• Tidak ada hasil yang ditemukan

makalah otonomi dan peraturan daerah ser

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "makalah otonomi dan peraturan daerah ser"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS MATA KULIAH ILMU NEGARA

OTONOMI DAERAH DAN PERMASALAHANNYA

DI INDONESIA

ALRISA EDELMAN

2013-050-UNIKA ATMA JAYA

JAKARTA

(2)

PENDAHULUAN

Otonomi daerah di Indonesia merupakan hak, wewenang, dan kewajiban yang diberikan kepada

daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan

masyarakat setempat menurut aspirasi masyarakat untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna

penyelenggaraan pemerintahan dalam rangka pelayanan terhadap masyarakat dan pelaksanaan

pembangunan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Otonomi Daerah sendiri dapat diartikan sebagai wewenang untuk mengatur dan mengurus rumah

tangga daerah, yang melekat pada Negara kesatuan maupun pada Negara federasi. Di Negara

kesatuan otonomi daerah lebih terbatas dari pada di Negara yang berbentuk federasi.

Kewenangan mengantar dan mengurus rumah tangga daerah di Negara kesatuan meliputi

segenap kewenangan pemerintahan kecuali beberapa urusan yang dipegang oleh Pemerintah

Pusat seperti:

1. Hubungan luar negeri

2. Pengadilan

3. Moneter dan keuangan

4. Pertahanan dan keamanan

Pelaksanaan otonomi daerah selain berlandaskan pada acuan hukum, juga sebagai implementasi

(3)

lebih luas, lebih nyata dan bertanggung jawab, terutama dalam mengatur, memanfaatkan dan

menggali sumber-sumber potensi yang ada di daerahnya masing-masing.

Dampak positif otonomi daerah adalah memunculkan kesempatan identitas lokal yang ada di

masyarakat. Berkurangnya wewenang dan kendali pemerintah pusat mendapatkan respon

tinggidari pemerintah daerah dalam menghadapi masalah yang berada di daerahnya sendiri.

Bahkan dana yang diperoleh lebih banyak daripada yang didapatkan melalui jalur birokrasi dari

pemerintah pusat. Dana tersebut memungkinkan pemerintah lokal mendorong pembangunan

daerah serta membangun program promosi kebudayaan dan juga pariwisata.

Kebijakan-kebijakan pemerintah daerah juga akan lebih tepat sasaran dan tidak membutuhkan waktu yang

lama sehingga akan lebih efisien.

Dampak negatif dari otonomi daerah adalah munculnya kesempatan bagi oknum-oknum di

tingkat daerah untuk melakukan berbagai pelanggaran, munculnya pertentangan antara

pemerintah daerah dengan pusat, serta timbulnya kesenjangan antara daerah yang pendapatannya

tinggi dangan daerah yang masih berkembang. Terdapat beberapa nilai dasar yang dikembangkan

berkenaan dengan pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia, yaitu:

1. Asas Unitaris, yang diwujudkan dalam pandangan bahwa Indonesia tidak mempunyai

kesatuan pemerintahan lain di dalamnya yang bersifat negara ("Eenheidstaat"), yang

berarti kedaulatan yang melekat pada rakyat, bangsa dan negara Republik Indonesia tidak

akan terbagi di antara kesatuan-kesatuan pemerintahan; dan

2. Asas desentralisasi, yaitu penyerahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah pusat

(4)

3. Asas dekonsentrasi, yaitu pelimpahan wewenang dari pemerintah pusat kepada

pemerintah daerah sebagai wakil dari perwakilan pemerintah pusat di daerah otonom

4. Asas tugas pembantuan, yaitu penugasan dari pemerintah yang ruang lingkup / wilayah

kekuasannya lebih luas kepada pemerintah yang ruang lingkup / wilayah kekuasaannya

lebih sempit untuk menjalankan suatu tugas tertentu yang disertai dengan pembiayaan,

sarana dan prasarana, dan sumber daya, serta pelimpahan kewajiban untuk melaporkan

pelaksanaan serta mempertanggungjawabkannya kepada yang menugaskan

Dikaitkan dengan dua nilai dasar tersebut di atas, penyelenggaraan desentralisasi di Indonesia

berpusat pada pembentukan daerah-daerah otonom dan penyerahan/pelimpahan sebagian

kekuasaan dan kewenangan pemerintah pusat ke pemerintah daerah untuk mengatur dan

mengurus sebagian sebagian kekuasaan dan kewenangan tersebut. Adapun titik berat

pelaksanaan otonomi daerah adalah pada Daerah Tingkat II (Dati II) atau yang sekarang disebut

sebagai Kabupaten dan Kota dengan beberapa dasar pertimbangan:

1. Dimensi Politik, Dati II (Kabupaten dan Kota) dipandang kurang mempunyai fanatisme

kedaerahan sehingga risiko gerakan separatisme dan peluang berkembangnya aspirasi

federalis relatif minim;

2. Dimensi Administratif, penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat

relatif dapat lebih efektif;

3. Dati II (Kabupaten dan Kota) adalah daerah "ujung tombak" pelaksanaan pembangunan

sehingga Dati II-lah yang lebih tahu kebutuhan dan potensi rakyat di daerahnya.

(5)

1. Nyata, otonomi secara nyata diperlukan sesuai dengan situasi dan kondisi obyektif di

daerah;

2. Bertanggung jawab, pemberian otonomi diselaraskan/diupayakan untuk memperlancar

pembangunan di seluruh pelosok tanah air; dan

3. Dinamis, pelaksanaan otonomi selalu menjadi sarana dan dorongan untuk lebih baik dan

maju

Menteri Dalam Negeri adalah jabatan dalam pemerintahan negera yang berdaulat dengan

tanggung jawab untuk urusan politik, keamanan dalam negeri, dan imigrasi. Jabatan ini dalam

kabinet juga biasa disebut dengan Menteri Urusan Dalam Negeri. Di beberapa negara Menteri

Dalam Negeri juga memiliki tanggung jawab terhadap pelaksanaan hukum bersama dengan

Menteri Hukum dan HAM.

Dalam negara dengan bentuk negara federasi, keberadaan Menteri Dalam Negeri juga terdapat di

negara bagian. Sama halnya dengan daerah otonom dan Wilayah dependensi juga memiliki

Menteri Dalam Negeri sendiri.

Kementerian Dalam Negeri mempunyai tugas menyelenggarakan urusan pemerintahan dalam

negeri untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara.

Kementerian Dalam Negeri menyelenggarakan fungsi:

 perumusan, penetapan dan pelaksanaan kebijakan dibidang pemerintahan dalam negeri;

 pengelolaan barang milik/kekayaan negara;

(6)

 pelaksanaan kegiatan teknis dari pusat sampai ke daerah

Dalam tugas mata kuliah Ilmu Negara ini, penulis akan menyajikan hasil penelitian yang

ditempuh dengan metode wawancara terkait dengan pelaksanaan pemerintahan daerah

berdasarkan otonomi daerah. Adapun narasumber dari wawancara ini adalah ibu Munziar, S.H,

yang merupakan Kepala Sub Bagian Pengkajian & Evaluasi Produk Hukum Wilayah III yang

bekerja di Biro Hukum Kementrian Dalam Negeri. Beliau, dengan dibantu oleh beberapa

stafnya, juga merupakan pengelola situs laman internet Jaringan Dokumentasi dan Informasi

Hukum di Biro Hukum Kementrian Dalam Negeri, yang menyajikan hampir keseluruhan

Peraturan Daerah, baik di tingkat Provinsi maupun di tingkat Kabupaten/Kota.

Di samping menyajikan hasil wawancara, Penulis juga akan memberikan sedikit analisa pada

bab terakhir dari makalah ini dan melampirkan surat pengantar dari Sekretariat Fakultas Hukum

UNIKA Atma Jaya Jakarta yang ditujukan kepada Kementrian Dalam Negeri RI dan telah

ditandatangani oleh Narasumber dari Kemendagri dan foto Penulis di beberapa bagian dari

gedung Kementrian Dalam Negeri RI yang beralamat di Jl. Medan Merdeka Raya No.7 Jakarta

Pusat. Lampiran tersebut dapat dianggap sebagai sebuah tanda bukti bahwa Penulis benar-benar

(7)

HASIL WAWANCARA DAN ANALISA TERKAIT DENGAN

sampai sekarang? (wawancara dilakukan pada tanggal 24-03-2014)

Narasumber : Apabila dijumlahkan semuanya, baik Peraturan Daerah Tingkat Provinsi

maupun Peraturan Daerah Tingkat Kabupaten/Kota, sudah ada 25.912 (dua puluh lima ribu

sembilan ratus dua belas) Perda yang dapat diakses melalui situs resmi kami

(http://www.jdih.setjen.kemendagri.go.id/ ). Sebetulnya masih banyak Perda lain yang belum bisa

diakses melalui situs tersebut terkait dengan sulitnya koordinasi dan kurang baiknya sistem

pengarsipan yang diterapkan serta teknologi di masing-masing daerah.

Penulis : Masalah apa sajakah yang muncul terkait dengan Peraturan Daerah

yang ada di Indonesia?

Narasumber : Ada banyak masalah yang muncul, baik dalam hal pengarsipan maupun

dalam hal hukum, dalam Peraturan Daerah di Indonesia. Terkait dengan pengarsipan, masalah

yang muncul antara lain:

1. kurangnya koordinasi antara (Pemerintah) Daerah dengan (Pemerintah) Pusat.

(8)

kepada Pusat, bukan Pusat kepada Daerah, karena Pusat selalu berupaya untuk keep in contact

atau menghubungi Daerah, tetapi ada kalanya Daerah tidak memberikan respon yang diharapkan

2. banyak Perda (baik di tingkat Provinsi maupun di tingkat Kabupaten/Kota) yang

disimpan dalam bentuk soft copy (data simpanan dalam perangkat keras komputer), yang hilang

dari pusat data (database) Pemerintah Daerah, seiring dengan pergantian Kepala Daerah.

3. banyak Perda yang sudah dibuat tetapi tidak diarsipkan dalam bentuk soft copy

(data simpanan dalam perangkat keras komputer), melainkan dalam bentuk hard copy (hasil

cetak), sehingga pengarsipan jadi sulit dilakukan karena Pemerintah Pusat, atau khususnya Biro

Hukum Kementrian Dalam Negeri, hanya bisa mengarsipkan Perda yang bentuknya soft copy,

berhubung keterbatasan ruang, sulitnya melakukan pengarsipan terhadap hard copy, dan

kurangnya transparansi kepada masyarakat apabila data disimpan dalam bentuk hard copy. Oleh

karena itu, setiap perwakilan atau utusan dari Daerah yang datang berkunjung ke Pusat, terlebih

lagi yang datang ke Kemendagri, diwajibkan untuk membawa soft copy dari Perda-Perda yang

telah dibuat di daerahnya.

4. keterbatasan anggaran dan teknologi di daerah. Seperti yang sama-sama kita

ketahui, pemerataan pembangunan belum terealisasi sepenuhnya di Negara Indonesia yang

sebegitu luasnya, sehingga bukan sebuah kejutan apabila ada daerah yang belum mendapatkan

akses listrik dan internet, atau ada daerah yang masih memandang komputer sebagai barang yang

mewah dan langka. Anggaran Daerah juga memiliki peran besar dalam hal pembangunan daerah.

Sementara itu, dalam segi hukum, kenyataannya sekarang banyak Perda yang dicabut karena

adanya ketidaksesuaian antara Perda dengan peraturan-peraturan lain yang (secara hierarkis)

(9)

atau melanggar isi peraturan-peraturan yang berada di atasnya. Hal ini sangat merepotkan karena

(10)

KESIMPULAN

Seperti yang telah disajikan pada bab sebelumnya, sudah sangat jelas bahwa inti dari

permasalahan Perda di Indonesia adalah ketidakmerataan pembangunan. Berakar dari

ketidakmerataan pembangunan ini, muncullah masalah-masalah turunan, yaitu keterbatasan

anggaran di daerah yang berujung pada keterbatasan teknologi di daerah. Keterbatasan teknologi

mengakibatkan sulitnya Pemda untuk berkoordinasi dengan Pusat dalam hal pengarsipan. Selain

itu, Pemda juga tentunya akan kesulitan untuk mendapatkan informasi terbaru terkait dengan

perkembangan hukum di pemerintahan pusat, termasuk apabila ada produk-produk hukum baru

dari lembaga-lembaga negara di tingkat pusat. Hal ini menyebabkan banyak produk hukum

daerah yang tidak sesuai dengan produk hukum yang dibuat di ranah pusat, sehingga harus

dilakukan klarifikasi terhadap produk-produk hukum daerah yang berujung pada penghapusan

berbagai Perda.

Selain masalah yang sifatnya teknis, Penulis juga berpendapat bahwa masalah Perda di Indonesia

muncul karena individu-individu tertentu tidak bersikap kooperatif. Seperti yang diungkapkan

oleh Narasumber, salah satu persoalan utama terkait dengan Perda di Indonesia adalah kurangnya

koordinasi antara Daerah dengan Pusat dan hilangnya soft copy seiring dengan pergantian Kepala

Daerah. Dari sini, Penulis memandang bahwa masih banyak pejabat pemerintahan di Indonesia

yang tidak melaksanakan tanggung jawabnya secara maksimal dan masih kurang mampu untuk

menggunakan inisiatifnya dengan baik.

Meskipun memang dapat dipahami bahwa keterbatasan teknologi dan anggaran daerah memang

(11)

tidak menyebabkan putusnya sama sekali hubungan antara keduanya. Masih banyak alternatif

lain yang dapat ditempuh guna menjaga kerjasama antara Daerah dengan Pusat, misalnya

melalui jalur pos atau dengan cara mengirimkan perwakilan-perwakilan dari daerah otonom ke

Pusat secara berkala.

Ketidakbertanggungjawaban individu-individu tertentu juga terlihat ketika soft copy Perda

banyak yang hilang. Perda, yang merupakan produk hukum yang dikeluarkan oleh Pemerintah

Daerah melalui proses yang tidak mudah, seharusnya diperlakukan lebih serius mengingat

tingkat kepentingannya yang luar biasa dalam pelaksanaan pemerintahan negara di tingkat

(12)

Referensi

http://tugas-akuntansi.blogspot.com/2011/12/ringkasan-otonomi-daerah.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Otonomi_daerah

http://id.wikipedia.org/wiki/Otonomi_daerah_di_Indonesia

http://id.wikipedia.org/wiki/Kementerian_Dalam_Negeri

http://www.kemendagri.go.id/

Sabon, Max Boli. 2009. Hukum otonomi daerah: bahan pendidikan untuk perguruan tinggi.

Jakarta: Penerbit Universitas Atma Jaya.

Kuncoro. 2004. Otonomi dan Pembangunan Daerah; Reformasi, Perencanaan, Strategi dan

Peluang. Jakarta: Penerbit Erlangga

(13)
(14)
(15)

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil penelitian diatas terdapat gambaran kemampuan Kota Binjai dalam pelaksanaan Otonomi Daerah yaitu berada pada tingkat mendekati mampu yang menggambarkan bahwa Kota

ANALISIS KINERJA KEUANGAN DAERAH KABUPATEN GROBOGAN DALAM PELAKSANAAN OTONOMI

ANALISIS KEMANDIRIAN KEUANGAN DAERAH KABUPATEN SRAGEN DALAM RANGKA PELAKSANAAN..

Banyak hal yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan pelaksanaan Otonomi Daerah, tetapi hal yang paling penting yang harus dilakukan untuk

Bahwa atas pertimbangan-pertimbangan tersebut di atas, perlu ditetapkan Peraturan Daerah Kabupaten Daerah TIngkat II Bantul tentang Penetapan harga drum bekas

Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 pada dasarnya tidak lagi meletakkan titik berat otonomi pada Daerah Tingkat II, namun secara mendasar meletakkan otonomi daerah pada daerah

adalah daerah kabupaten dan daerah kota. 3) Daerah di luar provinsi dibagi dalam daerah otonomi. 4) Kecamatan merupakan perangkat daerah kabupaten. Secara umum,

Pelaksanaan Otonomi Daerah Seiring dengan perubahan Undang-Undang Dasar Negara Indonesia Tahun 1945, kebijakan tentang Pemerintahan Daerah mengalami perubahan yang cukup