Agus Setyawan Aktif Ikuti Kompetisi Semasa Kuliah
UNAIR NEWS – Meski berasal dari desa, tak lantas membuat Agus Setyawan pantang mengukir prestasi. Laki-laki asal Desa Bodag, Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek ini berhasil menjadi wisudawan berprestasi Fakultas Psikologi, Universitas Airlangga, periode wisuda Juli 2016.
“Saya ini anak dari desa, bisa dikatakan pelosok. Jauh-jauh kuliah di Surabaya sayang banget jika kuliah hanya dijalani dengan biasa-biasa saja,” ujar laki-laki kelahiran Trenggalek, 24 Agustus 1994.
Pada 2015 saja, ada enam prestasi yang diukir Agus.
Diantaranya, juara II tingkat Jawa-Bali pada lomba Desain Intervensi Psychology Fair 2 yang diadakan Universitas Katolik Widya Mandala, Surabaya; juara III Tingkat Nasional Psychology Summit “Social – Psychological Intervention Design Competition” yang diadakan Universitas Indonesia; juara II Psycho Science – Psikologi Terapan Olimpiade Psikologi Indonesia 3 “Transforming Psychology for A Better Nation”, yang diadakan di Surabaya.
Ada pula juara I Lomba Debat Psychology Championship yang diadakan Universitas Bina Nusantara (Binus), Jakarta; Best Speaker lomba Debat Psychology Championship yang diadakan Universitas Binus; dan Finalis 10 Besar Lomba Esai Nasional
“Psychoessay: Spirit in Plurality” yang diadakan FPsi UNAIR.
“Saya berkeyakinan bahwa siapapun kita terlepas dari perbedaan background, ketika masuk kuliah dan memulai perkuliahan memiliki kesempatan yang sama dalam berprestasi,” tambahnya.
Agus bercerita, sejak awal masuk kuliah, ia bersama teman- temannya sudah aktif mengikuti berbagai kompetisi, baik lomba debat, program kreativitas mahasiswa (PKM), lomba desain,
namun tidak sekalipun memperoleh juara.
“Sampai pada satu titik, kita merasa malu kepada fakultas karena setiap kali mengikuti lomba kita selalu mendapatkan akomodasi penuh namun tidak ada kebanggaan dan timbal balik yang bisa kita berikan, misalnya kemenangan,” kata alumni SMAN I Trenggalek ini.
Namun lanjutnya, menginjak semester 6, ia mulai memenangkan kompetisi yang ia ikuti. “Pak dekan waktu itu mengatakan yang intinya, ‘teruslah berusaha, hasil akan mengikuti’.
Alhamdulillah menginjak semester 6 mulai banyak memenangkan lomba,” ucapnya.
Setelah dinyatakan lulus sebagai sarjana psikologi, Agus memiliki rencana untuk bekerja dan melanjutkan studi jenjang S-2. Kepada mahasiswa yang masih menempuh studi, ia berpesan untuk aktif berkegiatan diluar kegiatan akademik.
“Masa kuliah terlalu singkat dan berharga untuk dilewatkan dengan biasa-biasa saja. Optimalkan kesempatan untuk berorganisasi, berkegiatan, mengasah bakat dan minat tanpa mengesampingkan belajar bidang ilmu yang kita dalami. Bukan hal yang mudah, namun apa yang kita tanam itulah yang nantinya kita tuai,” pungkasnya. (*)
Penulis : Binti Q. Masruroh Editor: Defrina Sukma S.
Rektor dalam Obrolan Isu-Isu Publik
UNAIR NEWS – Suasana hall lantai empat kantor manajemen UNAIR
tidak seperti biasanya. Pasalnya, Rektor UNAIR, Prof. Dr. Moh.
Nasih., SE., MT.,Ak., CMA, bersama beberapa pakar media sosial turut serta melangsungkan diskusi yang diliput langsung oleh televisi milik pemerintah, Selasa (26/7). Diskusi dalam acara obrolan isu-isu publik tersebut dipandu oleh Ketua Pusat Informasi dan Humas (PIH) UNAIR, Drs. Suko Widodo, M.Si.
Diskusi yang juga dihadiri perwakilan mahasiswa dan pegawai di lingkungan kantor manajemen UNAIR tersebut membahas mengenai dampak dan implikasi teknologi informasi. Suko membuka diskusi dengan menyinggung kasus demam permainan Pokemon Go yang kini tengah melanda publik dunia.
“Dampak berkembangnya teknologi informasi ini memang sulit dibendung, salah satunya yang kini sedang digandrungi. Demam Permainan pokemon Go,” ujarnya.
Dalam paparannya, Prof. Nasih juga menjelaskan bahwa perkembangan teknologi informasi tidak bisa lepas dari sebuah nilai. Baginya teknologi informasi yang berkembang saat ini juga memiliki tujuan bisnis dan mengambil beragam keputusan.
“Ke depan, perkembangan ini harus kita dorong agar memberikan manfaat yang lebih luas. Dalam hal bisnis, misalnya dengan membantu pengembangan UKM kita,” papar Prof.Nasih.
Selaku pengamat sekaligus praktisi sosial media yang turut hadir, Agung menjelaskan bahwa dampak baik dan buruk dari perkembangan teknologi informasi sulit dibendung. Bagi Agung, individu atau pelaku dari teknologi menjadi penentu dari dampak yang ada.
“Sebenarnya ya tergantung dari masing-masing individu bagaimana untuk memanfaatkannya,” terang Agung.
Senada dengan Agung, dosen Ilmu Komunikasi, Kandi Aryani, S.Sos., M.A., menuturkan bahwa teknologi informasi menunjukkan betapa antusias individu untuk terlihat di dalam ranah publik.
Pengamat sosial media tersebut juga menambahkan, dengan
hadirnya teknologi informasi yang semakin canggih ini, masing- masing individu mampu memproduksi dan mengonsumsi beragam informasi.
“Yang perlu menjadi perhatian saat menggunakan sosial media, harus tahu mana ruang privasi dan mana ruang publik,”
tegasnya. (*)
Penulis: Nuri Hermawan Editor: Dilan Salsabila
Gelar Peluncuran dan Bedah Buku, Magister Kajian Sastra dan Budaya Layak Jadi Pilihan
UNAIR NEWS – Sastra Bandingan merupakan salah satu mata kuliah yang ditawarkan pada Program Studi Magister Kajian Sastra dan Budaya, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Airlangga.
Teks-teks sastra mutakhir yang banyak disadur dan didaptasi ke dalam karya sastra lain, dari novel menjadi film, dari puisi menjadi novel misalnya, merupakan kajian hangat pada mata kuliah ini.
Salah satu output mata kuliah sastra bandingan yang ditawarkan Magister KSB ialah menerbitkan buku. Seperti yang baru dirilis akhir minggu lalu, mahasiswa KSB angkatan 2013 me-launching buku mereka yang diberi judul “Dari Religiusitas Hingga Seksualitas dalam Bahasa, Sastra, dan Budaya”, pada Jumat (29/4). Bedah buku berlangsung di ruang Chairil Anwar, FIB UNAIR, dengan mengundang narasumber Puji Karyanto, S.S., M.Hum dan Ida Nurul Chasanah, S.S M.Hum.
“Dari Religiusitas Hingga Seksualitas merupakan spirit yang kami ambil dari salah satu tulisan dari buku yang kami terbitkan. Keseluruhan isi buku berbicara tentang sastra bandingan. Ada tentang pendidikan, gender dan seksualitas, plagiarisme dalam karya sastra. Macam-macam,” kata Akhmad Fatoni, S.S., M.Hum, salah satu mahasiswa yang memprogram mata kuliah ini.
Mengenai judul buku yang terbilang “seksi” itu, Akhmad Fatoni mengatakan bahwa meskipun secara harfiah kata religiusitas dan seksualitas sangat jauh maknanya, namun keduanya memiliki terterkaitan yang erat.
“Ketika berbicara seksualitas kita juga bisa berbicara religiusitas, berbicara bagaimana seseorang menempatkan seksualitas. Ketika tingkat religus seseorang berbeda, menyikapi seksualitas juga akan berbeda. Secara harfiah memang berbeda. Tetapi secara spirit sangat mempengaruhi satu sama lain,” katanya.
Layak Jadi Pilihan
Pada kesempatan ini, Wakil Dekan I FIB UNAIR mengatakan, bahwa Magister KSB merupakan prodi yang patut menjadi jujugan mahasiswa sastra yang ingin melanjutkan studi jenjang magister. Pasalnya, selain karena sudah terakreditasi A, KSB merupakan salah satu dari dua prodi magister di Indonesia yang telah ditunjuk Kemenristekdikti untuk mahasiswa yang ingin mendaftar Beasiswa Unggulan Calon Dosen Dikti.
“Sejak pertama berdiri, selalu ada mahasiswa asing yang mengambil prodi ini. Peminatnya selalu banyak. Namun secara keseluruhan, maksimal hanya 30 mahasiswa yang kami diterima,”
kata Puji.
Ada mahasiswa asing yang juga memprogram Mata Kuliah Sastra Bandingan ini. Menurut Puji, kualitas lulusan mahasiswa asing yang menempuh studi KSB bergantung dengan personalitas masing- masing mahasiswa. Persoalan penguasaan Bahasa Indonesia
penting dimiliki mahasiswa asing. Ia juga menuturkan bahwa ada kebijakan baru dari Direktur Pendidikan UNAIR yang dapat membantu mahasiswa asing dalam meningkatkan kualitas diri ketika menjalani studi di UNAIR.
“Terkait pembelajaran Program Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA), Prof. Nyoman mengharuskan ada tambahan materi akademic writing untuk mengejar persoalan substansi mahasiswa asing,” paparnya. (*)
Penulis : Binti Q. Masruroh Editor : Nuri Hermawan
Mencerdaskan Kehidupan Bangsa Masih Jadi Pekerjaan Rumah
UNAIR NEWS – Menyambut peringatan Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada 2 Mei setiap tahunnya, sivitas akademika Universitas Airlangga melaksanakan upacara bendera. Upacara bendera tersebut diikuti oleh kalangan mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, dan jajaran pimpinan.
“Peningkatan Relevansi Pendidikan Tinggi untuk Mendukung Pertumbuhan Ekonomi” diangkat menjadi tema peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun ini. Wakil Rektor I Prof. Djoko Santoso, Ph.D., yang menjadi pembina upacara menyampaikan, momentum Hari Pendidikan Nasional tak sekadar refleksi hari lahir Ki Hadjar Dewantara, tetapi cerminan atas upaya pengembangan kebijakan pendidikan yang mampu berdampak pada pertumbuhan ekonomi.
Mengutip pidato Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Djoko menyampaikan bahwa perguruan tinggi sebaiknya
responsif dengan kebutuhan dunia kerja dan industri. Selain itu, Wakil Rektor I juga menyampaikan agar para dosen dan mahasiswa secara rutin mempublikasikan penelitian.
“Penelitian juga tak boleh berhenti di publikasi saja, tetapi harus dikembangkan sampai tahap Technology Readiness Level (tingkat kesiapan teknologi) sembilan,” tutur Djoko.
Selain itu, perguruan tinggi juga diharapkan mampu menerapkan kebijakan dan strategi yang mampu mendukung iklim hilirisasi produk penelitian ke industri.
Dalam upacara yang sama, pemerintah melalui UNAIR memberikan penghargaan kesetiaan Satya Lancana Karyasatya kepada 69 orang dosen dan tenaga kependidikan. Pemberian penghargaan diberikan kepada tiga orang perwakilan yang telah mengabdi kepada negara selama 10 tahun, 20 tahun, dan 30 tahun.
Ketiganya adalah Badri Munir Sukoco (dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis) masa bakti 10 tahun, Prof. Dr. Drs. Abdul Shomad (Fakultas Hukum) masa bakti 20 tahun, dan Susetiyono (tenaga kependidikan) masa bakti 30 tahun.
Tantangan kecerdasan bangsa
Salah satu pengajar Fakultas Hukum UNAIR, Dr. Herlambang Wiratraman, mengatakan tantangan pendidikan masa depan adalah menumbuhkan kepekaan sosial. Sebab, menurutnya pelaksanaan pendidikan saat ini baru sebatas mengolah kecerdasan pikiran namun belum memaksimalkan kecerdasan lainnya.
“Kepekaan ilmuwan dan pendidikan tinggi yang diharapkan mampu menjawab tantangan teknologi, keragaman kebudayaan, serta kekayaan alam yang melimpah, sejatinya tak berbanding lurus dengan keadilan dan perlindungan kewargaan, sebaliknya justru memperlihatkan situasi meluasnya pemiskinan sosial,” terang Herlambang yang juga Ketua Pusat Studi Hak Asasi Manusia FH.
Herlambang yang juga peneliti tamu di FH National University of Singapore tahun 2017 mengingatkan, agar institusi
pendidikan mengarahkan keberpihakannya untuk berani memijakkan kakinya kembali pada cita-cita konstitusi. Yakni, mencerdaskan kehidupan bangsa.
Penulis: Defrina Sukma S Editor : Nuri Hermawan
Rektor Dengarkan Curhat Wali Murid Hingga Canangkan Ide Angkat Anak Asuh
UNAIR NEWS – Ratusan wali murid dari mahasiswa baru calon penerima bantuan pendidikan bidikmisi jalur SBMPTN disambut dengan sesi dialog bersama Rektor UNAIR, Prof. Dr. Moh.
Nasih., SE., MT.,Ak., CMA,. rektor yang juga didampingi Direktur Kemahasiswaan, Dr. M. Hadi Subhan, SH., M.H., C.N, dan Ketua PIH (Pusat Informasi dan Humas) UNAIR, Drs. Suko Widodo, M.Si, mendengarkan beragam cerita dari mahasiswa baru calon penerima bidikmisi dan orang tua wali, Selasa (19/7).
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Nasih memberikan kesempatan kepada para wali murid calon mahasiswa bidikmisi, untuk menyampaikan beberapa pertanyaan dan keluh kesahnya, setelah putra-putri mereka akan menerima bidikmisi selama masa studi di UNAIR.
“Saya gak menyangka, anak saya bisa masuk ke gedung mewah ini (merujuk ke UNAIR, red). Karena saya ini orang gak mampu,”
ungkap wali murid dari mahasiswa bernama Nararian.
Wali murid lainnya juga sempat menceritakan kisah hidupnya yang berujung pada ketidaksanggupan dirinya untuk membiayai
perkuliahan putrinya di UNAIR.
“Anak saya sebenarnya mau masuk kedokteran umum, saya bilang k e d i a , m a u m a s u k p a k e u a n g a p a k o k k a m u m a u m a s u k kedokteran,” ujar wali murid dari Karina, mahasiswa asal Blitar. “Saya khawatir, tapi kok Alhamdulillah ada universitas yang mau menerima anak saya,” imbuhnya.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Nasih memberikan wejangan kepada mahasiswa calon penerima bidikmisi, agar selalu hormat kepada orang tua dan para dosen. Selain itu, ia juga mengaskan bahwa semua mahasiswa memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk menuntut ilmu di UNAIR.
“Hormati para dosen kalian. Paling tidak, biasakan selalu bersikap mendengarkan para dosen,” seru Prof. Nasih. “Semua pada posisi yang sama untuk menuntut ilmu di UNAIR. Tidak ada yang dilebih-lebihkan,” imbuhnya.
Himbau jadi orang tua asuh
Ada yang unik dalam acara yang diadakan di Aula Garuda Mukti tersebut. Salah satu walimurid yang diberi kesempatan menceritakan kisah hidupnya, ia mengungkapkan bahwa anaknya menempuh sekolah SMAN 1 Geger Madiun, yang sama dengan Suko Widodo selaku moderator diacara tersebut.
Suko pun mempersilahkan mahasiswa yang bernama Ardion Massaid dan ibunya, Suhardiyah, untuk menuju panggung. Setelah berdialog, Kepala PIH tersebut menjadikan mahasiswa calon penerima bidikmisi tersebut sebagai anak asuh.
“Nanti bisa dititipkan ke saya, biar jadi anak asuh saya,”
seru Suko Widodo.
Rupanya, kejadian tersebut membuat Rektor UNAIR, Prof. Nasih menghimbau kepada seluruh dosen UNAIR, agar menjadikan salah satu mahasiswa bidikmisi sebagai anak asuh oleh seluruh dosen yang merupakan satu almamater dengan mahasiswa tersebut.
“Mahasiswa bidikmisi yang berasal dari sekolah yang sama dengan salah satu dosen bisa dijadikan anak asuh,” ujar Prof.
Nasih. “Kita identifikasi dulu, belum tentu dari semua sekolah ada (dosen dan mahasiswa se-almamater, red). Ini kita kembangkan lagi, dan kita himbaukan kepada para dosen di UNAIR,” imbuhnhya.
Prof. Nasih menegaskan, bahwa pengangkatan anak asuh tersebut, bukan berarti para dosen harus membantu secara finansial, namun lebih kepada sebuah bimbingan atau pembinaan kepada mahasiswa terkait selama perkuliahan di UNAIR.
“Bukan secara finansial namun dalam pembimbingan. Artinya, kalau mahasiswa terkait memiliki permasalahan, dosen selaku orang tua asuh dapat membantu selesaikan masalah tersebut,”
ujar Prof. Nasih. (*) Penulis : Dilan Salsabila Editor : Nuri Hermawan
Pentingnya Memadukan Seni Fotografi dengan Dunia Akademisi
UNAIR NEWS – Dunia fotografi hari ini memang tengah naik daun, kemajuan teknologi ditengarai menjadi faktor tersendiri bagi pencipta maupun pecinta hasil jepretan kamera, hal inilah yang kemudian semakin meramaikan jagat seni. Menanggapi hal tersebut, Himpunan Mahasiswa Pariwisata UNAIR mengadakan workshop dan kompetisi fotografi pada Sabtu, (16/4). Bertempat di Convention Hall Grand City Surabaya, acara tersebut berlangsung bersamaan dengan agenda besar yang digelar oleh
Pemerintah Provinsi Jawa Timur, The 17th Majapahit Travel Fair East Java Marine Tourism.
Pada workshop yang bertajuk Eksotika Bahari tersebut menghadirkan fotografer Jawa Pos, Yuyung Abdi. Laki-laki yang sering memberikan kuliah di Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UNAIR tersebut menjelaskan bahwa pentingnya memadukan seni fotografi dengan dunia akademisi.
“Selama ini yang orang tahu dunia fotografi terlepas dari akademisi, saya ingin hal ini nantinya bisa berkaitan dengan akademisi, jadi ada sekolah fotografer hingga pendidikan doktoral,” ungkapnya.
Menyinggung mengenai tema “Eksotika Bahari” yang menjadi fokus diskusi, fotografer yang sudah menggeluti dunia lensa kamera selama 20 tahun tersebut menekankan pentingnya menghadirkan sebuah emosi demi mewakili sebuah gambar yang dihasilkan.
“Untuk menghasilkan gambar yang berkualitas carilah sudut yang berbeda dari foto lainnya, selain itu ikatkan sebuah emosi saat memotret, dan ketika memilih lokasi yang diambil, lihat posisi dan waktunya” imbuhnya.
Acara tersebut juga mendatangkan pendiri komunitas Matanesia, Mamuk Iswantoro. Laki-laki yang akrab disapa om Mamuk tersebut menjelaskan bahwa dalam fotografi tidak sekedar berbicara mengenai hasil pemotretan saja. Baginya fotografi juga menyangkut beberapa hal yang mendukung berlangsungnya pengambilan gambar.
“Fotografi itu tidak sekedar sebuah gambar matahari terbit, tapi apa yang ada didalamnya juga,” tegasnya.
Meski tema tentang bahari menjadi fokus, laki-laki yang menyukai objek foto seputar seni dan budaya ini justru menunjukkan sisi lain yang jarang menjadi perhatian para pecinta dunia fotografi. Ia mencoba menunjukan kepada para hadirin bahwa ada sebuah alternatif pemotretan, misalnya
sejarah, budaya, seni, dan rumah-rumah di kota tua.
“Jangan mengambil objek gambar yang sudah terkenal, cari sisi lain yang belum eksis, asal tetap ada nilainya,” pungkasnya.
(*)
Penulis : Nuri Hermawan Editor : Dilan Salsabila
Peringatan Sewindu Formara, Gelar “Goes to School” ke 70 SMA se-Madura
UNAIR NEWS – Organisasi Forum Mahasiswa Universitas Airlangga asal Madura atau Formara dideklarasikan pada 25 Januari 2008.
Meski sudah berumur delapan tahun, namun baru empat tahun terakhir ini Dies Natalis Formara diperingati dengan berbagai kegiatan di empat daerah berbeda di “Pulau garam”. Terbaru, dalam peringatan Sewindu Formara 2016 ini puncaknya diperingati di Kabupaten Sampang.
Ketua Formara, Muhammad Fahmi Abdilah, ketika bertandang ke UNAIR NEWS, Senin (4/4) mengatakan dalam Dies Natalis Formara tahun 2016 adalah serangkaian kegiatan. Yaitu Formara Goes to School (serentak semadura), Try out SBMPTN (serentak se Madura), Abdi Desa (Kabupaten Bangkalan), Formara Menginspirasi (Kabupaten Pamekasan), Formara Expo dan Malem Puncak Dies Natalis Formara Unair 2016 (Kabupaten Sampang).
”Alhamdulillah empat tahun terakhir ini kami mampu menyukseskan serangkaian Dies Natalis Formara dengan sangat meriah,” kata Fahmi, mahasiswa Fakultas Hukum UNAIR angkatan
2013.
Atikah Syafik, pengurus Humas Formara, dalam press release-nya menerangkan, Dies Natalis Formara 2016 ini diketuai Muhammad Fadhilah Budipradika (FISIP 2013) dan melaksanakan berbagai kegiatan yang puncaknya digelar di Sampang. Kegiatan itu antara lain “Goes to School”, pengabdian masyarakat tentang kesehatan, dan pentas hiburan.
Diawali dengan ”Formara Goes to School”, 18 Januari lalu, serentak di empat kabupaten di Madura. Dalam aksi ini anggota Formara berbagi tugas untuk mendatangi 70 SMA se-Madura, baik SMA yang ada di kota kabupaten, yang berlatar pondok pesantren, dan yang berada di pelosok pedesaan.
Usaha ini ditempuh sebagai upaya keras Formara untuk memotivasi mereka. Sebab masih banyak diantara mereka yang kurang peduli terhadap kelanjutan pendidikannya ke perguruan tinggi. Sebanyak mungkin pengalaman anggota Formara dicurahkan untuk mengubah mindset ketidakpedulian mereka terhadap kelanjutan studinya.
”Kami memberi arahan untuk berpikir kedepan bahwa betapa pentingnya meraih pendidikan setinggi mungkin, agar kelak bisa memajukan pesantren, memajukan dan mensejahterakan masyarakat di desanya, dan sebagainya,” kata Atikah, mahasiswa jurusan Hubungan Internasional FISIP UNAIR tahun2014 ini.
Selain itu juga disosialisasikan kepada siswa kelas XII seputar dunia kampus, terutama UNAIR. Materinya antara lain berbagai jalur yang bisa dilalui siswa untuk melanjutkan studinya, termasuk beasiswa yang ada dan cara meraihnya.
Sehingga sebagai senior, tim Formara memberikan motivasi kepada siswa kelas XII tentang wahana pendidikan di perguruan tinggi. Tak ketinggalan juga memberikan semangat kepada siswa yang akan menghadapi UNAS ini.
Problem siswa-siswi itu rata-rata masalah ekonomi. Sehingga tim Formara menjelaskan beragam cara dan fasilitas pendidikan,
misalnya beasiswa Bidikmisi dan cara meraihnya agar bisa kuliah secara gratis. Alternatif lain bekerja paruh waktu, berbisnis atau wiraswasta, juga bisa sebagai cara mengatasi keterbatasan biaya itu.
Dalam “Formara Goes to School” juga diadakan Tryout SBMPTN secara serentak pada 31 Januari, diikuti 1.200 siswa-siswi kelas XII SMA. Disini dilakukan pembahasan pola soal-soal SBMPTN agar siswa juga siap menghadapi UNAS dan dapat mengukur kemampuan masing-masing. Para siswa juga dilatih tentang ketenangan dan kejujuran dalam mengerjakan soal-soal test/ujian. (*)
Penulis : Humas Formara.
Editor : Bambang Bes
Wabah Flu Burung Hambat Perekonomian Indonesia
UNAIR NEWS – Selama Indonesia masih belum terbebas dari virus flu burung, selama itu pula Indonesia akan terkekang dari ekonomi dagang ternak. Pasalnya, sejak memasuki Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), Indonesia belum bisa mengekspor hasil ternak karena belum dinyatakan bebas dari penyebaran virus tersebut.
Hal inilah yang kemudian mendorong Dr. Iswahyudi, drh., M.P untuk menulis disertasi berjudul “Karakterisasi Asam Amino Virus Flu Burung di Pulau Jawa Periode 2012-2015 sebagai Landasan Kebijakan Pengendalian Penyakit Flu Burung di Indonesia”. Disertasi tersebut diuji dan dipertahankan saat sidang terbuka di Ruang Tanjung Adiwinata, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Airlangga, Senin, (30/5).
“Penyakit flu burung di Indonesia sejak tahun 2003 sampai sekarang belum selesai, sehingga kami ingin mengetahui karakter virus yang ada di Indonesia itu seperti apa. Sehingga penyakit flu burung itu kedepannya bisa diselesaikan sebagaimana negara lainnya yang sudah bebas dari flu burung,”
jelas pria kelahiran Lamongan tersebut.
Sebagaimana yang ia utarakan dalam disertasi miliknya, Iswahyudi mengemukakan bahwa virus flu burung di Indonesia selama ini memang selalu bermutasi. Menurutnya, untuk mengendalikan flu burung, harus ada kebijakan khusus untuk pemutakhiran master seed dalam proses vaksinasi.
“Seharusnya ada standart khusus untuk pemutakhiran master seed ini, agar vaksin yang didapatkan lebih kompatibel di lapangan,” seru Iswahyudi.
Dalam kesempatan tersebut, Iswahyudi berkomentar bahwa kebijakan pemerintah yang menetapkan adanya kompensasi terkait pengendalian penyakit pada hewan memang sudah tepat, namun implementasinya masih kurang maksimal. Ia menyarankan agar sebuah kebijakan yang masih berkaitan dengan flu burung, diberikan anggaran yang cukup.
Ia memberikan contoh data, vaksinasi membutuhkan hampir 57 juta dosis untuk setiap tahunnya. Namun, pemerintah hanya mampu menyiapkan 4 hingga 5 juta dosis saja.
“Kenapa pemerintah tidak bisa menyediakan, karena pembagian anggaran masih belum bisa merata. Di satu sisi, ketika penyakit itu sudah meloncat dari hewan ke manusia, akan diselesaikan dengan segera. Sedangkan, kalau penyakit itu masih menjangkiti hewan, maka akan dianggap itu penyakit yang biasa,” jelas Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur tersebut.
Ketika disanggah mengenai dampak flu burung terhadap ekonomi, ia menanggapi bahwa negara Indonesia merupakan gudang ternak unggas. Saat perunggasan Indonesia mulai carut marut oleh
wabah flu burung, ada tiga kerugian yang dialami oleh warga dan negara. Pertama, kehilangan proses produksi. Pasalnya, penyakit flu burung memiliki angka kematian seratus persen.
“Kalau unggasnya sudah mati, apa yang mau diproduksi,”
jelasnya.
Kedua, kerugian akan menimpa sebagian besar masyarakat Indonesia. Pasalnya, sebagian besar mata pencaharian masyarakat Indonesia memiliki latarbelakang sebagi peternak.
Sedangkan ketiga, sumber daya alam Indonesia tidak akan dimanfaatkan dengan baik, khususnya dalam persaingan perdagangan bebas.
“Kalau saja Indonesia sudah bebas dari flu burung, maka Indonesia menjadi raja telur tingkat dunia, mereka (negara lain,-red) tidak bisa menerima produk kita karena kita belum bebas dari penyakit flu burung,” terangnya.
Iswahyudi berharap agar Indonesia dapat segera terbebas dari wabah flu burung. Dengan cara mengimplementasikan kebijakan- kebijakan yang sudah diatur, yaitu dengan memenuhi syarat dan ketentuan yang dibutuhkan.
“Untuk itulah alasan kami melakukan penelitian ini, Karena Indonesia belum bebas, dipasar nasional kita juga belum bisa apa-apa,” seru Iswahyudi. (*)
Penulis : Dilan Salsabila Editor : Defrina Sukma S.
Program DIHALALI Bantu Ibu
Miliki Tubuh Ideal Pasca Melahirkan
UNAIR NEWS – Kelompok mahasiswa dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) ini patut diacungi jempol. Ide brilian mereka diajukan ke Ditjen Dikti dan disetujui untuk mendapat dana Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Lima anak muda itu antara lain Bian Shabri Putri Irwanto, Dion Azzuri, Nikta Bella Anastasia, dan Yusnita Nur Fadhilah dari jurusan Ilmu Kesahatan Masyarakat 2015. Juga, Chandramanda Dewi Damar dari jurusan Ilmu Gizi 2015.
“Kami membuat sebuah program edukasi yang bernama DIHALALI,”
kata Bian saat ditanya mengenai gagasan kelompoknya.
DIHALALI adalah kependekan dari Diet Sehat Pasca Melahirkan.
Tujuannya, membentuk tubuh ideal dan sehat setelah persalinan.
Menu diet disesuaikan dengan berat badan, tensi darah, riwayat penyakit, dan status kebutuhan tubuh lainnya. Jadi, mungkin saja antara ibu yang satu dan ibu yang lain akan beda menunya.
DIHALALI merupakan kegiatan penyuluhan dan edukasi.
Sasarannya, masyarakat di Kecamatan Mulyorejo Surabaya. Meski demikian, para penggagas berharap, Ibu-Ibu yang sudah mendapat informasi tentang ini, dapat melakukan gethok tular atau menyampaikannya pada siapapun. Khususnya, pada generasi penerus atau calon Ibu di sekitar. Sehingga, manfaatnya bisa dirasakan oleh masyarakat yang lebih luas.
“Kami pun memberi informasi tentang pentingnya ASI eksklusif serta tips menjaga agar kondisi Ibu dan bayi tetap sehat,”
ungkap dia.
Kegiatan Bian dan kawan-kawan sudah dilakukan sejak Maret lalu. Mereka sudah mulai meninjau lokasi penyuluhan. Tentu saja, dicari tempat yang strategis dan dapat dijangkau dengan mudah oleh penduduk. Penyuluhan dan edukasi juga sudah mulai
dilakukan. Rencananya, berakhir pada Juni mendatang.
Yang menarik, dalam tiap kegiatan di masyarakat, tim UNAIR membagikan menu gratis pada para Ibu. Sebagai contoh menu sehat yang ditawarkan dalam program DIHALALI.
Selain itu, disampaikan pula sejumlah aktifitas produktif untuk para Ibu yang baru melahirkan. Misalnya, senam yoga, membuat kerajinan, menanam sayur, dan memasak menu sehat untuk keluarga. (*)
Penulis: Rio F. Rachman
Sergio Santoso dan Ria Sandra, Dua Wisudawan Terbaik yang Punya Komitmen Tinggi
UNAIR NEWS – Di masyarakat, belimbing wuluh sering dimanfaatkan sebagai obat herbal yang berguna bagi tubuh, atau setidaknya khasiatnya mengurangi dampak pemakaian obat kimia.
Karena buah tropis Indonesia ini, konon bisa digunakan sebagai obat alternatif karena mengandung antioksidan, anti bakteri, dan anti inflamasi.
S e r g i o S a n t o s o wisudawan terbaik S1 Fakultas Kedokteran G i g i ( F K G ) ( F o t o : Istimewa)
Penasaran dan ingin membuktikan seperti apa khasiat belimbing wuluh itu, maka Sergio Santoso melakukan penelitian terhadap ekstrak daun belimbing wuluh. Hasil penelitiannya kemudian sebagai bahan skripsinya. Jadilah skripsinya berjudul ”Uji Viabilitas Ekstrak Daun Belimbing Wuluh Terhadap Sel Firoblas BHK 21”, yang sekaligus turut mengantarkan Sergio terpilih sebagai wisudawan terbaik S1 Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Airlangga dengan IPK 3,78.
“Yang melatari penelitian ini adalah banyaknya bahan kimia yang digunakan sebagai obat. Untuk mencari obat alami sebagai alternatif perawatan saluran akar, juga sebagai bahan herbal untuk mengurangi bahan kimia yang memungkinkan terjadinya iritasi di lingkungan rongga mulut,” kata pria kelahiran Malang 29 November 1994 ini.
Selama penelitian ia harus di laboratorium dan berkutat dengan ELISA reader menggunakan ekstrak daun belimbing wuluh dan sel firoblas BHK 21. Penelitiannya ini merupakan kolaborasi dengan dosen pembimbingnya, Nirawati Pribadi, drg., M.Kes., Sp.KG(K)
dan Dr. Ira Widjiastuti drg., M.Kes, Sp. KG (K). Skripsinya ini juga dibimbing oleh Ari Subiyanto, drg.,MS., Sp.KG (K), dan mendapat bantuan dari Prof. Dr. Adioro Soetojo, drg., M.S., Sp. KG (K) dan Dr. Tamara Yuanita, drg., M.S., SpKG (K).
Penggemar futsal dan gym ini juga mendapatkan motivasi dan dukungan dari orang tua, kekasih, dan teman-temannya yang ikut berjuang bersamanya. Ia mengaku tidak memiliki kendala ketika melakukan penelitian, kecuali perasaan kurang mandiri lantaran jauh dari rumah. Namun setelah menemukan teman-teman baiknya, ia mampu membiasakan diri dengan lingkungan.
”Bagi saya, teman adalah segalanya. Tanpa kalian, saya bukan apa-apa,” katanya sebagai ucapan terima kasih pada kawan- kawannya yang ikut membantu dan menyemangatinya selama belajar di UNAIR. (*)
KOMITMEN TERHADAP PENYELAMATAN LINGKUNGAN
Ria Sandra Alimbudiono Wisudawan Terbaik S3 Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) (Foto:
Istimewa)
Sementara itu Ria Sandra Alimbudiono, yang dinyatakan sebagai
Wisudawan Terbaik S3 Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNAIR, punya komitmen tinggi terhadap lingkungan. Baginya, menjaga lingkungan hari ini merupakan bagian dari mencintai anak cucu, sebab merekalah kelak yang akan mewarisi bumi ini.
“Jangan mengatakan sayang KEpada anak cucu jika belum menjaga lingkungan, karena mereka tidak akan bisa hidup nyaman tanpa lingkungan yang nyaman,” ujarnya.
Berbekal kepedulian yang tinggi terhadap isu lingkungan itulah, maka dosen Universitas Surabaya (Ubaya) ini mengangkatnya isu lingkungan tersebut sebagai topik disertasinya. Ia meneliti pengaruh environmental management accounting knowledge terhadap timbulnya environmental intention pada mahasiswa.
“Hasilnya memang ada pengaruh pengetahuan yang dimiliki seseorang akan lingkungan dalam mendorong adanya niatan orang tersebut berperilaku ramah lingkungan,” katanya. Dengan mengangkat isu lingkungan agak terasa “beda” disertasi Ria ini, dibanding dengan disertasi kebanyakan.
“Saya terkejut dan tidak menyangka dipilih yang terbaik.
Padahal saya hanya melakukan ‘I Do My Best’ ketika sekolah di UNAIR, ya karena saya sudah bukan lagi anak muda yang punya banyak waktu bebas. Karena itu saya tidak menyangka dapat predikat ini,” imbuhnya.
Dalam menempuh pendidikan S3 Ilmu Akuntansi ini ia akui banyak tantangannya. Pertama, katanya, faktor usianya yang bukan lagi usia untuk sekolah. Jadi harus berkorban banyak hal mulai waktu bersama keluarga, finansial, dsb. Namun disadari ini bagian dari konsekuensi yang harus dijalaninya.
“Menempuh pendidikan doktoral merupakan pilihan pribadi yang kita pilih secara sadar dan dewasa. Karena itu selesaikan segala sesuatu yang telah dimulai dengan indah dan diakhiri dengan indah pula,” tambahnya. (*)
Penulis : Lovita Marta Fabella & Yeano Dwi Handika Editor : Bambang Bes