84
Keberhasilan Vaksin Covid-19: Persfektip Komunikasi Pendekatan Teori Coordinated Management of Meaning
The Success of the Covid-19 Vaccine: Communication Perspective Coordinated Management Approach Theory of Meaning
1Zulkarnain Hamson, 2Hasnah Taureng, 3Andi Indrawati
1) Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
2) Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat
3)Farmasi, Fakultas Farmasi
Universitas Indonesia Timur, Jalan Rappocini Raya No.171, Kota Makassar, 90232, Indonesia [email protected], [email protected], [email protected]
Abstract
Since the beginning of the Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) pandemic, the Indonesian people have no predictions that they will experience conditions of social, economic and political instability. On April 30, 2020, the Indonesian government Regulation of the Minister of Health of the Republic of Indonesia Number 9 of 2020 implemented Large- Scale Social Restrictions (PSBB) which are restrictions on certain activities of residents in an area suspected of being infected in such a way as to prevent the possible spread of Covid-I9. The Indonesian government's policy of requiring the public to vaccinate has received mixed responses, namely compliance, hesitation and refusal. This qualitative descriptive study, using data sources from scientific journals, digital literature, news websites, official websites, social media Facebook, interviews with selected sources based on certain professions and ages, to obtain conclusions about public attitudes towards the obligation to carry out vaccines in Indonesia. Makassar city. The results obtained by the community decided to undergo the Covid-19 vaccine, due to obligations, awareness of accurate information and pressure, due to mandatory vaccines as a prerequisite for obtaining permits at government offices, even for purchasing flight tickets.
Keywords: Vaccine Success, Covid-19, Communication Perspective, Coordinated Management Theory of Meaning
Abstrak
Masyarakat Indonesia sejak awal pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19), Januari 2020, tidak memiliki prediksi akan mengalami kondisi ketidakstabilan sosial, ekonomi juga politik. Pada 30 April 2020, pemerintah Indonesia Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2020 menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) adalah pembatasan kegiatan tertentu penduduk dalam suatu wilayah yang diduga terinfeksi sedemikian rupa untuk mencegah kemungkinan penyebaran Covid-I9. Kebijakan pemerintah Indonesia yang mewajibkan masyarakat vaksin, mendapat tanggapan beragam, yakni patuh, ragu-ragu dan menolak. Penelitian deskriptif kualitatif ini, menggunakan sumber-sumber data berasal dari jurnal ilmiah, literatur digital, website berita, situs web resmi, media social Facebook, wawancara pada sumber yang dipilih berdasarkan profesi dan usia tertentu, untuk memperoleh kesimpulan sikap masyarakat pada kewajiban melaksanakan vaksin di Kota Makassar. Hasil yang diperoleh masyarakat memutuskan untuk menjalani vaksin Covid-19, dikarenakan kewajiban, kesadaran akan informasi yang akurat dan tekanan, dikarenakan wajib vaksin sebagai prasarat untuk pengurusan perizinan di kantor pemerintah, bahkan untuk pembelian tiket penerbangan.
Kata Kunci: Keberhasilan Vaksin, Covid-19, Persfektip Komunikasi, Teori Manajemen Makna Terkoordinasi
85 PENDAHULUAN
Masyarakat dunia dilanda kekacauan pasca ditemukannya penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).Dari penelitian yang dilakukan dan membahas tentang krisis komunikasi pada masa pandemi Covid-19, diketahui kepanikan akibat pandemic ikut mempengaruhi keputusan World Health Organization (WHO) yang menyebutkan penyebaran Covid-19 melalui udara (Indasari and Anggriani 2020). Pemerintah Indonesia pada 30 April 2020, melalui Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2020 menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), yang diketahui sebagai pembatasan kegiatan tertentu penduduk dalam suatu wilayah, tujuannya mencegah meluasnya penyebaran Covid-19.
Indonesia menerima 1,2 juta vaksin Covid-19 Sinovac tahap pertama, tiba di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Minggu 6 Desember 2020,. Menteri Kesehatan RI, Terawan Agus Putranto mengatakan, 1,2 juta vaksin Covid-19 Sinovac tahap pertama yang telah tiba itu, masih menunggu izin penggunaan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Kebijakan yang dilakukan selain PSBB untuk menekan angka penyebaran Covid-19 dengan skala yang lebih kecil disebut PPKM mikro, aturan dasarnya mengacu pada Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) Nomor 14 Tahun 2021, disusul kebijakan PPKM darurat belum mempunyai aturan yang melandasi. Indonesia tidak pernah memberlakukan lockdown meskipun sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan.
Informasi yang disebarkan melalui situs resmi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes-RI) sehatnegeriku.kemkes.go.id, pada 3 Januari 2021 di Jakarta, melalui juru bicara vaksin Covid-19, Kemenkes RI, diketahui Indonesia masih menunggu izin penggunaan darurat vaksin Covid-19 dari BPOM. Jika izin sudah keluar, vaksinasi dapat segera dilaksanakan secara bertahap di 34 provinsi. Secara total, membutuhkan waktu 15 bulan, sejak Januari 2021-Maret 2022, untuk
memenuhi target 34 provinsi dan mencapai total populasi sebesar 181,5 juta orang.
Pada penelitian yang dilakukan Masyarakat memiliki pandangan yang berbeda pada anjuran pemerintah untuk wajib vaksin, yang tujuannya mencegah perluasan penyebaran Covid-19. Lembaga Survei Indonesia (LSI) mencatat mayoritas masyarakat sebesar 84,9 persen setuju dengan program vaksinasi Covid-19 oleh pemerintah.
Terdapat 68,6 persen masyarakat percaya vaksin dapat mencegah penularan Covid-19.
Namun, 82,6 persen masyarakat belum divaksin. Sedangkan yang sudah vaksin dua dosis 7,5 persen dan sudah vaksin satu dosis 9,9 persen, hasil survei LSI dipublikasi secara daring pada 18 Juli 2021. Meski mayoritas masyarakat belum mendapat vaksin, diketahui 61,6 persen bersedia divaksin. Sementara 36,4 persen tidak bersedia divaksin.
Program vaksin Covid-19 mendapat respon berbeda, yang menganggap penting, ragu-ragu, dan tidak yakin atau menolak.
Sikap ini dipengaruhi oleh setidaknya adanya tekanan untuk wajib, terutama bagi Aparat Sipil Negara (ASN), Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Republik Indonesia (Polri), dan jajaran pegawai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Sedangkan untuk yang bersikap ragu-ragu dan menolak, umumnya terjadi pada kelompok masyarakat profesional non pemerintah, dan kalangan masyarakat umum, yang kehidupan ekonominya berada di sector swasta, dan sangat dipengaruhi oleh tingkat Pendidikan serta terpaan informasi yang mereka peroleh.
Segala upaya yang telah dilakukan pemerintah baik kebijakan mengatur aktifitas masyarakat, maupun ketentuan pembatasan pada area dan jam aktifitas, memang dilakukan merata pada banyak aktifitas, diantaranya pendidikan, aktifitas ekonomi perdagangan, transportasi, kegiatan social, bahkan ibadah keagamaan. Larangan itu direspon beragam oleh masyarakat, baik yang patuh dan berinisiatif melakukan pembatasan di tingkat perumahan, perkantoran, perdesaan, kota bahkan provinsi. Namun yang menimbulkan
86 ketidakpuasan masyarakat adalah
dibebaskannya sejumlah warga negara asing asal China, yang dapat leluasa memasuki Indonesia, disaat pembatasan perjalanan sedang diberlakukan.
METODOLOGI
Objek dan Metode Penelitian
Objek penelitian ini adalah pengguna media social Facebook, masyarakat yang dipilih untuk diamati komentar statusnya di media social dan diwawancarai untuk memperoleh pendapatnya. Penelitian deskriptif kualitatif ini, menggunakan sumber-sumber data berasal dari jurnal ilmiah, literatur digital, website berita, situs web resmi, media social Facebook, wawancara pada sumber yang dipilih berdasarkan profesi dan usia tertentu (Haines et al et al. 2019). Dalam penelitian ini, digunakan teknik wawancara jenis pembicaraan informal yang diajukan muncul secara spontanitas. Pembicaraan dimulai dari hal umum menuju khusus.
Peneliti mengajukan pertanyaan yang bebas kepada subyek menuju fokus penelitian (Ma‟ruf 2017). Hasil catatan wawancara menjadi abstraksi untuk keperluan analisis data, untuk kemudian diuraikan melalui analisis deskriptif atau menggambarkan tingkat pemahaman dan respon masyarakat pada himbauan wajib vaksin oleh pemerintah.
Analisa dilakukan setelah terkumpul data, melalui penelusuran kepustakaan dan wawancara, yang disusun, dianalisa, dan diuraikan guna mendapatkan gambaran realitas yang sistematis tentang pendapat masyarakat Kota Makassar dalam mengikuti anjuran wajib vaksin, guna mencegah penyebaran Covid-19.
Uraian data selanjutnya diekplorasi secara mendalam guna memperolah hasil penelitian, serta menarik kesimpulan pada topik penelitian.
Rumusan Masalah
Penolakan masyarakat pada program vaksin Covid-19 yang dicanangkan pemerintah, dapat berakibat pada gagalnya pencapaian target yang sudah ditetapkan pemerintah melalui Kementerian Kesehatan
Maksud dan Tujuan
Penelitian ini ingin mengungkapkan hal apa yang menjadi penyebab diterima, ragu- ragu atau ditolaknya program vaksin Covid-19 oleh masyarakat. Juga menguji teori Manajemen Makna Terkoordinasi
Kegunaan Penelitian
Penelitian ini diharapkan berguna bagi institusi maupun pribadi, dalam memahami fenomena pandemi Covid-19 baik sisi realitas, maupun pengembangan kajian ilmu komunikasi, juga kesehatan di Indonesia.
Kajian Pustaka
Setiap orang memiliki interpretasi sendiri dan menemukan makna saat berinteraksi.
Konstruksi makna ini selama percakapan terdiri dari sistem interpersonal yang menjelaskan tindakan dan reaksi. Studi tentang tindakan dan reaksi sambil memiliki interaksi sosial disebut sebagai Coordinated Management of Meaning (CMM), sebuah teori yang dikembangkan W. Barnett Pearce dan Vernon Cronen pada 1980. Enam konsep CMM lainnya, termasuk koordinasi, bentuk komunikasi, episode, kekuatan logis, posisi orang, dan rekonstruksi kontekstual, juga dielaborasi secara signifikan(Pearce and Pearce 2000).
Penelitian tentang komunikasi dan stigma terkait kesehatan, menunjukkan individu dibuat merasa diintimidasi, dikucilkan, ditolak, disalahkan, atau dipermalukan (Archiopoli 2014).
Manajemen terkoordinasi Teori Makna CMM adalah teori yang menetapkan proses yang membantu kita berkomunikasi secara sosial yang membuat kita menciptakan makna dan juga mengelola realitas sosial.
Teori CMM ini menganjurkan artikulasi proses pengembangan preposisi pada situasi yang diberikan oleh masyarakat. Proses terjadi dalam rangka untuk menyajikan tindakan atau reaksi yang sesuai, dan untuk membantu orang-orang yang memperkaya mereka dengan pola komunikasi dipandang penting seperti mengikuti aturan yang ditetapkan dan menerapkannya untuk menyelesaikan konflik,
87 situasi yang sama sekali berbeda dari
pandangan yang diharapkan(Martins et al.
2015).
Para ahli percaya bahwa konstruksi realitas sosial dibentuk, ketika mereka diciptakan dan manusia menciptakan hierarki untuk mengatur makna yang terkait dengan asumsi. Jadi pengorganisasian makna akan membantu orang untuk menentukan output atau lemparan pesan yang dikirim. Teori Manajemen Makna Terkoordinasi memberikan perspektif kritis tentang studi komunikasi dan budaya(Jirathun 2011). CMM menganggap komunikasi sebagai proses utama daripada mendasarkan kritik pada hak-hak individu, hubungan kelas, atau sumber lain (Cronen, Chen, and Pearce 1988).
Penelitian dengan teori Coordinated Management of Meaning (CMM) ini memakai Model Serpentine dan Hierarki Makna.
Beberapa konsep teori membantu dalam memahami proses, termasuk: kekuatan logis, perspektif komunikasi, cerita, sumber daya dan praktik, komunikasi kosmopolitan, konstruksi bersama, refleksivitas, dan koordinasi, koherensi, dan makna. (Barnett 2014).
Pada model Daisy, ahli teori mengatakan bahwa kita tidak pernah menikmati percakapan tunggal, bahkan percakapan diam saja selalu dapat disaksikan ketika kita berbicara.
Meminta perhatian untuk banyak percakapan dalam bentuk Nexus adalah sebuah istilah yang dicetuskan oleh Alfred North Whitehead untuk menunjukan jaringan entitas aktual dari alam semesta. pengetahuan ilmiah modern (teori evolusi, teori relativitas), dan untuk menyesuaikan diri dengan intuisi persepsi sehari-hari (Smith 2020). Dalam model Daisy percakapan dimulai dengan pusat bersama yang menarik dan akhirnya terbentuk sebagai kelopak. Setiap kelopak membentuk percakapan yang berbeda.
Model Serpentine, adalah fakta bahwa setiap orang memiliki interpretasinya sendiri untuk bertindak dengan cara-cara adalah menjadi bagian dari dunia sosial. Dalam model ini, ada fase keluar dalam urutan sementara aksi reaksi dan interpretasi terjadi dengan orang lain(Brenders 1987). Komunikasi dimulai dalam garis bergelombang dalam dunia sosial dengan salah satu peserta
percakapan yang bergerak ke tindakan yang orang berikutnya lakukan membentuk percakapan yang ditafsirkan dengan orang lain membentuk pola mengkristal. Jenis model ini membawa perlunya berpikir tentang tindakan selanjutnya dengan terus dalam pola ular ini (Parker et al. 2015).
Keterangan: Model Serpentine Keterangan: Model Hirarki Makna
Dua Aturan Utama Manajemen Makna Terkoordinasi
Aturan konstruktif: Komunikator melakukan interaksi untuk memahami peristiwa atau pesan dari orang lain yang dikenal sebagai aturan Konstruktif. Di sini penafsiran membantu untuk memahami makna pesan; Peraturan peraturan: Ini lebih tentang bagaimana komunikator bereaksi terhadap pesan dan bagaimana mereka menanggapi atau berperilaku terhadap pesan yang mereka terima dikenal sebagai aturan peraturan (Wasserman 2015). Perspektif komunikasi CMM melihat komunikasi sebagai objek komunikasi di dunia sosial. Perspektif ini dan model CMM dipahami lebih baik dalam aspek kinerja.
88 CMM bergantung pada tiga proses
a) Koherensi; adalah sifat dasar manusia untuk menyampaikan tentang diri mereka ke seluruh dunia melalui berbagai kisah. Sebagai manusia, kita membangun makna untuk segala sesuatu yang terjadi di sekitar kita dan cerita membantu orang untuk memahami tentang komunikator. Pikiran kita mengembangkan suatu makna dan ini membentuk dasar dari situasi yang orang coba sampaikan. Ini juga membantu dalam memahami dan menafsirkan dunia di sekitar kita; b) Koordinasi; adalah tindakan dan kata-kata saling terkait untuk membentuk pola dan pola-pola itu terdiri dari objek dan dunia sosial tempat kita hidup.
Tindakan dan kata-kata dari seseorang menciptakan situasi dalam kehidupan kita dan panduan aturan melalui situasi, dan dengan demikian peristiwa di dunia sosial dihasilkan oleh pola-pola itu; c) Misteri; adalah seperti istilah yang tersirat, misteri adalah apa pun di luar apa yang dibuat koheren (keserasian atau kekompakan). Ini menjelaskan bahwa tidak semua hal di dunia ini dapat dijelaskan dan dunia tempat kita hidup kadang-kadang merupakan misteri. Tidak semuanya bisa disatukan dalam sebuah cerita atau bisa dipandu melalui aturan. Mungkin ada situasi di mana interaksi dapat menyebabkan hasil yang mengejutkan dan menyebabkan misteri (Cronen, Chen, and Pearce 1988).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Wawancara yang dilakukan terhadap 9 (sembilan) responden yang dipilih, hanya menampilkan 3 (tiga) komentar, yang dinilai mewakili pendapat dan kesimpulan, jugamempertimbangkan profesi dan usia ketiganya. Seperti di bawah ini;
Pendapat Masyarakat Saat Wawancara a. Nurdin Daeng Saso (51 tahun); profesi supir Becak Motor (Bentor), menyatakan bahwa dirinya meyakini bahwa virus Corona atau Covid-19, benar ada dan bisa membahayakan keselamatan manusia. Akan tetapi prinsip kehati-hatian dalam kegiatan yang bersentuhan dengan orang lain dapat menyelamatkan seseorang dari penularan, jika
mengamalkan ajaran orang tua, yakni mencuci tangan, dan menjaga jarak dalam berbicara dengan orang lain. Menurutnya itu bukan hal baru, karena telah diajarkan sejak 40 tahun lalu di keluarganya.
b. Akhiruddin Tola (35 tahun); profesi Profesional (wartawan), menyatakan dirinya meyakini bahaya Covid-19, dukungan pada pemberian vaksin, karena secara logika korban harus dihentikan, melalui Langkah yang tepat.
Adalah kewajiban untuk mensukseskan program pemerintah. Baginya pandemic Covid-19 bukan hanya membuat masyarakat merasakan dampak negatifnya, juga protesnya pada kalangan tertentu yang dengan sengaja menjadikan pandemic sebagai ajang bisnis.
c. Anwar Habibi (25 tahun); profesi Mahasiswa, yang mengungkapkan pandemi Covid-19, adalah konspirasi yang melibatkan ilmuan, hasil penelitian mereka berupa virus, digunakan sebagai bentuk „perang‟ abad ini.
Juga menurutnya fakta-fakta lain memperbincangkan keterlibatan bisnis jual beli vaksin, dengan didahului penyebaran virus. Dari informasi di media social, pendapat para ahli kesehatan juga terlihat pro kontra.
Komentar Menolak di Facebook
Sumber: olah data Facebook penelitian
Komentar yang mewakili penolakan pada kebijakan penanganan Covid-19, dan program wajib vaksin, diantaranya;
89 a. Kenapa blom vaksin..??? Maaf..!!! Bukan
takut dgn jarum suntik tapi saya msh blom yakin dan percaya dgn vaksin yg “ini”
b. JANGAN RAZIA MASKER AJAH, COBA RAZIA ORANG MISKIN YANG BELUM MAKAN
c. KENA BANJIR NGUNGSI KE MASJID KENA GEMPA, LARI KE MASJID GILIRAN KENA VIRUS TUTUP MASJID… ASTAGHFIRULLAH…!!!
Komentar Mendukung di Facebook
Sumber: olah data Facebook penelitian
Komentar yang menyatakan dukungan dilontarkan Presiden RI, Ir. Joko Widodo, untuk publikasi berita, media online yang diviralkan di facebook, dengan judul: Presiden Joko Widodo Membatalkan Vaksin Berbayar.
Siaran Sehat Bersama Dokter Raisa, menggunakan publikasi media social untuk program radio. Tanoto Foundation, juga membantu menyebarluaskan poster dengan judul: Mengapa Guru Perlu Divaksin?.
Pro kontra pada program vaksin sangat dipengaruhi kemampuan masyarakat untuk secara rasional menerima informasi vaksin.
Koherensi, kordinasi dan misteri yang diuraikan dalam teori CMM dapat dengan mudah dicerna pada lontaran kalimat baik responden saat wawancara, maupun komentar
pengguna facebook. Koherensi; sebagai sifat dasar manusia untuk menyampaikan tentang diri mereka kepada orang lain melalui berbagai kisah, berhasil dideteksi pada wawancara dan pengmatan prilaku di media sosial.
Koordinasi; yang disebutkan sebagai tindakan dan kata-kata saling terkait untuk membentuk pola dan pola-pola itu terdiri dari objek dan dunia sosial tempat kita hidup, ditemukan pada wawancara dan postingan status di media sosial. Tindakan dan kata-kata dari seseorang menciptakan situasi dalam kehidupan kita sebagai manusia, kita membangun makna untuk segala sesuatu yang terjadi di sekitar kita dan cerita membantu orang untuk memahami. Presiden para ahli kesehatan (dokter), aktifis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) bahkan pribadi ikut mewarnai.
Misteri; juga terlihat pada komentar sumber yang diwawancarai, juga postingan di media social facebook, yang mengaitkan Covid-19 dengan sikap manusia pada Tuhan.
Secara teori, misteri adalah apa pun di luar apa yang dibuat koheren (keserasian atau kekompakan). Bahwa tidak semua hal di dunia ini dapat dijelaskan dan dunia tempat kita hidup kadang-kadang merupakan misteri.
Tidak semuanya bisa bisa dipandu melalui aturan.
KESIMPULAN
Penelitian ini berhasil membuktikan teori CMM, dengan memakai model Serpentine dan Hierarki Makna, menunjukkan masyarakat baik langsung maupun melalui media social Facebook, menerapkan model Serpentine dan Hierarki Makna. Responden terpilih yang diwawancarai juga menunjukkan koherensi, yakni menunjukkan sikap atau diri mereka untuk diketahui publik, diantaranya dengan berbicara langsung kepada keluarga, kolega dan peneliti tanpa canggung atau takut.
Tindakan koordinasi ditunjukkan oleh semua responden yang diamati, baik di Facebook maupun wawancara langsung, sebagai respon sosial pada kenyataan situasi pandemi Covid-19 dan kewajiban vaksin. Hal itu juga terbaca pada sikap pimpinan negara yakni presiden, yang melalui berita kemudian dibagikan di media sosial Facebook, terus
90 menunjukkan respon dan kepedulian pada
masyarakat. Salah satu yang dapat dilihat atau dibaca yakni kemauan menunjukkan makna pada pesan yang diucapkan.
Bentuk respon misteri, ditunjukkan semua sumber, baik itu melalui wawancara maupun amatan di Facebook, yang memperlihatkan indikasi itu. Kebanyakan menunjukkan pengakuan pada kekuatan Tuhan, dengan menunjukkan bahwa pandemi Covid-19 adalah kehendak Tuhan. Sehingga langkah ikhtiar atau upaya menanggulangi adalah dengan mengikuti anjuran vaksin oleh pemerintah.
Namun juga terdapat sikap kritis, seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa sebagai respon sosial akan keberadaan mereka, maka tetap mempertimbangkan perlunya keseriusan pemerintah pada pengelolaan anggaran vaksin, yang tepat sasaran dan tidaak terindikasi menjadi permainan kalangan atau oknum tertentu, tanpa menjelaskan apakah yang dimaksudkan adalah pejabat negara atau lembaga lain yang menjalankan fungsi pemberian vaksin.
SARAN
Dalam menerapkan kebijakan wajib vaksin, pemerintah memerlukan Langkah- langkah yang lebih terkoordinasi, dengan pelibatan seluruh elemen masyarakat, yang dalam penelitian ini dibagi menjadi 9 (sembilan) bagian besar dan penting, terkait kewenangan, pengaruh dan kedudukan dalam masyarakat.
Masih adanya sikap curiga pada program wajib vaksin, bukan hanya terdengar di masyarakat, melainkan juga terbaca di pernyataan public, baik pada wawancara maupun pada postingan status di Facebook.
Kondisi masyarakat yang terdampak secara social ekonomi, memberikan efek yang kurang baik dengan tidak bersuara bulat menyatakan dukungan pada program wajib vaksin.
Keberhasilan program vaksin Covid-19 tidak berbanding lurus antara harapan pemerintah dengan respon masyarakat.
Dipandang perlu pendekatan yang lebih tepat
melalui pemanfaatan bukan hanya pemenrintah dengan organ-organ yang dikendalikannya, melainkan pelibatan tokoh dalam masyarakat, seperti yang terlihat pada tabel 1 di bawah ini;
Tabel 1. Elemen Masyarakat dan Pengaruh
Elemen Pengaruh
Ahli Kesehatan Pendapat atau komentar ahli Kesehatan menjadi rujukan, kepercayaan juga
membingungkan masyarakat Tokoh Agama Tokoh agama, menjadi salah
satu rujukan masyarakat, untuk didengarkan fatwanya
Tokoh Pemuda Komunikasi antara teman sebaya, cukup efektip, juga kalangan pemuda memiliki daya kritis
Tokoh Perempuan
Pandemi adalah bencana, dan bencana memberi dampak besar bagi perempuan dalam
rumahtangga juga sosial Akademisi Akademisi memiliki kedudukan
yang cukup dipercaya
masyarakat, memiliki legitimasi moral, sehingga didengarkan bicaranya
Tokoh Budaya Mengahadapi pandemic dan bencana, tokoh budaya memiliki peran dalam spirit bagi
masyarakat.
Tokoh Pemerintah
Tokoh pemerintah, yang memiliki integritas baik akan didengarkan bicaranya oleh masyarakat.
Wartawan/Medi a Massa
Wartawan dan medianya berpern sangat penting dalm mendidik masyarakat, saat bencana terjadi.
Sumber: Data penelitian
DAFTAR PUSTAKA
Archiopoli, Ashley Marie. 2014. “Don‟t Put Me in „Quotes‟: Examining Communication Episodes of Health- Related Stigma.” ProQuest Dissertations and Theses.
Barnett, Natasha A. 2014. ProQuest Dissertations and Theses “The Process of Diagnosis Delivery of Autism Spectrum Disorders.”
Brenders, David A. 1987. “Fallacies in the Coordinated Management of Meaning:
A Philosophy of Language Critique of the Hierarchical Organization of Coherent Conversation and Related
91
Theory.” Quarterly Journal of Speech 73(3).
Cronen, VE, V Chen, and W. Barnett Pearce.
1988. “Coordinated Management of Meaning: A Critical Theory.” In Theories in Intercultural …,.
Haines et al, 2019 et al. 2019. “Prosedure Penelitian.” Journal of Chemical Information and Modeling 53(9):
1689–99.
Indasari, Fera, and Ida Anggriani. 2020.
“KRISIS KOMUNIKASI PADA MASA PANDEMI COVID-19 (Studi Kasus Pemberitaan Penyebaran Covid-19 Melalui Udara).”
Profesional: Jurnal Komunikasi dan Administrasi Publik 7(1): 1–11.
Jirathun, Hataitip. 2011. “Rhetorical Exigence and Coordinated Management of Meaning: Alternative Approach for Compliance Gaining Studies.” In Procedia - Social and Behavioral Sciences,.
Ma‟ruf, Miftakhul. 2017. “METODE PENELITIAN 2016/2017.” : 37–54.
http://repo.iain-
tulungagung.ac.id/6705/.
Martins, Pedro Pablo Sampaio, Carla Guanaes- Lorenzi, John Willard Lannamann, and Sheila McNamee. 2015. “The Coordinated Management of Meaning Theory in Psychological Research.”
Arq. bras. psicol. (Rio J. 2003) 67(2).
Parker, Polly, Ilene Wasserman, Kathy E.
Kram, and Douglas T. Hall. 2015. “A Relational Communication Approach to Peer Coaching.” Journal of Applied Behavioral Science 51(2): 231–52.
Pearce, W. Barnett, and Kimberly A. Pearce.
2000. “Extending the Theory of the Coordinated Management of Meaning (CMM) through a Community Dialogue Process.” Communication Theory 10(4).
Smith, Roger. 2020. “Alfred North Whitehead – against Dualism.” Filosofskii Zhurnal 13(4).
Wasserman, Ilene C. 2015. “Dialogic OD, Diversity, and Inclusion: Aligning Mindsets, Values, and Practices.”
Research in Organizational Change and Development 23.
.