrawit untuk menandakan pertunjukan akan dimulai atau memanggil penonton untuk menyaksikan. Kedua dilakukan salam pembukaan, dalam salam pembuka ini biasanya dilakukan oleh salah satu anggota pertunjukan untuk menyapa penonton dan menceritakan sinopsis cerita yang akan dibawakan. Pada bagian ketiga dilakukan sesajen, yaitu ritual yang dilakukan agar pemain dan penonton diberi keselamatan dan pertunjukan berlangsung lancar. Dan yang terakhir adalah inti acara yaitu pertujukan Tari Topeng Malangan.

Dalam cerita yang dibawakan tersebut biasanya terdapat beberapa babak,

(9)

perang brubuh dan bubaran. Selain itu seperti halnya cerita dalam pewayangan, tokoh dalam cerita Tari Topeng Malangan ini juga terbagi menjadi beberapa ragam, diantaranya seperti bolo tengen (kesatria jawa), bolo kiwo (raksasa/klono), dewa, penari putri, dan punakawan. Untuk memerankan tokoh - tokoh pada Tari Topeng Malangan ini dibutuhkan kemampuan dalam visualisasi tokoh yang diperankan, ekspresi gerak, dan fisik yang cocok dengan tokoh.

Dalam pertunjukan Tari Topeng Malangan juga ada seorang Dalang. Selain

mengatur jalannya cerita, Dalang Dalang juga bertugas untuk memberikan sesaji dan membacakan doa pada saat sesajen. Untuk musik pengiring pertunjukan Tari Topeng Malangan ini, biasanya diiringi oleh iringan musik tradirisional seperti kendang, bonang, gong dan instrument gamelan lainnya. Selain itu, pertunjukan akan semakin meriahkan dengan adanya Panjak dan Sinden. Khusus untuk Panjak biasanya dilakukan oleh salah satu penabuh musik pengiring. Selain bertugas

memainkan musik dan menyanyi, Panjak juga sering berkomunikasi dengan Dalang dan penonton untuk memeriahkan acara.

Gambar : Tari Topeng Malangan

Dalam perkembangannya, Tari Topeng Malangan mulai meredup seiring dengan perkembangan jaman. Kurangnya regenerasi dan kesadaran masyarakat sangat mempengaruhi eksistensi dari kesenian satu ini. Namun beberapa sanggar tari di kabupaten Malang masih mempertahankan warisan budaya satu ini. Usaha

(10)

6.Tari gambyong

Tari gambyong merupakan salah satu dari bentuk tari tradisional Jawa,

khususnya Jawa Tengah. Tari gambyong merupakan hasil dari perpaduan tari rakyat dan tari keraton. Asal mula kata ‘Gambyong’ awalnya merupakan nama dari seorang waranggana atau wanita yang terpilih (wanita penghibur) yang mana pandai serta piawai dalam membawakan tarian indah serta lincah. Nama lengkap dari waranggana tersebut di atas ialah Mas Ajeng Gambyong. Awal mula, tari gambyong ini hanya sebagai bagian tari tayub atau dapat disebut tari taledhek. Istilah taledhek ini digunakan juga sebagai penyebut penari taledhek, penari tayub, serta penari gambyong. Sejarah dari Tari Gambyong yang berasal dari Jawa Tengah tersebut juga bisa diartikan sebagai tarian yang bersifat tunggal yang dapat dilakukan oleh wanita atau penari yang memang dipertunjukkan sebagai permulaan dari penampilan tari atau bisa disebut pesta tari. Gambyongan sendiri mempunyai arti

golekan atau ‘boneka terbuat dari kayu’ dan menggambarkan wanita yang menari dalam pertunjukan suatu wayang kulit saat penutupan.

Seiring dengan perkembangan zaman yang makin maju, sejarah Tari Gambyong Jawa Tengah ini juga mengalami suatu perubahan serta

perkembangan, khususnya dalam bentuk penyajiannya. Awalnya, bentuk sajian tari gambyong ini hanya didominasi oleh kreativitas serta interpretasi dari penari dengan pengendang sendiri. Di dalam urut-urutannyapun, gerak tari yang tersaji oleh penari berdasarkan atas pola dan musik dari gendang. Perkembangan selanjutnya atau kini, tari gambyong lebih didominasi adanya koreografi-koreografi dari tari gambyong. Perkembangan koreografi ini, dulunya diawali akan munculnya tari Gambyong Pareanom tahun 1950, tepatnya di Mangkunegaran, serta disusun oleh Nyi Bei Mintoraras. Setelah kemunculannya ini, yaitu tari Gambyong Pareanom. Mulai banyak pula varian dari tarian gambyong yang berkembang luar biasa di luar

(11)

Gambyong Sala Minulya, Gambyong Mudhatama, dan Gambyong Gambirsawit, Gambyong Campursari, serta Gambyong Dewandaru

7.Tarian Gandrung

Tari gandrung adalah seni pertunjukan tarian yang berasal dari Banyuwangi Jawa Timur. Tarian ini muncul sebagai perwujudan rasa syukur masyarakat setiap habis panen. Gandrung masih satu genre dengan Ketuk Tilu dari Jawa Barat, Tayub dari Jawa Tengah dan Jawa Timur bagian barat, Lengger dari wilayah Banyumas dan Joged Bumbung dari Bali. Bentuk kesenian yang didominasi tarian dengan orkestrasi khas ini populer di wilayah Banyuwangi yang terletak di ujung timur Pulau Jawa. Saking populernya, telah menjadi ciri khas dari wilayah tersebut. Tak salah jika Banyuwangi selalu diidentikkan dengan gandrung. Lihat saja di berbagai sudut wilayah Banyuwangi akan sering banyak patung penari gandrung.

Tarian yang diiringi dengan musik ini dimainkan oleh seorang wanita penari profesional yang menari bersama tamu, terutama pria secara berpasangan. Iringan musik tadi merupakan khas perpaduan budaya Jawa dan Bali.

Sementara peralatan musik pengiringnya terdiri dari gong, kluncing, biola, kendhang, dan sepasang kethuk. Kadang-kadang diselingi dengan saron Bali, angklung, atau rebana sebagai bentuk kreasi dan diiringi electone.Gandrung sering dipentaskan pada berbagai acara, seperti perkawinan, pethik laut, khitanan, tujuh belasan dan acara-acara resmi maupun tak resmi lainnya, baik di Banyuwangi maupun wilayah lainnya. Menurut kebiasaan,

(12)

8.Tari legong

. Legong adalah tarian klasik Bali yang memiliki pembendaharaan gerak yang sangat kompleks yang terikat dengan struktur tabuh pengiring yang konon merupakan pengaruh dari gambuh. Arti kata Legong berasal dari kata "leg" artinya gerakan tari yang luwes (lentur) dan kata "gong" memiliki arti alat musik gamelan. Sehingga kata "Legong" memiliki arti gerak tari yang terikat (terutama aksentuasinya) oleh alat musik gamelan yang

mengiringinya. Alat musik gamelan yang digunakan untuk mengiringi tari legong dinamakan Gamelan Semar Pagulingan.

Pada perkembangannya kemudian disebut Legong Kraton. Tarian ini

biasanya dibawakan oleh dua orang gadis atau lebih dengan menampilkan Condong (penari tambahan) sebagai pembukaan tarian. Namun biasa juga tari Legong ini dibawakan satu atau dua pasang penari tanpa menampilkan tokoh Condong lebih dahulu. Ciri khas tari Legong ini adalah pemakaian kipas para penarinya kecuali yang berperan sebagai Condong.

(13)

sakitnya, mimpinya itu dituangkan dalam repertoar tarian dengan gamelan lengkap.

Sesuai dengan sejarahnya, para penari legong yang baku adalah dua orang gadis yang belum mendapat menstruasi, ditarikan di bawah sinar bulan purnama di halaman keraton. Kedua penari ini, disebut legong dan selalu dilengkapi dengan kipas sebagai alat bantu. Pada beberapa tari legong terdapat seorang penari tambahan, disebut condong, yang tidak dilengkapi dengan kipas.

9.

Tari Sekapur Sirih

Tari Sekapur Sirih adalah salah satu tarian tradisional yang berasal dari daerah Jambi. Tarian ini termasuk jenis tarian penyambutan yang biasanya ditarikan oleh para penari wanita. Dengan berpakaian adat serta diiringi oleh alunan musik pengiring, mereka menari dengan gerakannya yang lemah lembut dan membawakan cerano sebagai tanda persembahan. Tari Sekapur Sirih merupakan salah satu tarian tradisional yang cukup terkenal di daerah Jambi dan biasanya ditampilkan untuk menyambut kedatangan tamu

terhormat yang berkunjung ke sana.

(14)

iringan musik dan lagu, sehingga membuatnya semakin menarik dan semakin populer dikalangan masyarakat.

Tari Sekapur Sirih ini difungsikan sebagai tarian selamat datang untuk menyambut para tamu terhormat yang datang ke sana. Tarian ini dimaknai sebagai sikap keterbukaan masyarakat dalam menyambut para tamu yang datang ke sana. Selain itu, Tari Sekapur Sirih juga dimaknai sebagai

ungkapan rasa syukur dan kebahagiaan masyarakat dalam menyambut para tamu tersebut.

Tari Sekapur Sirih umumnya ditampilkan oleh para penari wanita, namun ada juga yang menambahkan penari pria sebagai penari pendukung. Untuk jumlah penari pada biasanya terdiri dari 9 penari wanita dan 3 penari pria. Para penari pria ini biasanya berperan sebagai pengawal dan pembawa payung. Sedangkan penari wanita berperan sebagai penari utamanya.

Gerakan dalam tarian ini didominasi oleh gerakan yang lemah lembut dari para penari. Gerakan dalam tarian ini dibagi menjadi beberapa bagian, diantaranya gerakan melenggang, sembah tinggi, merentang kepak, bersolek, dan gerakan berputar. Sedangkan untuk pola lantai yang dimainkan biasanya disesuaikan dengan kebutuhan dan tempat pementasan.

Salah satu keunikan dalam tarian ini adalah proses penyambutannya yang dikemas dalam tarian. Di akhir tarian biasanya para penari akan

menyuguhkan cerano berisi sekapur sirih kepada tamu terhormat dan

meminta mereka untuk mencicipinya. Hal ini dilakukan sebagai symbol atau bukti bahwa para tamu tersebut menerima sambutan selamat datang dari masyarakat.

10.

Tari Bedhaya Ketawang

(15)

Tarian ini merupakan tarian sakral yang suci bagi masyarakat dan Kasunanan Surakarta. Nama Tari Bedhaya Ketawang diambil dari kata

bedhaya yang berarti penari wanita di istana, dan ketawang yang berarti langit, yang identik sesuatu yang tinggi, kemuliaan dan keluhuran.

Menurut sejarahnya, tarian ini berawal ketika Sultan Agung memerintah kesultanan Mataram tahun 1613 – 1645. Pada suatu saat Sultan Agung melakukan ritual semedi lalu beliau mendengar suara senandung dari arah langit, Sultan agung pun terkesima dengan senandung tersebut. Lalu beliau memanggil para pengawalnya dan mengutarakan apa yang terjadi. Dari kejadian itulah Sultan Agung menciptakan tarian yang diberi nama bedhaya ketawang. Ada pula versi lain yang mengatakan bahwa dalam pertapaannya

Panembahan Senapati bertemu dan memadu kasih dengan Ratu

Kencanasari atau Kangjeng Ratu Kidul yang kemudian menjadi cikal bakal tarian ini.

Namun setelah perjanjian Giyanti pada tahun 1755, dilakukan pembagian harta warisan kesultanan mataram kepada Pakubuwana III dan

Hamengkubuwana I. Selain pembagian wilayah, dalam perjanjian tersebut juga ada pembagian warisan budaya. Tari Bedhaya Ketawang akhirnya di berikan kepada kasunanan Surakarta dan dalam perkembangannya tarian ini tetap dipertunjukan pada saat penobatan dan upacara peringatan kenaikan tahta sunan Surakarta.

Tari Bedhaya Ketawang ini menggambarkan hubungan asmara Kangjeng Ratu Kidul dengan raja mataram. Semua itu diwujudkan dalam gerak tarinya. Kata – kata yang terkandung dalam tembang pengiring tarian ini

menggambarkan curahan hati Kangjeng Ratu Kidul kepada sang raja. Tarian ini biasanya di mainkan oleh sembilan penari wanita. Menurut kepercayaan masyarakat, setiap pertunjukan Tari Bedhaya Ketawang ini dipercaya akan kehadiran kangjeng ratu kidul hadir dan ikut menari sebagai penari

kesepuluh.

Sebagai tarian sakral, ada beberapa syarat yang harus di miliki setiap

penarinya. Syarat yang paling utama yaitu para penari harus seorang gadis suci dan tidak sedang haid. Jika sedang haid maka penari harus meminta ijin kepada Kangjeng Ratu Kidul lebih dahulu dengan melakukan caos dhahar di

panggung sanga buwana, keraton Surakarta. Hal ini di lakukan dengan berpuasa selama beberapa hari menjelang pertunjukan. Kesucian para penari sangat penting, karena konon katanya, saat latihan berlangsung, Kangjeng Ratu Kidul akan datang menghampiri para penari jika gerakannya masih salah.

(16)

Sejarah Tari Merak sebenarnya berasal dari bumi Pasundan ketika pada tahun 1950an seorang kareografer bernama Raden Tjetjep Somantri menciptakan gerakan Tari Merak. Sesuai dengan namanya, Tari Merak merupakan implentasi dari kehidupan burung Merak. Utamanya tingkah merak jantan ketika ingin memikat merak betina. Gerakan merak jantan yang memamerkan keindahan bulu ekornya ketika ingin menarik perhatian merak betina tergambar jelas dalam Tari Merak.

Warna kostum yang dipakai oleh para penari biasanya sesuai dengan corak bulu burung merak. Selain itu, kostum penari juga dilengkapi dengan

sepasang sayap yang mengimpletasikan bentuk dari bulu merak jantan yang sedang dikembangkan.

Dalam perjalanan waktu, Tari Merak Jawa Barat telah mengalami perubahan dari gerakan asli yang diciptakan oleh Raden Tjetjep Somantri. Adalah Dra. Irawati Durban Arjon yang berjasa menambahkan beberapa koreografi ke dalam Tari Merak versi asli. Sejarah Tari Merak tidak hanya sampai disitu karena pada tahun 1985 gerakan Tari Merak kembali direvisi.

Dalam pertunjukannya Sejarah Tari Merak Jawa Barat biasanya ditampilkan secara berpasangan dengan masing – masing penari memerankan sebagai merak jantan atau betina. Dengan iringan lagu gending Macan Ucul para penari mulai menggerakan tubuhnya dengan gemulai layaknya gerakan merak jantan yang sedang tebar pesona.

Gerakan merak yang anggun dan mempesona tergambar dari gerakan Tari Merak yang penuh keceriaan dan keanggunan. Sehingga tak heran jika Tari Merak sering digunakan untuk menyambut pengantin pria atau sebagai hiburan untuk tamu dalam acara pernikahan.

(17)

12.

Tari Gong

Tari gong atau disebut juga dengan nama kancet ledo adalah tarian tradisional suku Dayak di Kalimantan Timur. Tarian ini ditarikan seorang gadis dengan gong digunakan sebagai alat musik pengiringnya. Tari ini biasanya dipertunjukkan pada saat upacara penyambutan tamu agung atau upacara menyambut kelahiran seorang bayi kepala suku.

Hal unik adalah tarian ini dimainkan dengan cara gong diinjak dan menjadi tempat si gadis menari. Oleh karena itulah mengapa tari ini dinamakan tari gong. Selain gong musik pengiringnya juga dilengkapi sapeq, yaitu alat musik dipetik serupa kecapi. Musik pengiring tarian ini cenderung datar dan sama dari awal hingga akhir tetapi aroma keindahan dan kekhusukkannya betapa terasa.

Tari gong menggambarkan kelembutan seorang gadis yang terlihat dari gerakan tubuh dan tangan penari yang relatif lambat dan gemulai. Penarinya meliuk-liuk perlahan diibaratkan layaknya gerakan sebatang padi tertiup angin. Di tangan si gadis, terselip rangkaian bulu ekor burung enggang yang menambah kesan kelembutan dan gemulai tarian ini. Gerakan tari gong terlihat sederhana, pelan, mudah, dan diulang-ulang. Akan tetapi,

sebenarnya dibutuhkan kelenturan dan keseimbangan untuk menari di atas gong tersebut.

Pakaian yang biasa dikenakan penari adalah pakaian adat Dayak Kenyah. Baju manik dengan warna cerah dan corak khas Dayak biasanya dilengkapi pula dengan taah. Taah adalah pakaian khas wanita suku Dayak berupa kain beludru yang dihiasi manik-manik, biasanya dipakai dengan cara dililitkan pada pinggang. Selain itu, kepala penari biasanya bertahtakan lavung, yaitu topi yang dibuat dari rotan berhiaskan corak atau motif yang senada dengan pakaian dan taah. Pelengkap pakaian yang lainnya adalah kalung manik-manik atau yang terbuat dari gigi atau taring macan.

(18)

Tari Pendet adalah salah satu tarian selamat datang atau tarian

penyambutan yang khas dari Bali. Tarian ini merupakan salah satu tarian tradisional dari Bali yang sangat terkenal dan sering ditampilkan berbagai acara seperti penyambutan tamu besar dan acara budaya lainnya. Tari Pendet ini biasanya dimainkan oleh para penari wanita dengan membawa mangkuk yang berisi berbagai macam bunga yang menjadi ciri khasnya.

Tari Pendet awalnya merupakan suatu tarian tradisional yang menjadi bagian dari upacara piodalan di Pura atau tempat suci keluarga. Sebagai ungkapan rasa syukur dan penghormatan dari masyarakat Bali dalam menyambut kehadiran para dewata yang turun dari khayangan. Tarian ini sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan spiritual masyarakat di sana.

Berawal dari situ, salah satu seniman Bali bernama I Wayan Rindi

terinspirasi dan mengubah tarian tersebut menjadi tarian selamat datang. Dengan dibantu Ni Ketut Reneng, keduanya menciptakan Tari Pendet sebagai tarian penyambutan dengan empat orang penari. Kemudian tarian ini dikembangkan dan disempurnakan lagi oleh I Wayang Baratha dengan menambahkan jumlah penari menjadi lima orang, seperti yang sering ditampilkan sekarang. Walaupun sudah menjadi tarian penyambutan atau tarian selamat datang, Tari Pendet ini masih terdapat unsur-unsur religius yang menjadi ciri khas masyarakat Bali.

(19)

Tari Kecak adalah kesenian tradisional sejenis seni drama tari yang khas dari Bali. Tarian tersebut menggambarkan tentang cerita Pewayangan, khususnya cerita Ramayana yang dipertunjukan dengan seni gerak dan tarian. Tari Kecak ini merupakan salah satu kesenian tradisional yang sangat terkenal di Bali. Selain sebagai warisan budaya, Tari Kecak ini juga menjadi salah satu daya tarik para wisatawan yang datang ke sana.

Menurut sumber sejarah yang ada, Tari Kecak ini di ciptakan pada tahun 1930 oleh seniman Bali bernama Wayan Limbak dan Walter Spies seorang pelukis dari Jerman. Tarian ini terinpirasi dari ritual sanghyang dan bagian-bagian cerita Ramayana. Ritual sanghyang sendiri merupakan tradisi tarian dimana penarinya berada dalam kondisi tidak sadar dan melakukan

komunikasi dengan Tuhan atau roh para leluhur kemudian menyampaikan harapan-harapannya kepada masyarakat. Nama Tari Kecak sendiri diambil kata “cak..cak..cak” yang sering diteriakan para anggota yang mengelilingi para penari, Sehingga tarian ini dikenal dengan nama Tari Kecak.

Dalam pertunjukannya, tarian diawali dengan pembakaran dupa, lalu para rombongan pengiring memasuki panggung sambil mengumandangkan kata “cak..cak.. cak”. Kemudian mereka membentuk sebuah barisan melingkar, yang di tengah-tengahnya digunakan untuk menari. Dalam pertunjukan Tari Kecak ini penari memerankan lakon-lakon dalam cerita Ramayana, seperti

Rama, Shinta, Rahwana, dan tokoh-tokoh lainnya. Gerakan dalam tarian ini tidak terlalu terpaku pada pakem, sehingga penari lebih luwes dalam

bergerak dan fokus pada jalan cerita saja. Kadang-kadang ada juga

(20)

15.

Tari Beskalan

Asal usul tari Beskalan yang berkembang di daerah Malang tidak didapatkan data yang jelas, tetapi asal usul itu hanya dapat disimak dari cerita lisan (Foklor) yang diterima oleh M. Soleh Adipramono dari para penari Beskalan, salah satunya adalah mak Riyati (almahumah). Beliau sempat menarikan tari Beskalan yang terakhir kalinya pada tahun l995 di Padepokan Seni

Mangundarmo, Kecamatan Tumpang.

Disamping mak Riyati juga diperoleh dari seorang cucu penari Beskalan yang pernah populer di tahun 1930-an, yaitu Pak Djupri, menurut beliau tari

Beskalan tersebut yang diyakini sama dengan tari Beskalan yang pernah dipopulerkan oleh Muskayah (nenek pak Djupri).

Penari Beskalan generasi nenek Pak Djupri (Miskayah) adalah: Mak Riyati. Tari Beskalan yang ditarikan oleh mak Riyati tersebut, adalah tarian yang pernah ditarikan oleh neneknya Pak Djupri, yaitu tokoh legendaris tari

Andong ditahun 1920-an. Tari Beskalan yang ditarikan oleh mak Riyati masih sempat didukumentasi oleh Padepokan Seni Mangun Darmo. Disamping mak Riyati, Pak Rasimon juga masih dapat menarikan tari Beskalan, bahkan tari Beskalan yang dikuasai pak Rasimoen pernah dilakukan reproduksi untukl materi penataran guru-guru SD se-Kabupaten Malang pada tahun 1992 di sanggar seni Singhasari – Batu.

Maka Pak Rasimoen percaya betul, bahwa tari Beskalan yang pernah dipelajari itu memang tari yang berkembang di tahun 1930-an. Karena materi tarinya memang tidak ada bedanya dengan yang dikuasai oleh mak Riyati. Sungguhpun keyakinann Pak Rasimoen tidak dimaksudkan untuk membenarkan adanya tari Bekalan yang dikuasai oleh Bu Miskayah, atau pada Mak Riyati. Tetapi tari Beskalan yang dikuasai itu didapatkannya dari pergaulannya dengan para tandak-tandak ludruk. Karena waktu itu, tari Beskalan memang dibawakan oleh penari putra yang di sebut Wedhokan. Karena penari Beskalan di luar Andong, banyak yang dimainkan oleh penari peria. (waria)

(21)

sebagai berikut: Pak Jupri adalah salah seorang cucu penari Beskalan yang terkenal di tahun 1940-an, yaitu Muskayah (Almahumah) penduduk desa Ngadireso, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Beliau dilahirkan di desa Bale Sari, kecamatan Ngajum-Gunungkawi, kabupaten Malang, tahun l920-an.

Pada usia belasan tahun, Muskayah sudah menjadi tandak pada Andong (Seni pertunjukan sejenis tayub yang dipentaskan untuk ngamen /

mBarangan waktu itu). Waktu itu beliau dikenal dengan nama Sukanti. Pada suatu ketika, sukanti tidak dapat menunaikan pekerjaanya sebagai penari karena sakit yang tidak diketahui sebabnya. Dalam keadaan sakit tersebut, beliau bermimpi bertemu dengan seorang putri dari kerajaan Mataram bernama Proboretno yang sedang mencari kekasihnya bernama Baswara dari cirebon. Pencarian itu sudah dilakukan sebelum Proboretno meninggal. Hingga waktu itu (yang menjumpai Sukenti dalam mimpi adalah arwah beliau). Dalam mimpi Sukanti itu, Proboretno berpesan; “…Sukanti, marilah ikut aku, kamu akan sembuh dari sakitmu dan akan aku ajarkan menari. Tetapi kamu harus membantu aku mencari pemuda yang bernama baswara”. Seketika itu pula Sukanti terbangun dan langsung menari serta minta diiringi dengan kendangan. Anehnya, seketika itu Sukanti sembuh. Sebagaimana kebiasaan orang desa, jika seorang anak mengalami sakit yang cukup parah, ketika anak tersebut sembuh. Maka, sebagai ucapan syukur pada Tuhan, yaitu dalam bentuk membayar nadar (Janji yang

diucapkan). Bersamaan dengan upacara nadar itu, anak yang telah sembuh dari sakit itu diganti namanya. Demikian pula dengan Sukanti, ketika ia sembuh dari sakitnya kemudian namanya diganti menjadi Muskayah. Peristiwa yang menarik ketika Miskayah sembuh, beliau langsung ingin menari dan minta diiringi dengan kendang. Maka sejak saat itu, Muskayah memang benar-benar menjadi penari Andong yang terkenal. Adapun tarian yang dibawakan adalah tari yang ditarikan waktu beliau sembuh dari

sakitnya itu. Kepopuleran Miskayah sebagai penari Tandak Andong hingga diluar daerah Malang, seperti di daerah Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan sekitarnya

(22)

TARI TRADISIONAL

DAERAH

NAMA : YULIANA

KELAS : VIII-2

NO : 39

(23)

Figur

Gambar : Tari Topeng Malangan
Gambar Tari Topeng Malangan. View in document p.9

Referensi

Memperbarui...