• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III LAPORAN KASUS KELOLAAN UTAMA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III LAPORAN KASUS KELOLAAN UTAMA"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

29

BAB III

LAPORAN KASUS KELOLAAN UTAMA

3.1 Pengkajian

3.1.1 Identitas Pasien dan Penanggung Jawab

Tn. A berusia 58 tahun dating ke RSUD Kepanjen Malang pada tanggal 22 Februari 2021 dari Klinik Urologi dengan pendidikan terakhir SD, pasien bekerja sebagai supir, beragama Islam, suku bangsa Jawa dan beralamat di Dsn. Karang Jambe Kel.

Karang Jambe Kec. Tumpang Kab. Malang. Datang ke Klinik dan Urologi bersama istrinya Ny. U berusia 48 tahun yang menjadi seorang ibu rumah tangga.

3.1.2 Keluhan Utama

Keluhan utama saat MRS tanggal 22 Februari 2021 yaitu tidak bisa BAK kurang lebih sudah 2 bulan Pada saat dilakukan pengkajian pada tanggal 22 Februari pukul 18.00, keluhan utama yang dirasakan yaitu nyeri saat BAK di perut bagian bawah, nyerinya hilang timbul, nyeri bertambah jika digunakan beraktivitas, skala nyerinya 3. Kualitas nyerinya seperti ditekan dan nyerinya muncul saat ingin BAK saja dan biasanya ketika nyeri itu timbul, klien langsung meminum obat yang sudah diresepkan oleh dokter.

3.1.3 Diagnosa Medis

Diagnosa medisnya yaitu BPH (Benign Prostatic Hyperplasia) dan Retensi Urine.

3.1.4 Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien mengatakan sebelum MRS sudah 2 bulan tidak bisa BAK. Saat di RS klien didiagnosa mengalami BPH dan retensi

(2)

urine. Pasien mengatakan nyeri saat BAK di perut bagian bawah, nyerinya hilang timbul, nyeri bertambah jika digunakan beraktivitas, skala nyerinya 3, kualitas nyerinya seperti ditekan dan nyerinya muncul saat ingin BAK serta jika nyerinya timbul klien langsung meminum obat yang sudah diresepkan dokter. Saat di RS klien didiagnosa mengalami BPH dan retensi urine. Px dilakukan tindakan operasi TURP (Transurethral Resection of Prostate).

Setelah dilakukan tindakan operasi TURP, klien mengatakan nyeri perutnya sudah berkurang namun terkadang luka post operasinya terasa nyeri, skala nyerinya 4.

3.1.5 Riwayat Kesehatan Yang Lalu

Pasien mengatakan pernah menjalani operasi mata sebelah kanan dan kiri.

3.1.6 Activity Daily Living 1. Selama di Rumah

Pasien mengatakan saat di rumah biasanya makan sebanyak 3x sehari dengan nasi putih dan semua jenis lauk maupun sayur dimakan seperti tahu, tempe, telur, ayam, ikan, sayur bayam, sop, dll, pasien minum air putih kurang lebih 3 liter/hari, pasien juga mengatakan tidak ada pantangan mengenai makan/minum. Untuk pola eliminasi, klien mengatakan sudah 2 bulan ini tidak bisa BAK secara normal sehingga klien menggunakan kateter dan biasanya pada saat malam hari klien bisa membuang urine sebanyak 3-4 kali (sekitar 6000-8000 cc), BAB klien normal, biasanya sekitar 2- 3 hari sekali. Mengenai waktu istirahat tidur, klien mengatakan waktu tidurnya tidak menentu tergantung dari kegiatannya karena klien adalah seorang supir. Pada saat tidur di malam hari, pasien sering terbangun karena harus membuang kantong urine yang sudah penuh dan bisa langsung

(3)

tertidur kembali. Pasien juga mengatakan mandi 2x sehari pagi dan sore hari, mencuci rambut setiap mandi, menggososk gigi 2x sehari, keadaan kuku bersih. Pasien melakukan kegiatan sehari-hari secara mandiri.

2. Selama di Rumah Sakit

Pada saat di RS pasien makan sebanyak 3x sesuai dan selalu menghabiskan porsi makan yang sudah disediakan oleh RS, pasien minum air putih kurang lebih 1,5 sampai 3 liter/hari selama di RS. Pasien tidak ada kesulitan makan/minum dan tidak ada pantangan makan/minum. Klien terpasang kateter dan ketika pengkajian warna urine kuning jernih, jumlahnya sekitar 800 cc dan belum BAB selama masuk di RS. Pasien mengatakan selama di RS tidurnya lebih cepat dari biasanya, biasanya pasien tertidur sekitar pukul 21.00 WIB. Selama di RS pasien tetap mandi 2x sehari pagi dan sore, menggosok gigi 2x sehari, keadaan kuku bersih, dan melakukannya secara mandiri walaupun klien terpasang kateter

3.1.7 Pemeriksaan Fisik

1. Keadaan Umum dan Tanda-tanda Vital

Saat dilakukan pemeriksaan fisik pada tanggal 22 Februari 2021 pukul 18.00 WIB, didapatkan hasil kesadaran Compos mentis, tampak baik, namun sesekali terlihat meringis dan sedikit cemas karena akan menjalani operasi, TD 170/106 mmHg, nadi 94x/menit, RR 20x/menit, SpO₂ 99%, suhu 36,7°C. Tekanan darah pasien biasanya normal, namun karena saat dilakukan pemeriksaan tekanan darahnya sangat tinggi.

Tekanan darahnya menjadi meningkat dari biasanya karena pasien cemas akan dilakukan operasi.

2. Pemeriksaan Wajah

Tidak ada edema pada wajah Tn. A dan tidak ada keluhan lain pada wajah. Wajah tampak simetris. Mata simetris kanan dan

(4)

kiri, konjungtiva an anemis kanan dan kiri, sklera tidak ikterik kanan dan kiri, reflek cahaya positif kanan dan kiri, pupil isokor kanan dan kiri. Pada hidung, bentuk tulang dan posis septum nasi tidak ada pembengkokan, tidak terdapat secret dan polip, serta tidak ada keluhan lain pada hidung. Keadaan rongga mulut Tn. A bersih, terdapat caries gigi, mukosa bibir tampak lembab. Pada telinga Tn. A tidak ditemukan adanya serumen, telinga simetris kanan dan kiri, serta tidak ada keluhan lain pada telinga.

3. Pemeriksaan Kepala dan Leher

Bentuk kepala simetris, tidak terdapat benjolan, rambut sedikit beruban, tampak bersih, tidak ada ketombe, tidak rontok. Pada pemeriksaan leher, tidak terdapat pembesaran kelenjar limfe, kelenjar tiroid maupun vena jugularis serta tidak ada keluhan lain.

4. Pemeriksaan Paru

Bentuk thoraks normal, bentuk dada simetris, tidak ada benjolan, pola nafas eupnea, tidak ditemukan kelainan pada pemeriksaan palpasi dan perkusi (sonor). Pada pemeriksaan auskultasi, suara nafasarea vaskuler, bronchial dan bronkovaskuler bersih, tidak ditemukan bunyi suara tambahan.

5. Pemeriksaan Abdomen

Pada pemeriksaan inspeksi terlihat bentuk abdomen datar, tidak ada benjolan, bentuk simetris. Px mengeluh nyeri perut pada bagian bawah.

6. Pemeriksaan Genetalia dan Rektal

Penulis tidak melakukan pemeriksaan genetalia dan rektal, namun dalam rekam medis tertulis pada pemeriksaan genetalia terlihat rambut pubis bersih dan terdapat pembesaran kelenjar prostat.

(5)

7. Pemeriksaan Punggung dan Tulang Belakang

Tidak terdapat lesi pada kulot punggung, bentuk tulang belakang normal dan simetris, tidak terdapat deformitas, fraktur maupun nyeri tekan.

8. Pemeriksaan Ekstremitas/Muskuloskeletal

Pada pemeriksaan ektremitas atas dan bawah didapatkan kekuatan otot 5 (baik), pasien dapat melakukan gerakan full ROM dengan tahanan cukup kuat. Otot antar sisi kanan dan kiri simetris, tidak terdapat oedema, deformitas, dan fraktur.

9. Pemeriksaan Fungsi Pendengaran/Penghidu/Tenggorokan Ketajaman pendengaran Tn. A dengan tes bisik normal, ketajaman penciuman dengan menggunakan hand sanitizer beraroma jasmine tea baik, pasien mengatakan dengan benar aroma hand sanitizer, serta tidak ditemukan adanya nyeri telan.

10. Pemeriksaan Fungsi Penglihatan

Pada pemeriksaan lapang pandang Tn. A didapatkan hasil normal.

11. Pemeriksaan Fungsi Neurologis

Tingkat kesadaran Tn. A dengan GCS (Glasgow Coma Scale) didapatkan skor 456 (Compos mentis), tidak terdapat peningkatan suhu tubuh, tidak ada nyeri kepala, tidak ada mual muntal. Pada fungsi motoric Tn. A, didapatkan ukuran otot simetris, tidak terdapat atropi. Pada saat dilakukan pemeriksaan reflek, didapatkan hasil pada reflek fisiologis pada R. Bisep, R. Trisep, R. Brachioradialis, R. Patella, R.

Achiles yaitu positif.

12. Pemeriksaan Kulit/Integumen

Pada pemeriksaan kulit tidak ditemukan adanya lesi, warna kulit coklat (sawo matang). Tekstur kulit halus, turgor baik, lemak subcutan tipis, tidak terdapat nyeri tekan, CRT kembali dalam <2 detik.

(6)

3.1.8 Pemeriksaan Penunjang 1. Pemeriksaan Laboratorium

Tabel 3.1 Hasil Pemeriksaan Laboratorium Tanggal

pemeriksaan

Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Rujukan 22 Februari

2021

HEMATOLOGI Darah Rutin

Haemoglobin Hematokrit Index Eritrosit

MCV MCH MCHC Eritrosit Leukosit Trombosit

16,2 49,4

87,6 28,8 32,8 5,64 13.900 241.000

g/dL

%

fL pg g/dL juta/cmm

sel/cmm sel/cmm

13,4 – 17,7 40 – 47

80 – 93 27 – 31 32 – 36 4,0 – 5,5 4.300 – 10.300 142.000 – 424.000 Hitung Jenis Leukosit

Eosinophil Basophil Neutrophil Limfosit Monosit

12,0 1,4 56,6 21,4 8,6

%

%

%

%

%

0 – 4 0 – 1 51 – 67 25 – 33 2 – 5 IMUNOSEROLOGI

Anti SARS COV2 ECLIA

HBs Ag (RPHA)

Non Reaktif,

COI:

0,087 Non Reaktif

Reaktif; COI >= 1,0 Non Reaktif; COI < 1,0

Non Reaktif

KIMIA DARAH Ureum Creatinine SGOT SGPT GDS

28 1,34

29 46 110

mg/dL mg/dL U/L U/L mg/dL

10 – 20

< 1,2 0 – 40 0 – 41

< 200 URINE

Urine Lengkap Makroskopis Urine Warna Urine Kejernihan Kimia Urine Berat jenis pH Albumin

Kuning Keruh

1,005 5,5

10 mg/dL

Kuning muda Jernih

1,010 – 1,030 4,8 – 7,4

< 25

2. Pemeriksaan Lain

Pemeriksaan lain yang dilakukan adalah pemeriksaan thorax, USG abdomen dan EKG. Pada hasil foto thorax AP yang dilakukan pada tanggal 5 Februari 2021, didapatkan hasil:

(7)

- Cor: bentuk dan ukuran tidak dapat dievaluasi, kesan tak membesar

- Pulmo: coracan vesikuler normal, hilus dextra/sinistra normal, tak tampak inflitrat/nodul

- Sinus phrenicocotalis kanan kiri lancip, tampak perselubungan homogeny pada lateral hemithorax kanan kiri, hemidiaphragma kanan kiri normal

- Tulang-tulang: tak tampak kelainan

- Kesimpulannya yaitu kesan Effusi pleura bilateral pockedted DD Penebalan pleura

3.1.9 Tindakan dan Terapi

Pada saat di rawat diruang rawat inap pasien mendapatkan terapi obat pada pre TURP yaitu micardis 80 mg 0-0-1 (diminum malam hari), adalat oros 30 mg 1-0-0 (diminum pagi hari) dan pada saat post TURP yaitu infus NaCl 20 tpm, injeksi ceftriaxone 2x1 mg, injeksi kalnex 3x1 mg. Selain itu, pada saat post TURP pasien juga dilakukan tindakan spooling kateter three way.

3.2 Analisa Data dan Diagnosa Keperawatan 3.2.1 Pre Operasi

1. Diagnosa Keperawatan : Retensi urin b.d peningkatan tekanan uretra (D.0050)

a. Definisi : Pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap.

b. Data Subjektif : Pasien mengatakan tidak bisa BAK sudah 2 bulan, nyeri saat BAK di perut bagian bawah, nyerinya hilang timbul, nyeri bertambah jika digunakan beraktivitas, skala nyerinya 3, kualitas nyerinya seperti ditekan, nyeri muncul saat ingin BAK saja dan biasaya ketika nyeri itu timbul px langsung meminum obat.

c. Data objektif: Nyeri saat BAK, tampak meringis.

(8)

2. Diagnosa Keperawatan : Nyeri akut b.d agen pencedera fisiologis (D.0077)

a. Definisi : Pengalaman sensorik atau emosional yang berkaitan dengan kerusakan jaringan actual atau fungsional, dengan onset mendadak atau lambat dan berintensitas ringan hingga berat yang berlangsung kurang dari 3 bulan.

b. Data Subjektif : Pasien mengatakan nyeri saat BAK di perut bagian bawah, nyerinya hilang timbul, nyeri bertambah jika digunakan beraktivitas, skala nyerinya 3, kualitas nyerinya seperti ditekan, nyeri muncul saat ingin BAK saja dan biasaya ketika nyeri itu timbul px langsung meminum obat.

c. Data objektif : Tampak meringis, TD 170/90 mmHg, nadi 94x/menit, RR 20x/menit

3.2.2 Post Operasi

1. Diagnosa Keperawatan : Nyeri akut b.d. agen pencedera fisik (prosedur operasi) (D.0077)

a. Definisi : Pengalaman sensorik atau emosional yang berkaitan dengan kerusakan jaringan actual atau fungsional, dengan onset mendadak atau lambat dan berintensitas ringan hingga berat yang berlangsung kurang dari 3 bulan.

b. Data Subjektif : Pasien mengatakan nyeri pada luka bekas operasi, skala nyerinya 4.

c. Data objektif : Tampak meringis, TD 160/90 mmHg, Nadi 84x/menit.

2. Diagnosa Keperawatan : Resiko perdarahan d.d tindakan pembedahan (D.0012)

a. Definisi : Beresiko mengalami kehilangan darah baik internal (terjadi di dalam tubuh) maupun eksternal (terjadi hingga keluar tubuh)

b. Faktor Resiko : tindakan pembedahan

(9)

3. Diagnosa Keperawatan : Resiko infeksi d.d. efek prosedur invasif (D.0142)

a. Definisi : Beresiko mengalami peningkatan terserang organisme patogenik

b. Faktor Resiko : efek prosedur invasive

3.3 Rencana Keperawatan

Masalah keperawatan yang terjadi diatas kemudian dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut. Pada masalah keperawatan pertama yaitu retensi urine berhubungan dengan peningkatan tekanan uretra.

Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan eliminasi urine membaik dengan kriteria hasil distensi kandung kemih cukup menurun, nokturia cukup menurun, berkemih tidak tuntas cukup menurun. Intervensi yang akan dilakukan yaitu pemnatauan cairan dan perawatan kateter urine.

Perencanaan keperawatan pada pematauan cairan tersebut yaitu monitor frekuensi dan kekuatan nadi, monitor frekuensi nafas, monitor tekanan darah, monitor jumlah, warna dan berat jenis urine, monitor kadar albumin urine dan protein total, monitor hasil pemeriksaan serum (mis. osmolaritas serum, hematokrit, natrium, kalium, BUN), monitor intak dan output cairan, identifikasi tanda-tanda hypovolemia, identifikasi tanda-tanda hypervolemia, identifikasi factor resiko ketidakseimbangan cairan, atur interval waktu pemantauan sesuai denfan kondisi pasien, dokumentasikan hasil pemantauan, jelaskan tujua dan prosedur pemantauan, informasikan hasil pemantauan jika perlu. Untuk perencanaan keperawatn perawatan kateter urine yaitu monitor kepatenan kateter urine, monitor tanda dan gejala infeksi saluran kemih, monitor tanda dan gejala obstruksi saliran urine, monitor kebocoran kateter, selang, dan kantung urine, monitor intake dan output cairan (jumlah dan karakteristik, gunakan teknik aseptic selama perawatan kateter urine, pastikan selang kateter dan kantung urine terbebas dari lipatan, pastikan kantung urine diletakkan di bawah ketinggian kandung kemih dan tidak dilantai, lakukan perawatan perineal (perinela htgiene) minimal 1 kali sehari, lakukan irigasi rutin dengan

(10)

cairan isotonis untuk mencegah kolonisasi bakteri, kosongkan kantung urine jika kantung urine telah terisis setengahnya, ganti kateter dan kantung urin sesuai protokol atau indikasi, lepaskan kateter sesuai kebutuhan, jaga privasi selama melakukan tindakan, jelaskan tujuan , manfaat, prosedur, dan resiko sebelum pemasangan kateter.

Diagnosa kedua yaitu nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis, intervensi yang dilakukan yaitu berfokus pada manajemen nyeri. Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan tingkat nyeri menurun dengan kriteria hasil keluhan nyeri cukup menurun, meringis menurun, frekuensi nadi membaik, pola nafas membaik, tekanan darah membaik. Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukannya intervensi manajemen nyeri yang berupa identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri, identifikasi skala nyeri, identifikasi respons nyeri non verbal, identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri, identifikasi pengetahuan dan keyakinan tentang nyeri, identifikasi pengaruh dan nyeri pada kualitas hidup , monitor keberhasilan terapi komplementer yang sudah diberikan, monitor efek samping penggunaan analgetik, berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (nafas dalam), kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri (mis, suhu ruangan, pencahayaan, kebisingan), fasilitasi istirahat tidur, pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam pemilihan strategi meredakan nyeri, jelaskan penyebab, periode dan pemicu nyeri, jelaskan strategi meredakan nyeri, anjurkan memonitor nyeri secara mandiri, anjurkan menggunakan analgetik secara tepat, ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri, kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu.

Diagnosa yang ketiga yaitu nyeri akut yang berhubungan dengan agen pencedera fisik (prosedur operasi), intervensi yang dilakukan berfokus pada manajemen nyeri. Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan tingkat nyeri menurun dengan kriteria hasil keluhan nyeri cukup menurun, meringis menurun, frekuensi nadi membaik, pola nafas membaik, tekanan darah membaik. Untuk mencapai tujuan tersebut

(11)

dilakukannya intervensi manajemen nyeri yang berupa identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri, identifikasi skala nyeri, identifikasi respons nyeri non verbal, identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri, identifikasi pengetahuan dan keyakinan tentang nyeri, identifikasi pengaruh dan nyeri pada kualitas hidup , monitor keberhasilan terapi komplementer yang sudah diberikan, monitor efek samping penggunaan analgetik, berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (nafas dalam), kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri (mis, suhu ruangan, pencahayaan, kebisingan), fasilitasi istirahat tidur, pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam pemilihan strategi meredakan nyeri, jelaskan penyebab, periode dan pemicu nyeri, jelaskan strategi meredakan nyeri, anjurkan memonitor nyeri secara mandiri, anjurkan menggunakan analgetik secara tepat, ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri, kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu.

Diagnosa yang keempat yaitu resiko perdarahan ditandai dengan tindakan pembedahan, intervensi yang diberikan berfokus pada pencegahan perdarahan. Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan kontrol resiko meningkat dengan kriteria hasil kemampuan mencari informasi tentang factor resiko meningkat, kemampuan mengidentifikasi faktor resiko meningkat, kemampuan melakukan strategi kontrol resiko meningkat, kemampuan mengubah perilaku meningkat.

Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukannya intervensi pencegahan perdarahan yang berupa monitor tanda dan gejala perdarahan, monitor nilai hematokrit/ haemoglobin sebelum dan setelah kehilangan darah, monitor tanda-tanda vital ortotastik, monitor koagulasi (mis. prothrombin time (PT), partial thromboplastin time (PTT), fibrinogen, degradasi fibrin dan/ atau platelet), pertahankan bed rest selama perdarahan, batasi tindakan invasive, jika perlu, gunakan kasur pencegah decubitus, hindari pengukuran suhu rektal, jelaskan tanda dan gejala perdarahan, anjurkan menggunakan kaus kaki saat ambulasi, anjurkan meningkatkan asupan cairan untuk menghindari konstipasi, anjurkan menghindari aspirin atau

(12)

antikoagulan, anjurkan meningkatkan asupan makanan dan vitamin K, anjurkan segera melapor jika terjadi perdarahan, kolaborasi pemberian obat pengontrol perdarahan, jika perlu, lakukan irigasi bladder untuk mencegah resiko perdarahan.

Diagnosa yang kelima yaitu resiko infeksi ditandai dengan efek prosedur invasif, intervensi yang diberikan berfokus pada pencegahan infeksi. Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan kontrol resiko meningkat dengan kriteria hasil kemampuan mencari informasi tentang factor resiko meningkat, kemampuan mengidentifikasi faktor resiko meningkat, kemampuan melakukan strategi kontrol resiko meningkat, kemampuan mengubah perilaku meningkat. Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukannya intervensi pencegahan infeksi yang berupa monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik, cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien dan lingkungan pasien, pertahankan teknik aseptic pada pasien beresiko tinggi, jelaskan tanda dan gejala infeksi, ajarkan cara mencuci tangan dengan benar, ajarkan cara memeriksa kondisi luka atau luka operasi.

3.4 Implementasi

1. Implementasi diagnosa retensi urine

Implementasi yang dilakukan pada pasien dilaksanakan pada tanggal 22 Februari 2021 untuk pemantauan cairan adalah memontior tanda-tanda vital dengan hasil TD 170/106 mmHg, nadi 94x/menit, RR 20x/menit, SpO₂ 99%, suhu 36,7°C, memonitor hasil laboratorium dengan hasil hematokrit 49,4%, ureum 28 mg/dL, kreatinin 1,34 mg/dL, SGOT 29 U/L, SGPT 46 U/L, menanyakan intake dan output cairan dengan hasil keluarga mengatakan pasien minum air putih sebanyak kurang lebih 750 ml, tidak terpasang cairan infus. Untuk haluaran urinnya sebanyak 800 cc.

2. Implementasi diagnosa nyeri akut (pre operasi)

Implementasi yang dilakukan pada pasien dilakukan pada tanggal 22 Februari 2021 untuk manajemen nyeri adalah mengidentifikasi

(13)

lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri, skala nyeri, factor yang memperberat dan memperingan nyeri dengan hasil pasien mengatakan nyeri saat BAK di perut bagian bawah, nyerinya hilang timbul, nyeri bertambah jika digunakan beraktivitas, skala nyerinya 3, kualitas nyerinya seperti ditekan, nyeri muncul saat ingin BAK saja, memonitor efek samping penggunaan analgetik dengan hasil pasien mengatakan nyerinya berkurang jika meminum obat.

Memberikan terapi farmakologis yaitu micardis 80 mg 0-0-1 (di minum malam hari) dan adalat oros 30 mg 1-0-0 (diminum pagi hari).

Memberikan teknik nonfarmakologis nafas dengan hasil nyerinya berkurang, skala nyeri 1.

3. Implementasi diagnosa nyeri akut (post operasi)

Implemetasi yang dilakukan pada pasien hari pertama pada tanggal 23 Februari 2021 untuk manajemen nyeri adalah mengidentifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri, skala nyeri, factor yang memperberat dan memperingan nyeri dengan hasil pasien mengatakan nyerinya sudah berkurang, lokasi nyerinya yaitu pada luka bekas operasi, skala nyerinya 6. Melakukan spooling kateter three way dengan hasil tidak ada sumbatan pada selang DC.

Memberikan terapi infus NaCl 20 tpm, ijeksi ceftriaxone 2x1 mg, injeksi ondan 3x1 mg, injeksi kalnex 3x1 mg, injeksi ranitidine 2x1 mg. Memberikan teknik nonfarmakologis nafas dalam dengan hasil nyerinya berkurang, skala nyeri 4.

Pada hari kedua dilakukan kembali implementasi untuk mnegurangi nyeri pada tanggal 24 Februari 2021 yaitu mengidentifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri, skala nyeri, factor yang memperberat dan memperingan nyeri dengan hasil pasien mengatakan nyerinya sudah berkurang, lokasi nyerinya yaitu pada luka bekas operasi, skala nyerinya 4. Memberikan terapi infus NaCl 20 tpm, ijeksi ceftriaxone 2x1 mg, injeksi ondan 3x1 mg, injeksi kalnex 3x1 mg, injeksi

(14)

ranitidine 2x1 mg.Memberikan teknik nonfarmakologis nafas dalam dengan hasil nyerinya berkurang, skala nyeri 2.

4. Implementasi diagnosa resiko perdarahan

Implementasi yang dilakukan di hari pertama (23 Februari 2021) dan hari kedua (24 Februari 2021) untuk pencegahan perdarahan yaitu memonitor tanda dan gejala perdarahan, memonitor tanda-tanda vital, mempertahankan bed rest, membatasi mobilisasi, menganjurkan meningkatkan asupan cairan, menganjurkan meningkatkan asupan makanan serta melakukakan irigasi bladder.

5. Implementasi diagnosa resiko infeksi

Implementasi yang dilakukan pada hari pertama (23 Februari 2021) dan hari kedua (24 Februari 2021) untuk pencegahan resiko infeksi yaitu memonitor tanda dan gejala infeksi local dan sistemik dengan hasil tidak ada infeksi. Melakukan kateter hygiene untuk mencegah terjadinya infeksi. Menjelaskan tanda dan gejala infeksi, mengajarkan cara memeriksa kondisi luka atau luka operasi.

3.5 Evaluasi

Evaluasi diagnosa pre operasi dilakukan pada tanggal 23 Februari 2021. Untuk diagnosa pertama retensi urine setelah dilakukan implementasi didapatkan hasil data subjektif pasien mengatakan mencatat jumlah urine setiap akan dibuang. Selain itu distensi kandung kemih sedang, nokturia sedang, berkemih tidak tuntas sedang, hasil laboratorium dengan hasil hematokrit 49,4%, ureum 28 mg/dL, kreatinin 1,34 mg/dL, SGOT 29 U/L, SGPT 46 U/L, keluarga pasien mengatakan pasien minum air putih sebanyak kurang lebih 1000 ml, tidak terpasang cairan infus.

Untuk haluaran urinnya cukup meningkat. Pada diagnosa kedua nyeri akut pre operasi setelah dilakukan implementasi didapatkan hasil data subjektif pasien mengatakan nyerinya sudah berkurang, pasien tampak meringis, micardis 80 mg 0-0-1 (di minum malam hari) dan adalat oros 30 mg 1-0-0 (diminum pagi hari). Melakukan terapi nonfarmakologis nafas dalam jika nyeri masih dirasakan.

(15)

Evaluasi diagnosa post operasi dilakukan pada tanggal 23 Februari 2021. Untuk diagnosa pertama nyeri akut post operasi setelah dilakukan implementasi didapatkan hasil nyerinya sudah berkurang, skala nyeri 4, tampak meringis. Memberikan terapi infus NaCl 20 tpm, ijeksi ceftriaxone 2x1 mg, injeksi kalnex 3x1 mg,. Memberikan terapi nonfarmakologis jika nyeri dirasakan. Pada diagnosa kedua resiko perdarahan setelah dilakukan implementasi didapatkan hasil pasien tidak melakukan kegiatan apapun, pasien hanya diatas kasur, pasien juga dilakukan spooling kateter three way. Sedangkam untuk diagnosa ketiga resiko infeksi setelah dilakukan implementasi didapatkan hasil px dan keluarga mengatakan tahu tanda dan gejala infeksi, melakukan kateter hygiene setiap hari.

Evaluasi diagnosa post operasi hari kedua dilakukan pada tanggal 24 Februari 2021. Untuk diagnosa pertama nyeri akut post operasi setelah dilakukan implementasi didapatkan hasil nyerinya sudah berkurang, skala nyeri 2. Memberikan terapi infus NaCl 20 tpm, ijeksi ceftriaxone 2x1 mg, injeksi ondan 3x1 mg, injeksi kalnex 3x1 mg, injeksi ranitidine 2x1 mg.

Memberikan terapi nonfarmakologis jika nyeri dirasakan. Pada diagnosa kedua resiko perdarahan setelah dilakukan implementasi didapatkan hasil tidak terjadi perdarahan, pasien dianjurkan untuk ambulasi dan mobilisasi pelan-pelan. Sedangkan pada diagnosa ketiga resiko infeksi setelah dilakukan implementasi didapatkan hasil tidak terdapat infeksi, melakukan kateter hygiene setiap hari.

3.6 Keterbatasan dalam Proses Asuhan Keperawatan

Pada saat proses asuhan keperawatan dilakukan, terdapat beberapa keterbatasan yang tidak dilakukan penulis antara lain:

1. Penulis tidak melakukan pengkajian head to toe secara mandiri, seperti pada pemeriksaan genetalia. Penulis hanya melihat dari rekam medis pasien saja.

2. Penulis tidak memberikan edukasi nutrisi pada pasien post operasi untuk mempercepat penyembuhan luka operasi. Edukasi nutrisi untuk penyembuhan luka post operasi antara lain makan makanan yang

(16)

bergizi dan mudah dicerna, diet TKTP (Tinggi Kalori Tinggi Protein), minum minimal sebanyak 8-10 gelas perhari, konsumsi vitamin yang cukup, konsumsi obat yang sudah diresepkan oleh dokter, serta istirahat yang cukup.

Gambar

Tabel 3.1 Hasil Pemeriksaan Laboratorium  Tanggal

Referensi

Dokumen terkait

Pada evaluasi masalah keperawatan ketiga nausea didapatkan keluhan mual berkurang, pasien mengatakan cukup memahami penyebab dan masalah yang berkaitan dengan

Hari keempat pasien diruangan seruni pada tanggal 25 Agustus 2021, implementasi kembali dilakukan dengan manajemen energi, denga memonitor kelelahan fisik dan emosional

4/2/2015 Ukuran-ukuran frekuensi yang digunakan dalam epidemiologi 40 Dinamik prevalens Kasus Lama Kasus Baru Prevalens (Permukaan air) Insidens (aliran masuk).

Gejala utama yang dapat muncul pada batu ginjal adalah adanya nyeri perut atau pinggang, atau hematuria.. Tentang nyeri : durasi, karakteristik,

Masalah keperawatan peratama isolasi sosial, dengan hasil diatas dan diharapkan rencana intervensi yang bisa dilakukan dengan SP1-3 Pasien Melakukan membina

Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumbernya, diamati dan dicatat untuk pertama kalinya (Marzuki 2002:55). Pencatatan sumber data utama melalui wawancara atau

Pada diagnose keperawatan kedua di dapatkan hasil bahwa kelurga mengatakan hari ini kemampuan melakukan aktivitas sedang motivasi sedang verbalisasi kelelahan cukup

Banyaknya pesaing usaha Perlunya untuk terus berinovasi Menarik keterampilan/tenaga kerja yang tepat Persaingan harga Perlunya untuk menjadi lebih profesional Mempertahankan staf