• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUBUNGAN ANTARA KOMITMEN ORGANISASI DENGAN INTENSI PROSOSIAL ANGGOTA KOMUNITAS SANT’EGIDIO YOGYAKARTA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "HUBUNGAN ANTARA KOMITMEN ORGANISASI DENGAN INTENSI PROSOSIAL ANGGOTA KOMUNITAS SANT’EGIDIO YOGYAKARTA"

Copied!
137
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN ANTARA KOMITMEN ORGANISASI DENGAN

INTENSI PROSOSIAL ANGGOTA KOMUNITAS

SANT’EGIDIO YOGYAKARTA

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Sarjana Psikologi

Oleh :

EUSTALIA WIGUNAWATI

029114108

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(2)

HUBUNGAN ANTARA KOMITMEN ORGANISASI DENGAN

INTENSI PROSOSIAL ANGGOTA KOMUNITAS

SANT’EGIDIO YOGYAKARTA

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Sarjana Psikologi

Oleh :

EUSTALIA WIGUNAWATI

029114108

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(3)
(4)
(5)
(6)

PERSEMBAHAN

!!!!

"

"

"

"

#

$

#

$

#

$

#

$

!!!!

#

#

#

#

#

#

#

#

$

$

$

$

%

%

%

%

&

&

&

&

#

#

#

#

'(

'(

'(

'(

))))

(7)
(8)

ABSTRAK

HUBUNGAN ANTARA KOMITMEN ORGANISASI DENGAN INTENSI PROSOSIAL KOMUNITAS SANT’EGIDIO YOGYAKARTA

Eustalia Wigunawati

029114108

Fakultas Psikologi

Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta

Ada berbagai alasan yang mendorong seseorang memiliki intensi prososial. Salah satunya adalah adanya komitmen seseorang dalam organisasi, dimana organisasi tersebut memiliki visi dan misi melakukan perilaku prososial. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara komitmen organisasi dengan intensi prososial Komunitas Sant’Egidio Yogyakarta. Penelitian ini merupakan penelitian korelasional.

Subjek dalam penelitian ini adalah anggota Komunitas Sant’Egidio yang berada di Yogyakarta. Jumlah subjek dalam penelitian ini ada 50 orang, terdiri dari 25 pria dan 25 wanita. Data diperoleh dengan menggunakan skala komitmen organisasi dan skala intensi prososial. Daya diskriminasi dalam penelitian ini menggunakan batas nilai ≥ 0,3. Pada skala komitmen organisasi diperoleh koefisien reliabilitas sebesar 0,953 dan pada skala intensi prososial diperoleh koefisien reliabilitas sebesar 0,963.

(9)

ABSTRACT

THE RELATIONSHIP BETWEEN ORGANIZATION COMMITMENT AND PROSOCIAL INTENSION IN SANT’EGIDIO COMMUNITY

YOGYAKARTA

Eustalia Wigunawati

029114108

Psychology Faculty

Sanata Dharma University

Yogyakarta

There are some reasons that support someone to have prosocial intention. One of them is someone’s commitment in organization where that organization has vision and mission to carry out prosocial attitude. The purpose of this research was to see the relationship between organization commitment and prosocial intention in Sant’Egidio Community Yogyakarta. This research was included as corelational.

The subject on this research was members of Sant’Egidio in Yogyakarta. The amount of subjects on this research was 50 people that consist of 25 men and 25 women. The data was gathered with using organization commitment scale and prosocial intention scale. Discriminative capacity on this research used percentage boundary ≥ 0.3. On organization commitment scale was found total reliability coefficient was 0.953 and on prosocial intention scale total reliability coefficient was 0.963.

(10)
(11)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas segala

penyertaanNya kepada penulis sejak awal penulisan hingga terselesaikannya

skripsi ini. Berkat penyelenggaraan Ilahi, rahmat tercurah dalam budi, pikiran

dan hati penulis sehingga dapat melalui berbagai macam rintangan yang

dihadapi dalam mengerjakan skripsi ini.

Dalam proses penyusunan skripsi ini juga mendapat bantuan,

bimbingan, dukungan, semangat dan pengarahan dari berbagai pihak yang

sangat berharga bagi penulis. Oleh karena itu penulis ingin mengucapkan

terima kasih kepada :

1. Bapak P. Eddy Suhartanto, S.Psi., M.Si, selaku Dekan Fakultas Psikologi

Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

2. Ibu Sylvia Carolina MYM., S.Psi., Msi., selaku Kaprodi Fakultas

Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

3. Bapak Agung Santoso, S. Psi., selaku dosen pembimbing akademik tahun

2002-2006. Terima kasih telah membimbing dan mengarahkan penulis

dalam studi serta pemberian semangat kepada penulis untuk selalu sehat.

4. Ibu M.M Nimas Eki S., S.Psi., M.Si., selaku dosen pembimbing akademik.

Terima kasih atas pengarahan, perhatian serta bimbingan selama penulis

menjadi mahasiswa Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

(12)

membuat mbak Nimas jadi pusing. Congratulation for your sweet baby.

God always bless you n your family.

5. Ibu Agnes Indar Etikawati, S.Psi., Psi., M.Si, selaku dosen pembimbing

skripsi. Terima kasih atas bimbingan dan pengarahannya selama penulis

mengerjakan skripsi sampai selesai.

6. Segenap dosen Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

yang telah membagikan ilmunya selama penulis mengikuti kuliah serta

staff non akademik : Mb’Nanik, M’Gandung, Pak Gi’, M’Muji, M’Doni....

terima kasih atas segala bantuan yang diberikan kepada penulis.

7. Bunda tercinta Rosalia Brantiningsih, terima kasih atas semua doa, cinta

kasih tak terhingga, dukungan, keringat dan air mata yang hampir kering

serta beratus-ratus rupiah yang bunda beri untukku. Mb’Etha sayang

banget sama bunda. Bapak yang telah berpendar entah kemana. Terima

kasih karena engkau, aku ada.

8. M’Alex, Mb’Ayu, keponakanku Litanis Baptisa terima kasih karena kalian

aku belajar menjadi kuat. Keluarga besar Mbah Kakung (alm) ‘n Putri

Jiwo Pawiro, keluarga Pak Dhe Gito, Pak Dhe Mardi, Lek Iran, Lek Supri,

sepupu2 ‘n keponakan2...terima kasih atas keluarga yang luar biasa indah.

9. Keluarga besar kompleks guru Karacak-Bogor : Bu Sri Subekti, Bu Muji

& dek Agung, Bu Sri Suprihatin, Mama Emah, Mama A’am, Bpk & Ibu

RT ‘n semua yang ku kenal & mengenal aku selama aku tinggal di Bogor.

Terima kasih atas kehangatan, kasih dan persaudaraan yang telah

(13)

bakar), Dra. Sahabat2ku di Jogja : Putri PY, Tyas, Endah, Siska (Chiko),

M’Bagus, M’Linggar, Robie (Super Power), Sujad (Pigro). Terima kasih

menjadi bagian yang berarti dalam hidupku. Bung Tedy & M’Juv Suji,

makasih mau jadi kakak terbaikku.

10.Erlip Vitarsa (Jakarta-Rome, Italy) Sapevo che ti amavo quando io volevo

che tu sia stato felice, anche se non ero una parte della tua felicit . Ti

amo Erlip. My X men and all of families... thanx!!!

11.Temen2 Komunitas Sant’Egidio Yogyakarta : Terima kasih atas

persaudaraan, kasih, perhatian dan dukungan yang luar biasa indah.

Temen2 KSE Yogya yang telah kembali ke daerah asal, KASIH bukanlah

ttg berapa lama kita bersama, tapi slama kita bersama hal berarti apa yang

sudah kita lakukan. Grande spirito di aiutare i poveri e marginati. Dio Ti

Benedica. Padre CB Mulyatno, Pr grazie di essere un padre per me, e

grazie per l’attenzione, il supporto e per il corso dell’italiano.

12.KSE Rome, Italy especially Andrea Riccardi (pendiri Komunitas

Sant’Egidio), Valeria Martano (penanggung jawab komunitas di Asia).

KSE Indonesia : Jakarta, Aceh, Medan, Nias, Padang, Pekan Baru, Duri,

Bogor, Semarang, Pontianak, Bali, Atambua, Kupang.

13.Mia casa bela a Jogja....rumah eyang, kos bu Mamik (gam-kid), kos

Jenengan (Maguwo), kos Luna (Krodan), Wisma Goreti, Kos Om Radjijo,

Rumah Ijo & rumah Komunitas Sant’Egidio Yogyakarta...thx udah

melindungi aku dari panasnya matahari, hujan ‘n dinginnya malam. Anita,

(14)

ruangan di kamar kita. Ochi, Sisca, Putri, Endras, thx ya dek buat keluarga

yang indah (aks says bangs sams kals) n’ jadi adik2ku di Rumah Ijo.

14.Temen2 satu bimbingan skripsi, Ronald thx ya udah sabar bantu aku, setia

nemeni ke perpus & selalu kasih aku semangat. Semua teman2 Psikologi

angkatan 2002, angkatan atas & bawah.

15.Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta & semua RS yg pernah ku datangi,

para dokter dan semua perawatnya. Terima kasih atas perawatan dengan

penuh kasih dan kesabaran setiap kali penulis harus berbaring tak berdaya.

Tanpa kalian penulis tak akan sesehat ini.

16.Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu di sini. Terima

kasih untuk segala hal yang mendorong penulis menyelesaikan skripsi ini.

Grazie mille!!!

Peneliti menyadari skripsi ini jauh dari kesempurnaan, oleh karena

itu dengan segenap kerendahan hati penulis menerima kritik dan saran yang

membangun untuk menunjang kesempurnaan skripsi ini. Akhirnya penulis

berharap semoga penelitian ini bermanfaat bagi banyak pihak yang ingin

merefleksikan diri untuk menolong sesama.

(15)

DAFTAR ISI

Halaman Judul... i

Halaman Pengesahan Dosen Pembimbing Skripsi ... ii

Halaman Pengesahan Penguji Skripsi ... iii

Halamam Motto... iv

Halaman Persembahan... v

Pernyataan Keaslian Karya... vi

Abstrak... vii

Abstract... viii

Lembar Pernyataan Persetujuan Publikasi Karya Ilmiah Untuk Kepentingan Akademis...ix

Kata Pengantar... x

Daftar Isi... xiv

Daftar Lampiran... xvii

Daftar Gambar... xviii

Daftar Tabel... xix

BAB I PENDAHULUAN... 1

A. LATAR BELAKANG MASALAH... 1

B. RUMUSAN MASALAH... 8

C. TUJUAN PENELITIAN... 8

(16)

BAB II LANDASAN TEORI... 10

A. INTENSI PROSOSIAL... 10

1. Pengertian Intensi... 10

2. Pengertian Intensi Prososial... 13

3. Aspek-aspek Intensi Prososial... 14

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Intensi Prososial... 16

B. KOMITMEN ORGANISASI... 19

1. Pengertian Komitmen Organisasi... 19

2. Aspek-Aspek Komitmen Organisasi... 22

3. Tahapan Terbentuknya Komitmen Organisasi... 24

C. HUBUNGAN ANTARA KOMITMEN ORGANISASI DAN INTENSI PROSOSIAL... 24

D. HIPOTESIS... 29

BAB III METODOLOGI PENELITIAN... 31

A. JENIS PENELITIAN... 31

B. IDENTIFIKASI VARIABEL PENELITIAN... 31

C. DEFINISI OPERASIONAL... 31

D. SUBJEK PENELITIAN... 33

E. METODE PENGUMPULAN DATA... 33

(17)

PENELITIAN... 37

G. HASIL UJI COBA ALAT UKUR... 40

H. METODE ANALISIS DATA... 44

BAB IV PELAKSANAAN, HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN... 45

A. PELAKSANAAN PENELITIAN... 45

B. ORIENTASI KANCAH PENELTIAN... 45

C. HASIL PENELITIAN... 49

D. PEMBAHASAN... 56

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN... 60

A. KESIMPULAN... 60

B. SARAN... 60

DAFTAR PUSTAKA... 62

(18)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 SKALA UJI COBA (TRY OUT) DAN PENELITIAN... 65

Lampiran 2 DATA UJI COBA SKALA... 66

Lampiran 3 RELIABILITAS SKALA... 67

Lampiran 4 DATA PENELITIAN... 68

Lampiran 5 UJI NORMALITAS... 69

Lampiran 6 UJI LINEARITAS... 70

(19)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Kerangka Konsetual untuk Meramalkan Suatu Intensi atau Perilaku

Tertentu Menurut Fishbein & Ajzen (1975)... 11

Gambar 2 Skema Hubungan Komitmen Organisasi dan

(20)

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Prosentase Distribusi Penyebaran Item Komitmen Organisasi

Sebelum Uji Coba... 35

Tabel 2 Prosentase Distribusi Penyebaran Item Intensi Prososial Sebelum Uji Coba... 36

Tabel 3 Prosentase Distribusi Butir-butir Pernyataan Skala Komitmen Organisasi Setelah Uji Coba... 42

Tabel 4 Prosentase Distribusi Butir-butir Pernyataan Skala Intensi Prososial Setelah Uji Coba... 43

Tabel 5 Deskripsi Statistik Data Penelitian... 50

Tabel 6 Perbandingan Data Teoritik dan Data Empirik... 50

Tabel 7 Norma Kategorisasi Komitmen Organisasi dan Intensi Prososial... 51

Tabel 8 Norma Kategorisasi Komitmen Organisasi... 52

Tabel 9 Norma Kategorisasi Intensi Prososial... 53

Tabel 10 Hasil Uji Normalitas... 54

Tabel 11 Hasil Uji Linearitas... 55

(21)

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Pada hakekatnya manusia sebagai makhluk sosial menyadari

pentingnya peran orang lain dalam kehidupannya untuk saling memenuhi

kebutuhannya. Sebagai makhluk hidup manusia memiliki begitu banyak

kebutuhan yang harus dipenuhi. Kebutuhan-kebutuhan manusia tersebut dapat

membuat seseorang termotivasi melakukan sesuatu dan motivasi yang ada

pada setiap orang tidaklah sama, berbeda-beda antara satu dengan yang

lainnya. Menurut Wikipedia, motivasi adalah faktor yang mendorong orang

untuk bertindak dengan cara tertentu. Dengan kata lain motivasi pada dasarnya

adalah kondisi mental yang mendorong dilakukannya suatu tindakan (action

atau activities) dan memberikan kekuatan (energy) yang mengarah kepada

pencapaian kebutuhan, memberi kepuasan ataupun mengurangi ketidak

seimbangan (Ensiklopedia, 2007).

Dalam usaha untuk memenuhi kebutuhan, memberi kepuasan atau

mengurangi ketidakseimbangan, manusia sejak dilahirkan sampai meninggal

selalu membutuhkan kehadiran orang lain dan cenderung berinteraksi dengan

orang lain. Dalam sikap sosial individu akan menjalin interaksi dengan orang

lain, terutama dengan kelompoknya. Individu memiliki kebutuhan untuk

bersama orang lain seperti bekerja sama, menjalin keakraban, memperoleh

(22)

memunculkan perilaku saling tolong menolong, dimana perilaku menolong

yang dilakukan disebabkan oleh berbagai motif yang mendasari. Perilaku

menolong oleh individu tanpa mengharapkan imbalan apapun dan dilakukan

secara sukarela (kecuali mungkin perasaan telah melakukan kebaikan) disebut

perilaku altruisme, sedangkan segala bentuk tindakan yang dilakukan atau

direncanakan untuk menolong orang lain tanpa mempedulikan motif-motif si

penolong disebut perilaku prososial (Sears dkk, 1985). Menurut William

(1981) perilaku prososial adalah tingkah laku seseorang yang bermaksud

merubah keadaan psikis atau fisik penerima sedemikian rupa, sehingga si

penolong akan merasa bahwa si penerima menjadi lebih sejahtera atau puas

secara material ataupun psikologis. Pengertian tersebut menekankan pada

maksud dari perilaku untuk menciptakan kesejahteraan fisik maupun psikis.

Melihat bahwa peradaban modern dapat menggerakkan jiwa dan

semangat yang penuh dengan keserakahan, kesombongan, egoisme,

hedonisme dan ketidakpedulian akan kebutuhan dan kesusahan sesama

manusia. Di tengah kondisi jaman yang demikian, bukan hal yang aneh

apabila di temui pergeseran terhadap nilai-nilai kesetiakawanan, kasih sayang,

tolong menolong dan nilai-nilai kemanusiaan lainnya (Ikawati dan Hery

Wahyuningtyastuti, 2005).

Menurut Ikawati dan Hery Wahyuningtyastuti (2005), dalam

masyarakat modern salah satu cirinya adalah makin tingginya

ketidakmampuan manusia untuk mencintai antara satu dengan yang lain.

(23)

menumbuhkembangkan dan menghargai orang lain, namun hal ini nampaknya

makin surut sebagai motivasi berperilaku seseorang. Sebaliknya perilaku

individualistik atau egoistik adalah pola hubungan antar manusia yang serba

melihat untung dan rugi, ketidakpekaan bahkan ketidakpedulian terhadap

kebutuhan dan penderitaan orang lain.

Salah satu kelompok yang berkembang menjadi sebuah organisasi

walaupun hanya berupa organisasi informal dimana keanggotaannya tidak

memiliki struktur organisasi secara hirarki dan jelas adalah Komunitas

Sant’Egidio. Komunitas Sant’Egidio merupakan sebuah organisasi informal

yang bergerak di bidang sosial dan aktivitasnya berhubungan dengan perilaku

prososial. Berdasarkan observasi Komunitas Sant’Egidio Yogyakarta

memiliki kegiatan doa yang dilakukan tiga kali dalam seminggu, disamping

itu anggota-anggotanya juga melakukan pelayanan dan pendampingan untuk

orang-orang miskin dan terlantar tanpa mendapatkan imbalan berupa materi.

Pendampingan yang dilakukan Komunitas Sant’Egidio berupa membantu

belajar anak-anak panti asuhan, pelayanan kepada gelandangan penyandang

kusta, pelayanan kepada orang-orang jompo dan lain sebagainya. Hal tersebut

dilakukan secara rutin dan memiliki jadwal yang teratur setiap minggunya.

Seseorang yang bersedia bergabung dalam komunitas ini berarti harus ada

kesediaan menjadi sukarelawan.

Anggota Komunitas Sant’Egidio yang berada di Yogyakarta

merupakan gabungan mahasiswa dari berbagai Universitas yang ada di

(24)

keputusan untuk bergabung dalam Komunitas Sant’Egidio yang memiliki

kegiatan secara rutin dan jadwal teratur dengan tanpa mendapat imbalan

berupa materi berarti harus ada kesediaan menerima konsekuensi yang ada

dalam komunitas tersebut dimana konsekuensinya adalah ikut terlibat dalam

kegiatan yang dilakukan yaitu perilaku prososial. Di samping itu juga

memiliki konsekuensi untuk menerima nilai dan aturan yang mengatur,

walaupun komunitas ini tidak memiliki hak dan kewajiban yang terlalu

mengikat. Hal tersebut dimaksudkan demi kelangsungan Komunitas

Sant’Egido dan mendukung visi dan misi komunitas, yaitu menolong orang

miskin dan terlantar.

Berdasarkan observasi dan melihat kenyataan bahwa anggota

Komunitas Sant’Egidio memiliki intensi prososial yang berbeda-beda antara

satu dengan yang lain. Sebagian diantara anggota memiliki intensi prososial

yang sangat tinggi, dimana kesediaannya untuk ikut berpartisipasi dalam

melakukan prososial sangat tinggi pula. Terlihat dari kegiatan yang dilakukan

dalam komunitas saat melayani orang miskin dan terlantar selalu hadir dan ada

kesediaan untuk ikut menjaga perasaan, merawat, memberi kasih sayang

bahkan menyumbangkan uang atau barangnya demi kesejahteraan orang yang

dilayani. Namun di sisi lain, ada juga anggota yang memiliki intensi

prososialnya rendah dalam Komunitas Sant’Egidio dimana kesediaannya

untuk ikut berpartisipasi dalam melakukan prososial pun rendah. Terlihat dari

kurangnya keinginan serta perasaan enggan untuk mengunjungi orang yang

(25)

dilakukan komunitas, kurang memberi perhatian dan kasih sayang bagi orang

yang dilayani dan lain sebagainya. Hal tersebut berarti bahwa orang itu kurang

mendukung visi dan misi yang dilakukan dalam Komunitas yaitu perilaku

prososial.

Dari uraian di atas, peneliti melihat bahwa intensi anggota untuk

melakukan perilaku prososial sangat penting dalam Komunitas Sant’Egidio.

Hal tersebut dimaksudkan demi kelangsungan Komunitas Sant’Egidio dalam

mencapai visi serta misi yang dilakukan yaitu mensejahterakan, memberi,

menumbuhkembangkan dan menghargai orang yang di tolong yaitu orang

miskin dan terlantar.

Salah satu faktor yang mendukung tercapainya visi dan misi serta

kelangsungan Komunitas Sant’Egidio adalah komitmen organisasi yang tinggi

dari anggota. Menurut Porter (dalam Mowday, dkk, 1982) pengertian

komitmen organisasi adalah kekuatan yang bersifat relatif dari individu dalam

mengidentifikasikan keterlibatan dirinya ke dalam bagian organisasi,

sedangkan Steers (1985) mendefinisikan komitmen organisasi sebagai rasa

identifikasi (kepercayaan terhadap nilai-nilai organisasi) dan loyalitas

(keinginan untuk tetap menjadi anggota organisasi yang bersangkutan) yang

dinyatakan oleh seorang anggota terhadap organisasinya. Steers berpendapat

bahwa komitmen organisasi merupakan kondisi dimana anggota sangat

tertarik terhadap tujuan, nilai-nilai, dan sasaran organisasinya. Untuk itu

(26)

komitmen organisasi dengan intensi prososial anggota Komunitas Sant’Egidio

Yogyakarta.

A. RUMUSAN MASALAH

Permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :

Apakah ada hubungan antara komitmen organisasi dengan intensi prososial

anggota Komunitas Sant’Egidio Yogyakarta?

B. TUJUAN PENELITIAN

Penelitian yang dilakukan ini bertujuan untuk melihat hubungan antara

komitmen organisasi dengan intensi prososial anggota komunitas Sant’Egidio

Yogyakarta.

C. MANFAAT PENELITIAN 1. Manfaat teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan

pemikiran terhadap bidang ilmu psikologi sosial mengenai komitmen

organisasi dan intensi prososial dalam sebuah organisasi informal.

2. Manfaat praktis

Bagi Komunitas Sant’Egidio, hasil penelitian ini diharapkan dapat

menjadi bahan evaluasi diri maupun kelompok, seberapa besar

(27)

adalah melayani orang miskin dan terlantar serta menjadi bahan refleksi

ke depan dalam mengembangkan serta meningkatkan komitmen yang

(28)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. INTENSI PROSOSIAL

1. Pengertian Intensi Prososial a. Pengertian Intensi

Intensi (intention) berasal dari kata to intend yang berarti

sebagai usaha yang didasari untuk mencapai tujuan atau sasaran

(Drever, 1982). Secara sederhana, intensi dapat berarti sebagai niat

seseorang untuk melakukan perilaku tertentu, seperti misalnya niat

untuk membantu atau menolong orang lain. Menurut Fishbein dan

Ajzen (1975), intensi merupakan prediktor terbaik bagi perilaku

individu. Intensi dimengerti sebagai probabilitas yang bersifat

subjektif, yaitu estimasi seseorang mengenai seberapa besar

kemungkinan suatu tindakan tertentu dilakukan.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa intensi merupakan

niat untuk melakukan suatu tindakan yang akan diwujudkan ke dalam

perilaku. Intensi juga merupakan fungsi dari keyakinan seseorang yang

terkait dengan sikap dan perilakunya, sehingga merupakan prediktor

yang terbaik untuk terjadinya perilaku tertentu. Dalam penelitian ini

(29)

a. Pengertian Intensi Prososial

Perilaku prososial diartikan sebagai suatu tindakan menolong

yang menguntungkan orang lain tanpa harus menyediakan suatu

keuntungan langsung pada orang yang melakukan tindakan tersebut,

dan bahkan mungkin melibatkan suatu resiko bagi orang yang

menolong (Baron & Byrne, 2005). Menurut William (1981) perilaku

prososial adalah perilaku seseorang yang memiliki maksud untuk

mengubah keadaan fisik dan psikis orang yang menerima pertolongan,

sehingga si penolong merasa bahwa orang yang ditolong akan

merasakan damai, lega, bahagia, sehat dan puas secara fisik dan

psikologis. Pengertian tersebut menekankan bahwa perilaku menolong

bertujuan untuk mensejahterakan fisik maupun psikologis.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa intensi prososial

adalah niat seseorang serta kemungkinannya orang tersebut untuk

melakukan suatu tindakan menolong yang memiliki konsekuensi

positif dan memberi manfaat bagi orang yang ditolong baik secara fisik

maupun psikologis. Hal tersebut diharapkan dengan mengetahui

intensi prososial seseorang dapat memberikan gambaran perilaku

(30)

1. Aspek-aspek Intensi Prososial

Mussen dkk (dalam Ikawati dan Hery Wahyuningtyas, 2005)

memandang bahwa perilaku prososial mencakup tindakan-tindakan

menolong, bekerjasama, berbagi perasaan, bertindak jujur, dan bertindak

dermawan terhadap orang lain.

Menurut Samptson (dalam Ikawati dan Hery Wahyuningtyas,

2005), aspek-aspek yang terkandung dalam perilaku prososial adalah

sebagai berikut :

a. Memberi atau menyumbang (donating), yaitu berlaku murah hati pada

orang lain.

b. Memberi fasilitas untuk kesejahteraan orang lain, yaitu peduli terhadap

permasalahan orang lain.

c. Berbagi rasa (sharing), yaitu kesediaan untuk merasakan apa yang

dirasakan oleh orang lain.

d. Bekerjasama (cooperating), yaitu melakukan pekerjaan atau kegiatan

secara bersama-sama berdasarkan kesepakatan untuk mencapai tujuan

bersama pula.

e. Peduli (caring), yaitu mampu memberi perhatian dan membantu orang

lain dengan cara meringankan beban fisik atau psikologis yang sedang

dirasakan orang tersebut.

Hal senada diungkapkan juga oleh Staub (1978) perilaku prososial

(31)

cakupannya yang sangat luas. Uraian dari spesifikasi perilaku-perilaku

prososial menurut Staub adalah sebagai berikut :

a. Sharing, merupakan tindakan membagi, dan/atau menggunakan secara

bersama-sama sesuatu baik bersifat materi maupun nonmateri.

b. Cooperating, merupakan kerjasama dengan orang lain untuk mencapai

tujuan tertentu.

c. Donating, merupakan memberi atau menyumbang barang atau uang

kepada yang memerlukan.

d. Caring, merupakan tindakan memberikan perhatian kasih sayang,

merawat, menjaga perasaan orang lain.

Dari aspek-aspek perilaku prososial di atas dapat disimpulkan

bahwa intensi prososial terdiri dari aspek-aspek sebagai berikut :

a. Intensi untuk sharing, merupakan niat untuk melakukan tindakan

membagi perasaan dan ada kesediaan untuk ikut merasakan apa yang

dirasakan oleh orang lain.

b. Intensi untuk donating, merupakan niat untuk melakukan tindakan

murah hati dengan memberi / menyumbangkan barang atau uang

kepada orang lain.

c. Intensi untuk cooperating, merupakan niat untuk bekerjasama dengan

melakukan pekerjaan atau kegiatan bersama-sama berdasarkan

kesepakatan untuk mencapai tujuan bersama pula.

d. Intensi untuk caring, merupakan niat untuk melakukan tindakan

(32)

membantu meringankan beban fisik atau psikologis yang sedang

dirasakan orang tersebut.

2. Faktor Intensi

Tingkah laku yang muncul pada manusia merupakan pembentukan

hubungan timbal balik antara keyakinan (belief), sikap (attitude) dan

intensi (intention) individu (Fishbein dan Ajzen, 1975). Berdasarkan

konsep tersebut maka dapat disimpulkan beberapa faktor intensi sebagai

berikut :

a. Keyakinan (belief), dikategorikan sebagai aspek kognitif yang

melibatkan pengetahuan, pendapat, dan pandangan individu terhadap

objek. Seseorang yang memiliki keyakinan tinggi tentang suatu objek

berarti orang itu memiliki pengetahuan, pendapat dan pandangan yang

tinggi tentang objek tersebut maka intensi untuk melakukan objek

tersebut juga tinggi. Begitu pula sebaliknya, ketika seseorang memiliki

keyakinan yang rendah tentang suatu objek maka intensi untuk

melakukan objek tersebut juga rendah.

b. Sikap (attitude), dikategorikan sebagai aspek afektif yang mengarah

pada perasaan individu terhadap suatu objek serta evaluasi yang

dilakukannya. Sikap tersebut dapat positif atau negatif tergantung dari

banyak sedikitnya pengetahuan terhadap aspek positif atau negatif

tentang objek. Semakin positif sikap seseorang terhadap suatu objek

(33)

pula sebaliknya, semakin negatif sikap seseorang terhadap suatu objek

maka semakin rendah pula intensi seseorang untuk melakukan objek

tersebut.

Secara sistematis, kerangka teori Fishbein & Ajzen (1975) dapat

dilihat pada bagian berikut :

Gambar 1.

Kerangka Konseptual untuk Meramalkan Suatu Intensi atau Perilaku tertentu Menurut Fishbein & Ajzen (1975)

Penjelasan Bagan :

Keyakinan pribadi akibat konsekuensi dari suatu perilaku X adalah

suatu hal yang berisi pengetahuan tentang X, yaitu akibat positif dan

akibat negatif yang akan diperoleh subjek bila dia melakukan perilaku X Keyakinan akan akibat

dari perilaku X

Sikap terhadap

perilaku X

Intensi untuk

melakukan perilaku X

Perilaku X

Keyakinan normatif akan akibat perilaku X

Norma subjektif tentang perilaku X

: Pengaruh

: Umpan Balik

(34)

tersebut. Semakin banyak segi positif yang sekiranya akan diperolehnya,

maka semakin positif sikap orang tersebut terhadap perilaku itu, dan

semakin besar peluang orang orang itu untuk melakukan perilaku tersebut.

Keyakinan normatif akan akibat dari perilaku X dalah komponen

pengetahuan tentang perilaku X yang merupakan pandangan dan pendapat

orang lain (lingkungan) yang berpengaruh pada kehidupan orang tersebut.

Untuk selanjutnya, individu dapat menerima dan mengolah

pengaruh-pengaruh tersebut. Pengaruh dari orang lain yang diterima oleh individu

itu, digunakan oleh individu untuk membuat norma subjektif individu

mengenai perilaku X tersebut. Norma subjektif tersebut berisikan

keputusan-keputusan yang dibuat oleh individu setelah

mempertimbangkan beberapa unsur yang mempengaruhinya.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa intensi

adalah kemungkinan subjektif seorang individu untuk melakukan suatu

perilaku tertentu yang berhubugnan dengan target yang hendak dicapai

dalam situasi dan waktu tertentu, serta dipengaruhi oleh sikap dan norma

subjektif yang dimiliki.

B. KOMITMEN ORGANISASI

1. Pengertian Komitmen Organisasi

Seperti yang telah dibahas dalam latar belakang masalah bahwa

hampir semua manusia mengikat dirinya dalam komitmen antar manusia

(35)

antar manusia ini dianggap sangat penting terutama dalam sebuah

organisasi baik organisasi formal maupun informal. Oleh karena itu

pemahaman anggota mengenai komitmen dalam organisasi sangatlah

penting supaya tujuan organisasi dapat tercapai secara efektif dan efisien.

Menurut Steers (dalam Kuntjoro, 2002) komitmen organisasi

adalah rasa identifikasi (kepercayaan terhadap nilai-nilai), keterlibatan

(keinginan untuk tetap berusaha sebaik mungkin demi kepentingan

organisasi) dan loyalitas (keinginan untuk tetap menjadi anggota

organisasi yang bersangkutan) yang dinyatakan oleh seorang anggota

terhadap organisasinya. Steers berpendapat bahwa komitmen organisasi

merupakan kondisi dimana anggota sangat tertarik terhadap tujuan,

nilai-nilai, dan sasaran organisasi. Berdasarkan definisi tersebut komitmen

organisasi tercakup unsur loyalitas terhadap organisasi, keterlibatan dalam

aktivitas dan identifikasi terhadap nilai-nilai dan tujuan organisasi. Selain

itu, Porter (dalam Kuntjoro, 2002) mendefinisikan komitmen organisasi

sebagai kekuatan yang bersifat relatif dari individu dalam

mengidentifikasikan keterlibatan dirinya ke dalam bagian organisasi.

Definisi tersebut ditandai dengan tiga komponen, yaitu :

a. Penerimaan terhadap nilai-nilai dan tujuan organisasi

b. Kesiapan dan kesediaan untuk berusaha dengan sungguh-sungguh atas

nama organisasi

c. Keinginan untuk mempertahankan keanggotaan di dalam organisasi

(36)

Sedangkan pengertian komitmen menurut Luthans (1995) adalah

suatu sikap mengeni loyalitas karyawan terhadap organisasi dan hal

tersebut merupakan sebuah proses yang berlangsung secara terus menerus

dimana anggota organisasi menunjukkan kepedulian terhadap organisasi,

dan hal ini membawa pada keberhasilan dan keadaan yang baik. Di

samping itu Luthans (1995) juga memberikan pernyataan mengenai

komponen dalam komitmen, yaitu :

a. Keinginan yang kuat untuk tetap menjadi anggota organisasi

b. Kesedian untuk berusaha sekuat tenaga demi kepentingan organisasi

c. Keyakinan yang pasti akan nilai-nilai yang dianut oleh organisasi serta

menerima tujuan dari organisasi tersebut.

Definisi komitmen organisasi dari beberapa ahli di atas mempunyai

penekanan yang hampir sama yaitu proses pada individu dalam

mengidentifikasikan dirinya dengan nilai-nilai, aturan-aturan, dan tujuan

organisasi. Disamping itu, komitmen organisasi mengandung pengertian

bahwa individu memiliki keterikatan dengan organisasi yang dinyatakan

dalam keinginan untuk aktif berpartisipasi dalam organisasi dan memiliki

kesediaan untuk berusaha sebaik mungkin demi kepentingan organisasi.

Anggota yang menunjukkan komitmen tinggi memiliki keinginan untuk

memberikan tenaga dan tanggung jawab yang lebih dalam menyokong

(37)

2. Aspek Komitmen Organisasi

Luthans (1995) menjelaskan ada tiga aspek yang penting di dalam

komitmen, yaitu:

a. Keyakinan yang pasti akan nilai-nilai yang dianut organisasi.

b. kesediaan untuk berusaha keras demi kepentingan organisasi.

c. keinginan yang kuat untuk menjadi anggota organisasi.

Komitmen organisasi yang serupa juga dikemukakan oleh Schultz

& Schultz (1990), yang terdiri dari :

a. Menerima nilai-nilai dan tujuan organisasi.

b. Kesediaan untuk berusaha keras demi kepentingan organisasi.

c. Keinginan yang kuat untuk tetap menjadi anggota organisasi.

Kuntjoro (2002) mengemukakan bahwa ada tiga aspek utama

dalam komitmen organisasi, yaitu :

a. Identifikasi

Anggota rela menyumbangkan sesuatu bagi tercapainya tujuan

organisasi, karena anggota menerima dengan memodifikasi tujuan

organisasi yang dipercayai telah disusun demi kebutuhan pribadi

mereka.

b. Keterlibatan

Partisipasi anggota dalam aktivitas-aktivitas bersama anggota lain.

Anggota merasakan bahwa mereka diterima sebagai bagian yang utuh

(38)

melaksanakan bersama apa yang telah diputuskan karena adanya rasa

keterikatan dengan apa yang mereka buat.

c. Loyalitas

Anggota bersedia melanggengkan hubungannya dengan organisasi,

kalau perlu dengan mengorbankan kepentingan pribadinya tanpa

mengharapkan apapun.

Dari pemaparan tokoh-tokoh di atas, dapat disimpulkan bahwa

komitmen organisasi memiliki tiga aspek, yaitu :

a. Identifikasi, merupakan keyakinan yang kuat serta menerima

nilai-nilai dan tujuan organisasi, meliputi adanya dukungan anggota

terhadap organisasi dan penerimaan nilai-nilai dan tujuan organisasi

oleh anggota yang dipercaya telah disusun demi memenuhi kebutuhan

pribadi mereka serta merasa bahwa berada dalam organisasi tersebut

adalah hal yang terbaik baginya.

b. Keterlibatan, merupakan kesediaan untuk berusaha dengan keras demi

kepentingan organsiasi, meliputi kesediaan anggota untuk

menyumbangkan usaha dan kontribusi bagi kepentingan organisasi dan

merasa wajib untuk melaksanakan bersama apa yang telah diputuskan

(peduli pada masa depan organisasi) serta senang bekerjasama dengan

anggota-anggota yang tergabung dalam organisasi tersebut.

c. Loyalitas, merupakan keinginan yang kuat untuk tetap menjadi

anggota organisasi, meliputi kesediaan anggota untuk mempertahankan

(39)

melanggengkan hubungannya dengan organisasi. Di samping itu,

anggota juga merasakan adanya keamanan dan kepuasan di dalam

organsiasi tempat ia bergabung.

3. Tahapan Terbentuknya Komitmen dalam Organisasi

Menurut Staw (1991) terdapat tiga tahap terbentuknya komitmen dalam

organisasi, yaitu :

a. Complience, merupakan tahap dimana individu menerima pengaruh

dari organisasi, terutama mendapatkan sesuatu dari organisasi seperti

imbalan berupa materi.

b. Identification, merupakan tahap dimana individu menerima pengaruh

dari organisasi dengan tujuan untuk mempertahankan kepuasan.

c. Internalization, merupakan tahap dimana individu menemukan

nilai-nilai organisasi yang pada hakekatnya menguntungkan dan sama

dengan nilai-nilai pribadi.

C. KOMUNITAS SANT’EGIDIO 1. Sejarah Komunitas Sant’Egidio

Komunitas Sant’Egidio dimulai di Roma pada tanggal 7 Februari

1968 dari inisiatif seorang remaja bernama Andrea Riccardi yang pada

waktu itu usianya kurang dari 20 tahun. Beliau mengumpulkan anak-anak

dari murid sekolah menengah pertama seperti dirinya untuk mendengarkan

(40)

merupakan komunitas Kristen pertama yang bertindak seperti rasul dan

mengacu pada kehidupan Santo Fransiskus Asisi.

Pada awal berdirinya komunitas, nama Sant’Egidio belum

ditemukan. Pada tahun 1973, komunitas menemukan sebuah gereja yaitu

gereja Sant’Egidio yang sudah lama tidak terpakai kemudian digunakan

sebagai tempat untuk berdoa anggota komunitas. Gereja ini juga memiliki

semangat yang sama dengan komunitas sesuai dengan spiritualitas

Sant’Egidio. Sejak saat itu, komunitas ini memakai nama Sant’Egidio.

Kelompok kecil ini pada awalnya mengunjungi barak-barak yang

ada di daerah pinggiran Roma, mengunjungi daerah kumuh dan mereka

memulai sekolah pada sore hari untuk anak-anak (namanya “scuola

popolare” artinya sekolah rakyat, sekarang disebut “sekolah damai”).

Sejak saat itu, komunitas mulai berkembang. Sekarang Komunitas

Sant’Egidio sudah ada di lebih dari 70 negara, di empat benua. Jumlah

anggotanya juga mulai bertambah secara konstan. Ada sekitar 50.000

anggota dan orang di luar komunitas yang bekerja untuk melayani orang

miskin dan berbagai kegiatan lainnya yang ada dalam komunitas

(Komunitas Sant’Egidio, 2007).

2. Komunitas Sant’Egidio di Indonesia dan Yogyakarta

Komunitas Sant’Egidio mulai masuk ke Indonesia diawali oleh

pertemuan antara Valeria Martano (salah seorang anggota komunitas

(41)

dengan Maria Felisia yang pada waktu itu sedang berkunjung ke Roma.

Maria Felisia menceritakan tentang kondisi kota Padang yang kemudian

Valeria Martano mengatakan bahwa komunitas bisa di mulai di sana.

Pada tahun 1990 setelah Maria Felisia kembali ke Padang, Valeria

Martano datang ke Indonesia untuk pertama kalinya. Kegiatan yang

dilakukan adalah belajar berdoa dan memulai pelayanan dengan anak-anak

di Bukit Karang.

Komunitas Sant’Egidio mulai berada di Yogyakarta karena

kunjungan seorang anggota Komunitas dari Padang ke Yogyakarta. Pada

tanggal 9 Mei 2001 mereka memulai komunitas di Yogyakarta dengan

mengadakan doa dan melakukan pelayanan yang diawali dengan

mengunjungi anak-anak jalanan di perempatan Condongcatur dan

membantu mereka untuk belajar.

Saat ini kegiatan rutin Komunitas Sant’Egidio Yogyakarta adalah

doa komunitas yang dilakukan setiap hari Selasa, Rabu dan Minggu;

kunjungan terhadap orang-orang kusta yang berada di perempatan Sagan;

membantu belajar anak-anak asuh yang tinggal di Prayan, PA Sayap Ibu,

dan pondok asuh di gang Beo, Mrican; Komunitas juga melakukan

kunjungan terhadap pastor-pastor sepuh yang tinggal di Domus Pacis

Pringwulung. Selain kegiatan tersebut, Komunitas Sant’Egidio juga sering

mengikuti kegiatan-kegiatan seperti dialog, doa damai dan mengadakan

(42)

3. Visi dan Misi Komunitas Sant’Egidio

Komunitas Sant’Egidio memiliki karakteristik yaitu doa, membaca

Injil, solidaritas terhadap sesama, ekumenisme dan dialog. Komunitas

Sant’Egidio mengajak semua orang untuk membangun jembatan cinta

kasih tanpa membeda-bedakan suku, agama, ras, dan golongan. Komunitas

juga diajak untuk lebih menghidupi Injil bersama dengan orang-orang

yang lebih lemah seperti orang miskin, anak terlantar, orang-orang lanjut

usia, korban perang, gelandangan, orang sakit, orang terpenjara, penderita

kusta dan AIDS, dan juga terhadap berbagai bentuk kemiskinan lainnya.

Sampai saat ini, Komunitas Sant’Egidio berperan serta dalam

perdamaian di dunia diantaranya memprakarsai perdamaian di Mozambiq,

Albania, Aljeria, Kosovo, Pantai Gading dan di negara-negara Afrika serta

Eropa Timur lainnya. Setiap tanggal 1 Januari Komunitas Sant’Egidio

melakukan “Pawai Damai” serta “pengumpulan tanda tangan untuk seruan

damai” yang nantinya di kirim ke Vatikan. Selain itu juga selalu diadakan

doa dan dialog perdamaian atau yang lebih dikenal dengan sebutan

“Ziarah Damai” dari kota satu ke kota lainnya setiap tahunnya. Seperti

pada tanggal 21 sampai 23 Oktober 2007 lalu, “Doa dan Dialog Damai

Antar Agama” dilakukan di kota Napoli. Para pemuka agama dari Katolik

Roma, Katolik Ortodoks, Kristen Protestan, Islam, Hindu, Budha dan

berbagai aliran kepercayaan serta ribuan orang berkumpul untuk

menyerukan perdamaian bagi dunia. Di samping itu Komunitas

(43)

anak-anak dalam belajar dan mengembangkan kreativitasnya serta mendidik

mereka menjadi anak-anak yang mencintai perdamaian.

Komunitas Sant’Egidio juga menyediakan pengobatan gratis bagi

para penderita AIDS di Afrika secara terus menerus melalui program

“Dream of Africa”. Tak kurang dari 400 bayi yang dapat lahir dengan

selamat tanpa terjangkit virus HIV walaupun ibu mereka menderita

penyakit AIDS. Lebih dari 5000 anak dari seluruh dunia mendapatkan

orang tua angkat dalam program “adopsi jarak jauh Komunitas

Sant’Egidio”.

Selain itu satu langkah penting yang dilakukan oleh Komunitas

Sant’Egidio adalah memperjuangkan hak hidup di dunia. Pada tanggal 30

November ditetapkan sebagai Hari Internasional “City for Life – City

Againts the Death Penalty” (“Kota Untuk Kehidupan – Kota Menentang

Hukuman Mati”) yang diusulkan oleh Komunitas Sant’Egidio dan region

Tuscany (di bawah pemerintahan kota Roma), kemudian

diimplementasikan oleh banyak kota, organisasi-organisasi dan

kelompok-kelompok lainnya atas usaha mereka sendiri.

D. HUBUNGAN ANTARA KOMITMEN ORGANISASI DAN INTENSI PROSOSIAL

Sejak manusia dilahirkan sampai meninggal selalu membutuhkan

kehadiran orang lain dan cenderung berinteraksi dengan orang lain. Dalam

(44)

dengan kelompoknya. Sears, dkk (1985) mendefinisikan kelompok adalah

agregat sosial di mana anggota-anggota yang saling tergantung, dan

setidak-tidaknya memiliki potensi untuk melakukan interaksi satu sama lain, apa yang

terjadi pada satu orang mempengaruhi hasil anggota kelompok yang lain.

Sears, dkk (1985) menekankan bahwa ciri penting suatu kelompok yaitu

dengan berbagai cara anggotanya saling mempengaruhi satu sama lain,

sehingga menimbulkan interaksi satu dengan yang lain, sikap saling

ketergantungan, serta ikatan yang kuat dan menetap.

Salah satu kelompok yang memiliki perasaan ketergantungan dan

interaksi satu dengan yang lain dan menimbulkan ikatan di antara

anggota-anggotanya menjadi kuat dan menetap adalah Komunitas Sant’Egidio.

Komunitas ini pada awalnya hanya merupakan kelompok kecil dengan

beberapa orang anggota saja. Adanya interaksi satu dengan yang lain, sikap

saling ketergantungan, serta ikatan yang kuat dan menetap ini menyebabkan

Komunitas Sant’Egidio bisa berkembang dalam hal keanggotaannya sampai

mencakup dunia dan menjadi sebuah kelompok organisasi informal

(Komunitas Sant’Egidio, 2007).

Komunitas Sant’Egidio adalah salah satu kelompok organisasi

informal yang bergerak di bidang sosial dan aktivitasnya berhubungan dengan

perilaku prososial, dimana memiliki visi dan misi untuk melayani orang

miskin dan terlantar. Orang yang bersedia bergabung dalam komunitas ini

berarti harus memiliki komitmen tinggi. Steers (1985) mendefinisikan

(45)

nilai-nilai organisasi yang bersangkutan) yang dinyatakan oleh seorang anggota

terhadap organisasinya. Seseorang dengan komitmen tinggi dalam organisasi

berarti memiliki kepercayaan terhadap organisasi dan menerima tujuan

organisasi sehingga orang tersebut dengan rela menyumbangkan dan

melakukan sesuatu serta ikut berpartisipasi bagi tercapainya tujuan organisasi.

Orang tersebut juga memiliki loyalitas terhadap organisasi karena ada

kesediaan untuk melanggengkan hubungannya dengan organisasi.

Seperti yang telah dikatakan di atas bahwa Komunitas Sant’Egidio

memiliki aktivitas yang berhubungan dengan perilaku prososial. Ketika

seseorang memiliki komitmen dalam Komunitas Sant’Egidio berarti seseorang

tersebut memiliki keingingan untuk mengetahui lebih banyak tentang apa yang

dilakukan dalam Komunitas Sant’Egidio dimana aktivitas yang dilakukan

adalah mendoakan serta melayani orang miskin dan terlantar (Observasi,

Agustus 2007). Disamping itu, visi dan misi yang ditanamkan dalam

Komunitas Sant’Egidio serta keterikatan antar anggota memunculkan

pendapat dan pengaruh bagi seseorang tersebut mengenai Komunitas

Sant’Egidio dalam melayani orang miskin dan terlantar. Hal tersebut

memberikan sikap positif seseorang dalam Komunitas Sant’Egidio sehingga

memunculkan niat dalam diri orang tersebut untuk ikut berpartisipasi dalam

melakukan tindakan membagi baik materi maupun non materi kepada orang

yang ditolong, mau ikut bekerjasama, mau memberi sumbangan kepada orang

yang ditolong dan memberi kasih sayang, merawat serta menjaga perasaan

(46)

Begitu pula sebaliknya, apabila seseorang tidak memiliki komitmen

dalam Komunitas Sant’Egidio berarti kurang ada keinginan dari seseorang

tersebut untuk mengetahui lebih banyak apa yang dilakukan dalam Komunitas

Sant’Egidio. Di samping itu, karena kurang memiliki komitmen terhadap

Komunitas Sant’Egidio menyebabkan visi dan misi komunitas kurang

tertanam dalam diri orang tersebut, pendapat dan pengaruh dari anggota lain

pun menjadi kurang dapat diterima karena tidak adanya keterikatan dengan

anggota lain. Hal tersebut memunculkan sikap negatif dalam diri orang

tersebut mengenai Komunitas Sant’Egidio dan intensi dalam diri untuk

melakukan perilaku prososial menjadi rendah. Ketika seseorang tidak

memiliki kepercayaan dan keyakinan terhadap Komunitas Sant’Egidio untuk

melakukan perilaku prososial maka niat orang tersebut untuk melakukan

perilaku prososial pun menjadi rendah.

Menurut Fishbein & Ajzen (1975), intensi seseorang untuk melakukan

suatu perilaku prososial didasari oleh sikap orang tersebut terhadap perilaku

prososial dan norma subjektif tentang perilaku tersebut. Sikap terhadap

perilaku prososial merupakan fungsi dari keyakinan terhadap perilaku

tersebut. Norma subjektif merupakan fungsi dari keyakinan individu terhadap

norma yang diberlakukan pada lingkungannya, dalam hal ini adalah

Komunitas Sant’Egidio. Keyakinan normatif akibat perilaku tersebut

terbentuk dari umpan balik yang diberikan oleh perilaku itu sendiri.

Keyakinan terhadap norma subjektif ini akan mempengaruhi intensi individu

(47)

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa komitmen yang dimiliki

anggota sukarelawan dalam organisasi sangat mempengaruhi intensi prososial

yang dilakukan. Anggota yang memiliki komitmen tinggi dalam organisasi

maka akan mempengaruhi niat untuk ikut berpartisipasi dalam aktivitas yang

ada dalam organisasi tersebut, yaitu aktivitas prososial. Sebaliknya, komitmen

yang rendah secara tidak langsung akan berdampak negatif bagi organisasi

karena anggota tidak memiliki niat dan keinginan ikut melakukan aktivitas

(48)

Gambar 2.

Skema Hubungan Komitmen Organisasi dan Intensi Prososial

Memiliki tujuan melayani orang miskin dan terlantar

Anggota

Komitmen Organisasi Komunitas Sant’Egidio

Komitmen organisasi tinggi, berarti :

• Ada kepercayaan anggota terhadap organisasi

• Ada kesediaan untuk terlibat / partisipasi dari anggota

• Ada kesediaan anggota untuk melanggengkan hubungan dengan organisasi

Komitmen organisasi rendah, berarti :

• Tidak ada kepercayaan anggota terhadap organisasi

• Tidak ada kesediaan untuk terlibat / partisipasi dari anggota

• Tidak ada kesediaan anggota untuk melanggengkan hubungan dengan organisasi

Intensi prososial tinggi :

• Ada niat anggota melakukan tindakan membagi baik materi maupun non materi kepada orang yang ditolong

• Ada niat untuk bekerjasama dengan orang yang ditolong

• Ada niat memberi sumbangan kepada orang yang ditolong

• Ada niat memberikan kasih sayang, merawat dan menjaga perasaan orang yang ditolong

Intensi prososial rendah :

• Tidak ada niat anggota melakukan tindakan membagi baik materi maupun non materi kepada orang yang ditolong

• Tidak ada niat bekerjasama dengan orang yang ditolong

• Tidak ada niat memberi sumbangan kepada orang yang ditolong

• Tidak ada niat memberikan kasih sayang, merawat dan menjaga perasaan orang yang ditolong

Ada keyakinan dan kenginan anggota mengetahui lebih banyak apa yang dilakukan dalam Komunitas Sant’Egidio

Tidak ada keyakinan dan keinginan anggota untuk mengetahui lebih banyak apa yang dilakukan dalam Komunitas Sant’Egidio

Ada keterikatan dan pengaruh dari anggota lain mengenai perilaku prososial yang dilakukan dalam Komunitas Sant’Egidio

Tidak ada keterikatan dan pengaruh dari orang lain mengenai perilaku prososial yang dilakukan dalam Komunitas Sant’Egidio

Muncul sikap positif dari anggota mengenai perilaku prososial yang dilakukan dalam Komunitas Sant’Egidio

(49)

E. HIPOTESIS

Berdasarkan kerangka kajian teori yang ada, maka hipotesis yang

dikemukakan adalah : ada korelasi positif antara komitmen organisasi dengan

intensi prososial anggota Komunitas Sant’Egidio Yogyakarta. Semakin tinggi

komitmen yang ada dalam diri anggota terhadap komunitas, maka semakin

tinggi intensi prososialnya. Sebaliknya, semakin rendah komitmen yang ada

dalam diri anggota terhadap komunitas, maka semakin rendah pula intensi

(50)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. JENIS PENELITIAN

Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan

menggunakan teknik kolerasional (correlational reseach) yaitu tipe penelitian

dengan karakteristik berupa hubungan korelasional antara dua variabel atau

lebih (Supratik, 1998). Tujuan penelitian ini adalah membuktikan ada tidaknya

hubungan antara satu variabel dengan variabel yang lain. Pada penelitian ini

akan dicari apakah ada hubungan positif antara komitmen organisasi dan

intensi prososial anggota Komunitas Sant’Egidio Yogyakarta.

B. IDENTIFIKASI VARIABEL PENELITIAN

Terdapat 2 variabel dalam penelitian ini yaitu :

1. Variabel bebas : Komitmen organisasi

2. Variabel tergantung : Intensi prososial

C. DEFINISI OPERASIONAL

Definisi operasional adalah definisi yang didasarkan atas sifat-sifat

hal yang didefinisikan yang dapat diamati. Penyusunan definisi ini penting

karena digunakan untuk merujuk data yang akan digunakan dalam penelitian

(51)

1. Komitmen Organisasi

Komitmen organisasi adalah rasa kepercayaan seorang anggota

dalam organisasi terhadap nilai-nilai, keinginan untuk tetap berusaha

sebaik mungkin demi kepentingan organisasi dan keinginan untuk tetap

menjadi anggota organisasi, dimana organisasi yang dimaksud adalah

Komuntias Sant’Egidio Yogyakarta. Skala komitmen organisasi dalam

Komunitas Sant’Egidio ini terdiri dari tiga aspek yaitu identifikasi,

keterlibatan dan loyalitas.

Komitmen anggota terhadap organisasi dalam Komunitas

Sant’Egidio tersebut diukur dengan menggunakan skala komitmen

organisasi yang disusun sendiri berdasarkan kesimpulan dari pengertian

beberapa ahli beserta aspek-aspeknya dengan menggunakan skala model

Likert. Semakin tinggi skor total dalam skala komitmen organisasi yang

diperoleh oleh subjek, maka semakin tinggi pula komitmen subjek tersebut

pada organisasi. Demikian juga sebaliknya, semakin rendah skor total

dalam skala komitmen organisasi, maka rendah pula komitmen subjek

tersebut pada organisasi.

2. Intensi Prososial

Intensi prososial adalah niat seseorang serta kemungkinannya

orang tersebut untuk melakukan suatu tindakan menolong yang memiliki

konsekuensi positif dan memberi manfaat bagi orang yang ditolong baik

(52)

Skala intensi prososial ditinjau dari empat aspek yaitu intensi untuk

sharing, intensi untuk donating, intensi untuk cooperating, intensi untuk

caring.

Intensi prososial tersebut diukur dengan menggunakan skala

intensi prososial yang disusun sendiri berdasarkan kesimpulan dari

pengertian beberapa ahli beserta aspek-aspeknya dengan menggunakan

skala model Likert. Semakin tinggi skor total dalam skala intensi prososial

yang diperoleh, maka semakin tinggi pula intensi prososial yang dimiliki

oleh subyek. Demikian pula sebaliknya, semakin rendah skor total dalam

skala intensi prososial yang diperoleh, maka semakin rendah pula intensi

prososial yang dilakukan oleh subyek.

B. SUBJEK PENELITIAN

Subjek dalam penelitian ini adalah seluruh anggota Komunitas

Sant’Egidio yang berada di Yogyakarta dengan jumlah subjek 50 orang.

C. METODE PENGUMPULAN DATA

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

dengan penyebaran skala yang terdiri dari dua macam skala yaitu :

1. Skala Komitmen Organisasi

Skala komitmen organisasi akan diungkap dengan menggunakan

metode rating yang dijumlahkan (summated rating), merupakan metode

(53)

penentuan nilai skalanya (Suryabrata, 1999). Skala ini mengunakan

metode Likert dan disusun sendiri oleh peneliti terdiri dari 60 item

pernyataan yang terdiri dari 30 item favorable dan 30 item unfavorable

dengan memiliki empat kategori pilihan jawaban yang tersedia untuk

masing-masing item, meliputi Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Setuju

(TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS). Pengukuran alat ini di susun dan

dikelompokkan oleh peneliti menjadi 2 kategori, yaitu :

Kategori 1 :

Item favorable, terdiri dari pilihan jawaban dan skor sebagai berikut :

Sangat Setuju (SS) : skor 4

Setuju (S) : skor 3

Tidak Setuju (TS) : skor 2

Sangat Tidak Setuju (STS) : skor 1

Kategori 2 :

Item unfavorable, terdiri dari pilihan jawaban dan skor sebagai berikut :

Sangat Setuju (SS) : skor 1

Setuju (S) : skor 2

Tidak Setuju (TS) : skor 3

(54)

Tabel 1.

Prosentase Distribusi Penyebaran Item Komitmen Organisasi Sebelum Uji Coba

Nomer Item

No Aspek

Favorable Unfavorable

Jumlah Presentase

1 Identifikasi 1, 10, 15, 24, 28, 31,

37, 43, 54, 55

4, 7, 18, 22, 25, 34, 40,

46, 49, 60

20 33.33%

2 Keterlibatan 5, 8, 13, 20, 26, 33, 41,

47, 50, 59

2, 11, 16, 23, 29, 36,

38, 44, 53, 58

20 33.33%

3 Loyalitas 3, 12, 17, 21, 30, 35,

39, 45, 52, 57

6, 9, 14, 19, 27, 32, 42,

48, 51, 56

20 33.33%

Jumlah total 30 30 60 100 %

2. Skala Intensi Prososial

Skala intensi prososial akan diungkap dengan menggunakan

metode rating yang dijumlahkan (summated rating), merupakan metode

penskalaan pernyataan yang menggunakan distribusi respon sebagai dasar

penentuan nilai skalanya (Suryabrata, 1999). Skala ini mengunakan

metode Likert dan disusun sendiri oleh peneliti terdiri dari 48 item

pertanyaan yang terdiri dari 24 item favorable dan 24 item unfavorable

dengan memiliki empat kategori pilihan jawaban yang tersedia untuk

masing-masing item, meliputi Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Setuju

(TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS). Pengukuran alat ini disusun dan

(55)

Kategori 1 :

Item favorable, terdiri dari pilihan jawaban dan skor sebagai berikut :

Sangat Setuju (SS) : skor 4

Setuju (S) : skor 3

Tidak Setuju (TS) : skor 2

Sangat Tidak Setuju (STS) : skor 1

Kategori 2 :

Item unfavorable, terdiri dari pilihan jawaban dan skor sebagai berikut :

Sangat Setuju (SS) : skor 1

Setuju (S) : skor 2

Tidak Setuju (TS) : skor 3

Sangat Tidak Setuju (STS) : skor 4

Tabel 2.

Prosentase Distribusi Penyebaran Item Intensi Prososial Sebelum Uji Coba

Nomer Item

No Aspek

Favorable Unfavorable

Jumlah Presentase

1 Intensi untuk sharing 1, 15, 19, 25,

37, 43

5, 9, 21, 29,

33, 44

12 25 %

2 Intensi untuk donating 6, 10, 17, 30,

34, 45

2, 13, 20, 26,

38, 42

12 25 %

3 Intensi untuk cooperating 3, 14, 23, 27,

39, 41

7, 11, 18, 31,

35, 46

12 25 %

4 Intensi untuk caring 8, 12, 22, 32,

36, 47

4, 16, 24, 28,

40, 48

12 25 %

(56)

Pada kedua skala di atas tidak menyertai alternatif jawaban netral.

Menurut Hadi (1991) hal ini didasarkan atas 3 hal yaitu:

1. Undecided mempunya arti ganda, bisa diartikan sebagai belum

memutuskan atau memberi jawaban (menurut konsep aslinya), bisa

juga diartikan netral, setuju tidak, tidak setuju pun tidak, atau bahkan

ragu-ragu. Kategori jawaban yang ganda-arti (multi interpretable) ini

tentu saja tidak diharapkan dalam suatu instrumen.

2. Jawaban tengah menimbulkan kecenderungan menjawab ke tengah

(central tendency effect) terutama bagi mereka yang ragu-ragu atas

arah kecenderungan jawabannya, ke arah setuju ataukah tidak setuju.

3. Kategorisasi jawaban SS-S-TS-STS adalah terutama untuk melihat

kecenderungan pendapat responden, kearah setuju atau ke arah tidak

setuju. Jawaban tengah akan menghilangkan data penelitian sehingga

mengurangi banyaknya informasi yang dapat disaring dari responden.

D. VALIDITAS DAN RELIABILITAS ALAT PENELITIAN

Validitas dan reliabilitas adalah dua hal yang sangat penting berkaitan

dan berperan dalam membuat suatu alat ukur yang berkualitas. Dari alat ukur

ini nantinya akan menunjukkan baik atau buruknya suatu penelitian. Skala

yang digunakan dalam penelitian ini harus diuji coba terlebih dahulu untuk

(57)

1. Validitas

Validitas merupakan taraf kecermatan dan ketepatan alat ukur serta

dapat mengungkapkan secara jitu gejala yang hendak diukur dan seberapa

jauh alat memiliki ketelitian dalam memberikan status (Hadi, 1992). Suatu

instrumen pengukur dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi

apabila alat tersebut menajalankan fungsi ukurnya atau memberikan hasil

ukur yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut.

Sebaliknya, tes yang menghasilkan data yang tidak relevan dengan tujuan

pengukuran dikatakan sebagai tes memiliki validitas rendah (Azwar,

1996). Dalam penelitian ini, uji validitas item melalui uji validitas isi dan

seleksi item (indeks diskriminasi item).

Validitas isi adalah pengujian dengan menilai sejauh mana

item-item sudah mencakup dan mewakili atribut yang sedang diukur. Validitas

isi ini dibagi menjadi dua yaitu validitas muka yang mengukur validitas

berdasarkan penampilan tesnya dan validitas logis yang menunjukkan

sejauh mana isi tes mewakili ciri atribut yang hendak diukur. Pengujian

validitas isi tidak melalui analisis statistika, melainkan menggunakan

analisa rasional atau profesional judgement, dimana pengujian kedua

validitas ini melalui dosen pembimbing skripsi (Azwar, 1996)

.

2. Analisis dan Seleksi Item

Menurut Azwar (2006), ada beberapa hal yang perlu diperhatikan

dalam menentukan item-item yang terbaik. Dalam penelitian ini, dilakukan

(58)

kesahihan item sehingga diperoleh item-item yang berkualitas. Dalam

menguji kesahihan butir-butir item tersebut menggunakan koefisien

korelasi item total (rix) dengan rumus Product Moment dari Pearson.

Untuk mengambil butir-butir yang sahih, kriteria pemilihan item

menggunakan batasan rix≥ 0.30 dengan interpretasi bahwa dengan batasan

tersebut maka itemnya memiliki daya diskriminasi yang dianggap

memuaskan.

3. Reliabilitas

Reliabilitas berarti sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat

dipercaya (Azwar, 1996). Suatu instrumen penelitian dikatan reliabel bila

instrumen itu konsisten atau ajeg atau terpercaya dalam menilai apa yang

diukur jika dilakukan pengukuran ulang terhadap aspek yang sama dengan

alat ukur yang sama (Azwar, 1997).

Reliabilitas dinyatakan dalam koefisien reliabilitas (rxx,) yang

ditunjukkan dengan angka atau koefisien korelasi yang berkisar antara 0

dan 1. Semakin tinggi koefisien korelasi (mendekati 1) berarti alat tes

(59)

E. HASIL UJI COBA ALAT PENELITIAN 1. Uji Coba Alat Penelitian

Sebelum mengadakan penelitian, peneliti terlebih dahulu

mengadakan uji coba alat penelitian atau biasa disebut Try Out. Uji coba

alat penelitian dilakukan untuk melihat kesahihan butir yang diukur dan

reliabilitas alat ukur yang akan digunakan untuk penelitian yang

sesungguhnya.

Uji coba alat penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 10 Mei 2008

sampai 16 Mei 2008. Dalam uji coba alat penelitian ini, peneliti

mengambil subjek dari anggota Komunitas Sant’Egidio yang berada di

Jakarta dan Semarang.

Jumlah subjek uji coba alat penelitian ini adalah 50 orang, 27 orang

merupakan anggota Komunitas Sant’Egidio yang berada di Jakarta dan 23

orang anggota Komunitas Sant’Egidio yang berada di Semarang. Kepada

seluruh subyek diberikan 2 jenis skala yaitu skala komitmen organisasi

dan intensi prososial.

2. Uji Validitas dan Reliabilitas Alat Penelitian

Uji kesahihan butir dan reliabilitas Skala Komitmen Organisasi dan

Skala Intensi Prososial diperoleh setelah peneliti melakukan pengujian alat

(60)

a. Skala Pengukuran Komitmen Organisasi

1) Uji Kesahihan Butir Skala Komitmen Organisasi

Uji kesahihan butir skala ini dilakukan dengan bantuan

program SPSS for window versi 12.00 dengan mengukur korelasi

antara item-item yang diuji dengan skor total responden uji coba.

Kriteria pemilihan item berdasarkan korelasi item total untuk

skala ini menggunakan batasan ≥ 0.30. Berdasarkan hasil

perhitungan menunjukkan koefisien korelasi item total berkisar

antara 0,048 sampai 0,722. Dari hasil pengujian ini diperoleh 6

item dari 60 item yang dinyatakan gugur karena mempunyai

korelasi yang rendah (≤ 0,30) terhadap skor total. Keenam item tersebut adalah nomer 11, 27, 30, 33, 34 dan 46. Dari

aspek-aspek yang digunakan dalam skala ini tidak didapati aspek-aspek yang

hilang akibat keseluruhan itemnya gugur. Tabel berikut ini

menunjukkan penyebaran butir-butir pernyataan dalam skala

komitmen organisasi yang akan digunakan dalam pengambilan

(61)

Tabel 3.

Prosentase Distribusi Butir-butir Pernyataan Skala Komitmen Organisasi setelah Uji Coba

No Item Aspek

Favorable Unfavorable Total Presentase

Identifikasi 1, 10, 15, 24, 28,

31, 37, 43, 54, 55

4, 7,18, 22, 25,

40, 49, 60 18 33,33%

Keterlibatan 5, 8, 13, 20, 26,

41, 47, 50, 59

2, 16, 23, 29, 36,

38, 44, 53, 58 18 33,33%

Loyalitas 3, 12, 17, 21, 35,

39, 45, 52, 57

6, 9, 14, 19, 32,

42, 48, 51, 56 18 33,33%

Total 28 26 54 100

Maka, dari hasil tersebut diketahui bahwa skala komitmen

organisasi cukup valid digunakan sebagai alat ukur penelitian ini.

Hasil selengkapnya mengenai analisis butir skala uji coba

komitmen organisasi dapat dilihat pada lampiran.

2) Reliabilitas Skala Komitmen Organisasi

Reliabilitas skala komitmen organisasi diperoleh dengan

menggunakan teknik Alpha Cronbach dari program SPSS for

window versi 12.00, dan diperoleh reliabilitas sebesar 0,953.

b. Skala Pengukuran Intensi Prososial

1) Uji Kesahihan Butir Skala Intensi Prososial

Uji kesahihan butir skala ini dilakukan dengan bantuan

program SPSS for window versi 12.00. Hasil perhitungan

menunjukkan koefisien korelasi item total berkisar antara 0,306

(62)

dinyatakan gugur dari 48 item yang diuji cobakan karena

mempunyai korelasi yang tinggi (≥ 0,30) terhadap skor total. Tabel berikut ini menunjukkan penyebaran butir-butir pernyataan

dalam skala intensi prososial yang akan digunakan dalam

pengambilan data :

Tabel 4.

Prosentase Distribusi Butir-butir Pernyataan Skala Intensi Prososial setelah Uji Coba

Nomer Item

No Aspek

Favorable Unfavorable Jumlah Presentase

1 Intensi untuk sharing 1, 15, 19, 25,

37, 43

5, 9, 21, 29,

33, 44

12 25 %

2 Intensi untuk donating 6, 10, 17, 30,

34, 45

2, 13, 20, 26,

38, 42

12 25 %

3 Intensi untuk cooperating 3, 14, 23, 27,

39, 41

7, 11, 18, 31,

35, 46

12 25 %

4 Intensi untuk caring 8, 12, 22, 32,

36, 47

4, 16, 24, 28,

40, 48

12 25 %

Juml

Gambar

Gambar 2  Skema Hubungan Komitmen Organisasi dan
Gambar 1. Kerangka Konseptual untuk Meramalkan Suatu Intensi atau Perilaku
Gambar 2.
Tabel 1.
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan nikmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyusun dan menyelesaikan skripsi ini yang berjudul

Data terpilih yang telah ditabulasi dianalisis untuk pemodelan hubungan antara kadar hara daun dan hara tanah dengan produksi tanaman untuk memperoleh kisaran

Lebih lanjut, untuk mengetahui sejauh mana peranan word of mouth dalam bentuk referensi atau rekomendasi dari orang lain dapat memengaruhi minat seseorang untuk

Banyak cara dan metode yang digunakan oleh pembuat keputusan untuk mencapai tujuan tersebut, antara lain pengaturan tugas dari beberapa pekerja untuk memproduksi

[r]

Sebelum merakit tulangan elemen struktur (sloof, balok, kolom, plat lantai, fondasi, dll), harus dipelajari terlebih dahulu gambar kerja yang akan digunakan

Hasil penelitian pemberian ekstrak tempe pada tikus jantan prapubertas memberikan pengaruh berupa peningkatan bobot badan tikus jantan umur 42 dan 56 hari, peningkatan

sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan tugas akhir ini dengan