AUDIT Perbankan

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Perbankan

Perbankan merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang keuangan, artinya aktivitas perbankan selalu berkaitan dalam bidang keuangan. Sehingga dunia perbankan tidak terlepas dari masalah keuangan. Perbankan juga merupakan lembaga penyimpanan dan penyaluran dana dari masyarakat. Selain itu juga Perbankan sebagai lembaga yang mengatur lalu lintas uang pada suatu negara. Salah satu kegiatan perbankan adalah pembiayaan atau pemberian kredit.

Pengertian Perbankan dan Kegiatan Perbankan

Dalam pembicaraan sehari-hari, bank dikenal sebagai lembaga keuangan yang kegiatan utamanya menerima simpanan giro, tabungan dan deposito. Kemudian bank juga dikenal sebagai tempat untuk meminjam uang (kredit) bagi masyarakat yang membutuhkan. Disamping itu juga bank dikenal sebagai tempat untuk menukar uang, memindahkan uang atau menerima segala bentuk pembayaran dan setoran pembayaran seperti pembayaran listrik, telepon, air, pajak, uang kuliah dan pembayaran lainnya. Bank merupakan suatu badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya kembali kepada masyarakat. Hal ini seperti yang dikemukakan oleh Kasmir, pengertian dari Bank adalah sebagai berikut :

“Bank merupakan badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.” Kasmir (2002:23)

Aktivitas perbankan yang pertama adalah menghimpun dana dari masyarakat luas yang dikenal dengan istilah kegiatan funding. Pengertian penghimpunan dana maksudnya adalah mengumpulkan dan mencari dana dengan cara membeli dari masyarakat luas. Pembelian dana dari masyarakat luas ini dilakukan oleh bank dengan cara memasang strategi agar masyarakat mau menyimpan dananya dalam bentuk simpanan, jenis simpanan yang dapat dipilih oleh masyarakat adalah seperti giro, tabungan, sertifikat deposito dan deposito berjangka. Sebagai lembaga keuangan, kegiatan bank sehari-hari tidak akan terlepas dari bidang keuangan. Kegiatan pihak perbankan secara sederhana dapat kita katakan adalah membeli uang (menghimpun dana dari masyarakat) dan menjual uang (menyalurkan dana) kepada masyarakat umum. Adapun kegiatan-kegiatan perbankan yang ada di Indonesia menurut Kasmir (2002:39), yaitu:

(2)

Penjelasan mengenai kegiatan perbankan diatas adalah sebagai berikut:

1. Menghimpun dana dari masyarakat.

Dalam menghimpun dana dari masyarakat ini dalam bentuk simpanan giro, simpanan tabungan, dan simpanan deposito.

2. Menyalurkan dana kepada masyarakat.

Penyaluran dana kepada masyarakat dalam bentuk kredit investasi, kredit modal kerja, dan perdagangan.

3. Jasa-jasa Bank lainnya.

Dalam pemberian jasa-jasa bank lainnya seperti transfer, inkaso, kliring, pembayaran pajak dan sebagainya.

Dari pengertian tersebut, bahwa kegiatan dunia perbankan adalah menghimpun dana dari masyarakat lalu menyalurkannya kembali kepada masyarakat dalam bentuk kredit. Selain itu juga ada jasa-jasa bank lainnya seperti transfer, pembayaran pajak, listrik, telepon dan lainnya.

Dalam dunia perbankan tentunya juga dapat ditemukan berbagai macam masalah seperti halnya di perusahaan-perusahaan umum lainya, maka dari itu dibutuhkan pengawasan dan pengendalian agar tetap terkendali dan tidak ada kerugian akibat kecurangan. Berbagai macam negara akhirnya membentuk suatu organisasi untuk membentuk sesuatu yang disebut basel. Basel capital accord merupakan seperangkat peraturan yang dirancang untuk menjaga industri perbankan pada suatu negara agar tetap bisa berjalan dan terkelola dengan baik. Dimulai dengan pembentukan The Basel Committee on Banking Supervision (BCBS) pada tahun 1974 oleh Gubernur Bank Sentral negara-negara G-10 dan mengeluarkan aturan International Convergence of Capital Measurement and Capital Standards.

Basel I

Basel I adalah suatu istilah yang merujuk pada serangkaian kebijakan bank sentral dari seluruh dunia yang diterbitkan oleh Komite Basel pada tahun 1988 di Basel, Swiss sebagai suatu himpunan persyaratan minimum modal untuk bank. Rekomendasi ini dikukuhkan dalam bentuk aturan oleh negara-negara Group of Ten (G10) pada tahun 1992. Basel I secara umum telah ditinggalkan dan digantikan oleh himpunan pedoman yang lebih komprehensif, yang disebut Basel II, yang sedang diterapkan oleh beberapa negara. Basel II

(3)

Basel II adalah rekomendasi hukum dan ketentuan perbankan kedua, sebagai penyempurnaan Basel I, yang diterbitkan oleh Komite Basel. Rekomendasi ini ditujukan untuk menciptakan suatu standar internasional yang dapat digunakan regulator perbankan untuk membuat ketentuan berapa banyak modal yang harus disisihkan bank sebagai perlindungan terhadap risiko keuangan dan operasionalyang mungkin dihadapi bank.

Pendukung Basel II percaya bahwa standar internasional seperti ini dapat membantu melindungi sistem keuangan internasional terhadap masalah yang mungkin timbul sewaktu runtuhnya bank-bank utama atau serangkaian bank. Dalam praktiknya, Basel II berupaya mencapai hal ini dengan menyiapkan persyaratan manajemen risiko dan modal yang ketat yang dirancang untuk meyakinkan bahwa suatu bank memiliki cadangan modal yang cukup untuk risiko yang dihadapinya karena praktik pemberian kredit dan investasi yang dilakukannya. Secara umum, aturan-aturan ini menegaskan bahwa semakin besar risiko yang dihadapi bank, semakin besar pula jumlah modal yang dibutuhkan bank untuk menjaga likuiditas bank tersebut serta stabilitas ekonomi pada umumnya.

Basel II mengusung konsep "tiga pilar" yaitu persyaratan modal minimum, tinjauan pengawasan, serta pengungkapan informasi. Basel I sebelumnya hanya memperhatikan sebagian dari masing-masing pilar ini. Misalnya, Basel I hanya memperhitungkan risiko kreditsecara sederhana, mempertimbangkan sedikit risiko pasar, serta sama sekali tidak menangani risiko operasional.

Pilar pertama berkaitan dengan pemeliharaan persyaratan modal (regulatory capital) yang diperhitungkan untuk tiga komponen utama risiko yang dihadapi bank: risiko kredit, risiko pasar, serta risiko operasional. Jenis risiko lain tidak dianggap layak diperhitungkan pada tahap ini.

Risiko kredit dapat dihitung dengan tiga cara yang berbeda tingkat kerumitannya, yaitu pendekatan standar (standardized approach),Foundation IRB (internal rating-based), dan Advanced IRB. Risiko operasional dihitung dengan tiga pendekatan yaitu pendekatan dasar(basic indicator approach, BIA), pendekatan standar (standardized approach, STA), serta advanced measurement approach (AMA). Sedangkan pendekatan yang biasanya dipilih untuk perhitungan risiko pasar adalah pendekatan VaR (value at risk).

(4)

Pilar kedua menangani tanggapan pengawasan terhadap pilar pertama yang memberikan perkakas lanjut bagi pengawas. Pilar ini juga memberikan suatu kerangka kerja untuk menangani semua risiko lain yang mungkin dihadapi bank, seperti risiko sistemik, risiko pensiun, risiko konsentrasi, risiko strategik, risiko reputasi, risiko likuiditas, serta risiko hukum, yang digabungkan menjadi risiko residu. Pilar ketiga memperbesar pengungkapan yang harus dilakukan bank. Ini dirancang untuk memberikan gambaran yang lebih baik bagi pasar mengenai posisi risiko menyeluruh bank dan untuk memberikan kesempatan bagi pihak terkait dari bank untuk memberikan harga dan menangani risiko tersebut dengan sepantasnya.

Basel III

Basel III merupakan pilar pokok reformasi sektor keuangan global. Krisis global memberikan pelajaran bahwa rejim pengaturan permodalan bank Basel II dipandang masih memiliki beberapa kelemahan utama yaitu:

a) Bersifat prosiklikal (procyclicality) dimana permodalan bank cenderung untuk mengikuti siklus perekonomian. Modal dan penyisihan penghapusan aktiva produktif (provisioning) cenderung untuk relatif rendah pada saat ekonomi stabil. Sebaliknya, keduanya diwajibkan (by regulation) untuk meningkat pada saat kondisi perekonomian memburuk;

b) Akibat dari butir a), intermediasi menjadi sangat terhambat pada saat krisis. Sebaliknya kredit dapat tumbuh secara berlebihan pada saat perekonomian tumbuh tinggi;

c) Beberapa ruang lingkup aplikasi masih komponen risiko tidak termasuk dalam pengaturan Basel II, antara lain modal untuk memitigasi counterparty credit risk dan likuditas.

d) Due diligence sangat tergantung pada external credit rating agency. Diketahui bahwa credit rating agency memiliki konflik kepentingan. Terkait dengan hal tersebut, para pemimpin G-20 segera melakukan beberapa tindakan. Sesuai komunike Leaders Meeting G-20 di Washington (WAP), BCBS ditugaskan untuk melakukan penyempurnaan rejim pengaturan permodalan, memitigasi procyclicality, serta memperkuat standar pengaturan likuiditas secara global. Agenda ini sering disebut sebagai Basel III.

(5)

1. Peningkatan kualitas tier 1 capital salah satunya melalui persyaratan predominant common equity pada tier 1 capital, simplifikasi tier 2 capital serta penghapusan modal tier 3 dan modal inovatif tier 1

2. Mitigasi procyclicality melalui usulan countercyclical capital framework meliputi usulan penerapan forward looking provisioning, persyaratan capital conservation buffer dan countercyclical capital buffer

3. Penerapan leverage ratio sebagai ukuran untuk membatasi pembentukan leverage di sektor perbankan

4. Peningkatan persyaratan permodalan untuk eksposure counterparty credit risk (CCR)

5. Penerapan global liquidity standards yang akan mensyaratkan penerapan dua rasio likuditas standard yaitu liquidity coverage ratio (untuk melihat stabilitas likuditas jangka pendek) dan net stable funding ratio (untuk melihat stabilitas likuiditas jangka panjang) serta usulan penerapan empat liquidity monitoring tools.

6. Revisi framework Basel II untuk pilar 1, 2 dan 3 yang terutama terkait dengan perlakuan dan persyaratan modal dan bobot risiko yang lebih tinggi untuk transaksi trading book, derivative dan sekuritisasi.

Kesepakatan yang telah dicapai dalam peningkatan kualitas permodalan dan likuiditas lembaga keuangan secara global adalah sebagai berikut:

a) Menyepakati penyempurnaan kriteria kualitas persyaratan modal dengan diperkenalkannya pre-dominant common equity modal tier 1. b) Menyepakati ditingkatkannya minimum common equity dari 2% menjadi 4.5% serta minimum level tier 1 dari 4% menjadi 6%.

c) Menyepakati penerapan conservation buffer (2.5%) dan countercyclical capital buffer (0-2.5%).Countercyclical capital buffer diterapkan jika terjadi pertumbuhan kredit yang berlebihan. d) Menyepakati penyempurnaan risk coverage yaitu dengan memperketat persyaratan modal untuk eksposurtrading book, sekuritisasi, off-balance sheet vehicles dan counterparty credit risk e) Menyepakati penerapan leverage ratio sebesar 3% sebagai non-risk based “backstop” untuk membatasi pembentukan leverage di sektor perbankan. Leverage ratio dapat bermigrasi ke Pilar 1 berdasarkan jika hasil kalibrasi dan review menyimpulkan hal tersebut

(6)

f) Menyepakati penerapan standar likuiditas internasional yaitu Liquidity Coverage Ratio (LCR) dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) serta penerapan tools untuk memantau risiko likuiditas

g) Kerangka permodalan Basel III dan kerangka likuiditas akan mulai diterapkan pada Januari 2013 secara bertahap hingga implementasi penuh pada Januari 2019.

h) BCBS telah menyempurnakan kerangka Pilar 2 – Supervisory Review Process yang meliputi firm-wide governance, manajemen risiko konsentrasi, eksposur sekuritisasi, stress testing, praktek valuasi dan eksposur off-balance sheet. Selain itu telah pula diterbitkan berbagai panduan seperti panduan sound compensation practices, corporate governance dan supervisory colleges. Anggota BCBS termasuk Indonesia diharapkan dapat secepatnya mengadopsi perubahan ini. i) BCBS telah menyempurnakan panduan Pilar 3 meliputi disclosure eksposur sekuritisasi, sponsorship dari off-balance sheet vehicles. j) BCBS telah memfinalisasi panduan disclosure mengenai risiko dan praktek kompensasi, serta ke depan akan menyempurnakan panduan disclosure untuk kerangka permodalan dan likuiditas Basel III.

Berdasarkan hal-hal tersebut seorang auditor harus memiliki wawasan yang luas mengenai perbankan, agar dapat menerapkan apa yang disebut basel tadi agar perusahaan perbankkan tersebut dapat menjalankan perusahaannya secara optimal.

Auditor Internal untuk BPR

Dalam menjalankan fungsinya seorang auditor internal harus mampu melaksanakan tugasnya secara profesional baik dari pengetahuan maupun perilaku. Tugas auditor internal ialah, pertama, membantu direksi dan satuan kerja (kantor pusat dan kantor cabang) dalam meningkatkan mutu pelaksanaan tugas untuk mencapai tujuan BPR. Kedua, memanfaatkan sumber daya secara ekonomis. Ketiga, menyajikan kebenaran dan keutuhan informasi. Keempat, memberi jaminan yang memadai atas pencapaian sasaran-sasaran yang meliputi pelaksanaan kegiatan yang hemat, efisien, dan efektif, penyajian laporan keuangan yang layak, terpercaya, dan ketaatan terhadap ketentuan yang berlaku.

Untuk menjalankan tugas tersebut dibutuhkan kualifikasi seperti memahami ketentuan dan perundang-undangan yang berlaku,

(7)

memahami kode etik dan mampu menjalaninya, dan menjalankan kegiatan pengawasan sesuai dengan batas wewenang. Dalam standar audit internal butir 1210 mengenai proficiency dinyatakan bahwa “Auditor internal harus memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi lain yang dibutuhkan untuk melaksanakan tanggung jawabnya. Aktivitas audit internal secara kolektif harus memiliki atau mendapatkan pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi lain yang dibutuhkan untuk melaksanakan tanggung jawabnya.”

Perluasan wawasan dan peningkatan kompetensi dapat diperoleh melalui pendidikan atau kursus-kursus berbasis peningkatan kompetensi. Memasuki tahun 2013 ini, LPPI telah mengadakan dua pelatihan auditor internal reguler untuk BPR. Pelatihan ini akan terus diselenggarakan mengingat tingginya kebutuhan BPR akan pendidikan untuk para auditor internal, terutama untuk memenuhi peranan Satuan Kerja Audit Intern (SKAI) yang efektif dan efisien dengan dukungan auditor internal yang kompeten dan andal. Para peserta yang telah mengikuti pendidikan ini merupakan pegawai-pegawai BPR baik yang telah menjabat sebagai auditor internal maupun yang diproyeksikan menjadi auditor internal BPR.

Materi pelatihan auditor internal di LPPI meliputi peranan dan fungsi audit internal BPR, standar pelaksanaan fungsi audit internal bank (SPFAIB), sistem pengendalian internal BPR, kebijakan Bank Indonesia dalam audit internal BPR, audit berbasis risiko, audit untuk penghimpunan dana, audit untuk penyaluran kredit, audit untuk manajemen umum dan SDM, penyusunan laporan hasil audit, dan dilengkapi dengan studi-studi kasus.

Diklat-diklat terkait Audit dan Auditor Internal di LPPI

Selain diklat tersebut di atas, LPPI memiliki program-program diklat lain terkait audit dan auditor internal, baik untuk bank umum, BPD, maupun BPR, sebagai berikut.

1. Audit Intern Bank (Acc202) untuk middle management. Materi yang disajikan memberikan pemahaman yang sangat mendasar akan fungsi dan peranan audit internal bank. Filosofi audit, teknik prosedural yang sangat mendasar, dan ruang lingkup aspek yuridis formal merupakan pokok-pokok materi yang disajikan.

2. Certified Bank Internal Auditor 1 (Acc102) untuk lower management. Pendidikan ini merupakan legalisasi jaminan kompetensi tingkat pertama auditor internal bank. Materi yang

(8)

disajikan memberikan pemahaman yang sangat mendasar akan fungsi dan peranan auditor internal bank, filosofi audit, teknik dan prosedur beberapa jenis audit, dan ruang lingkup aspek yuridis formal yang harus diikuti dalam regulasi perbankan.

3. Certified Bank Internal Auditor 2 (Acc206) untuk middle management. Pendidikan ini merupakan kelanjutan program Certified Bank Internal Auditor 1, didesain untuk pejabat auditor tingkat middle management sehingga diperlukan wawasan yang lebih luas untuk mendasari pola pikir yang lebih strategis.

4. Certified Bank Internal Auditor 3 (Acc303) untuk top management. Pendidikan ini merupakan kelanjutan program sertifikasi Audit Intern Bank Tingkat Lanjutan, didesain untuk pejabat/auditor profesional dengan penguasaan yang luas dan kompeten untuk memimpin SKAI.

Seluruh pelatihan ini memiliki standar kurikulum yang telah disesuaikan dengan perkembangan dinamika bisnis perbankan. Pada beberapa diklat kami menggunakan metode tailor made, yang merupakan hasil kerja sama LPPI dengan mitranya dalam penyusunan kurikulum diklat sehingga sesuai dengan kebutuhan riil di lapangan. Metode ini kami lakukan untuk sekaligus memberikan jasa layanan semi konsultasi agar dapat memberikan Return on Training Investment (ROTI) secara nyata bagi mitra LPPI, termasuk diklat audit dan auditor internal ini. SUMBER http://id.wikipedia.org http://www.lppi.or.id/index.php/module/Editorial/id/pendidikan-untuk-auditor/internal-bpr http://fitrianalestari.blogspot.co.id/2012/10/basel-1-2-3.html http://airdanruanggelap.blogspot.co.id/2012/10/basel-i-dan-basel-ii.html

Figur

Memperbarui...

Related subjects :