Sesuai PP no. 38 tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota, diamanatkan bahwa kewenangan pembangunan bidang Cipta Karya merupakan tanggung jawab Pemerintah Kabupaten/Kota. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten/Kota terus didorong untuk meningkatkan belanja pembangunan prasarana Cipta Karya agar kualitas lingkungan permukiman di daerah meningkat. Di samping membangun prasarana baru, pemerintah daerah perlu juga perlu mengalokasikan anggaran belanja untuk pengoperasian, pemeliharaan dan rehabilitasi prasarana yang telah terbangun. Namun, seringkali pemerintah daerah memiliki keterbatasan fiscal dalam mendanai pembangunan infrastruktur permukiman. Pemerintah daerah cenderung meminta dukungan pendanaan pemerintah pusat, namun perlu dipahami bahwa pembangunan yang dilaksanakan Ditjen Cipta Karya dilakukan sebagai stimulan dan pemenuhan standar pelayanan minimal. Oleh karena itu, alternative pembiayaan dari masyarakat dan sektor swasta perlu dikembangkan untuk mendukung pembangunan bidang Cipta Karya yang dilakukan pemerintah daerah.
Dengan adanya pemahaman mengenai keuangan daerah, diharapkan dapat disusun langkah-langkah peningkatan investasi pembangunan bidang Cipta Karya di daerah.
Pembahasan aspek pembiayaan dalam RPI2JM pada dasarnya bertujuan untuk:
Mengidentifikasi kapasitas belanja pemerintah daerah dalam melaksanakan pembangunan bidang Cipta Karya,
Mengidentifikasi alternatif sumber pembiayaan antara lain dari masyarakat dan sektor swasta untuk mendukung pembangunan bidang Cipta Karya, Merumuskan rencana tindak peningkatan investasi pembangunan bidang Cipta Karya.
9.1 Arahan Kebijakan Pembiayaan Bidang Cipta Karya
Arah kebijakan pengelolaan keuangan daerah tidak terlepas dari kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah yang dilakukan dengan menekankan pada prinsip keadilan, kepatutan dan manfaat sebagai konsekuensi hubungan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.
Dalam rangka mendukung terwujudnya good and clean goverment, pengelolaan keuangan Kabupaten Pacitan disusun sesuai dengan kebutuhan penyelenggaraan pemerintahan dan kemampuan pendapatan daerah serta dilakukan secara profesional mengacu perundang-undangan yang berlaku dengan prinsip :
Partisipasi masyarakat
Transparansi dan akuntabilitas Disiplin
Keadilan
Efisiensi dan efektifitas
Pembiayaan pembangunan bidang Cipta Karya perlu memperhatikan arahan dalam peraturan dan perundangan terkait, antara lain:
Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah:
Pemerintah daerah diberikan hak otonomi daerah, yaitu hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Dalam hal ini, Pemerintah Daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya, kecuali urusan pemerintahan yang menjadi urusan Pemerintah Pusat yaitu politik luar negeri, pertahanan, keamanan, yustisi, moneter dan fiskal nasional, serta agama.
Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah: untuk mendukung penyelenggaraan otonomi daerah, pemerintah daerah didukung sumber-sumber pendanaan meliputi Pendapatan Asli Daerah, Dana Perimbangan, Pendapatan Lain yang Sah, serta Penerimaan Pembiayaan. Penerimaan daerah ini akan digunakan untuk mendanai pengeluaran daerah yang dituangkan dalam Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang ditetapkan melalui Peraturan Daerah.
Peraturan Pemerintah No. 55 Tahun 2005 Tentang Dana Perimbangan:
Dana Perimbangan terdiri dari Dana Alokasi Umum, Dana Bagi Hasil, dan Dana Alokasi Khusus. Pembagian DAU dan DBH ditentukan melalui rumus yang ditentukan Kementerian Keuangan. Sedangkan DAK digunakan untuk mendanai kegiatan khusus yang ditentukan Pemerintah atas dasar prioritas nasional. Penentuan lokasi dan besaran DAK dilakukan berdasarkan kriteria umum, criteria khusus, dan kriteria teknis.
Peraturan Pemerintah No. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, Dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota: Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah, terdiri atas urusan wajib dan urusan pilihan. Urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah untuk kabupaten/kota merupakan urusan yang berskala kabupaten/kota meliputi 26 urusan, termasuk bidang pekerjaan umum. Penyelenggaraan urusan pemerintahan yang bersifat wajib yang berpedoman pada standar pelayanan minimal dilaksanakan secara bertahap dan ditetapkan oleh Pemerintah. Urusan wajib pemerintahan yang merupakan urusan bersama diserahkan kepada daerah disertai dengan sumber pendanaan, pengalihan sarana dan prasarana, serta kepegawaian sesuai dengan urusan yang didesentralisasikan.
Peraturan Pemerintah No. 30 Tahun 2011 tentang Pinjaman Daerah:
Sumber pinjaman daerah meliputi Pemerintah, Pemerintah Daerah Lainnya, Lembaga Keuangan Bank dan Non-Bank, serta Masyarakat. Pemerintah Daerah tidak dapat melakukan pinjaman langsung kepada pihak luar negeri, tetapi diteruskan melalui pemerintah pusat. Dalam melakukan pinjaman daerah Pemda wajib memenuhi persyaratan:
total jumlah pinjaman pemerintah daerah tidak lebih dari 75%
penerimaan APBD tahun sebelumnya;
memenuhi ketentuan rasio kemampuan keuangan daerah untuk mengembalikan pinjaman yang ditetapkan pemerintah paling sedikit 2,5;
persyaratan lain yang ditetapkan calon pemberi pinjaman;
tidak mempunyai tunggakan atas pengembalian pinjaman yang bersumber dari pemerintah;
pinjaman jangka menengah dan jangka panjang wajib mendapatkan persetujuan DPRD.
Peraturan Presiden No. 67 Tahun 2005 Tentang Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur (dengan perubahan Perpres 13/2010 & Perpres 56/2010): Menteri atau Kepala Daerah dapat bekerjasama dengan badan usaha dalam penyediaan infrastruktur. Jenis infrastruktur permukiman yang dapat dikerjasamakan dengan badan usaha adalah infrastruktur air minum, infrastruktur air limbah permukiman dan prasarana persampahan.
Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah (dengan perubahan Permendagri 59/2007 dan Permendagri 21/2011): Struktur APBD terdiri dari:
Pendapatan daerah yang meliputi: Pendapatan Asli Daerah, Dana Perimbangan, dan Pendapatan Lain yang Sah.
Belanja Daerah meliputi: Belanja Langsung dan Belanja Tidak Langsung.
Pembiayaan Daerah meliputi: Pembiayaan Penerimaan dan Pembiayaan Pengeluaran.
Peraturan Menteri PU No. 15 Tahun 2010 Tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur: Kementerian PU menyalurkan DAK untuk pencapaian sasaran nasional bidang Cipta Karya, Adapun ruang lingkup dan kriteria teknis DAK bidang Cipta Karya adalah sebagai berikut:
Bidang Infrastruktur Air Minum
DAK Air Minum digunakan untuk memberikan akses pelayanan sistem penyediaan air minum kepada masyarakat berpenghasilan rendah di kawasan kumuh perkotaan dan di perdesaan termasuk daerah pesisir dan permukiman nelayan. Adapun kriteria teknis alokasi DAK diutamakan untuk program percepatan pengentasan kemiskinan dan memenuhi sasaran/ target Millenium Development Goals (MDGs) yang mempertimbangkan:
Jumlah masyarakat berpenghasilan rendah;
Tingkat kerawanan air minum.
Bidang Infrastruktur Sanitasi
DAK Sanitasi digunakan untuk memberikan akses pelayanan sanitasi (air limbah, persampahan, dan drainase) yang layak skala kawasan kepada masyarakat berpenghasilan rendah di perkotaan yang diselenggarakan melalui proses pemberdayaan masyarakat. DAK Sanitasi diutamakan untuk program peningkatan derajat kesehatan masyarakat dan memenuhi sasaran/target MDGs yang dengan kriteria teknis:
kerawanan sanitasi;
cakupan pelayanan sanitasi.
Peraturan Menteri PU No. 14 Tahun 2011 tentang Pedoman Pelaksanaan Kegiatan Kementerian Pekerjaan Umum yang Merupakan Kewenanangan Pemerintah dan Dilaksanakan Sendiri: Dalam menyelenggarakan kegiatan yang dibiayai dana APBN, Kementerian PU membentuk satuan kerja berupa Satker Tetap Pusat, Satker Unit Pelaksana Teknis Pusat, dan Satuan Non Vertikal Tertentu. Rencana program dan usulan kegiatan yang diselenggarakan Satuan Kerja harus mengacu pada RPIJM bidang infrastruktur ke-PU-an yang telah disepakati. Gubernur sebagai wakil Pemerintah mengkoordinasikan penyelenggaraan urusan kementerian yang dilaksanakan di daerah dalam rangka keterpaduan pembangunan wilayah dan pengembangan lintas sektor.
Berdasarkan peraturan perundangan tersebut, dapat disimpulkan bahwa lingkup sumber dana kegiatan pembangunan bidang Cipta Karya yang dibahas dalam RPIJM meliputi:
Dana APBN, meliputi dana yang dilimpahkan Ditjen Cipta Karya kepada Satuan Kerja di tingkat provinsi (dana sektoral di daerah) serta Dana Alokasi Khusus bidang Air Minum dan Sanitasi.
Dana APBD Provinsi, meliputi dana daerah untuk urusan bersama (DDUB) dandana lainnya yang dibelanjakan pemerintah provinsi untuk pembangunan infrastruktur permukiman dengan skala provinsi/regional.
Dana APBD Kabupaten/Kota, meliputi dana daerah untuk urusan bersama (DDUB) dan dana lainnya yang dibelanjakan pemerintah
kabupaten untuk pembangunan infrastruktur permukiman dengan skala kabupaten/kota.
Dana Swasta meliputi dana yang berasal dari skema kerjasama pemerintah dan swasta (KPS), maupun skema Corporate Social Responsibility (CSR).
Dana Masyarakat melalui program pemberdayaan masyarakat.
Dana Pinjaman, meliputi pinjaman dalam negeri dan pinjaman luar negeri.
Dana-dana tersebut digunakan untuk belanja pembangunan, pengoperasian dan pemeliharaan prasarana yang telah terbangun, serta rehabilitasi dan peningkatan prasarana yang telah ada. Oleh karena itu, dana-dana tersebut perlu dikelola dan
direncanakan secara terpadu sehingga optimal dan memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi peningkatan pelayanan bidang Cipta Karya.
9.2 Kebijakan Umum Pengelolaan Keuangan Daerah
9.2.1 Kebijakan Umum Pendapatan DaerahPerubahan kewenangan daerah secara fungsi maupun struktur pemerintahan, mengakibatkan pemerintah daerah harus melakukan penyesuaian-penyesuaian dalam menyelenggarakan pemerintahan sebagai konsekuensi terhadap perubahan kewenangan. Disatu sisi dengan adanya pemberian otonomi mengakibatkan daerah memiliki kemandirian untuk menentukan sendiri urusan pemerintahan yang sesuai dengan kondisi daerah sehingga diharapkan lebih optimal dalam membangun masyarakat untuk mencapai kemakmuran serta kesejahteraan, akan tetapi disisi lain dengan adanya otonomi daerah berdampak secara langsung terhadap peningkatan kebutuhan pendanaan daerah. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut maka perlu diatur pemenuhan kebutuhan dana pemerintah melalui dana perimbangan antara pemerintah pusat dan daerah sebagaimana telah diatur dalam Undang- Undang Nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah sehingga pemerintah pusat dan daerah dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.
Pendapatan Asli Daerah
Kebijakan perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah sesuai dengan kewenangan, mengakibatkan munculnya desentralisasi fiskal yang memberikan kewenangan bagi daerah untuk mengeluarkan kebijakan keuangan daerah sehingga dapat memenuhi kebutuhan pendanaanya melalui sumber-sumber penerimaan daerah yaitu Pendapatan Asli Daerah (PAD). Oleh karena itu, setiap daerah harus mampu mengandalkan PAD untuk melaksanakan pembangunan yang berarti bahwa masing-masing daerah harus mampu menggali potensi daerah yang ada sehingga menjadi PAD, dari PAD dan dana yang diperoleh dari pemerintah pusat kebutuhan anggaran daerah dapat dipenuhi. Peningkatan PAD yang merupakan cerminan dari kemandirian daerah serta memberi peluang bagi daerah untuk melakukan pembangunan mengakibatkan daerah termotivasi untuk mengelola sumber-sumber pendapatan daerah tanpa membebani masyarakat melalui upaya intensifikasi serta ektensifikasi pendapatan daerah yaitu :
Melakukan intensifikasi pemungutan pajak dan restribusi daerah melalui upaya penertiban pemungutan pajak serta memperbaiki sistem pengendalian dan pengawasan sehingga diharapkan mampu meningkatkan PAD dari sektor pajak dan restribusi daerah.
Melakukan rehabilitasi dan optimalisasi infrastrukutur yang potensial serta mendukung sektor perekonomian.
Menggali sumber-sumber penerimaan baru yang memiliki potensi terhadap peningkatan PAD.
Melakukan pemutakhiran data obyek dan subyek pajak khususnya PBB Peningkatan SDM dan cara menugaskan aparatur untuk mengikuti diklat teknis dan fungsional bagi petugas pajak.
Melakukan koordinasi dan evaluasi pelaksanaan pemungutan pajak daerah, restribusi daerah, pendapatan lain-lain yang sah dan PBB serta pajak propinsi sehingga mempermudah pemungutan dan percepatan penerimaan pendapatan daerah.
Pembinaan terhadap kinerja perusahaan daerah Peningkatan pengelolaan aset daerah.
Tabel 9.1 Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Bondowoso
Sumber ; Buku Penjabaran Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah Kabupaten Bondowoso
Dana Perimbangan
Dana perimbangan merupakan sumber pendapatan daerah yang diperoleh dari APBN sebagai hak pemerintah daerah yang ditujukan untuk mendukung pelaksanaan pemberian otonomi daerah. Dana perimbangan didasarkan pada pembagian secara proporsional serta adil untuk dimanfaatkan bagi pemenuhan kebutuhan masyarakat secara realistis.
Sebagai konsekuensinya, pembangunan yang ditujukan untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat harus dapat dipertangungjawabkan kepada masyarakat secara transparan dan akuntabel dan bagi pemerintah daerah dengan adanya dana perimbangan menimbulkan tanggung jawab bagi pemerintah daerah untuk turut membantu pemenuhan penerimaan pendapatan serta bertangungg jawab terhadap penggunaan dana perimbangan melalui :
Berperan serta secara aktif terhadap pengelolaan pajak dan pendapatan lainnya yang berupa pendapatan bagi hasil bagi daerah.
Menetapkan target pajak yang diaplikasikan dalam realisasi pajak secara optimal.
Berperan aktif untuk melakukan koordinasi dengan pemerintah pusat maupun pemerintah propinsi terkait dengan alokasi dana perimbangan sesuai dengan kebutuhan yang telah dianggarkan.
Tabel 9.2 Dana Perimbangan Kabupaten Bondowoso
Sumber ; Buku Penjabaran Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah Kabupaten Bondowoso 2007 – 2009
Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah
Uraian APBD
No Bagian dan Pos 2007 2008 2009
1 Pendapatan Asli Daerah 107,090,581.00 106,396,376 113,008,653.97
a. Pajak Daerah 45,530,768 44,204,629 46,420,715.39
b. Retribusi Daerah 18,235,674 17,831,969 19,350,983.91
c. Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan 23,288,884 22,179,889 24,683,319.01
d. Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang sah 20,035,255 22,179,889 22,553,635.67
Uraian APBD % PROYEKSI PROYEKSI
No Bagian dan Pos 2007 2008 2009 PERTUMBUHAN 2009 2010 2011 2012 2013
2. Dana Perimbangan 121,383,633.00 123,991,358.00 142,017,149.33 152,596,387 12,304,540 14,351,602 16,781,851 19,668,492
a. Dana Bagi hasil Pajak / bagi hasil bukan pajak 29,557,449 36,965,530 45,265,149.33 19.19% 53,950,643 10,352,069 12,338,428 14,705,930 17,527,709
b. Dana Alokasi Umum 46,456,744 46,545,828 46,843,000.00 0.41% 47,036,412 194,211 195,013 195,818 196,627
c. Dana Alokasi Khusus 45,369,440 40,480,000 49,909,000.00 3.41% 51,609,332 1,758,260 1,818,161 1,880,104 1,944,156
Penerimaan Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah adalah pendapatan daerah yang berasal dari Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi dan Pemerintah Daerah lainnya, dan Dana Penyesuaian dan Otonomi khusus.
Kebijakan yang ditetapkan untuk pendapatan tersebut adalah aktif bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur guna meningkatkan penerimaan dari sektor pajak yang dikelola oleh Pemerintah Provinsi.
Tabel 9.3 Dana Pendapatan Daerah Yang Sah Kabupaten Bondowoso
Sumber ; Buku Penjabaran Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah Kabupaten Bondowoso 2007 – 2009
Uraian APBD % PROYEKSI PROYEKSI
No Bagian dan Pos 2007 2008 2009 PERTUMBUHAN 2009 2010 2011 2012 2013
3 Lain-lain Pendapatan daerah yang sah 42669787 43856500 45,482,915.31 3.14% 46,911,484 1,473,439 1,519,718 1,567,450 1,616,682 a. Pendapatan hibah
b. Dana bagi hasil pajak dari provinsi dan pemerintah daerah lainnya 42,669,787 43,856,500 44,512,349.73 2.09% 45,442,504 949,592 969,435 989,693 1,010,374 c. Bantuan keuangan dari provinsi atau pemerintah daerah lainnya 970,565.58
9.2.2 Kebijakan Umum Belanja Daerah
Terbitnya Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah yang disempurnakan dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 tahun 2007 telah merubah arah kebijakan umum belanja daerah dengan sistem anggaran kinerja sehingga komponen- komponen belanja daerah disusun berdasarkan aspirasi masyarakat dengan mempertimbangan kondisi dan kemampuan daerah termasuk pula dengan mempertimbangkan kinerja dalam tahun berjalan.Kebijakan belanja daerah merupakan refleksi dari kinerja pemerintah dalam memberikan pelayanan terhadap masyarakat secara efektif dan efisien serta menunjukkan respon pemerintah daerah untuk menangkap secara jeli penggunaan alokasi belanja daerah serta kontribusinya bagi pembangunan disesuaikan dengan prioritas kebutuhan daerah, Adapun Kebijakan belanja adalah sebagai berikut:
Memperhatikan ketentuan-ketentuan pengelolaan keuangan negara yang diwajibkan, yang dibatasi maupun yang dilarang.
Peningkatan sinergitas dan keterpaduan antara dokumen perencanaan pembangunan daerah dengan proses dan mekanisme penganggaran daerah.
Transparansi penyusunan dan pemanfaatan APBD yang memperhatikan skala prioritas dan memtimbangkan aspirasi dan melibatkan masyarakat Menyediakan anggaran pendamping dan anggaran penunjang bagi pelaksanaan bantuan program, baik yang berasal dari pemerintah propinsi, pemerintah pusat, maupun dari pihak lainnya sesuai ketetuan yang dipersyaratkan.
Optimalisasi pemanfaatan dana perimbangan, dan dekonsentrasi, serta sumber dana lain dari pemerintah pusat.
Peningkatan kualitas SDM aparatur pengelola keuangan dan pengelola anggaran daerah.
9.3 Profil Keuangan Perusahaan Daerah
Dalam mendukung sumber pembiayaan dalam komponen proyek cost recovery pemerintah daerah tentunya telah memiliki BUMD untuk mendukung sumber pembiayaan tesebut, BUMD tersebut antara lain seperti sektor listrik, air minum, dan sebagainya.
Air Minum
Air minum di Kabupaten Bondowoso diusahakan oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Data output, baiaya antara dan nilai tambah bruto atas dasar harga berlaku diperoleh langsung dari hasil survei lengkap perusahaan air minum yang dilaksnakan setiap tahun oleh Badan Puat Statistik (BPS) Kabupaten Bondowoso. Nilai tambah Bruto atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan cara yang sama seperti sektor listrik.
Listrik
Sektor listrik mencakup kegiatan pembangkittan dan penyaluran tenaga listrik yang diselenggarakan oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN) UPJ Bondowoso. Data produksi rata-rata tarif listrik PLN diperoleh dari PLN Distribusi Jawa timur.
Nilai tambah bruto atas dasar harga berlaku diperoleh dengan cara pendekatan produksi yaitu produksi listrik (Kwh) dikalikan rata-rata tarif listrik per Kwh, kemudian hasilnya dikurangi biaya antara terhadap output yang merupakan hasil SKPR. Nilai tambah bruto atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan cara revaluasi.
Bangunan/Konstruksi
Mencakup segala kegiatan pembangunan fisik (konstruksi), baik berupa gedung, jembatan dan konstruksi lainnya. Data ouput, biaya antara dan nilai tambah bruto atas dasar harga berlaku diperoleh dari penjumlahan nilai pembangunan prasarana fisik yang dari segi pendanaan dapat dirinci menjadi : nilai pembangunan Propinsi Jawa Timur, Kabupaten Bondowoso dan Pemerintah desa yang dibiayai dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah serta perbaikannya, pembangunan-pembangunan yang dilakukan oleh developer, serta yang dilakukan oleh swadaya masyarakat murni dijadikan dasar untuk megestimasi nilai tambah bruto sektor kontruksi.
Nilai tambah bruto atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan cara
deflasi dengan deflatornya Indek Harga Perdagangan Besar barang-barang bangunan.
Angkutan
Angkutan Jalan Raya
Mencakup kegiatan pengangkutan barang dan penumpang yang dilakukan oleh perusahaan angkutan umum baik bermotor maupun tidak bermotor seperti bus, truk, angkutan pedesaan, angkutan kota, ojek, becak dan sebagainya.
Nilai tambah bruto atas dasar harga berlaku diperoleh dengan cara mengalikan jumlah kendaraan angkutan umum perjenis kendaraan dengan rata-rata output perjenis kendaraan, kemudian dikurangi biaya antara. Biaya antara diperoleh dari rasio biaya antara terhadap output dikalikan nilai outputnya menurut jenis kendaraan.
Data jumlah kendaraan angkutan umum diperoleh dari laporan Dinas Perhubungan Kabupaten Bondowoso, sedangkan data rata-rata ouptu perjenis kendaraan dan rasio biaya antara terhadap output diperoleh dari SKPR. Nilai tambah bruto atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan cara evaluasi.
Jasa Penunjang Angkutan
Mencakup kegiatan pemberian jasa dan penyediaan fasilitas yang sifatnya menunjang dan berkaitan dengan kegiatan pengangkutan, seperti terminal dan parkir, keagenan barang dan penumpang, ekspedisi, bongkar muat/penyimpanan dan penggudangan serta jasa penunjang transport.
Nilai tambah bruto atas dasar harga berlaku dihitung dengan menggunakan indikator jumlah terminal, parkir, keagenan barang dan penumpang, ekspedisi, bongkar muat, penyimpanan dan penggudangan dikalikan dengan output perindikator kemudian dikurangi dengan biaya antaranya.
Nilai tambah bruto atas dasar harga konsatan 2000 dihitung dengan cara ekstrpoalsi dengan ekstrapolatornya jumlah terminal, parkir, keagenan barang dan penumpang, ekspedisi, bongkar muat, penyimpanan dan penggudangan.
9.3.1 Arah Pengelolaan Pendapatan Daerah
Pengelolaan pendapatan daerah lebih diarahkan pada optimalisasi pendapatan daerah melalui upaya yang efektif dan efesien serta mendapatkan dukungan masyarakat. Adapun arah pengelolaan pendapatan :
Kewenangan yang lebih luas dalam mengoptimalkan perolehan pendapatan daerah.
Mendayagunakan dana melalui pola deposito.
Perubahan manajemen keuangan dengan memberi peran lebih pada kas umum daerah.
Intensifikasi dan ekstensifikasi penggalian sumber-sumber pendapatan daerah, terutama melalui usaha daerah dan pendayagunaan aset daerah.
Peningkatan kemampuan dan optimalisasi organisasi di bidang pendapatan atau organisasi penghasil.
Upaya-upaya efektif dalam penggalian sumber-sumber pendapatan daerah harus terus dilakukan tanpa harus menambah beban bagi masyarakat sehingga nantinya pendapatan daerah tidak lagi harus bergantung pada satu atau dua jenis pajak daerah saja, diversifikasi sumber pendapatan daerah menjadi mutlak dicari agar ketergantungan dan resiko dapat disebar, mengingat struktur ekonomi di Bondowoso lebih banyak di dominasi oleh sektor primer, maka sudah saatnya dirancang berbagai tindakan yang dapat menggali sumber- sumber pendapatan daerah yang berbasiskan pada sektor primer dan mata rantainya.
9.3.2 Arah Pengelolaan Belanja Daerah
Dalam menentukan belanja daerah terdapat tiga elemen yaitu masyarakat sebagai pemberi amanat, Pemerintah Daerah dan DPRD dengan peran dan fungsinya masing-masing sebagai pelayan masyarakat. Sehingga hakekat anggaran belanja daerah sebagai perwujudan dari amanat rakyat kepada Pemerintah Daerah dan DPRD dalam meningkatkan kesejahteraan dan pelayanan kepada masyarakat. Rencana belanja disusun berdasarkan pendekatan prestasi kerja (berorientasi pada hasil). Hal tersebut bertujuan untuk meningkatkan akuntabilitas perencanaan anggaran serta memperjelas efektifitas dan efisiensi penggunaan alokasi anggaran dimaksud.
Orientasi belanja daerah diprioritaskan untuk efektifitas pelaksanaan tugas pokok dan fungsi masing-masing Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).
Peningkatan alokasi belanja yang direncanakan oleh setiap pengguna anggaran harus diikuti dengan peningkatan prestasi kerja pelayanan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Belanja Daerah diarahkan pada peningkatan proporsi belanja untuk memihak kepentingan publik, disamping tetap menjaga eksistensi penyelenggaraan Pemerintahan. Dalam penggunaannya, belanja daerah harus tetap mengedepankan efisiensi, efektivitas dan ekonomis sesuai dengan prioritas, yang diharapkan dapat memberikan dukungan program- program strategis daerah.
Penggunaan anggaran untuk belanja barang dan jasa, berdasarkan pada patokan harga dasar yang telah ditetapkan dalam HSPK (harga satuan Pokok Kegiatan).
9.3.3 Arah Pengelolaan Pembiayaan Daerah
Kebijakan Umum Pembiayaan Daerah pada dasarnya merupakan bagian dari Kebijakan Umum APBD, maka kebijakan yang disepakati dalam pos pembiayaan berfungsi sebagai penunjang terhadap pencapaian sasaran dan tujuan yang diinginkan serta disepakati dalam Kebijakan Umum Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Kebijakan Umum pembiayaan Pemerintah Kabupaten Bondowoso adalah sebagai berikut :
Peningkatan Manajemen Pembiayaan Daerah dalam rangka akurasi, efisiensi, efektifitas dan profitabilitas;
Apabila APBD dalam keadaan surplus, maka kebijakan yang diambil adalah melakukan transfer ke persediaan Kas Daerah dalam bentuk Giro/Deposito, Penyertaan Modal, atau sisa lebih perhitungan anggaran tahun berjalan; dan
Apabila APBD dalam keadaan defisit, maka kebijakan yang diambil adalah memanfaatkan anggaran yang berasal dari sisa lebih perhitungan anggaran tahun lalu, rasionalisasi belanja, pinjaman daerah atau memperluas kemitraan.
9.3.4 Kebijakan Umum Anggaran
Berdasarkan arah pengelolaan pendapatan dan belanja daerah maka kebijakan umum anggaran yang akan ditempuh pemerintah Kabupaten Bondowoso adalah sebagai berikut :
Dalam pengelolaan anggaran pendapatan daerah akan lebih difokuskan pada upaya untuk memobilisasi sumber-sumber pendapatan daerah yang muncul sebagai akibat peningkatan aktifitas ekonomi serta dari adanya berbagai program investasi yang telah dijalankan pada periode-periode sebelumnya. Kebijakan pendapatan daerah khususnya untuk Pendapatan Asli Daerah adalah pertumbuhan rata-rata pertahun pada periode tahun 2006-2010 adalah sebesar 5.46% persen. Dalam periode tersebut agar diupayakan ada peningkatan dengan tetap menjaga penciptaan iklim yang kondusif bagi pengembangan dunia usaha, sehingga keberadaannya diharapkan dapat mewujudkan stabilitas fiskal daerah khususnya dalam memberikan ketersediaan sumber pembiayaan dalam menjaga kelancaran penyelenggaraan pemerintahan daerah dan peningkatan kualitas pelayanan publik.
Kebijakan belanja daerah pada periode 2006 - 2010 adalah peningkatan komposisi dari belanja langsung setiap tahunnya serta peningkatan alokasi anggaran lebih diarahkan untuk pembiayaan program-progran pembangunan yang mengarah pada upaya meningkatkan pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat. Dan dalam mengalokasikan anggaran harus mengacu pada norma dan prinsip anggaran yaitu Transparansi dan Akuntabilitas, Disiplin Anggaran serta Keadilan Anggaran serta Efisiensi dan efektifitas anggaran.
Transparansi dan akuntabilitas anggaran; Menyajikan informasi secara terbuka dan mudah diakses oleh masyarakat meliputi; tujuan, sasaran, kebijakan, program, fungsi dan sumber pendanaan serta korelasi antara besaran anggaran dengan hasil dan manfaat yang ingin dicapai dari suatu kegiatan. Sehingga penyusunan, pelaksanaan dan pertanggungjawaban anggaran dilakukan secara transparan dan akuntabel.
Disiplin Anggaran;
Pendapatan yang direncanakan merupakan perkiraan yang terukur secara rasional yang dapat dicapai untuk setiap sumber pendapatan, sedangkan belanja yang dianggarkan merupakan batas tertinggi pengeluaran belanja;
Penganggaran pengeluaran harus didukung dengan adanya kepastian penerimaan; dan
Semua penerimaan dan pengeluaran daerah harus dianggarkan dalam APBD melalui rekening Kas Umum Daerah.
Keadilan anggaran; Tidak adanya diskriminasi penetapan tarif dalam pungutan yang diberlakukan pada masyarakat, sedangkan dalam konteks belanja harus mengalokasikan belanja daerah secara adil dan merata tanpa diskriminasi.
Efisiensi dan efektifitas anggaran; Untuk dapat mengendalikan tingkat efisiensi dan efektifitas anggaran harus ditetapkan secara jelas tujuan, sasaran, hasil dan manfaat, serta indikator prestasi kerja. Selain itu penetapan harga satuan yang rasional. Sesuai dengan pendekatan prestasi kerja yang digunakan dalam penyusunan APBD, setiap alokasi biaya yang direncanakan harus dikaitkan dengan tingkat pelayanan atau hasil yang diharapkan dapat dicapai.
Usulan program, kegiatan dan anggaran dinilai tingkat kewajarannya melalui akselerasi dan sinkronisasi program bersama stakeholders. Penilaian kewajaran meliputi :
Kesesuaian tugas pokok dan fungsi Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dengan program dan kegiatan yang diusulkan dalam mendukung terwujudnya visi daerah;
Kaitan logis antara permasalahan yang akan diselesaikan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dengan prioritas program dan kegiatan yang diusulkan;
Kapasitas Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) untuk melaksanakan kegiatan dalam pencapaian kinerja yang diinginkan; dan
Keselarasan dan keterpaduan kegiatan dari masing-masing Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) sehingga memberikan manfaat dampak positif bagi masyarakat.
Usulan program dan kegiatan tersebut di atas disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah.
Kebijakan umum anggaran RPJMD Kabupaten Bondowoso Tahun 2006- 2011 diarahkan dalam 3 fungsi utama yaitu Fungsi alokasi, fungsi distribusi, dan fungsi stabilisasi
Fungsi alokasi yaitu penganggaran untuk kegiatan pembangunan yang tidak mungkin dilaksanakan oleh masyarakat/swasta karena bersifat public services seperti penanganan prasarana dasar, penyediaan infrastruktur;
Fungsi distribusi yaitu penganggaran diarahkan untuk pemerataan, keadilan sosial dan mengurangi kesenjangan, yang antara lain meliputi penanganan masalah kemiskinan, pengembangan wilayah tertinggal dan lainnya, dan
Fungsi stabilisasi yaitu penganggaran diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, perluasan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat serta stabilitas keamanan dan ketertiban.
9.4 Proyeksi Keuangan Daerah (APBD)
Proyeksi keuangan daerah (APBD) Kabupaten Bondowoso dihitung berdasarkan kurun waktu 3 tahun (tahun 2007 sampai dengan tahun 2009) menggunakan asumsi atas dasar trend historis, yang disesuaikan dengan inflasi yang berlaku serta kesepakatan antara Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Kabupaten Bondowoso. Analisis proyeksi keuangan daerah Kabupaten Bondowoso ini adalah untuk mengetahui berapa besar anggaran rutin dibandingkan dengan anggaran belanja barang dan modal untuk penyelenggaraan bidang ke-PU/Cipta Karya-an.
Berdasarkan hasil perhitungan proyeksi keuangan daerah (APBD) Kabupaten Bondowoso, dapat diketahui hal-hal sebagai berikut :
Komponen Pendapatan yang meliputi Pendapatan Asli Daerah, Dana Perimbangan dan Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah dari tahun 2007 – 2009 terus mengalami peningkatan dengan besar rata-rata pertumbuhan tiap tahunnya adalah 12,54 %, sehingga proyeksi komponen pendapatan untuk 5 tahun kedepan (2010 – 1014) juga terus mengalami peningkatan.
Pada akhir tahun perencanaan (2014) besarnya komponen pendapatan Kabupaten Bondowoso dapat dilihat pada table berikut.
Tabel 9.4 Proyeksi Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Bondowoso
Sumber ; Buku Penjabaran Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah Kabupaten Bondowoso 2007 – 2009
Demikian juga dengan komponen Belanja, dari tahun 2007 – 2009 terus mengalami peningkatan dengan besar rata-rata pertumbuhan tiap tahunnya adalah 11,09 %, sehingga proyeksi komponen belanja untuk 5 tahun kedepan (2010 – 1014) juga terus mengalami peningkatan. Pada akhir tahun perencanaan (2014) besarnya komponen belanja Kabupaten Bondowoso dapat dilihat pada table berikut.
Tabel 9.5 Proyeksi Pengeluaran Belanja Daerah Kabupaten Bondowoso
Sumber ; Buku Penjabaran Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah Kabupaten Bondowoso 2007 - 2009
Lain halnya dengan komponen Pembiayaan Daerah. Berdasarkan data APBD yang diperoleh, besarnya pembiayaan daerah Kabupaten Bondowoso dari tahun 2005 – 2009 mengalami perubahan naik-turun yang drastis. Pada tahun 2005 dan 2006 pembiayaan daerah mengalami minus dikarenakan besaran sub komponen pengeluaran lebih besar daripada sub komponen penerimaan. Namun, pada tahun 2007 – 2009 pembiayaan daerah tidak lagi minus walaupun jumlahnya sempat mengalami penurunan pada tahun 2009. Sehingga dari hasil perhitungan. yang artinya untuk proyeksi 5 tahun kedepan (2010 – 2014) besaran komponen pembiayaan daerah akan terus mengalami penurunan.
Uraian % PROYEKSI
No Bagian dan Pos PERTUMBUHAN
1 Pendapatan Asli Daerah 107,090,581.00 106,396,376.00 113,008,653.97 115872737.9 2971481.494 3083848.885 3201441.033 3324526.523 a. Pajak Daerah 45,530,768 44,204,629 46,420,715.39 0.89% 46,832,447.78 415,384.30 419,069 422,786 426,535 b. Retribusi Daerah 18,235,674 17,831,969 19,350,983.91 2.79% 19,891,444.07 555,554.89 571,071 587,021 603,416 c. Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan 23,288,884 22,179,889 24,683,319.01 2.57% 25,317,950.74 650,948.74 667,685 684,852 702,460 d. Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang sah 20,035,255 22,179,889 22,553,635.67 5.66% 23,830,895.30 1,349,593.57 1,426,024 1,506,783 1,592,115
2010 2011 2012 2013
PROYEKSI APBD
2007 2008 2009 2009
Uraian % PROYEKSI
No Bagian dan Pos 2007 2008 2009 PERTUMBUHAN
PAK 1 Belanja Tidak langsung
- Belanja Pegawai 249,591,996 357,290,339 654,139,466 37.76%
- Belanja Bunga 163,515 192,920 48,700 -140.4%
- Belanja Hibah 11,695,373 27,667,076 68,729,306 58.74%
- Belanja Bantuan Sosial 4,410,000 2,533,998 40,855,000 9.88%
- Belanja Bantuan Keuangan Kepada Prov/Kab/Kot 40,518,557 46,541,494 78,235,760 26.73%
- Belanja Tidak Terduga 15,118,695 10,775,272 9,750,000 -25.41%
Jumlah (1) 321,498,136 445,001,099 851,758,233
2. Belanja Langsung
- Belanja Pegawai 57,476,526 46,204,423 22,633,284 -64.27%
- Belanja Barang dan Jasa 87,034,922 82,760,391 134,742,500 16.71%
- Belanja Modal 93,362,032 93,120,958 306,873,764 34.70%
Jumlah (2) 237,873,480 222,085,772 464,249,548
559,371,616 667,086,871 1,316,007,781
APBD
JUMLAH BIAYA
Untuk lebih lejasnya mengenai perhitungan realisasi dan proyeksi keuangan daerah (APBD) Kabupaten Bondowoso dapat dilihat pada Tabel berikut ini.
Tabel 9.6 Perhitungan Realisasi Dan Proyeksi Keuangan Daerah (APBD) Kabupaten Bondowoso
Sumber ; Buku Penjabaran Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah Kabupaten Bondowoso 2007 – 2009
Tabel 9.7 Perhitungan Public Saving (APBD) Kabupaten Bondowoso
Sumber ; Buku Penjabaran Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah Kabupaten Bondowoso 2007 – 2009
9.5 Analisis Permasalahan Keuangan Daerah
Besarnya investasi pemerintah dipengaruhi kemampuan pemerintah untuk meningkatkan penerimaan daerah terutama yang bersumber dari daerahnya. Investasi pemerintah di Kabupaten Bondowoso tergantung pada kemampuan keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten Bondowoso. Besarnya investasi pemerintah di Kabupaten Bondowoso tercermin pada besarnya pengeluaran pembangunan.
Investasi yang dibiayai sektor swasta pada umumnya lebih berorientasi pada kegiatan-kegiatan usaha yang menghasilkan keuntungan
SUMBER APBD PAK APBD % PROYEKSI
No PENERIMAAN 2007 2008 2009 PERTUMBUHAN
I Penerimaan 214,181,162 259,717,638 300,508,719 15.55%
a. PAD 107,090,581 106,396,376 113,008,653.97 2.60%
b.Dana Bagi hasil pajak 45,530,768 44,204,629 45,265,149.33 -0.33%
c. DAU 18,235,674 46,456,744 46,843,000.00 30.79%
d.DAK 23,288,884 40,480,000 49,909,000.00 30.68%
e. Lain-Lain 20,035,255 22,179,889 45,482,915.31 30.45%
II BELANJA WAJIB 1,491,414,906 1,576,603,172 1,582,705,830 2.89%
a. PEMBIAYAAN 262,203,675 263,106,812 266,698,049 0.84%
b. PEMBELANJAAN 1,229,211,231 1,313,496,360 1,316,007,781 3.30%
-1,277,233,744 -1,316,885,534 -1,282,197,111 JUMLAH PENDAPATAN
Uraian APBD % PROYEKSI PROYEKSI
No Bagian dan Pos 2007 2008 2009 PERTUMBUHAN 2009 2010 2011 2012 2013
PAK 1 Belanja Tidak langsung
- Belanja Pegawai 249,591,996 357,290,339 654,139,466 37.76% 901,152,949 1,241,442,657 1,710,231,181 2,356,041,718 3,245,720,601
- Belanja Bunga 163,515 192,920 48,700 -140.4% -19,699 7,968 15,934 -6,445 2,607
- Belanja Hibah 11,695,373 27,667,076 68,729,306 58.74% 109,098,515 173,179,195 274,898,642 436,364,560 692,669,953 - Belanja Bantuan Sosial 4,410,000 2,533,998 40,855,000 9.88% 44,892,351 49,328,680 54,203,413 59,559,874 65,445,669 - Belanja Bantuan Keuangan Kepada Prov/Kab/Kot 40,518,557 46,541,494 78,235,760 26.73% 99,145,140 125,642,785 159,222,221 201,776,135 255,703,059 - Belanja Tidak Terduga 15,118,695 10,775,272 9,750,000 -25.41% 7,272,292 5,424,229 4,045,802 3,017,667 2,250,806
Jumlah (1) 321,498,136 445,001,099 851,758,233 1,161,541,548 1,595,025,513 2,202,617,192 3056753509 4261792695
2. Belanja Langsung
- Belanja Pegawai 57,476,526 46,204,423 22,633,284 -64.27% 8,086,889 2,889,451 1,032,403 368,878 131,801
- Belanja Barang dan Jasa 87,034,922 82,760,391 134,742,500 16.71% 157,253,865 183,526,193 214,187,826 249,972,083 291,734,798 - Belanja Modal 93,362,032 93,120,958 306,873,764 34.70% 413,352,945 556,778,315 749,969,478 1,010,194,187 1,360,711,771
Jumlah (2) 237,873,480 222,085,772 464,249,548 578,693,699 743,193,959 965,189,706 1,260,535,148 1,652,578,370
JUMLAH BIAYA 559,371,616 667,086,871 1,316,007,781 1,740,235,247 2,338,219,472 3,167,806,899 4,317,288,658 5,914,371,065
ekonomi/finansial secara langsung. Oleh karena itu besarnya investasi yang ditanamkan oleh sektor swasta sangat tergantung seberapa besar keuntungan yang dapat diperoleh dari kegiatan investasi. Besarnya nilai investasi yang ditanamkan oleh sektor swasta di Kabupaten Bondowoso dapat tercermin dari besarnya nilai investasi PMA, PMDN maupun non-fasilitas yang berlokasi wilayah ini. Investasi yang bersumber dari dana masyarakat tercermin pada kredit yang disalurkan oleh perbankan. Dalam hal ini, investasi diusahakan pada kegiatan-kegiatan produktif yang memberikan keuntungan langsung.
Kapasitas investasi masyarakat di Kabupaten Bondowoso masih relatif terbatas yang terlihat dari masih relatif kecilnya skala usaha kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat yang pada umumnya bergerak di bidang perdagangan dan jasa.
Selain untuk kegiatan yang bersifat memberikan keuntungan langsung, investasi masyarakat juga dapat disalurkan untuk membiayai sebagian anggaran proyek pembangunan, yang dikenal dengan swadaya.