• Tidak ada hasil yang ditemukan

Biaya Pelaksanaan Pek. Geotube

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Biaya Pelaksanaan Pek. Geotube"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

TINJAUAN KHUSUS

4.1 Umum

Tinjauan khusus membahas mengenai hal-hal yang ditinjau dalam proses pelaksanaan pekerjaan di lapangan. Adapun hal-hal yang dibahas dalam tinjauan khusus antara lain:

1. Kapasitas produksi harian dari masing-masing metode pelaksanaan.

2. Perbandingan dari segi biaya, mutu dan waktu dari masing-masing metode pelaksanaan.

Dalam perhitungan baik produksi harian dan perbandingan antara kedua metode, diperlukan beberapa asumsi atau hal-hal yang dapat dianggap sama/diselaraskan. Asumsi-asumsi tersebut antara lain:

1. Kegiatan persiapan tidak menjadi acuan dalam analisis dan perhitungan. 2. Perbedaan kondisi alam tidak menjadi acuan dalam perhitungan.

3. Kedua metode dilakukan masing-masing dengan 1 tim. 4. Pasir yang selalu tersedia di dalam stock pile.

5. Untuk membandingkan kecepatan waktu, diambil parameter jumlah waktu yang diperlukan untuk berdirinya tanggul (lengkap dan penuh terisi pasir). 6. Waktu kerja optimal (diakibatkan adanya gelombang laut) diasumsikan 8

jam/hari.

7. Keadaan dianggap statis/tetap.

8. Perbandingan antara air dan pasir adalah 60% untuk air dan 40% untuk pasir.

4.2 Produksi Harian Geotextile Tube

Produksi harian Geotextile Tube adalah jumlah Geotextile Tube terpasang dan terisi penuh pasir dalam waktu 1 hari. Adapun Geotextile Tube yang dimaksud adalah Geotextile Tube 50 kN (Geotextile Tube Matrass), Geotextile Tube 200 kN dan Geotextile Tube 250 kN). Untuk pemasangan dan pengisian Geotextile Tube 50 kN

(2)

dilakukan dengan metode pertama, Geotextile Tube 200 kN dilakukan dengan kedua metode dan Geotextile Tube 250 kN dilakukan dengan metode II.

4.2.1 Produksi Harian Geotextile Tube 50 kN

Instalasi Geotextile Tube 50 kN (Matrass) dilakukan dengan metode I (metode sederhana). Berikut ini adalah analisis produksi harian Geotextile Tube 50 kN, di mana volume terisi penuh adalah 57,6 M3:

a. Waktu persiapan, terdiri atas langsir matras di atas permukaan air dan pengikatan ujung-ujung matras ke patok guidance, kurang lebih 10 menit. b. Waktu penurunan matras ke dasar laut selama 10 menit.

c. Waktu persiapan untuk pengisian 15 menit.

d. Waktu pengisian dengan alat pompa 75 m3/jam dengan koefisian pompa

dianggap 0,85 sekitar 2,26 jam. e. Waktu lain-lain dianggap 30 menit.

4.2.2 Produksi Harian Geotextile Tube 200 kN

(3)

c. Waktu persiapan untuk pengisian 15 menit.

d. Waktu pengisian dengan alat pompa 75 m3/jam dengan koefisian pompa

dianggap 0,85 sekitar 8,31 jam. e. Waktu lain-lain dianggap 30 menit.

Untuk metode II, berlaku juga untuk Geotextile Tube 250 kN, analisis produksi hariannya adalah sebagai berikut, di mana volume terisi penuh adalah 1028 M3:

a. Waktu persiapan pengangkatan frame yang terdiri atas penggelaran dan penyusunan Geotextile, Geogrid, Geotextile Tube serta meletakkan frame dan pengikatan, kurang lebih 30 menit.

b. Waktu pengangkatan dan penurunan frame melalui crane serta pengaturan posisi di dasar laut selama 20 menit.

c. Waktu persiapan pengisian Geotextile Tube selama 15 menit.

d. Waktu pengisian Geotextile Tube dengan pompa kapasitas 130 m3/jam

(pengisian dilakukan sebanyak 50% sampai pengangkatan frame kembali) dengan koefisian pompa dianggap 0,85 selama 2,4 jam (Geotextile Tube 200 kN) dan 11,63 jam (Geotextile Tube 250 kN).

e. Pengangkatan frame termasuk pemotongan tali yang terikat selama 10 menit. f. Waktu lain-lain dianggap 30 menit.

(4)
(5)

4.3 Analisis Biaya, Mutu Dan Waktu Masing-Masing Metode

Analisis BMW (Biaya, Mutu dan Waktu) digunakan untuk menganalisa penggunaan biaya, hasil mutu konstruksi dan waktu pengerjaan secara Global dari masing-masing metode kerja. Analisis biaya berkaitan dengan material, tenaga dan upah yang dibutuhkan untuk melakukan konstruksi dengan metode terkait. Analisis mutu berkaitan dengan hasil pekerjaan yang sesuai dengan RKS. Sedangkan analisis waktu berkaitan dengan waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu konstruksi.

4.3.1 Analisis Biaya

Analisis biaya yang diperhitungkan adalah biaya langsung yang meliputi tenaga, material dan alat yang digunakan serta biaya lain-lain. Adapun rincian biaya yang diperlukan dari kedua metode tersebut antara lain:

a. Biaya welder frame : Rp. 100.000/hari

b. Biaya Operator Crawler Crane : Rp. 9.000.000/bulan

c. Biaya Kapten, ABK dan kru TugBoat : Rp. 20.000.000/bulan d. Biaya Sewa Crawler Crane : Rp. 96.938.775/bulan

e. Biaya Sewa Barge : Rp. 270.000.000/bulan f. Biaya Sewa TugBoat : Rp. 150.000.000/bulan g. Biaya Sewa Sand Pump :

- Metode I : Rp. 100.000.000/bulan - Metode II : Rp. 270.000.000/bulan

(6)

h. Biaya Material :

- Geotextile Tube 50 kN : Rp. 4.582.500/M’ - Geotextile Tube 200 kN : Rp. 2.145.000/M’ - Geotextile Tube 250 kN : Rp. 7.800.000/M’ - Geotextile Non Woven : Rp. 49.000/M2

- Geogrid : Rp. 46.000/M2

- Pasir : Rp. 130.000/M3

- Material Frame :

Ǿ 3” : Rp. 650.000/Batang - Material Patok Guidance: Rp. 650.000/Batang - Material bambu : Rp. 18.000/Batang - Bahan Drum Pelastik : Rp. 100.000/Buah

Dengan biaya dasar tersebut, maka dapat dilakukan analisis biaya untuk mencapai 1 tanggul penuh. Adapun analisisnya untuk masing-masing metode sebagai berikut:

a. Metode I :

- Jumlah Geotextile Tube 50 kN yang dibutuhkan untuk penempatan 1 tanggul : 4 Buah.

- Jumlah Geotextile Tube 200 kN yang dibutuhkan untuk 1 tanggul : 6 Buah - Jumlah pasir yang diperlukan untuk pengisian Geotextile Tube hingga

penuh : 230,4 M3 (4 Matrass) dan 1272 M3 (6 Geotextile Tube 200 kN).

- Jumlah hari pompa hingga waktu 1 tanggul terususun : 9 Hari (Pengisian 4 Matrass dan 6 Geotextile Tube 200 kN).

- Jumlah pipa galvanis yang diperlukan untuk penempatan Geotextile Tube 50 kN dan Geotue 200 kN : 15 Batang untuk 1 tanggul tersusun penuh. - Jumlah material bambu yang diperlukan untuk membuat 1 ponton : 150

Btg.

(7)

b. Metode II :

- Jumlah Geotextile Tube 200 kN yang dibutuhkan untuk 1 tanggul : 3 Buah. - Jumlah Geotextile Tube 250 kN yang dibutuhkan untuk 1 tanggul : 1 Buah. - Jumlah Geotextile Non Woven yang diperlukan untuk 1 tanggul : Uk. 19 x

4 x 3 sebanyak 2 roll.

- Jumlah Geogrid yang diperlukan untuk 1 tanggul : Uk. 19 x 4 x 3 sebanyak 2 roll.

- Jumlah pasir yang diperlukan untuk pengisian Geotextile Tube hingga penuh : 1272 M3 untuk 3 Geotextile Tube 200 kN dan 1028 M3 untuk

Geotextile Tube 250 kN.

- Jumlah hari pompa untuk 1 tanggul terisi penuh : 5 hari.

- Jumlah hari Crawler crane untuk 1 tanggul terisi penuh : 5 hari. - Jumlah hari pemakaian barge dan TugBoat untuk 1 tanggul : 5 hari.

(8)
(9)

4.3.2 Analisis Mutu

Analisis mutu membahas tentang mutu hasil konstruksi dari kedua metode yang diterapkan. Dalam proses konstruksi diharapkan bahwa seluruh spesifikasi dari material dan bahan telah sesuai prosedur yang tertera pada RKS. Apapun metode yang digunakan baik metode I dan II apabila dilakukan sesuai prosedur dan spesifikasi yang ada maka, mutu konstruksi yang diharapkan pasti dapat tercapai dengan baik.

4.3.3 Analisis Waktu

Metode yang digunakan dalam suatu proses konstruksi berkaitan dengan waktu pelaksanaan. Dalam hal ini akan ditinjau kecepatan waktu pelaksanaan

(10)

dari kedua metode apabila dianalisis kebutuhan waktu untuk menyusun tanggul lengkap dan terisi penuh. Berikut ini adalah analsis perhitungan kebutuhan waktu tanggul lengkap dan terisi penuh dari masing-masing metode yang digunakan: a. Metode I :

- Jumlah produksi harian Geotextile Tube 50 kN : 1 Pcs. - Jumlah produksi harian Geotextile Tube 200 kN : 0,85 Pcs.

Sehingga waktu untuk instalasi tanggul lengkap dan terisi penuh adalah sebagai berikut:

b. Metode II :

- Jumlah produksi Geotextile Tube 200 kN :  1 Frame, 3 Geotextile Tube : 3 Pcs.  1 Frame, 2 Geotextile Tube : 2 Pcs.  1 Frame, 1 Geotextile Tube : 2 Pcs.

- Jumlah produksi 1 Geotextile Tube 250 kN : 1 Pcs.

Sehingga waktu untuk instalasi tanggul lengkap dan terisi penuh adalah sebagai berikut:

(11)

4.4 Biaya Langsir Material Pasir

Langsir material pasir dapat dilakukan dengan dua cara tergantung jenis kapal pembawa pasir. Apabila kapal pembawa pasir merupakan kapal keruk, maka teknik langsir material langsung dituangkan ke dalam stock pile. Sedangkan apabila kapal pembawa pasir merupakan kapal tongkang, maka untuk melangsir material diperlukan tongkang kecil sementara dan excavator. Dari tongkang kecil kemudian dilangsir lagi ke stock pile. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari demurrage tongkang pembawa pasir. Dengan demikian apabila kapal pembawa pasir merupakan

(12)

kapal keruk, maka biaya pengadaan pasir hanya meliputi harga pasir tiap kubik. Akan tetapi apabila kapal pembawa pasir merupakan kapal tongkang, maka biaya pengadaan pasir meliputi harga pasir tiap kubik, biaya sewa excavator, tongkang kecil, tug boat dan solar.

Untuk analisis biaya per kubik pengadaan pasir, maka perlu dianalisis jumlah waktu sebuah excavator untuk memindahkan pasir 1 kubik ke dalam stock pile. Dalam analisis diambil asumsi sebagai berikut:

1. Jumlah excavator yang diperlukan adalah 2 unit. 1 unit untuk memindahkan pasir ke tongkang kecil dan 1 unit untuk memindahkan pasir dari tongkang kecil ke dalam stock pile.

2. Alur pemindahan adalah dari tongkang pasir ke tongkang kecil dan dilanjutkan ke stock pile.

3. Faktor eksternal alam diabaikan.

(13)

Dari hasil analisis menunjukkan, apabila dalam pembelian pasir menggunakan kapal tongkang, maka harga pasir yang semula Rp. 130.000,- tiap meter kubik akan menjadi Rp. 163.471,20 tiap meter kubik.

4.5 Evaluasi Biaya Langsung Pekerjaan Swakelola

Berikut ini disajikan evaluasi direct cost harga satuan riil pekerjaan swakelola periode 29 April s/d16 Juni 2013. Perhitungan lengkap dapat dilihat dalam lampiran.

Referensi

Dokumen terkait

Saya  tidak  akan  banyak  membahas  terlalu  dalam  mengenai  bagaimana  suatu  kondisi  ekonomi  dapat  dikatakan  baik  atau  buruk,  karena  ada  banyak 

Defensive Coping adalah salah satu cara seseorang dalam menghadapi stress, yaitu dengan lari dari masalah yang menimbulkan stres tersebut, baik secara fisik

Dengan memanfaatkan perkembangan teknologi komputer, maka penulis akan membangun sebuah aplikasi pengenalan huruf hijaiyah yang dikhususkan bagi penyandang tuna rungu

Dalam kenyataannya, tidak sedikit siswa yang mengalami pengasingan dari lingkungannya dikarenakan kurangnya keterampilan sosial dan pemahaman sosial yang dibutuhkan

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler Tapak Suci di MI Muhammadiyah Karanganyar.Penelitian ini dilakukan di MI Muhammadiyah

Penekanan pembelajaran matematika terutama kemampuan berkomunikasi siswa perlu diperhatikan dari kesetaraan gender dalam menyelesaikan masalah matematika. Tujuan

Berdasarkan hasil tes dan wawancara siswa dengan tipe kepribadian melankolis mampu memenuhi indikator kemampuan koneksi matematika yaitu menggunakan hubungan antar fakta,

Kriteria: Ketepatan, kesesuaian, ketelitian dan ketajaman mengolah dan menganalisis data Kemampuan menjelaskan filosofi keilmuan terkait bahan kajian/materi pelajaran