• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN FISKAL REGIONAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KAJIAN FISKAL REGIONAL"

Copied!
156
0
0

Teks penuh

(1)

DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN

KAJIAN FISKAL REGIONAL

Tahun 2020

(2)
(3)

Dalam rangka menjalankan tugas Kementerian Keuangan sebagai Pengelola Fiskal, Kanwil Ditjen Perbendaharaan selaku representasi Kementerian Keuangan di daerah menjalankan fungsi Pembinaan Pelaksanaan Anggaran Daerah. Salah satu pelaksanaan fungsi tersebut, Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Aceh telah menyusun dan menyelesaikan Kajian Fiskal Regional Tahun 2020.

Kajian Fiskal Regional ini diarahkan pada analisis fiskal dan ekonomi makro yang dapat digunakan dalam pencapaian tujuan kebijakan fiskal. Kajian ini memaparkan informasi mengenai potret dari profil dan dinamika kondisi fiskal di Provinsi Aceh yang antara lain tentang makroekonomi daerah, perkembangan pelaksanaan anggaran pusat dan daerah, serta perkembangan pengelolaan BLU dan investasi, potensi ekonomi regional dan tantangan fiskal daerah.

Kami menyadari masih terdapat kekurangan dan kelemahan dalam kajian ini, untuk itu masukan dan saran yang konstruktif sangat diharapkan guna perbaikan kajian selanjutnya.

Dalam kesempatan ini, kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak baik Pemerintah Daerah dan SKPD dalam lingkup Kabupaten/Kota/Provinsi Aceh, BPS Provinsi Aceh, Perwakilan Bank

Indonesia Provinsi Aceh, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Aceh, Badan Wilayah Sungai Sumatera I dan KPPN dalam wilayah Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Aceh yang telah membantu dalam penyusunan Kajian Fiskal Regional Tahunan Provinsi Aceh Tahun 2020.

Semoga dengan adanya informasi yang tertuang dalam kajian ini dapat memberikan manfaat kepada para pemangku kepentingan.

Syafriadi

SYAFRIADI

(4)

TIM

PENYUSUN

Penanggungjawab :

Syafriadi

(Kepala Kanwil DJPb Provinsi Aceh)

Ketua Tim :

Y u s r i

(Kepala Bidang PPA II)

Koordinator :

Oktana Yudha Sakti (Kepala Seksi PPA II B)

Editor :

Arriza Adiya

Luthfiya Nazla Marpaung

Desain Grafis :

Oktana Yudha Sakti

Arriza Adiya

Kontributor :

Zulfan (Kepala Seksi PPA II A)

Alfa M H. Simanungkalit (Kepala Seksi PPA II C)

Dewi Wahyuni

(5)

DAFTAR

ISI

Kata Pengantar i

Tim Penyusun ii

Daftar Isi iii

Daftar Tabel vi

Daftar Grafik viii

Daftar Gambar dan Boks x

Dashboard Makro-Fiskal Regional xi

Ringkasan Eksekutif xii

BAB I Sasaran Pembangunan dan Tantangan Daerah 1

1.1 Pendahuluan 1

1.2 Tujuan dan Sasaran Pembangunan 2

1.2.1 Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah

(RPJMD) 2

1.2.2 Berdasarkan Rencana Kerja Pemerintah Aceh (RKPA) 5

1.3 Tantangan Daerah 5

1.3.1 Tantangan Ekonomi Daerah 5

1.3.2 Tantangan Sosial Kependudukan 6

1.3.3 Tantangan Geografi Wilayah 7

1.3.4 Tantangan Pandemi Bagi Daerah 9

BAB II Perkembangan dan Analisis Ekonomi Regional 11

2.1 Indikator Ekonomi Makro Fundamental 11 2.1.1 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) 11

2.1.2 Suku Bunga 15

2.1.3 Inflasi 16

2.1.4 Nilai Tukar Rupiah 18

2.2 Indikator Kesejahteraan 19

2.2.1 Indeks Pembangunana Manusia (IPM) 19

2.2.2 Tingkat Kemiskinan 22

2.2.3 Tingkat Ketimpangan (Rasio Gini) 24 2.2.4 Kondisi Ketenagakerjaan dan Tingkat Pengangguran 25

2.2.5 Nilai Tukar Petani (NTP) 27

2.2.6 Nilai Tukar Nelayan (NTN) 28

2.3 Efektivitas Kebijakan Makro Ekonomi Dan Pembangunan Regional 29 BAB III Perkembangan dan Analisis Pelaksanaan APBN Tingkat Regional 31

3.1 APBN Tingkat Provinsi 31

3.2 Pendapatan Pemerintah Pusat Tingkat Regional 33

3.2.1 Penerimaan Perpajakan 33

3.2.2 Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) 38 3.3 Belanja Pemerintah Pusat Tingkat Regional 40 3.3.1 Perkembangan Pagu dan Realisasi Berdasarkan Organisasi 40 3.3.2 Perkembangan Pagu dan Realisasi Berdasarkan Fungsi 41 3.3.3 Perkembangan Pagu dan Realisasi Berdasarkan Jenis Belanja 43

(6)

3.4 Transfer Ke Daerah dan Dana Desa 44

3.4.1 Dana Transfer Umum 46

3.4.2 Dana Transfer Khusus 46

3.4.3 Dana Desa 47

3.4.4 Dana Insentif Daerah dan Otonomi Khusus 48 3.5 Analisis Cash Flow APBN Tingkat Regional 49 3.5.1 Arus Kas Masuk (Penerimaan Negara) 49 3.5.2 Arus Kas Keluar (Belanja dan TKDD) 49

3.5.3 Surplus/Defisit 50

3.6 Pengelolaan BLU Pusat 51

3.6.1 Profil dan Jenis Layanan Satker BLU Pusat 51 3.6.2 Perkembangan Aset, PNBP, dan Belanja BLU Pusat 52

3.6.3 Kemandirian BLU 53

3.7 Pengelolaan Manajemen Investasi Pusat 55

3.7.1 Penerusan Pinjaman 55

3.7.2 Kredit Program 55

3.8 Perkembangan dan Analisis Belanja Wajib (Mandatory Spending) dan

Belanja Infarastruktur Pusat Di Daerah 58

3.8.1 Mandatory Spending di Daerah 59

3.8.2 Belanja Infrastrukturdi Daerah 60

BAB IV Perkembangan dan Analisis Pelaksanaan APBD 63

4.1 APBD Tingkat Provinsi (Konsolidasi Pemda) 63

4.2 Pendapatan Daerah 64

4.2.1 Dana Transfer / Perimbangan 64

4.2.2 Pendapatan Asli Daerah 67

4.2.3 Pendapatan Lain-lain 69

4.3 Belanja Daerah 69

4.3.1 Rincian Belanja Daerah Berdasarkan Klasifikasi Urusan 69 4.3.2 Rincian Belanja Daerah Berdasarkan Jenis Belanja (Sifat Ekonomi) 70

4.4 Perkembangan BLU Daerah 72

4.4.1 Profil dan Jenis Layanan BLU Daerah 72 4.4.2 Perkembangan Pengelolaan Aset PNBP dan RM BLU Daerah 72

4.4.3 Analisis Legal 74

4.5 Surplus/Defisit APBD 74

4.5.1 Rasio Surplus/Defisit terhadap Pendapatan 74 4.5.2 Rasio Surplus/Defisit terhadap Dana Transfer 75 4.5.3 Rasio Surplus/Defisit terhadap PDRB 75

4.6 Pembiayaan Daerah 76

4.6.1 Rasio SILPA terhadap Alokasi Belanja 76

4.6.2 Pengeluaran Pembiayaan 76

4.6.3 Rasio Pinjaman Daerah terhadap Total Pembiayaan 77

4.6.4 Keseimbangan Primer 77

4.7 Analisis Kinerja Pengeloaan Keuangan Daerah 78 4.7.1 Analisis Horizontal dan Vertikal 78 4.7.2 Analisis Kapasitas Fiskal Daerah 78

(7)

4.8.2 Belanja Daerah Sektor Kesehatan 80

4.8.3 Belanja Infrastruktur Daerah 80

BAB V Perkembangan dan Analisis Pelaksanaan Anggaran Konsolidasian

(APBN&APBD) 83

5.1 Laporan Realisasi Anggaran Konsolidasian 83

5.2 Pendapatan Konsolidasian 84

5.2.1Analisis Proporsi dan Perbandingan 84 5.2.2 Rasio Pajak per Kapita Provinsi Aceh 85 5.2.3 Analisis Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Kenaikan Realisasi

Pendapatan Konsolidasi 86

5.3 Belanja Konsolidasian 87

5.3.1 Analisis Proporsi dan Perbandingan 87 5.3.2 Analisis Rasio Belanja Konsolidasi Terhadap Jumlah Penduduk 88

5.4 Surplus/Defisit Konsolidasian 89

5.4.1 Proporsi Realisasi Surplus/Defisit Pemerintah Pusat dan Pemerintah

Daerah terhadap Surplus/Defisit Konsolidasian 89 5.4.2 Analisis Rasio Surplus/Defisit terhadap PDRB antar Kabupaten/Kota 90 5.5 Analisis Dampak Kebijakan Fiskal Agregat 90 5.5.1 Belanja Pemerintah Terhadap PDRB 90 BAB VI Keunggulan dan Potensi Ekonomi Serta Tantangan Fiskal Regional 93

6.1 Sektor Unggulan Daerah 94

6.1.1 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun Lhokseumawe 94

6.2 Sektor Potensial Daerah 98

6.2.1 Proyek Strategis Nasional (PSN) Lhok Guci Aceh Barat: Pembangunan Jaringan Irigasi untuk Mendorong Pertumbuhan Ekonomi dan Pertanian

Kabupaten Aceh Barat 98

6.3 Tantangan Fiskal Regional dalam Mendorong Potensi Ekonomi Daerah 103 6.3.1Tantangan Fiskal Pemerintah Pusat 103 6.3.2Tantangan Fiskal Pemerintah Daerah 104 6.3.3Sinkronisasi Kebijakan Fiskal Pusat Daerah 104 BAB VII Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) Sektor UMKM

di Aceh yang dibiayai APBD 105

BAB VIII Penutup 115

8.1 Kesimpulan 115

8.2 Rekomendasi 117

(8)

DAFTAR

TABEL

Tabel 1.1 Tujuan dan Sasaran Pembangunan Aceh Tahun 2017-2022 3

Tabel 2.1 Jumlah PDRB Provinsi Aceh 11

Tabel 2.2 PDRB Sisi Penawaran Atas Dasar Harga Konstan 13

Tabel 2.3 PDRB Sisi Permintaan Atas Dasar Harga Konstan 14

Tabel 2.4 Perkembangan UHH, HLS, RLS dan Pengeluaran Per Kapita Aceh 21 Tabel 2.5 Perkembangan Indeks Kedalaman Kemiskinan dan Indeks Keparahan Kemiskinan

Aceh 23

Tabel 2.6 Dampak Covid-19 terhadap Penduduk Usia Kerja Provinsi Aceh 26

Tabel 2.7 Perkembangan Tenaga Kerja Per Sektor 27

Tabel 2.8 Target dan Capaian Aceh terhadap Indikator Ekonomi Makro 29

Tabel 3.1 APBN Provinsi Aceh 31

Tabel 3.2 Penerima Insentif Fiskal Perpajakan Per Sektor Usaha 37

Tabel 3.3 Realisasi Per Jenis PNBP Lainnya 39

Tabel 3.4 Tingkat Penyerapan 10 K/L Pagu Terbesar TA 2020 40

Tabel 3.5 Pagu dan Realisasi Dana Transfer Provinsi Aceh 2018 s.d. 2020 44 Tabel 3.6 Perkembangan Jumlah Aset, PNBP, dan Belanja BLU Pusat di Aceh 52 Tabel 3.7 Perkembangan Realisasi PNBP BLU, Belanja BLU, dan Rasio PNBP BLU terhadap

Belanja BLU 53

Tabel 3.8 10 Satker PNBP Aceh dengan Realisasi PNBP Terbesar di Tahun 2020 dan

Perbandingannya dengan Realisasi PNBP di Tahun 2019 54

Tabel 3.9 Nama Debitur dan Jumlah Pinjaman Daerah per 31 Desember 2020 55 Tabel 3.10 Penyaluran KUR per Sektor Ekonomi Wilayah Aceh Tahun 2018-2020 56 Tabel 3.11 Perkembangan Penyaluran KUR Per Skema Tahun 2018-2020 57 Tabel 3.12 Perkembangan Penyaluran KUR Per Wilayah Tahun 2018-2020 58 Tabel 3.13 Pagu dan Realisasi Mandatory Spending Bidang Pendidikan 59 Tabel 3.14 Pagu dan Realisasi Mandatory Spending Bidang Kesehatan 60

Tabel 3.15 60

Tabel 4.1 LRA APBA+APBK Provinsi Aceh Unaudited 63

Tabel 4.2 Jenis Pendapatan APBD Kab/Kota dan Provinsi di Aceh 64 Tabel 4.3 Target dan Realisasi Belanja APBD Kab/Kota dan Provinsi per Jenis Belanja 71

Tabel 4.4 Nilai Aset BLUD di Provinsi Aceh 72

Tabel 4.5 PNBP dan RM BLUD Tahun 2018 73

Tabel 4.6 Penetapan BLUD 74

Tabel 4.7 Perkembangan Kapasitas Fiskal Provinsi Aceh 79

Tabel 4.8 Perkembangan Belanja per Fungsi 79

Tabel 5.1 LRA Konsolidasian Tingkat Wilayah Provinsi Aceh 83

Tabel 5.2 Rasio Pajak per Kapita Aceh dalam 3 Tahun Terakhir 85

Tabel 5.3 Perkembangan Rasio Pajak dan Rasio Pendapatan Aceh terhadap PDRB

Aceh 86

Tabel 5.4 Perkembangan Rasio Belanja Konsolidasian Terhadap Jumlah Penduduk

di Provinsi Aceh 89

Tabel 6.1 Realisasi Investasi dan Penyerapan Tenaga Kerja di KEKAL s.d Tahun 2020 97 Tabel 6.2 Calon Tenant Potential Prospectus KEKAL Tahun 2021 97 Tabel 6.3 Produksi Tanaman Unggulan Kabupaten Aceh Barat 100

(9)

Tabel 6.6 Produktivitas Tanaman Unggulan Kabupaten Aceh Barat 102 Tabel 6.7 Analisis Location Quotient (LQ) PDRB Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan

Kabupaten Aceh Barat 103

Tabel 7.1 Rincian Stimulus Belanja Bantuan Keuangan Pemerintah Aceh 110 Tabel 7.2 Pagu dan Realisasi Bantuan Keuangan Khusus Provinsi Tahun 106 Tabel 7.3 Pagu dan Realisasi Penerima Manfaat Bantuan UKM 2019 113

(10)

DAFTAR

GRAFIK

Grafik 2.1 Pertumbuhan Ekonomi Aceh dan Nasional 12

Grafik 2.2 PDRB per Kapita Aceh dan Nasional 15

Grafik 2.3 BI 7-Day Refresh Repo Rate 2020 15

Grafik 2.4 Perbandingan Tingkat Suku Bunga dengan Inflasi 16

Grafik 2.5 Inflasi Bulanan Aceh dan Nasional Tahun 2020 17

Grafik 2.6 Inflasi Tahunan Aceh dan Nasional Tahun 2015-2020 17 Grafik 2.7 Pergerakan Kurs Tengah Mata Uang Asing Terhadap Rupiah Tahun 2020 18

Grafik 2.8 Perkembangan Ekspor Impor Aceh 2015-2020 19

Grafik 2.9 Indeks Pembangunan Manusia Aceh dan Nasional 20

Grafik 2.10 Perkembangan Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Aceh dan Nasional 22 Grafik 2.11 Perkembangan Kemiskinan Perkotaan dan Pedesaan di Provinsi Aceh 23

Grafik 2.12 Perkembangan Rasio Gini Aceh dan Nasional 24

Grafik 2.13 Perbandingan Rasio Gini Se-Sumatera Tahun 2020 25

Grafik 2.14 Perkembangan Tingkat Penganguran Aceh dan Nasional 26

Grafik 2.15 Nilai Tukar Petani (NTP) m-to-m Tahun 2020 28

Grafik 2.16 Nilai Tukar Nelayan (NTN) m-to-m Tahun 2020 28

Grafik 2.17 Perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP) dan Nilai Tukar Nelayan (NTN)

Tahun 2018-2020 29

Grafik 3.1 Realisasi Penerimaan Pajak Pemerintah Pusat Provinsi Aceh Tahun 2020 33

Grafik 3.2 Realisasi Pajak Dalam Negeri per Jenis Pajak 34

Grafik 3.3 Realisasi Penerimaan Pajak Perdagangan Internasional di Aceh 35

Grafik 3.4 Perkembangan Tax Rasio Aceh 36

Grafik 3.5 Realisasi Penerima Insentif Fiskal Perpajakan 36

Grafik 3.6 Perkembangan Realisasi PNBP Aceh 39

Grafik 3.7 Persentase Alokasi APBN Berdasarkan Klasifikasi Fungsi TA 2020 41 Grafik 3.8 Perbandingan Realisasi Anggaran Berdasarkan Klasifikasi Fungsi TA 2018 s.d 2020 43

Grafik 3.9 Alokasi dan Realisasi Belanja TA 2018-2020 44

Grafik 3.10 Pagu dan Realisasi Transfer ke Daerah per Kab./Kota TA 2020 45 Grafik 3.11 Alokasi dan Realisasi Dana Transfer Umum Tahun 2018-2020 46 Grafik 3.12 Alokasi dan Realisasi Dana Transfer Khusus Tahun 2018-2020 47

Grafik 3.13 Alokasi dan Realisasi Dana Desa Tahun 2018-2020 48

Grafik 3.14 Alokasi dan Realisasi Dana Insentif Daerah dan Dana Otonomi Khusus

Tahun 2018-2020 48

Grafik 3.15 Arus Kas Masuk di Provinsi Aceh Tahun 2020 49

Grafik 3.16 Arus Kas Keluar di Provinsi Aceh Tahun 2020 50

Grafik 3.17 Cash Flow APBN di Provinsi Aceh 50

Grafik 4.1 Rasio Kemandirian Keuangan Daerah Provinsi Aceh 66

Grafik 4.2 Tren Alokasi Dana Transfer terhadap Pertumbuhan Ekonomi, Inflasi, IPM,

Tingkat Kemiskinan dan Tingkat Pengangguran 66

Grafik 4.3 Realisasi PAD per Kabupaten/Kota di Provinsi Aceh Tahun 2020 67 Grafik 4.4 Rasio PAD terhadap Belanja Pemerintah Daerah per Kabupaten/Kota

Tahun 2020 68

(11)

Grafik 4.7 Perbandingan per Jenis Belanja antara Provinsi dan Seluruh Kab./Kota 71

Grafik 4.8 Rasio Keseimbangan Primer per Pemda tahun 2020 77

Grafik 4.9 Perbandingan Kontribusi PAD dalam Pendapatan Daerah terhadap

Surplus/Defisit Daerah 78

Grafik 5.1 Perbandingan Komposisi Pendapatan Konsolidasian 84

Grafik 5.2 Perbandingan Persentase Perubahan Pendapatan Konsolidasian 85 Grafik 5.3 Perbandingan Belanja Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2020 87 Grafik 5.4 Perubahan Komposisi Belanja per Jenis Belanja Tahun 2020 dari tahun 2019 88 Grafik 5.5 Perbandingan Surplus/Defisit Konsolidasian Tahun 2020 dan 2019 89 Grafik 5.6 Rasio Surplus/Defisit terhadap PDRB Aceh 2019 dan 2020 90 Grafik 5.7 Rasio Belanja Pemerintah (APBN + APBD) di Provinsi Aceh Terhadap PDRB Aceh 91

(12)

DAFTAR

GAMBAR dan BOKS

Gambar 1 Perkembangan Covid-19 di Provinsi Aceh (13 Februari 2021) 10 Boks 1 Berita Terpilih: Turunkan Angka Kemiskinan di Aceh Bappeda: Pemerintah

Alokasi Dana Rp 9,3 T 62

Boks 2 Berita Terpilih: Pemprov Aceh Siapkan Dana Rp 118 M untuk Tangani Corona 82 Boks 3 Berita Terpilih: Pemprov Aceh Beberkan Belanja Tidak Tetap (BTT) untuk

Covid-19 92

Boks 4 Berita Terpilih: Pelaku UMKM Mengaku Bantuan Pemerintah Aceh Menunjang

(13)

DASHBOARD

MAKRO

FI

SKAL

PROVI

NSI

TAHUN

2020

REALISASIPENDAPATAN

PERTUMBUHAN

EKONOMI

I

NDEKS

PEMBANGUNAN

MANUSI

A

(

I

PM)

Pertanian,Kehutanan,dan

Perikanan;30,98%

Perdagangan Besardan Eceran,

dan ReparasiMobildan Sepeda

Motor;14,78%

AdministrasiPemerintahan,

Pertahanan dan Jaminan

SosialWajib;10,26%

Transportasidan

Pergudangan;4,60%

IndustriPengolahan;4,56%

Konstruksi;10,67%

TI

NGKAT

KEMI

SKI

NAN

TI

NGKAT

PENGANGGURAN

I

NDEKS

KETI

MPANGAN

TI

NGKAT

I

NFLASI

REALISASIPENDAPATAN REALISASIBELANJA

REALISASIBELANJA

Pajak 3,97 T (68,28%) PNBP 904,27 M (149,57%)

PAD 5,41 T (95,48%)

Dana Perimbangan 20,56 T (98,86%) Dana Otsus dan Penyesuaian 8,13 T (100%) Transfer Dana Desa 4,98 T (99,95%)

Lain-lain Pendaoatan yang Sah 558,21 M (87%) Pusat 12,59 T (95,57%) Transfer 33,67 T (99,29%) Migas :-0,37% Non Migas :-0,74% Capaian 2020 :71,99% Capaian 2020 :15,01% Capaian 2020 :6,59% Capaian 2020 :0,319 Capaian 2020 :3,59 Belanja 39,63 (80,76%) Capaian APBN Capaian APBD

REALI

SASI

APBN/

APBD

CAPAIAN INDIKATOR PEMBANGUNAN

KONTRIBUSI& PERTUMBUHAN 6 SEKTOR UTAMA TERBESAR PDRB ACEH

PERTUMBUHAN

EKONOMI

NASI

ONAL

ACEH

2019

2020

-0,

37

-2,

07

5,

02

4,

14

(14)

RINGKASAN

EKSEKUTIF

Pandemi Covid-19 dan dampaknya

menjadi salah satu isu penting dalam pembahasan kajian ini. Pandemi yang memberikan dampak signifikan terhadap berbagai sektor, salah satunya adalah sektor ekonomi. Sepanjang tahun 2020, pertumbuhan ekonomi nasional terkontraksi di angka 2,07 persen. Demikian halnya pertumbuhan ekonomi di Aceh, meskipun masih lebih baik dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional.

Pertumbuhan ekonomi Aceh pada tahun 2020 terkontraksi di angka 0,37 persen. Pertumbuhan yang mengalami kontraksi dibanding tahun-tahun sebelumnya dengan pertumbuhan positif sebesar 4,14 persen pada 2019 dan 4,61 persen pada tahun 2018. Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan masih menjadi sektor unggulan di Aceh seperti tahun-tahun sebelumnya, terutama sejak semakin berkurangnya produksi dari sektor migas di Aceh. Di tahun 2020, Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan memberikan kontribusi mencapai Rp37,90 triliun terhadap PDRB Aceh, dengan persentase sebesar 28,80 persen. Sektor Perdagangan Besar, Eceran, dan Reparasi mengikuti dengan kontribusi sebesar Rp19,24 triliun atau 14,62 persen serta Sektor

Konstruksi sebesar Rp13,90 triliun atau 10,56 persen.

Pertumbuhan ekonomi Aceh yang negatif ini juga diikuti dengan kenaikan jumlah penduduk miskin. Persentase penduduk miskin Aceh selama periode Maret 2017 sampai dengan September 2020 terus berfluktuasi. Sempat mengalami penurunan sejak periode Maret 2018 sampai Maret 2020 di level 14,99 persen atau sebesar 815 ribu jiwa. Pada September 2020 jumlah kemiskinan yang mencapai 834 ribu jiwa atau 15,43 persen.

Salah satu pemicu kemiskinan adalah pengangguran. Jumlah pengangguran Aceh per Agustus 2020 mencapai 167 ribu orang, meningkat jika dibandingkan jumlah pengangguran pada periode Februari 2020 yang mencapai 136 ribu orang. Sementara Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Aceh pada Agustus 2020 sebesar 6,59 persen, naik cukup signifikan jika dibandingkan dengan periode Februari 2020 yang mencapai 5,42 persen.

Tingginya jumlah pengangguran ini diperparah dengan adanya Pandemi Covid-19

yang memberikan dampak pada dinamika ketenagakerjaan di provinsi Aceh. Total dari penduduk usia kerja yang terdampak Covid-19

(15)

orang.

Hal menarik jika dikaitkan dengan tingkat kemiskinan di Aceh adalah, pertama Rasio Gini. Rasio ketimpangan pendapatan di masyarakat yang mengalami kenaikan pada Maret 2020 akibat dari memuncaknya tingkat pandemi Covid-19 ini, di September 2020 turun pada angka 0,319 dibandingkan periode Maret 2020 yang sebesar 0,323. Kedua, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat. sampai dengan tahun 2020 berada di level 71,99. Artinya IPM Aceh mencapai kategori IPM Tinggi. Bahkan IPM Aceh lebih tinggi dibandingkan dengan IPM Nasional yang berada pada level 71,94.

Dari lima indikator ekonomi makro yang ditetapkan targetnya pada KUA Provinsi Aceh (Pertumbuhan Ekonomi, Tingkat Kemiskinan, Pengangguran, Inflasi, dan IPM), dua di antaranya terealisasi sesuai target yaitu Tingkat Inflasi dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Beberapa target indikator pembangunan terutama pertumbuhan ekonomi tidak dapat tercapai sebagai dari akibat dampak pandemi Covid-19. Pandemi ini memiliki dampak terhadap berbagai aspek kehidupan, terutama pada aspek kesehatan dan ekonomi. Kondisi perekonomian Indonesia bahkan mengalami resesi pada triwulan IV karena penurunan pertumbuhan

sebelumnya.

Untuk menekan tingkat kedalaman pertumbuhan ekonomi ke kondisi yang lebih parah, melalui instrumen APBN, pemerintah pusat telah mengeluarkan berbagai kebijakan dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Program ini sebagai salah satu upaya untuk membantu masyarakat dalam menghadapi pandemi Covid-19. Beberapa program PEN seperti penyaluran BLT Desa, subsidi bunga/margin, dan BPUM, bertujuan untuk meningkatkan konsumsi rumah tangga masyarakat dalam hal meningkatkan daya belinya.

Untuk kinerja APBN di Aceh tahun 2020 ini, penerimaan perpajakan masih menjadi sumber utama pendapatan negara yang berkontribusi 81,45 persen dari total pendapatan negara pada tahun 2020. Pendapatan negara di Provinsi Aceh mencapai Rp4,88 triliun. Realisasi tersebut lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Penurunan realisasi penerimaan pajak ini disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya selain disebabkan meningkatnya target penerimaan pajak serta masih rendahnya tingkat kepatuhan membayar pajak oleh wajib pajak, faktor lain adalah kebijakan stimulus fiskal dalam rangka penanganan dampak Covid-19, yaitu berupa insentif perpajakan yang diberikan oleh pemerintah terutama di sektor usaha

(16)

sehingga mengurangi potensi penerimaan pajak di tahun 2020.

Hal ini pun dialami juga dengan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang terealisasi sebesar Rp904,27 miliar, turun dibandingkan penerimaan tahun lalu. Penurunan juga dialami Belanja Negara yang hanya terealisasi Rp46,25 triliun. Hal ini dikarenakan adanya refocusing anggaran pada sisi Belanja Negara tahun 2020 yang diprioritaskan kepada penanganan dampak pandemi Covid-19.

Dalam komposisi APBD, ketergantungan Aceh terhadap dana transfer dari Pemerintah Pusat terhitung masih cukup tinggi. Tercatat di tahun 2020 pendapatan transfer untuk seluruh pemerintah daerah di Aceh (Dana Perimbangan, Dana Otsus dan Penyesuaian, dan Alokasi Dana Desa) memiliki proporsi sebesar 85,55 persen. Sedangkan di sisi lain, rasio proporsi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Aceh pada APBD tahun 2020 hanya sebesar 13,65 persen dengan total realisasi sebesar Rp5,41 triliun.

Komposisi belanja pemerintah, baik APBN maupun APBD, proporsi terbesar berasal dari belanja pegawai dengan masing-masing proporsi 52,40 persen pada belanja APBN, dan 30,83 persen pada belanja APBD. Realisasi belanja daerah lebih besar dengan persentase proporsi sebesar 75,89 persen dibandingkan belanja Pemerintah Pusat yang hanya sebesar 24,11 persen. Hal ini

dikarenakan alokasi yang besar pada belanja APBD serta di sisi lain alokasi belanja APBN terfokus kepada transfer ke daerah. Hal ini mengindikasikan bahwa pemerintah kini semakin kuat dalam menerapkan konsep desentralisasi fiskal dengan berfokus pada peningkatan fiscal space di Pemerintah Daerah. Kebijakan pengurangan alokasi Belanja Pemerintah Pusat diharapkan dapat semakin mendorong pertumbuhan perekonomian di daerah.

Jika menggunakan Analisis Dampak Kebijakan Fiskal Agregat, konsumsi pemerintah yang ditunjukkan dalam rasio realisasi belanja pemerintah pusat dan daerah menjadi salah satu kontributor yang cukup krusial dalam pertumbuhan ekonomi daerah. Pada tahun 2020, rasio belanja pemerintah terhadap PDRB Aceh sebesar 31,38 persen. Angka tersebut turun jika dibandingkan dengan rasio pada tahun 2019 yang sebesar 34,25 persen. Selama tahun 2018 sampai dengan tahun 2020, realisasi belanja pemerintah mengalami tren penurunan sedangkan PDRB mengalami tren kenaikan. Dalam hal ini dapat diambil suatu hipotesis bahwa belanja pemerintah bukan satu-satunya variabel yang mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi di Provinsi Aceh.

Untuk itu, dibutuhkan langkah lain untuk meningkatkan nilai rasio indikator lain seperti konsumsi masyarakat, investasi dan ekspor. Beberapa langkah yang dapat

(17)

kemiskinan dalam rangka meningkatkan konsumsi masyarakat di Aceh. Langkah-langkah seperti membuka akses kesempatan masyarakat untuk mendapatkan fasilitas subsidi pemerintah dalam sektor usaha seperti KUR dan UMi serta optimalisasi pemberian program bantuan tunai. Selain itu, langkah lain yang sudah diinisiasi oleh pemerintah seperti, subsidi margin non-KUR, Bantuan Produktif untuk UMKM serta insentif perpajakan untuk UMKM dalam Program PEN. Untuk meningkatkan minat investasi dari luar Aceh, dapat dipertimbangkan pemberian insentif pajak dan kemudahan perizinan bagi industri baru dalam Kawasan Ekonomi Khusus Arun Lhokseumawe.

Berdasarkan analisis dan kesimpulan yang diambil, dapat diberikan beberapa rekomendasi, yaitu:

1. Kebijakan di Pemerintah Daerah

a. Deregulasi peraturan investasi dan beberapa peraturan lain yang terkait proses pengurusan perizinan untuk menciptakan peluang investasi baru di provinsi Aceh;

b. Menyusun langkah extraordinary dalam rangka percepatan pengentasan kemiskinan, diantaranya mendorong pemanfaatan program-program eksisting pembiayaan UMKM oleh masyarakat seperti KUR dan UMi serta program PEN kluster perlinsos dan

dan BPUM.

2. Kebijakan di Pemerintah Pusat

a. Bersama pemerintah daerah, melalui instansi vertikal di daerah untuk lebih berperan aktif dalam mendorong kebijakan-kebijakan pembiayaan UMKM seperti KUR dan UMi dan program PEN seperti subsidi margin dan BPUM;

b. Untuk menarik minat penanaman modal di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), perlu dipertimbangkan kebijakan pemberian insentif perpajakan dalam rangka memberikan ruang lebih dalam pengembangan industri berbagai sektor.

3. Kebijakan di Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah

a. Perlu adanya sinkronisasi penyelesaian Proyek Strategis Nasional (PSN) sehingga dampak maupun outcome yang diterima oleh daerah dan masyarakat dapat lebih optimal. Hal ini dapat dicontohkan dengan penyelesaian pembangunan Daerah Irigasi Lhok Guci dan penyelesaian Proyek Pencetakan Sawah di Kabupaten Aceh Barat, langsung diikuti dengan program penambahan pengadaan bibit dan pengadaan penambahan peralatan pertanian oleh Pemerintah Kabupaten

(18)

Aceh Barat, sehingga peningkatan produksi padi dapat segera tercapai; b. Perlu adanya sinkronisasi regulasi pusat

dan daerah terutama terkait perijinan

dan insentif perpajakan sehingga lebih dapat memberikan ruang pengembangan investasi di daerah.

(19)

B A B I

SASARAN PEMBANGUNAN

DAN TANTANGAN DAERAH

20

20

Tujuan: Memahami daerah dalam konteks sasaran pembangunan dan tantangan yang dihadapi daerah

(20)
(21)

1.1 PENDAHULUAN

Perencanaan pembangunan Aceh disusun secara komprehensif sebagai bagian dari sistem perencanaan pembangunan nasional dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, merupakan landasan hukum di bidang perencanaan pembangunan. Ketiga peraturan ini memberikan arahan tentang tata cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana pembangunan jangka panjang, jangka

menengah, dan tahunan yang dilaksanakan oleh unsur

penyelenggaraan pemerintahan di Pusat dan Daerah dengan melibatkan masyarakat.

Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang

Pemerintahan Aceh menegaskan bahwa perencanaan pembangunan Aceh disusun secara komprehensif sebagai bagian dari sistem perencanaan pembangunan nasional dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan: nilai-nilai Islam, sosial budaya, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan, keadilan dan pemerataan, dan kebutuhan, serta disusun untuk menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, dan pengawasan.

Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 86 Tahun 2017 tentang Tata Cara Perencanaan Pembangunan Daerah, Tata Cara Evaluasi Rancangan Peraturan Daerah Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, serta Tata Cara Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah

BAB I

Sasaran Pembangunan dan

Tantangan Daerah

(22)

mengamanatkan bahwa perencanaan daerah dirumuskan secara transparan, responsif, efisien, efektif, akuntabel, partisipatif, terukur,

berkeadilan, dan berwawasan lingkungan. Perencanaan

pembangunan daerah adalah suatu proses penyusunan tahapan kegiatan yang melibatkan berbagai unsur pemangku kepentingan. Hal ini ditujukan untuk pemanfaatan dan pengalokasian sumberdaya yang ada dalam rangka meningkatkan kesejahteraan sosial dalam suatu lingkungan wilayah/daerah dalam jangka waktu tertentu.

1.2 TUJUAN DAN SASARAN PEMBANGUNAN DAERAH

1.2.1 Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)

RPJMD adalah dokumen perencanaan daerah untuk periode 5 (lima) tahunan yang merupakan penjabaran dari visi, misi, dan program kepala daerah. RPJM Aceh 2017-2022 merupakan tahapan pembangunan ketiga dari RPJP Aceh 2005-2025 yaitu memfokuskan pada pemantapan basis pengembangan industri manufaktur. Terdapat 23 (dua puluh tiga) tujuan dan 54 (lima puluh empat) sasaran dalam RPJMA Tahun 2017-2022

RPJMD merupakan dokumen perencanaan daerah untuk periode 5 (lima) tahunan yang merupakan penjabaran dari visi, misi, dan program kepala daerah yang memuat tujuan, sasaran, strategi, arah kebijakan pembangunan daerah dan keuangan daerah, serta program perangkat daerah dan lintas perangkat daerah yang disertai dengan kerangka pendanaan bersifat indikatif untuk jangka waktu 5 (lima) tahun. RPJMD disusun dengan berpedoman pada Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).

Agar pembangunan dapat memberikan hasil yang optimal, maka RPJMD harus memperhatikan dan mempertimbangkan aspek-aspek pembangunan spasial yang telah digariskan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). RPJM Aceh 2017-2022 merupakan tahapan pembangunan ketiga dari RPJP Aceh 2005-2025. Tahapan ini memfokuskan pada pemantapan basis pengembangan industri manufaktur. Sejalan dengan hal tersebut fokus pembangunan juga menguatkan agroindustri yang belum berkembang secara optimal pada tahapan pembangunan sebelumnya.

Tujuan dan sasaran pembangunan Aceh dalam RPJMA Tahun 2017-2022 merupakan upaya pencapaian visi “Terwujudnya

Aceh yang Damai dan Sejahtera Melalui Pemerintahan yang Bersih,

Adil dan Melayani” dan 10 (sepuluh) Misi. yang meliputi: Misi Pertama, Reformasi birokrasi menuju pemerintahan yang adil, bersih dan melayani; Misi Kedua, Memperkuat pelaksanaan Syariat Islam

(23)

beserta nilai-nilai keislaman dan budaya ke-Acehan dalam kehidupan masyarakat dengan iktikad Ahlussunnah Waljamaah yang bersumber

hukum Mazhab Syafi’iyah dengan tetap menghormati mazhab yang

lain; Misi Ketiga, Menjaga integritas nasionalisme dan keberlanjutan perdamaian berdasarkan MoU Helsinki; Misi Keempat, Membangun masyarakat yang berkualitas dan berdaya saing di tingkat nasional dan regional; Misi Kelima, Mewujudkan akses dan pelayanan kesehatan dan kesejahteraan sosial yang mudah, berkualitas dan terintegrasi; Misi Keenam, Mewujudkan kedaulatan dan ketahanan pangan; Misi Ketujuh, Menyediakan sumber energi listrik yang bersih dan terbarukan; Misi Kedelapan, Membangun dan mengembangkan sentra-sentra produksi dan industri kreatif yang kompetitif; Misi Kesembilan, Revitalisasi fungsi perencanaan daerah dengan prinsip

evidence based planning yang efektif, efisien dan berkelanjutan; dan

Misi Kesepuluh, Pembangunan dan peningkatan kualitas infrastruktur terintegrasi, dan lingkungan yang berkelanjutan.

Untuk mendukung pencapaian visi dan misi yang telah ditetapkan sebagaimana yang terdapat dalam RPJMA Tahun 2017-2022, terdapat 23 (dua puluh tiga) tujuan dan 54 (lima puluh empat) sasaran untuk mendukung percepatan pencapaian prioritas dan sasaran pembangunan nasional. Sasaran pembangunan Aceh tahun 2017-2022 disajikan pada Tabel 1.1 berikut ini.

Tabel 1.1 Tujuan dan Sasaran Pembangunan Aceh Tahun 2017-2022

M I S I T U J U A N S A S A R A N

1.Reformasi birokrasi menuju pemerintahan yang adil, bersih dan melayani

1.Mewujudkan reformasi

birokrasi yang berkualitas 1.2.Birokrasi yang bersih dan akuntabel Birokrasi yang efektif dan efisien 3.Birokrasi yang memiliki pelayanan publik

yang berkualitas

4.Database kepegawaian yang terintegrasi

2.Memperkuat

pelaksanaan Syariat Islam beserta nilai-nilai

keislaman dan budaya keacehan dalam kehidupan masyarakat dengan iktikad

Ahlussunnah Waljamaah yang bersumber hukum Mazhab Syafi’iyah dengan tetap menghormati mazhab yang lain.

2.Memperkuat pelaksanaan Aqidah, Syariah, dan Akhlak dalam tatanan kehidupan masyarakat

5.Menguatnya kualitas masyarakat berbasis Al-Qur'an dan Al-Hadist, Ijma’ dan Qiyas

6.Meningkatkan kualitas dan kuantitas pendidikan dayah

7.Menguatnya tatanan Ekonomi Syari'ah 8.Menguatnya penegakan Syariah dalam

bermasyarakat

9.Meningkatnya pengamalan Syariat Islam di daerah perbatasan

10.Meningkatnya sarana dan prasarana keagamaan dan budaya berbasis islami 11.Menguatnya tatanan budaya, adat

(24)

3.Menjaga integritas nasionalisme dan keberlanjutan perdamaian berdasarkan MoU Helsinki 3.Meningkatnya keberlanjutan perdamaian berdasarkan prinsip- prinsip MoU Helsinki

12.Tuntasnya Aturan Turunan UU-PA 13.Tuntasnya turunan UU-PA yang tidak

bisa diimplementasikan

14.Menguatnya kapasitas SDM dan kelembagaan korban konflik 4.Meningkatkan

pembangunan demokrasi 15.Meningkatnya kebebasan sipil masyarakat 16.Meningkatnya hak-hak politik 17.Meningkatnya peran lembaga

demokrasi 4.Membangun masyarakat

yang berkualitas dan berdaya saing di tingkat nasional dan regional

5.Meningkatkan kualitas SDM Aceh yang memiliki daya saing

18.Meningkatnya kualitas pendidikan 19.Meningkatkan akses masyarakat

terhadap pendidikan

20.Meningkatnya kualitas tenaga pendidik dan kependidikan

21.Meningkatnya kualitas pendidikan vokasional

6.Meningkatkan prestasi olahraga dan kepemudaan ditingkat nasional dan regional

22.Terwujudnya pemuda yang berkarakter, berkualitas, dan berdaya saing

23.Meningkatnya prestasi olahraga 5.Mewujudkan akses dan

pelayanan kesehatan dan kesejahteraan sosial yang mudah, berkualitas dan terintegrasi

7.Meningkatkan derajat

kesehatan masyarakat 24.Meningkatnya kualitas kesehatan masyarakat 25.Meningkatnya Akses Masyarakat

Terhadap Layanan Kesehatan 8.Meningkatkan

pengarusutamaan gender dalam pembangunan.

26.Menurunnya kesenjangan laki-laki dan perempuan dalam pembangunan 27.Meningkatnya peran perempuan

dalam pembangunan 9.Meningkatnya kesejahteraan

sosial masyarakat 28.29.Meningkatnya kesejahteraan PMKS Meningkatnya kesejahteraan disabilitas 30.Menurunnya angka kemiskinan 6.Mewujudkan kedaulatan

dan ketahanan pangan 10.Meningkatkan pertumbuhan ekonomi 31.Meningkatkan pembangunan sektor pertanian 11.Menurunnya Angka

Kemiskinan 32.33.Meningkatkan Ketahanan Pangan Meningkatkan kesejahteraan petani dan Nelayan

7.Menyediakan sumber energi listrik yang bersih dan terbarukan

12.Mewujudkan ketahanan dan

kemandirian energi di Aceh 34.Terwujudnya kemandirian energi 13.Meningkatkan pertumbuhan

ekonomi 35.Meningkatnya kontribusi subsektor pertambangan dan penggalian 8.Membangun dan

mengembangkan sentra-sentra produksi dan industri kreatif yang kompetitif

14.Meningkatkan pertumbuhan

ekonomi 36.37.Meningkatnya pembangunan industri Meningkatnya neraca perdagangan 38.Meningkatnya jumlah dan nilai investasi 39.Meningkatnya kontribusi pariwisata 15.Menurunnya Angka

Pengangguran 40.Meningkatnya kesempatan kerja pada sektor industri, pariwisata dan jasa lainnya

9.Revitalisasi fungsi perencanaan daerah dengan prinsip evidence based planning yang efektif, efisien dan berkelanjutan

16.Membangun Sistem Informasi Aceh secara terpadu dan dan teritegrasi.

41.Meningkatnya transparansi informasi publik

42.Terintegrasinya dan terpusatnya data secara elektronik.

17.Memperkuat perencanaan pembangunan sesuai dengan prinsip Evidence Based Planning.

43.Meningkatnya konsistensi antar dokumen perencanaan lintas sektor dan wilayah

44.Membangun Bank Data terintegrasi 10.Pembangunan dan

peningkatan kualitas infrastruktur terintegrasi, dan lingkungan yang berkelanjutan

18.Mengurangi ketimpangan

antar wilayah 45.Meningkatnya konektivitas antar wilayah 19.Menurunnya angka

kemiskinan 46.Berkembangnya wilayahpemukiman baru

20.Meningkatnya prasarana

dan sarana pelayanan dasar 47.Meningkatnya pemenuhan infrastruktur dasar masyarakat 48.Meningkatnya pelayanan pertanahan 21.Meningkatkan tatakelola

lingkungan Hidup lestari 49.Meningkatnya pengendalian lingkungan hidup lestari 50.Bertambahnya luasan kawasan

(25)

22.Meningkatkan pengelolaan hutan secara lestari dan berkelanjutan

51.Luas kawasan hutan yang lestari dan berkelanjutan

52.Terjaganya keanekaragaman hayati 53.Menguatnya Fungsi dan Peran KPH 23.Meningkatkan tatakelola

kebencanaan 54.Pengarusutamaan pengurangan resiko bencana dalam pembangunan

Sumber: Qanun Aceh No. 1 Tahun 2019, 2021

1.2.2 Berdasarkan Rencana Kerja Pemerintah Aceh (RKPA)

Target Capaian Indikator Makro 2020: Pertumbuhan Ekonomi 5,50 % Tingkat Kemiskinan 13,43 % IPM 71,96 Rasio Gini 0,317 TPT 6,25%.

RKPA merupakan dokumen perencanaan teknis dengan jangka waktu satu tahun, yang disusun berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 86 Tahun 2017 tentang Tata Cara Perencanaan, Pengendalian dan Evaluasi Pembangunan Daerah, Tata Cara Evaluasi Rancangan Peraturan Daerah Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah, serta Tata Cara Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah.

RKPA tahun 2020 memiliki tujuan dan sasaran pembangunan sesuai dengan yang tertuang dalam RPJMA Tahun 2017-2022 dimana terdapat 23 (dua puluh tiga) tujuan dan 54 (lima puluh empat) sasaran untuk mendukung percepatan pencapaian prioritas dan sasaran pembangunan nasional.

Sesuai dengan RPJMA (2017-2022) Pembangunan pada tahun 2020 diselenggarakan dengan tema “Memacu pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, peningkatan daya saing SDM dan

infrastruktur yang terintegrasi”. Selain itu terdapat target Capaian

Indikator Makro Aceh dalam RKPA yang harus dicapai pada akhir tahun 2020, antara lain Pertumbuhan ekonomi berkisar 5,50 persen, Sasaran tingkat kemiskinan pada kisaran 13,43 persen, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) menjadi 71,96, Rasio Gini menjadi 0,317 dan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menjadi 6,25 persen.

1.3 TANTANGAN DAERAH

1.3.1 Tantangan Ekonomi Daerah

Kondisi pembangunan ekonomi Aceh relatif rendah jika dibandingkan dengan beberapa Provinsi di Sumatera dan Nasional. Hal ini ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang rendah, tingkat kemiskinan dan pengangguran yang masih tinggi, terjadi capital

(26)

Tahun 2020 perekonomian Aceh dan beberapa indikator sosial ekonomi mulai tumbuh secara signifikan. Fungsionalisasi kawasan ekonomi khusus dan kawasan industri diharapkan mengundang kegiatan penanaman modal, sekaligus menyediakan kesempatan kerja dan menjadi penarik komoditas Aceh. Permasalahan perekonomian Aceh adalah defisit perdagangan, baik untuk luar negeri maupun antar daerah.

output flows dengan defisit neraca perdagangan antar daerah serta

minimnya investasi dan peran swasta dalam pembangunan Aceh. Pada tahun 2020 perekonomian Aceh dan beberapa indikator sosial ekonomi mulai tumbuh secara signifikan. Kebijakan pembangunan agroindustri yang mengarah pada peningkatan nilai tambah produk pertanian dengan pemanfaatan teknologi 4.0 sejak dari hulu sampai ke hilir, dalam rangka percepatan pembangunan Aceh perlu dilakukan perencanaan ekonomi Aceh tahun 2021 secara sinergis dan terintegrasi.

Perekonomian Aceh pada tahun 2020 mempunyai outlook

yang baik. Fungsionalisasi kawasan ekonomi khusus dan kawasan industri secara baik mengundang kegiatan penanaman modal, sekaligus menyediakan kesempatan kerja dan menjadi penarik komoditas Aceh sebagai bahan baku kegiatan industri di dalam kawasan tersebut. Sektor pertambangan dan penggalian masih menjadi salah satu mesin ekonomi Aceh melalui produksi batu bara, minyak bumi dan gas alam di Aceh Barat, Aceh Timur dan Aceh Tamiang. Sektor pariwisata juga diperkirakan berkembang dengan makin terbukanya Aceh dan perbaikan dalam hal akses, amenitas dan atraksi destinasi wisata halal. Sektor pertanian juga akan tumbuh akibat pendekatan kawasan dan pengenalan cara budidaya pertanian yang baik sehingga menyebabkan peningkatan komoditas secara signifikan.

Meskipun demikian, permasalahan perekonomian Aceh adalah defisit perdagangan, baik untuk luar negeri maupun antar daerah. Risiko harga komoditas ekspor yang melemah dan rendahnya permintaan global akan mempengaruhi nilai ekspor Aceh. Defisit perdagangan antar daerah juga masih perlu ditekan melalui peningkatan produksi produk atau komoditas substitusi impor.

1.3.2 Tantangan Sosial Kependudukan

Pengangguran dan kemiskinan merupakan tantangan sosial kependudukan di Aceh.

Pengangguran dan kemiskinan merupakan permasalahan di banyak daerah. Pemerintah Aceh sendiri selama ini selalu

memfokuskan program pembangunannya pada penanganan

pengangguran dan kemiskinan. Hasilnya memang belum sepenuhnya memuaskan walaupun indikator-indikator sosial yang ada telah

(27)

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk Aceh pada 2019 sebesar 5,37 juta jiwa dengan laju pertumbuhan 1,5 persen per tahun.

Pertumbuhan penduduk juga membutuhkan pertumbuhan kesempatan kerja. Sedikitnya lapangan pekerjaan yang tersedia di Aceh, disinyalir menjadi salah satu penyebab Aceh sebagai daerah ke 6 yang paling banyak memiliki penduduk miskin.

menunjukkan perbaikan dalam pengurangan tingkat pengangguran dan kemiskinan.

Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh mencatat jumlah penduduk Aceh pada 2019 sebesar 5,37 juta jiwa dengan laju pertumbuhan 1,5 persen per tahun. Dari jumlah itu, jumlah angkatan kerja kini mencapai 2,52 juta orang. Sebanyak 2,36 juta orang adalah penduduk yang bekerja. Sedangkan jumlah pengangguran sebanyak 167 ribu orang atau penganggur terbuka sebesar 6,59 persen, mengalami kenaikan apabila dibanding Februari 2020 yang sebesar 5,42 persen. Penduduk miskin September 2020 berjumlah 834 ribu orang atau sebesar 15,43 persen, mengalami kenaikan 19 ribu jiwa dibandingkan dengan Maret 2020 yang berjumlah 815 ribu atau 14,99 persen.

Pertumbuhan penduduk juga membutuhkan pertumbuhan kesempatan kerja (sumber pendapatan). Pertumbuhan ekonomi tanpa dibarengi dengan penambahan kesempatan kerja akan mengakibatkan ketimpangan dalam pembagian dari penambahan pendapatan tersebut (ceteris paribus), yang selanjutnya akan

menciptakan suatu kondisi pertumbuhan ekonomi dengan

peningkatan kemiskinan.

Sedikitnya lapangan pekerjaan yang tersedia di Aceh, disinyalir menjadi salah satu penyebab Aceh sebagai daerah ke 6 yang paling banyak memiliki penduduk miskin. Kurangnya lapangan pekerjaan di sektor formal yang disebabkan lemahnya kinerja sektor rill mengakibatkan sektor industri juga menjadi lemah. Pada akhirnya pengangguran dan kemiskinan akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi suatu daerah.

1.3.3 Tantangan Geografi Wilayah

Provinsi Aceh merupakan salah satu daerah istimewa yang ada di Indonesia. Aceh adalah daerah pertama yang mempunyai hubungan langsung dengan dunia luar. Provinsi Aceh mendapat sebutan Serambi Mekah karena mayoritas penduduknya beragama Islam.

Secara geografis Provinsi Aceh terletak pada posisi 2°– 6° LU

– 95°– 98° BT. Letaknya yang strategis dan menjadi lalu lintas perdagangan dunia menjadi keuntungan bagi Aceh dalam bidang

(28)

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat, sepanjang Tahun 2020, Aceh menghadapi 946 kali gempa bumi.

ekonomi. Dimana pemanfaatan sumber daya alam di Aceh sangatlah penting, karena sumber daya alamnya sangat melimpah seperti dalam bidang pertanian yang dapat menghasilkan berbagai jenis bahan pangan seperti beras, sayur-sayuran, buah-buahan dan budidaya tanaman jenis langka yang dapat dimanfaatkan dalam kegiatan ekspor impor.

Dalam bidang kelautan, Aceh memiliki laut yang cukup luas dengan keanekaragaman hayati di laut yang cukup banyak sehingga dapat memanfaatkan hasil laut seperti ikan untuk di ekspor keluar negeri. Selain hasil laut, laut di Aceh juga berpotensi untuk dijadikan sebagai wisata bahari. Hasil laut Aceh ini diminati oleh beberapa negara dunia, sehingga hal ini tentunya akan meningkatkan perekonomian di Aceh.

Aceh berada pada jalur pertemuan dua lempeng bumi, yaitu lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Aceh menyatakan, wilayah di provinsi paling barat Indonesia tersebut menghadapi 946 kali gempa bumi sepanjang Tahun 2020 dengan berbagai magnitudo dan kedalaman. Aktivitas gempa bumi paling banyak ada di klaster Kota Sabang dan klaster Simeulue. Ratusan kali aktivitas gempa bumi tersebut dengan kedalaman paling banyak di bawah 60 kilometer dengan magnitudo 1 hingga 6, yang di antaranya gempa bumi mikro, kecil, sedang, hingga merusak. Sedangkan di wilayah daratan, aktivitas tektonik yang terjadi di Aceh akibat adanya zona patahan Sumatera. Zona ini memiliki panjang 1.900 kilometer, dan terbagi-bagi dalam beberapa segmen aktif sebanyak 19 segmen serta memiliki pergeseran ke arah kanan atau searah jarum jam.

Mengingat kondisi geografis dan demografis Aceh maka diperlukan suatu upaya menyeluruh dalam upaya penanggulangan bencana, baik ketika bencana itu terjadi, sudah terjadi, maupun potensi bencana di masa yang akan datang. Bencana yang muncul dapat menimbulkan kerusakan infrastruktur publik dan aset masyarakat. Merehabilitasi dan merekonstruksi infrastruktur yang rusak memerlukan dukungan rekayasa industri yang berbasis komoditas dan kemampuan lokal.

(29)

1.3.4 Tantangan Pandemi Bagi Daerah

Dari segi ekonomi dampak negatif yang terasaadalah menurunnya pertumbuhan ekonomi, banyaknya tenaga kerja yang dirumahkan dan bertambahnya penduduk miskin.

Dari segi aspek sosio kultural berdampak sebagian mesjid banyak yang ditutup sehingga

Tahun 2020 dunia dilanda Kejadian Luar Biasa (KLB) berupa pandemi Covid-19 yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 yang menginfeksi hampir seluruh negara di dunia. Pemerintah Indonesia sendiri mengkonfirmasi kasus Covid-19 pertama di Indonesia pada tanggal 2 Maret 2020. Seluruh wilayah di Indonesia terkena pengaruh dari mewabahnya Covid-19 ini, tidak terkecuali di Daerah Provinsi Aceh.

Pemerintah Aceh mengeluarkan himbauan bersama yang berisi bahwa pelaksanaan kegiatan pemerintahan sehari-hari serta aktivitas masyarakat berpedoman pada Peraturan Pusat Nomor 21 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam Rangka Percepatan Penangganan Covid-19. Sebagian dari kalangan yang terdiri dari pengusaha dan buruh merasakan dampak yang sangat besar terhadap keputusan tersebut. Hal ini terlihat dengan adanya protes terkait dengan kebijakan pemerintah dalam menghadapi pandemik ini. Salah satunya terkait dengan keputusan pemberlakuan jam malam. Banyak sekali protes-protes keras yang ditakutkan akan membawa ke hal yang tidak baik yang menimbulkan suasana tidak kondusif ditengah merebaknya pandemik tersebut, sehingga akhirnya keputusan tersebut dianulir oleh Pemerintah Aceh seminggu setelah diterbitkan.

Dari segi ekonomi, dampak negatif yang langsung terasa dengan kebijakan ini adalah menurunnya pertumbuhan ekonomi secara masif. Banyak masyarakat yang terkena imbasnya, terutama pada sektor jasa. Banyak warung serta tempat usaha yang tutup mengakibatkan banyaknya tenaga kerja yang dirumahkan, Jika kegiatan ekonomi tidak berlangsung dengan baik, maka akan semakin banyak penduduk yang jatuh miskin. Susahnya untuk mencari penghasilan menyebabkan perubahan pola perilaku dalam menyikapi musibah ini dengan cara merubah perilaku kerja.

Dari segi aspek sosio kultural juga berpengaruh terhadap tatanan kehidupan masyarakat Aceh. Dimasa masa awal pandemik sebagian mesjid banyak yang ditutup sehingga ritual keagamaan terganggu. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu, mesjid-mesjid

(30)

ritual keagamaan terganggu.

Ada dampak positif dan negatif yang terjadi dari segi ekonomi dan sosio kultural.

kembali dibuka untuk umum dan dilakukan perengangan shaf ketika melaksanakan Shalat dan pemakaian masker ketika pelaksanaan ibadah shalat. Melihat orang-orang memakai masker ketika beribadah menjadi hal yang lumrah.

Siklus kehidupan masyarakat berubah seiring dengan penerapan kebiasaan baru. Ada dampak positif dan negatif yang akan terjadi akibat kebijakan tersebut yang mempunyai keterkaitan dengan aspek sosio kultural dan ekonomi. Perubahan-perubahan ini berdampak terhadap tatanan kehidupan masyarakat, banyak hal baru yang sebelumnya tidak dilakukan pada masa lalu menjadi kelaziman ketika dimasa Covid-19. Terjadi perubahan budaya serta sosio kultural akan pemahaman bagaimana pentingnya menjaga kesehatan diri. Ada keinginan untuk menjaga kebersihan diri, keluarga serta lingkungan pada masyarakat. Adanya proses resignasi yaitu sikap berpasrah diri setelah berusaha serta menyerahkan seluruh keputusan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Gambar 1.1 Perkembangan Covid-19 di Provinsi Aceh (13 Februari 2021)

(31)

B A B II

PERKEMBANGAN & ANALISIS

EKONOMI REGIONAL

20

20

Tujuan:

Analisis/Reviu terhadap capaian indikator makro fiskal (ekonomi dan pembangunan)

(32)
(33)

2.1 INDIKATOR EKONOMI MAKRO FUNDAMENTAL

2.1.1 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

Analisis PDRB dilakukan untuk mengetahui tingkat pertumbuhan ekonomi suatu daerah termasuk di dalamnya tingkat kesejahteraan penduduk dan gambaran perekonomian di daerah tersebut secara umum.

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) adalah

penjumlahan nilai output bersih perekonomian yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan ekonomi di suatu wilayah tertentu (provinsi dan kabupaten/kota), dan dalam kurun waktu tertentu (satu tahun kalender). Tujuan analisis PDRB yaitu untuk mengetahui tingkat pertumbuhan ekonomi suatu daerah termasuk di dalamnya tingkat kesejahteraan penduduk dan gambaran perekonomian di daerah tersebut secara umum.

Terdapat 2 metode penghitungan PDRB, yaitu atas dasar harga berlaku (ADHB) dan atas dasar harga konstan (ADHK). PDRB ADHB menghitung nilai tambah barang dan jasa menggunakan harga tahun bersangkutan, yang mana digunakan untuk melihat pergeseran dan struktur ekonomi. Sedangkan PDRB ADHK dihitung berdasarkan harga pada tahun dasar (saat ini menggunakan tahun dasar 2010), yang mana digunakan untuk mengetahui prestasi pertumbuhan ekonomi tiap tahun.

Tabel 2.1 Jumlah PDRB Provinsi Aceh (dalam triliun Rp)

U r a i a n 2018 2019 2020

ADHB dengan migas 155,91 164,21 166,38

ADHB tanpa migas 150,35 158,53 161,30

ADHK dengan migas 126,82 132,09 131,59

ADHK tanpa migas 120,85 125,96 124,98

Sumber: BPS Aceh, 2021 (diolah)

PDRB ADHB Provinsi Aceh tahun 2020 sebesar Rp166,38 triliun, dan ADHK (tahun dasar 2010) tercatat sebesar Rp131,59 triliun. Jika komponen migas dikeluarkan dalam PDRB, tercatat tahun 2020 PDRB ADHB menjadi sebesar Rp161,30 triliun, dan ADHK menjadi sebesar Rp124,98 triliun. Apabila dilihat dari jumlah PDRB ADHB, kontribusi PDRB Aceh tercatat hanya 1,08 persen dari jumlah PDB Indonesia tahun 2020 sebesar Rp15.434,2 triliun.

BAB II

Perkembangan dan Analisis

Ekonomi Regional

(34)

2.1.1.1 Laju Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi Aceh pada tahun 2020 berada pada level -0,37 persen.

Pertumbuhan ekonomi Aceh pada tahun 2020 berada di level -0,37 persen. Mengalami pertumbuhan negatif atau kontraksi dibanding tahun-tahun sebelumnya yang mengalami pertumbuhan positif sebesar 4,14 persen pada 2019 dan 4,61 persen pada tahun 2018. Pada tahun 2020, kontraksi pertumbuhan ekonomi dengan komponen migas masih lebih kecil jika dibandingkan dengan kontraksi pertumbuhan ekonomi tanpa migas yang mencapai -0,74 persen.

Pertumbuhan negatif tersebut merupakan dampak dari

pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia termasuk Indonesia.

Meskipun Aceh juga mengalami pertumbuhan negatif, namun angka tersebut masih lebih tinggi jika dibandingkan kontraksi sepanjang tahun 2020 di Indonesia yang sebesar -2,07 persen. Jika ditinjau berdasarkan kontribusi dari masing-masing PDRB Provinsi di wilayah regional Sumatera, Aceh memberikan kontribusi sebesar 4,93 persen terhadap PDRB Sumatera (peringkat ke-8 dari 10).

Grafik 2.1 Pertumbuhan Ekonomi Aceh dan Nasional

S

Sumber: BPS Aceh dan Nasional, 2021 (diolah)

2.1.1.2 Nominal PDRB Sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan masih merupakan leading sector dalam perekonomian Aceh.

1) PDRB Sisi Penawaran / per Sektor Lapangan Usaha

Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan menjadi sektor unggulan di Aceh pada beberapa tahun terakhir, terutama sejak semakin berkurangnya produksi dari sektor migas di Aceh. Salah satu komponen utama dari sektor tersebut yaitu hasil perkebunan. Perkebunan di Aceh mempunyai kontribusi yang besar terhadap pertumbuhan perekonomian di Aceh. Pemasarannya selain di dalam negeri hasil perkebunan juga diekspor ke luar negeri seperti kopi dan kelapa sawit. 3,31 4,19 4,61 4,14 -0,37 4,31 4,14 4,49 4,19 -0,74 5,03 5,07 5,17 5,02 -2,07 2016 2017 2018 2019 2020

(35)

3 besar sektor dengan kontribusi tertinggi dalam perekonomian Aceh yaitu Sektor Pertanian, Sektor Kehutanan, dan Sektor Perikanan.

Di tahun 2020, Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan menjadi kontributor terbesar dalam PDRB Aceh, yaitu sebesar Rp37,90 triliun, dengan persentase sebesar 28,80 persen. Diikuti Sektor Perdagangan Besar, Eceran, dan Reparasi sebesar Rp19,24 triliun atau dengan persentase sebesar 14,62 persen. Serta Sektor Konstruksi sebesar Rp13,90 triliun dengan persentase sebesar 10,56 persen.

Tabel 2.2 PDRB Sisi Penawaran Atas Dasar Harga Konstan (dalam triliun Rp)

U r a i a n 2018 2019 2020 Pertumbuhan Laju (%)

Pertanian, Kehutanan dan Perikanan 35,43 36,63 37,90 3,47 Pertambangan dan Penggalian 9,15 9,69 10,49 8,23 Industri Pengolahan 6,41 6,34 6,06 -4,43 Pengadaan Listrik, Gas 0,20 0,21 0,22 2,78

Pengadaan Air 0,04 0,05 0,05 -2,87

Konstruksi 11,95 12,57 13,90 10,61

Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi 19,73 20,32 19,24 -5-34 Transportasi dan Pergudangan 9,58 9,86 7,06 -28,44 Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 1,67 1,79 1,65 -7,63 Informasi dan Komunikasi 4,40 4,63 5,19 11,98

Jasa Keuangan 2,08 2,34 2,36 0,55

Real Estate 5,16 5,51 5,45 -1,19

Jasa Perusahaan 0,82 0,87 0,84 -3,19

Adm. Pemerintahan, Pertahanan, dan Jamsos 11,49 11,85 11,46 -3,31

Jasa Pendidikan 3,25 3,53 3,65 3,47

Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 3,71 3,99 4,17 4,48

Jasa Lainnya 1,76 1,89 1,91 1,47

PDRB (dengan migas) 126,83 132,07 131,60 -0,37

PDRB (tanpa migas) 120,85 125,91 124,98 -0,74

Sumber: BPS Aceh, 2021 (diolah)

Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan yang merupakan sektor dengan kontribusi terbesar dalam PDRB Aceh hanya tumbuh sebesar 0,96 persen.

Seluruh sektor lapangan usaha mengalami perlambatan pertumbuhan jika dibandingkan dengan periode tahun sebelumnya, bahkan beberapa sektor tidak mengalami pertumbuhan dan pertumbuhan negatif. Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan yang merupakan sektor dengan kontribusi terbesar dalam struktur PDRB Aceh hanya tumbuh sebesar 3,47 persen. Pertumbuhan tertinggi pada sektor lapangan usaha berasal dari lapangan usaha Informasi dan Komunikasi sebesar 11,98 persen, salah satunya dipengaruhi dengan adanya pandemi Covid-19 yang menimbulkan kebijakan Work From Home (WFH) yang meningkatkan kebutuhan penggunaan Wi-Fi dan jaringan internet.

Penurunan pertumbuhan terbesar berasal dari Sektor Transportasi dan Pergudangan yang mengalami pertumbuhan negatif sebesar -28,44 persen, diikuti Sektor Perdagangan Besar

(36)

Sektor Transportasi dan Pergudangan menjadi sektor dengan penurunan pertumbuhan paling signifikan (-2,12%).

dan Eceran yang mengalami pertumbuhan negatif sebesar -5,34 persen. Pertumbuhan negatif oleh Sektor Transportasi dan Pergudangan merupakan dampak dari adanya pemberlakuan

lockdown dan pembatasan sosial pada tempat wisata yang

menyebabkan pengurangan mobilitas masyarakat Aceh baik luar kota maupun luar provinsi.

Konsumsi Rumah Tangga menjadi kontributor terbesar dalam PDRB Aceh .

2) PDRB Sisi Permintaan / per Jenis Pengeluaran

Faktor pendorong pertumbuhan ekonomi Aceh pada tahun 2020 secara dominan disumbang oleh Konsumsi Rumah Tangga 73,27 triliun atau berkontribusi sebesar 55,68 persen dari total PDRB Aceh 2020 yang sebesar Rp131,59 triliun. Kontribusi terbesar kedua yaitu Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) dengan investasi sebesar Rp45,14 triliun dengan persentase kontribusi sebesar 34,30 persen. Kontributor terbesar ketiga berasal dari Konsumsi Penerimaan sebesar Rp21,47 triliun atau 16,32 persen dari total PDRB Aceh tahun 2020. Net Ekspor antar daerah menyumbang nilai paling kecil yaitu -13,8 triliun. Hal ini menandakan bahwa barang dari Aceh yang di ekspor ke daerah lain (dalam negeri) lebih kecil jika dibandingkan barang dari daerah lain (dalam negeri) yang diimpor untuk masuk ke Aceh.

Tabel 2.3 PDRB Sisi Permintaan Atas Dasar Harga Konstan (dalam triliun Rp)

U r a i a n 2018 2019 2020 Pertumbuhan Laju (%)

Konsumsi Rumah Tangga 71,03 73,75 73,27 -0.64

Konsumsi LNPRT 2,40 2,66 2,57 -3.45

Konsumsi Pemerintah 21,53 23,36 21,47 -8.06

PMTB 40,75 43,51 45,14 3.75

Perubahan Inventori 0 0,01 -0,07

Ekspor Luar Negeri 3,30 4,22 3,60 -14.72 Impor Luar Negeri 1,76 2,78 0,60 -78.53 Net Ekspor Antar Daerah -10,41 -12,65 -13,8

PDRB 126,82 132,07 131,59 -0.37

Sumber: BPS Aceh, 2021 (diolah) Penurunan terjadi hampir pada seluruh komponen kecuali pada komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang mengalami pertumbuhan sebesr 3,75 persen.

Penurunan terjadi hampir pada seluruh komponen kecuali pada komponen PMTB yang mengalami pertumbuhan sebesar 3,75 persen. Penurunan paling besar terjadi pada komponen Impor Luar Negeri yang mencapai -78,53 persen. Faktor penyumbang pertumbuhan pada PMTB adalah pembangunan jalan tol sebagai infrastruktur terbesar di Aceh, sejalan dengan tingkat investasi pembangunan infrastruktur tersebut. Di sisi lain, Kawasan Ekonomi

(37)

Khusus (KEK) juga menyumbang pertumbuhan investasi di Aceh. Hal ini dijelaskan lebih lanjut pada Bab VI.

2.1.1.3 PDRB per Kapita

PDRB per Kapita menunjukan pendapatan rata-rata penduduk di suatu daerah yang diperoleh dari hasil pembagian pendapatan penduduk suatu daerah (PDRB) dengan jumlah penduduk.

Grafik 2.2 PDRB per Kapita Aceh dan Nasional

Sumber: BPS Aceh dan Nasional, 2021 (diolah)

PDRB per Kapita Aceh meningkat di tahun 2020, namun masih lebih rendah jika dibandingkan dengan PDRB per Kapita secara Nasional.

Perkembangan PDRB per Kapita Aceh tahun 2020 yaitu sebesar Rp29,54 juta, mengalami penurunan jika dibandingkan tahun 2019 yang sebesar Rp30,70 juta. Penurunan tersebut karena turunnya PDRB tahun 2020. Penurunan pada PDRB secara nasional juga menyebabkan penurunan PDRB per Kapita nasional. Namun jika dibandingkan dengan PDRB per Kapita nasional, posisi PDRB per Kapita Aceh masih lebih rendah.

2.1.2 Suku Bunga

Bank Indonesia melakukan penguatan kerangka operasi moneter dengan suku bunga acuan baru yaitu BI 7-Day Reverse

Repo Rate, yang merupakan suku bunga acuan yang memiliki tenor

jangka pendek, yaitu hanya 1 minggu sampai 1 bulan. Berbeda dengan BI Rate yang memiliki tenor jangka panjang yaitu 12 bulan.

Grafik 2.3 BI 7-Day Reverse Repo Rate 2020

S

Sumber: Bank Indonesia, 2021 (diolah)

5,00% 4,75% 4,50% 4,50% 4,50% 4,25% 4,00% 4,00% 4,00% 4,00% 3,75% 3,75% Jan-20 Feb-20 Mar-20 Apr-20 Mei-20 Jun-20 Jul-20 Agu-20 Sep-20 Okt-20 Nov-20 Des-20

26,94 28,23 29,73 30,70 29,54 47,96 51,89

56,00 59,10 56,90

2016 2017 2018 2019 2020

(38)

BI masih mempertahankan kebijakan suku bunga rendah dengan terus menurunkan suku bunga dalam tahun 2020.

Dari grafik 2.4 terlihat bahwa suku bunga BI sesuai BI 7-Day

Repo Rate terus bergerak turun. Di sepanjang tahun 2020, suku

bunga BI yang dibuka pada level 5,00 di bulan Januari telah ditutup di level penurunan 150 basis poin pada bulan Desember (3,75). Turunnya suku bunga BI sesuai BI 7-Day Repo Rate diharapkan juga akan menurunkan suku bunga kredit dan deposito di perbankan. Penurunan suku bunga kredit perbankan diharapkan semakin menumbuhkan minat masyarakat mengambil pinjaman di perbankan. Jika dilihat kaitan antara tingkat suku bunga dengan inflasi berdasarkan selisih antara suku bunga nominal dan tingkat inflasi (tingkat bunga riil) inilah yang akan menentukan apakah perubahan suku bunga tersebut berdampak positif atau negatif bagi perekonomian.

Grafik 2.4 Perbandingan Tingkat Suku Bunga dengan Inflasi

Sumber: Bank Indonesia dan BPS Aceh, 2021 (diolah)

Berdasarkan grafik 2.5 dapat dilihat bahwa melihat inflasi Juni 2018 sebesar 0,84 persen dengan tingkat suku bunga 4,75 persen maka pemerintah mengambil kebijakan menaikan tingkat suku bunga di angka 6 persen pada Desember 2018. Kebijakan tersebut dinilai berhasil untuk menekan angka inflasi pada rata-rata 0,40 persen sampai dengan Desember 2019. Kenaikan inflasi mempengaruhi kebijakan untuk menaikkan suku bunga BI 7-Day

Repo Rate, hal ini dimaksudkan untuk mengendalikan peredaran

uang di masyarakat. Namun sejak tahun 2020, ketika inflasi mengalami pertumbuhan negatif di Juni 2020, maka suku bunga juga terus menurun. Hal ini akibat melemahnya perekonomian

selama tahun 2020 akibat dampak pandemi Covid-19.

2.1.3 Inflasi

Masa pandemi Covid-19, juga mempengaruhi tingkat inflasi baik secara nasional maupun daerah. Inflasi di regional Aceh

4,75 6,00 6,00 5,00 4,25 3,75 0,84 0,38 0,47 0,42 (0,15) 0,99

Jun-18 Des-18 Jun-19 Des-19 Jun-20 Des-20

(39)

Inflasi di regional Aceh sepanjang tahun 2020 berada di tingkat fluktuasi yang cukup besar, adanya penurunan maupun kenaikan tajam melebihi 50 basis poin.

sepanjang tahun 2020 secara m-to-m, berada di tingkat fluktuasi yang cukup besar. Terlihat adanya penurunan maupun kenaikan tajam melebihi 50 basis poin pada 4 bulan sepanjang tahun 2020, yaitu April (menurun 75 basis poin), Agustus (meningkat 77 basis poin), September (menurun 56 basis poin), dan Oktober (meningkat 75 basis poin). Keadaan ini berbanding terbalik dengan inflasi secara

nasional yang mengalami fluktuasi lebih rendah, terlihat

kenaikan/penurunan inflasi tertinggi pada bulan Juli mengalami penurunan sebesar 28 basis poin. Jika menilik inflasi di tiga kota besar di Aceh yaitu Banda Aceh, Lhokseumawe, dan Meulaboh, terlihat bahwa fluktuasi tajam di kota Banda Aceh menjadi faktor utama yang mempengaruhi fluktuasi tajam juga untuk provinsi Aceh.

Grafik 2.5 Inflasi Bulanan Aceh dan Nasional Tahun 2020

Sumber: BPS Aceh dan Nasional, 2021 (diolah)

Jika tahun 2016 dan 2017 inflasi tahunan Aceh selalu lebih tinggi dari inflasi nasional, namun sejak tahun 2018 inflasi tahunan Aceh lebih rendah dibandingkan dengan inflasi secara nasional. Namun pada tahun 2020 inflasi Aceh kembali lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi nasional.

Grafik 2.6 Inflasi Tahunan Aceh dan Nasional Tahun 2015-2020

Sumber: BPS Aceh dan Nasional, 2021 (diolah)

0,39 0,28 0,10 0,08 0,07 0,18 -0,10 -0,05 -0,05 0,07 0,28 0,45 0,66 0,44 0,60 -0,15 0,26 -0,15 -0,31 0,46 -0,10 0,65 0,19 0,99

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des

Nasional Aceh Meulaboh Lhokseumawe Banda Aceh

2015 2016 2017 2018 2019 2020 Nasional 3,35 3,02 3,61 2,50 2,72 1,68 Aceh 1,53 3,95 4,25 1,84 1,69 3,59 Meulaboh 0,58 3,77 4,76 0,96 4,28 4,24 Lhokseumawe 2,44 5,60 2,87 2,05 1,20 3,55 Banda Aceh 1,27 3,13 4,86 1,93 1,38 3,46 1,00 2,00 3,00 4,00 5,00 6,00

Gambar

Tabel 2.2 PDRB Sisi Penawaran Atas Dasar Harga Konstan (dalam triliun Rp) U r a i a n 2018  2019  2020  Pertumbuhan Laju
Tabel 2.3 PDRB Sisi Permintaan Atas Dasar Harga Konstan (dalam triliun Rp) U r a i a n  2018 2019  2020  Pertumbuhan Laju
Grafik 2.9 Indeks Pembangunan Manusia Aceh dan Nasional
Tabel 2.4 Perkembangan UHH, HLS, RLS dan Pengeluaran Per Kapita Aceh
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan amanat UU No.11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran, Persatuan Insinyur Indonesia (PII) sebagai organisasi profesi Insinyur berkewajiban dan diberikan amanat

Keseimbangan pada papan tanda jangan jadikan sungai sebagai tempat sampah kesimbangan yang terkesan formal dimana terdapat ilustrasi fotografi yang diletakan pada sisi kanan dan

Wawancara dilakukan peneliti dengan cara sederhana terutama wawancara yang ditujukan pada pengurus Baitul Maal Al-Muthi‟in dan masyarakat Kampung Maguwo yang

Keuntungan menggunakan virtual rality yaitu: (1) aman karena tidak bersinggungan langsung dengan lingkungan yang mungkin berbahaya, (2) memberikan kesempatan

4.5.7 H7: Gaya Kepemimpinan Transformasional Berpengaruh Positif dan Signifikan terhadap Kinerja Pegawai melalui Disiplin Kerja ... KESIMPULAN DAN SARAN

Perusahaan tidak mengakui pendapatan bunga pembiayaan konsumen yang piutangnya telah lewat waktu lebih dari 3 (tiga) bulan dan akun diakui sebagai pendapatan

Kelebihan dalam media pembelajaran ini yaitu (1) pada Buku Saku Fisika dikemas ringkas sehingga mudah untuk dibawa kemana saja dan digunakan kapan saja tidak

Berdasarkan hasil analisis dapat dikemukakan beberapa isu-isu terkini secara nasional, antara lain : (1) Sinergisme penanganan pangan, energi dan kelestarian SDA khususnya