BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Pembangunan ekonomi adalah proses yang dapat menyebabkan

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Pembangunan pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pembangunan ekonomi adalah proses yang dapat menyebabkan pendapatan perkapita sebuah negara meningkat untuk periode jangka panjang dengan syarat, jumlah orang yang hidup dibawah garis kemiskinan mutlak tidak naik dan distribusi pendapatan tidak semakin timpang. Pembangunan nasional mempunyai beberapa tujuan, salah satu diantaranya adalah meningkatkan taraf hidup masyarakat agar menjadi manusia seutuhnya yang berdasarkan pancasila dan Undang-Undang 1945.

Pembangunan haruslah diartikan sebagai proses multidimensional yang melibatkan perubahan-perubahan besar, baik terhadap struktur ekonomi, perubahan sosial, mengurangi atau menghapuskan kemiskinan, mengurangi ketimpangan, dan pengangguran dalam konteks pertumbuhan ekonomi (Todaro dalam Sirojuzilam : 2008).

Pembangunan ekonomi memiliki tiga sifat penting yaitu suatu proses yang berarti terjadinya perubahan terus menerus, adanya usaha untuk menaikkan pendapatan per kapita masyarakat dan kenaikan pendapatan per kapita masyarakat terjadi dalam jangka panjang. Keberhasilan pembangunan ekonomi dapat kita lihat dari tingginya pertumbuhan ekonomi serta dapat dinikmati masyarakat paling bawah, baik sendirinya maupun dengan campur tangah pemerintah.

(2)

Perencanaan pembangunan diarahkan untuk mewujudkan masyarakat yang semakin sejahtera, makmur dan berkeadilan. Kebijaksaan pembangunan dilakukan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi dengan cara memanfaatkan potensi dan sumber daya yang ada. Namun, hasil pembangunan kadang belum dirasakan merata dan masih terdapat kesenjangan antar daerah.

Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses dimana pemerintah daerah dan masyarakat mengelola sumberdaya-sumberdaya yang ada dan membentuk suatu pola kemitraan antara pemerintah daerah dengan sektor swasta untuk menciptakan lapangan kerja baru dan merangsang perkembangan kegiatan ekonomi (pertumbuhan ekonomi) dalam wilayah tersebut (Arsyad, Lincolin : 1999). Dimana dalam masalah pokok dalam pembangunan daerah adalah terletak pada penekanan terhadap kebijakan-kebijakan pembangunan yang didasarkan pada kekhasan daerah yang bersangkutan dengan menggunakan potensi SDM, kelembagaan dan sumber fisik secara lokal.

Pada tahap awal pembangunan, perbedaan laju pertumbuhan ekonomi regional yang cukup besar antar daerah telah mengakibatkan perbedaan dalam distribusi pendapatan antar daerah. Namun dalam jangka panjang, ketika faktor-faktor produksi di daerah semakin dioptimalkan dalam pembangunan, maka perbedaan laju pertumbuhan output akan cenderung menurun. Hal itu ditandai dengan semakin meningkatnya pendapatan per kapita rata-rata di setiap daerah seiring dengan waktu yang berjalan, tetapi untuk melaksanakan dan mencapai tujuan tersebut haruslah dipertimbangkan banyak faktor lain, seperti tersedianya

(3)

tenaga ahli, para pengusaha untuk melaksanakan proyek-proyek industri, keadaan prasarana yang ada, tersedianya pasar, dan sebagainya.

Pertumbuhan ekonomi dan pemerataan merupakan masalah pokok yang dihadapi setiap negara yang sedang berkembang, dalam usaha pembangunan yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan penduduknya.Dalam konteks pembangunan daerah di indonesia, diarahkan untuk memacu pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya dalam rangka meningkatkan kehidupan masyrakat, menggalakkan prakarsa dan peran aktif masyarakat daerah secara optimal dan terpadu dalam memperkuat persatuan dan kesatuan.

Pertumbuhan ekonomi merupakan gambaran mengenai dampak kebijaksanaan pemerintah yang dilaksanakan khususnya dalam bidang ekonomi. Pertumbuhan ekonomi merupakan laju pertumbuhan yang dibentuk dari berbagai macam sektor ekonomi yang secara tidak langsung menggambarkan tingkat pertumbuhan ekonomi yang terjadi. Bagi daerah, indikator ini sangat penting untuk mengetahui keberhasilan pembangunan di masa yang akan datang.

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tersebar cukup merata akan diikuti dengan membaiknya taraf hidup masyarakat yang hidup dibawah garis kemiskinan. Pada umumnya dalam pembangunan negara-negara berkembang, sasaran yang ingin dicapai ingin dicapai adalah untuk mencapai laju peningkatan Product Domestic Regional Bruto (PDRB) jauh lebih tinggi dibandingkan laju pertambahan penduduk (Robinson, 2004:18).

(4)

Pertumbuhan adalah ukuran utama keberhasilan pembangunan, dan hasil pertumbuhan ekonomi dapat pula dinikmati semua lapisan masyarakat. Pertumbuhan harus berjalan beriringan dan terencana mengupayakan terciptanya pemerataan kesempatan dan pembagian hasil-hasil pembangunan dengan lebih merata. Dengan demikian maka daerah yang tertinggal dan tidak produktif menjadi akan menjadi produktif, yang akhirnya akan mempercepat pertumbuhan itu sendiri.

Pertumbuhan ekonomi didefinisikan sebagai kenaikan jangka panjang dalam kemampuan suatu negara untuk menyediakan semakin banyak barang kepada penduduknya, kemampuan ini bertambah Pertumbuhan ekonomi pada suatu daerah dapat dilihat melalui Product Domestic Regional Bruto (PDRB) daerah tersebut. Dengan melihat angka PDRB suatu daerah, maka dapat memberikan gambaran pembangunan yang telah dicapai. Nilai tersebut dapat dihitung menurut harga berlaku dan menurut harga tetap.

Secara teoritis disebutkan bahwa semakin tinggi tingkat pendapatan suatu masyarakat, semakin baik tingkat kesejahteraannya. Namun disisi lain jika tingginya pendapatan masyarakat tidak disertai dengan pemerataan distribusi pendapatan maka hal tersebut belum mencerminkan tingkat kesejahteraan masyarakatnya secara keseluruhan. Sama seperti pertumbuhan ekonomi Provinsi Sumatera Utara yang relatif lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi secara nasional, tetapi pertumbuhan tersebut juga diikuti oleh ketimpangan antar wilayah yang semakin besar sehingga tidak mencerminkan tingkat kesejahteraan secara keseluruhan.

(5)

Setiap tahun perekonomian di Sumatera Utara diwarnai dengan berbagai perkembangan berdasarkan indikator ekonomi. Perkembangan ini dapat terlihat pada masa sebelum dan sesudah krisis ekonomi yang melanda indonesia.

Laju Pertumbuhan Tahun Indonesia Sumatera utara Penduduk 1980-1990 1.98 2.06 1990-1995 1.66 1.62 1995-2000 1.35 1.17 PDRB 1997 5.23 5.70 1998 (14.22) (10.90) 1999 1.09 2.59 2000 5.24 4.83

Sumber : BPS Sumatera Utara

Pasca krisis ekonomi global dunia, pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara tahun 2009 secara perlahan mulai membaik. Hal itu ditandai dengan kinerja perekonomian Sumut triwulan I 2009 berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) ADHK 2000 meningkat 1,73 persen bila dibandingkan dengan triwulan IV 2008.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut peningkatan ini didukung pertumbuhan positif semua sektor ekonomi kecuali sektor pertambangan dan penggalian, sektor industri pengolahan dan sektor pembangunan. Adapun sektor pertanian merupakan sektor yang berhasil mencapai pertumbuhan tertinggi 6,70 persen dibandingkan dengan sektor perekonomian lainnya, Sedangkan PDRB ADHK 2000 triwulan I tahun 2009 bila dibandingkan dengan triwulan sama tahun 2008 ekonomi Sumut mencapai pertumbuhan 4,67 persen. Pertumbuhan tertinggi dicapai sektor listrik, gas dan air bersih 8,89 persen disusul sektor jasa-jasa 8,25 persen, sektor keuangan persewaan dan jasa perusahaan 6,70 persen serta sektor pengangkutan dan komunikasi 6,01 persen.

(6)

Sumber pertumbuhan ekonomi triwulan I tahun 2009 antara lain sektor pertanian memberikan sumbangan sebesar 1,55 persen, disusul sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan 0,17 persen, sektor pengangkutan dan komunikasi 0,14 persen, sektor perdagangan, hotel dan restoran 0,13 persen, sektor jasa-jasa 0,04 persen, sektor listrik, gas dan air bersih 0,02 persen. PDRB Sumut triwulan I 2009 ADHB mencapai Rp57,32 trilyun, sedangkan PDRB ADHK 2000 tercapai sebesar Rp27,50 trilyun.

Pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara tahun 2008 sebesar 6,39 persen, sektor pertanian memberi sumbangan sebesar 1,45 persen, disusul oleh sektor perdagangan, hotel, dan restoran sebesar 1,13 persen, sektor jasa-jasa 0,91 persen, sektor pengangkutan dan komunikasi 0,81 persen, sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan 0,76 persen, dan sisanya oleh keempat sektor lainnya.Hal ini menunjukkan bahwa sektor pertanian masih memegang peranan penting dalam perekonomian Sumatera Utara.

Laporan Bank Dunia (2005) bertajuk World Development Repot menyebutkan dalam pengantarnya bahwa keadilan (equity) adalah salah satu aspek fundamental dalam mencapai kemakmuran jangka panjang bagi masyarakat secara keseluruhan, meskipun begitu perdebatan mengenai pengaruh ketimpangan terhadap pembangunan ekonomi masih berlanjut dengan serius. Dalam hal ini perlu ditegaskan bahwa ketimpangan berkaitan dengan distribusi hasil (outcomes) seperti pendapatan, kemakmuran, konsumsi, dan dimensi-dimensi lain dari yang apa disebut sebagai kesejahteraan (well being) sedangkan ketidakadilan (inequity) merujuk pada distribusi kesempatan (opportunity) yang mencakup aspek

(7)

ekonomi, politik dan sosial. Dua masalah besar yang umumnya dihadapi oleh negara-negara berkembang termasuk Indonesia adalah kesenjangan ekonomi atau ketimpangan dalam distribusi pandapatan antara kelompok masyarakat berpendapatan tinggi dan kelompok masyarakat berpendapatan rendah serta tingkat kemiskinan atau jumlah orang yang hidup dibawah garis kemiskinan.

Permasalahan dalam pembangunan adalah pendekatan dan pola pembangunan yang dipakai oleh suatu daerah dalam mencapai pemerataan. Studi yang dilakukan oleh ahli pendukung teori pertumbuhan lebih cenderung mengarah kepada pemanfaatan sumber daya alam yang dimiliki serta mengusahakan distribusi dari dana pembangunan dan investasi kepada sektor-sektor yang dominan dalam mencapai pemerataan pembangunan yang maksimal dalam sekup regional, pemerataan sumber daya alam secara efektif berdasarkan keuntungan lokasi yang dimiliki. Peningkatan pendapatan per kapita memang menunjukkan tingkat kemajuan perekonomian suatu daerah. Namun meningkatnya pendapatan per kapita tidak selamanya menunjukkan bahwa distribusi pendapatan lebih merata.

Sering kali di negara-negara berkembang dalam perekonomiannya lebih menekankan penggunaan modal dari pada penggunaan tenaga kerja sehingga keuntungan dari perekonomian tersebut hanya dinikmati sebagian masyarakat saja. Apabila ternyata pendapatan nasional tidak dinikmati secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat, maka dapat dikatakan bahwa telah terjadi ketimpangan.

(8)

Ketimpangan disebabkan oleh karena proses pembangunan dan ketidakseimbangan kebijakan, ketimpangan wilayah merupakan salah satu permasalahan yang pasti timbul dalam pembangunan. Ketimpangan wilayah menjadi signifikan ketika wilayah dalam suatu negara terdiri atas beragam potensi sumber daya alam, letak geografis, kualitas sumber daya manusia, ikatan etnis atau politik. Keberagaman ini selain dapat menjadi sebuah keunggulan, juga sangat berpotensi menggoncang stabilitas sosial dan politik nasional.

Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Deli Serdang adalah dua kabupaten dengan pola pengembangan wilayah yang berbeda, meskipun sektor ekonominya sama-sama dominan pada sektor pertanian, Namun Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Deli Serdang strategi pengembangan daerah yang berbeda sehingga membuat kedua daerah ini berbeda laju pertumbuhannya.

Kabupaten Tapanuli Utara adalah kabupaten yang ibu kotanya berada di Tarutung yang terdiri atas 15 kecamatan. Menurut data PDRB ADHK 2000, pertumbuhan ekonomi Tapanuli Utara tahun 2004-2006 mengalami peningkatan yaitu 4,74% tahun 2004, 5,04% tahun 2005 dan 5,44% tahun 2006. Namun dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi secara nasional yaitu 6,3% tahun 2004, 6,4% tahun 2005 dan 6,8% tahun 2006 maka pertumbuhan ekonomi Taput masih di rendah. Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Tapanuli Utara tahun 2006 sebesar 5,44 persen dengan kontribusi tertinggi dari sektor pertanian dimana Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) perkapita mencapai Rp.9.430.734 dengan 262.642 jiwa jumlah penduduk dan luas wilayah 3.800,31 Km2.

(9)

Tahun 2006, peningkatan struktur perekonomian menurut lapangan usaha Taput dari 9 sektor mengalami fluktuasi bernilai positif dari tahun-tahun sebelumnya. PDRB di sektor pertanian tahun 2006 sebesar 55,16 persen, pertambangan dan penggalian 0,12 persen, industri pengolahan 1,86 persen, listrik, gas dan air bersih 0,86 persen, bangunan 6,00 persen, perdagangan, hotel dan restauran 13,76 persen, pengangkutan dan komunikasi 4,27 persen, keuangan, persewaan dan jasa perusahaan 4,47 persen dan jasa sebesar 13,52 persen. Jika melihat dari sudut pertumbuhan lapangan usaha ternyata untuk sektor jasa-jasa mengalami kenaikan yang cukup tinggi yakni dari 0,69 persen tahun 2005 menjadi 1,61 persen.

Sedangkan Kabupaten Deli Serdang Kabupaten yang memiliki keanekaragaman sumber daya alamnya yang besar sehingga merupakan daerah yang memiliki peluang investasi cukup menjanjikan. Dengan terjadinya pemekaran daerah, maka Luas wilayahnya sekarang menjadi 2.394,62 KM2 terdiri dari 22 kecamatan dan 403 desa/kelurahan, yang terhampar mencapai 3.34 persen dari luas Sumatera Utara. Kabupaten Deli Serdang memiliki total jumlah penduduk berjumlah 1.526.763 jiwa dengan Laju Pertumbuhan Penduduknya (LPP) sebesar 2,74 persen dengan kepadatan rata-rata 616 jiwa perkilometer persegi.

Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Deli Serdang merupakan daerah yang sama-sama sudah mengalami pemekaran sehingga potensi daerah mengalami perubahan, jika kita perhatian data PDRB per kapita Tapanuli Utara tahun 2006 sebesar Rp.9.430.734, Deli Serdang Rp. 13.311.684, menunjukkan

(10)

adanya perbedaan pertumbuhan yang terjadi dan juga adanya perbedaan potensi daerah yang dimiliki oleh kedua kabupaten ini berbeda baik secara kualitas dan kuantitasnya sehingga mempengaruhi tingkat pertumbuhan kedua wilayah tersebut.

Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik untuk mengetahui lebih lanjut dan melihat mengenai sejauh mana ketimpangan yang terjadi antar Kabupaten Tapanuli Utara dengan Kabupaten Deli Serdang serta melihat sejauh mana potensi ekonomi yang dimiliki oleh kedua daerah tersebut, sehingga penelitian ini diberi judul “Analisis Ketimpangan Pembangunan Antar Kabupaten Tapanuli utara dengan Kabupaten Deli Serdang”

1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang diatas, maka penulis merumuskan masalah yang menjadi dasar kajian dalam penelitian yang akan dilakukan, yaitu sebagai berikut :

1. Sejauh mana ketimpangan pembangunan antar Kabupaten Tapanuli Utara dengan Kabupaten Deli Serdang ?

2. Bagaimana potensi ekonomi di Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Deli Serdang ?

1.3. Hipotesis

Hipotesis adalah jawaban sementara atau pernyataan sementara terhadap permasalahan yang ada, yang kebenarannya masih perlu dikaji dan diteliti melalui data yang ada.

(11)

Berdasarkan perumusan masalah diatas maka penulis membuat hipotesis sebagai berikut :

1. Semakin kecil tingkat ketimpangan pembangunan suatu daerah maka akan semakin baik pembangunan daerah tersebut.

2. Daerah yang memiliki potensi yang lebih tinggi memiliki laju pertumbuhan yang lebih cepat.

1.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Adapun tujuan penelitian penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Menganalisis ketimpangan pembangunan antar Kabupaten Tapanuli Utara dengan Kabupaten Deli Serdang.

2. Menganalisis sektor-sektor mana yang paling berpotensi dikembangkan di Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Deli Serdang.

Selain tujuan diatas, penelitian ini juga mempunyai manfaat sebagai berikut :

1. Dapat digunakan sebagai bahan studi dan tambahan literatur bagi mahasiswa/i Fakultas Ekonomi terkhusus Departemen Ekonomi Pembangunan

2. Menambah dan melingkapi sekaligus sebagai pembangunan hasil penelitian yang sudah ada yang menyangkut topik yang sama.

3. Bagi wilayah yang bersangkutan, melalui penilitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan yang bermanfaat untuk wilayah

Figur

Memperbarui...

Related subjects :