• Tidak ada hasil yang ditemukan

STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA AGROINDUSTRI IKAN ASIN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA AGROINDUSTRI IKAN ASIN"

Copied!
87
0
0

Teks penuh

(1)

STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA AGROINDUSTRI IKAN ASIN (Studi Kasus: UD. Gudang Asin ATN Lamsyah, Kelurahan Pematang Pasir,

Kecamatan Teluk Nibung, Kota Tanjungbalai)

SKRIPSI

OLEH:

ADINDA YULIA DITA 170304012

AGRIBISNIS

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2021

(2)

STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA AGROINDUSTRI IKAN ASIN (Studi Kasus: UD. Gudang Asin ATN Lamsyah, Kelurahan Pematang Pasir,

Kecamatan Teluk Nibung, Kota Tanjungbalai)

SKRIPSI

OLEH:

ADINDA YULIA DITA 170304012

AGRIBISNIS

Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Memperoleh Gelar Sarjana Di Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian

Universitas Sumatera Utara

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2021

(3)
(4)

HALAMAN PENGESAHAN

Adinda Yulia Dita (170304012), Dengan Judul Skripsi “STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA AGROINDUSTRI IKAN ASIN (Studi Kasus:

UD. Gudang Asin ATN Lamsyah, Kelurahan Pematang Pasir, Kecamatan Teluk Nibung, Kota Tanjungbalai)”. Telah dipertahankan di depan dewan penguji Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara dan diterima untuk memenuhi sebahagian dari persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Pertanian.

Pada Tanggal, 23 Juli 2021

Komisi Penguji Skripsi,

Ketua : (Dr. Ir. Satia Negara Lubis, M.Ec)

NIP. 196302041997031001 ...

Anggota : 1. (Ir. Lily Fauzia, M.Si)

NIP. 196308221988032003 ...

2. (Prof. Dr. Ir. Kelin Tarigan, M.S)

NIP. 194608021973011001 ...

3. (Ir. M. Jufri, M.Si)

NIP. 196011101988031003 ...

Mengetahui:

Ketua Program Studi Agribisnis

Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara

(Dr. Ir. Satia Negara Lubis, M.Ec) NIP: 196302041997031001

(5)

i ABSTRAK

ADINDA YULIA DITA (170304012) dengan judul “STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA AGROINDUSTRI IKAN ASIN (Studi Kasus:

UD. Gudang Asin ATN Lamsyah Kelurahan Pematang Pasir Kecamatan Teluk Nibung Kota Tanjungbalai)”. Dibimbing oleh Bapak Dr. Ir. Satia Negara Lubis, M.Ec selaku Ketua Komisi Pembimbing dan Ibu Ir. Lily Fauzia, M.Si selaku Anggota Komisi Pembimbing.

Penelitian bertujuan untuk menentukan faktor internal dan eksternal dalam usaha agroindustri ikan asin dan untuk menentukan strategi pengembangan usaha yang berlokasi di UD. Gudang Asin ATN Lamsyah Kelurahan Pematang Pasir, Kecamatan Teluk Nibung, Kota Tanjungbalai. Lokasi penelitian ditentukan secara sengaja berdasarkan pertimbangan bahwa daerah yang diteliti merupakan salah satu sentra industri ikan asin yang cukup berpotensi di wilayah penelitian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Purposive Sampling yaitu metode pengambilan sampel berdasarkan kriteria atau tujuan tertentu (disengaja). Yang menjadi sampel penelitian ini adalah pemilik agroindustri pengolahan ikan asin di Gudang Asin ATN Lamsyah. Analisis data dilakukan dengan cara analisis deskriptif dan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usaha agroindustry ikan asin di UD Gudang Asin ATN Lamsyah Kelurahan Pematang Pasir berada pada posisi strategi pengembangan kuadran I (Strategi Agresif).

Strategi Agresif lebih fokus kepada strategi S-O (Strengths-Oppurtunities) yaitu Memanfaatkan kekuatan untuk mendapat peluang yang menguntungkan.

Kata Kunci : ikan asin, Tanjungbalai, strategi pengembangan, analisis SWOT

(6)

ii ABSTRACT

ADINDA YULIA DITA (170304012) with the thesis title is “DEVELOPMENT STRATEGY OF SALT FISH AGROINDUSTRY BUSINESS (Case Study: UD.

Gudang Asin ATN Lamsyah, Pematang Pasir Village, Teluk Nibung District, Tanjungbalai City)” Supervised by Bapak Dr. Ir. Satia Negara Lubis, M.Ec as the Head Supervisor Commission and Ibu Ir. Lily Fauzia, M.Si. as the member of Supervisor Commission.

The aim of this study is to identify internal and external factors in salted fish agroindustry and to determine business development strategies located in UD.

Gudang Asin ATN Lamsyah. The location of the study was determined deliberately based on the consideration that the area under study is one of the centers of the salted fish industry with potential in the research area. The method used in this research is purposive sampling that the sampling method is based on criteria or goals (intentional). The sample of this research is the owner of the salted fish processing agroindustry in UD. Gudang Asin ATN Lamsyah. Data analysis was carried out by means of descriptive analysis and SWOT analysis. The results showed that the salted fish agro-industry business at UD Gudang Asin ATN Lamsyah, Pematang Pasir Village, was in the position of quadrant I development strategy (Aggressive Strategy). Aggressive strategy focuses more on the S-O (Strengths-Opportunities) strategy, which is to take advantage of strengths to get profitable opportunities.

Keywords: salted fish, Tanjungbalai, development strategy, SWOT analysis

(7)

iii

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Adinda Yulia Dita, lahir di Kelurahan Sijambi, Kecamatan Datuk Bandar, Kota Tanjungbalai, Provinsi Sumatera Utara pada tanggal 2 Juli 1999. Penulis merupakan anak dari Bapak Elfriadi dan Ibu Yusrita yang merupakan anak kedua dari empat bersaudara.

Pendidikan formal yang ditempuh penulis adalah sebagai berikut:

1. Tahun 2004 masuk TK Bhayangkari dan lulus tahun 2005.

2. Tahun 2005 masuk SD Negeri 132406 Tanjungbalai dan lulus tahun 2011.

3. Tahun 2011 masuk SMP Negeri 1 Tanjungbalai dan lulus tahun 2014 4. Tahun 2014 masuk SMA Negeri 1 Tanjungbalai dan lulus tahun 2017 5. Tahun 2017 menempuh Pendidikan di Program Studi Agribisnis Fakultas

Pertanian Universitas Sumatera Utara melalui jalur SNMPTN.

Selama perkuliahan penulis aktif dalam kegiatan organisasi sebagai berikut:

1. Panitia Seminar Nasional dan LKTIN HN EXPO tahun 2018.

2. Panitia Workshop Hydroponic HN tahun 2019.

3. Bendahara Umum Himpunan Keluarga Mahasiswa Tanjungbalai tahun 2019-2020

4. Sekretaris Divisi Pemerhati Lingkungan Pemerintahan Mahasiswa FP-USU periode 2019-2020

5. Sekretaris Divisi Lingkungan Hidup Generasi Baru Indonesia (GenBI) komisariat Universitas Sumatera Utara tahun 2020-2021

6. Sekretaris UKM Himadita Nursery Fakultas Pertanian,Universitas Sumatera Utara tahun 2020-2021

(8)

iv

Kegiatan yang pernah diikuti selama masa perkuliahan adalah sebagai berikut:

1. Mengikuti PKKMB di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara pada tahun 2017.

2. Mengikuti kegiatan pengabdian masyarakat Program Studi Agribisnis di Desa Mardinding dan Desa Sala Bulan pada tahun 2018 dan 2019.

3. Pada tanggal 9-10 Maret menjadi delegasi USU pada Lomba Karya Tulis Nasional “Matematika Fair 2020” di Universitas Negeri Medan.

4. Semi-Finalis dalam lomba Business Plan Competition Podium di Telkom University tahun 2020.

5. Mengikuti Praktek Kerja Lapangan (PKL) secara daring di Desa Gunting Saga, Kecamatan Kualuh Selatan, Kabupaten Labuhan Batu Utara Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2020.

6. Menjadi Delegasi USU dan meraih Bronze Medal pada Lomba Youth International Science Fair 2021 yang dilaksanakan oleh Indonesian Young Scientist Association pada tahun 2021.

7. Melaksanakan peneliltian di Kelurahan Pematang Pasir, Kecamatan Teluk Nibung, Kota Tanjungbalai pada tahun 2020-2021.

(9)

v

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan segala nikmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik sebagai salah satu syarat untuk mendapatan gelar sarjana di Universitas Sumatera Utara dengan judul “STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA AGROINDUSTRI IKAN ASIN (Studi Kasus: UD. Gudang Asin ATN Lamsyah, Kelurahan Pematang Pasir, Kecamatan Teluk Nibung, Kota Tanjungbalai)”

Pada kesempatan ini penulis mengucapakan terima kasih kepada:

1. Bapak Dr. Ir. Satia Negara Lubis, M.Ec, selaku ketua komisi pembimbing sekaligus Ketua Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian USU yang telah membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

2. Ibu Ir.Lily Fauzia,M.Si. selaku anggota komisi pembimbing yang telah membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

3. Bapak Ir. M. Jufri, M.Si. selaku Sekretaris Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian USU yang telah memberikan banyak teladan dan nasihat dalam masa perkuliahan.

4. Secara khusus penulis menyampaikan rasa hormat dan terimakasih sedalam- dalamnya kepada Ayahanda Elfriadi dan Ibunda Yusrita yang selalu menyayangi dan banyak memberikan dukungan kepada penulis dalam keadaan apapun dan tulus ikhlas memberi materil dan moril hingga penulis dapat menyelasikan pendidikan sarjana, serta kepada Kakak penulis Savira Dita dan adik-adik penulis Salsabila dan Balqis.

(10)

vi

5. Seluruh dosen Program Studi Agribisnis FP-USU yang telah membekali ilmu pengetahuan kepada penulis selama masa perkuliahan.

6. Seluruh pegawai di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara khususnya program studi Agribisnis yang telah membantu penulis dalam proses administrasi.

7. Bapak Lamsyah dan Ibu Ernawati Hasibuan selaku pemilik UD. Gudang Asin ATN Lamsyah Kelurahan Pematang Pasir yang telah memberikan izin, informasi dan membantu penulis dalam menyelesaikan penelitian ini.

8. Sahabat-sahabat saya selama menjalani perkuliahan, Anggi, Yuni, Nurul, Fira, Lisa, Ucik, Aci dan Fifa yang selalu memberikan doa dan dukungan selama menempuh perkuliahan sampai dengan penyusunan tugas akhir.

9. Rekan juang saya yang saya sayangi di UKM Himadita Nursery khususnya HN Angkatan 20 Tessa, Aul, Fira, Dadin, Jefri, Afif dan Riyan yang telah banyak mewarnai kehidupan kampus selama masa perkuliahan.

10. Dan seluruh teman-teman angkatan 2017 yang telah banyak membantu dan memberi semangat kepada penulis selama masa perkuliahan hingga proses penyelesaian skripsi ini.

Penulis berharap penelitian ini dapat bermanfaat bagi banyak pihak, namun penulis menyadari bahwa masih terdapat kekurangan karena keterbatasan yang dimiliki penulis. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran kearah penyampurnaan pada skripsi ini.

Medan, April 2021

Penulis

(11)

vii DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... iii

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR GAMBAR ... x

DAFTAR LAMPIRAN ... xi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Identifikasi Masalah ... 5

1.3 Tujuan Penelitian ... 5

1.4 Manfaat Penelitian ... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1 Tinjauan Pustaka ... 6

2.2 Landasan Teori ... 8

2.2.1 Pengertian Ikan Asin dan Cara Pembuatannya ... 8

2.2.2. Prospek Pengembangan ... 13

2.2.3. Analisis SWOT ... 14

2.2.5 Strategi Pengembangan... 20

2.3 Penelitian Terdahulu ... 22

2.4 Kerangka Pemikiran ... 24

2.5 Hipotesis Penelitian ... 26

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metode Penentuan Lokasi Penelitian ... 27

3.2 Metode Penentuan Sampel ... 27

3.3 Metode Pengumpulan Data ... 28

3.4 Metode Analisis Data ... 28

3.5 Definisi dan Batasan Operasional ... 30

3.5.1 Definisi... 30

3.5.2 Batasan Operasional ... 31

(12)

viii

BAB IV DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN ... 32

4.1. Gambaran Umum Daerah Penelitian ... 32

4.1.1. Letak dan Keadaan Geografis ... 32

4.1.2. Demografi ... 32

4.2. Karakteristik Sampel Penelitian ... 35

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN ... 36

5.1 Analisis Faktor Internal dan Eksternal Usaha Agroindustri Ikan Asin di Kelurahan Pematang Pasir, Kecamatan Teluk Nibung, Kota Tanjungbalai 36 5.1.1. Faktor Strategi Internal ... 36

5.1.2. Faktor Strategi Eksternal ... 42

5.2 Analisis Strategi Pengembangan Agroindustri Ikan Asin Di Kelurahan Pematang Pasir Kecamatan Teluk Nibung Kota Tanjungbalai ... 47

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan ... 60

6.2 Saran ... 61 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(13)

ix

DAFTAR TABEL

No Judul Hal

Tabel 1.1. Produksi Perikanan Menurut Asal Tangkapan di Kota Tanjungbalai (Ton) 2013-2017

2 Tabel 1.2. Banyaknya Industri Pengolahan Hasil Laut Menurut

Jenisnya Dan Kelurahan Di Kecamatan Teluk Nibung, 2019

4

Tabel 2.1 Diagram Matriks SWOT 19

Tabel 3.1 Banyaknya Industri Pengolahan Hasil Laut Menurut Jenisnya dan Kelurahan di Kecamatan Teluk Nibung, 2019

27

Tabel 4.1 Sarana dan Prasaran Menurut Jenis Kelamin dan Kelurahan di Kecamatan Teluk Nibung, 2019

33 Tabel 4.2 Sarana dan Prasarana di Kelurahan Pematang Pasir

2019

34

Tabel 4.3 Karakteristik Pengusaha Ikan Asin 35

Tabel 5.1 Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman Agroindustri Ikan Asin

45 Tabel 5.2 Matriks Faktor Strategi Internal (IFAS) 46 Tabel 5.3 Matriks Faktor Strategi Eksternal (EFAS) 47 Tabel 5.4 Penggabungan Matriks Evaluasi Faktor-Faktor

Strategi Internal dan Eksternal Pengembangan Agroindustri Ikan Asin

48

Tabel 5.5 Matriks SWOT 51

(14)

x

DAFTAR GAMBAR

No Judul Hal

Gambar 2.1 Prosedur Pembuatan Ikan Asin 10

Gambar 2.2 Skema Kerangka Pemikiran 26

Gambar 3.1 Diagram Analisis SWOT 29

(15)

xi

DAFTAR LAMPIRAN

No Judul Hal

Lampiran 1 Karaktersitik Responden Pengusaha Ikan Asin 1

Lampiran 2 Karakteristik Usaha Ikan Asin 1

Lampiran 3 Parameter Penilaian Faktor Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman

2 Lampiran 4 Penentuan Faktor Internal dan Eksternal Usaha

Agroindustri Ikan Asin

3 Lampiran 5 Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman 4 Lampiran 6 Perhitungan Bobot Faktor Strategi Internal 5 Lampiran 7 Perhitungan Bobot Faktor Strategi Eksternal 6 Lampiran 8 Matriks Faktor Strategi Internal (IFAS) 7 Lanpiran 9 Matriks Faktor Strategi Eksternal (EFAS) 8 Lampiran 10 Penggabungan Matriks Evaluasi Faktor Strategi

Agroindustri Ikan Asin

9

(16)

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Perikanan merupakan salah satu usaha manusia untuk mencapai kesejahteraan dengan cara mengelola atau memanfaatkan sumberdaya ikan dan biota lainnya yang bernilai ekonomis. Kegiatan pengolahan ikan di Indonesia masih tergolong pengolahan ikan tradisional dan dilakukan pada skala industri rumah tangga. Namun, pengembangan usaha kecil atau menengah saat ini menjadi perhatian, karena krisis ekonomi yang melanda Indonesia telah menimbulkan harapan pada usaha kecil-mikro untuk dapat menjadi motor perekonomian (Widyaningrum, 2003).

Ikan merupakan bahan makanan yang mengandung protein tinggi yang sangat diperlukan oleh manusia namun ikan juga memiliki beberapa kekurangan yaitu kandungan air yang tinggi (80%), pH tubuh ikan yang mendekati netral dan daging ikan yang sangat mudah dicerna oleh enzim autolysis menyebabkan daging sangat lunak, sehingga menjadi media yang baik untuk pertumbuhan bakteri pembusuk. Kandungan asam lemak tak jenuh mengakibatkan daging ikan mudah mengalami proses oksidasi sehingga menyebabkan bau tengik. Kekurangan yang terdapat pada ikan dapat menghambat usaha pemasaran hasil perikanan, tidak jarang menimbulkan kerugian besar terutama disaat produksi ikan melimpah. (Adwayah R, 2014).

Sumatera Utara merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki wilayah dan potensi perikanan laut. Terutama Kota Tanjungbalai yang mengandalkan hasil daerah dari sektor perikanan, dan merupakan salah satu kota yang memiliki pelabuhan terbesar kedua setelah Medan sehingga diwarnai

(17)

2

hilir mudik nelayan. Kota ini berjarak 180 km dari ibu kota provinsi dan dalam tata pemerintahan dibagi menjadi lima kecamatan yaitu Kecamatan Datuk Bandar, Tanjungbalai Selatan, Tanjungbalai Utara, Sie Tualang Raso dan Teluk Nibung. Sebagian besar perekonomian kota berpusat di Pelabuhan Teluk Nibung dan sepanjang bantaran sungai Asahan.

Kegiatan disektor perikanan ini menjadikan komoditas utama bagi Kota Tanjungbalai disamping kegiatan ekspor dan impor hasil pertanian. Secara umum persentase kegiatan ekonomi lebih banyak pada sektor pertanian sebesar 38,31 persen dan industri pengolahan sebesar 39,61 persen. Kota Tanjungbalai yang sebenarnya tidak memiliki laut namun mampu menghasilkan ikan laut puluhan ribu ton setiap tahunnya, Teluk Nibung menjadi harapan dan menjadi alternatif jalur perdagangan di Sumatera Utara karena wilayahnya lebih dekat dengan Malaysia dan Singapura. (Pranowo dan A. Nururrochman Hidayatulloh, 2015).

Meningkatnya produksi dalam sektor perikanan menyebabkan permintaan untuk ikan segar semakin meningkat. Ikan-ikan yang sudah ditangkap harus ditangani dengan baik agar tetap segar hingga sampai ke tangan konsumen.

Tidak sedikit pula ikan yang salah dalam penanganannya mengalami penurunan kualitas. Sehingga harga jualnya semakin rendah dan nelayan tidak mendapatkan keuntungan yang seharusnya didapatkan.

(18)

Tabel 1. 1. Produksi Perikanan Menurut Asal Tangkapan di Kota Tanjungbalai (Ton) 2013-2017

Sumber: BPS Kota Tanjungbalai 2020

Dari Tabel 1.1 di atas dapat dilihat bahwa produksi perikanan khususnya hasil tangkapan laut di Kota Tanjung Balai memiliki produksi yang meningkat setiap tahunnya dimana pada tahun 2017 juga mengalami peningkatan sebesar 34 643,70 ton.

Tanjungbalai merupakan salah satu pusat pengolahan ikan asin terbesar di Sumatera Utara. Penyebarannya telah menembus beberapa kota besar di Indonesia. Berdasarkan hal tersebut dapat dikatakan bahwa pengolahan ikan merupakan usaha yang cukup berkembang di Sumatera Utara.

Tahun Budidaya Perairan Umum

Laut Jumlah

2013 34,30 33,28 31 106,00 31 174,00

2014 48,86 - 32 849,14 32 898

2015 105,37 2,82 33 019,03 33 127,49

2016 183,56 17,23 33 873 34 074

2017 107,20 16,97 34 643,70 34 767,87

(19)

4

Sumber: Kantor Camat Teluk Nibung 2020

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa Kecamatan Teluk Nibung pada tahun 2020 merupakan kecamatan dengan jumlah produsen pengolah ikan asin sebanyak 14 produsen.

Usaha agroindustri ikan asin yang berkembang di daerah penelitian kebanyakan adalah industri rumah tangga. Permasalahan saat ini yang menghambat industri tersebut yaitu dilakukan dalam skala kecil, pengaruh modal kerja yang sangat minim, keadaan alam yang sering tidak bersahabat seperti hujan dapat menghambat proses pengeringan ikan asin karena pengolahannya masih dilakukan secara tradisional, bahan baku seperti ikan asin sulit untuk ditemukan di lapangan, rendahnya tingkat pendidikan, sanitasi dan higiene yang kurang diperhatikan terutama oleh UMKM, sehingga mutu dan daya tahan ikan asin menjadi kurang baik. Hal tersebut tentunya harus diatasi dengan cara terus mendorong dan mengembangkan UMKM agar memiliki mutu yang baik, aman dikonsumsi, tersedia secara berkesinambungan, berdaya saing dan sesuai dengan selera masyarakat .

Berdasarkan hal tersebut maka peneliti tertarik melakukan penelitian lebih lanjut untuk menganalisis strategi pengembangan usaha agroindustri ikan asin di Kelurahan Pematang Pasir Kecamatan Teluk Nibung Kota Tanjungbalai.

Tabel 1. 2 . Banyaknya Industri Pengolahan Hasil Laut Menurut Jenisnya Dan Kelurahan Di Kecamatan Teluk Nibung, 2019

Kelurahan Pengasinan Ikan Perebusan Kerang

Jumlah

Beting K Kapias 2 0 2

Kapias P Buaya 0 0 0

Sei Merbau 1 0 1

Pematang Pasir 11 6 17

Perjuangan 0 0 0

Teluk Nibung 14 6 20

(20)

1.2. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakamg yang telah diuraikan, maka dapat dirumuskan beberapa masalah penelitian sebagai berikut:

1. Apa saja faktor internal dan eksternal dalam pengembangan usaha agroindustri ikan asin di daerah penelitian?

2. Bagaimana strategi pengembangan usaha agroindustri ikan asin di daerah penelitian?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka tujuan penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Untuk menentukan faktor internal dan eksternal dalam pengembangan usaha agroindustri ikan asin di daerah penelitian.

2. Untuk menentukan strategi pengembangan agroindustri ikan asin di daerah penelitian.

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penulisan sebagai berikut:

1. Sebagai bahan informasi bagi pengusaha ikan asin untuk memperbaiki kelemahannya sehingga dapat mengembangkan usahanya.

2. Sebagai bahan informasi dan perbandingan bagi pengusaha-pengusaha ikan asin di daerah penelitian.

3. Sebagai bahan informasi dan refrensi bagi peneliti lain yang berhubungan dengan penelitian ini.

(21)

6 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1 Tinjauan Pustaka

Agroindustri adalah perusahaan (enterprise) yang mengolah hasil tanaman dan hewan. Pengolahan mencakup transformasi dan pengawetan produk melalui perubahan fisik atau kimiawi, penyimpanan, pengemasan dan distribusi.

Pengembangan agroindustri berkelanjutan adalah pengembangan agroindustri yang memperhatikan aspek manajemen dan konservasi sumber daya alam dengan menggunakan teknologi dan kelembagaan yang sesuai dengan daya dukung lingkungan, tidak menimbulkan degradasi atau kerusakan, secara ekonomi menguntungkan dan secara sosial dapat diterima oleh masyarakat.

(Soekartawi 2000).

Strategi menurut Simatupang (1997) dalam Udayana (2011) adalah suatu pola atau perencanaan yang mampu mengintegrasikan sasaran, kebijakan, dan tindakan-tindakan organisasi secara komprehensif. Sedangkan pengembangan agroindustri adalah segala bentuk pengusahaan yang dilakukan ke arah yang lebih baik dari sebelumnya. Hasil kajiannya menyebutkan bahwa agroindustri terbukti telah berhasil memberikan nilai tambah sekitar 20.7%, penyerapan tenaga kerja 30.8% dan penyerapan bahan baku 89.9% dari total industri yang ada, hal tersebut mengindikasikan perlunya perhatian pemerintah dalam menetapkan kebijakan ke arah pengembangan agroindustri menjadi sistem unggulan.

Ikan merupakan komoditi subsektor perikanan yang kaya protein, mengandung asam amino esensial yang dibutuhkan oleh tubuh, di samping itu memiliki nilai biologis 90% dengan jaringan pengikat sedikit sehingga mudah

6

(22)

dicerna. Hal paling penting adalah harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan sumber protein lain (Marpaung, 2008).

Ikan memiliki karakteristik mudah rusak dan mudah membusuk sehingga perlu dilakukan pengawetan. Prinsip pengawetan adalah untuk mempertahankan ikan selama mungkin dengan menghambat atau menghentikan aktivitas mikroorganisme pembusuk. Pengawetan ikan akan menyebabkan berubahnya sifat- sifat ikan segar, baik bau, rasa, bentuk, maupun tekstur dagingnya. Pengawetan ikan dapat dilakukan dua cara yaitu pengawetan ikan secara tradisional maupun modern (Rahardi, dkk, 2001).

Dengan metode pengawetan ini daging ikan yang biasanya membusuk dalam waktu singkat dapat disimpan di suhu kamar untuk jangka waktu berbulan – bulan, walaupun biasanya harus ditutup rapat. Beraneka jenis ikan yang biasa diasinkan diantaranya adalah ikan darat maupun ikan laut. Ikan –ikan ini dikumpulkan dalam suatu wadah dan lalu ditaburi atau direndam dalam larutan garam pekat. Ikan – ikan yang besar biasanya dibelah atau dipotong –potong lebih dulu agar garam mudah meresap ke dalam daging. Karena perbedaan kepekatan dan tekanan osmosis, Kristal –Kristal garam akan menarik cairan sel dalam daging ikan keluar dari tubuhnya. Sementara itu partikel garam meresap masuk ke dalam daging ikan (Afrianto, E. & E. Liviawaty, 1989).

Salah satu produk olahan ikan yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia adalah ikan asin. Ikan asin memiliki kandungan protein yang lebih tinggi dibandingkan ikan segar. Kandungan protein ikan segar per 100 gram sebesar 17%

sedangkan kandungan protein ikan asin per 100 gram sebesar 42%. Kandungan lemak ikan asin sebesar 1,50 % lebih rendah daripada ikan segar yaitu sebesar 4,50

(23)

8

%. Hal ini menjadikan ikan asin lebih menguntungkan dalam hal kesehatan (Sari, 2011).

Ikan asin diproses dari ikan laut untuk diawetkan secara tradisional.

Pengawetan ikan secara tradisional bertujuan untuk mengurangi kadar air dalam tubuh ikan, sehingga tidak memberikan kesempatan bagi bakteri untuk berkembang biak. Hasil awetan yang bermutu tinggi dapat diperoleh dengan perlakuan yang baik selama proses pengawetan seperti menjaga kebersihan bahan dan alat yang digunakan, menggunakan ikan yang masih segar, serta garam yang bersih. Ada bermacam-macam pengawetan ikan, antara lain dengan cara penggaraman, pengeringan, pemindangan, pengasapan, peragian, dan pendinginan ikan.

2.2 Landasan Teori

2.2.1 Pengertian Ikan Asin dan Cara Pembuatannya

Ikan asin adalah produk olahan hasil perikanan yang menggunakan prinsip perbedaan tekanan osmotik menggunakan garam. Selama proses pembuatan ikan asin, terjadi pula aliran kristal garam dari lingkungan ke dalam daging ikan.

Akibatnya, daging ikan menjadi lebih gurih dan mikroba pembusuk akan mati.

Daya awet ikan asin meningkat karena terjadi penurunan kadar cairan dan efek toksik dari garam.

Kelemahan ikan asin antara lain rasanya terlalu asin, warnanya cenderung kekuningan, berubah warna, berlubang atau salt burn. Upaya untuk mencegah hal tersebut dapat dilakukan dengan penggunaan garam dengan kemurnian yang tinggi, pengaturan konsentrasi garam dan ukuran garam yang digunakan. Ikan asin yang bermutu baik adalah jika memenuhi syarat Standar Industri Indonesia (SII), yaitu:

a. Mempunyai bau, rasa, dan warna normal, serta bentuk yang baik;

(24)

b. Berkadar air paling tinggi 25 %;

c. Berkadar garam (NaCl) antara 10 % - 20 %;

d. Tidak mengandung logam, jamur, juga tidak terjadi pemerahan bakteri;

(Rakhmawati, 2017)

Pengolahan ikan asin dimulai dari penyiangan atau langsung pencucian, diikuti dengan penggaraman dan penjemuran atau pengeringan. Dalam proses tersebut yang dapat dibedakan adalah dalam proses penyiangan (yaitu ikan di belah dan ikan dalam bentuk utuh) dan pada proses penggaraman, jumlah garam yang digunakan, jangka waktu penggaraman dan penjemurannya. Hal tersebut disebabkan perbedaan jenis dan ukuran ikan atau cara pengolahan selanjutnya serta rasa asin yang diinginkan. Prosedur pembuatan ikan asin kering menurut Siregar, Djarijah (2004) dapat dilihat pada skema berikut :

(25)

10

a. Persiapan Bahan Baku

Bahan baku ikan yang akan diawetkan dengan metode penggaraman harus dipisahkan berdasarkan jenis, ukuran, dan tingkat kesegarannya. Bahan lainnya adalah garam murni yang mengandung NaCl 99% agar kualitas yang dihasilkan baik. Banyaknya garam yang dibutuhkan yaitu antara 10%-

Penyimpanan/

pengangkutan Penyediaan Bahan Baku

Pencucian ikan mentah

Penggaraman 1 hari 5- 30%

Pencucian ikan setelah penggaraman

Pengeringan 1 hari / sampai kering

Packaging Kotak kayu/keranjang berlapis

kertas

Gambar 2. 1 Prosedur Pembuatan Ikan Asin

(26)

35%, tergantung tingkat keasinan yang diinginkan. Bahan baku yang segar dan berkualitas akan menghasilkan produk yang bermutu tinggi.

b. Persiapan Peralatan

Wadah yang harus disiapkan untuk proses penggaraman bisa terbuat dari semen, kayu, fiber, atau plastik. Wadah haruslah kedap air kecuali untuk metode kench salting wadah yang diperlukan berupa keranjang bambu. Alat lain yang dibutuhkan adalah penutup wadah yang dilengkapi pemberat, pisau atau golok, timbangan, talenan, keranjang dan tempat penjemuran.

c. Penyiangan Ikan

Penyiangan dan pencucian bertujuan untuk menghilangkan kotoran, sisik dan lendir dengan membelah bagian perut sampai dekat anus, menghilangkan sisa kotoran, darah dan lapisan dinding berwarna. Ikan dicuci bersih menggunakan air yang mengalir. Setelah melalui proses pencucian, ikan ditiriskan kemudian ditimbang.

d. Proses penggaraman

• Metode dry salting

Jumlah garam yang diperlukan berbeda-beda sesuai dengan ukuran ikan

• Metode wet salting

Konsentrasi larutan garam yang digunakan pada metode wet salting sesuai dengan tingkat keasinan yang diperlukan.

(27)

12

• Metode kench salting

Tidak memerlukan wadah, ikan ditumpuk menggunakan plastik dan proses penggaraman selesai apabila telah terjadi perubahan tekstur tubuh ikan menjadi kencang dan padat.

e. Proses pengeringan

Setelah dilakukan proses penggaraman, sebelum ikan dijemur dilakukan pencucian ulang dengan cara ikan ditaruh dalam keranjang lalu dicuci dengan air bersih dengan tujuan untuk membersihkan sisa kotoran. Setelah dicuci dan ditiriskan, ikan dijemur diatas tempat pengeringan yang sudah disiapkan. Pengeringan dengan sinar matahari dilakukan dengan meletakkan bahan di rak-rak yang sekurang-kurangnya setinggi 0,5 meter dari permukaan tanah. Di daerah yang intensitas sinar matahari mencapai 8 jam/hari diperlukan waktu pengeringan selama 3 hari berturut-turut..

f. Pengemasan dan Penyimpanan

Ikan yang telah selesai melalui proses penggaraman dan pengeringan dikemas menggunakan bahan pengemas yang bersih. Selanjutnya disimpan di tempat yang kering dan bersih serta memiliki ventilasi yang baik. Agar ikan asin yang dihasilkan mempunyai daya awet yang lama, maka proses pengemasan dan penyimpanan harus memenuhi kaidah kaidah yang telah ditentukan.

g. Produk akhir hasil penggaraman

Teknik penggaraman merupakan teknik yang biasa dikombinasikan dengan proses pengawetan yang lain, seperti pengeringan atau perebusan. Dari proses penggaraman ini dikenal tiga macam ikan asin, yaitu:

(28)

a. ikan asin basah (tidak dikeringkan setelah proses penggaraman) b. ikan asin kering (dikeringkan setelah proses penggaraman)

c. ikan asin rebus (ikan pindang, direbus setelah proses penggaraman) (Rakhmawati, 2017)

2.2.2. Prospek Pengembangan

Perbedaan pengetahuan pada nelayan atau petani ikan dalam mengolah ikan menjadi ikan asin menyebabkan mutu ikan yang dihasilkan antar produk berbeda.

Tingkat kesegaran ikan, metode penggaraman, dan cara penyimpanan akan berpengaruh terhadap kualitas ikan asin. Untuk mendapatkan ikan asin yang bermutu baik harus digunakan garam murni, yaitu garam dengan kandungan NaCl cukup tinggi (95%) dan sedikit sekali mengandung elemen yang dapat menimbulkan kerusakan, seperti yang sering dijumpai pada garam rakyat. Ikan asin yang diolah dengan garam murni memiliki daging berwarna putih kekuning–

kuningan yang lunak. Jika dimasak, rasa ikan asin ini seperti ikan segar.

Prospek pemasaran ikan asin cukup menggembirakan, baik dalam maupun di luar negeri. Saat ini Arab Saudi dan Belanda telah berusaha mengimpor ikan asin dari Indonesia. Namun kesempatan ini belum dapat dipenuhi seluruhnya, karena produksi ikan asin negara kita masih rendah. Permintaan Arab Saudi akan ikan asin sebesar 4.200 ton/tahun telah berhasil dipenuhi, tetapi permintaan Belanda belum dapat dipenuhi. (Afrianto, E dan E. Liviawaty, 1989).

Kendala yang dihadapi pengolah ikan asin pada umumnya dilakukan dalam skala kecil, menggunakan teknologi tradisional yang didapat secara turun menurun, sanitasi dan higiene yang kurang diperhatikan terutama oleh UMKM, sehingga mutu dan daya tahan ikan asin menjadi kurang baik. Hal tersebut tentunya harus

(29)

14

diatasi dengan cara terus mendorong dan mengembangkan UMKM pengolahan ikan, agar memiliki mutu yang baik, aman dikonsumsi, tersedia secara berkesinambungan, berdaya saing dan sesuai dengan selera masyarakat (Liufeto et al. 2016). Untuk itu perlu dilakukan perencanaan strategis yang baik bagi para pelaku usaha UMKM dengan tujuan agar dapat melihat secara objektif kondisi-kondisi internal dan eksternal dalam usaha, sehingga usaha tersebut dapat mengantisipasi perubahan lingkungan eksternal dan memperoleh keunggulan bersaing. (Dewi, 2019)

2.2.3. Analisis SWOT

Analisis SWOT adalah analisis yang berguna untuk memperoleh formulasi strategi yang tepat, dan disesuaikan dengan kondisi dan potensi wilayah. Analisis SWOT digunakan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi faktor internal dan eksternal, yang didasarkan pada logika untuk memaksimalkan kekuatan (Strengths) dan peluang (Opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (Weaknesses) dan ancaman (Threats). (Rangkuti, 2009)

Dalam mengidentifikasi berbagai masalah yang timbul dalam perusahaan, maka sangat diperlukan penelitian yang sangat cermat sehingga mampu menemukan strategi yang sangat cepat dan tepat dalam mengatasi masalah yang timbul dalam perusahaan. Beberapa pertimbangan yang perlu diperhatikan dalam mengambil keputusan antara lain:

1. Kekuatan (Strengths)

Kekuatan adalah unsur-unsur yang dapat diunggulkan oleh perusahaan tersebut seperti halnya keunggulan dalam produk yang dapat diandalkan, memiliki keterampilan dan berbeda dengan produk lain, sehingga dapat membuat lebih kuat

(30)

dari para pesaingnya. Kekuatan adalah sumber daya, keterampilan, atau keunggulan - keunggulan lain relatif terhadap pesaing dan kebutuhan pasar yang dilayani atau ingin dilayani oleh perusahaan. Kekuatan adalah kompetensi khusus yang memberikan keunggulan komparatif bagi perusahaan di pasar. Kekuatan terdapat pada sumber daya, keuangan, citra, kepemimpinan pasar, hubungan pembeli- pemasok, dan faktor - faktor lain.

2. Kelemahan (Weakness)

Kelemahan adalah kekurangan atau keterbatasan dalam hal sumber daya yang ada pada perusahaan baik itu keterampilan atau kemampuan yang menjadi penghalang bagi kinerja organisasi. Keterbatasan atau kekurangan dalam sumber daya, keterampilan dan kapabilitas yang secara serius menghambat kinerja efektif perusahaan. Fasilitas, sumber daya keuangan, kapabilitas manajemen, keterampilan pemasaran, dan citra merek dapat merupakan sumber kelemahan.

3. Peluang (Opportunity)

Peluang adalah berbagai hal dan situasi yang menguntungkan bagi suatu perusahaan, serta kecenderungan-kecenderungan yang merupakan salah satu sumber peluang.

4. Ancaman (Treats)

Ancaman adalah faktor-faktor lingkungan yang tidak menguntungkan dalam perusahaan jika tidak diatasi maka akan menjadi hambatan bagi perusahaan yang bersangkutan baik masa sekarang maupun yang akan datang (Rangkuti,2004).

Analisis lingkungan internal adalah proses dimana perencanaan stategi mengkaji faktor-faktor internal perusahaan untuk menentukan dimana perusahaan

(31)

16

memiliki kelemahan dan kekuatan sehingga dapat mengelola peluang secara efektif dalam menghadapi ancaman yang terdapat dalam lingkungan.

Dalam menganalisa lingkungan internal ada beberapa unsur yang dianalisis yaitu:

1) Sumber daya perusahaan adalah segala sesuatu yang dapat dimanfaatkan oleh perusahaan guna mendukung perkembangan perusahaan, diantaranya sumber daya manusia, sumber daya produksi, sumber daya keuangan, pemasaran serta penelitian dan pengembangan. Sumber daya perusahaan ini dibedakan menjadi dua yaitu sumber daya berwujud dan tidak berwujud.

2) Kapabilitas adalah suatu kombinasi untuk sumber daya yang dimiliki perusahaan baik yang berwujud atau tidak berwujud. Keahlian dan pengetahuan manusia merupakan hal yang paling signifikan dan merupakan segala akar bagi keunggulan bersaing dan merupakan dasar utama bagi kemampuan perusahaan yang seharusnya dimiliki para karyawan.

3) Kompetensi inti adalah sumber daya dan kapabilitas yang menjadi sumber keunggulan kompetitif bagi perusahaan melebihi pesaingnya. Sumber daya dan kapabilitas adalah dua hal yang sangat diperlukan dalam proses implementasi strategi yang selanjutnya mewujudkan nilai yang dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi perusahaan.

Lingkungan eksternal adalah lingkungan yang tidak dapat dipengaruhi oleh perusahaan. Agar perusahaan dapat mencapai tujuannya dengan baik, maka keberadaan lingkungan eksternal harus diperhitungkan secermat mungkin. Hasil identifikasi perusahaan tentang lingkungan eksternal disesuaikan dengan lingkungan internal. Pencocokan kedua lingkungan ini merupakan dasar untuk menentukan kesesuaian dengan misi strategisnyan dan untuk mengambil tindakan

(32)

dalam mencapai daya saing yang strategis Ada 6 (enam) segmen lingkungan, yaitu:

demografis, ekonomi, politik/ hukum, sosiokultural, teknologi dan global. Elemen- elemen yang ada dalam lingkungan ini memberikan pengaruh yang tidak langsung pada perusahaan. Walaupun tidak langsung, namun dalam jangka panjang perubahan yang terjadi pada elemen lingkungan ini dapat menjadi panduan bagi

perusahaan untuk mendapatkan peluang dan mengantisipasi peluang.

(Lestari, 2011).

Tahap pertama dalam metode ini adalah mendaftarkan item-item faktor strategis internal dan eksternal yang paling penting. Tahap kedua yaitu memberi bobot dengan skala mulai dari 100 (paling penting) sampai 0 (tidak penting). Tahap ketiga dengan memberikan skala mulai dari 4 sampai dengan 1 dan tahap terakhir adalah mengalikan bobot dengan peringkat untuk menghasilkan jumlah pada kolom skor berbobot (Hunger dan Wheelen, 2001).

Tahapan analisis SWOT dalam penyusunan perencanaan strategis, yaitu : 1. Tahapan pengumpulan data dibedakan menjadi faktor internal dan faktor ekternal. Data internal diperoleh dari lingkungan dalam usaha pengolahan hasil perikanan yang berupa kekuatan dan kelemahan dan data eksternal diperoleh dari lingkungan luar yang berupa peluang dan ancaman. Faktor ini dibuat dalam bentuk matriks EFAS (External Factor Analysis Summary) dan matriks IFAS (Internal Factor Analysis Summary).

2. Tahap analisis : menganalisis IFAS dan EFAS dengan memberi bobot nilai selang 0-1, cara penentuan berdasarkan pengamatan lapangan untuk menentukan urutan prioritas yaitu faktor mana yang paling penting dan tidak penting. Penentuan bobot kriteria tersebut menggunakan metode pembobotan klasik dengan pemberian

(33)

18

skor kepentingan 1, 3, 5, dan 7 (Marimin 2004). Pembobotan dengan menggunakan formula sederhana akan menghasilkan bobot antara sebesar 0-1 dan jika dijumlahkan keseluruhan bobot faktor tersebut akan menghasilkan nilai satu untuk masing-masing kondisi (internal dan eksternal). Selanjutnya memberi rating nilai dengan skala 1 sampai 4 dengan kualifikasi adalah nilai 1 = tidak tersedia, nilai 2 = kurang tersedia, nilai 3 = tersedia, dan nilai 4 = sangat tersedia Pemberian nilai rating berbanding terbalik antara peluang dan ancaman dan kekuatan dan kelemahan. Semakin mendekati kenyataan, maka nilai peluang dan kekuatan semakin besar sehingga nilai kelemahan dan ancaman semakin kecil.

3. Setelah pemberian nilai dan bobot selanjutnya ditentukan nilai skor dengan mengalikan antara bobot dan rating.

4. Pengambilan keputusan untuk perumusan strategi pengembangan pengolahan hasil perikanan dengan menggunakan matriks IFAS dan EFAS, matriks tersebut menghasilkan empat set kemungkinan alternatif strategi, yaitu :

1) Strategi SO (Kekuatan – Peluang)

Strategi ini merupakan kombinasi antara kekuatan dan peluang, yaitu dengan memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut dan memanfaatkan peluang.

Strategi ini disebut juga strategi agresif.

2) Strategi ST (Kekuatan – Ancaman)

Strategi yang menggunakan seoptimal mungkin kekuatan internal untuk menghadapi tantangan atau kelemahan. Strategi ini disebut strategi diversifikasi.

3) Strategi WO (Kelemahan – Peluang)

(34)

Strategi gabungan antara kelemahan dan peluang yang berupaya untuk meminimalkan kelemahan internal untuk memanfaatkan peluang yang ada. Strategi ini disebut strategi turnarround.

4) Strategi WT (Kelemahan – Ancaman)

Strategi kombinasi antara kelemahan dan ancaman yang tidak menguntungkan dan berusaha meminimalkan kelemahan internal yang ada serta menghindari ancaman.

Strategi ini disebut juga strategi defensif atau bertahan.

Tabel 2. 1 Diagram Matriks SWOT

Sumber : Rangkuti, 2009 Faktor Internal

(IFAS)

Faktor Eksternal (EFAS)

Strenghts (S) Faktor kekuatan internal

Weaknes (W) Faktor kelemahan internal

Opportunities (O) Faktor peluang eksternal

Strategi SO

Menciptakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang

Strategi WO Menciptakan strategi yang meminimalkan kelemahan untuk memanfaatkan

peluang Treaths (T)

Faktor ancaman eksternal

Strategi ST

Menciptakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk mengatasi ancaman

Strategi WT Menciptakan strategi yang meminimalkan kelemahan yang menghindari ancaman

(35)

20

2.2.5 Strategi Pengembangan

Dalam kerangka pembangunan pertanian, agroindustri merupakan penggerak utama perkembangan sektor pertanian, terlebih dalam masa yang akan datang posisi pertanian merupakan sektor andalan dalam pembangunan nasional sehingga peranan agroindustri akan semakin besar. Dengan kata lain, dalam upaya mewujudkan sektor pertanian yang tangguh, maju dan efisien sehingga mampu menjadi leading sector dalam pembangunan nasional, harus ditunjang melalui pengembangan agroindustri, menuju agroindustri yang tangguh, maju serta efisien dan efektif.

Strategi menurut Simatupang (1997) adalah suatu pola atau perencanaan yang mampu mengintegrasikan sasaran, kebijakan, dan tindakan-tindakan organisasi secara komprehensif. Sedangkan pengembangan agroindustri adalah segala bentuk pengusahaan yang dilakukan ke arah yang lebih baik dari sebelumnya. Hasil kajiannya menyebutkan bahwa agroindustri terbukti telah berhasil memberikan nilai tambah sekitar 20.7%, penyerapan tenaga kerja 30.8%

dan penyerapan bahan baku 89.9% dari total industri yang ada, hal tersebut mengindikasikan perlunya perhatian pemerintah dalam menetapkan kebijakan ke arah pengembangan agroindustri menjadi sistem unggulan.

Strategi pengembangan agroindustri yang dapat ditempuh harus disesuaikan dengan karakteristik dan permasalahan agroindustri yang bersangkutan. Secara umum permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan agroindustri adalah: (a) sifat produk pertanian yang mudah rusak dan bulky sehingga diperlukan teknologi pengemasan dan transportasi yang mampu mengatasi masalah tersebut; (b) sebagian besar produk pertanian bersifat musiman dan sangat dipengaruhi oleh

(36)

kondisi iklim sehingga aspek kontinuitas produksi agroindustri menjadi tidak terjamin; (c) kualitas produk pertanian dan agroindustri yang dihasilkan pada umumnya masih rendah sehingga mengalami kesulitan dalam persaingan pasar baik didalam negeri maupun di pasar internasional; dan (d) sebagian besar industri berskala kecil dengan teknologi yang rendah. Efek multiplier yang ditimbulkan dari pengembangan agroindustri meliputi semua industri dari hulu sampai pada industri hilir. Hal ini disebabkan karena karakteristik dari agroindustri yang memiliki kelebihan dibandingkan dengan industri lainnya, antara lain: (a) memiliki keterkaitan yang kuat baik dengan industri hulunya maupun ke industri hilir, (b) menggunakan sumberdaya alam yang ada dan dapat diperbaharui, (c) mampu memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif baik di pasar internasional maupun di pasar domestik, (d) dapat menampung tenaga kerja dalam jumlah besar, (e) produk agroindustri pada umumnya bersifat cukup elastis sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat yang berdampak semakin luasnya pasar khususnya pasar domestik. (Udayana, 2011)

(37)

22

2.3 Penelitian Terdahulu

No Nama

Peneliti

Judul Penelitian Tujuan Penelitian Metode Analisis Hasil 1. Khairul Ulfa

(2017)

Analisis Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Produksi Ikan Asin (Studi

Kasus :

Kelurahan Sei Bilah, Kec Sei Lepan,

Kabupaten Langkat)

Untuk

menganalisis faktor – faktor yang mempengaruhi produksi ikan asin di Kelurahan Sei Bilah

Dengan mengunakan metode perhitungan

Uji Asumsi Klasik Ordinary Least Square(OLS)

Variabel Bahan baku ikan, tenaga kerja, secara serempak berpengaruh signifikan terhadap produksi ikan asin. Secara parsial variabel Bahan baku ikan (X1) berpengaruh nyata terhadap produksi ikan asin,

sedangkan variabel tenaga kerja (X2) tidak

berpengaruh nyata terhadap produksi ikan asin.

2. Putri Mayawi Hasibuan (2018)

Analisis Kelayakan Usaha Pengolahan Ikan Asin Gulamah Batu (Pseudocienna amovensis) (Kasus:

Kelurahan Pematang Pasir, Kecamatan Teluk Nibung, Kotamadya Tanjung Balai)

Untuk menjelaskan apakah usaha pengolahan Ikan Asin Gulamah Batu layak untuk tetap diusahakan di daerah penelitian.

Untuk menganalisis apakah terdapat pengaruh

karakteristik sosial ekonomi (umur, lama pendidikan, jumlah

tanggungan, lama berusaha, luas tempat usaha, dan penggunaan modal)

Dengan menggunakan metode

perhitungan R/C Ratio, BEP,Upah Minimum Kota

Pada usaha pengolahan Ikan Asin Gulamah Batu diperoleh rata- rata nilai R/C sebesar 1,19.

Dapat diketahui bahwa setiap Rp 1.000 biaya yang

dikeluarkan pengusaha dalam usaha pengolahan ikan asin gulamah batu maka akan

(38)

pengusaha terhadap pendapatan usaha pengolahan Ikan Asin Gulamah Batu

di daerah

penelitian?

memberikan penerimaan sebesar Rp 1.190.

Berdasarkan kriteria kelayakan usaha dengan perhitungan R/C > 1 maka usaha

pengolahan Ikan Asin Gulamah Batu dikatakan layak untuk tetap

diusahakan.

3. Zainal Abidin Damanik (2017)

Strategi

Pengembangan Agroindustri Ikan Asin (Studi Kasus:

Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai, Provinsi

Sumatera Utara

-Untuk menganalisis kelayakan pengembangan agroindustry ikan asin di daerah penelitian.

-Untuk menganalisis kekuatan, kelemahan,

peluang dan ancaman

pengembangan agroindustry ikan asin di daerah penelitian.

-Untuk menentukan strategi

pengembangan agroindustry ikan asin di daerah penelitian.

Metode R/C Ratio dan Break Event Point (BEP), Analisis Deskriptif menggunakan Matriks SWOT dan Analisis SWOT.

Hasil perhitungan keuntungan yang diperoleh sebesar (2,75)

> 1, usaha agroindustry ikan asin layak diusahakan.

(39)

24

2.4 Kerangka Pemikiran

Usaha agroindustri ikan asin dapat dikatakan sebagai industri pengolahan yang mempunyai prospek yang cerah. Di lihat dari bahan bakunya yang mudah untuk didapat dan mengandung protein yang cukup tinggi, selain itu harganya juga relatif murah. Hal yang paling utama adalah ikan memiliki karakteristik mudah rusak dan mudah membusuk sehingga proses pengolahan ikan untuk menjadi produk ikan asin merupakan suatu hal yang tepat untuk menambah nilai jual ikan.

Ikan yang digunakan adalah ikan yang segar dan berkualitas agar menghasilkan produk bermutu tinggi yang diinginkan.

Ikan asin juga memiliki kandungan protein yang lebih tinggi dibandingkan ikan segar. Kandungan protein ikan segar per 100 gram sebesar 17 % sedangkan kandungan protein ikan asin per 100 gram sebesar 42 %. Kandungan lemak ikan asin sebesar 1,50 % lebih rendah daripada ikan segar yaitu sebesar 4,50 %. Hal ini menjadikan ikan asin lebih menguntungkan dalam hal kesehatan (Sari, 2011).

Meskipun memiliki nilai gizi yang tinggi, ikan asin sering dianggap sebagai makanan masyarakat golongan lemah. Tetapi, saat ini ikan asin telah diterima oleh masyarakat golongan ekonomi menengah keatas. Bahkan produk-produk ikan asin tertentu dapat dikategorikan sebagai makanan mewah.

Di daerah penelitian sudah terdapat industri pengolahan ikan dan semua bahan baku diperoleh langsung dari nelayan yang mempunyai produksi ikan yang tinggi. Industri ini juga membuka lapangan pekerjaan bagi penduduk yang hidup di sekitar area lokasi pengolahan ikan.

Jika perolehan bahan baku, input produksi, penggunaan teknologi dan tenaga kerja secara keseluruhan sudah memenuhi kriteria kelayakan, dan adanya

(40)

pemecahan terhadap masalah yang dihadapi, maka dapat dilihat bahwa usaha pengolahan ikan asin mempunyai potensi yang baik untuk dikembangkan di daerah penelitian.

Setiap usaha agroindustri yang dijalankan tentunya memiliki faktor internal dan faktor eksternal dalam mempengaruhi usaha tersebut. Diperlukan penentuan alternatif strategi dalam pengembangan usaha dengan menggunakan analisis SWOT. Dimana di dalam analisis SWOT dapat diidentifikasi faktor internal, yaitu kekuatan (strengths) dan kelemahan (weakness), dan faktor eksternal, yaitu peluang (opportunities) dan ancaman (threats) dalam usaha agroindustri pengolahan ikan.

Setelah dilakukan Analisis SWOT dalam usaha tersebut, maka kita dapat menentukan strategi pengembangan apa yang cocok dan bisa diterapkan untuk mengembangkan usaha industri pengolahan ikan dilokasi penelitian.

(41)

26

Keterangan:

: Menyatakan pengaruh

2.5. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan landasan teori yang telah dipaparkan di atas, maka hipotesis penelitian dirumuskan sebagai berikut:

1. Strategi pemasaran yang digunakan oleh usaha agroindustry ikan asin di daerah penelitian adalah strategi agresif..

Nelayan Faktor Internal

1. Ketersediaan Bahan Baku 2. Ketersediaan Bahan Penunjang 3. Keterampilan Tenaga Kerja 4. Pengalaman Produsen

5. Tingkat Pendidikan Produsen 6. Alat Yang Digunakan

7. Ketersediaan Modal 8. Izin Usaha

9. Penanganan Limbah

Strategi Pengembangan Usaha Agroindustri Ikan

Asin Kelemahan

Kekuatan Ancaman Peluang

Usaha Agroindustri Ikan Asin

Faktor Eksternal 1. Permintaan Pasar 2. Harga Input 3. Harga Jual

4. Dukungan Pemerintah Daerah 5. Iklim Dan Cuaca

6. Sarana Dan Prasarana 7. Penyuluhan Perikanan 8. Banyaknya Pesaing 9. Mitra Usaha

Gambar 2. 2Skema Kerangka Pemikiran

(42)

27 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metode Penentuan Lokasi Penelitian

Metode lokasi penelitian ditentukan secara purposive, artinya penentuan lokasi dilakukan secara sengaja berdasarkan pertimbangan tertentu disesuaikan dengan tujuan penelitian. Dengan pertimbangan bahwa daerah yang diteliti merupakan salah satu sentra industri ikan asin yang cukup berpotensi di wilayah penelitian. Lokasi penelitian dilakukan di Kecamatan Teluk Nibung Tanjungbalai Sumatera Utara.

Tabel 3. 1 Banyaknya Industri Pengolahan Hasil Laut Menurut Jenisnya dan Kelurahan Di Kecamatan Teluk Nibung, 2019

Sumber: Kantor Camat Teluk Nibung 2020

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa Kecamatan Teluk Nibung pada tahun 2020 merupakan kecamatan dengan jumlah produsen pengolah ikan asin sebanyak 14 produsen. Salah satu tempat pengolahan ikan asin tersebut adalah Gudang Asin ATN Lamsyah.

3.2 Metode Penentuan Sampel

Metode yang digunakan dalam penelitian ini ditetapkan secara Purposive Sampling. Purposive Sampling adalah metode pengambilan sampel berdasarkan kriteria atau tujuan tertentu (disengaja). Dengan metode tersebut, maka ditetapkan

Kelurahan Pengasinan Ikan Perebusan Kerang

Jumlah

Beting K Kapias 2 0 2

Kapias P Buaya 0 0 0

Sei Merbau 1 0 1

Pematang Pasir 11 6 17

Perjuangan 0 0 0

Jumlah 14 6 20

27

(43)

28

yang menjadi sampel penelitian ini adalah pemilik agroindustri pengolahan ikan asin di Gudang Asin ATN Lamsyah.

3.3 Metode Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari wawancara langsung dengan pengusaha ikan asin melalui survey dan daftar kuesioner yang telah dipersiapkan terlebih dahulu, sedangkan data sekunder diperoleh dari instansi atau lembaga yang terkait dengan substansi penelitian seperti Kantor Camat Teluk Nibung, Dinas Perikanan Kota Tanjungbalai dan Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tanjungbalai.

3.4 Metode Analisis Data

Identifikasi masalah 1 dianalisis menggunakan Metode Analisis Deskriptif dengan mengamati faktor lingkungan internal dan eksternal apa saja yang mempengaruhi strategi pengembangan usaha agroindustry ikan asin di daerah penelitian berdasarkan data yang diperoleh.

Identifikasi masalah 2 dianalisis dengan menggunakan Metode Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor untuk merumuskan strategi perusahaan, yang dapat memaksimalkan kekuatan,peluang serta meminimalkan kelemahan dan ancaman secara bersamaan. Metode ini dipakai untuk menyusun faktor-faktor strategis yang disebut matriks SWOT. Matriks ini akan menggambarkan dengan jelas peluang dan ancaman eksternal yang dihadapi pengusaha ikan asin disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan internal.

(44)

Kuadran 1 : ini merupakan situasi yang sangat menguntungkan. Perusahaan tersebut memiliki peluang dan kekuatan sehingga dapat memanfaatkan peluang yang ada. Strategi yang harus diterapkan dalam kondisi ini adalah mendukung kebijakan pertumbuhan yang agresif (Growth oriented strategy).

Kuadran 2 : Meskipun menghadapi berbagai ancaman, perusahaan ini masih memiliki kekuatan dari segi internal. Strategi yang harus diterapkan adalah menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang jangka panjang dengan cara strategi diversifikasi (produk/pasar).

Kuadran 3 : Perusahaan menghadapi peluang pasar yang sangat besar, tetapi di lain pihak, ia menghadapi beberapa kendala/kelemahan internal. Kondisi bisnis pada kuadran 3 ini mirip dengan Question Mark pada BCG matrik. Fokus strategi perusahaan ini adalah meminimalkan masalah-masalah internal perusahaan sehingga dapat merebut peluang pasar yang lebih baik. Misalnya, Apple

3. Mendukung strategi Turn-around

2. Mendukung strategi Diversifikasi 1. Mendukung

strategi agresif

4. Mendukung strategi Defensive

BERBAGAI PELUANG

KELEMAHAN INTERNAL

BERBAGAI ANCAMAN

KEKUATAN INTERNAL

Gambar 3. 1Diagram Analisis SWOT

(45)

30

menggunakan strategi peninjauan kembali teknologi yang dipergunakan dengan cara menawarkan produk-produk baru dalam industri microcomputer.

Kuadran 4 : Ini merupakan situasi yang sangat tidak menguntungkan, perusahaan tersebut menghadapi berbagai ancaman dan kelemahan internal. Strategi yang harus diterapkan dalam kondisi ini adalah strategi defensive, dimana perusahan berusaha meminimalkan kelemahan yang ada serta menghindari ancaman.

3.5 Definisi dan Batasan Operasional

Untuk menghindari kesalahpahaman dalam menafsirkan istilah-istilah yang digunakan pada penelitian ini, maka dibuat definisi dan batasan operasional sebagai berikut:

3.5.1 Definisi

1. Ikan asin adalah produk olahan hasil perikanan yang menggunakan prinsip perbedaan tekanan osmotik menggunakan garam.

2. Strategi pengembangan agroindustri adalah suatu pola atau perencanaan yang mampu mengintegrasikan sasaran, kebijakan dan tindakan organisasi secara komperhensif yang dilakukan ke arah yang lebih baik dari sebelumnya.

3. Faktor internal adalah segala hal yang mempengaruhi suatu kondisi yang ada, dimana hal tersebut berasal dari kondisi dalam perusahaan itu sendiri, yaitu kekuatan dan kelemahan.

4. Faktor eksternal adalah segala hal yang mempengaruhi suatu kondisi yang ada, dimana hal tersebut berasal dari kondisi luar perusahaan, yaitu peluang dan ancaman yang dihadapi oleh perusahaan.

(46)

3.5.2 Batasan Operasional

1. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Teluk Nibung Kota Tanjungbalai Sumatera Utara

2. Responden dalam penelitian ini adalah pemilik dan karyawan yang bekerja di Gudang Asin ATN Lamsyah.

3. Waktu penelitian ini dilaksanakan pada tahun 2020.

(47)

32 BAB IV

DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN 4.1. Gambaran Umum Daerah Penelitian

Penelitian dilakukan di Gudang Asin ATN Lamsyah yang berlokasi di Kelurahan Pematang Pasir, Kecamatan Teluk Nibung, Kota Tanjungbalai.

4.1.1. Letak dan Keadaan Geografis

Kelurahan Pematang Pasir adalah salah satu kelurahan dari 5 kelurahan di Kecamatan Teluk Nibung, dengan luas wilayah  40,2 Ha dengan jumlah penduduk 8.552 jiwa dan jumlah Kepala Keluarga 1.864 KK dari tujuh lingkungan. Kelurahan Pematang Pasir berlokasi di Jalan Kirab Remaja Lingkungan-VII Kecamatan Teluk Nibung Kota Tanjungbalai.

Adapun batas-batas wilayah dari daerah penelitian adalah sebagai berikut:

- Sebelah Utara : Berbatasan dengan Kelurahan Sei Merbau - Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Kelurahan Perjuangan - Sebelah Timur : Berbatasan dengan Kabupaten Asahan

- Sebelah Barat : Berbatasan dengan Kelurahan Kapias Pulau Buaya 4.1.2. Demografi

A. Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin

Adapun keadaan jumlah penduduk berdasarkan kelurahan dan jenis kelamin di Kecamatan Teluk Nibung sebagai berikut:

(48)

Tabel 4. 1 Banyaknya Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan Kelurahan di Kecamatan Teluk Nibung, 2019

Sumber: BPS Kota Tanjungbalai, Kecamatan Teluk Nibung Dalam Angka 2020

Berdasarkan Tabel 4.1, dapat diketahui bahwa jumlah penduduk laki-laki lebih banyak dari pada jumlah penduduk perempuan dengan melihat rasio jenis kelamin penduduk Kelurahan Pematang Pasir sebesar 104,06. Jumlah penduduk laki-laki terdiri dari 4.361 jiwa dan penduduk perempuan terdiri dari 4.191 jiwa. Kelurahan Pematang Pasir merupakan kelurahan yang memiliki penduduk kedua terbanyak dengan jumlah penduduk sebesar 8.552 Jiwa.

B. Sarana dan Prasarana

Tersedianya sarana dan prasarana merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam suatu desa/kelurahan, Adapun sarana dan prasarana yang tersedia di Kelurahan Pematang Pasir yaitu sebagai berikut:

Kelurahan Laki-laki Perempuan Rasio Jenis Kelamin

Beting K Kapias 4.934 4.847 101,79

Kapias P Buaya 3.893 3.854 101,01

Sei Merbau 3.269 3.236 101,02

Pematang Pasir 4.361 4.191 104,06

Perjuangan 3.689 3.408 108,25

Teluk Nibung 20.146 19.536 103,12

(49)

34

Tabel 4. 2 Sarana dan Prasarana di Kelurahan Pematang Pasir Tahun 2019

Sumber: Kecamatan Teluk Nibung Dalam Angka 2020

Tabel 4.2 menunjukkan bahwa di Kelurahan Pematang Pasir, Kecamatan Teluk Nibung memiliki sarana Pendidikan sebanyak 5 Unit (3 SD, 1 SMP dan 1 SMA). Untuk sarana kesehatan yang tersedia antara lain : Puskesmas 1 unit, Puskesmas pembantu (pustu) 1 unit, Pos Kesehatan Kelurahan(poskeskel) 1 Unit, dan 5 Posyandu. Dengan tersedianya sarana dan prasarana kesehatan, sangat membantu dalam upaya meningkatkan kesehatan masyarakat. Untuk sarana ibadah bagi umat beragama di Kelurahan Pematang pasir sudah cukup memadai jika dibanding dengan jumlah penduduknya.Hanya saja belum tersedia tempat ibadah untuk umat beragama lain selain Islam di kelurahan ini, yang masih tersedia sekarang adalah Masjid sebanyak 2 Unit dan Mushalla sebanyak 5 Unit.

No Jenis Sarana dan Prasarana Jumlah (Unit) 1. Pendidikan

1.SD 3

2.SMP 1

3.SMA 1

2. Kesehatan

1. Puskesmas 1

2. Pustu 1

3. Poskeskel 1

4. Balai Pengobatan 0

5. Posyandu 5

3. Sarana Ibadah

1. Masjid 2

2. Musholla 5

3. Gereja 0

4. Kuil 0

5. Vihara 0

Total 20

(50)

4.2. Karakteristik Sampel Penelitian

Adapun sampel dalam penelitian ini adalah usaha agroindustry ikan asin yaitu UD Gudang Asin ATN Lamsyah yang berlokasi di Kelurahan Pematang Pasir Kecamatan Teluk Nibung Kota Tanjungbalai. Usaha ini didirikan oleh Bapak Lamsyah atau akrab dipanggil Wak Atan (54 Tahun) pada tahun 1999 dan sekarang usaha tersebut dikelola bersama dengan istrinya yaitu Ibu Ernawati Hasibuan (43 tahun). Berdasarkan hasil wawancara dilapangan agroindustri ini sudah memiliki izin usaha sejak tahun 2015 dan tergolong kedalam usaha skala kecil. Tenaga kerja yang digunakan adalah sebanyak 7 Tenaga Kerja Luar Keluarga (TKLK) dan 1 Tenaga Kerja Dalam Keluarga (TKDK). Rata-rata keuntungan yang diperoleh dalam satu tahun sebesar Rp 1.262.736.000/produksinya. Cara pengolahan ikan asin di Gudang ATN Lamsyah masih dilakukan secara tradisional dan belum ada dibantu dengan peralatan modern. Karakteristik dari usaha agroindutri ikan asin di daerah penelitian adalah sebagai berikut:

Tabel 4. 3 Karakteristik Pengusahan Ikan Asin

Sumber : Analisis Data Primer (Lampiran 1)

Dapat dilihat melalui Tabel 4.3 bahwa usaha ikan asin ini sudah dijalankan selama 21 tahun dan mampu memproduksi ikan asin sebanyak 1-5 ton/hari.

No. Nama Alamat Lama Usaha Produksi

(Hari)

1. UD.

Gudang Asin ATN Lamsyah

Jalan Pematang Pasir, Kelurahan Pematang Pasir, Kecamatan Teluk Nibung, Kota Tanjungbalai

21 Tahun 1-5ton

(51)

36 BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Analisis Faktor Internal dan Eksternal Usaha Agroindustri Ikan Asin di Kelurahan Pematang Pasir, Kecamatan Teluk Nibung, Kota Tanjungbalai

5.1.1. Faktor Strategi Internal

Lingkungan internal merupakan lingkungan yang berada didalam perusahaan dan memiliki faktor berupa kekuatan dan kelemahan. Kegunaan dari analisis lingkungan internal adalah untuk mengkaji faktor-faktor internal perusahaan dan menentukan dimana titik kekuatan dan kelemahannya, melalui identifikasi tersebut peluang dapat dikelola dengan efektif untuk menghadapi ancaman yang ada dalam lingkungan.

Berdasarkan wawancara dengan pemilik usaha agroindustri ikan asin UD.

Gudang Asin ATN Lamsyah diperoleh beberapa faktor strategis internal yang merupakan kekuatan dan kelemahan dari usaha tersebut. Berikut merupakan analisis kekuatan dan kelemahan usaha agroindustry ikan asin di UD. Gudang Asin ATN Lamsyah Kelurahan Pematang Pasir.

A. Kekuatan

1. Ketersediaan Bahan Penunjang

Bahan penunjang merupakan bahan pelengkap kebutuhan yang digunakan untuk mengelola ikan menjadi ikan asin. Bahan ini terdiri dari garam, tawas, dan es. Bahan penunjang di UD. Gudang Asin ATN Lamsyah sangat tersedia dan mudah untuk didapat karena sudah memiliki langganan tetap untuk menunjang kebutuhan dalam satu kali pengolahan yaitu sebanyak 6 karung garam dan 1 karung tawas cukup untuk 500-600kg ikan yang akan diolah menjadi ikan asin

(52)

2. Keterampilan Tenaga Kerja

Keterampilan tenaga kerja sangat berpengaruh dalam proses produksi, tenaga kerja yang terampil dan cekatan sangat mempengaruhi kualitas dan produksi yang dihasilkan.

Berdasarkan wawancara di lapangan, menurut pemilik usaha agroindutri ikan asin di daerah penelitian keterampilan tenaga kerja cukup baik, mudah diarahkan dan cekatan. Adapun jumlah pekerja dalam usaha ini sebanyak 8 pekerja tetap dan 5-10 buruh harian lepas yang bekerja untuk proses pengemasan ikan asin. Dapat dikatakan bahwa hal ini bisa menjadi kekuatan bagi usaha ini.

3. Pengalaman Produsen

Pengalaman produsen merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi agroindustri ikan asin. Pemilik dari usaha ini sudah memiliki pengalaman selama kurang lebih 20 tahun. Terbilang sudah cukup lama dalam menjalankan usaha tersebut. Pengalaman dalam mengelola usaha ikan asin sangat membantu produsen karena sudah memiliki banyak hal yang dipelajari. Selain itu produsen juga sudah dipercaya dan memiliki nama yang cukup baik dilingkungan sekitar daerah penelitian. Berdasarkan hal tersebut pengalaman produsen menjadi kekuatan bagi produsen dalam meningkatkan pengembangan agroindustri ikan asin.

4. Tingkat Pendidikan Produsen

Pendidikan merupakan kunci pembangunan bagi suatu masyarakat terutama dalam pembangunan dan kualitas sumber daya manusia. Tingginya tingkat pendidikan seseorang akan berpengaruh terhadap apa saja pencapaian yang akan diraih dalam keadaan tertentu. Tingkat Pendidikan terakhir produsen adalah D2 dan dapat dikatakan cukup baik sehingga menjadi kekuatan bagi usaha tersebut.

(53)

38

5. Ketersediaan Modal

Modal merupakan hal yang penting dalam membangun dan mengembangkan suatu usaha. Modal dapat menjadi penghalang dalam proses produksi jika tidak tersedia dengan cukup baik. Tanpa adanya modal maka proses produksi tidak dapat berjalan dengan lancar. Berdasarkan wawancara dilapangan pemilik usaha agroindustri ikan asin di daerah penelitian menjalankan usahanya dengan menggunakan modal sendiri dan pinjaman modal dari bank. Pemilik tidak pernah kesulitan dalam memenuhi kebutuhan modal karena sudah memiliki akses untuk meminjam ke bank jika terjadi kekurangan. Ketersediaan modal merupakan kekuatan bagi usaha agroindustri ini.

6. Izin Usaha

Setiap orang yang ingin mendirikan usaha perdagangan selalu mengantongi surat ijin dari pemerintah (Setianto, 2008). Tujuan memiliki surat izin adalah agar usaha perdagangan mendapat legalisasi oleh pemerintah, sehingga tidak banyak mendapat masalah dikemudian hari. Manfaat surat izin usaha menurut Setianto (2008, h.81) ada 3 (tiga) manfaat dalam mengurus siup, yaitu:

a. Mendapat pengakuan dari pemerintah setempat.

b. Sebagai syarat berurusan dengan pihak bank.

c. Melakukan hubungan atau bekerjasama dengan pihak lain.

Pemilik dari usaha agroindustri ini sudah memiliki surat izin usaha dagang sejak tahun 2015 dan ini menjadi kekuatan bagi usaha tersebut. Yang mana usaha ini sudah diakui oleh pemerintah setempat bahwa usaha ini merupakan usaha yang legal. Manfaat lain yang dirasakan oleh produsen yaitu syarat untuk meminjam

Gambar

Gambar 2. 1 Prosedur Pembuatan Ikan Asin
Gambar 2. 2 Skema Kerangka Pemikiran
Gambar 3. 1 Diagram Analisis SWOT
Gambar 5.1 Matriks posisi Strategi Pengembangan               Agroindustri Ikan Asin

Referensi

Dokumen terkait

Faktor Internal dalam penelitian merupakan faktor yang berpengaruh terhadap strategi pengembangan usaha ikan hias air tawar pada Kelompok Batara Mina Sejahtera, Kelurahan

Budy Hariadi : Prospek Pengembangan Industri Ikan Asin di Kecamatan Medan Belawan, 2001... Budy Hariadi : Prospek Pengembangan Industri Ikan Asin di Kecamatan Medan

Maka sesuai dari uraian diatas, penulis akhirnya tertarik untuk meneliti mengenai PENGARUH PENDAMPINGAN DAN BANTUAN AKSES MODAL TERHADAP PENGEMBANGAN USAHA PENGOLAHAN IKAN ASIN

Total skor faktor internal pengelolaan pemasaran produk olahan hasil perikanan dari jenis ikan asin dan pindang (2,58), dan total skor faktor eksternalnya sekitar 2,54

Kondisi eksternal usaha kecil sate lilit ikan laut yang menyangkut peluang adalah sebagai berikut: memberikan peluang bagi masyarakat untuk meningkatkan

Penilaian Faktor Eksternal pada Usaha Ikan Bandeng tanpa Duri di CV Maikan Prima Sipadecengie No Indikator Faktor Eksternal Jumlah Skor Kategori 1 Permintaan 20 3,33 Peluang 2

Karya foto peserta yang telah diedit HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pengabdian ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan kaum ibu pelaku usaha ikan asin dalam hal memasarkan produk

menjawab faktor eksternal dan internal dalam pengembangan budidaya air tawar serta strategi pengembangan budidaya ikan di kampung iwak Mentaos digunakan analisis SWOT dilakukan untuk