Hubungan Partisipasi Nelayan dan Peran Pemangku Kepentingan Dalam Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan Daerah Pulau Tuan, Aceh Besar

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

484

Hubungan Partisipasi Nelayan dan Peran Pemangku Kepentingan

Dalam Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan Daerah Pulau

Tuan, Aceh Besar

Fisherman and Stakeholder Relation in Management of Pulau Tuan

Conservation Area, Aceh Besar

Zilvi Aulia Rahmi¹*, Chaliluddin Marwan¹, Edy Miswar¹

¹Jurusan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Syiah Kuala Darussalam, Banda Aceh.

*email korepondasi: Zilviauliarahmi@gmail.com

ABSTRACT

The district of Aceh Besar has 23 districts and 8 of them are in the coast. Peukan Bada district is a coastal area where the majority of people are fishermen. In Peukan Bada there are 211 fishermen’s who do fishing in Tuan Island waters conservation area. Marine Waters Conservation Area Tuan has been defined as a Water Conservation Area by Decree of the Regent of Aceh Besar Number 190 of 2011 on the Establishment of Regional Water Conservation Area of Aceh Besar Regency of Aceh Province. In this research, to conduct a study on the relationship of fishermen participation and stakeholder role as a tool and reference in conducting activities of utilization in a water. The purpose of this research is to know the participation of fishermen and pemangku kepentingan role in the management of Tuan Island Watershed Conservation Area, and to know the relationship of fishermen participation and stakeholder role in the management of Tuan Island Watershed Conservation Area. The data used in this research include primary data and secondary data. The analytical method that used to find out the relationship of both using correlation formula. The results showed that the active participation of fishermen 81.94% and the role of are stakeholder were 77.78%. It can be concluded that the most of the fishermen in the category of active participation. Correlation value indicates there is relationship between two variables with value r = 0.839 and the relationship between fisherman participation and stakeholder role is very strong.

Keywords: Fishermen's participation, Stakeholder role, Pulau Tuan, Peukan Bada.

ABSTRAK

Kabupaten Aceh Besar mempunyai 23 Kecamatan dan 8 diantaranya berada di pesisir. Kecamatan Peukan Bada merupakan kawasan pesisir yang masyarakatnya sebahagian besar merupakan nelayan. Nelayan Peukan Bada berjumlah 211 nelayan yang melakukan penangkapan ikan di Kawasan konservasi perairan daerah Pulau Tuan. Kawasan Konservasi Perairan daerah Pulau Tuan Telah ditetapkan sebagai Kawasan Konservasi Perairan daerah dengan SK Bupati Aceh Besar Nomor 190 tahun 2011 tentang Pembentukan Kawasan Konservasi Perairan daerah Daerah Kabupaten Aceh Besar Provinsi Aceh. Pada penelitian ini, perlu dilakukan sebuah kajian mengenai hubungan partisipasi nelayan dan peran pemangku kepentingan sebagai alat dan acuan dalam melakukan kegiatan pemanfaatan di sebuah perairan daerah. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui partisipasi nelayan dan peran pemangku kepentingan dalam pengelolaan kawasan konservasi perairan daerah

(2)

485

Pulau Tuan, serta mengetahui hubungan partisipasi nelayan dan peran pemangku kepentingan dalam pengelolaan kawasan konservasi perairan daerah Pulau Tuan. Data yang digunakan meliputi data primer dan data sekunder. Metode analisis yang digunakan untuk mengetahui hubungan keduanya menggunakan rumus korelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel partisipasi nelayan sangat tinggi sebesar 81,94% dan variabel peran pemangku kepentingan sangat tinggi sebesar 77,78%. Nilai korelasi menunjukkan terdapat hubungan antara kedua variabel dengan nilai r = 0,839 dan hubungan antara partisipasi nelayan dan peran pemangku kepentingan tinggi.

Kata kunci : Partisipasi Nelayan, Peran Pemangku Kepentingan, Pulau Tuan, Peukan Bada.

PENDAHULUAN

Kabupaten Aceh Besar yang terbagi dalam 23 Kecamatan dan 8 Kecamatan diantaranya berada di pesisir. Salah satu kecamatan pesisir yang ada diwilayah kabupaten Aceh Besar adalah kecamatan Peukan Bada. Kecamatan Peukan Bada berada disebelah Utara Selat Malaka, dan sebagian masyarakat nya sebagai nelayan. Jumlah nelayan Peukan Bada sebanyak 211 nelayan yang melakukan aktivitas penangkapan di Pulau Tuan. Pulau Tuan merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Aceh Besar provinsi Aceh. Pulau ini berada di sebelah Barat Laut Kota Banda Aceh yang berjarak ± 7,5 Km dari Desa Ulee Lheu dan ±1,2 Km dari Desa Peukan Bada. Pulau tuan merupakan lokasi yang telah disepakati menjadi zona inti didalam kawasan konservasi perairan daerah (KKPD) di pesisir dan perairan Utara dan Barat Kabupaten Aceh Besar (DKP Aceh Besar, 2013). Sistem KKPD di Kabupaten Aceh Besar adalah sistem Kawasan Konservasi Perairan daerah yang telah ditetapkan berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Aceh Besar No. 190 Tahun 2011 tentang Kawasan Konservasi Perairan daerah Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. Pengelolaan dan pengembangan kawasan ini sangat tergantung kepada partisipasi masyarakat dalam pengelolaannya, sebab masyarakat sekitar merupakan pengguna sumberdaya yang secara langsung berhubungan dengan pemanfaatan dan pengelolaan kawasan tersebut.

Kawasan konservasi perairan daerah (KKPD) dibentuk untuk mewujudkan pengelolaan sumberdaya laut dan lingkungannya secara berkelanjutan. Pengelolaan yang baik akan berdampak kepada masyarakat yang bergantung terhadap sumberdaya laut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari karena sebagian besar masyarakat sekitarnya adalah nelayan. Keberhasilan suatu kawasan konservasi dapat menyelamatkan keanekaragaman hayati dan sangat menentukan kelangsungan kawasan konservasi perairan daerahpada masa akan datang. Berdasarkan pemaparan tersebut penting untuk dilakukannya sebuah kajian mengenai hubungan partisipasi nelayan dan peran pemangku kepentingan terhadap pengelolaan kawasan konservasi perairan daerah Pulau Tuan untuk dijadikan sebagai alat dan acuan oleh nelayan dan pemangku kepentingan lainnya dalam melakukan kegiatan pemanfaatan di sebuah perairan.

(3)

486

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2017 yang berlokasi di kawasan konservasi perairan daerah Pulau Tuan, Kecamatan Peukan Bada Kabupaten Aceh Besar.

Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengamatan langsung dan wawancara kepada nelayan menggunakan kuesioner. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah purposive sampling dimana penentuan responden secara sengaja. Menurut Pratama (2016), rumus untuk menghitung jumlah sampel yang dijadikan responden adalah sebagai berikut :

Keterangan :

n = Banyaknya sampel yang diambil N = Jumlah populasi nelayan Pulau Tuan

= Kesalahan maksimal yang dapat diterima (0,1)2 = Normal Variabel (1,96)2

= Percent Variance (0,05)2

Responden yang diambil dalam penelitian ini sebanyak 18 orang nelayan. Data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder yang selanjutnya dianalisis untuk mendapatkan suatu hasil.

Analisis Data

Setelah seluruh data terkumpul, proses selanjutnya adalah memberi skor pada masing-masing jawaban dari pertanyaan yang diajukan. Data yang diolah terlebih dahulu ditafsirkan menggunakan skala Likert dengan nilai 1-4 dan skor ini kemudian ditafsirkan dengan pengertian (1) dengan sangat tidak tinggi, (2) tidak tinggi, (3) tinggi dan (4) sangat tinggi. Hasil pemberian kode jawaban pada kuisioner kemudian dianalisis lebih lanjut untuk mengetahui interval sebagai berikut :

Tabel 1Nilai yang dihasilkan dari rumus interval

Nilai Interpretasi

0% - 24,99% Sangat Tidak Tinggi

25% - 49,99% Tidak Tinggi

50% - 74,99% Tinggi

75% - 99,99% Sangat Tinggi

Sumber : Hamid (2013).

Sedangkan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara partisipasi nelayan dengan peran pemangku kepentingan di kawasan konservasi perairan daerah Pulau Tuan dilakukan uji korelasi antara variabel partisipasi nelayan (x) dan variabel peran pemangku kepentingan(y) dengan menggunakan rumus sebagai berikut (Usman dan Akbar 2006):

(4)

487 Keterangan:

rxy = Koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y n = Banyaknya subjek

x = Jumlah semua data variabel X ∑y = Jumlah semua data variabel Y

x2 = Jumlah semua data variabel X yang dikuadratkan ∑ y2= Jumlah semua data variabel Y yang dikuadratkan

Tabel 2 Interval korelasi dan hubungan antar variabel

r Interpretasi 0 0,01 – 0,20 0,21 – 0,40 0,41 – 0,60 0,61 – 0,80 0,81 – 0,99 1 Tidak berkorelasi Sangat rendah Rendah Agak Rendah Cukup Tinggi Sangat tinggi

HASIL DAN PEMBAHASAN Partisipasi Nelayan Dalam Pengelolaan KKPD

Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa partisipasi nelayan Pulau Tuan dalam pengelolaan KKPD termasuk dalam partisipasi sangat tinggi dengan nilai sebesar 81,94%. KKPD Pulau Tuan diresmikan pada tahun 2011 dengan SK Bupati Aceh Besar nomor 190 tahun 2011 tentang pembentukan kawasan konservasi perairan daerah kabupaten Aceh Besar Provinsi Aceh. Setelah ditetapkan sebagai KKPD, maka aturan yang berlaku (DKP, 2013), yaitu :

1. Nelayan dilarang melakukan pengeboman dan peembiusan 2. Dilarang menebar jaring, melempar jangkar

3. Dilarang melakukan budidaya dan setiap ada kegiatan diwilayah KKPD harus sepengetahuan Panglima Laot.

Panglima Laot memiliki wewenang antara lain: mengembangkan dan menegakkan adat laot, mengatur pemanfaatan sumberdaya kelautan dan peradilan adat laot. Hukum adat laot dan adat-istiadat merupakan hukum-hukum untuk menjaga ketertiban dalam penangkapan ikan dan kehidupan masyarakat di pantai (Sulaiman, 2010). Hukum yang berlaku didalam KKPD untuk penangkapan ikan berjarak 300 m dari kawasan konservasi. Alat penangkapan yang digunakan yaitu, pancing dan pukat pantai. Bagi yang melanggar aturan maka sanksi yang telah disepakati yaitu: Sanski tingkat pertama, diberikan berupa teguran oleh Panglima Laot. Sanksi tingkat kedua, apabila pelaku melakukan pelanggaran maka sanksi yang diberikan berupa penyitaan alat tangkap, armada penangkapan selama seminggu dan sanksi tingkat ketiga alat tangkap dan armada penangkapan ditarik dan tidak dikembalikan. Terbentuknya Pulau Tuan sebagai KKPD telah meningkatkan kesadaran terhadap partisipasi nelayan dan Panglima Laot untuk lebih aktif dalam

(5)

488

pengelolaan. Nelayan Pulau Tuan mulai menyadari dan menjaga KKPD dengan tidak melakukan pengeboman dan tidak menebar jaring.

Peran PemangkukepentinganDalam Pengelolaan KKPD

Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat peran pemangku kepentingan Pulau Tuan dalam pengelolaan KKPD termasuk dalam peran sangat tinggi dengan nilai sebesar 77,78 %. Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan daerah tidak terlepas dari hak pemilikan atau hak pengelolaan dari pihak berkepentingan (Pemangku kepentingan). Tiap-tiap pihak memiliki peran dan kepentingan yang berbeda.

Dalam proses pengelolaan diperlukan kejelasan akan hak milik yang akan menentukan dan membatasi sejauh mana pihak tersebut dapat berperan dalam proses pengelolaan (Randan, 2011). Pada proses pembentukan dan pengelolaan KKPD peran pemerintah daerah adalah menetapkan peraturan daerah terkait. Secara keseluruhan kewenangan untuk mengatur KKPD Pulau Tuan diberikan kepada DKP Kabupaten Aceh Besar. DKP memiliki kewenangan untuk mengatur KKPD yang berada di Kabupaten Aceh Besar.Pengelolaan KKPD dilakukan dengan kerjasama antar lembaga pemerintah maupun lembaga non pemerintahan.Pangkalan Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PPSDKP) merupakan lembaga pemerintah yang memiliki tanggung jawab dalam pemantauan KKPD Pulau Tuan.

Hal ini sesuai dengan Hafrialdi et al (2016), Pengawasan ekosistem perairan daerah khususnya pengawasan kawasan konservasi perairan daerah dilaksanakan untuk menjaga kelestarian ekosistem pesisir, dan pulau-pulau kecil. Melindungi habitat biota laut serta melindungi alur migrasi ikan dan biota laut lainnya. Yayasan Lamjabat sebagai lembaga non pemerintah yang diberi tanggung jawab dalam mengawasi dan menjaga KKPD.Yayasan Lamjabat bekerjasama dengan DKP Aceh Besar dalam menfasilitasi nelayan dengan memberikan rumpon dan perbaikan tambak nelayan. Sehingga dengan pemberian rumpon tersebut nelayan tidak melakukan penangkapan ikan di sekitar KKPD.

Hubungan Antara Partisipasi Nelayan dan Peran PemangkuKepentingan

Berdasarkan hasil analisis kuisioner responden mengenai partisipasi nelayan dan peran pemangku kepentingan selanjutnya dianalisis mengenai adakah hubungan antara partisipasi nelayan dan peran pemangku kepentingan. Analisis menggunakan software SPSS menunjukkan bahwa adanya hubungan antara variabel partisipasi nelayan dan variabel peran pemangku kepentingan dalam mengelola KKPD. Hubungan kedua variabel partisipasi nelayan dan peran pemangku kepentingan tinggi dengan nilai r = 0,839.

Tabel 3 Hasil analisis software SPSS

partisipasi nelayan

peran pemangku kepentingan

partisipasi nelayan Pearson Correlation 1 .839(**)

Sig. (2-tailed) . .000

N 18 18

peran pemangku

kepentingan Pearson Correlation .839(**) 1

Sig. (2-tailed) .000 .

(6)

489

Nilai r sebesar 0,839 termasuk dalam kategori tingkat hubungan yang tinggi (Usman et al. 2006). Hasil menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara partisipasi nelayan dan peran pemangku kepentingan dalam mengelola kawasan konservasi perairan daerah Pulau Tuan artinya apabila tingkat partisipasi nelayan dinaikkan maka tingkat peran pemangkukepentingan juga akan meningkat.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian, partisipasi nelayan dalam pengelolaan kawasan konservasi perairan daerah Pulau Tuan, Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Partisipasi nelayan pada kawasan konservasi perairan daerah pulau tuan termasuk dalam partisipasi sangat tinggi sebesar 81,94 % dan peran pemangku kepentingan sangat tinggi sebesar 77,78 %.

2. Hubungan antara partisipasi nelayan dan peran pemangku kepentingan memiliki hubungan yang tinggi dengan nilai r sebesar 0,839.

DAFTAR PUSTAKA

DKP [Dinas Kelautan dan Perikanan]. 2013. Fasilitasi penyusunan zonasi kawasan konservasi perairan daerah Kabupaten Aceh Besar. Aceh Besar.

Hafrialdi. Y. Bustami. Zulfikar. D.P. Keliat. 2016. Laporan pemantauan kawasan konservasi perairan dan sumber daya kelautan di Pulau Keluang Daya, Kabupaten Aceh Jaya. 2016. PSDKP Sabang/Lampulo. Banda Aceh.

Hamid, D. 2013. Metode penelitian pendidikan. Alfabeta. Bandung.

Pratama, M.A., T.D. Hapsari., I. Triarso. 2016.Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil produksi unit penangkapan purse seine (gardan) di fishing base Ppp Muncar, Banyuwangi, Jawa Timur. Jurnal Saintek Perikanan Vol.11 No.2: 120-128.

Randan, N. 2011. Analisis dampak penetapan kawasan konservasi laut daerah terhadap kondisi sosial ekonomi nelayan (kasus daerah perlindungan laut Kampung Saporkren, Distrik Waigeo Selatan, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat). IPB.

Sulaiman, 2010. Model Alternatif pengelolaan perikanan berbasis hukum adat laot di Kabupaten Aceh Jaya menuju keberkelanjutan lingkungan yang berorientasi kesejahteraan masyarakat.Universitas Diponegoro.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :