• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL AERASI ISSN (Online)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "JURNAL AERASI ISSN (Online)"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN MENGGUNAKAN CITRA SATELIT PADA HUTAN KONSERVASI DI KOTA PADANG

Azizan1*, Nofriya2

1,2Teknik Lingkungan, Sekolah Tinggi Teknologi Industri Padang

*Corresponding Author Email: [email protected]

Abstrak: Kawasan hutan konservasi memiliki peran dan fungsi yang sangat penting secara ekologis sebagai sumber perlindungan plasma nutfah untuk keanekaragaman hayati dan ekosistem yang ada. Meningkatnya populasi akan mempengaruhi meningkatnya perubahan lahan untuk mendukung kebutuhan dan kegiatan manusia. Mempertimbangkan peran dan fungsi penting hutan konservasi di Padang sehingga pengelolaannya perlu didukung oleh data dan informasi yang lengkap, valid dan aktual. Metode penelitian ini merupakan metode kuantitatif, dimana data citra satelit dianalisa dengan menggunakan metode klasifikas i terbimbing (supervised classification) dan algoritma klasifikasi kemungkinan maksimum (maximum likelihood classification) yang ada pada QGIS. Hasil analisis menunjukka n selama 10 tahun (2008-2018) telah terjadi perubahan tutupan lahan hutan konservasi di Kota Padang menjadi 8 tipe klasifikasi tutupan lahan yaitu air, jalan, pemukiman, hutan primer, hutan sekunder, sawah, lahan terbuka dan awan. Hasil pengkategorian perubahan tutupan lahan hutan konservasi di Kota Padang pada 5 tahun pertama (2008-2013) menunjukka n telah terjadi peningkatan laju kerusakan kawasan hutan yang ditandai dengan ketegori turun (sebanyak 2.788 piksel atau 1,03% dari luas kawasan). Begitu pula pada waktu 5 tahun II (2013-2018), terjadi peningkatan laju kerusakan kawasan hutan yang ditandai dengan ketegori turun (sebanyak 6.287 piksel atau 2,32% dari luas kawasan). Sehingga dalam kurun waktu 10 tahun telah terjadi peningkatan laju kerusakan kawasan hutan yang ditandai dengan ketegori turun (sebanyak 6.513 piksel atau 2,40% dari luas kawasan).

Kata Kunci: analisis, perubahan tutupan lahan, citra satelit, SIG, hutan konservasi

PENDAHULUAN

Provinsi Sumatera Barat terdiri dari 19 kabupaten dan kota yang tercatat memiliki kawasan hutan relatif cukup luas dibandingkan luas provinsi. Dari luas provinsi lebih kurang 4,2 juta Ha tercatat lebih kurang 2 juta Ha diantaranya telah ditunjuk sebagai kawasan hutan pada tahun 1999.

Dari jumlah tersebut, sekitar 15% (301.000 Ha) dari kawasan hutan tersebut difungsikan sebagai kawasan konservasi dalam tanggung jawab Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat (SKW II BKSDA Sumbar, 2018). Kawasan konservasi yang dikelola Resort Konservasi Wilayah (RKW) Kota Padang seluas 24.419,39 Ha yang terdiri dari Kawasan Suaka Margasatwa Barisan seluas 21,652,78 Ha (88,67%) dan Kawasan Suaka Margasatwa Tarusan Arau Hilir seluas 2.766,61 Ha (11,33%)[1].

Berdasarkan data dan informasi dari Seksi Konservasi Wilayah II, saat ini terdapat perubahan lahan berupa areal terbuka sebanyak lebih kurang 32 lokasi di kawasan hutan konservasi wilayah Kota Padang dengan total luas 392,4 Ha, tersebar pada 10 kelurahan yang merupakan daerah penyangga kawasan konservasi. Namun data dan informasi tersebut belum lengkap dan akurat terkait luasan dan tipe penggunaan lahannya serta perubahan lahan dari waktu ke waktu. Perubahan tutupan lahan yang semula hutan menjadi tutupan lahan lain seperti semak belukar, pertanian,

(2)

pemukiman dan industri menjadi ancaman bagi keanekaragaman hayati sebagai akibat kehancuran vegetasi alami [2].

.

METODOLOGI

Penelitian ini dilakukan terhadap kawasan hutan konservasi yang berada dalam wilayah administrasi Kota Padang. Lokasi penelitian secara spasial dapat dilihat pada gambar 1.

Pengolahan dan analisis data dilakukan di Kantor Resort Konservasi Wilayah Padang. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni 2019. Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

1. Kelas tutupan lahan

Kelas tutupan lahan yang digunakan dalam penelitian ini mengikuti SNI 7645-1:2014 Klasifikasi Penutup Lahan-Bagian 1: Skala Kecil dan Menengah (BSN, 2014)

2. Luas Tutupan Lahan

Untuk penentuan luas tutupan lahan mengikuti SNI 8033 : 2014. Metodepenghitungan perubahan tutupan hutan berdasarkan hasil penafsiran citra penginderaan jauh optik secara visual antara lain adalah hutan yang ditandai dengan kenampakan pada citra satelit berwarna hijau dan tingkat kecerahan muda sampai agak gelap, tekstur halus sampai agak kasar (BSN, 2014).

3. Perubahan Tutupan Lahan

Perubahan tutupan lahan akan terlihat dengan membandingkan data tutupan lahan di hutan konservasi pada pengamatan pertama (T1: 2008), pengamatan kedua (T2: 2013) dan pengamatan ketiga (T3: 2018).

Sumber data merupakan subjek yang diperoleh berdasarkan beberapa sumber sesuai dengan jenis data yang digunakan, sebagai berikut:

1. Data citra satelit Landsat 7 dan Landsat 8 didapatkan dari situs web USGS (website U.S. Geological Survey).

2. Data batas hutan yang mengacu pada peta Lampiran Keputusan Menteri Kehutanan Nomor SK.35/Menhut-II/2013 (Menteri Kehutanan, 2013).

3. Data wilayah adminstrasi Kota Padang didapat dari data BPS.

Analisis terhadap data dilakukan dengan menggunakan metode klasifikas i kemungkinan maksimum (Maximum Likelihood Classification), merupakan klasifikasi yang mempedomani nilai piksel yang telah dikategorikan pada objek citra atau dibuat dalam area sampel (training sample) untuk masing- masing objek penutupan lahan. Pembuatan area sampel (training sampel) yang kurang baik akan menghasilkan klasifikasi yang tidak optimal sehingga akurasinya menjadi rendah.

Gambar 1: Peta Lokasi Penelitian

(3)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penentuan tutupan lahan yang digunakan dalam penelitian ini mengikuti SNI 7645- 1:2014, Klasifikasi Penutup Lahan-Bagian I : Skala Kecil dan menengah, seperti pada Tabel 1.

Tabel 1 Klasifikasi Tutupan Lahan

No Kode Klasifikasi 0 Unclassified

1 Air

2 Jalan

3 Pemukiman

4 Hutan primer 5 Hutan sekunder

6 Sawah

7 Lahan terbuka

8 Awan

Klasifikasi Citra Satelit Landsat Tahun 2008

Citra yang digunakan untuk klasifikasi terbimbing (supervised) tahun 2008 adalah Citra Landsat 7 dengan komposit band 3-2-1 dan 4-3-2, tanggal akuisisi 2 Mei 2008, produk identifier:

LE07_L1TP_127061_20080502_20161229_01_T1

Tabel 2. Luas tutupan lahan hutan konservasi di Kota Padang Tahun 2008 No No Kode Klasifikasi Luas

Ha %

1 2 3 4 5

1 0 Unclassified 200,61 0,822

2 1 Air 1,08 0,004

3 2 Jalan 119,61 0,490

4 3 Pemukiman 0,36 0,001

5 4 Hutan primer 23.107,50 94,638

6 5 Hutan sekunder 261,81 1,072

7 6 Sawah 43,02 0,176

8 7 Lahan terbuka 51,03 0,209

9 8 Awan 631,62 2,587

Jumlah 24.416,64 100,00

Berdasarkan Tabel 2 dapat diketahui bahwa sebagian besar hutan konservasi di Kota Padang pada tahun 2008, merupakan hutan primer dengan luas 23.107,50 Ha atau 94,64% dari total luas hutan konservasi.

(4)

Klasifikasi Citra Satelit Landsat Tahun 2013

Citra yang digunakan untuk klasifikasi terbimbing (supervised) tahun 2013 adalah Citra Landsat 8 dengan komposit band 4-3-2 dan 5-4-3, tanggal akuisisi 24 Mei 2013, produk identifier:

LC08_L1TP_127061_20130524_20170504_01_T1.

Tabel 3. Luas tutupan lahan hutan konservasi di Kota Padang Tahun 2013

No No Kode Klasifikasi

Luas

Ha %

1 2 3 4 5

1 1 Air 41,31 0,169

2 2 Jalan 129,51 0,530

3 3 Pemukiman 5,13 0,021

4 4 Hutan primer 21.890,61 89,654

5 5 Hutan sekunder 88,92 0,364

6 6 Sawah 1,26 0,005

7 7 Lahan terbuka 40,14 0,164

8 8 Awan 2.219,76 9,091

Jumlah 24.416,64 100,00

Berdasarkan Tabel 3 dapat diketahui bahwa sebagian besar hutan konservasi di Kota Padang pada tahun 2013, merupakan hutan primer dengan luas 21.890,61 Ha atau 89,65% dari total luas hutan konservasi.

Klasifikasi Citra Satelit Landsat Tahun 2018

Citra yang digunakan untuk klasifikasi terbimbing (supervised) tahun 2013 adalah Citra Landsat 8 dengan komposit band 4-3-2 dan 5-4-3, tanggal akuisisi 16 Desember 2018, produk identifier:

LC08_L1TP_127061_20181216_2018 1227_01_T1.

Tabel 4. Luas tutupan lahan hutan konservasi di Kota Padang Tahun 2018

No No Kode Klasifikasi

Luas

Ha %

1 2 3 4 5

1 1 Air 57,69 0,236

2 2 Jalan 68,67 0,281

3 3 Pemukiman 0,36 0,001

4 4 Hutan primer 22.798,98 93,375

5 5 Hutan sekunder 406,26 1,664

6 6 Sawah 2,88 0,012

7 7 Lahan terbuka 112,23 0,460

8 8 Awan 969,57 3,971

Jumlah 24.416,64 100,00

(5)

Berdasarkan Tabel 4 diketahui sebagian besar hutan konservasi di Kota Padang pada tahun 2013, merupakan hutan primer dengan luas 22.798,98 Ha atau 93,38 % dari total luas kawasan konservasi. Berdasarkan hasil interprestasi citra satelit Landsat 7 tahun 2008 dan citra satelit Landsat 8 tahun 2018, diketahui bahwa selama periode 10 tahun terjadi perubahan tutupan lahan hutan konservasi menyangkut perubahan luasan masing- masing klasifikasi tutupan lahan. Sejalan dengan Kelik Tricahyono, dkk (2016) yang dalam penelitiannya menyatakan bahwa dengan membandingkan dua atau lebih data interpretasi citra satelit dengan tahun liputan yang berbeda dapat diketahui perubahan tutupan lahan yang terjadi pada suatu wilayah serta laju kerusakan hutan setiap tahunnya.

Perubahan tutupan lahan hutan konservasi Kota Padang pada masing-masing klasifikasi dalam kurun waktu 10 tahun dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Luas tutupan lahan hutan konservasi di Kota Padang Tahun 2008-2018 No No Kode Klasifikasi Luas (Ha)

2008 2013 2018

1 2 3 4 5 6

1 0 Unclassified 200,61 0 0

2 1 Air 1,08 41,31 57,69

3 2 Jalan 119,61 129,51 68,67

4 3 Pemukiman 0,36 5,13 0,36

5 4 Hutan primer 23.107,50 21.890,61 22.798,98

6 5 Hutan

sekunder

261,81 88,92 406,26

7 6 Sawah 43,02 1,26 2,88

8 7 Lahan terbuka 51,03 40,14 112,23

9 8 Awan 631,62 2.219,76 969,57

Jumlah 24.416,64 24.416,64 24.416,64

Analisis Perubahan Tutupan Lahan Hutan Konservasi di Kota Padang

Untuk penelitian ini dilakukan analisis secara spasial terhadap perubahan klasifikasi tutupan lahan hutan konservasi Kota Padang tersebut di atas, dengan tingkat klasifikasi sebanyak 9 klasifikasi (8 klasifikasi ditambah dengan 0: unclassified), total kemungkinan perubahan klasifikasi untuk perubahan klasifikasi adalah sebanyak 81 kemungkinan (n²).

Gambar 2. Grafik luas tutupan lahan hutan konservasi di Kota Padang Tahun 2008-2018

(6)

Perubahan klasifikasi tutupan lahan di hutan konservasi tersebut disesuaikan dengan kondisi ideal dan tujuan pengelolaan kawasan, dibuat kelas kategori perubahan tutupan lahan hutan konservasi di Kota Padang sebagai berikut:

1. Kategori tetap, dari satu klasifikasi ke klasifikasi awal.

2. Kategori turun, dari klasifikasi kondisi ideal (hutan primer) menjadi klasifikas I lain yang disebabkan oleh kejadian alam atau aktifitas manusia.

3. Kategori naik, dari klasifikasi kondisi non ideal ke kondisi ideal (hutan primer).

4. Kategori tidak diklasifikasikan, perubahan klasifikasi penutupan lahan tidak dapat diklasifikasi misalnya dari hutan primer menjadi awan.

Hasil pengkategorian perubahan tutupan lahan hutan konservasi di Kota Padang tahun 2008- 2018 (kurun waktu 10 tahun) ditampilkan pada Tabel 6.

Tabel 6. Pengkategorian perubahan klasifikasi penutupan lahan hutan konservasi di Kota Padang Tahun 2008-2018 (10 Tahun) No Kategori Jumlah Piksel Luas (Ha) Perubahan (%)

1 2 3 4 5

1. Tidak diklasifikasikan 20.014 1.801,26 7,38

2. Turun 6.513 586,17 2,40

3. Tetap 240.172 21.615,48 88,53

4. Naik 4.597 413,73 1,69

Jumlah 271.296 24.416,64 100,00

Dari Tabel 6 dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan laju kerusakan kawasan hutan yang ditandai dengan kategori turun (sebanyak 6.513 piksel atau 2,40% dari luas kawasan). Sesuai dengan hasil penelitian Siti Nurliana, dkk (2018) yang menyatakan bahwa dengan membandingkan data citra satelit dapat diketahui perubahan penggunaan lahan dalam kurun waktu 10 tahun, tipe penggunaan lahan serta luasannya. Berdasarkan hasil penelitian melalui penggunaan data citra satelit (tahun 2008, 2013 dan 2018), penulis dapat merangkum beberapa faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya perubahan tutupan lahan konservasi di Kota Padang baik terkait luasan maupun pengklasifikasian tutupan lahan hutan konservasi diantaranya sebagai berikut:

1. Perubahan penutupan awan pada area penelitian.

2. Kejadian-kejadian alami seperti bencana alam, kebakaran hutan alami yang menyebabkan terjadinya perubahan tutupan lahan dari kawasan hutan primer menjadi areal terbuka.

3. Suksesi alami tegakan hutan, dari areal terbuka/ hutan sekunder menjadi hutan primer.

4. Adanya aktifitas manusia yang sengaja merubah penutupan lahan di areal konservasi, misalnya untuk perkebunan, penebangan kayu, pembuatan jalan dan sebagainya.

5. Permasalahan teknis terkait resolusi citra dan penempatan piksel citra.

KESIMPULAN

Tipe klasifikasi tutupan lahan hutan konservasi di Kota Padang dalam kurun waktu 10 (sepuluh) tahun (2008 s/d 2018), masing-masing dikelompokkan dalam 8 klasifikasi tutupan lahan yaitu air, jalan, pemukiman, hutan primer, hutan sekunder, sawah, lahan terbuka dan awan. Terjadi perubahan tutupan lahan pada hutan konservasi di Kota Padang dari klasifikasi hutan primer menjadi klasifikasi lainnya dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2018.

(7)

DAFTAR PUSTAKA

[1] Arronof. 1989. Geographic Information Systems : A Management Perspective Ottawa. Dalam Puji Waluyo. 2015. Distribusi Spasial Permukaan dan Kecukupan Ruang Terbuka Hijau di Kota Semarang , Skripsi Pada Program Sarjana Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Institut Pertanian Bogor.

[2] Asma, Nur; 2018. Analisa Perubahan Lahan Tambak Menggunakan Motede Maximum Likehood (Studi Kasus: Kota Banda Aceh), Universitas Syah Kuala, Aceh.

[3] Badan Standardisasi Nasional, SNI 7645-1.2014. Klasifikasi Penutup Lahan - Bagian 1: Skala Kecil dan Menengah, Jakarta.

[4] Badan Standardisasi Nasional, SNI 8033.2014. Metode Penghitungan Perubahan Tutupan Hutan Berdasarkan Hasil Penafsiran Citra Penginderaan Jauh Optik Secara Visual, Jakarta.

[5] Irfaniadiah. 2014. Citra Landsat dan Kegunaannya. http://irfa niad ia h, worpress.com.

Diakses pada tanggal 20 Mei 2019.

[6] aya, I.N.S. 2002. Penginderaan Jauh Satelit Untuk Kehutanan Jurusan Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan IPB. Bogor.

[7] Jhon E.Harmon. Steven J. Anderson. 2003. Design and Implementation of Geographic Information Systems. Jhon Wiley and Sons: New Jersey.

[8] Juhadi dan Liesnoor, Dewi. 2001. Desain dan Komposisi Peta Tematik. Universitas Negeri Semarang, Semarang.

[9] Lestari Wayan, dkk. 2016. Sistem Informasi Geografis (SIG) Daerah Rawan Banjir di Kota Bengkulu Menggunakan Arcview. Universitas Dehasen, Bengkulu.

[10] Lillesand and Kiefer. 1990. Penginderaan Jauh dan Interprestasi Citra. (Alih Bahasa oleh Dulbahri). Gadjah Mada University Press,Yogyakarta.

[11] Nita, Inopianti, dkk. 2016. Pemanfaatan Sistem Informasi Geografis (GIS) dan Pengeinderaan Jauh Dalam Pemetaan Penutupan Lahan di Kabupaten Banjar Negara. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. IPB. Bogor.

[12] Nurliana Siti. 2018. Pemanfaatan Citra Penginderaan Jauh Untuk Mengenali Perubahan Penggunaan Lahan Pada Kawasan Karst Maros . Universitas Negeri Makassar (UNM).

[13] Permanasari, Intan. 2007. Aplikasi SIG Untuk Penyusunan Basisdata Jaringan Jalan Di Kota Magelang Semarang :Program Survey dan Pemetaan Wilayah Jurusan Geografi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang.

(8)

[14] Richards J.A dan Jia, X, 2006. Remoten Sencing Digital Image Analysis : An Introduction (Fourth Edition). Verlag Berlin.

[15] Soemantri, Lili. 2008. Pemanfaatan Teknik Penginderaan Jauh Untuk Mengidentifikasi Kerentanan dan Resiko Banjir, Jakarta

[16] Tricahyono Kelik. 2016. Analisis Perubahan Penutupan Lahan Menggunakan Citra Satelit Lansat ETM7+ pada Kawasan Taman Nasional Gunung Palung di Kabupaten Kayong Utara Provinsi Kalimantan Barat. Universitas Tanjungpura Pontianak.

Gambar

Gambar 1: Peta Lokasi Penelitian
Tabel 2. Luas tutupan lahan hutan konservasi  di Kota Padang Tahun 2008  No  No Kode  Klasifikasi  Luas
Tabel 3. Luas tutupan lahan hutan konservasi  di Kota Padang Tahun 2013
Tabel 5. Luas tutupan lahan hutan konservasi di Kota Padang Tahun 2008-2018  No  No Kode  Klasifikasi  Luas (Ha)
+2

Referensi

Dokumen terkait

Dalam beberapa jenis sel otot, Retikulum endoplasma halus (disebut sebagai retikulum sarkoplasma) menyimpan ion kalsium. Hasil rilis ion kalsium ini pada kontraksi

Trafo merupakan komponen terpenting dalam sebuah instalasi kelistrikan yang berfungsi sebagai penaik maupun penurun tegangan, semakin berkembangnya zaman maka kebutuhan

yang tidak terselesaikan sampai dengan akhir Tahun Anggaran 2020 di Tahun Anggaran 2021 sesuai waktu penyelesaian sisa pekerjaan yang tercantum dalam surat

 Menunjukkan turgor kulit normal dan membran mukosa yang lembab  Melaporkan tidak adanya penurunan berat badan tambahan..

Secara optimality, algoritma greedy tidak selalu dapat menemukan solusi yang terbaik karena diperlukan pengecekan langkah- langkah algoritma yang berulang-ulang,

Untuk mendapatkan prodak yang relatif murni dan untuk mendapatkan kembali bahan baku selama proses maka gas yang keluar dari reaktor yang terdiri aceton, amonia, air,

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan karunia-Nya sehingga Jurusan Pendidikan Teknik Boga dan Busana Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta dapat

Pemahaman komunikasi sebagai suatu proses searah sebenarnya kurang sesuai bila diterapkan pada komunikasi tatap muka, namun mungkin tidak terlalu keliru bila