• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. KAJIAN PUSTAKA 2.1. Teori-teori Produktivitas

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. KAJIAN PUSTAKA 2.1. Teori-teori Produktivitas"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

2. KAJIAN PUSTAKA

2.1. Teori-teori Produktivitas

2.1.1. Latar Belakang dan Definisi Produktivitas

Istilah atau kata “Productivity”, muncul sekitar tahun 1766 dalam artikel seorang ekonom Perancis, Francois Quesnay (1694-1776) berjudul The School of Physiocrats. Dalam tulisan Quesnay berjudul Historical Viewpoint of Economic Theories, penemu teori ekonomi ini mengajukan suatu teori produktivitas pada pertengahan abad ke-18. Teorinya melihat tanah dan pertanian sebagai sumber dari kekayaan yang sebenarnya. Sedangkan produktivitas sebagai konsep dengan output dan input sebagai elemen utama, pertama kali dicetuskan oleh David Ricardo.

Adam Smith (1723-1790), penulis The Wealth of Nations, menganalisa hubungan antara tenaga kerja dengan pembagian pekerjaan. Adam Smith mengusulkan suatu konsep produktivitas yang dapat diterapkan dalam dunia modern. Karl Marx (1819-1883), penemu teori Scientific Socialism, mengkritik teori nilai pekerja (labor values) dari Adam Smith serta membahas masalah produktivitas di antara faktor peralatan, fasilitas, dan tenaga kerja di dalam industri manufaktur.

Secara umum produktivitas diartikan sebagai efisiensi dari penggunaan sumber daya untuk menghasilkan keluaran. Sedangkan ukuran produktivitas pada umumnya adalah rasio yang berhubungan dengan keluaran (barang dan jasa) terhadap satu atau lebih dari masukan (tenaga kerja, modal, energi, dan sebagainya), yang menghasilkan keluaran tersebut. Secara lebih spesifik, produktivitas adalah volume barang atau jasa yang sebenarnya dihasilkan secara fisik, dibagi dengan volume masukan yang sebenarnya, secara fisik pula.

Dalam buku seri Produktivitas ke VIII “Produktivitas dan Pengukuran”, terdapat beberapa ahli yang mendefinisi produktivitas. Menurut Webster yaitu:

• Produktivitas adalah keluaran fisik per unit dari usaha produktif.

(2)

• Produktivitas adalah tingkat keefektifan dari manajemen industri di dalam penggunaan fasilitas-fasilitas untuk produksi.

• Produktivitas adalah keefektifan dari penggunaan tenaga kerja dan peralatan.

Sedangkan Paul Mali, mendefinisikan bahwa:

• Produktivitas adalah pengukuran seberapa baik sumber daya digunakan bersama di dalam organisasi untuk menyelesaikan suatu kumpulan hasil-hasil.

• Produktivitas adalah mencapai tingkat (level) tertinggi dari unjuk laku (performance) dengan pemakaian dari sumber daya yang minim.

Pada tahun 1979, Sumanth mendefinisikan produktivitas total sebagai perbandingan antara semua tangible output (output nyata) dengan semua tangible input (input nyata).

2.1.2. Konsep Dasar Sistem Produktivitas

Ukuran keberhasilan produktivitas dipandang dari dua sisi yaitu sisi input dan sisi output. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa produktivitas berkaitan dengan efisiensi penggunaan input dalam memproduksi output (barang dan/atau jasa). Menurut Mali (1978), produktivitas tidak sama dengan produksi, tetapi produksi, performansi kualitas, hasil-hasil, merupakan komponen dari usaha produktivitas. Dengan demikian produktivitas merupakan suatu kombinasi dari efektivitas dan efisiensi, sehingga produktivitas dapat diukur berdasarkan pengukuran berikut:

Output yang dihasilkan Pencapaian tujuan

Produktivitas = =

Input yang dipergunakan Penggunaan sumber-sumber daya Efektivitas pelaksanaan tugas Efektivitas

= =

Efisiensi penggunaan sumber-sumber daya Efisiensi Berdasarkan definisi produktivitas di atas, sistem produktivitas dalam industri dapat digambarkan dalam Gambar 2.1.

(3)

y T enaga kerja y Modal y Material y Energi y T anah y Informasi y Manajerial

PRO SES T RANSFO RMASI

NILAI T AMBAH

PRO DUK (Barang dan/atau Jasa)

PRO DUKT IVIT AS SIST EM PRO DUKSI (O UT PUT / INPUT )

Umpan Balik untuk Pengendalian Sistem Produksi

Agar Meningkatkan Produktivitas T erus-Menerus

IN PUT PR OSES O UTPU T PRO DU KTIVITAS

LING KU NGAN

Gambar 2.1. Skema Sistem Produktivitas (Gaspersz, 1998)

Sumanth (1985) memperkenalkan suatu konsep formal yang disebut sebagai siklus produktivitas (productivity cycle) untuk dipergunakan dalam peningkatan produktivitas terus menerus. Pada dasarnya konsep siklus produktivitas terdiri dari empat tahap utama, yaitu (1) pengukuran produktivitas, (2) evaluasi produktivitas, (3) perencanaan produktivitas, dan (4) peningkatan produktivitas. Konsep siklus produktivitas ini ditunjukkan dalam Gambar 2.2.

(4)

T AHAP 1:

PENGUKURAN PRO DUKT IVIT AS

T AHAP 3:

PERENCANAAN PRO DUKT IVIT AS

TAHAP 2:

EVALUASI PRO DUKT IVIT AS T AHAP 4:

PENING KAT AN PRO DUKTIVIT AS

Gambar 2.2. Siklus Produktivitas (Sumanth, 1985)

Dari gambar 2.2. tampak bahwa siklus produktivitas merupakan suatu proses yang kontinu, yang melibatkan aspek-aspek: pengukuran, evaluasi, perencanaan, dan peningkatan produktivitas. Berdasarkan konsep siklus produktivitas, secara formal program peningkatan produktivitas harus dimulai melalui pengukuran produktivitas dari sistem industri itu sendiri. Apabila produktivitas dari sistem industri itu telah dapat diukur, langkah berikutnya adalah mengevaluasi tingkat produktivitas aktual itu untuk diperbandingkan dengan rencana yang telah ditetapkan. Kesenjangan yang terjadi antara tingkat produktivitas aktual dan rencana (productivity gap) merupakan masalah produktivitas yang harus dievaluasi dan dicari akar penyebab yang menimbulkan kesenjangan produktivitas itu. Berdasarkan evaluasi ini, selanjutnya dapat direncanakan kembali target produktivitas yang akan dicapai baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Untuk mencapai target produktivitas yang telah direncanakan itu, berbagai program formal dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas terus menerus. Siklus produktivitas itu diulang kembali secara kontinu untuk mencapai peningkatan produktivitas terus menerus dalam sistem industri.

(5)

2.1.3. Pengukuran Produktivitas

Beberapa manfaat pengukuran produktivitas dalam suatu organisasi perusahaan, antara lain:

a. Perencanaan sumber-sumber daya akan menjadi lebih efektif dan efisien melalui pengukuran produktivitas, baik dalam perencanaan jangka pendek maupun jangka panjang.

b. Tujuan ekonomis dan nonekonomis dari perusahaan dapat diorganisasikan kembali dengan cara memberikan prioritas tertentu yang dipandang dari sudut produktivitas.

c. Perencanaan target tingkat produktivitas di masa mendatang dapat dimodifikasi kembali berdasarkan informasi pengukuran tingkat produktivitas sekarang.

d. Strategi untuk meningkatkan produktivitas perusahaan dapat ditetapkan berdasarkan tingkat kesenjangan produktivitas (productivity gap) yang ada di antara tingkat produktivitas yang direncanakan (produktivitas ekspektasi) dan tingkat produktivitas yang diukur (produktivitas parsial). Dalam hal ini pengukuran produktivitas akan memberikan informasi dalam mengidentifikasi masalah-masalah atau perubahan-perubahan yang terjadi, sehingga tindakan korektif dapat diambil.

e. Pengukuran produktivitas perusahaan akan menjadi informasi yang bermanfaat dalam membandingkan tingkat produktivitas di antara organisasi perusahaan dalam industri sejenis serta bermanfaat pula untuk informasi produktivitas industri pada skala nasional maupun global.

f. Nilai-nilai produktivitas yang dihasilkan dari suatu pengukuran dapat menjadi informasi yang berguna untuk merencanakan tingkat keuntungan dari perusahaan itu.

g. Pengukuran produktivitas akan menciptakan tindakan-tindakan kompetitif berupa upaya-upaya peningkatan produktivitas terus menerus (continuous productivity improvement).

h. Pengukuran produktivitas terus menerus akan memberikan informasi yang bermanfaat untuk menentukan dan mengevaluasi kecenderungan perkembangan produktivitas perusahaan dari waktu ke waktu.

(6)

i. Pengukuran produktivitas akan memberikan informasi yang bermanfaat dalam mengevaluasi perkembangan dan efektivitas dari perbaikan terus menerus yang dilakukan dalam perusahaan itu.

j. Pengukuran produktivitas akan memberikan motivasi kepada orang-orang untuk secara terus menerus melakukan perbaikan dan juga akan meningkatkan kepuasan kerja. Orang-orang akan lebih memberikan perhatian kepada pengukuran produktivitas apabila dampak dari perbaikan produktivitas itu terlihat jelas dan dirasakan langsung oleh mereka.

Dalam pengukuran produktivitas, model pengukuran produktivitas yang paling sederhana adalah pendekatan rasio output / input. Pengukuran produktivitas berdasarkan pendekatan rasio output / input akan mampu menghasilkan tiga jenis ukuran produktivitas, yaitu:

a. Produktivitas parsial

Produktivitas parsial sering disebut juga sebagai produktivitas faktor tunggal (single-factor productivity) merupakan rasio dari output terhadap salah satu jenis input. Sebagai contoh, produktivitas tenaga kerja merupakan ukuran produktivitas parsial bagi input tenaga kerja yang diukur berdasarkan rasio output terhadap input tenaga kerja. Produktivitas modal diukur berdasarkan rasio output terhadap input modal. Produktivitas material diukur berdasarkan rasio output terhadap input material. Produktivitas energi diukur berdasarkan rasio output terhadap input energi.

b. Produktivitas faktor-total

Produktivitas faktor-total merupakan rasio dari output bersih terhadap banyaknya input modal dan tenaga kerja yang digunakan. Output bersih (net output) adalah output total dikurangi dengan barang-barang dan jasa antara yang digunakan dalam proses produksi. Berdasarkan definisi di atas, jenis input yang dipergunakan dalam pengukuran produktivitas faktor-total hanya faktor tenaga kerja dan modal.

c. Produktivitas total

Produktivitas total merupakan rasio dari output total terhadap input total (semua input yang digunakan dalam proses produksi). Berdasarkan definisi ini

(7)

tampak bahwa ukuran produktivitas total merefleksikan dampak penggunaan semua input secara bersamaan dalam memproduksi output.

Ketiga pengukuran di atas dapat menggunakan satuan fisik dari output dan input (ukuran berat, panjang, isi, dan lain-lain), atau satuan moneter dari output dan input (dollar, rupiah, dan lain-lain). Meskipun setiap orang dapat mengajukan definisi yang berbeda tentang produktivitas, namun definisi itu harus mengaitkan produktivitas secara langsung dengan aspek-aspek kualitas, efektivitas, dan efisiensi. Dalam hal ini produktivitas harus didefinisikan sebagai rasio antara efektivitas pencapaian tujuan pada tingkat kualitas tertentu (output) dan efisiensi penggunaan sumber-sumber daya (input).

Indikator-indikator pengukuran produktivitas dalam sistem industri masih berada dalam tahap pengembangan, sehingga setiap jenis industri biasanya menentukan indikator-indikator yang sesuai dengan proses kerja dan tujuan manajemen dalam perbaikan produktivitas dari industri itu. Setiap manajemen industri harus menetapkan secara formal sistem pengukuran produktivitas sebelum melangkah lebih jauh ke tahap evaluasi, perencanaan, dan peningkatan produktivitas dari sistem industri. Untuk menjamin efektivitas keberhasilan program peningkatan produktivitas perusahaan, maka pemilihan indikator- indikator pengukuran produktivitas harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi dari sistem industri yang ada dengan mengacu pada kebutuhan langsung dari perusahaan berkaitan dengan tujuan perbaikan produktivitas dari perusahaan itu.

Dengan demikian, sebelum melakukan pengukuran produktivitas pada sistem apa saja, terlebih dahulu harus dirumuskan secara jelas output apa yang diharapkan dari sistem itu dan sumber-sumber daya (input) apa saja yang akan dipergunakan dalam proses sistem tersebut untuk menghasilkan output itu.

Dengan demikian pengukuran produktivitas harus mampu mencerminkan performansi dari sistem itu berkaitan dengan transformasi nilai tambah dari input menjadi output.

2.1.4. Evaluasi Produktivitas

Evaluasi produktivitas merupakan tahap kedua dari siklus produktivitas yang dilakukan berdasarkan data pengukuran produktivitas yang telah dianalisis

(8)

dan disajikan melalui suatu laporan produktivitas perusahaan. Setiap perusahaan dapat memodifikasi bentuk laporan produktivitasnya agar sesuai dengan situasi dan kondisi serta kebutuhan aktual perusahaan. Selanjutnya dapat diidentifikasi produktivitas dari input faktor yang mengalami penurunan atau tidak mencapai sasaran produktivitas yang ditetapkan, untuk dikaji lebih lanjut apa yang menjadi akar penyebab dari masalah penurunan produktivitas itu. Berdasarkan hal ini, perencanaan peningkatan produktivitas terus menerus dari perusahaan itu dapat dilakukan secara efektif dan efisien.

2.2. Koefisien Korelasi Bivariate / Product Moment Pearson

Koefisien korelasi bivariate / product moment pearson mengukur keeratan hubungan di antara hasil-hasil pengamatan dari populasi yang mempunyai dua varian (bivariate). Korelasi Pearson banyak digunakan untuk mengukur korelasi data interval atau rasio. Koefisien korelasi menunjukkan kekuatan hubungan linier antara dua variabel (X dan Y) yang dinyatakan dengan:

1

2 2

1 1

( )( )

( ) ( )

n

i i

i

n n

i i

i i

X X Y Y r

X X Y Y

=

= =

− −

= ⎡⎢⎣ − ⎤ ⎡⎥ ⎢⎦ ⎣ − ⎤⎥⎦

∑ ∑

(2.1)

dimana ( , ), ,(X Y1 1 K X Yn, )n adalah n pasangan dari pengamatan.

Bentuk lain dari r, yang dapat digunakan untuk penghitungan secara manual adalah:

1 1 1

2 2 2 2

2 2

1 1 1 1

/

/ /

n n n

i i i i

xy i i i

n n n n

x y

i i i i

i i i i

X Y X Y n

r S

S S

X X n Y Y n

= = =

= = = =

⎛ ⎞⎛ ⎞

− ⎜⎝ ⎟⎜⎠⎝ ⎟⎠

= =

⎡ −⎛ ⎞ ⎤ ⎡ −⎛ ⎞ ⎤

⎢ ⎜⎝ ⎟⎠ ⎥ ⎢ ⎜⎝ ⎟⎠ ⎥

⎢ ⎥ ⎢ ⎥

⎣ ⎦ ⎣ ⎦

∑ ∑ ∑

∑ ∑ ∑ ∑

(2.2)

dimana simbol dari:

1

( ) ( )

n

xy i i

i

S X X Y Y

=

=

− − (2.3)

2 2

1

( )

n

x i

i

S X X

=

=

(2.4)

(9)

2 2 1

( )

n

y i

i

S Y Y

=

=

(2.5)

Sifat-sifat koefisien korelasi yang perlu diperhatikan yaitu:

• Nilai r selalu di antara –1 dan 1 atau dengan kata lain r ε (-1, 1).

• Besarnya nilai r (harga mutlaknya) menunjukkan kekuatan hubungan linier, sedangkan tanda (+ dan -) menunjukkan arah hubungan. Sebagai contoh:

r = + 1 → tanda + menunjukkan hubungan linier positif sedangkan besarnya = 1 menunjukkan hubungan linier yang sempurna (sangat kuat).

r = - 1 → tanda – menunjukkan hubungan linier negatif sedangkan besarnya = 1 menunjukkan hubungan linier yang sempurna (sangat kuat).

r ≈ 0 → menunjukkan hubungan linier yang sangat lemah.

• Nilai r yang mendekati 0 dapat terjadi jika tidak ada pola hubungan yang nyata atau pola hubungan yang terjadi bukan linier.

Uji Korelasi:

Hipotesa yang digunakan yaitu:

H0 : ρ = ρ0 (umumnya ρ0 = 0)

Alternatif H1: Tolak H0 jika:

H1: ρ < ρ0 thit < - t α . n-2

H1: ρ > ρ0 thit > t α . n-2

H1: ρ ≠ ρ0 |thit|> t α/2 . n-2

dimana: hit

(1 2) / 2 t r

r n

= − − (2.6)

2.3. Teori Simulasi 2.3.1. Simulasi

Simulasi adalah suatu proses untuk merancang model atau logika matematis dari satu sistem nyata, kemudian melakukan eksperimen didasarkan komputer untuk dapat menggambarkan, memperkirakan, menjelaskan dan kemudian mencari jawabannya. Atau dengan kata lain simulasi adalah imitasi dari sistem operasi secara luas dari satu waktu ke waktu yang lain. Simulasi melibatkan sekumpulan data historis dari sebuah sistem, dan penelitian terhadap

(10)

data historis tersebut untuk menarik sebuah kesimpulan mengenai karakteristik daripada sebuah sistem nyata. Kelebihan dari simulasi antara lain:

• Simulasi mudah untuk diubah-ubah dan hasilnya mudah untuk dijelaskan.

• Simulasi dapat mempelajari suatu sistem jangka panjang dalam waktu yang cukup singkat.

• Studi tentang simulasi dapat mempermudah pengertian tentang bagaimana sebuah sistem bekerja daripada bagaimana seorang individu berpikir sistem tersebut bekerja.

Kekurangan dari simulasi antara lain:

• Waktu yang dibutuhkan cukup lama untuk membuat model simulasi.

• Membangun sebuah model memerlukan pelatihan khusus.

• Simulasi cenderung untuk dijalankan untuk satu kondisi dan penyelesaiannya melalui analisa dan metode lain yang mendukung sehingga simulasi belum tentu memberi hasil yang optimal.

2.3.2. Validasi

Validasi digunakan untuk menentukan apakah model merupakan perwakilan yang akurat daripada sistem nyata. Menurut Jerry Banks, John S.

Carson II, dan Barry L. Nelson (1998), dalam bukunya yang berjudul Discrete- Event System Simulation, menyatakan bahwa validasi adalah keseluruhan proses perbandingan antara suatu model dengan keadaan sistem sebenarnya.

Perbandingan suatu model dengan sistem nyatanya, dapat dilakukan melalui berbagai macam test, baik secara subjektif maupun secara objektif. Pengujian secara subjektif dilakukan dengan melibatkan seseorang yang memiliki pengetahuan tentang satu atau lebih aspek-aspek dari suatu sistem dan pada akhirnya dibuat keputusan mengenai model dan output model. Pengujian secara objektif selalu memerlukan data dari sifat-sifat sistem tersebut dan serupa dengan data yang dihasilkan oleh model. Selanjutnya dilakukan pengujian statistik untuk membandingkan sistem data atau keadaan yang sebenarnya dengan model yang dibuat. Revisi dilakukan secara kontinu baik konseptual maupun operasional untuk menghasilkan model yang akurat.

(11)

2.4. Penelitian Sebelumnya

Penelitian mengenai topik produktivitas ini sebelumnya sudah dilakukan oleh Evelynna Gitta Veronica O, dengan nomer Tugas Akhir 01/0638/Ind/2003 yang berjudul Pengukuran, Evaluasi, dan Perencanaan Peningkatan Produktivitas pada PT.”X”.

Latar belakang daripada penelitian tugas akhir ini adalah adanya suatu indikasi bahwa sebuah perusahaan membutuhkan suatu pengukuran produktivitas secara teratur untuk mengetahui kinerja perusahaan. Oleh sebab itu dibutuhkan suatu model yang bisa diterapkan pada industri manufaktur seperti PT. X yaitu dengan mempertimbangkan semua faktor input yang berpengaruh dalam menghasilkan output.

Adapun permasalahan yang dihadapi dalam tugas akhir terdahulu adalah bagaimana cara mengukur produktivitas serta mencari dan menganalisa penyebab- penyebab terjadinya penurunan produktivitas tersebut. Permasalahan yang lain adalah bagaimana menentukan langkah-langkah perbaikan yang dapat diambil untuk meningkatkan produktivitas perusahaan.

Tujuan daripada tugas akhir terdahulu adalah menentukan produktivitas parsial dan produktivitas total perusahaan, membandingkan produktivitas total antara periode yang satu dengan periode lainnya serta mencari faktor-faktor penyebab terjadinya penurunan produktivitas serta untuk memberikan alternatif solusi perbaikan yang diperlukan guna meningkatkan produktivitas perusahaan.

Kontribusi yang membedakan antara penelitian yang sudah ada dengan yang akan dilakukan adalah:

a. Pada tugas akhir sebelumnya, model pengukuran produktivitas dihitung baik menggunakan produktivitas parsial maupun total dimana sudah terdapat rumusan yang pasti meliputi faktor tenaga kerja, material, modal dan energi.

Sedangkan pada tugas akhir ini, pengukuran produktivitas dilakukan dengan merancang suatu sistem pengukuran produktivitas yaitu menentukan indikator-indikator yang sesuai dengan kondisi perusahaan.

b. Pada tugas akhir ini dilakukan pengujian korelasi bivariate / product moment Pearson untuk menentukan indikator-indikator mana saja yang berpengaruh terhadap perubahan suatu indikator produktivitas. Dengan adanya pengujian

(12)

korelasi, maka hasil analisa kualitatif tersebut didukung oleh data-data hasil analisa kuantitatif. Dengan kata lain analisa akhir yang didapatkan semakin kuat.

c. Adanya sebuah tool berupa software untuk membantu pihak perusahaan dalam menganalisa produktivitas pada tugas akhir ini. Kemampuan software ini adalah sebagai berikut:

• Menghitung rasio produktivitas untuk masing-masing indikator.

• Menyimpan data-data seperti nilai rasio untuk masing-masing indikator, nilai koefisien korelasi, target yang ditetapkan oleh perusahaan untuk masing-masing indikator, dan data historis ke dalam database.

• Menguji korelasi antar satu indikator dengan indikator lainnya.

• Korelasi antar indikator-indikator dapat diupdate dalam selang waktu sesuai kebutuhan perusahaan.

• Menganalisa hubungan antar indikator berdasarkan korelasi.

• Menganalisa indikator produktivitas yaitu dengan cara membandingkan rasio pada saat itu dengan nilai rata-rata rasio dan target perusahaan.

Referensi

Dokumen terkait

produktivitas adalah suatu konsep yang mengukur rasio dari total output atau rasio hasil yang diperoleh terhadap sumber daya yang digunakan.. Produktivitas dapat diukur

Pengukuran produktivitas baru memiliki makna jika hasilnya dapat dibandingkan antar periode atau waktu standar, untuk mengetahui perkembangan produktivitas perusahaan diperlukan

Menurut Henry Simamora (2004: 612) faktor-faktor yang digunakan dalam pengukuran produktivitas kerja meliputi kuantitas kerja, kualitas kerja dan ketepatan waktu. 1) Kuantitas

Pengukuran produktivitas bermanfaat bagi perusahaan, diantaranya adalah perusahaan dapat mengevaluasi efisiensi perusahaan dalam menggunakan sumber daya dalam menghasilkan produk,

Langkah pertama ini adalah mengidentifikasikan kriteria produktivitas yang sesuai bagi unit kerja dimana pengukuran ini akan dilaksanakan. Kriteria ini harus menyatakan kondisi

1) Pada level keempat (tertinggi) yang mempengaruhi produktivitas secara langsung adalah efektivitas (Performance) dan efisiensi (pengguna sumber). 2) Pada level

Perusahaan perlu melakukan pengukuran parsial POSPAC setiap tahun sebagai metode pengukuran produktivitas karena data mudah diperoleh dan dapat mengetahui secara

Alasan pertama adalah pertumbuhan output dan pekerja sektor manufaktur menyebabkan terjadinya transfer pekerja dari sektor yang mempunyai produktivitas rendah, karena sektor