Peran film “Cheng-Cheng Po� untuk mananamkan semangat perdamaian bagi remaja Katolik di Stasi Santo Antonius Padua, Paroki Santo Hendrikus, Melolo, Sumba Timur - USD Repository

128 

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Ilmu

Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik

Oleh:

Magdalena Mada Hede NIM: 051124028

PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(2)
(3)
(4)

iv

(†) Hendrikus Hede Lobo & Lusia Dia Bunga; Kakak-kakak & adik-adikku,

(5)
(6)
(7)
(8)

viii

STASI SANTO ANTONIUS PADUA, PAROKI SANTO HENDRIKUS, MELOLO, SUMBA TIMUR”. Adapun penulisan ini berawal dari keprihatinan penulis bahwa tindakan kekerasan, pertikaian, pelanggaran HAM, penindasan terhadap kaum perempuan dan anak, dan konflik baik karena perbedaan suku, budaya, maupun bahasa, semua itu menjadi problem yang belum dapat diselesaikan. Situasi itu mengakibatkan hidup manusia menjadi tidak nyaman, damai dan tentram. Menciptakan dunia yang damai adalah tanggung jawab setiap pribadi. Remaja Katolik stasi St. Antonius Padua pun ikut bertanggung jawab dalam tugas ini.

Remaja Katolik stasi St. Antonis Padua adalah penerus Gereja pada masa yang akan datang dan mereka ini diharapkan mampu menjadi pewarta kabar gembira (damai). Seiring dengan perkembangan jaman terlebih dalam dunia hiburan (film) kebanyakan remaja terpengaruh oleh tawaran-tawaran negatif dan akhirnya mempengaruhi pembentukan karakter para remaja. Dari hasil penelitian, penulis menemukan bahwa remaja Katolik di stasi St. Antonius Padua pun telah terpengaruh oleh tawaran-tawaran negatif dari media hiburan (film). Hal ini terlihat jelas dari pola pikir, cara berbicara, bertindak dan masih banyak lagi. Oleh karena itu diperlukan suatu pendampingan iman lewat katekese dengan menggunakan media audio visual. Menggunakan media audio visual (film) dalam katekese diharapkan remaja stasi St. Antonius Padua mampu mengambil hal yang positif dari tayangan yang ada.

(9)

STATION OF SANTO ANTONY OF PADUA OF SANTO HENDRICK PARISH IN MELOLO EAST-SUMBA. This writing appears for the observation of the writer concerning to the violence toward women and child and the conflict of discrimination, culture, language which have no way out; can not be solved up to this present moment. People live in the situation of violence where they find that peace and harmony seems to be far from them. Everyone, however, is responsible to create and to and bring peace to our world as well as the Catholic youth too.

The teenagers of St Antony of Padua station are the successors of the Church in the future. Therefore, they are demanded to proclaim the good news to the world (Peace). Living in the modern life, many teenagers have been influenced by the worldly things that effect their personality and characteristic as a human person. According to the observation of the writer, there so many teenagers of St Antony of Padua station have been influenced by the worldly entertainments too. This problem can be seen from the way they think, speak, and behave etc. Therefore they need a good guidance for their faith through catechism through the means of the audio visual media. Actually, the teenagers of St Antony of Padua station are demanded to grasp or to take the positive thing from whatever has been presented or shown through this audio visual media.

(10)

x

Syukur dan pujian kepada Tuhan karena keagungan cinta-Nya yang telah penulis terima, sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi yang berjudul ”PERAN FILM ’CHENG-CHENG PO’ UNTUK MENANAMKAN SEMANGAT PERDAMAIAN BAGI REMAJA KATOLIK DI STASI SANTO ANTONIUS PADUA, PAROKI SANTO HENDRIKUS, MELOLO, SUMBA TIMUR”.

Penulisan skripsi ini sungguh telah menyerap perhatian, dorongan serta bantuan dari orang-orang yang sungguh memiliki cinta. Oleh karena itu pada kesempatan ini, secara istimewa penulis menghaturkan terima kasih yang tulus kepada:

1. Drs. Y.I. Iswarahadi S.J., M.A. selaku dosen pembimbing I dan dosen penguji utama yang begitu sabar, tulus, dan setia mendampingi dan mendukung penulis dari awal hingga penulisan skripsi ini selesai.

2. Dra. J. Sri Murtini, M.Si., selaku dosen pembimbing akademik dan sekaligus dosen penguji II yang selama ini telah mendampingi dan mendukung penulis selama kuliah di IPPAK.

3. Dra. Y. Supriyati, M.Pd., selaku dosen penguji III atas kesediaannya dalam memberikan masukan dan saran demi menyempurnakan skripsi ini.

(11)

kateksese audio visual.

6. Bapak Marsel, Yohan, Agus, Arky, dan Putri Hede yang telah membantu penulis mulai dari penyebaran kuesioner hingga pelaksanaan katekese.

7. Fr. Flori, BHK yang telah menemani dan yang selalu memotivasi penulis sejak awal masuk kuliah hingga menyelesaikan skripsi ini.

8. Keluarga bapak Agus yang telah membantu penulis dengan tulus baik secara materi , doa, perhatian, dan juga cintanya sejak masuk kuliah hingga lulus.

9. Martin Lamury. Terimakasih untuk cinta, kritik, saran, sehingga penulis terdorong untuk menyelesaikan skripsi ini.

10.Papa (†) dan Mama, kakak-kakak, dan adik-adik penulis, yang sudah mendukung

penulis baik secara materi, perhatian, cinta, dan doa.

11.Teman-teman remaja Katolik stasi St. Antonius Padua, yang telah ambil bagian dan membantu penulis baik dari penelitian hingga pelaksanaan katekese.

12.Teman-teman angkatan 2005-2006, kehadiran kalian telah memotivasi penulis untuk tidak menyerah dan terus berjuang dalam menyelesaikan studi di IPPAK.

13.Sahabatku ada Henny, Anas, Eri, Lisna, Nuri, Desy, dan Lusy, kehadiran kalian membawa warna tersendiri dalam hidup penulis.

(12)

xii

sebagai prasyaratan kelulusan saja namun dapat juga bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya.

Yogyakarta, 2 September 2009

Penulis,

(13)

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

MOTTO ...v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

PERNYATAAN PUBLIKASI ... vii

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xi

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Penulisan Skripsi ... 1

B. Rumusan Masalah ... 4

C. Tujuan Penulisan ... 4

D. Manfaat Penulisan ... 5

E. Metode Penulisan ... 5

F. Sistematika Penulisan ... 6

BAB II. MEDIA AUDIO VISUAL DAN KATEKESE ... 8

A. Media Audio Visual ... 8

1. Pengertian Audio Visual ... 9

2. Katekese Audio Visual ...10

3. Pandangan Gereja Katolik tentang Media Komunikasi ...11

a. Pandangan Gereja Katolik dalam Inter Mirifica ...11

b. Pandangan Gereja Katolik dalam Communio Et Progressio ...13

c. Pandangan Gereja Katolik dalam Aetatis Novae ...13

B. Pengertian Katekese ... 14

1. Tujuan Katekese ... 16

2. Isi Katekese ... 16

(14)

xiv

2. Kedudukan Film di Mata Remaja ... 18

3. Kekuatan dan Kelemahan Film ... 18

4. Peranan Film untuk Menanamkan Semangat Perdamaian ... 19

D. Gambaran tentang Perdamaian ... 20

1. Pengertian Perdamaian ... 20

2. Perdamaian menurut Mahatma Gandhi ... 20

3. Perdamaian menurut Kitab Suci ... 21

E. Kaum Remaja dan Permasalahnnya ... 22

BAB III. SITUASI REMAJA KATOLIK DI STASI SANTO ANTONIUS PADUA, PAROKI SANTO HENDRIKUS, MELOLO, SUMBA TIMUR DAN USAHA UNTUK MENANAMKAN SEMANGAT PERDAMAIAN MELALUI FILM ”CHENG-CHENG PO” ... 26

A. Gambaran situasi Remaja Katolik di Stasi St. Antonius Padua, Paroki St. Hendrikus, Melolo, Sumba Timur ... 26

1. Pembagian Basis ... 27

2. Jumlah Umat ... 27

3. Situasi Kaum Muda dan Permasalahannya ... 27

B. Penelitian dan Pembahasan ... 28

1. Tujuan Penelitian ... 28

2. Manfaat Penelitian ... 28

3. Metode Penelitian ... 28

4. Responden ... 29

5. Instrumen Penelitian ... 29

6. Waktu Tempat Penelitian ... 29

7. Hasil Penelitian ... 30

(15)

A. Pengertian Program ... 51

B. Latar Belakang Penyususnan Program ... 52

C. Alasan Pemilihan Tema ... 52

D. Program Katekese serta Contoh Persiapan Katekese bagi Remaja Katolik untuk Menanamkan Semangat Perdamaian di Stasi St. Antonius Padua, Palakahembi, Paroki St. Hendrikus, Melolo, Sumba Timur melalui Media Film “Cheng-cheng Po” ... 54

1. Program katekese audio visual bagi remaja Katolik stasi St. Antonius Padua, Paroki St. Hendrikus, Melolo, Sumba Timur melalui Media Film “Cheng-cheng Po” ... 54

2. Contoh Persiapan Katekese bagi Remaja Katolik stasi St. Antonius Padua, Paroki St. Hendrikus, Melolo, Sumba Timur ... 54

E. Praktik Katekese dengan Menggunakan Media Film “Cheng-cheng Po” untuk Menanamkan Semangat Perdamaian di Stasi St. Antonius Padua, Paroki St. Hendrikus, Melolo, Sumba Timur ... 54

1. Pelaksanaan Katekese Bagi Remaja I ... 55

2. Pelaksanaan Katekese Bagi Remaja II ... 64

F. Evaluasi Pelaksanaan Program Katekese ... 73

1. Hasil Evaluasi Pertemuan I ... 73

2. Hasil Evaluasi Pertemuan II... 74

G. Rangkuman ... 78

BAB V. PENUTUP ... 79

A. Kesimpulan ... 79

B. Saran ... 80

DAFTAR PUSTAKA ... 81

LAMPIRAN ... 82

Lampiran 1: Kuesioner Penelitian ... (1)

(16)

xvi

Lampiran 4: Cerita ”Sandubaya dan Lala Seruni” ... (20)

Lampiran 5: Foto-foto Peserta Katekese Audio Visual ... (23)

Lampiran 6: Daftar Hadir Peserta Pertemuan I ... (24)

Lampiran 7: Daftar Hadir Peserta Pertemuan II ... (25)

(17)

A. Singkatan Dokumen Resmi Gereja

AN : Aetatis Novae, Instruksi Pastoral Dewan Kepausan untuk Komunikasi Sosialtentang Tantangan Komunikasi Dewasa ini, 2 Februari 1992.

CP : Communio Et Progressio, Intruksi Pastoral tentang Sumbangan Media

bagi Kemajuan Umat Manusia serta Komitmen Orang Katolik terhadap Media, 23 Mei 1971.

IM : Inter Mirifica, Dekrit Konsili Vatikan II tentang Upaya-upaya

Komunikasi Sosial, 4 Desember 1963.

CT : Catechesi Traedendae, Anjuran Apostolik Paus Yohanes Paulus II

tentang Katekese, 16 Oktober 1979.

B. Singkatan Lain Art : artikel dsb : dan sebagainya DVD : Digital Video Disc

FKIP : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Fr : Frekuensi

Fr : Frater

HAM : Hak Asasi Manusia

(18)

xviii RI : Republik Indonesia

St : Santo

Sta : Santa SD : Sekolah Dasar

SLTP : Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama

SOTARAE : Situasi, Obyektif, Tema, Analisis, Rangkuman, Aksi, Evaluasi Sr : Suster

(19)

BAB I

PENDAHULUAN

Pada bab pendahuluan, penulis membahas mengenai latar belakang, perumusan masalah, tujuan, manfaat, metode, dan sistematika penulisan skripsi. Untuk lebih memperjelas hal-hal tersebut, berikut ini adalah uraiannya:

A. Latar Belakang Penulisan Skripsi

Akhir-akhir ini tindakan kekerasan, pertikaian, pelanggaran HAM, penindasan terhadap kaum perempuan dan anak, dan konflik baik karena perbedaan suku, budaya, maupun bahasa menjadi problem bagi seluruh dunia. Kita di Indonesia pun mengalaminya dan problem ini membawa banyak penderitaan dan membuat orang tidak berdaya untuk mengatasinya. Orang menjadi mudah marah dan menaruh dendam, curiga, egois, dan masih banyak lagi. Akibatnya hidup manusia menjadi tidak nyaman, damai dan tentram. Usaha memupuk hidup yang tentram dan mewujudkan perdamaian menjadi amat sulit karena berbagai kesulitan dan tantangan yang dihadapi jaman sekarang khususnya bagi para remaja. Misalnya, pengaruh teknologi yang semakin canggih, pola hidup instan, membuat orang tidak lagi tahan menderita ataupun menghadapi kesulitan bahkan kebanyakan orang lebih cenderung untuk memilih jalan konflik dan perang.

(20)

kenyataan ini, Gereja tidak tinggal diam dan mengamatinya saja. Oleh karena itu Gereja mengajak semua umat beriman untuk ikut ambil bagian dalam menciptakan perdamaian. Perdamaian merupakan suatu usaha dan perjuangan yang tiada henti-hentinya dilakukan oleh Gereja. Bahkan sekarang ini usaha untuk mewujudkan perdamaian diserukan di seluruh penjuru dunia. Menciptakan perdamaian tidak mungkin sekali jadi, namun membutuhkan waktu dan proses terus-menerus. Diana Mavunduse dan Simon Oxley (2006: 3) dalam bukunya Mengapa Tindak Kekerasan? Mengapa Bukan Damai? mengutip apa yang dikatakan Mother Theresa bahwa: “Perdamaian bukanlah sesuatu yang Anda inginkan, perdamaian adalah sesuatu yang Anda harus ciptakan, sesuatu yang Anda kerjakan, sesuatu yang menjadi bagian dari dirimu, sesuatu yang harus Anda berikan”.

Kutipan ini merupakan sebuah ajakan bagi siapa saja untuk menjadi pemberi dan pencipta perdamaian. Ajakan ini bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Demikian juga usaha menanamkan semangat perdamaian bagi remaja di jaman sekarang sangatlah sulit. Hal ini dikatakan sulit karena melihat perkembangan dunia yang sangat pesat di mana perdamaian menjadi suatu hal yang sulit untuk dimiliki apalagi untuk dialami.

(21)

Bertitik tolak dari kenyataan di atas, kita dipanggil untuk menjadi tanda bahwa Allah menghendaki keselamatan bagi setiap orang. Berarti kita diutus untuk mewartakan kabar gembira Kerajaan Allah kepada sesama. Untuk menanggapi situasi itu maka di Indonesia telah dirintis apa yang disebut dengan katekese yang bertitik tolak dari keprihatinan jemaat atau masyarakat. Katekese umat pada prinsipnya adalah bagaimana membina iman umat agar terlibat dalam masyarakat. Pada perkembangan selanjutnya muncul istilah katekese audio visual.

Media audio visual menjadi salah satu alternatif yang dipakai oleh Gereja dalam mewartakan kabar gembira Kerajaan Allah di jaman modern ini. Media ini digunakan agar mempermudah umat dalam mengkomunikasikan imannya. Selain itu juga, katekese audio visual juga memberi kesempatan untuk membentuk suatu kelompok orang beriman, di mana komunikasi antarumat lebih kuat dan lebih mendalam.

(22)

itu menunjukkan adanya perdamaian di mana ada rasa tenteram, tenang, keadaan tidak ada permusuhan, dan warga dapat hidup berdampingan antara satu dan yang lain.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang penulisan yang telah diuraikan di atas, maka penulis merumuskan beberapa masalah yang akan diungkapkan dalam skripsi ini, yaitu:

1. Bagaimanakah gambaran situasi remaja Katolik terhadap media audio visual?

2. Sejauh mana perdamaian menjadi suatu cara hidup bagi remaja Katolik di stasi St. Antonius Padua?

3. Sejauh mana media audio visual dimanfaatkan oleh Gereja dalam pewartaan iman? 4. Sejauh mana peran media audio visual khususnya film “Cheng-cheng Po” dalam

usaha menanamkan semangat perdamaian bagi remaja Katolik di stasi St. Antonius Padua, Paroki St. Hendrikus, Melolo, Sumba Timur?

C. Tujuan Penulisan

Berdasarkan permasalahan yang diungkapkan di atas, maka penulisan ini mempunyai tujuan, yaitu:

1. Untuk mengetahui gambaran situasi remaja Katolik di stasi St. Antonius Padua Paroki St. Hendrikus, Melolo, Sumba Timur.

(23)

3. Untuk membangun sikap kritis dan tanggap dalam diri remaja Katolik stasi St. Antonius Padua dalam melihat masalah-masalah perdamaian yang terjadi saat ini dalam kehidupan sehari-hari.

4. Untuk memaparkan peranan media audio visual khususnya film “Cheng-cheng Po” dalam usaha menanamkan semangat perdamaian bagi remaja Katolik di stasi St. Antonius Padua, Paroki St. Hendrikus, Melolo, Sumba Timur.

D. Manfaat Penulisan

Berdasarkan tujuan penulisan yang telah diuraikan di atas, maka penulisan ini diharapkan dapat berguna untuk:

1. Tulisan ini memberi sumbangan bagi karya pewartaan dengan model katekese audio visual.

2. Para pembaca belajar serta menambah pengetahuan sehubungan dengan pewartaan iman melalui media audio visual.

3. Tulisan ini menambah pemahaman akan pentingnya peran katekese audio visual dalam bidang pewartaan iman.

E. Metode Penulisan

(24)

akan mengadakan eksperimen program katekese dengan menggunakan film ”Cheng-cheng Po”. Dari pelaksanaan usulan program katekese dengan menggunakan media film penulis akan melakukan evaluasi. Evaluasi ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana film ”Cheng-cheng Po” berperan dalam menanamkan semangat perdamaian bagi remaja katolik.

F. Sistematika Penulisan

Tulisan ini terdiri dari lima bab. Adapun garis besar bab tersebut dapat dirinci sebagai berikut:

BAB I. PENDAHULUAN

Bab ini berisikan pokok-pokok latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan.

BAB II. MEDIA AUDIO VISUAL DAN KATEKESE

Dalam bab ini penulis berbicara mengenai ketekese audio visual dan film ”Cheng-cheng Po” untuk menanamkan semangat perdamaian bagi remaja Katolik. Pada bab ini penulis akan mengurai lima hal pokok, yaitu menguraikan pengertian media audio visual, katekese dan film ”Cheng-cheng Po” sebagai sarana untuk menanamkan semangat perdamaian bari remaja Katolik, Gambaran tentang Perdamaian, Kaum Remaja dan Permasalahannya.

(25)

UNTUK MENANAMKAN SEMANGAT PERDAMAIAN MELALUI FILM ”CHENG-CHENG PO”

Isi dari bab ini adalah situasi remaja Katolik di stasi St. Antonius Padua, Paroki St. Hendrikus, Melolo, Sumba Timur. Isi dari bab ini juga tentang perencanaan dan pelaksanaan penelitian di stasi St. Antonius Padua, Paroki St. Hendrikus, Melolo, Sumba Timur. Hal-hal yang akan dibahas antara lain seputar situasi yang terjadi dan hal itu berkaitan dengan remaja di stasi tersebut, hasil penelitian dan analisis.

BAB IV. PROGRAM KATEKESE MELALUI FILM “CHENG-CHENG PO” UNTUK MENANAMKAN SEMANGAT PERDAMAIAN REMAJA KATOLIK DI STASI SANTO ANTONIUS PADUA, PAROKI SANTO HENDRIKUS, MELOLO, SUMBA TIMUR

Pada bagian ini penulis akan menguraikan pengertian program, latar belakang penyusunan program, alasan pemilihan tema, program katekese dengan menggunakan film ”Cheng-cheng Po”, contoh persiapan, dan praktik katekese bagi remaja Katolik St. Antonius Padua, Paroki St. Hendrikus, Melolo, Sumba Timur, dan evaluasi kegiatan.

BAB V. PENUTUP

(26)

BAB II

MEDIA AUDIO VISUAL DAN KATEKESE

Pada bab ini penulis mengurai lima hal pokok. Pertama, media audio visual di mana penulis akan menguraikan pengertian audio visual, katekese audio visual, serta pandangan Gereja tentang media komunikasi. Kedua, katekese, pada bagian ini penulis akan menguraikan tujuan, isi, proses, dan peserta katekese. Ketiga, katekese melalui film untuk menanamkan semangat perdamaian, gambaran tentang perdamaian, dan kaum remaja dan permasalahannya.

A. Media Audio Visual

Arti kata “media” berasal dari kata Latin yaitu “medium”. Media merupakan bentuk jamak dari medium. Kata “medium” berarti “perantara” atau “pengantar”. Pengertian umumnya adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi kepada penerima informasi.

(27)

juga mampu menciptakan solidaritas. Contohnya, film “Cheng-cheng Po” dapat mendorong para penontonnya untuk menghidupi nilai-nilai yang ada. Misalnya nilai solidaritas. Dengan menghidupi nilai solidaritas maka seseorang mampu menciptakan damai bagi orang lain. Ketiga, mobilisasi. Media mampu menggerakkan massa untuk peduli terhadap kehidupan. Contohnya, media mengangkat tentang korupsi. Ada begitu banyak mahasiswa yang tergerak dan berbondong-bondong melakukan demo agar pemerintah segera membasmi para koruptor. Keempat, memberi hiburan. Ketika seseorang berhenti dari aktivitas keseharian yang melelahkan dan ingin beristirahat, maka saat inilah mereka membutuhkan media untuk melepaskan lelah. Fungsi media yang lainnya adalah sebagai pemberi informasi. Contohnya, melalui berita-berita yang disiarkan lewat televisi seseorang dapat mengetahui perkembangan yang terjadi di suatu daerah.

1. Pengertian Audio Visual

(28)

Audio visual juga merupakan seperangkat sound system yang dilengkapi dengan penampilan gambar, biasanya digunakan untuk presentasi, home theater, dsb. Audio visual menjadi media komunikasi. Audio visual sebenarnya mengacu pada indra yang menjadi sasaran dari media tersebut. Media audio visual mengandalkan pendengaran dan penglihatan dari khalayak sasaran (penonton). Media komunikasi tentu saja melibatkan lebih banyak elemen media dan lebih membutuhkan perencanaan agar dapat mengkomunikasikan sesuatu. Film cerita, iklan, dan media pembelajaran adalah contoh media audio-visual yang lebih menonjolkan fungsi komunikasi.

2. Katekese Audio Visual

Katekese tidak dapat dipisahkan dari kenyataan dunia. Oleh karena itu katekese selalu berusaha menyesuaikan diri dengannya. Akhirnya muncul katekese kontekstual dan ini merupakan usaha Gereja untuk menjawab permasalahan yang ada di dunia. Katekese kontekstual berpijak dan berangkat atas konteks hidup dan permasalahan sosial yang dihadapi umat. Katekese juga mengarah kepada pertumbuhan iman dan hal ini terwujud lewat sikap solidaritas untuk ikut mengatasi permasalahan yang ada (Iswarahadi, 1992).

(29)

Katekese adalah pembinaan anak-anak, kaum muda, dan orang-orang dewasa dalam iman. Kegiatan katekese bersifat eklesial. Artinya, hal itu selalu berhubungan dengan tugas Gereja. Katekese audio visual dewasa ini merupakan sebuah upaya menyampaikan pengalaman pribadi sebagai orang kristiani. Tujuan katekese audio visual adalah untuk mempererat dan memperdalam persaudaraan. Sarana yang dapat dipakai antara lain adalah sound slide, film, video, permainan teater, wayang, gambar-gambar, tape, dan rekaman-rekaman (Eilers, 2001: 230-231).

Dalam katekese audio visual terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, komunikasi iman dibangun bukan semata-mata sebagai pelajaran atau doktrin, melainkan sebuah pertemuan rohani. Kedua adalah tempat berkatekese. Ini penting karena untuk melakukan katekese audio visual dengan baik diperlukan tempat yang benar-benar sesuai dan mendukung. Ketiga adalah bahan atau materi katekese audio visual yang akan digunakan. Memang ada banyak bahan katekese yang tersedia tetapi belum tentu itu sesuai dalam rangka katekese yang akan dilaksanakan. Oleh karena itu kita perlu selektif dalam pemilihan bahan (Adisusanto, 2001: 9-10).

3. Pandangan Gereja Katolik tentang Media Komunikasi

Media komunikasi memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan dunia. Pengaruh media komunikasi juga masuk dalam kehidupan Gereja. Hal itu terjadi karena Gereja berada di tengah dunia. Hadirnya media komunikasi sangat didukung oleh Gereja dan ini terlihat dari tiga dokumen Gereja, yaitu Inter Mirifica, Communio Et Progressio, dan

(30)

a. Pandangan Gereja Katolik dalam Inter Mirifica

Di zaman yang maju ini ada begitu banyak penemuan dan salah satu wujudnya adalah munculnya berbagai macam media komunikasi sosial. Media komunikasi sosial ternyata mampu menyentuh jiwa manusia, dapat menyalurkan berbagai macam berita, gagasan, dan pedoman-pedoman kepada masyarakat. Yang paling menonjol dari penemuan-penemuan itu adalah upaya-upaya yang pada hakikatnya mampu mencapai dam menggerakkan seluruh umat manusia (Inter Mirifica, Art. 1). Munculnya media komunikasi sangat berpengaruh karena informasi, berita, ide, dan gagasan-gagasan dapat disampaikan kepada khalayak ramai.

Melihat perkembangan itu Gereja perlu berjuang demi Kerajaan Allah dan mengambil sikap di mana dengan berbagai penemuan teknologi yang ada Gereja menjadikan itu sebagai model dalam hidup umat saat ini. Gereja juga perlu waspada terhadap praktik penggunaan media komunikasi sosial karena bisa saja apa yang tejadi tidak sesuai dengan harapan. ”Manusia sering kali menyalahgunakan media serta melawan maksud Sang Pencipta sehingga menyebabkan kebinasaan”. (Inter Mirifica, Art. 2). Menyikapi hal ini Gereja hendaknya menjadi pelaku sekaligus pengawas dari penggunaan berbagai sarana teknologi. Dengan demikian Kerajaan Allah akan mudah diterima dan dirasakan oleh seluruh umat manusia.

(31)

pengguna media komunikasi perlu mengetahui kewajiban-kewajiban dalam pemakaian media tersebut. Kewajiban itu bersifat khusus dan juga bersifat umum.

Kewajiban yang bersifat khusus yaitu para pemakai media hendaknya menghindari program-program yang merugikan hidup rohani manusia. Selain itu mereka juga harus kritis terhadap kepentingan ekonomis di balik setiap program yang ditayangkan. Sedangkan kewajiban yang bersifat umum yaitu bahwa program atau tayangan hendaknya mengarahkan dan membina suara hati dengan upaya-upaya yang cocok (Inter Mirifica, Art. 9).

b. Pandangan Gereja Katolik dalam Communio Et Progressio

Manusia tidak bisa lepas dari perkembangan media. Akibat dari perkembangan media tidak dipungkiri bahwa Gereja dihadapkan dengan masalah baru dalam bidang pastoral. Dalam hal ini Gereja dituntut agar mengkaji ulang pola dan metode pewartaan.

Dokumen Gereja Communio Et Progessio adalah instruksi Pastoral yang disusun atas mandat dari Konsili Vatikan II yang diterbitkan pada tanggal 23 Mei 1971 oleh Paus Paulus VI. Dokumen ini khusus membicarakan media komunikasi.

(32)

suka cita Allah. Tugas pewartaan kabar suka cita Allah dapat disampaikan dengan menggunakan alat-alat komunikasi sosial yang disesuaikan dengan perkembangan jaman.

c. Pandangan Gereja Katolik dalam Aetatis Novae

Revolusi komunikasi berarti suatu situasi yang menunjukkan bahwa dunia mengalami pembentukan kembali secara mendasar dari unsur-unsur yang dipakai orang untuk memahami dunia di sekitar mereka, dan menguji serta mengekspresikan apa yang mereka pahami. Ciri-ciri dari revolusi komunikasi ini antara lain tersedianya gambar-gambar dan ide-ide secara terus-menerus, dan penyebarannya secara cepat bahkan dari benua ke benua, memberikan akibat yang mendalam, positif maupun negatif pada seluruh aspek kehidupan manusia (Aetatis Novae, Art. 4).

Kehadiran media komunikasi dilihat oleh Gereja sebagai peluang untuk mencapai hal ini. Gereja melihat media komunikasi sebagai sarana untuk memajukan komunikasi dan kesatuan di antara manusia selama hari-hari ziarah mereka di dunia (Aetatis Novae, Art. 8). Oleh karena itu, Gereja memberi perhatian yang lebih terhadap kegiatan komunikasi dan kinerjanya. Gereja secara tegas mengatakan bahwa ”komunikasi pada hakikatnya adalah menyampaikan Kabar Baik (Injil) Yesus Kristus. Dengan kata lain bahwa hakikat dari komunikasi dalam konteks jaman sekarang adalah kesaksian tentang keadilan dan kesatuan di antara berbagai umat, bangsa, dan budaya” (Aetatis Novae, Art. 9).

(33)

B. Pengertian Katekese

Arti kata katekese berasal dari kata Yunani “katechein” sebagai hasil bentukan dari kata “kat” yang artinya pergi atau meluas, dan “echo” yang memiliki arti menggemakan atau menyuarakan keluar (Telaumbanua, 1999: 4). Kata katechein sebagai bentukan kata berarti menggemakan atau menyuarakan keluar. Katekese juga dimengerti sebagai ilmu karena disejajarkan dengan ilmu pastoral dan ilmu teologi.

Dalam suatu naskah kerja katekese Mencari Arah Katekese tulisan Setyakarjana dengan bantuan Dewan Harian PWI-Katekese dirumuskan: “Katekese adalah usaha saling menolong terus-menerus dari setiap orang untuk meng-arti-kan dan mendalami hidup pribadi maupun bersama menurut pola Kristus menuju kepada hidup Kristus yang dewasa penuh” (Setyakarjana, 1976: 38).

Katekese adalah suatu bentuk pembinaan iman bagi anak-anak, kaum muda, dan orang dewasa yang merupakan usaha saling menolong terus menerus dari setiap orang dengan tujuan agar iman umat berkembang menurut pola Yesus Kristus menuju hidup Kristiani yang dewasa penuh. Katekese tersebut dilaksanakan oleh umat yang saling mengkomunikasikan imannya, sehingga iman masing-masing diteguhkan dan dihayati dengan semakin sempurna (Telaumbanua, 1999: 4).

(34)

hidup Kristen” (CT, art. 18). Kutipan ini mau menegaskan bahwa katekese adalah pembinaan iman bagi semua orang beriman tanpa memandang usia. Katekese adalah usaha Gereja untuk menolong umat dengan harapan agar mereka semakin memahami, menghayati dan mengembangkan serta mewujudkan imannya dalam kehidupannya sehari-hari. Melalui usaha ini Gereja bercita-cita agar umat membangun diri menuju kematangan iman sebagai orang kristiani.

1. Tujuan Katekese

Setiap kegiatan tentu memiliki tujuannya. Demikian halnya dengan katekese. Tujuan katekese adalah mengembangkan dan menghidupkan iman umat. Berkat rahmat Allah manusia diubah menjadi ciptaan yang baru sesuai dengan ajaran dan cara hidup Kristus. Akhirnya tujuan katekese adalah menghantar umat beriman agar sampai pada kepenuhan hidup sebagai orang kristen yang beriman mendalam. Selain itu juga katekese bertujuan untuk menggugah serta memupuk iman, serta menolong manusia agar mampu menghayati imannya dalam kehidupan sehari-hari.

2. Isi Katekese

(35)

sebagai kepenuhan akan wahyu Ilahi yang memanggil manusia. Oleh karena itu wahyu sekaligus mendasari katekese.

3. Proses Katekese

Kegiatan katekese bertitik tolak dari pengalaman hidup, Kitab Suci, atau tradisi-tradisi suci Gereja. Dalam pelaksanaan katekese pada dasarnya ada tiga tahap. Adapun tiga tahap dalam proses katekese adalah sebagai berikut:

a. Pada tahap awal, para peserta melihat kembali peristiwa kehidupannya sehari-hari, baik itu yang dialami secara pribadi maupun secara bersama dengan orang lain (pengalaman hidup keseharian).

b. Pada tahap awal itu peserta akan sampai pada suatu penyadaran bahwa manusia memiliki keterbatasan dimana adanya ketergantungan kepada Allah. Pada tahap ini peserta semakin menyadari sapaan Allah dalam hidupnya, dimana pengalaman hidupnya mengandung makna yang akan menjadi pengalaman iman dimana Allah mewarnai hidupnya.

c. Pada tahap terakhir peserta mencari dan menemukan visi-visi baru kristiani dengan melihat relevansi sabda Allah di dalam kehidupannya sehari-hari.

4. Peserta Katekese

(36)

C. Katekese melalui Film untuk Menanamkan Semangat Perdamaian

Film bukanlah hal yang asing bahkan sebaliknya film menjadi suatu sarana hiburan, khususnya bagi kaum remaja. Film dengan mudah diterima karena menarik untuk dinikmati. Melalui film seseorang dapat memperkaya pengalaman. Selain itu film dapat memberi sumbangan inspirasi kepada seseorang untuk mengatasi suatu permasalahan hidup.

1. Pengertian Film dan Jenis Film

Film adalah gambar hidup. Selain itu film merupakan media untuk merekam gambar yang menggunakan selluloid sebagai bahan dasar. Memiliki berbagai macam ukuran lebar pita, seperti 16 mm dan 35 mm. Film pertama kali lahir di paruh kedua abad 19. Film dengan bahan selluloid dapat diubah ke dalam format digital (VCD-DVD). Adapun jenis-jenis film yaitu:

a. Film dokumenter: film ini menyajikan realita dengan berbagai cara dan dibuat untuk macam-macam tujuan. Film dokumenter berkaitan dengan tujuan penyebaran informasi dan pendidikan.

b. Film cerita pendek: biasanya film cerita pendek ini durasinya di bawah 60 menit.

(37)

2. Kedudukan Film di Mata Remaja

Film merupakan media untuk mengungkapkan suatu kebenaran. Tentunya ini merupakan hal yang baik. Yang menjadi pertanyaan apakah penikmat media (film) dapat menangkap nilai-nilai yang hendak disampaikan? Misalnya para remaja masa kini. Para remaja bisa menghabiskan waktunya setiap hari (tiga atau empat jam) dengan duduk di depan televisi untuk menikmati film. Bagi kebanyakan remaja film merupakan media hiburan yang menarik untuk ditonton. Hal itu dapat dilihat ketika ada pemutaran sebuah film layar lebar di bioskop. Dari sekian banyak massa yang ada adalah kaum remaja.

3. Kekuatan dan Kelemahan Film

Film merupakan sebuah karya seni. Munculnya film tentu saja menimbulkan pro-kontra. Film merupakan media penyebaran nilai-nilai kemanusiaan, namun dapat juga merusak nilai-nilai yang ada. Film dapat dikatakan sebagai alat perkembangan, namun dapat menghancurkan kebudayaan manusia. Film dapat juga dijadikan sebuah sarana pendidikan, namun juga dapat menjadi penggoda yang licik. Oleh karena itu dibutuhkan kesadaran dan pemikiran yang kritis dalam memahami sebuah film dan pesan yang sebenarnya ingin disampaikan dalam film tersebut.

4. Peranan Film untuk Menanamkan Semangat Perdamaian

(38)

yang diharapkan dimiliki oleh orang yang berkedudukan dalam masyarakat". Kata “peran” mendapat akhiran "an" menjadi "peranan" yang berarti "bagian dari tugas utama yang harus dilaksanakan". Menurut Partanto “peranan” diartikan sebagai fungsi, kedudukan, atau bagian kedudukan (Partanto, 1994: 585). Sedangkan kata ”peran” atau ”peranan” dalam

Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai bagian dari tugas utama yang harus dilaksanakan (Moeliono, 1990: 667).

Film adalah media hiburan, namun film juga dapat memperkaya pengalaman seseorang. Film dapat memberi sumbangan kepada seseorang untuk mengatasi suatu permasalahan hidup. Film memiliki peranan yang besar dalam kehidupan manusia. Film bukan hanya media hiburan semata. Film mencoba mengangkat berbagai macam permasalahan yang ada dengan harapan akan membawa manfaat bagi pemirsa.

D. Gambaran tentang Perdamaian

1. Pengertian Perdamaian

(39)

sejahtera". Kata “damai” atau “perdamaian” mengandung makna yang sangat luas. Dalam bahasa Yunani kata “shalom” diterjemahkan dengan beberapa istilah, yaitu eirene

(kedamaian, kesejahteraan, kesehatan), hugianinein (keadaan baik, sehat) dan soteria

(pembebasan, keselamatan, kesembuhan).

2. Perdamaian menurut Mahatma Gandhi

Masalah perdamaian dewasa ini ditandai dengan munculnya berbagai kesenjangan di berbagai bidang. Hingga saat ini dunia masih dihantui dengan ancaman perang nuklir, kekerasan di berbagai belahan dunia, perang, dan masih banyak lagi. Ketika orang hidup dalam situasi seperti di atas tentu saja tidak akan merasa damai dan hidup tentram. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana caranya agar perdamaian dapat terwujud? Dalam buku berjudul Semua Manusia Bersaudara yang ditulis oleh Mahatma Gandhi dikemukakan bahwa perdamaian hanya dapat tercipta atau terwujud kalau orang menganut “Ahimsa” atau “paham pantang kekerasan”.

Ahimsa berarti kebebasan sempurna dari segala niat jahat, amarah dan kebencian. Ahimsa dapat juga berarti adanya rasa kasih sayang yang berkelimpahan bagi seluruh umat manusia (Gandhi, 1996: 204). Diyakini oleh Mahatma Gandhi bahwa dengan memiliki paham pantang kekerasan dunia tidak akan pernah hancur.

Rasa kasih sayang atau cinta dalam Ahimsa memiliki kesamaan dengan ajaran Yesus dalam Injil Markus, 5:43-45 yang berbunyi:

(40)

yang ada di Sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.

Menurut Mahatma Gandhi kekuatan cinta merupakan suatu kekuatan yang dapat menghilangkan rasa dendam dan dapat mengubah musuh menjadi sahabat. Bila seseorang memiliki cinta, ia akan memandang sesamanya sebagai saudara. Pada kenyataannya hingga saat ini peperangan, konflik, tindak kekerasan, dan penindasan masih saja kita temukan.

3. Perdamaian menurut Kitab Suci

Dalam Kitab Suci “damai” atau “perdamaian” diterjemahkan dengan "damai sejahtera" atau “shalom”. Damai sejahtera atau Shalom merupakan inisiatif dari Allah dan bukanlah inisiatif manusia. Shalom adalah suatu kondisi surgawi, berasal dari surga. Selama hidupnya Yesus selalu memberi salam kepada orang-orang dengan cara demikian: "SHALOM bagi kamu". Damai sejahtera yang ditawarkan Kristus bukan seperti damai sejahtera yang ditawarkan dunia, melainkan damai sejahtera yang berpusat pada diri-Nya sendiri.

(41)

E. Kaum Remaja dan Permasalahnnya

Seiring berlalunya waktu seseorang akan selalu mengalami perkembangan. Demikian pula dengan remaja. Mereka mengalami perkembangan dari masa kanak-kanak, masa puber, dan menginjak masa remaja. Dalam perkembangan ini tentu mereka banyak mengalami perubahan entah dari bentuk fisik, perilaku, cara berpikir, dan lain-lain.

Kata “remaja” dalam bahasa Indonesia sering disebut pubertas. Masa remaja awal dimulai pada usia 13 tahun atau 14 tahun dan berakhir pada usia 21 tahun. (Hurlock, 1978: 12). Dr. Winarno Surachmad (1977: 41-44) mengatakan bahwa masa remaja itu dimulai pada usia 12 tahun dan berakhir pada usia sekitar 22 tahun. Sedangkan menurut Undang-undang Perkawinan RI tahun 1974 kaum muda atau remaja adalah mereka yang sudah melewati masa anak-anak dan belum mencapai umur yang oleh Undang-Undang diperbolehkan menikah: bagi pemuda minimal 19 tahun, bagi pemudi minimal 16 tahun.

Dari batasan usia remaja di atas dapat dijadikan sebagai patokan umum bahwa batasan usia remaja kurang lebih 12 hingga 24 tahun. Pada masa usia remaja tentu mereka berada pada tahap perkembangan dimana mengalami perubahan menuju kedewasaan.

Masa remaja adalah masa transisi dari periode anak ke dewasa (Sarlito Wirawan, 1989: 71). Dengan adanya perubahan jasmaniah membuat mereka tidak tahu pasti akan status sosialnya (identitas). Masa itu tentunya dialami oleh semua orang. Masa ini perlu dimengerti sebagai masa dimana orang akan menghasilkan kepribadian yang harmonis dan dewasa.

(42)

kebutuhan-kebutuhan mereka dalam rangka penyesuaian diri terhadap lingkungannya (Willis, 1981: 32). Dalam masa pertumbuhan dan perkembangan yang mendekati masa dewasa tentunya remaja mengalami proses pertumbuhan secara fisik dan perkembangan mental, emosional, sosial, moral, dan religius dengan permasalahannya.

1. Pertumbuhan fisik: pada masa ini anak mengalami pertumbuhan jasmani yang pesat dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Karena perubahan itu mereka menuntut agar tidak diperlakukan seperti anak-anak. Selain itu juga mereka akan mempersoalkan akan baik dan buruknya hasil pertumbuhan mereka secara fisik. Akibatnya mereka menjadi gelisah. Bersamaan dengan itu muncul pula masalah yang berhubungan dengan seks dan pergaulan dengan lawan jenis. Dalam pertumbuhan ini yang paling jelas terlihat adalah perubahan ciri-ciri baik sebagai laki-laki dan perempuan. Contohnya anak laki-laki, badannya berotot sedangkan anak perempuan mulai terlihat lekuk-lekuk pada tubuhnya.

2. Perkembangan mental: hal ini nampak pada gejala-gejala perubahan dalam intelektual dan dalam cara berpikir. Mereka mulai berpikir secara kritis dan berusaha menggali pengertian tentang diri mereka sendiri, membentuk gambaran diri mereka, peranan yang diharapkan dari diri mereka, bahkan panggilan hidup dan masa depan mereka. Semua itu menjadi masalah yang ringan untuk mereka. Tidak mengherankan jika mereka terlihat resah, suka menyendiri dan melamun. Pada masa ini mereka perlu didampingi oleh orang lain.

(43)

4. Perkembangan moral: hidup terasa sederhana ini adalah pola pikir dimasa kanak-kanak. Hal yang baik dan buruk semua itu ada jaminannya pada orangtua, guru, atau tokoh para pemuka agama atau masyarakat. Dengan bertambahnya umur dan masuk dalam kelompok kaum remaja tentu akan mengalami perubahan sikap dan tindakan. Hal ini terjadi karena mereka sedang mencari patokan moral yang dapat mereka pergunakan untuk menentukan apa itu baik atau buruk dalam kehidupan mereka. Masalah moral tidak terbatas pada diri mereka saja namun meluas sampai pada masalah moral dalam hidup masyarakat seperti: kebebasan beragama, keadilan, perdamaian dan bagaimana peranan yang diharapkan dari mereka.

5. Perkembangan religius: hal ini berkaitan dengan yang Yang Mutlak atau yang berkaitan dengan Sang Pencipta. Sejak kecil kegiatan keagamaan sudah ditanamkan oleh orangtua terhadap anak-anaknya. Pada usia menjelang dewasa anak mulai mempertanyakan semua hal yang telah diajarkan kepadanya. Pada masa ini mereka menghadapi masalah yang berat seperti: apa arti hidup, apa arti Yang Mutlak, agama dan hidup, dan lain-lain.

Kaum remaja adalah kaum yang berharga karena itu perlu dibantu dan didampingi. Pihak yang membantu itu adalah guru, orangtua, Gereja, dan masyarakat di sekitarnya. Namun karena perkembangan jaman yang begitu cepat kaum remaja banyak sekali dihadapkan oleh berbagai macam masalah.

(44)

BAB III

SITUASI REMAJA KATOLIK DI STASI SANTO ANTONIUS PADUA,

PAROKI SANTO HENDRIKUS, MELOLO, SUMBA TIMUR DAN USAHA UNTUK MENANAMKAN SEMANGAT PERDAMAIAN

MELALUI FILM ”CHENG-CHENG PO”

Pada bab tiga penulis akan membahas dua hal. Pada bagian pertama berisi gambaran situasi remaja Katolik di stasi St. Antonius Padua, Paroki St. Hendrikus, Melolo, Sumba Timur. Pada bagian ini penulis lebih fokus pada seberapa besar minat mereka terhadap film dan pengaruhnya terhadap pola pikir dan tindakan mereka sebagai remaja yang memiliki tanggung jawab sebagai pembawa damai bagi sesama. Pada bagian kedua penulis akan memaparkan hasil penelitian.

A. Gambaran Situasi Remaja Katolik di Stasi St. Antonius Padua, Paroki St. Hendrikus, Melolo, Sumba Timur.

(45)

petani, nelayan, pedagang, dan guru. Umat yang ada di St. Antonius Padua cukup berkembang dan maju dengan situasi lingkungan sosial seperti adanya TK, SD, SLTP, dan pertokoan kecil.

1. Pembagian Basis

Awalnya Gereja St. Antonius Padua terdiri dari empat lingkungan dan akhirnya dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil yang diberi nama Basis. Dari pembagian itu terdapat delapan Basis yaitu St. Yosep, Sta. Elisabet, St. Hendrikus, St. Agustinus, Sta. Monika, St. Stefanus, St. Yohanes, dan Sta. Martha.

2. Jumlah umat

Sesuai dengan data yang diperoleh dari stasi bahwa Gereja St. Antonius Padua Palakahembi berjumlah 118 KK dengan pembagian sebagai berikut:

Tabel 1: Pembagian Basis dan Jumlah KK

No Nama Basis Jumlah KK Laki-laki Perempuan

1 St. Yosep 21 KK 77 jiwa 54 jiwa

2 Sta. Elisabet 12 KK 29 jiwa 31 jiwa 3 St. Hendrikus 19 KK 45 jiwa 46 jiwa 4 St. Agustinus 13 KK 37 jiwa 31 jiwa 5 Sta. Monika 18 KK 53 jiwa 52 jiwa 6 St. Stefanus 11 KK 35 jiwa 23 jiwa 7 St. Yohanes 10 KK 28 jiwa 20 jiwa 8 Sta. Martha 14 KK 45 jiwa 36 jiwa Jumlah keseluruhan umat stasi St. Antonius Padua adalah 641 jiwa

(46)

Setelah mengadakan wawancara non formal dengan beberapa orangtua dan mudika, penulis menyimpulkan bahwa kehidupan remaja yang berada di stasi St. Antonius Padua dapat dikatakan cukup memprihatin. Ada begitu banyak remaja yang sulit untuk diajak terlibat dalam kegiatan menggereja. Mereka memilih untuk menghabiskan waktu dengan hal-hal yang tidak berguna seperti mabuk-mabukan, adu otot antara satu dengan yang lain. Akibatnya kegiatan remaja yang ada di stasi St. Antonius Padua tidak satu terlaksana. Misalnya koor mudika. Relasi antara remaja di stasi St. Antonius Padua pun menjadi kurang harmonis.

B. Penelitian dan Pembahasan 1. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:

a. Mengetahui situasi remaja di Stasi St. Antonius Padua sehubungan dengan nilai-nilai perdamaian.

b. Melihat sejauh mana peran film “Cheng-cheng Po” dalam menanamkan semangat perdamaian bagi remaja Katolik.

2. Manfaat Penelitian

Dengan mengetahui situasi remaja di stasi St. Antonius Padua diharapkan penelitian ini dapat memberi sumbangan bagi remaja Katolik di stasi St. Antonius Padua, Paroki St. Hendrikus, Melolo, Sumba Timur dalam usaha menanamkan semangat perdamaian.

(47)

Jenis penelitian yang dipakai dalam penulisan skripsi ini adalah penelitian kuantitatif yang bersifat Ex-post facto yang dilaksanakan melalui pengumpulan data di lapangan dengan menyebarkan kuesioner, setelah mpenulis mengadakan eksperimen untuk mengetahui sejauh mana film “Cheng-cheng Po” dapat menanamkan semangat perdamaian bagi remaja di stasi St. Antonius Padua, Paroki St. Hendrikus, Melolo, Sumba Timur. 4. Responden

Dalam penelitian ini yang menjadi responden adalah para remaja Katolik di Stasi St. Antonius Padua Paroki St. Hendrikus, Melolo, Sumba Timur, dengan jumlah 60 orang yang tersebar di 8 Basis.

5. Instrumen Penelitian

Instumen yang digunakan dalam pengumpulan data adalah kuesioner. Kuesioner ini ditujukan kepada anggota mudika stasi St. Antonius Padua Paroki St. Hendrikus, Melolo, Sumba Timur. Bentuk kuesioner pada penelitian ini adalah tertutup yaitu berbentuk pilihan berganda dengan lima alternatif jawaban, sedangkan item berjumlah 30 butir yang akan mengungkapkan 2 variabel. [lampiran 1: (1)-(4)].

Instrumen penelitian yang berupa kuesioner ini terdiri atas kata pengantar, identitas responden, dan daftar pertanyaan. Dalam pembuatan kuesioner ini penulis berpedoman pada kisi-kisi dan juga memperhatikan petunjuk-petunjuk item.

Tabel 2: Variabel yang Diteliti

(48)

1 Peran Film 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15

15

2 Semangat Perdamaian 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30

15

Jumlah 30

6. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Stasi St. Antonius Padua Paroki St. Hendrikus, Melolo, Sumba Timur. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2009

7. Hasil Penelitian

Jumlah kuesioner yang dibagikan penulis kepada responden secara keseluruhan sebanyak 60 eksemplar. Kuesioner diisi dan kembali oleh responden sebanyak 60 eksemplar.

Pada bagian ini penulis akan menjabarkan hasil penelitian mengenai keadaan remaja Katolik St. Antonius Padua, Melolo. Data-data hasil penelitian diperoleh dari kuesioner yang disebar pada remaja Katolik St. Antonius Padua, Peroki St. Hendrikus, Melolo, Sumba Timur.

Tabel 3: Hasil Penelitian

No

Definisi Operasional

Variabel

No

Item Pertanyaan Jawaban %

(49)

a. Sangat setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang setuju e. Sangat tidak setuju

9

2 Apakah anda sering nonton film? a. Sangat sering

b. Sering

c. Kadang-kadang d. Jarang sekali e. Tidak pernah

9

3 Film merupakan suatu media pembelajaran.

a. Sangat setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang setuju e. Sangat tidak setuju

14

4 Dalam sehari anda menghabiskan berapa jam untuk menonton film?

a. 1 jam

5 Apa tujuan anda menonton film?

(50)

b. Mengisi waktu luang e. Menambah wawasan d. Mengikuti tren e. Dan lain-lain

24

6 Jenis film apa yang sering anda tonton?

7 Sudah berapa kali anda menonton film “Cheng-cheng Po”?

a. Belum pernah b. 1 kali

8 Film dapat mempengaruhi pola pikir dan tingkah laku seseorang

a. Setuju b. Sangat setuju c. Ragu-ragu d. Kurang setuju e. Sangat tidak setuju

22

(51)

a. Setuju b. Sangat setuju c. Ragu-ragu d. Kurang setuju e. Sangat tidak setuju

24

10 Apakah anda sering merasakan manfaat dari menonton film

a. Sangat merasa b. Sering merasa

c. Kadang-kadang merasakan d. Jarang merasakan

e. Tidak merasakan

5

11 Apakah anda sering merasakan bahwa menonton film itu membosankan?

a. Sangat sering b. Sering

c. Kadang-kadang d. Jarang sekali e. Tidak pernah

6

12 Film memberi sumbangan kepada seseorang untuk mengatasi masalah hidup

a. Sangat setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang setuju e. Sangat tidak setuju

(52)

2 Semangat Perdamaian

60 100%

13 Film dapat dijadikan sarana pendidikan namun bila tidak dimanfaatkan dengan baik dapat merusak moral kaum remaja

a. Sangat setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang setuju e. Sangat tidak setuju

21

14 Bagi saya film hanyalah sarana hiburan semata

a. Sangat setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang setuju e. Sangat tidak setuju

26

15 Film membantu saya dalam menghayati iman

a. Sangat setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang setuju e. Sangat tidak setuju

4

(53)

tidak ada permusuhan. a. Sangat setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang setuju e. Sangat tidak setuju

30

17 Dalam Alkitab, kita sering menemukan kata “Shallom” dan kata ini seringkali diterjemahkan dengan "damai sejahtera".

a. Sangat setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang setuju e. Sangat tidak setuju

31

18 Pada saat kegiatan atau acara apa Anda mengenal istilah Shallom atau perdamaian?

a. Pelajaran di sekolah b. Misa

c. Ceramah

d.Pendalaman iman atau katekese

19 Gereja perlu menanamkan semangat perdamaian dalam diri remaja Katolik.

(54)

b. Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang setuju e. Sangat tidak setuju

9

20 Apakah anda sering mengikuti kegiatan atau acara yang membahas atau mendalami tentang perdamaian?

a. Sangat sering b. Sering

c. Kadang-kadang d. Jarang sekali e. Tidak pernah

14

21 Bila pernah mengikuti kegiatan atau acara yang membahas atau mendalami tentang perdamaian, kapan kegiatan itu Anda ikuti?

a. Saat di SD

(55)

a. Sangat setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang setuju e. Sangat tidak setuju

18

23 Menciptakan dunia yang damai adalah tanggung jawab semua orang beriman termasuk kaum remaja Katolik.

a. Sangat setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang setuju e. Sangat tidak setuju

34

24 Menanamkan semangat perdamaian bagi remaja dapat dilakukan melalui kegiatan rekoleksi, pendalaman iman atau katekese, dan retret.

a. Sangat setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang setuju e. Sangat tidak setuju

31

(56)

dalam situasi ketakutan dan hidup menjadi tidak tentram.

a. Sangat setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang setuju e. Sangat tidak setuju

17

26 Menanamkan semangat perdamaian bagi remaja Katolik bertentangan dengan perintah Kristus untuk mewartakan kabar gembira kepada semua bangsa. Terhadap pernyataan ini Anda…

a. Sangat setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang setuju e. Sangat tidak setuju

18

27 Apakah Anda setuju apabila diadakan kegiatan yang membahas atau yang mendalami tentang nilai perdamaian bagi kaum remaja Katolik?

a. Sangat setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang setuju e. Sangat tidak setuju

(57)

28 Apakah anda sering mengikuti kegiatan mudika seperti pendalaman iman atau katekese yang ada hubungannya perdamaian?

a. Sangat sering b. Sering

c. Kadang-kadang d. Jarang sekali

29 Dalam kehidupan sehari-hari apakah anda memperhatikan nilai-nilai perdamaian?

a. Sangat sering b. Sering

c. Kadang-kadang d. Jarang sekali e. Tidak pernah

9

30 Apakah anda sering merasa bahwa kegiatan yang memiliki nilai perdamaian mengganggu kesibukan pribadi?

a. Sangat merasa b. Merasa

c. Kurang merasa

d. Kadang-kadang merasa e. Tidak merasa

(58)

Dikatakan bahwa film merupakan media untuk menyampaikan pesan moral. Sebanyak 15% responden menyatakan sangat setuju, 33.33% responden menyatakan setuju, 21.66% responden menyatakan ragu-ragu untuk menjawab pertanyaan tersebut, 18.33% responden menyatakan kurang setuju, 11.66% responden menyatakan pendapat bahwa sangat tidak setuju bila film adalah media untuk menyampaikan pesan.

Ketika ditanya apakah anda sering nonton film, ada 15% responden menyatakan sangat sering, 60% responden menyatakan sering menonton film, 23.33% responden menyatakan kadang-kadang, dan 1.66% responden menyatakan bahwa jarang sekali menonton film.

Dikatakan bahwa film merupakan suatu media pembelajaran. Terdapat 23.33% responden menyatakan sangat setuju, 16.66 responden menyatakan setuju, 11.66 responden menyatakan ragu-ragu untuk menjawab bahwa film merupakan media pembelajaran, 28.33% responden menyatakan bahwa kurang setuju, sedangkan 20% responden sangat tidak setuju jika dikatakan film merupakan media pembelajaran.

Dalam sehari anda menghabiskan berapa jam untuk menonton film? Terdapat 31.66% responden menghabiskan waktu satu jam dalam sehari untuk menonton film. Dalam sehari ada 20% responden yang menghabiskan waktu selama dua jam untuk menonton film dan 20% responden menghabiskan waktu tiga jam dalam sehari untuk menonton film. Ada 13.33% responden menghabiskan empat jam dalam sehari untuk menonton film dan 15% responden menonton film dalam sehari lebih dari lima jam.

(59)

responden mengatakan bahwa menonton film hanya untuk mengisi waktu luang. Tujuan menonton film bagi 15% responden untuk menambah wawasan dan 11.66% responden menonton film karena mengikuti tren. Dari pernyataan di atas ada 10% responden menonton film tidak mempunyai tujuan, ya hanya sekedar nonton saja.

Ketika ditanya tentang jenis film yang sering ditonton oleh remaja, sebagian besar responden sering menonton film drama (43.33%). Dari pertanyaan di atas ditemukan 11.66% responden menyukai film komedi, 13.33% responden sering menonton film laga dan ada 11.66 responden sering menonton film kartun. Sedangkan 20% responden lebih menyukai jenis film yang lain.

Ketika ditanya sudah berapa kali menonton film “Cheng-cheng Po”, ada 75% responden yang belum menonton film ini. Terdapat 8.33% responden yang baru satu kali menonton film “Cheng-cheng Po”, 3.33% responden sudah dua kali menonton film ini. Sedangkan 6.66% responden yang sudah lebih dari tiga kali menonton film “Cheng-cheng Po”

Ketika dikatakan bahwa film dapat mempengaruhi pola pikir dan tingkah laku seseorang, ada 36.66% responden yang setuju dengan pernyataan ini dan 28.33% responden berpendapat setuju. Dari pernyataan di atas ada 15% responden ragu-ragu untuk menjawab, 5% responden menyatakan kurang setuju dan 15% responden menyatakan sangat tidak setuju bila dikatakan bahwa film dapat mempengaruhi pola pikir seseorang.

(60)

10% responden menyatakan bahwa sangat tidak setuju jika harus kritis dalam menilai film-film yang ditonton.

Ketika menonton film, apa sering merasakan manfaatnya? Manfaat dari menonton film sangat dirasakan oleh 8.33% responden dan 40% responden menyatakan sering merasakan manfaat dari menonton film. Di dalam situasi tertentu terkadang orang merasakan manfaat dari menonton film dan itu dialami oleh 28.33% responden dan ada pula orang yang jarang merasakan manfaat dari menonton film (15%).

Saat menonton film apakah sering merasa bosan? Rasa bosan saat menonton film sangat sering dirasakan oleh 10% responden, 41.66% responden menyatakan sering bosan, 28.33% responden menyatakan kadang-kadang. Perasaan bosan saat menonton film jarang sekali dialami oleh 6.66% responden dan 13.33% responden menyatakan tidak pernah bosan saat menonton film.

Film memberi sumbangan kepada seseorang untuk mengatasi masalah hidup. Dari pernyataan ini ada 10% responden menyatakan sangat setuju dan 32.66% responden menyatakan setuju. Ada pula responden yang ragu jika film dapat memberi sumbangan bagi seseorang dalam mengatasi masalah hidupnya (20%). Terdapat 18,33% responden menyatakan pendapat bahwa kurang setuju bila dikatakan film memberi sumbangan dalam mengatasi masalah hidup bahkan ada 20% responden yang sangat tidak setuju dengan pernyataan di atas.

(61)

menyatakan ragu-ragu. Pernyataan tersebut bagi 20% responden kurang setuju dan 15% responden menyatakan sangat tidak setuju jika film dijadikan sarana pendidikan namun dapat merusak moral kaum remaja.

Film hanyalah sarana hiburan semata. Dari pernyataan ini ada 43.33% responden menyatakan sangat setuju dan ada 36.66% responden menyatakan setuju karena bagi mereka film hanya hiburan. Terdapat 6.66% responden ragu-ragu dalam menjawab pertanyaan tersebut, 10% responden menyatakan kurang setuju dan 3.33% responden menyatakan sangat tidak setuju jika film hanya dijadikan sarana hiburan semata.

Film membantu seseorang dalam menghayati imannya. Ketika hal ini ditanyakan kepada remaja hanya 6.66% responden menyatakan sangat setuju, 20% responden menyatakan setuju jika film membantu seseorang dalam menghayati iman dan ada 23.33% responden menyatakan ragu-ragu dengan pernyataan tersebut. Sebagian besar responden berpendapat bahwa film tidak membantu seseorang dalam menghayati imannya (23.33%) bahkan ada 26.66% responden menyatakan sangat tidak setuju karena penghayatan iman seseorang tidak dipengaruhi oleh film.

(62)

Dalam Alkitab, sering ditemukan kata “Shallom” dan kata ini seringkali diterjemahkan dengan "damai sejahtera". Atas pernyataan tersebut 51.66% responden menyatakan pendapat sangat setuju dan 33.33% responden menyatakan pendapat setuju. Ada 5% responden menyatakan ragu-ragu untuk memberikan pendapat, 6.66% responden menyatakan pendapat kurang setuju dan 3.33% responden menyatakan pendapat sangat tidak setuju.

Mengenal istilah “Shallom” atau perdamaian pada saat kegiatan atau acara seperti pelajaran di sekolah, misa, ceramah, pendalaman iman atau katekese dan lain-lain. Istilah “Shallom” atau perdamaian dikenal responden saat mengikuti pelajaran di sekolah (13,33%, 25% responden mengenal istilah “Shallom” atau perdamaian saat mengikuti misa, 11.66% responden mengenal istilah itu dengan mengikuti ceramah. Ada 31.66% responden menyatakan bahwa melalui pendalaman iman atau katekese responden mengenal istilah “Shallom” atau perdamaian, dan 18.33% responden yang mengenal istilah ini dengan mengikuti kegiatan atau acara lainnya.

Gereja perlu menanamkan semangat perdamaian dalam diri remaja Katolik. Sebagian besar responden menyatakan sangat setuju (50%), 15% responden menyatakan setuju. Terdapat 18.33% responden ragu-ragu dalam memberikan pendapatnya, 11.66% responden kurang setuju dan ada 5% responden yang sangat tidak setuju jika semangat perdamaian perlu Gereja tanamkan dalam diri remaja Katolik.

(63)

responden yang kadang-kadang mengikuti, 16.66% responden yang jarang sekali mengikuti dan bahkan ada 8.33% responden yang tidak pernah mengikuti kegiatan atau acara seperti itu karena merasa tidak penting atau berguna. Kegiatan ini responden ikuti pada saat duduk di bangku SD (30%), saat SLTP (31.66%), saat SLTA (10%), saat aktif di Paroki (18.33%), dan saat lain ada 10%.

Sikap Gereja terhadap dunia yang penuh dengan konflik sebaiknya menutup diri dan mengambil jarak karena akan membahayakan keberadaan Gereja. Terhadap pernyataan ini ada 30% responden menyatakan pendapat sangat setuju, 21.66% responden menyatakan pendapat setuju, dan 15% responden ragu-ragu dalam memberikan pendapatnya. Dari pernyataan di atas ada 11.66% responden menyatakan pendapat kurang setuju dan 21.66% responden menyatakan pendapat sangat tidak setuju jika Gereja bersikap menutup diri dan mengambil jarak terhadap dunia yang penuh dengan konflik hanya karena takut membahayakan keberadaan Gereja.

Menciptakan dunia yang damai adalah tanggung jawab semua orang beriman termasuk kaum remaja Katolik. Sebagian besar responden menyatakan sangat setuju jika dikatakan bahwa remaja Katolik ikut bertanggung jawab dalam terwujudnya dunia yang damai (56.66%) dan 30% responden menyatakan pendapat setuju. Ada 8.33% responden yang ragu-ragu dalam memberikan pendapatnya dan ada 5% responden menyatakan pendapat kurang setuju jika menciptakan dunia yang damai itu termasuk tanggung jawab kaum remaja Katolik.

(64)

responden ragu-ragu dalam memberikan pendapatnya atas pernyataan tersebut, 8.33% responden yang tidak setuju dan 3.33% responden yang sangat tidak setuju jika melalui kegiatan rekoleksi, pendalaman iman atau katekese, dan retret untuk menanamkan semangat perdamaian bagi remaja.

Dunia saat ini dihantui dengan ancaman perang nuklir, kekerasan di berbagai belahan dunia, perang, dan lain-lain, sehingga orang hidup dalam situasi ketakutan dan hidup menjadi tidak tenteram. Terdapat 28.33% responden menyatakan pendapat sangat setuju dan 28.33% responden juga menyatakan setuju. Sedangkan ada 13.33% responden yang ragu-rau dalam memberikan pendapatnya atas pernyataan tersebut. 15% responden tidak setuju dan 15% responden menyatakan sangat tidak setuju jika orang hidup dalam ketakutan dan menjadi tidak tentram karena adanya ancaman perang nuklir, kekerasan di berbagai belahan dunia, perang, dan lain-lain.

Menanamkan semangat perdamaian bagi remaja Katolik bertentangan dengan perintah Kristus untuk mewartakan kabar gembira kepada semua bangsa. Atas pernyataan tersebut 30% responden menyatakan pendapat sangat setuju dan 21.66% responden yang menyatakan pendapat setuju, namun 6.66% responden yang menyatakan ragu-ragu untuk memberi pendapat. Ada 21.66% responden yang menyatakan pendapat tidak setuju dan 20% responden yang sangat tidak setuju usaha menanamkan semangat perdamaian bertentangan dengan perintah Kristus.

(65)

1.66% responden yang sangat tidak setuju jika akan diadakan kegiatan yang membahas atau mendalami tentang nilai perdamaian.

Ketika ditanya sejauh mana responden mengikuti kegiatan mudika seperti pendalaman iman atau katekese yang ada hubungannya dengan perdamaian, maka ada 20% responden yang menyatakan bahwa responden sangat sering mengikuti kegiatan itu dan ada 36.66% responden menyatakan pendapat sering. Sebesar 18.33% responden menyatakan pendapat jika mereka kadang-kadang saja mengikuti kegiatan mudika, 20% responden menyatakan pendapat jarang sekali dan 5% responden yang tidak pernah mengikuti kegiatan mudika seperti pendalaman iman yang ada kaitannya dengan nilai perdamaian.

Dalam kehidupan sehari-hari hanya ada 15% responden yang sangat sering memperhatikan nilai-nilai perdamaian dan 30% responden yang menyatakan pendapat sering, 26.66% responden menyatakan pendapat kadang-kadang, 16.66% responden menyatakan pendapat jarang sekali, dan 11.66% responden menyatakan pendapat tidak pernah dalam kehidupannya sehari-hari untuk memperhatikan nilai-nilai perdamaian.

Ketika mengikuti kegiatan yang memiliki nilai perdamaian ada 11.66% responden yang menyatakan sering merasa kalau kegiatan itu mengganggu kesibukan pribadinya,16.66% responden menyatakan pendapat merasa terganggu, 11.66% responden menyatakan pendapat kurang merasa, 23.33% responden menyatakan pendapat bahwa kadang-kadang merasa terganggu, dan 36.66% responden menyatakan tidak merasa mengganggu kegiatan pribadinya jika mengikuti kegiatan yang memiliki nilai perdamaian.

(66)

pengalaman, dan sarana hiburan (Eilers, 2001: 189). Remaja St. Antonius Padua ikut menikmati film dan mereka hanya melihat film itu semata-mata sebagai sarana hiburan. Hal ini terlihat dari pendapat mereka yang menyatakan menonton film hanya untuk refresing dan mengisi waktu luang (63,33% responden). Meski demikian remaja menyadari bahwa sebuah film perlu dikritisi (60% responden) sehingga pada akhirnya mereka mampu menemukan manfaat (48% responden) dan itu dapat dijadikan sebuah pembelajaran dalam hidupnya (40% responden). Dalam penelitian ini penulis melihat bahwa film memberi sumbangan bagi remaja dalam mengatasi masalah hidupnya dan film juga merupakan media untuk menyampaikan pesan moral (48% responden).

Menurut Karl Erik Rosengren, media dapat mempengaruhi pribadi seseorang. Secara perlahan namun pasti, media akan membentuk pandangan pemirsa terhadap bagaimana seseorang melihat pribadinya dan seharusnya berhubungan dengan dunia. Contohnya media akan memperlihatkan pada pemirsa gambaran hidup layak bagi seorang manusia, di sini pemirsa akan menilai apakah lingkungan dimana tempat mereka sudah layak dan atau memenuhi standar itu.

(67)

Film dapat mempengaruhi pola pikir seseorang dan pada akhirnya akan merubah cara pandang dan bertindak seseorang (66% responden). Ada begitu banyak remaja yang dihabiskan waktunya lebih dari tiga jam sehari untuk menonton film (48,33% responden). Akibatnya dalam kehidupan sehari-hari ada beberapa remaja yang suka mengikuti hal-hal yang mereka tonton seperti lebih suka santai, mabuk-mabukan, sering melakukan kekerasan terhadap sesama dengan cara berbicara dan bersikap. Mereka tidak lagi memperhatikan nilai-nilai hidup yang ada (28% responden).

Remaja sekarang hidup di zaman teknologi. Bagi mereka, komputer, televisi, VCD, bukanlah barang yang asing bagi mereka. Mereka dengan begitu mudahnya tanggap dengan produk yang baru (Goretti, 1999: 9). Melihat perkembangan media audio visual yang begitu pesat dan sangat dekat dengan umat maka Gereja dalam pewartaannya terbuka dalam menggunakan media sebagai sarana pewartaan. Contohnya dalam katekese sekarang telah menggunakan media audio visual. Katekese dengan menggunakan media audio visual diharapkan membantu peserta untuk memperdalam relasi persaudaraan di dalam kolompok orang yang percaya kepada Kristus.

(68)

ditanamkan semangat perdamaian (48% responden) dengan semangat itu akan terus mendorong setiap pribadi untuk terus mewujudkan suasana yang damai di manapun mereka berada.

8. Rangkuman Hasil Penelitian

Setelah penulis mengolah data yang ada menjadi suatu gambaran yang nyata, maka penulis akan menyimpulkan analisis hasil penelitian. Hal ini berguna dalam menyusun program katekese. Adapun kesimpulannya sebagai berikut:

(69)

BAB IV

PERAN FILM “CHENG-CHENG PO” UNTUK MENANAMKAN SEMANGAT PERDAMAIAN BAGI REMAJA KATOLIK DI STASI SANTO ANTONIUS PADUA,

PAROKI SANTO HENDRIKUS,

MELOLO, SUMBA TIMUR

Setelah melakukan penelitian terhadap remaja di stasi St. Antonius Padua, Paroki St. Hendrikus, penulis memperoleh data-data yang diperlukan dalam melengkapi penelitian ini. Dalam bab IV penulis akan menguraikan persiapan program katekese melalui film “Cheng-cheng Po”, proses katekese serta evaluasi pelaksanaan katekese. Dengan adanya evaluasi pelaksanaan katekese maka penulis dapat menarik kesimpulan, sejauh mana film “Cheng-cheng Po” memiliki peran dalam usaha untuk menanamkan semangat perdamaian bagi remaja di stasi St. Antonius Padua, Paroki St. Hendrikus, Melolo, Sumba Timur.

A. Pengertian Program

(70)

Oleh karena itu isi program perlu mempertimbangkan minat, kemampuan, sesuai dengan kondisi peserta atau dengan kata lain sesuai dengan kehidupan nyata peserta.

B. Latar Belakang Penyusunan Program

Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa betapa banyak kaum remaja yang masih menganggap bahwa film itu hanya sebagai sarana untuk refresing dan mengisi waktu luang atau senggang. Meski demikian mereka tetap memiliki sikap yang kritis terhadap sebuah film dan film pada akhirnya menjadi suatu media pembelajaran, dimana mereka bisa menemukan begitu banyak pesan moral yang bisa dijadikan pedoman dalam hidup.

Dalam kehidupan sehari-hari remaja tentu saja dihadapkan dengan berbagai masalah. Demikian halnya dengan remaja di stasi St. Antonius Padua, Palakahembi. Banyak sekali mereka berperilaku menyimpang dari nilai kehidupan yang ada. Contohnya, dalam kehidupan setiap hari-hari mereka lebih memilih untuk berkumpul untuk mabuk-mabukan, balapan motor, dan masih banyak lagi. Untuk itu diperlukan suatu kegiatan yang dapat membantu mereka.

Berdasarkan hal di atas, penulis menyusun program katekese yang akan digunakan untuk membantu kaum remaja dalam proses menanamkan semangat perdamaian. Program katekese ini akan diadakan dalam dua kali pertemuan.

(71)

Setelah penulis mengadakan penelitian menggunakan kuesioner dan observasi, penulis memilih salah satu tema yang akan dipakai dalam pertemuan katekese di antara remaja Katolik di stasi St. Antonius Padua. Tema yang penulis pilih ialah ”Membangun Sikap Tanggung Jawab Terhadap Tindakan Kita dalam Hidup Bersama Orang Lain”. Pendalaman tema ini akan dilakukan sebanyak dua kali pertemuan. Tema ini dipakai karena sangat cocok dengan situasi remaja yang ada di stasi St. Antonius Padua.

Manusia adalah makhluk sosial, karena itu tidak dapat hidup sendiri, melainkan membutuhkan orang lain. Demikian pula remaja di stasi St. Antonius Padua. Dalam kesehariannya mereka membutuhkan kehadiran sesama, mereka membutuhkan tempat dan sarana dalam beraktivitas, dan masih banyak lagi. Setiap dari mereka sangat tergantung dengan dunia yang ada di sekitarnya, maka dibutuhkan sikap terbuka, kritis, dan bertanggung jawab.

(72)

D. Program dan Contoh Persiapan Katekese bagi Remaja Katolik

untuk Menanamkan Semangat Perdamaian di Stasi St. Antonius Padua,

Paroki St. Hendrikus, Melolo, Sumba Timur melalui Media Film “Cheng-

cheng Po”.

1. Program Katekese Audio Visual bagi Remaja Katolik Stasi St. Antonius Padua, Paroki St. Hendrikus, Melolo, Sumba Timur melalui Media Film “Cheng-cheng Po” [Lampiran 2: (6)-(7)].

2. Contoh Persiapan Katekese bagi Remaja Katolik Stasi St. Antonius Padua, Paroki St. Hendrikus, Melolo, Sumba Timur [Lampiran 3: (8)-(13)].

E. Praktik Katekese dengan Menggunakan Media Film “Cheng-cheng Po” untuk Menanamkan Semangat Perdamaian di Stasi St. Antonius Padua, Paroki St. Hendrikus, Melolo, Sumba Timur.

(73)

dari awal ditentukan tidak mengalami pergeseran waktu. Ada beberapa hal yang akan penulis sampaikan berkaitan dengan pelaksanaan program.

1. Pelaksanaan Katekese Bagi Remaja I

Program katekese bagi remaja untuk menanamkan semangat perdamaian yang pertama dilaksanakan pada hari Minggu 26 Juli 2009. Selama ini pelaksanaan katekese bagi remaja dan mudika tidak pernah terlaksana. Sebelum melaksanakan katekese, penulis melakukan pendekatan baik dengan guru agama, pengurus stasi, ketua mudika, dan mencoba mendekati para remaja secara pribadi. Adapun jalannya pelaksanaan katekese yang dapat penulis laporkan sebagai berikut:

a. Tempat : Gereja St. Antonius Padua

b. Waktu : 10.00 – 12.00

c. Peserta : 36 orang

d. Sarana : - Cerita “Sandubaya dan Lala Seruni”

- Kamera Digital

- Laptop

e. Proses :

Figur

Tabel 1: Pembagian Basis dan Jumlah KK
Tabel 1 Pembagian Basis dan Jumlah KK . View in document p.45
Tabel 3: Hasil Penelitian
Tabel 3 Hasil Penelitian . View in document p.48
Table 4. Hasil Diskusi SOTARAE Pertemuan I

Table 4.

Hasil Diskusi SOTARAE Pertemuan I . View in document p.76
Tabel 6. Evaluasi Katekese Pertemuan II
Tabel 6 Evaluasi Katekese Pertemuan II . View in document p.91

Referensi

Memperbarui...