• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perpustakaan Universitas Gunadarma BARCODE SURAT KETERANGAN. Nomor: 244/PERPUS/UG/2020

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Perpustakaan Universitas Gunadarma BARCODE SURAT KETERANGAN. Nomor: 244/PERPUS/UG/2020"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

Perpustakaan Universitas Gunadarma BARCODE

BUKTI UNGGAH DOKUMEN PENELITIAN PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS GUNADARMA

Nomor Pengunggahan

SURAT KETERANGAN

Nomor: 244/PERPUS/UG/2020

Surat ini menerangkan bahwa:

Nama Penulis : Nida Nusaibaitul Adawiyah

Nomor Penulis : 130339

Email Penulis : [email protected]

Alamat Penulis : Kampus Gunadarma Kelapa Dua sekretariat jurusan akuntansi

dengan penulis lainnya sebagai berikut:

Penulis ke-2/Nomor/Email : Ary Natalina / 00000459 /

Telah menyerahkan hasil penelitian/ penulisan untuk disimpan dan dimanfaatkan di Perpustakaan Universitas Gunadarma, dengan rincian sebagai berikut :

Nomor Induk : FEUG/EB/PENELITIAN/244/2020

Judul Penelitian : EVALUASI KINERJA KEUANGAN DENGAN MENGGUNAKAN ANALISIS RASIO PADA PT.

AKASHA WIRA INTERNATIONAL TBK Tanggal Penyerahan : 04 / 08 / 2020

Demikian surat ini dibuat untuk dipergunakan seperlunya dilingkungan Universitas Gunadarma dan Kopertis Wilayah III.

Dicetak pada: 21/08/2020 17:56:10 PM, IP:125.165.80.33 Halaman 1/1

(2)

EVALUASI KINERJA KEUANGAN DENGAN MENGGUNAKAN ANALISIS RASIO PADA PT. AKASHA WIRA INTERNATIONAL TBK

Nida Nusaibatul Adawiyah Ary Natalina

Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma, Depok

[email protected] [email protected]

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis laporan keuangan pada PT. Akasha Wira International Tbk, selama periode 2015-2018. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan data sekunder yaitu laporan keuangan PT. Akasha Wira International Tbk, periode 2015-2018 yang diperoleh dari situs resmi Bursa Efek Indonesia (BEI). Analisis data menggunakan analisis rasio diukur menggunakan rasio likuiditas, solvabilitas, profitabilitas, dan aktivitas. Jumlah seluruh rasio yang digunakan sebanyak 11 rasio. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kondisi keuangan PT. Akasha Wira International Tbk ditinjau dari rasio likuiditas berada dalam posisi likuid, ditinjau dari rasio solvabilitas berada pada posisi solvable, ditinjau dari rasio profitbilitas berada pada posisi profitable dan dari rasio perputaran aktiva sudah cukup baik dan efisien namun masih perlu di optimalkan kembali.

Kata Kunci : Kinerja Keuangan, Analisis Rasio, Industri Makanan dan Minuman PENDAHULUAN

Kondisi perekonomian saat ini menggambarkan kompetisi dalam berbagai jenis bisnis.

Kondisi tersebut menuntut perusahaan untuk dapat bertahan dalam kompetisi, perusahaan selalu dituntut untuk mendapatkan pangsa pasar yang lebih luas jangkauannya, namun tetap dapat memanfaatkan persediaan dan modal secara efisien. Suatu perusahaan harus memperhitungkan tahap-tahap yang akan dilakukan untuk mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan, misalnya melakukan analisis laporan keuangan perusahaan. Analisis laporan keuangan pada perusahaan berguna untuk mengetahui kondisi, posisi dan kinerja keuangan perusahaan selama periode tertentu. Tantangan ditengah-tengah kompetisi bisnis yang ada membuat perusahaan sadar akan pentingnya kinerja keuangan yang menunjukan posisi perusahaan dalam suatu industri. Rata- rata industri menjadi standar minimal yang harus dicapai bagi perusahaan sehingga apabila suatu perusahaan memiliki rasio keuangan di atas rata-rata industri maka dapat dikatakan kondisi keuangan perusahaan lebih baik dari kompetitornya.

Analisis laporan keuangan akan membandingkan kinerja perusahaan dengan kinerja dari perusahaan-perusahaan lain dalam industri yang sama, serta mengevaluasi tren posisi keuangan perusahaan dari waktu ke waktu (Brigham, 2006). Analisa laporan keuangan perusahaan pada dasarnya merupakan penghitungan rasio-rasio untuk menilai keadaan keuangan perusahaan di masa lalu, saat ini, dan kemungkinannya dimasa depan (Syamsuddin, 2009). Cara yang dapat digunakan di dalam menganalisa keadaan keuangan perusahaan menggunakan rasio. Rasio memberikan hasil pengukuran relatif dari operasi perusahaan.

(3)

Jenis pengukuran yang digunakan untuk menilai kinerja keuangan perusahaan, yaitu rasio likuiditas, rasio leverage, rasio aktivitas, dan rasio profitabilitas, dan rasio pasar. Keberadaan industri makanan dan minuman merupakan penggerak roda perekonomian nasional. Hal tersebut terlihat pada kontribusi perusahaan makanan dan minuman terhadap tingkat Produk Domestik Bruto (PDB). Sektor makanan, minuman dan tembakau sebagai salah satu penyumbang terbesar dalam pembentukan PDB Indonesia dari tahun 2011 sampai tahun 2014. Berdasarkan PDB atas dasar harga berlaku 2014, kontribusi pertumbuhan PDB khususnya sektor industri pengolahan tahun 2011 pertumbuhan industri migas adalah sekitar 3,41% dan pertumbuhan non migas sebesar 20,93%. Industri makanan dan minuman pada tahun 2011 sebesar 7,37% meningkat menjadi 7,57% pada tahun 2012, namun pada tahun 2013 mengalami penurunan sebesar 7,42% lalu meningkat secara signifikan pada tahun 2014 sebesar 7,70%. Pada triwulan II tahun 2019 kembali memiliki capaian sebesar 19,52% (yoy).

Industri makanan dan minuman selain memiliki kontribusi dalam perolehan Produk Domestik Bruto (PDB) paling besar juga memiliki kontribusi dalam penyerapan sumber daya manusia yang sangat bermanfaat karena dapat mengurangi jumlah pengangguran di Indonesia.

Industri makanan dan minuman banyak menyerap peluang lapangan pekerjaan bagi masyarakat di sekitar lingkungan perusahaan ataupun diluar perusahaan, sehingga kontribusi industri makanan dan minuman memiliki kontribusi paling besar dibanding industri pengolahan lainnya dalam menyediakan lapangan pekerjaan dan penyerapansumber daya manusia.

Pt. Akasha Wira International Tbk merupakan perusahaan makanan dan minuman yang menempati urutan kedua dari semua perusahaan makanan dan minuman di Indonesia. Dilihat dari total asset yang dimiliki sepanjang tahun 2015 sampai 2018 terus mengalami kenaikan dan perolehan laba bersih yang fluktuatif namun pada saat mengalami kenaikan berada pada tingkat yang cukup signifikan.

Grafik 1. Total Asset dan Laba PT Akasha Wira International Tbk Periode 2015-2018

Penelitian yang dilakukan oleh Sharma (2013), Hosan dan Ahsan (2013), Delen et al (2013), Bhamorasathit dan Katawandee (2014), menggunakan beberapa analisis rasio. Analisis rasio ini meliputi rasio likuiditas, rasio leverage, rasio profitabilitas, rasio manajemen aset, dan rasio nilai pasar. Candra Puspita Ningtyas, Suhadak, Nila Firdausi Nuzula (2016) melakukan penelitian evaluasi kinerja keuangan menggunakan analisis rasio pada perusahaan sub sektor makanan dan minuman menggunakan rasio likuiditas, rasio aktivitas, rasio leverage, rasio profitabilitas, dan rasio pasar dengan jumlah sebanyak 19 rasio.

0 100000 200000 300000 400000 500000 600000 700000 800000 900000 1000000

2015 2016 2017 2018

(4)

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka penelitian ini bertujuan untuk menganalisis laporan keuangan untuk mengukur kinerja keuangan pada PT Akasha Wira International Tbk periode 2015 – 2018.

KERANGKA TEORI Rasio Keuangan

Menurut Kasmir (2008) menyatakan bahwa rasio keuangan merupakan kegiatan membandingkan angka-angka yang ada dalam laporan keuangan dengan cara membagi satu angka dengan angka lainnya. Perbandingan dapat dilakukan antara satu komponen dengan komponen dalam satu laporan keuangan antara komponen yang ada diantara laporan keuangan.

Rasio likuiditas

Munawir (2010) menjelaskan rasio likuiditas merupakan rasio yang digunakan untuk menganalisa posisi keuangan jangka pendek, tetapi juga sangat membantu bagi manajemen untuk mengecek efisiensi modal kerja yang digunakan dalam perusahaan, juga penting bagi kreditor jangka panjang dan pemegang saham yang akhirnya atau setidak-tidaknya ingin mengetahui prospek dari dividen dan pembayaran bunga dimasa yang akan datang.

Rasio Lancar (Current Ratio)

Current Ratio adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendeknya dengan menggunakan aktiva lancar yang tersedia.

Current Ratio : 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑒𝑡 𝐿𝑎𝑛𝑐𝑎𝑟 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐾𝑒𝑤𝑎𝑗𝑖𝑏𝑎𝑛 𝐿𝑎𝑛𝑐𝑎𝑟

Rasio Cepat (Quick Ratio)

Quick Ratio adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menutup atau membayar kewajiban lancar dengan menggunakan aktiva lancar tanpa memasukan nilai persediaannya.

Quick Ratio : 𝐊𝐚𝐬 + 𝐒𝐞𝐤𝐮𝐫𝐢𝐭𝐚𝐬 𝐉𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚 𝐏𝐞𝐧𝐝𝐞𝐤 + 𝐏𝐢𝐮𝐭𝐚𝐧𝐠 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐾𝑒𝑤𝑎𝑗𝑖𝑏𝑎𝑛 𝐿𝑎𝑛𝑐𝑎𝑟

Rasio Kas (Cash Ratio)

Cash Ratio digunakan untuk membandingkan antara kas dan aktiva lancar setara kas dengan kewajiban lancer. Harahap (2006) menjelaskan bahwa rasio ini menunjukan indikasi keamanan dari pemberi pinjaman atau bank, bisa juga rasio ini menghitung seberapa besar laba sebelum bunga dan pajak yang tersedia untuk menutup beban tetap bunga.

Cash Ratio : 𝐊𝐚𝐬 + 𝐀𝐤𝐭𝐢𝐯𝐚 𝐒𝐞𝐭𝐚𝐫𝐚 𝐊𝐚𝐬 𝐻𝑢𝑡𝑎𝑛𝑔 𝐿𝑎𝑛𝑐𝑎𝑟

Rasio Solvabilitas

Menurut Kasmir (2012) rasio solvabilitas digunakan untuk mengukur sejauh mana aktiva perusahaan dibiayai dengan utang atau rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar seluruh kewajibannya, baik jangka pendek maupun jangka panjang apabila perusahaan dibubarkan/dilikuidasi

(5)

Rasio Hutang Atas Aktiva (Total Debt to Asset Ratio)

Total Debt to Asset Ratio merupakan rasio utang yang digunakan untuk mengukur perbandingan antara total utang dengan total aktiva, dengan kata lain seberapa besar aktiva perusahaan dibiayai oleh utang.

Total Debt to Asset Ratio : 𝑻𝒐𝒕𝒂𝒍 𝑲𝒆𝒘𝒂𝒋𝒊𝒃𝒂𝒏 𝑻𝒐𝒕𝒂𝒍 𝑨𝒔𝒔𝒆𝒕

Rasio Hutang Atas Modal (Total Debt to Equity)

Total Debt to Equity rasio ini menggambarkan sejauh mana modal pemilik dapat menutupi hutang kepada pihak luar. Semakin kecil rasio ini akan menjadi semakin baik. Maksudnya, semakin kecil jumlah hutang terhadap modal maka akan semakin aman.

Total Debt to Equity : 𝑻𝒐𝒕𝒂𝒍 𝑲𝒆𝒘𝒂𝒋𝒊𝒃𝒂𝒏 𝑻𝒐𝒕𝒂𝒍 𝑴𝒐𝒅𝒂𝒍

Rasio Profitabilitas

Rasio profitabilitas merupakan rasio utuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan. Rasio ini juga memberika ukuran tingkat efektivitas manajemen perusahaan. Kasmir (2012) menjelaskan bahwa rasio pengembalian aset (Return On Assets) digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dengan semua aktiva atau aset yang dimilikinya.

Return On Asset : 𝐿𝑎𝑏𝑎 𝐵𝑒𝑟𝑠𝑖ℎ 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑡

Rasio Pengembalian Ekuitas (Return on Equity)

Digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari investasi pemegang saham perusahaan, yang dinyatakan dalam presentase.

Return On Equity : 𝐿𝑎𝑏𝑎 𝐵𝑒𝑟𝑠𝑖ℎ 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑀𝑜𝑑𝑎𝑙

Return On Investment (ROI)

Digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba terhadap investasi yang telah dikeluarkan. Laba yang digunakan adalah laba yang telah dikurangi pajak atau EAT (Earning After Tax).

Return On Invesment : 𝐋𝐚𝐛𝐚 𝐁𝐞𝐫𝐬𝐢𝐡 𝐒𝐞𝐭𝐞𝐥𝐚𝐡 𝐏𝐚𝐣𝐚𝐤 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑘𝑡𝑖𝑣𝑎

Margin Laba Kotor (Gross Profit Margin)

Membandingkan laba kotor dengan penjualan. Semakin besar presentase atau rasionya, artinya semakin baik kondisi keuangan perusahaan.

Gross Profit Margin : 𝐿𝑎𝑏𝑎 𝐾𝑜𝑡𝑜𝑟

𝑃𝑒𝑛𝑗𝑢𝑎𝑙𝑎𝑛

(6)

Margin Laba Operasi (Operating Profit Margin)

Ukuran dari laba yang telah dikurangi dengan semua biaya dan pengeluaran kecuali bunga dan pajak, dibagi dengan pendapatan. Hasil dari perhitungan tersebut merupakan gambaran laba bersih sebelum bunga dan pajak yang didapat dari setiap rupiah penjualan atau pendapatan.

Operating Profit Margin : Laba Sebelum Bunga dan Pajak 𝑃𝑒𝑛𝑗𝑢𝑎𝑙𝑎𝑛

Margin Laba Bersih (Net Profit Margin)

Digunakan untuk mengukur presentase atau rasio laba bersih setelah dikuragi bunga dan pajak yang dihasilkan dari setiap rupiah penjualan atau pendapatan. Semakin tinggi rasionya berarti semakin baik perusahaan dalam menghasilkan laba.

Net Profit Margin : Laba Bersih Setelah Bunga dan Pajak 𝑃𝑒𝑛𝑗𝑢𝑎𝑙𝑎𝑛

Rasio Aktivitas (Activity Ratio)

Menurut Kasmir (2008) rasio aktivitas digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi pemanfaatan sumber daya perusahaan (penjualan, sediaan, penagihan piutang, dan lainnya) atau rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari.

Perputaran Persediaan (Inventory Turn Over)

Rasio untuk mengukur berapa kali dana yang ditanam dalam sediaan (inventory) ini berputar dalam suatu periode. Standar umum rata-rata industri adalah 20 kali. Apabila mencapai sampai 20 kali berarti inventory turn over lebih baik, perusahaan tidak menahan sediaan dalam jumlah yang berlebihan. Apabila rasio yang diperoleh tinggi, ini menunjukkan perusahaan bekerja secara efisien dan likuid persediaan semakin baik. Demikian pula apabila perputaran sediaan rendah berarti perusahaan bekerja secara tidak efisien atau tidak produktif dan banyak barang sediaan yang menumpuk. Hal ini akan mengakibatkan investasi dalam tingkat pengembalian yang rendah

Inventory Turn Over : 𝑆𝑎𝑙𝑒𝑠

𝐼𝑛𝑣𝑒𝑛𝑡𝑜𝑟𝑦 𝑥 1 𝐾𝑎𝑙𝑖 Perputaran Total Aktiva (Total Assets Turn Over)

Mengukur perputaran semua aktiva yang dimiliki perusahaan dan mengukur berapa jumlah penjualan yang diperoleh dari tiap rupiah aktiva.. Standar umum rata-rata industri untuk rasio ini adalah 2 kali, jika dibawah standar berarti perusahaan belum mampu memaksimalkan aktiva yang dimiliki dan perusahaan diharapkan meningkatkan lagi penjualannya atau mengurangi sebagian aktiva yang kurang produktif

TATO : 𝑆𝑎𝑙𝑒𝑠

𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑘𝑡𝑖𝑣𝑎 𝑥 1 𝑘𝑎𝑙𝑖

Marlina Widiyanti (2014) dalam penelitiannya yang membandingkan Rasio likuiditas, rasio solvabilitas, rasio aktifitas dan rasio profitabilitas pada Pt. Holcim Indonesia, Tbk dan Pt.

Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk menunjukan hasil secara keseluruhan rasio Likuiditas , Rasio Solvabilitas dan rasio Profitabilitas PT. Indocement Tbk lebih baik dari PT. Holcim Tbk. Pada rasio Aktivitas PT. Holcim Tbk lebih baik dari pada Profitabilitas PT. Indocement Tbk.

(7)

Adelina Permatasari (2012), menunjukan bahwa selama tahun 2006-2010 kinerja keuangan PT. Bank Central Asia Tbk dan Bank-Bank Persero Tbk dilihat dari rasio likuiditas dengan perhitungan persentase Cash Ratio memenuhi standar yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.

Sedangkan dilihat dari perhitungan persentase Loan to Deposit Ratio masih berada dibawah standar Bank Indonesia. Dilihat dari rasio solvabilitas dan profitabilitas PT. Bank Central Asia Tbk dan Bank-Bank Persero Tbk dinyatakan sehat menurut standar Bank Indonesia dengan persentase rasio Bank Central Asia Tbk yang lebih tinggi dibandingkan dengan Bank-Bank Persero Tbk

Hazra Sabbir Hossain (2012), Disimpulkan dalam penelitian ini bahwa, sangat sulit untuk membuat keputusan tentang salah satu kinerja perusahaan dan alat ukur, karena semua rumus dan fungsi yang diterapkan untuk mencapai suatu kebutuhan spesifik perusahaan sebagai bagian dari strategi keuangan perusahaan. Jadi, informasi kualitatif juga perlu memahami tujuan perusahaan untuk menggunakan salah satu alat untuk mengukur kinerja mereka. Akhirnya dapat direkomendasikan bahwa, pentingnya analisis rasio tergantung pada kebutuhan spesifik stakeholder dan persyaratan situasional.

METODE PENELITIAN Objek Penelitian

Obyek Penelitian ini adalah data laporan keuangan PT. Akasha Wira International Tbk, Periode 2015-2018. Selama periode 2015-2018 total asset selalu mengalami kenaikan.

Jenis dan Sumber Data

Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif yaitu data berupa perhitungan angka-angka yang kemudian akan dideskripsikan. Data yang digunakan adalah laporan keuangan PT. Akasha Wira International Tbk, periode 2015-2018 yang diperoleh dari website Bursa Efek Indonesia (BEI) www.idx.co.id

Teknik Analisis

Analisis data adalah pengolahan data dengan menggunakan aturan yang sesuai dengan pendekatan-pendekatan penelitian. Dalam penelitian ini penulis menggunakan alat analisis rasio keuangan yang berjumlah 14 rasio untuk melihat dan menilai kinerja keuangan masing-masing perusahaan dan membandingkan kinerja kedua perusahaan tersebut yang terdiri dari:

Rasio Likuiditas (Liquidity Ratio) : Rasio Lancar (Current Ratio) Rasio Solvabilitas (Leverage Ratio) : Total Debt to Asset Ratio

Total Debt to Equity

Rasio Profitabilitas (Profitability Ratio) : Return On Asset (ROA) Return On Investment (ROI) Return On Equity (ROE) Gross Profit Margin (GPM) Operating Profit Margin (OPM) Net Profit Margin (NPM) Rasio Aktivitas (Activity Ratio) : Total Asset Turn Over (TATO)

Inventory Turn Over PEMBAHASAN

PT Akasha Wira International Tbk didirikan dengan nama PT Alfindo Putrasetia pada tahun 1985. Nama Perusahaan telah diubah beberapa kali, terakhir pada tahun 2010, ketika nama

(8)

Perusahaan diubah menjadi PT Akasha Wira International Tbk. Oleh karena itu kinerja keuangan PT. Akasha Wira International Tbk selama periode 2015 sampai 2018 dapat dilihat pada tabel 1

Tabel 1. Rasio Keuangan PT. Akasha Wira International Tbk Periode 2015-2018

Rasio Keuangan 2015 2016 2017 2018 Current Ratio

Total Debt to Asset Ratio Total Debt to Equity Return On Asset Return On Equity Return On Invesment Gross Profit Margin Operating Profit Margin Net Profit Margin Total Asset Turn Over Inventory Turn Over

139%

50%

99%

5,02%

10%

5,5%

50,7%

6,59%

5%

1 Kali 7 Kali

164%

50%

100%

7,29%

15%

7,29%

51,8%

6,94%

6%

1 Kali 9 Kali

120%

50%

99%

4,55%

9%

4,59%

53,8%

6,27%

5%

1 Kali 8 Kali

139%

45%

83%

6%

11%

6,68%

48,3%

8,71%

7%

1 Kali 7 Kali

Sumber : Laporan Keuangan PT Akasha Wira International Tbk Rasio Likuiditas

Rasio Lancar

Berdasarkan tabel 1 menunjukan bahwa terjadi kenaikan yang cukup signifikan dari tahun 2015 – 2016. Hal ini terjadi karena perolehan dana kas dan setara kas menurun dan pada rekening utang terdapat kenaikan yang sangat jauh untuk pinjaman bank jangka Panjang yang jatuh tempo dalam waktu satu tahun. Namun dalam hal ini perusahaan masih mampu menutupi kewajiban dengan asset lancer yang dimiliki. Tahun 2016 terjadi penurunan ke tahun 2017 yang cukup signifikan disebabkan oleh adanya penurunan pada kas, piutang usaha dan terjadi kenaikan yang signifikan pada rekening persediaan dan semua rekening utang. Namun dalam hal ini jumlah asset yang dimiliki masih lebih besar sehingga masih dapat menutupi kewajiban jangka pendeknya.

Tahun 2018 kembali mengalami kenaikan disebabkan oleh jumlah kas yang dimiliki mengalami pertambahan yang cukup signifikan sebesar empat kali jumlah tahun 2017, sedangkan pada rekening utang tidak terjadi kondisi yang terlalu signifikan, sehingga pada tahun 2018 perusahaan mampu membayar kewajiban jangka pendeknya. Selama tahun 2015 sampai 2018 rasio lancar berada dibawah rata-rata industri 200%.

Rasio Solvabilitas Total Debt to Asset Ratio

Pada tabel 1 menunjukan pada tahun 2015 – 2017 rasio utang berada pada posisi stabil yaitu 50%. Hal ini berarti bahwa pendanaan yang dibiayai dengan utang sebanding dengan perolehan asset yang dimiliki. Tahun 2018 mengalami penurunan disebabkan oleh kenaikan pada rekening utang pada bank. Hal ini berarti bahwa tahun 2018 kegiatan operasional perusahaan banyak dibiayai oleh pinajaman bank. Namun hal ini manajemen perusahaan masih dapat mengelola asset secara efisien.

(9)

Total Debt to Equity

Pada tabel 1 menunjukan pada tahun 2015 -2017 berada dalam kondisi stabil yaitu 99% - 100%. Hal ini menandakan bahwa permodalan pada perusahaan banyak dibiayai dari utang.

Sedangkan tahun 2018 mengalami penurunan yang berarti juga masih besar pendanaan untuk modal yang berasal dari pinjaman bank. Kondisi yang demikian belum baik untuk kinerja perusahaan.

Profitabilitas Return On Asset

Pada tabel 1 menunjutkan bahwa kondisi ROA tahun 2015 mengalami kenaikan pada tahun 2016. Hal ini disebabkan oleh adanya kenaikan yang cukup signifikan dari laba bersih yaitu Rp 32.839.000.000 menjadi Rp 55.951.000.000. Adanya kenaikan pada hasil penjualan mengakibatkan penambahan asset yang dimiliki. Tahun 2017 mengalami penurunan yang disebabkan oleh penjualan bersih yang menurun dan kenaikan pada persediaan yang cukup signifikan sehingga mengakibatkan total asset menurun. Tahun 2018 kembali mengalami kenaikan namun tidak terlalu signifikan. Walaupun kondisi penjualan mengalami penurunan, namun diiringi dengan pengeluaran beban-beban yang menurun pula, sehingga laba masih bisa dioptimalkan karena tidak banyak pengadaan asset, dana yang ada banyak menambah rekening kas dan setara kas.

Return On Equity

Berdasarkan tabel 1 menandakan bahwa tahun 2016 mengalami kenaikan sebesar 5% dari tahun 2015. Dalam laporan keuangan didapati laba bersih dan total mengalami kenaikan, namun melihat rasio yang diperoleh cukup kecil, ini berarti perusahaan belum memiliki modal kepemilikan yang kuat untuk perusahaannya. Kondisi yang sama juga dialami tahun 2017 – 2018.

Return On Invesment

Kondisi ROI pada PT Akasha Wira International Tbk berada pada tabel 1 berada dalam kondisi yang fluktuatif. Tahun 2015 mengalami kenaikan di tahun 2016, kemudian terjadi penurunan kembali tahun 2017 dan naik di tahun 2018. Hal ini dapat terjadi karena laba bersih yang juga mengalami kondisi naik turun dalam waktu yang berselang sedangkan jumlah asset yang bertambah setiap tahun. Kenaikan asset yang terjadi belum diiringi dengan kondisi laba yang dihasilkan.

Gross Profit Margin

Pada tahun 2015 -2017 kondisi rasio GPM mengalami kenaikan berturut-turut. Hal ini berada dalam kondisi baik yang disebabkan karena tahun 2016 PT Akasha Wira International Tbk berhasil menaikan hasil penjualan sebesar 25%. Walaupun tahun 2017 penjualan bersih mengalami penurunan, namun masih lebih besar dari perolehan tahun 2015. Tahun 2018 kondisi GPM mengalami penurunan yang disebabkan oleh penjualan yang menurun sebesar 1,26%

sehingga berdampak pada laba kotor yang dihasilkan.

Operating Profit Margin

Pada tabel 1 menunjukan besarnya rasio OPM tahun 2015 sampai 2017 berada dalam kondisi stabil, kemudian mengalami kenaikan pada tahun 2018 yang disebabkan adanya kenaikan

(10)

dari penghasilan keuangan dan turunnya besaran beban-beban yang ditanggung pada periode tahun 2018.

Net Profit Margin

Kondisi NPM jika dilihat pada tabel 1 menunjukan bahwa kondisi PT Akasha Wira International Tbk berada pada kondisi stabil berkisar 5% sampai 7% dimana hal ini berarti perusahaan belum dapat memaksimalkan laba yang diperoleh, namun cukup baik untuk kinerjanya.

Perputaran Aktiva Total Asset Turn Over

Berdasarkan tabel 1 dapat dijelaskan bahwa kondisi rasio TATO selama periode 2015 sampai 2018 berada pada kondisi stabil. Hal ini berarti semua aktiva yang dimiliki PT Akasha Wira International Tbk dikeluarkan atau diputar sebanyak satu kali untuk menghasilkan penjualan.

Inventory Turn Over

Pada tabel 1 menunjukan bahwa banyak persediaan yang dikeluarkan untuk menghasilkan penjualan selama satu periode yaitu tahun 2015 sebanyak 7 kali, tahun 2016 sebanyak 9 kali, tahun 2017 sebanyak 8 kali dan tahun 2018 sebanyak 7 kali.

KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN

Berdasaran hasil penelitian yang telah diuraikan, maka penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kondisi keuangan PT. Akasha Wira International Tbk ditinjau dari rasio likuiditas berada dalam posisi likuid, ditinjau dari rasio solvabilitas berada pada posisi solvable, ditinjau dari rasio profitbilitas berada pada posisi profitable dan dari rasio perputaran aktiva sudah cukup baik dan efisien namun masih perlu di optimalkan kembali.

SARAN

Bagi penulis selanjutnya, akan lebih menyeluruh jika menggunakan seluruh rasio dan dapat pula membandingkan perusahaan sejenis antara perusahaan dengan peringkat teratas dengan peringkat bawah agar lebih terlihat keunggulan dan kekurangan masing-masing perusahaan melihat dari laporan keuangan

DAFTAR PUSTAKA

Bhamorasathit, Slisa., Katawandee, Punthumadee. 2014. Ratio Analysis of Publicly Traded Hotel Companies Listed in The Stock Exchange of Thailand (SET). Journal Proceedings of ASBBS, Vol. 21, No. 1, pp. 92-96.

Brigham, Eugene F dan Houston. 2006. Fundamental of Financial Management: Dasar-Dasar Manajemen Keuangan. Edisi 10. Jakarta: Salemba Empat.

Harahap, Sofyan Syafri. 2006. Analisis Kritis Atas Laporan Keuangan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Hossan, Faruk and Md Ahsan Habib. 2010. Performance Evaluation and Ratio Analysis of Pharmaceutical Company in Bangladesh. Master Thesis in International Business.

Department of Economic and Informatics. University West.

Kasmir. 2008. Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

(11)

Munawir, S. 2010. Analisis laporan Keuangan Edisi keempat. Cetakan Kelima Belas. Yogyakarta:

Liberty

Ningtyas, Candra Puspita. Suhadak. Nuzula, Nila Firdausi. 2016. Evaluasi Kinerja Dan Perbandingan Analisis Rasio (Studi Pada Sektor Makanan Dan Minuman Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2010-2014). Jurnal Bisnis dan Manajemen (3) 2

Permatasari, Adelina. 2012. Anaisis komparatif kinerja keuagan PT. Bank Central Asia, Tbk dengan bank-bank persero, tbk.Universitas Sriwijaya

Sharma, A.K., Kumar, S. (2010). Economic Value Added (EVA) – Literature Review and Relevant Issues. International Journal of Economic and Finance, 2(2). 200- 220.

Syamsuddin. 2009. Manajemen Keuangan Perusahaan. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada Widiyanti , Marlina. 2014. Analisis Rasio Likuiditas, Rasio Solvabilitas, Rasio Aktifitas Dan Rasio

Profitabilitas Pada Pt. Holcim Indonesia, Tbk Dan Pt. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk.

Jurnal Ilmiah Manajemen Bisnis Dan Terapan Tahun XI No 1

www.idx.co.id

https://www.akashainternational.com

Gambar

Grafik 1. Total Asset dan Laba PT Akasha Wira International Tbk   Periode 2015-2018
Tabel 1. Rasio Keuangan  PT. Akasha Wira International Tbk  Periode 2015-2018

Referensi

Dokumen terkait

Masalah yang dialami oleh Koperasi Susu Sintari ini tidak berdampak negatif pada semua petani/peternak lainnya, disebabkan karena mereka masih ingin meningkatkan

Privatisasi melalui pasar modal belum tentu dapat memacu pertumbuhan perekonomian.Hal ini terjadi bisa dilihat dari komposisi investor yang membeli saham BUMN di

Hipotesis 2 total asset turn over tidak berpengaruh terhadap return on assets Total asset turn over merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur perputaran semua aktiva yang

Apabila perkembangan negosiasi perdagangan sektor jasa dalam forum World Trade Organization (WTO) yang masih berlangsung sampai saat ini diamati secara cermat, maka dapat

Gaya komunikasi menurut Wubbles diatas, dapat dikategorikan berdasarkan ciri-ciri yang membedakannya, yaitu adanya indikator penciptaan suasana kelas, pemberian tugas atau

Pengisian nama orang tua/wali pemilik SKHUAMBN, diisi sesuai dengan yang tercantum pada ijazah/STTB yang diperoleh dari jenjang pendidikan sebelumnya atau

Peranan OCHA sangat penting, dibandingkan organisasi lainnya dikarenakan OCHA merupakan aktor utama yang bertanggung jawab atas berjalannya program penanggulangan

Fungsi iklan adalah brosur benar-benar sangatlah penting sebagai alat iklan atau alat promosi, yang menarik dan juga memungkinkan kamu untuk mempromosikan satu atau