• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBATALAN PUTUSAN PAILIT TERHADAP PERUSAHAAN EFEK (STUDI PUTUSAN : PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG NO : 99 PK/Pdt.Sus-Pailit/2015) SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PEMBATALAN PUTUSAN PAILIT TERHADAP PERUSAHAAN EFEK (STUDI PUTUSAN : PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG NO : 99 PK/Pdt.Sus-Pailit/2015) SKRIPSI"

Copied!
91
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan untuk Melengkapi Tugas Akhir dan Memenuhi Syarat –Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas

Sumatera Utara

OLEH :

INDRY AGNES DESTIANA PINEM NIM: 160200365

DEPARTEMEN HUKUM KEPERDATAAN PROGRAM KEKHUSUSAN HUKUM PERDATA BW

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS HUKUM

MEDAN 2020

(2)
(3)

Efek (Studi Putusan : Putusan Mahkamah Agung No.99 PK/Pdt.Sus- Pailit/2015)”

Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Hukum di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Dalam penulisan skripsi ini, penulis menyadari masih terdapat banyak ketidaksempurnaan karena keterbatasan kemampuan dari Penulis. Untuk itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari berbagai pihak demi kesempurnaan penulisan skripsi ini. Agar kelak skripsi ini dapat diterima lebih baik lagi bagi pihak-pihak yang membutuhkan.

Dalam proses penyelesaian skripsi ini, penulis menyadari telah banyak mendapatkan bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin menghaturkan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada:

1. Prof. Dr. Runtung, SH., M.Hum., selaku Rektor Universitas Sumatera Utara

2. Prof. Dr. Budiman Ginting, SH., M.Hum., selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

3. Prof. Dr. OK. Saidin, SH., M.Hum., selaku Wakil Dekan I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

4. Ibu Puspa Melati Hasibuan, SH., M.Hum., selaku Wakil Dekan II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

5. Dr. Jelly Leviza, SH., M.Hum., selaku Wakil Dekan III Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

(4)

6. Prof. Dr. Rosnidar Sembiring, SH., M.Hum., selaku Ketua Departemen Hukum Perdata Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

7. Bapak Syamsul Rizal. SH., M.Hum., selaku Sekretaris Departemen Hukum Perdata Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

8. Prof. Dr. Tan Kamello SH., MS, selaku Dosen Pembimbing I, yang telah bersedia meluangkan waktu, tenaga dan pemikiran untuk membimbing dan mengarahkan Penulis dalam menyelesaikan penelitian ini dan juga yang merupakan dosen pembimbing mata kuliah Perdata

9. Ibu Zulfi Chairi, SH., M.Hum., selaku Dosen Pembimbing II, yang telah membimbing dan memberi masukan di sela kesibukan beliau dengan sepenuh hati sehingga Penuliss dapat menyelesaikan penelitian ini

10. Seluruh dosen pengajar serta pegawai administrasi di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah banyak memberikan pengetahuan dan telah membantu Penulis selama menjalani perkuliahan

11. Terlebih untuk Keluarga besar Penulis, Papa saya Rijensa Pinem dan Mama saya Anna Farina Grace Sembiring, yang telah mendoakan, mendidik dan membesarkan Penulis sehingga penulis akhirnya dapat menempuh Pendidikan Ilmu Hukum

12. Kepada Kakak dan Adik penulis Lovita Aprilliana Sari Pinem dan Hagai Rensa Putra Pinem yang selalu menyemangati dan menghibur Penulis dalam menyelesaikan Penelitian ini

13. Kepada Aron Alexsander Sihite yang selalu setia menemani, menyemangati dan selalu mendengarkan keluh kesah Penulis tanpa pernah mengeluh dalam melewati masa masa kehidupan perkuliahan dan perskripsian ini

(5)

15. Kepada sahabat sahabat perkuliahan Penulis “bbb” Azka, Devi , Alma, Ira, Maryam, dan Citra yang telah menemani dan melewati segala suka duka perkuliahan bersama Penulis

16. Kepada Nten sahabatku yang selalu ada untuk Penulis walaupun terpisahkan oleh jarak tetapi selalu ada untuk mengibur Penulis

17. Teruntuk Geng Party Alma, Maura, Trunna dan Ipen yang selalu menghibur dan menemani Penulis dalam mengisi waktu kosong Penulis 18. Dan teman-teman seperjuangan stambuk 2016 yang telah mendukung

dan berbagi ilmu dalam proses penulisan skripsi.

Akhir kata, dengan segala kerendahan hati, Penulis mengharapkan semoga penelitian ini dapat berguna dan memberikan manfaat untuk semua pihak yang membaca dan membutuhkan.

Medan, April 2020

Indry Agnes Destiana Pinem 160200365

(6)

ABSTRAK

Indry Agnes Destiana Pinem*

Tan Kamello**

Zulfi Chairi***

Kepailitan adalah suatu keadaan atau kondisi seseorang atau badan hukum yang tidak mampu lagi membayar kewajibannya (dalam hal utang-utangnya) kepada si piutang. Salah satu pihak yang dapat dinyatakan pailit adalah Perusahaan efek. Jika terjadi ketidakmampuan dalam membayar hutang, maka salah satu solusi hukum yang dapat ditempuh oleh debitor maupun kreditor melalui pranata hukum kepailitan. Keadaan ini kemudian diperkuat dengan adanya putusan pernyataan pailit oleh hakim pengadilan, baik itu yang merupakan putusan yang mengabulkan permohonan pailit maupun yang menolak permohonan kepailitan yang diajukan. Dalam melakukan pengajuan permohonan pailit terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi, sebagaimana yang diatur dalam Pasal 2 Undang-Undang Kepailitan Nomor 37 Tahun 2004. Dan juga terdapat pihak-pihak yang berwenang mengajukan permohonan pailit. Yang menjadi rumusan permasalahan dalam Skripsi ini adalah ketentuan umum tentang kepailitan perusahaan efek, ketentuan tentang pembatalan putusan pailit, dan analisis hukum mengenai pembatalan putusan pailit terhadap perusahaan efek.

Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dan menggunakan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual.

Sumber data yang digunakan adalah data primer, sekunder dan tersier. Dan Teknik pengumpulan data yang digunakan di penelitian ini adalah studi kepustakaan yang dilakukan dengan mencari referensi melalui peraturan perundang-undangan, buku jurnal, artikel, thesis dan bahan ajaran perkuliahan yang berhubungan dengan kepailitan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan, kesimpulan yang dapat diambil adalah syarat-syarat kepailitan seperti pihak-pihak yang berwenang mengajukan permohonan pailit. Pengajuan permohonan pailit oleh pihak yang tidak berwenang dapat menjadi suatu alasan pembatalan putusan pailit.

Kata Kunci : Kepailitan, Pembatalan, Putusan, Perusahaan Efek, PT.Andalan Artha Advisindo Sekuritas

*Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

** Dosen Pembimbing I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

*** Dosen Pembimbing II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

(7)

ABSTRAK ... iv

DAFTAR ISI ... v

BAB I: PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Perumusan Masalah... 5

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan ... 5

D. Keaslian Penulisan ... 6

E. Tinjauan Pustaka ... 7

F. Metode Penelitian ... 13

G. Sistematika Penulisan ... 16

BAB II: KEPAILITAN PERUSAHAAN EFEK A. Ketentuan Tentang Kepailitan ... 18

B. Ketentuan Tentang Perusahaan Efek ... 35

C. Kepailitan Perusahaan Efek ... 37

BAB III: PEMBATALAN PUTUSAN PAILIT A. Penyelesaian Perkara Kepailitan ... 43

B. Akibat Hukum ... 47

C. Berakhirnya Kepailitan ... 58

(8)

BAB IV: ANALISIS HUKUM MENGENAI PEMBATALAN PUTUSAN PAILIT TERHADAP PERUSAHAAN EFEK PADA PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG NO: 99 PK/PDT.SUS-PAILIT/2015

A. Uraian Peristiwa Konkrit ... 66 B. Alasan Hukum ... 69 C. Analisis Putusan Hakim ...73 BAB V: KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan... 77 B. Saran...78 DAFTAR PUSTAKA...80

(9)

A. Latar Belakang

Pasar Modal memiliki peran penting bagi perekonomian suatu negara karena pasar modal menjalankan dua fungsi, yaitu pertama sebagai sarana bagi pendanaan usaha sekaligus menjadi wahana investasi bagi masyarakat. Dana yang didapatkan dari pasar modal dapat digunakan untuk pengembangan usaha, penambahan modal kerja dan bagi masyarakat dapat digunakan untuk berinvestasi pada instrumen keuangan seperti saham, obligasi, reksadana dan lain-lain dan memperoleh keuntungan berupa capital gain1 dan/atau dividen2.Istilah pasar modal berarti suatu tempat atau sistem bagaimana cara dipenuhinya kebutuhan- kebutuhan dana untuk capital suatu perusahaan, merupakan pasar tempat orang membeli atau menjual surat efek yang baru dikeluarkan.

Perusahaan efek merupakan salah satu pihak yang berperan penting dalam kegiatan jual-beli efek di pasar modal. Setiap pihak yang ingin bertransaksi jual- beli efek terlebih dahulu harus menjadi nasabah suatu perusahaan efek.

Perusahaan efek adalah perusahaan yang telah mendapat izin usaha dari Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam), untuk melakukan perintah jual beli efek dari

1 Capital gain adalah keuntungan modal, yaitu selisih antara harga penjualan dengan harga perolehan dikurangi penyusutan. Pada aset keuangan, selisih antara harga penjualan dengan harga pembelian yang telah disesuaikan terhadap biaya-biaya transaksi. ( R.J. Shook, Kamus Lengkap Wall Street, Jakarta, Erlangga, 2002, hlm. 70).

2 Dividen adalah bagian dari keuntungan bersih yang secara resmi diumumkan oleh Dewan Direksi untuk dibagikan kepada para pemegang saham. Dividen dibayarkan dengan nilai yang tetap untuk setiap lembar saham yang dipegang oleh para pemegang saham. (Tumpal Rumapea, Kamus Lengkap Perdagangan Internasional, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2010, hlm. 193).

(10)

2

investor. Perusahaan efek di samping melakukan kegiatan usaha sebagai penjamin emisi efek, perantara perdagangan efek, dan atau manajer investasi, juga dapat melakukan kegiatan usaha lain yang sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam).

Dalam menjalankan fungsinya dimungkinkan perusahaan efek tidak memenuhi kewajibannya kepada investor, sehingga perusahaan efek dimungkinkan pula untuk digugat secara perdata di Pengadilan Negeri bahkan perusahaan efek dapat dimohonkan pailit kepada Pengadilan Niaga yang berwenang. Seperti halnya dengan perusahaan-perusahaan lain, perusahaan efek juga dapat dipailitkan berdasarkan Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.

Pailit sendiri merupakan suatu keadaan dimana debitur tidak mampu untuk melakukan pembayaran-pembayaran terhadap utang-utang dari para krediturnya.

Pengertian kepailitan yang lebih sederhana dikemukakan oleh Siti Soemarti Hartono, pailit berarti mogok melakukan pembayaran. Jika terjadi ketidakmampuan untuk membayar utang, maka salah satu solusi hukum yang dapat ditempuh baik oleh debitur maupun kreditur melalui pranata kepailitan

Adapun latar belakang diterbitkannya kepailitan yaitu3:

1. Menghindari perebutan harta debitur oleh kreditur secara bersamaan.

3 Sentosa Sembiring, “Hukum Kepailitan dan Peraturan Perundang-undangan yang Terkait dengan Kepailitan”, Bandung, Nuansa Aulia, 2006, hlm.19

(11)

2. Menghindari adanya kreditur pemegang hak jaminan kebendaan yang menuntut haknya dengan cara menjual barang milik debitur tanpa memperhatikan kepentingan debitur atau para kreditur lainnya.

3. Menghindari adanya kecurangan-kecurangan oleh salah satu kreditur atau debitur sendiri.

Dalam Pasal 2 ayat (1) UU Kepailitan dan PKPU disebutkan, debitur yang mempunyai dua atau lebih kreditur dan tidak membayar sedikit dan tidak membayar sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih, dinyatakan pailit dengan putusan pengadilan, baik atas permohonannya sendiri, maupun atas permintaan seorang atau lebih krediturnya. Dalam ketentuan ini, permohonan pailit ditujukan kepada Pengadilan Niaga harus mengabulkan, apabila terdapat fakta yang sesuai dengan syarat-syarat untuk dinyatakan pailit telah terpenuhi oleh pihak yang mengajukan pailit.

Pada Tahun 2015, PT. Andalan Artha Advisindo Sekuritas (PT. AAA Sekuritas dinyatakan pailit melalui putusan pengadilan yaitu Putusan Nomor : 08/Pdt.Sus.Pailit/2015/PN.Niaga.Jkt.Pst. Kasus kepailitan PT. AAA Sekuritas tersebut berawal ketika PT. AAA Sekuritas tidak memenuhi kewajibannya membayar tagihan kepada dua nasabahnya (kreditur) yaitu Ghozi Muhammad dan Azmi Ghozi Harharah. Tagihan tersebut berdasarkan perjanjian yang telah disepakati oleh PT. AAA Sekuritas dan dua nasabahnya untuk melakukan transaksi Repo (transaksi Repurchasement Agreement)4. Transaksi Repo tersebut

4 Transaksi Repo (transaksi Repurchasement Agreement) adalah kontrak jual beli efek dengan janji beli atau jual kembali pada waktu dan harga yang telah ditetapkan. (Pasal 1 ayat (1) Peraturan Otoritas Jasa Keungan Nomor 9/POTORITAS JASA KEUANGAN.04/2015 tentang Pedoman Transaksi Repurchasement Agreement Bagi Lembaga Jasa Keuangan).

(12)

4

mewajibkan Ghozi Muhammad dan Azmi Ghozi Harharah untuk menyetorkan dana sejumlah Rp. 24.000.000.000,- (dua puluh empat miliar rupiah) kepada PT.

AAA Sekuritas. Dana tersebut digunakan untuk membeli saham-saham yang tertera dalam lembar Repo Confirmation5.

Berdasarkan Repo Confirmation, PT. AAA Sekuritas akan melakukan pembelian kembali atas saham-saham yang sudah kembali, dan menyetorkan kembali dana yang sudah disetorkan kepada Ghozi Muhammad dan Azmi Ghozi Harharah, pada tanggal yang sudah disepakati. Tetapi hingga tanggal jatuh tempo pengembalian/pembelian kembali, PT. AAA Sekuritas belum melaksanakan kewajibannya untuk menyelesaikan atau mengembalikan dana-dana tersebut.

Ghozi Muhammad dan Azmi Ghozi Harharah (Para Pemohon) sudah beberapa kali menyampaikan teguran/peringatan-peringatan kepada PT. AAA Sekuritas (Termohon), namun hingga batas waktu yang telah ditentukan dalam teguran/peringatan-peringatan yang disampaikan Para Pemohon tersebut ternyata Termohon tidak mengindahkan kewajiban-kewajibannya.

Berdasarkan uraian di atas, Para Pemohon mengambil tindakan untuk mengajukan permohonan pailit terhadap PT. AAA Sekuritas kepada Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Majelis Hakim dalam putusan pailit tersebut memutusakan untuk menerima pemohonan pernyataan Para Pemohon terhadap Termohon karena dalam pertimbangannya menilai permohonan pailit tersebut telah memenuhi syarat

5 Repo Confirmation sendiri adalah bentuk persetujuan perjanjian yang dikeluarkan oleh salah satu pihak (pembeli maupun penjual) dalam transaksi Repo, dengan mengikuti standart dari Global Master Repurchase Agrement. (Lihat Pasal 1 ayat 2 POTORITAS JASA KEUANGAN Nomor 9/POTORITAS JASA KEUANGAN.04/2015).

(13)

permohonan pailit sebagaimana yang diatur dalam Pasal 2 ayat (1) jo. Pasal 8 ayat (4) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. Tetapi putusan tersebut kemudian dibatalkan oleh Hakim melalui putusan peninjauan kembali Nomor 99 PK/Pdt.Sus- Pailit/2015/PN.Niaga.Jkt.Pst. Maka atas hal inilah penulis ingin membahas hal-hal yang menjadi alasan terjadinya pembatalan putusan pailit terhadap PT. AAA Sekuritas.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

1. Bagaimana Ketentuan Umum tentang Kepailitan Perusahaan Efek ? 2. Bagaimana Ketentuan tentang Pembatalan Putusan Pailit ?

3. Bagaimana Analisis Hukum mengenai Pembatalan Putusan Pailit terhadap Perusahaan Efek pada Putusan Mahkamah Agung No. 99/PK/Pdt.Sus- Pailir/2015 ?

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan

Berdasarkan permasalah di atas, maka tujuan yang hendak dicapai dalam penulisan ini adalah:

1. Untuk mengetahui Ketentuan Umum Tentang Kepailitan Perusahaan Efek.

2. Untuk menjelaskan Pembatalan Putusan Pailit.

(14)

6

3. Untuk mengetahui dan menganalisis Pembatalan Putusan Pailit terhadap Perusahaan Efek pada Putusan Mahkamah Agung No. 99/PK/Pdt.Sus- Pailit/2015.

Adapun manfaat yang diperoleh dari penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut:

1. Secara Teoritis

Secara teoritis, penulisan skripsi ini diharapkan dapat menambah pemahaman penulis mengenai Hukum Kepailitan yang berhubungan dengan kewenangan permohan pembatalan pailit terhadap perusahaan efek.

2. Secara Praktis

Secara praktis, penulisan ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi praktisi dan masyarakat umum yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai kepailitan dalam perusahaan efek, khususnya tentang siapa yang berwenang sebagai pemohon pailit dalam perusahaan efek.

D. Keaslian Penulisan

Berdasarkan penelusuran yang telah dilakukan terhadap hasil-hasil penulisan yang terdapat di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, tidak terdapat skripsi yang membahas tentang “Pembatalan Putusan Pailit Terhadap Perusahaan Efek (Studi Putusan : Putusan Mahkamah Agung No.99 PK/Pdt.Sus-Pailit/2015)”.

Oleh karena hal tersebut, tulisan ini benar benar asli berdasarkan asas-asas ilmu yang jujur, rasional dan objektif. Keaslian skripsi ini dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

(15)

E. Tinjauan Kepustakaan

1. Kepailitan

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Kepailitan didefinisikan sebagai keadaan atau kondisi seseorang atau badan hukum yang tidak mampu lagi membayar kewajibannya (dalam hal utang-utangnya) kepada si piutang.6

Menurut pandangan R.Subekti dan R. Tjitrosudibio sebagai berikut Pailit berarti, keadaan seorang debitur apabila ia telah menghentikan pembayaran utang-utangnya. Suatu keadaan yang menghendaki campur tangan hakim guna menjamin kepentingan bersama dari para krediturnya7.

Menurut Poerwadarminta, “pailit” artinya “bangkrut”; dan “bangkrut”

artinya menderita kerugian besar hingga jatuh (perusahaan, toko, dan sebagainya).8 Menurut John M. Echols dan Hassan Shadily, bankrupt artinya bangkrut, pailit dan bankruptcy artinya kebangkrutan, kepailitan.9

H.M.N Purwosujipto berpendapat bahwa Kepailitan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan peristiwa pailit, pailit itu sendiri adalah keadaan berhenti membayar utang-utangnya dan dalam kepailitan ini terkandung sifat adanya penyitaan umum atas seluruh harta kekayaan debitur untuk kepentingan semua kreditur yang bersangkutan, yang dijalankan dengan pengawasan

6 Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pailit, online, diakses dari http://kbbi.web.id/pailit, diunduh pada tanggal 15 Desember 2019, pukul 20.38

7 R. Subekti dan R. Tjitrosudibio, Kamus Hukum, Jakarta, Pradnya Paramita, 1973

8 Ramlan Ginting, Kewenangan Tunggal Bank Indonesia dalam Kepailitan Bank, Jakarta, Balai Pustaka, 1999, hlm.1

9 John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, Jakarta, Gramedia, 1979.

(16)

8

pemerintah.10 Sedangkan Martias gelar Iman Radjo Mulano mengemukakan, Hukum Pailit sebagai asas dalam BW ditentukan, bahwa seluruh harta kekayaan dari debitur menjadi jaminan untuk seluruh utang-utangnya.

Pailit merupakan penyitaan umum atas seluruh kekayan debitur untuk kepentingan kreditur secara bersama-sama11. Menurut Peter Mahmud, kata pailit berasal dari bahasa Perancis “Failite” yang berarti kemacatan pembayaran. Dalam bahasa Belanda mungkin digunakan istilah “Failliet” dan dalam hukum Angola America, undang-undangnya dikenal dengan Bankcrupty Act.12

Dan dalam Pasal 1 ayat (1) UU No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaaan Kewajiban Pembayaran Utang diberikan defenisi “Kepailitan”

sebagai berikut. Kepailitan adalah sita umum atas semua kekayaan debitur pailit yang pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh Kurator dibawah pengawasan Hakim Pengawas”.

Dari berbagai pengertian kepailitan di atas dapat dilihat,bahwa terminilogi kepailitan mempunyai makna ketidakmampuan pihak pengutang (debitur) untuk memenuhi kewajibannya kepada pihak pemberi utang (kreditur) tepat pada waktu yang sudah ditentukan. Jika terjadi ketidakmampuan untuk membayar utang, maka salah satu solusi hukum yang dapat ditempuh baik oleh debitur maupun kreditur melaui pranata hukum kepailitan. Keadaan ini

10 H.M.N Purwosutjipto, Pengertian Pokok Hukum Dagang Indonesia: Perwasiatan, Kepailitan dan Penundaan, Jakarta, Djambata, 1992, hlm. 32.

11 Martias gelar Iman Radjo Mulano, Pembahasan Hukum, Penjelasan-penjelasan Istilah- istilah Hukum Belanda Indonesia Untuk Studie dan Praktik, Medan, PD Sumut, 1969.

12 Rahayu Hartini, Penyelesaian Sengketa Kepailitan di Indonesia: Dualisme Kewenangan Pengadilan Niaga dan Lembaga Arbitrase, Jakarta, Kencana, 2009, hlm. 71

(17)

kemudian akan diperkuat dengan suatu putusan pernyataan pailit oleh hakim pengadilan, baik itu yang merupakan putusan yang mengabulkan ataupun menolak permohonan kepailitan yang diajukan13.

Ada dua catatan penting yang harus ditekankan dalam defenisi kepailitan tersebut, yaitu :

a. Kepailitan dimaksudkan untuk mencegah penyitaan dan eksekusi yang dituntut oleh kreditur secara perorangan.

b. Kepailitan hanya mengenai harta benda debitur, bukan pribadinya.

Hukum kepailitan didasarkan pada asas-asas sebagai berikut:

a. Asas kejujuran b. Asas kesehatan usaha c. Asas keadilan

d. Asas integrasi e. Asas itikad baik f. Asas nasionalitas 2. Perusahaan Efek

Pasar modal menurut Undang-Undang Pasar Modal No.8 Tahun 1995 adalah kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek.

13 Ahmad Yani dan Gunawan Widjaja, Kepailitan, Jakarta, PT. RajaGrafindo Persada, cet. Pertama,1999 hlm. 11

(18)

10

Pasar modal sendiri memiliki definisi kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan public yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta Lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek.14

Pengertian pasar modal menurut Tjiptono Darmadji dan Hendy M.

Fakhruddin adalah pasar untuk berbagai instrumen keuangan jangka panjang yang bisa diperjualbelikan, baik dalam bentuk utang, ekuitas (saham) instrumen derivatif, maupun instrumen lainnya. Pasar modal merupakan sarana pendanaan bagi perusahaan maupun istitusi lain (misalnya pemerintah) dan sarana bagi kegiatan berinvestasi.15

Efek adalah surat berharga, yaitu surat pengakuan utang, surat berharga komersial, saham, obligasi, tanda bukti utang, unit penyertaan investasi kolektif, kontrak berjangka atas efek, dan setiap derivatif dari efek.

Perusahaan Efek adalah perusahaan yang telah mendapat izin usaha dari Bapepam untuk dapat melakukan kegiatan sebagai penjamin emisi efek, atau manajer investasi, atau kegiatan lain yang sesuai dengan ketentuan yang telah diterapkan oleh Bapepam.16

14 Pasal 1 ayat 13 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal

15 Tjiptono Darmadji, Hendy M Fakhrudin, Pasar Modal di Indonesia Pendekatan Tanya Jawab, Jakarta, Salemba Empat,2001, hlm. 1

16 M. Irsan Nasarudin, Aspek Hukum Pasar Modal Indonesia edisi Pertama Cetakan Ketujuh, Jakarta, Kencana, 2011, hlm. 141

(19)

Perusahaan Efek lebih dikenal sebagai Perusahaan Sekuritas (Securities Company). Total Perusahaan Sekuritas di Indonesia saat ini yaitu 109 Perusahaan Sekuritas.17

Perusahaan Efek sebagai perantara pedagang efek atau yang sering disebut sebagai disebut sebagai broker-dealer dapat melakukan kegiatan usaha jual beli efek untuk kepentingan sendiri atau pihak lain (seperti investor, reksadana, perusahaan asuransi, dana pensiun, dll). Jual beli efek seperti saham dan obligasi dapat dilakukan di Bursa Efek maupun dilakukan di luar Bursa.18

Transaksi Repo adalah salah satu transaksi jual beli efek yang dapat dilakukan oleh perusahaan sekuritas. Transaksi repo adalah kontrak jual beli Efek dengan janji beli atau jual kembali pada waktu dan harga yang telah ditetapkan.19 Objek dari transaksi repo adalah efek yang dapat berupa saham atau obligasi. Transaksi Repo menjadi salah satu instrumen investasi jangka pendek yang bisa dimanfaatkan institusi mendanai kas perusahaan. Dalam setiap transaksi repo melibatkan dua pihak. Pertama penyedia dana dan yang kedua pengguna dana.

Apabila transaksi repo disalahgunakan oleh salah satu pihak baik perusahaan sekuritas maupun investor maka dapat menimbulkan transaksi fiktif. Transaksi repo fiktif dalam hal repo obligasi terjadi apabila perusahaan

17 PT. Kustodian Sentarl Efek Indonesia “Perusahaan Efek”, 2019 https://www.ksei.co.id/services/participants/brokers4 diakses pada 12 Mei 2020 pukul 23.42

18 Otoritas Jasa Keuangan ,“Perusahaan Efek”,2016

http://sikapjuangmu.ojk.go.id/id/article/36/perusahaan-efek diakses pada 15 Desember 2019 pukul 20.48

19 Pasal 1 ayat (1) Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 9/POJK.04/2015

(20)

12

sekuritas tidak bisa memenuhi kewajibannya yaitu menyerahkan obligasi kepada investor. Salah satu perusahaan sekuritas yang melakukan transaksi repo fiktif adalah PT. Andalan Artha Advisindo.

3. Pembatalan Putusan

Tidak semua putusan arbitrase yang dihasilkan akan memberikan kepuasan kepada para pihak. Ada kalanya putusan arbitrase tidak dilaksanakan secara sukarela oleh para pihak. Hal itu bisa disebabkan karena ada hal-hal dalam putusan sengketa diragukan keabsahannya atau ada alasan lain. Dalam hal ini, pengadilan memiliki peran yang besar dalam melakukan pembatalan putusan.

Pembatalan putusan arbitrase dapat diartikan sebagai upaya hukum yang dapat dilakukan oleh para pihak yang bersangkutan untuk meminta Pengadilan Negeri agar suatu putusan arbitrase dibatalkan, baik terhadap sebagian atau seluruh isi putusan.20 Putusan arbitrase umumnya disepakati sebagai putusan yang bersifat final dan binding (mengikat). Oleh karena itu, dalam proses pembatalan putusan arbitrase, pengadilan tidak berwenang untuk memeriksa pokok perkara. Kewenangan pengadilan terbatas hanya pada kewenangan memeriksa keabsahan prosedur pengambilan putusan arbitrase, antara lain proses pemilihan arbiter hingga pemberlakuan hukum yang dipilih oleh para pihak dalam penyelesaian sengketa.21

20 Munir Fuady, Hukum Pailit dalam Teori dan Praktek, Bandung, Citra Aditya Bakti, 2005, hlm. 10

21 Frans Hendra Winarta, Hukum Penyelesaian Sengketa Jakarta, Sinar Grafika, 2013, hlm. 85

(21)

F. Metode Penelitian

Pengertian sederhana metode penelitian adalah tata cara bagaimana melakukan penelitian. Kata Metode berasal dari bahasa Yunani, yaitu methodos yang berarti cara atau menuju suatu jalan. Metode merupakan kegiatan ilmiah yang berkaitan dengan suatu cara kerja (sistematis) untuk memahami suatu objek atau objek penelitian, sebagai upaya untuk menemukan jawaban yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah dan termasuk keabsahannya22. Adapun pengertian penelitian adalah suatu proses pengumpulan dan analisis data yang dilakukan secara sistematis, untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu.

Menurut Sugiyono23, metode penelitian adalah cara-cara ilmiah untuk mendapatkan data yang valid, dengan tujuan dapat ditemukan, dikembangkan, dan dibuktikan suatu pengetahuan tertentu, sehingga pada gilirannya dapat digunakan untuk memahami, memecahkan, dan mengantisipasi masalah.

Metode penelitian yang dipakai, yaitu sebagai betikut : 1. Jenis Penelitian

Metode yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah metode penelitian hukum normatif. Penelitian hukum normatif bisa juga disebut sebagai penelitian hukum doktrinal. Pada penelitian ini, sering kali hukum dikonsepsikan sebagai apa yang tertulis dalam peraturan perundang-undangan (law in book) atau hukum yang dikonsepsikan sebagai kaidah atau norma yang

22 Rosandy Ruslan, Metode Penelitian Public Relations dan Komunikasi, Jakarta, Rajawali Pers, 2003, hlm. 24

23 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan : Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan ReD, Bandung, Alfabeta,2004 hlm. 6

(22)

14

merupakan patokan berperilaku masyarakat terhadap apa yang dianggap pantas.

2. Sifat Penelitian

Sifat penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah ekplanatif. Penelitian eksplanatif bertujuan untuk menguji suatu teori guna memperkuat atau bahkan menolak teori yang sudah ada sesuai dengan variable yang bersangkutan, seperti peraturan perundang-undangan, putusan hakim dan pendapat-pendapat para ahli.

3. Pendekatan Penelitian

Pendekatan penelitian dalam skripsi ini menggunakan pendekatan yuridis.

Pendekatan penelitian yuridis, yaitu penelitian dilakukan dengan cara terlebih dahulu meneliti perundang-undangan yang berlaku, serta bahan-bahan kepustakaan umum yang berhubungan dengan permasalahan dan selanjutnya melihat kenyataan melalui Putusan Majelis Hakim Pengadilan Niaga dan Putusan Mahkamah Agung.

4. Sumber Data Penelitian

Data yang digunakan dalam melakukan penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder adalah data yang dikumpulkan melalui studi kepustakaan.

Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

(23)

a) Bahan hukum primer, yakni bahan-bahan hukum yang terdiri dari aturan-aturan hukum mulai dari Kitab Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan, Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Putusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat Nomor 08/Pdt.Sus-Pailit/2015/PN.Niaga, Putusan Mahkamah Agung Nomor 99 PK/Pdt.Sus-Pailit/2015.

b) Bahan hukum sekunder, yakni bahan hukum yang erat kaitannya dengan bahan hukum primer dan dapat membantu menganalisis, memahami, dan menjelaskan bahan hukum primer, antara lain:

teori atau pendapat para sarjana, hasil karya dari kalangan hukum, penelusuran internet, artikel ilmiah, jurnal, majalah, skripsi dan tesis.

c) Bahan hukum tertier, yakni bahan hukum yang memberikan petunjuk maupun penjelasan atas bahan hukum primer dan sekunder, misalnya ensiklopedia dan kamus-kamus (hukum).

5. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan yang dilakukan dengan mencari referensi untuk mendukung materi penelitian ini melalui Peraturan Perundang-undangan, buku, jurnal, artikel, putusan hakim, tesis dan bahan ajar perkuliahan yang berhubungan dengan kepailitan.

(24)

16

6. Analisis Data

Setelah itu semua data yang diperoleh dari data pustaka dianalisis secara yuridis, dengan cara mengambil kesimpulan dari pendapat para sarjana, perundang-undangan, putusan hakim, hasil karya dari kalangan hukum, penelusuran internet, artikel ilmiah, jurnal, majalah, skripsi dan tesis yang dikumpulkan dan disusun secara sistematis, yang berkaitan dengan teori dan konsep yang berhubungan, serta dapat menjawab rumusan permasalahan yang diangkat dalam tulisan ini.

G. Sistematika Penulisan

Secara sistematis,penulis membagi skripsi ini ke dalam beberapa bab dan tiap-tiap bab dibagi atas sub bab yang terperinci sebagai berikut:

Bab I (Pendahuluan), bab ini menguraikan latar belakang, permasalahan, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan, keaslian penulisan dan sistematika penulisan.

Bab II (Kepailitan Perusahaan Efek), bab ini menguraikan ketentuan tentang kepailitan, ketentuan perusahaan efek dan kepailitan perusahaan efek.

Bab III (Pembatalan Putusan Pailit secara KUHPerdata), bab ini menguraikan penyelesaian perkara kepailitan, akibat hukum dan berkahirnya kepailitan, pembatalan kepailitan dan pembatalan kepailitan pada perusahaan efek.

Bab IV (Analisis Hukum Mengenai Pembatalan Putusan Pailit Terhadap Perusahaan Efek pada Putusan Mahkamah Agung No:99 PK/PDT.SUS-

(25)

PAILIT/2015), bab ini menguraikan peristiwa konkret, asas hukum, dan menganalisis putusan hakim.

Bab V (Penutup), bab ini menguraikan kesimpulan dari bab-bab yang sudah dibahas sebelumnya dan juga mengenai saran-saran yang diharapkan dapat menjadi masukan yang membangun bagi perkembangan hukum yang berkaitan dengan kepailitan.

(26)

BAB II

KEPAILITAN PERUSAHAAN EFEK A. Ketentuan Tentang Kepailitan

1. Pengertian Kepailitan

Jika ditelusuri sejarah hukum tentang kepailitan, diketahui bahwa hukum tentang kepailitan itu sendiri sudah ada sejak zaman Romawi.24 Kata bangkrut, yang dalam bahasa Inggris disebut dengan bankrupt berasal dari undang- undang di Italia yang disebut dengan banca rupta. Pada abad pertengahan di Eropa, terjadi praktik kebangkrutan yang dilakukan dengan menghancurkan bangku-bangku dari para bankir atau pedagang yang melarikan diri secara diam-diam dengan membawa harta para krediturnya.

Pada dasarnya, dikaji dari perspektif etimologis istilah kepailitan berasal dari kata pailit yang berasal dari beberapa bahasa. Istilah “pailit” berasal dari bahasa Belanda faiyit yang mempunyai arti ganda yaitu sebagai kata benda dan sebagai kata sifat. Istilah faiyit sendiri berasal dari bahasa Perancis yang dikenal sebagai failite yang berarti pemogokan atau kemacetan pembayaran, sedangkan orang yang mogok dan berhenti membayar dalam bahasa Perancis disebut le faili. Kata kerja failliet artinya adalah gagal. Sedangkan dalam

24 Sunarmi, Perbandingan Sistem Hukum Kepailitan antara Indonesia (Civil Law System) dengan Amerika Serikat (Common Law System e-USU Repository 2004 Universitas Sumatera Utara, diunduh pada tanggal 15 Desember 2019, pukul 20.35 wib

(27)

bahasa Inggris dikenal dengan kata to fail dengan arti yang sama, dan dalam bahasa latin disebut Faillure.25

Kemudian dalam bahasa Belanda dikenal dengan terminologi failiet dan dalam sistem hukum anglo saxon/ case law dikenal dengan sebutan Bankruptcy Act. Tegasnya, dalam terminologis bahasa Indonesia kata pailit dapat diartikan sebagai suatu keadaan adanya situasi berhenti membayar.26

Dalam berbagai kepustakaan juga dijabarkan pengertian kepailitan, antara lain dalam kamus hukum Fockema Andreae, dikemukakan Faillisement (Bld), kepailitan (Ind). Kepailitan seorang debitur adalah keadaan yang ditetapkan oleh pengadilan bahwa debitur telah berhenti membayar utang-utangnya yang berakibat penyitaan umum atas harta kekayaan dan pendapatannya demi kepentingan semua kreditur di bawah pengawasan pengadilan27.

Dalam peraturan kepailitan yang lama, yaitu Fv S. 1905 No. 217 jo. 1906 No. 348 yang dimaksud dengan pailit adalah setiap berutang atau debitur yang ada dalam keadaan berhenti membayar, baik atas laporan sendiri maupun atas permohonan seseorang atau lebih berpiutang (kreditur) dengan putusan hakim dinyatakan dalam keadaan pailit28.

25 Kartono, Pengantar Hukum Kepailitan dan Penundaan Pembayaran, Jakarta, Pradya Pramita, 1974, hlm. 11.

26 Lilik Mulyadi, Perkara Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) Teori dan Praktik Ctk. Kedua, Bandung, Alumni 2013, hlm. 46.

27 Saleh Adiwinata,dkk, Kamus istilah Hukum Fockema Andreae Belanda-Indonesia, Bandung, Binacipta, 1983

28 Rahayu Hartini, Penyelesaian Sengketa Kepailitan di Indonesia: Dualisme Kewenangan Pengadilan Niaga dan Lembaga arbitrase, Jakarta, Kencana, 2009, hlm. 71.

(28)

20

Lain halnya dengan ketentuan UU No. 4 Tahun 1998 tentang Kepailitan, yang menyebutkan: Debitur yang mempunyai dua atau lebih kreditur dan tidak membayar sedikitnya satu utang yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih, dinyatakan pailit dengan putusan pengadilan yang berwenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, baik atas permohonannya sendiri, maupun atas permintaan seseorang atau lebih krediturnya.

Menurut Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, yang dimaksud dengan kepailitan adalah sita umum atas semua kekayaan debitur pailit yang pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh kurator di bawah pengawasan Hakim Pengawas sebagaimana diatur dalam undang-undang ini.

Terminologi kepailitan sering dipahami secara tidak tepat oleh kalangan umum. Sebagian dari mereka menganggap kepailitan sebagai vonis yang berbau tindakan kriminal serta merupakan suatu cacat hukum atas subjek hukum, karena itu kepailitan harus dijauhkan serta dihindari sebisa mungkin.29

Kepailitan secara apriori dianggap sebagai kegagalan yang disebabkan karena kesalahan dari debitor dalam menjalankan usahanya sehingga menyebabkan utang tidak mampu dibayar. Oleh karena itu, kepailitan sering diidentikan sebagai pengemplangan utang atau penggelapan terhadap hak-hak yang seharusnya dibayarkan kepada kreditor.30 Kepailitan memang tidak

29 M. Hadi. Shubhan, Hukum Kepailitan Prinsip, Norma, dan Praktik di Peradilan, Ctk.

Keempat, Jakarta, Kencana, 2014,hlm. 1

30 Ibid, hlm. 2.

(29)

merendahkan martabatnya sebagai manusia, tetapi apabila ia berusaha untuk memperoleh kredit, disanalah baru terasa baginya apa artinya sudah pernah dinyatakan pailit. Dengan perkataan lain, kepailitan mempengaruhi

“credietwaardigheid”-nya dalam arti yang merugikannya, ia tidak akan mudah mendapatkan kredit.31

2. Syarat Kepailitan

Dari ketentuan dalam Pasal 2 Undang-Undang Kepailitan Nomor 37 Tahun 2004 antara lain:

Debitur yang mempunyai dua atau lebih kreditur dan tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih, dinyatakan pailit denagn putusan pengadilan, bai katas permohonan satu atau lebih krediturnya.

Syarat-syarat permohonan pailit sebagaimana ditentukan dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Kepailitan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

a) Adanya utang

Berdasarkan Pasal 1 ayat (6) Undang-Undang Kepailitan, utang adalah kewajiban yang dinyatakan atau dapat dinyatakan dalam jumlah uang, baik dalam mata uang Indonesia, maupun mata uang asing, baik secara langsung maupun yang akan timbul dikemudian hari atau

31 Kartono, Op.Cit, hlm. 42

(30)

22

kontingen, yang timbul karena perjanjian atau Undang-Undang dan yang waib dipenuhi oleh debitur dan bila tidak dipenuhi memberi hak kepada kreditur untuk mendapatkan pemenuhannya dari harta kekayaan debitur.

Syarat ini diperlukan karena tanpa adanya utang, maka debitur tidak memiliki kewajiban yang harus dibayar kepada para kreditur, sehingga tidak dapat dimintakan permohonan pailit.

b) Minimal satu dari utang sudah jatuh tempo dan dapat ditagih Utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih telah dirumuskan dalam Penjelasan Pasal 2 Ayat (1) yaitu kewajiban untuk membayar utang yang telah jatuh waktu, baik karena telah diperjanjikan, karena percepatan waktu penagihannya sebagaimana diperjanjikan, karena pengenaan sanksi atau denda oleh instansi yang berwenang, maupun karena Putusan Pengadilan, Arbiter, atau majelis arbitrase.

Syarat bahwa utang harus telah jatuh waktu, dapat ditagih menunjukan bahwa kreditur sudah mempunyai hak untuk menuntut debitur untuk memenuhi prestasinya.32

Berkenaan dengan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1998 sebelum akhirnya di cabut dan di ganti dengan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU), Kartini Muljadi berpendapat bahwa istilah utang dalam Pasal 1 dan Pasal 212 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1998 seharusnya merujuk

32 Jono, Hukum Kepailitan,Jakarta, Sinar Grafika, 2008, hlm.11.

(31)

pada hukum perikatan dalam hukum perdata. Dan beliau mengaitkan pengertian utang dengan Pasal 1233 dan 1234 KUH Perdata.

Dari hal ini dapat di simpulkan arti utang sama dengan pengertian kewajiban.33 Dari uraian tersebut dapat ditafsirkan pula bahwa kewajiban itu timbul karena setiap perikatan, menurut Pasal 1233 KUH Perdata dilahirkan baik karena persetujuan maupun karena Undang-Undang. Jadi pengertian utang adalah setiap kewajiban Debitur kepada setiap krediturnya baik untuk memberikan sesuatu, berbuat sesuatu, atau tidak berbuat sesuatu.

Kontroversi mengenai utang kemudian disatu artikan melalui dengan adanya Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU), sebagaimana tertera dalam Pasal 1 ayat (6) yakni:

“Utang adalah kewajiban yang di nyatakan atau dapat dinyatakan dalam jumlah uang, baik dalam mata uanag indonesia maupun mata uang asing, baik secara langsung maupun yang akan timbul dikemudian hari atau kontinjen, yang timbul karena perjanjian atau Undang-Undang dan yang wajib dipenuhi oleh Debitur dan bilah tidak dipenuhi memberi hak kepada kreditur untuk mendapat pemenuhan dari harta kekayaan Debitur”.

c) Adanya debitur;

d) Paling sedikit harus ada 2 (dua) Kreditur

33 Sutan Remy Sjahdeini, Hukum Kepailitan, Memahami Faillissement verordening Juncto UU Nomor 4 Tahun 1998, Jakarta, Pustaka Utama Grafiti, 2002, hlm. 88

(32)

24

Menurut Pasal 2 Ayat (1) Undang-Undang Kepailitan, salah satu syarat yang harus dipenuhi ialah debitur harus mempunyai dua kreditur atau lebih. Undang-Undang ini hanya memungkinkan seorang debitur dinyatakan pailit apabila debitur memiliki paling sedikit dua kreditur.

Syarat mengenai adanya minimal dua atau lebih kreditur dikenal sebagai concursus creditorium. Adapun dalam hal ini yang dipersyaratkan bukan berapa besar piutang yang mesti ditagih oleh seorang kreditur dari debitur yang bersangkutan, melainkan berapa banyak orang yang menjadi kreditur dan debitur yang bersangkutan dan berapa banyak orang yang menjadi kreditur dari debitur yang bersangkutan.

e) Pernyataan pailit dilakukan oleh pengadilan khusus yang disebut dengan “Pengadilan Niaga”;

f) Permohonan pernyataan pailit diajukan oleh pihak yang berwenang, yaitu :

1) Pihak debitur;

2) Satu atau lebih kreditur;

3) Jaksa untuk kepentingan umum;

4) Bank Indonesia jika debiturnya bank;

5) Bapepam jika debiturnya perusahaan efek, bursa efek, lembaga kliring dan penjaminan, dan lembaga penyimpanan dan penyelesaian;

(33)

6) Menteri Keuangan jika debiturnya perusahaan asuransi, re- asuransi, dana pensiun, dan BUMN yang bergerak di bidang kepentingan publik.

g) Dan syarat-syarat yuridis lainnya yang disebutkan dalam Undang- Undang Kepailitan.

3. Tujuan Kepailitan

Tujuan hukum kepailitan adalah :

a. Untuk menjamin pembagian yang sama terhadap harta kekayaan debitur di antara para krediturnya;

b. Mencegah agar debitur tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat merugikan kepentingan para kreditur;

c. Memberikan perlindungan kepada debitur yang beritikad baik dari para krediturnya, dengan cara memperoleh pembebasan utang.34 Sedangkan menurut Max Radin dalam bukunya The Nature of Bankruptcy mengungkapkan bahwa:

“purpose of all bankruptcy laws is to provide a collective forum for sorting out the rights of the various claimants against the assets of debtor where there are not enough assets to go around.”35

34 Bernard Nainggolan, Peranan Kurator dalam Pemberesan Boedel Pailit, Bandung, Alumni, 2014, hlm. 7

35 Imran Nating, Peranan dan Tanggung Jawab Kurator dalam Pengurusan dan Pemberesan Harta Pailit, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2005, hlm. 9

(34)

26

Sederhananya dapat diartikan tujuan dari semua undang-undang kepailitan (Bankruptcy Laws) diberbagai negara adalah untuk memberikan suatu forum kolektif untuk memilah-milah hak-hak dari berbagai penagih terhadap aset seorang debitur yang tidak cukup nilainya.

Menurut Rudhi prasetya, adanya lembaga kepailitan berfungsi untuk mencegah kesewenang-wenangan pihak kreditur yang memaksa dengan berbagai cara agar debitur membayar utangnya. Dengan adanya lembaga kepailitan memungkinkan debitur membayar utang-utangnya secara tertib dan adil yaitu:

a. Dengan dilakukannya penjualan atas harta pailit yang ada, yakni seluruh harta kekayaan yang tersisa dari debitur

b. Membagi hasil penjualan harta pailit tersebut kepada para kreditur sesuai dengan hak prefensinya dan proporsionalnya.

Menurut Sutan Remy Sjahdeini tujuan dari hukum kepailitan adalah:36

a. Melindungi para kreditur konkuren untuk memperoleh hak-hak mereka sesuai dengan asas jaminan. Semua harta kekayaan debitur, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, baik yang telah ada maupun yang baru akan ada di kemudian hari, menjadi jaminan bagi perikatan debitur, yaitu dengan cara memberikan fasilitas dan prosedur untuk mereka dapat memenuhi tagihan- tagihannya terhadap debitur. Asas jaminan tersebut diatur dalam

36 Sutan Remy Sjahdeini, Op.cit , hlm. 38-40

(35)

pasal 1131 KUHPerdata. Hukum kepailitan menghindari terjadi perebutan yang dilakukan oleh para kreditur terhadap harta debitur berkenaan dengan asas jaminan tersebut. Tanpa adanya Undang- Undang Kepailitan maka akan terjadi kreditur yang lebih kuat mendapatkan bagian yang lebih banyak daripada kreditur yang lemah.

b. Menjamin agar pembagian harta kekayaan debitur di antara para kreditur sesuai dengan asas pari passu (membagi secara proporsional harta kekayaan debitur kepada kreditur konkuren atau unsecured creditors berdasarkan besarnya tagihan masing-masing kreditur tersebut).

c. Mencegah agar debitur tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat merugikan kepentingan para kreditur.

d. Pada hukum kepailitan Amerika Serikat, hukum kepailitan memberikan perlindungan kepada debitur yang beritikad baik kepada krediturnya, dengan cara memperoleh pembebasan utang.

Menurut hukum kepailitan Amerika Serikat, seorang debitur perorangan akan dibebaskan dari utang-utangnya setelah selesainya tindakan pemberesan atau likuidasi terhadap harta kekayaannya.

e. Menghukum Pengurus yang karena kesalahannya telah mengakibatkan perusahaan mengalami keadaan keuangan yang buruk sehingga perusahaan mengalami keadaan insolvensi dan kemudian dinyatakan pailit oleh pengadilan.

(36)

28

f. Memberikan kesempatan kepada debitur dan para krediturnya untuk berunding dan membuat kesepakatan mengenai strukturisasi utang-utang debitur.

4. Pihak-Pihak Yang Berwenang Mengajukan Permohonan Pailit a) Debitur/Kreditur

Dalam Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang disebutkan, Kepailitan adalah sita umum atas semua kekayaan debitur pailit yang pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh kurator di bawah pengawasan Hakim Pengawas. Selanjutnya dalam Pasal 2 ayat (1) UU Kepailitan dan PKPU disebutkan, debitur yang mempunyai dua atau lebih kreditur dan tidak membayar sedikit dan tidak membayar sedikitnya satu utang yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih, dinyatakan pailit dengan putusan pengadilan, baik atas permohonannya sendiri, maupun atas permintaan seorang atau lebih krediturnya. Dalam UU Kepailitan dan PKPU tidak djelaskan, berapa jumlah utang minimal yang harus ada sehingga dapat mengajukan permhonan pailit.

Pengertian kreditur dijelasksan dalam Pasal 1 ayat (2), Kreditur adalah orang yang mempunyai piutang karena perjanjian atau UU yang dapat ditagih di muka pengadilan. Debitur adalah orang yang mempunyai utang karena perjanjian atau UU yang pelunasannya dapat ditagih di muka pengadilan (Pasal 1 ayat (3)). Dengan mengacu

(37)

kepada ketentuan di atas terlihat, baik debitur maupun kreditur dapat mengajukan permohonan pailit.

b) Kejaksaan Demi Kepentingan Umum

Dalam Pasal 2 ayat 2 UU Kepailitan dan PKPU disebutkan, yang dimaksud dengan kepentingan umum adalah kepentingan bangsa dan negara dan/atau kepentingan masyarakat luas. Kreteria yang digunakan, misalnya :

1) Debitur melarikan diri;

2) Debitur menggelapkan bagian dari harta kekayaan;

3) Debitur mempunyai utang kepada Badana Usaha Milik Negara atau badan usaha lain yang menghimpun dana dari masyarakat luas;

4) Debitur mempunyai utang yang berasal dari penghimpunan dana dari masyarakat luas;

5) Debitur tidak beritikad baik atau tidak kooperatif dalam menyelesaikan masalah utang piutang yang telah jatuh waktu; atau

6) Dalam hal lainnya menurut kejaksaan merupakan kepentingan umum.

c) Bank Indonesia

Dalam Pasal 2 ayat (3) UU Kepailitan dan PKPU disebutkan, dalam hal debitur adalah bank, permohonan pernyataan pailit hanya

(38)

30

dapat diajukan oleh Bank Indonesia. Pengajuan permohonan pernyataan pailit bagi bank sepenuhnya merupakan kewenangan Bank Indonesia dan semata-mata didasarkan atas penilaian kondisi keuangan dan kondisi perbankan secara keseluruhan, oleh karena itu tidak perlu dipertanggung jawabkan. Kewenangan Bank Indonesia untuk mengajukan permohonan kepailitan ini tidak menghapuskan kewenangan Bank Indonesia terkait dengan ketentuan pencabutan izin usaha bank, pembubaran badan hukum, dan likuidasi bank sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam UU Kepailitan dan PKPU tidak dijelaskan, dalam kapasitas apa Bank Indonesia dapat mengajukan permohonan pailit. Sebagaimana dikemukakan oleh Ramlan Ginting, UU Kepailitan dan PKPU tidak mengatur secara tegas apakah kewenangan Bank Indonesia sebagai otoritas perbankan ataukah sebagai kreditur atau sebagai otoritas perbankan dan kreditur37.

d) Badan Pengawas Pasar Modal

Dalam Pasal 2 ayat (4) UU Kepailitan dan PKPU disebutkan, dalam hal debitur adalah perusahaan efek, bursa efek, lembga kliring dan penjaminan, lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian, permohonn pernyataan pailit hanya dapat diajukan oleh Badan Pengawas Pasar Modal. Selanjutnya dalam penjelasan pasal ini disebutkan,

37 Emmy Yuhassarie, Prosiding Rangkaian Lokarya Terbatas Undang-Undang Kepailitan dan Perkembangannya, Jakarta, PPH, 2004, hlm. 89

(39)

permohonan pailit sebagaimana dimaksud dalam ayat ini hanya dapat diajukan oleh Badan Pengawas Pasar Modal, karena lembaga tersebut melakukan kegiatan yang berhubungan dengan dana masyarakat yaang diinvestasikan dalam efek di bawah pengawasan Badan Pengawasan Pasar Modal. Jika perusahaan efek dinyatakan pailit hanya karena permintaan satu atau dua kreditur dapat mengganggu sistem yang berlaku di pasar modal secara keseluruhan. Padahal dana masyarakat yang ada di suatu perusahaan efek mencakup dana banyak pihak38.

Eksistensi Badan Pengawas Pasar Modal sebagai institusi yang diberi otoritas mengatur pasar modal diatur dalam Undang-Undang Pasar Modal Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Dalam Undang-Undang ini dijelaskan, pembinaan, pengaturan, dan pengawasan sehari-hari kegiatan pasar modal dilakukan oleh Badan Pengawas Pasar Modal. Pembinaan pengaturan dan pengawasan dilaksanakan oleh Badan Pengawas Pasar Modal dengan tujuan mewujudkan terciptanya kegiatan Pasar Modal yang teratur, wajar, dan efesien serta melindungi kepentingan pemodal dan masyarakat.

e) Menteri Keuangan Republik Indonesia

Dalam Pasal 2 ayat (5) UU Kepailitan dan PKPU dikemukakan, dalam hal debitur adalah Perusahaan Asuransi, Perusahaan Reasuransi, Dana Pensiun atau Badan Usaha Milik Negara yang bergerak dibidang

38 Ibid, hlm. 75

(40)

32

kepentingan publik, permohonan pernyataan pailit hanya dapat diajukan oleh Menteri Keuangan.

f) Otoritas Jasa Keuangan

Ketentuan di atas berlaku sebelum hadirnya Undang-Undang Otoritas Jasa Keuangan. Terkait permohonan pernyataan pailit terhadap perusahaan efek hanya bisa diajukan oleh Bapepam. Namun, setelah Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 Tentang Otoritas Jasa Keuangan (UU Otoritas Jasa Keuangan) disahkan, berdampak pada perubahan besar terhadap industri keuangan di Indonesia. Perubahan tersebut dapat kita lihat pada aturan peralihan UU Otoritas Jasa Keuangan dalam Pasal 55 yang menyatakan:

1) Sejak tanggal 31 Desember 2012, fungsi, tugas, dan wewenang pengaturan dan pengawasan kegiatan jasa keuangan di sektor Pasar Modal, Perasuransian, Dana Pensiun, Lembaga Pembiayaan, dan Lembaga Jasa Keuangan lainnya beralih dari Menteri Keuangan dan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan ke Otoritas Jasa Keuangan.

2) Sejak tanggal 31 Desember 2013, fungsi, tugas dan wewenang pengaturan dan pengawasan kegiatan jasa keuangan di sector perbankan beralih dari Bank Indonesia ke Otoritas Jasa Keuangan.

(41)

Peralihan kewenangan sebagaimana tersebut di atas berdampak juga secara langsung terhadap UU Kepailitan dan PKPU dimana kewenangan bagi Lembaga-lembaga yang diatur dalam ketentuan Pasal (2) sampai dengan ayat (5) UU Kepailitan dan PKPU tersebut secara otomatis berpindah ke Otoritas Jasa Keuangan kecuali untuk pengajuan permohonan kepailitan atas Bank yang masih dipegang oleh BI.

Sehingga pada kepailitan terhadap debitur yang bergerak di bidang pasar modal, kewenangan pengajuan permohonan pernyataan pailit yang awalnya hanya bisa dilakukan oleh Bapepam sebagaimana ketentuan Pasal 2 ayat (4) UU Kepailitan dan PKPU. Dengan hadirnya UU Otoritas Jasa Keuangan, maka kewenangan pengajuan pailit tersebut beralih pada Otoritas Jasa Keuangan, dalam hal ini Otoritas Jasa Keuangan sebagai otoritas yang memiliki kewenangan pembinaan, pengawasan dan pengaturan di bidang Pasar Modal.

5. Pihak-Pihak Yang Terlibat Dalam Proses Kepailitan a) Pihak Pemohon Pailit

Yakni pihak yang mengambil inisiatif untuk mengajukan permohonan pailit ke pengadilan, yang dalam perkara biasa disebut pihak penggugat.

2. Pihak Debitur Pailit

(42)

34

Yakni pihak yang dimohonkan pailit ke pengadilan yang berwenang.

3. Hakim Niaga

Perkara kepailitan pada tingkat pertama diperiksa dan diputus oleh Majelis Hakim Pengadilan Niaga. Majelis hakim tersebut merupakan hakim-hakim pada Pengadilan Niaga, yaitu hakim-hakim Pengadilan Negeri yang telah diangkat menjadi hakim Pengadilan Niaga berdasarkan keputusan Ketua Mahkamah Agung.

4. Hakim Pengawas

Keberadaan Hakim Pengawas ini mutlak dalam penyelesaian kepailitan , karena seperti diatur dalam Pasal 56 UU Kepailitan dan PKPU yang sama dengan ketentuan Pasal 64 Faillisementverordening (yang tidak dicabut atau diubah UU Nomor 4 tahun 1998 Tentang Kepailitan dan PKPU), Pengadilan wajib mendengar pendapat Hakim Pengawas, sebelum mengambil suatu keputusan mengenai pengurusan atau pemberesan harta pailit. Dengan disebutkan “wajib” berarti menunjukkan pentingnya eksistensi Hakim Pengawas yang ditunjuk oleh Pengadilan untuk mengemban tugas tersebut.

5. Kurator

Kurator merupakan salah satu pihak yang memegang peranan penting dalam proses penyelesaian kepailitan. Kurator diangkat oleh pengadilan, dengan tugas utama adalah mengurus dan membereskan

(43)

harta pailit. Dalam pasal 70 ayat (1) UU KPKPU disebutkan, yang dapat bertindak menjadi kurator adalah sebagai berikut:

a. Balai Harta Peninggalan (BHP) b. Kurator lainnya.

Untuk Jenis Kurator lainnya, dalam pasal 70 ayat (2) UU KPKPU menyebutkan syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk dapat menjadi kurator, yaitu:

a. orang perseorangan yang berdomisili di Indonesia, yang memiliki keahlian khusus yang dibutuhkan dalam rangka mengurus dan/atau membereskan harta pailit; dan

b. terdaftar pada kementerian yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya di bidang hukum dan peraturan perundang- undangan.39

B. Ketentuan Tentang Perusahaan Efek 1. Pengertian Perusahaan Efek

Sebagaimana yang telah diatur dalam Pasal 1 ayat (21) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 Tentang Pasar Modal yang menyatakan bahwa:

“Perusahaan efek adalah pihak yang melakukan kegiatan usaha sebagai penjamin emisi efek, perantara perdagangan efek, dan atau manajer investasi.”

39 Bernard Nainggolan, Op.cit, hlm. 47.

(44)

36

Perusahaan efek diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 Tentang Pasar Modal, pada pasal 30 ayat (1) dan (2), dijelaskan bahwa perusahaan efek merupakan perusahaan yang telah mendapat izin usaha dari Bapepam untuk dapat melakukan kegiatan sebagai penjamin emisi efek, perantara perdagangan efek, atau manajer investasi atau kegiatan lain yang sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Bapepam. Perusahaan Efek lebih dikenal sebagai Perusahaan Sekuritas (Securities Company).

Pada umumnya Perusahaan Efek dilihat dari sudut kepemilikannya dapat dibedakan atas:40

a) Perusahaan Efek Nasional, yaitu Perusahaan Efek yang seluruh sahamnya dimiliki oleh orang perseorangan Warga Negara Indonesia dan atau Badan Hukum Indonesia

b) Perusahaan Efek Patungan, yaitu Perusahaan Efek yang sahamnya dimiliki oleh orang perseorangan Warga Negara Indonesia, Badan Hukum Indonesia dan atau Badan Hukum Asing yang bergerak di bidang keuangan.

2. Dasar Hukum Perusahaan Efek

Perusahaan Efek dapat melakukan kegiatan usaha menurut Undang- Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Adapun dasar-dasar hukum lain perusahaan efek adalah sebagai berikut :

40 Tjiptono Darmadji, Hendy M Fakhrudin, Op.Cit, hlm. 19.

(45)

a) Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1995 tentang Penyelenggaraan Kegiatan di Bidang Pasar Modal

b) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas c) Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 1995 tentang Tata Cara

Pemeriksaan di Bidang Pasar Modal

d) Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan

e) Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 57/ POTORITAS JASA KEUANGAN.04/2017 tentang Penetapan Tata Kelola Perusahaan Efek Yang Melakukan Kegiatan Usaha Sebagai Penjamin Emisi Efek dan Perantara Pedagang Efek

f) Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia Nomor 18/

POTORITAS JASA KEUANGAN.04/2019 tentang Perusahaan Efek Daerah

C. Kepailitan Perusahaan Efek

Pengaturan mengenai kepailitan di Indonesia telah ada sejak berlakunya Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (Wetboek van Koophandel) Buku III tentang Ketidakmampuan Pedagang yang hanya berlaku bagi pedagang dan Kitab Undang- Undang Hukum Acara Perdata (Reglement op de Rechtsvordering Staatblads

(46)

38

1847-52 jo. 1849-63) Buku III Bab VII tentang Keadaan Nyata-Nyata Tidak Mampu yang berlaku bagi orang-orang bukan pedagang.41

Dua aturan kepailitan tersebut kemudian dicabut dan diganti dengan Undang- Undang tentang Kepailitan yang berlaku bagi semua orang, baik pedagang maupun bukan pedagang, baik perseorangan maupun badan hukum.

Adapun dasar hukum bagi suatu kepailitan adalah sebagai berikut:

1. Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU;

2. KUH Perdata;

3. KUHPidana;

4. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas;

5. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan;

6. Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia;

7. Perundang-undangan di bidang Pasar Modal, Perbankan, BUMN;

8. Undang-undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan.

Kepailitan Perusahaan Efek termasuk dalam Pailitnya suatu Perseroan Terbatas. Dalam Pailit suatu Perseroan Terbatas dapat dilihat dari Undang- Undang No.37 Tahun 2004 dan Undang-Undang No. 40 Tahun 2007.

Dalam UU Kepailitan dan PKPU 2004, putusan pailit dapat dijatuhkan apabila Perseroan tersebut memenuhi persyaratan permohonan pailit pada Pasal 2 ayat (4) UU Kepailitan dan PKPU 2004 yang berbunyi “Dalam hal Debitur adalah Perusahaan Efek, Bursa Efek, Lembaga Kliring, dan Penjaminan, Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian, permohonan pernyataan pailit hanya dapat

41 Rahayu Hartini, Hukum Kepailitan Cet. Ketiga, Malang, UMM Pers, 2012, hlm. 8

(47)

diajukan oleh Badan Pengawas Pasar Modal . Dan dalam UUPT 2007, pernyataan pailit suatu perseroan terbatas tidak dijelaskan secara jelas, akan tetapi UUPT 2007 menjelaskan bahwa Putusan pernyataan pailit merupakan salah satu penyebab dibubarkannya suatu perseroan.42 Dalam UUPT 2007 juga dijelaskan bahwa dalam terjadinya pembubaran perseroan, wajib diikuti likuidasi yang dilakukan oleh kurator yang ditetapkan oleh pengadilan niaga dengan memperhatikan ketentuan dalam UU Kepailitan dan PKPU 2004.43

Perusahaan efek yang tidak dapat melaksanakan tanggungjawabnya seperti tidak dapat memenuhi kewajiban untuk membayar seluruh utang kepada pihak kreditur maka dapat diajukan permohonan pailit. Dari ketentuan Pasal 2 ayat (4) dapat diketahui dengan jelas bahwa permohonan pailit perusahaan efek saat ini hanya dapat diajukan oleh Otoritas Jasa Keuangan sebagai otoritas yang berwenang terhadap pengawasan dibidang pasar modal. Tetapi kerancuan muncul ketika permohonan pailit perusahaan efek diajukan oleh pihak kreditur.

Di Indonesia telah terjadi fakta kesejarahan yang berbeda-beda terkait dengan pihak yang dapat mengajukan permohonan pailt terhadap perusahaan efek.

Garis batas kesejarahan tersebut adalah UU Otoritas Jasa Keuangan.

a. Masa Sebelum Lahirnya UU Otoritas Jasa Keuangan

Masa ini adalah masa ketika Bapepam memiliki kedudukan sebagai Lembaga dengan otoritas tertinggi di pasar modal yang berperan melakukan pengawasan, pengaturan dan pembinaan terhadap pasar modal.

Atas dasar tersebut Bapepam diberi kewenangan luar biasa. Kewenangan

42 Indonesia, Undang-Undang Tentang Perseroan Terbatas, Undang-Undang No. 40 Tahun 2007, ps. 142 ayat (1).

43 Ibid, ps. 142 ayat (2).

(48)

40

Bapepam dikatakan luar biasa karena meliputi kewenangan untuk membuat peraturan, melakukan pemeriksaan dan penyidikan serta menjatuhkan sanksi terhadap pihak yang melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan.44 Terkait dengan kepailitan, Bapepam diberikan wewenang untuk mengajukan permohonan pernyataan pailit atas perusahaan efek.

UU Pasar Modal secara khusus tidak mengatur mengenai kewenangan Bapepam dalam pengajuan permohonan pailit perusahaan efek. Tetapi kewenangan tersebut dijelaskan secara tersirat dalam UU Pasar Modal diantaranya ketentuan yang ada dalam Pasal 3 dan Pasal 4 UU Pasar Modal. Latar belakang Bapepam yang hanya diberi kewenangan untuk mengajukan permohonan pernyataan pailit terhadap perusahaan efek seperti halnya wewenang Bank Indonesia terhadap Bank adalah karena peran Perusahaan Efek merupakan kunci dalam kegiatan Pasar modal di Indonesia.45 Berkaitan dengan penjelasan diatas terhadap masa sebelum lahirnya UU Otoritas Jasa Keuangan, maka pihak yang hanya dapat mengajukan permohonan pailit perusahaan efek adalah Bapepam.

b. Masa Setelah Lahirnya UU Otoritas Jasa Keuangan

Pasca terbentuknya Otoritas Jasa Keuangan menimbulkan dampak hukum dialihkannya fungsi, tugas dan wewenang pengaturan serta pengawasan kegiatan di sektor pasar modal dari Bapepam-LK ke Otoritas

44 M Irsan Nasarudin & Indra Surya, Aspek Hukum Pasar Modal Indonesia Cetakan kedua, Jakarta, Kencana, 2004, hlm. 116

45 Rudy Lontoh dkk, Penyelesaian Utang-Piutang Melalui Pailit atau Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Bandung, Alumni, 2001, hlm. 558

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Pada penelitian ini tingkat kepuasan responden dengan teh celup Sosro lebih rendah dibandingkan tingkat kepuasan konsumen Sariwangi, sehingga pada produk teh celup

Pada aplikasi 1: Gambar 1, 2 dan 3 dapat dilihat Pada aplikasi 2: Gambar 4, 5 dan 6 dapat dilihat bahwa prosentase kematian larva Aedes aegypti pada bahwa prosentase

Hal ini dikarenakan salah satu tujuan bimbingan konseling dalam bidang akademik atau belajar adalah membentuk sikap dan kebiasan belajar yang dimiliki siswa ke arah yang

Hasil analisis pakar menunjukkan: (1) terdapat isi uraian modul yang tidak penting bahkan salah; (2) beberapa pargraf yang tidak baik susunannya atau tidak memenuhi

Hasil dan pembahasan menunjukkan bahwa ujian nasional berbasis komputer secara kontinyu dilakukan sekalipun masih perlu perbaikan, sebab ujian nasional berbasis

Haryasudirja Kampus ITNY, di dapat nilai tertinggi pada bagian sistem utilitas dengan nilai mean 2,900 pada item sistem listrik darurat yang diperoleh dari

Setelah pertanyaan- pertanyaan yang sesuai dijawab, maka sistem akan memberikan informasi kepada pengunjung mengenai berbagai kemungkinan virus dan penyakit yang

Dari jumlah total surplus usaha keseluruhan sektor peternakan dan perikanan, kontribusi terbesar dalam surplus usaha adalah sektor ikan laut dan hasil laut