Analisis Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Penyuluh Pertanian Dalam Rangka Meningkatkan Kinerja Penyuluh Pertanian Kabupaten Serdang Bedagai

16 

Teks penuh

(1)

20 BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Kinerja

Kinerja atau performance merupakan gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu program kegiatan atau kebijakan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, visi, misi organisasi yang dituangkan melalui perencaan strategis organisasi (Moeheriono, 2009).

Kinerja seseorang merupakan kombinasi dari kemampuan, usaha, dan kesempatan yang dinilai dari hasil kerjanya. Hasibuan (2001) menyatakan bahwa kinerja (prestasi kerja) adalah hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan kecakapan, pengalaman, dan kesungguhan serta waktu.

Kinerja dalam menjalankan fungsinya tidak berdiri sendiri, melainkan selalu berhubungan dengan kepuasan kerja karyawan dan tingkat besaran imbalan yang diberikan, serta dipengaruhi oleh ketrampilan, kemampuan dan sifat- sifat individu. Beberapa aspek mendasar dalam pengukuran kinerja yaitu :

1. Menetapkan tujuan, sasaran, dan strategi organisasi dengan menetapkan secara umum apa yang diinginkan organisasi sesuai dengan tujuan visi, dan misinya.

(2)

21 keberhasilan utama (critical success factor), dan indikator kinerja kunci (key performance indicator).

3. Mengukur tingkat capaian tujuan dan sasaran organisasi, menganalisis hasil pegukuran kinerja yang dapat diimplementasikan dengan membandingkan tingkat capaian tujuan dan sasaran organisasi.

4. Mengevaluasi kinerja dengan menilai kemajuan organisasi dan pengambilan keputusan yang berkualitas, memberikan gambaran atau hasil kepada organisasi seberapa besar tingkat keberhasilan tersebut dan mengevaluasi langkah apa yang diambil organisasi selanjutnya. Menurut Departemen Pertanian (2010) kinerja merupakan hasil kerja baik secara kualitas maupun kuantitas yang dicapai penyuluh pertanian dalam melaksanakan tugas sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan. Kesediaan dan ketrampilan penyuluh pertanian tidaklah cukup efektif untuk mengerjakan sesuatu tanpa pemahaman yang jelas tentang apa yang akan dikerjakan dan bagaiamana mengerjakannya. Penyuluh pertanian dapat dikatakan mempunyai kemampuan dan berkinerja yang tinggi apabila telah melaksanakan tugas pokok dan fungsi sesuai dengan standar indikator yang telah ditentukan. Tugas pokok dan fungsi yang tercakup dalam indikator kinerja penyuluh pertanian telah ditetapkan dalam UU Nomor 16 Tahun 2006/SP3K.

(3)

22 membantu petani dalam berusaha tani, agar pertanian mereka dapat maju dan berkembang.

2.2 Indikator dan Penilaian Kinerja

Defenisi indikator kinerja adalah ukuran kuantitatif atau kualitatif yang menggambarkan tingkat pencapaian suatu sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan (BPKP, 2000). Sementara menurut Mahsun (2009), indikator kinerja (key performance) adalah suatu variabel yang digunakan untuk mengekspresikan

secara kuantitatif efektivitas dan efesiensi proses atau operasi dengan berpedoman pada target - target dan tujuan organisasi. Jadi jelas bahwa indikator kinerja merupakan kriteria yang digunakan untuk menilai keberhasilan pencapaian tujuan organisasi yang diwujudkan dalam ukuran-ukuran tertentu.

Departemen pertanian menyatakan ada sembilan indikator kinerja (patokan kerja) penyuluhan pertanian dalam memotivasi dan membangun profesionalisme penyuluh pertanian. Kesembilan indikator kinerja (patokan kerja) penyuluhan pertanian tersebut, yaitu:

1. Tersusunnya programa penyuluhan pertanian ditingkat Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan sesuai dengan kebutuhan petani.

2. Tersusunnya kinerja penyuluh pertanian diwilayah kerja masing-masing. 3. Tersusunnya peta wilayah komoditas unggulan spesifik lokasi.

4. Terdiseminasinya informasi dan teknologi pertanian secara merata dan sesuai dengan kebutuhan petani.

(4)

23 6. Terwujudnya kemitraan usaha antara petani dengan pengusaha yang saling menguntungkan.

7. Terwujudnya akses petani kelembaga keuangan, informasi, sarana produksi pertanian dan pemasaran.

8. Meningkatnya produktivitas agribisnis komoditi unggulan dimasing-masing wilayah kerja.

9. Meningkatnya pendapatan dan kesejahteraan petani dimasing-masing wilayah kerja. (Buku Kerja THL TBPP, 2009).

Indikator kinerja (performance indicator), sering disamakan dengan ukuran kinerja, meskipun keduannya merupakan sama-sama dalam kriteria pengukuran kinerja tetapi terdapat perbedaan arti dan maknanya. Pada indikator kinerja mengacu pada penilaian kinerja secara tidak langsung yaitu hal-hal yang bersifat indikasi kinerja saja sehingga bentuknya cenderung kualitatif, sedangkan ukuran kinerja adalah kriteria yang mengacu pada penilaian kinerja secara tidak langsung sehingga lebih bersifat kuantitatif. Dalam keberhasilan utama organisasi atau disebut critical success factor (CFS) adalah area yang mengindikasikan kesuksesan kinerja unit kerja. Faktor penting yang berkaitan dengan keberhasilan jangka panjang (Moehirono, 2009).

(5)

24 Menurut Amstrong dan Baron (1998), Penilaian kinerja merupakan kegiatan yang di fokuskan pada usaha mengungkapkan kekurangan dalam bekerja untuk diperbaiki dan kelebihan bekerja untuk dikembangkan, agar setiap karyawan mengetahui tingkat efesiensi dan efektivitas pekerjaannya guna mencapai tujuan organisasi.

Penilaian kinerja yang dikemukakan diatas tidak semata-mata didasarkan pada penilaian buruk tidaknya karyawan melaksanakan tugasnya untuk kemudian diambil tindakan organisasi. Tetapi penilaian kinerja dapat menjadi proses pembelajaran bagi organisasi dan pihak manajemen agar dapat menentukan langkah – langkah strategis untuk mengarahkan aktivitas organisasi, memperbaiki tindakan – tindakan manajemen, dan terus melaksanakan penilaian untuk melakukan adaptasi terhadap proses manajemen dan mengarahkannya kepada tujuan penting organisasi.

2.3 Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Penyuluh Pertanian

Kinerja penyuluh pertanian (performance) merupakan respon atau prilaku individu terhadap keberhasilan kerja yang dicapai oleh individu secara aktual dalam suatu organisasi sesuai tugas dan tanggung jawab yang diberikan kepadanya yang dilaksanakan secara efektif dan efesien berdasarkan priode waktu tertentu dalam mencapai tujuan organisasi (Amstrong dan Baron, 1998).

(6)

25 Tahun 1999, terdapat empat tugas pokok penyuluh pertanian, yaitu: menyiapkan, melaksanakan, mengevaluasi dan melaporkan, serta mengembangkan kegiatan penyuluhan, yang mana setiap tugas pokok masing-masing terdapat dibidang-bidang kegiatan. (Surat Keputusan Menteri Negara Koordinator Bidang Pengawasan Pembangunan dan Pendayagunaan Aparatur Negara, 1999).

Peranan lembaga penyuluhan pertanian dimaksudkan untuk mempengaruhi perilaku petani atau meningkatkan kemampuan petani untuk mengambil keputusan sendiri mengenai cara-cara mencapai tujuan mereka. Petani menggunakan informasi yang didapat dari penyuluh maupun sumber-sumber lain. Penyuluhan pertanian bertujuan untuk meningkatkan produksi pertanian yang merupakan tujuan utama dari pembangunan pertanian yang dicapai melalui cara merangsang petani untuk memanfaatkan teknologi produksi modern dan ilmiah yang dikembangkan melalui penelitian (Van Den Ban, 1999).

Program penyuluhan pertanian merupakan rencana yang disusun secara sistematis untuk memberikan arah dan pedoman sebagai alat pengendali pencapaian tujuan penyuluhan. Program penyuluhan pertanian yang disusun setiap tahun membuat rencana penyuluhan tahun berikutnya dengan memperhatikan siklus anggaran pada masing-masing tingkatan dengan cakupan pengorganisasian, pengelolaan sumberdaya sebagai pelaksanaan penyuluhan (YST, 2001).

Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja penyuluh pertanian menurut Yusri (1999), ada dua faktor yang mempengaruhi kinerja penyuluh pertanian dalam bekerja secara professional, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

(7)

26 Kinerja penyuluh dipengaruhi oleh faktor-faktor dari penyuluh itu sendiri inilah yang disebut faktor internal yang terdiri dari:

1. Pendidikan formal penyuluh pertanian.

Telah ditetapkan basis pendidikan formal pertanian minimal Diploma III atau memperoleh sertifikat pendidikan dan latihan fungsional dibidang penyuluhan pertanian. Tingkat pengetahuan mempengaruhi keterampilan dan keahlian yang dimiliki untuk melaksaanakan tugasnya mengimbangi dinamika masyarakat petani.

2. Umur Penyuluh Pertanian

Semakin bertambah umur dan golongan penyuluh, persepsi penyuluh pertanian tentang jabatan fungsional dalam pengembangan karier dan profesi penyuluh semakin rendah.

3. Masa Kerja Penyuluh Pertanian

Semakin lama masa kerja, penyuluh akan semakin menguasai bidang pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya sehingga akan semakin matang dan pekerja lebih produktif dan bersaamaan dengan kemampuan kerja menentukan kinerja kerja.

a. Faktor Eksternal

Beberapa faktor eksternal penyuluh yang dipertimbangkan berhubungan dengan kinerja penyuluh pertanian adalah:

1. Ketersediaan sarana dan prasarana yang diperlukan.

(8)

27 2. Sistem penghargaan

Hal ini biasanya terkait dengan perbaikan sistem penggajian, tunjangan fungsional dan dana operasional serta jabatan atau kepangkatan.

3. Komoditas dominan diwilayah binaan

Kebiasaan pola tanam yang dilakukan oleh petani secara turun temurun telah memberikan pengetahuan teknologi usaha tani dan pengalaman berharga kepada petani untuk dapat dikembangkan kearah yang lebih maju dan rasional dalam interaksinya bersama-sama penyuluh.

Menurut Kusmiyati dan Maryani (2010) menyatakan bahwa terdapat faktor – faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi kinerja penyuluh pertanian yaitu:

- Faktor internal yang terdiri dari: umur, pendidikan dan motivasi, sedangkan

- Faktor eksternal terdiri dari: Ketersediaan sarana seperti informasi, intensitas penyuluhan, dan kebijakan pemerintah.

Sedangkan Nova dan Olive (2011) faktor –faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi kinerja penyuluh pertanian yaitu:

- Faktor internal terdiri dari: umur, tingkat pendidikan, masa kerja, jumlah tanggungan.

- Faktor Eksternal terdiri dari: Ketersediaan sarana dan prasarana informasi, sistem penghargaan, intensitas penyuluh, tempat tinggal penyuluh.

Pendapat lain di kemukakan oleh Nani dan Amri (2008) faktor –faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi kinerja penyuluh pertanian yaitu:

(9)

28 - Faktor Eksternal terdiri dari : Tipe institusi sekolah, pelatihan, komoditas

dominan wilayah binaan penyuluh.

Berdasarkan berbagai pendapat diatas, maka peneliti akan mengkaji lebih dalam 3 faktor yang mempengaruhi kinerja penyuluh pertanian yaitu :

1. Sistem Penghargaan

2. Ketersediaan sarana dan prasarana 3. Komoditas dominan wilayah binaan.

2.3.1 Penghargaan

Sebagaimana diketahui bahwa setiap orang yang bekerja baik pada perusahaan swasta maupun instansi pemerintah, tentunya mengharapkan adanya balas jasa atau imbalan yang diberikan atas sumbangan kerja, pikiran dan waktu yang diberikannya. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan diberikannya penghargaan kepada karyawan. Penghargaan yang diberikan bisa berupa insentif. insentif merupakan salah satu bentuk rangsangan yang sengaja diberikan oleh perusahaan kepada segenap pekerjanya agar para pekerja tersebut termotivasi dan mau bekerja dengan sungguh-sungguh sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai.

a. Jenis-jenis insentif

Menurut pendapat Garry Dessler terjemahan Agus Dharma, insentif terdiri dari : Finansial insentif, Non finansial insentif, Sosial insentif.

1. Finansial Insentif

(10)

29 ini disebabkan adanya tingkat atau golongan yang berbeda dari setiap karyawan dalam suatu perusahaan, berupa: bonus, komisi, profit sharing, pensiun.

2. Non Finansial Insentif

Suatu ganjaran bagi para karyawan yang bukan berbentuk keuangan, dalam hal ini merupakan kebutuhan karyawan yang bukan berwujud uang seperti :

1. Terjamin kenyamanan tempat kerja.

2. Terjaminnya komunikasi yang baik antara atasan dan bawahan.

3. Adanya penghargaan berupa pujian atau pengakuan atas kerja yang baik. 4. Tersedianya hiburan, pendidikan dan latihan.

5. Pemberian tanda jasa atau medali.

6. Ucapan terima kasih, baik secara formal maupun informal. 7. Pemberian promosi (kenaikan pangkat atau jabatan).

8. Pemberian perlengkapan khusus pada kerja (meja rapat, permadani dan lain-lain).

3. Sosial Insentif

Sosial insentif ini tidak jauh berbeda dengan non finansial insentif, tetapi sosial insentif lebih cenderung pada keadaan dan sikap dari para rekan sekerjanya.

Sistem penghargaan yang di berikan pada penyuluhan seperti yang berhubungan dengan sistem penggajian, tunjangan fungsional, dana operasional, serta jabatan dan kepangkatan.

2.3.2 Ketersediaan sarana dan prasana

(11)

30 tujuan dari suatu proses produksi. (contohnya: sabit, cangkul, dll.) Prasarana adalah segala sesuatu yang merupakan penunjang utama terselenggaranya produksi. Moenir (1992) mengemukakan bahwa sarana adalah segala jenis peralatan, perlengkapan kerja dan fasilitas yang berfungsi sebagai alat utama/ pembantu dalam pelaksanaan pekerjaan, dan juga dalam rangka kepentingan yang sedang berhubungan dengan organisasi kerja. Pengertian yang dikemukakan oleh Moenir, jelas memberi arah bahwa sarana dan prasarana adalah merupakan seperangkat alat yang digunakan dalam suatu proses kegiatan baik alat tersebut adalah merupakan peralatan pembantu maupun peralatan utama, yang keduanya berfungsi untuk mewujudkan tujuan yang hendak dicapai. Fungsi utama sarana dan prasarana berdasarkan pengertian diatas adalah sebagai berikut : mempercepat proses pelaksanaan pekerjaan sehingga dapat menghemat waktu, meningkatkan produktivitas baik barang dan jasa, hasil kerja lebih berkualitas dan terjamin, lebih memudahkan/sederhana dalam gerak para pengguna/pelaku, ketepatan susunan stabilitas pekerja lebih terjamin, menimbulkan rasa kenyamanan bagi orang-orang yang berkepentingan, menimbulkan rasa puas pada orang-orang yang berkepentingan yang mempergunakannya. Ketersediaan sarana, prasarana pada penyuluh pertanian seperti serta alat transportasi, demplot atau alat peraga dan ragam informasi yang tentang teknologi usahatani yang diperoleh dari berbagai media.

2.3.3 Komoditas dominan wilayah binaan

(12)

31 bahan mentah yang digolongkan menurut mutunya sesuai dengan standar yang berpengaruh kuat/unggul dilingkungan daerah kabupaten setempat.

Menurut Kurnia dan Basita (2010) persepsi sebagian besar petani terhadap kemampuan penyuluh yang terkait dengan penguasaan penyuluh mengenai teknik budidaya komoditas pertanian mulai memadai, termasuk pengetahuan tentang produksi tanaman dan ternak. Beberapa kemampuan penyuluh yang dipandang perlu ditingkatkan adalah pemahaman yang baik terhadap potensi sumberdaya wilayah binaan, budaya dan kebutuhan masyarakat petani.

Kebiasaan pola tanam yang dilakukan oleh petani secara turun temurun telah memberikan pengetahuan teknologi usaha tani dan pengalaman berharga kepada petani untuk dapat dikembangkan kearah yang lebih maju dan rasional dalam interaksinya bersama-sama dengan penyuluh seperti peningkatan hasil hasil petanian yang unggul diderah tersebut.

2.4 Pengertian Penyuluh Pertanian

(13)

32 dapat merangsang terjadinya perubahan prilaku melalui proses pendidikan atau kegiatan belajar.

Berkaitan dengan penyuluhan sebagai pendidikan non-formal dibidang pertanian, penyuluh pertanian tidak lain sebagai aparatur pertanian yang berfungsi sebagai pendidik non-formal pada masyarakat petani, nelayan dan pedesaan. Kegiatan penyuluhan dalam pembangunan pertanian berperan sebagai jembatan yang menghubungkan sumber informasi dengan petani. Agar jembatan ini dapat berperan dengan baik, maka jembatan ini harus kokoh. Kegiatan penyuluhan adalah untuk memperbaiki teknis budidaya maupun penganekaragaman komoditi yang dibudidayakan. Dari perbaikan usahatani dan perbaikan tata niaga komoditi yang dibudidayakan akan dapat diperoleh peningkatan pendapatan yang akan memperbaiki tingkat kehidupan petani. Pada akhirnya efektifitas kegiatan penyuluhan pertanian tidak hanya diukur dengan meningkatnya produksi pertanian dan meningkatnya pendapatan petani, melainkan dengan tumbuhnya kekuatan ekonomi para petani dan peran aktif dari para petani dalam perekonomian dan masyrakat (Suhardiyono, 1992).

Penyuluh pertanian yang ada di Kabupaten Serdang Bedagai diharapkan dapat menguasai semua bidang pertanian (polivalen) mulai dari bercocok tanam, pemberantasan hama penyakit tumbuhan hingga pascapanen agar pertanian yang ada di Kabupaten Bedagai maju.

2.5 Tugas pokok dan fungsi penyuluh pertanian

Adapun tugas pokok dan fungsi penyuluh pertanian adalah :

(14)

33 • Mengupayakan kemudahan akses pelaku utama dan pelaku usaha

kesumber informasi, teknologi dan sumberdaya lainnya agar mereka dapat mengembankan usahanhya.

• Meningkatkan kemampuan kepemimpinan, manajerial, dan

kewirausahaan pelaku utama dan pelaku usaha.

• Membantu pelaku utama dan pelaku usaha dalam menumbuhkembangkan

organisasinya menjadi organisasi yang maju.

• Ekonomi yang berdaya saing tinggi, produktif, menerapkan tata kelola

berusaha yang baik, dan berkelanjutan membantu menganalisis dan memecahkan masalah serta merespon peluang dan tantangan yang dihadapi pelaku utama dan pelaku usaha dalam mengelola usaha.

• Menumbuhkan kesadaran pelaku utama dan pelaku usaha terhadap

kelestarian fungsi lingkungan hidup.

• Melambangkan nilai-nilai budaya pembangunan pertanian yang maju dan

modren bagi para pelaku utama secara berkelanjutan.

Agar dapat melaksanakan tugasnya dengan baik dan benar, maka seorang penyuluh pertanian harus memiliki persyaratan sebagai berikut:

1. Mempunyai pengetahuan teknik tentang hal-hal yang akan disuluhkan. 2. Mempunyai kecakapan mempergunakan tangan (skill) dalam hal yang

akan disuluhkan.

(15)

34 6. Mempunyai perhatian yang mendalam tenang keadaan masyarakat yang

diberi penyuluhan.

7. Mempunyai sifat dan tabiat yang ramah, sopan santun, sabar, tabah, jujur, suka menolong, suka menepati janji, mempunyai rasa tanggung jawab, bijaksana, pandai mengeluarkan buah pikiran, toleran, berani membela kebenaran, mempunyai perhatian terhadap sesama mudah menyesuaikan diri dan bekerja gembira (Meneth Ginting, 2013).

2.6 Penelitian Terdahulu

Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kinerja penyuluh pertanian. ditunjukkan oleh penelitian Suhanda (2008) mendapatkan hubungan yang erat (r = 0,01) antara karakteristik penyuluh (usia, masa kerja, jenis kelamin, jabatan, pendidikan formal, pelatihan) dan faktor motivator (motivasi berprestasi, kesempatan, pengembangan diri dan promosi, tingkat kewenangan dan tanggung jawab, makna pekerjaan).

Penelitian Rafiqah Amanda Lubis (2014) dengan judul faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja penyuluh pertanian di Kabupaten Mandailing Natal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor individu penyuluh pertanian berpengaruh nyata pada kinerja mereka baik secara terpisah maupun secara bersama-sama. Pengaruh secara bersama-sama keempat peubah tersebut adalah (R²) 57 persen yang nyata pada α = 0,05.

(16)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...