PROFIL KOMODITAS
BARANG KEBUTUHAN POKOK DAN BARANG PENTING
KOMODITAS BERAS
DIREKTORAT BARANG KEBUTUHAN POKOK DAN BARANG PENTING DIREKTORAT JENDERAL PERDAGANGAN DALAM NEGERI KEMENTERIAN PERDAGANGAN RI
Jl. M. I. Ridwan Rais. Nomor 5. Jakarta Pusat 10100
PROFIL KOMODITAS BARANG KEBUTUHAN POKOK DAN BARANG PENTING
KOMODITAS BERAS
Penasihat
Oke Nurwan, Dipl., Ing, Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan
Pengarah
Indrasari Wisnu Wardhana, S. Kom, M.Si, Direktur Barang Kebutuhan Pokok dan Barang Penting
Penanggung jawab
Tirta Karma Senjaya S.Si, M.SE, Kasubdit Barang Kebutuhan Pokok Hasil Pertanian dan Peternakan
Penulis
Astri Ridha Yanuarti SP Mudya Dewi Afsari SE
Narasumber
Dr. Ronnie S Natawidjaja PhD Bobby Rachmat Saepudin S.Si, MP Fitri Awaliyah SP, M. EP
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, akhirnya buku “Profil Komoditas Beras” dapat disusun dan disajikan sebagai dokumen yang diharapkan dapat bermanfaat bagi para pihak terkait. Buku ini merupakan satu dari delapan belas buku profil Komoditas Barang Kebutuhan Pokok dan Barang Penting (Beras, Kedelai, Bawang merah, Cabai, Gula, Minyak Goreng, Tepung Terigu, Daging Sapi, Daging ayam, Telur, Ikan, Pupuk, Benih, Semen, Triplek, Besi beton, Gas 3 kilogram, dan Baja ringan). Dalam buku ini dimuat informasi tentang perkembangan produksi, distribusi, dan permintaan komoditas Beras baik nasional dan dunia, serta analisis Neraca komoditas (produksi, konsumsi, ekspor dan impor) Beras untuk memberi penjelasan kondisi ketersediaaan dan permintaan dengan harapan mampu memberi gambaran lebih mendalam mengenai profil komoditas beras saat ini dan ramalan tahun depan (2017).
Buku profil komoditas bahan pokok dan penting bertujuan untuk menyediakan informasi yang akurat dan reliabel tentang keragaan komoditas Beras terkini yang mampu memberikan edukasi kepada masyarakat, serta menjadi salah satu referensi kepada Pimpinan Kementerian Perdagangan RI maupun stakeholders dalam analisis dan pengembangan kebijakan yang dianggap perlu untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan Beras pada tingkat yang wajar.
Terima kasih kami sampaikan kepada para nara sumber serta pihak terkait lainnya, atas sumbangsih ide dan kontribusi pemikirannya selama proses penyusunan buku ini.
Jakarta, 2016
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN... I PENDAHULUAN... II KERAGAAN PASAR KOMODITAS BERAS NASIONAL... 2.1 Perkembangan Ketersediaan Komoditas Beras... 2.2 Perkembangan dan Proyeksi Harga Komoditas Beras... 2.2.1 Perkembangan Harga Beras... 2.2.2 Proyeksi Harga Beras Medium Tahun 2017... 2.3 Kondisi Disparitas Harga Beras... 2.3.1 Kondisi Disparitas Harga Antar Waktu Beras... 2.3.2 Kondisi Disparitas Harga Beras Antar Provinsi... 2.4 Perkembangan Distribusi Komoditas Beras... 2.5 Perkembangan Konsumsi Komoditas Beras... 2.6 Perkembangan Ekspor-Impor Beras... 2.7 Analisa Kebijakan dan Regulasi Beras Nasional... 2.7.1 Operasi Pasar Komoditas Beras... 2.7.2 Penetapan Harga Acuan Pembelian Beras... 2.8 Proyeksi Penawaran dan Permintaan Beras... 2.8.1 Proyeksi Produksi Beras... 2.8.2 Proyeksi Kebutuhan Beras... 2.8.3 Surplus Defisit Beras... III KERAGAAN PASAR KOMODITAS BERAS DUNIA... 3.1 Perkembangan Ketersediaan Komoditas Beras Dunia... 3.2 Perkembangan Harga Komoditas Beras Dunia... 3.3 Perkembangan Konsumsi Beras Dunia... 3.4 Perkembangan Pasar Beras Dunia... IV KESIMPULAN DAN SARAN... 4.1 Kesimpulan... 4.2 Saran... DAFTAR PUSTAKA... LAMPIRAN... ii iv v v vi 2 6 6 8 8 9 11 11 12 14 16 17 18 18 22 23 23 24 26 28 28 29 30 31 34 34 34 36 37v Komoditas Beras 22 23 23 25 26
Tabel 1. Harga Acuan Pembelian Beras di Petani dan Harga Acuan Penjualan di
Konsumen Berdasarkan Permendag No. 63/M-DAG/PER/9/2016...
Tabel 2. Hasil Pembentukkan Model Produksi Beras di Indonesia... Tabel 3. Ketersediaan Beras di Indonesia... Tabel 4. Kebutuhan Beras di Indonesia... Tabel 5. Kebutuhan Beras di Indonesia...
Gambar 1. Produksi Padi Indonesia Tahun 2005-2015... Gambar 2. Luas Panen Padi (Ha) Indonesia Tahun 2005 – 2015... Gambar 3. Perkembangan Harga Beras Indonesia... Gambar 4. Perkembangan Pola Harga Beras di Indonesia Tahun 2010-2016... Gambar 5. Proyeksi Harga bulanan Beras Medium Tahun 2017... Gambar 6. Disparitas Harga Antar Waktu Beras Nasional Per Tiga Bulan Tahun 2015
dan 2016...
Gambar 7. Disparitas Harga Rata-rata Beras Antar Provinsi Tahun 2016... Gambar 8. Disparitas Harga Antar Provinsi Beras Nasional Tahun 2016... Gambar 9. Pola Distribusi Produksi Beras di Indonesia... Gambar 10. Perkembangan Konsumsi Beras Perkapita (ton/Tahun)... Gambar 11. Perkembangan Konsumsi Beras Nasional (ribu ton/Tahun)... Gambar 12. Perkembangan Volume Impor Beras Indonesia Tahun 2005-2014... Gambar 13. Provinsi terbanyak yang menyerap beras dari operasi pasar (ton)... Gambar 14. Perkembangan Harga Beras Medium Bulan Juli 201624... Gambar 15. Hasil Pemodelan Produksi Beras di Indonesia... Gambar 16. Perkembangan dan Proyeksi Ketersediaan Beras di Indonesia... Gambar 17. Perkembangan dan Proyeksi Kebutuhan Beras di Indonesia... Gambar 18. Produksi Padi Dunia pada Tahun 2004 – 2014... Gambar 19. Produsen Beras Terbesar Dunia Tahun 2014... Gambar 20. Perkembangan Harga Komoditas Beras di Pasar Internasioal... Gambar 21. Negara Konsumsi Beras Terbesar Dunia (Juta Ton)... Gambar 22. Negara Eksportir Beras Dunia... Gambar 23. Rata-rata Impor Negara Importir Beras Dunia...
Daftar Tabel
Daftar Gambar
6 7 8 9 10 12 13 14 16 16 17 18 19 20 23 24 25 28 29 30 31 32 32Lampiran 1. Produksi Padi Indonesia Menurut Provinsi (Ton)... Lampiran 2. Luas Panen Padi Indonesia Menurut Provinsi (Ha)... Lampiran 3. Perkembangan Harga Beras Indonesia... Lampiran 4. Perkembangan Konsumsi Beras Nasional... Lampiran 5. Volume dan Nilai Ekspor Impor Beras Indonesia (Ton)... Lampiran 6. Produksi Beras Dunia Menurut Negara Produksi Terbesar... Lampiran 7. Perkembangan Harga Beras Dunia (US $/kg)... Lampiran 8. Rata-rata Konsumsi Beras 10 Negara Terbesar Dunia Tahun 2011 – 2015
(000 Ton)...
Lampiran 9. Perkembangan Volume Ekspor Beras 10 Negara Terbesar Dunia,
Tahun 2004 – 2015...
Lampiran 10. Perkembangan Volume Impor Beras Negara Terbesar Dunia,
Tahun 2004 – 2015...
Daftar Lampiran
38 38 39 40 40 41 41 42 42 43Komoditas beras merupakan komoditas paling penting di Indonesia karena perannya sebagai makanan pokok yang mayoritas setiap penduduk Indonesia mengkonsumsinya setiap hari sebagai asupan karbohidrat. Tidak hanya itu beras juga merupakan komoditas strategis yang dominan dalam ekonomi Indonesia karena berkaitan erat dengan kebijakan moneter dan menyangkut masalah sosial politik (Adiratma, 2004).
Menurut Sugema (2006) harga beras dalam bobot harga barang pokok lainnya masih menduduki posisi antara 60-65%. Namun dalam bobot 150 jenis barang dan jasa yang biasa digunakan untuk mengukur biaya hidup secara umum dan laju inflasi beras menduduki posisi sekitar 23%. Pada tahun 2014 komoditas pangan memegang peranan 40,31% inflasi nasional.
Mengingat beras merupakan komoditas strategis dan politis maka pemenuhan ketersediaan beras dalam negeri harus selalu terpenuhi. Dalam perkembangannya untuk memenuhi kebutuhan tersebut banyak sekali hal-hal yang mempengaruhi kestabilan ketersediaan dan harga beras ini. Mulai dari kondisi iklim, sistem logistik dan keadaan pasar domestic serta keadaan pasar beras secara internasional. Di sisi lain peningkatan konsumsi beras nasional dari tahun ke tahun akan makin terus bertambah seiring dengan adanya peningkatan jumlah penduduk. Penduduk Negara Indonesia pada tahun 2014 sebanyak 252.162.786 jiwa dengan tingkat konsumsi nasional keselurahan 21.340.032.253,61 kilogram pertahun dan kebutuhan ini akan terus meningkat. Meskipun Indonesia adalah negara terbesar ketiga yang memproduksi beras terbanyak di dunia, Indonesia masih tetap merupakan negara importir beras. Situasi ini disebabkan karena para petani menggunakan teknik-teknik pertanian yang tidak optimal ditambah dengan konsumsi per kapita beras yang besar (oleh populasi yang besar). Bahkan, Indonesia memiliki konsumsi beras per kapita terbesar di dunia. Setiap orang Indonesia mengkonsumsi sekitar 89 kilogram beras per tahun dan para petani kecil mengkontribusikan sekitar 90% dari produksi total beras di Indonesia, setiap petani itu memiliki lahan rata-rata kurang dari 0,8 hektar.
Hal ini merupakan tantangan nyata bagi Negara untuk terus menjaga stabilitas ketersediaan beras dan keterjangkuan harganya di pasar. Tantangan lainnya menurut Sumaryanto (2009) dalam meningkatkan ketersediaan beras adalah pertumbuhan luas panen yang terbatas karena peningkatan luas panen pertanian sangat terbatas mengingat banyaknya konversi lahan pertanian menjadi lahan non pertanian, degradasi sumber daya air dan irigasi, turunnya tingkat kesuburan tanah, dan adanya gejala penurunan produktivitas.
Profil Komoditas Beras ini bertujuan untuk memberikan ulasan mengenai keragaan tata niaga komoditas beras nasional diantaranya perkembangan ketersediaan komoditas beras nasional, perkembangan harga beras nasional, kondisi disparitas harga nasional, perkembangan distribusi beras nasional, perkembangan konsumsi beras nasional, perkembangan ekspor-impor beras nasional serta analisa kebijakan dan regulasi beras nasional. Selain itu, keragaan tataniaga beras internasional juga menjadi salah satu topik yang akan dibahas diantaranya perkembangan ketersediaan komoditas beras dunia, perkembangan harga komoditas beras dunia, perkembangan konsumsi beras dunia, perkembangan tataniaga beras dunia. Analisis dan proyeksi penawaran dan permintaan beras juga menjadi bagian tak terpisahkan yang akan diulas dalam buku Profil Komoditas Beras ini sebagai salah satu upaya untuk mendapatkan gambaran kondisi dan model peramalan neraca kebutuhan dan ketersediaan pasokan yang akurat sehingga hasil analisis akan dapat digunakan dalam menetapkan kebijakan yang tepat.
PENDAHULUAN
I
3
KERAGAAN PASAR KOMODITAS
BERAS NASIONAL
II
2.1 Perkembangan Ketersediaan Komoditas Beras
Perkembangan ketersediaan beras bersumber dari produksi padi nasional yang ditanam oleh petani Indonesia, menurut data BPS memperlihatkan produksi padi mengalami kenaikan terus menerus, pada tahun 2005 produksi padi Indonesia masih berada pada angka 54.151.097 ton, angka tersebut meningkat menjadi 75.397.841 ton pada tahun 2015 atau semenjak tahun 2005 hingga 2015 mengalami peningkatan sebesar 39%, dengan tingkat kenaikan rata-rata 3,4% per tahun atau setara dengan 2.121.015,1 ton per tahun.
Sumber : BPS (diolah)
Gambar 1. Produksi Padi Indonesia Tahun 2005-2015
Peningkatan produksi padi terbesar terjadi pada tahun 2009 dengan peningkatan produksi hingga mencapai 6,8% atau setara dengan peningkatan 4.072.965 ton dari tahun sebelumnya tahun 2018 (Gambar 1). Namun Indonesia juga pernah mengalami penurunan tingkat produksi yaitu pada tahun 2011 dengan tingkat penurunan produksi sebesar 1,1% atau setara dengan 712.490 ton beras. Penurunan produksi terjadi karena adanya fenomena El Nino atau terjadinya musim kemarau yang berkepanjangan yang menyebabkan produktivitas hasil panen padi menurun sebesar 0,71 kuintal/ hektar (1,42%), selain itu BPS menyatakan bahwa pada tahun 2011 penurunan produksi diperkirakan terjadi karena penurunan luas panen seluas 29,07 ribu hektar (0,22%). Tidak hanya di tahun 2011, pada tahun 2014 produksi padi mengalami penurunan dengan tingkat penurunan produksi 0,6% atau setara dengan 433.244 ton, penurunan produksi padi tahun 2014 terjadi di Pulau Jawa sebesar 0,83 juta ton, sedangkan produksi padi di luar Pulau Jawa mengalami kenaikan sebanyak 0,39 juta ton. Penurunan produksi diperkirakan terjadi karena penurunan luas panen seluas 41,61 ribu hektar (0,30%) dan penurunan produktivitas sebesar 0,17 kuintal/hektar atau turun sebesar 0,33%. Produksi padi terbesar masih terpusat di Pulau Jawa dengan jumlah produksi pada tahun 2015 sebanyak 52% dimana sentra produksi beras terdapat di Provinsi Jawa Timur, Jawa Barat dan Jawa Tengah. Jumlah produksi padi kedua terbesar ada di Pulau Sumatera dengan tingkat kontibusi hasil produksi beras sebanyak 24% dimana sentra produksi terdapat di Provinsi Sumatera Utara, Lampung dan Sumatera Barat, dan jumlah produksi padi ke tiga terbesar berada di Pulau Sulawesi dengan tingkat kontribusi hasil produksi beras sebanyak 11% dimana sentra produksi terdapat di Provinsi Sulawesi Selatan.
80 Millions 75 70 65 60 55 50 45 40 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Indonesia 2011 2012 2013 2014 2015
7
Komoditas Beras
Secara keseluruhan dari tahun 2005 hinga 2015 perkembangan produksi padi Nasional mengalami peningkatan, peningkatan produksi tersebut ini tentunya tidak terlepas dari peningkatan luas panen dan produktivitas. Perkembangan luas panen padi di Indonesia setiap tahunnya menunjukkan peningkatan (Gambar 2). Luas panen padi Indonesia pada tahun 2005 adalah 11.839.060 Ha dan pada tahun 2015 menjadi 14.115.475 Ha, mengalami pertambahan dari tahun 2005 hingga tahun 2015 sebanyak 19,2% atau luasnya bertambah sebanyak 2.276.415 Ha, dengan rata-rata petambahan luas area panen 1,73% per tahun atau setara dengan pertamhan luas panen 227.642 Ha per tahun. Pertambahan luas area panen terbesar selama tahun 2005 hingga 2015 terjadi di Provinsi Yogyakarta dengan pertambahan luas area panen mencapai 458.419 Ha dengan rata-rata pertambahan luas areal panen 1.192 Ha per tahun. Pertambahan luas area panen terbesar ke dua terjadi di Provinsi Sulawesi Selatan dengan pertambahan luas area panen 313.419 Ha dengan rata-rata pertambahan luas area panen 4.880 Ha per tahun.
Penurunan luas panen terjadi di beberapa provinsi sentra produksi di Indonesia sepanjang tahun 2005 hingga 2015, hal itu terjadi di Provinsi Sumatera Utara dan Jawa Barat. Provinsi Sumatera utara mengalami penurunan luas area panen padi mencapai 40.304 Ha dan Provinsi Jawa Barat mengalami penurunan luas area panen 37.170 Ha
Sumber : BPS (diolah)
Gambar 2. Luas Panen Padi (Ha) Indonesia Tahun 2005 – 2015
Turunnya luas area panen ini diakibatkan dari adanya konversi lahan pertanian menjadi lahan perumahan dan perkotaan selain itu perubahan iklimpun ikut menjadi penyebab dari turunnya luas area panen padi di Jawa Barat, karena kondisi lahan di Jawa Barat lebih rentan terhadap risiko perubahan iklim dibandingkan Jawa Timur, sehingga tidak heran banyak daerah di Jawa Barat yang mengalami gagal panen akibat puso, kekeringan dan banjir. Namun meskipun begitu produktivitas padi di Provinsi Jawa Barat justru mengalami peningkatan 4,08% atau sebanyak 6,12 ton/Ha. Sedangakn yang terjadi di Provinsi Sumatera Utara kebanyakan luas area panen padi merupakan lahan tadah hujan yang ketika musim kemarau tidak bisa digunakan untuk lahan penanaman padi.
14500000 14000000 13500000 13000000 12500000 12000000 11500000 11000000 10500000 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Luas Panen (Ha)
2.2 Perkembangan dan Proyeksi Harga Komoditas Beras 2.2.1 Perkembangan Harga Beras
Harga komoditas beras merupakan harga yang pergerakannya terus dipantau dan diintervensi oleh pemerintah. Hal ini dilakukan karena harga beras memberi kontribusi pada ketahanan pangan, kemiskinan, stabilitas makro ekonomi dan pertumbuhan ekonomi Negara. Hingga saat ini pergerakan harga beras sangat dipengaruhi oleh 3 faktor, faktor pertama adalah faktor ketersediaan beras itu sendiri yang bersumber dari hasil produksi panen para petani padi di daerah sentra produksi. Ketersediaan beras ini juga sangat dipengaruhi oleh beberapa keadaan seperti luas lahan panen, perubahan iklim yang terjadi yang berdampak terhadap produksi, produktivitas, pergeseran musim tanam dan musim panen, serta adanya serangan hama penyakit terhadap proses budidaya padi yang berdampak terhadap produksi. Di samping itu ketersediaan stok beras di Bulog juga mampu mempengaruhi harga beras, mengingat Bulog bisa melakukan pembelian dan penjualan secara besar pada komoditas beras.
Faktor ke dua yaitu faktor permintaan dari konsumen, dimana adanya peningkatan dan penurunan permintaan konsumen bisa mempengaruhi harga beras terutama dalam menghadapi Hari Besar Keagamaan Nasional, adanya kepanikan atau kekhawatiran konsumen akan kelangkaan beras dipasar serta adanya perubahan pola konsumsi, preferensi dan diversifikasi pangan kebutuhan pokok konsumen. Faktor ke tiga yaitu faktor distribusi, faktor distribusi mampu menjadi pemicu kenaikan dan penurunan harga beras. Proses distribusi beras mengeluarkan beberapa biaya seperti besarnya biaya distribusi, jarak dari sentra produksi ke sentra konsumsi, dan adanya gangguan dalam proses distribusi. Di sisi lain faktor kebijakan pemerintah juga mempunyai andil dalam pergerakan harga beras ini, yaitu kebijakan impor ekspor beras, kebijakan pembelian dan penjualan beras dengan harga tertentu yang dilaksanakan oleh Bulog.
Perkembangan harga beras medium nasional dari tahun 2010 hingga tahun 2016 memperlihatkan kondisi yang cenderung naik setiap tahunnya (Gambar 3). Dari tahun 2010 hingga tahun 2016 tercatat harganya naik sebesar 64% atau setara dengan mengalami kenaikan sebesar Rp4.181/kg, dengan rata-rata kenaikan harga sebesar 8,7% atau setara dengan mengalami kenikan rata-rata sebesar Rp697/kg per tahun. Pada awal tahun 2010 harga beras medium masih berkisar pada harga Rp6.266/kg dan pada tahun 2016 harga beras medium menjadi Rp10.679/kg.
12,000 11,000 10,000 9,000 8,000 7,000 6,684 7,448 8,150 8,436 8,934 10,373 10,866 6,000 5,000
Perkembangan Harga Beras
Oct-16 Oct-14 Oct-13 Oct-12 Oct-11 Oct-10
Jul-10 Jul-11 Jul-12 Jul-13 Jul-14
Apr-10 Apr-11 Apr-12 Apr-13 Apr-14
Jan-10 Jan-11 Jan-12 Jan-13 Jan-14 Jan-15 Apr-15 Jul-15 Oct-15 Jan-16 Apr-16 Jul-16
Sumber : SP2KP Kemendag (diolah)
9
Komoditas Beras
Kenaikan harga beras yang cukup signifikan terjadi pada bulan Maret tahun 2015 hal ini terjadi karena adanya keterlambatan panen dan hasil produksi di akhir tahun 2014 menurun, sehingga pasokan mengalami kekurangan. Tidak hanya itu, pada saat akhir tahun 2014 menjelang awal tahun 2015 merupakan pergantian masa pemerintahan, masa pergantian pemerintahan menyebabkan keterlambatan dalam pengambilan keputusan pada bidang stabilisasi harga beras, sehingga terjadi kurangnya pasokan dan terbatasnya beras yang dialirkan lewat operasi pasar.
Sedangkan jika melihat pola pergerakan harga beras (Gambar 4), setiap tahunnya mempunyai pola yang sama dimana harga beras naik pesat pada bulan Desember menuju Januari, kemudian turun kembali pada saat bulan Maret hingga Juni, mulai Bulan Juli harga beras naik perlahan kembali hingga akhir tahun. Pola pergerakan ini terjadi karena pola tanam dan pola panen padi itu sendiri.
Sumber : SP2KP Kemendag (diolah)
Gambar 4. Perkembangan Pola Harga Beras di Indonesia Tahun 2010-2016
Pola tanam padi sendiri pada musim tanam I biasanya terjadi pada Bulan November dan panen pada saat bulan Februari, sehingga pada saat mulai Bulan Februari harga beras mulai turun dan stabil. Musim tanam ke II biasanya terjadi di Bulan Maret dan panen pada Bulan Juli, harga beras pada bulan-bulan ini masih stabil hingga bulan Oktober. Musim tanam ke III mayoritas petani padi di sejumlah sentra produksi tidak menanam padi karena kurangnya pasokan air. Musim tanam ke III ini merupakan musim kemarau, sehingga petani jarang menanam padi, ini lah yang menyebabkan naiknya harga beras, karena musim ke III ini petani tidak menghasilkan beras, sehingga pasokan atau ketersediaan beras hasil panen musim ke II mulai menipis namun tidak diikuti penambahan hasil panen lagi di musim ke III sehingga pada bulan November dan Desember hingga Januari harga beras setiap tahunnya mengalami trend kenaikan yang cukup tajam.
2.2.2 Proyeksi Harga Beras Medium Tahun 2017
Proyeksi adalah istilah lain dari peramalan (forecasting). Istilah proyeksi lebih sering digunakan dalam kegiatan perencanaan. Dalam hal ini harga beras diproyeksikan untuk menjadi bahan pertimbangan dan perencanaan para stakeholder dan konsumen untuk memberikan gambaran dalam mengambil keputusan setelah harga diproyeksikan. Dari hasil analisis proyeksi yang
11,500 10,500 9,500 8,500 7,500 6,500 5,500 2010 Januari Februari Ma
ret April Mei Juni Juli Agustus SeptemberOktoberNove mbe r Desember 2011 2012 2013 2014 2015 2016
dilakukan, harga beras medium akan mengalami kenaikan sepanjang tahun 2017. Kenaikan harga beras selama tahun 2017 ini diproyeksikan akan mencapai 6% atau setara dengan kenaikan Rp 678/kg dibanding harga tahun sebelumnya. Proyeksi perkembangan harga tahun 2017 ini berbeda dari perkembangan harga yang terjadi di tahun sebelumnya, dimana sepanjang 2016 harga beras mengalami penurunan sebanyak Rp 98/kg (0,9%).
Selama tahun 2017 diproyeksikan rata-rata harga beras medium akan mengalami kenaikan sebesar 0,5% per bulan atau setara dengan rata-rata kenaikan Rp56/kg per bulan. Angka rata-rata kenaikan harga tahun 2017 ini jauh lebih tinggi dari angka rata-rata kenaikan harga per bulan selama tahun 2016, yang hanya mencapai Rp 2/kg (0,02%).
Sumber : SP2KP Kemendag (diolah)
Gambar 5. Proyeksi Harga bulanan Beras Medium Tahun 2017
Proyeksi perkembangan harga beras pada tahun 2017 memperlihatkan pola perkembangan yang cukup fluktuatif. Dimana awal tahun yaitu pada bulan Januari harga beras akan berada pada tingkat harga Rp 10.914/kg, harga ini mengalami kenaikan yang cukup tinggi yaitu Rp 222/kg (2,1%) dari pada bulan sebelumnya. Kenaikan harga ini merupakan kenaikan paling tinggi yang akan terjadi selama tahun 2017 dan angka kenaikan harga pada Bulan Januari ini lebih tinggi dibandingkan kenaikan harga pada Bulan Januari tahun 2016 yang hanya sebesar Rp 116/kg (1,1%). Kemudian kenaikan ini akan berlangsung pada bulan Februari sebanyak Rp 137/kg (1,3%) sehingga harga beras menjadi Rp 11.051/kg. Penyebab akan naiknya harga pada bulan Januari dan Februari ini faktornya sama dengan pola hargapada tahun 2016 lalu, yaitu pasokan beras berkurang karena belum tibanya masa panen pada musim tanam I.
11-2014 9.0 -10% -5% 0% 5% Perbedaan (%) 10% 15% Aktual Jenis Data: 9.5 10.0 10.5 11.0 Har ga (Ribu Rp.)
Pergerakan Harga Beras Dengan Perbedaan Antar Bulan
11.5 12.0 02-2015 05-2015 08-2015 11-2015 02-2016 05-2016 08-2016 11-2016 Bulan-Tahun 02-2017 05-2017 08-2017 11-2017 02-2018 12-2016
Lower Peramalan Upper
11,876 11,756 11,666 11,370 11,222 11,132 11,075 11,047 10,967 10,856 10,833 10,684 10,489 10,392 10,374 10,44610,489 10,484 10,569 10,509 10,687 10,722 10,631 10,974 10,833 11,604 11,489 11,339 11,274 11,026 11,278 11,367 11,329 9,341 9,340 9,143 9,946 11,111 11,025 11,828 11,739 11,051 12,052
11
Komoditas Beras
Beranjak ke Bulan Maret, harga beras diproyeksikan akan turun perlahan sebanyak Rp 25/kg (0,2%) sehingga harganya menjadi Rp 11.0261/kg. Penururnan ini akan terjadi juga pada Bulan April yaitu menurun sebesar Rp 142/kg (1,3%) sehingga harganya menjadi Rp 10.883,43/kg, tingkat penurunan harga beras ini akan menjadi penrunan harga terendah selama tahun 2017. Kemudian pada Bulan Mei harganya akan menurun kembali sebanyak Rp 43/kg (0,5%) sehingga harganya menjadi Rp 10.833/kg. Penyebab akan menurunnya harga beras ini diperkirakan karena sudah datangnya musim panen padi, yang berakibat menambah pasokan beras ke pasaran.
Setelah itu pada Bulan Juni harga akan naik perlahan yaitu naik sebesar Rp 23/kg (0,2) sehingga harga beras menjadi Rp 10.856/kg. Kenaikan harga ini akan terus terjadi pada Bulan Juli dengan kenaikan lebih besar yaitu Rp 111/kg (1,0%) harganya berkisar Rp 10.967/kg. Kenaikan harga yang cukup tinggi pada pertengahan tahun ini, diperkirakan karena akan terjadinya Hari Besar Keagamaan Nasional yang jatuh di Bulan Juli, sehingga permintaan beras akan meningkat dan mendorong terhadap kenaikan harganya. Proyeksi harga pada pertengahan tahun 2017 ini berbeda dengan keadaan tahun 2016 yang lalu dimana pada Bulan Juli terjadi penurunan harga beras sebanyak Rp 17/kg (0,2%). Artinya diperkirakan permintaan pertengahan tahun 2017 akan lebih tinggi dibandingkan pertengahan tahun lalu.
Pada Bulan Agustus hingga Bulan Desember tahun 2017 ini diproyeksikan harga beras akan naik terus menerus. Pada Bulan Agustus harga beras akan naik sebanyak Rp80/kg (0,7%) sehingga harganya menjadi Rp 11.047/kg. Pada Bulan September harga beras akan naik kembali sebanyak Rp 28/kg (0,3%) sehingga harganya menjadi Rp11.047/kg. Kemudian pada bulan Oktober akan naik kembali sebanyak Rp 58/kg (0,5%) dan pada bulan November naik sebanyak Rp 90/kg (0,8%), terakhir pada Bulan Desember harga beras medium ini naik cukup tinggi sebanyak Rp 147/kg (1,3%) sehingga pada Bulan Desember harganya akan menjadi Rp 11.370/kg. Angka kenaikan harga perbulan pada tahun 2017 jauh lebih tinggi dibanding angka kenaikan per bulan tahun 2016.
2.3 Kondisi Disparitas Harga Beras
Kondisi disparitas terbagi menjadi dua, yaitu kondisi disparitas antar waktu dan kondisi disparitas antar provinsi yang ada di Indonesia. Kondisi disparitas ini menggambarkan perbedaan harga setiap bulan dalam satu tahun dan perbedaan harga di beberapa provinsi yang ada di Indonesia. Banyak hal yang bisa mempengaruhi kondisi disparitas ini, kondisi disparitas harga antar waktu sangat tergantung dari perkembangan ketersediaan dan permintaan dari komoditas beras itu sendiri, sedangkan kondisi disparitas harga antar provinsi sangat dipengaruhi oleh biaya logistik dan jarak provinsi tersebut dengan sentra produksi komoditas beras nasional.
2.3.1 Kondisi Disparitas Harga Antar Waktu Beras
Disparitas harga antar waktu merupakan perbedaan harga beras yang terjadi setiap bulan dalam satu tahun. Disparitas harga beras bulanan antar waktu selama triwulan pertama (Januari-Maret) tahun 2016 tergolong kecil dengan nilai koefisien keragaman sebesar 0,45. Nilai tersebut sangat berbeda jauh dengan tahun 2015 pada periode waktu yang sama yang sebesar 3,66 yang merupakan disparitas harga beras antar waktu yang terbesar sepanjang 4 kuartal dalam 2 tahun terakhir. Kondisi ini disebabkan panen bulan Januari-Februari masih sporadis dengan produktivitas rendah akibat musim hujan. Terlambatnya tanam juga menyebabkan mundurnya panen raya, yang umumnya panen raya dilakukan di bulan Februari-Maret menjadi Maret-April 2015. Kemudian, pada triwulan
kedua (April-Juni) disparitas harga tahun 2015 menurun drastis dari kuartal sebelumnya di tahun yang sama menjadi hanya 0,21, sedangkan pada triwulan kedua tahun 2016 mengalami sedikit kenaikan menjadi 0,53.
Disparitas harga beras antar waktu pada triwulan ketiga di tahun 2015 mengalami peningkatan menjadi 1,35 dari kuartal sebelumnya di tahun yang sama, sedangkan tahun 2016 cenderung stabil di angka 0,52. Kemudian pada triwulan keempat, disparitas harga beras antar waktu tahun 2015 dan 2016 sama-sama mengalami penurunan. disparitas harga beras antar waktu pada 2015 sebesar 1,23, sedangkan tahun 2016 semakin menurun dan semakin kecil yaitu hanya sebesar 0,002. Kecilnya disparitas harga beras pada triwulan keempat tahun 2016 disumbang oleh harga rata-rata beras nasional pada bulan Oktober, November dan Desember 2016 yang harga rata-ratanya dibawah berada di kisaran Rp 10.600/kg hingga Rp 10.700/kg pada tiap bulannya. Sedangkan pada kuartal yang sama di tahun 2015, harga rata-rata beras mengalami kenaikan dari bulan Oktober sebesar 10.413 menjadi 10.673 per kg pada bulan Desember sehingga walaupun harganya relatif dibawah tahun 2016 tapi keragamannya lebih tinggi.
Sumber : SP2KP Kemendag (diolah)
Gambar 6. Disparitas Harga Antar Waktu Beras Nasional Per Tiga Bulan Tahun 2015 dan 2016
2.3.2 Kondisi Disparitas Harga Beras Antar Provinsi
Kondisi disparitas harga beras antar provinsi di Indonesia ini bisa dijelaskan denga adanya nilai koefisein variasi dari harga beras yang terjadi pada bulan Januari hingga September 2016 di setiap provinsi. Harga beras yang terjadi di beberapa provinsi, jika homogen atau tidak berbeda jauh antar harga satu provinsi dengan provinsi lainnya maka akan menghasilkan nilai koefisien variasi yang kecil. Sebaliknya jika perbedaan harga beras di suatu provinsi dengan provinsi lainnya lebih banyak berbeda atau lebih heterogen maka nilai koefisien variasinya akan lebih besar.
Data harga beras per bulan dari 34 provinsi yang ada di Indonesia, setelah diolah memperlihatkan adanya koefisien variasi yang berbeda tiap bulannya. Koefisien variasi tertinggi terjadi pada Bulan September yang menandakan adanya perbedaan yang cukup tinggi antara satu provinsi dengan provinsi lainnya. Dimana pada Bulan September harga tertinggi terjadi di Provinsi Papua tepatnya
4.00 3.50 2.50 1.50 0.50 -1.00 2.00 3.00
Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV 2015 2016
13
Komoditas Beras
di Kota Jayapura dengan harga beras rata-rata Rp 14.000/kg, sedangkan harga beras terendah terdapat di kota Lampung dengan harga Rp 8.500/kg, perbedaan harga antar ke dua kota tersebut sangatlah besar mencapai Rp 5.500/kg.
Harga beras menjadi tinggi sekali di Kota Jayapura Pronvisi Papua tersebut dikarenakan produksi beras di Kota Jayapura sendiri relatif sedikit sehingga membutuhkan pasokan beras dari sentra produksi lainnya yang ada di Indonesia jauhnya jarak antara sentra produksi dengan Kota Jayapura dan kondisi infrastruktur yang belum baik untuk mendistribusikan beras ke Kota Jayapura menjadi pemicu tingginya biaya distribusi yang berefek terhadap tingginya harga beras di Kota Jayapura. Sedangkan di Kota Lampung sendiri, beras menjadi murah karena Kota Lampung merupakan provinsi yang didukung dengan produksi beras yg relative besar sehingga harga beras di Lampung termasuk terendah di Indonesia.
Sumber : SP2KP Kemendag (diolah)
Gambar 7. Disparitas Harga Rata-rata Beras Antar Provinsi Tahun 2016 Kota Jayapura Manokwari Kota Ternate Kota Ambon Mamuju Kota Gorontalo Kota Kendari Kota Makassar Kota Palu Kota Manado Bulungan Kota Samarinda Kota Banjarmasin Kota Palangka Raya Kota Pontianak Kota Kupang Kota Mataram Kota Denpasar Kota Serang Kota Surabaya Kota Yogyakarta Kota Semarang Kota Bandung DKI Jakarta Kota Tanjung Pinang Kota Pangkal Pinang Kota Bandar Lampung Kota Bengkulu Kota Palembang Kota Jambi Kota Pekan Baru Kota Padang Kota Medan Kota Banda Aceh
14,028 12,000 10,000 12,002 11,416 8,979 9,518 8,909 10,174 10,462 14,000 11,212 11,089 10,559 11,492 11,218 9,146 10,163 10,131 9,417 9,425 9,579 10,081 10,704 10,951 11,419 9,063 10,478 9,833 10,505 13,023 12,222 10,527 9,367 0 2,000 4,000 6,000 8,000 10,000 12,000 14,000 16,000
Koefisien variasi atau disparitas harga antar wilayah terendah terjadi pada Bulan Maret 2016 yaitu sebesar 11,35. Kondisi ini bertepatan dengan akan masuknya musim panen raya bulan Maret 2016, namun angka tersebut masih tergolong tinggi jika dibandingkan disparitas harga antar wilayah pada tahun 2015 yaitu sebesar 10,75 (Gambar 8). Rendahnya kofisien variasi pada bulan Maret 2015 disebabkan rendahnya pasokan beras yang berasal dari sentra utama di Pulau Jawa, sehingga kota provinsi yang harga rata-rata beras relatif rendah juga mengalami kenaikan signifikan, dampaknya perbedaan harga antar provinsi relatif rendah. Harga beras yang terbilang cukup rendah mengalami kenaikan, seperti Kota Gorontalo naik dari rata-rata Rp 8.263/kg Bulan Februari menjadi rata-rata Rp 9.614/kg atau naik 16% Bulan Maret 2015, kota Ambon naik 44%, Kota Kendari naik 12%, Kota Manado naik 16%, Mamuju naik 13%, DKI Jakarta naik 10%, Bandung naik 11% dan Kota Serang naik 12%. Adanya kenaikan harga beras di beberapa kota ini mengurangi kesenjangan perbedaan harga dengan provinsi Papua atau provinisi dengan harga beras tertinggi. Sehingga heterogenitas harga beras per provinsi berkurang.
Sumber : SP2KP Kemendag (diolah)
Gambar 8. Disparitas Harga Antar Provinsi Beras Nasional Tahun 2016
2.4 Perkembangan Distribusi Komoditas Beras
Distribusi merupakan kegiatan pemasaran untuk memperlancar atau mempermudah penyampaian barang dari produsen ke konsumen sehingga penggunaannya sesuai yang diperlukan baik dari jenis, jumlah, harga, tempat dan saat yang dibutuhkan. Beras mempunyai pola distribusinya tersendiri yang memberikan nilai tambah bagi pelaku usahanya. Saat ini pola distribusi beras dinilai masih bermasalah, hal ini jelas terlihat dari adanya disparitas harga yang tinggi antara harga di tingkat produsen dan harga di tingkat konsumen terutama wilayah konsumen yang jaraknya lebih jauh dengan sentra produksi.
Pola distribusi beras di Pulau Sumatera, hampir sebagian besar beras yang dijual merupakan hasil dari produksi beras Pulau Sumatera sendiri, proses jual-belinya bisa antar provinsi di dalam wilayah dalam Pulau Sumatera. Pasokan yang yang berasal dari Pulau Jawa sebagia besar berasal dari Pasar Induk Beras Cipinang DKI Jakarta.
17.000 16.000 15.00 14.00 13.00 12.00 11.00 10.00 9.00 10.73 15.87 13.70
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec 2015 2016
15
Komoditas Beras
Pulau Jawa merupakan sentra produksi yang berperan sebagai sentra perdagangan beras, di Provinisi Banten beras banyak dipasok dari Lampung dan daerah sekitar Pulau Jawa, kemudian diperdagangkan untuk wilayah Banten sendiri, di DKI Jakarta beras di pasok dari Pronvinsi Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur bahkan pasokan datang dari impor yang berasal dari Vietnam serta beras premium dari Amerika Serikat. Untuk provinsi Jawa Barat pasokan beras dari hasil produksi di dalam wilayah Provinisi Jawa Barat sendiri dan dari provinsi sekitar yang berada di Pulau Jawa. Pola distribusi perdagangan beras di Provinsi Jawa Tengah banyak menerima pasokan dari provinsi sekitar Pulau Jawa dan pasokan beras impor dari India, kemudian beras diperdagangkan dengan jalur distribusi di sekitar Pulau Jawa, Maluku dan Kalimantan Selatan. Untuk Yogyakarta dan Jawa Timur kebanyakan beras dipasok dari daerah Provinsi Jawa Timur sendiri dan dari Jawa Tengah.
Provinisi Bali mendapatkan pasokan beras dari jalur distribusi beras Jawa Tengah, Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat yang diperdagangkan untuk konsumsi di kawasan Provinsi Bali sendiri. Sedangkan di Nusa Tenggara Barat pasokan beras banyak didapatkan dari hasil produksi di NTB sendiri dan diperadagangkan di wilayah NTB kembali. Untuk Provinsi Nusa Tenggara Timur beras dipasok dari wilayah Pronvinsi Jawa Timur dan Sulawesi Tenggara kemudian didistribusikan dan diperdagangkan di Provinisi NTT sendiri.
Di Pulau Kalimantan pasokan beras selain bersumber dari wilayah Kalimantan sendiri yang relatif sedikit, sebagian besar bersumber dari Jawa Tengah, DKI Jakarta, Jawa Timur, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan yang kemudian diperjualbelikan di dalam provinisi atau antar provinsi yang berada di Pulau Kalimantan sendiri.
Di Pulau Sulawesi pasokan beras sebagian besar berasal dari Sulawesi sendiri dan relatif sedikit membeli dari Jawa Barat, Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat, kemudian di distribusikan sebagian besar untuk wilayah Pulau Sulawesi sendiri baik itu di dalam provinisi atau antar provinisi di Pulau Sulawesi, kemudian di distribusikan juga ke Maluku Utara dan Sumatera Selatan. Sedangkan untuk kawasan Kepulauan Maluku pasokan beras didapatkan dari Provinsi Jawa Timur dan Sulawesi Selatan untuk kebutuhan konsumsi di dalam wilayah Kepulauan Maluku sendiri. Sedangkan di Pulau Papua untuk Provinisi Papua Barat dan Provinisi Papua pasokan beras ada karena distribusi perdagangan dari DKI Jakarta, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan yang di perdagangkan di wilayah Papua Barat sendiri.
Hasil survey distribusi beras nasional oleh BPS memperlihatkan bahwa setiap provinsi yang berada di Indonesia mempunyai pola distribusi yang berbeda-beda, namun secara umum pola distribusi beras di Indoensia sendiri setelah dari industri penggilingan padi distribusinya lebih banyak melalui pedagang grosir dan eceran dengan proporsi 23,05%, kemudian sebanyak 69,95% disitribusikan kepada pedagang pengecer langsung, yang akhirnya di distribusikan kembali kepada berbagai konsumen. Sementara sisanya beras yang berasal dari industri penggilingan dijual ke berbagai lembaga pemasaran lainnya seperti pedagang pengumpul, distributor, agen, dan supermarket. Terdapat tujuh provinsi yang mempunyai pola distribusi perdagangan yang cukup sederhana. Rantai distribusi perdagangan beras dari produsen ke konsumen di tujuh provinsi tersebut hanya melewati tiga fungsi usaha perdagangan saja. Namun demikian, terdapat pula provinsi yang memiliki
tingkat kompleksitas yang tinggi, seperti yang terjadi di Provinsi Jawa Tengah. Rantai distribusi perdagangan beras dari produsen ke konsumen di Provinsi Jawa Tengah melewati delapan fungsi usaha perdagangan sebagai intermedier. Selain itu, berperannya importir dalam pendistribusian beras di Indonesia menunjukkan bahwa kebutuhan beras di Indonesia belum tercukupi hanya dengan pasokan dari dalam negeri saja. Akibatnya, pedagang perlu mengimpor langsung pasokan beras dari pasar internasional, seperti dari Negara Vietnam, Thailand, India, maupun dari Amerika Serikat untuk jenis beras premium.
Sumber : BPS (diolah)
Gambar 9. Pola Distribusi Produksi Beras di Indonesia
2.5 Perkembangan Konsumsi Komoditas Beras
Perkembangan konsumsi beras nasional per kapita dari tahun 2006 hingga tahun 2014 mengalami
trend penurunan yang cukup signifikan dengan angka penurunan 11,26%. Pada tahun 2006
konsumsi beras per kapita berada pada angka 95,89 Kg/kapita/tahun menurun setiap tahunnya dengan penurunan rata-rata 1,5%per tahun sehingga pada tahun 2014 menjadi 84.63 Kg/kapita/ tahun. Penurunan paling tajam terjadi pada tahun 2007 dengan penurunan konsumsi mencapai 6% atau sebanyak 5,42 kg/kapita/tahun (Gambar 10).
Perkembangan konsumsi beras nasional mengalami fluktuatif dan diakhiri dengan trend penurunan, pada tahun 2006 konsumsi beras nasional berada pada angka 21,5 juta ton/tahun, mengalami penurunan dengan angka rata-rata penurunan setiap tahunnya 0,06% atau rata-rata 19.591 ton/ tahun. Sehingga pada tahun 2014 konsumsi beras nasional berada pada angka 21.340.032 ton/ tahun. Penurunan konsumsi beras nasional paling drastis terjadi pada tahun 2007 penurunannya
INDUSTRI
PENGOLAHAN USAHA LAINNYAKEGIATAN PEMERINTAH RUMAH TANGGA PEDAGANG PENGUMPUL DISTRIBUTOR AGEN PEDAGANG GROSIR PEDAGANG PENGECER SUPERMARKET/ SWALAYAN 0,06% 0,01% 0,7% 1,1% 2,6% 0,6% 23,1% 0,02% 70% 1,9% PENGGILINGAN
17
Komoditas Beras
mencapai 4,2%, tetapi setelah itu pada tahun 2008 konsumsi beras nasional naik kembali sebanyak 4,8% dan kenaikan angka konsumsi ini merupakan yang terbesar sepanjang tahun 2006 hingga 2014. Setelah itu angka konsumsi beras nasional turun kembali pada tahun 2009 sebanyak 0,8%, kemudian tahun 2010 naik 0,1%, tahun 2011 mengalami kenaikan juga 1,1%, tahun 2012 mengalami penurunan sebesr 1,1% diikuti penurunan kembali sebesar 0,3% pada tahun 2013, pada tahun 2014 mengalami kenaikan 0,3%.
Sumber : BPS (diolah)
Gambar 11. Perkembangan Konsumsi Beras Nasional (ribu ton/Tahun)
Trend penurunan konsumsi beras per kapita ini diduga dipengaruhi dengan adanya peningkatan
kesejahteraan masyarakat dan kesadaran tentang kesehatan sehingga mengalihkan konsumsi karbohidrat yang berasal dari beras dengan makanan pengganti beras yang lebih sehat. Hal ini disebabkan karena adanya perubahan pola konsumsi, perubahan preferensi konsumsi beras ini bisa terjadi karena ada diversifikasi konsumsi pangan lainnya yang bukan bersumber dari beras. Di sisi lain pemerintah menggunakan dua cara untuk mencapai swasembada beras. Pada satu sisi, pemerintah mendorong para petani untuk meningkatkan produksi mereka dengan mendorong
98 96 94 92 90 88 86 84 82 80 78 2006 2007 2008 2009 2010
Konsumsi Beras Per Kapita (Kg)
2011 2012 2013 2014 21,800 21,600 21,400 21,200 21,000 20,800 20,600 20,400 20,200 20,000 2006 2007 2008 2009 2010
Konsumsi Beras Nasional (Kg/Tahun)
2011 2012 2013 2014
Sumber : BPS (diolah)
inovasi teknologi dan menyediakan pupuk bersubsidi (meskipun subsidi-subsidi ini mungkin dikurangi karena keterbatasan anggaran), dan di sisi lain, berusaha mengurangi konsumsi beras masyarakat melalui kampanye seperti “satu hari tanpa beras” (setiap minggunya) dan mempromosikan konsumsi makanan-makanan pokok lainnya. Strategi ini belum bisa dikatakan berhasil karena jumlah produksi beras hanya sedikit meningkat sebagian besar masyarakat Indonesia masih bergantung kepada beras sebagai sumber karbohidrat.
2.6 Perkembangan Ekspor-Impor Beras
Di sisi ekspor beras, Indonesia mengalami peningkatan volume ekspor dari tahun 2012 hingga 2014. Pada tahun 2012 volume ekspor Indonesia hanya 1.091 ton, naik menjadi 2.937 ton pada tahun 2013. Pada tahun 2014 Indonesia melakukan ekpor dengan volume ekspor tertinggi ke Negara Malaysia sebesar 1,23 ribu ton atau mencapai nilai perdagangan 36,18 ribu US$, ke dua ke Negara India dengan volume ekspor beras sebesar 1,19 ribu ton atau mencapai nilai 405,87 ribu US$. Beras Indonesia juga di ekspor ke beberapa Negara lainnya seperti Singapura, Timor Leste, Amerika Serikat, Jerman, Italia, dan Papua New Gini dengan masing-masing volume ekspor sebesar 317 ton, 159 ton, 60 ton, 19 dan 18 ton.
Sedangkan di sisi impor, pergerakan angka impor beras dari tahun 2005 hingga tahun 2014 memperlihatkan pergerakan fluktuatif dengan kenaikan 320% atau setara dengan peningkatan volume hingga 607.297 ton. Pada tahun 2005 kuantitas impor berada pada angka 236.866,7 ton atau setara dengan nilai 61.752,8 ribu US Dollar. Angka impor ini mengalami penurunan dan kenaikan selama kurun waktu 9 tahun terakhir, dengan angka impor terbesar terjadi ketika tahun 2011 yang naik hingga mencapai 300% dari tahun sebelumnya, impor ini terjadi karena pada saat tahun 2011 tersebut produksi dalam negeri mengalami penurunan, maka pemerintah melakukan impor beras yang jumlahnya 2.750.476 ton, setelah itu volume impor beras Indonesia menurun perlahan hingga tahun 2014 hingga mencapai 844.164 ton.
Volume impor beras terbesar didatangkan Indonesia dari 2 Negara tetangga, yaitu Vietnam dan Thailand. Kedua Negara ini memiliki kontribusi impor terbesar selama kurun waktu 9 tahun terakhir. Volume beras impor Vietnam mempunyai kontribusi rata-rata sebesar 59% atau 530.486 ton dari total keseluruhan beras impor yang didatangkan ke Indonesia. Beras impor Thailand memiliki kontribusi terbesar ke dua dari total beras impor Indonesia dengan rata-rata volume impor mencapai 32% atau setara dengan 283.962 ton. Sisanya Indonesia mengimpor beras dari Negara Cina, India, Pakistan, Amerika dan Taiwan. Pihak pemerintah melakukan impor beras adalah demi mengantisipasi jika adanya dampak perubahan iklim seperti El Nino dan La Nina di dalam negri, beras impor tersebut hanya digunakan untuk menambah cadangan beras pemerintah dan tidak diedarkan ke pasar tradisional (Gambar 12).
2.7 Analisa Kebijakan dan Regulasi Beras Nasional 2.7.1 Operasi Pasar Komoditas Beras
Salah satu kebijakan untuk dapat menyeimbangkan kegiatan ekonomi guna menstabilkan harga komoditas pokok dan penting tersebut pemerintah mengadakan operasi pasar. Dalam hukum ekonomi seperti yang kita ketahui, kenaikan harga sangat dipengaruhi oleh pasokan dan permintaan, dimana permintaan semakin meningkat namun jika tidak diikuti dengan pasokan yang meningkat
19
Komoditas Beras
pula, maka berdampak pada kelangkaan komoditas tersebut di pasar, hal ini yang menyebabkan harga menjadi naik, untuk menurunkan harga barang tersebut tentunya diperlukan cara dengan menambah pasokan. Salah satu intervensi pemerintah dalam menambah pasokan adalah melalui operasi pasar dibeberapa titik pasar, yang pada saat itu harga komoditas pokok tersebut mengalami kenaikan. Dalam operasi pasar pemerintah menjual komoditas pokok tersebut dengan harga yang murah di bawah harga pasar yang berlaku, bahkan bisa sangat lebih murah karena dibantu dengan subsidi yang ditambahkan pemerintah. Hal-hal tersebut tentunya ditempuh guna mengefektikan kegiatan operasi pasar dalam menurunkan harga komoditas pokok ini. Tentunya operasi pasar akan efektif ketika harga bergerak turun.
Beras merupakan salah satu komoditas yang saat ini banyak dijual dalam operasi pasar. Pada pertengahan tahun 2016 pemerintah telah menggelar operasi pasar sebanyak 4.000 titik di seluruh Indonesia, sejauh ini bulan Juni hingga Juli 2016 tercatat pemerintah sudah mengeluarkan pasokan beras sebanyak 229.933 ton beras dengan disubsidi sebesar Rp 5.000,- per kilogram atau banyak juga yang menjualnya dengan harga hanya Rp 7.900,- per kilogram. Selain itu terkait operasi beras ini Kementerian Perdagangan mengintruksikan agar Perum Bulog secara langsung menjual stock berasnya yang berada di gudang Bulog seharga Rp 7.500,- sampai Rp 7.600,-/kg kepada konsumen, hal tersebut terdapat dalam Keputusan No. 944/M-DAG/SD/11/2015, guna mengantisipasi peningkatan harga secara cepat.
Operasi pasar beras digelar hampir diseluruh provinsi di Indonesia dan 5 provinsi dengan tingkat kuantitas tertinggi penggunaan beras sebagai komoditas utama operasi pasar adalah di DKI Jakarta, Lampung, Aceh, Riau dan NTT. Tentunya dalam operasi pasar beras tersebut, banyaknya volume dan pemilihan lokasi provinsi sangat mempertimbangkan tingginya tingkat penyerapan konsumsi beras di provinsi tersebut, serta tingginya disparitas harga beras di provinsi tersebut dibanding dengan harga beras standar rata-rata eceran tertinggi nasional (Gambar 13).
Ketika operasi pasar digelar dan setelahnya dalam kurun waktu bulan Juni dan Juli tersebut harga beras berhasil stabil dan tidak mengalami lonjakan yang signifikan, terlihat dari pantauan harga
3,000,000 2,500,000 2,000,000 1,500,000 1,000,000 500,000 -1,406,848 2,750,476 2005 2007 2008 2009 2010 Jumlah Impor Beras (Ton)
2011 2012 2013 2014 2006
Sumber : BPS (diolah)
beras nasional dari Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok operasi pasar untuk beras ini mampu meredam akan kenaikan harga dengan tingkat stabilitas pergerakan harga setiap harinya terus ada pada kisaran di atas Rp 10.200,- hingga Rp 10.800,-/kg.
Sumber: SP2KP Kemendag (diolah)
Gambar 14. Perkembangan Harga Beras Medium Bulan Juli 2016
Operasi pasar beras juga memiliki peran dalam penyediaan beras dengan kuantitas yang memadai bagi kebutuhan rumah tangga masyarakat. Di saat pasar mulai semakin berspekulasi mengenai harga dan pasokan, operasi beras menjadi solusi bagi kemudahan pemenuhan kebutuhan dengan tingkat harga yang jauh lebih terjangkau dan tingkat pemenuhan yang lebih terjamin.
Secara peraturan resmi tertulis, sudah menjadi kewenangan pemerintah untuk bisa menjamin kestabilan harga bahan pokok dan penting, hal itu di atur dalam Permendag No 71 Tahun 2015, pemerintah dalam melaksanakan kewajibannya mengenai stabilisasi harga dan pasokan, dengan upaya melalui penetapan harga khusus menjelang dan setelah Hari Besar Keagamaan Nasional dan/
12000
Senin
23/06/201624/06/201625/06/201626/06/201627/06/201628/06/201629/06/201630/06/201601/07/201602/07/201603/07/201604/07/201605/07/201606/07/201607/07/201608/07/201609/07/201610/07/201611/07/201612/07/201613/07/201614/07/201615/07/201616/07/201617/07/201618/07/201619/07/201620/07/201621/07/201622/07/201623/07/2016
Senin Senin Senin
11400 10800 10200 9600 9000 200 180 160 140 120 100 80 60 40 20 0 6.98 6.86 8.88 5.24 171.58
Aceh Riau Lampung DK Jakarta NTT
Sumber : BPS (diolah)
MEKANISME PELAKSANAAN OPERASI PASAR
CADANGAN BERAS PEMERINTAH (CBP)
Permendag No. 04/M-DAG/PER/1/2012 Tentang Penggunaan
Cadangan Beras Pemerintah Untuk Stabilisasi Harga
- Pemda wajib melakukan pemantauan dan evaluasi pelaksanaan OP Beras - Pemda memantau & evaluasi
perkembangan harga beras
- Pantauan Harga Beras oleh Kemendag di seluruh Indonesia - Putusan Rakortas Menko Ekon
untuk OP
- Arahan Presiden pada Rapat Kabinet Terbatas
- Mendag dapat langsung intruksikan Perum Bulog untuk laksanakan/hentikan OP
- Penghentian sementara OP pada saat panen raya, Bulog fokus untuk penyerapan beras dalam negeri
- Mempertimbangkan kondisi stok beras Bulog
- Mendag koordinasi dengan Perum Bulog dan instruksikan Bulog untuk OP
- Penjualan beras af gudang Bulog Rp 7.300/kg dan di tingkat eceran max Rp 7.900/kg
- Surat Mendag kepada Dirut Perum Bulog No. 667/M-DAG/ SD/05/2016 tentang Pelaksanaan Operasi Pasar (OP) Beras
- Perum Bulog melaporkan secara berkala penggunaan CBP untuk OP
TRIGGER
PELAKSANAAN
OP
PELAKSANAAN
ATAU
PENG-HENTIAN
SEMENTARA
OP
PENJUALAN
OP
MONITORING
DAN
EVALUASI
- Usulan dari Pemda kepada Kemendag karena kenaikan harga (trigger>10%) atau kondisi yang sudah dianggap meresahkan masyarakat
- Dilaksanakan pada saat memasuki musim paceklik, menjelang HBKN dan kondisi tertentu lainnya
- Penjualan dilakukan di lokasi tingkat konsumen di pasar rakyat, pasar induk, dan tempat-tempat yang mudah dijangkau oleh konsumen.
atau pada saat terjadi gejolak harga, serta penetapan harga eceran tertinggi dalam rangka operasi pasar untuk sebagian atau seluruh barang kebutuhan pokok. Tidak hanya itu, mekanisme untuk pengaturan operasi pasar untuk beras ini mendapatkan perhatian khusus pemerintah dengan mengeluarkan Permendag No 4 Tahun 2012 dimana pemerintah dalam setiap tahap pelaksanaan operasi pasar ini sangat diatur secara rinci, guna ketepatan sasaran dan dampak efektivitasnya untuk harga beras itu sendiri. Dalam Permedag No 4 Tahun 2012 disebutkan untuk melakukan operasi pasar beras di tingkat konsumen, seperti pasar rakyat, pasar induk, yang mudah dijangkau oleh konsumen. Secara mekanisme pelaksanaannya pun diatur atas dasar pengajuan Bupati/ Walikota selaku Ketua Dewan Ketahanan Pangan Kabupaten/Kota berdasarkan hasil analisa dan evaluasi terhadap perkembangan kondisi harga barang kebutuhan pokok dan penting, perkiraan jumlahnya, dan lokasi rencana pelaksanaan Operasi Pasar yang dianalisa dan dievaluasi oleh Dinas Kabupaten/ Kota setempat yang membidangi urusan perdagangan. Setelah itu Menteri akan mengintruksikan Perum Bulog untuk melakukan atau menghentikan Operasi Pasar. Dalam Permendag No 4 Tahun 2012 juga ditetapkan harga HET bahan pokok tersebut ketika Operasi Pasar, dan dalam keadaan tertentu/mendesak Menteri dapat menetapkan harga seceran tertentu bahan pokok Operasi Pasar di bawah harga eceran bahan pokok dipasar yang berlaku pada saat itu
2.7.2 Penetapan Harga Acuan Pembelian Beras
Pemerintah resmi menetapkan regulasi yang berisikan tentang penetapan harga acuan pembelian di petani (HPP) dan harga acuan penjualan di konsumen (HPK) untuk tujuh komoditas pangan per/ kg yaitu beras, gula pasir, daging sapi, bawang merah, cabai, kedelai dan jagung. Telah ditetapkan oleh Kementerian Perdagangan dalam Permendag No 63 Tahun 2016 pada tanggal 9 September 2016. Pada saat Permendag 63/2016 ini berlaku, maka ketentuan lama yakni Permendag 80/2015 tentang Penetapan Harga Pembelian Kedelai Petani dalam Rangka Pengamanan Harga Kedelai di Tingkat Petani, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
Tujuan dari penetapan harga ini adalah untuk menjamin stabilisasi harga dan pasokan 7 komoditas tersebut yang juga merupakan amanat Perpres No. 71 Tahun 2015 tentang Penetapan dan Penyimpangan Barang Kebutuhan Pokok dan Barang Penting. Harga acuan tersebut akan menjadi acuan bagi pemerintah untuk mengintervensi pasar ketika terjadi gejolak harga. Diharapkan penetapan harga batas atas dan batas bawah untuk sejumlah komoditas pangan mampu menekan laju inflasi yang didorong oleh inflasi komponen bahan pangan bergejolak (volatile food).
Harga acuan yang diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 63 Tahun 2016 ditandatangani pada 9 September 2016 itu mulai berlaku sejak dikeluarkan pada Kamis (15/9/2016). Masa berlaku harga acuan ini selama empat bulan dan harga ini akan menjadi patokan bagi badan usaha milik negara (Perum Bulog) dalam pengadaandan distribusi 7 komoditas barang pokok tersebut. Stabilisasi harga yang dijalankan oleh Bulog yaitu dengan cara membeli produk petani apabila harga jualnya lebih rendah 9 persen dari harga acuan dan akan melakukan operasi pasar apabila harganya 9 persen diatas harga acuan. Perum Bulog sendiri sudah menyiapkan anggaran awal dalam pembelian hasil produksi petani sebanyak Rp. 16 triliun.
23
Komoditas Beras
Tabel 1. Harga Acuan Pembelian Beras di Petani dan Harga Acuan Penjualan di Konsumen
Berdasarkan Permendag No. 63/M-DAG/PER/9/2016
Komoditi Beras Harga Acuan Pembelian Di Petani (Rp/kg) Harga Acuan Penjualan Di Konsumen (Rp/kg)
a. Gabah Kering Panen 3.700
-b. Gabah Kering Giling 4.600
-c. Beras 7.300 9.500
Sumber : BPS (diolah)
Dalam skema penerapan aturan ini, pemerintah memastikan akan melakukan uji coba di seluruh Perusahaan Daerah (PD) Pasar Jaya yang tersebar di seluruh DKI Jakarta. Setelah itu, pemerintah akan memperluas penerapan aturan di seluruh provinsi.
Permendag No. 63/M-DAG/PER/9/2016 ini dalam Pasal 2 dan 3 mengatur bahwa Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (BULOG) adalah lembaga yang ditetapkan untuk melakukan pembelian dan penjualan bahan kebutuhan pokok dalam rangka menjaga stabilitas harga. Pasal 5 dan pasal 6 Permendag No 63 tahun 2016 ini mengatur tentang masa berlaku harga acuan yang ditetapkan. Harga acuan berlaku dalam jangka waktu 4 bulan terhitung sejak Permen ini diundangkan dan akan ditetapkan harga acuan yang baru setelah dilakukan evaluasi. Namun apabila dalam jangka waktu empat bulan tersebut dan harga acuan yang baru belum ditetapkan maka harga acuan yang tercantum dalam Permen ini tetap berlaku. Diberlakukannya Permendag No. 63 ini adalah salah satu upaya yang baik dari pemerintah untuk menjaga stabilitas harga bahan kebutuhan pokok. Harga acuan dapat menjadi peringatan untuk dilakukannya tindakan preventif ataupun represif dalam menjaga stabilitas harga bahan kebutuhan pokok seperti operasi pasar, dan tindakan lainnya. 2.8 Proyeksi Penawaran dan Permintaan Beras
2.8.1 Proyeksi Produksi Beras
Proyeksi ketersediaan beras didasarkan pada proyeksi produksi dan kuantitas impor beras. Pemodelan produksi beras dalam analisis ini adalah dalam wujud produksi gabah kering panen (GKP). Model proyeksi produksi beras diduga dipengaruhi oleh luas panen dan produktivitas. Sebelum dilakukan proyeksi terhadap produksi beras tahun 2016 dan 2017 terlebih dahulu dilakukan proyeksi terhadap luas panen dan produktivitas beras untuk tahun 2016 dan 2017 menggunakan
trend pertumbuhan produksi menggunakan pemodelan time series. Hasil pembentukkan model
produksi beras di Indonesia disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Hasil Pembentukkan Model Produksi Beras di Indonesia
Variabel Model Kecocokan Model
Luas Panen Holt’s Linear Trend Stasioner R2=0,693
Produktivitas Holt’s Linear Trend Stasioner R2=0,701
Produksi ARIMA (0,0,0) dengan dua variabel bebas:
Luas Lahan dan Prduktivitas Stasioner R
2=0,999
Sumber : BPS (diolah)
Sementara itu, untuk data impor beras tahun 2016 dan 2017 juga digunakan trend pertumbuhan produksi menggunakan pemodelan time series dan didapatkan bahwa model yang paling cocok untuk menduga data impor beras adalah model ARIMA (0,0,0). Grafik hasil pemodelan produksi beras tersaji pada Gambar 21 dan hasil proyeksi ketersediaan beras tersaji dalam Tabel 3.
Sumber : BPS (diolah)
Gambar 15. Hasil Pemodelan Produksi Beras di Indonesia Tabel 3. Ketersediaan Beras di Indonesia
Tahun Luas Panen (Ha) Produktivitas (Ton/Ha) Produksi (Ton) Impor (Ton) Ketersediaan* (Ton)
2006 11.786.430 4,62 54.454.937 51.499 54.506.436 2007 12.147.637 4,71 57.157.435 467.719 57.625.154 2008 12.327.425 4,89 60.325.925 124.143 60.450.068 2009 12.883.576 5,00 64.398.890 108.153 64.507.043 2010 13.253.450 5,02 66.469.394 360.785 66.830.179 2011 13.203.643 4,98 65.756.904 1.513.164 67.270.068 2012 13.445.524 5,14 69.056.126 945.623 70.001.749 2013 13.835.252 5,15 71.279.709 246.002 71.525.711 2014 13.797.307 5,13 70.846.465 388.179 71.234.644 2015 14.115.475 5,34 75.361.248 861.601 76.222.849 2016 14.449.372 5,36 77.049.958 506.687 77.556.645 2017 14.701.998 5,43 79.175.945 506.687 79.682.632
Ket : *) Ketersediaan = Produksi + Impor Tahun 2016 dan 2017 merupakan hasil proyeksi
Sumber : BPS (diolah)
Berdasarkan Tabel 3, luas panen beras pada tahun 2016 dan 2017 diproyeksikan naik sebesar 2,36% dan 4,15% dari luas panen tahun 2015. Sedangkan produktivitas beras pada tahun 2016 dan 2017 diproyeksikan naik sebesar 0,39% dan 1,71% dari produktivitas beras tahun 2015.
Produksi beras tahun 2016 diproyeksikan sebesar 77.049.958 ton meningkat 2,24% dari tahun 2015. Pada tahun 2017 produksi beras diproyeksikan naik lagi menjadi 79.175.945 ton atau meningkat 2,76% dari nilai proyeksi tahun 2016. Sementara itu, impor beras pada tahun 2016 dan 2017 diproyeksikan sebesar 506,69 ton. Dengan demikian, ketersediaan pada tahun 2016 dan 2017 berturut-turut sebesar 77.556.645 ton dan 79.682.632 ton (Gambar 16).
2.8.2 Proyeksi Kebutuhan Beras
Proyeksi kebutuhan beras didasarkan pada proyeksi konsumsi dan kuantitas ekspor beras. Untuk 85,000,000 80,000,000 75,000,000 70,000,000 65,000,000 60,000,000 55,000,000 50,000,000 2006 2007 2008 2009 2010 Produksi 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 Proyeksi Nilai LCL Nilai UCL
25
Komoditas Beras
perhitungan proyeksi konsumsi beras, digunakan tahun dasar 2012 sebagai basis dimana rata-rata konsumsi perkapita beras penduduk Indonesia mencapai sekitar 87,23 kg/kap/tahun yang dikalikan dengan proyeksi jumlah penduduk Indonesia dari BPS. Sedangkan proyeksi ekspor beras Indonesia tahun 2016 dan 2017 menggunakan trend pertumbuhan produksi menggunakan pemodelan time
series. Hasil proyeksi kebutuhan beras tersaji dalam Tabel 4. Tabel 4. Kebutuhan Beras di Indonesia
Tahun Konsumsi (kg/kap/thn) Jumlah Penduduk (Ribu Jiwa) Konsumsi (Ton) Ekspor (Ton) Kebutuhan* (Ton)
2006 95.89 224.179 21.496.757 1.177 21,497,934 2007 90.47 227.521 20.583.388 4.159 20,587,547 2008 93.44 230.913 21.576.527 1.221 21,577,748 2009 91.30 234.356 21.397.141 3.389 21,400,530 2010 90.16 238.519 21.503.662 810 21,504,472 2011 89.48 241.991 21.652.602 1.065 21,653,667 2012 87.24 245.425 21.409.667 1.091 21,410,758 2013 85.51 248.818 21.277.431 2.586 21,280,017 2014 84.63 252.165 21.340.203 516 21,340,719 2015 87.24 255.462 22.285.201 519 22,285,721 2016 87.24 258.705 22.568.131 1.653 22,569,784 2017 87.24 261.891 22.846.053 1.653 22,847,706
Ket : *) Kebutuhan = Konsumsi + Ekspor Tahun 2016 dan 2017 merupakan hasil proyeksi
Sumber : BPS (diolah)
Berdasarkan Tabel 4, jumlah konsumsi beras nasional diproyeksikan akan mencapai 22,57 juta ton pada tahun 2016 atau meningkat 1,27% dibandingkan tahun 2015 dan diperkirakan akan meningkat lagi 1,23% dari angka proyeksi tahun 2016 menjadi 22,85 juta ton pada tahun 2017. Sedangkan kuantitas ekspor beras nasional diproyeksikan akan mencapai 1.653 ton pada tahun 2016 dan
90,000,000 80,000,000 70,000,000 60,000,000 50,000,000 40,000,000 30,000,000 20,000,000 10,000,000 0 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 Produksi (Ton/Tahun) Impor (Ton/Tahun)
Sumber : BPS (diolah)
2017 atau meningkat 23,53% dari tahun 2015. Dengan demikian, kebutuhan beras tahun 2016 diproyeksikan sebesar 22,57 juta ton meningkat 1,27% dari tahun 2015 dan ada tahun 2017 produksi beras diproyeksikan naik lagi menjadi 22,85 juta ton atau meningkat 1,23% dari nilai proyeksi tahun 2016.
Sumber : BPS (diolah)
Gambar 17. Perkembangan dan Proyeksi Kebutuhan Beras di Indonesia
2.8.3 Surplus Defisit Beras
Berdasarkan proyeksi ketersediaan beras pada Tabel 3 dan proyeksi kebutuhan beras pada Tabel 4, ketersediaan beras tahun 2016 diproyeksikan sebesar 77.556.645 ton sedangkan kebutuhan beras tahun 2016 diproyeksikan sebesar 22.569.784 ton. Dengan demikian pada tahun 2016 terjadi surplus beras sebesar 54.986.861 ton. Kemudian, ketersediaan beras tahun 2017 diproyeksikan sebesar 79.682.632 ton dan kebutuhan beras tahun 2017 diproyeksikan sebesar 22.847.706 ton sehingga pada tahun 2017 terjadi surplus beras sebesar 56.834.926 ton (Tabel 5).
Tabel 5. Kebutuhan Beras di Indonesia
Tahun Ketersediaan (Ton) Kebutuhan (Ton) Surplus/Defisit Beras (Ton)
2006 54.506.436 21.497.934 33.008.502 2007 57.625.154 20.587.547 37.037.607 2008 60.450.068 21.577.748 38.872.320 2009 64.507.043 21.400.530 43.106.514 2010 66.830.179 21.504.472 45.325.707 2011 67.270.068 21.653.667 45.616.401 2012 70.001.749 21.410.758 48.590.991 2013 71.525.711 21.280.017 50.245.694 2014 71.234.644 21.340.719 49.893.925 2015 76.222.849 22.285.721 53.937.128 2016 77.556.645 22.569.784 54.986.861 2017 79.682.632 22.847.706 56.834.926 Sumber : BPS (diolah) 23,500,000 23,000,000 22,500,000 22,000,000 21,500,000 21,000,000 20,500,000 20,000,000 19,500,000 19,000,000 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 Konsumsi (Ton/Tahun) Ekspor (Ton/Tahun)
27
3.1 Perkembangan Ketersediaan Komoditas Beras Dunia
Beras diproduksi hampir di 115 negara di dunia di 5 benua. Data FAO mengenai produksi padi memperlihatkan bahwa produksi padi internasional setiap tahun mengalami trend kenaikan. Pada tahun 2004 produksi padi berada pada angka 608.973.082 ton, hingga pada saat tahun 2014 produksi padi naik 22% menjadi 742.669.836 ton, dengan kenaikan rata-rata 2% pertahun atau setara dengan kenaikan rata-rata 13.369.675 ton per tahun. Peningkatan produksi tertinggi terjadi pada tahun 2008 dimana hasil produksi padi dunia meningkat 4,8% atau sebesar 31.340.449 ton, kemudian turun pada tahun 2009 sebesar 0,1% atau sebesar 978.709 ton.
Sumber : FAO dan SP2KP Kemendag (diolah)
Gambar 18. Produksi Padi Dunia pada Tahun 2004 – 2014
Beras adalah salah satu produk paling penting di dunia terutama di Benua Asia. Benua Asia juga merupakan tempat tinggal dari para petani yang memproduksi sekitar 76% dari total produksi beras dunia. Budidaya beras cocok untuk wilayah – wilayah dengan iklim hangat, biaya tenaga kerja murah dan curah hujan yang tinggi, karena budidaya makanan pokok ini membutuhkan banyak tenaga kerja dan supply air. Wilayah-wilayah yang memenuhi kriteria tersebut kebanyakan berada di Asia. Negara penghasil padi terbesar pertama pada tahun 2014 adalah China dengan kontribusi hasil produksi padi 28% atau setara dengan 208.239.610 ton dari total nilai keseluruhan produksi padi dunia. Negara ke dua dengan produksi padi terbesar adalah India dengan kontribusi hasil produksi padi 21,17% atau setara dengan 157.200.000 ton, kemudian Negara terbesar ke tiga adalah Indonesia, dengan kontribusi hasil produksi padi sebanyak 9,54% atau setara dengan 70.846.465 ton. Setelah itu Bangladesh dengan kontribusi hasil produksi 7,03% atau setara dengan 52.231.000 ton, setelah itu Vietnam dengan kontribusi 6,06% atau 44.974.206 ton dan yang terakhir adalah Thailand dengan kontribusi sebanyak 4,39% atau 32.620.160 ton, sisanya merupakan hasil produksi padi dari beberapa Negara lainnya yang ada di beberapa benua di dunia. 6 negara dengan hasil produksi padi terbesar tersebut mempunyai hasil produksi hingga 76% untuk memenuhi kebutuhan padi dunia. (Gambar 19)
Data FAO memperlihatkan, di 6 negara sentra produksi padi tersebut mempunyai tingkat pertambahan hasil produksi yang berbeda-beda. Pertambahan produksi tertinggi terjadi di Negara
KERAGAAN PASAR KOMODITAS
BERAS DUNIA
III
800 700 600 500 400 300 200 100 0 2005 2004 2007 2008 2009 2010 Produksi Padi Dunia (Juta Ton)2011 2012 2013 2014 2006
636 642 658 689 688 703
723 735 740 743
29
Komoditas Beras
Bangladesh dengan rata-rata produksi bertambah 4% atau 1.599.502 ton per tahun. Sementara itu Indonesia menduduki peringkat ke dua dengan pertambahan hasil padi 3,1% atau 1.67.800 ton per tahun, disusul oleh Thailand dan India dengan pertambahan hasil produksi padi 2,9% per tahun, setelah itu Vietnam dengan tingkat pertambahan hasil produksi padi 2,3% per tahun, dan yang terakhir adalah China dimana hanya 1,4% pertambahan hasil produksi padi per tahun.
Ada sebuah fakta yang menarik mengenai beras yaitu pasar perdagangan internasionalnya sebenarnya sangat sedikit. Menurut penelitian yang dilaksanakan Bank Dunia hanya 5% dari produksi global beras diperdagangkan di pasar internasional dan itu mengimplikasikan bahwa harga beras rentan terhadap perubahan penawaran dan permintaan. Terlebih lagi, suplai beras internasional berasal hanya dari tiga negara eksportir beras saja, yaitu Thailand, India dan Vietnam. 3.2 Perkembangan Harga Komoditas Beras Dunia
Perkembangan harga beras internasional dari tahun 2012 hingga 2016 secara keseluruhan mengalami fluktuasi yang diakhiri dengan trend penurunan. Harga beras di pasar internasional pada tahun 2012 berada pada kisaran harga USD 0,52/kg turun sebanyak 31% atau setara dengan penurunan USD 0,16/kg sehingga pada tahun 2016 menjadi USD 0,36/kg.
Pada awal tahun 2012 harga beras mengalami fluktuasi pada triwulan pertama dan kedua, namun pada penghujung akhir tahun harga beras dunia mengalami tingkat kestabilan dan terus pada angka USD 0,53 – 0,52/kg. Selama tahun 2013 harga beras dunia turun sebesar USD 0,11/kg atau setara dengan penurunan 20%. Selama tahun 2014 harga beras turun kembali sebanyak USD 0,04/kg atau sebesar 8%. Selama tahun 2015 pun sama harga beras dunia ini mengalami penurunan USD 0,05/kg atau mengalami penurunan hingga 12%, dan terakhir selama tahun 2016 harga beras dunia relative stabil pada harga yang cukup rendah yaitu pada harga USD 0,36/kg.
7% 7% 21% 10% 4% 6% 10% Bangladesh India Indonesia Thailand Vietnam China Lainnya
Sumber : FAO dan SP2KP Kemendag (diolah)
Sumber : FAO dan SP2KP Kemendag (diolah)
Gambar 20. Perkembangan Harga Komoditas Beras di Pasar Internasioal
Salah satu penyebab dari turunnya harga beras internasional adalah karena dua negara produsen beras yaitu Vietnam dan Thailand mengalami surplus produksi pada 3 tahun terakhir, sehingga memberikan peningkatan pasokan beras ke pasar dunia. Kebijakan pemerintah Thailand yang membeli seluruh gabah dari petani Thailand dengan harga mahal sehingga mendorong petani Thailand untuk giat memproduksi beras dan berimbas pada stock beras Thailand dan Vietnam terbilang aman.
3.3 Perkembangan Konsumsi Beras Dunia
Berdasarkan data USDA, konsumsi beras dari tahun 2011 hingga 2015 memperlihatkan adanya kenaikan sebesar 3,4% atau setara dengan 15.462 ribu ton, dengan peningkatan sebesar 1,6% per tahun atau setara dengan kenaikan konsumsi sebesar 7.414 ribu ton per tahun. Meskipun pada tahun 2014 konsumsi beras ini pernah turun 1,2% tetapi trend dalam kurun waktu 5 tahun ini cukup meningkat. besaran rata-rata total konsumsi beras tertinggi di dunia pada kurun waktu lima tahun terakhir terdistribusi pada negara-negara produsen beras terbesar dunia.
Negara Cina merupakan Negara pengkonsumsi beras terbesar dengan tingkat konsumsi 30% dari keseluruhan beras dunia dan meningkat rata-rata 1,98% per tahun, secara umum rata-rata konsumsi di China mencapai 145,86 juta ton per tahun, di posisi kedua adalah India dengan mengkonsumsi mencapai 20% beras dari kesleruhan beras yang ada di dunia dan meningkat rata-rata 1,64% pertahun, rata-rata konsumsi beras di India mencapai 97,08 juta ton per tahun. Sementara Indonesia berada di posisi ketiga dengan mengkonsumsi beras sekitar 7,5% dari per tahun keseluruhan konsumsi beras dunia dengan pertumbuhan konumsi 0,3% per tahun, rata-rata konsumsi beras di Indonesia mencapai 38,41juta ton per tahun. Total konsumsi beras terbesar selanjutnya adalah Bangladesh, Vietnam, Philipina, Thailand, Myanmar, Jepang dan Brasil dengan kisaran konsumsi beras rata-rata antara 7,91 juta ton hingga 34,92 juta ton setara beras giling (Gambar 21).
Jika dikaitkan dengan produksi beras, beberapa negara produsen cenderung mengalami kekurangan pasokan untuk konsumsi antara lain China, Indonesia, Bangladesh, Philipina dan Jepang, sebagai akibat besarnya total konsumsi beras dibandingkan pasokan beras yang berasal dari produksi dalam
0.60 0.55 0.50 0.45 0.40 0.35 0.30
Harga Beras Internasional (US$ / Kg)
Mar-12
31
Komoditas Beras
negrinya sendiri. Kekurangan pasokan beras tertinggi antara tahun 2009 hingga 2013 terjadi di China yaitu mencapai 2,51 juta ton, selanjutnya adalah Indonesia sebesar 1,95 juta ton, Philipina sebesar 1,35 juta ton, Bangladesh dan Brazil masing-masing sebesar 638 ribu ton dan 464 ribu ton. 3.4 Perkembangan Pasar Beras Dunia
Perdagangan beras di pasar dunia adalah dalam bentuk setara beras giling (milled rice equivalent). Volume ekspor impor beras dunia cenderung meningkat pada periode 2004 hingga 2014 dengan laju pertumbuhan sebesar 0,37% hingga 13,84% pertahun yang dipicu adanya peningkatan ekspor impor cukup signifikan di beberapa tahun yaitu tahun 2013 sebesar 6,11% dan tahun 2010 sebesar 11,97% dan 13,84% di tahun 2012. 10 negara dengan tingkat ekspor padi tertinggi, yatiu India, Thailand, Vietnam, Pakistan dan United State, Myanmar, Uruguay, Brazil, Argentina dam kamboja.
Tahun 2010 hingga 2014, India mampu mengekpor beras hasil produksinya rata-rata per tahun sebanyak 10.277 ribu ton dengan kontribusi 24,5% dari total seluruh beras ekpor dunia. Setelah itu Thailand merupakan pengekspor beras ke dua terbesar degan rata-rata 8.967 ribu ton dengan kontribusi 21,48%. Kemudian Vietnam dan Pakistan menempati urutan ke 3 dan ke 4 terbesar pengekspor padi dengan pangsa pasar 16,46% dan 9,16% perdagangan beras dunia. Indonesia merupakan Negara produsen padi terbesar ke tiga dunia, namun Indonesia hanya mempunyai proporsi ekspor beras yang relatif kecil.
Volume ekspor beras yang diperdagangkan di dunia meningkat cukup pesat pada kurun waktu lima tahun terakhir. Burma mengalami peningkatan rata-rata sebesar 14,83% per tahun sebagai akibat peningkatan ekspor yang cukup signifikan di 2013 yaitu sebesar 45,14%. Pertumbuhan volume ekspor beras terbesar ke dua di antara 5 negara eksportir beras terbesar dunia adalah Thailand dengan pertumbuhan rata-rata 13,28% per tahun, selanjutnya Pakistan dan terendah Amerika Serikat yang dengan volume ekspor rata-rata 4,94 dan 1,77%. Penurunan volume ekspor beras Vietnam pada tahun 2012 dan 2013 yaitu sebesar 13,18% dan 5,60% (Gambar 22).
Brazil Japan Myanmar Thailand Philipines Vietnam Bangladesh Indonesia Lainnya India China 7,906 8,347 10,440 11,115 12,990 21,490 34,920 36,413 85,279 97,079 145,860 0 20,000 40,000 50,000 80,000 100,000 120,000 140,000 160,000
Sumber : FAO dan SP2KP Kemendag (diolah)