(Studi Deskriptif Kualitatif Mengenai Tipologi Manusia menurut Hipocrates-Gallenus dan Gaya Komunikasi pada Anggota
Organisasi PIJAR)
SKRIPSI
YARE G. SARAGIH 120904105
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI
MEDAN
2016
(Studi Deskriptif Kualitatif Mengenai Tipologi Manusia menurut Hipocrates-Gallenus dan Gaya Komunikasi pada Anggota
Organisasi PIJAR)
SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Program Strata 1 (S1) pada Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas
Sumatera Utara
YARE G. SARAGIH 120904105 Jurnalistik
DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2016
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI
LEMBAR PERSETUJUAN Skripsi ini disetujui untuk dipertahankan oleh : Nama : Yare G. Saragih
Nim : 120904105
Departemen : Ilmu Komunikasi
Judul :TIPOLOGI MANUSIA DAN GAYA KOMUNIKASI (Studi Deskriptif Kualitatif Mengenai Tipologi Manusia menurut Hipocrates-Gallenus dan Gaya Komunikasi pada Anggota Organisasi PIJAR)
Medan, Desember 2016 Dosen Pembimbing Ketua Departemen
Dr. Iskandar Zulkarnain, M.Si Dra. Fatma Wardy Lubis, M.A NIP. 196609031990031004 NIP. 196208281987012001
Dekan FISIP USU
Dr. Muryanto Amin, M.Si NIP. 197409302005011002
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS
Skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri, semua sumber baik yang dikutip maupun yang dirujuk telah saya cantumkan sumbernya dengan benar. Jika dikemudian hari saya terbukti melakukan pelanggaran (plagiat) maka saya
bersedia diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.
Nama : Yare G. Saragih
Nim : 120904105
Departemen : Ilmu Komunikasi Tanda Tangan :
Tanggal : Desember 2016
LEMBAR PENGESAHAN
Skripsi ini disetujui untuk dipertahankan oleh : Nama : Yare G. Saragih
Nim : 120904105
Departemen : Ilmu Komunikasi
Judul : TIPOLOGI MANUSIA DAN GAYA KOMUNIKASI
(Studi Deskriptif Kualitatif Mengenai Tipologi Manusia menurut Hipocrates-Gallenus dan Gaya Komunikasi pada Anggota Organisasi PIJAR)
Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Sarjana Ilmu Komunikasi pada Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
Majelis Penguji Ketua Penguji :
Penguji :
Penguji utama :
Ditetapkan di : Medan
Tanggal : Desember 2016
v
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Sebagai civitas akademik Universitas Sumatera Utara, saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Yare G. Saragih
NIM : 120904105
Departemen : Ilmu Komunikasi
Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas : Sumatera Utara
Jenis Karya : Skripsi
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Sumatera Utara Hak Bebas Royalti Non Eksklusif (Non-exclusive Royalty-Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul : TIPOLOGI MANUSIA DAN GAYA KOMUNIKASI (Studi Deskriptif) beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti Nonekslusif ini Universitas Sumatera Utara berhak menyimpan, mengalihmedia/formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat dan mempublikasikan tugas akhir saya tanpa meminta izin dari saya selama mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik hak cipta.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di : Universitas Sumatera Utara Pada Tanggal : Desember 2016
Yare G. Saragih
( )
Penelitian ini berjudul Tipologi Manusia dan Gaya Komunikasi (Studi Deskriptif Kualitatif Tipologi Manusia menurut Hipocrates-Galenus pada Anggota Organisasi Pers Mahasiswa PIJAR). Penelitian ini berfokus pada tipologi manusia dan gaya komunikasi yang dimiliki oleh anggota PIJAR. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tipologi manusia dan untuk mengetahui gaya komunikasi yang dimiliki oleh anggota PIJAR. Penelitian ini menggunakan metodologi penelitian kualitatif dengan paradigma konstruktivisme. Penelitian ini menggunakan Teori Kepribadian, Gaya Komunikasi, Teori Komunikasi Antarpribadi, dan Teori Komunikasi Organisasi. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara melakukan wawancara mendalam dengan anggota PIJAR. Subjek penelitian dalam penelitian ada empat informan, yaitu Grace Kolin, Muhammad Kurniawan, Oliviardy Reviansyah dan Reza Andika Putra. Teknik analisis data, yakni dengan melakukan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Waktu penelitian ini dilakukan pada tanggal 17 Mei 2016 sampai akhir September 2016. Temuan penelitian ini menjukkan bahwa mahasiswa yang menjadi anggota PIJAR memiliki tipologi dan gaya komunikasi yang berbeda. Gaya komunikasi seseorang tergantung pada situasi yang sedang dihadapi. Namun, terdapat pula kesesuaian gaya komunikasi dengan tipologi informan. Anggota PIJAR yang diwajibkan untuk berinteraksi dengan dunia luar mengalami pengikisan karakter, namun tidak menghilangkan dominasi tipologi yang ada di dalam diri informan.
Kata Kunci: Tipologi Manusia, Gaya Komunikasi, Anggota Organisasi PIJAR
This research entitled Human Typology and Communication Styles (Qualitative Descriptive Study of Human Typology according to Hippocrates-Galen on the Student Press Organization Members PIJAR). This study focuses on human typology and communication styles that are owned by members of PIJAR. The purpose of this study was to determine the typology of human and to know the communication style that is owned by members of PIJAR. This study uses qualitative research methodology with constructivism. This study used the Theory of Personality, Communication Style, Communication Theory Interpersonal and Organizational Communication Theory. Data collected by conducting in-depth interviews with PIJAR’s members. Research subjects in the study were four informants, namely Grace Kolin, Muhammad Kurniawan, Oliviardy Reviansyah and Reza Andika Putra.
Data analysis techniques, namely by performing data reduction, data presentation and conclusion. When the study was conducted on May 17, 2016 until the end of September 2016. The findings of this study menjukkan that students who become members PIJAR own typology and different communication styles. One's communication style depending on the situation at hand. However, there is also a style of communication with the typology conformity informant. PIJAR members are required to interact with the outside world is undermined character, but does not eliminate the existing typology dominance inside informant.
Keywords: Human Typology, Communication Style, PIJAR’s member organization
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur peneliti panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus, yang senantiasa memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulisan skripsi yang berjudul “Tipologi Manusia Dan Gaya Komunikasi” ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
Peneliti menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak dari masa perkuliahan sampai pada penyusunan skripsi ini, sangatlah sulit bagi peneliti untuk menyelesaikan skripsi ini. Peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini dengan lancar dikarenakan dukungan dan bantuan dari pihak-pihak yang terkait. Secara khusus peneliti ingin mengucapkan terimakasih kepada kedua orang tua peneliti Pdt. Jaharianson Saragih sosok bapak yang luar biasa yang menginspirasi saya mengenai skripsi ini, dan kepada mama tercinta D. br. Purba yang selalu memberikan dorongan, masukan dan kecerewatan tiada batas kepada peneliti agar sesegera mungkin menyelesaikan skripsi, serta untuk satu-satunya saudara peneliti, Jasopino Saragih.
Dalam penulisan skiripsi ini, penulis banyak menerima bantuan, bimbingan dan motivasi dari berbagai pihak, untuk itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Bapak. Dr. Muryanto Amin, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara
2. Ibu Dra. Fatma Wardy Lubis, M.A, selaku Ketua Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU yang membantu dan membimbing dalam proses penyelesaian tugas akhir peneliti
3. Ibu Dra. Dayana, M.Si, sebagai Sekretaris Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU yang terus memberikan arahan dan penerangan kepada peneliti.
4. Dr. Iskandar Zulkarnain, M.Si selaku dosen pembimbing. Terima kasih atas dukungan dan saran yang telah diberikan kepada peneliti dari awal hingga akhir penulisan skripsi ini
5. Seluruh Dosen dan Staf Pengajar di Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara 6. Abang dan kakak sepupu yang senantiasa menjadi tempat berkeluh
kesah ketika hamper menyerah dan tidak pernah bosan menanyakan perihal pacar
7. Untuk tante peneliti, Irmalani br. Purba, terimakasih karena selalu meredakan kecerewetan mama serta untuk nasihat yang telah diberikan kepada peneliti
8. Tua dan Ompung peneliti almh. R br. Purba dan alm L. Purba yang tidak sempat melihat peneliti selesai kuliah, semoga tenang di sisi-Nya.
9. Ompung dan Ompung boru peneliti G. Siahaan dan almh. K. br. Purba yang selalu mencurahkan rasa sayang dan dukungannya kepada peneliti. Keluarga peneliti, abang dan kakak sepupu terimkasih untuk semua doa yang telah kalian berikan kepada peneliti
10. Oliviardy Reviansyah, Muhammad Kurniawan, Reza Andika Putra dan Grace Kolin sebagai informan atas informasi yang telah diberikan sehingga peneliti bisa menyelesaikan penelitian ini dengan baik
11. Sahabat karib peneliti, Rock in 82, tanpa disebutkan satu-satu, kalian salah satu yang terbaik. Kif Vania yang tidak pernah berhenti menyindir dan mencereweti peneliti namun juga selalu menjadi yang paling sabar. Widya “Babe” dan Fanny Beatric. Yang satu cerewet, yang satu bisa tiba-tiba dewasa. Teman makan terbaik. Setiap laki-laki yang ada, kalian luar biasa. Luar biasa menjengkelkan tapi juga selalu dekat di hati. Terkhusus untuk Rio, udah bisa PKL ya, yo.
12. Fernando Anderson dan Ray Gunayes yang selalu menjadi tempat berkeluh kesah, sasaran kecerewetan peneliti, teman gosip, McD buddy all the time, dan yang selalu menjadi tempat peneliti untuk jejeritan setiap kali peneliti melihat foto idola peneliti. Terima kasih untuk
setiap cerita yang telah dibagi, untuk setiap pembelajaran yang diberikan dan menjadi orang-orang yang selalu bisa peneliti andalkan.
13. Sahabat peneliti yang jauh di mata dan dekat di hati, Junanda Farel Lumbantobing, Novia Sinaga dan Kezia Carolina terimakasih banyak untuk cerita selama kita bersama dan untuk setiap dukungan emosionil kepada peneliti
14. Kakak dan Abang LDIK yang menjadi tempat curhat dan senantiasa memberikan dukungan dan pertanyaan “kapan selesai” kepada peneliti.
15. Mahasiswa Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU yang telah menjadi keluarga peneliti khususnya GENTONG 2012
16. Senior, teman-teman dan adik-adik FOKUS USU dan USU CHANNEL
17. Bang Fernando Sihotang yang mendukung peneliti secara emosionil, memberikan tambahan wawasan, meneguhkan keyakinan peneliti untuk mengambil S2, bahwa mimpi harus dikejar dan everything is possible.
18. Abang, kakak dan teman-teman di AIESEC dan Lutheran Youth Network yang telah mengajarkan peneliti banyak hal dan untuk setiap cerita dan dukungan yang diberikan kepada peneliti.
19. Semua pihak yang juga telah ikut membantu saya dalam menyelesaikan skripsi ini, saya ucapkan banyak terima kasih. Saya menyadari bahwa tulisan ini jauh dari kesempurnaan, untuk itu dengan segala kerendahan hati saya berharap pembaca dapat memberikan saran dan kritik yang sifatnya membangun untuk perbaikan skripsi ini serta memperdalam pengetahuan dan pengalaman saya. Semoga skripsi ini membawa manfaat bagi pengembangan ilmu
Medan, Desember 2016 Peneliti,
Yare G. Saragih
HALAMAN JUDUL ………...………... i
LEMBAR PERSETUJUAN ………..………... ii
LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS ………...………... i
LEMBAR PENGESAHAN ………...………...…………....….... iv
LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ……..……... v
KATA PENGANTAR …....………..………... vi
ABSTRAK ………...…………...……... ix
ABSTRACT ………..……... x
DAFTAR ISI ………..…..…... xi
DAFTAR TABEL ………..………... xii
BAB I : PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah ………..………...….… 1
1.2. Fokus Masalah ………...… 4
1.3. Tujuan Penelitian ………... 4
1.4. Manfaat Penelitian ………...………. 5
BAB II : KAJIAN PUSTAKA 2.1 Paradigma Kajian ...………. 6
2.2 Kerangka Teori ...………. 8
2.2.1 Kepribadian ... 8
2.2.1.1 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepribadian... 8
2.2.1.2 Tipologi Manusia ... 10
2.2.2 Gaya Komunikasi ... 16
2.2.3 Komunikasi Organisasi ... 22
2.2.3.1 Proses Komunikasi Organisasi ... 23
2.2.4 Komunikasi Antarpribadi. ... 24
2.2.4.1 Jenis-jenis Komunikasi Antarpribadi ... 25
2.2.4.2 Tujuan Komunikasi Antarpribadi ... 26
2.2.4.3 Karakteristik Komunikasi Antarpribadi... 27
2.3 Komunikasi dan Psikologi ... 31
BAB III : METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian ……….………... 30
3.2 Objek Penelitian ... 30
3.3 Subjek Penelitian ... 31
3.4 Unit Analisis ………... 31
3.7 Lokasi Pelaksanaan Penelitian ... 34
BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil ……….………... 35
4.1.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 35
4.1.2 Proses Penelitian ... 35
4.1.3 Profil Informan …... 37
4.1.4 Hasil Pengamatan dan Wawancara ... 40
4.2 Pembahasan ... 65
BAB V : SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan ………... 73
5.2 Saran ... 74
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
2.01 Kekuatan Tipologi Manusia ………... 13 4.01 Profil Informan …………... 39 4.02 Tipologi Manusia ... 66
1. Pedoman Wawancara 2. Hasil Wawancara
3. Lembar Catatan Bimbingan Skripsi 4. Biodata Peneliti
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Konteks Masalah
Manusia adalah mahluk yang unik yang berbeda satu dengan yang lainnya.
Bahkan sekalipun anak kembar. Manusia sebagai mahluk individu memiliki unsur biologis, rohani, sosial dan psikis. Manusia sebagai mahluk biologis terdiri dari organ tubuh, sebagai mahluk rohani merupakan mahluk yang mempunyai pandangan dan dorongan hidup sesuai dengan keyakinan yang dianutnya, sebagai mahluk sosial, manusia merupakan mahluk yang berinteraksi dengan manusia lainnya dan lingkungan sekitarnya dan yang terakhir, manusia sebagai mahluk psikis merupakan mahluk yang mempunyai tipologi manusia yang biasa dapat tercermin melalui tingkah lakunya.
Kepribadian apabila dilihat dari asal katanya mempunyai arti kedok atau topeng. Namun, adapula pendapat dari salah satu ahli, M. Prince yang mengatakan bahwa kepribadian adalah suatu totalitas psikophisis yang kompleks dari individu, sehingga nampak di dalam tingkah lakunya yang unik (Sujanto dkk, 2009: 10,11).
Berdasarkan pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa kepribadian merupakan corak perilaku dan sifat manusia yang unik baik yang muncul sebagai respons serta cara penyesuaian diri terhadap segala rangsangan baik yang datang dari lingkungan maupun yang berasal dari dalam diri sendiri. Keunikan tersebut tergantung pada tipologi manusia.
Tipologi manusia diperkenalkan pertama kali oleh Hippocrates (460-370 SM).
Keempat tipe ini berdasarkan pada cairan-cairan yang terdapat di dalam tubuh, yaitu chole, melanchole, phlegma, dan sanguis. Kemudian Galenus (129-200 SM) menyempurnakan pendapat Hippocrates tersebut. Tipologi manusia tersebut juga dibahas di dalam buku Personality Plus (Littauer. 2009). Littauer memaparkan tentang tipologi manusia dengan sangat menarik dan mudah dipahami dengan memaparkan berbagai macam hasil survey yang dilakukannya. Dalam buku tersebut
diungkapkan bahwa terdapat 4 tipologi manusia antara lain kepribadian sanguinis yang popular, kepribadian melankolis yang sempurna, kepribadian koleris kuat dan kepribadian plegmatis damai. Kita merupakan perpaduan dari empat watak dasar yang ada. Keempat tipologi manusia tersebut mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang dalam menyesuaikan diri dan bersosialisasi dengan lingkungan disekitarnya. Hal ini biasanya tercermin dalam diri kita melalui pakaian yang kita pakai beserta warnanya, sebab melalui 2 hal sederhana tersebut, biasanya kita ingin mengekspresikan diri kita di depan orang lain. Ketika kita semakin mengenal watak kita yang sesungguhnya, kita tidak akan mencoba untuk terlihat seperti orang lain, sebab tidak akan terasa nyaman pada diri kita sendiri. Begitu pula dengan tingkah laku individu maupun saat individu tersebut bersosialisasi yang biasanya tidak terlepas dari komunikasi.
Komunikasi sendiri merupakan hal paling dasar dari sebuah sosialisasi yang dilakukan manusia. Hanya melalui komunikasi manusia dapat berhubungan dengan baik dengan manusia lainnya. Sama halnya dengan organisasi. Sebuah organisasi akan berjalan dengan baik apabila para anggota di dalamnya melakukan komunikasi dengan baik. Setiap individu pasti mempunyai alasan yang berbeda ketika ia memilih untuk masuk atau bergabung dengan sebuah organisasi, baik profit maupun non- profit. Di dalam sebuah organisasi pasti akan melakukan komunikasi, baik untuk pertukaran informasi maupun berbagi gagasan dan pengalaman. Komunikasi dalam organisasi berkenaan dengan komunikasi yang berlangsung dalam jaringan kerja sama antar pribadi dan antar kelompok dalam suatu organisasi. Komunikasi di dalam organisasi memiliki kompleksitas yang tinggi, yaitu bagaimana menyampaikan informasi dan menerima informasi merupakan hal yang tidak mudah, dan menjadi tantangan dalam proses komunikasinya. Dalam komunikasi organisasi, aliran informasi merupakan proses yang cukup rumit, karena melibatkan seluruh bagian yang ada dalam organisasi. Informasi tidak hanya mengalir dari atas ke bawah, tetapi juga sebaliknya dari bawah ke atas dan juga mengalir di antara sesama anggota organisasi selain itu komunikasi yang terjadi di dalam organisasi sendiri pastilah
memiliki gaya komunikasi yang digunakan pada saat berkomunikasi baik kepada individu maupun kepada kelompok.
Gaya komunikasi seseorang biasanya menjadi tumpuan seseorang pada saat ia ingin berbagi informasi ataupun mendapatkan informasi melalui penggunaan bahasa.
Berkomunikasi dalam organisasi memang penting, namun baik anggota maupun pimpinan di dalam organisasi tidak boleh lupa akan tataran organisasi, sehingga dalam proses komunikasi akan tercipta suasana yang kondusif. Di dalam organisasi sendiri, yang melakukan komunikasi adalah anggota dengan anggota, anggota dengan pengurus, dan pengurus dengan pengurus lain. Komunikasi yang dilakukan tiap personal organisasi pasti menggunakan gaya komunikasi yang berbeda. Hal ini menggambarkan bahwa gaya komunikasi dalam organisasi juga berpengaruh dalam kelancaran saat berkomunikasi untuk bertukar informasi. Karena dalam organisasi terdapat beberapa individu yang mempunyai gaya komunikasi masing-masing. Ketika gaya komunikasi dari masing-masing individu bersatu dan bekerja sama dengan baik maka organisasi juga akan berjalan dengan baik dan pasti meminimalisir suatu konflik didalamnya. Gaya komunikasi dalam organisasi yang digunakan oleh personal organisasi dalam berkomunikasi dan bertukar informasi dengan sesama, terutama komunikasi antar pribadi yang digunakan baik verbal maupun non verbal serta penggunaan bahasa untuk menciptakan komunikasi yang efektif sehingga dapat bersatu dan bekerja sama dengan baik.
Sama halnya dengan organisasi Pers Mahasiswa PIJAR yang didirikan pada 16 Juni 2012 oleh Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU di bawah naungan Pusat Pengkajian Komunikasi Massa (P2KM). Organisasi ini sendiri terdiri dari beberapa personal yakni anggota dan pengurus organisasi yang saling berkomunikasi dan bertukar informasi satu sama lain. Para anggota dan pengurus bertukar informasi saat akan mengadakan rapat, acara-acara tiap bulan dan juga agenda harian serta kegiatan- kegiatan lain dalam organisasi guna menciptakan kerja sama dan bersatu dengan baik.
Organisasi yang tediri dari 28 orang ini berasal dari latar belakang pendidikan yang sama yaitu Ilmu Komunikasi dengan penjurusan yang berbeda yaitu Jurnalistik, Public Relation dan Periklanan. Organisasi Pers Mahasiswa PIJAR merupakan
organisasi yang aktif baik dalam melakukan rapat mingguan maupun mengupdate website PIJAR yang memang menjadi basis pemberitaan organisasi Pers Mahasiswa PIJAR. Anggota PIJAR sendiri pasti mempunyai gaya komunikasi yang berbeda.
Gaya komunikasi di dalam organisasi ini sendiri menarik untuk diteliti. Selain gaya komunikasi yang berbeda, penjurusan yang berbeda dan tugas yang berbeda di dalam organisasi membuat tiap individu memiliki pengalaman dan ilmu pengetahuan yang berbeda pula.
Gaya komunikasi seseorang yang berada di dalam organisasi tidaklah selalu dipengaruhi oleh tipologi manusia orang tersebut. Sebab akan ada situasi dimana seseorang tidak secara langsung menunjukkan sifat aslinya. Oleh karena itu berlandasan dari fenomena diatas peneliti tertarik untuk melakukan kajian lebih lanjut mengenai gaya komunikasi yang diaplikasikan oleh personal dalam organisasi tersebut, dalam segi komunikasi antar pribadi maupun penggunaan bahasa mereka serta bagaimana mereka bekerja sama dan dapat bersatu melalui gaya komunikasi masing-masing.
1.2. Fokus Masalah
Berdasarkan konteks masalah yang telah diuraikan di atas, peneliti merumuskan fokus masalah adalah “Tipologi Manusia dan Gaya Komunikasi”.
1.3. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui tipologi manusia para anggota organisasi Pers Mahasiswa PIJAR
2. Untuk mengetahui gaya komunikasi yang dimiliki oleh anggota organisasi Pers Mahasiswa PIJAR.
3. Untuk mengetahui sesuai atau tidaknya gaya komunikasi yang dimiliki oleh anggota organisasi Pers Mahasiswa PIJAR sesuai tipologi manusia.
1.4. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya psikolohi komunikasi.
2. Secara akademis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dan memperkaya khasanah penelitian dan sumber bacaan di lingkungan FISIP USU, khususnya di bidang ilmu komunikasi.
3. Secara praktis, penelitian ini diharapakan dapat memberikan kontribusi bagi masyarakat dalam memahami tipe berbeda yang dimiliki oleh manusia dan gaya komunikasi individu.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Paradigma Kajian
Riset adalah sebuah kegiatan menggambarkan sebuah objek. Menggambarkan sebuah objek terkadang menyulitkan. Becker mendefinisikan perspektif sebagai seperangkat gagasan yang melukiskan karakter situasi yang memungkinkan pengambilan tindakan, suatu spesifikasi jenis-jenis tindakan yang secara layak dan masuk akal dilakukan orang, standar nilai yang memungkinkan orang dapat dinilai (Mulyana, 2006:5). Sedangkan Wimmer & Domininck dalam (Kriyantono, 2006: 48) menyebut pendekatan dengan paradigma, yaitu seperangkat teori, prosedur, dan asumsi yang diyakini tentang bagaimana peneliti melihat dunia. Perspektif tercipta berdasarkan komunikasi antar anggota suatu kelompok selama seseorang menjadi bagian kelompok tersebut.
Menurut Moleong (2009: 49), ada berbagai macam paradigma, tetapi yang mendominasi ilmu pengetahuan adalah Scientifik Paradigm (paradigma ilmiah) dan Naturalistic Paradigm (paradigma alamiah). Paradigma ilmiah bersumber dari pandangan positivisme (lazimnya disebut sebagai paradigma kuantitatif) sedangkan pandangan alamiah bersumber pada pandangan fenomenologis (lazimnya disebut sebagai paradigma kualitatif).
Menurut Mulyana, jenis perspektif atau pendekatan yang disampaikan oleh teoritis bergantung pada bagaimana teoritis itu memandang manusia yang menjadi objek kajian mereka. Adapun metodologi yang digunakan peneliti dalam pembahasannya adalah metode studi kasus kualitatif dengan paradigma konstruktivisme. Asumsi ontologis pada paradigma konstruktivisme menganggap realitas merupakan konstruksi sosial, kebenaran suatu realitas bersifat relatif, berlaku sesuai konteks spesifik yang dinilai relevan oleh pelaku sosial. Selain itu realita juga dianggap sebagai hasil konstruksi mental dari individu pelaku sosial, sehingga
realitas dipahami secara beragam dan dipengaruhi oleh pengalaman, konteks dan waktu (Kriyantono,2006:51).
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan paradigma Konstruktivisme.
Konstruktivisme atau constructivism mempunyai dampak yang luas sekali di bidang komunikasi. Menurut pandangan ini, para individu melakukan interpretasi dan bertindak menurut kategori-kategori konseptual di dalam pemikirannya. Realitas tidak hadir dalam bentuk apa adanya tetapi harus disaring melalui cara seseorang melihat sesuatu. Konstruktivisme sebagian didasarkan pada teori dari George Kelly dalam (Budyatna dan Ganiem, 2011: 221) mengenai konsep-konsep pribadi atau personal constructs yang mengemukakan bahwa orang memahami pengalamannya dengan mengelompokkan dan membedakan peristiwa-peristiwa yang dialaminya menurut persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaannya. Perbedaan-perbedaan yang dipersepsikan tidaklah alamiah tetapi ditentukan oleh sejumlah hal-hal yang berlawanan di dalam sistem kognitif individu.
Kompleksitas kognitif memainkan peranan yang penting di dalam komunikasi. Konsep-konsep antarpribadi terutama penting karena konsep-konsep tersebut mengarahkan bagaimana kita memahami orang lain. Para individu berbeda dalam kompleksitas dengan mana mereka memandang individu lainnya. Bila seorang individu sederhana dalam arti kognitif, individu cenderung melakukan stereotip kepada orang lain, sedangkan bila individu lebih memiliki perbedaan secara kognitif , maka individu akan melakukan perbedaan-perbedaan secara lebih halus dan lebih sensitif. Secara umum, kompleksitas kognitif mengarah kepada pemahaman yang lebih besar mengenai pandangan-pandangan orang lain dan kemampuan yang lebih baik untuk membingkai pesan-pesan dalam arti dapat memahami orang lain.
Konstruktivisme pada dasarnya merupakan teori pilihan strategi atau strategy- choice theory. Prosedur-prosedur penelitian para konstruktivis biasanya menanyakan para subjek untuk memilih tipe-tipe pesan yang berbeda dan mengklasifikasikannya yang berkenaan dengan kategori-kategori strategi (Budyatna dan Ganiem, 2011: 225).
2.2 Kerangka Teori 2.2.1 Kepribadian
Kepribadian merupakan “apa orang itu sesungguhnya” (Hall & Lindzey, 2009: 28).
Kepribadian juga merupakan suatu organisasi psicophysis yang dinamis daripada seseorang yang menyebabkan ia dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya (Sujanto dkk, 2009: 11). Berdasarkan pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa kepribadian meliputi segala corak perilaku dan sifat yang khas dan dapat diperkirakan pada diri seseorang, yang digunakan untuk bereaksi dan menyesuaikan diri terhadap rangsangan, sehingga corak tingkah lakunya itu merupakan satu kesatuan fungsional yang khas bagi individu itu.
2.2.1.1 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepribadian 1. Faktor Biologis
Faktor biologis merupakan faktor yang berhubungan dengan keadaan jasmani, atau seringkali pula disebut faktor fisiologis seperti keadaan genetik, pencernaan, pernafasaan, peredaran darah, kelenjar-kelenjar, saraf, tinggi badan, berat badan, dan sebagainya. Kita mengetahui bahwa keadaan jasmani setiap orang sejak dilahirkan telah menunjukkan adanya perbedaan-perbedaan. Hal ini dapat kita lihat pada setiap bayi yang baru lahir. Ini menunjukkan bahwa sifat-sifat jasmani yang ada pada setiap orang ada yang diperoleh dari keturunan, dan ada pula yang merupakan pembawaan anak/orang itu masing-masing. Keadaan fisik tersebut memainkan peranan yang penting pada kepribadian seseorang.
2. Faktor Sosial
Faktor sosial yang dimaksud di sini adalah masyarakat ; yakni manusia- manusia lain disekitar individu yang bersangkutan. Termasuk juga kedalam faktor sosial adalah tradisi-tradisi, adat istiadat, peraturan-peraturan, bahasa, dan sebagainya yang berlaku dimasyarakat itu. Sejak dilahirkan, anak telah mulai bergaul dengan orang-orang disekitarnya. Dengan lingkungan yang pertama adalah keluarga. Dalam perkembangan anak, peranan keluarga sangat penting dan menentukan bagi pembentukan kepribadian selanjutnya.
Keadaan dan suasana keluarga yang berlainan memberikan pengaruh yang bermacam-macam pula terhadap perkembangan kepribadian anak. Pengaruh lingkungan keluarga terhadap perkembangan anak sejak kecil sangatlah mendalam dan menentukan bagaimana perkembangan kepribadian si anak selanjutnya menuju tahap dewasa. Hal ini dikarenakan keluarga merupakan tempat pertama si anak mendapatkan berbagai pengalaman. Semakin besar seorang anak, maka pengaruh yang diterima dari lingkungan sosial kita semakin besar dan luas, sebab pada saat masih anak-anak, pengalaman serta pengaruh yang kita dapatkan masihlah terbatas.
3. Faktor Kebudayaan
Kebudayaan merupakan faktor yang tidak dapat dilepaskan pada saat anak tumbuh dan berkembang. Sebab setiap kelarga pasti mempunyai kebudayaan yang menjadi salah satu pedoman dalam mendidik anak.
Ada beberapa aspek kebudayaan yang mempunyai pengaruh dalam perkembangan dan pembentukan kepribadian seseorang, antara lain:
a. Nilai-nilai (Values)
Di dalam setiap kebudayaan terdapat nilai-nilai hidup yang dijunjung tinggi oleh manusia-manusia yang hidup dalam kebudayaan itu. Untuk dapat diterima sebagai anggota suatu masyarakat, kita harus memiliki kepribadian yang selaras dengan kebudayaan yang berlaku di masyarakat itu.
b. Adat dan Tradisi.
Adat dan tradisi yang berlaku di suatu daerah, di samping menentukan nilai- nilai yang harus ditaati oleh anggotanya, juga menentukan pula cara-cara bertindak dan bertingkah laku yang akan berdampak pada kepribadian seseorang
c. Pengetahuan dan Keterampilan
Tinggi rendahnya pengetahuan dan keterampilan seseorang atau suatu masyarakat mencerminkan pula tinggi rendahnya kebudayaan masyarakat itu. Makin tinggi kebudayaan suatu masyarakat makin berkembang pula sikap hidup dan cara- cara kehidupannya.
d. Bahasa
Di samping faktor-faktor kebudayaan yang telah diuraikan di atas, bahasa merupakan salah satu faktor yang turut menentukan cirri-ciri khas dari suatu kebudayaan. Betapa erat hubungan bahasa dengan kepribadian manusia yang memiliki bahasa itu. Karena bahasa merupakan alat komunikasi dan alat berpikir yang dapat menunukkan bagaimana seseorang itu bersikap, bertindak dan bereaksi serta bergaul dengan orang lain.
e. Milik Kebendaan (material possessions)
Semakin maju kebudayaan suatu masyarakat/bangsa, makin maju dan modern pula alat-alat yang dipergunakan bagi keperluan hidupnya. Hal itu semua sangat mempengaruhi kepribadian manusia yang memiliki kebudayaan itu.p
2.2.1.2 Tipologi Manusia
Dalam dunia psikologi, terdapat 4 tipe kepribadian, yang diperkenalkan pertama kali oleh Hippocrates (460-370 SM). Hal ini dipengaruhi oleh anggapan bahwa alam semesta beserta isinya tersusun dari empat unsur dasar yaitu: kering, basah, dingin, dan panas. Dengan demikian dalam diri seseorang terdapat empat macam sifat yang didukung oleh keadaan konstitusional berupa cairan-cairan yang ada di dalam tubuhnya, yaitu: sifat kering terdapat dalam chole (empedu kuning), sifat basah terdapat dalam melanchole (empedu hitam), sifat dingin terdapat dalam phlegma (lendir), dan sifat panas terdapat dalam sanguis (darah). Keempat cairan tersebut terdapat di dalam tubuh dengan proporsi tertentu. Jika proporsi cairan-cairan tersebut di dalam tubuh berada dalam keadaan normal, maka individu akan normal atau sehat, namun apabila keselarasan proporsi terganggu, maka individu akan menyimpang dari keadaan normal atau sakit (Suryabrata, 2005: 12).
Pendapat Hippocrates disempurnakan oleh Galenus (129-200 SM) yang mengatakan bahwa di dalam tubuh manusia terdapat 4 macam cairan tersebut dalam proporsi tertentu. Apabila suatu cairan terdapat di dalam tubuh melebihi proporsi yang seharusnya (dominan) maka akan menimbulkan adanya sifat-sifat kejiwaan
yang khas. Sifat-sifat kejiwaan yang khas ada pada seseorang sebagai akibat dari dominannya salah satu cairan tersebut yang oleh Galenus sehingga menggolongkan manusia menjadi empat tipe berdasarkan temperamennya, yaitu Koleris, Melankolis, Phlegmatis, dan Sanguinis (Suryabrata, 2005: 12).
1. Sifat kering terdapat dalam choleri (empedu kuning) 2. Sifat basah terdapat dalam melanchole (empedu hitam) 3. Sifat dingin terdapat dalam flegma (lendir)
4. Sifat panas terdapat dalam sanguis (darah)
Kemudian, teori Hippocrates disempurnakan oleh Galenus. Dia mengatakan bahwa keempat cairan tersebut ada dalam tubuh manusia dalam proporsi tertentu.
Jika salah satu cairan lebih dominan dari cairan yang lain, cairan itu dapat membentuk kepribadian seseorang. Berikut ini adalah penggolongan manusia berdasarkan keempat bentuk cairan tersebut:
a. MELANKOLIS
Orang melankolis biasanya lebih sensiti, peka, sedikit pesimis dan cukup romantic. Orang dengan tipe melankolis biasanya mudah tersentuh dan memiliki rasa empati yang lebih tinggi dibandingkan dengan tipe lainnya. Tak jarang orang melankolis menjadi orang pertama yang ikut merasakan apabila ada seorang teman yang tertimpa musibah. Ia juga dapat diandalkan menjadi pendengar yang baik.
Orang bertipe melankolis biasanya suka menyendiri. Terkadang dia terjebak dalam masa lalu dengan ratusan kisah sedih sambil meratapi nasib dan suka membesar besarkan masalah. Tipe melankolis juga umumnya tertutup, kalau ada masalah biasanya disembunyikan. Kalaupun dibagi, pastilah diceritakan pada orang yang paling dipercaya. Dia juga kadang suka meremehkan diri sendiri, padahal apa yang dikerjakannya mungkin lebih bagus dari orang lain. Sifat lainnya adalah takut pada kegagalan dan idealis.
b. PLEGMATIS
Orang bertipe plegmatis cenderung menghindari konflik dengan orang lain karena mereka merupakan tipe yang tenang dan merasa kedamaian adalah salah satu yang utama. Orang dengan tipe plegmatis juga biasanya merupakan orang yang sabar dan tidak mudah terpengaruh, namun mempunyai rasa humor yang cukup tinggi dan mudah bergaul dengan orang lain.
Orang plegmatis suka pada hal-hal simpel. Dia tidak mau melibatkan diri dalam konflik, bahkan konflik dalam dirinya sendiri. Bagi mereka, kalau ada yang mudah mengapa dipersulit? Selain itu, mereka suka menunda-nunda dalam mengambil keputusan. Sifat tidak bersemangat dan malasnya juga terkadang keterlaluan. Mereka membutuhkan motivasi dan dorongan agar dapat bekerja dengan cepat.
c. SANGUINIS
Orang dengan tipe sanguinis terkenal suka berbicara dan lincah.
Dia memiliki kemampuan komunikasi yang baik serta mengusasai pembicaraan. Sanguinis memiliki hasrat untuk bersenang-senang yang tinggi.
Mereka suka akan ketenaran, perhatian, kasih sayang, dan dukungan dari orang lain. Tipe sanguis juga memiliki rasa optimistis yang tinggi, periang, humoris, dan mudah bergaul. Emosi mereka cepat berubah, sesaat mereka bisa terlihat bahagia namun beberapa saat kemudian menangis bombay. Mereka juga senang mengutarakan candaan sehingga membuat orang orang-orang di sekitarnya senang.
Pada umumnya, orang bertipe sanguinis memiliki pemikiran yang pendek, sulit berkonsentrasi dan tidak teratur. Mereka dapat stres jika hidupnya terasa tak menyenangkan karena orang sanguis takut untuk menjadi tidak populer. Jika misalkan dalam sebuah kelompok ada orang yang banyak omong, dialah si Superstar.
d. KOLERIS
Mereka yang bertipe koleris biasanya suka mengatur dan memerintah orang lain. Dia tidak mau ada orang yang berdiam diri saja sementara dia
sibuk bekerja atau beraktivitas. Orang koleris suka akan tantangan dan petualangan serta perfeksionis. Berkat sifatnya yang tegas, pantang menyerang dan pantang mengalah, tak heran banyak dari usahanya yang sukses. Sebab mereka memang ingin segala sesuatu berjalan seseuia dengan apa yang diinginkan dan yang telah direncanakan.
Sayangnya, mereka adalah orang yang tidak sabaran, lekas marah sebab mudah tersinggung dan juga pendendam.. Segalanya harus cepat karena memang produktivitas mereka tinggi. Jadi kalau kamu mempunyai teman yang suka uring uringan, sering berkata kasar dan gampang marah, dialah si koleris. Mereka juga suka akan kontoversi dan pertengkaran, bertolak belakang dengan dengan plegmatis yang cinta damai. Sifat mereka juga kurang simpatik dengan sesama dan suka memanipulasi atau memperalat orang lain. Jika melakukan kesalahan, mereka sangat susah meminta maaf.
Tipe koleris sedikit mirip dengan sanguis, mereka gampang bergaul dan optimistis. Selain itu, mereka juga bisa berkomunikasi dengan baik dan terbuka dengan orang lain.
TABEL 2.01
Kekuatan Tipologi Manusia
TIPOLOGI MANUSIA KEKUATAN
SANGUINIS
Suka bicara
Secara fisik memegang pendengar, emosional dan demonstrative
Antusias dan ekspresif
Ceria dan penuh rasa ingin tahu
Hidup di masa sekarang
Mudah berubah (banyak kegiatan / keinginan)
Berhati tulus dan kekanak-kanakan
Senang kumpul dan berkumpul (untuk bertemu dan bicara)
Umumnya hebat di permukaan
Mudah berteman dan menyukai orang lain
Senang dengan pujian dan ingin menjadi perhatian
Menyenangkan dan dicemburui orang lain
Mudah memaafkan (dan tidak menyimpan dendam)
Mengambil inisiatif/ menghindar dari hal-hal atau keadaan yang membosankan
Menyukai hal-hal yang spontan
MELANKOLIS
Analitis, mendalam, dan penuh pikiran
Serius dan bertujuan, serta berorientasi jadwal
Artistik, musikal dan kreatif (filsafat & puitis)
Sensitif
Mau mengorbankan diri dan idealis
Standar tinggi dan perfeksionis
Senang perincian/memerinci, tekun, serba tertib dan teratur (rapi)
Hemat
Melihat masalah dan mencari solusi pemecahan
kreatif (sering terlalu kreatif)
Kalau sudah mulai, dituntaskan.
Berteman dengan hati-hati.
Puas di belakang layar, menghindari perhatian.
Mau mendengar keluhan, setia dan mengabdi
Sangat memperhatikan orang lain
Menghindari Perhatian
PLEGMATIS
Mudah bergaul, santai, tenang dan teguh
Sabar, seimbang, dan pendengar yang baik
Tidak banyak bicara, tetapi cenderung bijaksana
Simpatik dan baik hati (sering menyembunyikan emosi)
Kuat di bidang administrasi, dan cenderung ingin segalanya terorganisasi
Penengah masalah yg baik
Cenderung berusaha menemukan cara termudah
Baik di bawah tekanan
Menyenangkan dan tidak suka menyinggung perasaan
Rasa humor yg tajam
Senang melihat dan mengawasi
Berbelaskasihan dan peduli
Mudah diajak rukun dan damai
Bijaksana
Menyenangkan
KOLERIS
Senang memimpin, membuat keputusan, dinamis dan aktif (Seorang Leader)
Pengambil Keputusan
Dinamis
Aktif
Sangat memerlukan perubahan dan harus mengoreksi kesalahan
Berkemauan keras dan pasti untuk mencapai
sasaran/ target
Bebas dan mandiri
Berani menghadapi tantangan dan masalah
“Hari ini harus lebih baik dari kemarin, hari esok harus lebih baik dari hari ini”.
Mencari pemecahan praktis dan bergerak cepat
Mendelegasikan pekerjaan dan orientasi berfokus pada produktivitas
Membuat dan menentukan tujuan
Terdorong oleh tantangan dan tantangan
Tidak begitu perlu teman
Mau memimpin dan mengorganisasi
Biasanya benar dan punya visi ke depan
Unggul dalam keadaan darurat
Sumber : Personality Plus
2.2.2 Gaya Komunikasi
Proses komunikasi seseorang dipengaruhi oleh gaya komunikasi. Gaya komunikasi adalah suatu kekhasan yang dimiliki setiap orang dan gaya komunikasi antara orang yang satu dengan yang lain berbeda. Perbedaan antara gaya komunikasi antara satu orang dengan yang lain dapat berupa perbedaan dalam ciri-ciri model dalam berkomunikasi, tata cara berkomunikasi, cara berekspresi dalam berkomunikasi dan tanggapan yang diberikan atau ditunjukkan pada saat berkomunikasi
2.2.2.1 Gaya Komunikasi
Manusia mengucapkan atau menuliskan kata-kata untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan yang memotivasi, menyatakan belas kasihan, menyatakan kemarahan, menyatakan pesan agar suatu perintah cepat dikerjakan. Semua kombinasi ini adalah gaya komunikasi, gaya yang berperan untuk menentukan batas-batas tentang kenyataan dunia yang sedang dihadapi, tentang relasi dengan sesama tentang hubungan dengan suatu konsep tertentu. Keterampilan berkomunikasi melalui gaya komunikasi, mengisyaratkan kesadaran diri pada level yang tinggi. Setiap orang mempunyai gaya komunikasi yang bersifat personal, itu gaya khas seseorang waktu berkomunikasi.
Norton (1983), Kirtley dan Weaver (1999) (dalam Liliweri 2011: 309) mendefenisikan gaya komunikasi sebagai proses kognitif yang mengakumulasikan bentuk suatu konten agar dapat dinilai secara makro. Setiap gaya selalu merefleksikan bagaimana setiap orang menerima dirinya ketika dia berinteraksi dengan orang lain).
Selain itu, Raynes (2011) (dalam Liliweri 2011: 309) juga memandang gaya komunikasi sebagai campuran unsur-unsur komunikasi lisan dan ilustratif. Pesan- pesan verbal individu yang digunakan untuk berkomunikasi diungkapkan dalam kata- kata tertentu yang mencirikan gaya komunikasi. Ini termasuk nada, volume atas semua pesan yang diucapkan
Gaya komunikasi dapat dilihat dan diamati ketika seseorang berkomunikasi baik secara verbal (bicara) maupun nonverbal (ekspresi wajah, gerakan tubuh dan tangan serta gerakan anggota tubuh lainnya). Berbagai gaya komunikasi yang digunakan orang tua berbeda-beda, meskipun terkadang ada persamaan. Proses komunikasi yang dilakukan orang tua-nya untuk mendidik anaknya dipengaruhi oleh gaya komunikasi.
Gaya komunikasi adalah suatu kekhasan yang dimiliki setiap orang dan gaya komunikasi antara orang yang satu dengan orang lainnya berbeda. Perbedaan antara gaya komunikasi antara satu orang dengan yang lain dapat berupa perbedaan dalam ciri-ciri model dalam berkomunikasi, tata cara berkomunikasi, cara berekspresi dalam berkomunikasi dan tanggapan yang diberikan atau ditunjukkan pada saat
berkomunikasiDitambahkan oleh (Widjaja, 2000) Gaya komunikasi merupakan cara penyampaian dan gaya bahasa yang baik. Gaya yang dimaksud sendiri dapat bertipe verbal yang berupa kata-kata atau nonverbal berupa vokalik, bahasa badan, penggunaan waktu, dan penggunaan ruang dan jarak. Pengalaman membuktikan bahwa gaya komunikasi sangat penting dan bermanfaat karena akan memperlancar proses komunikasi dan menciptakan hubungan yang harmonis. Masing-masing gaya komunikasi terdiri dari sekumpulan perilaku komunikasi yang dipakai untuk mendapatkan respon atau tanggapan tertentu dalam situasi yang tertentu pula.
Kesesuaian dari satu gaya komunikasi yang digunakan, bergantung pada maksud dari pengirim (sender) dan harapan dari penerima (receiver).
Sedangkan gaya Komunikasi yang akan kita jadikan acuhan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1) The Controlling Style
Gaya komunikasi yang bersifat mengendalikan ini, ditandai dengan adanya satu kehendak atau maksud untuk membatasi, memaksa dan mengatur perilaku, pikiran dan tanggapan orang lain. Orang-orang yang menggunakan gaya komunikasi ini dikenal dengan nama komunikator satu arah atau one-way communications.
Pihak-pihak yang memakai controlling style of communication ini, lebih memusatkan perhatian kepada pengiriman pesan dibanding upaya mereka untuk berharap pesan.. Mereka tidak mempunyai rasa ketertarikan dan perhatian untuk berbagi pesan. Mereka tidak mempunyai rasa ketertarikan dan perhatian pada umpan balik, kecuali jika umpan balik atau feedback tersebut digunakan untuk kepentingan pribadi mereka. Para komunikator satu arah tersebut tidak khawatir dengan pandangan negatif orang lain, tetapi justru berusaha menggunakan kewenangan dan kekuasaan untuk memaksa orang lain mematuhi pandangan-pandangannya.
Pesan-pesan yag berasal dari komunikator satu arah ini, tidak
berusaha „menjual‟ gagasan agar dibicarakan bersama namun lebih pada usaha menjelaskan kepada orang lain apa yang dilakukannya. The controlling style of communication ini sering dipakai untuk mempersuasi orang lain supaya bekerja dan bertindak secara efektif, dan pada umumnya dalam bentuk kritik. Namun demkian, gaya komunikasi yang bersifat mengendalikan ini, tidak jarang bernada negatif sehingga menyebabkan orang lain memberi respons atau tanggapan yang negatif pula.
2) The Equalitarian Style
Aspek penting gaya komunikasi ini ialah adanya landasan kesamaan.
The equalitarian style of communication ini ditandai dengan berlakunya arus penyebaran pesan-pesan verbal secara lisan maupun tertulis yang bersifat dua arah (two-way traffic of communication). Dalam gaya komunikasi ini, tindak komunikasi dilakukan secara terbuka. Artinya, setiap anggota organisasi dapat mengungkapkan gagasan ataupun pendapat dalam suasana yang rileks, santai dan informal. Dalam suasana yang demikian, memungkinkan setiap anggota organisasi mencapai kesepakatan dan pengertian bersama.
Orang-orang yang menggunakan gaya komunikasi yang bermakna kesamaan ini, adalah orang-orang yang memiliki sikap kepedulian yang tinggi serta kemampuan membina hubungan yang baik dengan orang lain baik dalam konteks pribadi maupun dalam lingkup hubungan kerja. The equalitarian style ini akan memudahkan tindak komunikasi dalam organisasi, sebab gaya ini efektif dalam memelihara empati dan kerja sama, khususnya dalam situasi untuk mengambil keputusan terhadap suatu permasalahan yang kompleks. Gaya komunikasi ini pula yang menjamin berlangsungnya tindakan share/berbagi informasi di antara para anggota dalam suatu organisasi.
3) The Structuring Style
Gaya komunikasi yang berstruktur ini, memanfaatkan pesan- pesan verbal secara tertulis maupun lisan guna memantapkan perintah yang harus dilaksanakan, penjadwalan tugas dan pekerjaan serta struktur organisasi.
Pengirim pesan (sender) lebih memberi perhatian kepada keinginan untuk mempengaruhi orang lain dengan jalan berbagi informasi tentang tujuan organisasi, jadwal kerja, aturan dan prosedur yang berlaku dalam organisasi tersebut.
Stogdill dan Coons dari The Bureau of Business Research of Ohio State University, menemukan dimensi dari kepemimpinan yang efektif, yang mereka beri nama Struktur Inisiasi atau Initiating Structure. Stogdill dan Coons menjelaskan mereka bahwa pemrakarsa (initiator) struktur yang efisien adalah orang-orang yang mampu merencanakan pesan-pesan verbal guna lebih memantapkan tujuan organisasi, kerangka penugasan dan memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul.
4) The Dynamic Style
Gaya komunikasi yang dinamis ini memiliki kecenderungan agresif, karena pengirim pesan atau sender memahami bahwa lingkungan pekerjaannya berorientasi pada tindakan (action-oriented). The dynamic style of communication ini sering dipakai oleh para juru kampanye ataupun supervisor yang membawa para wiraniaga (salesmen atau saleswomen).
Tujuan utama gaya komunikasi yang agresif ini adalah mestimulasi atau merangsang pekerja/karyawan untuk bekerja dengan lebih cepat dan lebih baik. Gaya komunikasi ini cukup efektif digunakan dalam mengatasi persoalan-persoalan yang bersifat kritis, namun dengan persyaratan bahwa karyawan atau bawahan mempunyai kemampuan yang cukup untuk mengatasi masalah yang kritis tersebut.
5) The Relinguishing Style
Gaya komunikasi ini lebih mencerminkan kesediaan untuk menerima
saran, pendapat ataupun gagasan orang lain, daripada keinginan untuk memberi perintah, meskipun pengirim pesan (sender) mempunyai hak untuk memberi perintah dan mengontrol orang lain.
Pesan-pesan dalam gaya komunikasi ini akan efektif ketika pengirim pesan atau sender sedang bekerja sama dengan orang-orang yang berpengetahuan luas, berpengalaman, teliti serta bersedia untuk bertanggung jawab atas semua tugas atau pekerjaan yang dibebankannya.
6) The Withdrawal Style
Akibat yang muncul jika gaya ini digunakan adalah melemahnya tindak komunikasi, artinya tidak ada keinginan dari orang-orang yang memakai gaya ini untuk berkomunikasi dengan orang lain, karena ada beberapa persoalan ataupun kesulitan antarpribadi yang dihadapi oleh orang- orang tersebut.
Dalam deskripsi yang kongkrit adalah ketika seseorang mengatakan:
“Saya tidak ingin dilibatkan dalam persoalan ini”. Pernyataan ini bermakna bahwa ia mencoba melepaskan diri dari tanggung jawab, tetapi juga mengindikasikan suatu keinginan untuk menghindari berkomunikasi dengan orang lain. Oleh karena itu, gaya ini tidak layak dipakai dalam konteks komunikasi organisasi. Gambaran umum yang diperoleh dari uraian di atas adalah bahwa the equalitarian style of communication merupakan gaya komunikasi yang ideal. Sementara tiga gaya komunikasi lainnya:
structuring, dynamic dan relinguishing dapat digunakan secara strategis untuk menghasilkan efek yang bermanfaat bagi organisasi. Dan dua gaya komunikasi terakhir: controlling dan withdrawal mempunyai kecenderungan menghalangi berlangsungnya interaksi yang bermanfaat.
Dari ke-enam gaya komunikasi tersebut akan dijadikan sebagai acuhan dan bahan yang pling penting dalam penelitian ini, karena penelitian ini akan mencari tahu dari gaya komunikasi tersebut di atas yang mana yang
dipakai oleh anggota organisasi Karang Taruna Jiwo Suto Pangkahkulon Ujungpangkah Gresik dalam berkomunikasi dengan anggota lain ataupun dengan ketua dan pengurus yang aktif dalam organisasi tersebut.
2.2.3 Komunikasi Organisasi
Ada beberapa definisi mengenai organisasi, diantaranya :Organisasi adalah sekelompok orang yang terbiasa mematuhi perintah para pemimpinnya dan yang tertarik pada kelanjutan dominasi partisipasi mereka dan keuntungan yang dihasilkan, yang membagi diantara mereka praktekpraktek dari fungsi tersebut yang siap melayani untuk praktek mereka. (Max Weber, dalam Miftah Thoha, 1988)
1. Organisasi dapat didefinisikan sebagai struktur hubungan kekuasaan dan kebiasaan orang-orang dalam suatu sistem administrasi. (Dwight Waldo, dalam Thoha, 1988).
2. Organisasi adalah lembaga sosial dengan ciri-ciri khusus : secara sadar dibentuk pada suatu waktu tertentu, para pendirinya mencanangkan tujuan yang biasanya digunakan sebagai simbol legitimasi, hubungan antara anggotanya dan sumber kekuasaan formal ditentukan secara relatif jelas walaupun seringkali pokok pembicaraan dan perencanaan diubah oleh para anggota-anggotanya yang membutuhkan koordinasi atau pengawasan (Silverman, dalam Thoha, 1988).
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa organisasi sesungguhnya merupakan kumpulan individu yang berada dalam suatu wadah kerjasama untuk mencapai tujuan-tujuan yang sudah ditentukan sebelumnya. Di dalam organisasi terdapat struktur formal dan informal. Struktur formal adalah struktur organisasi dengan penempatan individu dan jabatan-jabatan tertentu sesuai kemampuannya dengan tujuan untuk memperlancar pelaksanaan kegiatan dalam organisasi. Terdapat rangkaian hierarki antara atasan dan bawahan yang sifatnya dinamis, artinya bahwa individu-individu yang menduduki jabatan-jabatan dalam rangkaian tersebut dapat berganti-ganti pada setiap hari bila diperlukan. Sedangkan
struktur informal adalah hubungan-hubungan yang tercipta di luar hubungan kerja.
Struktur informal ini melayani kebutuhan manusiawi para individunya dan mempertahankan mereka pada satu kesatuan. Kedua hubungan ini saling mendukung untuk menciptakan suasana di dalam suatu organisasi.
2.2.3.1 Proses Komunikasi Organisasi
Menurut Effendy (2006:122) proses komunikasi organisasi terbagi dua, yaitu : komunikasi internal dan komunikasi eksternal.
a. Komunikasi Internal
Menurut Brennan dalam Effendy (2006:122), komunikasi internal sebagai pertukaran gagasan diantara para anggota dan anggota dalam suatu organisasi, dalam struktur lengkap yang khas disertai perukaran gagasan secara horizontal dan vertikal didalam organisasi, sehingga pekerjaan berjalan (operasi dan manajemen).
Sedangkan menurut peneliti, komunikasi internal adalah komunikasi yang terjadi antara atasan dan bawahan, atau sebaliknya antara anggota dengan atasan, atau antara anggota dengan anggota dalam suatu organisasi.
Dalam komunikasi internal ada tiga dimensi, terdiri atas ; a. Komunikasi Vertikal
Komunikasi vertikal adalah komunikasi dari atas ke bawah, dan dari anggota ke pimpinan dengan cara timbal balik (two ways traffic communication). Dalam komunikasi vertikal terbagi atas dua, yaitu :
1) Komunikasi vertikal ke bawah (Downward communication) Yaitu komunikasi dari atas ke bawah. contoh : pimpinan memberikan instruksi, petunjuk, informasi, penjelasan, perintah, pengumuman, rapat, majalah intern.
2) Komunikasi vertikal ke atas (Upward Communication) Adalah komunikasi dari bawah ke atas. Contoh: anggota memberikan laporan, saran-saran, pengaduan, kritikan, kotak saran, dan sebagainya kepada pimpinan.
Komunikasi dalam bentuk ini membantu para pimpinan untuk selalu peka terhadap perasaan anggota akan pekerjaan mereka, rekan kerja, dan organisasi pada umumnya. Para pimpinan organisasi bergantung kepada komunikasi ini untuk
mendapatkan gagasan guna berhubungan dengan ide-ide tentang bagaimana meningkatkan kinerja.
b. Komunikasi Horisontal
Komunikasi Horisontal adalah komunikasi mendatar, antara anggota dengan anggota. Berlangsung tidak formal,lain dengan komunikasi vertikal yang formal.
komunikasi tidak terjadi dalam suasana kerja, sehingga sering menimbulkan desas- desus yang biasanya mengenai hal-hal yang menyangkut pekerjaan mereka atau tindakan pimpinan yang merugikan mereka.
Menurut Goldhaber yang dikutip dari Tubbs dan Moss (1996:186), ada empat fungsi komunikasi horizontal, yaitu:
a) Koordinasi tugas b) Penyelesaian masalah c) Berbagi informasi d) Penyelesaian konflik
c. Komunikasi Diagonal
Komunikasi diagonal sering disebut dengan komunikasi silang (cross communication) adalah komunikasi antara pimpinan seksi dengan pegawai seksi lain.
b. Komunikasi Eksternal
Menurut Effendy (2006:128), komunikasi eksternal adalah komunikasi antara pimpinan organisasi dengan khalayak diluar organisasi. Komunikasi eksternal terdiri dari dua jalur secara timbal balik, yakni: Komunikasi dari organisasi kepada khalayak, dan Komunikasi dari khalayak kepada organisasi.
2.2.2 Komunikasi Antarpribadi
Kehidupan manusia ditandai dengan pergaulan di antara manusia dalam keluarga, lingkungan masyarakat, sekolah, tempat kerja, organisasi sosial dan sebagainya. Semuanya ditunjukkan tidak saja pada derajat suatu pergaulan, frekuensi
bertemu, jenis relasi, mutu dari interaksi-interaksi di antara mereka tetapi juga terletak pada seberapa jauh keterlibatan di antara mereka satu dengan yang lainnya, saling mempengaruhi.
Komunikasi antarpribadi merupakan satu proses sosial dimana orang-orang yang terlibat didalamnya saling mempengaruhi. Ada 3 pendekatan umum yang dikemukakan De Vito (2007) dalam komunikasi antar pribadi, yaitu:
a. Komunikasi antar pribadi didefenisikan sebagai pengiriman pesan oleh seseorang dan menerima pesan dari orang lain atau sekelompok kecil orang dengan efek langsung.
b. Komunikasi antar pribadi merupakan komunikasi antara 2 orang yang ada hubungan di antara keduanya.
c. Komunikasi antar pribadi merupakan bentuk perkembangan/peningkatan komunikasi pribadi.
2.2.2.1 Jenis-jenisKomunikasi Antarpribadi
Secara teoritis komunikasi antarpribadi diklasifikasikan menjadi dua jenis menurut sifatnya (Effendy, 2003) yaitu :
1. Komunikasi diadik (dyadic communication)
Komunikasi diadik adalah komunikasi antar pribadi yang berlangsung antara dua orang yakni seorang adalah komunikator yang menyampaikan pesan dan seorang lagi komunikan yang menerima pesan. Oleh karena perilaku komunikasinya dua orang, maka dialog yang terjadiberlangsung secara intens. Komunikator memusatkan perhatiannya hanya kepada diri komunikan. Situasi komunikasi seperti itu akan nampak dalam komunikasi triadik atau komunikasi kelompok, baik kelompok dalam bentuk keluarga maupun dalam bentuk kelas atau seminar.
Dalam suatu kelompok terdapat kecenderungan terjadinya pemilihan interaksi seseorang dengan seseorang yang mengacu kepada apa yang disebut primasi diadik (dyadic primacy) (Devito, 1979) yang dimaksudkan dengan primaci diadik ini ialah
setiap dua orang dari sekian banyak dalam kelompok itu yang terlihat dalam komunikasi berdasarkan kepentingan masing-masing.
2. Komunikasi triadik (triadic communication)
Komunikasi triadik ini adalah komunikasi antarpribadi yang pelakunya terdiri dari tiga orang, yakni seorang komunikator dan dua orang komunikan. Jika misalnya A yang menjadi komunikator , maka ia pertama-tama menyampaikan kepada komunikan B, kemudian kalau dijawab atau ditanggapi , beralih kepada komunikan C, juga secara berdialogis. Apabila dibandingkan dengan komunikasi diadik, maka komunikasi diadik lebih efektif, karena komunikator memusatkan perhatiannya kepada seorang komunikan, sehingga ia dapat menguasaiframe of reference komunikan sepenuhnya, juga umpan balik yang berlangsung kedua faktor yang sangat berpengaruh terhadap efektif tidaknya proses komunikasi.
Walaupun demikian dibandingkan dengan bentuk-bentuk komunikasi lainnya, misalnya komunikasi kelompok dan komunikasi massa, komunikasi triadik karena merupakan komunikasi antarpribadi lebih efektif dalam kegiatan mengubah sikaf, opini, atau prilaku komunikan (Effendy, 2003).
2.2.2.3. TujuanKomunikasi Antarpribadi
Komunikasi antar pribadi memiliki beberapa tujuan. Menurut De Vito (2007) terdapat empat tujuan komunikasi antar pribadi, yaitu :
1. Mengurangi kesepian
Kontak dengan sesama manusia akan mengurangi kesepian. Adakalanya kita mengalami kesepian karena secara fisik kita sendirian. Di lain pihak, kita kesepian karena meskipun mungkin bersama orang lain, kita mempunyai kebutuhan akan kontak dekat. Dalam upaya mengurangi kesepian, orang berusaha memiliki banyak kenalan. Satu hubungan yang dekat biasanya berdampak lebih baik.
2. Mendapatkan rangsangan
Manusia membutuhkan stimuli. Salah satu cara agar manusia mendapatkan stimuli adalah dengan melakukan kontak antar manusia.
3. Mendapatkan pengetahuan diri
Sebagian besar melalui kontak antar manusialah kita dapat mengetahui diri sendiri. Persepsi mengenai diri sendiri sangat dipengaruhi oleh apa yang kita yakini dan pikiran orang lain tentang kita.
2.2.2.4 Karakteristik Komunikasi Antarpribadi
Liliweri (1991) mengemukakan ciri-ciri komunikasi antar pribadi yang lain, yaitu:
1. Komunikasi antar pribadi biasanya terjadi secara spontan dan sambil lalu.
2. Komunikasi antar pribadi tidak mempunyai tujuan terlebih dahulu
3. Komunikasi antar pribadi terjadi secara kebetulan di antara peserta yang tidak mempunyai identitas yang jelas
4. Komunikasi antar pribadi mempunyai akibat yang disengaja maupun tidak disengaja
5. Komunikasi antar pribadi seringkali berlangsung berbalas-balasan
6. Komunikasi antar pribadi menghendaki paling sedikit dua orang dengan suasana yang bebas, bervariasi, adanya keterpengaruhan
7. Komunikasi antar pribadi tidak dikatakan tidak sukses jika tidak membuahkan hasil.
8. Komunikasi antar pribadi menggunakan lambang-lambang bermakna.
Komunikasi antar pribadi yang baik adalah komunikasi yang memiliki ciri keterbukaan, kepekaan dan bersifat umpan balik. Individu merasa puas berkomunikasi antarpribadi bila ia dapat mengerti orang lain dan merasa bahwa orang lain juga memahami dirinya. Komunikasi antar pribadi antara dua individu, karenanya pemahaman komunikasi dan hubungan antarpribadi menempatkan
pemahaman mengenai komunikasi dalam proses psikologis. Percakapan yang sifatnya pribadi, hanya dapat dilaksanakan melalui komunikasi antar pribadi. Hal ini dikarenakan komunikasi antar pribadi melibatkan pribadi dan terjalin melalui interaksi secara langsung di antara pribadi-pribadi yang sudah saling mengenal, sehingga pesan yang disampaikan lebih mudah diterima, dimengerti dan dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
Ketepatan yang tinggi dapat dicapai apabila antara komunikator dan komunikan mempunyai pengalaman dan latar belakang yang sama, dengan demikian keefektifan komunikasi antar pribadi dapat terjadi. Orang tua dan anak yang hidup dalam suatu keluarga tentunya mempunyai pengalaman dan latar belakang yang sama. Anak belajar dari orang tua sehingga pengalaman dan pengetahuan orang tua banyak diberikan kepada anaknya.
De Vito (2007) menjelaskan karakteristik komunikasi antar pribadi yang efektif dapat dilihat dari dua perspektif, yaitu:
1. Perspektif Humanistik, meliputi sifat-sifat:
a. Keterbukaan (Openness)
Proses komunikasi antar pribadi dapat berlangsung efektif bila pribadi-pribadi yang terlibat dalam proses komunikasi antar pribadi harus saling memiliki keterbukaan, dengan demikian lebih mudah mencapai komunikasi efektif. Sikap keterbukaan paling tidak menunjuk pada dua aspek dalam komunikasi antarpribadi.
Pertama, kita harus terbuka pada orang lain yang berinteraksi dengan kita, yang penting adalah adanya kemauan untuk membuka diri pada masalah-masalah yang umum, agar orang lain mampu mengetahui pendapat, gagasan, atau pikiran kita sehingga komunikasi akan mudah dilakukan.
Dari keterbukaan menunjuk pada kemauan kita untuk memberikan tanggapan terhadap orang lain secara jujur dan terus terang terhadap segala sesuatu yang dikatakannya. Keterbukaan atau sikap terbuka sangat berpengaruh dalam menumbuhkan komunikasi antarpribadi yang efektif. Keterbukaan adalah pengungkapan reaksi atau tanggapan kita terhadap situasi yang sedang dihadapi serta
memberikan informasi tentang masa lalu yang relevan untuk memberikan tanggapan kita di masa kini tersebut.
Johnson Supratiknya, (1995) mengartikan keterbukaan diri yaitu membagikan kepada orang lain perasaan kita terhadap sesuatu yang telah dikatakan atau dilakukan, atau perasaan kita terhadap kejadiankejadian yang baru saja kita saksikan. Secara psikologis, apabila individu mau membuka diri kepada orang lain, maka orang lain yang diajak bicara akan merasa aman dalam melakukan komunikasi antarpribadi yang akhirnya orang lain tersebut akan turut membuka diri.
Brooks dan Emmert (Rahmat, 2005) mengemukakan bahwa karakteristik orang yang terbuka adalah sebagai berikut:
a. Menilai pesan secara objektif, dengan menggunakan data dan keajegan logika.
b. Membedakan dengan mudah, melihat nuansa, dan sebagainya.
c. Mencari informasi dari berbagai sumber
d. Mencari pengertian pesan yang tidak sesuai dengan rangkaian kepercayaannya.
b. Empati (emphaty)
Empati adalah merasakan apa yang dirasakan orang lain. Adanya empati komunikator dapat merasakan perasaan komunikan sehingga setiap pesan yang disampaikan sesuai dengan keinginan komunikator dan komunikan. Komunikasi antarpribadi dapat berlangsung kondusif apabila komunikator (pengirim pesan) menunjukkan rasa empati pada komunikan (penerima pesan).
Menurut Sugiyo (2005) empati dapat diartikan sebagai menghayati perasaan orang lain atau turut merasakan apa yang dirasakan orang lain. Sementara Surya (Sugiyo, 2005) mendefinisikan bahwa empati adalah sebagai suatu kesediaan untuk memahami orang lain secara paripurna baik yang nampak maupun yang terkandung, khususnya dalam aspek perasaan, pikiran dan keinginan. Individu dapat menempatkan diri dalam suasana perasaan, pikiran dan keinginan orang lain sedekat mungkin apabila individu tersebut dapat berempati. Apabila empati tersebut tumbuh dalam proses komunikasi antarpribadi, maka suasana hubungan komunikasi akan dapat berkembang dan tumbuh sikap saling pengertian dan penerimaan.