PENGEMBANGAN FORMULASI UNSUR HARA PADA PRODUKSI BENIH KENTANG HASIL KULTUR JARINGAN DENGAN TEKNOLOGI AEROPONIK
The Development of Nutrient Formulation for the Production of Tissue-Cultured Potato Seedling with Aeroponic Technology
Andi Muhibuddin1, Badron Zakaria2, Baharuddin2 dan Enny Lisan Sengin2
1)Fakultas Pertanian Universitas ‘45’ Makassar 2)Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin
ABSTRACT
The study aimed to discover suitable nutrient formulation for aerophonic potato technology. The study was carried out in Horticulture Seedling House of Loka Village, Ulu Ere district, Bantaeng regency, South Sulawesi. The research was carried out in three-stage experiment starting from April 2007 to Februari 2008. The first and second experiments were the main plot of the atlantic and granola variety seedling and the soil nutrient formulation as the sub-plot. The third experiment was to examine the result of the first experiment in the screen house. The result reveals that the stock solution formulation of (A+B) + NPK(10:12:16)ppm has the best influence on the height of the plant 23%, the number of leaf by 30%, the number of tuber by36%, the tuber weight by 41%,the tuber diameter by 18%, the tuber skin thickness by 11%, and the decrease of water content by 3%. The atlantic variety with a formulation of FeMnCu (3,0:1,5:0,6)ppm improves the tuber protein content by 9,5%, increases the tuber skin thickness by 13%. Aeroponic seedling test signifies better growth, production and potato seedling quality compared to those of husk charcoal system result.
Keywords : atlantic variety, granola variety, nutrient formulation PENDAHULUAN
Potensi pengembangan lahan di Indonesia guna meningkatkan produksi kentang masih sangat luas, yaitu 11.331.700 ha yang berada pada ketinggian lebih 700 m di atas permukaan laut yang umumnya terdapat di luar pulau Jawa, seperti Provinsi Aceh, Sumbar, Sumut, Jambi, Bengkulu, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara dan Papua (Wattimena, 2005). Sulawesi Selatan adalah salah satu sentra pengembangan kentang di Kawasan Timur Indonesia yang tersebar di dataran tinggi meliputi kabupaten Gowa, Bantaeng, Enrekang, Tator, Jeneponto, Luwu Utara, dan Sinjai dengan potensi sekitar 11.405 ha (DJPBH, 2005), telah dimanfaatkan 2.541 ha (22,38%) dengan produktivitas masih rendah (8,87 t ha-1), sehingga
masih ada peluang 8.864 ha (77,72%) (BPS, 2005). Guna memanfaatkan potensi tersebut, peran benih bermutu penting dalam kapasitas sebagai penentu produktivitas.
Pengadaan benih kentang hingga saat ini masih merupakan masalah utama yang dihadapi petani kentang di Indonesia. Dalam lima tahun terakhir, yakni tahun 2003 – 2007 kebutuhan dan ketersediaan benih kentang nasional berfluktuasi (Tabel 1).
Pola yang dapat dikembangkan untuk mempercepat swasembada benih kentang adalah perbanyakan dengan metode kultur jaringan yang dilanjutkan dengan perbanyakan cepat dari setek ke setek. Penggunaan teknik perbanyakan cepat dimaksudkan untuk mempersingkat masa penyediaan benih, disamping meningkatkan jumlahnya dengan kualitas yang terjaga (Suyamto et al., 2005).
Budidaya sistem hidroponik dikembangkan menjadi sistem aeroponik yaitu pemberian larutan hara ke akar tanaman dengan cara pengabutan (Jensen dan Collins, 2005; Howard, 2005). Akar tanaman dibiarkan tergantung, kemudian dari bawah disemprotkan larutan hara melalui springkler dan akar akan menangkap dan menyerap hara tersebut
(Resh, 2004; Park Jong Sub, 2005). Keunggulan sistem aeroponik di antaranya, produksi lebih tinggi, kemurnian varietas lebih terjamin, tidak mencemari lingkungan, pemakaian hara dan air lebih hemat, tanaman yang mati mudah diganti dengan tanaman baru, hasil produksi lebih kontinyu dibandingkan dengan penanaman secara konvensional, kadar oksigen dalam larutan hara lebih banyak, serta tidak bergantung pada kondisi alam atau musim (Mueller et al., 2002; Park Jong Sub, 2005)
Jika sistem aeroponik dapat meningkatkan produksi benih, baik kualitas maupun kuantitas pada kentang, maka diharapkan dapat menyelesaikan sebagian persoalan untuk mempercepat peningkatan produksi kentang di Indonesia. Dengan demikian, akan memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi perkembangan industri perbenihan kentang dalam memenuhi kebutuhan nasional.
Berdasarkan pertimbangan tersebut diperlukan pengkajian dan pengembangan formulasi unsur hara, khususnya NPK dan FeMnCu terhadap pertumbuhan, produksi, dan mutu umbi kentang pada varietas atlantik dan granola, sehingga diharapkan ditemukan formulasi unsur hara yang tepat pada sistem aeroponik kentang.
Tujuan penelitian ini adalah: (1) Mengkaji pengaruh formulasi unsur hara terhadap pertumbuhan, produksi dan mutu benih hasil kultur jaringan pada sistem aeroponik kentang, (2) Mengkaji respons varietas kentang terhadap pertumbuhan, produksi dan mutu benih kentang dengan sistem aeroponik dan (3) Mengkaji hasil perbanyakan benih kentang sistem aeroponik dengan sistem arang sekam.
METODE PENELITIAN
Percobaan diawali dengan aklimatisasi plantlet sebagai sumber bibit kentang yang diperoleh dari Laboratorium Kultur Jaringan, Divisi
Bioteknologi Pusat Kegiatan Penelitian (PKP) Unhas berlangsung dari September hingga Desember 2006 dan percobaan pendahuluan dari Januari sampai Maret 2007 di rumah kaca.Selanjutnya penelitian dilaksanakan tiga tahap percobaan di Balai Benih Hortikultura Kecamatan Ulu Ere Kabupaten Bantaeng Sulawesi Selatan pada ketinggian sekitar 1.300 m di atas permukaan laut yang merupakan salah satu sentra pengembangan tanaman kentang di Propinsi Sulawesi Selatan. Adapun tahapan penelitian yang dimaksud adalah :
1. Percobaan I di rumah kaca, dari April sampai Juli 2007, yaitu : formulasi NPK + larutan stok (A+B) (Tabel Lampiran 2).
2. Percobaan II di rumah kaca, dari Agustus sampai Nopember 2007. Sebagai kontrol, hasil percobaan pertama (formulasi NPK+ larutan
stok A+B) yang memberikan hasil
terbaik, yaitu formulasi NPK+ larutan stok (A+B) + formulasi FeMnCu.
3. Percobaan III di Screen house dari Oktober 2007 sampai Februari 2008 untuk menguji hasil aeroponik (benih kelas G0) percobaan pertama yang menghasilkan benih kelas G1.
Percobaan I. Sistem Aeroponik/ formulasi NPK
Percobaan ini diuji dengan menggunakan model Rancangan Petak Terpisah. Varietas kentang (V) sebagai petak utama yang terdiri atas : Varietas Atlantik (v1) dan Varietas Granola (v2).
Formulasi unsur hara (K) sebagai anak petak (sub plot)
Percobaan II. Sistem Aeroponik/ Formulasi FeMnCu
Percobaan kedua dilaksanakan dengan menggunakan model Rancangan Petak Terpisah. Varietas kentang (V) sebagai petak utama yang terdiri atas : Varietas Atlantik (v1) dan Varietas
Granola (v2). Formulasi unsur hara (M)
Percobaan III. Pengujian Hasil Aeroponik
Percobaan III dilakukan untuk menguji benih kelas G0 hasil aeroponik percobaan I di Screen house yang akan menghasilkan benih kelas G1. Dilaksanakan dengan menggunakan model Rancangan Petak Terpisah (Split Plot Design). Varietas kentang (V) sebagai sebagai petak utama (main plot) yang terdiri atas : Varietas Atlantik (v1)
dan Varietas Granola (v2). Faktor kedua
adalah hasil percobaan pertama (perlakuan formulasi unsur hara). Sebagai pembanding (kontrol) adalah benih G0 hasil perbanyakan secara konvensional.
HASIL DAN PEMBAHASAN Aspek Pertumbuhan
1. Tinggi Tanaman – Percobaan Pertama
Analisis ragam tinggi tanaman menunjukkan bahwa varietas tidak berpengaruh nyata pada umur 15,30, dan 60 HSP tetapi berpengaruh nyata pada umur 45 HSP. Formulasi NPK tidak berpengaruh nyata pada 15 HSP sedangkan pada 30, 45, dan 60 HSP berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman. Pada Tabel 3 terlihat bahwa varietas atlantik memperlihatkan tinggi tanaman yang lebih tinggi dan berbeda nyata dibandingkan dengan varietas granola pada 45 dan 60 HSP. Formulasi NPK pada perlakuan k2 menghasilkan
tinggi tanaman yang tertinggi dan berbeda nyata dibandingkan dengan perlakuan k0, k1, dan k3pada umur 30, 45
dan 60 HSP.
2. Tinggi Tanaman – Percobaan Kedua
Analisis ragam tinggi tanaman menunjukkan bahwa varietas tidak berpengaruh nyata pada umur 15, 30, dan 45 HSP tetapi berpengaruh nyata pada umur 60 HSP. Formulasi FeMnCu tidak berpengaruh nyata pada 15 HSP sedangkan pada 30, 45, dan 60 HSP berpengaruh sangat nyata terhdap tinggi
tanaman. Pada Tabel 4 terlihat bahwa varietas atlantik memperlihatkan tinggi tanaman yang lebih tinggi dan berbeda nyata dibandingkan dengan varietas granola pada umur 60 HSP. Formulasi FeMnCu pada perlakuan m3
menghasilkan tinggi tanaman yang tertinggi dan berbeda nyata dibandingkan perlakuan m0dan m1tetapi tidak berbeda
nyata dengan pengaruh perlakuan m2
pada umur 30, 45 dan 60 HSP.
3. Jumlah Daun - Percobaan Pertama Analisis ragam jumlah daun menunjukkan bahwa varietas berpengaruh nyata pada umur 30, 45, dan 60 HSP. Formulasi NPK tidak berpengaruh nyata pada umur 15 HSP sedangkan pada 30, 45, dan 60 HSP berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman. Pada Tabel 5 menunjukkan bahwa varietas atlantik memperlihatkan tinggi tanaman yang lebih tinggi dan berbeda nyata dibandingkan dengan varietas granola pada umur 45 dan 60 HSP. Formulasi NPK pada perlakuan k2
menghasilkan tinggi tanaman yang tertinggi dan berbeda nyata dibandingkan perlakuan k0, k1 tetapi tidak berbeda
nyata dengan pengaruh perlakuan k3pada
umur 45 dan 60 HSP.
4. Jumlah Daun – Percobaan Kedua Analisis ragam jumlah daun menunjukkan bahwa varietas tidak berpengaruh nyata pada umur 15, 30, 45, dan 60 HSP. Formulasi FeMnCu berpengaruh nyata pada umur 15, 45, dan 60 HSP tetapi berpengaruh sangat nyata pada umur 30 HSP terhadap tinggi tanaman. Pada Tabel 6 menunjukkan bahwa formulasi FeMnCu pada perlakuan m3 menghasilkan tanaman
yang tertinggi dan berbeda nyata dibandingkan perlakuan m0, tetapi tidak
berbeda nyata dengan pengaruh perlakuan m1 dan m2 pada umur 15, 30,
45 dan 60 HSP
Aspek Produksi
1. Jumlah Umbi – Percobaan Pertama
Analisis ragam memperlihatkan varietas berpengaruh nyata dan formulasi NPK berpengaruh sangat nyata terhadap jumlah umbi tanaman-1 sedangkan
interaksinya tidak nyata.
Varietas atlantik menghasilkan jumlah umbi tanaman-1 yang lebih
banyak dan berbeda nyata dibandingkan dengan varietas granola. Perlakuan k2
menghasilkan jumlah umbi terbanyak (27,73 buah) dan berbeda nyata dengan perlakuan k0, k1, dan k3.
Hubungan antara formulasi NPK dengan jumlah umbi berkorelasi positif secara kuadratik pada varietas atlantik dan granola dengan persamaan masing-masing :
Yv1= 7,642 + 11,749 X -1,6825 X2 ; R2
= 0,90 ** (sangat nyata) dan
Yv2= 8,563 + 9,0465 X -1,2975 X2 ; R2
= 0,83 ** (sangat nyata)
Persamaan tersebut menunjukkan bahwa jumlah umbi pada varietas atlantik meningkat dengan peningkatan konsentrasi NPK dan mencapai optimum pada formulasi NPK (13,1:15,7:20,8) ppm dengan jumlah umbi maksimum 28,16 buah, varietas granola mencapai optimum pada formulasi NPK (13,1:15,7:20,9) ppm dengan jumlah umbi maksimum 24,33 buah.
2. Jumlah Umbi – Percobaan Kedua Analisis ragam memperlihatkan varietas berpengaruh nyata dan formulasi FeMnCu berpengaruh sangat nyata terhadap jumlah umbi sedangkan interaksinya tidak nyata.
Varietas atlantik menghasilkan jumlah umbi yang lebih banyak dan berbeda nyata dibandingkan dengan varietas granola. Perlakuan m3
menghasilkan jumlah umbi tertinggi (31,46 buah) dan berbeda nyata dengan perlakuan m0, dan m1tetapi tidak berbeda
nyata dengan perlakuan m2.
Hubungan antara formulasi FeMnCu dengan jumlah umbi berkorelasi
positif secara linier pada varietas atlantik dan granola dengan persamaan masing-masing :
Yv1 = 27,3 + 1,4 X; R2= 0,94 **
(sangat nyata) dan
Yv2 = 25,3 + 1,6 X; R2= 0,85 **
(sangat nyata)
Persamaan tersebut menunjukan bahwa jumlah umbi meningkat dengan peningkatan konsentrasi FeMnCu dimana setiap kenaikan satu satuan konsentrasi FeMnCu (ppm) sampai taraf tertentu akan meningkatkan jumlah umbi tanaman-1 sebesar 1,4 buah pada varietas
atlantik dan 1,6 buah pada varietas granola.
3. Bobot Umbi – Percobaan Pertama Analisis ragam pada memperlihatkan varietas berpengaruh nyata dan formulasi NPK berpengaruh sangat nyata terhadap bobot umbi tanaman-1 sedangkan interaksinya tidak
nyata.
Varietas atlantik menghasilkan bobot umbi tanaman-1 yang lebih tinggi dan berbeda nyata dibandingkan dengan varietas granola. Perlakuan k2
menghasilkan bobot umbi tanaman-1
tertinggi (336,42 g) dan berbeda nyata dengan perlakuan k0, k1, dan k3.
Hubungan formulasi NPK dengan bobot umbi berkorelasi positif secara kuadratik dengan persamaan pada varietas atlantik dan granola masing-masing :
Yv1= 53,135 + 168 X - 24,75 X2 ; R2
= 0,92 ** (sangat nyata) dan
Yv2= 74,48 + 122,91 X - 17,557 X2 ; R2
= 0,83 ** (sangat nyata)
Persamaan tersebut menunjukkan bahwa bobot umbi tanaman-1 pada
varietas atlantik meningkat dengan peningkatan konsentrasi NPK dan mencapai optimum pada formulasi NPK (12,7:15,3:20,4) ppm dengan bobot umbi maksimum 344,18 g, varietas granola mencapai optimum pada formulasi NPK (13,1:15,7:21,0) ppm dengan bobot umbi maksimum 289,53 g.
4. Bobot Umbi – Percobaan Kedua Analisis ragam memperlihatkan varietas berpengaruh nyata dan formulasi FeMnCu berpengaruh sangat nyata terhadap bobot umbi tanaman-1
kentang sedangkan interaksinya tidak nyata.
Varietas atlantik menghasilkan bobot umbi tanaman-1 yang lebih tinggi
dan berbeda nyata dibandingkan dengan varietas granola. Perlakuan m3
menghasilkan bobot umbi tanaman-1
tertinggi (378,14 g) dan berbeda nyata dengan perlakuan m0 dan m1tetapi tidak
berbeda nyata dengan perlakuan m2.
Hubungan formulasi Fe,Mn,Cu dengan bobot umbi berkorelasi positif secara linier pada varietas atlantik dan granola dengan persamaan masing-masing :
Yv1= 319,58 + 22,39 X; R2= 0,96 **
(sangat nyata) dan
Yv2= 299,36 + 19,50 X; R2= 0,88 **
(sangat nyata)
Persamaan tersebut menunjukkan bahwa bobot umbi tanaman-1 meningkat
dengan peningkatan konsentrasi FeMnCu dimana setiap kenaikan satu satuan konsentrasi FeMnCu (ppm) sampai taraf tertentu akan meningkatkan bobot umbi sebesar 22,39 gram pada varietas atlantik dan 19,50 gram pada varietas granola. 5. Diameter Umbi – Percobaan
Pertama
Analisis ragam memperlihatkan varietas tidak berpengaruh nyata dan formulasi NPK berpengaruh sangat nyata terhadap diameter umbi sedangkan interaksinya tidak nyata.
Varietas atlantik menghasilkan diameter umbi yang tidak berbeda nyata dibandingkan varietas granola. Perlakuan k2menghasilkan diameter umbi tertinggi
(3,67 cm) dan berbeda nyata dengan perlakuan k0 dan k1 tetapi tidak berbeda
nyata dengan perlakuan k3.
Hubungan formulasi NPK dengan diameter umbi berkorelasi positif secara kuadratik dengan persamaan pada varietas atlantik dan granola masing-masing :
Yv1= 2,43 + 0,674 X - 0,09 X2; R2=
0,92 ** ( sangat nyata) dan
Yv2= 2,385 + 0,014 X - 0,08 X2 ; R2=
0,93 ** (sangat nyata)
Persamaan tersebut menunjukkan bahwa diameter umbi pada varietas atlantik meningkat dengan peningkatan konsentrasi NPK dan mencapai optimum pada formulasi NPK (12,1:16,8:22,4) ppm dengan diameter umbi maksimum 3,69 cm, varietas granola mencapai optimum pada formulasi NPK (14,4:17,3:23,1) ppm dengan diameter umbi maksimum 3,56 cm.
6. Diameter Umbi - Percobaan Kedua Analisis ragam memperlihatkan varietas tidak berpengaruh nyata dan formulasi FeMnCu berpengaruh sangat nyata terhadap diameter umbi sedangkan interaksinya tidak nyata.
Varietas atlantik menghasilkan diameter umbi yang tidak berbeda nyata dibandingkan varietas granola. Perlakuan m3menghasilkan diameter umbi tertinggi
(3,78 cm) dan berbeda nyata dengan perlakuan m0 tetapi tidak berbeda nyata
dengan perlakuan m1dan m2.
Gambar 9b memperlihatkan hubungan formulasi FeMnCu dengan diameter umbi berkorelasi positif secara linier pada varietas atlantik dan granola dengan persamaan masing-masing :
Yv1 = 3,61 + 0,086 X ; R2 = 0,94 **
(sangat nyata) dan
Yv2 = 3,55 + 0,040 X ; R2 = 0,85 **
(sangat nyata)
Persamaan tersebut menunjukkan bahwa diameter umbi meningkat dengan peningkatan konsentrasi FeMnCu dimana setiap kenaikan satu satuan konsentrasi FeMnCu (ppm) sampai taraf tertentu akan meningkatkan diameter umbi sebesar 0,086 cm pada varietas atlantik dan 0,040 cm pada varietas granola.
Aspek Mutu Benih
1. Kandungan Karbohidrat -Percobaan Pertama
Analisis ragam memperlihatkan varietas berpengaruh nyata dan formulasi NPK berpengaruh sangat nyata terhadap kandungan karbohidrat kentang sedang-kan interaksinya tidak nyata.
Varietas atlantik menghasilkan kandungan karbohidrat yang lebih tinggi dan berbeda nyata dibandingkan dengan varietas granola. Perlakuan k2
menghasil-kan menghasil-kandungan karbohidrat tertinggi (18,96 g 100 g-1) dan berbeda nyata
dengan pengaruh perlakuan k0 dan k1,
tetapi tidak berbeda nyata dengan pengaruh perlakuan k3.
Hubungan formulasi NPK dengan kandungan karbohidrat berkorelasi positif secara kuadratik dengan persamaan untuk varietas atlantik dan granola masing-masing
Yv1= 13,55 + 3,423X - 0,545 X2 ; R2=
0,97 ** (sangat nyata) dan
Yv2= 12,91 + 3,652X - 0,59 X2 ; R2=
0,97 ** (sangat nyata)
Persamaan tersebut menunjukkan bahwa kandungan karbohidrat pada varietas atlantik meningkat dengan peningkatan konsentrasi NPK dan mencapai optimum pada formulasi NPK(11,8:14,1:18,8) ppm dengan kandungan karbohidrat maksimum 18,93g 100 g-1, varietas granola mencapai
optimum pada formulasi NPK (11,6:13,9:18,5)ppm dengan kandungan karbohidrat maksimum 18,56 g 100g-1.
2. Kandungan Karbohidrat -Percobaan Kedua
Analisis ragam memperlihatkan varietas dan formulasi FeMnCu berpengaruh nyata terhadap kandungan karbohidrat kentang sedangkan interaksi-nya tidak interaksi-nyata.
Varietas atlantik menghasilkan kandungan karbohidrat yang lebih tinggi dan berbeda nyata dibandingkan dengan varietas granola. Perlakuan m3
menghasilkan kandungan karbohidrat tertinggi (19,83 g 100 g-1) dan berbeda
nyata dengan perlakuan m0 tetapi tidak
bebeda nyata dengan pengaruh perlakuan m1 dan m2.
Hubungan formulasi FeMnCu dengan kandungan karbohidrat berkorelasi positif secara linier pada varietas atlantik dan granola dengan persamaan masing-masing :
Yv1 = 18,3 + 0,685 X ; R2= 0,96 **
(sangat nyata) dan
Yv2 = 17,1 + 0,729 X ; R2 = 0,98 **
(sangat nyata)
Persamaan tersebut menunjukkan bahwa kandungan karbohidrat meningkat dengan peningkatan konsentrasi FeMnCu dimana setiap kenaikan satu satuan konsentrasi FeMnCu (ppm) sampai taraf tertentu akan meningkatkan kandungan karbohidrat sebesar 0,685 g 100 g-1pada
varietas atlantik dan 0,729 g 100 g-1pada
varietas granola.
3. Kandungan Protein – Percobaan Pertama
Analisis ragam memperlihatkan varietas dan formulasi NPK berpengaruh sangat nyata terhadap kandungan protein kentang sedangkan interaksinya tidak nyata.
Varietas atlantik menghasilkan kandungan protein yang lebih tinggi dan berbeda nyata dibandingkan dengan varietas granola. Perlakuan K2
menghasilkan kandungan protein tertinggi (1,99%) dan berbeda nyata dengan perlakuan k0, k1dan k3.
Hubungan formulasi NPK (X) dengan kandungan protein (Y) berkorelasi positif secara kuadratik dengan persamaan untuk varietas atlantik dan granola masing-masing :
Yv1= 1,725 + 0,23X - 0,04 X2 ; R2=
0,71 * ( nyata) dan
Yv2= 1,535 + 0,213X - 0,035 X2 ; R2=
0,92 ** (sangat nyata)
Persamaan tersebut menunjukkan bahwa kandungan protein pada varietas atlantik meningkat dengan peningkatan konsentrasi NPK dan mencapai optimum pada formulasi NPK (9,6:11,5:15,3) ppm dengan kandungan protein maksimum 2,05%, varietas granola mencapai optimum pada formulasi NPK
(11,4:13,7:18,2) ppm dengan kandungan protein maksimum 1,86 %.
4. Kandungan Protein – Percobaan Kedua
Analisis ragam memperlihatkan varietas tidak berpengaruh nyata dan formulasi FeCuMn berpengaruh sangat nyata terhadap kandungan protein kentang serta interaksinya nyata.
Interaksi varietas atlantik dan formulasi FeMnCu menghasilkan kandungan protein yang lebih tinggi dan berbeda nyata dibandingkan dengan interaksi varietas granola dan formulasi FeMnCu. Interaksi varietas dan formulasi FeMnCu akan menghasilkan kandungan protein tertinggi (2,20%) pada interaksi v1m3 dan berbeda nyata dengan
interaksi v1m0dan v1m1.
Hubungan formulasi FeMnCu (X) dengan kandungan protein (Y) berkorelasi positif secara linier pada varietas atlantik dan granola dengan persamaan masing-masing :
Yv1= 1,855 + 0,109 X ; R2= 0,90 **
(sangat nyata) dan
Yv2= 1,651 + 0,172 X ; R2= 0,98 **
(sangat nyata)
Persamaan tersebut menunjukkan bahwa interaksi varietas atlantik dan formulasi FeMnCu dimana setiap kenaikan satu satuan konsentrasi FeMnCu (ppm) sampai taraf tertentu akan meningkatkan kandungan protein umbi sebesar 0,109% dan interaksi varietas granola dan formulasi FeMnCu meningkatkan kandungan protein umbi sebesar 0,172%.
5. Kandungan vitamin C – Percobaan Pertama
Analisis ragam memperlihatkan varietas dan formulasi NPK berpengaruh sangat nyata terhadap kandungan vitamin C sedangkan interaksinya tidak nyata.
Varietas atlantik menghasilkan kandungan vitamin C yang lebih rendah dan berbeda nyata dibandingkan dengan varietas granola. Perlakuan k2
menghasilkan kandungan vitamin C tertinggi (23,76 g 100 g-1) dan berbeda
nyata dengan perlakuan k0, k1, dan k3.
Hubungan formulasi NPK (X) dengan kandungan vitamin C (Y) berkorelasi positif secara kuadratik dengan persamaan untuk varietas atlantik dan granola masing-masing :
Yv1= 15,89 + 3,435 - 0,495 X2 ; R2=
0,98 ** (sangat nyata) dan
Yv2 = 20,80 + 2,744 - 0,43 X2 ; R2
=0,85 ** (sangat nyata)
Persamaan tersebut menunjukkan bahwa kandungan vitamin C pada varietas atlantik meningkat dengan peningkatan konsentrasi NPK dan mencapai optimum pada formulasi NPK (13,0:15,6:20,8) ppm dengan kandungan vitamin C maksimum 21,85%, varietas granola mencapai optimum pada formulasi NPK (12,0:14,4:19,1) ppm dengan kandungan vitamin C maksimum 25,18 %.
6. Kandungan vitamin C – Percobaan Kedua
Analisis ragam memperlihatkan varietas berpengaruh sangat nyata dan formulasi FeMnCu berpengaruh nyata terhadap kandungan vitamin C sedangkan interaksinya tidak nyata.
Varietas atlantik menghasilkan kandungan vitamin C yang lebih rendah dan berbeda nyata dibandingkan dengan varietas granola. Perlakuan m3
menghasilkan kandungan vitamin C tertinggi (24,69 g 100 g-1) dan berbeda
nyata dengan perlakuan m0 dan m1tetapi
tidak berbeda nyata dengan pengaruh perlakuan m2.
Hubungan formulasi FeMnCu (X) dengan kandungan vitamin C (Y) berkorelasi positif secara linier pada varietas atlantik dan granola dengan persamaan masing-masing :
Yv1= 20,710 + 0,740 X ; R2= 0,98 **
(sangat nyata) dan
Yv2 = 24,488 + 0,476 X ; R2= 0,52 tn
(tidak nyata)
Persamaan tersebut menunjukkan bahwa kandungan vitamin C meningkat dengan peningkatan konsentrasi FeMnCu dimana setiap kenaikan satu satuan konsentrasi FeMnCu (ppm) sampai taraf tertentu akan meningkatkan kandungan
vitamin C umbi sebesar 0,740 mg100 g-1
pada varietas atlantik dan 0,476 g pada varietas granola.
7. Ketebalan Kulit Umbi – Percobaan Pertama
Analisis ragam pada Tabel Lampiran 7 memperlihatkan varietas dan formulasi NPK berpengaruh sangat nyata terhadap ketebalan kulit umbi sedangkan interaksinya tidak nyata.
Varietas atlantik menghasilkan ketebalan kulit umbi yang tidak berbeda nyata dibandingkan dengan varietas granola. Perlakuan k2 menghasilkan
ketebalan kulit umbi tertinggi (0,26 mm) dan berbeda nyata dengan perlakuan k1
dan k0 tetapi tidak berbeda nyata dengan
pengaruh perlakuan k3.
Hubungan formulasi NPK (X) dengan ketebalan kulit umbi (Y) berkorelasi positif secara kuadratik dengan persamaan untuk varietas atlantik dan granola masing-masing
Yv1 = 0,185 + 0,056 X - 0,01 X2 ; R2= 0,97 ** (sangat nyata) dan
Yv2= 0,1825 + 0,0445X - 0,0075X2 ; R2= 0,98 ** (sangat nyata)
Persamaan tersebut menunjukkan bahwa ketebalan kulit umbi pada varietas atlantik meningkat dengan peningkatan konsentrasi NPK dan mencapai optimum pada formulasi NPK (9,3:11,2:14,9) ppm dengan ketebalan kulit maksimum 0,264 mm, varietas granola mencapai optimum pada formulasi NPK (9,9:11,9:15,8) ppm dengan ketebalan maksimum 0,249 mm. 8. Ketebalan Kulit Umbi – Percobaan
Kedua
Analisis ragam memperlihatkan varietas berpengaruh nyata dan formulasi FeMnCu berpengaruh sangat nyata terhadap ketebalan kulit umbi serta interaksinya berpengaruh nyata.
Interaksi varietas atlantik dan formulasi FeMnCu menghasilkan ketebalan kulit yang lebih tinggi dan berbeda nyata dibandingkan dengan interaksi varietas granola degan formulasi FeMnCu. Interaksi varietas atlantik dengan formulasi FeMnCu menghasilkan ketebalan kulit umbi
tertinggi (0,30 mm) pada perlakuan v1m3
dan berbeda nyata dengan interaksi v1m0
dan v1m1 tetapi tidak bebeda nyata
dengan interaksi v1m2.
Hubungan formulasi FeMnCu (X) dengan ketebalan kulit umbi (Y) berkorelasi positif secara linier pada varietas atlantik dan granola dengan persamaan masing-masing :
Yv1= 0,239 + 0,18 X ; R2= 0,90**
(sangat nyata) dan
Yv2= 0,253 + 0,05 X ; R2= 0,83**
(sangat nyata)
Persamaan tersebut menunjukkan bahwa interaksi varietas atlantik dan formulasi FeMnCu terhadap ketebalan kulit umbi meningkat dengan peningkatan konsentrasi FeMnCu dimana setiap kenaikan satu satuan konsentrasi FeMnCu (ppm) sampai taraf tertentu akan meningkatkan ketebalan kulit umbi sebesar 0,18 mm dan interaksi varietas granola dan formulasi FeMnCu meningkatkan ketebalan kulit umbi sebesar 0,05 mm.
9. Kekerasan umbi – Percobaan Pertama
Analisis ragam memperlihatkan varietas tidak berpengaruh nyata dan formulasi NPK berpengaruh sangat nyata terhadap kekerasan umbi serta interaksinya berpengaruh nyata.
Interaksi varietas atlantik dengan formulasi NPK menghasilkan kekerasan umbi yang lebih tinggi dan berbeda nyata dibandingkan dengan interaksi varietas granola dengan formulasi NPK. Interaksi varietas atlantik dengan formulasi NPK menghasilkan kekerasan umbi tertinggi perlakuan interaksi v1m3 (3,40 Psi) dan
berbeda nyata dengan interaksi perlakuan v1k0 dan v1k1.
Hubungan formulasi NPK (X) dengan kekerasan umbi (Y) berkorelasi positif secara kuadratik dengan persamaan untuk varietas atlantik dan granola masing-masing :
Yv1= 3,325 + 0,054 X - 0,01 X2 ; R2
= 0,98 ** (sangat nyata) dan
Yv2= 3,283 + 0,0715 X - 0,0125 X2 ; R2= 0,96 ** (sangat nyata)
Persamaan tersebut menunjukkan bahwa interaksi varietas atlantik dengan formulasi NPK terhadap kekerasan umbi meningkat dengan peningkatan konsentrasi NPK dan mencapai optimum pada formulasi NPK (9,0:10,8:14,4) ppm dengan kekerasan umbi maksimum 3,40 Psi, varietas granola mencapai optimum pada formulasi NPK (9,5:11,4:15,2) ppm dengan kekerasan umbi maksimum 3,38 Psi.
10. Kekerasan Umbi – Percobaan Kedua
Analisis ragam memperlihatkan varietas tidak berpengaruh nyata dan formulasi FeMnCu berpengaruh sangat nyata terhadap kekerasan umbi sedangkan interaksinya tidak nyata.
Varietas atlantik menghasilkan kekerasan umbi yang tidak berbeda nyata dibandingkan dengan varietas granola. Perlakuan m3 menghasilkan kekerasan
umbi tertinggi (3,43 Psi) dan berbeda nyata dengan perlakuan m0 tetapi tidak bebeda nyata dengan pengaruh perlakuan m1dan m2..
Hubungan formulasi FeMnCu (X) dengan kekerasan umbi (Y) berkorelasi positif secara linier pada varietas atlantik dan granola dengan persamaan masing-masing :
Yv1= 3,374 + 0,017 X; R2= 0,94 **
(sangat nyata) dan
Yv2= 3,337 + 0,250 X R2 = 0,88 **
(sangat nyata)
Persamaan tersebut menunjukkan bahwa kekerasan umbi meningkat dengan peningkatan konsentrasi FeMnCu dimana setiap kenaikan satu satuan konsentrasi FeMnCu (ppm) sampai taraf tertentu akan meningkatkan kekerasan umbi sebesar 0,017 Psi pada varietas atlantik dan 0,25 Psi pada varietas granola. 11. Kadar Air (KA) Umbi – Percobaan
Pertama
Analisis ragam memperlihatkan varietas berpengaruh nyata dan formulasi NPK berpengaruh sangat nyata terhadap kadar air umbi sedangkan interaksinya tidak nyata.
Varietas atlantik menghasilkan kadar air yang lebih rendah dan berbeda nyata dibandingkan dengan varietas granola. Perlakuan k2 menghasilkan
kadar air terendah (77,60%) dan berbeda nyata dengan perlakuan k0, k1 dan k3.
Gambar 15a memperlihatkan hubungan formulasi NPK (X) dengan kadar air (Y) berkorelasi positif secara kuadratik dengan persamaan pada varietas atlantik dan granola masing-masing :
Yv1= 81,64 - 2,463X + 0,415 X2 ; R2=
0,66 * (nyata) dan
Yv2= 84,09 - 3,99 X + 0,65 X2 ; R2=
0,95** (sangat nyata)
Persamaan tersebut menunjukkan bahwa kadar air umbi pada varietas atlantik menurun dengan peningkatan konsentrasi NPK dan terendah pada formulasi NPK (9,9:11,9:15,8) ppm dengan kadar air minimum 77,98 %, varietas granola terendah pada formulasi NPK (11,4:13,6:18,2) ppm dengan kadar air minimum 78,08 %.
12. Kadar Air (KA) Umbi – Percobaan Kedua
Analisis ragam memperlihatkan varietas tidak berpengaruh nyata dan formulasi FeMnCu berpengaruh sangat nyata terhadap kadar air umbi sedangkan interaksinya tidak nyata.
Varietas atlantik menghasilkan kadar air yang terendah dan berbeda nyata dibandingkan varietas granola. Perlakuan m3 menghasilkan kadar air
terendah (73,95 %) dan berbeda nyata dengan perlakuan m0, m1, dan m2.
Gambar 15b memperlihatkan hubungan formulasi FeMnCu (X) dengan kadar air umbi (Y) berkorelasi negatif secara linier pada varietas atlantik dan granola dengan persamaan masing-masing :
Yv1 = 76,283 - 0,905 X ; R2 = 0,77 *
(nyata) dan
Yv2 = 78,473 - 1,175 X ; R2 = 0,98 **
(sangat nyata)
Persamaan tersebut menunjukkan bahwa kadar air umbi menurun dengan peningkatan konsentrasi FeMnCu dimana setiap kenaikan satu satuan konsentrasi FeMnCu (ppm) sampai taraf tertentu
akan menurunkan kadar air umbi sebesar 0,905% pada varietas atlantik dan 1,175% pada varietas granola.
KESIMPULAN
1. Formulasi NPK (10:12:16) ppm memberikan pengaruh terbaik dalam meningkatkan tinggi tanaman 23%, jumlah daun 30%, jumlah umbi tanaman-1 36%, bobot umbi tanaman -1 41%, diameter umbi 18%,
kandungan karbohidrat 14%, kandungan protein 8%, kandungan vitamin C 11%, ketebalan kulit umbi 11%, dan menurunkan kadar air 3%. Formulasi larutan stok (A+B) + NPK(10:12:16)ppm pada varietas atlantik meningkatkan kekerasan umbi 1% dan pada varietas granola 1,5%.
2. Formulasi NPK(10:12:16)ppm + FeMnCu(3,0:1,5:0,6)ppm
memberikan pengaruh terbaik dalam meningkatkan tinggi tanaman 12%), jumlah daun 19%, jumlah umbi tanaman-112%, bobot umbi tanaman -1 13%, diameter umbi 3%,
kandungan karbohidrat 7%, kandungan vitamin C 6%, kekerasan umbi 1,2% dan menurunkan kadar air umbi 3%. Varietas atlantik dengan formulasi FeMnCu (3,0:1,5:0,6)ppm meningkatkan kandungan protein umbi 9,5% dan meningkatkan ketebalan kulit umbi 13%.
3. Benih hasil aeroponik menghasilkan pertumbuhan, produksi, dan mutu benih kentang yang lebih baik dibandingkan hasil sistem arang sekam pada dua varietas kentang dalam meningkatkan tinggi tanaman 11,9%, diameter umbi 9,1%, jumlah umbi tanaman-1 24,5%, bobot umbi
tanaman-1 30,7%, bobot kering umbi
7,7%, produksi umbi ton ha-130,4%,
dan menurunkan kadar air umbi 1,9%.
DAFTAR PUSTAKA
Burton, W. G. 2004. The Potato Sec. ed. H. Veenman and Zonen N. V. Wageningen. Holland. P. 231 – 2347.
Hu, C.Y. and P. J. Wang. 1985. Potato
Tissue Culture and Aplication in Agriculture. p: 503-577. In Paul H.
(ed.). Potato Physiology, Academic Press, Inc., London.
Howard, R. 2005. Hydroponic Questions
and Answers for Succesful Growing.
Santa Barbara, California : Woodbridge Press Publishing Company.
Mueller, D. S., Li, S., Hartman, G. L., and W. L. Pedersen. 2002. Use of
Aeroponic Chambers and Grafting to Study Partial Resistance to Fusarium solani f.sp. glycines in soybean.
Department of Crop Science, University of Illionois, Urbana. Plant. Dis. 86: 1223 -1226
Robert,.D. M., T. J. Lukas, and D.M. Watterson. 1986. Structure, Function,
and Mechanism of Action of Calmodulin. Critical Reviews in Plant
Sciences. 4 : 311 – 339.
Wattimena, G.A., N. A. Mattjik., dan Purwito, 1997. Research and Development of Potato Biotechnology from the Laboratory to The Market.
Proceeding IAMA Seminar New Technology in Agribusiness.
Wattimena,G. A. 2005. Prospek Plasma
Nutfah Kentang dalam Mendukung Swasembada Benih Kentang di Indonesia. Pusat Penelitian Sumber
daya Hayati dan Bioteknologi (PPSHB) IPB dan Jurusan Agrohort, Fakultas Pertanian. IPB.