Jurnal Ilmiah Geomatika Vol. 18, No. 1, Agustus 2012
PETA TEMATIK RISIKO BENCANA UNTUK PENGUATAN PERAN GENDER DALAM PENANGGULANGAN BENCANA
Disaster Risk Map For Gender Empowerment In Disaster Management Lalitya Narieswari, Sri Lestari Munajati, Mone Iye Cornelia Marschiavelli dan Habib Subagio
Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) Jln. Raya Jakarta-Bogor Km. 46, Cibinong Bogor
Diterima (received): 17-2-2012, disetujui untuk publikasi (accepted): 22-3- 2012
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menyajikan kerentanan gender dan risiko bencana berbasis gender kabupaten bantul diatas peta. Penelitian ini menghasilkan kuesioner dan metode pembobotan dan skoring untuk penentuan kerentanan gender. Hasil penentuan kerentanan gender selanjutnya diolah dengan kapasitas dan ancaman bencana yang ada untuk menghasilkan peta tematik risiko bencana untuk penguatan peran gender dalam penanggulangan. Peta yang dihasilkan adalah peta kerentanan gender, kapasitas dan peta risiko gender terhadap bencana gempabumi, tsunami, kekeringan dan banjir. Peta ini diharapkan memberi kemudahan bagi pengguna peta dalam melakukan identifikasi wilayah dan perbandingan khususnya mengenai peran gender dalam penanggulangan bencana selain juga dimanfaatkan sebagai bahan evaluasi penguatan peran/kapasitas gender pada daerah berisiko tinggi serta meminimalkan kerentanan.
Kata Kunci: Penguatan peran gender, Penanggulangan Bencana, Peta Risiko Bencana
ABSTRACT
This study aims to present gender vulnerability and gender disaster risk of Bantul district on the map. The study produced a questionnaire, weighting and scoring methods to determine gender vulnerability. The results then further processed with the capacity and the existing natural hazards which to generate disaster risk thematic maps. The resulting map are gender vulnerability map, gender capacity map and gender disaster risk maps for earthquakes, tsunamis, droughts and floods. These maps are expected not only to guide and facilitate users to identifythe role of gender in disaster management in their own area but also be used as an evaluation basis to strengthen the role of gender or capacity in high-risk areas and to minimize vulnerabilities.
Keywords: Gender strengthening, Disaster Management, Disaster Risk Map
LATAR BELAKANG
Perubahan paradigma penanganan bencana bahwa bencana tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah melainkan menjadi tanggung jawab seluruh masyarakat menjadi salah satu dasar bagi penyusunan Rencana Aksi Nasional- Pengurangan Risiko Bencana (RAN-PRB). Kesadaran akan pengurangan upaya risiko ini pada tahun 1990-1999 telah dicanangkan pada tingkat internasional. Pada tingkat nasional,
landasan pengurangan risiko bencana dirumuskan pada Undang-Undang No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana (RAN-PRB 2010-2012).
Hal ini belum sepenuhnya berlaku di masyarakat umum, khususnya pada negara berkembang seperti halnya di Indonesia. Perempuan dan anak-anak dianggap hanya sebagai korban dan menjadi bagian paling besar yang terpengaruh oleh bencana.
Kehidupan sehari-hari perempuan menjadi subyek risiko sebelum, pada saat dan pasca bencana (UNDP, 1992). Perempuan menjadi pemimpin formal maupun informal serta menjadi aktor utama (primary caretakers) keluarga dalam persiapan dan recovery dari bencana, termasuk mengasuh anak-anak, orang tua, merawat korban luka dan penyediaan logistik/dapur umum. Karena mitigasi dan tanggap darurat bencana tergantung pada pengetahuan yang akurat terhadap kerawanan dan kapasitas masyarakat, penilaian dan pemetaan komunitas harus memperhitungkan faktor sosial dan lingkungan. Data mengenai gender sangat penting bagi praktisi bencana untuk perencanaan penanggulangan bencana meskipun tidak selalu mudah tersedia atau diperoleh.
Data-data mengenai peran dan kapasaitas perempuan telah banyak tersaji, namun masih sedikit didalam penanganan bencana. Penelitian ini menjawab tantangan itu dengan mengkaji peran perempuan dalam penanganan bencana dan terlebih lagi menyajikannya secara spasial. Informasi kerentanan gender secara spasial akan sangat membantu sebagai panduan bagi pengambil keputusan dan praktisi penanggulangan bencana dalam mitigasi dan tanggap darurat bencana.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kerentanan gender untuk pengurangan risiko bencana secara keruangan serta analisa risiko gender
terhadap berbagai bencana pada lokasi penelitian.
METODOLOGI Data dan Bahan
Data dan bahan yang digunakan untuk penelitian ini adalah sebagai berikut:
- Peta Rupa Bumi Indonesia digital dan analog skala 1 : 25.000.
- Data Statistik demografi (PODES) dari Badan Pusat Statistik
- Peta rawan bencana (Disaster Management Information System- DMIS)
- Kuesioner pemetaan kerentanan gender untuk penanggulangan bencana.
Lokasi Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta.
Dipilihnya Kabupaten Bantul sebagai lokasi penelitian adalah karena wilayah ini telah terjadi gempa tahun 2006, yang menelan korban sangat banyak.
Berdasarkan kejadian bencana gempa inilah maka penelitian ini dilaksanakan.
Kabupaten Bantul terletak antara 07o44'04"
08o00'27" Lintang Selatan dan 110o12'34"
– 110o31'08" Bujur Timur. Berdasarkan BPS (2010), penduduk Kabupaten Bantul berjumlah 910.572 jiwa yang tersebar di 17 kecamatan dengan persentase penduduk perempuan sebesar 50,14% dan penduduk laki-laki sebesar 49,86%.
Gambar 1, memperlihatkan lokasi Kabupaten Bantul.
Jurnal Ilmiah Geomatika Vol. 18, No. 1, Agustus 2012
Kab. Bantul pada Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)
Gambar 1. Lokasi Penelitian (Kabupaten Bantul)
Metode
Penelitian ini dilaksanakan dengan berbagai tahapan, dimana alur tahapan penelitian ini secara garis disajikan dalam Gambar 2.
Gambar 2. Skema alur penelitian Penyusunan kriteria kuesioner
Informasi spasial risiko
bencana untukberbasi
s gender
Data Penentuan
Indikator
Overla y Demografi
Peta rawan/potensi bencana(BAKOSUR
TANAL, BNPB, BMKG, LAPAN dll)
Transformasi data statistik, sosial
spasial
Peta Kerent anan
Jurnal Ilmiah Geomatika Vol. 18, No. 1, Agustus 2012
Persebaran desa di Kab. Bantul Lokasi Penelitian (Kabupaten Bantul)
Pengumpulan data
Data yang dikumpulkan adalah data PODES, kecamatan dalam angka, data rawan bencana (disaster management information system-DMIS) dan data jumlah korban bencana gempa Propinsi DIY.
Skema alur penelitian Anal
isa data
Penyusunan Kuesioner
Survei Lapangan
Penyebaran Kuesioner
Data kelurahan,
kecamatan Keluarga, status
Status ekonomi pekerjaan Pendidikan, literacy,
Etnis dan pola
Kesehatan dan kesejahteraan Pola dan tren Struktur social
Transformasi data tabular statistik, sosial ke data
spasial Peta kerentanan
gender
Peta kapasitas
PODES
Data Potensi Desa banyak memberikan informasi mengenai kondisi desa, tetapi data tersebut tidak membedakan jenis kelamin. Ketiadaan data pilah ini yang kurang mendukung informasi kerentanan.
Untuk itu diperlukan kuesioner untuk bisa mengkonfirmasi kerentanan.
Kuesioner disusun berdasarkan beberapa indikator yang penting mengenai kerentanan gender dari WHO (2009), dengan modifikasi, yaitu:
- Rumah tangga, perumahan, status keluarga
- Status ekonomi dan pekerjaan
- Pendidikan, kemampuan menulis dan komunikasi
- Etnis dan pola budaya - Kesehatan dan kesejahteraan - Pola dan tren kepadatan penduduk - Struktur sosial dan politik
Selain untuk memperkaya informasi kerentanan dan kapasitas, kuesioner juga dimaksudkan untuk bisa mengkuantifikasi data (Davis, etal. 2004). Tiap indikator kerentanan diberi bobot dan nilai tertentu sesuai tingkat signifikasinya terhadap bencana (Williams, 2003).
Penentuan bobot dan skor pada Tabel 1, berdasar pada expert judgment dengan pertimbangan bahwa semakin besar pengaruh kriteria terhadap pemberdayaan perempuan khususnya pada penanggulangan bencana, maka semakin kuat kondisi daerah tersebut/tidak rentan.
Sebagai contoh penilaian, makin tinggi tingkat pendidikan semakin tinggi tingkat kesadaran, pengetahuan dan kemampuan akan penanggulangan bencana. Nilai total adalah perkalian dari ketiga jenis kriteria.
Semakin besar total skor, semakin rentan daerah tersebut.
Pengambilan data di lapangan dan penyebaran kuesioner
Pengambilan data di lapangan dilakukan dengan metode stratifikasi acak bersyarat. Stratifikasi dilakukan berdasarkan jumlah desa, dimana setiap desa minimum diambil satu contoh secara acak namun dengan syarat yang sudah ditentukan. Syarat tersebut adalah bahwa contoh yang diambil adalah yang dapat mewakili untuk mengetahui kondisi desanya di dalam menjelaskan berbagai informasi mengenai hal-hal yang berhubungan dengan kebencanaan. Yang dimaksud contoh di sini adalah responden yang diambil untuk menjawab berbagai pertanyaan yang disajikan pada kuesioner, yang dapat mewakili desa yang ada di Kabupaten Bantul. Untuk menghindari bias dan subyektifitas, responden adalah key person dengan berbagai profesi baik laki-laki maupun perempuan.
Menyusun hasil analisa ke dalam informasi spasial
Pada tahap ini dilakukan pemetaan statistik dari atribut (hasil analisa kuesioner dan wawancara). Data yang ada dipetakan menggunakan teknik choroplet, artinya pemetaan atribut dari aspek kerentanan dan kapasitas yang didistribusikan ke area administratif desa yang bersangkutan. Nilai peringkat untuk tiap aspek ditentukan dengan klasifikasi rentang natural (natural breaks) mengikuti karakteristik data.
Tabel 1. Bobot dan nilai kriteria yang digunakan dalam kuesioner
Jurnal Ilmiah Geomatika Vol. 18, No. 1, Agustus 2012
Indikator
kerentanan Bobot Kriteria Bobot Pilihan Nilai
A. Struktur sosial dan politik
5 Pemimpin wanita dipilih (ketua RT, RW, dasawisma,lurah,kepala desa)
2 ada 1
tidak 2
tidak 2
Grup atau organisasi yang menangani masalah perempuan
3 ada, aktif 1
ada, tidak
aktif 2
tidak ada 3
B. Pendidikan dan komunikasi 4
Tingkat
pendidikan/kelulusan rata-rata
2
Diploma,
Strata 1 1
SMA 1
SD, SMP 2
Tidak sekolah 3
Media paling populer (Cara memperoleh berita…)
1
Koran,
majalah 1
Televisi 2
radio 3
C. Rumah
tangga, perumahan, status keluarga
3 Persentase jompo
perempuan yang tinggal sendiri
2
tinggi (>25
%) 3
sedang (10-
25) 2
tidak ada 1
D. Status
ekonomi dan pekerjaan
3 Akses terhadap kredit bank atau badan kredit yang lain?
2 Ya 1
Tidak 2
E. Etnis dan pola budaya
2 Pembagian peran pria dan wanita (secara sosial dan politik)
3 Seimbang 1
salah satu
dominan 2
F. Kesehatan dan
kesejahteraan
2 Persentase penduduk yang tidak mendapat- kan pelayanan kese- hatan yang memadai (jauh dari sarana kesehatan, tdk ada transportasi, petugas kesehatan tidak ada)
3
tinggi (>
50%) 1
sedang (10-
50) 2
rendah
(<10%) 3 G. Pola dan tren
kepadatan penduduk
1 Distribusi umur pada populasi perempuan
2
anak-anak dan
jompo 1
remaja 2
dewasa 3
Peta yang dihasilkan pada tahap ini adalah peta kekuatan gender berdasarkan
hasil analisis kuesioner yang menunjukkan tingkat kemampuan gender
dalam penanganan bencana khususnya tanggap darurat serta peta kapasitas yang diperoleh berdasarkan data PODES.
Dua indikator tersebut dianalisa menggunakan matriks V/C untuk menghasilkan peta kerentanan total (tabel 2).
Analisis risiko bencana berbasis gender
Analisa ini dilakukan dengan mengoverlaykan peta kerentanan total yang dihasilkan penelitian ini dengan peta rawan bencana yang ada menggunakan matriks risiko dan menghasilkan peta risiko bencana berbasis “gender” (Tabel 3).
HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik responden
Dari 105 responden yang berhasil diperoleh, didapatkan karakteristik responden yang meliputi usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan jenis
pekerjaan responden yang masing-masing disajikan pada Gambar
Responden sebagian besar adalah berusia di bawah 50 tahun ini termasuk usia produktif, yaitu sebanyak 88% yang terbagi ke dalam usia 19-35 tahun sebesar 47 % dan usia 36-50 tahun sebanyak 41 %. Hal ini menunjukkan bahwa responden dapat mewakili atas syarat-syarat yang disebutkan di dalam metodologi. Sedangkan jenis kelamin responden sebagian besar adalah perempuan, karena ini masalah peningkatan peran gender perempuan, maka responden dipilih sebagian besar perempuan yaitu 71%.
Tingkat pendidikan responden sebagian besar adalah D1 hingga Sarjana yaitu 47
%. Selanjutnya adalah berpendidikan SMA (41 %) dan sisanya (12 %) adalah berpendidikan SD-SMP. Hal ini diharapkan dapat mewakili kondisi desa yang dijelaskan oleh responden.
Tabel 2. Matriks penentuan kerentanan total
V
Tinggi Tinggi Tinggi Sedang
Sedang Sedang Sedang Sedang
Rendah Rendah Rendah Rendah
Rendah Sedang Tinggi
C
Tabel 3. Matriks penentuan risiko bencana
V / C
Tinggi Sedang Tinggi TinggiSedang Rendah Sedang Tinggi
Rendah Rendah Sedang Sedang
Rendah Sedang Tinggi
H
Jenis pekerjaan responden sebagian besar adalah PNS yaitu 27%, kemudian
karyawan yaitu 18 % dan Ibu Rumah Tangga, 16 %. Dengan kondisi ini
Jurnal Ilmiah Geomatika Vol. 18, No. 1, Agustus 2012
diharapkan responden ini dapat mewakili untuk mengetahui karakteristik gender di desanya.
Analisis Spasial Risiko Bencana Kerentanan dan Kapasitas gender Peta kerentanan gender menyajikan informasi tentang kondisi gender dalam melakukan pencegahan, persiapan dan tindak-tanggap terhadap bencana pada saat penelitian dilaksanakan. Hasil analisa kuesioner dengan mempertimbang bobot dan skor dari indikator terpilih menunjukkan bahwa secara spasial kerentanan gender yang tinggi berada di wilayah selatan atau pesisir, daerah yang relatif jauh dari ibu kota provinsi.
Aksesibilitas dan kondisi topografi mungkin menjadi faktor utama yang berpengaruh (gambar 3). Selain kerentanan, di dalam masyarakat selalu ada kemampuan untuk memberikan tanggapan terhadap bencana dengan segala sumber daya yang tersedia baik itu pengetahuan, pembangunan fisik maupun kebiasaan baik yang dijalankan sehari- hari yang disebut kapasitas. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat 2 kondisi umum pada wilayah penelitian, yaitu (1) desa yang mempunyai kapasitas tinggi dan kerentanan tinggi dan (2) desa yang mempunyai kapasitas rendah dan kerentanan tinggi. (Gambar 4). Kondisi kedua merupakan kondisi yang ideal atau diinginkan, karena perempuan di wilayah tersebut akan mampu mengantisipasi dan memberikan tindak tanggap yang tepat dalam penanganan bencana. Sedangkan kondisi pertama memerlukan perhatian karena kondisi perempuan di desa tersebut kurang mampu dalam melakukan kegiatan penanggulangan bencana dan
kemampuan untuk memberikan tanggapan terhadap bencana (kapasitas) juga rendah. Kondisi satu pada umumnya terdapat pada desa-desa pesisir atau di bagian selatan wilayah penelitian. Kondisi dua terdapat pada desa-desa disekitar ibu kota propinsi.
Hasil analisa kerentanan pada saat penelitian (eksisting) memberikan hasil yang menarik khususnya jika dikorelasikan dengan jumlah korban gempa pada saat kejadian, yaitu desa dengan korban jiwa dan kerusakan yang besar cenderung untuk meningkatkan kapasitas mereka terhadap bencana. Hal ini terlihat pada skor total yang rendah.
Hal ini berlaku sebaliknya, pada desa yang jumlah korban dan kerusakan tidak besar, nilai kerentanannya relatif tinggi.
Hal tersebut terkonfirmasi dari hasil wawancara dengan pamong desa serta tokoh masyarakat bersangkutan. Sebagai contoh adalah desa Tamanan, Kecamatan Banguntapan. Bencana gempa yang mengakibatkan 34 korban jiwa, 10.427 jiwa mengungsi dan 2700 rumah rusak ringan hingga rusak total meningkatkan kapasitas warga desa dalam persiapan dan mitigasi bencana. Mereka sadar akan bencana-bencana yang mungkin terjadi pada wilayah mereka. Kapasitas mereka terukur dengan kemampuan warga untuk membuat peta rawan bencana mereka sendiri dalam skala desa secara partisipatif. Tagana (Tanggap bencana) sangat aktif dilaksanakan oleh pemuda- pemudi desa. Peran perempuan dianggap sama dalam penanggulangan bencana karena ketelibatan mereka dalam setiap kegiatan. Hal yang berkebalikan terjadi pada desa Imogiri, Kecamatan Imogiri.
Desa tersebut terdapat lebih sedikit korban jiwa dan kerusakan pada saat
terjadi bencana dan pada saat penelitian ini dilakukan hasil analisis kerentanan menunjukkan bahwa desa tersebut memiliki kerentanan tinggi. Hal ini dimungkinkan karena warga yang kurang peduli untuk meningkatkan kepedulian mereka terhadap bencana.
Risiko Bencana
Peta risiko yang dihasilkan menyajikan informasi tentang risiko gender terhadap bencana tertentu yang kemungkinan terjadi di wilayah tersebut (Gambar 5).
Dalam hal ini menyangkut peran, kualitas dan kapasitas perempuan dalam menghadapi bencana. Pada desa dengan kapasitas yang tinggi dan ancaman bahaya yang tinggi, risiko terhadap bencana tidak akan sebesar pada desa dengan kapasitas rendah dan ancaman bahaya yang tinggi. Hal tersebut karena perempuan tersebut akan mampu mengantisipasi dan menghadapi bahaya yang akan datang dengan baik.
Kompleksnya pemetaan risiko mengharuskan cara pembacaan yang
menyeluruh dari aspek semua penyusunnya. Peta risiko bahaya tinggi mengindikasikan bahwa desa mempunyai risiko gender terhadap bencana tingkat tinggi berdasarkan tingginya probabilitas ancaman dan desa tersebut memiliki kerentanan gender pada tingkat sedang atau tinggi serta rendahnya tingkat kapasitas dalam menghadapi bencana secara keseluruhan. Kelas sedang mengindikasikan risiko gender terhadap bencana tingkat sedang suatu desa berdasarkan adanya probabilitas ancaman dan desa tersebut memiliki kerentanan gender sedang dengan kapasitas sedang hingga tinggi. Kelas risiko rendah mengindikasikan risiko gender terhadap bencana tingkat rendah suatu desa berdasarkan rendahnya probabilitas ancaman dan desa tersebut memiliki kerentanan gender rendah hingga sedang dengan kapasitas yang sedang hingga tinggi dalam menghadapi bencana.
Jurnal Ilmiah Geomatika Vol. 18, No. 1, Agustus 2012
Gambar 3. Peta Kerentanan Gender Kab. Bantul
Gambar 4.Peta Kapasitas Gender Kabupaten Bantul
Gambar 5.a.Peta risiko gender terhadap bencana banjir
Gambar 5.b.
Peta risiko gender terhadap bencana tsunamiGambar 5.c.
Peta risiko gender terhadap bencana gempaGambar 5.d.
Peta risiko gender terhadap bencana kekeringan Peta risiko gender terhadap bencana tsunamiPeta risiko gender terhadap bencana gempa
Peta risiko gender terhadap bencana kekeringan
Jurnal Ilmiah Geomatika Vol. 18, No. 1, Agustus 2012
Pemanfaatan peta risiko gender terhadap berbagai bencana tersebut bagi stakeholder penanggulangan bencana adalah sebagai bahan evaluasi bagi usaha-usaha untuk meningkatkan kapasitas area pada wilayah yang berisiko tinggi dan meminimalkan kerentanan sebagai pilihan tindakan.
Wilayah-wilayah pada tingkat risiko tinggi tentunya akan menjadi prioritas penanganan bencana khususnya dalam fase mitigasi bencana. Hal tersebut diharapkan dapat mengurangi risiko dan dampak dari bencana. Informasi inilah yang diperlukan para pengambil keputusan dan praktisi bencana sehingga aktifitas penanggulangan bencana akan lebih efektif dan efisien. Keseluruhan proses penelitian ini menunjukkan bagaimana data yang diolah menjadi peta dapat digunakan sebagai dasar pembuatan kebijakan penanggulangan bencana yang selanjutnya digunakan untuk menurunkan/menentukan program yang tepat bagi pengutan gender untuk pengurangan risiko bencana sebagai bagian dalam penanggulangan bencana.
KESIMPULAN
Penentuan kerentanan gender secara kuantitatif dengan alat kuesioner menggunakan metode skoring dan pembobotan memungkinkan untuk menyajikan kerentanan gender secara spasial. Informasi tersebut sebagai dasar pengembangan peta tematik risiko bencana. Informasi kekuatan gender secara spasial akan sangat membantu sebagai panduan bagi pengambil keputusan dan praktisi penanggulangan bencana dalam mitigasi dan tanggap
darurat bencana. Peta risiko tematik bencana untuk penguatan peran gender dimaksudkan untuk mendorong kemudahan bagi pembaca peta dalam melakukan perbandingan dan identifkasi kewilayahan dan dapat dimanfaatkan untuk mengevaluasi usaha-usaha untuk meningkatkan kapasitas area apabila berisiko tinggi dan meminimalkan kerentanan (pilihan tindakan). Peta risiko gender terhadap bencana diklasifikasikan dalam 3 tingkat risiko, tinggi, sedang dan rendah. Proses pemetaan risiko merupakan proses yang kompleks dan hasilnya diusahakan komunikatif tanpa menghilangkan karakteristik dari setiap indikator penyusunnya.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penelitian ini merupakan hasil penelitian program Insentif PKPP 2011 yang dibiayai oleh Kementerian Riset dan Teknologi.
DAFTAR PUSTAKA
BPS. 2010. Kabupaten Bantul dalam
Angka 2010.
http://bantulkab.bps.go.id/index.php?
view=category&id=1%3Apendahuluan
&option=com_content&Itemid=2.
Diakses Juni 2010.
Benson, C., Twigg, J. 2007. Perangkat untuk Mengarustamakan Pengurangan Resiko Bencana: Catatan Panduan Bagi Lembaga-Lembaga yang Bergerak dalam Bidang Pembangunan (Edisi Bahasa), Provention Consortium Secretariat. Switzerland.
BAPPENAS BNPB, 2010. Rencana Aksi Nasional Penanggulangan Resiko Bencana (RAN-PRB 2010-2012).
2010. BAPPENAS-Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Jakarta.
Davis, I., B. Haghebaert and D. Peppiatt.
2004. Social Vulnerability & Capacity Analysis (VCA): An Overview.
ProVention Consortium Workshop, Geneva
WHO. 2009. Gender, Women and Health.
http://www.searo.who.int/en/Section1
3/ Section390_8282.htm. Diakses November 2010.
UNDP. 1992. An Overview of Disaster Management. New York, United Nations Development. 2nd edition.
Williams, A. 2003, How to write and analyse a questionnaire, Journal of Orthodontics, Vol. 30, No. 3, 245-252, September 2003