• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG - Yogi Ardiansyah BAB I

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG - Yogi Ardiansyah BAB I"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

A. LATAR BELAKANG

(2)

oleh hipertensi.

Dari hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, didefinisikan sebagai hipertensi jika pernah didiagnosis menderita hipertensi/penyakit darah tinggi oleh tenaga kesehatan (dokter/perawat/bidan) atau belum pernah didiagnosis menderita hipertensi tetapi saat diwawancara sedang minum obat medis untuk tekanan darah tinggi (minum obat sendiri).

Kriteria hipertensi yang digunakan pada penetapan kasus merujuk pada kriteria diagnosis JNC VII 2003, yaitu hasil pengukuran tekanan darah sistolik ≥140 mmHg atau tekanan darah diastolic ≥90 mmHg. Kriteria JNC VII 2003

(3)

rendah dan kelompok tidak bekerja, kemungkinan akibat ketidaktahuan tentang pola makan yang baik.

Bagi orang yang sudah menderita hipertensi pengobatan dapat menggunakan terapi disamping efek samping yang ditimbulkan rendah dibandingkan pengobatan secara klinis. Tindakan pencegahan bagi yang belum pernah menderita hipertensi yaitu dengan perubahan gaya hidup menjadi gaya hidup sehat. Gaya hidup sehat ini antara lain meliputi pola makan, aktivitas dan olahraga. Dalam gaya hidup sehat yang utama adalah makanan yang kita konsumsi serta diperbanyak mengkonsumsi sayur dan buah-buahan (Muhammadun, 2010).

Hipertensi jika tidak segera diatasi atau terjadi berkepanjangan maka akan meningkatkan resiko terhadap stroke, serangan jantung, gagal jantung, dan gagal ginjal kronis. Penderita hipertensi berat dapat mengalami ensefalopati hipertensif, yakni penurunan kesadaran hingga koma yang diakibatkan pembengkakan otak. Dampak lanjutan yang dapat ditimbulkan oleh hipertensi adalah kerusakan ginjal, perdarahan pada retina mata, pecahnya pembuluh darah di otak, serta kelumpuhan (Martuti, 2009).

(4)

berbagai penyakit Industri farmasi juga berusaha mencari peluang pemanfaatan bahan alam dan turunannya sebagai bahan untuk obat. Selain itu, potensi pasar juga perlu dipertimbangkan dalam upaya menemukan obat baru yang dapat menurunkan tekanan darah (Hernani, 2009).

Buah-buahan mengandung senyawa kimia yang bermanfaat bagi tubuh manusia seperti flavonoid, sterol, dan phenol. Senyawa ini dinamakan sebagai zat kimia tanaman atau pytochemical. Mengkonsumsi buah-buahan dapat menurunkan resiko seseorang terkena penyakit kardiovaskuler seperti hipertensi, stroke dan penyakit jantung koroner. Salah satu buah yang berhasiat menurunkan tekanan darah tinggi antara lain belimbing wuluh (Rahmat, 2009).

Beberapa studi/penelitian menunjukkan pengaruh buah belimbing wuluh sebagai obat hipertensi. Hal tersebut dikarenakan belimbing wuluh memiliki kandungan farmakologi yaitu diuretik, antiandrenergik, dan vasodilator. Diuretik berguna untuk mengurangi jumlah air dalam plasma darah, antiandrenergik berfungsi menurunkan produksi, sekresi dan aktivitas hormon adrenalin, sedangkan vasodilator bertujuan agar peredaran darah lancar sehingga suplai darah ke seluruh organ pun lancar (Ulfa, 2012).

(5)

pengeluaran empedu, antiradang, dan astringent. Kandungan kalium sitrat didalam buahnya merangsang pengeluaran cairan dalam tubuh yang tadinya diikat oleh garam. Jika proses pengeluran urine lancar, maka tekanan darah akan turun (Ulfah, 2012).

Berdasarkan data dari Puskesmas Belik, Desa Belik, Kecamatan Belik, Kabupaten Pemalang yang diambil tahun 2014, di dapatkan 87% lansia penderita hipertensi di Desa Belik secara umum pada tahun 2013, sedangkan di Dukubulu sendiri terdapat 66% lansia penderita hipertensi dari seluruh jumlah lansia di Dukubulu, dan untuk lansia penderita hipertensi tahun 2014 di Dukubulu berjumlah 34 lansia dari jumlah 52 lansia. Data terbaru yang didapat dari Puskesmas Belik pada tahun 2015, jumlah lansia penderita hipertensi sebanyak 30 lansia dari jumlah 58 lansia. Fenomena yang terjadi dimasyarakat, penderita hipertensi berusaha menurunkan tekanan darah dengan mengkonsumsi obat hipertensi sesuai anjuran dokter dan menjaga pola makan, dengan mengurangi makanan yang mengandung garam. Namun sebagian orang sudah jenuh untuk minum obat karena penyakit hipertensinya tidak kunjung sembuh dan kambuh kembali jika sudah berhenti minum obat. Ada cara lain selain meminum obat antihipertensi yaitu dengan terapi herbal/nonfarmakologi. Sehingga diharapkan dengan meminum terapi herbal, para lansia dapat mengkonsumsi terapi tersebut. Dimana di sekitar Desa Belik terutama di Dukubulu tersebut terdapat tanaman yang berguna untuk menurunkan tekanan darah tinggi, yaitu belimbing wuluh.

(6)

“Pengaruh Belimbing Wuluh Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada

Lansia Penderita Hipertensi Di Dukubulu, Desa Belik, Kecamatan Belik, Kabupaten Pemalang”.

B. RUMUSAN MASALAH PENELITIAN

Saat ini, penderita hipertensi jumlahnya cukup banyak dan meningkat dari tahun ke tahun. Penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi bukan hanya menggunakan obat antihipertensi. Banyak cara untuk menurunkan tekanan darah antara lain yaitu terapi non farmokologi yaitu pemberian terapi herbal belimbing wuluh.

Berdasarkan rumusan masalah diatas peneliti tertarik untuk mengetahui “Apakah ada pengaruh belimbing wuluh terhadap penurunan

tekanan darah pada lansia penderita hipertensi di Dukubulu, Desa Belik, Kecamatan Belik, Kabupaten Pemalang?”

C. TUJUAN PENELITIAN

1. Tujuan Umum

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh terapi herbal belimbing wuluh terhadap penurunan tekanan darah pada lansia penderita hipertensi di Dukubulu, Desa Belik, Kecamatan Belik, Kabupaten Pemalang.

(7)

a. Mengetahui tekanan darah pada lansia penderita hipertensi sebelum dan sesudah diberikan terapi herbal belimbing wuluh di Dukubulu, Desa Belik, Kecamatan Belik, Kabupaten Pemalang.

b. Mengetahui tekanan darah pada lansia kelompok kontrol penderita hipertensi di Dukubulu, Desa Belik, Kecamatan Belik, Kabupaten Pemalang.

c. Mengetahui pengaruh terapi herbal belimbing wuluh terhadap penurunan tekanan darah pada lansia penderita hipertensi di Dukubulu, Desa Belik, Kecamatan Belik, Kabupaten Pemalang.

D. MANFAAT PENELITAN

1. Bagi peneliti

Dapat menambah ilmu pengetahuan dan memperdalam pengalaman peneliti tentang riset keperawatan serta pengembangan wawasan tentang pengobatan tradisional dengan mengkonsumsi belimbing wuluh.

2. Bagi Institusi Pendidikan

Hasil dari penelitian ini dapat di gunakan sebagai salah satu referensi bagi mahasiswa serta sebagai perbendaharaan kepustakaan di Universitas Muhammadiyah Purwokerto.

3. Bagi penderita

(8)

wuluh.

4. Bagi Masyarakat di Dukubulu, Desa Belik, Kecamatan Belik, Kabupaten Pemalang

Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan salah satu alternatif pengobatan untuk menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi.

E. PENELITIAN TERKAIT

1. Lailatul Muniroh (2008). Pengaruh pemberian jus buah belimbing dan mentimun terhadap penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik penderita hipertensi. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian

quasi eksperimental dengan memberikan perlakuan pada subyek

(9)

sampling yang digunakan total sampling.

2. Hernani (2009). Pengaruh pemberian ekstrak daun belimbing wuluh Terhadap penurunan tekanan darah pada hewan uji. Metode penelitian dilakukan dalam beberapa tahap kegiatan, yaitu pengolahan bahan baku, pembuatan ekstrak, pemurnian ekstrak dan uji anti hipertensi terhadap hewan uji kucing. Uji anti hipertensi terhadap hewan uji menunjukkan bahwa ekstrak yang telah dimurnikan ternyata mempunyai efek penurunaan tekanan darah lebih tinggi bandingkan ekstrak kasar. Persamaan dari penelitian ini dengan penelitian penulis dalah jenis penelitian menggunakan penelitian eksperimen, sedangkan perbedaanya menggunakan rancangan penelitian randomized two group pretest-postest design, teknik sampling yang digunakan total sampling.

3. Heri Sulistiyono (2010). Pengaruh Pemberian Jus Belimbing Demak (Averrhoa Carambola L) Terhadap Penurunan Tekanan Darah Sistolik dan Diastolik Pada Penderita Hipertensi. Metode Penelitian ini menggunakan desain randomized control trial (RCT) pada 2 kelompok. Kelompok pertama yaitu perlakuan dengan jus belimbing dan kelompok kedua yaitu kelompok kontrol dengan pemberian sirup rasa belimbing. Analisis statistik yang digunakan adalah Kolmogorov-Smirnov, dan chi-square. Hasil pemberian jus belimbing

(10)

Referensi

Dokumen terkait

Perkembangan motorik kasar merupakan perkembangan dari kegiatan – kegiatan seperti menjangkau, merenggut, menggenggam, merangkak dan berjalan.berpindah. Pada usia 3 tahun

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan media audio visual dalam mengembangkan kemampuan menyimak anak usia 5- 6 tahun di TK Mutiara Hati

Dalam jaringan hewan, lemak terutama tersusun dalam jaringan adipose, sedangkan otot, jaringan syaraf dan kelenjar mengandung lemak dalam jumlah relatif kecil dan lebih

Diharapkan penelitian ini dapat menjadi informasi tambahan atau sebagai perimbangan yang bermanfaat bagi perusahaan terkait dengan mekanisme tata kelola perusahaan

Perlu dilakukan pengujian kemampuan membran selulosa yang dimodifikasi dengan surfaktan kationik seperti senyawa amonium kuartener untuk mengikat limbah bahan obat

dan sabut batang pisang tidak berbeda nyata terhadap parameter jumlah kadar N.. Selain itu, tidak terdapat interaksi antara masing-masing perlakuan

Dengan kembali menilik sejarah pertumbuhan kelompok Iba>d} iyyah, sebagaimana sudah disinggung di muka, bahwa Abu> Bila>l Mirda>s sebagai pelopor dan

Maksud dari ayat diatas yaitu Allah swt telah memberikan kepada manusia segala maslahat dan kebutuhannya sehingga manusia dapat menggarap tanahnya , membuat bangunan