RISALAH RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG : 9

Teks penuh

(1)

RISALAH

RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG

PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG

Tahun Sidang

: 2009-2010 MasaPersidangan

Rapat ke

: III : 9

Jenis Rapat : Rapat Dengar Pendapat

Sifat Rapat : Terbuka

Hari,Tanggal : Rabu, 12 Mei 2010

Pukul : 09.00 WIB. s.d. 13.00 WIB.

Tempat Acara

: Ruang Rapat Panitia Anggaran

Gedung Nusantara II Paripurna lantai 1 : 1. Pengantar Ketua Rapat;

2. Masukan terhadap pembahasan RUU tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

3. Tanya-Jawab;

4. Penutup.

Ketua Rapat Sekretaris Rapat

Hadir

: H. Harry Witjaksono, SH / F-PD

: Dra. Mitra Anindyarina (Kabag Set. Risalah)

: A. Anggota DPR RI :

22 dari 30 orang Anggota dengan rincian : I. PIMPINAN PANSUS

1. H. Harry Witjaksono, SH.

2. Edison Betaubun, SH.,MH.

3. H. Irsal Yunus, SE.,MM.

II. FRAKSI PARTAI DEMOKRAT 4 dari 7 orang Anggota :

1. Achsanul Qosasi 2. Andi Rahmat, SE.

3. DR. Benny K. Harman, SH.

4. Sutjipto, SH., M.Kn.

III. FRAKSI PARTAI GOLKAR 4 dari 5 orang Anggota :

1. DR. Azis Syamsuddin

2. H. Bambang Soesatyo, SE.,MBA.

3. I Gusti Ketut Adhiputra, SH.

(2)

4. Melchias Markus Mekeng

IV. FRAKSI PARTAI PDI PERJUANGAN 4 dari 4 orang Anggota :

1. Drs. M. Nurdin, MM.

2. Asdi Narang, SH.,M.COMM.LAW 3. Indah Kurnia

4. Ir. Dofie Ofp

V. FRAKSI PARTAI PKS 1 dari 3 orang Anggota :

1. H. Ecky Awal Mucharam, SE.

2. Drs. Adang Daradjatun.

VI. FRAKSI PARTAI PAN 1 dari 1 orang Anggota :

1. H. Nasrullah, S.Ip.

VII. FRAKSI PARTAI PPP 1 dari 2 orang Anggota :

1. Ahmad Yani, SH.,MH.

VIII. FRAKSI PARTAI PKB 1 dari 2 orang Anggota :

1. Drs. H. Otong Abdurrahman.

IX. FRAKSI PARTAI GERINDRA 1 dari 1 orang Anggota : 1. Martin Hutabarat

X. FRAKSI PARTAI HANURA 1 dari 1 orang Anggota :

1. H. Syarifuddin Sudding, SH.,MH.

: B. Pemerintah:

1. Kejaksaan Agung 2. POLRI;

3. BIN;

4. BAPEPAM;

5. Dirjen Pajak.

(3)

KETUA RAPAT (H. HARRY WITJAKSONO, SH):

Bismillahirrahmanirrahim,

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Selamat pagi dan salam sejahtera bagi kita semua.

Saudara-saudara Pimpinan Pansus dan Anggota Pansus RUU Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang;

Yang kami hormati Saudara Kapolri dalam hal ini diwakili oleh Kadiv Binkum POLRI yaitu Irjen Pol. Drs. Badrodin Haiti;

Kemudian yang saya hormati juga Saudara Jaksa Agung dalam hal ini diwakili oleh Jampidsus Saudara Marwan Effendy.

Yang saya hormati Saudara Kepala Badan Intelijen Nasional beserta jajarannya Bapak Benny Ruliawan Deputi III Kepala BIN; serta

Hadirin yang berbahagia,

Sesuai dengan Peraturan Tata Tertib Pasal 240 pagi ini saya nyatakan rapat ini dibuka dan terbuka untuk umum. Bahwa rapat pada hari ini adalah dengar pendapat, jadi menurut hemat kami tidak akan mengeluarkan suatu keputusan, jadi tidak memerlukan kuorum, tapi dari daftar yang hadir kita ini sudah hadir 10 anggota yang terhormat Pansus dari 5 fraksi.

Sebelum melanjutkan acara kita pada pagi hari ini terlebih dahulu saya mengajak hadirin untuk memanjatkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang selalu melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua sehingga kita bisa menghadiri rapat dengar pendapat ini khususnya RUU tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang dalam keadaan sehat dan wal’afiat semua.

Sesuai dengan acara yang kita rencanakan maka kita akan mendengarkan saran dan masukan dari saudara-saudara sekalian tamu-tamu kita dalam rangka penyempurnaan atau masukan bagi kita tentang draft RUU Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Untuk diketahui bahwa dalam RDP ini kita sangat berharap dari narasumber untuk menyampaikan masukan-masukannya karena Undang-Undang yang berlangsung sekarang ini kita menangkap ada multi interpretatif jadi kita ingin masukan dari bapak-bapak sekalian. Kemudian juga hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaan Undang-Undang yang telah dilaksanakan sekarang dan kemudian masukan-masukan bagi RUU ini. Intinya kurang lebih begitu pak.

Untuk lebih menghidupkan suasana RDP ini mungkin ada baiknya dari kami memperkenalkan anggota-anggota pansus kami pak, setelah itu nanti sebelum bapak membacakan masukannya, juga untuk sekaligus memperkenalkan rombongannya. Nanti kita sepakat dulu pak ya, waktu kita maksimum sampai jam 12.00 WIB, artinya lebih cepat lebih bagus, tapi kalau tidak, paling tidak kita selesaikan jam 12.00 WIB. Namun demikian dari meja pimpinan juga tetap mengakomodir apabila belum selesai juga kita bisa perpanjang. Ini ada 3 (tiga) narasumber kita harapkan nanti masing-masing bisa mengatur waktunya sendiri, yang jelas kita juga menginginkan nanti ada waktu yang cukup untuk tanya jawab untuk memberikan komentar dan pendalaman dari para anggota. Kita tidak membatasi tapi artinya maksimum acara ini sampai jam 12.00 WIB. Nanti kita sendirilah yang mengatur.

Baiklah, saya akan memperkenalkan diri dulu dari Anggota Pansus yang terhormat ini.

Saya baca dari daftar absen, artinya nanti yang saya bacakan kalaupun tidak hadir paling tidak saya sudah perkenalkan. Saya mulai dari Fraksi Partai Demokrat, ini ada 8 (delapan) orang, saya perkenalkan dan persentasikan, yang pertama adalah Dr. Benny K. Harman, saya dapat pastikan beliau ada di sebelah karena beliau juga akan memimpin rapat dengan MENKUMHAM tapi beberapa diantara tamu-tamu kita sudah familiar, Pak Marwan Effendy dan dari pihak POLRI pasti juga sudah tahu. Kemudian yang kedua adalah Dr. Pieter C. Zulkifli Simabuea, ini kemarin sudah

(4)

memberitahukan kepada saya sedang sakit, sedang dirawat di rumah sakit jadi tidak bisa hadir.

Saudara Didi Irawadi Syamsuddin, ini juga akan datang terlambat tapi pasti datang. Yang berikutnya Saudara Sutjipto sebenarnya juga sudah hadir tapi sedang ada keperluan sebentar di ruangan lain. Kemudian Saudara Achsanul Qosasi, sampai detik ini belum hadir. Beliau ini juga dari Komisi XI. Kemudian Bapak I Wayan Gunastra, ini dari Komisi XI juga dari Partai Demokrat.

Kemudian juga Saudara Andi Rachmat dari Komisi XI, tidak hadir.

Saya lanjutkan kepada Fraksi Partai Golongan Karya. Yang pertama sudah cukup dikenal ini Saudara Anggota Dewan yang terhormat DR. Aziz Syamsuddin, beliau adalah salah satu Pimpinan dari Komisi III, Pak Marwan juga pasti sudah familiar, temannya Pak Bambang ini, tapi beliau sedang di sebelah juga pak mendampingi Pimpinan untuk menerima MENKUMHAM.

Kemudian ini anggota kita yang sangat terkenal, the most popular parliament yaitu H. Bambang Soesatyo, SE, MBA dari Fraksi Partai Golkar, bapak-bapak sudah mengenal juga. Kemudian berikutnya adalah I Gusti Ketut Adhiputra, SH, tadi saya lihat sudah ada mungkin sedang keluar sebentar. Berikutnya masih dari Fraksi Golkar, Melchias Marcus Mekeng, ini sepertinya belum hadir dari pagi, yang berikutnya masih dari Fraksi Golkar adalah DRS. Ade Komarudin, MH, ini juga tampaknya tidak ada, sedang ada kegiatan lain.

Saya beralih ke Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Saya mulai dari bapak yang terhormat DRS. M. Nurdin, MM. Kemudian yang kedua adalah yang terhormat Bapak Asdy Narang, SH, M. COMM. LAW, tidak hadir, yang berikutnya adalah yang terhormat Ibu Indah Kurnia, masih dari Fraksi PDIP dan yang terakhir ini adalah yang terhormat IR. Dofie OFP. Ini dari meja pimpinan juga ada unsur dari PDIP tapi nanti saya kenalkan.

Kemudian Fraksi Partai Keadilan Sejahtera, yang terhormat Saudara Mustafa Kamal, SS, belum hadir. Kemudian yang berikutnya masih dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera H. Ecky Awal Mucharam, belum ada juga. Ini satu-satunya dari Fraksi PKS sudah dari pagi duduk disini adalah yang terhormat DRS. Adang Daradjatun dari Fraksi PKS.

Selanjutnya saya beralih ke Partai Amanat Nasional yaitu anggota yang terhormat Saudara H. Nasrullah, S.IP. Kemudian dari Partai Persatuan Pembangunan dimulai dari DRS. H.

Machmud Yunus, belum hadir pak ya. Kemudian yang berikutnya masih dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan yang terhormat Saudara Ahmad Yani, SH, MH, ini Pak Marwan pasti tahu.

Berikutnya Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa. Kita mulai dari yang terhormat PROF. DRS.

H. Cecep Syaifuddin, belum hadir. Selanjutnya adalah yang terhormat DRS. H. Otong Abdurrahman, juga belum hadir.

Berikut kita beralih kepada Fraksi Partai Gerindra yang terhormat Saudara Martin Hutabarat, belum hadir.

Terakhir dari Fraksi Partai Hanura, H. Syarifuddin Sudding, SH, MH, tentunya juga Pak Marwan pasti kenal karena di Komisi III cukup top.

Sekarang saya tidak lupa juga memperkenalkan dari meja pimpinan, saya sendiri selaku ketua adalah H. Harry Witjaksono, SH dari Fraksi Partai Demokrat, kebetulan saya memimpin pada saat ini. Selanjutnya dari Fraksi Partai Golkar yang terhormat Saudara Edison Betaubun, SH, MH, ini beliau juga belum hadir. Berikutnya yang terhormat dari pimpinan juga dari Wakil Ketua yaitu Saudara H. Irsal Yunus, SE, MM ada di sebelah kanan saya dari Fraksi PDIP. Kita bergantian pak kebetulan nanti siang dia akan pimpin dengan Dirjen Pajak dan BAPEPAM.

Yang terakhir dari meja pimpinan juga adalah Saudara Wakil Ketua yang terhormat H.

Andi Anzhar Cakra Wijaya, S.H. Kebetulan beliau baru selesai operasi polip kemarin, jadi hari ini dapat dipastikan tidak hadir.

(5)

Demikianlah mungkin yang bisa saya sampaikan. Saya dari meja pimpinan sebelum memberi kesempatan kepada bapak, berharap sangat bahwa pertemuan ini bisa berjalan dengan kondusif dan juga dapat yang manfaatkan dari pertemuan ini sehingga pertemuan ini dapat memberi masukan-masukan yang baik bagi kita semua.

Selanjutnya saya beri kesempatan sebelum diakhir saya beri kesempatan dulu kepada pihak narasumber. Kita mulai dari pihak Kejaksaan Agung, memperkenalkan diri dulu pak sebelum bicara.

KEJAKSAAN AGUNG RI:

Terima kasih Pimpinan.

Yang pertama kami ingin menyampaikan permohonan maaf Pak Jaksa Agung karena ada tugas yang tidak dapat ditinggalkan sehingga beliau tidak bisa hadir pada pagi hari ini. Oleh karena itu beliau menugaskan saya untuk menghadiri acara ini. Mudah-mudahan Pimpinan dan Anggota Pansus berkenan untuk menerima kehadiran kami pada pagi hari ini.

Pada kesempatan ini kami juga didampingi oleh Kepala Biro Hukum Kejaksaan Agung, kalau saya sendiri sudah kenal pak. Saya didampingi Kepala Biro Hukum Kejaksaan Agung yaitu Pak Ginting, yang belakang saya kira tidak usah untuk menyingkat waktu.

Terima kasih pak.

KETUA RAPAT:

Selanjutnya dari pihak POLRI untuk memperkenalkan diri dulu pak.

KADIV BINKUM POLRI (IRJEN POL. DRS. BADRODIN HAITI):

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Selamat pagi dan salam sejahtera bagi kita sekalian,

Yang saya hormati Pimpinan Pansus RUU Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang; serta

Seluruh Anggota Pansus yang kami hormati,

Perkenankan kami menyampaikan permohonan maaf Bapak Kapolri dan juga Bapak Kabareskrim. Ini sedianya Bapak Kabareskrim juga hadir di tempat ini juga sebagai narasumber, tapi karena tadi belakangan memberitahukan sakit tidak bisa hadir dalam ruangan ini. Kami diperintahkan untuk mewakili. Nama saya Badrodin Haiti, Kadiv Binkum Polri. Kemudian kami didampingi oleh staf, ada penyidik yang biasa menangani tindak pidana pencucian uang, Idham Wasyiadi, Penyidik Bareskrim Polri. Mudah-mudahan kami akan bisa memberikan suatu masukan yang nantinya akan kita diskusikan bersama.

Sekian dan terima kasih.

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, KETUA RAPAT:

Dari pihak BIN?

DEPUTI III BIN (BENNY RULIAWAN):

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

(6)

Terima kasih Bapak Pimpinan.

Kami menyampaikan permohonan maaf bahwa sedianya Pak Kepala BIN hadir tapi berhubung ada acara mendadak kemudian kami diperintahkan untuk mewakili pada rapat hari ini.

Nama saya Benny Ruliawan Deputi III adalah bidang Kontra Intelijen dan pada saat ini saya didampingi oleh staf ahli hukum Pak Rusto Waluyo, juga Kepala Staf Harian … Irjen Polisi Langgar. Demikian yang perlu saya sampaikan, mudah-mudahan Bapak Pimpinan Sidang berkenan untuk perwakilan ini.

Terima kasih.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

KETUA RAPAT:

Baik, terima kasih.

Untuk menghemat waktu kita segera beranjak tapi saya wajib memperkenalkan yang saya bilang tidak hadir ternyata hadir pak. Jadi ini dari Fraksi Partai Golkar, Pimpinan di Komisi III yaitu yang terhormat DR. Aziz Syamsuddin, ada terlambat jadi saya perkenalkan terakhir. Pak Marwan pasti kenal dan semua jajaran penegak hukum pasti mengenal beliau. Di Komisi III beliau adalah Pimpinan saya pak. Jadi saya harus memperkenalkan.

Untuk menghemat waktu kita segera mulai pemaparan dari para narasumber. Kami persilakan yang terhormat wakil dari Jaksa Agung dalam hal ini, oh, kita urut dari kiri ke kanan pak ya, oke, kalau begitu kita mulai dari penyidikan, penuntutan, ada dari intelijen negara. Kita persilakan waktu dan tempatnya untuk mulai. Silakan dari POLRI.

Terima kasih.

KADIV BINKUM POLRI (IRJEN POL. DRS. BADRODIN HAITI):

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Yang terhormat Pimpinan Rapat Pansus Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang; beserta

Anggota Pansus yang kami hormati,

Kami izin menyampaikan beberapa tanggapan dan saran masukan atas Rancangan Undang-Undang Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Dalam tanggapan ini kami akan bagi ada 2 (dua) hal. Yang pertama kaitannya dengan tanggapan yang sifatnya umum yang menjadi suatu landasan teori kami. Kemudian yang kedua kita akan memberikan tanggapan yang berkaitan dengan substansi pasal per pasal yang perlu kami berikan tanggapan.

Bahwa pembangunan sistem hukum selalu terkait dengan aspek politik hukum yaitu yang pertama apakah apakah perlu dilakukan pembentukan atau perubahan terhadap suatu ketentuan peraturan perundang-undangan. Yang kedua aspek pengaturan apa saja yang akan diperlukan untuk mengatasi fenomena sosial yang terjadi saat ini dan yang dihadapkan kedepan. Yang ketiga, bagaimana kira-kira aturan yang akan dibentuk dilaksanakan kedepan. Siapa yang akan melakukan, bagaimana ketentuan peraturan itu dilakukan. Secara normatif pembentukan peraturan perundang-undangan akan terkait dengan aspek struktur kelembagaan, aspek substansi dan aspek budaya hukum.

Kemudian ada memang kecenderungan bahwa dari pembentuk Undang-Undang senantiasa berkehendak atau berkeinginan untuk melakukan suatu perubahan atau mengganti Undang-Undang yang sudah ada. Seolah-olah bahwa ketidakjalanan satu sistem terletak pada

(7)

substansi Undang-Undang itu sendiri. Padahal beberapa hal bisa terjadi karena kelemahan terletak pada SDM maupun juga pada aspek-aspek yang lain seperti budaya hukum itu sendiri.

Saya menyitir ada pendapat Ion fuller mengatakan bahwa:

a. Dalam membentuk Undang-Undang harus memperhatikan beberapa hal antara lain, Undang-Undang yang akan dibentuk hendaknya memiliki jangkauan untuk diberlakukan kedepan, mempunyai prediktibiliti, karena adanya beberapa Undang- Undang yang baru 1 atau 2 tahun diberlakukan sudah diganti dengan alasan tidak relevan dengan situasi saat ini atau kurang dapat merespon perkembangan yang ada.

b. Undang-Undang yang akan dibentuk dapat diimplementasikan oleh para pelaksananya, karena sampai ini banyak Undang-Undang yang belum dapat diimplementasikan secara efektif karena alasan-alasan tidak ada sarana prasarana dan atau tidak ada anggaran yang tersedia.

c. Undang-Undang yang dibentuk hendaknya memiliki kejelasan norma dan harmonis dengan Undang-Undang yang lainnya sehingga tidak menimbulkan imbiguitas karena akan menyebabkan kerancuan di lapangan sehingga menimbulkan ketidakpastian hukum.

Kami menyoroti didalam RUU ini secara umum tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang mengalami kemajuan yang cukup berarti dari berbagai perubahan terhadap substansi materi. Oleh karena itu POLRI selaku penyidik memberikan apresiasi terhadap beberapa hal dalam RUU Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang ini.

Diantaranya ada asset sharing yang dicantumkan dalam Pasal 90 RUU ini memungkin untuk menutupi beberapa kendala yang dialami oleh para penegak hukum dan juga memberikan suatu dorongan bagi penegak hukum untuk bisa meningkatkan kinerjanya didalam rangka pemberantasan tindak pidana pencucian uang.

Yang kedua pembentukan satuan tugas gabungan penyelidikan tindak pidana pencucian uang sebagaimana disebutkan Pasal 82. Dalam praktek telah menunjukkan bahwa kerjasama antar penyelidik, penyidik dan penuntut umum sangat diperlukan guna meningkatkan efisiensi dan efektifitas penegakan hukum tindak pidana pencucian uang. Sama kerja penyidik dalam melakukan penyidikan masih harus menjalin kerjasama dan koordinasi yang erat berkaitan dengan pembuktian tindak pidana dengan pihak PPATK selaku penyelidik mengingat tindak pidana pencucian uang merupakan kejahatan yang berdimensi lintas sektoral, multi disipliner, berlapis dan mempunyai jaringan yang sangat luas dan rumit sehingga diperlukan bantuan lembaga atau badan lain yang berkompeten dalam mengungkapkannya.

Yang ketiga alat bukti yang sah Pasal 73, disamping alat bukti sesuai dengan ketentuan KUHP juga dicantumkan secara tegas alat bukti lain berupa informasi yang diucapkan dikirimkan diterima atau disimpan secara elektronik dengan alat optik atau yang serupa dengan itu dan dokumen sebagaimana telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Hal ini sangat membantu penyidik untuk membuktikan adanya tindak pidana pencucian uang untuk membawa tersangkanya ke proses penegakan hukum selanjutnya.

Yang keempat prinsip mengenali pengguna jasa Pasal 16 ayat (3) huruf c. Dalam Pasal 16 ayat (3) huruf c telah dimasukan mengenai transaksi keuangan mencurigakan yang terkait tindak pidana pencucian uang dan tindak pidana pendanaan kegiatan teroris. Dengan demikian telah mengacu kepada perkembangan konvensi hukum internasional yang telah diratifikasi oleh Pemerintah Indonesia dan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2006 Tentang Pengesahan International Convention for Present of The Financing of Terrorism, 1999.

Selanjutnya kami ingin menanggapi secara khusus substansi RUU Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Yang pertama, di dalam RUU ini tidak memberikan definisi atau batasan pengertian pencucian uang seperti yang terdapat didalam Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 Tentang Tindak Pidana Pencucian Uang sebagaimana dirubah dengan Undang-Undang Nomor 25 Tahun

(8)

2003. Apakah pengetian transaksi mencurigakan sama dengan definisi dari pencucian uang?

Kalau ini dianggap sama maka disarankan rumusannya menjadi pencucian uang adalah merupakan transaksi keuangan yang mencurigakan yang terdiri dari :

a. transaksi yang menyimpang dari profil karakteristik atau kebiasaan pola transaksi dari pengguna jasa yang bersangkutan;

b. transaksi oleh pengguna jasa patut diduga dilakukan oleh dan seterusnya pihak pelapor sesuai dengan ketentuan undang-undang; atau

c. transaksi yang dilakukan atau batal dilakukan berasal dari tindak pidana;

d. transaksi yang diminta oleh PPATK untuk dilaporkan.

Kalau toh itu memang dianggap tidak sama dengan definisi ini perlu dirumuskan kembali karena di dalam rumusan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 sebagaimana dirubah dengan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 itu disebutkan secara jelas tentang definisi dari pencucian uang.

Yang kedua, penyebutan istilah penyelidik penyelidikan bagi petugas dari PPATK yang diangkat Ketua PPATK, kami menilai tidak tepat, hal ini disebabkan karena terminologi penyelidik sebagaimana ditentukan dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang KUHP hanya digunakan terminologi penyelidik adalah setiap Pejabat Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia. Jadi setiap penyelidik adalah Anggota POLRI oleh karena itu setiap penyidik POLRI juga penyelidik. Namun tidak setiap penyelidik dengan sendirinya menjabat sebagai penyidik. Ada poin perbedaan prinsipil antara Anggota POLRI yang penyelidik dengan Anggota POLRI sebagai penyidik terkait dengan kewenangan dalam lembaga penyidikan POLRI. Ini tentu dengan KUHP sebagai hukum pidana formil yang sebagai induknya ini akan tidak sinkron dengan pengertian sebagaimana dimaksud didalam KUHP Pasal 4.

b. untuk PPNS tidak mengenal adanya penyelidikan. Oleh karena itu PPNS sebelum memasuki kegiatan penyidikan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang menjadi dasar hukum PPNS karena PPNS bertugas penggunaan istilah penelitian atau pengamatan dan tidak menggunakan istilah penyelidikan. Tetapi memang didalam KUHP disebutkan disitu ada ketentuan mengenai penyelidikan yang menjadi tugas daripada penyelidik dan juga sebagai tugas penyidik, kalau memang itu diurut dengan pengertian penyidik, didalam penyidikan ada istilah memang penyelidikan terlebih dahulu menentukan apakah perbuatan tersebut merupakan tindak pidana atau bukan.

c. rumusan yang terdapat Pasal 3 dan Pasal 4 RUU ini sangat sulit untuk dibedakan karena semua bersumber dari Pasal 2 ayat (1) RUU dan tujuannya adalah untuk menyembunyikan atau … sejumlah uang atau aset hasil tindak pidana yang membedakannya hanyalah ancaman sanksi pidananya. Ini disebutkan disitu pada Pasal 3 dan Pasal 4 dalam RUU memang secara rumusannya berbeda tetapi secara pembuktian nanti itu hampir sama karena disitu ada Pasal 3 ada perbuatan, langkah-langkah suatu jenis perbuatan tetapi tujuannya adalah untuk menyembunyikan, padahal disitu langkah-langkah perbuatan seperti menempatkan, mentransfer, mengalihkan, membelanjakan, membayarkan, menghibahkan, semua terangkum disitu termasuk disana adalah perbuatan lainnya untuk menampung perbuatan-perbuatan diluar yang telah dicantumkan disana. Tujuannya adalah untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta. Dan juga didalam Pasal 4 disebutkan, setiap orang yang menyembunyikan, tentu menyembunyikan ini dengan suatu perbuatan diantara keempat ini sehingga secara substansi Pasal 3 dan Pasal 4 ini sama termasuk juga nanti pembuktiannya unsur-unsurnya didalam pemenuhan tindak pidananya.

Kemudian Pasal 11 dalam RUU. Dalam hal PPATK, penyidik, penuntuk umum atau hakim dan seterusnya sebagaimana dimaksud Pasal 91 ayat (1) dan Pasal 93 ayat (1) dipidana dengan pidana dan seterusnya. Dengan perumusan suatu ketentuan perundang-undangan mengkriminilisasi suatu perbuatan yang rumusannya normanya dilarang atau diharuskan menunjuk kebelakang artinya disebutkan normanya itu dibelakang pak, adalah suatu hal yang tidak lazim dilakukan. Oleh karena itu rumusan normanya harusnya lebih dulu disebutkan diatur didepan baru kemudian kriminalisasi atau keharusan larangan disertai itu merujuknya kedepan.

(9)

Yang keempat, Pasal 19 ayat (2) RUU, pihak pelapor wajib menyimpan data dan dokumen dan seterusnya paling singkat 5 (lima) tahun. Bahwa penyimpanan catatan dan dokumen sangat penting dalam suatu pembuktian baik yang akan digunakan oleh seseorang, korporasi dalam perkara perdata dan atau perkara pidana, maka apabila penyedia jasa tidak dapat memberikan karena alasan hilang atau suatu hal dalang tenggang waktu belum lewat 5 (lima) tahun maka seharusnya perbuatan tersebut dikriminalisasi artinya diberikan suatu sanksi, apakah itu sanksi pidana atau sanksi administrasi disertai hukuman pidana penjara atau denda. Ini yang kami maksudkan bisa saja nanti karena kelalaian sehingga menyulitkan pembuktian pidananya pada semua tingkat pemeriksaan baik di penyidikan, penuntutan maupun di peradilan.

Yang kelima, perluasan pengertian pihak pelapor. Pihak pelapor yang wajib melaporkan transaksi keuangan yang mencurigakan menurut Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang hanya sebatas pada penyedia jasa keuangan. Pengertian penyedia jasa keuangan menurut Undang- Undang Tindak Pidana Pencucian Uang adalah setiap orang yang menyediakan jasa di bidang keuangan atau jasa lainnya yang terkait dengan keuangan termasuk tetapi tidak terbatas pada bank, lembaga pembiayaan, perusahaan efek, pengelola reksa dana, kustodian, wali amanat, lembaga penyimpanan dan penyelesaian, pedagang valuta asing, dana pensiun perusahaan asuransi dan kantor pos. Pengertian jasa keuangan diatas sudah cukup luas, namun dalam RUU, pengetian penyedia jasa keuangan diperluas lagi yang juga menyangkut profesi dan juga penyedia barang atau jasa tertentu yang secara rinci didalam Pasal 15 RUU Tindak Pidana Pencucian Uang.

Disana memang disebutkan secara luas termasuk profesi yaitu advokat, konsultan bidang keuangan, notaris, pejabat pembuat akta tanah dan akuntan. Sedangkan penyedia barang dan atau jasa lainnya adalah perusahaan properti, agen properti, dealer mobil, pedagang permata dan perhiasan/logam mulia, pedagang barang seni dan atik atau balai lelang. Dengan dimasukkannya lembaga profesi dan penyedia barang atau jasa tertentu sebagai pihak pelapor akan memberikan landasan hukum yang kuat, akan tetapi pihak pelapor memiliki sejumlah kewajiban yang harus dilaksanakan dan juga adanya pemberian sanksi bagi pelapor yang tidak melaksanakan kewajibannya. Jenis sanksi administrasi yang bisa dikenakan kepada pihak pelapor yang melakukan pelanggaran terhadap kewajibannya yaitu peringatan, teguran tertulis, pengumuman kepada publik denda administrasi dan rekomendasi pencabutan izin usaha Pasal 29 ayat (3), mengingat pihak pelapor akan diperluas dan dengan adanya kewajiban serta sanksi tersebut akan dikhawatirkan terjadi keresahan, kegiatan usaha pada bidang-bidang tersebut bisa menjadi lesu.

Ketentuan peraturan perundang-undangan tersebut tidak implementatif yang disebabkan oleh banyaknya pelanggaran, tidak ditaatinya aturan perundang-undangan dan sulit untuk ditegakkan.

Dikhawatirkan masyarakat banyak menyimpan dananya di luar negeri. Sehubungan dengan hal tersebut diatas, kami bukan tidak sependapat tetapi kami menyetujui, namun pemberlakuan perluasaan terhadap pihak pelapor bisa diberikan secara bertahap. Mungkin ya a, pihak jasa keuangan sudah berjalan diperluas lima tahun ke depan dengan pihak profesi. Setelah lima tahun berjalan tanpa ada hambatan diperluas lagi. jadi diberikannya secara bertahap.

Kemudian yang keenam, penyedia jasa keuangan melakukan penundaan terhadap transaksi keuangan, untuk melakukan deteksi awal terhadap transaksi keuangan yang mencurigakan. Pihak pelapor sangat penting dan sekaligus menempatkan pihak pelapor sebagai mitra yang strategis dalam penerapan peraturan perundang-undangan. Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang saat ini memungkin terjadinya pengalihan dana yang diduga berasal dari tindak pidana. Ketika penyedia jasa keuangan menemukan adanya transaksi yang mencurigakan dan melaporkannya kepada PPATK kemudian PPATK melakukan analisis terhadap transaksi yang mencurigakan tersebut. Proses analisis ini memakan waktu yang agak lama. Dan pada kesempatan tersebut bisa terjadi peluang bagi pemilik dana untuk mengalihkan harta kekayaannya. Oleh karena itu dalam Rancangan Undang-undang penyedia jasa keuangan diberikan kewenangan untuk menunda mutasi atau mengalihkan mutasi atau pengalihan asset apabila transaksi keuangan tersebut patut diduga menggunakan harta kekayaan hasil tindak pidana.

Mengingat dalam pasal 28 Rancangan Undang-undang Tindak Pidana Pencucian Uang pihak pelapor tidak dapat dituntut baik secara perdata maupun secara pidana. Maka dikhawatirkan

(10)

keweanngan tersebut dapat disalahgunakan atau dapat digunakan sewenang-wenang oleh penyedia jasa keuangan karena motif lain. oleh karena itu disarankan akan lebih baik apabila terjadi kesengajaan penyalahgunaan kewenangan yang dilakukan karena adanya motif yang lain karena dapat dituntut secara hukum karena pengunaan kewenangan oleh PJK harus dilaksanakan dengan penuh sehingga pengunaan kewenangan oleh penyedia jasa harus dilaksanakan dengan penuh kehati-hatian.

Yang ketujuh, pemblokiran. Dalam melaksanakan tugas penyelidkan dugaan adanya tindak pidana pencucian uang PPATK diberikan kewenangan untuk memblokir harta kekayaan yang diduga tindak pidana pencucian uang. Kewenangan pemblokiran oleh PPATK dilakukan jangka waktu paling lama 90 hari pasal 64 Rancangan Undang-undang. Sedangkan penyidik, penuntut umum atau hakim berwenang memerintahkan pihak pelapor untuk melakukan pemblokiran terhadap harta kekayaan yang diketahui atau patut diduga melakukan tindak pidana pasal 72 Rancangan Undang-undang paling lama 14 hari. padahal proses penyelidikan ini juga tidak kalah sulitnya untuk bisa membawa tersangka yang diduga pelaku ini ke dalam proses peradilan. Oleh karena itu waktu yang 14 hari itu kami rasakan kurang. Sehingga kalau ini tidak bisa di tambah waktunya sudah habis kemudian dialihkan ke lembaga-lembaga penyidik menjadi sasaran kedalam hukum.

Kemudian hitungan hari didalam RUU ada hitungan hari dan ada hari kerja. dan ini juga didalam praktek agak membingungkan dan mungkin ini digunakan istilah satu saja. hari ya cukup hari tidak usah hari kerja. kemudian yang kesembilan, kewenangan PPATK. Didalam Rancangan Undang-undang tindak pidana pencucian uang tugas dan ruang PPATK cukup ruang, diantaranya didalam pasal 39 disebutkan . “PPATK mempunyai tugas melakukan upaya pencegahan, b.

melakukan pengolaha datan dan informasi yang diperoleh PPATK. C. melakukan pengawasan terhadap kepatuhan pihak pelapor. D. melakukan analisis transaksi keuangan yang berindikasi tindak pidana pencucian uang atau tindak pidana lainnya. E. melakukan penyelidikan dugaan tindak pidana pencucian uang.

Sedangkan kewenangan PPATK didalam Rancangan Undang-undang TPPU diatur dalam pasal 40 sampai 44. dalam melakukan penyelidikan PPATK berwenang melakukan menghentikan sementara kegiatan transaksi atas harta kekayaan dan diketahui atau diduga melakukan tindak pidana. Menghentikan sementara transaksi atas beban rekening yang diketahui atau diduga untuk menampung hasil pencucian uang. Memblokir hasil kekayaan yang diduga berasal dari tindak pidana dan melakukan tindakan lain menurut hukum yang bertanggungjawab.

Kewenangan yang cukup luas, dalam pasal 40 sampai dengan 44 tentu harus dibagi dengan control pengawasan yang ketat. Prinsip cek and balances. Dari ketentuan pasal 44 keuangan PPATK untuk melakukan blokir dan menghentikan sementara transaksi atas harta kekayaan sudah merupakan kegiatan upaya paksa yang termasuk dalam ranah penyidikan.

Didalam Rancangan Undang-undang tersebut tidak diimbangi adanya sanksi yang berat yang dilakukan oleh pejabat atau pegawai PPATK, penyidiki, penuntut umum, hakim atau siapapun juga yang memperoleh dokumen atau keterangan yang wajib dirahasikan, kecuali untuk kewajiban menurut Undang-Undang. dalam Undang-Undang pencucian uang pasal 10 a dan pasal 17 a Undang-Undang nomor 25 tahun 2003, diatur sanksi hukum yang tegas bagi pejabat, pegawai PPATK, penyidik, penuntut umum dan hakim. Baik terhadap pelanggaran yang dilakukan karena kelalaiannya. Atau karena sengaja. Dalam Rancangan Undang-undang tindak pidana pencucian uang. Dalam hal ini memang sudah diatur dalam pasal 12. Namun tidak menyebutkan secara spesifik pejabat pegawai PPATK, penyidik penuntut umum atau hakim. Tetapi disebutkan setiap orang dan juga tidak diatur pelanggaran tersebut dilakukan tidak sengaja atau karena kelalaiannya.

Dan sanksi yang diatur berupa ancaman pidana, dengan pidana penjara paling singkat 1 tahun dan paling lama 3 tahun. ini ancaman pidananya menjadi lebih ringan.

Dari uraian diatas dari PPATK dari sisi kewenangan diatur lebih luas. Namun dari sisi pengawasan dan ancaman pidana penyalahgunaan kewenangan diperlonggar. Dengan kondisi tersebut manakala Rancangan Undang-undang ini disahkan menjadi Undang-Undang.

(11)

dikhawatirkan menjadi penyalahgunaan Undang-Undang. baik yang disengaja atau karena kelalaiannya. Beberapa hal yang mengandung kerawanan diantaranya :

a. Kewenangan PPATK yang cukup luas tanpa adanya control yang ketat dikhawatirkan akan terjadi penyalahgunaan kewenangan misalnya. PPATK hanya mengarahkan kepada penyelidikan pada kelompok tertentu atau golongan tertentu saja. atau profesi tertentu saja sehingga menimbulkan permasalahan siapa yang akan melakukan kontrol terhadap hal ini.

b. Dengan adanya sanksi yang longgar dan ancaman pidana yang lebih lunak dengan Undang-Undang pencucian uang yang berlaku sekarang, dikhawatirkan pihak-pihak tertentu bisa membocorkan ke media dengan alasan lalai, tercecer atau dicuri sehingga dapat menimbulkan polemik dan issue yang merugikan pihak-pihak terkait.

c. Kewenangan melakukan tindakan lain menurut hukum yang bertanggungjawab.

Kewenangan ini adalah kewenangan menyangkut diskrosioner yang dilakukan oleh Polri.

Nah memang didalam Undang-Undang nomor 2 tahun 2002 disebutkan disana. Dalam melaksanakan tugas-tugas polisionel demi kepentingan yang lebih besar yang harus diambil segara tanpa harus meminta ijin dari atasannya atau yang berwenang. Oleh karena itu tindakan lain yang akan dilakukan oleh penyelidik PPATK dalam hal ini dibisa disalahgunakan untuk kepentingan-kepentingan tertentu yang dapat merugikan pihak yang lain. dan tentu kalau hal itu terjadi tidak dapat dituntut secara perdata atau pidana. Oleh karena itu disarankan ketentuan dalam pasal 10 a, dan pasal 17 a, Undang-Undang tindak pidana pencucian uang artinya Undang-Undang nomor 25 tahun 2003 untuk dapat dipakai dalam Rancangan Undang-undang. kewenangan PPATK yang mengadakan tindakan lain menurut hukum dan bertanggungjawab kewenangan diskresi hendaknya dicabut karena bisa disalahgunakan secara lebih luas. Ketentuan mengenai pengawasan tugas kewenangan PPATK dimasukkan dalam Rancangan Undang-undang ini.

Yang kesepuluh, pasal 44 huruf d Rancangan Undang-undang TPPU meminta instansi berwenang untuk melakukan penyelaan informasi dan seterusnya dalam rangka melakukan tindakan penyelidikan proyustisia. Dalam hukum pidana formil belum ada satu tindakan proyustisia dalam satu proses penyelidikan. Tindakan proyustisia baru dikenal atau ditetapkan sejak penyidik mulai melakukan penyidikan atau penyidik boleh melakukan satu tindakan yang proyustisia apabila perintah itu diberikan oleh penyidik kepada penyelidik. Untuk melakukan satu tindakan. Oleh karena itu disarankan kata proyustisia dihilangkan. Dalam pasal 44 huruf b. karena akan membuat bisa pengertian yang sudah baku ditentukan didalam KUHAP. Pasal yang ke 11.

Terkait dengan ketentuan pasal 44 huruf Indonesia, Rancangan Undang-undang Tindak pidana pencucian uang meneruskan hasil penyelidikan kepada penyidik. Ditambahkan pengaturan dalam rumusan pasal 44 huruf I ini. penyelidik dalam menyampaikan hasil penyelidikan kepada penyidik tindak pidana asal segera menerima membuat laporan dan diperiksa sebagai saksi pelapor. Ini peran PPATK sebagai penyelidik karena sudah mengetahui itu sudah ada indikasi tindak pidana sekaligus penyelidik itu sebagai pelapor kasus yang akan dilanjutkan ke penyelidikan.

Dalam pasal 15 Rancangan Undang-undang hanya mengatur pihak pelapor yang menyampaikan laporannya kepada PPATK yang kemudian laporannya tersebut dikembangkan kepada PPATK dalam kegiatan penyelidikan. Tentunya pelapor dalam kaitannya dengan untuk pengembangan penyelidikan pelapor dalam kaitannya perkembangan proyustisia berbeda. Oleh karena itu PPATK harus menjadi pelapor dalam kaitannya untuk melakukan proses penyidikan.

Kemudian ada tambahan lain yang tadi belum masuk kedalam naskah. Kita sering menerima LAH yang diduga ada transaksi yang mencurigakan. Dimana yang terlibat adalah anggota TNI. Nah ini tentu kita tidak bisa melakukan penyidikan karena ini bukan merupakan kewenangan kita. Nah barangkali juga dalam Rancangan Undang-undang perlu dijelaskan ini, perlu diatur bagaimana kalau misalnya didalam LAH ini bukan anggota TNI.

Ini saja yang perlu kami sampaikan beberapa hal dari Polri dan mudah-mudahan ini dapat memberikan satu masukan yang berarti.

Terima kasih

(12)

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh KETUA RAPAT :

Bapak Marwan Hadi mewakili Jaksa Agung. Kebetulan ini yang agak terlambat ini Pak belum kami sampaikan, Pak Achsanul Qosasih dari Komisi XI, Bapak Andi Rahmat dari Fraksi Partai Demokrat yang juga Komisi XI. Ini anggota parlemen yang cukup terkenal dari Hanura Saudara Syarifudin Sudding yang terhormat. Silahkan lanjutkan Pak.

Dari meja pimpinan ada juga yang terlambat datang walaupun sudah absen dari pagi yaitu Pak Edi Betaubun sebagai wakil pimpinan pansus. Terima kasih, lanjutkan Pak.

KEJAKSAAN AGUNG :

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh Pimpinan anggota pansus yang terhormat,

Perkenankanlah kami ingin memberikan pokok pikiran terhadap pembahasan Rancangan Undang-undang tentang tindak pidana pencucian uang perubahan dari Undang-Undang nomor 15 dan 25. kami memang sependapat dengan teman-teman dari Polri. Memang pada prinsipnya Undang-Undang ini banyak mengalami kemajuan yang cukup berarti apabila dibandingkan dengan Undang-Undang yang cukup lama. Dan kami juga ingin menyampaikan sebenarnya, memang didalam praktek kita selama ini selalu mengalami kesulitan didalam melakukan penegakan hukum terhadap tindak pidana pencucian uang ini.

Tadi teman-teman dari Mabes Polri telah menyampaikan dan menyarankan bahwa Undang-Undang ini harus memperhatikan beberapa hal, misalnya harus memiliki jangkauan yang jauh. kemudian kedepan tidak terjadi unbofitas. Saya juga menyarankan bahwa kedepan ini Undang-Undang bila di undangkan, Undang-Undang yang baru ini harus memperhatikan beberapa filosofi pembuatan Undang-Undang. bagi kita aparat penegak hukum ini sangat penting. jangan sampai seperti beberapa yang lalu baru satu tahun Undang-Undang nomor 15 itu sudah diganti lagi dengan Undang-Undang yang baru, Undang-Undang 25. Ternyata Undang-Undang 25 juga belum bisa mengakomodir beberapa hal yang dirasakan berkembang setelah itu.

Filosofi yang saya maksudkan itu yang pertama adalah yuskonstitutu bahwa Undang- Undang itu seharusnya begitu diundangkan dapat menyelesaikan persoalan-persoalan yang muncul pada saat itu, itu yang pertama.

Yang kedua, Undang-Undang itu harus memperhatikan juga filosofi konstituentum artinya begitu diundangkan itu mempunyai jangakauan yang lama, panjang. Karena kalau kita selalu merubah setiap tahun Undang-Undang saya kira cukup membebankan juga kepada pendapatan negara. karena disana ada cost yang dibebankan. Yang paling penting bagi kita sebenarnya tenaga hukum, adalah filosofi yang terkait dengan yusaparatumnya sendiri. itulah masalahnya.

INTERUPSI F-PDIP (IR. DOFIE OFP) :

Pimpinan, interupsi. Ini bahannya apakah tidak bisa disampaikan atau KEJAGUNG :

Ya nanti kita sambil menyusul Pak. mohon maaf jadi saya baru diberitahu tadi malam karena undangannya baru sampai juga tadi malam.

KETUA RAPAT :

Undangannya sudah dikirim minggu yang lalu, oh undangannya baru terima tadi malam.

(13)

KEJAKSAAN AGUNG :

Kalau kepada saya baru sampai tadi malam Pak.

KETUA RAPAT :

Ya nanti mohon untuk disampaikan kepada kita untuk kita perbanyak.

KEJAKSAAN AGUNG :

Ya nanti akan kita susulkan Pak, nanti berapa pun akan kita sampaikan. saya juga kaget ada undangan ini, tapi kok undangannya tidak ada. nah jadi baru tadi pagi saya kontak kepada Biro hukum untuk mendapatkan undangannya. Jadi baru sampai kepada kami tadi pagi. Jadi sekali lagi mohon maaf ya, nanti akan kami sampaikan menyusul tertulis.

Saya lanjutkan Pak, memperhatikan beberapa klausul-klausul yang ada di dalam Undang- Undang ini, Rancangan Undang-undang ini kami ingin menyampaikan beberapa yang mungkin nanti akan berguna di dalam pembahasan selanjutnya. Saya kira secara lengkap tadi sudah disampaikan oleh teman-teman Mabes Polri. Ada beberapa hal yang kami utamakan mengingat waktu juga sangat cepat karena sampai jam 12 ya Pak, dan BIN Juga belum diskusi.

Yang pertama mengenai pengertian penyelidikan ya Pak. memang di Indonesia di hukum acara kita dikenal ada istilah penyelidikan, penyidikan, penuntutan. Tetapi di berbagai negara yang memiliki institusi PPATK juga seperti kita. Itu disana tidak dikenal dengan istilah penyelidikan dalam produk legislasinya. Yang dikenal itu adalah istilah FIU (financial Institusional Unit). Jadi tugasnya itu sebenarnya hanya memonitoring. Sebab kalau penyelidikan lebih luas lagi. nah jangan sampai nantinya kita akan memasukkan satu pasal yang memperluas kewenangan dari PPATK tapi tidak memperhatikan asas-asas yang berlaku di berbagai negara itu tentang pengertian FIU (financial institusional Unit) memonitoring tentang transaksi yang mencurigakan itu.

jadi bukan penyelidikan tugasnya. Penyelidikan itu benar seperti dari teman-teman Mabes Polri.

Tugasnya sudah ada itu, tugasnya dari penyidik. Nah kita juga rancu dalam masalah Hak Asasi Manusia. Komnas Hak Asasi Manusia itu mempunyai kewenangan didalam penyelidikan. Tapi tidak punya kewenangan penyidik. Akhirnya akan terjadi persoalan-persoalan, polemik yang panjang. Dari hasil penyelidikannya itu. ini yang penting yang pertama itu, kami baca di ketentuan umum butir 5 pasal 44 dan juga pasal 39 b. nanti mohon dikaji lebih lanjut. Apakah sudah tepat atau tidak.

Yang kedua, ini terkait dengan pasal 84, mengenai pembalikan beban pembuktian. Disini dinyatakan untuk kepentingan pemeriksaan sidang pengadilan terdakwa wajib membuktikan bahwa harta kekayaan bukan merupakan tindak pidana. Beberapa Undang-undang memang sudah mengatur hal yang demikian itu temuan korupsi, tindak pidana korupsi. Nah saya ingin sampaikan bahwa di Indonesia ini kita memiliki standar ganda didalam menerapkan istilah pembalikan beban pembuktian ini. Kalau dalam istilah dalam bahasa Belanda itu enchoring van deweslas. Tapi dengan perkembangan yang belakangan ini dibagi menjadi dua, dalam bahasa Inggris yang pertama, sitting badhel of road dan yang satu lagi refresh badhel of road. Nah ini ada perbedaan yang sangat mendasar sekali dari kedua. Nanti akan saya sampaikan tulisan saya Pak mengenai hal ini dan kebetulan saya diminta beberapa kali menulis tentang pembuktian ini.

Mungkin nanti mudah-mudahan berempat bagi kita. Nah saya ingin menjelaskan kalau menyangkut sitting badhen of road itu. Disini ada namanya beban pembuktian yang tidak murni, seimbang. Itu yang dianut oleh Undang-undang korupsi kita di beberapa pasal nya. Jadi tidak sama dengan yang namanya refresh badhen of road, kalau refresh badhen of road ini, ini pembuktian yang murni. Nah ini juga dianut di dalam Undang-undang 30 tahun 2002.

Ini lucunya kita ini. Di Undang-undang korupsi menganut sistem pembalikan, bukti terbalik yang sitting badhen of road. Tetapi di Undang-undang 30 tahun 2002 menganut sistem pembalikan beban pembuktian yang merefresh badhen of road. Ini bedanya ini. Sebenarnya kita menggunakan kedua-duanya juga tidak masalah, salah satu juga tidak masalah. Tetapi yang harus diperhatikan

(14)

sekarang bahwa ada beberapa konfrensi-konfrensi internasional yang juga pernah kita ratifikasi.

Jangan sampai nanti kita menerapkan ini secara murni misalnya nanti akan bertentangan dengan beberapa konfrensi-konfrensi internasional yang sudah kita ratifikasi melalui Undang-undang juga yang merupakan produk legislasi juga. Di berbagai negara menganut memang sistem pembebanan bukti terbalik yang sitting badhen of road itu yang tidak murni itu yang seimbang. Tapi di berbagai negara juga ada seperti Malyasia yang murni yang refresh badhen of road itu. Saya hanya ingin menyampaikan saja ada beberapa konfrensi internasional yang mengatur hal ini, supaya nanti kita tidak salah di dalam mengambil satu sistem hukum diterapkan dalam satu produk politik kita. Yang pertama tercantum dalam humman right action 1988, atau dalam the eroupan convention on humman right. Pasal 6 ayat 2 yang berbunyi sebagai berikut ini terjemahannya saja

“setiap orang yang dituntut dengan pelanggaran pidana akan disangka bersalah sampai dibuktikan kesalahannya menurut hukum”. Pengakuan atas persumtion of dinartion, praduga tidak bersalah ini juga diatur didalam pasal 14 ayat 3 huruf G internasional governant of civil and political right , dan yang sudah diratifikasi berdasarkan Undang-undang nomor 12 tahun 2005 tentang pengesahan internasional govermant of civil of political right ini.

Disana dinyatakan “dalam penentuan tuduhan pelanggaran pidana terhadapnya setiap orang berhak untuk tidak di posisikan atau dipaksa memberikan kesaksian terhadap diri sendiri atau mengaku bersalah” ini yang perlu dicatat nantinya, saya kira sebagai pertimbangan saja nantinya atau untuk bahan diskusi selanjutnya. Memang berbagai pakar menganggap kalau itu diterapkan secara murni itu merupakan suatu pelanggaran HAM. Oleh karena itu dari dulu sejak Undang-undang kita sebelumnya bahkan itu menganut sistem yang tidak murni itu. Sitting baden of road itu. Jadi ada pembuktian seimbang, jadi ada pembebaban seimbang, jadi terdakwa dapat membuktikan harta kekayaan yang disita itu bukan asal kejahatan tapi penuntut umum juga dipersidangan bisa. Yang refersh baden of road itu, itu sudah diterapkan oleh Indonesia itu sejak tahun 2003 dengan berlakunya Undang-undang 2 A tahun 2002 muncul di KPK. Itu ada yang namanya laporan harta kekayaan para penyelenggara negara. Jadi masih sifat terbatas. Dan juga didalam laporan tentang gratifikasi. Nah ini yang sekarang ini nampaknya kalau saya mengamati nampaknya belum menunjukkan hasil-hasil yang memuaskan di dalam upaya kita mencegah korupsi. Sebagai alasan saya mengungkapkan seperti itu karena setiap tahun angka-angka ini data-data secara kuantitatif korupsi itu bertambah. Bahkan tenaganya cukup signifikan, kalau pada tahun 2006,2007 itu hanya berkisar 500, 600 perkara. Pada tahun 2008-2009 itu naik 2 kali lipat.

Saya tidak tahu pada tahun 2010 ini juga karena ada Inpres nomor 1 tahun 2010 yang mengharuskan kejaksaan itu menangani 1845 perkara ini naik lagi. Saya belum tahu apakah nanti KPK juga naik, teman-teman di Kepolisian juga naik penyidikannya. Jadi nampaknya upaya-upaya penerapan refresh baden ini belum membuahkan hasil sampai sekarang.

Dan penerapan pasal ini sebenarnya memang merupakan pergeseran dari azas praduga tak bersalah presumtion of innocent menjadi presumtion of money laundiring, kalau di korupsi itu presumtion of coruption. Jadi ini ada pergeseran kalau dianukan, jadi ada pergeseran terhadap praduga tak bersalah. Jadi kalau di korupsi itu sebenarnya mengacu azas praduga tidak bersalah dihormati, kemudian di dalam dengan masuknya sitting badhen of road ini maka bergeser menjadi presumtion of corupption. Kalau ini dimasukkan juga dalam Undang-undang pencucian uang maka akan berubah juga dia menjadi presumtion money laundring.

Bapak-bapak dan Ibu-ibu Pansus yang saya hormati,

Selain dari itu juga kami ingin menyampaikan, di dalam pasal 88, saya kira itu nanti akan diakomodir pansus dan kemudian sampai di undangkan. Seyogyanya nanti dimasukkan juga terhadap harta benda yang belum dapat disita atau dirampas pengadilan pada saat persidangan dan keputusan itu mempunyai kekuatan yang tetap. Itu masih dapat dilakukan sita eksekusi oleh eksekutor. Nah pentingnya ini untuk penuntut umum, karena di berbagai negara ini banyak badan- badan perampasan asset. Nah dikita kan tidak ada itu, di Amerika kalau di curigai asset itu tapi khusus untuk narkotik ya, dicurigai itu merupakan hasil dari pencurian. Maka perampasan asset itu bisa menyita. Kemudian kalau pihak-pihak yang merasa memiliki harta itu keberatan maka mereka menggunakan instrument, juga sumber data untuk mengajukan keberatannya ke pengadilan dengan mengajukan bukti-bukti yang cukup. Tapi apabila dapat mengajukan bukti yang cukup

(15)

tentang asal usul maka itu menjadi kekayaan negara, yang dirampas oleh negara diserahkan oleh negara. Nah ini kami inginkan terkait dengan terpidana yang kebetulan pada proses persidangan kita belum menemukan sebagian besar dari harta benda yang kita duga berasal dari pencucian uang itu. Maka putusan pengadilan bebuat hukum tetap itu dapat mengikuti seterusnya, sehingga Jaksa pelaksana eksekutor itu dapat melakukan sita eksekusi dan harta itu dirampas oleh negara, begitu. ini salah satu upaya nantinya pencegahan dan apa namanya putusan itu dapat memberikan efek jera. Kalau tidak nantinya usul di putus, dia hanya mengajukan seperempat bagian dari kekayaannya selesai di putus, harta yang lain bisa dia gunakan seenaknya untuk kepentingan-kepentingan pribadinya. Tapi kalau putusan tetap mengikuti dia juga tidak bisa menggunakan seenaknya harta benda yang dia peroleh dari hasil kejahatan dia itu. Itu pasal 88 Pak, mungkin nanti dapat dimasukan dalam penjelasan nantinya atau batang tubuhnya nantinya.

Kemudian yang keempat pasal 83. Beberapa waktu lalu di dalam pembahasan Undang- undang pengadilan Tipikor menyangkut eksistensi penuntut umum ini juga menjadi persoalan menjadi polemik Pak, panjang. Dan pasal 83 ini juga kayaknya tidak ada penjelasan secara spesifik penuntut umum yang mana ini. Sebab penuntut umum itu satu, sebab Undang-undang Kejaksaan itu sudah menyatakan dalam pasal, kejaksaan ada satu tidak terpisahkan, in at other ban. Nah seharusnya juga disini dinyatakan secara jelas, atau juga di dalam penjelasannya jangan nanti itu di penjelasannya dikatakan cukup jelas, tapi kita semakin tidak jelas, klausul-klausul yang ada di dalam pasal itu. Jadi memang penjelasan-penjelasan yang menjelaskan pengertian- pengertian atau penafsiran yang secara yuridis tentang kekurangan dari isi pasal-pasal yang dimaksud.

Jadi kami ingin minta ditambahkan nantinya kalau toh ini berkenana, ditambahkan bahwa jaksa penuntut umum yang dimaksudkan dalam pasal 83 itu adalah penuntut umum sebagaimana diatur dalam Undang-undang nomor 16 tahun 2004 tentang Kejaksaan. Sebab penuntut umum yang ada di KPK itu adalah penuntut umum kejaksaan. Jadi tidak ada lagi penutut umum lain.

Kemudian yang kelima, pasal 76 mendukung nih pendapat umum dari Mabes Polri tadi, terkait pasal 72 ayat 3 yang 14 hari itu. Kami mau ditegaskan saja secara mekanisme 60 hari. Ya sama seperti pasal 64 ayat 3, jangan satunya 14 hari yang satu 90 hari. Jadi tentang penanganan harta kekayaan itu, jadi pemblokiran itu nyatakan saja 90 hari, karena penyidikan itu sebenarnya 120 hari kalau dia ditahan. Tapi kalau tidak ditahan lebih lama lagi. Kenapa saya katakan 120 hari, karena penahanan-penahanan tingkat penyidikan 20 hari, perpanjang penuntut umum 40 hari, kalau penyidik masih merasa belum bisa menyelesaikan penyidikannya dapat menggunakan pasal 29 KUHAP, minta perpanjangan pengadilan 30 hari sebanyak 2 kali jadi 120 hari. Jadi sebaiknya ini 90 hari dengan pertimbangan 20, 40 plus 30 perpanjangan pengadilan.

Saya kira itu Pak yang bisa kami sampaikan sementara, nanti tertulisnya akan kami sampaikan menyusul Pak, secepatnya. Dan sekali lagi kami mohon maaf dengan ketidaksiapan kami karena undangannya baru kami terima pagi hari tadi. Yang perlu kami sampaikan yang terakhir sebagai ilustrasi saja Pak. kenapa kami sangat mengapresiasi Undang-undang ini.

Pertama terhadap kewenangan yang diberikan terhadap penyidik, penyidik terkait. Karena dasar data yang kami terima dari Kabag Panil di Pidsus ya? Pada tahun 2008-2010 kita menerima 114 surat dari PPATK laporan-laporan. Yang bisa kita teruskan ke teman-teman Mabes Polri itu 10, setelah kita analisa kaji itu hanya 10. dan diteruskan ke Kejati itu 19 karena mungkin ada indiksi korupsinya. Diteruskan ke Kejati 4, dalam proses penyelidikan 1, proses penuntutan 1, dan baru penyelidikan 18, 62 itu Pak kita masih meragukan ini indikasi pidana atau tidak. Ini yang kita soalkan. Dengan perkembangan baru, ada beberapa baru substansi dari Undang-undang ini, kita ingin nantinya PPATK ini menyampaikan laporannya itu. Sudah betul-betul bernilai pembuktian, Ketua PPATK sudah menyampaikan saya kirim ke Presiden sekian, bagaimana tindak lanjutnya.

Ternyata laporannya itu kalau kita kaji dari aspek pembuktian itu belum ada indikasi-indikasi pidananya. Jadi ini juga penting jangan sampai masyarakat disesatkan dengan pernyataan- pernyataan yang sebenarnya hanya ingin informasi disitu, nah ini juga menyudutkan di Kejaksaan maupun di Kepolisian karena memang kewenangan terhadap tindak pidana pencucian berada pada teman-teman di Mabes Polri.

(16)

Saya kira itu yang dapat kami sampaikan Pimpinan, lebih kurang kami mohon maaf. Nanti dapat ditanyakan.

Assalamu'alaikum Warahmatulahi Wabarakatuh KETUA RAPAT :

Baik terima kasih, sekali kami mengingatkan Pak nanti tolong dibuat tertulis karena itu merupakan dokumentasi buat kita semua. Selanjutnya kepada BIN diwakili oleh, oh sudah ada. Ya boleh-boleh. Dari pihak BIN kami persilahkan Pak. ini kami perkenalkan juga baru masuk ini Pak Didi Irawadi Syamsuddin dari fraksi Partai Demokrat. Silahkan Pak.

KETUA BIN :

Assalamu'alaikum Warahmatulahi Wabarakatuh Terima kasih,

Bapak Pimpinan Sidang,

Kami dari Badan Inteligen Negara sepertinya sudah banyak yang disampaikan oleh rekan- rekan Polri dan Kejaksaan. Badan Inteligen Negara sifatnya hanya memberikan masukan saja untuk yang beberapa hal yang kami pandangan perlu untuk RUU ini. Pada dasarnya BIN mendukung adanya amandemen atau perubahan Undang-undang TPPU ini agar sesuai dengan dinamika yang ada. Namun demikian ada beberapa hal dalam RUU ini yang perlu dipertimbangkan. Yang pertama mengenai kewenangan di PPATK. Sejauh ini kami melihat secara fakta di lapangan bahwa untuk kepentingan-kepentingan asing dalam hal ini perwakilan-perwakilan asing. Apakah ini di Kedutaan, apakah itu lembaga asing. Itu transaksi keuangannya masih belum terawasi dengan baik. Apakah ini sudah tercover kewenangan PPATK.

Sedikit saya gambarkan bahwa ada kekebalan diplomat yang tentunya untuk kepentingan negara yang lebih luas ini juga harus dilakukan Pak. karena penyaluran dana lembaga yang dibawa oleh lembaga atau instusi asing itu, itu tidak terawasi dengan baik. Selama ini ada indikasi seperti itu dan kiranya Bapak-bapak di DPR ini kiranya dapat membatasi dalam hal itu.

Yang kedua, dalam melaksanakan tugasnya PPATK apakah tidak nanti ada lembaga pengawas eksternal yang independent agar itu tercapai ada pengawasan yang lebih efektif.

Kemudian itu adalah kewenangan PPATK jangan sampai nanti ada tumpang tindih dengan instansi lain. Misalnya dalam pasal 40 ayat D. seyogyanya dalam melaksanakan kewenangannya itu tidak mengkordinasikan Pak, mungkin bisa dirubah “dapat berkoordinasi”, karena mengkoordinasikan itu nanti ada kewenangan-kewenangan yang tumpang tindih.

Kemudian istilah atau kata-kata yang tertera dalam pasal 44 ayat C, yaitu mengadakan tindakah hukum yang bertanggungjawab. Hal ini tidakkah akan menjadi kalimat yang multitafsir yang di kemudian hari itu bisa menjadi hal-hal yang kewenangan-kewenangan yang sifatnya terbatas. Demikian sedikit masukan dari Badan Inteligen Negara dan tidak banyak yang disampaikan dalam hal mengenai tindak pidana.

Terima kasih.

Wassalamu'alaikum Warahmatulahi Wabarakatuh KETUA RAPAT :

Ya benar-benar mewakili badan inteligen karena sedikit informasi tapi padat .saya pikir sudah bisa masuk di pendalaman ya, sudah disampaikan semuanya dari narasumber dari Polri, dari Kejaksaan Agung, dari BIN. Baiklah kami untuk pendalaman.

(17)

INTERUPSI WAKIL KETUA (H. IRSAL YUNUS, SE, MM.) : Interupsi sedikit Pak, sedikit Ketua.

Bapak-bapak dari Polri, Kejaksaan Agung dan BIN.

Harapan kami kalau bisa untuk menghadiri RDP atau apapun namanya, kalau bisa bahan diberikan dua hari sebelumnya. Karena walaupun Bapak berikan hari ini terutama dari Polri, apa yang bisa kami olah. Sementara kedatangan Bapak disini sangat kami harapkan untuk menyempurnakan RUU. Dan Bapak sendiri sangat terbatas untuk melakukan kewajiban yang lain, jadi kalau bahan ini kami dapat dua hari sebelumnya. Pertanyaanya akan lebih efektif, akan lebih mendalam. Seperti kami memberikan RUU kepada Bapak untuk dipelajari sementara Bapak memberikan tanggapan yang sementara kami tidak dapat mempelajari tanggapan yang Bapak berikan. Mungkin kedepannya kalau ada pendalaman yang kami harapkan dari Polri terutama dan Kejaksaan Agung agar dapat memberikan bahan dua hari sebelumnya.

Terima kasih Pak.

KETUA RAPAT :

Baik, saya pikir itu tepat sekali ya yang disampaikan memang ini akan menjadi dokumentasi negara juga. Dokumentasi DPR Ini juga kan akan menjadi dokumentasi sejarah lahirnya undang-undang. Jadi pendapat dari Bapak dan pendalaman dari kita supaya efektif memang sebaiknya seperti yang disampaikan. Ada yang mau disampaikan Pak? Sebelum kita masuk. Ya?

Kami dengarnya sudah lama ya? Baik Bapak. nanti kita dalam rapat-rapat Panja juga bisa ketemu lagi Pak, apabila Beliau ini diperlukan oleh para anggota Pansus dalam rapat Panja dengan Menkum HAM dan jajarannya. Kami juga minta Bapak-bapak lagi apabila diperlukan.

F-PD (DIDI IRAWADI SYAMSUDDIN, SH, LLM.) :

Pak Pimpinan, sedikit. Ini menyangkut surat undangan yang mendadak ini tolong rekan dari administrasi ini dirapikan. Mereka ingin memberikan informasi tapi undangan baru pagi hari dan tadi kita dengar jadi tidak salah juga dari tamu-tamu kita ini. Jadi mohon di benahi supya tidak terjadi lagi.

KETUA RAPAT :

Baik, saya juga terkejut Pak. Sebenarnya informasi atau undangan ini sudah dari minggu lalu dibicarakan dengan saya, ya ini pada Sekretariat mohon tidak terjadi lagi undangan. Saya dengarnya dari minggu lalu Pak, tapi ternyata Bapak punya bukti otentik tanggal 11. Ok. Nanti akan kita perbaiki, tolong Sekretariat jangan diulangi lagi.

INTERUPSI WAKIL KETUA (H. IRSAL YUNUS, SE, MM.) :

Ini Tatib juga, Sekjen saya sudah ingatkan juga untuk membaca tatib 249, 250. yaitu undangannya itu supaya disampaikan itu 10 hari sebelumnya dan dua hari sebelumnya kami sudah mendapatkan bahan untuk kami pelajari. Tatib 249, 250.

Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Ya mudah-mudahan sih time erorr sih Pak, karena kami sudah bicarakan dari minggu yang lalu. Ya sudah kita tidak usah perdebatkan ini yang penting substansinya sudah masuk. Kita mulai dari sebelelah kira Pak, karena dari sebelah kiri yang paling banyak. Nanti kita muter,

(18)

beberapa anggota sudah kelar mudah-mudahan dia kembali lagi. Kita tidak usah daftar langsung saja deh Pak. Dari Pak Nurdin, muter langsung Pak ya.

Kita persilahkan, untuk efektif mungkin sekitar 3 menit, paling-paling 5 menit. Jawabnya sekaliguskan saja ya Pak. jadi kita masukkan dahulu pertanyaan, pendalaman nanti apakah bapak dapat mengkategorikan ini kira-kira mana, bagaimana. Silahkan Pak yang terhormat Bapak Nurdin.

F-PDIP (DRS. M. NURDIN, MM.) : Terima kasih Pimpinan,

Pimpinan dan rekan-rekan anggota pansus yang saya hormati,

Bapak-bapak dari narasumber Polri, Kejaksaan Agung yang saya hormati, Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Pertama-tama saya mengucapkan terima kasih atas masukan yang diberikan, sehingga mendapatkan wawasan bagi kami dalam rangka penyempurnaan RUU ini. Ada beberapa hal yang tadi kita lihat bahwa kaitannya dengan uu ini terlihat akan adanya suatu penambahan kewenangan oleh PPATK. Nah ini dikritisi dari Polri, maupun dari Bapak-bapak dari Kejaksaan. Bahwa sejauhmana pemberian tambahan kewenangan kepada PPATK ini yang saat ini kan terbatas pada pusat pelaporan yang agak pasif. Satu keinginan PPATK. Saat ini kan terbatas pada pusat pelaporan, itu agak pasif. Satu keinginan PPATK kelihatannya dilihat dari penjelasan mereka ada keinginan yang lebih sehingga memudahkan mereka instansi itu untuk melaksanakan kewenangannya. Misalnya terkait dengan penyelidikan ataupun terkait dengan pemblokiran. Tapi tadi ada beberapa pandangan yang didasarkan bahwa ini juga sangat convertable dengan kewenangan-kewenangan yang sudah ada.

Kemudian mengenai materi, saya kira dalam kaitan ini saya juga ingin mendapatkan masukan dari Bapak-bapak sekalian. Dalam kaitan masalah interpendensi PPATK, itu sebaiknya berada dimana, apakah langsung berada di Presiden, ataukah berada di BPK atau dibawah yang sebaiknya. Karena sehingga tidak terlalu banyak lagi organisasi-organisasi tambahan yang membebani APBN. Atau bisa seperti sekarang independent dibawah presiden tetapi dengan kewenangan yang terbatas. Dia sebagai pelapor transaksi keuangan, khususnya yang mencurigakan.

Kemudian kami juga sepakat Pak, dalam kaitan hal ini, intern maupun ekstern perlu adanya pengawasan yang kuat. Sehingga bila ada yang membocorkan, dalam tanda petik misalnya yang menjelaskan aliran keuangan tertentu kepada seseorang, atau kepada yang tidak berhak itu kena sanksi. Jadi saya sepakat pak untuk memberikan semacam sanksi kepada yang internal ataupun yang eksternal. Tapi yang eksternal itu siapa, harus kita berikan. Yang mempunyai kewenangan untuk mengawasi laporan-laporan keuangan dari PPATK. Seperti tadi dari Pak Kejaksaan merangkap Jampidsus dari sekian laporan, misalnya 62 laporan itu tidak ada unsurnya. Kan harus ada tanggungjawab menurut saya dari PPATK sendiri harus hati-hati kalau ada sanksi pada mereka-mereka. Termasuk yang sering muncul rumors misalnya. Bagaimana ada aliran yang muncul atau ada aliran yang mencurigkan di departemen ini dan departemen ini kalau bukan dari lembaga yang berwenang untuk itu. Ini juga pengawasan yang berkaitan dengan pembocoran-pembocoran informasi mengenai aliran penyaluran keuangan itu juga perlu diawasi.

Pada waktu dengan Menkopolhukam saya juga pernah mengatakan bahwa bagaimana pengawasan mengenai dana pendanaan dilakukan oleh teroris. Karena itu mungkin terkait dengan masalah BIN, yang mungkin bagaimana mencapai misalnya aliran dari negara asing ataupun dari orang asing yang mengalir pada masyarakat kita, terkait yang baik ataupun tidak baik. Itu kan perlu. Kita ketahui bahwa banyak dana-dana dari negara asing yang juga dilakukan dengan baik misalnya sumbangan-sumbangan pada lembaga keagamaan ataupun yang lain saya kira itu juga perlu diawasi. Bagaimana pengawasan ini di transaksi keuangan.

(19)

Saya kira yang lain dari pasal-pasal yang dikritisi saya ucapkan terima kasih. Ini akan kita masukkan kedalam DIM-DIM kami yang akan dibahas dengan pemerintah. Ini sejauhmana keberatan-keberatan yang ditemui dilapangan saya tahu Kepolisian, Kejaksaan Agung ini merupakan pelaksana-pelaksana lapangan yang juga akan menindaklanjuti akan meneruskan apa yang akan dihasilkan oleh PPATK. Jadi itu mungkin tambahan penjelasan Pak mengenai interpendensi PPATK sampai dimana. Kemudian itu tadi pasal-pasal, saya pikir menjadi bahan DIM kami yang keberatan-keberatan masalah penyidikan, penyelidikan. Karena keinginan PPATK kemarin itu ingin menambah kewenangan termasuk untuk pemblokiran dan sebagainya. Nah ini mungkin baik dimana jalan keluarnya sehingga tidak rancu dengan peraturan-peraturan yang sudah ada.

Saya kira itu, terima kasih Pimpinan.

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

KETUA RAPAT :

Lanjut Pak Dolfie, silakan.

F-PDIP (IR. DOLFIE OFP) : Terima kasih Pimpinan.

Yang terhormat Kejaksaan, Kepolisian, dan BIN.

Terima kasih telah menyampaikan paparannya. Ada beberapa yang ingin saya mendapatkan tambahan klarifikasi Pak. Dari Kepolisian pertama Pak, kami ingin tahu juga pak selama ini berapa sih kasus yang dilimpahkan dari laporan yang disampaikan oleh PPATK ke Mabes Polri. Dan berapa yang ditindaklanjuti Pak. Seperti tadi Kejaksaan sudah menyampaikan sekitar 114 apa saja yang sudah dilakukan. Kami ingin tahu dari Kepolisian Pak.

Kemudian yang kedua, dari Kepolisian selama ini dari menangani kasus tindak pidana pencucian uang. Itu pola-pola yang ditemukan itu seperti apa Pak, kemudian ada tidak konsentrasi wilayah tempat kejadiaannya. Kemudian kalau kita melihat tempat kejadian yang bisa dipetakan oleh Kepolisian, apakah di dalam RUU ini sudah bisa mengantisipasi semua.

Yang ketiga, mungkin kami minta bantuan dari Kepolisian khususnya dalam mengimplementasikan undang-undang yang harus dilaksanakan Kepolisian, terkait dengan RUU ini Pak. Apa saja yang harus disinkronisasikan pasal per pasalnya itu Pak. Disamping yang tadi sudah disampaikan soal penyelidikan. Mungkin ada hal-hal lain yang perlu disinkronkan juga Pak.

Kemudian yang terakhir untuk kepolisian, didalam RUU ini kan disebutkan pencegahan dan pemberantasan. Sementara kewenangan yang diberikan kepada PPATK itu kan lebih banyak kepada penyelidikan didalam kewenangannya apakah mungkin diperluas di penyidikan Pak. Ini ingin pendapatnya Pak dari Kepolisian.

Kemudian dari pihak Kejaksaan Pak, ingin mendapatkan tambahan. Tadi Bapak menyampaikan ada kesulitan-kesulitan dari penanganan hukum tindak pidana pencucian uang.

Kalau boleh tahu Pak apa kesulitannya dan kemudian undang-undang ini apakah sudah dapat mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut.

Kemudian yang kedua, mengenai sinkronisasi peraturan Pak. Disamping peraturan yang dismpaikan tadi kalau misalnya ada hal-hal yang masih perlu disinkronkan. Khususnya dalam wilayah kejaksaan yang menjalankan Undang-Undang dengan RUU ini, apa-apa saja pasalnya pak? Masih perlu disikronkan? Mohon kami masih dibantu informasinya pak.

(20)

Yang terakhir pak, dari 114 kasus laporan yang disampaikan PPATK. Itu termasuk Bank Century ga ya, pak? Aliran dana Bank Century ga? Ga termasuk ya pak? Hanya satu itu, terima kasih.

KETUA RAPAT :

Lanjut pada Ibu Indah.

F. PDIP (INDAH KURNIA) : Terima kasih Pimpinan.

Selamat siang Bapak-Bapak sekalian.

Saya ingin sedikit menanggapi saran dan masukan atas RUU khususnya dari Polri. Saya tertarik masukan yang sifatnya umum, di sini dipoin 3 dan 4. Ada kecenderungan dari pembentuk undang-undang yang senantiasa berkehendak atau berkeinginan untuk melakukan perubahan atau mengganti undang-undang yang sudah ada seolah-olah bahwa tidak perjalanannya dalam satu sistem tapi terletak pada substansi suatu undang-undang.

Disini saya juga menyetir dari Prof. DR. Andi Hamzah yang Bapak pakai sebagai referensi statmentnya seperti ini, Beliau mengatakan bahwa ”dikaitkan ketentuan undang-undang, perundang-undangan tidak berjalan dengan baik, bukan semata-mata karena undang-undang nya kurang baik tapi lebih terletak pada SDM pelaksananya”. Karena itulah SDM pelaksananya yang perlu dibenahi.

Kemudian satu lagi di point 4 Pak, Yonfuler mengatakan Pak bahwa ”hendaknya dalam membentuk suatu undang-undang harus memperhatikan hal yang salah satu diantaranya adalah undang-undang yang akan dibentuk dapat diimplementasikan karena sampai saat ini banyak undang-undang yang belum dapat diimplementasikan karena alasan-alasan yang tidak ada sarana dan prasanana atau tidak ada anggaran yang tersedia”.

Jika ini saya korelasikan dengan penjelasan dengan tanggapan khusus dari Polri di halaman 5 dan seterusnya. Dari 1 sampai 11, saya mohon di koreksi kalau mungkin saya salah.

Yang ingin tanyakan berikut ini tidak ada di dalam korelasi yang ada di pandangan yang bersifat umum dan di korelasikan dengan yang bersifat khusus tadi. Khususnya jika saya ingin mencermati pasal 93. saya menempatkan diri sebagai masyarakat ya Pak yang bertindak sebagai saksi yang akan dipanggil untuk memberikan kesaksiannya. Disini setiap orang di pasal 93 dan 94, setiap orang ”setiap orang yang memberikan kesaksian dalam tindak pidana pencucian uang, wajib diberikan perlindungan khusus oleh negara dari kemungkinan ancaman yang membahayakan diri, jiwa, bagi dia dan keluarganya”. Ini apakah dari Kepolisian anggaran untuk melakukan atau mengimplementasikan undang-undang ini sudah cukup atau tidak ada kendala. Menurut saya kalau seorang saksi itu Pak kalau betul-betul mengancam jiwa dan keluarganya maka harus diungsikan disuatu tempat, kemudian diberikan kehidupan yang layak untuk dia dan keluarganya itu anggarannya cukup besar. Apakah ini ada kendala bagi polisi untuk melakukan tugasnya memberikan perlindungan kepada saksi. Itu yang pertama.

Kemudian yang kedua, selama ini pemeriksaan kepada saksi, itu format panggilannya atau standarnya selalu ada sedikit intimidasi atau disitu ditulis, jika saksi tidak datang memenuhi panggilan ini maka akan dikenai sanksi pidana. Apakah mungkin khusus untuk tindak pidana pencucian uang ini saksi itu bisa dipanggil dengan format undangan yang lebih bersahabat, lebih aman dan nyaman bagi dia, dan lebih kooperatif. Tidak diancam kalau tidak datang maka akan dikenakan sanksi pidana. Atau mungkin dapat dilakukan dengan cara-cara misalnya BAP tidak harus di laksanakan di kantor polisi atau mungkin ditempat yang bersangkutan bekerja atau seperti apa. Dan sesuai dengan pengalaman yang pernah saya alami, bukan saya tapi staf kami. Itu seringkali pelapor yang harus dilindungi, pihak yang seharusnya dilindungi itu di konfrontir oleh yang pihak yang dilaporkan sehingga dituntut yang mengancam jiwa dari saksi tersebut. Itu sering dilakukan.

(21)

Terus demikian masukan yang berikutnya adalah sejalan kita akan melakukan revisi terhadap undang-undang anti money laundring ini, mungkin juga dapat diakukan revisi terhadap undang-undang perbankan sehingga tidak memberikan ruang, sehingga dapat memberikan ruang bagi bank untuk melapor. Karena selama ini ruang bagi bank untuk melapor ini selalu ada kendala atau batasan tentang kena pidana atau kena sanksi terhadap pembocoran rahasia bank.

Itu saja sedikit dari saya, terima kasih.

KETUA RAPAT :

Lanjut, pada yang terhormat Bapak Adang.

F-PKS (DRS. ADANG DARADJATUN) : Terima kasih.

Bapak Pimpinan dan Bapak Ibu sekalian.

Mungkin kami lebih kepada pendekatan aplikasi, jadi mungkin bisa memberikan bantuan kepada kami pada saat penyiapan DIM nanti. Pada waktu yang lalu PPATK selalu berbicara bahwa apa yang tadi disampaikan oleh Jampidsus bahwa kalau sudah dikirim kepenyidik atau ke penuntut itu tidak pernah ditindaklanjuti. Nah kami lebih bisa diceritakan lagi Pak, masalah mendasar apa yang mungkin dari hasil lidiknya PPATK itu dia tidak memberikan suatu unsur-unsur yang dilakukan tindak lanjut oleh penyidik maupun penuntut. Ini masukan saja tambahan tadi mungkin bisa jadi tambahan sudah dijelaskan tapi saya ingin dijelaskan lagi, dan mungkin ditambah nanti, dengan catatan terlulisnya sehingga kita yakin bahwa ada permasalahan antara input yang masuk ke penyidik dan kenapa itu tidak ditindaklanjuti.

Juga berbicara mengenai aplikasi. Kita selalu kalau beribicara tentang penjelasan undang- undang lampirannya cukup jelas padahal tidak jelas. Kita tahu di pasal 82 dan pasal 100. itu 82 tentang pembentukan Satgas, dan juga pembentukan komite koordinasi nasional. Mungkin kami ingin tahu mekanisme apa yang terbaik karena ini mengkawinkan beberapa struktur maupun badan yang menangani secara bersama. Mungkin pengalaman Bapak selama ini bisa memberikan masukan tentang Satgas tersebut.

Saya juga ingin seperti apa yang disampaikan Pak Nurdin tadi, pendapat Bapak-bapak tentang posisi dan kedudukan PPATK baiknya seperti apa. Khusus untuk BIN mungkin kalau memang rahasia tidak perlu disampaikan bisa tertulis, memang waktu diskusi yang lalu tentang adanya aliran-aliran dana kepada badan.badan organisasi-organisasi yang terus terang apakah itu semacam lembaga swadaya dan sebagainya, yang sulit untuk bisa di cover. Dari data yang di BIN, apakah frekuensinya cukup tinggi atau tidak.

Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Baik kepada yang terhormat Saudara Ahmad Yani.

F-PPP (AHMAD YANI, SH, MH.) :

Terima kasih Pimpinan, baik barangkali ada beberapa yang ingin kami tanya lebih dalam dalamrangka penyusunan RUU ini. Yang pertama adalah tentang ketentuan umum ini Pak.

Bagaimana pendapat Bapak tentang ketentuan umum ini terutama masalah pasal 1 ayat 3 huruf D.

”transaksi keuangan diminta oleh pusat pelaporan administrasi keuangan dilaporkan oleh pihak pelapor karena harta kekayaan diduga berdasarkan hasil tindak pidana”, terus pasal 1 ayat 5 syarat penyelidikan ini mohon untuk bisa di elaborasi lagi. Terus kedua menyangkut pasal 78 ayat 4, apakah tidak pasal 78 ayat 4 ini menganut azas, tidak menganut azas equality before the law.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :