• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sopriyanto 1 Institut Agama Islam(IAI) Yasni Bungo

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Sopriyanto 1 Institut Agama Islam(IAI) Yasni Bungo"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

Efektivitas Pembiayaan Usaha Minimal Pada Baznas Kabupaten Bungo Dalam Meningkatkan Ekonomi Masyarakat Miskin Di Desa

Tanjung Agung Kecamatan Muko-Muko Bathin VII

Sopriyanto1

Institut Agama Islam(IAI) Yasni Bungo

E-mail :[email protected]/WA: 085266481206

Abstract

This study aims to determine how the procedures for managing minimal business financing in BAZNAS Bungo Regency and knowing the effectiveness of minimal business financing in the village of Tanjung Agung, Muk-Muko Bathin VII District. This research is a field research (field research) which takes place in BAZNAS Bungo Regency by using a qualitative research research approach with a descriptive approach (qualitative descriptive). The results of this study indicate that in terms of effectiveness it shows that the provision of revolving capital program funding can be said to be very ineffective because seeing the results only 3 mustahik out of 11 people understand and are able to develop this capital. because not all mustahik use the revolving capital program funds for productiveactivities.

Keywords: Business Financing, BAZNAS, Community Economy.

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk Untuk mengetahui Bagaimana prosedur pengelolaan Pembiayaan usaha minimal di BAZNAS Kabupaten Bungo dan mengetahui efektivitas terhadap pembiayaan usaha minimal di desa Tanjung Agung Kecamatan Muk-Muko Bathin VII.Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) yang mengambil lokasi di BAZNAS Kabupaten Bungo dengan mengggunakan Pendekatan penelitian penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif (deskriptif kualitatif). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam hal efektifitas memperlihatkan bahwa pemberian dana program modal bergulir ini bisa dikatakan sangat belum efektif karena melihat hasil hanya 3 orang mustahik dari 11 orang yang memahami dan mampu mengembangkan modal tersebut. karena tidak semua mustahik menggunakan dana program modal bergulir untuk kegiatan produktif.

Kata Kunci :Pembiayaan Usaha, BAZNAS, Ekonomi Masyarakat

A. Pendahuluan

Saat ini banyak orang yang tidak mengetahui bahwa manfaat zakat itu sangat besar. Kebanyakan orang yang mampu zakat atau memenuhi syarat berzakat tidak mengetahui tentang zakat, karena minimnya pengetahuan atau mungkin juga ketidaktahuan para muzakki tentang harta apa saja yang terkena wajib zakat, termasuk cara menghitung zakat atau besarnya harta zakat yang harus dikeluarkan

1 Dosen Institut Agama Islam Yasni Bungo

(2)

65 dan lain sebagainya. Hal yang menyedihkan adalah bahwa kesenjangan ini telah menyebabkan terjadinya proses perubahan budaya bangsa yang sangat signifikan.

Kebanyakan orang kaya semakin arogan dengan kekayaannya, sedangkan yang miskin semakin dan terpuruk dalam kemiskinannya.Akibatnya, potensi konflik sosial menjadi sangat besar.Hal ini telah dibuktikan dengan beragamnya konflik sosial yang terjadi ditengah-tengah masyarakat kita, terutama dalam kehidupanekonomi.

Badan Amil Zakat Nasional merupakan badan resmi dan satu-satunya yang dibentuk oleh pemerintah berdasarkan keputusan Presiden RI No. 8 tahun 2001 yang memiliki tugas dan fungsi menghimpun dan menyalurkan zakat, infaq dan sedekah, lahirnya undang-undang No. 23 tahun 2011 tentang pengelolaan zakat semakin mengukuhkan peran BAZNAS sebagai lembaga pemerintah non struktural bersifat mandiri dan bertanggung jawab kepada presiden melalui menteri agama. pemerintah telah mengeluarkan UU Nomor 23 tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat dimana dalam undang-undang ini dijelaskan bahwa badan amil zakat bentukan pemerintah serta lembaga amil zakat bentukan masyarakat dapat menerimazakat, infak, sedekah dan dana sosial lainnya. Diharapkan pembentukan badan amil zakat ini dapat meningkatkan kesejahteraan umat termasuk kebutuhan modal bagi pedagang masyarakat tulungagung dalam meningkatkan kesejahteraan perekonomiannya, sebagaimana yang tertuang dalam pasal 2 UU Nomor 23 tahun 2011 bahwa pengelolaan zakat bertujuan meningkatkan manfaat zakat untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan penanggulangan kemiskinan, dimana dana infak serta dana sosial lainnya juga bertujuan sama.

Demi meningkatkan efektifitas program pengentasan kemiskinan dunia yang berbaziz zakat, mau tidak mau, sinergi kerja antara lembaga pengelola zakat perlu dilakukan. Dalam rangka mewujudkan tersebut BAZNAS Kabupaten Bungo merancang sebuah program kerja yang salah satunya adalah program pembiayaan usaha minimal bagi pengusaha mikro yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemampuan berwirausaha para penerimanya hingga mampu menjalankan usaha secara mandiri dan kesejahateraannya pun meningkat.

Dalam perkembangannya BAZNAS melakukan berbagai inovasi dan pengembangan produk sehingga melahirkan suatu produk yaitu microfinance

(3)

66

BAZNAS.Microfinance BAZNAS merupakan lembaga bantuan pembiayaanproduktif kepada mustahik dengan prinsip non profit dalam rangkapengembangan usaha.

Permodalan merupakan faktor utama untuk mengmbangkan suatu unit usaha, dalam hal ini kriteria usaha yang dapat dibiayai adalah sebagai berikut2:

1. usaha sudah berjalan satu tahun terakhir dengan konsep usaha yangjelas 2. membuat surat keterangan usaha minimal darikelurahan

3. memiliki catatan pembukuan kegiatan usaha yang dapat menilai asset 4. memiliki rekening bank

Dari hasil wawancara penulis dengan bapak Duminis selaku Kepala BAZNAS Kabupaten Bungo beliau menjelaskan bahwa Program pemberdayaan ekonomi ini menjadi solusi permasalahan utama yang dihadapi pengusaha mikro, yaitu lemahnya kemampuan manajerial, teknologi, dan permodalan yang terbatas, SDM, pemasaran dan mutu produk. Dalam pendistribusiannya untuk lebihberdaya guna, zakat, infakdan sedekah yang diterima lebih diarahkan untuk usaha produktif ataupun modal kerja3.

Pemberian modal kerja ini diterapkan sejak tahun 2017 yang mana diberikan kepada masyarakat miskin yang mempunyai usaha minimal. Adapun hal tersebut tidak ditambahi dengan penambahan beban pinjaman atau dengan kata lain jumlah pengembalian sama dengan jumlah yang dipinjamnya. Dalam pelaksanaannya pinjaman awal dibatasi hanya Rp. 10.000.000 engan waktu pengembalian selama 10 bulan, untuk daerah kecamatan Muko-Muko Bathin VII total masyarakat miskin yang menerima pinjaman tersebut berjumlah 15 Kepala Keluarga (KK), dan hanya empat nasabah yang mengembalikan pinjamannya dan usahanya semakin berkembang, bantuan yang diberikan oleh BAZNAS Kabupaten Bungo Berupa pinjaman modal untuk mengembangkan usaha yang dijalankan oleh nasabah, diantaranya usaha peternakan ikan yang saat ini sudah memiliki 2 kolam ikan dan usaha warung sembako yang saat ini dapat dikatakan stabil4

Kemudian ciri-ciri masyarakat yang mendapatkan pinjaman tersebut sebagai berikut:

1. sudah mempunyai tempat usaha

2. dikategorikan miskin berdasarkan keterangan pemerintahdusun

2 Kemenag.go.id diunduh pada tanggal 20 juli 2019 pukul 20.00

3Wawanara dengan bapak Duminis dikantor BAZNAS Kabupaten Bungo, pada tanggal 23 Juli 2021

4

(4)

67 3. usaha sudah berjalan minimal satutahun

4. mempunyai prospek yangjelas

5. masyarakat yang berpenghasilan kurang dari 1 juta perbulan

Dengan adanya upaya-upaya tersebut, diharapkan akan dapat meningkatkan kemampuan usaha kecil dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat dipasar bebas. Pada akhirnya, diharapkan pula agar lembaga perbankan mampu meningkatkan pemberian kredit usaha kecilnya, baik secara kuantitas maupunkualitasnya.4

Akan tetapi fakta di lapangan menunjukkan bahwa usaha masyarakat yang mendapat bantuan pengembangan usaha dari BAZNAS Kabupaten Bungo tidak berjalan sesuai dengan regulasi yang sudah ada, sebab banyak para pengusaha tersebut tidak mengembalikan dana pinjaman, sehingga usaha mereka tidak berkembang karena kehabisan modal, hal ini seolah-olah mengambarkan bahwa kurangnya pengawasan terhadap para pelaku usaha minimal yang dibiayai oleh BAZNAS Kabupaten Bungo.

B. Landasan Teori 1. Pembiayaan

Pembiayaan adalah penyediaan uang atau tagihan yang dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi hasil.5Adapun unsur- unsur dalam pembiayaan, yaitu : a) Adanya dua belah pihak, yaitu pemberi pembiayaan (shahibul maal)dan penerima pembiayaan (mudharib). Hubungan pemberi pembiayaan dan penerima pembiayaan merupakan hubungan kerjasama yang saling menguntungkan, yang diartikan pula sebagai kehidupan saling tolong menolong. b) Adanya kepercayaan shahibul maal kepada mudharibyang didasarkan atas prestasi yaitu potensi mudharib. c) Adanya persetujuan, berupa kesepakatan pihak shahibul maaldengan pihak lainnya yang berjanji membeayar dari mudharibkepada shahibul maal. .Jenis-jenis PembiayaanSesuai dengan akad pengembangan produk, maka bank Islam memiliki banyak jenis pembiayaan. Jenis- jenis pembiayaan pada dasarnya dapat

(5)

68

dikelompokan menurut beberapa aspek, diantaranya : a) Pembiayaan menurut tujuanPembiayaan menurut tujuannya dibedakan menjadi:1) Pembiayaan modal kerja, yaitu pembiayaan yang dimaksutkan untuk mendapatkan modal dalam rangka pengembangan usaha. 2) Pembiayaan investasi, yaitu pembiayaan yang dimaksudkan untuk melakukan investasi atau pengedaan barang konsumtif. b) Pembiayaan menurut jangka waktuPembiayaan menurut jangka waktu dibedakan menjadi: 1) Pembiayaan jangka pendek, pembiayaan yang dilakukan dengan waktu 1 bulan sampai 1 tahun.

2) Pembiayaan jangka waktu menengah, pembiayaan yang dilakukan dengan waktu 1 tahun sampai 5 tahun. Pembiayaan jangka waktu panjang, pembiayaan yang dilakuakan dengan jangka waktu lebih dari 5 tahun.

2. Pengertian Pengembangan Usaha Mikro

Pengembangan usaha mikro adalah kegiatan ekonomi rakyat yang bersekala kecil dan memenuhi kriteria kekayaan bersih yang dijalankan untuk memproduksi barang atau jasa. Dalam ekonomi mikro mempelajari bagaimana prilaku tiap-tiap individu dalam setiap unit ekonomi, yang dapat berperan sebagai kunsumen, pekerja, inspektor pemilik tanah atau yang lain, ataupun prilaku dari sebuah industri. Ekonomi mikro menjelaskan how dan why sebuah pengambilan

keputusan dalam setiap unit ekonomi. Contohnya ekonomi mikro menjelaskan bagaimana seorang konsumen membuat keputusan dan pemilihan terhadap sebuah produk ketika ada perubahan pada harga dan pendapatan. Ekonomi mikro juga dapat menjelaskan prilaku industri dalam menentukan jumlah tenaga kerja, kuantitas dan harga yang terbaik.5

3. Karakteristik Usaha Minimal (Kecil)

Secara umum, sektor usaha kecil memiliki karakteristik sebagai berikut:

a. Sistem pembukuan yang relatif sederhana dan cenderung tidak mengikuti kaidah administrasi pembukuaan standar. Kadangkala pembukuan tidak di- up to date sehingga sulit untuk menilai kinerja usahanya.

b. Margin (keuntungan) usaha cenderung tipis mengingat persaingan yang sangat tinggi.

c. Modal terbatas.

d. Pengalaman manajerial dalam mengelola perusahaan masih sangat terbatas.

5 Adiwarman Karim, Ekonomi Mikro Islam (Jakarta: PT Rajawali Persada, 2007), h. 1

(6)

69 e. Skala ekonomi yang terlalu kecil sehingga sulit mengharapkan untuk mampu

menekan biaya mencapai titik efisiensi jangka panjang.

f. Kemampuan pemasaran dan negosiasi serta diversifikasi pasar sangat terbatas.

g. Kemampuan untuk memperoleh sumberdana dari pasar modal rendah mengingat keterbatasan dalam sistem administrasinya,. Untuk mendapatkan dana di pasar modal, sebuah perusahaan harus mengikuti sistem administrasi standar dan harus transparan.6

4. Bentuk dan Jenis- Jenis Usaha Kecil

Pada hakikatnya usaha kecil yang ada secara umum dikelompokkan ke dalam 3 (tiga) golongan khusus yang meliputi:

a. Industri Kecil. Misalnya: industry kerajinan rakyat, industry cor logam, konveksi, dan berbagai industry lainnya.

b. Perusahaan Bersekala Kecil Misalnya: penyalur, toko kerajinan, koperasi, waserba, restoran, took bunga, jasa profesi, peternakan ikan dan lainnya.

c. Sektor Formal.Misalnya: agen barang bekas, kios kaki lima, dan lainnya.

Berdasarkan bentuk usahanya, maka perusahaan kecil yang terdapat di indonesia dapat di golongkan ke dalam 2 bentuk:

1) Usaha Perseorangan.

2) Usaha Persekutuan/Partnership.

Berbagai ragam dan jenis usaha kecil yang dikeanal meliputi: (a) usaha perdagangan; keagenan; again Koran dan majalah, sepatu, pakaian, dan lain- lain. (b) Usaha pertanian; pertanian pangan maupun perkebunan; bibit dan peralatan pertanian, buah-buahan dan lain-lain. (c) Usaha industri; Industri logam/kimia; perajin logam, perajin kulit, perajin keramik dan lain-lain. (d) Usaha jasa; konsultan; konsultan hukukm, pajak, manajemen dan lain-lain. (e) Usaha jasa kotruksi; kontruksi bangunan, jalan, kelistrikan, jembatan pengairan dan lain-lain.7

6Pandji Anoraga, Manajemen Bisnis (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2013), h. 45-46.

7Harimurti Subanar, Manajemen Usaha Kecil, Edisi Pertama (Yogyakarta:BPFE, 1994), h. 3-6.

(7)

70

5. Strategi Pengembangan Usaha Kecil

Dalam rangka mengembangkan usaha kecil secara terpadu, efektif dan efesien, memang diperlukan suatu koordinasi terpadu berbagai instansi/lembaga terkait (sisi permintaan) dengan perbankkan (sisi penawaran), sesuai tugas dan tanggung jawabnya masing-masing. Tentunya hal ini mencakup antara lain mengenai aspek kelembagaannya (perbankkan dan lembaga keuangan lainnya), pemasaran dan produksi, manajemen dan peraturan (legal framework) aturan yang sah.

Dengan adanya upaya-upaya tersebut, diharapkan akan dapat meningkatkan kemampuan usaha kecil dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat dipasar bebas. Pada akhirnya, diharapkan pula agar perbankkan mampu meningkatkan pemberian kredit usaha kecilnya, baik secara kualitas maupun kualitasnya.8 Dalam pasal 14 UU tentang usaha kecil dirumuskan bahwa pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat melakukan pembinaan dan mengembangkan usaha kecil dalam bidang; (a) produksi dan pengelolaan, (b) pemasaran, (c) sumber daya manusia, dan (d) teknologi.

6. Pengertian Zakat

Ditinjau dari segi bahasa, kata zakat merupakan kata dasar (masdar) dari zaka yang berarti berkah, tumbuh, bersih dan baik. Sesuatu itu zaka, berarti tumbuh dan berkembang dan seseorang itu zaka, berarti orang itu baik.9 Dan bila seseorang diberi sifat zaka dalam arti baik, maka berarti orang itu lebih banyak mempunyai sifat yang baik. Seorang itu zaki, berarti seorang yang lebih banyak sifat-sifat orang baik, dan kalimat “hakim - zaka - saksi” berarti hakim menyatakan jumlah saksi- saksi diperbanyak.10 Zakat dari segi istilah fikih berarti “sejumlah harta tertentu yang diwajibkan Allah diserahkan kepada orang-orang yang berhak” di samping berarti

“mengeluarkan jumlah tertentu itu sendiri. Jumlah yang dikeluarkan dari kekayaan itu disebut zakat karena yang dikeluarkan itu menambah banyak, membuat lebih berarti dan melindungi kekayaan itu dari kebinasaan.

Adapun zakat menurut syara’, berarti hak yang wajib (dikeluarkan dari) harta.

8 Nugroho Widi, Nofasi Kredit Usaha Kecil Atau Bina Wirausaha (Jakarta: Pusaka Binaman Presiddon, 1997), h. 14

9Wahbah al-Zuhaily, Zakat: Kajian Berbagai Madzhab, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2008), h.

83.

10Yusuf Qardhawi, Hukum Zakat, Studi Komparatif Mengenai Status Dan Filsafat Zakat Berdasarkan Quran Dan Hadis, (Jakarta: Pustaka Litera Antarnusa, 2004), Cetakan ke 7, h. 34

(8)

71 Kata zakat dalam bentuk ma’rifah (definisi) disebut tiga puluh kali di dalam Al- Qur'an, diantaranya dua puluh tujuh kali disebutkan dalam satu ayat bersama shalat, dan hanya satu kali disebutkan dalam konteks yang sama dengan shalat tetapi tidak di dalam satu ayat, yaitu firman-Nya: Dan orang-orang yang giat menunaikan zakat, setelah ayat : orang-orang yang khusus dalam bershalat.Bila diperiksa ketiga puluh kali zakat disebutkan itu, delapan terdapat dalam surat-

7. Micro Finance BAZNAS Kabupaten Bungo

Micro finance BAZNAS adalah lembaga bantuan pembiayaan produktif kepada mustahik dengan prinsip non for profit dalam rangka pembiayaan dan pengembangan usaha. Tujuan utama adalah memberikan akses layanan pembiayaan produktif dalam rangka mengembangkan usahanya untuk meningkatkan ekonomi rakyat.

Adapun kriteria usaha yang dapat didanai adalah

a) Sudah berjalan satu tahun terakhir dengan konsep yang jelas b) Membuat surat keterangan usaha minimal dari kelurahan

c) Memiliki catatan pembukuan kegiatan usaha yang dapat menilai aset d) Memiliki rekening bank

Dengan demikian status pendanaan pada pembiayaan ini adalah para nasabah wajib mengangsur cicilan sebesar 10% dari total pendanaan, dana tersebut nantinya akan jadi tambahan modal bagi para nasabah tanpa mengajukan kembali pinjamannya.

C. Metode Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) yang mengambil lokasi di BAZNAS Kabupaten Bungo. Adapun penulis mengambil lokasi ini adalah karena letak lokasi yang mudah dijangkau oleh peneliti dalam memperoleh data.Adapun yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah BAZNAS Kabupaten Bungo dan mustahik zakat yang mempunyai usaha minimal . Sedangkan objeknya adalah upaya pengembangan usaha minimal yang dilakukan BAZNAS Kabupaten Bungo.Pendekatan penelitian yang digunakan oleh menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif (deskriptif kualitatif). Dalam hal pengambilan sampel yang menjadi objek penelitian, penulis menggunakan teknik purposive sampling. Sampel yang dipilih adalah pihak yang bertindak langsung dalam usaha pengembangan tersebut, yaitu antara BAZNAS Kabupaten Bungo dan mustahik zakat yang mempunyai

(9)

72

usaha minimal. Sumber data dari data primer (data mentah) dan data sekunder (data primer yang sudah diolah), teknik pengambilan data dari Observasi, Wawancara dan Dokumentasi. Proses analisis data yang dilakukan oleh peneliti adalah dengan langkah- langkah sebagai berikut:1) Reduksi Data (data reduction), 2) Penyajian Data (data display), 3) Verifikasi (Verification).

D. Hasil dan Pembahasan 1. Hasil Penelitian

a. Gambaran Umum Dusun Tanjung Agung

Dusun tanjung Agung merupakan satu dari 9 dusun yang ada di Kecamatan Muku- muko Barhin VII Kabupaten Bungo yang terbentuk tahun 1932 dengan Kepala Desa PJS M. Yazid.

b. Prosedur Pengelolaan Pembiayaan Pada BAZNAS Kabupaten Bungo

Dalam melakukan pengembangan ekonomi, ada beberapa kegiatan yang dapat dijalankan oleh lembaga zakat. Kegiatan ini bisa terbagi kedalam berbagai bentuk, misalnya:

1) Pemberian bantuan uang sebagai modal kerja ataupun untuk membantu pengusaha meningkatkan kapasitas dan mutuproduksi

2) Bantuan pendirian gerai-gerai untuk memamerkan dan memasarkan hasil- hasil industri kecil, seperti kerajian tangan, makanan olahan, danlain-lain

3) Dukungan kepada mitra binaan untuk berperan serta dalam berbagai pameran

4) Penyediaan fasilitator dan konsultan untuk menjamin keberlanjutan usaha, misalnya Klinik Konsultasi Bisnis (KKB) yang mengembangkan strategi pemberdayaan pengusaha kecil dan menengan dalam bentuk alih pengetahuan, keterampilan, dan informasi

5) Pembentukan lembaga keuangan, lembaga zakat dapat mengembangkan lembaga keuangan mikro syariah (LKMS) misalnya dengan pendirian BMT atau lembaga ekonomi bagi hasil(LEB)

6) Pembangunan industri, modal dan investasi yang dapat disalurkan lembaga zakat melalui pembangunan industri atas inisiasi lembaga zakat. Selain itu, lembaga zakat pada tahap awal bertugas sebagai manajer, sedangkan para pekerjanya adalah mustahik yang berada dilingkungan industri. Program-program dalam pengembangan

(10)

73 ekonomi dilakukan dengan tujuan,yaitu:

a) Penciptaan lapangankerja b) Peningkatan usaha

c) Pelatihan

d) Pembentukan organisasi

Pengalihan fungsi zakat dari konsumtif ke produktif mendorong umat agar bersungguh-sungguh mencari hikmah zakat dan manfaat zakat bagi kehidupan masyarakat. Dengan begitu, konsep ekonomi kerakyatan manyatu dengan konsep pemberdayaan zakat sehingga terjadi suatu pemikiran tentang bagaimana mengelola sumber-sumber ekonomi secara lebih rasional dan efisien, agar dampak sosial yang diharapkan dapat tercapai secara maksimal.

Pada pasal 27 UU No. 23 Tahun 2011 tentang pengelolaan Zakat ditegaskan bahwa :

1) Zakat dapat didayagunakan untuk usaha produktif dalam rangka penanganan fakir miskin dan peningkatan kualitas umat.

2) Pendayagunaan zakat untuk usaha produktif sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dilakukan apabila kebutuhan dasar mustahik telahterpenuhi.

3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pendayagunaan zakat untuk usaha produktif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturanMenteri.16 c. Prosedur pengelolaan Pembiayaan Usaha Minimal Di Baznas Kabupaten Bungo

Pelaksanaan program pembiayaan usaha minimal di BAZNAS Kabupaten Bungo memiliki beberapa tahap diantaranya adalah:

1) Sosialisasi

Pada saat BAZNAS Kabupaten Bungo melakukan sosialisasi atau perkenalan program baru kepada masyarakat dengan cara mengundang masyarakat yang kurang mampu untuk berkumpul ke kabupaten.Seperti keterangan dari Ibu Neti Ovita, “Saya dulu diundang ke BAZNAS Kabupaten Bungo, katanya ada pengumuman bantuan dari BAZNAS untuk orang yang tidak mampu, saya mendapatkan informasi dari orang yang bekerja di kantor tersebut.17Sosialisasi ini bertujuan untuk memberitahukan kepada mustahik akan adanya program modal usaha bagi masyarakat tidak mampu dari BAZNAS Kabupaten Bungo.

(11)

74

2) Pendataan Mustahik

Mustahik yang ingin mendapatkan dana program modal usaha minimaldari BAZNAS Kabupaten Bungo, harus membuat surat permohonan permintaan dana program modal usaha bagi masyarakat tidak mampu kepada pengurus BAZNAS Kabupaten Bungoyang melampirkan surat keterangan tidak mampu dari kelurahan/dusun. Kemudian surat tersebut dibawa dan di serahkan kepada pengurus BAZNAS Kabupaten Bungo.

3) Survey

Setelah mustahik menyerahkan surat permohonanpermintaan dana program modal bergulir, kemudian akan dilakukan survey di rumah para mustahik. Survey dilakukan untuk menentukan apakah mustahik layak untuk diberikan dana produktif atau dana konsumtif. Survey dilakukan oleh pihak pengurus BAZNAS tanpa ada unsur subyektif, dan survey dilakukan dengan objektif berdasarkan indikator mustahik yang berhak menerima dana tersebut. Menurut keterangan Bapak Drs. H. Dumminis (Kepala BAZNAS Kabupaten Bungo, bantuan yang diberikan ada 2, yaitu:

a) Bantuan dana konsumtif, yaitu diberikan kepada mustahik yang mempunyai tingkat perekonomian paling bawah, mustahik yang sudah tidak produktif (manula), dan tidak mampu lagi secarafisik. Sebagaimana Hasil Wawancara dengan kepala BAZNAS Kab. Bungo:“kalau dana konsumtif diberikan kepada ashnaf yang delapan, setelah itu juga diberikan kepada mustahik yang sudah tidak mampu lagi untuk berusaha.

b) Bantuan dana produktif (modal bergulir), yaitu diberikan kepada mustahik yang mempunyai tingkat perekonomian menengah kebawah, masih dalam usia produktif, dan masih mampu secara fisik. Atau mustahik yang sudah mempunyaiusaha (seperti jualan) bisa mendapatkan dana modal bergulir untuk menambah modal usahanya. Dengan syarat harus mempunyai izin usaha dari pemerintah dusun setempat dan ekonomi masyarakat yang bersangkutan memang lemah.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala BAZNAS Kabupaten Bungo sebagai Berikut:“kriteria penerima bantuan ini pertama orang tersebut mempunyai usaha dengan melampirkan surat izin usaha dari pemerintah dusun setempat, kedua memang orang tersebut tergolong ekonomi lemah, dan para mustahik yang menerima dana tersebut tidak dikembalikan oleh mereka karena itu adalah hak mereka.

(12)

75 4) Pencairan

Mustahik akan mendapatkan dana sesuai hasil survey. Jika mustahik mempunyai tingkat perekonomian paling bawah, sudah tidak produktif dan tidak mampu lagi secara fisik, maka mustahik akan mendapatkan bantuan dana konsumtif, jadi mustahik tidak perlu mengembalikan dana tersebut. Jika mustahik mempunyai tingkat perekonomian menengah kebawah, masih dalam usia produktif, dan masih mampu secara fisik, atau mustahik yang sudah mempunyai usaha, maka mustahik akan mendapat dana produktif dan tidka wajib mengembalikan dana tersebut.

d, Efektivitas Pembiayaan usaha minimal yang disalurkan BAZNAS Kabupaten Bungo Terhadap masyarakat miskin di desa Tanjung Agung Kecamatan Muko-Muko Bathin VII, Dari hasil wawancara, ada lima mustahik yaitu Ibu Umi Kulsum, Bapak Ade Mawaria, Ibu Syamsiah, Ibu Kiftiyah, dan Ibu Misnawati mengira dana yang diberikan adalah bantuan tanpa dikembangkan sebagai modal usaha. Setelah di lakukan survey ternyata mereka termasuk mustahik yang masih mampu untuk berusaha dan masih dalam usia produktif atau mampu secara fisik, maka dana tetap diberikan namun untuk modal usaha. Kemudian setelah mustahik mendapatkan dana tersebut, diharapkan mustahik menggunakannya untuk kegiatan produktif yang nantinya akan merubah status para mustahik menjadi muzakki.

Namun ternyata dari sebelas (11) mustahik yang berhak menerima dana program modal bergulir, hanya empat (3) mustahik yang menggunakan dana tersebut untuk kegiatan produktif yaitu:Ibu Saudah menggunakan dana tersebut untuk kegiatan produktif, yaitu digunakan untuk membuka usaha jualan pecal, dan lauk-pauk di pertigaan komplek tidak jauh dari rumahnya. Warung tersebut benar- benar Ibu Sujiati dirikan dari dana program modal bergulir, yang dulunya hanya menyediakan menu sederhana, dan sekarang sudah menyediakan menu yang bermacam-macam seperti pecel, gado-gado, gorengan dan minuman.Namun, sekarang Ibu Saudah sudah tidak mengajukan pencairan dana modal bergulir BAZNAS Kabupaten Bungo lagi, dengan alasan modal yang sudah ada dianggap bisa untuk memenuhi kebutan sehari-hari.

Demikian pula dengan Ibu Eva Susanti yang menggunakan dana tersebut untuk kegiatan produktif. Ibu Eva Susanti menggunakan dana tersebut untuk membuka usaha warung sembako.Pertama meninjam, Ibu Eva Sussanti menggunakan dana

(13)

76

tersebut untuk membuka warung sembako dan sekarang warung tersebut sudah penuh isinya dengan modal awal dari BAZANAS yaitu sebanyak Rp. 2.000.000, berikut hasil wawancara dengan Ibu Kasmah“Dana yang saya pinjam dari BAZNAS Kabupaten Bungo saya gunakan untuk membuka usaha yaitu usaha sembako, alhamdulillah warung saya sekarang isinya sudah lumayan banyak, dan mengenai pengembalian pinjaman saya dari BAZNAS Kab. Bungo tidak ada perintah untuk pengembalian dana yang saya pinjam.” Begitu pernyataan dari Ibu Eva Susanti. Namun memang benar, dagangan Ibu Eva Susantirelatif ramai dan sebagian besar pembeli belanja di warung ibu Eva Susanti.Menurut Ibu Eva Susanti, dagangannya sudah semakin membaik karena sudah bisa memperbaiki kondisi perekonomian keluarganya, bisa membantu suaminya yang bekerja sebagai tukang bangunan, dan bisa memenuhi kebutuhan keluarga.

Bapak Yusnadi juga menggunakan dana program modal bergulir untuk membuka usaha kolam ikan di belakang rumahnya. Bapak Yusnadi mengerti maksud pemberian dana tersebut sehingga beliau berusaha membuat usaha produktif walaupun hanya membuat kolam ikan dan nantiikannya akan dijual kepada agen dipasar.Menurut beliau, “dulu sebelum saya mengetahui program ini dari tetangga saya kerja saya hanya menjadi buruh karet, sekarang dengan modal ini kebetulan saya punya satu petak kolam ikan yang sudah lama tidak terpakai karena ini bekas sawah dulunya, sekarang alhamdulillah ikan saya dibeli oleh agen dan jual di pasar.”22Mustahik seperti Ibu Sujiati, Ibu Kasmanah, Ibu Mulyati dan Bapak Yusnadi seharusnya lebih diperhatikan karena menggunakan dana tersebut sesuai tujuan program tersebut. Melihat usaha mereka yang berhasil, bisa disimpulkan bahwa mereka hasil dari tujuan program modal bergulir BAZNAS Kabupaten Bungo, yaitu mengubah status mustahik menjadi muzakki.

Setiap mustahik yang mendapat dana program modal bergulir ini berhak mendapat kunjungan dari BAZNAS Kabupaten Bungo. Hal ini sudah di jelaskan pada Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia No.52 Tahun 2014 tentang Syarat dan Tata Cara Penghitungan Zakat Mal dan Zakat Fitrah Serta Pendayagunaan Zakat untuk Usaha Produktif. Pada Bab IV Pendayagunaan Zakat untuk Usaha Produktif pasal 34 poin B, yaitu:“Mendapat pendampingan dari amil zakat yang berada di wilayah domisili mustahik”.23Selaras dengan keterangan dari Bapak Heriyanto selaku Amil

(14)

77 bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan BAZNAS Kabupaten Bungo, bahwa setiap mustahik akan mendapat pendampingan dan juga akan mendapat kunjungan dari BAZNAS Kabupaten Bungo pada kurun waktu tertentu setelah pencairan dana.

Namun, setelah melakukan wawancara kepada mustahik ternyata mereka belum pernah dikunjungi oleh pihak BAZNAS Kabupaten Bungo Serta dari 11 mustahik tersebut tidak pernah mendapatkan pendampingan dan pelatihan dariBAZNAS Kabupaten Bungo. Tidak sesuainya peraturan dengan pelaksanaan bisa menjadi satu alasan mengapa dana program modal bergulir tidakdigunakansesuai dengan peraturan. Melakukan kunjungan bisa menjadi salah satu cara agar program berjalan sesuai dengan peraturan yang ada. Jika suatu program tidak dilaksanakan sesuai dengan peraturan yang ada, maka salah satunya akan menjadi hambatan berkembangnya suatu program.

2. Pembahasan

Melihat hasil yang telah dicapai Ibu Saudah, Ibu Eva Susanti dan bapak Yusnadi, dalam hal efektifitas memperlihatkan bahwa pemberian dana program modal bergulir ini bisa dikatakan sangat belum efektif karena melihat hasil hanya tiga orang mustahik yang memahami dan mampu mengembangkan modal tersebut. Namun jika ditinjau kembali masih ada yang kurang efektif karena tidak semua mustahik menggunakan dana program modal bergulir untuk kegiatan produktif, mereka juga ada yang menggunakannya untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari, karena tidak mengerti fungsi yang sebenarnya dana tersebut diberikan dan tidak mempunyai pandangan usaha produktif walaupun mereka ingin melakukannya.

Selain itu, faktor ketidak efektifan program tersebut dapat dilihat dari tidak terlaksananya tahapan-tahapan yang telah ditentukan, antara lain pada bagian sosialisasi dan bagian kunjungan, karena tidak semua mustahik mengerti maksud pemberian dana program modal bergulir tersebut dan tidak semua mustahik dikunjungi pihak BAZNAS Kabupaten Bungo.

Selanjutnya pihak BAZNAS Kab. Bungo tidak mewajibkan para mustahik yang mendapatkan bantuan modal usaha untuk membayar angsuran pinjaman mereka, hal ini bisa menjadi wadah untuk mereka bisa berkonsultasi dalam mengembangkan usaha mereka, selanjutnya pihak BAZNAS juga tidak melakukan pendampingan dan

(15)

78

pengawasan terhadap para mustahik yang mendapatkan pinjaman modal sehingga banyak yang menggunakan bantuan tersebut menjadi dana konsumtif saja. Artinya tidak efektif dalam membantu ekonomi rakyat miskin.

Pemberian sanksi juga perlu dipertimbangkan bagi mustahik yang menggunakan dana tidak sesuai tujuan awalnya. Seperti untuk kegiatan konsumtif atau untuk pembiayaan pendidikan. Kesadaran mustahik dalam penggunaan dana program modal bergulir juga menjadi salah satu alasan mengapa program ini bisa dikatakan kurang efektif. Namun itu semua bisa teratasi jika pengawasan dari pihak BAZNAS Kabupaten Bungo lebih ketat lagi. Karena dengan adanya pengawasan yang menyeluruh dan lebih ketat akan membuat mustahik sadar bahwa yang mereka lakukan benar atausalah, danjika salah mereka akan memperbaiki. Atau dengan adanya sanksi, maka mustahik akan lebih memperhatikan langkahnya kembali saat menggunakan dana program modal bergulir dari BAZNAS Kabupaten Bungo.

Ketidak tegasan pihak BAZNAS Kabupaten Bungo dalam menjalankan program menjadikan program tidak efektif jika masih ada mustahik yang menggunakan dana tidak untuk kegiatan produktif, karena kembali lagi pada maksud dan tujuan diadakannya program modal bergulir yaitu untuk meningkatkan status ekonomi masyarakat dari mustahik menjadi muzakki dengan melakukan kegiatan produktif, bukan kegiatan konsumtif. Harusnya diberlakukan sanksi jika tidak menggunakan dana tersebut sesuai dengan ketentuan, semisal tidak lagi diberikan dana tersebut karena tidak sesuai penggunaannya.

Dilihat dari pelaksanaannya yang tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku, dan penggunaan dana yang tidak sesuai dengan tujuan pemberian, maka program ini bisa dikatakan tidak efektif karena hanya 36,36 % mustahik Dusun Tanjung Agung Kecamatan Muko-Muko Bathin VII yang menggunakan dana program modal bergulir untuk kegiatan produktif. Namun beberapa mustahik berpendapat bahwa program ini sangat membantu bagi mereka yang kurang mampu dan bagi mereka yang mempunyai keinginan untuk mempunyaiusaha.

E. Kesimpulan dan Saran 1. Kesimpulan

Prosedur pengelolaan pembiayaan usaha minimal di BAZNAS Kabupaten Bungo sebagai berikut:

(16)

79 a. Sosialisasi

Pada saat BAZNAS Kabupaten Bungo melakukan sosialisasi atau perkenalan program baru kepada masyarakat dengan cara mengundang masyarakat yang kurang mampu untuk berkumpul ke kantor BAZNAS.

b. Pendataan Mustahik

Mustahik yang ingin mendapatkan dana program modal usaha minimaldari BAZNAS Kabupaten Bungo, harus membuat surat permohonan permintaan dana program modal usaha.

c. Survey

Survey dilakukan untuk menentukan apakah mustahik layak untuk diberikan dana produktif atau dana konsumtif. Survey dilakukan oleh pihak pengurus BAZNAS tanpa ada unsur subyektif, dan survey dilakukan dengan objektif berdasarkan indikator mustahik yang berhak menerima dana tersebut.

d. Pencairan

Pencairan dilakukan setelah Administari mustahik terpenuhi dan dinyatakan sah oleh kepala BAZNAS Kab. Bungo sebagai penerima bantuan. Melihat hasil yang telah dicapai Ibu Saudah, Ibu Eva Susanti dan bapak Yusnadi, dalam hal efektifitas memperlihatkan bahwa pemberian dana program modal bergulir ini bisa dikatakan sangat belum efektif karena melihat hasil hanya 3 orang mustahik dari 11 orang yang memahami dan mampu mengembangkan modal tersebut. karena tidak semua mustahik menggunakan dana program modal bergulir untuk kegiatan produktif, mereka juga ada yang menggunakannya untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari, karena tidak mengerti fungsi yang sebenarnya dana tersebut diberikan dan tidak mempunyai pandangan usaha produktif walaupun mereka ingin melakukannya.

Selanjutnya pihak BAZNAS juga tidak melakukan pendampingan dan pengawasan terhadap para mustahik yang mendapatkan pinjaman modal sehingga banyak yang menggunakan bantuan tersebut menjadi dana konsumtif saja. Artinya tidak efektif dalam membantu ekonomi rakyat miskin.

(17)

80

Daftar Pustaka

Abdullah Al-Mushlih, Shalah Ash-Shawi, Fikih Ekonomi Keuangan Islam, Jakarta: Darul Haq, 2004.

Adiwarman Karim, Ekonomi Mikro Islam, Jakarta: PT Rajawali Persada, 2007 Ahmad Azhar Basyir, Hukum Zakat, Yogyakarta: Lukman Offset, 1997.

Asnaini, Zakat Produktif dalam Prespektif Hukum Islam, Yogykarta: Pustaka Pelajar, 2008.

Harimurti Subanar, Manajemen Usaha Kecil, Edisi Pertama Yogyakarta:BPFE, 1994.

Hasan Amin, Pengantar Ekonomi Mikro Jakarta: Rineka Cipta, 2006.

Hikmat Kurnia, H. A. Hidayat, Panduan Pintar Zakat, Jakarta: Qultum Media, 2008. Joko Subagyo, Metode Penelitian dalam Teori dan Praktik, Jakarta: Rineka Cipta, 2015.

Kemenag.go.id. diunduh pada tanggal 29 juli 2019

Kementerian Agama RI, Alqur’an dan Terjemahnya, Bandung: Syamil Qur’an, 2012.

Lexy J. Moleong, Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2016.

Musa Hubeis, Prospek Usaha Kecil dalam Inkubator Bisnis, Bogor: Ghalia Indonesia, 2011.

Nasution, Metode Penelitian Naturalistik-Kualitatif, Bandung: Tarsito, 2003. Noeng Muhadjir, Metode Penelitian Kualitatif, Yogyakarta: Rake Sarasia, 1996.

Nugroho Widi, Nofasi Kredit Usaha Kecil Atau Bina Wirausaha, Jakarta: Pusaka Binaman Presiddon, 1997.

Nur Rianto Al-Arif, Teori Makro Ekonomi Islam, Bandung: Alfabeta, 2010.

Pandji Anoraga, Manajemen Bisnis, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2013.

Sadono Sukirno, Makro Ekonomi Pengantar Jakarta: Raja Graindo, 2006.

Sadono Sukirno, Mikro Ekonomi Teori Pengantar, Edisi Ke Tiga Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2013.

Sudjana, Strategi Pengelolaan dan Pengembangan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Jakarta: Depdiknas, 2003.

Sugiyono, Metode Penelitian (Kuantitatif, Kualitatif dan R & D), Bandung: Alfabeta, 2016.

Wahbah al-Zuhaily, Zakat: Kajian Berbagai Madzhab, Bandung: Remaja Rosda Karya,

(18)

81 2008.

Wawan Dhewanto, Hendrati Dwi Mulyaningsih, Anggraeni Permatasari, Grisna Anggadwita, Indriany Ameka, Manajemen Inovasi Peluang Sukses Menghadapi Perubahan Yogyakarta: CV. Andi Offet, 2014.

Yayat M. Herujitno, Dasar-Dasar Manajemen Jakarta: PT. Grasindo, 2001.

Yusuf Qardhawi, Hukum Zakat, Studi Komparatif Mengenai Status Dan Filsafat Zakat Berdasarkan Quran Dan Hadis, Jakarta: Pustaka Litera Antarnusa, 2004.

Referensi

Dokumen terkait

Biaya operasional dan kegiatan, gaji, tunjangan dan/atau honor Kepala Sekolah, Guru, Tenaga Administrasi, Penjaga Sekolah, Pembina Asrama, Satpam dan Pegawai lainnya pada

Jadi pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan pembelajaran yang menggunakan kelompok-kelompok kecil dalam proses kegiatan belajar mengajarnya, dengan setiap kelompok

Dalam analisis skenario terlihat bahwa pada proyek tahun 2008-2013 jika dibandingkan pada saat keadaan normal, kenaikan dan penurunan 10% pada masing – masing variabel yang

[r]

Oksigen yang digunakan dalam proses metabolisme tubuh saat aktivitas fisik berat, dapat menyebabkan peningkatan produksi radikal bebas yang bersifat sangat reaktif terhadap sel

Wonosari, Juwiring, Ceper, Klaten Tengah, Pedan, Karangdowo, Trucuk, Cawas, Kalikotes, Wedi, Gantiwarno dan Prambanan. Satuan Perbukitan, agihannya di bagian selatan

Untuk mempermudah proses wawancara dan observasi peneliti menggunakan alat perekam dan dilakukan setelah mendapatkan izin dari subjek sesuai dengan izin yang berlaku.

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui: 1) kesadaran politik masyarakat dalam pemilihan kepala desa di Desa Kalipucang Kecamatan Jatibarang Kabupaten Brebes, 2) pelaksanaan