• Tidak ada hasil yang ditemukan

Akibat Hukum Terhadap Kreditor Separatis Yang Mengeksekusi Jaminan Sebelum Masa Penangguhan (Studi Putusan No. 306 K/Pdt.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Akibat Hukum Terhadap Kreditor Separatis Yang Mengeksekusi Jaminan Sebelum Masa Penangguhan (Studi Putusan No. 306 K/Pdt."

Copied!
98
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat-Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Hukum

Oleh:

DANIEL NIKOLAS 150200318

DEPARTEMEN HUKUM KEPERDATAAN PROGRAM KEKHUSUSAN HUKUM PERDATA BW

PROGRAM SARJANA ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATRA UTARA 2019

(2)
(3)

Saya yang bertanda tangan dibawah ini:

NAMA : DANIEL NIKOLAS

NIM : 150200318

DEPARTEMEN : HUKUM KEPERDATAAN

JUDUL SKRIPSI :

Akibat Hukum Terhadap Kreditor Separatis Yang Mengeksekusi Jaminan Sebelum Masa Penangguhan

(Studi Putusan No.

306 K/Pdt.Sus/2010)

Dengan ini menyatakan:

1. Bahwa isi skripsi yang saya tulis tersebut diatas adalah benar tidak merupakan jiplakan dari skripsi atau karya ilmiah orang lain.

2. Apabila terbukti di kemudian hari skripsi tersebut adalah jiplakan, maka segala akibat hukum yang timbul menjadi tanggung jawab saya.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya tanpa ada paksaan atau tekanan dari pihak manapun.

Medan, Maret 2019

DANIEL NIKOLAS NIM: 150200318

(4)

penelitian yang berjudul “Akibat Hukum Terhadap Kreditor Separatis Yang Mengeksekusi Jaminan Sebelum Masa Penangguhan (Studi Putusan No. 306 K/Pdt.Sus/2010)”

Penulis menyadari dalam penelitian ini masih banyak terdapat ketidaksempurnaan akibat keterbatasan kemampuan Penulis. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan demi perbaikan dan kesempurnaan skripsi ini, juga perkembangan hukum perdata pada umumnya khususnya dalam bidang kepailitan.

Penulis ingin menghaturkan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan serta pelajaran berharga baik dalam penelitian ini maupun selama perjalanan kehidupan penulis:

1. Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H., M.Hum., selaku Rektor Universitas Sumatera Utara;

2. Prof. Dr. Budiman Ginting, S.H., M.Hum., selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

3. Prof. Dr. Saidin, S.H., M.Hum., selaku Wakil Dekan I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

4. Puspa Melati Hasibuan, S.H., M.Hum., selaku Wakil Dekan II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

5. Dr. Jelly Leviza, S.H., M.Hum., selaku Wakil Dekan III Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

(5)

7. Dr. Rosnidar Sembiring, S.H., M.Hum., selaku Ketua Departemen Hukum Perdata Fakultas Hukum USU;

8. Syamsul Rizal, S.H., M.Hum., selaku Sekretaris Departemen Hukum Perdata Fakultas Hukum USU;

9. Prof. Dr. Tan Kamello, S.H., MS., selaku Dosen Pembimbing I yang dengan penuh kesabaran telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran di sela kesibukan dalam membimbing Penulis menyelesaikan penelitian ini;

10. Rabiatul Syahriah, S.H., M.Hum., selaku Dosen Pembimbing II yang dengan setulus hati telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran dalam membimbing serta memberikan arahan maupun motivasi kepada Penulis dalam menyelesaikan penelitian ini;

11. Seluruh Dosen dan Pegawai di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

12. Orang tua Penulis, Agustinus Butar-Butar dan Melinda Budiman yang tidak hanya dengan sabar telah membesarkan dan mendidik Penulis namun selalu ada dalam setiap langkah yang diambil Penulis serta Juan Carlo Sebastian Butar-Butar selaku adik Penulis yang terus menyemangati Penulis untuk menyelesaikan penelitian ini;

13. Keluarga besar Op. Pangeran Butar-Butar, Bapatua Mustapa, Inangtua Winita, Namboru Dormauli, Amangboru Binsar, Jessica, Lisa, dan Dominika yang selalu memberi motivasi dan doa yang tak berkesudahan kepada Penulis untuk menyelesaikan penelitian ini;

(6)

Fitri, Lio, yang menjadi semangat Penulis dalam menyelesaikan penelitian ini;

15. Teman-teman Komunitas Basket Hukum USU, Bang Anes, Bang Johan, Bang Indra, Bang David, Jailani, Raop, Rizky, Jere, Perdi, Jannata, Riss, Tompel, Sigit, Anan, Farhan dan semuanya yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Kalian juara!;

16. Keluarga Besar Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia Komisariat Fakultas Hukum USU. Terima kasih atas banyaknya pengalaman berharga yang sudah membantu membentuk karakter penulis;

17. Panitia Paskah 2016 dan Panitia Latihan Dasar Kepemimpinan GMKI Komisariat Fakultas Hukum USU 2017 yang memberikan banyak pengalaman dan pelajaran kepada penulis di awal perjalanan perkuliahan penulis;

18. Pengurus Komisariat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia Komisariat Fakultas Hukum USU Masa Bakti 2017-2018, Bang Hans, Amos, Epin, Mesty, Ishak, Olin, Revi, Andre, Sinta, Dicta, Abraham, Yan, Garcia, Ricky yang telah memberikan pelajaran dan pengalaman yang berharga selama satu tahun kepengurusan. Terima kasih banyak atas segalanya. Kalian tak terlupakan;

19. Panitia Latihan Dasar Kepemimpinan GMKI Komisariat Fakultas Hukum USU 2019, Sinta, Sarah, Hengki, Mesty, Theresia Junita, Sabam, Kristiadi, Astria, Modana, Putri, Padang, Satria, Rizky, Marco, Vatar, Liwarny, Lidya,

(7)

20. Abraham, Andre, dan Star yang sama-sama tergabung dalam AADS, yang telah memberikan pelajaran dan pengalaman yang sangat berharga penulis dalam bidang wirausaha. Sukses untuk kita semua!

21. Teman-teman Kelompok Aspirasi Mahasiswa Pembebasan serta rekan- rekan tim sukses pemenangan Gubernur dan Wakil Gubernur Hukum USU yang telah memberikan pelajaran serta pengalaman politik sejak dini didalam kampus. Kalian tak terduga!;

22. Panitia Perayaan Natal Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara 2018, terkhusus seksi acara, yang memberikan Penulis pengalaman yang sungguh menyenangkan dalam bekerjasama;

23. Teman-teman Grup B Angkatan 2015 dan teman-teman angkatan 2015 lainnya, yang karena kebersamaannya Penulis mampu menyelesaikan semua kegiatan perkuliahan dengan baik;

24. Abang, kakak, dan teman-teman yang sudah penulis anggap sebagai saudara di perantauan, Bang Alex, Bang Hans, Bang Wardi, Bang Yudika, Kak Pasca, Kak Naomi, Bang Jan, Bang Chrispo, Bang Jesaya, Bang Scott, Nadu, Vina, Theresya sihombing, Amos, Ray, Bintang Siregar, Kartika, Mesty, Sinta, Filippo, Zethro, Surya Simanjuntak, Nico, Hera, Lucy, dan semua yang tidak dapat Penulis sebutkan satu persatu. Kalian mantap!

25. Sahabat-sahabat Penulis, Abraham, Olin, Garcia, Theofeni, Andre, Star, Yan, Ricky, Ishak, Andrew dan semua yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah mewarnai kehidupan kampus Penulis;

(8)

27. Dan yang terakhir untuk kekasih Penulis, Selly, yang telah menjadi penyemangat kuliah Penulis sejak awal menjalani Kuliah di Fakultas Hukum USU serta tidak henti-hentinya mengingatkan penulis untuk tidak malas-malasan mengerjakan penelitian ini, dan mengajarkan juga kepada Penulis untuk menjadi yang lebih baik, yang kelak nantinya berguna untuk banyak orang;

Penulis sadar masih banyak kekurangan dalam penulisan skripi ini. Penulis berharap penelitian ini dapat memberikan manfaat yang berguna terutama bagi tanah air tercinta, Indonesia.

Medan, 13 Februari 2019 Hormat Penulis,

Daniel Nikolas NIM. 150200318

(9)

Tan Kamello**) Rabiatul Syahriah***)

Kegiatan bisnis sebuah perusahaan, melakukan peminjaman sejumlah modal usaha dalam rangka untuk kelangsungan usaha merupakan hal yang lumrah, yang mana tujuannya untuk meningkatkan kapasitas usaha yang tujuannya juga untuk meningkatkan perekonomian negara dan pembangunan nasional.Untuk peminjaman modal usaha ini ada yang tidak memerlukan jaminan, dan ada juga yang memerlukan jaminan.Apabila sebuah perusahaan tersebut pada akhirnya tidak bisa membayar sejumlah utang kepada minimal 2 kreditor, maka perusahaan tersebut dapat dipailitkan.Peminjam modal usaha yang memegang jaminan disebut juga kreditor separatis. Dalam kepailitan, kreditor separatis merupakan kreditor yang mempunyai hak istimewa yaitu dimana hak tersebut tidak hapus karena adanya kepailitan.Itu artinya kreditor ini dapat mengeksekusi haknya seolah-olah tidak terjadi kepailitan.Namun dalam undang-undang lain juga ditentukan bahwa hak untuk eksekusi jaminan kebendaan ditangguhkan dalam jangka waktu 90 (Sembilan puluh) hari setelah putusan pernyataan pailit. Seperti halnya dalam kasus ini Bank Mega sewaktu eksekusi harta jaminan pada saat PT.

Tripanca pailit sebelum masa penangguhan atau masa stay berakhir. Dalam kasus ini, posisi Bank Mega adalah sebagai kreditor separatis dengan jaminan benda bergerak berupa kopi.

Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis normatif, yaitu mengacu pada norma-norma hukum yang mencakup asas-asas hukum, sistematika hukum, sinkronisasi hukum, dan perbandingan hukum menggunakan data sekunder dengan menggunakan bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tersier dengan metode pengumpulan data dari berbagai sumber bacaan, seperti perundang-undangan, buku-buku, jurnal atau karya ilmiah, serta internet yang dinilai relevan dengan permasalahan yang dibahas.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa terdapat ketidakkonsistenan mengenai pengaturan tentang eksekusi jaminan harta pailit yang pada akhirnya menimbulkan suatu konflik norma. Dalam hal ini, Mahkamah Agung tidak tepat untuk membatalkan putusan Pengadilan Niaga yang memasukan objek jaminan fidusia ke dalam boedel pailit.Karena dalam kasus ini Bank Mega telah melanggar peraturan mengenai masa penangguhan dengan mengeksekusi harta jaminannya sebelum masa penangguhan berakhir. Meskipun Bank Mega merupakan kreditor separatis dengan hak untuk didahulukan menurut UU Jaminan Fidusia, akan tetapi hal ini tidak sesuai dengan UU Kepailitan sebagai ketentuan khusus (lex specialis) yang mengatur tentang masa penangguhan sebelum melakukan eksekusi terhadap objek jaminan tersebut.

Kata Kunci: Kreditor Separatis, Jaminan, Eksekusi

* Mahasiswa Departemen Hukum Keperdataan Fakultas Hukum USU

* Dosen Pembimbing I, Departemen Hukum Keperdataan Fakultas Hukum USU

** Dosen Pembimbing II, Departemen Hukum Keperdataan Fakultas Hukum USU

(10)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

ABSTRAK ... vii

DAFTAR ISI ... viii

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 10

C. Tujuan Penulisan ... 10

D. Manfaat Penulisan ... 11

E. Tinjauan Pustaka ... 12

F. Metode Penelitian ... 19

G. Keaslian Penulisan ... 19

H. Sistematika Penulisan ... 21

BAB II. KEDUDUKAN KREDITOR SEPARATIS DALAM KEPAILITAN .. 23

A. Pengertian dan Sejarah Kepailitan ... 23

B. Syarat-Syarat Pailit ... 30

C. Tujuan dan Asas-Asas Kepailitan ... 34

D. Pihak-pihak Dalam Kepailitan ... 35

E. Jenis-jenis Kreditor Dalam Kepailitan ... 41

F. Akibat Hukum Pernyataan Pailit ... 43

G. Kedudukan Kreditor Separatis Dalam Kepailitan ... 46

BAB III. PROSES EKSEKUSI HARTA JAMINAN MENURUT HUKUM POSITIF ... 53

A. Pengertian Eksekusi ... 53

(11)

B. Dasar Hukum Eksekusi ... 53

C. Asas-asas Eksekusi ... 55

D. Macam-macam Eksekusi ... 61

E. Eksekusi Harta Jaminan Menurut Hukum Positif ... 65

BAB IV.AKIBAT HUKUM TERHADAP KREDITOR SEPARATIS YANG MENGEKSEKUSI HARTA JAMINAN SEBELUM MASA PENANGGUHAN (STUDI PUTUSAN NO. 306 K/Pdt.Sus/2010) ... 72

A. Kasus Posisi ... 72

B. Pertimbangan Hukum Hakim ... 78

C. Putusan Hakim ... 82

D. Analisa Kasus ... 82

BAB V. PENUTUP ... 86

A. Kesimpulan ... 86

B. Saran ... 87

DAFTAR PUSTAKA ... 89

(12)

A. Latar Belakang

Pertumbuhan dan perkembangan ekonomi Indonesia pada umumnya tidak dapat dipisahkan dari pertumbuhan dan perkembangan pelaku-pelaku ekonomi yang melakukan kegiatan ekonomi. Gejolak moneter yang melanda Indonesia pada tahun 1997 mengakibatkan dampak yang besar terhadap perkembangan perekonomian di Indonesia. Tidak sedikit perusahaan di Indonesia yang mengalami kebangkrutan yang diakibatkan oleh naiknya nilai tukar dollar terhadap rupiah dengan sangat tinggi, bahkan banyak perusahaan di Indonesia yang tidak mampu untuk memenuhi kewajiban pembayaran kepada para kreditornya. Dalam dunia hukum debitor yang tidak dapat memenuhi kewajibannya dinyatakan pailit.

Pailit merupakan suatu keadaan dimana debitor tidak mampu untuk melakukan pembayaran-pembayaran terhadap utang-utang dari pada kreditornya. Keadaan tidak mampu membayar lazimnya disebabkan karena kesulitan kondisi keuangan (financial distress) dari usaha debitor yang telah mengalami kemunduran.1. Dalam Black’s Law Dictionary, pailit atau

“Bankrupt” adalah “the state or conditional of a person (individual, partnership, corporation, multicipality, who is unable to pay its debt as they are, or became due’. The term includes a person against whom an

1 Hadi Shubhan, Hukum Kepailitan Prinsip, Norma, dan Praktik di Peradilan, (Jakarta:

Kencana Prenada Media Group, 2008), hal. 1.

(13)

involuntary petition has been filed, or who has filed a voluntary petition or who has been adjudged a bankrupt”.

Pengertian bankrupt yang diberikan oleh Black’s Law dictionary di atas, diketahui bahwa pengertian „pailit‟ dihubungkan dengan

“ketidakmampuan untuk membayar” dari seorang debitor atas utang- utangnya yang telah jatuh tempo.

Ketidakmampuan tersebut harus disertai dengan tindakan nyata untuk mengajukan, baik dilakukan secara sukarela oleh debitor sendiri, maupun atas permintaan pihak ketiga (di luar debitor), suatu permohonan pernyataan pailit ke pengadilan.2

R. Soekardono berpendapat bahwa kepailitan adalah penyitaan umum atas harta kekayaan si pailit bagi semua kepentingan penagihnya, sehingga Balai Harta Peninggalan lah yang ditugaskan dengan pemeliharaan dan pemberesan boedel dari orang yang pailit.

Pailit merupakan suatu keadaan debitor yang tidak mampu untuk melakukan pembayaran terhadap utang-utang kepada para kreditornya melalui putusan pernyataan pailit oleh Pengadilan Niaga. Keadaan tidak mampu membayar lazimnya disebabkan karena kesulitan kondisi keuangan (finansial distress) dari usaha debitor yang telah mengalami kemunduran.3 Sedangkan kepailitan adalahkeadaan hukum setelah debitor dinyatakan pailit melalui putusan pengadilan danmemasuki proses pemberesan dan pengurusan harta pailit.

2 Ahmad Yani & Gunawan Widjaja, Seri Hukum Bisnis Kepailitan, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1999), hal 11.

3 M. Hadi Subhan, loc. Cit.

(14)

Pernyataan pailit terhadap debitor dimaksudkan untuk menghindari terjadinya sitaan terpisah atau eksekusi terpisah oleh para kreditor dan menggantikannya dengan mengadakan sitaan bersama atau sita umum sehingga kekayaan debitor dapat dibagikan kepada semua kreditor sesuai dengan hak masing-masing.Sita umum tersebut harus bersifat conservatoir yaitu bersifat menyimpan bagi kepentingan semua kreditor yang bersangkutan.4

Kepailitan bagi sebuat perusahaan besar, akan mempunyai efek sosial yang sangat besar. Apabila perusahaan yang pailit itu merupakan tempat bergantung hidup ratusan atau mungkin ribuan karyawan, maka akan menjadi sumber penderitaan apabila perusahaan tersebut pailit. Tentunya pemerintah pun akan kehilangan sumber pajak. Itulah antara lain dampak sosial dari sebuah kepailitan perusahaan.

Pada hakekatnya, Undang-Undang Kepailitan No. 37 Tahun 2004 bertujuan untuk memberikan perlindungan kepada para kreditor apabila debitornya tidak membayar utang-utangnya. Namun, perlindungan yang diberikan oleh Undang-Undang Kepailitan bagi kepentingan kreditor dan para stakeholders-nya tidak boleh sampai merugikan kepentingan debitor dan para stakeholders dari debitor yang bersangkutan. Undang-undang Kepailitan yang baik harus dilandaskan pada asas untuk memberikan perlindungan yang seimbang bagi semua pihak yang terkait dan berkepentingan dengan kepailitan seseorang atau suatu perusahaan.5

4 Sunarmi, Hukum Kepailitan, Edisi 2, (Medan: Softmedia, 2010), hal. 94.

5 Sutan Remy Sjahdeini, Hukum Kepailitan, (Jakarta: PT. Pustaka Utama Grafiti,2002), hal.

43.

(15)

Jika dibaca rumusan yang diberikan dalam Pasal 1 Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (selanjutnya disingkat Undang-Undang Kepailitan dan PKPU), dapat diketahui bahwa pernyataan pailit merupakan suatu putusan pengadilan. Ini berarti debitor dapat dinyatakan pailit melalui putusan Pengadilan Niaga apabila memenuhi syarat yang telah ditentukan oleh Undang-Undang Kepailitan dan PKPU.Syarat yang dimaksud adalah debitor mempunyai dua atau lebih kreditor dan tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih.Permohonan pernyataan pailit umumnya diajukan oleh salah satu atau lebih kreditor yang memiliki piutang yang telah jatuh tempo.Namun, apabila debitor merasa bahwa dirinya tidak dapat melunasi utang-utang dari para kreditornya yang telah jatuh tempo, permohonan pernyataan pailit juga dapat diajukan oleh debitor itu sendiri.Jika yang mengajukan permohonan pailit adalah salah seorang kreditor, maka dalam permohonan yang diajukannya perlu menjelaskan adanya kreditor-kreditor lain yang memiliki piutang terhadap debitor tersebut. Selain itu dalam proses pembuktian, kreditor yang berkedudukan sebagai pemohon pailit, harus dapat mengajukan bukti-bukti terkait piutang- piutang yang ada.

Debitor yang telah dinyatakan pailit melalui putusan Pengadilan Niaga demi hukum telah kehilangan hak untuk menguasai dan mengurusi kekayaan yang termasuk dalam harta pailit.6Dalam putusan pailit, Pengadilan Niaga menunjuk kurator dan hakim pengawas yang memiliki

6Hadi Subhan, Loc. Cit.

(16)

tugas untuk membereskan harta pailit.Tugas kurator terdapat pada Pasal 69 ayat (1) Undang-Undang Kepailitan yaitu melakukan pengurusan dan/atau pemberesan harta pailit.Sedangkan tugas dari hakim pengawas adalah mengawasi kurator.Pengawasan tersebut memiliki tujuan agar kurator dalam menjalankan tugasnya, tidak melakukan kecurangan atau hal yang merugikan bagi pihak debitor ataupun kreditor.

Dalam perkara kepailitan terdapat tiga tingkatan kreditor, yaitu:

kreditor separatis, kreditor preferen, dan kreditor konkuren atau disebut juga kreditor bersaing. Kreditor separatis adalah kreditor pemegang hak jaminan kebendaan, yang dapat bertindak sendiri.Kreditor preferen adalah kreditor yang memiliki hak istimewa atau hak prioritas.Kreditor konkuren adalah kreditor yang harus berbagi dengan para kreditor lainnya secara proporsional (pari passu), yaitu menurut perbandingan besarnya masing- masing tagihan, dari hasil penjualan harta kekayaan debitor yang tidak dibebani dengan hak jaminan. Sehubungan dengan hal tersebut maka perkara kepailitan akan berkaitan juga dengan masalah hak jaminan yang dimiliki oleh kreditor. Setiap kreditor pasti mempunyai jaminan kebendaan pelunasan utang dari debitor baik yang bersifat umum maupun yang bersifat khusus.Dalam Undang-Undang Kepailitan terdapat prinsip umum yang dikenal dengan “paritas creditorium”yang berarti semua kreditor mempunyai hak yang sama atas pembayaran dan hasil kekayaan debitor pailit akan dibagikan secara proporsional menurut besarnya tagihan

(17)

mereka.7 Namun asas paritas creditorium tidak berlaku bagi kreditor yang memegang hak agunan atas kebendaan dan golongan kreditor yang didahulukan (kreditor separatis) berdasarkan Undang-Undang Kepailitan dan peraturan perundang-undangan lainnya.8 Dengan demikian, asas paritas creditorium berlaku bagi kreditor konkuren saja.9

Berdasarkan hukum jaminan dinyatakan bahwa kreditor mempunyai hak eksekutorial terhadap benda jaminan jika debitor dinyatakan wanprestasi. Kreditor juga mempunyai hak istimewa yang diberikan oleh undang-undang yang disebut dengan hak separatis.Hak separatis tersebut diberikan oleh hukum (undang-undang) kepada kreditor pemegang hak jaminan tidak termasuk dalam harta pailit.Hal tersebut sebagai perwujudan dari hak kreditor pemegang hak jaminan untuk didahulukan daripada kreditor lainnya.

Hak separatis tersebut berlaku ketika debitor dinyatakan pailit berdasarkan suatu putusan pengadilan. Adanya hak jaminan dan pengakuan hak separatis dalam proses kepailitan, merupakan sendi-sendi yang penting sekali dalam sistem perkreditan disuatu negara khususnya sistem kredit perbankan. Pasal 55 ayat (1) Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Pembayaran Utang menyebutkan bahwa seorang Kreditor pemegang hak jaminan tidak terpengaruh oleh putusan pernyataan pailit.

7 J. Djohansjah, Kreditor Preferen dan Separatis serta Tentang Penjaminan Utang, Proceedings: Penyempurnaan Undang-Undang Kepailitan, (Jakarta: Pusat Pengkajian Hukum, 2002), hal 43.

8 Titik Tejaningsih, Perlindungan Hukum terhadap Kreditor Separatis dalam Pengurusan dan Pemberesan Harta Pailit, (Yogyakarta: FH UII Press, 2016), hal. 22

9 Rudy A. Lontoh, Menyelesaikan Utang-Piutang melalui Pailit atau Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, (Bandung: Alumni, 2001), hal. 128

(18)

Kreditor separatis adalah kreditor yang kedudukannya paling aman karena memiliki hak-hak yang berbeda dari kreditor lainnya.Hak tersebut diantaranya kreditor separatis dapat menjual sendiri dan mengambil sendiri hasil penjualan dari benda agunan yang menjadi jaminan, yang terpisah dengan harta pailit umumnya.10 Hasil dari penjualan tersebut disesuaikan dengan besarnya nilai piutang kreditor separatis.Hasil penjualan yang melebihi besarnya piutang, kelebihannya harus dikembalikan kepada kurator.Namun, jika hasil penjualan kurang dari besarnya nilai piutang, kreditor separatis dapat mengajukan kekurangan tersebut dengan kedudukan sebagai kreditor konkuren.Hak eksekusi kreditor separatis tersebut diatur dalam Pasal 55 ayat (1) Undang-Undang Kepailitan dan PKPU.

Kepailitan dapat diajukan atas permohonan debitor sendiri atau oleh seorang kreditor maupun beberapa orang kreditor, kejaksaan untuk kepentingan umum, Bank Indonesia dalam hal debitornya adalah bank, Badan Pengawas Pasar Modal dalam hal debitornya adalah perusahaan efek, bursa efek, lembaga kliring dan penjamin, lembaga penyimpanan dan penyelesaian maupun oleh Menteri Keuangan dalam hal debitornya adalah perusahaan asurasi, perusahaan reasuransi, dana pensiun, atau Badan Usaha Milik Negara yang bergerak di bidang kepentingan publik.

Permohonan pernyataan pailit yang ditujukan oleh hakim kepada seorang debitor yang tidak dapat membayar utang akan dikabulkan apabila terdapat fakta atau keadaan yang terbukti secara sederhana bahwa persyaratan untuk dinyatakan pailit telah dipenuhi atau dengan kata lain

10 Munir Fuady, Hukum Kepailitan dalam Teori dan Praktik, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2005), hal. 99.

(19)

dengan mekanisme pembuktian sederhana. Dalam pelaksanaan putusan banyak menimbulkan permasalahan hukum misalnya terkait dengan verifikasi kreditor dari si debitor pailit yang biasanya dalam verifikasi tersebut menimbulkan permasalahan tentang tingkatan kreditor apakah termasuk kreditor separatis, konkuren dan preferen.Selain itu permasalahan dalam pelaksanaan putusan pernyataan pailit juga sering timbul dalam eksekusi putusan pailit.

Menurut Kartini Muljadi, rumusan Pasal 1311 KUH Perdata, menunjukkan bahwa setiap tindakan yang dilakukan seseorang dalam lapangan harta kekayaan selalu akan membawa akibat terhadap harta kekayaannya, baik yang bersifat menambah jumlah harta kekayaannya (kredit), maupun yang nantinya akan mengurangi jumlah harta kekayaan (debit). Adapun Pasal 1132 KUH Perdata menentukan bahwa setiap pihak atau kreditor yang berhak atas pemenuhan perikatan, haruslah mendapatkan pemenuhan perikatan dari harta kekayaan pihak yang berkewajiban (debitor) terebut secara:

- Pari Passu, yaitu secara bersama-sama memperoleh pelunasan, tnpa ada yang didahulukan; dan

- Pro rata atau proporsional, yang dihitung berdasarkan besarnya piutang masing-masing dibandingkan terhadap piutang mereka secara keseluruhan, terhadap seluruh harta kekayaan debitor tersebut.11

Man S. Sastrawidjaja berpendapat, berdasarkan prinsip hukum jaminan kreditor pemegang hak jaminan kebendaan seperti pemegang hak

11 Kartini Muljadi, Prosiding Rangkaian Lokakarya Terbatas Masalah-Masalah Kepailitan dari Wawasan Hukum Bisnis Lainnya, Jakarta, 26-28 Januari 2004, (Jakarta: Pusat pengkajian Hukum, 2005), hal. 164.

(20)

gadai, hak tanggungan, pemegang jaminan fidusia, atau hak agunan atas kebendaan lainnya, dapat melaksanakan haknya seolah-olah tidak terjadi kepailitan. Hal tersebut juga diatur dalam Pasal 55 ayat (1) Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, yang berbunyi:

”Dengan tetap memperhatikan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56, 57, dan 58, setiap kreditor pemegang gadai, jaminan fidusia, hak tanggungan, hipotik atau hak agunan atas kebendaan lainnya, dapat mengeksekusi haknya seolah-olah tidak terjadi kepailitan”.

Isi Pasal tersebut, meski terjadi kepailitan pemegang hak jaminan kebendaan tetap dapat melaksanakan haknya seolah-olah tidak terjadi kepailitan. Jadi terjadi atau tidak kepailitan tidak menghalangi hak pemegang hak jaminan kebendaan untuk mengeksekusi haknya.

Namun dalam Pasal 56 ayat (1) Undang-Undang Kepailitan dan PKPU mengatakan bahwa: “Hak eksekusi kreditor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 ayat (1) Undang-Undang Kepailitan dan PKPU dan pihak ketiga untuk menuntut hartanya yang berada dalam penguasaan debitor pailit atau kurator, ditangguhkan untuk jangka waktu paling lama 90 (sembilan puluh) hari sejak tanggal putusan pernyataan pailit diucapkan”.

Dengan demikian kedudukan kreditor separatis tidak sepenuhnya bebas dari akibat kepailitan debitornya karena Pasal 56 menangguhkan eksekusi jaminan utang yang disebut juga stay.

Melihat hal tersebut di atas, maka timbul masalah yang akan dihadapi oleh kreditor separatis yang kedudukannya secara tegas telah dijamin oleh Undang-Undang Kepailitan dan PKPU sebagai kreditor yang dapat

(21)

mengeksekusi haknya seolah-olah tidak terjadi kepailitan. Akan tetapi dalam kepailitan hak tersebut telah ditangguhkan untuk jangka waktu 90 (sembilan puluh) hari dan selama masa penangguhan tersebut kreditor tidak dapat melakukan eksekusi terhadap objek harta jaminan. Seperti pada kasus yang dialami oleh PT. Tripanca Group ketika dinyatakan pailit, Bank Mega, Tbk sebagai penerima objek jaminan benda berupa kopi sejumlah 25.939.913 kilogram yang dijadikan jaminan fidusia oleh PT. Tripanca Group melelang benda yang menjadi objek jaminan tersebut tanpa menunggu masa penanguhan atau stay berakhir.

Berdasarkan latar belakang di ataslah, maka penulis ingin melakukan penulisan skripsi dengan judul “Akibat Hukum Terhadap Kreditor Separatis Yang Mengeksekusi Jaminan Sebelum Masa Penangguhan (Studi Putusan No. 306 K/Pdt.Sus/2010)”

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang akan dikaji dalam penulisan ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimanakah kedudukan kreditor separatis dalam kepailitan?

2. Bagaimanakah proses eksekusi harta jaminan menurut hukum positif?

3. Bagaimanakah akibat hukum terhadap kreditor separatis yang mengeksekusi jaminan sebelum masa penangguhan?

C. Tujuan Penulisan

(22)

Tulisan ini dibuat sebagai tugas akhir dan merupakan sebuah karya ilmiah yang bermanfaat bagi semua kalangan baik civitas akademika, pemerintah, masyarakat. Dengan keselarasan latar belakang dan rumusan permasalahan yang telah disusun di atas, maka tujuan penulisan ini adalah:

1. Untuk mengetahui bagaimana kedudukan kreditor separatis dalam proses eksekusi harta pailit.

2. Untuk mengetahui bagaimana proses eksekusi harta jaminan menurut hukum positif.

3. Untuk mengetahui bagaimana akibat hukum terhadap kreditor separatis yang mengeksekusi jaminan sebelum masa penangguhan.

D. Manfaat Penulisan

Manfaat dari hasil penelitian skripsi ini dapat dibagi menjadi dua jenis manfaat, yaitu:

1. Manfaat Teoretis

Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya dan menambah wawasan ilmiah dan khasanah ilmu hukum, khususnya dalam aktivitas hukum kepailitan yang berkaitan dengan akibat dari digunakannya hak eksekusi terhadap benda jaminan sebelum masa penangguhan.

2. Manfaat Praktis

Ditinjau dari permasalahan, penulisan skripsi ini diharapkan dapat memberi manfaat sebagai berikut:

(23)

a. Memberikan sumbangan pemikiran bagi penegak hukum dalam menyelesaikan masalah hukum yang berkenaan dengan hukum kepailitan dan PKPU

b. Memberikan sumbangan pemikiran kepada penegak hukum akan mengkaji lebih dalam mengenai hukum kepailitan yang berhubungan dengan hak kreditor, dengan begitu dapat mengantisipasi tindakan-tindakan yang harus dilakukan khususnya kreditor separatis.

E. Tinjauan Pustaka Kreditor Separatis

Kreditor separatis merupakan kreditor yang tidak terkena akibat kepailitan, artinya para kreditor separatis tetap dapat melaksanakan hak-hak eksekusinya meskipun debitornya telah dinyatakan pailit.Karena hak separatis adalah hak yang diberikan oleh hukum kepada kreditor pemegang jaminan, bahwa barang jaminan (agunan) yang dibebani hak jaminan adalah tidak termasuk harta pailit12 tentunya bertujuan untuk memberikan perlindungan kepada kreditor manakala debitor pailit.

Munir Fuady menyebutkan bahwa kreditor separatis adalah kreditor yang memiliki jaminan hutang kebendaan (hak jaminan), seperti pemegang hak tanggungan, hipotik, gadai, fidusia, dan lain-lain.Kreditor dengan jaminan yang bukan jaminan kebendaan yang (seperti garansi termasuk garansi bank) bukan merupakan kreditor separatis.13Pemahaman yang dimaksudkan dengan hak kreditor separatis adalah hak yang diberikan oleh hukum

12 Setiawan, Kepailitan: Konsep-konsep dasar serta Pengertiannya, VariaPeradilan No.

156, 2002, hal. 98-99

13 Munir Fuady, Hukum Kepailitan dalam Teori dan Praktik, Loc. cit.

(24)

pemegang hak jaminan untuk dapat tetap melaksanakan hak-hak eksekusinya meskipun debitor telah dinyatakan pailit.

Kreditor separatis mempunyai hak eksekusi (parate eksekusi) untuk mengeksekusi haknya seolah-olah tidak terjadi kepailitan. Pasal 55 ayat (1) berbunyi: Dengan tetap memperhatikan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56, Pasal 57, dan Pasal 58, setiap kreditor pemegang gadai, jaminan fidusia, hak tanggungan, hipotek, atau hak agunan atas kebendaan lainnya, dapat mengeksekusi haknya seolah-olah tidak terjadi kepailitan.

Eksekusi

Eksekusi adalah pelaksanaan putusan pengadilan dalam artian sempit, dalam artian luas adalah pelaksanaan pemenuhan hak berdasarkan titel eksekutorial.Sedangkan menurut M. Yahya Harahap, eksekusi sebagai tindakan hukum yang dilakukan oleh pengadilan terhadap pihak yang kalah dalam suatu perkara, merupakan suatu aturan dan tata cara lanjutan dari proses pemeriksaan perkara. Oleh karena itu eksekusi tiada lain tindakan yang berkesinambungan dari keseluruhan proses hukum acara perdata14. Pengaturan tentang eksekusi selain diatur dalam HIR dan RBG juga diatur pada Undang-Undang Hak Tanggungan, Undang-Undang Fidusia, serta Undang-Undang Arbitrase.

Menurut Sudikno Mertokusumo ada tiga macam jenis eksekusi, yaitu:

a. Eksekusi putusan yang menghukum pihak yang dikalahkan untuk membayar sejumlah uang. Dalam eksekusi ini prestasi yang diwajibkan

14 M. Yahya Harahap, Ruang Lingkup Permasalahan Eksekusi Bidang Perdata,(Jakarta:

Gramedia Jakarta, 1989), hal. 1.

(25)

adalah membayar sejumlah uang. Eksekusi ini diatur dalam Pasal 196 HIR atau Pasal 206 Rbg.

b. Eksekusi putusan yang menghukum orang untuk melakukan suatu perbuatan. Eksekusi ini diatur dalam Pasal 225 HIR atau Pasal 259 Rbg.

Orang tidak dapat dipaksa memenuhi prestasi berupa perbuatan, akan tetapi pihak yang dimenangkan dapat meminta pada hakim agar kepentingan yang akan diperolehnya dengan nilai uang.

c. Eksekusi riil, yaitu pelaksanaan putusan hakim yang memerintahkan pengosongan benda tetap. Dalam hal orang yang dihukum oleh hakim untuk mengosongkan benda tetap tidak mau memenuhi perintah tersebut, maka hakim akan memerintahkan dengan surat kepada juru sita supaya dengan bantuan alat kekuasaan negara, agar barang tetap tersebut dikosongkan oleh orang yang dihukum beserta keluarganya. Eksekusi ini diatur dalam Pasal 1033 Rv. Sedangkan dalam HIR hanya mengenal eksekusi riil ini dalam penjualan lelang, termuat dalam Pasal 200 ayat (11) HIR/Pasal 218 Rbg.15

Eksekusi pada dasarnya tindakan melaksanakan atau menjalankan putusan pengadilan.Menurut Pasal 195 HIR pengertian eksekusi adalah menjalankan putusan hakim oleh pengadilan. Menjalankan putusan hakim sebagaimana diatur dalam hukum acara perdata merupakan keseluruhan yang mengatur tentang sesuatu yang dapat dipergunakan untuk memaksa pihak yang dikalahkan perkaranya untuk melakukan apa yang diwajibkan kepadanya sesuai dengan amar putusan hakim. Bilamana pihak yang dikalahkan tidak

15 Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia, (Yogyakarta: Liberty, 1988), hal.201.

(26)

melakukan secara sukarela, maka pihak yang dimenangkan dapat melaksanakan putusan pengadilan dengan bantuan alat paksa.

Jaminan

Jaminan adalah suatu yang menimbulkan keyakinan atas kesanggupan debitor untuk melunasi kredit sesuai yang diperjanjikan. Menurut M.

Bahsan, jaminan merupakan segala sesuatu yang diterima kreditor dan diserahkan debitor untuk menjamin suatu utang piutang dalam masyarakat16.Selain istilah jaminan, dikenal juga dengan istilah agunan.

Istilah agunan dapat dibaca dalam Pasal 1 angka 23 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan. Agunan adalah jaminan tambahan yang diserahkan nasabah debitor kepada bank dalam rangka pemberian fasilitas kredit atau pembiayaan.

Agunan dalam konstruksi ini merupakan jaminan tambahan (accesoir).Tujuan agunan adalah untuk mendapatkan fasilitas dari bank.Jaminan ini diserahkan oleh debitor kepada bank. Unsur-unsur agunan, yaitu:

1). Jaminan tambahan

2). Diserahkan oleh debitor kepada bank

3). Untuk mendapatkan fasilitas kredit atau pembiayaan.17

Secara umum, jaminan diartikan sebagai penyerahan kekayaan, atau pernyataan kesanggupan seseorang untuk menanggung pembayaran kembali suatu utang.Jadi pada dasarnya seluruh harta kekayaan debitor menjadi

16 Salim HS, Perkembangan Hukum Jaminan di Indonesia, cet. V,9 J (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2011), hal. 6.

17 Ibid, hal. 22.

(27)

jaminan dan diperuntukkan bagi pemenuhan kewajiban kepada semua kreditor secara bersama-sama.18

Jaminan dapat digolongkan menurut hukum yang berlaku di Indonesia dan yang berlaku di luar negeri. Jaminan dapat dibedakan menjadi 2 (dua) macam, yaitu:

1). Jaminan materil, yaitu jaminan kebendaan; dan 2). Jaminan imateriil, yaitu jaminan perorangan.19

Jaminan kebendaan mempunyai ciri-ciri “kebendaan” dalam arti memberikan hak mendahului di atas benda-benda tertentu dan mempunyai sifat melekat dan mengikuti benda yang bersangkutan.

Jaminan perorangan tidak memberikan hak mendahului atas benda-benda tertentu, tetapi hanya dijamin oleh harta kekayaan seseorang lewat orang yang menjamin pemenuhan perikatan yang bersangkutan.

F. Metode Penelitian

Penelitian merupakan suatu sarana untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, baik dari segi teoretis maupun praktis. Metode penelitian menurut Soerjono Soekanto mempunyai peranan dalam penelitian adalah sebagai berikut:

1. Menambah kemampuan para ilmuwan untuk mengadakan atau melaksanakan penelitian secara lebih baik atau lebih lengkap.

2. Memberikan kemungkinan yang lebih besar untuk melakukan penelitian interdisipliner.

18 Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Panduan Bantuan Hukum di Indonesia:

Pedoman Anda Memahami dan Menyelesaikan Masalah Hukum, YLBHI, Jakarta, 2007, hal. 139.

19 Salim HS, Op. cit, hal 23.

(28)

3. Memberikan kemungkinan yang lebih besar untuk meneliti hal yang belum diketahui.

4. Memberikan pedoman untuk mengorganisasikan serta mengintegrasikan pengetahuan.

Dengan demikian dapat dikatakan metode merupakan unsur mutlak yang harus ada dalam penelitian. Adapun metode penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Jenis Penelitian

Penulisan skripsi ini dilakukan melalui penelitian hukum normatif yaitu suatu prosedur penelitian ilmiah untuk menentukan kebenaran berdasarkan logika keilmuan hukum dari sisi normatifnya. Normatif disini maksudnya adalah penelitian hukum tersebut dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka atau data sekunder belaka, nama lain dari penelitian hukum normatif adalah hukum kepustakaan20. Nama lain dari penelitian hukum normatif adalah penelitian perpustakaan atau studi dokumen.

Dikatakan sebagai penelitian perpustakaan atau studi dokumen, disebabkan penelitian ini lebih banyak dilakukan terhadap data bersifat sekunder yang ada di perpustakaan.Penelitian perpustakaan demikian dapat dikatakan pula sebagai lawan dari penelitian empiris (penelitian lapangan).

2. Data yang digunakan

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang terdiri dari:

20 Soerdjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif : Suatu Tinjauan Pustaka, (Jakarta, Rajawali Press, 1993), hal. 13.

(29)

a. Bahan hukum primer, yakni semua dokumen yang mengikat dan ditetapkan oleh pihak-pihak yang berwenang antara lain: Undang- Undang No. 34 Tahun 2007 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Undang-Undang No. 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia.

b. Bahan hukum sekunder, yaitu berupa buku-buku yang berkaitan dengan permasalahan di dalam skripsi, buku-buku yang berkenaan dengan kepailitan, kreditor separatis, jaminan fidusia, majalah, internet yang kiranya dapat mendukung tulisan ini.

c. Bahan hukum tersier, yakni bahan hukum yang memberikan petunjuk dan penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder. Bahan hukum tersier yang digunakan seperti kamus hukum, majalah, serta bahan-bahan di luar bidang hukum yang relevan dan dapat digunakan untuk melengkapi data yang diperlukan dalam penulisan skripsi ini.

Pendekatan yang dipakai dalam penyusunan skripsi ini berupa pendekatan perundang-undangan (statue approach) dan pendekatan konseptual (conceptual approach).Pendekatan perundang-undangan dilakukan dengan menelaah semua undang-undang dan peraturan yang bersangkut paut dengan hak dan kewenangan kreditor separatis. Bagi penelitian untuk kegiatan praktis, pendekatan undang-undang ini akan membuka kesempatan bagi penelitian untuk mempelajari adakah konsistensi dan kesesuaian antara suatu undang-undang dengan undang- undang lain atau undang-undang dasar dengan undang-undang lain.

(30)

Pendekatan konseptual beranjak dari pandangan-pandangan dan doktrin-doktrin yang berkembang di dalam suatu ilmu hukum sehingga menemukan ide-ide yang melahirkan pengertian-pengertian hukum, konsep-konsep hukum dan asas-asas hukum.21

3. Teknik Pengumpulan Data

Selanjutnya, dalam penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data studi dokumen yakni mencari dan mengumpulkan data sekunder yang berhubungan dengan kreditor separatis dan jaminan.

4. Analisis Data

Setelah itu dilakukan analisis data yang bersifat kualitatif, yakni dengan menarik kesimpulan dari pengumpulan data sekunder yang didapat, serta dapat membantu menjawab rumusan permasalahan yang akan dibahas dalam tulisan ini.

G. Keaslian Penulisan

Penulisan skripsi ini didasarkan oleh ide, gagasan, maupun pemikiran secara pribadi dari awal hingga akhir.Berdasarkan informasi dan penelusuran oleh penulis di lingkungan Universitas Sumatera Utara khususnya Fakultas Hukum, maka diketahui bahwa “Akibat Hukum Terhadap Kreditor Separatis Yang Mengeksekusi Jaminan Sebelum Masa Penangguhan (Studi Putusan No. 306 K/Pdt.Sus/2010)”, belum pernah ada yang meneliti dan dijadikan sebagai objek penulisan skripsi sebelumnya.

Penulisan skripsi ini adalah asli dari ide, gagasan, pemikiran, dan usaha penulis sendiri dengan adanya bantuan dan bimbingan dari dosen

21 Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Edisi Pertama, Cet. Ke-2, (Jakarta:

Kencana, 2005), hal. 93.

(31)

pembimbing penulis, tanpa adanya penipuan, penjiplakan, atau hal-hal lainnya yang dapat merugikan para pihak tertentu.Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa penelitian untuk skripsi ini adalah asli.Dan untuk itu, Penulis dapat bertanggungjawab atas keaslian penulisan skripsi ini.

Untuk menghindari kesamaan dalam penelitian ini, maka dilakukan penelusuran kajian terdahulu yang mungkin berkaitan dengan penelitian ini, berikut kajian terdahulu yang ditemukan:

1. Skripsi Hendra Atmajaya dengan judul “Perlindungan Hukum Terhadap Kreditor dalam Kepailitan” dengan permasalahan:

a. Bagaimana upaya hukum yang dilakukan kreditor agar kepentingan hukumnya terlindungi?

b. Bagaimana wujud perlindungan hukum terhadap kreditor akibat debitor dinyatakan pailit?

2. Tesis Melinda Vidi Widya dengan judul “ Perlindungan Hukum Bagi Bank Sebagai Kreditor Separatis Atas Pelaksanaan Eksekusi Jaminan Kebendaan Berdasarkan Peraturan yang Berlaku” dengan permasalahan:

a. Bagaimanakah perlindungan hukum dan hak bagi bank sebagai kreditor separatis pemegang jaminan tidak bergerak dalam kepailitan terhadap adanya penangguhan eksekusi objek jaminan (stay) berdasarkan peraturan yang berlaku?

b. Bagaimanakah kedudukan bank sebagai pemegang jaminan tidak bergerak apabila objek jaminan yang dieksekusi tersebut ternyata

(32)

tidak memenuhi seluruh piutangnya berdasarkan peraturan yang berlaku?

c. Bagaimanakah upaya bank sebagai kreditor separatis dalam usaha pelunasan utang debitor pailit dan cara penyelesaiannya?

H. Sistematika Penulisan

Untuk penulisan yang lebih terarah dan lebih mudah untuk dipahami, maka diperlukan adanya sistematika penulisan secara teratur. Secara sistematis, penulisan menempatkan materi pembahasan keseluruhannya ke dalam 5 (lima) bab yang terperinci sebagai berikut:

BAB I: Berisikan pendahuluan yang di dalamnya memaparkan mengenai latar belakang penulisan skripsi, perumusan masalah, tujuan, manfaat penulisan skripsi, keaslian penulisan, tinjauan pustaka yang mengemukakan berbagai definisi, rumusan dan pengertian dari istilah yang terdapat dalam judul untuk memberikan batasan dalam pemahaman mengenai istilah-istilah tersebut, metode penulisan dan terakhir diuraikan sistematika penulisan skripsi.

BAB II: Menjelaskan tentang kedudukan kreditor separatis dalam kepailitan meliputi pengertian kepailitan dan sejarah kepailitan, syarat pailit, tujuan dan asas-asas, pihak-pihak, jenis-jenis kreditor, akibat hukum kepailitan, serta kedudukan kreditor separatis dalam kepailitan.

BAB III: Merupakan penjelasan mengenai proses eksekusi harta jaminan menurut hukum positif meliputi pengertian eksekusi, dasar hukum eksekusi, asas-asas eksekusi, macam-macam eksekusi, dan eksekusi harta jaminan menurut hukum positif.

(33)

BAB IV: Merupakan analisis hukum atas akibat hukum terhadap kreditor separatis yang mengeksekusi harta jaminan sebelum masa penangguhan (Studi Putusan No. 306 K/Pdt.Sus/2010) meliputi kronologis perkara, amar putusan dan akibat hukum kreditor separatis dalam mengeksekusi jaminan sebelum masa penangguhan.

BAB V: Merupakan penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran.

(34)

A. Pengertian dan Sejarah Kepailitan a. Pengertian kepailitan

Kepailitan dikenal oleh sebagian besar sistem hukum sebagai bagian dari ketentuan hukum yang berkaitan dengan hukum perusahaan. Dalam Ensiklopedia Ekonomi Keuangan Perdagangan disebutkan bahwa yang dimaksud dengan pailit atau bangkrut antara lain adalah seseorang yang oleh suatu pengadilan dinyatakan bangkrut, dan aktivanya atau warisannya telah diperuntukan untuk membayar hutang-hutangnya.22

Istilah kepailitan secara etimologis berasal dari kata pailit.Selanjutnya istilah pailit berasal dari kata Belanda faillet yang mempunyai arti kata ganda yaitu sebagai kata benda dan kata sifat.Istilah faillet sendiri berasal dari Perancis yaitu Faillete yang berarti pemogokan atau kemacetan pembayaran, sedangkan orangyang mogok atau berhenti membayar dalam bahasa Perancis disebut le failli.

Kata kerja failir berarti gagal; dalam bahasa Inggris dikenal dengan kata to fail yang mempunyai arti sama dalam bahasa latin yaitu failure. Di negara-negara yang berbahasa Inggris untuk pengertian pailit dan kepailitan mempergunakan istilah-istilah bankrupt dan bankruptcy.23

Secara tata bahasa, kepailitan berarti segala hal yang berhubungan dengan pailit.Kata pailit menandakan ketidakmampuan untuk membayar seorang debitor atas utang-utangnya yang telah jatuh tempo atau yang dikenal dalam bahasa Inggris dengan “banckrupty”. Sedangkan terhadap perusahaan

22 Munir Fuady, Hukum Pailit 1998, dalam Teori dan Praktek, cet. II, (Bandung: Citra Aditya Bhakti, 2002), hal 8.

23 Victor M. Situmorang dan Hendri Soekarso, Pengantar Hukum Kepailitan Di Indonesia,

(35)

debitor yang berada dalam keadaan tidak membayar utang-utangnya disebut dengan insolvensi.24. Menurut R. Subekti dan R. Tjitrosudibio, pailit adalah keadaan seorang debitor apabila ia telah menghentikan pembayaran utang- utangnya. Suatu keadaan yang menghendaki campur tangan majelis hakim guna menjamin kepentingan bersama dari para kreditornya.25

Martias gelar Iman Radjo Mulano mengemukakan pailit sebagaimana yang ditentukan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Pdt) yaitu seluruh harta dari kekayaan debitor menjadi jaminan untuk seluruh utang- utangnya.Pailit merupakan penyitaan umum atas seluruh kekayaan debitor untuk kepentingan kreditor secara bersama-sama.26Siti Soemarti Hartono mengartikan dengan lebih sederhana yaitu pailit berarti mogok melakukan pembayaran.27

Pengertian Kepailitan juga dapat dilihat pada Pasal 1 Butir 1 Undang- Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang atau lebih dikenal dengan sebutan Undang-Undang Kepailitan, yaitu sebagai berikut : Kepailitan adalah sita umum atas semua kekayaan pemberi fidusia pailit yang pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh kurator di bawah pengawasan hakim pengawas sebagaimana diatur oleh undang-undang ini.28

Ada pula yang menyebutkan bahwa kepailitan adalah suatu sitaan dan eksekusi atas seluruh kekayaan si debitor untuk kepentingan seluruh kreditornya bersama-sama, yang pada waktu kreditor dinyatakan pailit

24Ahmad Yani dan Gunawan Widjaja, Seri Hukum Bisnis dan Kepailitan (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002), hlm. 62

25R. Subekti dan R. Tjitrosudibio, 1973, Kamus Hukum, Pradnya Paramita, Jakarta.

26Martias gelar Iman Radjo Mulano, Pembahasan Hukum; Penjelasan-PenjelasanIstilah- Istilah Hukum Belanda Indonesia untuk Studi dan Praktik, PD. Sumut, Medan, 1969.

27Siti Soemarti Hartono, Pengantar Hukum Kepailitan dan PenundaanPembayaran, Seksi Hukum Dagang FH UGM, Yogyakarta, 1981.

(36)

mempunyai piutang dan untuk jumlah piutang yang masing-masing kreditor miliki pada saat itu. Berdasarkan beberapa definisi atau pengertian tersebut dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa kepailitan mempunyai unsur-unsur :

a. Adanya sita dan eksekusi atas kekayaan debitor.

b. Sita itu semata-mata hanya mengenai kekayaan.

c. Sita dan eksekusi tersebut untuk kepentingan para kreditornya bersama-sama.29

Kartini Muljadi mengemukakan bahwa kepailitan dimaksudkan untuk menghindari terjadinya dan untuk menghentikan sitaan terpisah dan/atau eksekusi terpisah oleh para kreditor dan menggantikannya dengan mengadakan sitaan bersama sehingga kekayaan debitor dapat dibagikan kepada semua kreditor, sesuai dengan hak masing-masing.30 Oleh karena itu, dapat dikatakan pailit merupakan suatu keadaan yang menimpa seorang debitor sebagai akibat ketidak mampuannya melunasi kewajiban pembayaran utangnya kepada para kreditornya.

b. Sejarah kepailitan

Segala sesuatu, termasuk peraturan perundang-undangan, tentu memiliki sejarah mengingat berlangsungnya perjalanan waktu.31 Suatu undang-undang akan dapat dipahami dengan baik apabila diketahui sejarahnya. Mengetahui sejarah undang-undang, tidak semata-mata untuk mengetahui asal mula kejadiannya dan

29 Kartini Muljadi, Hukum Kepailitan, (Jakarta : Putra Grafika, 2007), hal. 143

30 Kartini Muljadi, Hakim Pengawas dan Kurator Dalam Kepailitan, Makalah Seminar Tentang Perubahan Atas UU Kepailitan, (Jakarta : Pusat Pengajian Hukum, 1998), hal 12.

31 Sutan Remy Sjahdeni, Sejarah, Asas, dan Teori Hukum Kepailitan: Memahami Undang- undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang,

(37)

perjalanan waktu keberadaannya, tetapi juga untuk mengetahui falsafah yang terkandung di dalamnya, sistem dan asas-asasnya.32

Menurut Sri Redjeki Hartono sejarah berlakunya peraturan kepailitan di Indonesia dapat dipilah menjadi 3 masa yakni masa sebelum Faillisement Verordening berlaku, masa berlakunya Faillisements Verordening itu sendiri dan masa berlakunya UU Kepailitan yang sekarang ini.33

a. Sebelum berlakunya Failisements Verordering

Sebelum Failisements Verordering berlaku, hukum kepailitan diatur dalam dua tempat, yaitu dalam:

1. Wet Book Van Koophandel atau WVK buku ketiga yang berjudul “Van de Voorzieningen in geval van onvormogen van kooplieden” atau peraturan tentang ketidakmampuan pedagang. Peraturan ini adalah peraturan kepailitan bagi pedagang.

2. Reglement op de Rechtsvoordering (RV). S. 1847-52 jo. 1849-63, Buku ketiga bab ketujuh dengan judul “Van den staat Von Kenneljk Onvermogen atau tentang keadaan nyata-nyata tidak mampu.

Peraturan ini adalah peraturan kepailitan bagi orang-orang bukan pedagang. Akan tetapi ternyata dalam pelaksanaan nya, kedua aturan tersebut justru menimbulkan banyak kesulitan antara lain adalah:

a. Banyaknya formalitas sehingga sulit dalam pelaksanaannya b. Biaya tinggi.

c. Pengaruh kreditor terlalu sedikit dalam jalannya kepailitan.

d. Perlu waktu yang cukup lama.

32Ibid.

33Sri Rejeki Hartono, Hukum Kepailitan, (Malang: UMM Press, 2008), hal. 9

(38)

Pembuatan aturan baru yang sederhana dan tidak perlu banyak biaya, maka lahirlah Faillissements Verordening (S. 1905-217) untuk menggantikan dua peraturan kepailitan tersebut.34

1. Masa berlakunya Faillisements Verordening Mengenai kepailitan diatur dalam Faillisements Verordening (S.1905-271 jo. S.1906-348).

Peraturan kepailitan ini sebenarnya hanya berlaku bagi golongan Eropah, golongan Cina dan golongan Timur Asing (S. 1924 - 556).

Bagi golongan Indonesia asli (pribumi) dapat saja menggunakan Faillisements Verordening ini dengan cara melakukan penundukan diri. Dalam masa ini untuk kepailitan berlaku Faillisementes Verordening 1905-217 yang berlaku bagi semua orang, baik bagi pedagang maupun bukan pedagang, baik perseorangan maupun badan hukum. Sejarah peraturan kepailitan di Indonesia sejalan dengan apa yang terjadi di Belanda melalui asas konkordansi (Pasal 131 IS), yakni dimulai dengan berlakunya “Code de Commerce” (tahun 1811- 1838) kemudian pada tahun 1893 diganti dengan Faillisementswet 1893 yang berlaku pada 1 September 1896.

2. Masa berlakunya Undang-Undang Kepailitan Produk Hukum Nasional

Setelah berlakunya Fv. S. 1905 No. 217 jo S. 1906 No. 348, Republik Indonesia mampu membuat sendiri peraturan kepailitan meskipun masih tambal sulam sifatnya, yakni sudah ada 3 (tiga) peraturan perundangan yang merupakan produk hukum nasional dimulai dari terbitnya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-

(39)

Undang (PERPU) No. 1 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang tentang Kepailitan yang kemudian ditingkatkan menjadi Undang-Undang No. 4 Tahun 1998 dan terakhir pada tanggal 18 November 2004 disempurnakan lagi dengan Undang- Undang No 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban pembayaran Utang.35

a. Masa berlakunya Perpu No. 1 Tahun 1998 dan Undang- Undang Kepailitan No. 4 Tahun 1998

Perekonomian nasional mengalami kesulitan yang sangat besar terhadap kemampuan dunia usaha dalam mengembangkan usahanya terlebih untuk memenuhi kewajiban pembayaran mereka pada para kreditor sejak pertengahan tahun 1997 dikarenakan pengaruh gejolak moneter yang terjadi di negara-negara Asia termasuk di Indonesia. Keadaan seperti ini menimbulkan akibat yang berantai dan bisa lebih luas lagi apabila tidak diselesaikan.

Penyelesaian masalah utang haruslah dilakukan secara cepat dan efektif.Selama ini masalah kepailitan dan penundaan kewajiban membayar tadi di atur dalam Faillisements Verordening S. 1905 No. 217 Jo. S. 1906 No.

348. Secara umum prosedur yang diatur dalam Faillisements Verordening tersebut masih baik. Namun karena mungkin selama ini jarang dimanfaatkan, mekanisme yang diatur di dalamnya menjadi semakin kurang teruji, beberapa infra struktur yang mendukung mekanisme tersebut juga menjadi kurang terlatih. Sementara seiring dengan berjalannya waktu, kehidupan perekonomian berlangsung pesat maka wajarlah bahkan sudah semakin mendesak untuk menyediakan sarana hukum yang memadai yakni yang cepat,

(40)

adil, terbuka, dan efektif guna menyelesaikan utang piutang. Pelaksanaan penyempurnaan atas peraturan kepailitan atau Faillisemnets Verordening melalui PERPU No. 1 Tahun 1998 tentang perubahan Undang-Undang tentang Kepailitan pada tanggal 22 April 1998 dan sebagai konsekuensi lebih lanjut dari PERPU ini ditingkatkan menjadi Undang-Undang Republik Indonesia No. 4 Tahun 1998 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Kepailitan yang telah disahkan dan diundangkan di Jakarta pada tanggal 9 September tahun 1998 yang tertuang dalam Lembaran Negara Republik Indonesia (LNRI) tahun 1998 No. 135.

Sejak undang-undang tersebut disahkan maka berlakulah UU Kepailitan yang isinya masih merupakan tambal sulam dari aturan sebelumnya yaitu peraturan kepailitan atau FV.36

b. Masa berlakunya UUK No. 37 Tahun 2004

Untuk kepentingan dunia usaha dalam menyelesaikan masalah utang piutang secara adil, cepat, terbuka, dan efektif, sangat diperlukan perangkat hukum yang mendukungnya. Oleh karena itu apabila tidak segera diselesaikan akan berdampak lebih luas antara lain hilangnya lapangan kerja dan permasalahan sosial lainnya. Seiring berjalannya waktu peraturan kepailitan atau Failisements Verordering sebagian besar tidak sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan hukum masyarakat, oleh karena itu kemudian diubah dengan peraturan pemerintah pengganti Undang-Undang No. 1 Tahun 1998 tentang perubahan atas Undang-Undang Kepailitan, yang kemudian ditetapkan menjadi undang-undang berdasarkan Undang-Undang No. 4 Tahun 1998, namun perubahan tersebut belum bisa memenuhi kebutuhan

(41)

masyarakat, sehingga pada tanggal 18 Oktober 2004 ditetapkanlah Undang- Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.

B. Syarat-Syarat Pailit

Mengajukan permohonan pernyataan pailit ke pengadilan niaga, terdapat syarat-syarat yang merupakan hal yang sangat penting karena apabila permohonan pernyataan pailit tidak memenuhi syarat-syarat yang terdapat dalam UUK-PKPU maka pengadilan niaga tidak akan bisa mengabulkan permohonan pernyataan pailit tersebut.

Pernyataan pailit terhadap seorang debitor dinyatakan secara sederhana, artinya tidak diperlukan alat-alat pembuktian sebagaimana dalam Buku IV Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, karena cukup dengan bila peristiwa itu telah terbukti dengan alat-alat pembuktian sederhana.

Menurut Pasal 2 ayat (1) UUK-PKPU, syarat-syarat untuk mengajukan permohonan pailit yaitu debitor yang mempunyai dua atau lebih kreditor dan tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih, dinyatakan pailit dengan putusan pengadilan, baik atas permohonannya sendiri maupun atas permohonan satu atau lebih dari kreditornya.37

Berdasarkan ketentuan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Kepailitan tersebut dapat disimpulkan bahwa pernyataan pailit terhadap seorang debitor, dapat diajukan baik oleh debitor sendiri ataupun salah satu kreditor.

1. Memiliki dua kreditor atau lebih

Berdasarkan ketentuan Pasal 2 ayat (1) UUK-PKPU seorang debitor dapat dinyatakan pailit oleh pengadilan niaga apabila mempunyai dua kreditor atau

37 Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban

(42)

lebih.Syarat mengenai adanya minimal 2 (dua) atau lebih kreditor dikenal sebagai concursus creditorium.38 Syarat ini merupakan pelaksanaan dari ketentuan Pasal 1132 KUH Perdata yang menyebutkan bahwa harta kekayaan debitor merupakan jaminan bersama bagi para kreditor dan hasil penjualan harta debitor harus dibagikan kepada kreditor sesuai dengan jumlah piutangnya, kecuali jika diantara kreditor itu berdasarkan undang-undang harus didahulukan dalam pembagiannya.39

Alasan mengapa seorang debitor tidak dapat dinyatakan pailit jika ia hanya mempunyai seorang kreditor adalah karena dalam hal ini debitor harus membagi asetnya terhadap para kreditor. Kreditor berhak atas semua semua aset debitor.

Hal ini dapat dimaklumi karena dalam kepailitan, yang terjadi sebenarnya sita umum terhadap semua harta kekayaan debitor yang diikuti dengan likuidasi paksa, untuk nanti perolehan dari likuidasi paksa tersebut dibagi secara prorate di antara kreditornya.40

2. Adanya utang

Pengertian utang menurut Pasal 1 angka 6 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 adalah : Kewajiban yang dinyatakan atau dapat dinyatakan dalam jumlah uang baik dalam mata uang Indonesia maupun mata uang asing, baik secara langsung maupun yang akan timbul di kemudian hari atau kontinjen, yang timbul karena perjanjian atau undang-undang dan yang wajib dipenuhi oleh debitor dan bila tidak dipenuhi memberi hak kepada Kreditor untuk mendapat pemenuhannya dari harta kekayaan debitor.

38 Sutan Remy Sjahdeni, Hukum Kepailitan,Op.Cit, hal. 64.

39Kartini Muljadi & Gunawan Widjaja, Pedoman Menangani Perkara Kepailitan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004), hal. 107.

40 Imran Nating, Peranan dan Tanggung Jawab Kurator Dalam Pengurusan dan

(43)

Menurut Jerry Hoff sebagaimana dikutif oleh Setiawan, utang seyogyanya diberi arti luas baik dalam arti kewajiban membayar sejumlah uang tertentu yang timbul karena adanya perjanjian utang-piutang, maupun kewajiban pembayaran sejumlah uang tertentu yang timbul dari perjanjian atau kontrak lain yang menyebabkan debitor harus membayar sejumlah uang tertentu. Dengan membayar sejumlah uang tertentu yang disebabkan karena Debitor telah menerima sejumlah uang tertentu karena perjanjian kredit, tetapi juga kewajiban membayar debitor yang timbul dari perjanjian-perjanjian lain.41

Menurut Pasal 1233 KUH Perdata, kewajiban atau utang dapat timbul dari perjanjian atau dari undang-undang. Ada kewajiban untuk memberikan sesuatu, untuk berbuat sesuatu, dan tidak berbuat sesuatu.42

Beberapa contoh kewajiban yang timbul dari perjanjian adalah:

a. Kewajiban debitor untuk membayar bunga dan utang pokok kepada pihak yang meminjamkan;

b. Kewajiban penjual untuk menyerahkan mobil kepada pembeli mobil tersebut;

c. Kewajiban pembangun untuk membuat rumah dan menyerahkannya kepada pembeli rumah;

d. Kewajiban penjamin (guarantor) untuk menjamin pembayaran kembali pinjaman debitor kepada kreditor.43

Bagi debitor, kewajiban tersebut adalah utang yang memberikan hak menagih kepada kreditor (tagihan/piutang).Kegagalan debitor (yaitu

41Setiawan, Kepailitan serta Aplikasi Kini, (Jakarta: Tata Nusa, 1999), hal. 15.

42 Imran Nating, op.cit, hal 25.

43 Kartini Muljadi, ”Pengertian dan Prinsip-Prinsip Umum Hukum Kepailitan” dalam Rudy A. Lontoh (ed.), Penyelesaian Utang-Piutang Melalui Pailit atau Penundaan Kewajiban

(44)

peminjam, penjual, pembangung dan penjamin) untuk memenuhi kewajiban sebagaimana mestinya dapat menjadi dasar Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU).

3. Salah satu utang telah jatuh waktu dan dapat ditagih

Suatu utang jatuh waktu dan harus dibayar jika utang itu sudah waktunya untuk dibayar. Dalam perjanjian biasanya diatur kapan suatu utang harus dibayar.

Yang dimaksud dengan “salah satu utang telah jatuh waktu dan dapat ditagih”

menurut penjelasan UU No. 37 Tahun 2004 adalah kewajiban untuk membayar utang yang telah jatuh waktu, baik karena telah diperjanjikan, karena percepatan waktu penagihannya sebagaimana diperjanjikan, karena pengenaan sanksi atau denda oleh instansi yang berwenang, maupun karena putusan pengadilan, arbiter, ataupun majelis arbitrase.

Suatu permohonan pernyataan pailit haruslah dikabulkan apabila terdapat fakta atau keadaan yang terbukti secara sederhana bahwa persyaratan untuk dinyatakan pailit telah dipenuhi.Oleh karena itu, apabila dalam sidang pengadilan terbukti bahwa ada satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih serta tidak dapat dibayar oleh debitor maka pengadilan menyatakan bahwa debitor dalam keadaan pailit.44

Syarat pengajuan kepailitan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Kepailitan tersebut nampaknya sangat mudah, kreditor yang mengajukan kepailitan cukup membuktikan bahwa debitor mempunyai kewajiban hutang terhadap kreditor lain disamping dirinya sendiri dan terdapat utang pada pemohon pailit yang sudah jatuh tempo dan dapat ditagih, namun tidak dibayar oleh Debitor.

(45)

C. Tujuan dan Asas-Asas Kepailitan a. Tujuan kepailitan

Berdasarkan UUK-PKPU, maka tujuan dari kepailitan adalah:

a. Untuk menghindari perebutan harta debitor apabila dalam waktu yang sama ada beberapa kreditor yang menagih piutangnya dari debitor.

b. Untuk menghindari ada kreditor pemegang hak jaminan kebendaan yang menuntut haknya dengan cara menjual barang milik debitor tanpa memperhatikan kepentingan debitor dan kreditor lainnya.

c. Untuk menghindari adanya kecurangan-kecurangan yang dilakukan oleh salah seorang kreditor atau debitor sendiri. Misalnya debitor berusaha untuk memberi keuntungan kepada seorang atau beberapa kreditor tertentu sehingga kreditor lainnya dirugikan atau adanya perbuatan curang dari debitor untuk melarikan semua harta kekayaannya dengan maksud untuk melepaskan tanggung jawabnya terhadap para kreditor.

d. Membagikan harta debitor secara adil dan seimbang menurut besar atau kecilnya piutang masing-masing kreditor.45

Sedangkan tujuan hukum kepailitan menurut Louis E. Levinthal dalam bukunya yang berjudul “The Early of bankruptcy Law” adalah :

a) Untuk menjamin pembagian yang sama terhadap harta kekayaan debitor dan diantaranya para kreditor.

b) Mencegah para debitor tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat merugikan para kreditor.

c) Memberikan perlindungan kepada kreditor yang beritikad baik dari para kreditornya dengan cara memperoleh pembebasan utang.46

Referensi

Dokumen terkait

Dari hal ini muncul masalah – masalah hukum yaitu : bagaimana kedudukan kreditor pemegang jaminan fidusia karena debitornya dinyatakan pailit, Hak jaminan fidusia dalam Undang-Undang

Akibat kepailitan debitur terhadap kreditur pemegang hak tanggungan dalam eksekusi hak tanggungan adalah pelaksanaan hak preferensi dari kreditur pemegang hak tanggungan ini

Akibat hukum putusan pailit bagi kreditor preferen pemegang hak tanggungan apabila debitor dinyatakan pailit adalah tetap dapat menjalankan haknya sebagai

Dalam hal ini menganalisis pasal yang terdapat di undang-undang kepailitan mengenai ketentuan penangguhan eksekusi kreditor separatis terhadap benda jaminan debitur baik

Dalam hal ini menganalisis pasal yang terdapat di undang-undang kepailitan mengenai ketentuan penangguhan eksekusi kreditor separatis terhadap benda jaminan debitur baik

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan ridho Nya lah penulis bisa menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul “HAK KREDITOR SEPARATIS DALAM

Pengaturan hukum jaminan dalam Pasal 21 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan dan Pasal 27 ayat (3) Undang-Undang Nomor 42 tentang Fidusia serta Pasal 55 ayat

SIMPULAN Dalam perkara Kepailitan terkait pengambilan kembali harta jaminan yang sedang dalam penguasaan Kreditor Separatis, Kurator dapat melaksanakan hal tersebut dengan syarat masa