• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PENELITIAN HIBAH BERSA1NG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN PENELITIAN HIBAH BERSA1NG"

Copied!
68
0
0

Teks penuh

(1)

P E N D I D I K A N

L A P O R A N P E N E L I T I A N H I B A H BERSA1NG

P E N G E M B A N G A N P A K E T PROGRAM C O A C H I N G BERBASIS V I D E O UNTUK M E N I N G K A T K A N K E M A M P U A N M E N G A J A R GURU D A N C A L O N

GURU B I O L O G I

Dr. phil. A r i Widodo, M . Ed. Drs. Riandi, M . Si

Drs. Bambang Supriatno, M . Si.

Dibiayai oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional sesuai dengan Surat perjanjian Pelaksanaan Hibah Penelitian

Nomor: 032/SP2H/PP/DP2M/IN/2007 tanggal 31 Desember 2006

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA Oktobcr, 2007

(2)
(3)

P E N D I D I K A N

L A P O R A N P E N E L I T I A N H I B A H B E R S A I N G

P E N G E M B A N G A N P A K E T P R O G R A M C O A C H I N G BERBASIS V I D E O U N T U K M E N I N G K A T K A N K E M A M P U A N M E N G A J A R GURU D A N C A L O N

GURU B I O L O G I

Dr. phil. A r i Widodo, M . Ed. Drs. Riandi, M . Si

Drs. Bambang Supriatno, M . Si.

Dibiayai oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional sesuai dengan Surat perjanjian Pelaksanaan Hibah Penelitian

Nomor: 032/SP2H/PP/DP2M/III/2007 tanggal 31 Desember2006

UNIVERSITAS P E N D I D I K A N INDONESIA Oktober, 2007

(4)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Program-program peningkatan kualitas guru sudah banyak dilakukan. Meskipun demikian kegiatan-kegiatan seperti itu tidak memberikan perubahan berarti bagi pembelajaran di dalam kelas. Setelah mengikuti suatu kegiatan penataran, cara guru mengajar tetap saja seperti sebelum mengikuti kegiatan penataran (Widodo, Riandi, Amprasto & Ana Ratna Wulan, 2006). Hal yang serupa juga terjadi pada calon guru. Meskipun dalam perkuliahan mahasiswa diajarkan dengan berbagai metode namun pada saat mereka melakukan praktek mengajar di sekolah, cara mereka mengajar tidak memperlihatkan adanya inovasi yang berarti (Widodo, Unang Sumamo, Mimin Nurjhani & Riandi, 2006). Hal ini menandakan perlunya altematif baru untuk peningkatan kemampuan mengajar guru/calon guru (Hinduan, 2005).

Analisis beberapa rekaman video pembelajaran yang telah peneliti lakukan mengungkapkan bahwa dalam setiap pembelajaran hampir selalu terdapat aspek "positif dan negatif' (Widodo, 2004a, 2005). Sayangnya, karena pembelajaran yang dilakukan guru tidak pemah direkam dengan video, guru tidak pernah melihat bagaimana mereka mengajar. Oleh karena itu guru tidak pemah mengetahui kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya, sehingga mereka juga tidak tahu apa yang harus diperbaiki dan bagaimana cara memperbaikinya.

Dalam penelitian yang telah peneliti lakukan, ketika seorang guru mengamati rekaman pembelajaran, guru bisa menemukan kelemahan pembelajaran tersebut. Mengamati rekaman pembelajaran sendiri ternyata bisa mendorong guru untuk melakukan refleksi terhadap apa yang telah dilakukannya dan membantu mereka menemukan hal-hal yang perlu diperbaiki. Sebaliknya ketika mengamati rekaman pembelajaran guru lain, kelemahan dan kelebihan gum lain ternyata juga bisa menjadi pelajaran berharga bagi guru yang bersangkutan.

Program coaching merupakan suatu program yang dirancang untuk membantu gum menemukan kelebihan dan kekurangannya serta memberikan saran untuk meningkatkannya (Fischler, 2004). Melalui pemilihan cuplikan rekaman video pembelajaran yang tepat dan menyajikannya secara terprogram, gum akan tahu betul apa yang harus diperbaiki dan bagaimana memperbaikinya. Pengetahuan baru yang diperoleh

(5)

merupakan pengalaman nyata sesama guru dan bukan penjelasan teoritis atasan, ahli, atau penatar.

1. 2 Rumusan masalah

Berdasarkan analisis kondisi sebagaimana dipaparkan pada bagian latar belakang, permasalahan utama penelitian ini dirumuskan sebagai berikut.

"Paket program coaching berbasis video seperti apakah yang efektif untuk meningkatkan kemampuan mengajar guru dan calon guru biologi?"

Untuk penelitian tahun pertama, fokus permasalahan yang dikaji adalah sebagai berikut. a. Keterampilan mengajar apakah yang merupakan kelemahan yang menonjol yang

banyak teramati pada guru/calon guru biologi?

b. Pola treatment seperti apakah yang diperlukan untuk mengatasi kelemahan guru/calon guru tersebut?

c. Apakah paket program coaching berbasis video bisa mengatasi kelemahan tersebut?

(6)

BAB I I

T I N J A U A N PUSTAKA

2.1 Gambaran pembelajaran biologi di sekolah

Rendahnya capaian siswa dalam ujian nasional dan studi komparatif antarnegara telah memicu kritik terhadap dunia pendidikan kita. Berbagai saran dan ide bermunculan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Meskipun demikian data empiris yang miliki tentang gambaran proses pembelajaran yang terjadi di sekolah-sekolah sangatlah sedikit jumlahnya. Oleh karena itu sesungguhnya pengetahuan kita tentang apa yang terjadi di

dalam kelas sangatlah terbatas. Terbatasnya jumlah penelitian pembelajaran bisa dimengerti sebab penelitian proses pembelajaran menyita banyak waktu, biaya, tenaga dan rumit dalam analisa (Stigler, Gonzales, Kanakawa, Knoll, & Serrano, 1999; Widodo, 2004b).

Meskipun penelitian pembelajaran dengan video relatif mahal dan berat, namun penelitian semacam ini bisa memberikan informasi yang sangat komprehensif dan berharga tentang proses pembelajaran yang tidak bisa diperoleh dengan metode penelitian lainnya. Oleh karena itu penelitian yang dirintis oleh Stigler et al. (1999) kini mulai diadopsi di berbagai tempat (Clarke, 2001; Labudde, Gerber, & Knierim, 2003; Prenzel, Duit, Euler, & Lehrke, 1999). Walaupun dalam skala sangat kecil dan terbatas, penelitian serupa yang kami lakukan (Widodo, 2005) ternyata bisa mengungkap beberapa aspek penting dalam pembelajaran biologi di sekolah terkait struktur materi yang dibahas dalam pembelajaran (Widodo & Erni Yuliah, 2005), tahapan-tahapan proses pembelajaran (Widodo & Nurhayati, 2005), pelaksanaan kegiatan praktikum (Widodo & Vidia Ramdhaningsih, 2006), dan pertanyaan-pertanyaan yang muncul selama proses pembelajaran (Widodo & Sintya Pujiastuti, 2005; Widodo, 2006).

Analisis materi subyek yang dibelajarkan guru (Widodo & Erni Yuliah, 2005) mengungkapkan bahwa kompetensi profesional guru terkait kemampuan dalam memilih dan menyajikan konsep-konsep juga masih perlu ditingkatkan. Dari beberapa rekaman video yang dianalisis, sajian materi pelajaran kadang tidak sesuai dengan kurikulum dan buku yang dijadikan acuan. Beberapa kelemahan yang ditemukan misalnya, alokasi waktu pembahasan setiap konsep yang sangat beragam, adanya konsep yang tidak dan urutan pembahasan yang kurang sistematis.

Analisis urutan pembelajaran menunjukkan bahwa pembelajaran biologi tidak memperlihatkan pola dasar/model dasar'yang jelas (Widodo & Lia Nurhayati, 2005).

(7)

Model dasar adalah struktur dasar yang menjadi kerangka pembelajaran (Oser & Patry, 1990). Oser dan Patry (1990) mengidentifikasi ada sepuluh model dasar pembelajaran yang bisa digunakan dalam pembelajaran. Dengan memperhatikan tujuan yang ingin dicapai, guru bisa memilih model dasar pembelajaran yang sesuai, misalnya apabila guru ingin mengembangkan pengetahuan/konsep guru bisa memilih model dasar pembelajaran untuk membangun pengetahuan/konsep. Apabila tujuan pembelajaran adalah untuk mengembangkan keterampilan, maka model dasar pembelajaran yang sesuai adalah model belajar keterampilan.

Analisis terhadap pengelolaan kegiatan praktikum juga memperlihatkan bahwa praktikum masih belum efisien (Widodo & Vidia Ramdhaningsih, 2006). Waktu efektif yang digunakan untuk praktikum hanya berkisar 80% dan dari waktu tersebut sekitar 25% dihabiskan untuk kegiatan pendahuluan, seperti penjelasan cara kerja dan pendistribusian alat dan bahan. Waktu efektif yang digunakan untuk siswa bekerja hanya berkisar 25% saja dari waktu yang tersedia. Hasil ini menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan guru dalam pengelolaan kegiatan praktikum masih sangat memungkinkan untuk ditingkatkan.

Analisis pembelajaran berdasarkan jenis pertanyaan yang muncul selama proses pembelajaran (Widodo & Sintya Pujiastuti, 2005; Widodo, 2006) menunjukkan bahwa pertanyaan yang diajukan guru jauh lebih banyak dibandingkan pertanyaan yang diajukan siswa. Bahkan ketika mereka didorong untuk bertanya pertanyaan yang muncul tetap sedikit. Walaupun kedua penelitian ini dilakukan pada jenjang pendidikan yang berbeda, namun hasilnya relatif sama yaitu bahwa siswa jarang mengajukan pertanyaan.

Analisis terhadap jenis pertanyaan yang diajukan guru menunjukkan bahwa sebagian besar pertanyaan yang diajukan guru merupakan pertanyaan tertutup (pertanyaan yang jawabannya sudah tertentu) dan berupa pertanyaan faktual dan tidak mengarah pada proses berpikir tingkat tinggi. Dalam tuntutan kurikulum, jenis pertanyaan yang diharapkan sesungguhnya adalah pertanyaan produktif (pertanyaan yang mengarahkan siswa untuk melakukan kegiatan). Gambaran di atas menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan bertanya masih diperlukan baik oleh guru maupun siswa.

2.2 Problematika peningkatan profesionalisme guru/calon guru

Pada saat diketahui bahwa prestasi siswa tidak memuaskan, maka gurulah yang seringkali menjadi pihak yang disalahkan. Maka muncul ungkapan bahwa guru tidak profesional. Sebagai upaya untuk mengatasi "ketidakprofesionalan'' ini maka muncul ide

(8)

seperti peningkatan gaji, peningkatan jenjang pendidikan, guru harus juga melakukan penelitian, uji sertifikasi, dsb. Hal-hal tersebut tentu tidak salah, namun profesionalisme sesungguhnya lebih ditentukan oleh penguasaan pengetahuan dan keterampilan profesional, adanya mekanisme untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tersebut, dan keinginan untuk senantiasa meningkatkan diri (Stigler & Hiebert, 1999).

Persoalan yang terkait dengan peningkatan kemampuan profesional guru memang cukup pelik. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa dalam kondisi yang ada sekarang, peningkatan profesionalisme guru dan perubahan cara mengajar di kelas sulit tercapai. Walaupun telah mendapatkan berbagai masukan untuk perbaikan pembelajaran, guru dan calon guru seakan tidak bergeming dari cara-cara mengajar yang tradisional. Ada beberapa hal yang menyebabkan yang menyebabkan mengapa usaha-usaha peningkatan profesionalisme guru/calon guru belum mencapai sasaran.

• Pertama, para peneliti pendidikan dan ahli pendidikan cenderung "egois". Inovasi-inovasi pendidikan yang mereka kembangkan biasanya hanya "dinikmati" di kalangan mereka sendiri. Laporan penelitian, jurnal ilmiah, buku-buku, seminar biasanya kurang melibatkan guru (Parchmann, Graesel, & Fey, 2004; Tim PPM FPMIPA IKIP Bandung, 1998).

• Kedua, penelitian-penelitian yang dilakukan para peneliti pada umumnya mengarah pada generalisasi yang berlaku umum, padahal permasalahan pembelajaran yang dihadapi guru seringkali bersifat lokal dan kontekstual (Parchmann et al., 2004).

• Belum ada kesamaan kata dan tindakan antara peneliti dan guru. Persoalan yang dianggap menarik dan penting oleh peneliti seringkali bukanlah persoalan yang sesunguhnya penting bagi guru (Parchmann et al., 2004; Tim PPM FPMIPA IKIP Bandung, 1998).

• Sistem pendidikan dan pelatihan guru/calon guru yang memisahkan aspek materi dan aspek pedagogi. Dosen-dosen mata kuliah materi dan penatar cenderung menganggap bahwa tugas utama mereka adalah menyampaikan materi sehingga tidak memperhatikan aspek pedagogi (Hewson et al., 1999; Hinduan, 2005).

• Kurangnya contoh nyata yang bisa dijadikan rujukan bagi guru/calon guru (Hewson et al., 1999; Mellado, 1998).

Hal-hal di atas menunjukkan bahwa program peningkatan profesionalisme guru/calon gum harus lebih berorientasi kej>ada kepentingan guru. Artinya program-program tersebut

(9)

memberikan saran dan alternatif-alternatif, namun coachee sendirilah yang harus mengembangkan solusi permasalahan yang dihadapinya. Paket program coaching yang berisi cuplikan rekaman video pembelajaran yang "baik" dan yang "kurang baik" akan diputar agar coachee bisa mengembangkan ide guna mengatasi permasalahan yang dihadapinya. Coach juga akan memberikan saran dan masukan kepada coachee untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya.

4. Tahap penutup: Pada tahap ini dilakukan evaluasi terhadap apa yang telah dicapai coachee dari proses coaching. Hal-hal yang pada tahap pendahuluan disepakati untuk diubah/diperbaiki akan dinilai apakah tujuan tersebut telah tercapai. Ketika coachee tampil mengajar, coach akan mengobservasi dan merekam kegiatan pembelajaran tersebut sehingga coach maupun coachee dapat mengamatinya dan menilai kemajuan yang telah dicapai.

Coaching, terlebih lagi coaching berbasis rekaman video pembelajaran, belum banyak dilakukan. Penelitian yang dilakukan oleh sebuah tim peneliti di Free University of Berlin, Jerman (Fischler, Schroeder, Tonhaeuser, & Zedler, 2002; Schroder & Fischler, 2003) mengungkapkan bahwa guru yang telah mengikuti coaching memerlihatkan peningkatan yang berarti dalam cara mengajarnya. Setelah mengikuti coaching pandangan guru tentang cara mengajar yang efektif jadi berubah dan hal tersebut diperlihatkannya dalam kegiatan pembelajaran yang berubah dari pembelajaran yang berpusat pada guru (ceramah) menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa. Analisis terhadap kegiatan pembelajaran guru tersebut juga memperlihatkan bahwa guru mengajar dengan menggunakan metode pembelajaran yang lebih bervariasi (Schroeder & Fischler, 2003).

Ide pemanfaatan rekaman video pembelajaran untuk coaching ternyata juga menarik perhatian kelompok peneliti lain untuk melakukan hal serupa (Duit, Euler, Friege, Komorek, & Mikelskis-Seifert, 2003). Dengan memanfaatkan sejumlah rekaman video pembelajaran yang telah dikumpulkan, para peneliti ini merancang untuk melakukan coaching berbasis video pembelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa coaching bisa menjadi strategi yang tepat untuk mengembangkan pemahaman guru dan peningkatan praktek mengajarnya, yang keduanya memang harus dikembangkan secara paralel (Duit, Widodo, & Mueller, 2007).

(10)

2.4 Hasil studi pendahuluan

Sejak tahun 2005 FPMIPA UPI mencanangkan agar Program Pengalaman Lapangan atau PPL (sekarang bemama Program Pengalaman Profesi) mahasiswa FPMIPA dilakukan dengan menerapkan prinsip-prinsip lesson study. Dalam melaksanakan praktek setiap mahasiswa diamati oleh sesama peserta PPL maupun oleh peneliti dan setelah kegiatan pembelajaran dilakukan refleksi. Kegiatan pembelajaran tersebut juga direkam secara utuh dengan menggunakan video kamera. Hasil analisis rekaman video pembelajaran menunjukkan bahwa mahasiswa calon guru telah melakukan upaya memunculkan komponen-komponen penting dalam pembelajaran.

Salah satu temuan menarik dari penelitian tersebut adalah adanya kemiripan pembelajaran yang dilakukan oleh para mahasiswa calon guru tersebut (Widodo, Unang Sumarno, Mimin Nurjhani & Riandi, 2006).. Pembelajaran yang dilakukan oleh seorang mahasiswa akan menjadi sumber "inspirasi" bagi mahasiswa lain. Sayangnya karena jumlah pembelajaran yang diamati sangat terbatas, ide-ide baru yang dimiliki para

mahasiswa tersebut juga terbatas.

Hasil ini menunjukkan bahwa memperlihatkan lebih banyak rekaman video pembelajaran akan menambah perbendaharaan strategi pembelajaran para mahasiswa. Apabila rekaman video tersebut dirancang secara khusus supaya bisa memberikan sebanyak mungkin variasi pembelajaran, maka mahasiswa yang melihat juga akan mendapatkan lebih banyak lagi strategi pembelajaran.

Temuan lain yang juga menarik adalah sulitnya menghilangkan "kelemahan" tertentu dalam keterampilan mengajar mahasiswa. Sekalipun oleh sesama peserta PPL maupun oleh pembimbing telah diingatkan dalam sesi refleksi, namun kesalahan serupa tetap saja muncul dalam pembelajaran berikutnya. Misalnya, dalam teknik bertanya mahasiswa seringkali menunjuk siswa terlebih dahulu baru kemudian memberikan pertanyaan. Secara pedagogis hal ini kurang tepat. Pertanyaan seharusnya ditanyakan ke seluruh kelas agar semua siswa terlibat, barulah ditunjuk siswa yang harus menjawabnya. Mahasiswa seringkali tidak menyadari bahwa dia melakukan hal tersebut. Barulah apabila ditunjukkan rekaman video pembelajarannya mereka menyadari hal tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa menyaksikan rekaman video pembelajaran sendiri aka'n membantu calon guru dan guru untuk menemukan hal-hal yang perlu diperbaiki dalam melaksanakan pembelajaran.

Program-program peningkatan kualitas guru sudah banyak dilakukan. Meskipun demikian kegiatan-kegiatan seperti itu tidak memberikan perubahan berarti bagi

(11)

mengajar tetap saja seperti sebelum mengikuti kegiatan penataran (Widodo, Riandi, Amprasto & Ana Ratna Wulan, 2006). Kondisi ini jelas menuntut perlunya alternatif baru dalam usaha peningkatan kemampuan mengajar guru/calon guru (Hinduan, 2005).

Berdasarkan pengalaman dalam program peningkatan profesionalisme guru di Karibia dan Indonesia, Adey, Hewitt, Hewitt, dan Landau (2004) menyatakan bahwa perubahan di sekolah dan pembelajaran perlu memperhatikan beberapa hal berikut.

1. Proses penyusunan kurikulum harus benar-benar melibatkan guru sehingga guru bukan sekedar pengguna yang ditunjuki "bagaimana cara menggunakannya". 2. Perubahan tidaklah dapat dipaksakan. Guru hendaknya diperlakukan sebagai

partner dalam program yang dilakukan.

3. Coaching dalam kelas merupakan sesuatu yang esensial. Coaching berperan penting sebagai pembawa perubahan pedagogi praktis dalam kelas.

4. Perubahan berlangsung secala pelan, tidak menentu, kadang berbalik lagi, namun kadang juga bergerak maju.

Untuk mengubah praktik mengajarnya, seorang guru memerlukan lebih dari sekedar penjelasan bagaimana cara mengajar yang baik. Supaya setelah mengikuti suatu program peningkatan kemampuan mengajar guru bisa mempraktekkan apa yang diperolehnya, program tersebut harus memenuhi beberapa ciri.

1. Bisa membuat guru reflektif, artinya bisa mengarahkan guru agar menyadari dan menemukan "kelemahan" dan "kelebihan" yang dimilikinya dalam mengajar (Fischler, 2004). Seseorang tidak akan mau berubah apabila dia tidak menyadari bahwa ada sesuatu yang kurang baik yang harus diperbaiki.

2. Memperhatikan prinsip-prinsip perubahan konsepsi. Analog dengan prinsip dasar konstruktivisme, bahwa setiap orang memiliki pengetahuan awal, program peningkatan profesionalisme guru juga harus memperhatikan pengetahuan awal yang dimiliki guru tentang belajar dan mengajar (Davis, 2003; Fischler & Schroder, 2003; Haney & McArthur, 2002). Apabila penelitian tentang perubahan konsepsi menyatakan bahwa perubahan konsepsi berlangsung sangat sulit, maka perubahan praktek mengajar berlangsung lebih sulit lagi.

3. Memperhatikan aspek emosi, pandangan, dan keyakinan guru. Suatu perubahan yang mendasar bukan hanya sekedar melibatkan aspek kognitif tetapi juga aspek non kognitif (Fischler, 2004; Pintrich, Marx, & Boyle, 1993).

(12)

4. Memberikan contoh nyata yang berasal dari lapangan (Davis, 2003; Hewson, Tabachnick, Zeichner, & Lemberger, 1999). Contoh nyata dari lapangan membuat guru yakin bahwa sesuatu yang baru dipelajari adalah sesuatu yang memang bisa dilakukannya.

5. Memberikan dukungan pada saat pelaksanaan di lapangan. Perubahan bukanlah suatu loncatan, namun merupakan suatu proses yang bertahap (Fischler, 2004). Oleh karena itu guru harus tetap mendapatkan dukungarvTDantuan pada saat menerapkan apa yang telah dipelajari.

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang telah diuraikan, coaching berbasis rekaman video pembelajaran merupakan strategi yang paling memenuhi syarat sebagai metode peningkatan kemampuan mengajar guru. Ada beberapa alasan mengapa coaching berbasis video pembelajaran bisa meningkatkan kemampuan mengajar guru dan calon guru biologi.

• Coaching berbasis rekaman video pembelajaran memberikan kesempatan kepada guru untuk mengamati kegiatan pembelajaran yang telah dilakukannya. Dengan demikian guru didorong untuk bisa melakukan refleksi dan self-evaluation, terhadap pengetahuannya, keyakinannya, dan juga keterampilan mengajarnya. Pemahaman tentang hal-hal tersebut akan membuat guru lebih terfokus dan terarah dalam menentukan apa saja yang harus ditingkatkan.

• Coaching berbasis rekaman video pembelajaran memungkinkan guru untuk memperoleh masukan dan diskusi yang produktif dengan ahli pembelajaran atau guru lain. Karena setelah mengamati rekaman video pembelajaran dilakukan diskusi dengan ahli pembelajaran atau guru lain, guru berkesempatan untuk belajar dengan lebih intensif. Kondisi ini juga memfasilitasi perubahan pandangan guru tentang cara mengajar yang baik.

• Coaching berbasis rekaman video pembelajaran menggabungkan pendekatan individual dan pendekatan kelompok. Program peningkatan kualitas guru yang telah ada bersifat massal sehingga tidak memperhatikan perkembangan individual guru. Belajar pada dasarnya adalah proses individual oleh karena itu guru juga harus diberi kesempatan untuk mendapatkan perlakuan yang sifatnya individual. Pendekatan yang bersifat individual ini tentu saja bisa lebih memperhatikan

(13)

aspek-aspek emosional dan keyakinan guru. Pada saat tertentu coaching juga dilakukan dalam kelompok sehingga ada interaksi antar guru.

• Coaching berbasis rekaman video pembelajaran memberikan kesempatan kepada guru untuk mengamati pembelajaran yang dilakukan guru lain. Hal ini akan membantu guru untuk menemukan ide-ide baru untuk memperkaya khazanah pengetahuannya tentang pembelajaran.

• Coaching berbasis rekaman video pembelajaran bukan hanya memfokuskan pada proses pemberian nasehat saja namun juga memberikan dukungan pada saat guru menerapkan perubahan yang diinginkan. Pada saat guru menerapkan idea baru/perubahan, kegiatan pembelajarannya juga akan diamati oleh coach. Oleh karena itu kesulitan dan permasalahan lain yang muncul akan dapat diidentifikasi dan dipecahkan dalam sesi coaching berikutnya.

(14)

BAB I I I

T U J U A N D A N M A N F A A T P E N E L I T I A N

3.1 Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan paket program coaching berbasis video pembelajaran. Tujuan ini akan dicapai melalui rangkaian tiga tahap penelitian yang masing-masing berlangsung selama satu tahun. Tujuan khusus penetilitian tahap pertama adalah sebagai berikut.

a. Melakukan kajian teoritik dan hasil studi tentang coaching.

b. Mengidentifikasi kelemahan dan kelebihan pembelajaran biologi yang sering ditemukan di lapangan melalui analisis rekaman video kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan oleh guru/calon guru biologi.

c. Menemukan pola-pola treatment yang diperlukan untuk mengatasi kelemahan pembelajaran guru.

d. Mengembangkan blueprint paket program coaching dan perangkat pendukung lainnya.

e. Mengembangkan instrumen untuk mengukur efektivitas paket program coaching.

3.2 Manfaat

Hasil penelitian ini akan memberikan manfaat bagi calon guru dan guru, Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), dan lembaga-lembaga lain yang bergerak dalam peningkatan profesionalisme guru.

3.2.1 Manfaat bagi calon guru dan guru

Paket program coaching yang dihasilkan akan membantu calon guru dan guru untuk meningkatkan kemampuan mengajar mereka. Selain bisa mengenali kelemahan dirinya, guru dan calon guru juga mendapatkan ide dan contoh-contoh untuk memperbaiki keterampilan mengajar mereka.

3.2.2 Manfaat bagi L P T K

Paket program coaching ini dapat digunakan oleh LPTK dalam proses penyiapan calon-calon guru sehingga lulusan bisa lebih profesional. Bagi LPTK yang menyelenggarakan

(15)

progam profesi pendidik pakaet program coaching ini dapat digunakan untuk melakukan coaching kepada peserta, terutama peserta yang bukan lulusan pendidikan.

3.2.3 Manfaat bagi lembaga-Iembaga pembina profesionalisme guru

Bagi lembaga-Iembaga yang bergerak dalam peningkatan profesionalisme guru, paket program coaching ini bisa menjadi altematif yang komplementer dengan program-program lain. Paket program-program coaching ini bisa menjangkau guru-guru yang sangat banyak dan tersebar.

(16)

BAB I V

M E T O D E P E N E L I T I A N

4.1 Subjek penelitian

Subjek penelitian ini adalah mahasiswa calon guru biologi Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA UPI yang sedang mengikuti Program Pengalaman Profesi dan guru biologi SMP dan SMA di wilayah Bandung dan Kabupaten Sumedang.

4.2 Metode penelitian

Karena penelitian ini merupakan penelitian pengembangan, pendekatan yang digunakan juga mengikuti prinsip siklus Developmental Research, yang terdiri: 1. Tahap pengembangan produk dan uji coba terbatas; 2. Tahap pengujian produk; dan 3. Tahap pengujian di lapangan dan dilanjutkan dengan penyempurnaan produk (Borg & Gall, 1989). Penelitian ini direncanakan dilakukan dalam tiga tahap yang masing-masing tahapnya berlangsung selama satu tahun (Gambar 1).

4.3 Langkah-langkah penelitian

Tujuan utama penelitian di tahun pertama adalah untuk mengembangkan blueprint paket program coaching dan perangkat pendukung lainnya. Langkah-langkah yang akan ditempuh pada tahap ini adalah:

1. Melakukan kajian teoritik dan hasil studi tentang coaching;

2. Melakukan perekaman sejumlah pembelajaran biologi yang dilakukan oleh guru maupun calon guru yang sedang melakukan praktek mengajar di sekolah;

3. Mengidentifikasi kelemahan dan kelebihan setiap kegiatan pembelajaran;

4. Menemukan pola-pola treatment yang diperlukan untuk mengatasi kelemahan pembelajaran;

5. Mengembangkan software untuk program coaching; dan

(17)

Tahap I Sifat Metode Kajian Teoritik Studi dokumentasi Empirik Studi deskriptif Langkah Penelitian

Analisis teoretis tentang peningkatan profesionalisme guru/calon guru dan coaching

Perekaman kegiatan pembelajaran guru/calon guru

Analisis rekaman video pembelajaran

I / •

l

I I

Teoretik Studi deskriptif

Analisis pola treatment untuk tiap jenis masalah

Teoretik Studi pengembangan Pengembangan blueprint paket program coaching Pengembangan instrumen untuk mengukur efektivitas program coaching

Empirik Studi pra eksperimen

m

o

t Teoretik desktiptif Studi

n Teoretik, empirik Studi deskriptif Teoretik Studi pengembangan Empirik Studi

Uji coba paket program coaching

Analisis kelayakan program coaching

Diskusi Pertimbangan pakar

Pengkajian

Penyempurnaan paket program coaching

empirik Teoretik eksperimental Studi deskriptif deskriptif

Pengujian efektivitas paket program coaching terhadap sejumlah guru/calon guru

Analisis paket program coaching

Penyempurnaan paket program coaching

Pembuatan dan penyebarluasan paket program

coaching ^ ^ ^ ^ ^ Gambar 1. Prosedurdan langkah penelitian

(18)

BAB V

H A S I L D A N PEMBAHASAN

5.1 Deskripsi kelemahan guru/calon guru biologi

Beberapa keterampilan mengajar yang sangat penting dikuasai guru adalah keterampilan membuka pelajaran, keterampilan menutup pelajaran, dan keterampilan bertanya (Rustaman et al., 2005). Ketiga keterampilan itu menjadi acuan penting untuk menganalis kelemahan guru/calon guru.

5.1.1 Keterampilan membuka pelajaran

Hasil analisis umum terhadap keterampilan guru/calon guru dalam membuka pelajaran disajikan dalam Tabel 5.1.

Tabel 5.1 Durasi setiap aspek dalam membuka pelajaran

Pembelajaran

Durasi Aspek membuka pelajaran (menit)

Jumlah (menit) Pembelajaran Meninjau kembali Menggali pengetahuan Menarik perhatian Memotivasi Menjelaskan tujuan dan acuan Jumlah (menit) Guru-1 0.0 0.0 4.5 4.8 6.3 15.7 Guru-2 0.0 0.0 6.3 7.7 0.3 14.3 Guru-3 0.0 1.3 0.0 2.7 0.7 4.7 Guru-4 1.5 0.5 J . J 0.3 1.2 6.8 Guru-5 0.0 0.5 1.3 0.3 0.0 2.2 Guru-6 0.2 2.0 0.5 1.8 0.8 5.3 Guru-7 0.2 0.0 1.7 5.5 9.2 16.5 Guru-8 3.0 0.5 6.2 2.5 4.5 16.7 Guru-9 2.3 0.8 3.0 0.0 0.8 7.0 Guru-10 0.8 0.3 3.8 0.3 0.0 5.3 Calon guru-1 1.5 0.8 0.8 0.0 0.2 3.3 Calon guru-2 4.8 - 0.0 0.0 0.0 0.5 5.3 Calon guru-3 1.0 2.2 0.0 0.0 0.3 3.5 Calon guru-4 1.7 0.7 0.0 0.0 0.0 2.3 Calon guru-5 0.0 1.0 6.7 4.8 3.8 16.3 Rerata (menit) 1.1 0.7 2.5 2.0 1.9 8.3

(19)

Secara umum waktu yang digunakan guru/calon guru untuk membuka pelajaran adalah sekitar 8,3 menit. Alokasi waktu yang demikian cukup logis sebab pada umumnya alokasi waktu membuka yang direncanakan guru dalam perencanaan pembelajaran berkisar antara 5 - 1 0 menit. Namun demikian terdapat variasi yang cukup besar (dari 2,3 menit hingga 16,7 menit).

Analisis lebih rinci terhadap aspek-aspek membuka pelajaran menunjukkan bahwa alokasi untuk tiap aspek tidak terlalu jauh berbeda. Menggali pengetahuan awal siswa merupakan aspek membuka pelajaran yang paling sedikit dilakukan guru. Ditinjau dari pandangan konstruktivisme hal ini jelas menunjukkan bahwa pelajaran kurang menerapkan prinsip-prinsip konstruktivisme sebab salah satu ciri dasar pembelajaran yang konstruktivis adalah adanya usaha untuk mengaktifkan pengetahuan awal siswa (Widodo, 2004).

Secara umum terdapat sedikit perbedaan antara calon guru dan guru dalam hal alokasi waktu membuka pelajaran (Tabel 5.2 dan Tabel 5.3). Waktu yang digunakan oleh para guru dalam membuka pelajaran pada umumnya sedikit lebih panjang dibandingkan para calon guru. Kecuali calon guru-5, calon guru pada umumnya hanya mengguankan sedikit waktu saja untuk membuka pelajaran.

Tabel 5.2 Durasi setiap aspek dalam membuka pelajaran untuk guru

Pembelajaran

Durasi Aspek membuka pelajaran (menit)

Jumlah (menit) Pembelajaran Meninjau

kembali

Menggali

pengetahuan perhatian Menarik Memotivasi

Menjelaskan tujuan dan acuan Jumlah (menit) Guru-1 0.0 0.0 4.5 4.8 6.3 15.7 Guru-2 0.0 0.0 6.3 7.7 0.3 14.3 Guru-3 0.0 1.3 0.0 2.7 0.7 4.7 Guru-4 1.5 0.5 J . J 0.3 1.2 6.8 Guru-5 0.0 0.5 1.3 0.3 0.0 2.2 Guru-6 0.2 2.0 0.5 1.8 0.8 5.3 Guru-7 0.2 0.0 1.7 5.5 9.2 16.5 Guru-8 3.0 0.5 6.2 2.5 4.5 16.7 Guru-9 2.3 0.8 3.0 0.0 0.8 7.0 Guru-10 0.8 0.3 3.8 0.3 0.0 5.3 0.8 0.59 3.06 2.59 2.38 9.45

(20)

Tabel 5.3 Durasi setiap aspek dalam membuka pelajaran untuk calon guru Pembelajaran Durasi (menit) r 1 Jumlah ^mcnit) Pembelajaran Meniniau kembali M P I I P P H I i pengetahuan Mpnarilz I * I v l 1C11 1IV perhatian Memotivasi Menjelaskan tujuan dan acuan r 1 Jumlah ^mcnit) Calon guru-1 1.5 0.8 0.8 0.0 0.2 3.3 Calon guru-2 4.8 0.0 0.0 0.0 0.5 5.3 Calon guru-3 1.0 2.2 0.0 0.0 0.3 3.5 Calon guru-4 1.7 0.7 0.0 0.0 0.0 2.3 Calon guru-5 0.0 1.0 6.7 4.8 3.8 16.3 Rerata 1.8 0.94 1.5 0.96 0.96 6.14

Analisis lebih rinci terhadap aspek-aspek membuka pelajaran yang dilakukan guru dan calon guru menunjukkan bahwa banyak calon guru yang tidak berusaha menarik perhatian siswa ataupun memotivasi siswa untuk belajar. Pada guru-guru kedua aspek ini hampir senantiasa dilakukan. Hal ini mengindikasikan bahwa banyak calon guru yang belum menguasai cara-cara untuk menarik perhatian siswa dan memotivasi siswa.

5.1.2 Keterampilan menutup pelajaran

Hasil analisis terhadap keterampilan menutup pelajaran guru/calon guru disajikan dalam Tabel 5.4. Secara umum waktu yang digunakan guru/calon guru untuk menutup pelajaran berkisar 7,0 menit. Sekalipun tidak ada rumusan pasti tentang seberapa lama waktu yang harus dialokasikan untuk menutup pelajaran, namun secara umum 5-10 menit merupakan alokasi waktu yang cukup logis. Meskipun demikian apabila dikaji secara lebih rinci terlihat adanya variasi yang sangat besar. Ada guru yang menutup pelajaran dengan sangat tiba-tiba (hanya perlu waktu sekitar 0,5 menit) namun ada juga guru yang menutup pelajaran hingga 24 menit.

Analisis lebih lanjut terhadap aspek-aspek menuntup pelajaran menunjukkan bahwa guru dan calon guru hanya mengalokasikan sedikit waktu saja untuk "Menjelaskan bahan berikutnya" dan "Memberikan tugas". Hal ini mengindikasikan bahwa guru kurang memberikan arahan kepada siswa tentang apa yang akan mereka pelajari selanjutnya. Kegiatan "Mengevaluasi" juga merupakan aspek yang jarang dilakukan secara memadai oleh para guru dan calon guru.

(21)

Tabel 5. 4 Durasi menutup pelajaran yang teramati (menit)

Pembelajaran

Durasi aspek menutup pelajaran (menit)

Jumlah (menit) Pembelajaran IVlCIlgUIcto I c p m h n l i I \ v 1 J I L / t l 1 I Mengevaluasi Menjelaskan U a l l a l i UCI I K U U l y a Memberikan tugas Jumlah (menit) Guru-3 9 0 n ? U.Z n n u.u nu.u A 9 2 Guru-5 1 R 7 n n n 7 u.z A 7 u.z 18 5 Guru-9 6 0 i n 1 .u n n u.u A A U.U 7 0 Guru-10 4 7 n n u.u n n u.u A A U.U 4.7 Guru-11 0 0 0 0 U.U l n 1 .u 7 A Z . U 3.0 Guru 12 1 0 n i U . J A 7 U . J 2.5 Guru-13 U.U 0 s U . J n o u.u A A U.U 0.5 Calon mini-3 1 3 3 7 j . / 0 3 U . J n 7 u. / 6 0 Calon guru-4 1.7 0.0 0.3 0.0 2.0 Calon guru-5 6.3 17.0 0.3 0.5 24.2 Calon guru-6 0.3 0.0 0.0 0.0 0.3 Calon guru 7 1.2 3.0 0.3 0.2 4.7 Calon guru-8 7.7 0.0 0.3 0.2 8.2 Re rata 4.4 2.0 0.2 0.3 7.0

Analisis keterampilan menutup pelajaran guru dan calon guru menunjukkan bahwa waktu yang digunakan guru dan calon guru dalam menuntup pelajaran relatif sama (Tabel 5.5 dan Tabel 5.6)

Tabel 5. 5 Durasi menutup pelajaran yang dilakukan guru (menit)

Pembelajaran

Durasi aspek menutup pelajaran (menit)

Jumlah (menit) Pembelajaran Mengulas kembali Mengevaluasi menjelaskan bahan berikutnya memberikan tugas Jumlah (menit) Guru-3 9.0 0.2 0.0 0.0 9.2 Guru-5 18.2 0.0 0.2 0.2 18.5 Guru-9 6.0 1.0 0.0 0.0 7.0 Guru-10 4.7 0.0 0.0 0.0 4.7 Guru-11 0.0 0.0 1.0 2.0 3.0 Guru 12 0.8 1.0 0.3 0.3 2.5 Guru-13 0.0 0.5 0.0 0.0 0.5 Rerata 5.5 0.4 0.2 0.4 6.5

(22)

Tabel 5. 6 Durasi menutup pelajaran yang dilakukan calon guru (menit)

rCniUCIclJclI all

Durasi aspek menutup pelajaran (menit)

Jumlah (menit) rCniUCIclJclI all Mengulas

kembali Mengevaluasi menjelaskan bahan berikutnya memberikan tugas Jumlah (menit) (~*n\f\Ti onni-^ 1.3 3.7 0.3 0.7 £ n Calon guru-4 1.7 0.0 0.3 0.0 2.0 Calon guru-5 6.3 17.0 0.3 0.5 24.2 Calon guru-6 0.3 0.0 0.0 0.0 0.3 Calon guru 7 1.2 3.0 0.3 0.2 4.7 Calon guru-8 7.7 0.0 0.3 0.2 8.2 Re rat a 3.1 3.9 0.3 0.3 7.6

Salah satu perbedaan yang mencolok antara guru dan calon guru adalah dalam hal mengevaluasi, namun hal ini lebih dikarenakan adanya seorang calon guru yang melakukan evaluasi dengan cukup lama. Tiga dari enam pembelajaran yang diamati tidak terdapat kegiatan mengevaluasi di akhir pelajaran. Tidak adanya perbedaan yang berarti antara guru dan calon guru menunjukkan bahwa pengalaman mengajar tidak identik dengan bertambahnya kompetensi guru dalam menutup pelajaran.

5.1.3 Keterampilan bertanya

Analisis interaksi verbal dalam pembelajaran menunjukkan bahwa guru banyak mengajukan pertanyaan (Tabel 5.7). Analisis terhadap jenis pertanyaan yang diajukan guru menunjukkan bahwa sebagian besar pertanyaan yang diajukan guru adalah pertanyaan tertutup (pertanyaan yang jawabannya pasti). Kondisi ini menunjukkan bahwa pertanyaan-pertanyaan yang diajukan guru hanyalah pertanyaan yang jawabannya pasti dan kurang mendorong siswa untuk berpikir.

(23)

Tabel 5.7 Jenis pertanyaan yang diajukan guru dan calon guru dalam pembelajaran

Pembelajaran Jenis pertanyaan Jumlah

pertanyaan Pembelajaran

Pertanyaan tertutup Pertanvann teritulffl

ft V. l | H | J J * * I I i v l l Jumlah pertanyaan Guru-1 28 13 41 Guru-3 75 10 35 Guru-5 28 75 53 Guru-6 54 4 58 Guru-7 i y J 7 22 Guru-8 71 77 z / 98 Guru-9 49 77 Z / 76 Guru-10 1 7 1 7 1 J 30 Guru-11 147 0^ 242 Guru-12 77 z z i n 1U 32 Guru-13 100 l \J\J D 1 151 1 «-/ ft Calon guru-1 80 16 96 Calon guru-2 87 5 92 Calon guru-3 84 11 95 Calon guru-4 36 22 58 Calon guru-7 134 4 138 Re rata 61 21 82

Dari segi jumlah jumlah pertanyaan yang diajukan guru lebih sedikit dibandingkan pertanyaan yang diajukan calon guru (Tabel 5.8 dan Tabel 5.9). Dari sisi jenis pertanyaan, pertanyaan yang diajukan oleh calon guru sebagian besarnya adalah pertanyaan tertutup. Kalau pada guru proporsi pertanyaan tertutup dan terbuka berkisar 2:1, pada calon guru proporsinya sekitar 7:1. Hal ini jelas menunjukkan bahwa calon guru masih sangat lemah dalam hal keterampilan bertanya, terutama dalam mengajukan pertanyaan terbuka.

(24)

Tabel 5.8 Jenis pertanyaan yang diajukan guru dalam pembelajaran

Pembelajaran Jenis pertanyaan Jumlah

pertanyaan Pembelajaran

Pertanyaan tertutup Pertanyaan terbuka

Jumlah pertanyaan Guru-1 28 13 41 Guru-3 25 10 35 Guru-5 28 25 53 Guru-6 54 4 58 Guru-7 19 3 22 Guru-8 71 27 98 Guru-9 49 27 76 Guru-10 17 13 30 Guru-11 147 95 242 Guru-12 22 10 32 Guru-13 100 51 151 Rerata 51 25 76

Tabel 5.9 Jenis pertanyaan yang diajukan calon guru dalam pembelajaran

Pembelajaran Jenis pertanyaan Jumlah pertanyaan Pembelajaran Pertanyaan tertutup Pertanyaan terbuka Jumlah pertanyaan Calon guru-1 80 16 96 Calon guru-2 87 5 92 Calon guru-3 84 11 95 Calon guru-4 36 22 58 Calon guru-7 134 4 138 Rerata 84 12 96

5.2 Alternatif treatment seperti untuk mengatasi kelemahan guru/calon guru

Sebagaimana disajikan pada bagian sebelumnya ternyata bahwa banyak guru dan calon guru yang masih relatif lemah dalam tiga keterampilan dasar mengajar (membuka pelajaran, menutup pelajaran, dan. mengajukan pertanyaan). Analisis literatur tentang program pengembangan profesionalisme guru (Adey, Hewitt, Hewitt, & Landau, 2004,

(25)

Fischler, 2004; Fischler & Schroder, 2003) menunjukkan pentingnya coaching untuk membantu pengembangan profesionalisme guru.

Berdasarkan temuan sebagaimana dibahas pada Bagian 5.1 dan literatur maka dirancang sebuah altematif treatment dalam bentuk paket program coaching berbasis video. Untuk keperluan tersebut maka dilakukan langkah-langkah sebagai berikut.

1. Memilih sejumlah cuplikan video pembelajaran yang akan digunakan untuk coaching. Untuk keperluan ini dilakukan pemotongan sejumlah video pembelajaran tentang membuka dan menutup pelajaran.

2. Menata cuplikan-cuplikan video yang telah dipilih menjadi suatu paket coaching. 3. Meminta coachee untuk mengamati dan mengomentari video yang diamati, serta

memberikan skor.

4. Coach dan coachee mendiskusikan hasil pengamatan coachee 5. Meminta coachee untuk merefleksikan praktik mengajarnya. 6. Mendiskusikan alternatif perbaikan yang bisa dilakukan coachee.

7. Mengamati praktik mengajar coachee.

53 Pengembangan paket program coaching berbasis video 53.1 Blueprint paket program coaching berbasis video

Blueprint paket program coaching yang telah dikembangkan terdiri dari sebuah software yang bisa digunakan oleh coachee untuk menganalisis video dan menuliskan komentar serta beberapa cuplikan video pembelajaran yang telah dipilih. Software yang dikembangkan diberi nama "Video analyzer" (lihat Gambar 2).

(26)

Gam bar 2. Tampilan paket program coaching berbasis video

Keterangan:

1. Tombol untuk membuka file video 2. Tombol keluar program video analyzer 3. Jendela tampilan video

4. Identitas file video

5. Identitas penganalisis

6. Tombol untuk menjalankan dan memberhentikan video 7. Tombol untuk memperbesar tampilan video

8. Tombol untuk menyimpan hasil analisis apabila telah selesai 9. Penunjuk durasi video dan alur waktu putaran video

10. Kolom untuk mencantumkan nilai hasil analisis setiap aspek 11. Kolom jenis aspek yang dikomentari/dinilai

(27)

Paket program coaching yang telah dikembangkan telah diujicobakan penggunaannya kepada mahasiswa, guru pemula dan guru yang cukup berpengalaman. Dalam uji coba ini kepada responden disajikan sejumlah cuplikan video pembelajaran untuk kegiatan membuka dan menutup pelajaran. Selanjutnya responden diminta untuk memberikan komentar terhadap kegiatan pembelajaran tersebut serta memberikan nilai. Sekalipun dalam kegiatan ini responden diminta untuk memberikan komentar dan nilai, namun tujuan sesungguhnya adalah agar responden dapat mengidentifikasi kelemahan dan kelebihan dirinya dan sekaligus mendapatkan ide tentang bagaimana guru-guru lain mengajar. Ringkasan komentar coachee dan coach tentang kegiatan membuka dan menutup pelajaran dapat dilihat pada Tabel 5.10.

Dari Tabel 5.10 tidak terlihat ada perbedaan yang mencolok antara komentar yang diberikan oleh calon guru, guru pemula, maupun guru yang berpengalaman. Hal ini menunjukkan bahwa mereka pada dasarnya telah memiliki pemahaman yang cukup memadai tentang aspek-aspek apa saja yang semestinya dilakukan guru pada saat membuka dan menutup pelajaran. Meskipun demikian coachee pada umumnya hanya terfokus pada muncul atau tidaknya suatu komponen membuka dan menutup pelajaran dan kurang memperhatikan kecukupan. Bisa saja seorang guru menampilkan semua komponen membuka dan menutup pelajaran namun waktunya sangat singkat atau sangat lama.

(28)

Tabel 5.10 Ringkasan komentar coachee dan coach tentang video pembelajaran Video

Pembelajaran

Komentar Komentar coach

Video

Pembelajaran Calon guru Guru pemula Guru Komentar coach

CG2 Keterampilan guru untuk menarik perhatian siswa sangat kurang, selain itu guru juga tidak menginformasikan

bahan acuan kepada para siswa. Namun demikian guru telah berusaha memotivasi siswa dan mengaitkan materi yang akan dibelajarkan dengan materi ajar sebelumnya

Keterampilan guru untuk menarik perhatian siswa sangat kurang, selain itu guru juga tidak

menginformasikan bahan acuan kepada para siswa. Namun demikian guru telah berusaha memotivasi siswa dan mengaitkan materi yang akan dibelajarkan dengan materi ajar sebelumnya

Keterampilan guru untuk menarik perhatian siswa sangat kurang, selain itu guru juga tidak

menginformasikan bahan acuan kepada para siswa. Namun demikian guru telah berusaha

memotivasi siswa dan mengaitkan materi yang akan dibelajarkan dengan materi ajar sebelumnya

Guru lebih banyak mengulas materi

bCUCl ulllliy a (Jail KClllUUlall memberikan tugas untuk dikerjakan. Aspek membuka pelajaran yang lain tidak muncul dalam pelajaran ini.

G4 Guru telah menunjukkan keterampilan yang memadai dalam usaha menarik perhatian siswa, memotivasi

C I C A X / O Hon mpnfroltVon m n t ^ n

MoWd Hull IHCllgulLlNull HluLCl 1 yang akan dibelajarkan dengan materi ajar sebelumnya. Namun guru tidak menginformasikan bahan acuan kepada siswa

Guru telah menunjukkan keterampilan yang memadai dalam usaha menarik perhatian siswa, memotivasi

cictx/9 Htin mpnopitl^an

oiovvd uuu mciigtiiirvaii materi yang akan

dibelajarkan dengan materi ajar sebelumnya. Namun guru tidak

menginformasikan bahan acuan kepada siswa

Guru telah menunjukkan keterampilan yang memadai dalam usaha menarik perhatian siswa,

m Am estiva c i cicu/fl Han

mengaitkan materi yang akan dibelajarkan dengan materi ajar sebelumnya. Namun guru tidak

menginformasikan bahan acuan kepada siswa

Guru berusaha mengulas

mofpri c p h p l n m n v o Hon inoo

I U C U J V I * jCUClunui V il U C U I J U&c*

menggali pengetahuan awal siswa. Guru juga

menginformasikan kegiatan yang akan dilakukan. Usaha guru untuk menarik

perhatian siswa juga sudah cukup baik

G7 Guru telah menunjukkan keterampilan yang memadai dalam hal menarik perhatian siswa, memotivasi siswa,

Guru telah menunjukkan keterampilan yang memadai dalam hal menarik perhatian siswa, memotivasi siswa,

Guru telah menunjukkan keterampilan yang memadai dalam hal menarik perhatian siswa,

Aspek-aspek membuka pelajaran pada dasarnya sudah terpenuhi. Guru telah berusaha membangkitkan

(29)

Video Pembelajaran

Komentar Komentar coach

Video

Pembelajaran Calon guru Guru pemula Guru Komentar coach

mengaitkan materi yang akan dibelajarkan dengan materi sebelumnya dan guru juga menginformasikan bahan acuan kepada siswa

mengaitkan materi yang akan dibelajarkan dengan materi sebelumnya dan guru juga menginformasikan

bahan acuan kepada siswa

memotivasi siswa, mengaitkan materi yang akan dibelajarkan dengan materi sebelumnya dan gurujuga

menginformasikan bahan acuan kepada siswa

motivasi belajar siswa. Guru juga berusaha mengaitkan pelajaran dengan pelajaran yang lalu. Sayangnya pembukaan cenderung terlalu lama dan lambat.

G l Guru telah menunjukkan keterampilan dalam menarik perhatian siswa dan

memotivasi siswa. Selain itu guru juga memberikan bahan acuan kepada siswa, namun guru tidak berusaha untuk mengaitkan materi yang akan dibelajarkan dengan materi sebelumnya.

Guru telah menunjukkan keterampilan dalam menarik perhatian siswa dan

memotivasi siswa. Selain itu guru juga memberikan bahan acuan kepada siswa, namun guru tidak berusaha untuk mengaitkan materi yang akan dibelajarkan dengan materi sebelumnya.

Guru telah menunjukkan keterampilan dalam menarik perhatian siswa, memotivasi siswa dan mengaitkan materi yang akan dibelajarkan dengan materi sebelumnya. Namun guru tidak

menginformasikan bahan acuan kepada siswa

Guru telah berusaha menarik perhatian siswa. Guru juga telah berusaha menggali pengetahuan awal siswa dengan meminta siswa ke depan

mengelompokkan. Guru juga menginformasikan

kegiatan yang akan dilakukan.

MENUTUP PELAJAJR A N CG3 Ketika menutup kegiatan

belajar mengajar, guru meninjau kembali materi yang telah dibelajarkan. Selain itu guru

menginformasikan materi ajar berikutnya, memberikan tugas kepada siswa dan melakukan evaluasi.

Ketika menutup kegiatan belajar mengajar, guru meninjau kembali materi yang telah dibelajarkan. Selain itu guru

menginformasikan materi ajar berikutnya, memberikan tugas kepada siswa dan melakukan evaluasi.

Ketika menutup kegiatan belajar mengajar, guru meninjau kembali materi yang telah dibelajarkan. * Selain itu guru

memberikan tugas kepada siswa dan melakukan evaluasi.

Guru berusaha meninjau kembali pelajaran dengan melakukan evaluasi lisan. Materi dan tugas

selanjutnyajuga dikomunikasikan

(30)

Video Pembelajaran

Komentar Komentar coach

Video

Pembelajaran Calon guru Guru pemula Guru Komentar coach

CGI Ketika menutup kegiatan belajar mengajar, guru meninjau kembali materi yang telah dibelajarkan. Selain itu guru

menginformasikan materi ajar berikutnya, memberikan tugas kepada siswa dan melakukan evaluasi

Guru tidak meninjau kembali materi yang telah dibelajarkan ketika

mengahiri kegiatan belajar mengajar. Namun demikian guru telah

menginformasikan bahan ajar berikutnya, memberikan tugas kepada siswa dan melakukan evaluasi

Ketika menutup kegiatan belajar mengajar, guru meninjau kembali materi yang telah dibelajarkan. Akan tetapi guru tidak menginformasikan materi ajar berikutnya. Namun demikian guru telah memberikan tugas kepada siswa dan melakukan evaluasi

Guru telah berusaha

meninjau kembali pelajaran denagn melakukan evaluasi lisan. Bahan dan tugas untuk pertemuan selanjutnya hanya diinfornasikan secara sangat singkat.

G12 Ketika menutup kegiatan belajar mengajar, guru meninjau kembali materi yang telah dibelajarkan, menginformasikan bahan berikutnya, memberikan tugas dan melakukan evaluasi

Ketika menutup kegiatan belajar mengajar, guru meninjau kembali materi yang telah dibelajarkan. Namun guru tidak

menginformasikan bahan berikutnya, tidak

memberikan tugas dan tidak melakukan evaluasi

Ketika menutup kegiatan belajar mengajar, guru meninjau kembali materi yang telah dibelajarkan. Namun guru tidak

menginformasikan bahan berikutnya, tidak

memberikan tugas dan tidak melakukan evaluasi

Guru telah membantu siswa untuk menyimpulkan kegiatan yang telah dilakukan. Guru tidak melakukan evaluasi

maupun menginformasikan bahan dan tugas

selanjutnya. G i l Ketika menutup kegiatan

belajar mengajar, guru tidak meninjau kembali materi yang telah dibelajarkan. Guru menginformasikan bahan berikutnya dan memberikan tugas kepada siswa, namun

guru tidak melakukan evaluasi

Ketika menutup kegiatan belajar mengajar, guru tidak meninjau kembali materi yang telah dibelajarkan dan tidak menginformasikan bahan berikutnya. Guru memberikan tugas kepada siswa, namun tidak melakukan evaluasi

Ketika menutup kegiatan belajar mengajar, guru tidak meninjau kembali materi, tidak

menginformasikan bahan berikutnya, dan

mengevaluasi. Guru memberikan tugas kepada siswa.

Kegiatan menutup pelajaran terkesan sangat mendadak. Tidak ada kesempatan untuk membahas apa yang telah dilakukan. Guru telah menginformasikan tugas yang harus dilakukan.

(31)

5.3.2 Pengujian blueprint paket program coaching

Untuk keperluan perbaikan paket program coaching, telah dijuga dilakukan pengkajian terbatas terhadap kualitas paket program coaching tersebut. Hasil penilaian responden terhadap program coaching yang dikembangkan menunjukkan bahwa paket program coaching tersebut sudah bisa dipakai walaupun masih ada beberapa kelemahan (lihat

Tabel 5.11).

Tabel 5.11 Skor komentar responden tentang paket program coaching

INO. Item Penilai rerata

INO. Item 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 Kualitas tampilan Kontras Warna 4 4 4 4 4 3 4 4 3 4 3.8 Ukuran Huruf 4 4 4 5 4 4 4 4 3 4 4 Keterbacaan 4 4 4 4 5 4 4 4 4 4 4.1 Latar Belakang 4 *> j 3 3 4 3 4 4 3 3 3.4 Tata Letak 3 3 *> J 3 4 4 4 4 3 4 3.5 2 Kualitas Video Kontras Gambar 4 3 4 4 3 3 3 3 3 ^ 3.3 Kualitas Suara i 3 5 4 J 5 j 2 3 Kecerahan 3 3 3 4 4 3 3 3 3 3 3.2 3 Icon (Lambang) Ukuran J 3 4 4 4 4 3 4 4 3.6 Kesesuaian 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3.9 4 Ruang/Bidang Komentar Kemudahan Mengisi 3 J 4 3 4 4 3 4 *> J 3.4 Keleluasaan Menulis J -» J J 4 4 4 4 -> J 4 4 3.6 5 Perekaman Biodata 4 4 5 3 5 4 4 *•> 5 4 4.1 6 Operasional Penggunaan Kemudahan 3 3 3 4 5 4 *> 3 4 4 3.6 Kelengkapan Petunjuk 4 4 4 4 4 ~* j *•» J 4 3.6 Rerata 3.6

Tabel 5.11 menunjukkan bahwa secara umum paket program coaching yang telah dikembangkan sudah cukup baik (rata-rata skor 3,6 dari skor maksimum 5). Kualitas video dan ruang penulisan komentar merupakan aspek yang masih perlu diperbaiki mengingat skor untuk hal-hal tersebut masih relatif rendah. Karena beberapa kendala, ada beberapa video yang kualitas gambar atau suaranya kurang baik. Gambaran umum komentar para responden tentang paket program coaching dirangkum dalam Tabel 5.12.

(32)

Tabel 5.12 Komentar responden tentang paket program coaching

No. Item Komentar

1 Kualitas tampilan Kontras Warna Ukuran Huruf Keterbacaan Latar Belakang Tata Letak

Secara umum, sudah cukup baik dan kualitas

tampilannya lumayan, tetapi warnanya yang abu-abu kurang menarik.

2 Kualitas Video

Kontras Gambar Kualitas Suara Kecerahan

Ada sebagian video yang gambar gelap, kurang jelas dan buram, suara kurang jelas dan kecerahannya juga kurang.

3 Icon (Lambang)

Ukuran Kesesuaian

Sudah cukup baik, menarik dan sesuai dengan luas tampilan dan mudah dibaca.

4 Ruang/Bidang Komentar

Kemudahan Mengisi Keleluasaan Menulis

Sudah cukup baik, mudah dan jelas. Ruang untuk menulis komentar membuat pengamat lebih leluasa untuk memberikan komentar

5 Perekaman Biodata Sudah cukup baik, jelas dan memudahkan dalam pengisian

6 Operasional Penggunaan

Kemudahan

Kelengkapan Petunjuk

Kemudahan penggunaan software sudah cukup baik, tetapi petunjuk pengisian masih kurang

Komentar responden tentang kualitas paket program coaching juga menunjukkan bahwa paket tersebut secara umum sudah bisa digunakan untuk coaching walaupun ada beberapa aspek yang masih perlu perhatian, misalnya kualitas video, tampilan, dan petunjuk pengoperasian.

5.3.3 Manfaat paket program coaching

Perubahan dalam mengajar bukanlah sesuatu yang mendadak namun merupakan sebuah proses. Agar seorang guru lebih baik praktik mengajarnya diperlukan beberapa proses, yaitu:

1. Guru menyadari menyadari bahwa ada kelemahan dalam dirinya yang perlu diperbaiki.

2. Ada ide tentang bagaimana memperbaikinya kelemahan yang dimiliki. 3. Ada motivasi yang kuat untuk untuk meningkatkan kemampuan diri

(33)

4. Ada dukungan yang memadai untuk menerapkan usaha perbaikan tersebut.

Poin 1-3 merupakan hal-hal yang dapat dicapai dengan coaching berbasis video ini sedangkan poin ke-4 dipengaruhi oleh kondisi sekolah dan beberapa faktor terkait.

Untuk mengukur kemanfaatan paket program coaching terkait poin 1-3, coachee responden yang telah menggunakan paket program coaching diminta untuk memberikan komentar. Secara umum terungkap bahwa paket program coaching yang telah dikembangkan bisa memenuhi kondisi sebagaimana tercantum pada poin 1-3 (Tabel 5.13). Satu-satunya aspek yang dirasa kurang bermanfaat adalah dalam membantu coachee untuk menemukan kelebihan yang dimilikinya.

Tabel 5.13 Manfaat paket program coaching bagi coachee

No Aspek Coachee Rata-rata

No Aspek

CG GP GL

Rata-rata

1 Menemukan kelemahan/kekurangan Anda dalam hal mengelola waktu

3,0 3,0 4,0 3,4

2 Menemukan kelemahan/kekurangan Anda dalam hal mengelola kelas

3,0 3.3 4.0 3.5

3 Menemukan kelemahan/kekurangan Anda dalam hal mengelola media pembelajaran

3,0 3.3 3.8 3.4

4 Menemukan kelemahan/kekurangan Anda dalam hal keterampilan membuka pelajaran

3,0 3,5 4,0 3,6

5 Menemukan kelemahan/kekurangan Anda dalam hal keterampilan menutup pelajaran

3,0 3,3 4,0 3,5

6 Mengenali kelemahan/kekurangan Anda dalam penguasaan materi

2,7 3,3 3,7 3,2

7 Menyadari kelebihan Anda dalam melaksanakan pembelajaran

2,3 3,0 3,3 2,9

8 Menemukan gagasan baru untuk perbaikan pembelajaran

3,3 3,7 3,8 3,6

9 Menemukan gagasan baru untuk mengatasi kelemahan/kekurangan Anda

3,0 3,5 4,0 3,6

10 Membangkitan motivasi diri untuk

senantiasa melakukan perbaikan diri dalam melaksanakan proses pembelajaran

(34)

1 1

11 Membangkitkan keinginan untuk melanjutkan studi

A A

4,0 A O 2,8 3,0 3,1

1 o

12 Membangkitkan keinginan Anda untuk mengikuti forum ilmiah guru (misalnya seminar pertemuan MGMP)

1 A

3,0

A O

2,8 3,5 3,1

13 Meningkatkan kemampuan diri melalui baca buku yang berkaitan dengan proses belajar mengajar

3,0 3,0 3,5 3,2

14 Membangkitkan keinginan untuk melakukan penelitian

3,3 3,0 3,8 3,4

15 Membangkitkan kembali keinginan Anda untuk melakukan perbaikan dalam pembelajaran

3,7 3,5 4,0 3,7

16 Memberikan dorongan bagi Anda untuk merealisasikan ide yang Anda miliki

3,0 3,0 4,0 3,4

17 Memberikan tantangan bagi Anda untuk menjadi guru yang lebih profesional

4,0 3,3 4,0 3,7

Rata-rata 3,2 3,2 3,8 3,4

Keterangan:

CG = Calon Guru (mahasiswa yang sudah berlatih mengajar dalam peer teaching) GP = Guru Pemula (lulusan baru yang belum mengajar)

GL = Guru Berpengalaman (guru yang sudah berpengalaman mengajar beberapa tahun)

Adanya perbedaan rata-rata skor antara calon guru dan guru pemula di satu sisi dengan guru yang sudah berpengalaman di sisi lain menunjukkan bahwa paket program coaching ini memberikan manfaat lebih banyak bagi guru dibandingkan calon guru ataupun guru pemula. Pengalaman nyata dalam menghadapi problematika pembelajaran di lapangan tampaknya memberikan kesadaran bagi guru-guru untuk lebih meningkatkan kemampuan mengajarnya.

(35)

BAB V I

K E S I M P U L A N DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis data yang dikumpulkan dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut.

Pertama, dari tiga jenis keterampilan dasar mengajar (keterampilan membuka pelajaran, keterampilan menutup pelajaran, dan keterampilan bertanya), calon guru dan guru ternyata masih lemah. Dalam membuka pelajaran baik calon guru maupun guru sangat jarang menggali pengetahuan awal siswa. Khusus untuk calon guru mereka juga lemah dalam memotivasi siswa dan menarik perhatian siswa. Untuk kegiatan menutup pelajaran, baik calon guru maupun guru jarang melakukan evaluasi, menginformasikan materi selanjutnya, dan tugas-tugas yang harus dilakukan. Terkait keterampilan bertanya, calon guru ternyata masih sangat lemah dalam keterampilan mengajukan pertanyaan terbuka.

Kedua, hasil kajian literatur yang dilakukan mengarahkan akan perlunya coaching sebagai salah satu alternatif pengembangan profesionalisme guru. Berbeda dari program-program peningkatan profesionalisme yang telah ada, coaching berbasis video bersifat lebih personal (sehingga bisa memenuhi kebutuhan guru yang beragam) dan kontekstual (sesuai dengan permasalahan yang dihadapi guru di lapangan).

Ketiga, paket program coaching yang telah dikembangkan sudah dapat digunakan walaupun masih memerlukan beberapa penyempurnaan. Beberapa hal yang masih perlu penyempurnaan antara lain adalah kualitas video, tampilan, dan petunjuk pengoperasian. Uji coba terbatas yang telah dilakukan menunjukkan bahwa paket program coaching tersebut bisa membantu coachee (terutama guru) untuk menyadari kelemahan dalam dirinya yang perlu diperbaiki, mendapatkan ide untuk memperbaikinya kelemahan yang dimiliki, dan memotivasi mereka untuk meningkatkan kemampuan diri. Namun demikian coachee belum bisa menemukan kelemahan video pembelajaran yang diamati dari sisi kecukupan waktu untuk setiap aspek penting dalam membuka dan menutup pelajaran.

(36)

6.2 Saran

Berdasarkan temuan-temuan yang telah diperoleh, ada beberapa saran yang perlu dilakukan.

Pertama, software yang telah dikembangkan (Videoanalyzer) perlu lebih disempurnakan sehingga lebih user friendly dan bisa lebih fleksibel dalam pemberian komentar. Komentar dan skor yang diberikan coachee hendaknya bisa langsung terorganisir dalam database sehingga coachee bisa dengan mudah memaknai hasil komentarnya. Dalam software tersebut hendaknya juga dilengkapi dengan pesan coach, sehingga coachee bisa membukanya apabila diperlukan.

Kedua, video yang digunakan hendaknya dipilih video yang betul-betul bagus kualitasnya baik dari sisi gambar maupun suara. Selain itu agar coachee punya informasi yang lebih lengkap perlu juga diberikan video pembelajaran biologi yang "diharapkan". Agar paket program coaching lebih mengena perlu juga disajikan video pembelajaran yang berasal dari calon guru dalam peer teaching.

Ketiga, uji coba paket program coaching perlu terus dilakukan dengan subjek yang semakin banyak dan semakin beragam, misalnya guru SD, dosen, dan widyaiswara. Dengan demikian akan diperoleh masukan yang semakin banyak untuk perbaikan-perbaikan.

(37)

D A F T A R PUSTAKA

Adey, P., Hewill, G., Hewitt, J. & Landau, N . (2004). The professional development of teachers: Practice and theory. Dordrecht: Kluwer Academic Publishers.

Borg, W. R., & Gall, M . D. (1989). Educational Research: An Introduction. New York: Longman.

Clarke, D. (2001). Teaching/Learning. In D. Clarke (Ed.), Perspectives on Practice and Meaning in Mathematics and Science Classrooms (pp. 291-320). Dordrecht: Kluwer Academic Publishers.

Cooper, B. S., Sarrel, R., Darvas, P., Alfano, F., Meier, E., Samuels, J., et al. (1994). Making money matter in education: A micro-financial model for determining school-level allocations, efficiency, and productivity. Journal of Educational Finance, 20, 66-87.

Davis, K. S. (2003). "Change is hard": What science teachers are telling us about reform and teacher learning of innovative practices. Science and Education, #7(1), 3-30. 1/ Duit, R., Euler, M . , Friege, G., Komorek, M . , & Mikelskis-Seifert, S. (2003). Physik im

Kontext. Ein Programm zur Verbesserung der naturwissenschaftlichen Grundbildung durch Physikunterricht [Physics in Context - A program to improve scientific literacy in physics instruction]. Occational Paper. IPN Kiel - Germany. v Duit, R., Widodo, A., & Mueller, C. (2007). Conceptual change ideas - Teachers' views

and their instructional practice. In S. Vosniadou (Ed.). Advances in Learning and Instruction, (in print)

L Fischler, H. (2004). Grundsaetze fachdidaktischen Coachings [Dasar-dasar coaching untuk pendidikan bidang studi]. In A. Pitton (Ed.), Chemie- undphysikdidaktische Forschung und naturwissenschaftliche Bildung (pp. 176-178). Muenster: L I T Verlag.

Fischler, H., & SchrOder, H.-J. (2003). Fachdidaktisches coaching fiir Lehrende in der Physik [Subject-related coaching for physics teachers]. Zeitschrift fiir Didaktik der Natunvissenschaften, 9, 43-62.

Fischler, H., Schroeder, H.-J., Tonhaeuser, C , & Zedler, P. (2002). Unterrichtssckripts und Lehrerexpertise: Bedingungen ihrer Modifikation. Zeitschrift fur Paedagogik, 45, 157-172.

Good, T. L., & Brophy, J. E. (1978). Looking in Classrooms. New York: Harper & Row Publishers.

«, Haney, J. J., & McArthur, J. (2002). Four case studies of prospective science teachers' beliefs concerning constructivist teaching practices. Science and Education, 86, Hewson, P. W., Tabachnick, B. R., Zeichner, K. M . , & Lemberger, J. (1999). Educating

prospective teachers of biology: Findings, limitations, and recommendations. Science Education, 83(3), 373-384.

Hinduan, A. A . (2005). Meningkatkan Profesionalisme Guru IPA Sekolah. Paper presented at the Seminar Nasional Himpunan sarjana dan Pemerhati pendidikan Indonesia, Bandung.

Labudde, P., Gerber, B., & Knierim, B. (2003). Integrated science in a constructivist oriented approach: Between vision and reality. Paper presented at the ESERA. Mellado, V. (1998). The classroom practice of preservice teachers and their conceptions

of teaching and learning. Science Education, 82, 197-214.

OECD/UNESCO-UIS. (2003). Literacy Skills for the World of Tomorrow: Further results from PISA 2000: OECD/UNESCO-UIS (http://www 1 .oecd.org/publications).

(38)

Parchmann, I., Graesel, C , & Fey, A. (2004). Kooperation von Praxis und Forschung. In A. Pitton (Ed.), Chemie- und physikdidaktische Forschung und naturwissenschaftliche Bildung. Muenster: L I T Verlag.

Pintrich, P. R., Marx, R. W., & Boyle, R. A. (1993). Beyond cold conceptual change: The role o f motivational beliefs and classroom contextual factors in the process o f conceptual change. Review of Educational Research, (55(2), 167-199.

Prenzel, M . , Duit, R., Euler, M . , & Lehrke, M . (1999). Lehr-Lern-Prozesse im Physikunterricht: Eine Videostudie. Projektantrag an die DFG [Teaching and learning processes in physics: A video study. Application for funding a project sent to the German Sciece Foundation]. Kiel: IPN - Institute for Science Education.

Rimmele, R. (2004). The Videograph: A Videoanalyses Program: Leibniz Institute for Science Education, Kiel, Germany. http://www.ipn.uni-kiel.de/aktuell/videograph/htmStart.htm.

Schroder, H.-J., & Fischler, H . (2003). Subject-related pedagogical coaching: A case study. Paper presented at the ESERA Conference, Noordwijkerhout, The Netherlands.

Schroeder, H.-J., & Fischler, H. (2004). Fachdidaktisches Coaching: Methoden der Beratung an einem Fallbeispliel. In A . Pitton (Ed.), Chemie- und physikdidaktische Forschung und naturwissenschaftliche Bildung (pp. 179-181).

Muenster: LIT Verlag.

Stigler, J. W., Gonzales, P., Kanakawa, T., Knoll, S., & Serrano, A . (1999). The TIMSS Videotape Classroom Study: Methods and findings from an exploratory research project on eight-grade mathematics instruction in Germany, Japan, and the

United States. U.S. Department o f Education, National Center for Education Statistics (1999NCES 99-074). Washington, D C : U.S. Government Printing Office (http://nces.ed.gov/timss).

Stigler, J. W., & Hiebert, J. (1999). The Teaching Gap. New York: The Free Press.

Tim-PPM-FPMIPA-IKIP-Bandung. (1998). Pemantapan Rancangan Penelitian A^/as.Unpublished manuscript, Bandung.

Widodo, A. (2004a). Constructivist Oriented Lessons: The learning environment and the teaching sequences. Frankfurt: Peter Lang.

!/ Widodo, A. (2004b). Videos of lessons: A mean to understand classroom reality and a

resource to improve science lessons. ISTECS, 5, 65-73.

Widodo, A. (2005). Analisis Pembelajaran Biologi dengan Menggunakan video. Paper disajikan dalam Seminar Nasional Himpunan Sarjana dan Pemerhati Pendidikan IPA Indonesial, Bandung.

[ Widodo, A. & Erni Yuliah. (2005). Analisis Struktur Penyajian materi Sains (Biologi) di Sekolah Menengah Pertama. (in press)

Widodo, A., & Nurhayati, L. (2005). Tahapan Pembelajaran yang Konstruktivis: Bagaimanakah Pembelajaran Sains di Sekolah? Paper disajikan dalam Seminar Nasional Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam, Bandung.

J Widodo, A. & Sintya Pujiastuti. (2005). Analisis Pertanyaan dalam Proses Pembelajaran Sains (Biologi) di Sekolah Menengah Pertama (in press)

VWidodo, A. & Vidia Ramdhaningsih. (2006). Analisis kegiatan Praktikum Biologi dengan menggunakan video. Metalogika, 9(2). 146-158.

l/Widodo, A. Riandi, Amprasto & Ana Ratna Wulan. (2006). Analisis dampak program-program peningkatan profesionalisme guru sains terhadap peningkatan kualitas pembelajaran sains di sekolah. Laporan penelitian Hibah Kebijakan Balitbang Depdiknas.

(39)

/

/

Widodo, A. Unang Sumarno, Mimin Nurjhani & Riandi. (2006). Peranan lesson study dalam peningkatan kemampuan mengajar mahasiswa calon guru. Laporan penelitian Hibah Kompetitif UPI.

Widodo, A. (2006). Profil pertanyaan guru dan siswa dalam pembelajaran sains. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran. 4(2), 139-148.

(40)
(41)

L A M P I R A N 1

Format Penilaian Software Pembelajaran Petunjuk:

Nyatakan penilaian anda dengan member tanda V pada kolom yang sesuai, terhadap item -item di bawah ini, dengan kriteria sebagi berikut:

Penilaian

1 2 3 4 5

Sangat jelek Jelek Sedang Baik Sangat Baik

No Item Penilaian Komentar

1 2 3 4 5 1 Kualitas tampilan Kontras wama Ukuran huruf XT A 1 Keterbacaan Latar belakang Tata letak 2 Kualitas video Kontras gambar rvUalllao Midi a Kecerahan 3 Icon (iambang) Ukuran Kesesuaian 4 Ruang/bidang komentar Kemudahan mengisi Keleluasaan menulis 5 Perekaman biodata 6 Operasional Penggunaan Kemudahan Kelengkapan petunjuk Catatan:

Judul file video yang dianalisis:

I. 2. 3. 4. 5. 6.

(42)

LA MP I RAN 2

A N G K E T M A N F A A T P A K E T P R O G R A M COACHING

Anda telah mengamati dan memberikan komentar terhadap beberapa video pembelajaran biologi. Sebagai calon guru/guru, seberapa bermanfaat pengalaman menyaksikan video tersebut terhadap hal-hal berikut? Berilah tanda V pada kolom yang sesuai untuk tiap-tiap pernyataan.

SS = Sangat setuju S = Setuju TS = Tidak Setuju

STS = Sangat Tidak Setuju

No Pernyataan Pendapat

No Pernyataan

SS S TS STS

1 Menemukan kelemahan/kekurangan Anda dalam • hal mengelola waktu

2 Menemukan kelemahan/kekurangan Anda dalam hal mengelola kelas

3 Menemukan kelemahan/kekurangan Anda dalam hal mengelola media pembelajaran

4 Menemukan kelemahan/kekurangan Anda dalam hal keterampilan membuka pelajaran

5 Menemukan kelemahan/kekurangan Anda dalam hal keterampilan menutup pelajaran

6 Mengenali kelemahan/kekurangan Anda dalam penguasaan materi

7 Menyadari kelebihan Anda dalam melaksanakan pembelajaran

8 Menemukan gagasan baru untuk perbaikan pembelajaran

9 Menemukan gagasan baru untuk mengatasi kelemahan/kekurangan Anda

10 Membangkitan motivasi diri untuk senantiasa melakukan perbaikan diri dalam melaksanakan proses pembelajaran

(43)

12 Membangkitkan keinginan Anda untuk mengikuti forum ilmiah guru (misalnya seminar, pertemuan MGMP)

13 Meningkatkan kemampuan diri melalui baca buku yang berkaitan dengan proses belajar mengajar

14 Membangkitkan keinginan untuk melakukan penelitian

15 Membangkitkan kembali keinginan Anda untuk melakukan perbaikan dalam pembelajaran

16 Memberikan dorongan bagi Anda untuk merealisasikan ide yang Anda miliki

17 Memberikan tantangan bagi Anda untuk menjadi guru yang lebih profesional

Gambar

Tabel 5.1 Durasi setiap aspek dalam membuka pelajaran
Tabel 5.3 Durasi setiap aspek dalam membuka pelajaran untuk calon guru  Pembelajaran  Durasi (menit)  r 1 Jumlah  ^mcnit) Pembelajaran Meniniau  kembali  M P I I P P H I i  pengetahuan  Mpnarilz I *  I v l 1C11 1IV
Tabel 5. 5 Durasi menutup pelajaran yang dilakukan guru (menit)
Tabel 5.8 Jenis pertanyaan yang diajukan guru dalam pembelajaran
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pinjaman dana bergulir dari Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Semarang dapat membantu meningkatkan produk, omzet penjualan,

Alasan menggunakan penelitian yuridis normatif, yaitu untuk mengkaji, apakah ada kesesuaian di lihat dari asas-asas keadilan dan kepastian hukum, baik secara

3: uraian secara umum benar, ada satu aspek yang penjelasannya tidak tepat 2: uraian secara umum benar, ada lebih dari satu aspek yang penjelasannya tidak tepat. 1:

Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLRI) adalah yang bertanggungjawab langsung dibawah Presiden. POLRI selalu berkaitan dengan pemerintahan karena salah satu fungsi

Berdasarkan uji t statistik yang dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa dari kedua faktor pemberian pelayanan nasabahyang dilihat dari kepuasan kerja berpengaruh

Meningkatnya konsentrasi ambien menyebabkan meningkatnya dampak pencemaran pada kesehatan manusia dan nilai ekonomi dari gangguan kesehatan tersebut (Gambar 4 dan Gambar 5).. Gambar

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode latihan berstruktur yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa mengikuti langkah-langkah sebagai berikut (1) guru

Selain komponen konsumsi rumah tangga, komponen PDRB Penggunaan yang mengalami peningkatan peranan pada triwulan III tahun 2014 dibandingkan dengan triwulan II