• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA. docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA. docx"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA

TANGERANG

Tugas Mata Kuliah

Kapita Selekta Pengembangan Kepribadian

KERJA SAMA

Disusun Oleh:

Ayuresky Afrilia (08320006467/6) Dwi Maraja Taqwami (08320006531/11) Fajar Rizki Saragih (08320006551/12) Fedrie Yammar (08320006568/13) Ferdi Wily Pradana (08320006572/14) Frendi Tri Prasetia (08320006580/15) Gita Wiryawan Puja Negara (08320006597/16) Gurasa Omar S. Silalahi (08320006600/17) Heru Irpan Santoso (08320006622/18) I Gede Yudi Henrayana (08320006622/19)

Diploma III Spesialisasi Administrasi Perpajakan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara

(2)

14

KERJASAMA

1. Pengertian dan Arti Penting Kerjasama

Sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat dipisahkan dari komunitasnya dan setiap orang di dunia ini tidak ada yang dapat berdiri sendiri melakukan segala aktivitas untuk memenuhi kebutuhannya, tanpa bantuan orang lain. Secara alamiah, manusia melakukan interaksi dengan lingkungannya, baik sesama manusia maupun dengan makhluk hidup lainnya.

Kerjasama pada intinya menunjukkan adanya kesepakatan antara dua orang atau lebih yang saling menguntungkan, sebagaimana dua pengertian kerjasama di bawah ini:

a. Moh. Jafar Hafsah menyebut kerjasama ini dengan istilah “kemitraan”, yang artinya adalah “suatu strategi bisnis yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih dalam jangka waktu tertentu untuk meraih keuntungan bersama dengan prisip saling membutuhkan dan saling membesarkan.”

b. H. Kusnadi mengartikan kerjasama sebagai “dua orang atau lebih untuk melakukan aktivitas bersama yang dilakukan secara terpadu yang diarahkan kepada suatu target atau tujuan tertentu.”

Sedangkan menurut Zainudin, kerjasama merupakan kepedulian satu orang atau satu pihak dengan orang atau pihak lain yang tercermin dalam suatu kegiatan yang menguntungkan semua pihak dengan prinsip saling percaya, menghargai, dan adanya norma yang mengatur. Makna kerjasama dalam hal ini adalah kerjasama dalam konteks organisasi, yaitu kerja antar anggota organisasi untuk mencapai tujuan organisasi (seluruh anggota).

(3)

14

didasarkan atas hak, kewajiban, dan tanggung jawab masing-masing orang untuk mencapai tujuan.

Bowo dan Andy menjelaskan bahwa dalam pelaksanaan kerjasama harus tercapai keuntungan bersama (2007:50-51), “Pelaksanaan kerjasama hanya dapat tercapai apabila diperoleh manfaat bersama bagi semua pihak yang terlibat di dalamnya ( win-win). Apabila satu pihak dirugikan dalam proses kerjasama, maka kerjasama tidak lagi terpenuhi. Dalam upaya mencapai keuntungan atau manfaat bersama dari kerjasama, perlu komunikasi yang baik antara semua pihak dan pemahaman sama terhadap tujuan bersama”

2. Unsur-Unsur Kerjasama

Dari pengertian kerjasama di atas, maka ada beberapa aspek yang terkandung dalam kerjasama, yaitu:

a. Dua orang atau lebih, artinya kerjasama akan ada kalau ada minimal dua orang/pihak yang melakukan kesepakatan. Oleh karena itu, sukses tidaknya kerjasama tersebut ditentukan oleh peran dari kedua orang atau kedua pihak yang bekerjasama tersebut.

b. Aktivitas, menunjukkan bahwa kerjasama tersebut terjadi karena adanya aktivitas yang dikehendaki bersama, sebagai alat untuk mencapai tujuan dan ini membutuhkan strategi (bisnis/usaha).

c. Tujuan/target, merupakan aspek yang menjadi sasaran dari kerjasama usaha tersebut, biasanya adalah keuntungan baik secara financial maupun nonfinansial yang dirasakan atau diterima oleh kedua pihak.

d. Jangka waktu tertentu, menunjukkan bahwa kerjasama tersebut dibatasi oleh waktu, artinya ada kesepakan kedua pihak kapan kerjasama itu berakhir. Dalam hal ini, tentu saja setelah tujuan atau target yang dikehendaki telah tercapai.

3. Maksud dan tujuan diadakannya kerjasama

(4)

14

lain. Seorang wiraswasta, dalam melakukan kegiatan usahanya memerlukan kerjasama usaha dengan pihak lain. Dalam memilih mitra kerjasama tersebut, tentu ia akan memilih mitra yang memiliki kelebihan atas kekurangan yang dimiliki diri sendiri dan memberi manfaat, baik bagi dirinya sendiri maupun mitra kerjasamanya itu. Dengan demikian, kerjasama tidak didorong oleh kepentingan sepihak saja, melainkan harus dilandasi oleh kesepakatan yang membawa kemaslahatan kedua pihak. Dari pengertian kerjasama dan dari uraian di atas, maka dapat dipahami apa sebenarnya maksud dari diadakannya kerjasama usaha.

Moh. Jafar Hafsah (2000) mengatakan bahwa pada dasarnya maksud dan tujuan dari kemitraan (kerjasama) adalah win-win solution. Maksudnya adalah bahwa dalam kerjasama harus menimbulkan kesadaran dan saling menguntungkan kedua pihak. Tentu saja, saling menguntungkan bukan berarti bahwa kedua pihak yang bekerjasama tersebut harus memiliki kekuatan dan kemampuan yang sama serta memperoleh keuntungan yang sama besar. Akan tetapi, kedua pihak memberi kontribusi atau peran yang sesuai dengan kekuatan dan potensi masing-masing pihak, sehingga keuntungan atau kerugian yang dicapai atau diderita kedua pihak bersifat proporsional, artinya sesuai dengan peran dan kekuatan masing-masing.

Sebagai contoh, Si A dan Si B melakukan kesepakatan kerjasama. A memiliki sejumlah uang yang dapat dipakai untuk modal suatu usaha, tetapi A kurang menguasai manajemen usaha. Sementara B tidak memiliki uang, tetapi memiliki keahlian dalam pengelolaan usaha. Dalam hal ini, kekuatan dan peran dari A dan B tidak sama, tetapi mereka sepakat untuk melakukan kerjasama usaha dan menyepakati pula pembagian keuntungan yang bakal diperoleh, misalnya dengan pembagian 60 % untuk A dan 40 % untuk B, serta kesepakatankesepakatan lain.

(5)

14

kerjasama tersebut. Dengan demikian, kesuksesan kerjasama tidak akan dicapai kalau hanya satu pihak saja yang berperan, sedangkan pihak lain hanya menuntut hasil. Oleh karena itu, sebelum kesepakatan kerjasama ditandatangani, harus jelas dulu apa saja yang disepakati beserta aturan mainnya dan sanksi-sanksi, bila salah satu pihak ingkar janji dari kerjasama. Jadi, dalam kerjasama usaha harus dimunculkan rasa kesadaran “memiliki” (sense of belonging), sehingga melahirkan rasa bertanggung jawab (sense of reponsibility) atas apa yang telah disepakati dalam kerjasama.

4. Manfaat Kerjasama

Salah satu aspek dari kerjasama adalah target atau tujuan yang akan di capai. Melihat hal ini, maka sudah jelas bahwa dengan adanya kerjasama diharapkan diperoleh manfaat dari pihak-pihak yang bekerjasama tersebut. Manfaat kerjasama dilihat dari target tersebut adalah baik bersifat finansial maupun nonfinansial.

Bila ditanya 1 + 1 pasti Anda akan menjawab 2, tetapi dalam konsep kerjasama atau kemitraan, 1 + 1 harus lebih besar dari 2 ( 1 + 1 > 2). Mengapa demikian? Sudah diuraikan sebelumnya bahwa pihak-pihak yang bekerjasama masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Oleh karena itu, keduanya berusaha menutupi kekurangan masing-masing dengan kelebihan yang dimiliki oleh pihak lain atau pihak yang bermitra. Dengan demikian, diharapkan hasil yang dicapai dari kerjasama usaha harus lebih baik atau lebih besar dibandingkan jika dikelola sendiri tanpa kerjasama dengan pihak lain. Jika hasil yang diperoleh dari kerjasama tidak lebih baik bila seandainya tanpa kerjasama, maka hali ini berarti kerjasama tersebut gagal.

H. Kusnadi (2003) mengatakan bahwa berdasarkan penelitian, kerjasama mempunyai beberapa manfaat, yaitu sebagai berikut:

(6)

14

b. Kerjasama mendorong berbagai upaya individu agar dapat bekerja lebih produktif, efektif, dan efisien.

c. Kerjasama mendorong terciptanya sinergi sehingga biaya operasionalisasi akan menjadi semakin rendah yang menyebabkan kemampuan bersaing meningkat.

d. Kerjasama mendorong terciptanya hubungan yang harmonis antarpihak terkait serta meningkatkan rasa kesetiakawanan.

e. Kerjasama menciptakan praktek yang sehat serta meningkatkan semangat kelompok.

(7)

14

Moh. Jafar Hafsah (2000) melihat manfaat kerjasama, antara lain dibedakan atas:

a. Manfaat produktivitas

Produktivitas adalah suatu model ekonomi yang diperolah dari membagi output dengan input.

Produktivitas=Input:Output

Dengan formulasi di atas dan sesuai dengan rumus 1 + 1 > 2 sebelumnya, maka produktivitas dikatakan meningkat bila dengan input yang tetap diperoleh output yang semakin besar Selain itu, produktivitas yang tinggi dapat diperoleh dengan cara mengurangi penggunaan input (dengan syarat tidak mengurangi kualitas), sehingga dengan output yang tetap dengan penggunaan input yang sedikit menunjukkan adanya peningkatan produktivitas.

b. Manfaat efisiensi

Manfaat efisiensi dapat diartikan sebagai dicapainya cara kerja yang hemat, tidak terjadi pemborosan, dan menunjukkan keadaan menguntungkan, baik dilihat dari segi waktu, tenaga, maupun biaya. Ini dapat dicapai karena dalam kerjasama mengikat pihak-pihak yang bekerjasama untuk menaati segala kesepakatan, serta terjadi spesialisasi tugas dan tanggung jawab sesuai dengan kemampuan yang dimiliki masing-masing.

Contoh:

(8)

14

mengoperasikannya dan perusahaan B tidak dapat mempekerjakan tenaga kerjanya karena tidak adanya modal dan sarana produksi.

c. Manfaat jaminan kualitas, kuantitas, dan kontinuitas.

Sebagai akibat adanya manfaat produktivitas dan efisiensi, maka dengan kerjasama akan dicapai pula manfaat kualitas, kuantitas, dan kontinuitas. Dengan adanya penggabungan dua potensi dan kekuatan untuk menutupi kelemahan dari masing-masing pihak yang bekerjasama (bermitra), maka akan dihasilkan tingkat produktivitas yang tinggi dan efisiensi serta efektivitas. Produktivitas menunjukkan manfaat kuantitas dan efisiensi serta efektivitas menunjukkan manfaat kualitas. Dengan kualitas dan kuantitas yang dapat diterima oleh pasar, maka akan dapat menjamin kontinuitas usaha.

d. Manfaat dalam risiko

Sebagaimana diuraikan pada kegiatan belajar 1, Kerjasama pada intinya menunjukkan adanya kesepakatan antara dua orang atau lebih yang saling menguntungkan dan kedua pihak memberi kontribusi atau peran yang sesuai dengan kekuatan dan potensi masing-masing pihak, sehingga keuntungan atau kerugian yang dicapai atau diderita kedua pihak bersifat proporsional, artinya sesuai dengan peran dan kekuatan masing-masing. Hal ini menggambarkan bahwa dalam kerjasama, ada rasa senasib sepenanggungan antara pihak yang bermitra. Dalam hal ini risiko yang dihadapi termasuk resiko menderita kerugian dalam pengelolaan usaha ditanggung bersama antara pihak yang bermitra, sehingga resiko yang ditanggung masing-masing pihak menjadi berkurang.

5. Prinsip-Prinsip Umum Kerjasama

Agar dapat berhasil melaksanakan kerjasama, maka dibutuhkan prinsip-prinsip umum sebagaimana yang dijelaskan oleh Edralin dan Whitaker dalam Keban (2007:35). Prinsip umum tersebut terdapat dalam prinsip good governance, yaitu:

(9)

14 b. Akuntabilitas

c. Partisipatif d. Efisiensi e. Efektivitas f. Konsensus

g. Saling menguntungkan dan memajukan

6. Teori Kerjasama

Perubahan biasanya tidak bisa berjalan tanpa adanya kerjasama dari semua pihak. Teori kerjasama menjelaskan mengapa manusia mau bekerjasama dan bagaimana memperoleh kerjasama. Ada beberapa penjelasan mengapa manusia mau melakukan kerjasama (Williams, Woodward and Dobson, 2002):

a. Motivasi memperoleh rewards atau khawatir akan mendapatkan punishment. Contoh dari hal ini antara lain berharap akan memperoleh imbalan keuangan, kepuasan bekerja, pekerjaan yang lebih menyenangkan atau khawatir sebaliknya. Motivasi R&P ini dapat efektif apabila sang pemimpin konsisten dengan kegiatan tersebut, artinya jangan sampai ada personel yang seharusnya mendapat Reward atau penghargaan tidak diberikan dan sebaliknya yang mendapatkan Punishment atau hukuman tidak dihukum. Hal ini akan mengakibatkan kecemburuan sosial di dalam organisasi dan bahkan akan berdampak negatif bagi citra sang pemimpin. Hal ini juga juga dapat menyebabkan ketimpangan atau bahkan pengerusakan di dalam organisasi tersebut, sehingga organisasi tersebut tergerogoti oleh virus anggota yang berperilaku negatif yang disebabkan oleh ketidakkonsistenan sang pemimpin.

b. Motivasi kesetiaan terhadap profesi, pekerjaan atau perusahaan

(10)

14

Kemudian, pemimpin harus selalu memberikan semangat terhadap para karyawannya dengan cara membuat motto perusahaan atau memanggil seorang motivator untuk memberikan ceramah kepada karyawan guna menumbuhkan semangat kerja.

c. Motivasi moral, karena dengan bekerjasama dapat diterima secara moral

Motivasi moral dapat efektif apabila sang pemimpin memberikan contoh moral yang baik kepada karyawannya, minimal dia memberikan sarana ibadah bagi karyawan yang kemungkinan terdiri dari banyak agama. Sesekali juga sang pemimpin dapat mengajak karyawannya berwisata rohani. Hal ini bisa mendapat minimal dua keuntungan, yaitu karyawan mendapat sarana rekreasi melepas lelah dari beban kerja yang mungkin monoton dan juga karyawan mendapat mengisi kebutuhan rohani mereka sehingga mereka bisa mempunyai keyakinan bahwa dengan berusaha dan berdoalah Tuhan akan memberikan apa yang akan kita inginkan dan bukan dengan cara bermalas-malasan serta menyimpang dari aturan agama

d. Motivasi menjalankan keahlian

Motivasi menjalankan keahlian, motivasi ini berkaitan erat dengan motivasi profesi, pekerjaan dan perusahaan, karena apabila dalam rekrutmen pemimpin tidak menseleksi karyawan yang berpotensi untuk menjalankan perusahaan tersebut, maka perusahaan tersebut akan berjalan lambat. Akan tetapi, apabila di dalam rekrutmen sudah memilih orang-orang yang ahli dalam bidangnya sesuai apa yang dibutuhkan perusahaan tersebut, maka otomatis perusahaan akan berjalan lancar sesuai program yang ditentukan dan bahkan dapat menciptakan inovasi-inovasi di dalam pekerjaannya sehingga mempermudah dan memberikan gairah baru para pekerja lainnya. Hal itu tentu saja akan mempercepat perusahan untuk mencapai tujuannya.

(11)

14

Hal ini berkaitan dengan psikologi dan relegius positif seseorang. Apabila perusahaan dapat memilih orang-orang yang mempunyai sikap hidup yang sesuai dengan tujuan perusahaan, maka dapat dipastikan bahwa perusahaan tersebut pasti akan maju. Permasalahannya adalah bisakah pemimpin memilih orang-orang yang seperti itu? Kembali lagi pada rekrutment awal calon pegawai tersebut, artinya perusahaan harus mempunyai seorang ahli psikologi yang handal untuk mendeteksi sikap batin seseorang dalam melakukan pekerjaan di perusahaan tersebut.

f. Motivasi kepatuhan terhadap kekuasaan

Motivasi ini dapat berjalan dengan baik apabila para pekerja kita mematuhi aturan-aturan yang dibuat oleh perusahaan tersebut. Oleh sebab itu, perusahaan tersebut haruslah yakin bahwa peraturan tersebut dapat dilaksanakan (kalau bisa libatkan karyawan dalam pembuatan suatu peraturan sehingga kita dapat mengukur kemampuan karyawan dalam pelaksanaan sebuah aturan.

7. Bentuk-Bentuk Kerjasama

Terdapat beberapa bentuk pengaturan kerjasama. Adapun bentuk-bentuk dari pengaturan kerjasama, antara lain:

a. Consortia, yaitu pengaturan kerjasama dalam sharing sumber daya. Hal ini dilakukan karena biaya akan lebih mahal jika ditanggung sendiri-sendiri.

b. Joint Purchasing, yaitu pengaturan kerjasama dalam melakukan pembelian barang agar dapat menekan biaya karena skala pembelian lebih besar.

c. Equipment Sharing, yaitu pengaturan kerjasama dalam sharing peralatan yang mahal atau yang tidak setiap hari digunakan.

(12)

14

e. Joint services, yaitu pengaturan kerjasama dalam memberikan pelayanan publik.

f. Contract Services, yaitu pengaturan kerjasama di mana pihak yang satu mengkontrak pihak lain untuk memberikan pelayanan tertentu. g. Pengaturan lainnya, yaitu pengaturan kerjasama lain dapat

dilakukan selama dapat menekan biaya, misalnya membuat pusat pendidikan dan pelatihan.

Menurut Soekanto (1986), dari sudut pandang sosiologis, pelaksanaan kerjasama antar kelompok masyarakat dapat dibagi menjadi tiga bentuk, yaitu:

a. Bargaining, yaitu kerjasama antara orang per orang dan atau antarkelompok untuk mencapai tujuan tertentu dengan suatu perjanjian saling menukar barang, jasa, kekuasaan, atau jabatan tertentu.

b. Cooptation yaitu kerjasama dengan cara rela menerima

unsur-unsur baru dari pihak lain dalam organisasi sebagai salah satu cara untuk menghindari terjadinya keguncangan stabilitas organisasi. c. Coalition yaitu kerjasama antara dua organisasi atau lebih yang

mempunyai tujuan yang sama. Di antara oganisasi yang berkoalisi memiliki batas-batas tertentu dalam kerjasama sehingga jati diri dari masing-masing organisasi yang berkoalisi masih ada. Bentuk-bentuk kerjasama di atas biasanya terjadi dalam dunia politik.

8. Mengatasi Konflik Dalam Kerjasama

Untuk mengatasi masalah-masalah dalam berkerjasama, ada beberapa cara yang dapat menjadikan kerjasama dapat berjalan dengan baik dan mencapai tujuan yang telah disepakati oleh dua orang atau lebih tersebut. Hal tersebut dapat dicapai dengan 3S, yaitu saling terbuka, saling mengerti, dan saling menghargai.

(13)

14

mengemukakan pendapatnya, dengan pengertian mengungkapkan apa yang menjadi keinginannya dan mau dibawa ke mana permasalahan itu nanti. Selain itu, harus ada kejelasan pembagian tugas yang harus diemban oleh setiap orang yang terlibat dalam kerjasama tersebut.

Kedua saling mengerti. Kerjasama berarti dua orang atau lebih bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan, dalam proses tersebut, tentu ada salah satu yang melakukan kesalahan dalam menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapi. Salah seorang yang terlibat dalam menyelesaikan masalah tersebut harus memahami bahwa dia telah melakukan suatu bentuk upaya dalam menyelesaikan permasalahan. Jangan sampai terlintas dalam benaknya buruk sangka yang mengakibatkan ketidakpercayaan dan kegagalan kerjasama. Sebaliknya orang yang telah melakukan kesalahan harus cepat sadar bahwa dia masih dibutuhkan oleh orang lain.

Ketiga, saling menghargai. Bagian ini merupakan bagian yang sangat penting dalam setiap bentuk aktivitas sehari-hari manusia. Hasil sebuah penelitian mengatakan bahwa sebuah ucapan yang baik terhadap salah seorang yang terlibat dalam proses kerjasama, sangat bernilai untuk menumbuhkan semangat baru yang dapat menghilangkan kejemuan, kekesalan, dan kekecewaan terhadap sebuah permasalahan .

9. Tips Membangun Kerjasama Yang Baik

Terkait dengan cara menumbuhkan semangat kerjasama di lingkungan sekolah, Michael Maginn (2004) mengemukakan 14 (empat belas) cara, yakni:

a. Tentukan tujuan bersama dengan jelas. Sebuah tim bagaikan

(14)

14 koperasi, dan lain-lain. Agar terbentuk kerja sama yang baik, maka pemberian tugas tambahan tersebut harus didasarkan pada keahlian mereka masing-masing.

c. Sediakan waktu untuk menentukan cara bekerjasama.

Meskipun setiap orang telah menyadari bahwa tujuan hanya bisa dicapai melalui kerja sama, tetapi tetap diperlukan adanya

mengantisipasi masalah yang bisa terjadi. Seorang pemimpin yang baik harus dapat mengarahkan anak buahnya untuk mengantisipasi masalah yang akan muncul, bukan sekedar menyelesaikan masalah. Dengan mengantisipasi, apa lagi kalau dapat mengenali sumber-sumber masalah, maka organisasi tidak akan disibukkan kemunculan masalah yang silih berganti harus ditangani.

e. Gunakan konstitusi atau aturan tim yang telah disepakati

bersama. Peraturan tim akan banyak membantu mengendalikan

tim dalam menyelesaikan pekerjaannya dan menyediakan petunjuk ketika ada hal yang salah. Selain itu, diperlukan juga ada konsensus tim dalam mengerjakan satu pekerjaan..

f. Ajarkan rekan baru satu tim agar anggota baru mengetahui

(15)

14

mengambil inisiatif untuk menegur siswa jika tidak disiplin. Cara kerja ini mungkin belum diketahui oleh guru baru sehingga perlu disampaikan agar tim sekolah tetap solid dan kehadiran guru baru tidak merusak sistem.

g. Selalulah bekerjasama, caranya dengan membuka pintu gagasan

orang lain. Tim seharusnya menciptakan lingkunganyang terbuka dengan gagasan setiap anggota. Misalnya sekolah sedang menghadapi masalah keamanan dan ketertiban. Hal ini sebaiknya dibicarakan secara bersama-sama sehingga kerjasama tim dapat berfungsi dengan baik.

h. Wujudkan gagasan menjadi kenyataan. Caranya dengan

menggali atau memacu kreativitas tim dan mewujudkan menjadi suatu kenyataan. Di sekolah banyak sekali gagasan yang kreatif, karena itu usahakan untuk diwujudkan agar tim bersemangat untuk meraih tujuan. Dalam menggali gagasan perlu mencari kesamaan pandangan.

i. Aturlah perbedaan secara aktif. Perbedaan pandangan atau

bahkan konflik adalah hal yang biasa terjadi di sebuah lembaga atau organisasi. Organisasi yang baik dapat memanfaatkan perbedaan dan mengarahkannya sebagai kekuatan untuk memecahkan masalah. Cara yang paling baik adalah mengadaptasi perbedaan menjadi bagian konsensus yang produktif.

j. Perangi virus konflik, dan jangan sekali-kali ”memproduksi”

konflik. Di sekolah terkadang ada saja sumber konflik misalnya pembagian tugas yang tidak merata ada yang terlalu berat tetapi ada juga yang sangat ringan. Ini sumber konflik dan perlu dicegah agar tidak meruncing. Konflik dapat melumpuhkan tim kerja jika tidak segera ditangani.

k. Saling percaya. Jika kepercayaan antaranggota hilang, sulit bagi

(16)

14

situasi yang saling tidak percaya antar-anggota tim dapat memicu konflik.

l. Saling memberi penghargaan. Faktor nomor satu yang

memotivasi karyawan adalah perasaan bahwa mereka telah berkontribusi terhadap pekerjaan danm prestasi organisasi. Setelah sebuah pekerjaan besar selesai atau ketika pekerjaan yang sulit membuat tim lelah, kumpulkan anggota tim untuk merayakannya. Di sekolah dapat dilakukan sesering mungkin setiap akhir kegiatan besar seperti akhir semester, akhir ujian nasional, dan lain-lain.

m. Evaluasilah tim secara teratur. Tim yang efektif akan

menyediakan waktu untuk melihat proses dan hasil kerja tim. Setiap anggota diminta untuk berpendapat tentang kinerja tim, evaluasi kembali tujuan tim, dan konstitusi tim.

n. Jangan menyerah. Terkadang tim menghadapi tugas yang sangat

Referensi

Dokumen terkait

Puji syukur penulis haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat-Nya yang berlimpah, skripsi yang berjudul “Penerapan Model Pembelajaran

Analisa data: pasien mengatakan tidak tahu tentang penyakitnya, dan juga tidak bisa mengakses informasi karena tidak bisa melihat. Data obyektif: saat observasi pasien tampak

menguraikan delapan komponen yang harus dikaji pada keluarga, yaitu data umum (demografi), riwayat dan tahap perkembangan keluarga, keadaan lingkungan, struktur keluarga,

Hasil yang didapat pada analisis teknis adalah kebutuhan daya kompresor pada penggunaan refrigerant hidrokarbon lebih hemat 54% dibandingkan dengan refrigerant freon, untuk

[r]

Obat pada ketegori B memperlihatkan bahwa studi pada reproduksi hewan percobaan tidak adarisiko pada janin hewan uji, tetapi belum ada studi terkontrol pada ibu hamil atau

[r]

--- Menimbang, bahwa setelah Pengadilan Tinggi meneliti dan mempelajari dengan seksama berkas perkara yang terdiri dari Berita Acara Pemeriksaan oleh Penyidik, Berita