• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR ISI PERBAN STANDAR DAN TATA LAKSANA AUDIT INFRASTRUKTUR SPBE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "DAFTAR ISI PERBAN STANDAR DAN TATA LAKSANA AUDIT INFRASTRUKTUR SPBE"

Copied!
34
0
0

Teks penuh

(1)

DAFTAR ISI PERBAN

STANDAR DAN TATA LAKSANA AUDIT INFRASTRUKTUR SPBE

BAB I KETENTUAN UMUM4 4

5 5 6

6 6 6

6 6 7 7

7 8 8 9 9 10 10 11 11

11 11

11 12

12 12 12 13 13 13

13

Pasal 23 (Sifat dan Ciri Pekerjaan)  [14

(2)

14 16 16 16 17 17

17 18 18 18 18 19

19 19 19

19

Pasal 36 (Perencanaan Infrastruktur)... 20

Pasal 37 (Realisasi Infrastruktur)... 20

Pasal 38 (Pengoperasian Infrastruktur) ... 21

Pasal 39 (Pemeliharaan Infrastruktur) ... 21

Pasal 40 (Kriteria Audit) ... 21

Pasal 41 (Kompetensi Auditor) ... 22

BAB V PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN ... 23 23

23 23 24

24 25

(3)

3

BADAN PENGKAJIAN DAN PENERAPAN TEKNOLOGI

PERATURAN

BADAN PENGKAJIAN DAN PENERAPAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA

NOMOR ... TAHUN 2019 TENTANG

STANDAR DAN TATA LAKSANA AUDIT INFRASTRUKTUR SISTEM PEMERINTAHAN BERBASIS ELEKTRONIK (SPBE)

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

KEPALA BADAN PENGKAJIAN DAN PENERAPAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 57 Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 95 Tahun 2018 tentang . Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik, perlu menetapkan Peraturan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Republik Indonesia tentang Standar Dan Tata Laksana Audit Infrastruktur Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4843) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transasksi Elektronik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor

(4)

251, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5952);

2. Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik;

3. Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 145 Tahun 2015 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 322);

4. Perka BPPT 007a/2017 Tentang Pelaksanaan Audit Teknologi.

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PERATURAN BADAN PENGKAJIAN DAN PENERAPAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA TENTANG STANDAR DAN TATA LAKSANA AUDIT INFRASTRUKTUR SISTEM PEMERINTAHAN BERBASIS ELEKTRONIK.

BAB I

KETENTUAN UMUM

Pasal 1 (definisi)

Dalam Peraturan Badan ini yang dimaksud dengan:

1. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, selanjutnya disebut BPPT adalah Lembaga Pemerintah Non Kementerian yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden melalui Menteri yang membidangi urusan pemerintahan di bidang riset dan teknologi.

2. Infrastruktur SPBE adalah semua perangkat keras, perangkat lunak, dan fasilitas yang menjadi penunjang utama untuk menjalankan sistem, aplikasi, komunikasi data, pengolahan dan penyimpanan data, perangkat integrasi/penghubung, dan perangkat elektronik lainnya.

(5)

3. Audit Infrastruktur Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik adalah pemeriksaan/evaluasi secara sistematis dan obyektif dalam rangka memberikan nilai tambah atau meningkatkan kinerja terhadap Infrastruktur Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik.

4. Auditor Infrastruktur Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik adalah orang yang memiliki kompetensi pengetahuan dan keterampilan khusus dengan tugas utama melakukan evaluasi atas pengendalian sistem elektronik yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademis maupun praktis.

5. Pusat Data adalah fasilitas yang digunakan untuk penempatan sistem elektronik dan komponen terkait lainnya untuk keperluan penempatan, penyimpanan dan pengolahan data, dan pemulihan data.

6. Jaringan Intra adalah jaringan tertutup yang menghubungkan antar simpul jaringan dalam suatu organisasi.

Pasal 2 (tujuan)

Tujuan ditetapkannya Peraturan Badan adalah untuk :

a. Memberikan pemahaman yang sama standar kerangka kerja Audit Aplikasi/ Infrastruktur SPBE;

b. Memberikan pedoman tata laksana Audit Aplikas / Infrastruktur SPBE;

Pasal 3 (ruang lingkup) Ruang Lingkup Peraturan Badan adalah:

a. Standar Audit Infrastruktur SPBE;

b. Pedoman Audit Infrastruktur SPBE;

c. Panduan Teknis Audit Infrastruktur SPBE;

d. Profesi Auditor;

e. Pengawasan dan Pengendalian.

(6)

BAB II

STANDAR AUDIT INFRASTRUKTUR SPBE

Pasal 4 (tentang standar)

Standar Audit Infrastruktur SPBE merupakan batasan minimal bagi Auditor guna membantu dalam menetapkan tahap-tahap Audit serta prosedur yang harus dilaksanakan atau diterapkan dalam rangka pencapaian tujuan Audit.

Pasal 5 (tujuan standard)

Standar Audit Infrastruktur SPBE bertujuan untuk:

a. menetapkan prinsip-prinsip dasar bagi pelaksanaan Audit Infrastruktur SPBE;

b. menyusun suatu Kerangka Kerja dalam pemberian layanan jasa Audit Infrastruktur SPBE, guna menambah nilai kepada organisasi yang diaudit (auditee) melalui perbaikan proses dan operasionalnya;

c. menyusun dasar dalam melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan Audit Infrastruktur SPBE dan untuk mendorong rencana perbaikan.

Bagian Kesatu Standar Umum

Pasal 6 (tentang standar umum)

Standar Umum memberikan prinsip dasar untuk mengatur Auditor Infrastruktur SPBE dalam melaksanakan tugasnya, baik terkait perilaku, sikap dan kualifikasi dari Auditor Infrastruktur SPBE dan atau institusi yang memberikan layanan jasa Infrastruktur SPBE sehingga pekerjaan Audit Infrastruktur SPBE sampai pelaporannya dapat terlaksana dengan baik dan efektif.

Pasal 7 (audit charter)

Tujuan, wewenang dan tanggung jawab suatu aktivitas audit Infrastruktur SPBE harus didefinisikan dengan jelas, tertuang

(7)

dalam suatu dokumen formal berupa Piagam Audit (Audit Charter), surat tugas atau dokumen yang setara.

Pasal 8 (kompetensi auditor)

(1) Integritas auditor Infrastruktur SPBE diwujudkan melalui sikap independen, objektif dan menjaga kerahasiaan dalam melaksanakan audit.

(2) Dalam melaksanakan tugasnya, auditor Infrastruktur SPBE:

a. dituntut untuk memiliki pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), sikap (attitude) dan pengalaman (experience) yang sesuai dengan standar kompetensi auditor, guna memenuhi tanggung-jawabnya dalam pelaksanaan audit.

b. harus menggunakan keahlian profesionalnya dengan cermat dan seksama (due professional care) serta berhati-hati (prudent) dalam setiap penugasan. Auditor Infrastruktur SPBE harus senantiasa mengasah dan melatih kecermatan profesionalnya.

c. harus meningkatkan pengetahuan, keahlian dan kompetensi lain yang diperlukannya dengan mengikuti pendidikan dan pelatihan berkelanjutan.

(3) Pimpinan institusi pelaksana audit Infrastruktur SPBE harus mengembangkan dan menjaga jaminan kualitas dan program peningkatan yang mencakup semua aspek pelaksanaan audit Infrastruktur SPBE

Bagian Kedua Standar Pelaksanaan

Pasal 9 (standar pelaksanaan)

Standar pelaksanaan merupakan kriteria atau kerangka menyeluruh dari langkah-langkah yang bertujuan, sistematik dan seimbang yang harus diikuti oleh auditor Infrastruktur SPBE.

(8)

Pasal 10 (lead auditor)

(1) Ketua tim audit (lead auditor) harus secara efektif mengelola aktivitas audit untuk menjamin agar tujuan audit Infrastruktur SPBE tercapai.

(2) Untuk mengelola aktivitas audit sebagaimana tercantum dalam ayat (1), ketua tim audit harus:

a. menyusun dan menetapkan Rencana Audit (Audit Plan) guna menentukan prioritas-prioritas dalam kegiatan audit Infrastruktur SPBE, yang konsisten dengan tujuan audit sesuai dengan Piagam Audit (Audit Charter).

b. menyampaikan Rencana Audit (Audit Plan) kepada pimpinan institusi pelaksana audit Infrastruktur SPBE dan institusi pemberi tugas audit Infrastruktur SPBE untuk dikaji dan diberi persetujuan, dan mengkomunikasikan dampak dari keterbatasan sumberdaya.

c. mengelola sumberdaya audit yang tepat, memadai dan efektif untuk melaksanakanrencana audit yang telah disetujui.

d. melakukan koordinasi dengan pimpinan institusi pelaksana audit untuk menjamin bahwa pelaksanaan audit Infrastruktur SPBE berjalan efektif dan efisien.

e. memberi laporan yang memadai secara periodik kepada pimpinan institusi pemberi tugas audit Infrastruktur SPBE mengenai tujuan, wewenang, tanggung jawab dan kinerja audit.

Pasal 11 (tujuan audit)

Aktivitas audit Infrastruktur SPBE dapat bersifat wajib atau sukarela, dilaksanakan dengan tujuan berupa beberapa atau salah satu dari hal-hal berikut:

a. peningkatan kinerja dan daya saing;

b. penilaian kesesuaian dengan standar/ prosedur, dan kesesuaian dengan rencana/ kebutuhan/ kondisi;

(9)

c. pencegahan dengan melakukan identifikasi resiko- resiko penggunaan teknologi, dan mencegah kerugian akibat penggunaan teknologi;

d. identifikasi status teknologi yang dimiliki, identifikasi daya saing/kemampuan teknologi, termasuk dalam hal ini adalah inventarisasi dan pemetaan aset teknologi;

e. perencanaan pengembangan sistem/teknologi dan perencanaan perbaikan kelemahan;

f. pengungkapaan suatu sebab atau fakta terkait dengan suatu kejadian atau peristiwa yang biasanya berimplikasi pada kondisi yang membahayakan keselamatan atau keamanan.

Pasal 12 (perencanaan audit)

(1) Dalam hal perencanaan audit, auditor Infrastruktur SPBE harus mengembangkan dan mendokumentasikan rencana untuk setiap pelaksanaan audit, termasuk tujuan, lingkup, waktu, dan alokasi sumberdaya bagi pelaksanaan audit, yang dituangkan dalam Rencana Audit (Audit Plan).

(2) Dalam merencanakan audit, auditor harus mempertimbangkan berbagai hal, antara lain:

a. Sistem pengendalian internal dan kepatuhan auditee terhadap acuan atau benchmark;

b. Penetapan tujuan audit;

c. Penetapan kecukupan lingkup;

d. Penggunaan metodologi yang tepat.

Pasal 13 (pelaksanaan audit)

(1) Dalam hal pelaksanaan audit, auditor Infrastruktur SPBE harus mengidentifikasi, menganalisis, mengevaluasi dan mendokumentasikan informasi yang cukup untuk mencapai tujuan audit.

(2) Dalam melaksanakan audit tersebut, auditor harus:

a. memperoleh bukti-bukti audit yang cukup, handal dan relevan untuk mendukung penilaian dan kesimpulan;

(10)

b. mendasarkan temuan dan kesimpulan audit pada analisis dan interpretasi yang memadai atas bukti-bukti audit;

c. menyiapkan, mengelola dan menyimpan data dan informasi yang diperoleh selama pelaksanaan audit;

d. disupervisi dengan baik untuk memastikan terjaminnya kualitas dan meningkatnya kemampuan auditor.

Pasal 14 (komunikasi)

(1) Dalam hal komunikasi atas hasil audit, auditor Infrastruktur SPBE harus harus mengkomunikasikan hasil pelaksanaan audit kepada pihak-pihak yang berkepentingan.

(2) Komunikasi tersebut harus:

a. mencakup tujuan dan ruang lingkup pelaksanaan audit, selain kesimpulan yang terkait, rekomendasi dan rencana tindak;

b. akurat, objektif, jelas, ringkas (concise), konstruktif, lengkap, dan tepat waktu

(3) Jika komunikasi final berisi kesalahan atau penghilangan yang signifikan, ketua tim audit (lead auditor) harus mengkomunikasikan informasi yang telah diperbaiki kepada semua pihak yang menerima komunikasi awal;

Pasal 15 (monitoring)

(1) Aspek monitoring dalam aktivitas audit Infrastruktur SPBE meliputi:

a. Kepatuhan terhadap Kode Etik dan Standar Audit b. Kesesuaian terhadap Piagam Audit

c. Kesesuaian terhadap Rencana Audit d. Kesesuaian terhadap Protokol Audit

(2) Tim pengawas mutu menyampaikan hasil monitoringnya kepada pimpinan institusi pelaksana audit di setiap tahapan aktivitas audit.

(3) Pimpinan institusi pelaksana audit menetapkan kebijakan tindak lanjut berdasarkan hasil monitoring;

(11)

Pasal 16 (evaluasi)

(1) Evaluasi mencakup perencanaan, pelaksanaan dan pelaporan audit Infrastruktur SPBE.

(2) Tim Pengawas mutu menyampaikan hasil evaluasi audit kepada pimpinan institusi pelaksana audit.

(3) Pimpinan institusi pelaksana audit menetapkan kebijakan tindak lanjut berdasarkan hasil evaluasi audit;

Bagian Ketiga Standar Pelaporan

Pasal 17 (laporan)

(1) Laporan hasil audit dibuat dalam bentuk Dokumen Laporan Audit dengan isi yang dapat dimengerti oleh klien, auditee dan pihak lain yang terkait.

(2) Laporan audit harus dibuat tepat waktu, lengkap, akurat, objektif, meyakinkan, jelas dan ringkas;

(3) Auditor dapat meminta tanggapan atau pendapat terhadap temuan, kesimpulan dan rekomendasi yang diberikannya termasuk tindakan perbaikan yang direncanakan oleh auditee secara tertulis dari pejabat auditee yang bertanggung jawab;

(4) Laporan audit disampaikan oleh pimpinan institusi pelaksana audit kepada pimpinan institusi pemberi tugas audit;

Bagian Keempat Standar Tindak Lanjut

Pasal 18 (pemantauan)

(1) Pemantauan terhadap tindak lanjut temuan, kesimpulan dan rekomendasi audit dapat dilakukan atau tidak, sesuai kesepakatan dengan auditee.

(2) Dalam kondisi pemantauan terhadap tindak lanjut akan dilaksanakan, ketua tim audit (lead auditor) harus menetapkan sebuah sistem pemantauan terhadap tindak

(12)

lanjut temuan, kesimpulan dan rekomendasi audit oleh auditee, mencakup cara berkomunikasi dengan auditee, prosedur pemantauan dan laporan status temuan.

BAB III

PEDOMAN AUDIT INFRASTRUKTUR SPBE

Bagian Kesatu Pedoman Umum

Pasal 19 (Piagam Audit)

(1) Sebelum audit dilaksanakan, pimpinan institusi pelaksana audit atau pimpinan institusi pemberi tugas audit memberikan tugas kepada tim audit dalam bentuk Surat Tugas atau dapat juga berupa Piagam Audit (Audit Charter).

(2) Surat Tugas atau Piagam Audit (Audit Charter) menjelaskan tujuan audit, ruang lingkup, kewenangan tim audit dan etika yang harus dipatuhi oleh tim audit.

(3) Surat Tugas atau Piagam Audit (Audit Charter) harus memastikan bahwa audit dapat dilaksanakan oleh tim audit; misalnya objek audit atau auditee haruslah yang menjadi kewenangan dari pimpinan Institusi pemberi tugas audit.

Pasal 20 (Etika Auditor)

(1) Auditor dituntut untuk memiliki kepribadian yang dilandasi oleh sikap jujur, berani, bijaksana dan bertanggungjawab untuk membangun kepercayaan guna memberikan dasar bagi pengambilan keputusan yang handal, bekerja secara terpercaya dan bersungguh-sungguh dalam memenuhi tanggung jawab.

(2) Aktivitas audit yang independen adalah terbebas dari kondisi yang mengancam kemampuan aktivitas audit atau kemampuan ketua tim audit (lead auditor) untuk melaksanakan tanggung jawab auditnya secara tidak memihak;

(13)

(3) Auditor harus menjaga objektivitas dalam pengumpulan dan analisis data serta penyusunan laporan dengan menggunakan data dan informasi yang valid, membuat penilaian yang seimbang atas semua situasi yang relevan dan tidak dipengaruhi oleh kepentingan pribadi atau orang lain dalam membuat kesimpulan atau memberikan pendapat.

(4) Auditor harus memelihara kerahasiaan data dan informasi yang diterimanyaselama pelaksanaan audit.

Pasal 20 (Kompetensi, Kecermatan)

(1) Dalam melaksanakan tugasnya, auditor dituntut untuk memiliki pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), sikap (attitude) dan pengalaman (experience) yang sesuai guna memenuhi tanggung jawabnya dalam pelaksanaan audit.

(2) Audit membutuhkan kecermatan profesional sebagaimana yang berlaku untuk individu yang memiliki keterampilan khusus pada tingkat yang biasa dimiliki oleh para praktisi khusus;

Pasal 21 (Jaminan Kualitas dan Program Peningkatan) (1) Jaminan kualitas dan program peningkatan dirancang agar

mampu mengevaluasi kepatuhan aktivitas audit terhadap Standar Audit, atau apakah auditor telah menerapkan Kode Etik;

(2) Untuk menjamin kualitas audit, dilakukan suatu monitoring dan evaluasi atas aktivitas audit yang dilaksanakan.

Bagian Kedua Pedoman Pelaksanaan

Pasal 22 (Pengelolaan Aktivitas Audit)

(1) Audit Infrastruktur SPBE dilaksanakan mengikuti tata laksana audit yang secara garis besar terbagi dalam tiga kelompok tahapan, yaitu:

(14)

a. Tahap perencanaan (pre-audit)

b. Tahap pelaksanaan lapangan (onsite audit) c. Tahap analisa data dan pelaporan (post audit).

(2) Tata laksana audit meliputi:

a. Penyiapan tim audit;

b. Quick assessment;

c. Penyiapan rencana audit;

d. Penyepakatan rencana audit;

e. Penyiapan protokol audit;

f. Penetapan parameter acuan;

g. Pertemuan pembukaan;

h. Pelaksanaan lapangan;

i. Pertemuan penutupan;

j. Analisa data;

k. Pengelolaan data;

l. Penyusunan laporan;

m. Proof-read laporan;

n. Penyerahan laporan;

o. Evaluasi aktivitas

Pasal 23 (Sifat dan Ciri Pekerjaan)

(1) Audit wajib dilakukan pada suatu organisasi apabila pihak yang berwenang atas organisasi tersebut memerintahkan dilakukannya audit atas organisasi tersebut;

(2) Audit sukarela dilakukan pada suatu organisasi apabila suatu organisasi atas keinginan sendiri atau atas anjuran pelaksana audit menginginkan dilakukannya audit atas organisasi tersebut;

(3) Audit dilaksanakan untuk mencapai tujuan untuk menilai kesesuaian (compliance) dengan standar/prosedur, dan kesesuaian dengan rencana/kebutuhan/kondisi;

Pasal 24 (Perencanaan Kegiatan)

(1) Auditor harus merencanakan audit sedemikian untuk menjamin bahwa audit yang berkualitas tinggi telah

(15)

dilaksanakan secara ekonomis, efisien, efektif dan tepat waktu;

(2) Audit Infrastruktur SPBE dilakukan oleh sebuah tim audit yang terdiri dari posisi-posisi berikut dengan uraian tugas dan tanggung jawab sebagai berikut:

a. Pengawas Mutu, berperan melakukan monitoring dan evaluasi aktivitas audit untuk menjamin pelaksanaan audit sesuai dengan standar audit. Pengawas Mutu harus memiliki kualifikasi Auditor Teknologi Utama.

b. Lead Auditor, bertanggung jawab merencanakan audit teknologi, melaksanakan audit teknologi di lapangan, mengendalikan data dan melaporkan hasil audit teknologi. Lead Auditor harus mempunyai kualifikasi minimal setara dengan Auditor Teknologi Madya

c. Auditor, bertugas membantu Lead Auditor dalam aktivitas audit teknologi. Auditor harus mempunyai kualifikasi minimal Auditor Teknologi Muda.

d. Asisten Auditor, bertugas membantu Auditor dalam aktivitas audit teknologi. Asiten Auditor harus sudah mengikuti sosialisasi audit.

e. Teknisi, bertugas membantu Auditor dalam pengumpulan data lapangan.

f. Nara Sumber, berperan memberi masukan yang berkaitan dengan isu, status industri dan teknologi, serta keilmuan yang relevan dengan organisasi dan sektor yang diaudit.

(3) Quick Assessment dilakukan untuk Mengenali Objek Audit, dengan mengidentifikasi: Current issue, lokasi organisasi yang diaudit, struktur organisasi dari organisasi yang diaudit, proses bisnis dari organisasi atau bagian yang diaudit, teknologi produk (bila relevan), teknologi proses (bila relevan), bahan baku (bila relevan), pengguna produk (bila relevan).

(4) Tim audit Infrastruktur SPBE harus mendefinisikan hal-hal berikut dalam suatu dokumen yang disebut Rencana Audit (Audit Plan) untuk nantinya disepakati dengan klien:

Tujuan Audit, Lingkup, pendekatan, Kriteria, Parameter,

(16)

Acuan, Metode Pengumpulan Data, Penentuan Objek, Data Primer dan Sekunder, Metode Analisa, Deliverable, Perkiraan Jadwal Pelaksanaan.

(5) Ketua tim audit dan auditee harus menyepakati rencana audit sebelum tahap pelaksanaan audit.

Pasal 25 (Pelaksanaan Kegiatan)

Dalam pelaksanaan kegiatan audit, tim audit Infrastruktur SPBE:

(1) menyusun protokol audit yang berisi detail instrumen audit, antara lain:

a. Daftar Data, Pertanyaan dan Pengujian

b. Formulir untuk mencatat data, jawaban, hasil observasi dan hasil pengujian.

(2) menetapkan parameter acuan untuk setiap kriteria diperlukan untuk memberikan suatu acuan pembanding.

(3) melakukan Pertemuan Pembukaan dengan Auditee;

(4) melaksanakan audit lapangan, melalui:

a. Pengumpulan Data Tertulis b. Wawancara

c. Observasi Lapangan d. Pengujian

e. Verifikasi Bukti

(5) melakukan Pertemuan Penutupan dengan Auditee;

(6) melakukan analisis bukti;

(7) Mengelola data

Pasal 26 (Komunikasi atas Hasil)

Komunikasi atas Hasil Audit harus memenuhi kriteria: akurat, obyektif, jelas, ringkas, konstruktif, komplit dan tepat waktu.

Pasal 27 (Monitoring Aktivitas Audit)

(1) Monitoring memberikan informasi untuk suatu kegiatan audit yang sedang berjalan yang dilakukan oleh tim pengawas mutu;

(2) Monitoring bertujuan untuk mengidentifikasi kemajuan dalam pelaksanaan audit.

(17)

(3) Tim pengawas mutu harus menetapkan suatu proses tindak lanjut untuk memonitor dan meyakinkan bahwa tindak lanjut yang telah ditetapkan oleh pimpinan institusi pelaksana audit diimplementasikan secara efektif.

Pasal 28 (Evaluasi Audit)

(1) Evaluasi secara menyeluruh dilakukan oleh tim pengawas mutu setelah aktivitas audit selesai.

(2) Evaluasi bertujuan untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan aktivitas audit yang telah dilakukan dalam rangka meningkatkan kualitas pelaksanaan audit berikutnya.

(3) Tim Pengawas mutu menyampaikan hasil evaluasi audit kepada pimpinan institusi pelaksana audit. Pimpinan institusi pelaksana audit menetapkan kebijakan tindak lanjut berdasarkan hasil evaluasi audit.

Bagian Ketiga Pedoman Pelaporan

Pasal 29 (Laporan Audit)

(1) Laporan Audit dirancang untuk memberikan penilaian independen dari auditor terhadap masalah yang menjadi perhatian (subject-matter). Laporan audit memberikan opini audit apakah auditee memenuhi apa yang diklaimnya pada area spesifik, memberikan informasi dan rekomendasi kepada klien untuk memfasilitasi tindakan korektif dan perbaikan.

(2) Laporan Audit harus mencantumkan batasan atau pengecualian yang berkaitan dengan pelaksanaan Audit.

(3) Draft laporan diriviu oleh ketua tim audit untuk memastikan konsistensi dengan tujuan dan ruang lingkup audit.

(4) Laporan audit disampaikan oleh ketua tim audit kepada pimpinan institusi pelaksana audit.

(18)

(5) Laporan Audit disahkan oleh pimpinan institusi pelaksana audit.

(6) Pimpinan institusi pelaksana audit menyampaikan Laporan Audit kepada klien.

Pasal 29 (Bentuk dan Isi Laporan)

(1) Laporan mencakup latar belakang, tujuan, lingkup, pendekatan audit, kriteria dan acuan, metoda pengumpulan data, metoda analisa, hasil analisis, temuan dan kesimpulan, dan rekomendasi.

(2) Pada setiap halaman dokumen laporan hasil audit diberi identifikasi (nomor dokumen) yang menggambarkan sekurang-kurangnya: tahun pelaksanaan audit, nomor urut atau nomor seri dokumen, sektor teknologi, auditee dan kode pengendalian distribusi salinan dokumen.

Pasal 30 (Kualitas Laporan)

Kualitas Laporan Audit harus memenuhi kriteria: dibuat tepat waktu, lengkap, akurat, obyektif, meyakinkan, ringkas.

Pasal 31 (Tanggapan Auditee)

Auditor dapat meminta tanggapan atau pendapat terhadap temuan, kesimpulan dan rekomendasi yang diberikannya termasuk tindakan perbaikan yang direncanakan oleh auditee secara tertulis dari pejabat auditee yang bertanggung jawab.

Pasal 32 (Distribusi Laporan)

(1) Laporan Audit diterbitkan dan dibuat rangkap dengan memberi identifikasi (nomor dokumen) untuk masing- masing salinan asli.

(2) Laporan Audit didistribusikan masing-masing 1 (satu) buah kepada pimpinan institusi pelaksana audit dan pimpinan institusi pemberi tugas audit

(3) Laporan audit disampaikan oleh ketua tim audit kepada pimpinan institusi pelaksana audit. Selanjutnya pimpinan institusi pelaksana audit menyampaikannya kepada klien.

(19)

Bagian Keempat Pedoman Tindak Lanjut

Pasal 33 (Kesepakatan untuk Pemantauan)

(1) Pemantauan dilakukan dalam bentuk observasi pada auditee pada waktu yang disepakati oleh institusi pelaksana audit dan auditee.

(2) Pemantauan atas saran yang diberikan dari hasil audit yang telah disampaikan kepada auditee dapat dilaksanakan setelah adanya kesepakatan tim pemantau dengan Management Auditee. Item kesepakatan sekurang- kurangnya meliputi: lingkup, objek, jangka waktu, beban pembiayaan, penanggung-jawab.

Pasal 34 (Pelaksanaan Pemantauan)

(1) Pemantauan dilakukan dalam bentuk observasi pada auditee pada waktu yang disepakati oleh institusi pelaksana audit dan auditee.

(2) Tindak lanjut perbaikan dari auditee perlu dievaluasi oleh auditor. Jika memungkinkan, oleh auditor yang telah melakukan audit.

(2) Evaluasi dilakukan untuk menilai apakah saran tindak lanjut yang diberikan dapatdiimplementasikan dan memberikan manfaat yang berarti bagi auditee.

BAB IV

PANDUAN TEKNIS AUDIT JARINGAN INTRA PEMERINTAH

Pasal 35 (Maksud dan lingkup)

(1) Panduan teknis audit jaringan intra pemerintah dimaksudkan sebagai panduan dalam pelaksanaan audit jaringan intra pemerintah, instansi pusat dan pemerintah daerah;

(2) Lingkup panduan teknis audit jaringan intra pemerintah terdiri atas:

a. Perencanaan Jaringan intra pemerintah

(20)

b. Pengembangan/Pembangunan Jaringan intra pemerintah

c. Pengoperasian Jaringan intra pemerintah d. Pemeliharaan Jaringan intra pemerintah e. Evaluasi Jaringan intra pemerintah

Pasal 36 (Perencanaan Jaringan SPBE)

(1) Jaringan intra pemerintah direncanakan dengan mengacu kepada Arsitektur SPBE Nasional, Arsitektur SPBE Instansi Pusat, atau Arsitektur SPBE Pemerintah Daerah, Peta Rencana SPBE Nasional, Peta Rencana SPBE Instansi Pusat dan Peta Rencana SPBE Pemerintah Daerah.

(2) Kebutuhan Nasional dan Instansi diterjemahkan ke dalam persyaratan jaringan intra pemerintah yang mencakup kebutuhan fungsi, kinerja, keamanan dan batasan rancangan.

(3) Rancangan jaringan intra pemerintah disusun berdasarkan persyaratan jaringan intra pemerintah dengan mempertimbangkan kebutuhan dan infrastruktur SPBE Nasional.

Pasal 37 (Pengembangan/Pembuatan Jaringan intra pemerintah)

(1) Jaringan intra pemerintah dapat dikembangkan oleh tim internal organisasi atau dari pihak ketiga dengan mengacu kepada deskripsi dalam rancangan.

(2) Konfigurasi jaringan SPBE dapat dikustomisasi dan dilengkapi dengan dokumentasi yang memadai.

(3) Uji coba terhadap jaringan intra pemerintah harus terdokumentasi dalam suatu test plan, test design, test case dan test procedures.

(21)

Pasal 38 (Pengoperasian Jaringan intra pemerintah)

(1) Jaringan intra pemerintah dilengkapi dengan dokumentasi penggunaan jaringan intra pemerintah baik untuk operator maupun administrator;

(2) Dokumentasi tersebut mencakup:

a. Penggunaan perangkat jaringan intra pemerintah antara lain: cara instalasi, akses terhadap perangkat, operasi terhadap perangkat;

b. Tutorials;

c. Gangguan dan penangannya.

Pasal 39 (Pemeliharaan Jaringan SPBE)

(1) Pemeliharaan terhadap jaringan intra pemerintah didokumentasikan dalam suatu dokumen pemeliharaan yang mencakup:

a. lingkup pemeliharaan;

b. alokasi sumberdaya c. pencatatan kinerja

(2) Perubahan terhadap jaringan intra pemerintah didokumentasikan dalam suatu dokumen Software Configuration Management yang mencakup:

a. lingkup konfigurasi;

b. aktivitas dan manajemen konfigurasi;

c. sumberdaya konfigurasi.

Pasal 40 (Evaluasi Jaringan intra pemerintah)

Evaluasi terhadap jaringan intra pemerintah harus dilakukan secara berkala pada setiap tahapan mulai dari Perencanaan sampai dengan Pemeliharaan Jaringan SPBE.

Pasal 41 (Kriteria Audit)

Kriteria kesesuaian dalam pelaksanaan audit jaringan intra pemerintah terhadap acuan atau benchmark tercantum dalam Lampiran I yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Badan ini.

(22)

.

BAB V

PANDUAN TEKNIS AUDIT PUSAT DATA NASIONAL SPBE

Pasal 42 (Maksud dan lingkup)

(1) Panduan teknis audit Pusat Data Nasional SPBE dimaksudkan sebagai panduan dalam pelaksanaan audit Pusat Data Nasional;

(2) Lingkup panduan teknis audit Pusat Data Nasional SPBE terdiri atas :

a. Perencanaan PUSAT DATA NASIONAL b. Realisasi Pusat Data Nasional

c. Pengoperasian PUSAT DATA NASIONAL d. Pemeliharaan PUSAT DATA NASIONAL e. Evaluasi PUSAT DATA NASIONAL

Pasal 43 (Kriteria Audit)

Kriteria kesesuaian dalam pelaksanaan audit Pusat Data Nasional SPBE terhadap acuan atau benchmark tercantum dalam Lampiran II yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Badan ini.

BAB VI AUDITOR

Pasal 41 (Kompetensi Auditor)

(1) Pelaksanaan Audit Infrastruktur SPBE dilaksanakan oleh tim auditor yang memiliki kompetensi bidang TIK.

(2) Ketua Tim Audit (Lead auditor) wajib memiliki sertifikat kompetensi auditor TIK.

(3) Sertifikat kompetensi auditor TIK yang melaksanakan audit infrastruktur SPBE yang terdaftar pada Lembaga Sertifikasi Profesi di bidang Auditor Teknologi.

(23)

BAB VI

PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN

Pasal 42 (pengawasan & pengendalian)

(1) Pengawasan dan pengendalian pelaksanaan Peraturan Badan ini dilaksanakan oleh [__________].

(2) Pengawasan dan pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup:

a. kesesuaian pelaksanaan Audit Infrastruktur SPBE oleh Auditor Infrastruktur SPBE berdasarkan Peraturan Badan ini; dan/atau

b. konflik kepentingan dan/atau sengketa antara Auditor dengan Auditee.

(3) Dalam rangka pelaksanaan, pengawasan dan pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (2), [K/L, Pemda] wajib menyampaikan Laporan Periodik atas Pelaksanaan Audit Infrastruktur SPBE kepada [___________] sesuai dengan format Laporan sebagaimana tercantum dalam Lampiran __

yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Badan ini.

(4) Ketentuan mengenai pengawasan dan pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur oleh [__________] sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.

BAB VII SANKSI

Pasal 43

Pelanggaran terhadap ketentuan dalam Peraturan Badan ini dikenakan sanksi administratif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(24)

BAB XIV

KETENTUAN PENUTUP

Pasal 44

Peraturan Badan ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Badan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta

pada tanggal ... 2019

KEPALA BADAN PENGKAJIAN DAN PENERAPAN TEKNOLOGI

REPUBLIK INDONESIA,

...

Diundangkan di Jakarta pada tanggal

DIREKTUR JENDERAL

PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA,

WIDODO EKATJAHJANA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN NOMOR

(25)

25

LAMPIRAN I

PERATURAN BADAN PENGKAJIAN DAN

PENERAPAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA NOMOR ... TAHUN 2019

TENTANG STANDAR DAN TATA LAKSANA AUDIT INFRASTRUKTUR SISTEM PEMERINTAHAN BERBASIS ELEKTRONIK (SPBE)

KRITERIA PENILAIAN JARINGAN SPBE

No Dimension Indicator Criteria Conformance Data Pertanyaan (?)

Yes No

1 PERENCANAAN

1.1 Business

requirement

1. Business

Needs/Opportunities 2. Business Process

Participants 3. Current business

process

4. Proposed business process

5. Project Scope

(Functional and Non- functional

requirements)

 BRD (business requirements document)

(26)

1.2 Network Requirement

1. Functionality 2. Performance 3. Security 4. Attributes

5. Design Constraints

 NRS (network requirement specification)

1.3 Network design 1. Preparation

2. Environment Analysis 3. Coverage Design 4. Parameter Design 5. Dimension and

Report

• NDP (Network

Design Procedure)

2 PENGEMBANGAN/PEMBANGUNAN

2.1 Network

implementation

1. Network Development

Methods (eg. NDLC, etc)

2. Network Configuration 3. LAN Diagram /

Wiring Diagram 4. Manual and

Documentation

• As Built Network

2.2 Installation 1. Installation

procedures 2. Installation Personnel

3. Plans for training personnel

4. Installation schedule 5. Facilities needed

during the installation

• Network

Installation Plan

2.3 Testing 1. Test Plan • Network test

documentation

(27)

2. Test Design 3. Test Procedures 4. Test Report

3 OPERASIONAL

Network Utilization /Performance

1. General use of the network and

hardware (instalasi, akses,

navigasi,utilisasi dan report)

2. procedures and tutorials

3. gangguan dan penanganan 4. help facility

• Network

Documentation

4 PEMELIHARAAN

Network Maintenance

1. Maintenance process scope;

2. Maintenance process sequence;

3. Organization;

4. Resource allocations;

5. Performance tracking.

• Network

Maintenance

Network Configuration Management

1. NCM Scope

2. NCM management 3. NCM activities 4. NCM schedules 5. NCM resources

• Network

Configuration Management Plans

(28)
(29)

LAMPIRAN II

PERATURAN BADAN PENGKAJIAN DAN

PENERAPAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA NOMOR ... TAHUN 2019

TENTANG STANDAR DAN TATA LAKSANA AUDIT PUSAT DATA NASIONAL SISTEM PEMERINTAHAN BERBASIS ELEKTRONIK (SPBE)

KRITERIA PENILAIAN PUSAT DATA NASIONAL SPBE

No Dimension Indicator Criteria Conformance Data Pertanyaan (?)

Yes No 1 Perencanan

(Desain)

1.1 Lokasi - Bangunan harus berada

pada lokasi yang aman - Bangunan harus

mempunyai akses jalan yang cukup dan fasilitas parkir

Berdasarkan pada institusi yang berwenang untuk menetapkan stuktur tanah

Mengikuti aturan standar dalam

mendirikan bangunan

1.2 Managemen

bangunan

- Ruang Pusat Data

Nasional tidak berada di

- Standar keselamatan mendirikan bangunan yang dikeluarkan oleh

(30)

bawah area yang berbahaya perpipaan - Bangunan harus memiliki

area untuk bongkar muat peralatan Pusat Data Nasional

- Memiliki akses/jalur penyelamatan

institusi yang berwenang

- Ijin dalam mendirikan bangunan dan

peruntukan nya.

- Denah lokasi dan bangunan serta peruntukan nya.

- SOP kerja

1.3 Managemen

akses dan keamanan lokasi/ruang

- Pusat data harus diamankan selama 24 jam

- Perangkat sistem pemantau visual (seperti CCTV) - Pembatasan akses

dengan mekanisme otentikasi

• SOP dalam pemantauan ruang serta perangkat.

• SOP untuk tindak lanjut bila terjadi masalah.

Managemen kebakaran

- Tersedianya pintu darurat kebakaran - Dinding dan pintu

datacenter memiliki tingkat terbakar (fire- rating)

- Diproteksi dengan sistem deteksi asap - Catatan pemeliharaan

• Mengikuti aturan dari instansi yang

berwenang dalam pengaturan keamanan dari bahaya kebakaran serta standar bahan tahan api.

(31)

- simulasi pengendalian kebakaran

Managemen kelistrikan

- Tersedianya ruang Panel Kelistrikan

- Adanya kelebihan

(safety factor) seper daya sebesar 20% dari jumlah daya Listik yang di

gunakan

- Tersedianya Genset yang minimal dapat

mengoperasikan Pusat Data Nasional

menghendel selama minimal 3 jam

- Tersedianya UPS yang minimal dapat

mengoperasikan Pusat Data Nasional

menghendel selama minimal 15 menit -

• Perhatikan dokumen manual peralatan listrik untuk pemasangan perangkat serta faktor keamanan.

• SOP perawatan perangkat serta pengawasan.

Managemen suhu ruangan

Suhu ruang harus minimal sesuai dengan kebutuhan dari standar perangkat terpasang

• Sistem pengaturan suhu ruang otomatis.

• Pengukur temperatur dan humidity ruang.

Managemen pengkabelan

Setiap kabel yang terpasang wajib memiliki tanda untuk ujung awal dan ujung akhir

• Memanfaatkan tanda yang umum

(32)

2 REALISASI

2.1 Pusat Data

Nasional

implementation

1. Pusat Data Nasional Methods

2. Documentation

3. Perubahan realisasi Data Center Nasional

4. Rancangan Penerapan

• Documentation

2.2 Testing 1. Test Plan

2. Test Design 3. Test Cases 4. Test Procedures 5. Test Report

• Dokumentasi hasil test yang diselenggarakan oleh internal.

Installation 1. Installation procedures 2. Installation Personnel 3. Plans for training personnel 4. Installation schedule

5. Facilities needed during the installation

• Rencanan instalasi pemasangan perangkat

3 OPERASI

Tata kerja 1. procedures and tutorials 2. error messages and problem

resolution 3. help facility

• SOP Prosedur dan Tutorial perangkat.

• SOP dokumentasi pelaporan

Managemen Operasional

Pengoperasian Pusat Data Nasional mengikuti aturan yang telah dibuat sesuai dengan kebutuhan dari Pusat Data Nasional

• Sesuai dengan Perban SPBE Pusat Data Nasional

(33)

Prosedur pemeliharaan

Dibuat prosedur pemeliharaan perangkat yang digunakan dengan mengacu kepada MTBF yang dikeluarkan oleh pabrik pembuat perangkat

• Dokumen aktivitas pemeliharaan atau perawatan

4 MAINTENANCE

& CHANGES

Hardware Maintenance

1. Maintenance process scope;

2. Maintenance process sequence;

3. Organization;

4. Resource allocations;

5. Performance tracking.

• Hardware Maintenance

Hardware Configuration Management

1. HCM Scope

2. HCM management 3. HCM activities 4. HCM schedules 5. HCM resources

• Hardware Configuration Management Plans

(34)

34

Referensi

Dokumen terkait

Untuk memenuhi kegiatan penanaman bibit padi di lahan sawah dengan luas lahan yang besar, secara efisiensi waktu dan dari segi biaya dapat diaplikasikan mesin

a. Sebelum audit di lapangan dilakukan, harus dipastikan tim audit telah menetapkan program auditnya termasuk rencana dan jadwal audit dan susunan tim audit dan ketua

Bahwa apa yang dilakukan oleh Mohammad Ramdhan Pomanto sebagai Walikota Makassar atau Petahana telah merugikan Appi-Cicu, sebab pasangan Appi-Cicu harus bersaing

Setelah mengikuti perkuliahan ini diharapkan Saudara mampu menentukan transformasi Laplace dari fungsi delta Dirac, transformasi Fourier dari fungsi delta Dirac dan menyelesaikan

Penggunaan angket motivasi belajar ini bertujuan untuk mengetahui besarnya motivasi belajar siswa di dalam kelas pada saat proses pembelajaran dengan penerapan

Zachman) adalah pendekatan secara luas digunakan untuk mengembangkan atau mendokumentasikan arsitektur perusahaan-perusahaan. Berdasarkan kerangka kerjanya Zachman

Keluaran yang dapat dicapai dari rancangan arsitektur enterprise tersebut adalah menghasilkan model dan kerangka dasar dalam mengembangkan sistem informasi IOS yang

Pada perguruan tinggi, tanggungjawab sosial perguruan tinggi disebut dengan istilah University Social Responsibilities (USR), pada dasarnya merupakan suatu kebijakan etis