Optimasi setil alkohol dan natrium lauril sulfat pada lotion tabir surya ekstrak etanol kelopak bunga rosella (Hibiscus sabdariffa L.) dengan metode desain faktorial. - USD Repository

56  10  Download (1)

Teks penuh

(1)

OPTIMASI SETIL ALKOHOL DAN NATRIUM LAURIL SULFAT PADA LOTION TABIR SURYA EKSTRAK ETANOL KELOPAK BUNGA

ROSELLA (Hibiscus sabdariffa L.) DENGAN METODE DESAIN FAKTORIAL.

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm)

Program Studi Farmasi

oleh :

Komang Ayu Trisna Geriadi

NIM : 158114092

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(2)

i

OPTIMASI SETIL ALKOHOL DAN NATRIUM LAURIL SULFAT PADA LOTION TABIR SURYA EKSTRAK ETANOL KELOPAK BUNGA

ROSELLA (Hibiscus sabdariffa L.) DENGAN METODE DESAIN FAKTORIAL.

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm)

Program Studi Farmasi

oleh :

Komang Ayu Trisna Geriadi

NIM : 158114092

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(3)
(4)
(5)
(6)
(7)

vi

PRAKATA

Puji dan syukur saya haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas

karunia-Nya yang begitu besar sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul ”Optimasi Setil Alkohol dan Natrium Lauril Sulfat pada Lotion Tabir Surya Ekstrak Etanol Kelopak Bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L.) dengan

Metode Desain Faktorial” dengan baik. Skripsi ini disusun untuk memperoleh gelar Sarjana Strata Satu pada program studi Farmasi Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta. Terselesainya skripsi ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak,

sehingga penulis bermaksud menyampaikan rasa terimakasih, kepada :

1. Bapak I Nyoman Geria, S.Pd dan Ibu Gusti Ayu Suarsani, S.Pd.,M.Pd.

yang selalu memberikan dukungan, doa dan motivasi kepada penulis

2. Ibu Wahyuning Setyani, M.Sc., Apt selaku dosen pembimbing yang telah

membimbing dan memberikan banyak pengalaman kepada penulis

sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

3. Ibu Beti Pudyastuti, M.Sc., Apt dan Ibu Dr. Rini Dwi Astuti, M.Sc., Apt

selaku dosen penguji yang telah memberikan saran dan masukan untuk

menjadikan skripsi ini lebih baik.

4. Bapak Christianus Heru Setiawan, Apt selaku dosen pembimbing

akademik yang telah memberikan arahan selama perkuliahan penulis.

5. Kakak Putu Ayu Putri Riastini, Amd.Keb dan Made Ayu Desy Geriadi,

SMB., MM. yang selalu memberikan dukungan dan mendengarkan keluh

kesah penulis saat menyusun skripsi ini.

6. Pak Wagiran, Pak Musrifin, Mas Agung, dan Pak Iswandi selaku laboran

yang telah membantu penulis dalam menjalankan penelitian.

7. Felix Enggar Widianto dan Keza Meylina selaku teman seperjuangan yang

selalu mendengarkan keluh kesah penulis, menemani penulis, dan sabar

menghadapi perilaku penulis selama penelitian. Penulis sangat bersyukur

memiliki teman seperti kalian.

8. Putu Diana, Sintya Dewi dan Diantari selaku teman kos penulis yang

(8)

vii

9. Felicita Eka P selaku teman baik penulis, teman belajar, berorganisasi dan

kepanitiaan.

10.Indian, Widya, Vany, Lian, Krisna, Glenys, Galung yang telah membantu

dan bersama penulis selama perkuliahan ini.

11.Seluruh Dosen Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma yang telah

memberikan ilmunya selama perkuliahan.

12.Seluruh teman – teman FSM C 2015 yang tidak bisa penulis sebutkan satu

persatu.

13.Seluruh teman- teman angkatan 2015 yang tidak bisa penulis sebutkan satu

persatu

Penulis sadar bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan skripsi

ini sehingga penulis berharap menerima kritik dan saran yang membangun. Akhir

kata, semoga skripsi ini bermanfaat untuk ilmu pengetahuan khususnya dibidang

farmasi.

Yogyakarta, 19 November 2018

(9)

viii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI ... iii

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... iv

PERNYATAAN PUBLIKASI ... v

PRAKATA ... vi

Pembuatan Ekstrak Kelopak Bunga Rosella ... 2

Skrining Fitokimia ... 3

Uji Aktivitas Tabir Surya Ekstrak Kelopak Bunga Rosella ... 3

Pembuatan Sediaan Lotion Ekstrak Kelopak Bunga Rosella ... 4

Pengujian Sifat Fisik ... 5

Analisis Data ... 5

HASIL DAN PEMBAHASAN ... 6

Determinasi Tanaman Rosella... 6

Skrining Fitokimia ... 6

Uji Aktivitas Tabir Surya Ekstrak Kelopak Bunga Rosella ... 6

Penentuan Rentang Viskositas, Daya Sebar dan Daya Lekat ... 7

(10)

ix

Desain Faktorial ... 10

Uji Stabilitas Freezethaw ... 16

KESIMPULAN ... 17

SARAN ... 17

DAFTAR PUSTAKA ... 18

LAMPIRAN ... 20

BIOGRAFI PENULIS ... 41

(11)

x

DAFTAR TABEL

Daftar Tabel I. Skrining Fitokimia Ekstrak Kelopak Bunga Rosela... 3

Daftar Tabel II. Formula Lotion Ekstrak Kelopak Bunga Rosela ... 4

Daftar Tabel III. Hasil Skrining Fitokimia Ekstrak Bunga Rosella... 6

Daftar Tabel IV. Hasil Pengujian Lotion Pasaran ... 8

Daftar Tabel V. Hasil Evaluasi Organoleptis Lotion ... 9

Daftar Tabel VI. Hasil Evaluasi Viskositas Lotion ... 9

Daftar Tabel VII. Hasil Evaluasi Daya Sebar Lotion ... 10

Daftar Tabel VIII. Hasil Evaluasi Daya Lekat Lotion ... 11

Daftar Tabel IX. Nilai Efek Faktor terhadap Viskositas ... 12

Daftar Tabel X. Nilai Efek Faktor terhadap Daya Sebar ... 13

Daftar Tabel XI. Nilai Efek Faktor terhadap Daya Lekat ... 14

Daftar Tabel XII. Hasil Validasi Salah Satu Formula Optimum ... 16

(12)

xi

DAFTAR GAMBAR

Daftar Gambar 1. Grafik Hubungan Konsentrasi vs Nilai SPF ... 7

Daftar Gambar 2. Hubungan natrium lauril sulfat terhadap viskositas ... 11

Daftar Gambar 3. Hubungan setil alkohol terhadap viskositas ... 11

Daftar Gambar 4. Hubungan setil alkohol terhadap daya sebar ... 13

Daftar Gambar 5. Hubungan natium lauril sulfat terhadap daya sebar ... 13

Daftar Gambar 6. Hubungan setil alkohol terhadap daya lekat ... 14

Daftar Gambar 7. Hubungan natrium lauril sulfat terhadap daya lekat ... 14

(13)

xii ABSTRAK

Penipisan lapisan ozon akibat efek global warming saat ini, menyebabkan radiasi sinar ultraviolet (UV) tidak sulit mencapai permukaan bumi. Paparan sinar ultraviolet (UV) secara terus menerus pada kulit dapat menyebabkan eritema kulit sampai kanker kulit. Menurut literature kelopak bunga rosella (Hibiscus sabdariffa L.) mengandung senyawa flavonoid yang berpotensi sebagai tabir surya. Penelitian ini bertujuan untuk mengekstraksi serbuk kelopak bunga rosella serta pemanfaatannya sebagai lotion tabir surya. Bentuk sediaan lotion dipilih karena lotion memiliki karakteristik yang tidak terlalu padat dan mudah diaplikasikan pada kulit. Ekstraksi dilakukan dengan metode remaserasi dan dilanjutkan dengan identifikasi senyawa flavonoid.

Uji aktivitas tabir surya lotion ekstrak kelopak bunga rosella menggunakan alat spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 290 – 400 nm. Optimasi setil alkohol dan natrium lauril sulfat dilakukan dengan metode desain faktorial 2 faktor yaitu natrium lauril sulfat dan setil alkohol, 2 level yaitu level maksimum dan minimum dari natrium lauril sulfat dan setil alkohol. Data yang digunakan pada desain faktorial yaitu data viskositas, daya lekat dan daya sebar. Hasil yang didapatkan berupa ekstrak kelopak bunga rosella yang memiliki kandungan senyawa flavonoid pada konsentrasi 0,1% dengan nilai SPF sebesar 55,424. Salah satu komposisi optimum dari hasil optimasi didapatkan komposisi natrium lauril sulfat 1,3 gram dan komposisi setil alkohol 6.9 gram. Pada uji stabilitas dengan metode freezethaw terjadi penurunan nilai viskositas dan daya lekat, sedangkan nilai daya sebar meningkat. Perubahan nilai respon masih dalam rentang lotion yang terdapat di pasaran.

(14)

xiii ABSTRACT

The depletion of the ozone layer as a result of current global warming, has caused ultraviolet (UV) radiation not difficult to reach the surface of the earth. Exposure of ultraviolet (UV) radiation continuously caused bad effect for skin like skin erythema and even skin cancer. According to the literature, rosella flower petals (Hibiscus sabdariffa L.) contains flavonoid that has potential to become sunscreen. The aim of this study is to extraction of rosella petals and their used as sunscreen lotion. The lotion form was choosen because it has characteristic that are not too dense and easily to applied to the skin. Extraction was carried out by the remaseration method and continued with identification of the flavonoid compound.

Sunscreen activity test for the extract rosella petals used spektrofotometer UV-Vis at wavelengths 290-400 nm. This study used factorial design method which have 2 factors : sodium lauryl sulfate and cetyl alcohol, 2 level : maximum and minimum. Physical properties which are being observed are viscosity, spreadability and adhesion. The result showed that there is rosella petals extract contains flavonoid compound with an SPF value 55.424. One of optimum compositions from the optimization result was found by a composition 1.3 gram of sodium lauryl sulfat and 6.9 gram of cetyl alcohol. On stability test with freezethaw method there was decrease of viscosity and adhesion, while incrase of spreadability. Changes in response values were still in the range of lotions found on the market.

(15)

1 PENDAHULUAN

Penipisan lapisan ozon akibat efek global warming saat ini,

menyebabkan radiasi sinar ultraviolet (UV) tidak sulit mencapai permukaan bumi.

Di Amerika telah dilaporkan penelitian bahwa 1% penipisan lapisan ozon, akan

meningkatkan resiko mortalitas akibat melanoma pada kulit sebesar 1-2%.

Jenis-jenis radiasi sinar UV yang dapat mencapai permukaan bumi adalah UVA dan

UVB. Sedangkan UVC, yang panjang gelombangnya hanya sekitar 200-290 nm,

tidak dapat mencapai permukaan bumi karena terserap langsung oleh lapisan ozon

di atmosfer bumi (Brenner and Hearing, 2008).

Kelopak bunga rosella (Hibiscus sabdariffa L.) memiliki kandungan

senyawa flavonoid yang mampu mengurangi dampak dari paparan sinar matahari

secara langsung. Senyawa fenolik khususnya flavonoid juga mempunyai potensi

sebagai tabir surya karena memiliki gugus kromofor (ikatan rangkap tunggal

terkonjugasi) yang mampu menyerap sinar UV-A maupun UV-B sehingga

mengurangi intensitas pada kulit (Rahmawati, 2012).

Pada penelitian ini, peneliti memformulasikan lotion tabir surya yang

mengandung senyawa aktif ekstrak kelopak bunga rosella (Hibiscus sabdariffa

L.). Bentuk sediaan lotion dipilih karena lotion memiliki karakteristik yang tidak

terlalu padat dan mudah diaplikasikan pada kulit sehingga diharapkan dapat

mudah menyerap ke dalam lapisan kulit. Pada pembuatan lotion diperlukan zat

tambahan yaitu stiffening agent dan emulsifying agent. Pada penelitian ini peneliti

melakukan optimasi Na-lauril sulfat sebagai emulsifying agent dan setil alkohol

sebagai stiffening agent. Peneliti memilih kedua bahan berdasarkan Rowe et al

(2009) bahwa setil alkohol sebagai stiffening agent akan lebih stabil jika

dikombinasikan dengan emulsifying agent, sehingga kombinasi ini diharapkan

dapat menghasilkan lotion yang memiliki sifat fisik dan stabilitas sediaan yang

baik.

Optimasi formula dilakukan dengan metode desain faktorial yang

bertujuan untuk melihat mengenai pengaruh kombinasi Na-lauril sulfat dan setil

alkohol terhadap sifat fisik dan stabilitas lotion tabir surya ekstrak kelopak bunga

(16)

2

setil alkohol dan natrium lauril sulfat. Masing – masing faktor diuji pada level rendah dan level tinggi sehingga dapat diketahui faktor yang dominan

berpengaruh secara signifikan terhadap suatu respon.

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian yang dilakukan pada penelitian ini termasuk dalam jenis

penelitian eksperimental murni dengan menggunakan metode desain faktorial

yang bertujuan untuk melihat faktor yang mempengaruhi sifat fisik dan stabilitas

sediaan. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Farmakognosi Fitokimia,

Laboratorium Kimia Fisika dan Laboratorium Teknologi dan Formulasi Sediaan

Farmasi Universitas Sanata Dharma.

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan yaitu neraca analitik (Nagata), shaker, rotary

evaporator, oven, kertas saring whatman no.1, tabung reaksi, spektrofotometri

UV-Vis, labu ukur, erlemeyer, Viskometer cone and plate (Rheyosis), alat uji daya

sebar, alat uji daya lekat, stopwatch, mortar, stamper, waterbath, freezer dan alat

gelas lainnya. Bahan utama yang digunakan yaitu serbuk kelopak bunga rosella

(Hibiscus sabdariffa L.) diperoleh dari Merapi Farma Herbal Yogyakarta, etanol

96%, reagen Mayer, reagen Waghner, reagen Dragendrof, NaOH 10%, FeCl3,

kloroform, anhidrat asetat, H2SO4, setil alkohol, natrium lauril sulfat, minyak

zaitun, trietanolamin, gliserin, asam benzoat, propil paraben dan akuades.

Determinasi Tanaman Rosella (Hibiscus sabdariffa L.)

Tanaman rosella (Hibiscus sabdariffa L.) yang digunakan diperoleh dari

Merapi Farma Yogyakarta. Determinasi tanaman rosella (Hibiscus sabdariffa L.)

dilakukan di Laboratorium Sistematika Tumbuhan, Fakultas Biologi, Universitas

Gadjah Mada Yogyakarta

Pembuatan Ekstrak Etanol Kelopak Bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L.) Sebanyak 250 gram serbuk kelopak bunga rosella (Hibiscus sabdariffa L.)

ditimbang kemudian dilarutkan dalam 500 ml etanol 96%. Larutan kemudian di

shaker selama 6 jam setelah itu direndam selama 18 jam. Tahap ini dilakukan

(17)

3

dikondensasi dengan rotary evaporator pada suhu ± 40oC hingga didapatkan

ekstrak kental. Penimbangan bobot tetap dilakukan dengan menguapkan ekstrak

pada oven. Menurut Farmakope Indonesia V (2014), jika ekstrak telah bebas dari

pelarut, maka pada dua kali penimbangan berturut-turut perbedaan penimbangan

tidak lebih dari 0,50 mg tiap gram zat yang digunakan.

Skrining Fitokimia

Skrining fitokimia dilakukan pada beberapa golongan senyawa, dapat

dilihat pada tabel I :

Tabel I. Skrining Fitokimia Ekstrak Kelopak Bunga Rosella

Skrining Senyawa Pereaksi Reaksi positif

Flavonoid

(Ikalinus dkk., 2015)

NaOH 10% Warna orange/ jingga

Tanin

(Vinoth et al., 2012)

FeCl3 Warna coklat kehijauan

atau biru kehitaman kloroform + 0,5 mL anhidra asetat + 2 mL H2SO4

Filtrat 2 : endapan putih

Uji aktivitas tabir surya ekstrak kelopak bunga rosella

Sampel dipreparasi dengan cara membuat variasi konsentrasi (0,06%,

0,07%, 0,08%, 0,09% dan 0,1%) ekstrak etanol kelopak bunga rosella. Ekstrak

dilarutkan dalam sejumlah etanol, kemudian uji aktivitas tabir surya dilakukan

dengan alat spektrofotometer UV-Vispada rentang panjang gelombang 290 nm – 400 nm sampai didapatkan serapan minimal 0,05 dengan menggunakan blanko

(18)

4

terbesar dan terkecil kemudian dikalikan 2. Selanjutnya nilai log SPF diubah

menjadi nilai SPF. Nilai SPFdihitung dengan rumus:

LogSPF =

Pembuatan Sediaan Lotion

Semua bahan yang dibutuhkan baik bahan aktif maupun bahan tambahan

ditimbang. Setil alkohol dipanaskan di atas waterbath sampai cair kemudian

ditambahkan minyak zaitun dan propil paraben aduk sampai homogen (campuran

A). Asam benzoat, natrium lauril sulfat dilarutkan dalam air kemudian

ditambahkan gliserin dan trietanolamin campur sampai homogen (campuran B).

Campuran A dipindahkan kedalam mortir panas aduk lalu ditambahkan sedikit

demi sedikit campuran B aduk sampai homogen. Ekstrak kelopak bunga rosella

ditambahkan dan diaduk sampai homogen. Formula lotion seperti pada tabel II :

Tabel II. Formula kelopak bunga rosella

BAHAN KOMPOSISI (%) Pengujian Sifat Fisik & Stabilitas Sediaan Lotion

Uji sifat fisik dilakukan dengan uji viskositas, uji daya sebar, uji daya

lekat. Pengukuran viskositas dilakukan dengan menggunakan viskometer cone

and plate. Lotion diletakkan pada wadah yang tersedia. Spindle yang sesuai

dipasang dan spindle diturunkan sampai menyentuh sampel, tombol ON ditekan.

Pada pengujian daya sebar dilakukan dengan cara lotion ditimbang 0,5

gram kemudian diletakkan diantara dua lempeng kaca diberi beban 50 gram, lalu

didiamkan 1 menit dan diukur diameter penyebarannya.

Pengujian daya lekat dilakukan dengan mengoleskan lotion pada satu sisi

(19)

5

beban, kemudian ditempelkan pada kaca obyek yang lain. Obyek kaca kemudian

diamati waktu yang dibutuhkan beban untuk memisahkan kedua kaca tersebut.

Pada uji stabilitas sediaan dilakukan dengan menyimpan sediaan lotion

pada suhu 5±2oC selama 24 jam, lalu dipindahkan ke dalam oven yang bersuhu

40±2oC juga selama 24 jam. Perlakuan ini terhitung 1 siklus dan dilakukan

sebanyak 3 siklus (6 hari) (Wihelmina, 2011). Selanjutnya dilakukan pengamatan

organoleptik, homogenitas, viskositas, daya lekat dan daya sebar.

Analisis Data

Data sifat fisik berupa viskositas, daya lekat dan daya sebar dianalisis

dengan Design Expert version 11 (free trial) sehingga didapatkan persamaan yang

menggambarkan interaksi dari kedua faktor pada dua level untuk masing-masing

respon. Setiap respon akan mendapatkan contour plot dan dilakukan analisis

superimposed contour plot. Analisis data stabilitas lotion kelopak bunga rosella

dilakukan menggunakan program SPSS dari Pusat Epidemiologi Klinik dan

Biostatistik Universitas Gadjah Mada. Data diolah dengan Shapiro-Wilk taraf

kepercayaan 95% untuk mengetahui normalitas distribusi data, nilai p>0,05

menunjukkan data terdistribusi normal. Setelah itu dilanjutkan uji one way

ANOVA dan Post-Hoc Turkey. Jika data tidak terdistribusi normal dilakukan uji

Kruskal Wallis dan Mann-Whitney untuk melihat signifikansi kelompok data.

Nilai p < 0,05 menandakan adanya perbedaan yang signifikan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Determinasi Tanaman Rosella (Hibiscus sabdariffa L.)

Tanaman rosella diperoleh dari CV Merapi Farma Herbal Yogyakarta

dan dideterminasi di Fakultas Biologi Laboratorium Sistematika Tumbuhan

Universitas Gadjah Mada Yogyakarta yang menyatakan bahwa tanaman rosella

yang digunakan dalam penelitian ini benar dari jenis Hibiscus sabdariffa L

(lampiran 1).

Ekstraksi

Serbuk diekstraksi dengan metode remaserasi, kemudian dikondensasi

(20)

6

penimbangan bobot tetap sampai didapatkan selisih 0,50 mg pada setiap

penimbangan. Setelah didapatkan ekstrak kental, dilakukan skrining fitokimia

dengan uji tabung.

Skrining Fitokimia

Hasil skrining fitokimia menunjukkan ekstrak etanol kelopak bunga

rosella positif mengandung senyawa flavonoid dan negatif pada pengujian

senyawa lainnya. Hal ini sesuai dengan penelitain Marpaung dkk (2015) dengan

hasil positif hanya pada uji flavonoid dan negative pada uji lainnya. Perubahan

warna pada uji flavonoid disebabkan terjadinya hidrolisis flavonoid glikosida

menjadi aglikon flavonoid dengan penambahan asam kuat yang selanjutnya akan

membentuk kompleks dengan serbuk magnesium dan menghasilkan perubahan

warna menjadi merah atau jingga (Tanaya, Retnowati, and Suratmo, 2015). Hasil

skrining fitokimia dapat dilihat pada tabel III (lampiran 5) :

Tabel III. Hasil Skrining Fitokimia Ekstrak Kelopak Bunga Rosella Skrining

Senyawa

Pereaksi Reaksi positif Hasil

Flavonoid NaOH 10% Warna orange/ jingga

Warna jingga (+) Tanin FeCl3 Warna coklat

kehijauan atau biru

Terbentuk busa Tidak terbentuk busa (-)

(21)

7

Uji Aktivitas Tabir Surya Ekstrak Kelopak Bunga Rosella

Ekstrak dibuat dalam konsentrasi bervariasi yaitu konsentrasi 0,06%;

0,07%; 0,08%; 0,09 dan 0,1% dengan pelarut etanol 96% dan diukur serapannya

dengan spektofotometer UV-Vis pada rentang panjang gelombang 290 – 400 nm. Nilai SPF dihitungdengan rumus:

LogSPF =

Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak

kelopak bunga rosella maka semakin tinggi pula nilai SPF nya (Gambar 1).

Kriteria nilai SPF yang didapatkan rata-rata termasuk dalam proteksi ultra (SPF >

15) (Draelos dan Thaman, 2006). Proteksi ultra ini berasal dari kandungan

senyawa flavonoid. Senyawa flavonoid yang terdapat dalam ekstrak kelopak

bunga rosella dapat menyerap sinar UV. Senyawa flavonoid juga memiliki sifat

antioksidan. Sifat yang dapat menyerap sinar UV dan antioksidan dari senyawa

flavonoid potensial diformulasikan dalam sediaan tabir surya (Filho et al., 2016).

Gambar 1. Grafik Nilai SPF vs Konsentrasi Penentuan Rentang Viskositas, Daya Sebar dan Daya Lekat

Penentuan rentang viskositas, daya sebar dan daya lekat didapatkan dari

pengujian 3 produk yang telah beredar di pasaran dengan tujuan untuk melihat

sediaan lotion ekstrak kelopak bunga rosella yang dibuat dapat diterima oleh

masyarakat dari segi viskositas, daya sebar dan daya lekat. Hasil pengujian

(22)

8

Tabel IV. Hasil pengujian produk pasaran

Produk Viskositas (Pa.S) Daya Sebar (cm) Daya Lekat (detik)

± SD ± SD ± SD

A 0,832 ±0,025 5,3 ±0,26 1,167 ±0,289

B 1,96 ± 0,04 5,8 ± 0,4 1,067 ± 0,115

C 2,784 ± 0,1407 5,8 ± 0,5 2,83 ±1,258

Pembuatan dan Evaluasi Lotion Tabir Surya

Konsentrasi ekstrak kelopak bunga rosella 0,1% dipilih sebagai

konsentrasi yang diformulasikan dalam sediaan lotion. Hal ini dikarenakan pada

konsentrasi ekstrak 0,1% telah memiliki nilai SPF dengan proteksi ultra.

Setil alkohol dipanaskan di atas waterbath sampai cair kemudian

ditambahkan minyak zaitun dan propil paraben aduk sampai homogen (campuran

A). Asam benzoat, natrium lauril sulfat dilarutkan dalam air kemudian

ditambahkan gliserin dan trietanolamin campur sampai homogen (campuran B).

Campuran A dipindahkan ke dalam mortir panas aduk lalu ditambahkan sedikit

demi sedikit campuran B aduk sampai homogen. Ekstrak kelopak bunga rosella

ditambahkan dan diaduk sampai homogen. Keempat formula lotion dibuat sesuai

formula kemudian diuji sifat fisik dari masing-masing sediaan yang nantinya akan

menjadi respon pada desain faktorial. Hasil evaluasi sifat fisik sediaan lotion

antara lain :

a. Organoleptis

Uji ini meliputi bentuk, bau, dan warna. Keempat formula

memiliki organoleptis yang sama. Hasil pengamatan organoleptis dari 4

formula disajikan pada tabel V :

Tabel V. Organoleptis lotion ekstrak kelopak bunga rosella

Organoleptis F1 FA FB FAB

(23)

9 b. Viskositas

Uji ini bertujuan untuk mengetahui kekentalan dari sediaan lotion.

Uji viskositas menggunakan Viskometer cone and plate. Pengujian

dilakukan pada kecepatan 10 rpm. Hasil viskositas lotion dapat dilihat

pada tabel VI (lampiran 7) :

Tabel VI. Viskositas lotion ekstrak kelopak bunga rosella

Formula Viskositas (Pa.S)

Data ditampilkan dalam bentuk ± SD, n replikasi = 3

Hasil diatas menunjukkan bahwa formula B tidak masuk dalam

rentang viskositas pasaran yaitu 0,832 Pa.S – 2,784 Pa.S. Sediaan lotion

pada formula B memiliki viskositas yang lebih rendah dibandingkan

formula lainnya. Pada formula B natrium lauril sulfat level tinggi dan setil

alkohol level rendah. Natrium lauril sulfat merupakan emulsifying agent

yang dapat menurunkan viskositas jika dikombinasikan dengan setil alkohol

level rendah.

c. Daya Sebar

Uji daya sebar bertujuan untuk melihat keefektifan pelepasan suatu

zat aktif dari sediaan. Uji daya sebar menggunakan alat ekstensometer

dengan penambahan beban 50 gram dan didiamkan selama 1 menit

(lampiran 7).

Tabel VII. Daya sebar lotion ekstrak kelopak bunga rosella

Formula Daya Sebar (cm)

± SD

1 5,2 ± 0,1

A 5,83 ± 0,057

B 6,83 ± 0,152

AB 5,5 ± 0,1

(24)

10

Hasil diatas menunjukkan bahwa formula B tidak masuk dalam

rentang daya sebar pasaran yaitu 5,3 cm – 5,8 cm. Sediaan lotion pada formula B memiliki daya sebar yang paling luas. Hal ini disebabkan

karena viskositas lotion formula B rendah sehingga menghasilkan daya

sebar yang luas.

d. Daya Lekat

Uji daya lekat bertujuan untuk mengetahui kemampuan sediaan

krim melekat pada kulit karena semakin lama daya lekat semakin optimal

pula aktivitas ekstrak yang ditimbulkan ( lampiran 7).

Tabel VIII. Daya lekat lotion ekstrak kelopak bunga rosella

Formula Daya Lekat (s)

karena komposisi natrium lauril sulfat pada level tinggi sehingga dapat

menyebabkan penurunan daya lekat.

Desain Faktorial

Jika dilihat dari hasil yang diperoleh, formula 1, A dan AB masuk dalam

rentang spesifikasi viskositas, daya sebar dan daya lekat yang di tetapkan,

sedangkan formula B dibawah viskositas, daya sebar dan daya lekat sediaan yang

di tetapkan. Adanya perbedaan level dari tiap formula menyebabkan perbedaan

dari respon fisik yang dihasilkan. Efek perbedaan komposisi natrium lauril sulfat

dan setil alkohol menyebabkan adanya interaksi dan dapat dilihat menggunakan

Design Expert Version 11 (free trial). Uji ANOVA factorial ini dengan tingkat

(25)

11 1. Respon Viskositas

Respon viskositas dihasilkan dari dua faktor yaitu setil alkohol dan

natrium lauril sulfat, serta interaksinya terhadap respon viskositas diuji

menggunakan software Design Expert 11 (free trial). Persamaan desain

faktorial untuk viskositas adalah

Y = 1,64 + 0,4223(X1) - 0,4055(X2) + 0,1573(X1)(X2) ….. (1)

Dengan X1 sebagai setil alkohol dan X2 sebagai natrium lauril sulfat

dan X1X2 sebagai respon keduanya. Dilihat dari persamaan diatas, setil

alkohol dapat meningkatkan respon viskositas, sedangkan natrium lauril sulfat

dapat menurunkan viskositas. Interaksi dari kedua bahan dapat meningkatkan

viskositas. Efek adalah perubahan respon yang disebabkan karena adanya

variasi dari level faktor dari setil alkohol dan natrium lauril sulfat. Nilai efek

setil alkohol, natrium lauril sulfat dan kombinasinya dalam menentukan respon

viskositas dapat dilihat pada tabel IX (lampiran 8).

Tabel IX. Nilai Efek setil alkohol, natrium lauril sulfat, dan Interaksinya terhadap viskositas

Faktor Efek p-value p-value

persamaan Setil alkohol 0,84 0,0007 0,0005 Natrium lauril sulfat -0,81 0,0009

Kombinasi 0,31 0,0813

Setil alkohol dan kombinasi setil alkohol dan natrium lauril sulfat

memiliki efek dengan nilai positif yang menunjukan bahwa setil alkohol dan

kombinasinya dapat meningkatkan viskositas sediaan lotion. Natrium lauril

sulfat memiliki efek dengan nilai negatif yang menunjukkan bahwa natrium

lauril sulfat dapat menurunkan viskositas sediaan lotion ekstrak kelopak bunga

rosella. Setil alkohol, natrium lauril sulfat dan kombinasinya memiliki efek

(26)

12

Gambar 2. Hubungan antara natrium lauril sulfat dengan viskositas Pada gambar 2 menunjukkan bahwa natrium lauril sulfat dapat

menurunkan viskositas setil alkohol pada level rendah maupun level tinggi.

Level rendah setil alkohol ditunjukkan dengan garis hitam dan level tinggi

ditunjukkan dengan garis merah. Natrium lauril sulfat memiliki kontribusi

sebesar 39,39% terhadap penurunan viskositas

Gambar 3. Hubungan setil alkohol dengan viskositas

Pada gambar 3 menunjukkan bahwa setil alkohol dapat meningkatkan

viskositas natrium lauril sulfat pada level rendah dan tinggi. Pada konsentrasi

tinggi setil alkohol dapat meningkatkan viskositas lebih tinggi, dilihat dari

garis berwarna merah lebih curam daripada garis warna hitam. Hal ini sesuai

dengan Rowe et al (2009) bahwa setil alkohol memiliki sifat dapat

meningkatkan viskositas sediaan. Kontribusi setil alkohol dalam meningkatkan

viskositas sebesar 92,62%.

2. Respon Daya Sebar

Persamaan daya sebar yang didapatkan yaitu

(27)

13

Dengan X1 sebagai setil alkohol dan X2 sebagai natrium lauril sulfat dan

X1X2 sebagai respon keduanya. Jika dilihat dari persamaan diatas, setil

alkohol dapat menurunkan daya sebar, natrium lauril sulfat dapat

meningkatkan daya sebar dan interaksi keduanya dapat meningkatkan daya

sebar. Nilai efek setil alkohol, natrium lauril sulfat dan kombinasinya dalam

menentukan respon daya sebar dapat dilihat pada tabel X (lampiran 8).

Tabel X. Nilai Efek setil alkohol, natrium lauril sulfat, dan Interaksinya terhadap daya sebar

Faktor Efek p-value p-value

persamaan Setil alkohol 0,02 0,8327 0,0004

Natrium lauril sulfat 0,48 0,0002

Kombinasi 0,35 0,0018

Setil alkohol, natrium lauril sulfat, kombinasinya memiliki efek dengan

nilai positif yang menunjukan setil alkohol, natrium lauril sulfat dan

kombinasinya dapat meningkatkan daya sebar lotion. Setil alkohol memiliki

nilai efek yang lebih kecil daripada natrium lauril sulfat. Hal ini menunjukkan

bahwa natrium lauril sulfat lebih berpengaruh terhadap peningkatan daya sebar.

Setil alkohol, natrium lauril sulfat dan kombinasinya memiliki efek signifikan

terhadap respon daya sebar dilihat dari p value 0,0004.

Gambar 4. Hubungan setil alkohol dengan daya sebar

Gambar 4 menunjukkan bahwa setil alkohol dapat menurunkan daya

(28)

14

sebar pada natrium lauril sulfat level tinggi. Kontribusi setil alkohol pada

respon daya sebar sebesar 0,06% menurunkan daya sebar.

Gambar 5. Hubungan Na-lauril sulfat dengan daya sebar Gambar 5 menunjukkan bahwa natrium lauril sulfat dapat meningkatkan

daya sebar setil alkohol pada level rendah dan level tinggi. Kontribusi natrium

lauril sulfat pada daya sebar sebesar 57,96% meningkatkan daya sebar.

3. Respon Daya Lekat

Persamaan daya sebar yang didapatkan yaitu

Y = 1,73 + 0,416 (X1) – 0,45 (X2) - 0,3 (X1)(X2)……….(3)

Dengan X1 sebagai setil alkohol dan X2 sebagai natrium lauril sulfat dan

X1X2 sebagai respon keduanya. Jika dilihat dari persamaan diatas, setil

alkohol dapat meningkatkan daya lekat, natrium lauril sulfat dapat menurunkan

daya lekat dan interaksi keduanya dapat menurunkan daya lekat. . Nilai efek

setil alkohol, natrium lauril sulfat dan kombinasinya dalam menentukan respon

daya sebar dapat dilihat pada tabel XI (lampiran 8).

Tabel XI. Nilai Efek setil alkohol, natrium lauril sulfat, dan Interaksinya terhadap daya lekat

Faktor Efek p-value p-value

persamaan Setil alkohol 0,83 0,0012 0,0003 Natrium lauril sulfat -0,90 0,0007

Kombinasi -0,60 0,0077

Setil alkohol memiliki efek dengan nilai positif yang menunjukan setil

(29)

15

kombinasinya memiliki efek dengan nilai negatif yang menunjukkan bahwa

natrium lauril sulfat dan kombinasinya dapat menurunkan daya lekat. Setil

alkohol, natrium lauril sulfat dan kombinasinya memiliki efek signifikan

terhadap respon daya sebar dilihat dari p value 0,0003.

Gambar 6. Hubungan setil alkohol dengan daya lekat.

Gambar 6 menunjukkan bahwa setil alkohol dapat meningkatkan daya

lekat pada natrium lauril sulfat level rendah dan level tinggi. Kontribusi setil

alkohol dalam peningkatan daya lekat sebesar 33,14%.

Gambar 7. Hubungan Na-lauril sulfat dengan daya lekat Gambar 7 menunjukkan bahwa natrium lauril sulfat dapat menurunkan

daya lekat pada setil alkohol pada level tinggi dan menurunkan daya lekat pada

setil alkohol level rendah. Kontribusi natrium lauril sulfat pada meningkatkan

respon daya lekat sebesar 38,65%.

4. Contourplot superimposed

Contour plot superimposed didapatkan dari gabungan contourplot antara

viskositas, daya sebar dan daya lekat untuk mendapatkan area viskositas , daya

(30)

16

komposisi optimum sedangkan daerah berwarna abu-abu tidak termasuk dalam

area komposisi yang optimum. Setelah mendapat area komposisi optimum,

diambil satu titik dari area komposisi optimum untuk diuji validitasnya. Titik

yang diambil adalah titik dimana komposisi natrium lauril sulfat 1,3 gram dan

setil alkohol 6,9 gram. Hasil validasi kemudian dianalisis dengan independent

sample T-test untuk diuji validitasnya antara hasil teoritis dan hasil penelitian

sehingga akan didapatkan p-value. Jika p-value > 0,05 berarti tidak ada

perbedaan yang signifikan antara teoritis dengan hasil penelitian.

Gambar 8. Contourplot superimposed

Tabel XII. Hasil validasi salah satu komposisi optimum Respon Teoritis Hasil validasi

(±)

P value

Viskositas (Pa.S) 2,0325 2,0236 0,873

Daya Sebar (cm) 6,029 6,0 0,820

Daya Lekat (detik) 2,062 2,03 0,887

Pada tabel XII dapat dilihat bahwa p value yang didapatkan dari ketiga

respon > 0,05 yang berarti tidak ada perbedaan signifikan antara nilai teoritis

dan nilai hasil validasi (lampiran 9). Persamaan desain faktorial yang

didapatkan pada penelitian ini valid untuk memprediksi area komposisi

optimum lotion tabir surya ekstrak etanol kelopak bunga rosella (Hibiscus

(31)

17 Uji Stabilitas Freezethaw

Uji stabilitas sediaan dilakukan dengan menyimpan salah satu formula

optimum lotion pada suhu 5±2oC selama 24 jam, lalu dipindahkan ke dalam oven

yang bersuhu 40±2oC juga selama 24 jam. Perlakuan ini terhitung 1 siklus dan

dilakukan sebanyak 3 siklus (6 hari) (Wihelmina, 2011). Selanjutnya dilakukan

pengamatan organoleptik, homogenitas, viskositas, daya lekat dan daya sebar.

Hasil yang didapatkan dari uji stabilitas disajikan dalam tabel XIII (lampiran 10).

Tabel XIII. Hasil uji stabilitas

Respon Siklus 0 Siklus 1 Siklus 2 Siklus 3 Viskositas (Pa.S) 2,031 2,007 1,950 1,945

Daya Sebar (cm) 5,9 5,9 6,0 6,0

Daya Lekat (s) 2,1 2,0 1,9 1,9

Berdasarkan data pada tabel XII. Dapat dilihat bahwa terjadi penurunan

viskositas dan daya lekat, sedangkan pada respon daya sebar terjadi peningkatan.

Data yang didapatkan diuji dengan oneway ANOVA dan didapatkan hasil

penurunan viskositas dengan p value 0,106 yang menunjukkan tidak adanya

perbedaan signifikan. Peningkatan daya sebar memiliki p value 0,44 yang berarti

bahwa peningkatan daya sebar tidak ada perbedaan signifikan. Penurunan daya

lekat memiliki p value 0,112 yang berarti tidak ada perbedaan signifikan pada

penurunan daya lekat. Penurunan dan peningkatan respon sediaan lotion ini masih

dalam rentang lotion di pasaran.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil yang didapatkan diatas, dapat disimpulkan bahwa

ekstrak kelopak bunga rosella mengandung senyawa flavonoid yang berpotensi

sebagai tabir surya. Hal itu didukung oleh data nilai SPF yang didapatkan

berdasarkan metode spektrofotometri yaitu bahwa pada konsentrasi 0,1% ekstrak

nilai SPF yang dihasilkan yaitu 55,424. Salah satu komposisi optimum dari hasil

optimasi yang didapatkan pada pembuatan lotion SPF ekstrak kelopak bunga

rosella yaitu komposisi natrium lauril sulfat 1,3 gram dan komposisi setil alkohol

(32)

18

pada respon daya sebar. Natrium lauril sulfat dapat meningkatkan respon daya

sebar pada komposisi setil alkohol level rendah maupun level tinggi. Pada respon

viskositas dan daya lekat tidak ditemukan faktor dominan karena p value

masing-masing faktor lebih besar dibandingkan p value persamaan.

SARAN

Pada validasi komposisi formula optimum sebaiknya dilakukan pada

formula optimum yang komposisinya paling rendah, hal ini terkait efisiensi bahan

yang digunakan. Perlu dilakukan uji aktivitas lotion ekstrak kelopak bunga rosella

untuk mengetahui apakah lotion yang digunakan mampu menghambat paparan

sinar matahari pada kulit. Perlu ditambahkan fragrance agar baunya lebih

(33)

19 DAFTAR PUSTAKA

Bolton, 2010. Pharmaceutical Statistic Practical and Clinical Applications, 3rd

Ed., Marcel Dekker Inc., New York, pp.610-619.

Brenner M., and Hearing V.J. 2008. Photochemistry and Photobiolgy : The

Protective Role of Melanin against UV Damage in Human Skin. American

Society of Photobiology.

Draelos, Z. D. dan Thaman, L. A. 2006. Cosmetic formulation of skin care

products. New York : Taylor and Francis Group.

Departemen Kesehatan RI, 1995. Farmakope Indonesia, Ed 4, Jakarta: Direktorat

Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan RI

Departemen Kesehatan RI, 2014. Farmakope Indonesia, Ed 5, Jakarta: Direktorat

Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan RI. 1038.

Filho, J.M.T., Sampaio P.A., Pereira E.C.V., Junior R.G.O., Silva F.S., Almeida

J.R.G., Rolim L.A., Nunes, X.P., Araujo, E.C. 2016. Flavonoids as

photoprotective agents: A systematic review. Journal of Medicinal Plants

Research. Vol. 10(47), pp. 848-864, 20 December, 2016.

Foumeron, J.D., 1999. Sur la measure in vitro de la protection solaire de cremes

cosmetiques. C.R.Acad.Sci.II. Paris. 2: 421-427.

Ikalinus, R., Widyastuti, S. K., dan Setiasih N. L. E., 2015. Skrining Fitokimia

Ekstrak Etanol Kulit Batang Kelor (Moringa oleifera). Indonesia Medicus

Veterinus. 4(1). 73-74.

Mardiah, Rahayu,A., Ashadi, R.W. dan Sawarni. 2009. Budidaya dan Pengolahan

Rosella Si Merah Segudang Manfaat. Agromedia Pustaka. Jakarta.

Rahmawati, R. 2012. Budidaya Rosella. Yogyakarta: Pustaka Baru Press.

Rowe, R.C. 2009. Handbook Of Pharmaceutical Excipients, 6th Ed, The

Pharmaceutical Press, London.

Tanaya, V., Retnowati, R., and Suratmo, Fraksi Semipolar dari Daun Mangga

Katsuri. 2015. Kimia Student Journal. Vol 1(1):778-784.

Vinoth, B., Manivasagaperumal, R., dan Balamurugan, S., 2012. Phytochemical

Analysis And Antibacterial Activity Of Moringa Oleifera Lam..

(34)

20

Widyanto,P.S., dan Nelistya, A., 2008, Rosella, Aneka Olahan, Khasiat dan

Ramuan, Penebar Swadaya, Jakarta

Wihelmina, C., 2011, Pembuatan dan Penentuan Nilai SPF Nanoemulsi Tabir

Surya Menggunakan Minyak Kencur (Kaempferia galanga L.) Sebagai

(35)
(36)

22

(37)

23

Lampiran 3. Dokumentasi Pembuatan Ekstrak

Proses penggojokan selama 6 jam

kemudian didiamkan selama 18 jam.

Hasil penggojokan kemudian

dikondensasi dengan rotary

evaporator.

Hasil kondensasi dari rotary

evaporator siuapkan kemmudian

(38)
(39)
(40)

26

Lampiran 5. Skrining Fitokimia Ekstrak Kelopak Bunga Rosella

Golongan

Flavonoid NaOH 10% Jingga Positif

Tanin FeCl3 Warna

Terpenoid Kloroform + 0,5

(41)
(42)
(43)
(44)
(45)
(46)

32

Grafik nilai SPF vs Konsentrasi

Lampiran 7. Hasil Uji Viskositas, Uji Daya Sebar dan Uji Daya Lekat

(47)

33 Lampiran 8. Desain Faktorial

1. Viskositas

a. Efek setil alkohol dan natrium lauril sulfat terhadap viskositas

b. Uji anova dan persamaan respon

(48)

34

d. Interaksi natrium lauril sulfat terhadap setil alkohol

2. Daya Sebar

a. Efek setil alkohol dan natrium lauril sulfat terhadap daya sebar

(49)

35

c. Interaksi setil alkohol terhadap natrium lauril sulfat

d. Interaksi natrium lauril sulfat terhadap setil alkohol

3. Daya Lekat

(50)

36 b. Uji anova dan persamaan respon

c. Interaksi setil alkohol terhadap natrium lauril sulfat

(51)

37 Lampiran 9. Validasi formula optimal

1. Viskositas (Pa.S)

Teoritis 2,0325

Replikasi 1 2,051

Replikasi 2 1,999

Replikasi 3 2,021

± SD 2,0236 ± 0,026

P value 0,873

2. Daya Sebar

Teoritis 6,0299

Replikasi 1 5,9

Replikasi 2 6,0

Replikasi 3 6,1

± SD 6,0 ± 0,1

(52)

38 3. Daya Lekat

Teoritis 2,0616

Replikasi 1 1,9

Replikasi 2 2,0

Replikasi 3 2,2

± SD 2,03 ± 0,152

(53)

39 Lampiran 10. Uji Stabilitas

1. Viskositas (Pa.S)

Siklus 0 Siklus 1 Siklus 2 Siklus 3

Replikasi 1 2,033 2,026 1,999 1,969

Replikasi 2 2,050 1,995 1,976 1,988

Replikasi 3 2,010 2,000 1,875 1,890

(54)

40 2. Daya Sebar (cm)

Siklus 0 Siklus 1 Siklus 2 Siklus 3

Replikasi 1 5,9 5,9 6,1 6,1

Replikasi 2 6,0 5,8 6,0 5,9

Replikasi 3 5,8 6,0 5,9 6,0

± SD 5,9 ± 0,1 5,9 ± 0,1 6,0 ± 0,1 6,0 ± 0,1

3. Daya Lekat (detik)

Siklus 0 Siklus 1 Siklus 2 Siklus 3

Replikasi 1 2,2 2,1 1,8 1,8

Replikasi 2 2,0 2,2 2,0 1,9

Replikasi 3 2,1 2,0 1,9 2,0

(55)

41 Lampiran 11. Dokumentasi

Uji daya sebar tanpa beban Sediaan sebelum di evaluasi

(56)

42

BIOGRAFI PENULIS

Penulis skripsi dengan judul “Optimasi Setil Alkohol dan Natrium Lauril Sulfat pada Lotion Tabir Surya Ekstrak Etanol

Kelopak Bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L.) dengan Metode Desain Faktorial” bernama lengkap Komang Ayu Trisna Geriadi lahir di Gianyar, 22 September 1997,

merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara dari pasangan I

Nyoman Geria dan Gusti Ayu Suarsani. Penulis menempuh

pendidikan formal di TK Widya Craya (2001-2003), SD Negeri 4 Peliatan

(2003-2009), SMP Negeri 1 Gianyar (2009-2012) dan SMA Negeri 4 Denpasar

(2012-2015). Penulis melanjutkan pendidikan sarjana di Fakultas Farmasi Universitas

Sanata Dharma pada tahun 2015. Selama masa perkuliahan, penulis aktif

mengikuti organisasi dan kegiatan kemahasiswaan. Organisasi yang diikuti

penulis yaitu Dewan Perwakilan Mahasiswa Farmasi (DPMF) dengan jabatan

anggota komisi quality control (2016-2017) dan Wakil Ketua Dewan Perwakilan

Mahasiswa Farmasi (2017-2018). Penulis juga mengikuti organisasi tingkat

universitas yaitu KMHD Swastika Taruna dengan jabatan humas eksternal

(2016-2017). Kegiatan kemahasiswaan yang pernah diikui penulis seperti Dana dan

Usaha Pharmacy Performance Road to School (2016), Bendahara Pharmacy

Performance (2017). Kegiatan pengabdian masyarakat yang pernah diikuti penulis

seperti sie perlengkapan pada Desa Mitra 3 (2017). Penulis juga pernah menjadi

Asisten Dosen Farmasetika Dasar pada tahun 2016 dan 2017, Asisten Dosen

Farmasi Fisika pada tahun 2016 dan 2017, Asisten Dosen Formulasi Teknologi

Figur

Tabel I. Skrining Fitokimia Ekstrak Kelopak Bunga Rosella

Tabel I.

Skrining Fitokimia Ekstrak Kelopak Bunga Rosella p.17
Tabel II. Formula kelopak bunga rosella

Tabel II.

Formula kelopak bunga rosella p.18
Tabel III. Hasil Skrining Fitokimia Ekstrak Kelopak Bunga Rosella

Tabel III.

Hasil Skrining Fitokimia Ekstrak Kelopak Bunga Rosella p.20
Gambar 1. Grafik Nilai SPF vs Konsentrasi

Gambar 1.

Grafik Nilai SPF vs Konsentrasi p.21
Tabel IV. Hasil pengujian produk pasaran

Tabel IV.

Hasil pengujian produk pasaran p.22
Tabel VI. Viskositas lotion ekstrak kelopak bunga rosella

Tabel VI.

Viskositas lotion ekstrak kelopak bunga rosella p.23
Tabel VIII. Daya lekat lotion ekstrak kelopak bunga rosella

Tabel VIII.

Daya lekat lotion ekstrak kelopak bunga rosella p.24
Tabel IX. Nilai Efek setil alkohol, natrium lauril sulfat, dan Interaksinya

Tabel IX.

Nilai Efek setil alkohol, natrium lauril sulfat, dan Interaksinya p.25
Gambar 2. Hubungan antara natrium lauril sulfat dengan viskositas

Gambar 2.

Hubungan antara natrium lauril sulfat dengan viskositas p.26
Gambar 3. Hubungan setil alkohol dengan viskositas

Gambar 3.

Hubungan setil alkohol dengan viskositas p.26
Tabel X. Nilai Efek setil alkohol, natrium lauril sulfat, dan Interaksinya

Tabel X.

Nilai Efek setil alkohol, natrium lauril sulfat, dan Interaksinya p.27
Gambar 5. Hubungan Na-lauril sulfat dengan daya sebar

Gambar 5.

Hubungan Na-lauril sulfat dengan daya sebar p.28
Gambar 7 menunjukkan bahwa natrium lauril sulfat dapat menurunkan

Gambar 7

menunjukkan bahwa natrium lauril sulfat dapat menurunkan p.29
Gambar 8. Contourplot superimposed

Gambar 8.

Contourplot superimposed p.30
Tabel XIII. Hasil uji stabilitas

Tabel XIII.

Hasil uji stabilitas p.31
Gambar Keterangan

Gambar Keterangan

p.40
Grafik nilai SPF vs Konsentrasi

Grafik nilai

SPF vs Konsentrasi p.46

Referensi

Memperbarui...