BAB II TINJAUAN TEORITIS. saham merupakan surat berharga sebagai bukti pemilikan individu atau

18 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Tinjauan Teoritis 1. Saham

1.1 Pengertian Saham

Dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, saham merupakan surat berharga sebagai bukti pemilikan individu atau institusi dalam suatu perusahaan (biasa dipegang perorangan atau lembaga pada suatu perusahaan). Apabila seseorang membeli saham, maka ia akan menjadi pemilik dan disebut pemegangsaham perusahaan tersebut. Jadi dapat disimpulkan pengertian saham adalah surat kepemilikan modal dalam suatu perusahaan yang dapat diperjualbelikan di pasar modal.

Saham terbagi atas dua macam yaitu saham biasa (common stock) dan saham preferen (preferred stock). Saham biasaada dua jenis, yaitu saham atas nama adalah saham yang nama pemilik saham tertera diatas saham tersebut dan saham atas unjuk yaitu saham yang nama pemilik saham tidak tertera diatas saham, tetapi pemilik saham adalah yang memegang saham tersebut.

Salah satu harapan investasi yang paling mendasar atas saham adalah membuat investor dapat menikmati keuntungan yang dicapai oleh perusahaan. Namun keuntungan perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham

(2)

adalah setelah memenuhi kewajiban perusahaan lainnya, seperti biaya bunga, biaya operasional dan lain sebagainya.

1.2 Harga Saham

Harga saham adalah harga suatu saham pada pasar yang sedang berlangsung. Menurut Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal pada hakekatnya harga saham merupakan penerimaan besarnya pengorbanan yang harus dilakukan oleh setiap investor untuk penyertaan dalam perusahaan. Jika pasar bursa efek ditutup, maka harga pasar adalah harga penutupannya (closing price). Jadi harga pasar inilah yang menyatakan naik turunnya suatu saham. Jika harga ini dikalikan dengan jumlah saham yang diterbitkan (outstanding share), maka akan didapatkan nilai pasar (market value). Sedangkan menurut Anoraga (2001:58) berdasarkan fungsinya, nilai suatu saham dibagi menjadi tiga jenis yaitu :

a. Par Value (Nilai Nominal)

Merupakan nilai yang tercantum pada saham untuk tujuan akuntansi. Jumlah saham yang dikeluarkan perseroan dikalikan dengan nilai nominalnya merupakan modal disetor penuh bagi suatu perseroan dan dalam pencatatan akuntansi, nilai nominal dicatat sebagai modal ekuitas perseroan dalam neraca.

b. Base Price (Harga Dasar)

Harga dasar dipergunakan dalam perhitungan indeks harga saham. Harga dasar akan berubah sesuai dengan aksi emiten. Untuk saham baru harga dasar merupakan harga perdananya. Untuk mengitung nilai dasar yaitu harga dasar dikalikan dengan total saham yang beredar.

c. Market Price (Nilai Pasar)

Merupakan harga suatu saham pada pasar yang sedang berlangsung atau jika pasar sudah tutup maka harga pasar adalah harga penutupannya (closing price). Harga pasar inilah yang menyatakan naik turunnya suatu saham dan setiap hari diumumkan di surat kabar/media elektronik. Untuk menghitung nilai pasar (kapitalisasi pasar) yaitu harga pasar dikalikan dengan total saham yang beredar.

(3)

1.3 Penilaian Harga Saham

Harga saham di pasar pada dasarnya ditentukan oleh kekuatan pasar atau tergantung dari permintaan dan penawaran pasar. Menurut Anoraga (2001:61) terdapat dua jenis pendekatan yang digunakan untuk menilai investasi dalam bentuk saham yaitu:

1. The Firm Foundation Theory

Dalam teori ini setiap instrumen investasi baik itu saham atau yang lain mempunyai landasan yang kuat yang disebut dengan nilai intrinsik yang dapat ditentukan melalui suatu analisis yang hati-hati terhadap kondisi pada saat sekarang dan prospeknya di masa yang akan datang. Pada saat harga turun atau naik di atas nilai intrinsiknya yang bersifat pasti, maka kesempatan menjual atau membeli muncul. Dengan demikian tindakan investasi sifatnya hanya memperbandingkan harga pasar atau assets terhadap nilai instrinsiknya.

2. The Castel in the Air Theory

Menurut Pandji Anoraga (2001:6) teori ini memusatkan perhatiannya pada nilai psikologis. Pengikut teori ini lebih menekankan pendekatan tingkah laku investor di masa yang akan datang berdasarkan kebiasaan di masa lalu dan bukannya pada nilai instrinsik saham itu. Teori ini kurang setuju dengan pendekatan The Firm Foundation Theory yang memerlukan banyak kerja dan diragukan kebenarannya atau kewajaran dari penilaian untuk mencapai nilai instrinsiknya, karena tidak seorangpun dapat mengetahui dengan pasti faktor-faktor yang akan mempengaruhi proses pendapatan dan pembayaran deviden di masa mendatang.

1.4 Perubahan Harga Saham

Keuntungan investor dalam menginvestasikan modalnya kepada perusahaan adalah pada akhir periode akuntansi yang berupa deviden. Oleh karena itu, banyak investor yang menanamkan modalnya terutama pada perusahaan yang sering memperoleh keuntungan. Perubahan harga saham yang terjadi dapat membawa keuntungan atau bahkan kerugian bagi para investor yang menanamkan modalnya pada perusahaan tersebut. Perusahaan yang memperoleh keutungan akan memberikan kompensasi (return) kepada investor.

(4)

Menurut Jogiyanto (2000:107) return dibedakan menjadi dua yaitu return expektasi (expected return) dan return realisasi (realized return). Return ekspektasi adalah return yang diharapkan akan diperoleh investor di masa mendatang. Return realisasi merupakan return yang sudah terjadi dan dihitung berdasarkan data historis. Return ini merupakan selisih harga sekarang dan sebelumnya secara relatif. Return realisasi penting untuk mengukur kinerja perusahaan dan sebagai penentu resiko di masa depan.

2. Kebangkrutan Bank 2.1 Kebangkrutan

Kebangkrutan (bankruptcy) biasanya diartikan sebagai kegagalan perusahaan dalam menjalankan operasi perusahaan untuk menghasilkan laba. Menurut Undang-Undang No. 4 tahun 1998 adalah dimana suatu institusi dinyatakan oleh keputusan pengadilan bila debitur memiliki dua atau lebih kreditur dan tidak membayar sedikitnya satu hutang yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih. Kebangkrutan sering juga disebut likuidasi perusahaan atau penutupan perusahaan ataupun insolvibilitas. Kebangkrutan sebagai suatu kegagalan yang terjadi pada sebuah perusahaan didefinisikan dalam beberapa pengertian menurut Martin dalam Supardi (2003:79) yaitu :

a. Kegagalan Ekonomi (Economic Distressed)

Kegagalan dalam ekonomi berarti bahwa perusahaan kehilangan uang atas pendapatan perusahaan tidak mampu menutupi biayanya sendiri, ini berarti tingkat labanya lebih kecil dari biaya modal atau nilai sekarang dari arus kas perusahaan lebih kecil dari kewajiban. Kegagalan terjadi bila arus kas sebenarnya dari perusahaan tersebut jauh di bawah arus kas yang diharapkan. Bahkan kegagalan dapat juga berarti bahwa tingkat

(5)

pendapatan atas biaya historis dari investasinya lebih kecil daripada biaya modal perusahaan yang dikeluarkan untuk sebuah investasi tersebut. b. Kegagalan Keuangan (Financial Distressed)

Pengertian financial distressed menurut Supardi (2003:79) mempunyai makna kesulitan dana baik dalam arti dana dalam pengertian kas atau dalam pengertian modal kerja. Sebagian asset liability management sangat berperan dalam pengaturan untuk menjaga agar tidak terkena financial distressed. Kebangkrutan akan cepat terjadi pada perusahaan yang berada di negara yang sedang mengalami kesulitan ekonomi. Namun demikian, proses kebangkrutan sebuah perusahaan tentu saja tidak semata-mata disebabkan oleh faktor ekonomi saja tetapi bisa disebabkan oleh faktor lain yang sifatnya nonekonomi.

Kegagalan keuangan bisa juga diartikan sebagai insolvensi yang membedakan antara dasar arus kas dan dasar saham. Insolvensi atas dasar arus kas ada dua bentuk, yaitu:

a. Insolvensi teknis

Perusahaan bisa dianggap gagal jika perusahaan tidak dapat memenuhi kewajiban pada saat jatuh tempo. Insolvensi teknis terjadi bila arus kas tidak cukup untuk memenuhi pembayaran bunga atau pembayaran kembali pokok pada tanggal tertentu.

b. Insolvensi dalam pengertian kebangkrutan

Dalam pengertian ini kebangkrutan didefinisikan dalam ukuran sebagai kekayaan bersih negatif dalam neraca konvensional atau nilai sekarang dari arus kas yang diharapkan lebih kecil dari kewajiban.

Kebangkrutan suatu perusahaan dapat diprediksi dengan menganalisis laporan keuangannya. Menurut Foster (1986) dinyatakan empat hal yang mendorong analisis laporan keuangan dilakukan dengan model rasio keuangan yaitu :

(6)

1. Untuk mengendalikan pengaruh perbedaan besaran antar perusahaan atau antar waktu.

2. Untuk membuat data menjadi lebih memenuhi asumsi alat statistic yang digunakan.

3. Untuk menginvestigasi teori yang terkait dengan dengan rasio keuangan. 4. Untuk mengkaji hubungan empirik antara rasio keuangan dan estimasi

atau prediksi variabel tertentu (seperti kebangkrutan atau financial distress)

Model financial distress perlu untuk dikembangkan, karena dengan mengetahui kondisi financial distress perusahaan sejak dini diharapkan dapat dilakukan tindakan-tindakan untuk mengantisipasi kondisi yang mengarah pada kebangkrutan.

2.2 Sumber-sumber Informasi Prediksi Kebangkrutan

Kebangkrutan yang terjadi sebenarnya dapat diprediksi dengan melihat beberapa indikator. Menurut Foster (1986) terdapat beberapa indikator atau sumber informasi mengenai kemungkinan dari kesulitan keuangan:

1. Analisis arus kas untuk periode sekarang dan yang akan datang.

2. Analisis strategi perusahaan yang mempertimbangkan pesaing potensial, struktur biaya relatif, perluasan rencana dalam industri, kemampuan perusahaan untuk meneruskan kenaikan biaya, kualitas manajemen dan lain sebagainya.

3. Analisis laporan keuangan dari perusahaan serta perbandingannya dengan perusahaan lain. Analisis ini dapat berfokus pada suatu variabel keuangan tunggal atau suatu kombinasi dari variabel keuangan.

4. Variabel eksternal seperti return sekuritas dan penilaian obligasi.

2.3 Faktor-faktor Penyebab Kebangkrutan

Kebangkrutan yang terjadi pada perbankan di Indonesia disebabkan oleh nilai mata uang rupiah yang menurun, suku bunga tinggi, terjadinya rush, hutang membengkak, simpanan nasabah rendah dan tingginya kredit macet yang melanda

(7)

hampir seluruh bank di Indonesia. Menurut Jauch dan Glueck dalam Adnan

(2000:139) faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kebangkrutan pada

perusahaan adalah : a. Faktor Umum

1. Sektor ekonomi

Faktor-faktor penyebab kebangkrutan dari sektor ekonomi adalah gejala inflasi dan deflasi dalam harga barang dan jasa, kebijakan keuangan, suku bunga dan devaluasi atau revaluasi uang dalam hubungannya dengan uang asing serta neraca pembayaran, surplus atau defisit dalam hubungannya dengan perdagangan luar negeri.

2. Sektor sosial

Faktor sosial sangat berpengaruh terhadap kebangkrutan cenderung pada perubahan gaya hidup masyarakat yang mempengaruhi permintaan terhadap produk dan jasa ataupun cara perusahaan berhubungan dengan karyawan. Faktor sosial yang lain yaitu kerusuhan atau kekacauan yang terjadi di masyarakat.

3. Teknologi

Penggunaan teknologi informasi juga menyebabkan biaya yang ditanggung perusahaan membengkak terutama untuk pemeliharaan dan implementasi. Pembengkakan terjadi, jika penggunaan teknologi informasi tersebut kurang terencana oleh pihak manajemen, sistemnya tidak terpadu dan para manajer pengguna kurang profesional.

4. Sektor pemerintah

Pengaruh dari sektor pemerintah berasal dari kebijakan pemerintah terhadap pencabutan subsidi pada perusahaan dan industri, pengenaan tarif ekspor dan impor barang berubah, kebijakan undang-undang baru bagi perbankan atau tenaga kerja dan lain-lain.

b. Faktor eksternal perusahaan meliputi pelanggan, pemasok atau kreditur, pesaing atau bank lain.

c. Faktor Internal Perusahaan

Faktor-faktor yang menyebabkan kebangkrutan secara internal adalah terlalu besarnya kredit yang diberikan kepada nasabah sehingga akan menyebabkan adanya penunggakan dalam pembayaran sampai akhirnya tidak dapat membayar, manajemen tidak efisien yang disebabkan karena kurang adanya kemampuan, pengalaman, ketrampilan, sikap inisiatif dari manajemen, dan penyalahgunaan wewenang dan kecurangan dimana sering dilakukan oleh karyawan, bahkan manajer puncak sekalipun sangat merugikan apalagi yang berhubungan dengan keuangan perusahaan.

(8)

2.4 Manfaat Informasi Prediksi Kebangkrutan

Secara umum pemakai data informasi kebangkrutan bank dapat dikelompokan ke dalam dua kelompok yaitu: pemakai internal adalah pihak manajemen yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan perusahaan harian (jangka pendek) dan jangka panjang, sedangkan pemakai eksternal yaitu investor atau calon investor yang meliputi pembeli atau calon pembeli saham atau obligasi, kreditor atau peminjam dana bank, dan pemakai lain seperti karyawan, analisis keuangan, pialang saham, supplier, pemerintah (berkaitan dengan pajak) dan Bapepam (berkaitan dengan perusahaan yang go publik). Informasi tentang prediksi kebangkrutan suatu perusahaan akan sangat bermanfaat bagi beberapa kalangan. Menurut Hanafi (2000:261) informasi kebangkrutan dapat bermanfaat untuk :

a. Pemberi pinjaman

Informasi kebangkrutan bisa bermanfaat untuk pengambilan keputusan siapa yang akan diberi pinjaman, dan kemudian bermanfaat untuk mengambil kebijakan memonitor pinjaman yang ada.

b. Investor

Investor saham atau obligasi yang dikeluarkan oleh suatu perusahaan tentunya akan sangat berkepentingan melihat adanya kemungkinan bangkrut atau tidaknya perusahaan yang menjual surat berharga tersebut. Investor yang menganut strategi aktif akan mengembangkan model prediksi kebangkrutan untuk melihat tanda–tanda kebangkrutan seawal mungkin dan kemudian mengantisipasi kemungkinan tersebut.

c. Pemerintah

Pada beberapa sektor usaha, lembaga pemerintah mempunyai tanggung jawab untuk mengatasi jalannya usaha tersebut. Pemerintah mempunyai kepentingan untuk melihat tanda-tanda kebangkrutan lebih awal supaya tindakan-tindakan yang perlu bisa dilakukan lebih awal.

d. Akuntan

Akuntan mempunyai kepentingan terhadap informasi kelangsungan suatu usaha karena akuntan akan menilai kemampuan going concern suatu perusahaan.

(9)

Informasi kebangkrutan digunakan untuk melakukan langkah-langkah preventif sehinggga biaya kebangkrutan bisa dihindari atau dapat diminimalisir.

3. Metode Altman Z-Score

3.1 Menilai Kebangkrutan dengan Metode Altman

Analisis Z-Score Altman, penerapan analisis rasio keuangan masih terbatas karena dilakukan secara terpisah, artinya setiap rasio diuji secara terpisah. Untuk mengatasi keterbatasan analisa rasio tersebut, Altman telah mengkombinasikan beberapa rasio menjadi model prediksi dengan teknik statistik yaitu analisis diskriminan yang digunakan untuk memprediksi kabangkrutan perusahaan dengan metode Altman Z-Score.

Ketepatan prediksi masa depan berlaku selama emiten mempunyai kondisi keuangan yang sama dengan pada saat prediksi dilakukan. Apabila emiten melakukan perbaikan kerja melalui strategi yang tepat, kemungkinan besar ada ketidaktepatan prediksi. Namun kelemahan apapun yang dihadapi, pada kenyataannya prediksi masih selalu digunakan untuk pengambilan keputusan.

3.2 Rasio-rasio Prediksi Kebangkrutan Bank

Rasio-rasio keuangan yang digunakan untuk menilai kebangkrutan bank yaitu (Altman,1968) :

a. Working Capital/Total Assets

Modal kerja yang di sini dimaksud adalah selisih antara aktiva lancar (current assets) dengan hutang lancar (current liabilities). Sedangkan current assets pada perusahaan perbankan terdiri dari cash on hand and banks,placement

(10)

in other banks, notes and securities, loan and investment. Current liabilities terdiri dari demand deposit, time deposit, dan saving deposit. Sedangkan total assets adalah semua assets yang ada di dalam perusahaan tersebut. Formula yang digunakan adalah :

Working capital to total assets ( =

Semakin tinggi nilai rasio yang dihasilkan maka memberikan indikasi semakin baik pula penggunaan modal kerja terhadap total asset perusahaan yang dimiliki, dan semakin rendah rasio tersebut memberikan indikasi penggunaan modal kerja yang tidak maksimal.

b. Retained Earning/Total Assets

Rasio ini merupakan rasio profitabilitias yang mendeteksi atau mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dalam periode tertentu. Retained earnings di sini adalah laba ditahan. Rasio ini mengatur akumulasi laba selama perusahaan beroperasi. Umur perusahaan berpengaruh terhadap rasio tersebut karena semakin lama perusahaan beroperasi memungkinkan untuk memperlancar akumulasi laba ditahan. Hal tersebut menyebabkan perusahaan yang masih relatif muda pada umumnya akan menunjukkan hasil rasio tersebut yang rendah, kecuali yang labanya sangat besar pada masa awal berdirinya. Formula yang digunakan adalah :

(11)

Semakin besar rasio tersebut maka semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai oleh perusahaan tersebut dan semakin baik pula posisi bank tersebut dari segi penggunaan asset dan begitu pun sebaliknya.

c. Earning Before Interest and Tax/Total Assets

Rasio Earning Before Interest and Tax di sini adalah operating income. Rasio ini merupakan kontributor terbesar dari model tersebut. Beberapa indikator yang dapat digunakan dalam mendeteksi adanya masalah pada kemampuan profitabilitas perusahaan diantaranya adalah, piutang dagang meningkat, rugi terus-menerus dalam beberapa kuartal, persediaan meningkat, penjualan menurun, terlambatnya hasil penagihan piutang, kredibilitas perusahaan berkurang serta kesediaan memberi kredit pada konsumen yang tak dapat membayar pada waktu yang telah ditetapkan. Formula yang digunakan adalah :

Earning before interest and tax to total assets ( ) =

Sama halnya dengan RETA maka semakin besar rasio tersebut akan semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai oleh perusahaan tersebut dan semakin baik pula posisi bank tersebut dari segi penggunaan asset dan begitu pun sebaliknya.

d. Market Value Equity/Book Value of Debt

Rasio ini merupakan rasio yang mengukur kemampuan perusahaan dalam memberikan jaminan kepada setiap hutangnya melalui modalnya sendiri. Rasio market value equity di sini adalah closingprice tahunan dikali dengan total share tahunan. Modal yang dimaksud di sini adalah gabungan nilai pasar dari modal

(12)

biasa dan saham preferen, sedangkan hutang mencakup hutang lancar dan hutang jangka panjang. Formula yang digunakan :

Market value equity to book value of debt( )=

Semakin tinggi rasio tersebut maka semaikn baik pula kondisi perusahaan. Hal ini memberikan indikasi bahwa perusahaan mampu dalam memberikan jaminan kepada setiap hutangnya melalui modalnya sendiri. Semakin rendah rasio tersebut maka mencerminkan kondisi perusahaan yang kurang baik.

e. Sales/Total Assets

Rasio ini merupakan rasio yang mendeteksi kemampuan dana perusahaan yang tertanam dalam keseluruhan aktiva yang berputar dalam satu periode tertentu. Rasio ini mengukur kemampuan manajemen dalam menggunakan aktiva untuk menghasilkan penjualan. Sales yang dipakai pada perusahaan perbankan adalah revenue. Formula yang digunakan adalah :

Sales to total assest ( =

Semakin tinggi rasio maka memberikan indikasi semakin meningkatnya penjualan yang diperoleh dari total asset yang dimilki perusahaan. Hal ini mencerminkan kondisi perusahaan yang baik. Namun sebaliknya semakin rendah rasio maka semakin rendah pula penjualan yang diperoleh jika dibandingkan dengan total asset yang dimiliki.

3.3 Pengaruh Kebangkrutan Bank Terhadap Harga Saham

Tinggi rendahnya harga saham yang terbentuk di Bursa Efek (pasar sekunder) lebih banyak dipengaruhi oleh pertimbangan pembeli dan penjual yang

(13)

melakukan transaksi, pertimbangan ini mencakup kondisi kinerja perusahaan (bangkrut atau sehat), prospek industri, situasi politik, kebijakan pemerintah dan kondisi bursa itu sendiri. Dari faktor-faktor tersebut, pembeli dan penjual akan membangun persepsinya masing-masing. Didasari persepsi tersebut, maka akan terbentuk permintaan dan penawaran terhadap saham, dari kekuatan itulah harga saham akan terbentuk di bursa. Nilai investasi pada surat berharga dipengaruhi oleh harapan pemodal atau investor tentang kinerja perusahaan sehat atau tidak sehat di masa datang. Sebab bagi investor membeli saham berarti membeli prospek perusahaan. Harga saham akan meningkat jika kinerja perusahaan baik dan tidak mengalami financial distressed maupun insolvibilitas. Dengan harga saham yang meningkat tersebut berarti akan meningkatkan kemakmuran pemegang sahamnya. Harga saham juga dapat dipengaruhi oleh kemampuan manajemen perusahaan untuk beroperasi secara menguntungkan di tengah-tengah lingkungan usaha yang semakin kompetitif.

B. Tinjauan Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu dilakukan oleh Siti Rodliyah (2002) yang melakukan penelitian tentang penerapan analisis diskriminan altman untuk memprediksi tingkat kebangkrutan (Study Kasus Pada Perusahaan Tekstil Dan Produk Tekstil Yang Tercatat Di BEJ). Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa menurut analisis diskriminan altman terhadap perusahaan tekstil dan produk tekstil yang tercatat di BEJ secara umum tidak mengalami kebangkrutan.

(14)

Lolytha Septika Saragih (2010) yang meneliti hubungan variabel makro ekonomi dengan resiko kebangkrutan (Altman Z-Score) pada perusahaan perbankan di BEI. Hasil penelitiannya membuktikan bahwa variabel nilai tukar, suku bunga dan inflasi memiliki hubungan yang positif dengan resiko kebangkrutan pada perusahaan Perbankan yang terdaftar di BEI.

Josep Hasiholan Sianturi (2010) yang melakukan penelitian mengenai analisis kebangkrutan perusahaan dengan menggunakan metode altman z-score pada perusahaan otomotif yang terdaftar di BEI. Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa terdapat penurunan perusahaan yang dianggap rawan bangkrut menurut Altman Z-Score dari tahun 2006-2008 sebesar 33,33%.

Altman (1968) meneliti mengenai prediksi kebangkrutan dengan menggunakan teknik multiple discriminant analysis (MDA). Sampel yang digunakan 66 perusahaan dengan 33 perusahaan pada masing-masing dari dua grup. Dua puluh dua variabel (rasio) terseleksi yang diklasifikasikan menjadi lima kategori rasio standar: likuiditas, profitabilitas, leverage, solvabilitas dan aktivitas. Lima variabel sebagai yang terbaik dalam prediksi kebangkrutan perusahaan adalah working capital/total assets, retained earning/total assets, EBIT/total assets, market value equity/book value of total debt, dan sales/total asset. Berikut ini adalah Tabel yang menunjukkan ringkasan hasil penelitian terdahulu :

(15)

Tabel 2.1

Hasil Penelitian Terdahulu

No. Nama Peneliti

dan Tahun Penelitian

Judul Penelitian Variabel Penelitian Hasil Penelitian

1 Siti Rodliyah (2002) Penerapan Analisis Diskriminan Altman Untuk Memprediksi Tingkat Kebangkrutan (Study Kasus Pada Perusahaan Tekstil Dan Produk Tekstil Yang Tercatat Di BEJ) Variabelnya rasio keuangan dari laporan keuangan perusahaan tekstil yang tercatat di BEJ.

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa menurut analisis diskriminan altman terhadap perusahaan tekstil dan produk tekstil yang tercatat di BEJ secara umum tidak mengalami kebangkrutan. 2 Lolytha Septika Saragih (2010) Analisis Hubungan Variabel Makro Ekonomi Dengan Resiko Kebangkrutan (Altman Z-Score) Pada Perusahaan Perbankan Di BEI. Variabel independen adalah nilai tukar, suku bunga, inflasi dan variable

dependennya adalah kebangkrutan

Variabel nilai tukar, suku bunga dan inflasi memiliki hubungan yang positif dengan resiko kebangkrutan pada perusahaan Perbankan di BEI. 3 Josep Hasiholan Sianturi (2010) Analisis Kebangkrutan Perusahaan Dengan Menggunakan Metode Altman Z-Score Pada Perusahaan Otomotif Yang Terdaftar Di BEI.

Variabel independennya adalah nilai rasio keuangan Altman Z-Score dan variabel dependennya adalah kebangkrutan.

Dari hasil penelitian

disimpulkan bahwa terdapat penurunan perusahaan yang dianggap rawan bangkrut menurut Altman Z-Score dari tahun 2006-2008 sebesar 33,33%. 4 Edward I. Altman The Journal of Finance, Vol. 23, No. 4. (Sep., 1968), pp. 589-609 Financial Ratios, Discriminant Analysis and the Prediction of Corporate

Bankruptcy

22 rasio keuangan yang diklasifikasikan menjadi 5 kategori rasio standar meliputi liquidity,profitability, solvency,activity ratios.

5 rasio terbaik menurut altman dalam prediksi kebangkrutan perusahaan adalah rasio modal kerja/total aktiva,rasio laba ditahan/total aktiva,rasio laba sebelum pajak dan bunga/total aktiva,rasio nilai pasar

ekuitas/nilai buku total hutang,rasio penjualan/total aktiva.

(16)

C. Kerangka Konseptual dan Hipotesis 1. Kerangka Konseptual Penelitian

Dalam aktivitas perekonomian suatu negara, bank mempunyai peranan yang sangat strategis dalam menghimpun dan menyalurkan dana masyarakat. Sehingga bank disebut lembaga intermediasi yang sering diikutsertakan dalam pengambilan kebijakan moneter. Bank juga mempunyai fungsi menjaga kestabilan moneter, pengawas devisa, dan sebagai pencatatan efek-efek.

Kondisi perbankan di Indonesia saat ini belum sepenuhnya bangkit dari krisis moneter yang berlangsung sejak pertengahan Juli 1997. Kemudian pemerintah mengambil kebijakan untuk melakukan likuidasi terhadap beberapa bank yang ada di Indonesia, hal ini merupakan salah satu langkah yang diambil oleh pemerintah selaku otoritas moneter dengan harapan dapat menyehatkan sektor keuangan dan sektor perbankan.

Untuk mengetahui prediksi kebangkrutan suatu bank dapat dilihat dari laporan keuangan yang diterbitkan oleh perusahaan tersebut. Sedangkan perhitungan rasionya menggunakan metode Altman Z-Score. Metode ini diharapkan dapat mengetahui kemungkinan terjadinya kebangkrutan pada perusahaan perbankan di Bursa Efek Indonesia. Bagi seorang kreditur dan seorang pemegang saham dengan analisis kebangkrutan ini bisa melakukan persiapan-persiapan untuk mengatasi berbagai kemungkinan terburuk yang mungkin akan terjadi nantinya.

Analisis rasio keuangan merupakan suatu alat analisis yang sering digunakan oleh banyak pihak, baik pihak intern sebagai dasar untuk evaluasi

(17)

dan perbaikan kinerja di masa yang akan datang, maupun pihak ekstern sebagai dasar kebijakan mereka, apakah akan berinvestasi atau bahkan tidak menginvestasikan sama sekali modalnya di perusahaan tersebut.

Dalam berinvestasi seorang investor akan melihat laporan keuangan yang di publikasikan oleh perusahaan tersebut, dalam satu periode akuntansi. Dalam satu periode itu dapat dilihat penurunan laba bersih perusahaan. Investor di bursa efek akan bereaksi setelah mengetahui laporan keuangan tersebut. Reaksi investor di bursa efek dapat dilihat dari pergerakan harga saham dan volume perdagangan saham yang diperdagangkan.

Berdasarkan fenomena tersebut di atas, maka rumusan masalah yang diungkap dalam penelitian ini adalah tentang analisis pengaruh kebangkrutan bank dengan metode Altman Z-Score terhadap harga saham perusahaan perbankan di Bursa Efek Indonesia. Berikut ini adalah Gambar yang menunjukkan kerangka konseptual dari penelitian :

(18)

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual

2. Hipotesis Penelitian

Menurut Erlina (2008:49) hipotesis adalah preposisi yang dirumuskan dengan maksud untuk diuji secara empiris. Preposisi merupakan ungkapan atau pernyataan yang dapat dipercaya, disangkal, atau diuji kebenarannya mengenai konsep atau konstruk yang menjelaskan atau memprediksi fenomena-fenomena. Berdasarkan rumusan masalah dan kerangka konseptual di atas, maka hipotesis pada penelitian ini adalah :

1. Metode altman z-score dapat memprediksi kebangkrutan perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

2. Kebangkrutan bank dengan metode Altman Z-Score berpengaruh terhadap harga saham perusahaan perbankan di Bursa Efek Indonesia.

Pengaruh Kebangkrutan (Rasio Keuangan Altman

Z-Score) Harga Saham STA MVEBUL EBITTA RETA WCTA

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :