BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu jenis pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan adalah Sectio Caesaria (SC), dimana SC didefinisikan sebagai proses lahirnya janin melalui insisi di dinding abdomen (laparatomi) dan dinding uterus (histerektomi) (Cunningham, dkk, 2006). Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa persalinan dengan bedah caesar adalah sekitar 10-15 % dari semua proses persalinan di negara-negara berkembang. Di Indonesia sendiri, presentasi operasi caesar sekitar 5%. Di samping itu sumber lain mengatakan bahwa Sectio Caesaria berhubungan dengan peningkatan 2 kali lipat resiko mortalitas ibu dibandingkan pada persalinan vaginal. Kematian ibu akibat operasi caesar itu sendiri menunjukkan angka 1/1.000 persalinan. Menurut Bensons dan Pernolls (2009), angka kematian pada operasi caesar adalah 40-80 tiap 100.000 kelahiran hidup. Angka ini menunjukkan risiko 25 kali lebih besar dibanding persalinan pervagina. Sedangkan untuk kasus karena infeksi mempunyai angka 80 kali lebih tinggi dibandingkan dengan persalinan pervaginaan. Komplikasi tindakan anestesi sekitar 10% dari seluruh angka kematian ibu (Farrer, 2001).
atau bayi dan mengurangi rasa nyeri (Gallagher dan Mundy, 2005). Untuk beberapa perempuan, SC dianggap cara melahirkan yang baik dan tidak menyusahkan meskipun tindakan ini ada yang membahayakan (Rasjidi, 2009).
Menurut Kasdu (2003) diperlukan pengawasan khusus terhadap indikasi di lakukannya SC maupun perawatan ibu setelah tindakan SC, karena tanpa pengawasan yang baik dan cermat akan berdampak pada kematian ibu. Oleh karena itu pemeriksaan dan monitoring dilakukan beberapa kali sampai tubuh ibu dinyatakan dalam keadaan sehat. Salah satu upaya untuk mencegah kejadian ini adalah dengan melakukan mobilisasi dini (Early Ambulation). Mobilisasi dini merupakan suatu tindakan rehabilitatif (pemulihan) yang dilakukan setelah pasien sadar dari pengaruh anastesi dan sesudah operasi. Mobilisasi berguna untuk mambantu dalam jalannya penyembuhan luka. Dengan mobilisasi dini diharapkan ibu nifas dapat menjadi lebih sehat dan lebih kuat, selain juga dapat melancarkan pengeluaran lochea, membantu proses penyembuhan luka akibat proses persalinan, mempercepat involusi alat kandungan, melancarkan fungsi alat gastrointestinal dan alat perkemihan serta meningkatkan kelancaran peredaran darah, sehingga mempercepat fungsi Air Susu Ibu (ASI) dan pengeluaran sisa metabolisme (Mochtar, 1998). Faktor lainnya yang mempengaruhi penyembuhan luka diantaranya usia, obesitas, gangguan oksigenasi, merokok, obat-obatan, diabetes melitus, stress luka, gizi, sosial budaya (pantang makanan) (Potter, 2005).
protein, karbohidrat, lemak, vitamin A dan C serta mineral yang sangat berperan dalam pembentukan jaringan baru pada proses penyembuhan luka (Potter, 2005). Dengan demikian diperlukan pendidikan kesehatan khususnya gizi yang baik untuk ibu nifas. Gizi juga akan mempengaruhi pengeluaran ASI. Dengan pemberian ASI akan membantu kontraksi uterus dan dapat mencegah perdarahan (Bobak, 2000). Persalinan yang dilakukan dengan operasi membutuhkan rawat inap yang lebih lama di rumah sakit. Lama perawatan untuk pasien post SC normalnya sekitar 5-7 hari atau sesuai dengan penyembuhan luka yang terjadi. Perlukaan pada pasien SC terjadi pada dinding abdomen (kulit dan otot perut) dan dinding uterus. Adanya luka post SC merupakan salah satu faktor yang memperpanjang lama perawatan ibu post SC di rumah sakit. Banyak faktor yang mempengaruhi penyembuhan dari luka post SC antara lain adalah suplai darah, infeksi dan iritasi. Dengan adanya mobilisasi dini diharapkan akan menyebabkan perbaikan suplai darah sehingga berpengaruh terhadap kecepatan proses penyembuhan luka post SC (Kusnyati, 2006).
kelainan kongenital, myopi tinggi, plasenta previa dan eklampsi di bawah 1%. Hasil wawancara penulis dengan 10 ibu post SC didapatkan kenyataan bahwa terdapat enam (60%) ibu yang tidak mau melakukan mobilisasi dini yang disebabkan oleh beberapa alasan, diantaranya ibu merasakan nyeri pada luka post SC. Rasa nyeri masih dirasakan ibu sampai lebih dari 5 hari setelah operasi dengan keadaan luka masih basah (proses penyembuhan luka operasi lama), hal ini membuat ibu malas untuk melakukan mobilisasi atau menggerakkan badan dengan alasan takut jahitan lepas.
Berdasarkan fenomena tersebut maka peneliti tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang hubungan antara pengetahuan gizi dan mobilisasi dini dengan proses penyembuhan luka operasi pada pasien post sectio caesarea di RS. Dr. Goeteng Tarunadibrata Purbalingga.
B. Perumusan masalah
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui bagaimana hubungan pengetahuan gizi dan mobilisasi dini dengan proses pentembuhan luka operasi pada pasien post sectio caesarea di RS. Dr. Goeteng Tarunadibrata Purbalingga.
2. Tujuan Khusus
a. Menggambarkan pengetahuan gizi pasien post sectio caesarea di RS. Dr. Goeteng Tarunadibrata Purbalingga.
b. Menggambarkan mobilisasi dini pasien post sectio caesarea di RS. Dr. Goeteng Tarunadibrata Purbalingga.
c. Menganalisa hubungan pengetahuan gizi dengan proses penyembuhan luka operasi pada pasien post sectio caesarea di RS. Dr. Goeteng Tarunadibrata Purbalingga.
d. Menganalisa hubungan mobilisasi dini dengan proses penyembuhan luka operasi pada pasien post sectio caesarea di RS. Dr. Goeteng Tarunadibrata Purbalingga
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Penelitian
2. Bagi Institusi Rumah Sakit
Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi bagi rumah sakit tentang hubungan pengetahuan gizi dan mobilisasi dini dengan proses penyembuhan luka operasi pada pasien post sectio caesarea.
3. Bagi Institusi Pendidikan
Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi baru bagi intitusi pendidikan khususnya bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan Jurusan Keperawatan sebagai data pendukung bagi peneliti yang ingin melanjutkan penelitian dalam bidang yang sama.
E. Keaslian Penelitian
1. Vinaya (2009) berjudul “Hubungan Kadar Hemoglobin Dengan Penyembuhan Luka Post sectio caesarea (SC) Di Ruang Mawar I RSUD Dr. Moewardi Surakarta”. Jenis penelitian menggunakan deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel diambil sebanyak 96 responden. Data dianalisa dengan menggunakan metode chi-square). Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan: 1) Sebagian besar responden (pasien) post Sectio Caesarea memiliki kadar hemoglobin normal, 2) Sebagian besar responden (pasien) post Sectio Caesarea mengalami kondisi luka sembuh, dan 3) Ada hubungan yang bermakna (signifikan) antara kadar hemoglobin dengan kesembuhan luka post sectio caesarea di Ruang Mawar 1 RSUD Dr. Moewardi Surakarta.
Sedangkan persamaannya terletak pada variabel terikat yaitu Penyembuhan Luka Post sectio caesarea (SC) dan jenis penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional.
2. Nasution (2010) berjudul “Pengetahuan Ibu Tentang Mobilisasi Dini Pasca Persalinan Normal Pervaginam di Dusun IX Desa Bandar Klippa Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang Tahun 2010”. Jenis penelitian ini bersifat deskriptif. Teknik pengambilan sample menggunakan simple random sampling dengan jumlah 95 orang. Analisis data yang dilakukan adalah univariat. Dari hasil penelitian 95 responden, didapatkan sebanyak 83 orang (87,4%) pengetahuan dalam kategori baik dan sebanyak 12 orang (12,6%) pengetahuan dalam kategori cukup. Perbedaan penelitian terletak pada variabel penelitian, pada penelitian Nasution merupakan variabel tunggal yaitu pengetahuan ibu tentang mobilisasi dini pasca persalinan normal pervaginam dengan subjek penelitian pasien post partum normal sedangkan pada penelitian ini terdiri atas variabel bebas berupa pengetahuan gizi, mobilisasi dini dan variabel terikat (proses penyembuhan luka post SC) dengan subjek pasien post sectio caesarea. Adapun persamaanya adalah sama-sama meneliti tentang tentang pengetahuan ibu post partum.
diisi langsung oleh responden dan dianalisis univariat dan bivariat (Chi-Square). Hasil univariat menunjukkan bahwa 59 orang (68,6%) mau melaksanakan mobilisasi dini pasca seksio sesarea, 64 orang (74,4%) mempunyai motivasi yang tinggi dengan pelaksanaan mobilisasi dini pasca seksio sesarea. Hasil analisa bivariat menunjukkan bahwa adanya hubungan yang bermakna antara motivasi pasien dengan pelaksanaan mobilisasi dini pasca seksio sesarea.
Perbedaan dengan penelitian penulis terletak pada variabel bebas yaitu mobilisasi dini dan variabel terikat proses penyembuhan luka post SC. Persamaannya adalah sama-sama meneliti variabel mobilisasi dini yang dilakukan ibu post partum pasca seksio sesarea.