BAB II KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN. Bola voli merupakan salah satu jenis permainan bola besar. Permainan bola

15  13  Download (0)

Teks penuh

(1)

BAB II

KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN 2.1 Kajian Teori

2.1.1 Hakikat Permainan Bola Voli

Bola voli merupakan salah satu jenis permainan bola besar. Permainan bola voli dilakukan oleh dua regu. Setiap regu terdiri atas enam pemain. Dalam permainan bola voli, setiap regu saling memantulkan bola yang melewati atas net atau jaring. Setiap regu berusaha mematikan gerakan lawan sehingga tidak mampu mengembalikan bola dari pukulan atau pantulan bola dari lawan ( Sri Wahyuni, 2010: 10).

Permainan bola voli berasal dari Amerika Serikat. Permainan ini diciptakan oleh William G. Morgan pada tahun 1985. Permainan ini berkembang pesat di Amerika Serikat sehingga pada tahun 1922 Young Man Cristien Association sukses menyelenggarakan kejuaraan nasional bola voli.

Bola voli masuk ke Indonesia dibawa oleh orang-orang Belanda. Pada waktu itu Indonesia masih menjadi wilayah jajahan Belanda. Bola voli di masa penjajahan Belanda hanya untuk para pelajar. Baru setelah masa pendudukan Jepang, permainan bola voli mulai berkembang karena tentara Jepang sering bermain bola voli. Akhirnya, masyarakat mulai bermain bola voli. Pada tahun 1951, diselenggarakan Pekan Olahraga Nasional (PON) II di Jakarta. Saat itu permainan bola voli mulai dipertandingkan sehingga permainan bola voli menjadi lebih populer. Akhirnya, pada

(2)

tahun 1955 dibentuk organisasi bola voli seluruh Indonesia yang disebut PBVSI (Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia).

Tujuan dari permainan bola voli adalah menjaga bola agar tetap diudara dengan teknik tertentu, jangan sampai menyentuh lapangan permainan. Hal ini diperjelas dengan pendapat Mohammad (2010 : 5), yang menyatakan bahwa bentuk permainan bola voli adalah memainkan bola dengan cara dipantulkan dengan 1 atau 2 tangan secara bersama-sama untuk mencegah bola jatuh didaerah sendiri. Berdasarkan aturan yang berkembang juga, selain bertahan dengan menggunakan satu atau dua tangan secara bersama-sama juga pemain dapat menggunakan seluruh bagian tubuh baik bagian kepala ataupun kaki selama perkenaannya pada tubuh tidak double atau dua kali pantulan.

Seperti halnya cabang-cabang olahraga lain, bola voli juga harus mempunyai sarana dan prasarana yang menunjang baik untuk indoor maupun outdoornya. Seperti pernyataan Atmaja (2010: 10), Bola voli merupakan salah satu permainan bola besar yang dilakukan secara beregu yang berhadapan dan dipisahkan oleh net, dimana jumlah anggota setiap regu adalah 6 orang.Disamping itu jugaselain bola voli lapangan, terdapat pula bola voli pantai yang pemainnya terdiri atas 2 orang (Yusup, 2010:2). Untuk voli lapangan dan voli pantai, sarana dan prasarana yang digunakan tidak jauh berbeda.

(3)

Permainan bola voli dapat dimainkan di tempat terbuka maupun tertutup. Adapun sarana dan prasarana yang digunakan dalam permainan bola voli (Sri Wahyuni, 2010:10) yakni:

a. Lapangan Bola Voli

Lapangan untuk permainan bola voli memiliki persyaratan sebagai berikut: 1) panjang : 18 meter

2) lebar : 9 meter

Untuk selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 1 halaman 51. b. Net atau Jaring

Net atau jaring untuk permainan bola voli memiliki ukuran sebagai berikut: 1) Panjang net : 9,50 meter.

2) Lebar net : 1,00 meter. 3) Mata net : 10 cm.

Gambar dapat dilihat pada lampiran 1 halaman 51 c. Bola

Bola untuk permainan bola voli memiliki ketentuan sebagai berikut:

1)Bola dibuat dari bahan kulit atau bahan yang biasa digunakan untuk membuat bola voli.

2) Berat bola voli 250 – 280 gram. 3) Keliling bola 65 – 70 cm.

(4)

Permainan bola voli terbilang cukup familiar di mata masyarakat. Hal ini disamping cara bermainnya yang tidak terlalu sulit, juga karena tidak memerlukan biaya banyak untuk memainkannya.

Adapun berikut ini penjelasan selintas dalam bermain bola voli (Sumarjo, 2010:10).

1. Permainan bola voli dimainkan oleh 2 tim yang masing-masing terdiri dari 6 orang pemain dan berlomba-lomba mencapai angka 25 terlebih dahulu. 2. Permainan dimulai dengan melakukan servis terlebih dahulu yang ditentukan

oleh undian wasit.

3. Setelah servis, bola diterima oleh pemain lawan. 4. Hak memainkan bola sebanyak 3 kali.

5. Dalam sebuah tim ada 4 pemain penting yaitu tosser pengumpan), spiker

(tukang smash), libero (berposisi di belakang), dan defender (pemain bertahan). Dalam permainan bola voli terdapat beberapa teknik dasar yang perlu dikuasai. Teknik dasar ini meliputi, servis atas, servis bawah, passing atas, passing bawah, smash dan terakhir block. Untuk menjadi seorang pemain voli yang baik dibutuhkan penguasaan teknik-teknik dasar ini. Adapun penjelasan singkat mengenai teknik dasar dalam permainan bola voli oleh Widya (2012) dalam artikelnya yakni :

a. Servis

Servis merupakan serangan pertama dalam suatu regu voli. Teknik dasar servis dibagi menjadi dua, yaitu servis bawah dan servis atas.Gambar dapat dilihat pada lampiran 2 halaman 52.

(5)

b. Passing

Passing merupakan usaha untuk mengoperkan bola kepada teman dalam satu regu dengan suatu teknik tertentu sebagai langkah awal dalam menyusun pola serangan kepada regu lawan. Passing dibedakan menjadi dua(gambar dapat dilihat pada lampiran 3 halaman 53), yaitu :

a) passing bawah b) pasing atas. c. Smash

Smash adalah tindakan memukul bola yanglurus ke bawah sehingga bola akan bergerak dengancepat dan menukik melewati atas jaring menujuke lapangan lawan. Dalam permainan volismash merupakan teknik penyerangan yang paling utama.untuk gambar dapat dilihat pada lampiran 3 halaman 53.

d. Blocking

Blocking atau membendung merupakan tindakan membentuk benteng pertahanan untuk menangkis serangan lawan.Gambar dapat dilihat pada lampiran 4 halaman 54. 2.1.2 Hakikat Passing AtasPada Permainan Bola Voli

Passing atas adalah salah satu teknik dasar yang mempunyai peran penting dalam penyerangan. Dengan passing atas yang baik akan menghasilkan pukulan smash yang baik pula. Yusup (2010: 6) mengemukakan bahwa passing atas (set up) adalah cara mengoper atau menerima bola dengan dua tangan di atas depan kepala secara bersamaan(gambar dapat dilihat pada lampiran 4 halaman 54).

(6)

Cara melakukannya passing atasmenurut Yusup ( 2010 : 7 ) adalah sebagai berikut.

a) Sikap badan berdiri, kedua kaki dibuka selebar bahu, kedua lutut agak ditekuk, dan kedua tangan berada di atas depan dahi.

b) Badan agak condong ke depan, pandangan ke arah datangnya bola. c) Jari-jari kedua tangan direnggangkan.

d) Perkenaan bola pada ujung jari tangan.

e) Saat perkenaan, ikuti gerakan bola, kemudian dorong hingga bola melambung.

f) Gerakan tangan disesuaikan dengan keras atau lemahnya bola.

Untuk mempermudah siswa dalam mempelajari alur gerakan yang harus dilakukan, teknik dasar passing ini dibagi dalam tiga gerakan dasar. Seperti yang dikemukakan oleh Aan Sunjata ( 2010 : 10 ) langkah-langkah melakukan passing atas adalah dengan cara berikut.

1) Sikap awal

Berdiri dengan sikap kedua lutut dibengkokkanposisi jari tangan direnggangkan dankekuatan terletak pada ibu jari dan telunjuk.Sedangkan jari lainnya sebagaikeseimbangan.

2) Gerakan

Gerakan tangan mendorong bola ke depan atas, keduasiku lurus disertai dengan meluruskan kedua kaki hinggatumit terangkat ke atas. Perkenaan bola mengenai ruasjari-jari pertama.

(7)

3) Gerak lanjutan

Tumit terangkat dari lantai, kedua tangan lurus. Pandanganmengikuti arah gerakan bola.

Adapun yang perlu diperhatikan dalam passing atas adalah penempatan bola sedemikian rupa sehingga bola pada posisi di depan atas muka pemain. Pantulan bola sesudah di-passing harus melambung tinggi ke arah depan atas (parabola). Passing atas ini biasanya dilakukan apabila bola datangnya lebih tinggi dari bahu.

2.1.3 Hakikat Model Pembelajaran

Secara teori, strategi, metode, dan model tidaklah sama. Upaya mengimplementasikan rencana pembelajaran yang disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun dapat tercapai secara optimal, maka diperlukan suatu metode yang digunakan untuk merealisasikan strategi yang telah ditetapkan. Dengan demikian bisa terjadi satu strategi pembelajaran menggunakan beberapa metode. Misalnya untuk melaksanakan strategi ekspositori bisa digunakan metode ceramah sekaligus metode tanya jawab atau bahkan diskusi dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia termasuk menggunakan media pembelajaran. Oleh sebab itu, strategi berbeda dengan metode. Strategi menunjukkan kepada sebuah perencanaan untuk mencapai sesuatu, sedangkan metode adalah cara yang dapat digunakan untuk melaksanakan strategi. Dengan kata lain, strategi adalah a plan of operation achieving something; sedangkan metode adalah a way in achieving something (Rusman, 2013:132).

(8)

Sedangkan model-model pembelajaran sendiri biasanya disusun berdasarkan berbagai prinsip atau teori pengetahuan. Istilah model pembelajaran menurut Trianto (2011: 6) mempunyai makna yang lebih luas dari pada strategi,metode atau prosedur. Model pengajaran mempunyai empat ciri khusus yang tidak dimiliki oleh strategi, metode atau prosedur. Ciri-ciri tersebut ialah :

1. Rasional teoretik logis yang disusun oleh para pencipta atau pengembang; 2. Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar (tujuan

pembelajaran yang akan dicapai);

3. Tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil ; dan

4. Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai

Dalam mengajarkan suatu materi harus dipilih model pembelajaran apa saja yang match atau cocok untuk digunakan dengan penyesuaian beberapa aspek misalnya materi pelajaran, keadaan lingkungan tempat proses pembelajaran berlangsung, maupun aspek-aspek lain yang dianggap kecil tapi dapat memberi pengaruh pada hasil belajar siswa.

2.1.4 Hakikat Pembelajaran Koopertif

Pembelajaran yang bernaung dalam teori kontstruktivis adalah pembelajaran koopertif. Pembelajaran koopertif muncul dari konsep bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit jika mereka saling berdiskusi dengan temannya.Rusman (2013: 202) berpendapat bahwa pada hakikatnya, pembelajaran

(9)

koopertif atau cooperative learning merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok keci secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen.

Dalam model pembelajaran ini, siswa secara bersama-sama mencari pemecahan masalah terhadap apa yang mereka dapat dengan tanpa adanya rasa cemas ataupun terancam salah karena interaksi sebagian besar saat pembelajaran adalah antara siswa satu degan siswa lainnya dalam satu kelompok kecil. Hal ini senada dengan pendapat diatas, Trianto (2011:41) mengemukakan bahwa di dalam kelas koopertif siswa belajar bersama dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4-6 orang siswa yang sederajat tetapi heterogen, kemampuan, jenis kelamin, suku/ras, dan satu sama lain saling membantu.Tujuan dibentuknya kelompok tersebut adalah untuk memberikan kesempatan kepada semua siswa untuk dapat terlibat secara aktif dalam proses berpikir dan kegiatan belajar.

Dalam pembelajaran ini akan tercipta sebuah interaksi yang lebih luas, yaitu interaksi dan komunikasi yang dilakukan antar guru dengan siswa, siswa dengan siswa dan siswa dengan guru (multi way traffic comunication).Disamping itu, Rusman (2013:204) juga menjelaskan strategi pembelajaran koopertif merupakan serangkaian kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh siswa didalam kelompok untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Terdapat empat hal penting dalam strategi pembelajaran koopertif, yakni :

(10)

2). Adanya aturan main (role) dalam kelompok 3). Adanya upaya belajar dalam kelompok

4). Adanya kompetensi yang harus dicapai oleh kelompok.

Seiring perkembangan, model pembelajaran kooperatif semakin bervariasi. Adapun aktifitas kelas yang menggunakan cooperative learnig menurut Eddie Likumahua (2012) diantaranya : a. Jigsaw. b. Think-Pair-Share c. Three-Step Interview d. RoundRobin Brainstorming e. Three-minute review f. Numbered Heads Together g. Team Pair Solo

h. Circle the Sagei i. Partners

(11)

2.1.5 Hakikat Pembelajaran Koopertif Tipe Jigsaw

Jigsaw telah dikembangkan dan diuji coba oleh Elliot Aronson. Jigsaw dalam bahasa Inggris adalah gergaji ukir dan ada juga yang menyebutnya dengan istilah puzzle yaitu sebuah teka-teki menyusun potongan gambar. Jigsaw juga dikenal dengan sebutan tim ahli yang mana masing-masing kelompok digambarkan sebagai sang ahli pada materi atau hal-hal tertentu. Aina mulyana (2012) dalam artikelnya juga berpendapat bahwa tipe jigsaw adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif dimana pembelajaran melalui penggunaan kelompok kecil siswa yang bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran dan mendapat pengalaman belajar yang maksimal, baik pegalaman individu maupun pengalaman kelompok.

Dalam model koopertif tipe jigsaw ini siswa memiliki banyak kesempatan untuk mengemukakan pendapat dan mengolah informasi yang didapat dan dapat meingkatkan keterampilan berkomunikasi, anggota kelompok bertanggung jawab terhadap anggota keberhasilan kelompoknya dan ketuntasan bagian materi yang dipelajari dan dapat menyampaikan informasinya kepada kelompok lain, (Rusman, 2013:218).Adapun secara umum langkah-langkah dalam pembelajaran jigsaw dikemukakan oleh Trianto (2011:56) terdiri dari :

1. Siswa dibagi atas beberapa kelompok ( tiap kelompok anggotanya 5-6 orang).

2. Materi pelajaran diberikan pada siswa dalam bentuk teks yang telah dibagi-bagi menjadi beberapa sub bab.

3. Setiap anggota kelompok membaca sub bab yang ditugaskan dan bertanggung jawab untuk mempelajarinya.

(12)

4. Anggota dari kelompok lain yang telah mempelajari sub bab yang sama bertemu dalam kelompok-kelompok ahli untuk mendiskusikannya.

5. Setiap anggota kelompok ahli setelah kembali ke kelompoknya bertugas mengajar teman-temannya.

6. Pada pertemuan dan diskusi kelompok asal, siswa-siswa dikenai tagihan berupa kuis individu.

Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw memberikan kemudahan dalam proses pembelajaran, namun juga mempunyai sisi yang kurang menguntungkan. Hal ini patut diperhatikan karena sesempurna apapun suatu model pembelajaran tetap saja mempunyai kekurangannya. Adapun kelebihan dan kelemahan menurut Puji (2013) yakni :

 Kelebihan Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw:

1. Memacu siswa untuk lebih aktif, kreatif serta bertanggungjawab terhadap proses belajarnya.

2. Mendorong siswa untuk berfikir kritis

3. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk menerapkan ide yang dimiliki untuk menjelaskan materi yang dipelajari kepada siswa lain dalam kelompok tersebut.

4. Diskusi tidak didominasi oleh siswa tertentu saja tetapi semua siswa dituntut untuk menjadi aktif dalam diskusi tersebut.

5. Melibatkan semua anggota kelompok dalam diskusi

6. Melatih siswa mengemukakan pendapat, Gagasan dari ide-ide.  Kelemahan Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw:

(13)

1. Kegiatan balajar-mengajar membutuhkan lebih banyak waktu dibandingkan metode yang lainnya.

2. Bagi guru metode ini memerlukan kemampuan lebih karena setiap kelompok membutuhkan penanganan yang berbeda.

3. Model ini paling cocok diterapkan di daerah yang kultur belajarnya sudah kondusif.

2.2 Pembelajaran Passing Atas Melalui Model Kooperatif Tipe Jigsaw

Bola voli adalah salah satu permainan yang tergolong dalam permainan bola besar. Untuk memainkan bola voli siswa hendaknya mampu menguasai teknik-teknik dasar yang ada yakni servis atas, servis bawah, passing atas, passing bawah, smesh dan blok. Dalam pembelajaran passing atas di sekolah menengah atas dituntut kepekaan dan kemampuan serta kreatifitas seorang guru dalam menyalurkan pengetahuannya agar hasil yang diinginkan dapat tercapai.

Untuk itu, model pembelajaran yang digunakan adalah model pembelajaran koopertif tipe jigsaw yang mana siswa melakukan suatu kegiatan belajar dengan cara bekerja sama dengan siswa lain untuk mencapai tujuan bersama.

Pembelajaran passing atas untuk sekolah menengah atas yakni dengan mengajarkan pada kelompok-kelompok kecil gerakan-gerakan yang dilakukan dalam teknik dasar ini, seperti yang di kemukakan oleh Aan Sunjata ( 2010 : 10 ) langkah-langkah melakukan passing atas adalah dengan cara berikut.

1) Sikap awal

a. Berdiri dengan sikap kedua lutut dibengkokkan b. Posisi jari tangan direnggangkan dan

(14)

c. Kekuatan terletak pada ibu jari dan telunjuk, sedangkan jari lainnya sebagai keseimbangan.

2) Gerakan

a. Gerakan tangan mendorong bola ke depan atas

b. Keduasiku lurus disertai dengan meluruskan kedua kaki hingga tumit terangkat ke atas.

c. Perkenaan bola mengenai ruasjari-jari pertama.

3) Gerak lanjutan

a. Tumit terangkat dari lantai b. Kedua tangan lurus

c. Pandanganmengikuti arah gerakan bola.

Cara pelaksanaan pembelajaran juga dengan memecahkan masalah secara berkelompok antar siswa dengan siswa. Yang mana yang menjadi sub babnya yakni pelaksanaan sikap awal, gerakan dan gerakan lanjutan. Kemudian masing-masing siswa yang tergolong dalam sub bab yang sama digolongkan dalam satu kelompok yang biasanya disebut tim ahli, dan mendiskusikan cara-cara melakukan teknik dasar passing atasdalam bidangnya yang pada akhirnya mampu dikuasai kemudian pengetahuan maupun keterampilan ini dapat merambah ke anggota-anggota kelompok yang lain dalam kelompok kecilnya pada awal pembelajaran.

2.3 Hipotesis Tindakan

Berdasarkan uraian kajian teori tadi, dapat dirumuskan bahwa hipotesis tindakan untuk penelitian ini adalah: “jika metode pembelajaran koopertif tipe

(15)

jigsawdilaksanakan hasil belajarpassing atas dalam permainan bola voli dapat ditingkatkan.”

2.4 Indikator Kinerja

Indikator kinerja dalam penelitian ini adalah : “ Jika persentase hasil belajar siswa dalam melakukan gerakan dasar passing atas melalui model pembelajaran koopertif tipe jigsaw dapat ditingkatkan, minimal 75%, dari seluruh siswa mampu melakukan passing atas maka penelitian dinyatakan selesai dan berhasil.”

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...