APLIKASI ENZIM LIPASE PADA PULP TANDAN KOSONG SAWIT UNTUK KERTAS CETAK, MOULDING DAN MEDIA TANAM KECAMBAH KELAPA SAWIT

Teks penuh

(1)

APLIKASI ENZIM LIPASE PADA PULP TANDAN KOSONG SAWIT

UNTUK KERTAS CETAK, MOULDING DAN MEDIA TANAM

KECAMBAH KELAPA SAWIT

Erwinsyah1, Susi Sugesty2, Taufan Hidayat2

1Pusat Penelitian Kelapa Sawit

Jl. Brigjen Katamso No. 51 Medan Telepon (061)7862477 e-Mail: erwinsyahmail@yahoo.com

2Balai Besar Pulp dan Kertas

Jl. Raya Dayeuhkolot No. 132 Bandung Telepon (022)5202980

e-Mail: sugestyms@yahoo.com; taufanhidayat@gmail.com

ABSTRAK

Tandan kosong sawit (TKS) merupakan sumber daya lignoselulosa non-kayu yang ketersediaannya sepanjang tahun dapat menjadi alternatif bahan baku pulp dan kertas. Namun, kadar minyak yang terkandung dalam TKS dan noda yang masih terdapat pada lembaran pulp dan kertas menjadi hambatan terbesar pada produk kertas cetak yang diproduksi. Penggunaan enzim lipase pada proses perlakuan awal dapat mengurangi kadar ekstraktif dan meningkatkan kualitas produk kertas cetak yang dihasilkan serta lebih ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan teknologi proses produksi pulp TKS berkualitas tinggi yang dapat digunakan sebagai bahan baku produksi kertas cetak, moulding kemasan makanan dan minuman serta media tanam kecambah kelapa sawit. Bahan baku serat TKS diberi perlakuan aplikasi enzim lipase (pre-treatment) dalam pembuatan pulp TKS untuk kertas cetak yang berkualitas, moulding kemasan makanan dan minuman dan media tanam kecambah kelapa sawit. Pembuatan pulp TKS dilakukan dengan metode chemical pulping (proses sulfat/Kraft) dengan mengaplikasikan enzim lipase pada proses pre-treatment. Proses pemutihan pulp menggunakan proses ECF hanya dilakukan untuk membuat kertas cetak. Serat TKS secara morfologi cukup baik dengan rata-rata panjang serat 1,16 mm dan tergolong ke dalam kelompok serat pendek (<1,44 mm). Hasil analisis komponen kimia serat TKS menunjukkan bahwa kadar holoselulosa TKS cukup tinggi (68,99%), sehingga dapat digunakan sebagai bahan baku pulp. Proses pulping dengan aplikasi lipase dapat meningkatkan rendemen pulp putih dan menurunkan bilangan Kappa karena berkurangnya kadar ekstraktif. Kertas cetak yang dihasilkan telah memenuhi syarat SNI kertas cetak A berdasarkan uji sifat fisik lembaran. Desain dan prototype moulding untuk kemasan makanan dan minuman serta media tanam kecambah kelapa sawit telah diperoleh tetapi masih perlu penyempurnaan dalam pengeluaran hasil cetakan (moulding). Kertas yang dihasilkan untuk moulding kemasan makanan dan minuman serta media tanam kecambah yang biodegradable juga telah memenuhi standar ISTA tetapi pH dan kadar abu pulp masih tinggi sehingga perlu dilakukan pengujian lebih lanjut untuk kemasan makanan dan minuman serta perkecambahan di lapangan.

Kata kunci: pulp dan kertas, moulding, media tanam kecambah, lipase, biodegradable

I.

PENDAHULUAN

Kebutuhan pulp dan kertas dunia cukup besar dan meningkat setiap tahun, tetapi ketersediaan kayu sebagai bahan baku menjadi faktor pembatas keberlangsungan industri pulp dan kertas dunia. Bahan baku kayu (wood) maupun bukan kayu (non-wood) adalah bahan baku dasar

dalam proses pembuatan pulp (baik untuk bleach kraft pulp maupun dissolving kraft pulp) [6]. Dalam upaya menjaga kelestarian hutan Indonesia, penggunaan bahan baku non-kayu merupakan suatu cara yang dapat ditempuh untuk memproduksi pulp dan kertas. Tandan kosong sawit (TKS) dapat menjadi alternatif sumber bahan baku serat non-kayu untuk pulp dan kertas [7, 10].

(2)

Luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia telah mencapai 8,9 juta ha pada tahun 2011 dan 9,3 juta pada tahun 2012 [2,3]. Peningkatan luas areal penanaman kelapa sawit akan berdampak signifikan terhadap perkembangan industri kelapa sawit di Indonesia. Seiring dengan perkembangan industri kelapa sawit yang semakin pesat, jumlah limbah padat berupa TKS, serat mesokarp dan cangkang sawit yang dihasilkan juga akan meningkat setiap tahun. Ketersediaan TKS yang melimpah sepanjang tahun dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan baku untuk pembuatan pulp dan kertas [8]. TKS merupakan sumber daya alam berlignoselulosa tinggi yang ramah lingkungan dan dapat diperbaharui (renewable) [8,9,10].

TKS dapat dibuat menjadi pulp dengan kekuatan yang cukup tinggi sebagai bahan baku kertas cetak tulis, substitusi kertas kantong semen dan kertas HVO. Pada pembuatan pulp putih dan kertas tulis cetak yang telah dikembangkan oleh Balai Besar Pulp dan Kertas (BBPK) belum diperoleh pulp dan kertas yang berkualitas baik. Hal ini disebabkan tingginya kadar ekstraktif yang berasal dari minyak yang terkandung di dalam TKS dan noda pada lembaran pulp dan kertas yang diproduksi [5]. Kedua masalah tersebut merupakan hambatan terbesar pada produk kertas tulis dan cetak dan harus ditangani dengan metoda penghilangan secara kimia dengan menambahkan enzim lipase pada proses pre-treatment dalam pembuatan pulp TKS. Enzim lipase dimanfaatkan dalam proses penghilangan noda [4] dan penghilangan tinta pada proses pembuatan kertas daur ulang [1].

Pada saat ini telah dikembangkan pembuatan kemasan makanan dan minuman terbuat dari bahan baku alam (lignoselulosa) karena bahan kemasan berasal dari lignoselulosa, maka dapat terurai secara hayati (biodegradable) jika dibuang di alam dan dapat menggantikan bahan dari styrofoam. Sifat ini tidak terdapat pada kemasan berbahan dasar plastik (styrofoam) yang sulit atau tidak dapat mengalami biodegradasi. Selain itu sifat bahan baku

biodegradable pada serat TKS juga dapat dikembangkan

sebagai media tanam kecambah kelapa sawit. Salah satu kegiatan utama Pusat Penelitian Kelapa Sawit bergerak dalam produksi kecambah dan pembibitan kelapa sawit. Media tanam ini diharapkan dapat menjadi alternatif untuk meminimalisasi penggunaan tanah sebagai media tanam secara umum pada tahap pembibitan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan teknologi produksi pulp TKS yang berkualitas tinggi sebagai bahan baku kertas cetak,

moulding dan media tanam kecambah kelapa sawit.

II.

METODOLOGI

Persiapan Bahan Baku

TKS diuraikan dengan menggunakan mesin pengurai serat dan dikeringkan di udara terbuka. Selanjutnya, serat

TKS yang telah kering dipotong-potong dengan mesin pencacah menjadi serat pendek berukuran 3-5 cm. Penentuan kadar air dan minyak dilakukan dengan metode oven menurut SNI ISO287:2010 dan SNI 14-1032-1989.

Analisis Morfologi Serat dan Komponen Kimia TKS

Analisis morfologi serat TKS meliputi panjang serat, tebal dinding serat, dan nilai turunannya yaitu bilangan Runkel, kelangsingan dan kelemasan. Analisis komponen kimia TKS dilakukan menurut Standar Nasional Indonesia (SNI), meliputi kadar holoselulosa, alfa selulosa, lignin, pentosan, abu, sari (ekstrak alkohol-benzena), kelarutan dalam air dingin, air panas dan dalam 1% NaOH. Metoda pengujian yang digunakan adalah prosedur Franklin Forest

Product Research Laboratory US, Department of Agriculture dan

Standar Nasional Indonesia (SNI).

Pembuatan Pulp Kraft

Pemasakan bahan baku TKS dilakukan dengan proses sulfat (kraft) dalam digester putar (rotary digester) dalam udara panas yang dapat dikontrol. Sebelum proses pemasakan dilakukan pre-treatment dengan penambahan enzim lipase. Tiga variasi dosis lipase yang digunakan pada saat pretreatment adalah 0; 0,5 dan 1 kg/ton. Pulp hasil pemasakan kemudian dicuci dengan air panas dan air dingin untuk menghilangkan lindi hitam dari pulp. Selanjutnya pulp di uraikan seratnya menggunakan agitator, kemudian disaring dengan saringan datar bergetar (flat

screen). Pulp yang diperoleh ditentukan rendemen total (total yield) dan rendemen tersaringnya (screened yield). Adapun

kondisi pemasakan proses kraft TKS dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Kondisi pulping (pemasakan) proses kraft TKS

No Parameter Kondisi pemasakan

1 Temperatur, oC 165

2 Nilai cairan pemasak (rasio)banding serpih: 1:5

3 Sulfiditas, % 25

4 Alkali aktif, % 22 5 Waktu Pemasakan, jam 1,5

Pemutihan pulp hasil pemasakan bertujuan untuk mendapatkan pulp dengan derajat putih yang diinginkan. Pemutihan pulp dilakukan tanpa menggunakan klorin (Cl2),

tetapi menggunakan senyawa klor (ClO2) yang dikenal

dengan proses elemental chlorine free (ECF), dengan 3 tahapan proses, yaitu D0ED1 (klordioksida awal, ekstraksi,

(3)

dengan air panas dan air dingin hingga bersih (pH netral). Kondisi proses pemutihan pulp seperti pada Tabel 2.

Tabel 2. Kondisi proses pemutihan pulp untuk kertas cetak

Parameter D0 Eo D1 ClO2, % NaOH, % Consistency, % Temperature, oC Reaction time, minute End pH 0.22 -10 60 60 2.5-5.5 -1 10 70 60 11.5-12.0 1 -10 75 180 3,0-4.0 Pulp putih yang diperoleh ditentukan rendemen, viskositas dan kadar ekstraktif dengan pelarut diklorometana (DCM). Untuk pengujian derajat putih pulp dilakukan dengan SNI ISO 2470: 1999. Penentuan noda (dirt) juga ditentukan berdasarkan Dirt Estimation Chart TAPPI.

Pembuatan Kertas Cetak

Pulp TKS yang sudah sudah diputihkan digiling sampai mencapai derajat giling 300 ml CSF(Canadian Standard

Freeness Tester) berdasarkan SNI ISO 5267-2:2001. Bubur pulp

TKS yang dihasilkan dicampur dengan bubur pulp kraft serat panjang terputihkan atau needle bleached kraft pulp (NBKP) dengan komposisi bubur pulp TKS 90% dan bubur NBKP 10%. Bahan Kimia Kertas yang digunakan adalah 15% Kalsium karbonat, 1% Pati kationik, bahan sizing alkyl ketene

dimer (AKD) 0,5%. Selanjutnya bubur pulp ini (stok) dibuat

lembaran kertas.

Pengujian Sifat Fisik Lembaran Kertas

Pengujian sifat fisik lembaran kertas meliputi gramatur, tebal, kekasaran Bendsten, derajat putih, opasitas, ketahanan tarik, daya regang, TEA, kekakuan, Cobb60 dan penetrasi minyak. Metode yang digunakan menurut SNI ISO 1924-2:1994 dan SNI 14-0435-1998.

Pembuatan Kertas untuk Media Tanam Kecambah

Pulp TKS putih digiling sampai mencapai derajat giling sekitar 300 ml CSF, kemudian ditambahkan bahan kimia wet strength sebanyak 0,25%. Selanjutnya stok dibuat lembaran dengan gramatur 100 g/m2. Pengujian dilakukan terhadap

lembaran yang dihasilkan meliputi gramatur (SNI ISO 536:2010), ketahanan sobek (SNI 0436:2009), ketahanan retak (SNI ISO2758:2011), daya serap air Cobb-60 (SNI 0499:2008), daya kapiler Klemm (SNI ISO 8787), pH (SNI ISO 6588-1:2010), kadar abu (SNI 0442:2009), dan kadar air (SNI ISO287:2010).

III.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Morfologi dan komponen kimia serat TKS

Serat TKS yang diteliti mempunyai morfologi serat yang cukup baik dengan rata-rata panjang serat 1,16 mm. Serat tersebut termasuk ke dalam kelompok serat pendek (< 1,44 mm). Kelangsingan, kelemasan dan bilangan runkel merupakan sifat serat untuk mengidentifikasi sejauhmana serat dapat dimodifikasi seperti dipilin, dibuat lembaran dan dianyam. Nilai bilangan runkel lebih dari satu menunjukan bahwa serat TKS memiliki dinding yang tebal, sehingga kemungkinan memerlukan energi penggilingan yang lebih besar atau tidak mudah terfibrilasi karena tidak mudah dipipihkan. Hasil analisis morfologi serat TKS disajikan dalam Tabel 3.

Tabel 3. Hasil Analisis Morfologi Serat TKS

No. Parameter analisa Satuan Hasil 1. Panjang serat maximum mm 3,60 minimum mm 0,30 rata-rata (L) mm 1,16 2. Diameter luar (D) µm 21,53 3. Diameter dalam (l) µm 9,98 4. Tebal dinding (w) µm 5,46 5. Bilangan Runkel (2w/l) 1,09 6. Kelangsingan (L/D)x1000 50,81 7. Kekakuan (w/D) 0,26 8. Kelenturan (l/D) 0,48 Hasil analisis komponen kimia serat TKS dapat dilihat pada Tabel 4. Kandungan holoselulosa dan α-selulosa berturut-turut 68,99% dan 41,09% termasuk cukup baik untuk bahan baku pulp. Kadar lignin serat TKS hampir sama dengan kadar lignin dalam kayu daun. Kadar sari dalam serat TKS tergolong masih cukup tinggi dan berpotensi menimbulkan noda pada kertas yang dihasilkan. Penggunaan lipase diharapkan dapat meminimalisasi noda yang ditimbulkan pada kertas yang dihasilkan.

Pembuatan Pulp Kraft

Enzim lipase yang digunakan berbentuk cairan dengan nilai aktivitas sebesar 2,588 U/ml berdasarkan pengujian dengan metode spektrofotometri. Proses pemasakan menghasilkan pulp dengan bilangan kappa cukup rendah antara 9,24-10,12. Hal ini disebabkan berkurangnya kandungan ekstraktif dalam proses pembuatan pulp TKS, sehingga bahan kimia pemasak digunakan terutama hanya untuk melarutkan lignin yang diindikasikan dengan

(4)

bilangan kappa. Semakin besar dosis lipase yang ditambahkan maka bilangan Kappa yang dihasilkan semakin kecil (Tabel 5).

Tabel 4. Hasil Analisa Komponen Kimia Bahan Baku

No. Komponen Kimia (%)

1. Air 7,79 2. Abu 2,00 3. Silikat 1,28 4. Pentosan 29,37 5. Lignin 22,59 6. Holoselulosa 68,99 7. Selulosa alfa 41,09 8. Minyak 2,11 9. Sari (etanol-benzen) 5,22 10. Kelarutan dalam air panas 5,04 11. Kelarutan dalam air dingin 5,91 12. Kelarutan dalam NaOH 1% 24,69

Tabel 5. Hasil pulping(pemasakan) TKS

No LipaseDosis (%) Rendemen total (%) Rendemen tersaring (%) Bilangan Kappa 1. 0 47,16 46,66 10,12 2. 0 46,50 46,00 10,12 3. 0 46,16 45,66 10,12 4. 0,5 45,86 45,36 9,96 5. 0,5 45,78 45,28 9,83 6. 0,5 45,68 45,18 9,52 7. 1 46,17 45,67 9,75 8. 1 45,78 45,28 9,63 9. 1 45,50 45,00 9,24

Pemutihan pulp TKS menghasilkan rendemen yang masih cukup tinggi. Hal ini menunjukkan selulosa tidak banyak mengalami degradasi. Penambahan enzim lipase ternyata dapat meningkatkan rendemen pulp putih yang dihasilkan (Tabel 6).

Tabel 6. Hasil Pemutihan Pulp (D0ED1) No Lipase Dosis (%) Rendemen Pemutihan (%) Rendemen pulp putih terhadap bahan baku (%) 1. 0 94,72 43,68 2. 0,5 97,53 44,15 3. 1 98,01 44,42

Sifat Fisik dan Optik Kertas Cetak

Pada proses pembuatan kertas cetak, bubur pulp kimia TKS dicampur dengan bubur pulp kraft serat panjang

terputihkan atau needle bleached kraft pulp (NBKP) dengan komposisi bubur pulp TKS 90% dan bubur NBKP 10%. Umumnya NBKP ditambahkan sebagai sumber serat panjang. Bahan kimia kertas yang digunakan adalah 15% kalsium karbonat sebagai filler, 1% pati kationik sebagai aditif dry strength, dan 0,5% bahan sizing alkyl ketene dimer (AKD). Sifat fisik dan optik kertas cetak yang diperoleh tersaji pada Tabel 7.

Kertas cetak dari bahan baku pulp TKS tidak bersifat

bulky, nilai bulk dari kedua perlakuan dengan lipase tidak

berbeda dengan blanko dan memenuhi persyaratan SNI kertas cetak A dan B. Demikian juga dengan kekasaran, perlakuan pembuatan pulp TKS dengan lipase tidak memberikan pengaruh terhadap kekasaran.

Pembuatan pulp TKS dengan penambahan lipase berpengaruh positif terhadap ketahanan tarik. Ketahanan tarik meningkat dari 3,4 menjadi 3,8 kN/m dan memenuhi persyaratan SNI kertas cetak A. Noda pada kertas selain berpengaruh pada performance kertas, juga berpengaruh pada kekuatan kertas. Adanya noda menghalangi terbentuknya ikatan antar serat. Perlakuan pembuatan pulp dengan lipase 0,1 kg/ton meningkatkan ketahanan tarik sebesar 0,4 kN/m. Adanya nilai kenaikan ketahanan tarik dan daya regang, yang disertai penurunan kekakuan pada kenaikan dosis lipase, menunjukkan adanya peningkatan kemampuan daya giling (refinability) dari pulp TKS akibat perlakuan lipase.

Secara keseluruhan, hasil pembuatan kertas cetak dari pulp TKS telah memenuhi SNI Kertas Cetak A. Derajat putih yang dihasilkan cukup tinggi. Perlakuan pembuatan pulp dengan lipase berpengaruh secara nyata terhadap derajat putih. Nilai derajat putih mengalami kenaikan dari dosis lipase 0,5 kg/ton ke 1,0 kg/ton. Dapat diasumsikan jika dosis lipase ditingkatkan maka derajat putih masih bisa meningkat.

Kertas Media Tanam Kecambah

Salah satu parameter penting kertas untuk media tanam kecambah kelapa sawit adalah ketahanan retak. Sifat ini menentukan kekuatan kertas agar tidak tertembus akar saat pembenihan. Melihat angka ketahanan retak yang ditetapkan ISTA, ketahanan retak kertas yang dihasilkan cukup tinggi, berarti aman tidak akan tertembus akar.

Ketahanan sobek diperlukan agar tidak terjadi propagasi sobek saat kertas digunakan. Kertas akan mengalami perlakuan sedemikian rupa saat penggunaan, sehingga menginisiasi sobeknya kertas. Hal ini tergantung pada cara penggunaan. Nilai sobek yang tinggi pada produk hasil percobaan, maka kertas cukup aman dari propagasi sobek.

Dari Tabel 8 kertas untuk media tanam kecambah memenuhi syarat kertas towel berdasarkan standar ISTA (International Seed Testing Association) sebagai media tanam.

(5)

Tetapi kadar abunya masih tinggi dan pH kertas bersifat

alkalin. Pengaruh nyata dari kadar abu dan pH yang tinggi masih pengujian/perkecambahan benih.harus diuji di lapangan pada proses

Tabel 7. Hasil pengujian sifat fisik dan sifat optik lembaran kertas

Parameter Unit Blanko

Dosis Lipase 0,5 kg/ton Dosis Lipase 1,0 kg/ton SNI Kertas Cetak A SNI Kertas Cetak B Gramatur g/m² 90,7 88,5 95,7 50-100 50-100 Bulk cm3/g 0,13 0,14 0,13 Maks 1,6 Kekasaran (Bendsten) ml/mnt 150 149 150 120-300 150-300 Ketahanan Tarik kN/m 3,4 3,4 3,8 Min. 2,0 Min. 1,18 Daya Regang % 3,50 3,54 3,75 Maks. 4,0 Maks 4,0 Penetrasi Minyak (1000/mm) 26,48 27,89 26,81 Maks. 30 Maks. 30

Derajat Putih % 73 76 80 Min. 75 Min. 70

Opasitas % 91 94 92 80-95 Min. 85

Kekakuan kN/m 6,09 5,20 5,84 -

-Tabel 8. Hasil pengujian sifat fisik kertas untuk media tanam kecambah

Parameter Unit Media TanamKertas Standar ISTA

Towel Filter

Gramatur g/m² 109,3 135,1 85

Ketahanan Sobek mN 614,1 -

-Ketahanan Retak kg/cm2 1,86 Min. 1,05 Min. 0,9

Daya serap air

(Cobb- 60) g/m² 414,4 -

-Daya serap kapiler (Klemm)

mm/1 menit 33 Min. 32 Min. 36

mm/10 menit 76 -

-pH - 8,98 6,5 6 - 7,5

Kadar Air % 8 -

-Kadar Abu % 2,02 Maks. 0,62 Maks.1,6

Kadar abu yang terkandung dalam lembaran kertas bukan dari penambahan filler tetapi dari bahan baku TKS bisa disebut kertas dengan kategori kertas “non-filler”. Keberadaan filler dikhawatirkan akan bersifat toksik terhadap benih yang dikemas oleh kertas tersebut.

IV.

KESIMPULAN

TKS merupakan alternatif yang baik sebagai bahan baku pulp dan kertas. Serat TKS mempunyai morfologi serat yang cukup baik yaitu rata-rata panjang serat 1,16 mm dan termasuk kedalam kelompok serat pendek (<1,44 mm), kadar holoselulosa 68,99% dan kadar α-selulosa 41,09%. Tetapi, kadar sari TKS sebesar 5,22% cukup tinggi

dan berpotensi menimbulkan noda pada kertas yang dihasilkan. Hasil pulping (pembuatan pulp) kraft dengan aplikasi lipase pada proses pre-treatment menunjukkan bahwa semakin besar dosis lipase maka nilai bilangan Kappa semakin rendah, ini diakibatkan oleh turunnya kandungan ekstraktif, sedangkan rendemen pulp putih semakin tinggi. Desain dan prototipe moulding untuk media tanam kecambah telah diperoleh.

Dari hasil pengujian sifat fisik lembaran, kertas cetak telah memenuhi syarat SNI kertas cetak A. Kertas hasil percobaan untuk media tanam kecambah kelapa sawit sesuai untuk pertumbuhan kecambah yaitu tidak mudah ditembus akar, tidak akan mengalami sobekan saat digunakan, dan tidak bersifat toksik terhadap kecambah

(6)

yang disemaikan karena tidak ada penambahan filler. Kadar abu dan pH masih lebih tinggi menurut standar ISTA untuk kertas towel dan filter, sehingga perlu diuji coba di lapangan pada saat proses pengujian/ perkecambahan benih

DAFTAR PUSTAKA

[1] Aisyah LS., Rismijani, J., Wiryawan, SK., (2011), Proses Deinking Kertas Salut Bekas Secara Enzimatis Dengan Enzim α-Amilase, Selulase dan Lipase. Seminar Pulp dan Kertas, Bandung, 11 Mei 2011. [2] Amalia, R, Agustira, MA., Wahyono, T., (2012),

Pusat Penelitian Kelapa Sawit.

[3] Direktorat Jenderal Perkebunan Nusantara, (2012), Kementerian Pertanian.

[4] Elyani, N., Rismijani, J., Wiryawan, SK., Cucu, (2011), Penanganan Sticky dan Pitch Secara Enzimatis Pada Daur Ulang Kertas Bekas, Seminar Pulp dan Kertas. Bandung, 11 Mei 2011.

[5] Guritno, P., Erwinsyah, Susilawati, E., (1998), Potensi dan Persiapan Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) Sebagai Bahan Baku Pulp dan Kertas, Lokakarya Pemanfaatan Limbah Tandan Kosong Kelapa Sawit Sebagai Bahan Baku Pulp dan Kertas, Bandung. [6] Jahan, MS., Gunter, BG., Rahman, AFMA., (2009),

Substituting Wood with Nonwood Fibers in Papermaking: A Win-Win Aolution for Bangladesh, Bangladesh Development Research Working Paper Series No. 4 (January 2009).

[7] Kamaludin, NH., Ghazali, A., Wan Daud, W., (2012), Potential oh Fines As Reinforcing Fibers in Alkaline Peroxide Pulp of Oil Palm Empty Fruit Bunch, BioResources 7(3): 3425-3438.

[8] Rosnah, MY., Ghazali, A., Wan Rosli, WD., Dermawan, YM., (2010), Influence of Alkaline Peroxide Treatment Duration on the Pulpability of Oil Palm Empty Fruit Bunch, World Applied Sciences Journal 8(2): 185-192.

[9] Sucipto, T., (2009), Aplikasi Liukida Kayu dari Sumber Daya Alam Berlignoselulosa, Karya Tulis, Universitas Sumatera Utara.

[10]Wan Rosli, WD., Law, KN., (2011), Oil Palm Fibers as Papermaking Material: Potentials and Challenges, BioResources 6(1): 901-907.

Figur

Tabel 3. Hasil Analisis Morfologi Serat TKS No. Parameter analisa Satuan Hasil

Tabel 3.

Hasil Analisis Morfologi Serat TKS No. Parameter analisa Satuan Hasil p.3
Tabel 2. Kondisi proses pemutihan pulp untuk kertas cetak

Tabel 2.

Kondisi proses pemutihan pulp untuk kertas cetak p.3
Tabel 6. Hasil Pemutihan Pulp (D 0 ED 1 ) No Dosis  Lipase  (%) Rendemen Pemutihan(%) Rendemen pulp putih terhadap bahan baku (%) 1

Tabel 6.

Hasil Pemutihan Pulp (D 0 ED 1 ) No Dosis Lipase (%) Rendemen Pemutihan(%) Rendemen pulp putih terhadap bahan baku (%) 1 p.4
Tabel 4.  Hasil Analisa Komponen Kimia Bahan Baku

Tabel 4.

Hasil Analisa Komponen Kimia Bahan Baku p.4
Tabel 5. Hasil pulping (pemasakan) TKS No Dosis Lipase (%) Rendemen total(%) Rendemen tersaring(%) BilanganKappa 1

Tabel 5.

Hasil pulping (pemasakan) TKS No Dosis Lipase (%) Rendemen total(%) Rendemen tersaring(%) BilanganKappa 1 p.4
Tabel 7. Hasil pengujian sifat fisik dan sifat optik lembaran kertas

Tabel 7.

Hasil pengujian sifat fisik dan sifat optik lembaran kertas p.5
Tabel 8. Hasil pengujian sifat fisik kertas untuk media tanam kecambah

Tabel 8.

Hasil pengujian sifat fisik kertas untuk media tanam kecambah p.5

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :