• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB III METODOLOGI PENELITIAN"

Copied!
37
0
0

Teks penuh

(1)

43

Perancangan Rebranding Batik…, Bernice Priscillia, Universitas Multimedia Nusantara

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang dilakukan oleh penulis yaitu mix method yang merupakan gabungan dari metode kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif diperoleh dengan melakukan penyebaran kuisioner secara online sedangkan data kualitatif diperoleh dengan wawancara dengan ahli, studi eksisting, dan studi referensi.

3.1.1 Wawancara

Wawancara dilakukan sebagai acuan untuk mengumpulkan data dan menemukan permasalahan pada brand Batik Bogor Tradisiku. Wawancara dilakukan penulis sebanyak dua kali. Wawancara pertama bertujuan untuk mengetahui latar belakang, aneka ragam produk yang dijual, dan upaya promosi yang telah dilakukan Batik Bogor Tradisiku untuk meningkatkan awareness brandnya. Wawancara kedua ini bertujuan untuk meneliti lebih dalam mengenai permasalahan brand, brand image, makna identitas brand, dan upaya yang telah dilakukan untuk regenerasi target dan meningkatkan awareness target baru yang disasar. Berikut hasil wawancara yang didapatkan:

3.1.1.1 Wawancara Pertama dengan Manager Operasional Batik Bogor Tradisiku

Gambar 3.1 Wawancara 1

(2)

44

Perancangan Rebranding Batik…, Bernice Priscillia, Universitas Multimedia Nusantara

Wawancara dilaksanakan penulis bersama dengan manajer operasional Batik Bogor Tradisiku yaitu Ibu Lisha. Dilaksanakan pada tanggal 9 Mei 2021 pukul 16.00 WIB melalui platform Zoom untuk mengenal Batik Bogor Tradisiku lebih dalam.

1) Latar Belakang, Tujuan, Target, dan Penjualan

Penulis memulai wawancara dengan menanyakan latar belakang Batik Bogor Tradisiku (BBT), lalu Bu Lisha menceritakannya dengan singkat bahwa Batik Bogor Tradisiku merupakan pelopor batik Bogor pertama yang berdiri pada 13 Januari 2008 oleh Bapak Syamhudi Siswaya. Tujuan berdirinya Batik Tradisiku ini yaitu untuk membuka lapangan kerja, menjaga agar batik tidak dianggap budaya milik negara lain, membuka LKP (lembaga kursus pelatihan) untuk memasyarakatkan batik di Kota Bogor, juga memberikan ragam hias untuk menambah khasanah batik Nusantara. Batik Bogor Tradisiku (BBT) memiliki visi menjadi industri kecil menengah (IKM) batik Bogor terdepan, juga misi untuk mengedepankan kualitas produk dan kepercayaan konsumen.

Slogan atau motto brandnya yaitu “Mari Jadikan Batik Bogor Tradisiku Sebagai Tradisi”. Terdapat dua target market awal BBT yaitu target dalam penjualan retail dan corporate, dengan rentang usia 25 hingga 54 tahun. Pembeli dapat membeli produk BBT secara satuan ataupun dalam jumlah yang banyak.

Rata-rata penjualan pertahunnya mencapai 750 hingga 1000 orang. Sebelum adanya pandemi covid-19 penjualan BBT dilakukan 90% secara offline. Banyak pembeli maupun pengunjung datang secara langsung ke Galeri BBT untuk melihat produk secara langsung dan melakukan pembelian.

Namun dengan adanya pandemi covid-19 ini penjualan produk juga dilakukan secara online.

(3)

45

Perancangan Rebranding Batik…, Bernice Priscillia, Universitas Multimedia Nusantara

2) Produk yang dijual, Konsep, Kompetitor, dan Keunggulan Terdapat tiga jenis batik yang dijual di BBT yaitu batik tulis, cap, dan kombinasi tulis dan cap. Semua jenis tersebut dituangkan dalam produk dengan bentuk kain, pakaian, pernak-pernik, hingga mozaik batik. Produk yang dijual ada pula yang limited edition. Batik Bogor Tradisiku mengangkat konsep batik kontemporer dengan ikon-ikon khas Kota Bogor seperti kujang, kijang, rusa dan lainnya. Memiliki ciri khas warna ungu kebiruan dalam batiknya mengacu pada sejarah Kerajaan Pakuan Pajajaran. Batik Bogor Tradisiku terintegrasi workshop, galeri, penjahitan, dan tempat kursus (tempat belajar dan pelatihan). Dalam segi kompetitor yaitu IKM batik Bogor yang mulai banyak berkembang hingga brand batik Jawa seperti Danar Hadi, Batik Keris, Batik Semar, dan lainnya. Keunggulan yang dimiliki BBT dibandingkan dengan kompetitornya yaitu adanya workshop yang mengedukasi masyarakat terhadap batik, galeri dan penjahitan berada di satu tempat yang sama, bisa custom motif dan warna, serta garansi 100% tidak luntur.

3) Promosi

Promosi Batik Bogor Tradisiku dilakukan di berbagai media yaitu Instagram, Facebook, Twitter, e-catalog, videotron, selain itu flyer, brosur, hingga kartu nama yang disertakan ke dalam kantong belanja konsumen. Konten di media sosial saling terkait sehingga memiliki isi yang tidak jauh berbeda.

Selain itu, BBT pernah melakukan co-branding dengan para desainer, salah satunya Ivan Gunawan.

(4)

46

Perancangan Rebranding Batik…, Bernice Priscillia, Universitas Multimedia Nusantara

3.1.1.2 Wawancara Kedua dengan Manajer Operasional Batik Bogor Tradisiku

Gambar 3.2 Wawancara 2

Wawancara dilaksanakan penulis bersama dengan manajer operasional Batik Bogor Tradisiku yaitu Ibu Lisha. Dilaksanakan pada tanggal 15 September 2021 pukul 08.30 WIB melalui platform Zoom untuk mendapatkan data yang mendalam mengenai Batik Bogor Tradisiku.

1) Identitas Brand Batik Bogor Tradisiku (logo, nama, nilai)

Gambar 3.3 Logo Lama Batik Bogor Tradisiku

Gambar 3.4 Logo Baru Batik Bogor Tradisiku

Batik Bogor Tradisiku (BBT) pernah melakukan perubahan logo, logo yang awalnya hanya typeface T dengan bingkai batik, lalu berubah menjadi logo jenis emblem yang menggabungkan tipografi nama brand dengan suatu bentuk

(5)

47

Perancangan Rebranding Batik…, Bernice Priscillia, Universitas Multimedia Nusantara

bingkai batik menggambarkan sesuatu yang klasik dengan banyak ukiran, lekukan, dan goresan batik. Huruf T diambil dari inisial nama galerinya yaitu Tradisiku merupakan harapan bahwa Batik Bogor Tradisiku dapat menjadi tradisi (tidak kuno) digunakan secara turun temurun dan berkelanjutan. Pada logo memang tidak menampilkan unsur Kota Bogor yang dinyatakan sendiri oleh Bu Lisha. Pada logonya menggunakan typeface jenis old style (humanist) menghasilkan bentuk serif dengan sudut dan lengkungan. Typeface berupa tulisan Batik Bogor Tradisiku Indonesia. Pada logonya penggunaan warna hijau dan coklat memiliki kesan alami. Nama perusahaan ini telah terdaftar hak cipta dengan nama Batik Tradisiku namun lebih menggunakan nama Batik Bogor Tradisiku sebagai branding lokal. Mengharapkan identitas visual yang simple, user friendly, mudah diingat, easy listening, tidak miss spelling terutama pada logonya. Memiliki tagline “Mari Jadikan Batik Bogor Tradisiku Sebagai Tradisi”. Persepsi brand yang ingin ditangkap oleh konsumen yaitu easily recognice (mudah dikenali) sebagai batik kontemporer batik yang berbeda dengan batik Jogja, tradisional mids modern, tidak terbatas gender, usia, dan tempat digunakannya. Selain itu, mengangkat batik dengan konsep batik Bogor yang fresh. Harapan kedepannya ingin meningkatkan kepercayaan konsumen, beri inovasi kreasi baru bagi Kota Bogor, Indonesia, hingga dunia.

2) STP, Tujuan, dan Produk

Batik Bogor Tradisiku melakukan penjualan secara offline dan online. Pada awalnya penjualan produknya menyasar target usia dewasa akhir. Namun, pandemi covid-19 membuat Batik Bogor Tradisiku melakukan regenerasi target sasarannya menyasar ke dewasa muda dimulai dari usia 25 tahun. Hal itu bertujuan untuk meningkatkan penjualan secara online dalam

(6)

48

Perancangan Rebranding Batik…, Bernice Priscillia, Universitas Multimedia Nusantara

produk retail. Pada usia tersebut telah lulus kuliah atau sedang bekerja sehingga memiliki penghasilan sendiri dan akan lebih bangga membeli batik dengan kualitas yang baik. Selain itu, dewasa muda lebih cenderung memanfaatkan media online (media sosial, e-commerce, dll). Produk yang dijual akan menyesuaikan target dengan contoh produk yang di jual online pada target dewasa muda seperti celana kulot, lalu batik yang tidak penuh motif, dengan kombinasi polos. Pada penjualan online menjual produk ready to wear, tidak bisa custom untuk mengurangi kesalahan komunikasi, dan produk yang di jual cenderung lebih murah sekitar di bawah Rp 375.000. BBT memiliki jenis produk best seller yaitu seragam, kemeja, kain, dan blouse. Produk best seller bagi dewasa muda yaitu kain, dengan jenis batik cap (harga middle) dan jenis batik printing dengan harga yang lebih terjangkau.

3) Kompetitor dan Promosi

Dalam segi kompetitor yaitu batik umum yang sudah lama berdiri seperti batik Jogja, Solo, Cirebon dengan membandingkan motif, warna, dan kredibilitas karena telah lama berdiri. Selain itu, kompetitor dalam pasar batik yaitu Batik Keris, Batik Semar, Danar Hadi produk yang sudah terkenal luas dan berkualitas. Kompetitor motif serupa (ikon Bogor) yaitu Batik Handayani, Pancawati, Melinda, Bumiku, dll. Kompetitor dengan motif serupa memberi dampak karena konsumen akan mencoba produk dari brand lain. Namun, BBT memiliki keunggulannya sendiri yaitu meraih banyak penghargaan dari provinsi hingga internasional, proses batik yang berkualitas, garansi 100% tidak luntur, memiliki ciri khas warna ungu kebiruan, dapat custom produk yang diinginkan, serta mengintegrasikan wokshop, galeri, penjahitan serta tempat kursus. Dalam segi promosi, Lisha menyatakan bahwa

(7)

49

Perancangan Rebranding Batik…, Bernice Priscillia, Universitas Multimedia Nusantara

Batik Bogor Tradisiku pada tahun 2008 pernah melakukan promosi yang tidak terlepas dari media cetak dan elektronik seperti undangan radio, masuk televisi, koran, majalah.

Namun, sekarang berfokus pada promosi online seperti facebook ads, Instagram ads, dan beberapa media cetak seperti brosur, kartu nama, serta promosi mouth to mouth, juga mengadakan pameran dan fashion show di mal. Hal-hal yang sudah dilakukan sebagai upaya untuk menjangkau target dewasa muda yaitu dengan sponsorship beauty peagent, Mojang Jajaka Kota Bogor, dan dukung putra putri batik. Dari mereka akan melakukan promosi untuk memperkenalkan kekayaan budaya produk Batik Bogor Tradisiku sehingga tersampaikan ke calon konsumen dewasa muda. Selain itu, melakukan co-branding dengan brand lain yaitu Ikardo dalam bidang dompet (kolaborasi batik dengan produk dompet), Tetti produk baju muslim dan ditampilkan di Bogor Fashion Festival. Lalu, melakukan promosi ke kampus (Media Kreasi Jakarta).

3.1.1.3 Kesimpulan Wawancara

Batik Bogor Tradisiku dengan ciri khas ikon-ikon Kota Bogor yang diangkat menjadi motif pada produk batiknya. Memiliki tujuan untuk meningkatkan awareness, kepercayaan konsumen terhadap brandnya, keinginan agar citra mereknya dapat tersampaikan sesuai dengan konsep perusahaanya, serta memberi ragam hias atau menambah khasanah batik Nusantara. Citra merek (brand image) yang ingin ditangkap dalam benak konsumen yaitu mudah dikenali sebagai batik kontemporer yang modern dan kekinian sehingga tidak dianggap batik yang kuno, menjadi tradisi digunakan turun temurun dan berkelanjutan, tidak terbatas gender, usia, maupun tempat digunakannya batik ini. Selain itu, mengangkat konsep batik Bogor yang fresh. Identitas visual Batik Bogor Tradisiku pernah mengalami perubahan hingga terbentuklah logo yang sekarang memiliki logo dengan

(8)

50

Perancangan Rebranding Batik…, Bernice Priscillia, Universitas Multimedia Nusantara

jenis emblem dan typeface huruf T dikelilingi ukiran batik dan Batik Bogor Tradisiku Indonesia. Namun lebih dikenal dengan nama Batik Bogor Tradisiku. Diharapkan dari identitas visual ini terutama pada logonya yang simple, user friendly, mudah diingat, easy listening, tidak miss spelling, juga menampilkan suatu yang klasik terlihat pada unsur ukiran batik yang mengelilingi huruf T.

Adanya pandemi covid-19 membuat Batik Bogor Tradisiku melakukan regenerasi target yang disasar yaitu dewasa muda dengan usia mulai dari 25 tahun. Memanfaatkan media penjualan secara online seperti Instagram, Facebook, e-katalog untuk meningkatkan penjualan produk secara retail. Usia dewasa muda juga lebih cenderung menggunakan atau aktif pada media sosial dan berbelanja pada e-commerce, sudah lulus kuliah atau bekerja, memiliki penghasilan sendiri sehingga lebih bangga untuk membeli batik dengan kualitas yang lebih baik. Selain itu, melakukan fashion show yang diadakan oleh Batik Bogor Tradisiku menggunakan Mojang Jajaka Kota Bogor yang bertujuan untuk menarik perhatian target dewasa muda serta meningkatkan kesadaran terhadap Batik Bogor Tradisiku terutama pada motif produknya yang unik. Selain itu, tren batik juga cukup mempengaruhi penjualan produknya seperti pada “Hari Batik Nasional”

yang diperingati pada 2 Oktober diadakan event batik dengan mengangkat motif tertentu serta tren ajaran sekolah sehingga meningkatkan pesanan seragam sekolah.

3.1.2 Kuisioner

Kuisioner yang berguna sebagai acuan data dibuat menggunakan platform google form. Penelitian kuantitatif ini dilakukan dengan teknik non-random sampling secara convenience sampling. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, jumlah populasi dengan rentang usia 25-34 tahun di Jabodetabek adalah 3.345.459. Derajat ketelitian yang digunakan 10%, sehingga didapat pembulatan target 100 orang.

(9)

51

Perancangan Rebranding Batik…, Bernice Priscillia, Universitas Multimedia Nusantara

𝑆 = 𝑁

1 + 𝑁𝑒

2

= 3.345.459

(1 + (3.345.459 × (0,1

2

)) = 99.998 = 100

Dari rumus Slovin tersebut, kuisioner disebarkan secara online kepada 100 orang target dewasa muda berusia 25-34 tahun di Jabodetabek.

Penyebaran dilakukan dari 16 September 2021 hingga 18 September 2021.

Penulis menyebarkan kuisioner ini melalui berbagai media sosial seperti Instagram, Tiktok, Line, dan Whatsapp. Kuesioner ini dibagikan untuk mengetahui customer behavior, brand image atau citra merek yang ditangkap oleh konsumen terhadap Batik Bogor Tradisiku dan seberapa tahu target audiens terhadap batik Bogor terutama Batik Bogor Tradisiku. Hasil yang didapat yaitu 120 orang telah mengisi kuesioner ini dan sesuai dengan target usia yang telah ditentukan. Berikut hasil kuesioner yang didapat, yaitu:

3.1.2.1 Hasil Kuisioner

1) Demografis Responden

Responden kuisioner berjumlah 120 orang, terdiri dari 74 orang perempuan dan 46 orang laki-laki. Kuisioner disebarkan pada rentang usia 25-34 tahun. Responden terbanyak berada dalam kelompok usia 25-29 tahun sebanyak 77 orang dan usia 30-34 tahun berjumlah 43 orang. Kuisioner ini juga disebarkan pada Jabodetabek dengan wilayah heterogen yang fungsional dimana salih berhubungan untuk memenuhi kebutuhan hidup penduduk.

Jakarta (29 orang), Bogor (72 orang), Depok (2 orang), Tangerang (13 orang), dan Bekasi (4 orang). Pendidikan minimal SMA-S2. Dominan yang mengisi adalah yang telah bekerja sebanyak 62 orang, wirausaha 20 orang, mahasiswa/I 15 orang, freelancer 13 orang. Sisanya tersebar dengan pekerjaan sebagai ibu rumah tangga, dosen, karyawan, online shopper, dan adapula yang belum bekerja sebanyak 2 orang. Penghasilan didominasi dalam rentang Rp 1-5 juta. Selain itu pengeluaran responden untuk keperluan fashion terbanyak < Rp 500.000 (67

(10)

52

Perancangan Rebranding Batik…, Bernice Priscillia, Universitas Multimedia Nusantara

orang), Rp 500.000 - Rp 999.999 (26 orang), > Rp 2.000.000 (15 orang)

2) Customer Behavior

Berbagai alasan responden membeli atau menggunakan batik yaitu sebanyak 92 orang karena faktor kebutuhan (event, seragam, atau acara tertentu), sebanyak 83 orang sebagai warga Indonesia memiliki rasa untuk melestarikan budaya bangsa, dan sebanyak 72 orang menganggap batik sebagai pakaian nasional.

Sisanya karena bernilai seni tinggi dan menyukai motif.

Gambar 3.5 Alasan Membeli dan Menggunakan Batik

Mereka juga memiliki berbagai kreasi batik, sebanyak 115 orang mempunyai baju batik, 47 orang punya kain batik. Hal ini sesuai dengan wawancara yang mengatakan produk best seller mereka kain dan baju batik. Kriteria responden membeli produk batik karena motif dan corak (95 orang), kedua kualitas produk (75 orang), dan faktor kenyamanan. Responden menyukai hingga melakukan pembelian untuk batik printing karena harganya yang terjangkau sebanyak 50% responden memilih itu.

(11)

53

Perancangan Rebranding Batik…, Bernice Priscillia, Universitas Multimedia Nusantara

Gambar 3.6 Jenis Batik yang Dibeli

Responden menjawab brand batik yang mereka miliki atau ketahui. Beberapa brand mayoritas yaitu Batik Keris, Batik Cirebon, dan Batik Danar Hadi. Ketiga brand ini merupakan brand yang telah berdiri lama, terkenal, dan sudah dipercaya oleh masyarakat. Namun sebanyak 52,5% responden tidak mengetahui merek batik yang mereka miliki yang artinya citra merek pada brand batik lainnya belum melekat dalam benak konsumen.

Gambar 3.7 Brand Batik yang Digunakan Responden

(12)

54

Perancangan Rebranding Batik…, Bernice Priscillia, Universitas Multimedia Nusantara

3) Brand Knowledge

Penulis menunjukkan logo Batik Bogor tradisiku dan memberi pertanyaan mengenai “Tahukah Anda Brand Batik Tradisiku”.

Responden menjawab tidak tahu dan tidak membeli sebanyak 80% hal tersebut karena kurangnya awareness terhadap brand ini.

Gambar 3.8 Pengetahuan Responden akan Brand Batik Bogor Tradisiku

Lalu sebanyak 11,7% tahu tapi tidak membeli. Alasannya karena tampilan identitas brand tidak menarik, brand tidak komunikatif, dan belum pernah dengar sebelumnya. Hal ini membuktikan bahwa identitas visual Batik Bogor Tradisiku belum sesuai dengan target sasaran, brand image juga belum mencerminkan konsep Batik Bogor Tradisiku dalam benak konsumen sehingga membuat konsumen tidak aware terhadap brand sehingga potensi yang dimiliki brand tidak tersampaikan dengan baik.

4) Tingkat Ketertarikan

Penulis mengukur tingkat ketertarikan responden dengan memaparkan produk, harga, dan keunggulan dari Batik Bogor Tradisiku.

(13)

55

Perancangan Rebranding Batik…, Bernice Priscillia, Universitas Multimedia Nusantara

Tabel 3.1 Tabel Tingkat Ukur Ketertarikan Responden

Tingkat Ukur Ketertaikan Responden terhadap Batik Bogor Tradisiku

(1) Sanga

t tidak tertar ik

(2) Tidak tertar

ik

(3) Bias a saja

(4) Tertar

ik

(5) Sanga

t tertar

ik

Avera ge

Ketertarik an akan produk

5 6 43 46 20 38,3%

Keinginan untuk membeli

4 10 55 37 14 45,8%

Berdasark an

identitas brand &

visual packaging

7 16 50 30 17 41,7%

Dari hasil yang didapat, dari pertanyaan mengenai ketertarikan terhadap produk Batik Bogor Tradisiku, jawaban terbanyak yaitu “tertarik”. Saat ditanyakan mengenai keinginan untuk membeli berdasar faktor harga, fungsi, dan keunggulan yaitu

“biasa saja”. Penulis juga mempertanyakan keinginan untuk membeli berdasarkan faktor identitas brand dan visual packagingnya responden menjawab “biasa saja”. Jawaban dari biasa saja berada antara tidak tertarik dan tertarik. Hal tersebut menyatakan bahwa ada faktor yang netral dimana mereka bisa

(14)

56

Perancangan Rebranding Batik…, Bernice Priscillia, Universitas Multimedia Nusantara

tertarik atau tidak tertarik. Maka dari itu diperlukan kejelasan agar persepsi yang ditangkap konsumen terhadap tingkat ketertarikan akan Batik Bogor Tradisiku jelas dan tepat sesuai Galeri Batik Bogor Tradisiku.

5) Persepsi terhadap Logo Batik Bogor Tradisiku

Pada tahap ini penulis ingin mencari tahu persepsi target terhadap logo atau identitas brand Batik Bogor Tradisiku.

Pertama penulis menanyakan tentang bagian dari logo yang mudah diingat oleh responden, jawaban terbanyak yaitu “huruf T”.

Gambar 3.9 Bagian Logo yang Mudah Diingat

Selanjutnya, penulis menanyakan pada responden pandangan setelah melihat logo Batik Bogor Tradisiku, apakah nampak modern atau kuno. Sebanyak 59,2% menyatakan identitas brand ini “kuno”

Gambar 3.10 Persepsi terhadap Logo

(15)

57

Perancangan Rebranding Batik…, Bernice Priscillia, Universitas Multimedia Nusantara

Jawaban responden tidak sesuai dengan persepsi brand yang ingin ditangkap oleh konsumen. Batik Bogor Tradisiku menginginkan citra merek sebagai batik kontemporer yang modern dan kekinian di mata atau benak masyarakat, namun hal tersebut belum terpenuhi.

Persepsi lainnya terhadap logo identitas Batik Bogor Tradisiku yaitu sebanyak 56,7% menganggap profesional. Hal tersebut menandakan bahwa responden memiliki kepercayaan akan kualitas brand yang baik. Lalu penulis menanyakan beberapa hal kepada responden menggunakan skala likert

Tabel 3.2 Persepsi Responden terhadap Logo BBT

Persepsi Responden terhadap Logo Batik Bogor Tradisiku (1)

Sang at tidak

setuj u

(2) Tida

k setuj

u

(3) Bias a saja

(4) Setuj

u

(5) Sang

at setuj

u

Averag e

Logo

mempresentasik an brand secara tepat

6 19 43 36 16 35,8%

Identitas visual mirip dengan brand lain

10 29 46 23 12 38,3%

Identitas visual menggambarka n Kota Bogor yang fresh

12 26 37 24 21 30,8%

Identitas visual menggambarka

10 24 35 30 21 29,2%

(16)

58

Perancangan Rebranding Batik…, Bernice Priscillia, Universitas Multimedia Nusantara

n kualitas produk yang tinggi

Brand

berpengaruh terhadap pembelian produk batik

1 5 28 35 51 42,5%

Berdasarkan hasil dari tabel di atas, penulis mendapat hasil dari pertanyaan logo mempresentasikan brand secara tepat dengan tepat, identitas visual mirip dengan brand lain, identitas visual menggambarkan Kota Bogor yang fresh, identitas visual menggambarkan kualitas produk yang tinggi keempat pertanyaan tersebut memperoleh jawaban “biasa saja”. Hal tersebut menunjukkan brand image dalam benak target sasaran tidak sesuai dengan apa yang brand Batik Bogor Tradisiku ingin sampaikan.

Namun, sebanyak 42,5% responden menjawab brand mempengaruhi pembelian terhadap batik. Brand mempengaruhi persepsi dan rasa emosional sehingga karakteristik brand yang kuat akan menonjol dalam benak target audiens.

6) Media Promosi

Pada bagian akhir penulis menanyakan media promosi yang paling sering dijumpai oleh responden, hasil hitungan terbanyak yaitu Instagram, Youtube Ads, dan Facebook. Berdasarkan pilihan terbanyak ini menunjukkan bahwa responden lebih aktif dalam media digital.

(17)

59

Perancangan Rebranding Batik…, Bernice Priscillia, Universitas Multimedia Nusantara

Gambar 3.11 Respon terhadap Media Promosi

Lalu, informasi yang dibutuhkan jika ingin membeli produk batik yaitu harga, bahan yang digunakan, dan produk yang dijual. Hal ini dapat mendukung untuk mengetahui informasi yang dibutuhkan jika mengiklankan atau mempromosikan brand Batik Bogor Tradisiku.

Gambar 3.12 Kebutuhan Informasi sebelum Membeli Batik

3.1.2.2 Kesimpulan Kuisioner

Berdasarkan hasil survei yang disebarkan pada target dewasa muda didapatkan kesimpulan bahwa responden memiliki faktor yang mendasari mereka memiliki batik yaitu karena kebutuhan akan acara, event, seragam, maupun pakaian sehari-hari. Kriteria batik yang dilihat berdasarkan corak atau motif, kualitas, dan kenyamanan produk. Maka dari itu, sebuah brand batik perlu meningkatkan kualitas brandnya agar konsumen dapat mempercayai produk yang dijual. Responden lebih mengetahui dan percaya terhadap kualitas produk batik jawa (Batik Keris, Batik Cirebon, Batik

(18)

60

Perancangan Rebranding Batik…, Bernice Priscillia, Universitas Multimedia Nusantara

Danar Hadi) yang telah lama berdiri, terkenal, dan kredibel. Hal tersebut karena pengaruh brand positioning yang tepat sehingga membangun kepercayaan, loyalitas konsumen (kredibel), dan citra merek dalam benak konsumen.

Didapati pula, sebanyak 80% tidak tahu brand Batik Bogor Tradisiku ini, ada yang tahu namun tidak membeli dikarenakan tampilan identitas brand tidak menarik dan brand tidak komunikatif. Sebanyak 59,2% menyatakan identitas brand (logo) ini kuno dan memiliki kemiripan dengan brand lain sebanyak 38,3%. Selain itu, identitas visual belum menggambarkan batik Bogor yang fresh. Dilihat dari identitas visual maupun visual packagingnya target audiens belum memiliki ketertarikan sehingga mempengaruhi terhadap minat beli produk Batik Bogor Tradisiku.

Mereka memiliki ketertarikan terhadap produk batik ini dari gambar yang telah ditunjukkan terutama pada motif batiknya.

Berdasarkan penjabaran di atas, menunjukkan brand awareness yang rendah terhadap brand Batik Bogor Tradisiku. Brand Batik Bogor Tradisiku belum memiliki identitas visual mencerminkan konsep perusahaan untuk menunjukkan brand image Batik Bogor Tradisiku kepada target sasaran.

Hal tersebut dibuktikan dari survei bahwa target sasaran memiliki persepsi yang berbeda akan brand image yang ingin disampaikan. Dapat diketahui juga bahwa responden aktif dalam menggunakan media digital terutama pada media sosial Instagram, Youtube, dan Facebook. Kesimpulan- kesimpulan yang telah didapatkan mengarahkan pada perancangan rebranding Batik Bogor Tradisiku dengan tujuan menigkatkan awareness hingga menciptakan brand image yang baru. Selain itu, dibutuhkan brand identity yang baru dilengkapi brand guideline untuk menyelaraskan identitas brand agar relevan dengan target sasaran dan lingkungannya serta pada penerapan media-medianya.

(19)

61

Perancangan Rebranding Batik…, Bernice Priscillia, Universitas Multimedia Nusantara

3.1.3 Studi Eksisting

Penulis melakukan studi eksisting yang berkaitan dengan perancangan rebranding dalam produk fashion. Studi eksisting ini dilakukan untuk mengetahui informasi dan mendapat referensi mengenai perancangan rebranding yang tepat dan baik. Penulis mendapatkan referensi berdasarkan jurnal “Perancangan Rebranding Produk Fashion Reramban” dan data-data dari internet dalam berita, mengenai Reramban.

3.1.3.1 Perancangan Rebranding Produk Fashion Ecoprint Reramban Reramban merupakan sebuah brand yang mengangkat konsep eco- friendly bagi lingkungan. Reramban didirikan oleh Evi Kurniawati pada tahun 2017. Pembuatan produknya memanfaatkan daun-daun yang ada disekitarnya maupun daun-daun yang memiliki keunikan. Daun-daun ini dimanfaatkan dan diterapkan sebagai motif di kain dengan teknik eco-print (Marianti, 2020).

Gambar 3.13 Logo Reramban Sumber:

https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fwww.facebook.com%2 Fpages%2Fcategory%2FProduct-Service%2FReramban-

429127461223356%2F&psig=AOvVaw17cQm8uL89SN8i2Qm6_U8n&ust=1632 385420691000&source=images&cd=vfe&ved=2ahUKEwjD0a7ak5LzAhWXVCs

KHdBqAwwQr4kDegQIARAS

1) Analisis Identitas Visual Reramban

Reramban menggunakan jenis logo wordmark dengan tipografi tulisan bersambung yang diambil dari nama perusahaannya.

Pada logonya menampilkan karakter daun yang menempel pada huruf R. Daun disini menunjukkan bahwa bahan dasar penggunaan untuk membuat motif produk yang eco-friendly

(20)

62

Perancangan Rebranding Batik…, Bernice Priscillia, Universitas Multimedia Nusantara

menggunakan daun. Pada logo menggunakan warna hitam pada typefacenya dan sedikit warna hijau pada ikon daunnya.

Typeface yang digunakan jenis script yang serupa dengan tulisan tangan yang tersambung satu dengan lainnya. Pada bagian bawah logonya terdapat tulisan atau tagline “Unique Approach of Style from Your Nature”. Menunjukkan bahwa motif-motif pada produknya akan menampilkan berbagai jenis daun yang unik dari alam, sesuai pada kutipan wawancara pada Indozone. Nama Reramban bermakna “ngeramban” yaitu mengumpulkan daun.

2) Mengenai Reramban

Reramban merupakan produk fashion yang ecofriendly dan menerapkan pada produknya (ecoprint) berbagai motif unik dari daun. Target market Reramban pada awalnya yaitu usia 25-40 tahun dengan jenis kelamin wanita, namun ingin menjangkau target baru yaitu anak muda. Selain itu, ingin melebarkan penjualan produknya dalam skala nasional.

Reramban berkeinginan untuk membuka galeri sendiri.

Penjualan produknya masih menitipkan pada beberapa butik dan memanfaatkan media Instagram dan Whatsapp. Produk yang dijual Reramban yaitu kain, kaos, kimono, jaket, blouse, dan aksesoris (tas dan scarf). Namun sayangnya, brand Reramban belum dikenali dan dapat dibedakan dibandingkan dengan kompetitor serupa, kesadaran akan produk sustainable seperti Reramban juga masih rendah. Brand Reramban juga belum memiliki identitas visual yang berguna untuk menampilkan brand image kepada target yang disasar. Selain itu, pada tampilan visual Instagram terkesan tidak menarik dan tidak sesuai dengan target usia yang ingin disasar Reramban.

Maka dari itu, diperlukan perancangan rebranding meningkatkan brand value yang mencakup pembentukan

(21)

63

Perancangan Rebranding Batik…, Bernice Priscillia, Universitas Multimedia Nusantara

brand identity dan brand strategy bagi produk Reramban.

Logo dan nama belum cukup untuk membuat Reramban dapat dikenali dan memiliki keunikannya tersendiri. Maka dari itu diperlukan brand identity, brand strategy, dan brand guideline yang tepat agar dapat mengkomunikasikan produk, mudah dikenali, dan dapat menjangkau target yang lebih luas. (Gosal, Ariyanto, & Arini, 2020).

Tabel 3.3 Tabel SWOT Studi Eksisting Reramban

Strenght Weakness

- Memiliki aneka ragam produk

- Produk eco-friendly menggunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan - Keunikan hasil dari teknik

eco-printing

- Komunikasi (promosi) tidak jelas, tidak aktif, dan tampilan visual tidak menarik. Komunikasi pada media sosial tidak menunjukan pembahasan yang tepat antara ingin mengenalkan produk seperti katalog atau informasi brand dan kegiatan yang dilakukan - Brand positioning yang

belum jelas menyebabkan sulitnya menyasar target untuk penjualan produk - Identitas visual yang

outdated tidak sesuai dengan target yang ingin disasar - Belum memiliki toko fisik

Opportunity Threat

- Memiliki peluang untuk jadi lebih unggul dan menarik di

- Dapat menjadi brand yang ketinggalan zaman, karena

(22)

64

Perancangan Rebranding Batik…, Bernice Priscillia, Universitas Multimedia Nusantara

benak masyarakat, karena kompetitor tidak berada dalam daerah yang sama di Jawa Timur kecuali Surabaya - Memanfaatkan jenis daun

yang berbeda dengan yang kompetitor gunakan pada umumnya untuk pembuatan motif produk

belum memiliki brand platform (visi misi, value, personality, dan tone of voice) yang jelas dan tidak mengetahui keinginan dan kebutuhan konsumen (target yang ingin disasar)

3.1.3.2 Kesimpulan Studi Eksisting Reramban

Berdasarkan hasil analisis dan penelitian terdahulu dengan judul

“Perancangan Rebranding Produk Fashion Ecoprint Reramban”. Dengan latar belakang produk fashion Reramban yang ecofriendly menggunakan teknik ecoprint dengan ciri menggunakan daun yang khas. Brand Reramban ini ingin menjangkau skala nasional dan anak muda sebagai targetnya.

Batasan masalahnya yaitu usia 21-30 tahun, Kota Surabaya. Tujuan penelitian ini untuk merancang rebranding produk Reramban.

Menggunakan metode perancangan dengan data primer (wawancara pemilik Reramban dan observasi) dan data sekunder (buku dan internet). Sedangkan, metode analisa data menggunakan deskriptif kualitatif dan analisa SWOT.

Berdasarkan penelitian tersebut, Reramban tidak memiliki perbedaan yang jelas dengan kompetitornya. Selain itu, Reramban kurang memahami keinginan atau kebutuhan target audiensnya, sehingga persepsi terhadap produk juga terbilang tidak cocok dan outdated. Maka dari itu diperlukan sebuah pembeda agar bisa bertahan dan meningkatkan kualitas produk jika dibandingkan dalam pasar yang serupa. Perancangan rebranding diperlukan agar dapat meningkatkan awareness dan memberikan positioning yang tepat. Perancangan rebranding dibatasi dengan menciptakan brand identity dan brand strategy yang baru dilengkapi dengan GSM dan tampilan baru pada media Instagramnya.

(23)

65

Perancangan Rebranding Batik…, Bernice Priscillia, Universitas Multimedia Nusantara

3.1.3.3 Batik Geulis Handayani Bogor

Handayani Geulis Batik Bogor merupakan sebuah brand batik yang mengangkat nilai-nilai kearifan lokal Kota Bogor yang diterapkan menjadi motif pada batiknya. Handayani Geulis Batik Bogor didirikan oleh Sri Ratna Handayani pada tahun 2009. Tersedia produk batik cap dan tulis. Selain itu, membuka kelas pelatihan dan workshop bagi turis lokal dan mancanegara (Karnabi, 2020).

Gambar 3.14 Logo Handayani Geulis Batik Bogor

https://cdn.shopify.com/s/files/1/0435/3094/4673/files/logograf_HG_1000x.png?v

=1625545818

1) Analisis Identitas Visual Handayani Geulis Batik Bogor Visualisasi logo Batik Handayani Geulis menggunakan jenis letterform logo. Terdiri dari dua huruf berupa singkatan nama Hg (Handayani Geulis). Menggunakan typeface script yang serupa dengan tulisan tangan yang tersambung satu dengan lainnya. Pada logo juga terdapat ikon sederhana dari bunga bangkai yang berada di atas typeface Hg. Bunga bangkai merupakan ikon Kota Bogor berupa bunga yang tumbuh di Istana Kota Bogor. Penggunaan warna ungu yang condong ke arah warna merah pada logonya. Warna tersebut berdasarkan filosofi warna melambangkan kerajaan, bangsawan, dan keagungan (Eisman, 2017). Logo yang dibuat sederhana dan memiliki kesan perpaduan tradisional dan modern. Logo ini

(24)

66

Perancangan Rebranding Batik…, Bernice Priscillia, Universitas Multimedia Nusantara

juga dijadikan motif pada produk batiknya. Contohnya pada batik bogor motif Hg Anggrek dan batik bogor motif Hg Talas.

2) Mengenai Handayani Geulis Batik Bogor

Handayani Geulis Batik Bogor berdiri dan melangkah berkomitmen akan terus melestarikan batik sebagai budaya &

identitas bangsa. Batik Handayani Geulis lahir dari kecintaan dan kekaguman Ibu Ratna Handayani selaku founder terhadap batik. Selain itu, keprihatinan terhadap batik karena batik mulai luntur di generasi muda. Mengangkat motif batik dari kearifan lokal Kota Bogor (handayanigeulis.co.id). Batik yang berdiri pada tahun 2009 sebagai industri rumahan. Memiliki beraneka ragam motif khas Kota Bogor, seperti motif batik sunda, Tilu Saunyunan, Cepot, Bogor Pisan, Patepung Lawung, Tunggul Kawung, dll. Memanfaatkan pemasaran mouth to mouth untuk meningkatkan jumlah konsumen, pameran di Kota Bogor di bawah naungan Dekranasda (Dewan Kerajinan Nasional Daerah) Kota Bogor, melakukan promosi melalui media televisi, media cetak berupa koran atau majalah, juga melakukan fashion show dengan para model Mojang Jaka Kota Bogor (duta merek) untuk mengkomunikasikan produknya dan meningkatkan kesadaran terhadap Batik Handayani Geulis Bogor. Motifnya yang baru dan biasanya dijadikan tema fashion show untuk mengkomunikasikan dan meningkatkan kesadaran brand terhadap anak muda. Tidak hanya itu, Batik Handayani melakukan kegiatan edukasi “Batik Goes to school” untuk meningkatkan kesadaran anak-anak muda terhadap batik dan “How to batik” untuk menjangkau pasar hingga internasional. Walikota Bogor juga turut serta mempromosikan batik Handayani dengan menggunakan batiknya sehingga dikenal pejabat hingga tamu dari daerah lain

(25)

67

Perancangan Rebranding Batik…, Bernice Priscillia, Universitas Multimedia Nusantara

(Ismail & Dewi, 2017). Berikut ini adalah hasil SWOT Batik Geulis Handayani Bogor (Putri, 2019).

Tabel 3.4 Tabel SWOT Studi Eksisting Handayani Geulis Batik Bogor

Strenght Weakness

- Motif dengan ciri khas Kota Bogor

- Setiap motif mempunyai filosofi

- Motif-motifnya sudah terdaftar hak cipta - Memiliki produk yang

beragam

- Dapat melihat langsung proses pembuatannya

- Memiliki kelas pelatihan dan workshop untuk belajar membatik

- Offline store tidak terlalu menarik dipandang

- Bahan baku pembuatan batik masih dibeli dari tempat lain - Produk belum dikenal

masyarakat luas khususnya milenial

- Baru mulai perkenalkan ke kalangan milenial

Opportunity Threat

- Produk dikenal luas dari kalangan muda-tua

- Memiliki website untuk perkenalkan batik

- Terdapat pengusaha batik Bogor sejenis

- Terdapat pengusaha batik di Bogor yang sejenis dengan batik Handayani

(26)

68

Perancangan Rebranding Batik…, Bernice Priscillia, Universitas Multimedia Nusantara

3) Media yang digunakan Handayani Geulis Batik Bogor

Gambar 3.15 Tampilan Instagram Feeds Handayani Geulis 1

Media digital yang digunakan Handayani Geulis Batik Bogor yaitu Instagram. Media ini juga digunakan sebagai media promosi produk batiknya. Pada Instagram feeds lebih dominan menampilkan berbagai kain dengan motif batik yang berbeda- beda. Elemen grafis yang digunakan belum konsisten pada tiap postingannya. Pada gambar postingan pertama paling atas bagian kiri terdapat elemen grafis yang lebih membulat pada bagian atasnya, ada yang tidak melengkung, dan ada juga bentuk persegi dalam posisi portrait. Elemen grafis hanya digunakan pada beberapa postingan dan tidak menentu, namun tetap menggunakan brand color yang konsisten berwarna ungu kemerahan.

(27)

69

Perancangan Rebranding Batik…, Bernice Priscillia, Universitas Multimedia Nusantara

Gambar 3.16 Tampilan Instagram Feeds Handayani Geulis 2

Selain itu, pada Instagram feeds tidak hanya postingan foto saja tetapi terdapat Instagram Reels. Pada Instagram Reels menampilkan video singkat berupa mix and match pakaian dengan kain batik Handayani Geulis. Dari hal tersebut target dapat mengetahui pakaian seperti apa yang cocok dipadukan dengan produk batik tersebut. Namun, pada Instagram Reels tidak terdapat identitas visual berupa logo maupun elemen grafis yang digunakan sehingga audiens tidak mendapatkan gambaran yang jelas mengenai identitas merek.

Gambar 3.17 Tampilan Website Handayani Geulis

(28)

70

Perancangan Rebranding Batik…, Bernice Priscillia, Universitas Multimedia Nusantara

Website Handayani Geulis Batik Bogor memiliki tampilan seperti gambar di atas. Terdapat landing page berupa tombol- tombol navigasi home, catalog, filosofi motif batik bogor, news, about us, contact us. Pada bagian home terdapat koleksi pakaian batik yang digunakan oleh model dengan background putih agar terlihat lebih jelas dan fresh sehingga audiens dapat mengetahui gambaran pakaian yang digunakan pada tubuh.

Pada bagian catalog menampilkan kain-kain batik dilengkapi dengan harga produk. Selain itu, audiens juga dapat membeli produk melalui website. Pada website menggunakan brand color yang konsisten, contohnya pada font menggunakan warna utama yaitu ungu kemerahan dan background menggunakan warna pink muda. Layout yang digunakan berbentuk persegi untuk menampilkan gambar atau foto dari produk maupun hal yang berkaitan dengan Handayani Geulis Batik Bogor. Namun, jika dilihat pada website tidak menampilkan elemen grafis yang digunakan pada media Instagram.

3.1.3.4 Kesimpulan Studi Eksisting Handayani Geulis Batik Bogor Berdasarkan hasil analisis Handayani Geulis Batik Bogor merupakan brand batik Bogor yang mengangkat nilai-nilai kearifan lokal Kota Bogor dan diterapkan sebagai motif batik pada produknya. Menggunakan brand color berwarna ungu kemerahan pada logo, typefacenya, dan elemen grafisnya, sedangkan pada background menggunakan warna pink muda.

Brand Handayani Geulis ingin menjangkau pasar anak muda atau milenial sebagai targetnya. Maka dari itu, identitas visual maupun promosi yang dilakukan menyesuaikan dengan target milenial. Pada logo yang digunakan menggunakan konsep perpaduan tradisional dan modern. Identitas visual masih memiliki kesan tradisional dari persepsi batik yang merupakan budaya yang telah lama ada. Namun, konsep modern ini lebih pada penyampaian atau komunikasi promosi melalui media yang digunakan.

(29)

71

Perancangan Rebranding Batik…, Bernice Priscillia, Universitas Multimedia Nusantara

Contohnya pada Instagram Reels menampilkan video transisi pakaian batik Handayani Geulis dan mix and match pakaian dengan batik.

3.1.4 Studi Referensi

Studi referensi dilakukan penulis untuk memperdalam perancangan rebranding Batik Bogor Tradisiku. Studi referensi ini dilakukan dalam segi identitas visual sebagai acuan dalam perancangan rebranding yang berkaitan dengan rejuvenation (peremajaan) identitas visual terutama pada logo. Berikut adalah brand yang menjadi referensi perancangan ini yaitu:

3.1.4.1 Batik Semar

Berdasarkan (batisemar.com, n.d.), Batik Semar berdiri pada tahun 1947 oleh Somadi dan Niniek Elia Kasigit. Awal berdirinya menggunakan nama Bodronoyo yang merupakan nama lain Semar. Bodronoyo merupakan sebuah karakter yang tulus dan bijak dalam melayani masyarakat. Filosofi nama tersebut mewujudkan visi perusahaan yang bermakna berbagi dan menjadi inspirasi terhadap tradisi Batik Jawa bagi masyarakat. Namun, pada era 1960 an berubah nama menjadi Batik Semar karena nama Semar lebih dikenal oleh masyarakat Indonesia. Menurut Irawan (2015), dalam skripsinya yang berjudul “Pemaknaan Logo Batik Semar” menyatakan bahwa perubahan logo untuk menyesuaikan dengan perubahan zaman dan keinginan untuk menjangkau target anak muda, menyampaikan visi misi, dan meningkatkan mutu serta kualitas Batik Semar agar dapat bersaing dengan kompetitor.

1) Analisis Identitas Visual Batik Semar

Gambar 3.18 Logo Lama Batik Semar

(30)

72

Perancangan Rebranding Batik…, Bernice Priscillia, Universitas Multimedia Nusantara

Sumber:

https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fwww.gotomalls.com%2 Fmalls%2FL3j9l_LOVUlah6qz%2Fplaza-medan-

fair%2Fstores%2FLIwJ74LOVJRCIzqT%2Fbatik-

semar&psig=AOvVaw2gS4XPUbVZIgV5MNqBJK1_&ust=1634326961558000

&source=images&cd=vfe&ved=0CAwQjhxqFwoTCKD_2sLUyvMCFQAAAAA dAAAAABAK

Gambar 3.19 Logo Baru Batik Semar

Sumber: https://www.google.com/url?sa=i&url=http%3A%2F%2Fwww.batik- semar.com%2F&psig=AOvVaw2gS4XPUbVZIgV5MNqBJK1_&ust=163432696 1558000&source=images&cd=vfe&ved=0CAwQjhxqFwoTCKD_2sLUyvMCFQ

AAAAAdAAAAABAR

Batik Semar pada awalnya menggunakan logo jenis emblem yang berbentuk lingkaran. Pada bagian dalam lingkarannya terdapat gunungan wayang dan tokoh wayang (Semar).

Typeface slab serif yang terlihat berat dengan ukuran yang besar dan gemuk untuk menonjolkan bahwa ini merupakan brand Batik Semar yang kokoh dan kuat. Selain itu terdapat typeface yang lebih tipis berupa tulisan Solo Indonesia.

Menunjukkan bahwa ini merupakan produk Indonesia yang berasal dari daerah Solo. Tulisan dibuat lebih kecil dan kurus serta berada di bagian bawah lingkaran tersebut agar target audiens dapat menentukan mana yang harus dibaca terlebih dahulu. Warna yang digunakan pada logo lama mencerminkan warna pada lambang Kota Solo yang menggunakan warna merah, kuning, hitam, putih, dan hijau. Namun, pada logo tidak menampilkan warna hijau lebih ke warna yang kontras terang, gelap, dan berani. Pada logo yang lama terkesan kuno

(31)

73

Perancangan Rebranding Batik…, Bernice Priscillia, Universitas Multimedia Nusantara

dan terlalu banyak warna yang harus diingat, sehingga kurang cocok untuk target anak muda. Pada tampilan logo yang baru menggunakan jenis logo emblem. Logo ini memanfaatkan gambar gunungan wayang pada logo lama dan dijadikan latar gunungan wayang. Pada logo tersebut juga dipertahankan tokoh Semar yang diubah gaya visualnya menjadi lebih simpel, modern, dan seperti kartun. Typeface yang digunakan lebih tipis, kokoh dan tegak, serta jelas terlihat (lebih mudah terbaca). Warna yang digunakan hanya dua yaitu hijau tua dan muda pada latarnya menampilkan kesan alami, fresh, dan lebih hidup. Menurut Irawan (2015), logo baru ini ingin menyampaikan nilai budaya yang dapat diterima oleh kalangan anak muda. Juga, menampilkan keunikan dari visual tokohnya yang dibuat seperti kartun sehingga lebih simpel dan mudah diingat. Logo baru ini menggambarkan wujud perubahan citra Batik Semar yang ingin menarik perhatian target audiens dan mengikuti perkembangan zaman. Logo yang kreatif, mudah dibaca, dan menyenangkan sehingga menyampaikan pesan penting yang mudah dipahami.

2) Penerapan identitas visual (logo) pada media

Logo baru diterapkan pada berbagai media untuk memperkenalkan dan mengkomunikasikan identitas baru kepada target sasaran.

Gambar 3.20 Penerapan Logo Batik Semar Pada Company Profile

(32)

74

Perancangan Rebranding Batik…, Bernice Priscillia, Universitas Multimedia Nusantara

Sumber:

https://www.google.com/url?sa=i&url=http%3A%2F%2Faldodigiprint.com%2Fpo rtfolio_category%2Fbatik-semar-

solo%2F&psig=AOvVaw2gS4XPUbVZIgV5MNqBJK1_&ust=163432696155800 0&source=images&cd=vfe&ved=0CFYQr4kDahcKEwig_9rC1MrzAhUAAAAA

HQAAAAAQGA

Logo diterapkan pada company profile Batik Semar terletak pada bagian tengah buku. Logo terlihat lebih menonjol karena menggunakan warna yang lebih terang dibandingkan latar belakangnya. Warna cover company profile ini dibuat senada agar terlihat konsisten dan tetap terhubung dengan filosofi warna dari logo brand tersebut. Warna latar tersebut menggunakan warna hijau yang lebih tua dan terkesan lebih gelap. Selain itu, terdapat supergrafis yang mendukung citra brand tersebut. Supergrafis itu terdapat pada latar dengan ukuran yang lebih besar namun tidak lebiih dominan dibandingkan logo. Warna yang digunakan pada supergrafis senada dengan warna latar dan logo yaitu menggunakan warna hijau yang lebih terang dibandingkan latar. Supergrafis yang menyerupai bunga yang diambil dari gambar gunungan pada logo.

Gambar 3.21 Penerapan Logo Batik Semar Pada Hampers Sumber:

https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fshopee.co.id%2FBatik- Semar-Spesial-Packaging-Box-All-

(33)

75

Perancangan Rebranding Batik…, Bernice Priscillia, Universitas Multimedia Nusantara

i.223591349.5236070995&psig=AOvVaw2kZZWVwrzBWfX5dR- DHQXL&ust=1634336588411000&source=images&cd=vfe&ved=0CAwQjhxqF

woTCOithrD4yvMCFQAAAAAdAAAAABAF

Penerapan logo pada hampers terkesan lebih profesional, mewah, dan elegan. Logo pada bagian packaging menggunakan stiker cermin dengan ukuran hampir setengah box packaging tersebut. Packaging menggunakan warna coklat yang terkesan natural. Pada bagian dalam hampers terdapat surat dilengkapi dengan logo yang berada pada bagian atasnya.

Surat tersebut tidak terdapat supergrafis namun dihiasi dengan bingkai garis berwarna hijau. Pada packaging bagian dalam diisi dengan kertas pembungkus berwarna hitam dan kertas- kertas yang menyelimuti beberapa produk. Warna hitam memberi kesan tegas, glamor, dan sederhana. Pada kertas yang menyelimuti produk terdapat logo, supergrafis, dan tulisan- tulisan dengan typeface sans serif berwana coklat keemasan.

Gambar 3.22 Penerapan Logo Batik Semar Pada Packaging Sumber:

https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fwww.blibli.com%2Fam p%2Fp%2Fbatik-semar-hampers-kerudung-puspo-cocohan-tolet%2Fis--BAS-

60112-00196-00001&psig=AOvVaw2kZZWVwrzBWfX5dR-

DHQXL&ust=1634336588411000&source=images&cd=vfe&ved=0CAwQjhxqF woTCOithrD4yvMCFQAAAAAdAAAAABAq

Logo pada packaging Batik Semar diletakkan di bagian tengah. Dihiasi garis lurus yang pada bagian ujung dekat logo melengkung mengikuti bentuk logo. Hal tersebut agar garis tidak terkesan kaku. Pada bagian samping kiri dan kanan

(34)

76

Perancangan Rebranding Batik…, Bernice Priscillia, Universitas Multimedia Nusantara

diterapkan supergrafis yang sama pada media-media sebelumnya. Hal ini juga diterapkan serupa pada paperbagnya, namun dilengkapi dengan informasi alamat website, Instagram, dan Facebook.

Gambar 3.23 Penerapan Logo Batik Semar Pada Totebag

Sumber: https://www.instagram.com/p/CSLjiyMl83k/?utm_medium=copy_link

Pada totebag logo ditampilkan dengan ukuran yang lebih besar dan jelas. Logo diletakkan pada bagian tengah totebag. Selain itu pada bagian bawah totebag terdapat informasi alamat website, Instagram, dan Facebook. Selain pada media yang sudah dijelaskan, logo juga diterapkan pada media sosial yang digunakan oleh Batik Semar dengan warna yang krem pada bagian latarnya sama dengan warna yang digunakan pada totebag Batik Semar.

(35)

77

Perancangan Rebranding Batik…, Bernice Priscillia, Universitas Multimedia Nusantara

Gambar 3.24 Penerapan Logo Batik Semar Pada Website Sumber: https://batik-semar.com/brand

Pada tampilan Instagram terjadi perubahan antara tahun 2020 dengan 2021. Tampilan pada tahun 2020 menggunakan model yang memakai produk pakaian Batik Semar. Pada latarnya terdapat frame dan latar template yang saling terhubung berupa batik. Namun, pada tahun 2021 konten feedsnya diisi dengan model yang menggunakan produknya tetapi dengan latar putih dan logo yang berada di bagian kiri atas.

(36)

78

Perancangan Rebranding Batik…, Bernice Priscillia, Universitas Multimedia Nusantara

Gambar 3.25 Penerapan Logo Batik Semar Pada Instagram

Sumber: https://www.instagram.com/p/CL_wHP7hgeu/?utm_medium=copy_link

3.2 Metode Perancangan

Metodologi yang digunakan dalam perancangan ulang identitas Batik Bogor Tradisiku didasari oleh Alina Wheeler (2018) dalam buku yang berjudul Designing brand identity: An essential guide for the whole branding team (5th ed.). Perancangan brand identity terdiri dari lima tahap perancangan yaitu:

1) Conducting Research

Melakukan pengumpulan data dengan mencari dan mengumpulkan data lebih dalam yang berkaitan dengan topik. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu kuantitatif dan kualitatif (mix method). Penulis melakukan wawancara dengan Bu Lisha selaku manajer operasional Batik Bogor Tradisiku, juga membuat survei menggunakan platform google form dengan menyebarkan kuisioner pada target dengan usia 25- 34 tahun. Selain itu, melakukan studi eksisting dan studi referensi untuk mengetahui keunggulan, kelemahan, dan data kompetitor.

2) Clarifying Strategy

Penulis melakukan pemetaan pikiran berdasar hasil analisis dan ishight- insihgt baru dalam sebuah mindmapping. Lalu, menentukan brand positioning, brand strategy, dan pesan yang akan disampaikan pada

(37)

79

Perancangan Rebranding Batik…, Bernice Priscillia, Universitas Multimedia Nusantara

konsumen hingga ditemukan big idea. Setelah itu, dikembangkanlah strategi yang didapat dalam bentuk creative brief agar lebih terarah.

3) Designing Identity

Pada tahap ini, penulis membuat moodboard sebagai arahan dalam perancangan visual kedepannya. Selanjutnya, berdasarkan big idea dan look and feel yang telah ditentukan dibuatlah sketsa hingga pembuatan visual secara digital. Penulis juga menentukan color pallete, typography, serta elemen yang mendukung hasil perancangan ini.

4) Creating Touch Points

Desain yang telah dibuat harus mampu menunjukkan look and feel yang tepat sesuai dengan tujuan dari perusahaan. Selain itu, mampu membangun persepsi yang modern, menonjolkan keunikan dari identitas brand yang baru, dan dapat melekat dalam benak konsumen.

Setelah itu, menentukan media yang diperlukan serta pengimplementasian visual yang konsiten terhadap media-media tersebut.

5) Managing Assets

Pada tahap akhir, penulis membuat sebuah panduan komunikasi brand kedalam brand guideline. Fungsinya sebagai panduan pengaplikasian brand agar tetap konsisten, mudah dipahami, relevan, dan mampu mempertahankan identitas perusahaan yang dimiliki.

Gambar

Gambar 3.1 Wawancara 1
Gambar 3.2 Wawancara 2
Gambar 3.5 Alasan Membeli dan Menggunakan Batik
Gambar 3.7 Brand Batik yang Digunakan Responden
+7

Referensi

Dokumen terkait

Metode yang digunakan untuk menyelesaikan masalah tersebut adalah Metode elektrokoagulasi. Secara singkat berikut cara kerja sistem yang digunakan adalah. 1) Limbah batik

Tugas yang dilakukan dalam penelitian ini adalah melakukan evaluasi kinerja perusahaan di CV Sogan Batik Rejodani dengan cara menjabarkan visi dan misi perusahaan ke dalam

Dalam metode penelitian kualitatif subjek penelitian lebih dikenal dengan narasumber atau informan, yaitu pemberi informasi tentang data yang diinginkan peneliti

Perancangan Ulang Identitas Visual Museum Kereta Api Ambarawa Semarang, Alinta Zusma Alir, Universitas Multimedia Nusantara..

Objek pada penelitian ini yaitu data diri para kandidat seperti identitas diri, pendidikan terakhir, kemampuan diri, pengalaman kerja yang dimiliki, hasil psikogram serta

meningkatkan pendapatan dari perusahaan dan mempercepat perputaran keuangan dalam perusahaan batik Hayuningrum tersebut. Pengumpulan data dalam metrik SCOR terjadi dalam

Menurut Djali (2008), pengukuran dalam bahasa inggris dikenal dengan istilah measurement yang artinya adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengukur dalam

Data primer terdiri dari nilai kriteria dan subkriteria tingkat kepuasan kerja wartawan Harian Pagi Radar Bogor yang nantinya digunakan untuk mengetahui nilai