• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROFIL KEMISKINAN PROVINSI SUMATERA BARAT MARET 2017

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PROFIL KEMISKINAN PROVINSI SUMATERA BARAT MARET 2017"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PROFIL KEMISKINAN PROVINSI SUMATERA BARAT MARET 2017

1. Perubahan Garis Kemiskinan September 2016 – Maret 2017

Perubahan jumlah dan persentase penduduk miskin tidak akan terlepas dari perubahan nilai garis kemiskinan. Garis kemiskinan (GK) merupakan rata-rata pengeluaran per kapita perbulan yang digunakan untuk mengklasifikasikan penduduk kedalam golongan miskin atau tidak miskin. Garis kemiskinan yang digunakan untuk

No. 38/07/13/Th. XX/17 Juli 2017

 Garis Kemiskinan (GK) selama September 2016 - Maret 2017 mengalami peningkatan 3,55 persen, yaitu dari Rp.438.075 per kapita per bulan pada September 2016, menjadi Rp.453.612 per kapita per bulan pada Maret 2017.

 Komponen terbesar pembentuk Garis Kemiskinan adalah Garis Kemiskinan Makanan dengan kontribusi 76,47 persen, sedangkan Garis Kemiskinan Non Makanan memberikan kontribusi sebesar 23,53 persen.

 Secara persentase, penduduk miskin turun sebesar 0.27 poin dari periode September 2016 ke periode Maret 2017 yaitu dari 7,14 persen menjadi 6,87 persen.

 Jumlah penduduk miskin di Provinsi Sumatera Barat pada Maret 2017 adalah 364.513 jiwa, turun sebanyak 11.997 jiwa dibanding September 2016. Menurut wilayahnya, perkotaan turun sebanyak 6.496 jiwa, dan jumlah penduduk miskin perdesaan juga mengalami penurunan sebanyak 5.501 jiwa.

 Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) turun 0,122 poin, dari 1,122 pada September 2016 menjadi 1,000 pada Maret 2017. Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) juga mengalami penurunan sebesar 0,050 poin, dari 0,278 pada September 2016 menjadi 0,228 pada Maret 2017.

 Pada Maret 2017, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Indonesia yang diukur oleh Gini Ratio adalah sebesar 0,318. Angka ini menurun jika dibandingkan dengan Gini Ratio Maret 2016 yang sebesar 0,331.

 Selama periode Maret 2016–Maret 2017, distribusi pengeluaran dari kelompok penduduk 40 persen terbawah masih dalam kategori ketimpangan rendah namun distribusinya berfluktuasi, yaitu sebesar 20,82 pada Maret 2016, pada September 2016 sebesar 21,56 persen dan 21,31 persen pada Maret 2017.

(2)

menghitung penduduk miskin Maret 2017 adalah Rp.453.612 (kapita/bulan). Peran komoditi makanan terhadap garis kemiskinan makanan jauh lebih besar dibandingkan komoditi non makanan. Pada bulan Maret 2017, sumbangan garis kemiskinan makanan terhadap garis kemiskinan sebesar 76,47 persen. Jika dibedakan menurut daerah perkotaan dan perdesaan maka sumbangan garis kemiskinan makanan terhadap garis kemiskinan di perdesaan sebesar 80,34 persen, lebih besar dibandingkan daerah perkotaan yang hanya 71,33 persen. Komposisi tersebut tidak jauh berbeda dangan kondisi September 2016. Jika dibandingkan antara Maret 2017 dengan September 2016, maka garis kemiskinan daerah perkotaan meningkat sebesar 3,95 persen. Sedangkan di daerah perdesaan meningkat 3,22 persen. Jika dilihat menurut komponennya maka terjadi perbedaan antara perkotaan dan perdesaan. Di daerah perdesaan garis kemiskinan non makanan mengalami perubahan yang lebih besar daripada garis kemiskinan makanan.

Tabel 1.

Garis Kemiskinan, Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut Daerah, Maret 2015 – Maret 2017

Daerah/

Tahun

Garis Kemiskinan (Rp/Kapita/Bln) Jumlah penduduk

miskin

Persentase penduduk miskin (%) Makanan Non

Makanan Total

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

Perkotaan Maret 2015 September 2015

288 410 301 356

117 925 121 984

406 335 423 339

118 034 118 480

5,73 5,73 Maret 2016

September 2016

312 154 322 168

129 369 132 506

441 523 454 674

118 962 119 510

5,54 5,52 Maret 2017 337 133 135 481 472 614 113 014 5,14 Pedesaan

Maret 2015 September 2015

293 768 313 294

75 985 77 884

369 753 391 178

261 575 231 050

8,35 7,35 Maret 2016

September 2016

332 415 341 816

81 375 83 703

413 790 425 520

252 593 257 000

8,16 8,27 Maret 2017 352 878 86 342 439 220 251 499 8,10

Kota + Desa Maret 2015 September 2015 Maret 2016 September 2016 Maret 2017

291 641 308 554 326 993 334 358 346 896

92 637 95 393 98 148 103 717 106 715

384 277 403 947 425 141 438 075 453 612

379 609 349 530 371 555 376 510 364 513

7,31 6,71 7,09 7,14 6,87 Sumber: Diolah dari data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas)

(3)

2. Perkembangan Persentase Penduduk Miskin di Provinsi Sumatera Barat, September 2016 – Maret 2017

Jumlah penduduk miskin di Provinsi Sumatera Barat pada Maret 2017 adalah 364.513 jiwa mengalami penurunan sebesar 3,19 persen dibandingkan kondisi September 2016. Lebih dari dua per tiga, tepatnya 69,00 persen, penduduk miskin tinggal di daerah perdesaan. Jadi sekitar 31,00 persen penduduk miskin tinggal di perkotaan. Tabel 2, menunjukkan bahwa 5,14 persen penduduk perkotaan dikategorikan sebagai penduduk miskin, sementara itu, di daerah perdesaan sekitar 8,10 persen.

Tabel 2.

Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Provinsi Sumatera Barat Menurut Daerah, Maret 2015 – Maret 2017

Tahun Jumlah Penduduk Miskin (Jiwa) Persentase Penduduk Miskin (%) Perkotaan Perdesaan Jumlah Perkotaan Perdesaan Jumlah

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

Maret 2015 September 2015 Maret 2016 September 2016 Maret 2017

118 034 118 481 118 962 119 510 113 014

261 575 231 048 252 593 257 000 251 499

379 609 349 529 371 555 376 510 364 513

5,73 5,73 5,54 5,52 5,14

8,35 7,35 8,16 8,27 8,10

7,31 6,71 7,09 7,14 6,87 Sumber: Diolah dari data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas)

Grafik 1.

Persentase Penduduk Miskin di Provinsi Sumatera Barat Menurut Daerah, Maret 2015 – Maret 2017

Secara keseluruhan persentase penduduk miskin di Provinsi Sumatera Barat mengalami penurunan dari 7,14 persen pada September 2016 menjadi 6,87 persen pada Maret 2017. Perkembangan persentase penduduk miskin di daerah perkotaan relatif

5,73 5,73 5,54 5,52

5,14 8,35

7,35

8,16 8,27 8,10

7,31

6,71 7,09 7,14 6,87

4 5 6 7 8 9 10 11

Mar-15 Sep-15 Mar-16 Sep-16 Mar-17

Persentase penduduk miskin

Kota Desa Kota+Desa

(4)

lebih tinggi dibanding daerah perdesaan. Penduduk miskin daerah perkotaan turun dari 5,52 persen pada September 2016 menjadi 5,14 persen pada Maret 2017. Di daerah perdesaan, persentase penduduk miskinnya juga mengalami penurunan dari 8,27 persen menjadi 8,10 persen. Perkembangan perubahan persentase dan jumlah penduduk miskin menurut daerah perdesaan dan perkotaan berturut-turut dapat dilihat pada Grafik 1 dan Grafik 2.

Grafik 2.

Jumlah Penduduk Miskin di Provinsi Sumatera Barat Menurut Daerah, Maret 2015 – Maret 2017

3. Perkembangan Penduduk Miskin September 2016 – Maret 2017

Pada Maret 2017, Jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan turun sebesar 6.496 jiwa dari periode September 2016, begitu juga dengan penduduk miskin di daerah perdesaan yang mengalami penurunan sebesar 5.501 jiwa pada periode yang sama.

Perubahan tersebut mengakibatkan jumlah penduduk miskin di Provinsi Sumatera Barat mengalami penurunan sebanyak 11.997 jiwa dari September 2016 ke Maret 2017.

4. Indeks Kedalaman Kemiskinan dan Indeks Keparahan Kemiskinan

Dimensi lain yang perlu juga mendapatkan perhatian selain jumlah dan persentase penduduk miskin adalah tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan. Upaya pengentasan kemiskinan bukan hanya ditujukan untuk mengurangi jumlah penduduk miskin namun juga mengurangi kedalaman dan keparahan kemiskinan. Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) menunjukan bahwa penduduk miskin di perdesaaan memiliki rata-rata (gap) pengeluaran dengan garis kemiskinan yang lebih besar dibandingkan penduduk miskin perkotaan. Secara umum, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) untuk Provinsi Sumatera Barat mengalami penurunan dari 1,122 pada September 2016 menjadi 1,000 pada Maret 2017.

118.034 118.481 118.960 119.510 113.014

261.575

231.048 252.590 257.000 251.499

379.609

349.529 371.550 376.510 364.513

0 50.000 100.000 150.000 200.000 250.000 300.000 350.000 400.000 450.000 500.000

Mar-15 Sep-15 Mar-16 Sep-16 Mar-17

Kota Desa Kota+Desa

(5)

Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) mengindikasikan ketimpangan pengeluaran antara penduduk miskin. Pada Maret 2017, Indeks Keparahan Kemiskinan perkotaan lebih bagus dibandingkan di daerah perdesaan. Secara umum Indeks Keparahan Kemiskinan turun dari 0,278 pada September 2016 menjadi 0,228 pada Maret 2017, berarti ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin juga semakin mengecil di Sumatera Barat .

Tabel 3

Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2), Maret 2015 – Maret 2017

Tahun Kota Desa Kota + Desa

P1

Maret 2015 September 2015

0,785 1,056

1,104 1,392

0,977 1,259 Maret 2016

September 2016 Maret 2017

0,752 1,038 0,752

1,334 1,180 1,175

1,096 1,122 1,000

P2

Maret 2015 September 2015

0,161 0,245

0,224 0,320

0,211 0,290 Maret 2016

September 2016 Maret 2017

0,153 0,249 0,157

0,304 0,299 0,278

0,242 0,278 0,228 Sumber: Diolah dari data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas)

5. Perkembangan Gini Ratio Maret 2015–Maret 2017

Salah satu ukuran ketimpangan yang sering digunakan adalah Gini Ratio. Nilai Gini Ratio berkisar antara 0-1. Semakin tinggi nilai Gini Ratio menunjukkan ketimpangan yang semakin tinggi. Gini Ratio pada Maret 2015 tercatat sebesar 0,342 dan berfluktuasi hingga Maret 2017 mencapai 0,318. Pada Maret 2017 Gini Ratio tercatat sebesar 0,318 menurun dibandingkan Gini Ratio pada Maret 2016 yang sebesar 0,331 dan naik jika dibandingkan dengan Gini Ratio pada September 2016 yang sebesar 0,312. Kondisi ini menunjukkan bahwa pemerataan pengeluaran di Indonesia mengalami perbaikan selama periode Maret 2016–Maret 2017.

Berdasarkan daerah tempat tinggal, Gini Ratio di daerah perkotaan pada Maret 2017 adalah sebesar 0,336 mengalami penurunan sebesar 0,017 poin dibanding Gini Ratio Maret 2016 yang sebesar 0,353 namun meningkat dari Gini Ratio September 2016 yang sebesar 0,323 (naik 0,013 poin). Untuk daerah perdesaan Gini Ratio Maret 2017 adalah sebesar 0,276 menurun 0,012 poin dibanding Gini Ratio Maret 2016 yang sebesar 0,288 serta naik 0,009 poin dibanding Gini Ratio September 2016 yang sebesar 0,267.

(6)

Tabel 4

Gini Ratio Menurut Daerah, Maret 2015–Maret 2017

Tahun Perkotaan Perdesaan Perkotaan+

Perdesaan

(1) (2) (3) (4)

Maret 2015 0,358 0,304 0,342

Sept 2015 0,325 0,280 0,319

Maret 2016 0,353 0,288 0,331

Sept 2016 0,323 0,267 0,312

Maret 2017 0,336 0,276 0,318

Sumber: Diolah dari data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas)

6. Perkembangan Distribusi Pengeluaran Maret 2015–Maret 2017

Disamping Gini Ratio ukuran ketimpangan lain yang sering digunakan adalah persentase pengeluaran pada kelompok penduduk 40 persen terbawah atau yang dikenal dengan ukuran Bank Dunia. Berdasarkan ukuran ini tingkat ketimpangan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu tingkat ketimpangan tinggi jika persentase pengeluaran kelompok penduduk 40 persen terbawah angkanya dibawah 12 persen, ketimpangan sedang jika angkanya berkisar antara 12-17 persen, serta ketimpangan rendah jika angkanya berada diatas 17 persen.

Pada Maret 2017, persentase pengeluaran pada kelompok 40 persen terbawah adalah sebesar 21,31 persen, berada pada kategori ketimpangan rendah. Persentase pengeluaran pada kelompok 40 persen terbawah pada bulan Maret 2017 ini naik jika dibandingkan dengan kondisi Maret 2016 yang sebesar 20,82 persen dan menurun jika dibandingkan dengan kondisi September 2016 yang sebesar 21,56 persen.

Berdasarkan daerah tempat tinggal, persentase pengeluaran pada kelompok penduduk 40 persen terbawah di daerah perkotaan pada Maret 2017 adalah sebesar 19,74 persen, berada pada kategori ketimpangan rendah. Angka ini tercatat lebih rendah dibanding kondisi September 2016 yang sebesar 20,38 persen, namun lebih tinggi dari kondisi Maret 2016 yang sebesar 19,43 persen. Sementara di daerah perdesaan, persentase pengeluaran kelompok penduduk 40 persen terbawah pada Maret 2017 adalah sebesar 23,48 persen yang berarti ada pada kategori ketimpangan rendah dan angkanya naik dibanding kondisi Maret 2017 (23,04 persen) dan menurun jika dibandingkan dengan September 2016 (24,04 persen).

(7)

Tabel 5

Distribusi Pengeluaran Penduduk di Indonesia Maret 2015 dan Maret 2017 (Persentase)

Daerah/Tahun

Penduduk 40%

Terbawah

Penduduk 40%

Menengah

Penduduk

20% Atas Jumlah

(1) (2) (3) (4) (5)

Perkotaan

Maret 2015 19,25 34,46 44,29 100

September 2015 21,03 37,08 41,88 100

Maret 2016 19,43 36,76 43,82 100

September 2016 20,38 38,89 40,73 100

Maret 2017 19,74 38,52 41,74 100

Perdesaan

Maret 2015 22,55 37,15 40,30 100

September 2015 23,45 38,17 38,37 100

Maret 2016 23,04 38,16 38,80 100

September 2016 24,04 38,53 37,43 100

Maret 2017 23,48 38,98 37,54 100

Perkotaan+Perdesaan

Maret 2015 20,50 36,18 43,33 100

September 2015 21,36 37,59 41,05 100

Maret 2016 20,82 36,86 42,32 100

September 2016 21,56 38,00 40,44 100

Maret 2017 21,31 37,59 41,10 100

(8)

7. Penjelasan Teknis dan Sumber Data

a. Untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran.Dengan pendekatan ini, dapat dihitung Headcount Index, yaitu persentase penduduk miskin terhadap total penduduk.

b. Untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran.Dengan pendekatan ini, dapat dihitung Headcount Index, yaitu persentase penduduk miskin terhadap total penduduk.

c. Indeks Kedalaman Kemiskinan (Poverty Gap Indeks/P1), yaitu kesenjangan pengeluaran penduduk miskin terhadap garis kemiskinan, dan Indeks Keparahan Kemiskinan (Poverty Severity Indeks/P2), yaitu ketimpangan diantara penduduk miskin.

d. Metode yang digunakan adalah menghitung Garis Kemiskinan (GK), yang terdiri dari dua komponen yaitu Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM). Penghitungan Garis Kemiskinan dilakukan secara terpisah untuk daerah perkotaan dan pedesaan. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan dibawah Garis Kemiskinan.

e. Garis Kemiskinan Makanan (GKM) merupakan nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan yang disetarakan dengan 2100 kilo kalori per kapita perhari.

Paket komoditi kebutuhan dasar makanan diwakili oleh 52 jenis komoditi (padi- padian, umbi-umbian, ikan, daging, telur dan susu, sayuran, kacang-kacangan, buah-buahan, minyak dan lemak, dll).

f. Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM) adalah kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan. Paket komoditi kebutuhan dasar non-makanan diwakili oleh 51 jenis komoditi di perkotaan dan 47 jenis komoditi di pedesaan.

g. Sumber data utama yang dipakai untuk menghitung tingkat kemiskinan adalah data SUSENAS (Survei Sosial Ekonomi Nasional) Modul Konsumsi. Sebagai informasi tambahan, juga digunakan hasil survei SPKKD (Survei Paket Komoditi Kebutuhan Dasar), yang dipakai untuk memperkirakan proporsi dari pengeluaran masing-masing komoditi pokok bukan makanan.

(9)

Dr. Ir. Sukardi, M.Si

Kepala BPS Provinsi Sumatera Barat

Telepon : 0751- 442158-59 Email : [email protected]

(10)

Referensi

Dokumen terkait

Di Wilayah Kecamatan Sako yang merupakan daerah endemis DBD dengan angka kejadian DBD tertinggi pertama pada tahun 2019 terjadi 26 kasus penyakit dan tahun 2018 terjadi

Untuk mendapatkan minimum attractive rate of return (MARR), yang digunakan sebagai acuan untuk menetapkan apakah suatu investasi jalan tol layak atau tidak layak

Dalam sambutannya Wakil Bupati Yuli Hastuti mengatakan, pelajar merupakan bagian yang potensial di bidang pembangunan olahraga, sehingga penyelenggaraan POPDA merupakan

Tahap Pasca Kontruksi (Operasional) Aktifitas pasien rawat jalan, pengunjung dan petugas Puskesmas Penuruna n tingkat kebersiha n ruangan, peningka tan timbulan sampah Jumlah

Dalam melakukan IPO terdapat kendala-kendala yang dihadapi oleh suatu perusahaan, Kendala-kendala yang dihadapi oleh perusahaan-perusahaan yang melakukan IPO, yaitu

Etnobotani adalah penelitian ilmiah murni yang mengunakan pengalaman pengetahuan tradisional dalam memajukan dan improvisasi kualitas hidup, tidak hanya bagi manusia tetapi

Kusuma Arta Pemula 5 Segara Gede 06/12/03 Sambirenteng Tejakula Made Astaya Wayan Kari Ketut Nama Pemula 6 Jaladi Karya 09/01/92 Sambirenteng Tejakula Nyoman Sudana Ketut