BAB I PENDAHULUAN. Ditinjau dari sudut pandang filosofis, Indonesia adalah Negara yang

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Ditinjau dari sudut pandang filosofis, Indonesia adalah Negara yang berdasarkan atas hukum (Rechtstaat) dan sekaligus Rule of Law. Dengan demikian dalam konsep Negara hukum, Indonesia menerima prinsip kepastian hukum dalam Rechtstaat sekaligus prinsip keadilan dalam Rule of Law serta sistem hukum lainnya dengan inti filosofinya masing-masing yang kemudian digabungkan sebagai paradigma Negara Hukum Pancasila.1 Menurut Dicey, Rule of Law ini mengandung unsur-unsur yakni adanya Hak Asasi Manusia (HAM) yang dijamin oleh undang-undang, persamaan kedudukan dimuka hukum (equality before the law), supremasi aturan-aturan hukum dan tidak ada kesewenang-wenangan tanpa aturan yang jelas.2

Sejalan dengan proses menuju era industrialisasi serta adanya kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, menimbulkan beberapa dampak, antara lain tampak dari terjadinya persaingan yang tajam di antara sesama pelaku bisnis. Dengan kata lain, hukum yang dibuat dalam suatu negara tetap harus benar-benar menjalankan fungsi yang menciptakan keteraturan di dalam masyarakat. Sehingga hukum itu tentunya harus diarahkan agar kesejahteraan rakyat dapat dicapai setinggi-tingginya.

1 Bachtiar, Problematika Implementasi Putusan Mahkamah Konstitusi Pada Pengujian

Terhadap UUD, (Jakarta: Raih Asa Sukses, 2015), hal. 21

2 Masyhur Effendi, Hak Asasi Manusia dalam Hukum Nasional dan Internasional, (Jakarta:

(2)

Demikianlah hukum diperlukan dalam mengatur sektor usaha agar tercipta suatu ketertiban dalam perniagaan serta melancarkan praktik bisnis.3

Tingginya persaingan usaha untuk mencari laba sebesar-besarnya merupakan faktor pendorong seseorang melakukan suatu kegiatan usaha dengan mendirikan suatu badan usaha. Setiap kegiatan usaha atau bisnis yang dijalankan biasanya menggunakan wahana bisnis yang dinamakan perusahaan. Kebanyakan, yang akan menjadi pilihan bagi para pengusaha baru adalah bentuk badan usaha non badan hukum seperti perusahaan perorangan. Selain perusahaan perorangan tersebut, terdapat suatu bentuk badan usaha lain seperti persekutuan, yang mana persekutuan terbagi menjadi tiga, yaitu persekutuan perdata, persekutuan dengan firma dan persekutuan komanditer, ketiga bentuk perusahaan persekutuan tersebut memiliki kemiripan karakteristik dalam hal tanggung jawabnya (liability).4

Persekutuan dalam bahasa Belanda disebut “maatschap” atau “vennootschap” adalah suatu persetujuan dimana dua orang atau lebih mengikatkan diri untuk memasukkan sesuatu kedalam persekutuan, dengan maksud untuk membagi keuntungan yang terjadi karenanya.5

3 Eka An Aqimuddin, dan Marye Agung Kusmagi, Tip Hukum Praktis: Solusi Bila Terjerat

Kasus Bisnis, (Jakarta: Raih Asa Sukses, 2010), hal. 11

4 Jeff Madura, Introduction to Business, Pengantar Bisnis, Edisi 4, Buku I, penerjemah Ali

Akbar Yulianto, dan Krista, (Jakarta: Penerbit Salemba Empat, 2007), hal. 261

5 H.M.N. Purwosutjipto, Pengertian Pokok Hukum Dagang Indonesia, (Jakarta: Djambatan,

1978), hal.11

Dengan kata lain persekutuan dalam menjalankan usahanya menyerupai perusahaan perseorangan yang bertitik tolak dari memasukkan kekayaan pribadi untuk menjalankan kegiatan usahanya, sehingga

(3)

pertanggung jawabannya pun apabila melakukan hubungan dengan pihak ketiga akan melibatkan harta pribadi para pemilik persekutuan tersebut.

Persekutuan Komanditer (Commanditaire Vennootschap/CV) pada dasarnya ada sekutu aktif dan ada sekutu komanditer atau sekutu pasif (sleeping partner). Persekutuan Komanditer (CV) diatur dalam ketentuan Pasal 19 sampai Pasal 21 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD).6 Pada Pasal 19 KUHD disebutkan bahwa: “Perseroan secara melepas uang yang juga dinamakan perseroan komanditer, didirikan antara satu orang atau beberapa orang yang secara tanggung menanggung bertanggung jawab untuk seluruhnya pada pihak satu, dan satu orang atau lebih sebagai pelepas uang pada pihak lain”.7

Rumusan Pasal 19 KUHD tersebut di atas mendapat perhatian khusus dari kalangan ahli hukum berkenaan dengan istilah “Geldschieters” terhadap pengertian “Commanditaire” yang memberikan suatu pengertian bahwa komanditer adalah identik dengan tiap-tiap orang yang meminjamkan uang (gelduittener), oleh sebab itu ia akan menjadi seorang penagih (schuldeiser).8

Padahal pengertian komanditer dalam Persekutuan Komanditer (CV) bukanlah menjadi seorang penagih atas uang yang telah dilepaskannya. Seorang komanditer adalah sebagai peserta dalam suatu perusahaan yang memiliki hak dan kewajiban untuk memperoleh keuntungan dan pembagian sisa dari harta kekayaan

6

Elsi Kartika Sari, dan Advendi Simangunsong, Hukum Dalam Ekonomi (Edisi II), (Jakarta: PT. Grasindo, 2007), hal. 54

7 R. Soekardono, Hukum Dagang Indonesia, Jilid 1 Bagian Kedua, (Jakarta: Rajawali Pers,

1991), hal. 102

8

(4)

apabila perusahaan tersebut dilikuidasi, di samping itu memikul resiko apabila perusahaan mengalami kerugian sesuai dengan jumlah modal yang dimasukkannya.9

Sekutu komanditer juga tidak diperbolehkan menarik modal yang telah diserahkan selama perusahaan masih berjalan/berlangsung. Para pakar hukum mengatakan bahwa KUHD telah salah mengunakan perkataan “Geldschieter” untuk menunjuk sekutu komanditer.10

Persekutuan merupakan bentuk badan usaha yang paling sederhana untuk mencapai suatu keuntungan bersama. Hal ini disebabkan pendirian persekutuan tidak diharuskan adanya akta otentik maupun pengesahan dari instansi yang berwenang.

Digunakannya istilah geldschieter untuk sekutu komanditer telah menimbulkan kesalahpahaman yang cukup prinsipil, oleh karena perbuatan hukum dari kedua istilah tersebut mempunyai akibat hukum yang berbeda.

11

Sehingga dengan dibuatkannya akta di bawah tangan antara para pihak yang hendak mendirikan persekutuan, maka persekutuan tersebut dapat berdiri dan dijalankan oleh pihak yang mendirikannya, namun sebagian besar pendiri dari CV sering kali menggunakan akta otentik untuk mendirikan dan menjalankan usahanya tersebut. Hal ini disebabkan CV memiliki karakteristik yang berbeda dengan perusahaan persekutuan lainnya.12

9

Ibid.

10 R. Soekardono, Op.Cit., hal. 101

11 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang, Staatsblad 1847-23, Pasal 22

12 Ahmad Subagyo, Studi Kelayakan, Teori dan Praktek, (Jakarta: PT. Elex Media

Komputindo, 2007), hal. 174

Perbedaan yang paling mencolok dari CV terletak pada adanya sekutu komanditer dan sekutu komplementer. Sekutu komplementer berwenang sebagai sekutu yang mengurus sedangkan sekutu komanditer berwenang

(5)

sebagai sekutu yang melepas uang atau pemodal.13

Sekalipun memiliki karakteristik yang berbeda, tanggung jawab dari sekutu komplementer tetap tidak terbatas seperti halnya persekutuan perdata maupun persekutuan dengan firma.

Sehingga segala bentuk kewenangan para sekutu yang telah disepakati tersebut, tidak dapat diubah dengan serta merta.

14

Adanya risiko yang dapat melibatkan harta pribadi dari sekutu komplementer tersebut disebabkan CV sekalipun didirikan dengan adanya akta otentik tetapi bukan merupakan badan hukum. Hal ini disebabkan ketentuan dalam KUHD tidak mengharuskan pendirian CV mendapatkan pengesahan badan hukum dari instansi yang berwenang. Sehingga segala kewenangan CV tetap merupakan kewenangan para sekutu komplementer, bukanlah kewenangan perusahaan/persekutuan. Sehingga hal ini menuntut para sekutu meningkatkan statusnya menjadi badan hukum agar dapat melindungi harta pribadinya. Faktor kelaziman merupakan salah satu faktor Hal ini yang kemudian membatasi kewenangan CV untuk memperluas ekspansi usahanya disebabkan adanya risiko yang dapat membahayakan harta pribadi dari sekutu komplementer itu sendiri, sehingga CV tidak dapat sepenuhnya melakukan spekulasi untuk memperoleh laba yang sebesar-besarnya demi mencapai tujuan usahanya secara maksimal.

13 M. Fuad, et.al., Pengantar Bisnis, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2000), hal. 66 14

(6)

yang mungkin mempengaruhi seseorang dalam memilih pembentukan Perseroan Terbatas.15

Peningkatan status menjadi badan hukum dapat dilakukan dengan melakukan perubahan terhadap CV tersebut menjadi PT. Dengan adanya perubahan bentuk tersebut maka status dari persekutuan secara otomatis akan bubar demi hukum dan berganti menjadi badan hukum. PT dalam pendiriannya harus memperoleh status badan hukum dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia. Hal ini menjadikan PT sebagai suatu subyek hukum yang berdiri sendiri dan disamakan kedudukannya dengan orang pribadi, sehingga dalam menjalankan kegiatan usahanya terpisah dari harta pribadi atau harta kekayaan milik pendiri atau pemegang sahamnya.16

1. Seluruh sekutu harus setuju akan keinginan itu dan melakukan rapat dengan atau tanpa kehadiran Notaris yang kemudian akan menghasilkan putusan perubahan itu dalam bentuk berita acara.

Dunia bisnis selalu penuh dengan perkembangan yang memerlukan respon dan pengambilan keputusan yang segera sehingga dapat mengantisipasi perubahan itu. Salah satu bentuk perubahan itu adalah apabila suatu bisnis yang sebelumnya berbentuk badan usaha Perseroan Komanditer (CV) akan dirubah statusnya menjadi badan hukum Perseroan Terbatas (PT). Perubahan itu dapat dilakukan dengan cara:

15 Rudhi Prasetya. Kedudukan Mandiri Perseroan Terbatas, (Bandung : PT Citra Aditya

Bakti, 1995), hal. 49

16 Rochmat Soemitro, Hukum. Perseroan Terbatas, Yayasan Dan Wakaf, (Bandung:

(7)

2. Seluruh aset bergerak maupun tidak bergerak Perseroan Komanditer (CV) harus di taksasi (penilaian dalam jumlah rupiah) sebaiknya dilakukan oleh independen appraisal.

3. Dari total aset lalu ditentukan berapa besar bagian masing-masing dan apakah seluruhnya atau sebagian akan di-inbreng (dimasukkan) ke dalam Perseroan Terbatas sebagai modal yang akan disetor oleh masing-masing pendiri Perseroan Terbatas (PT).

4. Datang ke Notaris untuk membuat Akta Pendirian Perseroan Terbatas (PT) dengan sudah menentukan nama, kedudukan, maksud dan tujuan, pemegang saham, susunan pengurus dan modal Perseroan Terbatas (PT).

5. Setelah proses pendirian PT tentu saja harus mengubah seluruh administrasi dan keuangan yang ada karena telah beralih status dari badan usaha menjadi badan hukum.17

Usaha untuk melakukan perubahan terhadap CV menjadi PT tentu memiliki permasalahan. Hal ini disebabkan CV telah berdiri terlebih dahulu dan melakukan perbuatan hukum yang dapat berupa Perjanjian Kredit, Penjaminan, maupun transaksi keuangan lainnya dengan pihak ketiga. Hal ini bukanlah merupakan tanggung jawab dari organ CV itu sendiri melainkan sekutu yang melakukan perbuatan hukum tersebut dengan pihak ketiga. Sehingga hal ini yang dirasa perlu menjadi permasalahan yang perlu dipecahkan disebabkan segala bentuk perbuatan hukum

17

(8)

yang telah dilakukan oleh CV akan beralih kepada PT yang didirikan atau tetap menjadi tanggung jawab masing-masing sekutu dalam CV.

Selain itu, permasalahan lain yang menjadi kendala dalam perubahan CV menjadi PT juga terdapat pada dasar hukum yang sangat terbatas. Hal ini disebabkan hingga kini tidak ada dasar hukum yang spesifik yang dapat merubah CV menjadi PT yang menyebabkan adanya kendala dalam hal perubahan bentuk perusahaan tersebut. Sehingga dengan kurangnya dasar hukum yang ada tersebut, maka sering kali kewenangan atas perbuatan hukum yang dilakukan oleh CV masih dipikul oleh sekutu aktif dari CV tersebut.

Pada prakteknya di Indonesia telah menunjukkan suatu kebiasaan bahwa orang yang mendirikan CV berdasarkan akta Notaris (berbentuk otentik). Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah pendirian dapat dilakukan dengan berbagai cara asalkan tidak merugikan pihak ketiga.18 Namun bilamana dilakukan pendirian dengan Akta Otentik, adanya kewajiban pendaftaran akta pendirian atau ikhtisar resminya dalam register yang disediakan pada Kantor Panitera Pengadilan Negeri tempat kedudukan perseroan itu (raad van justitie).19

1. Nama, pekerjaan, tempat tinggal dari sekutu;

Akan tetapi yang didaftarkan hanyalah berupa Anggaran Dasarnya saja sebagaimana diatur menurut ketentuan Pasal 24 KUHD yang dimana sekurang-kurangnya harus memuat ketentuan:

18 Kitab Undang-undang Hukum Dagang, Staatsblad 1847-23, Pasal 22 19

(9)

2. Pernyataan bahwa CV tersebut melaksanakan kegiatan usaha yang umum atau terbatas pada cabang usaha tertentu dengan menunjukkan maksud dan tujuan dari usaha yang hendak dilakukan oleh CV tersebut;

3. Penunjukkan para sekutu baik yang aktif maupun pasif; 4. Saat mulai berlakunya dan berakhirnya;

5. Klausula-klausula penting lainnya yang berkaitan dengan pihak ketiga terhadap persekutuan.

Satu hal penting yang perlu diperhatikan dalam CV adalah selayaknya perusahaan persekutuan maka tidak ditentukan besarnya modal dalam persekutuan. Menurut ketentuan dalam Pasal 1619 KUHPerdata menentukan bahwa para sekutu tidak hanya memasukkan bagian persekutuan dalam bentuk uang atau pun barang (inbreng) akan tetapi juga dalam bentuk tenaga dan kerajinannya. Sehingga hal ini tidak bisa secara keseluruhan ditentukan dalam bentuk uang untuk modal dasar yang digunakan dalam persekutuan.

Secara sederhana prosedur dan mekanisme yang akan dilalui dalam permohonan pengesahan sebagai badan hukum PT, dengan perubahan bentuk dari CV menjadi PT adalah proses likuidasi persekutuan komanditer (CV), pendirian perseroan terbatas (PT), dan pendaftaran PT. Persyaratan dalam perubahan bentuk CV menjadi PT, pada umumnya mengacu kepada peraturan yang mengatur mengenai CV dan peraturan yang mengatur mengenai PT. Salah satu persyaratan perubahan bentuk tersebut adalah melakukan likuidasi. Dari segi yuridis tidak terdapat pengaturan yang memberikan petunjuk bagi prosedur likuidasi dalam perubahan

(10)

bentuk dari CV menjadi PT. Dalam praktik kegiatan bisnis yang dinamis, proses likuidasi tersebut lebih banyak didasarkan pada pertimbangan praktis. Terlebih pengaturan CV yang masih mengacu kepada ketentuan Pasal yang terbatas dalam KUHD yaitu Pasal 19, 20 dan 21, dan beberapa hal yang tidak diatur dapat menggunakan peraturan mengenai Persekutuan Firma dan Persekutuan Perdata, sehingga dari segi kepastian hukum dirasakan kurang memiliki kekuatan hukum.

Perbedaan prinsipil antara Perseroan Komanditer atau dikenal dengan sebutan CV (Commanditaire vennootschap) dengan Perseroan Terbatas (PT) terdapat pada status badan hukumnya, karena CV merupakan persekutuan yang tidak berbadan hukum dan tanggungjawab dari para sekutu pengurus hanya sampai kepada harta pribadinya. Sedangkan Perseroan Terbatas (PT) merupakan perseroan berbadan hukum dan tanggungjawabnya terbatas.20

Keperluan atas dasar hukum yang spesifik tersebut juga menyebabkan adanya ketidak jelasan terkait dengan prosedur serta mekanisme yang dapat digunakan untuk melakukan perubahan CV tersebut menjadi PT, disebabkan perlu atau tidaknya

Perubahan CV menjadi Perseroan Terbatas (PT) berarti akan mengubah status perusahaan yang awalnya tidak berbadan hukum menjadi badan hukum. Untuk itu terdapat hal-hal yang perlu diperhatikan dan disesuaikan agar dapat memperoleh status badan hukum sebagaimana yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT).

20 CST Kansil dan Christine ST Kansil, Pokok-Pokok Hukum PT Tahun 1995, (Jakarta:

(11)

dilakukan pembubaran terlebih dahulu sebelum PT memperoleh status badan hukum masih belum terdapat pengaturan yang konkrit.

Likuidasi yang dimaksud dalam hal perubahan bentuk dari CV menjadi PT adalah hanya melakukan proses pemberesan saja yang bertujuan untuk menghitung neraca akhir harta kekayaan CV pada saat akan dialihkan kepada PT untuk selanjutnya dibagi diantara para sekutu CV sebagai modal awal dalam PT. Modal awal dalam perseroan yang diambil bagian oleh para sekutu atau calon pendiri perseroan, merupakan perbuatan hukum yang berkaitan dengan kepemilikan saham menurut ketentuan Pasal 12 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT). Oleh karenanya keterangan yang menyatakan mengenai perbuatan hukum mengenai kepemilikan saham tersebut harus dicantumkan dalam Anggaran Dasar pendirian Perseroan untuk mengikat perseroan dan terjadinya pengalihan hak dan kewajiban para sekutu kepada perseroan, yang sebelumnya bertanggung jawab tidak terbatas sampai harta pribadi menjadi terbatas sesuai dengan saham yang disetorkan oleh para calon pendiri atau para sekutu sesuai bagian harta kekayaannya yang tertanam dalam PT.21

Setelah dilakukan pemberesan atas harta kekayaan dan utang piutang CV, maka dibuatkan Neraca Akhir oleh CV, karena dari posisi terakhir neraca tersebutlah yang menjadi dasar para sekutu dalam ikut ambil bagian menyetorkan modal dalam perseroan. Dan apabila ada aset yang tidak bergerak maka dilakukan penaksiran oleh

21 Rudhi Prasetya, Kedudukan Mandiri Perseroan Terbatas, (Bandung: PT. Citra Aditya

(12)

juru taksir terhadap aset tersebut untuk dimasukkan kedalam perseroan. Mengenai pemasukan modal CV kedalam PT dalam hal perubahan bentuk dari CV menjadi PT, maka hal tersebut harus dicantumkan dalam Anggaran Dasar Perseroan.22

Setiap perbuatan hukum yang dilakukan oleh para sekutu demi kepentingan perseroan, harus dibuatkan RUPS dalam jangka waktu 60 (enam puluh) hari setelah perseroan memperoleh status pengesahan badan hukum. RUPS pertama kali tersebut harus dilaksanakan demi mengikat perseroan dan mempertegas peralihan hak dan kewajiban atas perbuatan hukum yang dilakukan sekutu komplementer sebelum perseroan memperoleh status badan hukum menjadi hak dan kewajiban perseroan.23 Mengenai kelanjutan usaha dari CV menjadi PT juga harus ditegaskan kembali dalam Anggaran Dasar perseroan demikian juga mengenai perbuatan hukum yang telah dilakukan para sekutu dengan pihak ketiga sebelum perseroan berbadan hukum.24

Efektifitas proses likuidasi atas harta kekayaan dan utang/piutang CV tersebut sangat tergantung pada masing-masing sekutu dalam CV, mengingat penentuan aset-aset, utang/piutang CV yang akan melakukan perubahan bentuk perusahaan menjadi Oleh karenanya meskipun secara formil tidak terjadi pembubaran atas CV, namun secara materiil akibat hukum dari pendirian PT tersebut telah membubarkan CV sebagai institusi, karena kedudukannya telah digantikan oleh PT baru yang telah didirikan.

22

Adib Bahari, Prosedur Cepat Mendirikan Perseroan Terbatas, cet.1, (Yogyakarta: Pustaka Yustisia, 2010), hal.65

23 Gunawan Widjaya, Seri Pemahaman Perseroan Terbatas, 150 Pertanyaan Tentang

Perseroan Terbatas, (Jakarta: Forum Sahabat, 2008), hal.9-10

24

(13)

PT ditunjuk oleh masing-masing pesero sehingga kemungkinan tercampurnya harta pribadi dan aset CV bisa saja terjadi. Selain itu, bisa jadi segala utang pribadi para persero juga dimasukkan dalam utang CV, di sini butuh kejelian auditor dan appraisal dalam memisahkan aset maupun utang CV yang menentukan jumlah aset maupun utang PT pasca perubahan bentuk perusahaannya.

Bisa jadi utang pribadi para persero CV setelah mendapat pengesahan badan hukum atas pendirian PT tersebut menjadi utang perseroan terbatas, jika dalam jangka waktu paling lambat 60 (enam puluh) hari mengadakan RUPS pertama kali dan mempertegas segala perbuatan hukum yang dilakukan oleh para sekutu maupun calon pendiri perseroan sebelum PT memperoleh status badan hukum, sehingga segala perbuatan hukum tersebut yang semula merupakan tanggung jawab masing-masing sekutu yang melakukan perbuatan hukum tersebut secara tanggung renteng akhirnya menjadi tanggung jawab PT.25

Dalam proses perubahan CV menjadi PT tersebut, selain mengenai prosedur dan syarat-syarat perubahan tersebut, proses permohonan dilakukan secara elektronis melalui jaringan internet yang dapat diakses oleh setiap Notaris yang telah terdaftar pada Sistem Administrasi Badan Hukum (SABH) dari seluruh wilayah Indonesia. Demikian menunjukan peranan seorang Notaris dalam pendirian suatu badan usaha di Pertanggung jawaban para sekutu terhadap kepentingan CV yang dilakukan sebelum perseroan memperoleh badan hukum akan beralih kepada PT apabila RUPS pertama kali dihadiri oleh semua pemegang saham dengan hak suara dan keputusan disetujui dengan suara bulat.

25

(14)

Indonesia. Peran Lembaga Notariat tersebut timbul dari kebutuhan masyarakat, bukan sengaja diciptakan kemudian baru disosialisasikan kepada khalayak.26 Lembaga ini timbul dalam pergaulan sesama manusia yang menghendaki adanya alat bukti baginya mengenai hubungan hukum keperdataan yang ada dan/atau terjadi di antara mereka, suatu lembaga dengan para pengabdinya yang ditugaskan oleh kekuasaan umum (openbaar gezag) untuk dimana dan apabila undang-undang mengharuskan demikian atau dikehendaki oleh masyarakat, membuat alat bukti tertulis yang mempunyai kekuatan otentik.27

26 Anke Dwi Saputro, ed., Jati Diri Notaris Indonesia, Dulu, Sekarang, Dan Di Masa Datang,

(Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008), hal.40.

27 G. H. S. Lumban Tobing, Peraturan Jabatan Notaris, cet. 3, (Jakarta: Erlangga, 1983),

hal.2.

Peran Notaris dalam hal ini sangat penting. Selain Notaris adalah satu-satunya pejabat umum yang berwenang membuat akta otentik berbagai perbuatan, perjanjian dan penetapan termasuk akta otentik pendirian suatu Perseroan. Proses pengesahan suatu Perseroan menjadi badan hukum oleh Notaris di Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dapat dilakukan secara online melalui SABH. Karena itu sebagai seorang Notaris, sebaiknya secara seksama meneliti kelengkapan berkas maupun jumlah aset CV yang akan diubah bentuk perusahaannya menjadi PT, jangan sampai perubahan tersebut dimanfaatkan oleh persero CV untuk mengurangi maupun menghilangkan tanggung jawab pribadi terhadap utang-utang kepada pihak ketiga agar menjadi beban atau kewajiban PT untuk melunasinya.

(15)

Berdasarkan uraian-uraian tersebut di atas, perlu dikaji lebih dalam mengenai proses pendirian PT yang berasal dari CV yang dilakukan dengan menjamin kepastian hukum serta peran Notaris dalam perubahan bentuk perusahaan tersebut yang akan dituangkan ke dalam judul tesis “Peran Tanggung Jawab dan Kendala Notaris Dalam Perubahan Perusahaan Berbentuk Perseroan Komanditer Menjadi Perseroan Terbatas”.

B. Permasalahan

Adapun permasalahan yang akan diteliti lebih lanjut dalam tesis ini adalah: 1. Bagaimana peran Notaris dalam perubahan perusahaan berbentuk Perseroan

Komanditer Menjadi Perseroan Terbatas?

2. Bagaimana kendala yang dihadapi Notaris dalam perubahan perusahaan berbentuk Perseroan Komanditer Menjadi Perseroan Terbatas?

3. Bagaimana upaya yang dilakukan Notaris dalam mengatasi kendala yang timbul terkait perubahan perusahaan berbentuk Perseroan Komanditer Menjadi Perseroan Terbatas?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang telah dikemukan di atas maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui dan menganalisis peran Notaris dalam perubahan perusahaan berbentuk Perseroan Komanditer Menjadi Perseroan Terbatas.

(16)

2. Untuk mengetahui dan menganalisis kendala yang dihadapi Notaris dalam perubahan perusahaan berbentuk Perseroan Komanditer Menjadi Perseroan Terbatas.

3. Untuk mengetahui dan menganalisis upaya yang dilakukan Notaris dalam mengatasi kendala yang timbul terkait perubahan perusahaan berbentuk Perseroan Komanditer Menjadi Perseroan Terbatas.

D. Manfaat Penelitian

Tujuan Penelitian dan manfaat penelitian merupakan satu rangkaian yang hendak dicapai bersama, dengan demikian dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :

1. Secara teoritis, diharapkan penelitian ini dapat menambah bahan pustaka/ literatur mengenai peran dan tanggung jawab Notaris dalam perubahan perusahaan berbentuk Perseroan Komanditer Menjadi Perseroan Terbatas, selain itu penelitian ini diharapkan juga dapat menjadi dasar bagi penelitian pada bidang yang sama.

2. Secara praktis, dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi pihak-pihak yang terkait dengan masalah peran dan tanggung jawab Notaris dalam perubahan perusahaan berbentuk Perseroan Komanditer Menjadi Perseroan Terbatas.

(17)

Berdasarkan informasi yang ada dan sepanjang penelusuran kepustakaan yang ada dilingkungan Universitas Sumatera Utara, khususnya di lingkungan Magister Kenotariatan dan Magister Ilmu Hukum Universitas Sumatera Utara Medan, belum ada penelitian sebelumnya yang berjudul “Peran Tanggung Jawab dan Kendala Notaris Dalam Perubahan Perusahaan Berbentuk Perseroan Komanditer Menjadi Perseroan Terbatas”. Akan tetapi ada beberapa penelitian yang menyangkut mengenai perseroan komanditer dan perubahan bentuk perusahaan, antara lain penelitian yang dilakukan oleh :

1. Asrul (NIM. 017011006), Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, dengan judul penelitian “Perseroan Komanditer (Commanditaire Vennotschap) Dalam Kedudukannya Sebagai Pemberi Hak Tanggungan Pada Pengikatan Hak Tanggungan”, dengan permasalahan yang diteliti adalah:

a. Bagaimana kewenangan yuridis perseroan komanditer untuk melakukan perbuatan hukum sebagai pemberi Hak Tanggungan?

b. Bagaimana kendala perseroan komanditer dalam pelaksanaan pengikatan Hak Tanggungan?

c. Bagaimana upaya yang dilakukan agar pengikatan Hak Tanggungan tetap terlaksana?

2. Adam (NIM. 107011043), Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, dengan judul penelitian “Dampak Perubahan Status Badan Usaha CV Menjadi Badan Hukum PT Terhadap Perjanjian Kredit Yang Sedang Berjalan (Studi Pada Bank BNI), dengan permasalahan yang diteliti adalah:

(18)

a. Bagaimana prosedur hukum perubahan status badan usaha CV menjadi PT? b. Bagaimana akibat hukum perubahan status badan usaha CV menjadi PT

terhadap perjanjian kredit bank yang telah diikat oleh CV?

3. Supardi (NIM. 077005134), Magister Ilmu Hukum Universitas Sumatera Utara, dengan judul penelitian “Implikasi perubahan bentuk perumka menjadi Persero terhadap hak-hak karyawan PT. Kereta api indonesia”, dengan permasalahan yang diteliti adalah:

a. Pertimbangan apa yang melatarbelakangi perubahan bentuk perusahaan Kereta Api dari Perusahaan Umum (Perum) menjadi badan Perusahaan Persero?

b. Bagaimanakah implikasi perubahan bentuk Perum menjadi Persero terhadap status karyawan PT. Kereta Api Indonesia?

c. Bagaimana hak-hak karyawan PT. Kereta Api Indonesia setelah terjadinya perubahan bentuk Perum menjadi Persero?

Permasalahan yang dibahas dalam penelitian-penelitian tersebut berbeda dengan permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini. Dengan demikian penelitian ini adalah asli baik dari segi substansi maupun dari permasalahan, sehingga penelitian ini dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.

F. Kerangka Teori dan Konsepsi 1. Kerangka Teori

(19)

Dalam setiap penelitian harus disertai dengan pemikiran-pemikiran teoritis, teori adalah untuk menerangkan dan menjelaskan gejala spesifik untuk proses tertentu terjadi.28

Teori yang digunakan sebagai pisau analisis dalam penelitian ini adalah teori teori utilitas (utilitarisme) yang dipelopori oleh Jeremy Bentham dan selanjutnya dikembangkan oleh John Stuart Mill. Utilitarisme disebut juga suatu teologis (dari kata Yunani telos = tujuan), sebab menurut teori ini kualitas etis suatu perbuatan diperoleh dengan dicapainya tujuan perbuatan. Perbuatan yang memang bermaksud baik tetapi tidak menghasilkan apa-apa, menurut utilitarisme tidak pantas disebut baik. Teori utilitas merupakan pengambilan keputusan etika dengan pertimbangan manfaat terbesar bagi banyak pihak sebagai hasil akhirnya (The greatest good for the greatest number) artinya bahwa hal ini benar didefinisikan sebagai hal yang memaksimalisasi apa yang baik dan meminimalisir apa yang berbahaya bagi kebanyakan orang, semakin bermanfaat pada semakin banyak orang, maka perbuatan itu semakin etis. Dasar moral dari perbuatan hukum ini bertahan paling lama dan relatif paling banyak digunakan. Utilitarianism (dari kata utilities berarti manfaat)

Teori menguraikan jalan pikiran menurut kerangka yang logis artinya mendudukkan masalah penelitian yang telah dirumuskan didalam kerangka teoritis yang relevan, yang mampu menerangkan masalah tersebut.

28 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta: Universitas Indonesia Press,

(20)

sering disebut pula dengan aliran konsekuensialisme karena sangat berpotensi pada hasil perbuatan.29

Utilitarisme sangat menekankan pada pentingnya konsekuensi perbuatan dalam menilai baik buruknya. Kualitas moral suatu perbuatan baik buruknya tergantung pada konsekuensi atau akibat yang dibawakan olehnya. Jika suatu perbuatan mengakibatkan manfaat paling besar, artinya paling memajukan kemakmuran, kesejahteraan dan kebahagiaan masyarakat, maka perbuatan itu adalah baik. Sebaliknya, jika perbuatan membawa lebih banyak kerugian dari pada manfaat, perbuatan itu harus dinilai buruk. Konsekuensi perbuatan disini memang menentukan seluruh kualitas moralnya.30 Prinsip ultiritarian menyatakan bahwa :”An action is right from an ethical point of view if and only if the sum total of utilities produced by the act is the greater than the sumtotal of utilities produced by any other act the agent could have performed in its place” (suatu tindakan dinggap benar dari sudut pandang etis jika dan hanya jika jumlah total utilitas yang dihasilkan dari tindakan tersebut lebih besar dari jumlah utilitas total yang dihasilkan dari tindakan lain yang dilakukan).31

Alam telah menempatkan umat manusia dibawah dua kendali kekuasaan, rasa sakit dan rasa senang. Hanya yang keduanya yang menunjukkan apa yang

Dalam karya tulisnya yang berjudul “An Introduction To The Principles Of Morals and Legislation” Jeremy Bentham Menyebutkan:

29 Erni R. Ermawan, Business Ethic , (Bandung: CV. Alfabeta, 2007), hal. 28

30 K. Bertens, “Etika dan Etiket, Pentingya Sebuah Perbedan”, (Yogyakarta: Kanisius, 1989),

hal. 93

31

(21)

seharusnya kita lakukan dan menentukan apa yang kita lakukan. Standar benar dan salah disatu sisi, maupun rantai sebab akibat disisi lain, melekat erat pada dua kekuasaan itu. Keduanya menguasai kita dalam semua hal yang kita lakukan, dalam semua hal yang kita ucapkan, dalam semua hal yang kita pikirkan: setiap upaya yang kita lakukan agar kita tidak menyerah padanya hanya akan menguatkan dan meneguhkannya. Dalam kata-kata seorang manusia mungkin akan berpura-pura menolak kekuasaan mereka. Azas manfaat (utilitas) mengakui ketidakmampuan ini dan menganggapnya sebagai landasan sistem tersebut, dengan tujuan merajut kebahagiaan melalui tangan nalar dan hukum. Sistem yang mencoba untuk mempertanyakannya hanya berurusan dengan kata-kata ketimbang maknanya dengan dorongan sesaat ketimbang nalar, dengan kegelapan ketimbang terang.32

Kriteria Pertama, manfaat, yaitu bahwa kebijaksanaan atau tindakan itu mendatangkan manfaat atau kegunaan tertentu. Jadi kebijaksanaan atau tindakan yang

Bentham menjelaskan lebih jauh bahwa asas manfaat melandasi segala kegiatan berdasarkan sejauh mana tindakan itu meningkatkan atau mengurangi kebahagiaan itu atau dengan kata lain meningkatkan atau melawan kebahagiaan itu.

Menurut teori ini suatu adalah baik jika membawa manfaat, tetapi manfaat itu harus menyangkut bukan hanya satu dua orang melainkan masyarakat sebagai keseluruhan. Jadi, utilitarisme ini tidak boleh dimengerti secara egoistis. Dalam rangka pemikiran ini kriteria untuk menentukan baik buruknya suatu pebuatan adalah kebahagiaan terbesar dari jumlah orang terbesar perbuatan yang mengakibatkan paling banyak orang yang merasa senang dan puas adalah perbuatan yang terbaik.

Secara lebih konkret, dalam kerangka etika utilitarisme dapat dirumuskan 3 (tiga) kriteria objektif sekaligus norma untuk menilai suatu kebijaksanaan atau tindakan.

32

(22)

baik adalah menghasilkan hal yang baik. Sebaliknya, kebijaksanaan atau tindakan yang tidak baik adalah yang mendatangkan kerugian tertentu.

Kriteria Kedua, manfaat terbesar, yaitu bahwa kebijaksanaan atau tindakan itu mendatangkan manfaat besar (atau dalam situasi tertentu lebih besar) dibandingkan dengan kebijaksanaan atau alternatif lainnya atau kalau yang dipertimbangkan adalah soal akibat baik atau akibat buruk dari suatu kebijaksanaan atau tindakan, maka suatu kebijaksanaan atau tindakan dinilai baik secara moral kalau mendatangkan lebih banyak manfaat dibandingkan dengan kerugian. Dalam situasi tertentu kerugian tidak bisa dihindari, dapat dikatakan bahwa tindakan yang baik adalah tindakan yang menimbulkan kerugian terkecil (termasuk kalau dibandingkan dengan kerugian yang ditimbulkan oleh kebijaksanaan atau tindakan alternatif).

Kriteria Ketiga, menyangkut pertanyaan manfaat terbesar untuk sebagian orang saja, pribadi, atau juga untuk semua orang lain yang terkait, terpengaruh dan terkena kebijaksanaan atau tindakan yang akan saya ambil? Dalam menjawab pertanyaan ini, etika utilitarianisme lalu mengajukan kriteria ketiga berupa manfaat terbesar bagi sebanyak mungkin orang. Jadi, suatu kebijaksanaan atau tindakan dinilai baik secara moral kalau tidak hanya mendatangkan manfaat terbesar, melainkan kalau mendatangkan manfaat terbesar bagi sebanyak mungkin orang. Sebaliknya, kalau ternyata suatu kebijaksanaan atau tindakan tidak bisa mengelak dari suatu kerugian maka kebijaksanaan atau tindakan dinilai tidak baik dan

(23)

kebijaksanaan atau tindakan itu dinilai baik apabila membawa kerugian yang sekecil mungkin bagi sedikit orang.33

2. Konsepsi

Konsepsi adalah salah satu bagian terpenting dari teori, peranan konsepsi dalam penelitian ini untuk menggabungkan teori dengan observasi, antara abstrak dan kenyataan. Konsep diartikan sebagai kata yang menyatukan abstraksi yang digeneralisasikan dari hal-hal yang khusus yang disebut defenisi operasional.34 Menurut Burhan Ashshofa, suatu konsep merupakan abstraksi mengenai suatu fenomena yang dirumuskan atas dasar generalisasi dari jumlah karakteristik kejadian, keadaan, kelompok atau individu tertentu.35

a. Notaris adalah pejabat umum, yang berwenang membuat akta otentik mengenai semua perbuatan, perjanjian, dan ketetapan yang diharuskan oleh peraturan perundang-undangan dan atau dikehendaki yang berkepentingan untuk dinyatakan dalam akta otentik, menjamin kepastian tanggal pembuatan akta, menyimpan akta, memberikan grosse, salinan dan kutipan akta.

Adapun uraian dari pada konsep yang dipakai dalam penelitian ini adalah:

36

b. Perseroan Komanditer/Commanditaire Vennootschap (CV) adalah suatu perusahaan yang didirikan oleh satu atau beberapa orang secara tanggung

33

A. Sony Keraf, Etika Bisnis, (Yogyakarta: Kanisius, 1998), hal. 100

34 Samadi Suryabrata, Metodologi Penelitian, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1998), hal. 31 35 Burhan Ashshofa, Metodologi Penelitian Hukum, (Jakarta: Rineka Cipta, 1996), hal. 19 36 Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris, Pasal

(24)

menanggung, bertanggung jawab secara seluruhnya atau secara solider, dengan satu orang atau lebih sebagai pelepas uang (Geldschieter).

c. Perseroan Terbatas (PT) adalah persekutuan modal yang oleh undang-undang diberi status badan hukum, yang dapat mengikatkan diri dan melakukan perbuatan-perbuatan hukum seperti orang pribadi (natuurlijk persoon) dan dapat mempunyai kekayaan atau hutang.37

d. Peran dan Tanggung Jawab Notaris adalah kontribusi dan keadaan wajib yang dibebankan kepada Notaris untuk menanggung segala hal terkait pembuatan akta yang dibuat dihadapannya.

e. Ditjen AHU adalah Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum di Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia.

G. Metode Penelitian

1. Sifat dan Jenis Penelitian

Sifat dari penelitian ini adalah bersifat deskriptif analisis, bersifat deskriptif analisis maksudnya dari penelitian ini diharapkan diperoleh gambaran secara rinci dan sistematis tentang permasalahan yang akan diteliti. Analisis dimaksudkan berdasarkan gambaran, fakta yang diperoleh akan dilakukan analisis secara cermat untuk menjawab permasalahan.38

37 Rochmat Soemitro, Hukum. Perseroan Terbatas, Yayasan Dan Wakaf, (Bandung:

PT.Eresco, 1993), hal. 2

38 Sunaryati Hartono, Penelitian Hukum Indonesia Pada Akhir Abad ke-20, (Bandung:

(25)

Dalam penelitian ini menggunakan jenis penelitian hukum dengan metode pendekatan yuridis normatif, yang disebabkan karena penelitian ini merupakan penelitian hukum doktriner yang disebut juga penelitian kepustakaan atau studi dokumen yang dilakukan atau ditujukan hanya pada peraturan-peraturan yang tertulis atau bahan hukum yang lain.39 Penelitian ini termasuk ruang lingkup penelitian yang menggambarkan, menelaah dan menjelaskan serta menganalisa teori hukum yang bersifat umum dan peraturan perundang-undangan mengenai peran dan tanggung jawab Notaris dalam perubahan perusahaan berbentuk Perseroan Komanditer Menjadi Perseroan Terbatas, oleh karena itu penelitian ini menekankan pada sumber-sumber bahan sekunder, baik berupa peraturan perundang-undangan maupun teori-teori hukum, disamping menelaah kaidah-kaidah hukum yang berlaku di masyarakat, sehingga ditemukan suatu asas-asas hukum yang berupa dogma atau doktrin hukum yang bersifat teoritis ilmiah serta dapat digunakan untuk menganalis permasalahan yang dibahas,40

2. Sumber Data/ Bahan Hukum

serta menjawab pertanyaan sesuai dengan pokok permasalahan dalam penulisan tesis ini.

Sumber data dalam penelitian ini adalah data sekunder. Sumber data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

39 Bambang Waluyo, Metode Penelitian Hukum, (Semarang: PT. Ghalia Indonesia, 1996),

hal.13.

40 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat,

(26)

a. Bahan hukum primer.41

Yaitu bahan hukum yang mempunyai kekuatan mengikat sebagai landasan utama yang dipakai dalam rangka penelitian ini di antaranya adalah Kitab Undang Hukum Perdata, Kitab Undang Hukum Dagang, Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris, Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas, dan peraturan-peraturan lain yang berkaitan dengan peran dan tanggung jawab Notaris dalam perubahan perusahaan berbentuk Perseroan Komanditer Menjadi Perseroan Terbatas.

b. Bahan hukum sekunder.42

Yaitu bahan-bahan yang erat hubungannya dengan bahan hukum primer dan dapat membantu menganalisis dan memahami bahan hukum primer, seperti hasil-hasil penelitian, hasil-hasil seminar, hasil-hasil karya dari para ahli hukum, serta dokumen-dokumen lain yang berkaitan dengan masalah peran dan tanggung jawab Notaris dalam perubahan perusahaan berbentuk Perseroan Komanditer Menjadi Perseroan Terbatas.

c. Bahan hukum tertier.43

Yaitu bahan-bahan yang memberikan informasi tentang bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder seperti kamus hukum, surat kabar, makalah yang berkaitan dengan objek penelitian.

41 Ronny Hanitijo Soemitro, Metodologi Penelitian Hukum dan Juritmetri, (Jakarta: Ghalia

Indonesia, 1990), hal. 53

42Ibid. 43

(27)

3. Teknik dan Alat Pengumpulan Data a. Teknik Pengumpulan Data

Untuk mendapatkan data yang diperlukan, pengumpulan data dilakukan melalui studi kepustakaan (Library Research), studi kepustakaan ini dilakukan untuk mendapatkan atau mencari konsepsi-konsepsi, teori-teori, asas-asas dan hasil-hasil pemikiran lainnya yang berkaitan dengan permasalahan penelitian ini yaitu peran dan tanggung jawab Notaris dalam perubahan perusahaan berbentuk Perseroan Komanditer Menjadi Perseroan Terbatas. sebagai data penunjang dalam penelitian ini, digunakan wawancara dengan informan atau narasumber yaitu Notaris di sekitar Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang yang dianggap mengetahui permasalahan yang berkaitan dengan permasalahan perubahan perusahaan berbentuk Perseroan Komanditer Menjadi Perseroan Terbatas.

b. Alat Pengumpulan Data

Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan bahan-bahan hukum menggunakan studi dokumen yaitu dengan melakukan inventarisasi dan sistematisasi literatur sehingga dapat diperoleh konsepsi-konsepsi, teori-teori, asas-asas dan hasil-hasil pemikiran lainnya yang berkaitan dengan peran dan tanggung jawab Notaris dalam perubahan perusahaan berbentuk Perseroan Komanditer Menjadi Perseroan Terbatas. Selain itu digunakan wawancara dengan informan atau narasumber menggunakan pedoman wawancara yang telah disusun terlebih dahulu sehingga data yang diperoleh lebih terstruktur dan terarah sehingga dapat dijadikan bahan guna menjawab permasalahan dalam tesis ini.

(28)

4. Analisis Data

Dalam suatu penelitian sangat diperlukan suatu analisis data yang berguna untuk memberikan jawaban terhadap permasalahan yang diteliti. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Penelitian dengan menggunakan metode kualitatif bertolak dari asumsi tentang realitas atau fenomena sosial yang bersifat unik dan kompleks. Padanya terdapat regularitas atau pola tertentu, namun penuh dengan variasi (keragaman).44

Selanjutnya, data sekunder yang diperoleh dari penelitian kepustakaan (library research) dan hasil wawancara dengan informan atau narasumber disusun secara berurutan dan sistematis, selanjutnya dianalisis dengan menggunakan metode kualitatif sehingga diperoleh gambaran secara menyeluruh tentang gejala dan fakta yang terdapat dalam masalah peran dan tanggung jawab Notaris dalam perubahan perusahaan berbentuk Perseroan Komanditer Menjadi Perseroan Terbatas. Selanjutnya ditarik kesimpulan dengan menggunakan metode berpikir deduktif, yaitu cara berpikir yang dimulai dari hal-hal yang umum untuk selanjutnya menarik hal-hal yang khusus, dengan menggunakan ketentuan berdasarkan pengetahuan umum seperti teori-teori, dalil-dalil, atau prinsip-prinsip dalam bentuk proposisi-proposisi untuk menarik kesimpulan terhadap fakta-fakta yang bersifat khusus,

45

44 Burhan Bungin, Analisa Data Penelitian Kualitatif, Pemahaman Filosofis dan Metodologis

Kearah Penguasaan Modal Aplikasi, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003), hal.53.

45 Mukti Fajar, dan Yulianto Achmad, Dualisme Penelitian Hukum Normatif dan Empiris,

(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), hal.109.

guna menjawab permasalahan-permasalahan yang telah dirumuskan dalam penelitian ini.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :