KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan kepadaTuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya sehingga kami dimudahkan dalam setiap langkah, terutama dalam penyusunan makalah ini. Dalam makalah ini, kami berusaha untuk menguraikan mengenai teori yang dikemukakan salah seorang filsuf Abad Pertengahan, yaitu Nicolaus Copernicus.
Makalah ini berisi tentang riwayat hidup dan teori yang dikemukakan oleh Nicolaus Copernicus, dalam hal ini adalah teori Heliosentris. Pembahasan mengenai teori tersebut akan kami jabarkan secara lengkap dalam makalah ini.
Keberhasilan dalam penyusunan makalah ini tentu tidak lepas dari pihak-pihak yang turut membantu demi kelancaran kesempurnaannya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Untuk itu kami mengucapkan terimakasih kepada:
1. Bapak Mulyo Wiharto selaku dosen matakuliah PengantarFilsafat yang telah membimbing kami selama masa perkuliahan kelas Pengantar Filsafat. 2. Rekan-rekan sesame penulis makalah ini yang telah menyediakan waktu,
tenaga, dan pikirannya untuk bersama-sama menyusun makalah ini sehingga dapat diselesaikan dengan baik.
3. Semua pihak yang telah membantu penyelesaian makalah ini yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan makalah ini masih terdapat kekurangan. Namun kami telah berusaha memberikan yang terbaik untuk pembuatan makalah ini. Untuk itu kami berharap adanya kritik dan saran demi perbaikan dimasa yang akan datang.
Akhir kata, harapan kami adalah semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan bagi pada pembaca.
Penyusun
Daftar Isi
Kata Pengantar
Daftar Isi
Bab I Pendahuluan
1. Latar belakang
2. Tujuan Pembuatan Makalah
A. Mengetahui Hasil Pemikiran Tokoh, Fungsi dan Pengaruhnya B. Menjelaskan Hasil Pemikiran Tokoh, Fungsi dan Pengaruhnya
3. Perumusan Masalah
A. Definisi Filsuf dan Filsafat B. Filsafat Abad Pertengahan
C. Tokoh, Biografi dan Hasil Pemikirannya
Bab II Pembahasan
1. Definisi Filsuf dan Filsafat 2. Filsafat Abad Pertengahan
3. Tokoh, Biografi dan Hasil Pemikirannya
Bab III Penutup
1. Kesimpulan
BAB I
PENDAHULUAN
I.
1. Latar Belakang
Ilmu pengetahuan dimasa modernitas belakangan ini adalah hasil berbagai macam pemikiran-pemikiran filosofi dari pemikir atau biasa disebut filsuf. Hasil buah karya pikir mereka ini pun ada di hampir semua lini atau bidang-bidang pengetahuan hingga masa kini. Bila kita coba runut, rentetan sejarah yang tercetak membentuk suatu ilmu pengetahuan manusia dari yang berbasis mitos, common sense, rasionalisme, epirisme hingga mencapai kebenaran yang mendekati validitas, biasa disebut Metoda Ilmiah atau
Sciencetific Method yang tak lepas dari peranan para fisuf-filsuf tersebut.
Secara historis, hubungan antara filsafat dan sains saling berkaitan. Sains bermula dari perenungan manusia akan pengetahuan yang diamati. Manusia mengawalinya dari sudut pandang filsafat yang mempunyai metodologi sendiri. Filsafat adalah ilmu pengetahuan pokok, dasar, pangkal segala ilmu pengetahuan modern masa kini. Pada makalah ini kami membahas Filsafat Abad Pertengahan atau biasa sering disebut-sebut abad kegelapan.
Filsafat pada akhir abad pertengahan ini lah bisa dikatakan awal terbentuknya sains modern, mengakhiri abad kegelapan yang di autorisasi oleh Gereja (1) yang diawali yang pemikiran filosofis pastinya. Bermula dari gebrakan seorang filsuf yang juga seorang ilmuwan kelahiran Polandia yang berani mendobrak zaman kegelapan dengan Teori Heliosentrisme hasil pengembangan dari filsuf sekaligus astronom Yunani Aristarchus dari Samos (310 SM – 230 SM)(2).
Tak luput juga cercaan dari teolog-teolog Kristen Protestan ternama kala itu seperti John Calvin dan Martin Luther (4). Dengan mengutip dari filsuf Francis Bacon (1561-1626) bahwa “Knowlegde Is Power” (Pengetahuan adalah Kekuatan), filsafat sangat berperan penting untuk terus memajukan, mengembangkan ilmu pengetahuan bagi semesta dan sebagai kekuatan untuk bertahan hidup.
I.
2. Tujuan Pembuatan Makalah
C. Mengetahui Hasil Pemikiran Tokoh, Fungsi dan Pengaruhnya D. Menjelaskan Hasil Pemikiran Tokoh, Fungsi dan Pengaruhnya
I.
3. Perumusan Masalah
D. Definisi Filsuf dan Filsafat E. Filsafat Abad PertengahanF. Tokoh, Biografi dan Hasil Pemikirannya
Catatan kaki:
1. Bryan Magee, The Story of Philosophy, Yogyakarta: Kanisius, 2012, hlm. 64-65
2. Dreyer, John Louis Emil, A History of Astronomy from Thales to Kepler, New York: Dover Publications, 1953, hlm 134-140
3. Anggraini F.D, Yani, Budi S.S, Ensiklopedia Tokoh Fisika, Jakarta Pusat: Balai Pustaka, 2007, hlm 45
4. Bryan Magee, The Story of Philosophy, Yogyakarta: Kanisius, 2012, hlm. 65
PEMBAHASAN
II.
1. Definisi Filsuf dan Filsafat
Filsuf
Seorang Filsuf, secara umum diartikan adalah seorang yang mempelajari filsafat, ahli pikir yang membahas masalah-masalah filosofis. Filsuf atau Philosopher dalam kamus Merriam-webster(5) adalah a person who
studies ideas about knowledge, truth, the nature and meaning of life, etc. : a person who studies philosophy (Orang yang mempelajari gagasan tentang pengetahuan, kebenaran, sifat dan makna kehidupan, dll. : orang yang mempelajari filsafat). Dan jika berdasarkan kamus Oxford(6) Filsuf atau philosopher adalah a person engaged or learned in philosophy, especially as an academic discipline (orang yang bergelut atau mempelajari filsafat, terkhusus dalam disiplin akademik).
Dari catatan yang kami temui, terminologi filsuf dan filsafat diperkenalkan oleh matematikawan, seorang filsuf Yunani Kuno, ialah Phytagoras(7). Pada zaman Yunani kuno sekitar abad ke-2 SM (sebelum masehi) hingga abad ke-5 M (masehi), sebagai reaksi terhadap cendikiawan pada masanya yang menamakan dirinya ”Ahli pengetahuan”, Phytagoras mengatakan bahwa pengetahuan dalam artinya yang lengkap tidak sesuai untuk manusia . tiap-tiap orang yang mengalami kesukaran-kesukaran dalam memperolehnya dan meskipun menghabiskan seluruh umurnya, namun ia tidak akan mencapai tepinya. Jadi pengetahuan adalah perkara yang kita cari dan kita ambil sebagian darinya tanpa mencakup keseluruhannya. Oleh karena itu, maka kita bukan ahli pengetahuan, melainkan pencari dan pencinta pengetahuan(8).
orang yang teoritikus filsafat, atau yang memiliki karya filosofi, tidak mesti menerima pendidikan filsafat atau menjadi professor filsafat. Sebagai contoh Marcus Porcius Cato (234-149 SM) atau Cato Major atau Cato Censorius adalah seorang negarawan dari Roma, seorang moralis, orator dan penulis sekitar abad pertama sebelum masehi. Salah satu filsuf berfaham Stoik, yang tidak memiliki karya filosofis apapun selama hidupnya(9).
Menurut Marcus Aurelius (26 April 121 – 17 Maret 180) dalam karyanya
“The Maditations” (9), bahwa seorang dengan julukan atau seorang yang disebut filsuf tidak mesti menerima pendidikan filsafat, bukan juga seorang professor filsafat, maupun memiliki karya filosofis. Melainkan bentuk pernyataan perubahan secara radikal jalan hidup, gaya hidup seperti para filsuf terdahulu, yang berbeda dari orang lain dan menjadi acuan berpikir atau dapat mempengaruhi orang banyak atas pemikirannya.
Dengan demikian, kami dapat menyimpulkan bahwa Filsuf adalah orang yang memikirkan hakikat segala sesuatu dengan sungguh-sungguh dan mendalam (radikal/fundamental). Seorang filsuf tidak melulu memiliki karya filosofis maupun karya ilmiah. Melainkan bentuk pernyataan perubahan secara radikal jalan hidup, gaya hidup seperti para filsuf terdahulu, yang berbeda dari orang lain dan menjadi acuan berpikir atau dapat mempengaruhi orang banyak atas pemikirannya. seorang filsuf tak melulu berkutat soal logika hidup, etika hidup, konsep-konsep teologis, eskatologis, tapi lebih kompleks dari sekedar membicarakan hal-hal tersebut. Setiap intelektual atau cendikiawan yang berkontribui dalam berbagai ilmu pengetahuan yang memiliki pemikiran filosofis bisa dikategorikan filsuf atau philosopher. Baik itu matematikawan, seniman, psikolog, antropolog, ilmuwan-ilmuwan yang bergelut di ilmu eksak pun dapat dikatakan sebagai filsuf. Seperti tokoh yang akan kami bahas ini, yang orang pada umumnya mengenal dia sebagai ilmuwan astronomi, Nicolaus Copernicus (1473-1543).
Setelah pembahasan mengenai Filsuf yang bisa kita kategorikan juga sebagai kata ganti untuk orang. Filsafat merupakan kata benda. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, fil·sa·fat (n) 1 pengetahuan dan penyelidikan dng akal budi mengenai hakikat segala yg ada, sebab, asal, dan hukumnya; 2 teori yg mendasari alam pikiran atau suatu kegiatan; 3 ilmu yg berintikan logika, estetika, metafisika, dan epistemologi; 4 falsafahFilsafat lahir dari mitos.
Sebagaimana dalam mata kuliah “Pengantar Filsafat”. Cara manusia mencari, mendapatkan, memperoleh pengetahuan itu berawal dari Mitos menjadi Common Sense karena kebiasaan akal memperoleh pengetahuan, lalu menjadi Empiris berdasar pengamatan inderawi, beralih ke Rasio hingga sampai ilmu pengetahuan yang mendekati validitas yang bersifat ilmiah, metoda Ilmiah atau scientific method. Semua itu, tak lepas dari hal-hal yang bersifat mitos (hal-hal yang bersinggungan dengan mitologis). Istilah atau pengertian Filsafat dapat ditinjau dari dua segi, secara etimologis dan terminologis(10).
1.
Pengertian Filsafat secara Etimologis
Kata Filsafat dalam bahasa Indonesia memiliki makna yang sepadan dengan kata berbahasa Arab, “falsafah”, sepadan juga dengan kta berbahasa inggris, “philosophy”, atau “philosophie” dalam bahasa Perancis dan Belanda atau “philosophier” dalam bahasa Jerman. Semua berasal dari kata Latin
“philosophia” yang merupakan kata benda hasil dari kegiatan “philosophien”
sebagai kata kerjanya. Kata “philosophia” berasal dari bahasa Yunani,
“philein” (mencintai) atau “philia” (persahabatan, atau tertrik kepada….) dan
“sophos” (kebijaksanaan, keterampilan, pengalaman praktis, intelegensi) yang memiliki arti yang sepadan dalam bahaasa Latin, “philos” (teman/sahabat) dan “sophia” (kebijaksanaan).
Dengan demikian, setiap orang yang berfilsafat akan menjadi bijaksana. Orang yang cinta kepada pengetahuan disebut “philosopher”, dalam bahasa Arabnya “failasuf”. Pecinta pengetahuan ialah orang yang menjadikan pengetahuan sebagai tujuan hidupnya, atau perkataan lain, mengabdikan dirinya kepada pengetahuan. Dalam bukunya Plato yang berjudul The Republic
siapa sejatinya seorang filsuf, dia menjawab who are lovers of the vision of truth (siapa pun yang memiliki kecintaan terhadap kebenaran).
Berikut kutipan percakapannya dalam buku The Republic karya Plato: Whereas he who has a taste for every sort of knowledge and who is curious to learn and is never satisfied, may be justly termed a philosopher? Am I not right?
Glaucon said: If curiosity makes a philosopher, you will find many a strange being will have a title to the name. All the lovers of sights have a delight in learning, and must therefore be included. Musical amateurs, too, are a folk strangely out of place among philosophers, for they are the last persons in the world who would come to anything like a philosophical discussion, if they could help, while they run about at the Dionysiac festivals as if they had let out their earsto hear every chorus; whether the performance is in town or country–that makes no difference–they are there. Now are we to maintain that all these and any who have similar tastes, as well as the professors of quite minor arts, are philosophers?
Certainly not, I replied; they are only an imitation. He said: Who then are the true philosophers? Those, I said, who are lovers of the vision of truth.
That is also good, he said; but I should like to know what you mean? To another, I replied, I might have a difficulty in explaining; but I am sure that you will admit a proposition which I am about to make(11).
Maka kita menyimpulkan bawa Filsafat adalah hasil akal seorang manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya. Dengan kata lain: Filsafat adalah ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakikat kebenaran segala sesuatu.
2.
Pengertian Filsafat secara Etimologis
secara berbeda-beda. Coba perhatikan definisi-definisi filsafat dari filsuf Barat dan Timur di bawah ini:
a. Plato (427SM - 347SM) seorang filsuf Yunani yang termasyhur murid Socrates dan guru Aristoteles, mengatakan: Filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada (ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli).
b. Aristoteles (384 SM - 322SM) mengatakan : Filsafat adalah ilmua pengetahuan yang meliputi kebenaran, yang di dalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika (filsafat menyelidiki sebab dan asas segala benda).
c. Marcus Tullius Cicero (106 SM - 43SM) politikus dan ahli pidato Romawi, merumuskan: Filsafat adalah pengetahuan tentang sesuatu yang mahaagung dan usaha-usaha untuk mencapainya.
d. Al-Kindi (801 – 873) dikenal sebagai filsuf pertama dikalangan kaum muslimin dengan tegas mengatakan bahwa filsafat memiliki keterbatasan dan bahwa ia tidak dapat mengatasi problem semisal mukjizat, surge, neraka dan kehidupan akhirat. Al –Kindi membagi pengertian filsafat dan lapangannya filsafat dalam 3 bagian :
1. Thibiyyat (ilmu fisika) sebagi sesuatu yang berbenda
2. Al-ilm-urriyadli (matematika) terdiri dari ilmu hitung , tehnik, astronomi, dan musik, berhubungan dengan benda tapi punya wujud sendiri, dan yang tertinggi adalah
3. Ilm ur-Rububiyyah (ilmu ketuhanan) tidak berhubungan dengan benda sama sekali.
4. Al-Farabi (872 – 950), filsuf Muslim terbesar sebelum Ibnu Sina, mengatakan : Filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam maujud dan bertujuan menyelidiki hakikat yang sebenarnya. Al- Farabi mengatakan bahwa filsafat adalah mengetahui semua yang wujud
sendirinya (al-wajibli-dzatihi), Wujud selain Allah , yaitu mahluk adalah wujud yang tidak sempurna.
5. Ibnu Sina (980 – 1037) dikenal di dunia barat sebagai Avicenna. Pembagian filsafat bagi Ibnu sina pada pokoknya tidak berbeda dengan pembagian yang sebelumnya, filsafat teori dan filsafat amalan. Filsafat ketuhanan menurut Ibnu Sina adalah:
1. ilmu tentang turunnya wahyu dan mahluk-mahluk rohani yang membawa wahyu itu, dengan demikian pula bagaimana cara wahyu itu disampaikan, dati sesuatu yang bersifat rohani kepada sesuatu yang dapat dilihat dan didengar.
2. Ilmu akherat (Ma’ad) antara lain memperkenalkan kepada kita bahwa manusia ini tidak dihidupkan lagi badannya, maka rohnya yang abadi itu akan mengalami siksa dan kesenangan.
6. Francis Bacon (1561 – 1626) yang dikenal sebagai pencetus/peletak dasar empirisme dalam metodologi sains (Metode Bacon) mengakatan, filsafat adalah induk agung dari ilmu (mother of science atau mater scientiarum) dan menangani seluruh pengetahuan sebagai bidangnya. 7. Johann Gotlich Fickte (1762-1814 ) : filsafat sebagai Wissenschaftslehre
(ilmu dari ilmu-ilmu , yakni ilmu umum yang jadi dasar segala ilmu. Ilmu membicarakan sesuatu bidang atau jenis kenyataan. Filsafat memperkatakan seluruh bidang dan seluruh jenis ilmu mencari kebenaran dari seluruh kenyataan.
8. Immanuel Kant (1724 -1804) yang sering disebut raksasa pikir Barat, mengatakan : Filsafat itu ilmu pokok dan pangkal segala pengetahuan yang mencakup di dalamnya empat persoalan, yaitu:
1. Apakah yang dapat kita ketahui (dijawab dengan Metafisika) 2. Apakah yang boleh kita kerjakan (dijawab dengan etika)
3. Sampai dimanakah pengharapan kita (dijawab dengan agama) 4. Apakah yang dinamakan manusia (dijawabdengan antropologi)
dipastikan;namun, seperti sains, filsafat lebih menarik perhatian akal manusia daripada otoritas tradisi maupun otoritas wahyu.
10.Prof. Dr. Drs. Notonagoro, SH, professor filsafat UGM juga salah satu tokoh penting bagi berdirinya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta menyimpulkan bahwa filsafat itu menelaah hal yang inti dan mutlak serta terdalam, yang tetap dan tak berubah, yaitu : hakikat.
11.Prof. Dr. Fuad Hasan, guru besar psikologi UI, menyimpulkan bahwa filsafat adalah suatu ikhtiar untuk berpikir radikal, artinya mulai dari radiksnya suatu gejala, dari akarnya suatu hal yang hendak dimasalahkan. Dan dengan jalan penjajakan yang radikal itu filsafat berusaha untuk sampai kepada kesimpulan-kesimpulan yang universal.
Dari semua pengertian filsafat secara terminologis di atas, kami menyimpulkan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki, menjelaskan, memikirkan, menerangkan segala sesuatunya secara mendalam dan sungguh-sungguh, radikal sehingga mencapai kebenaran hakikat segala pengetahuan, baik pengetahuan yang bersifat horizontal maupun vertikal. Namun, salah satu kelemahan filsafat ialah. Filsafat tidak melakukan kegiatan eksperimen atau percobaan-percobaan secara konkrit.
Catatan Kaki:
(5) http://www.merriam-webster.com/dictionary/philosopher diakses 15 November 2015,
pukul 19.00 WIB
(6) http://www.oxforddictionaries.com/definition/english/philosopher diakses 15
November 2015, pukul 20.00 WIB
(7) http://www.perseus.tufts.edu/hopper/text?
doc=Perseus:text:1999.04.0057:entry=filo/sofos diakses 15 November 2015, pukul 22.00 WIB
(8) Ahmad hanafi, Ma. 1990. Pengantar filsafat islam. Jakarta. Bulan Bintang. Hal 3
(9) Hadot Pierre. 1998. The Inner Citadel: The Meditations of Marcus Aurelius. Harvard
University Press.Hal: 4-5
(10) Bernadien Usuluddin Win. Agustus 2011. Membuka Gerbang Filsafat. Pustaka
Pelajar. Hal: 46
(11) The Republic by Plato. http://www.idph.net . 18 de maio de 2002. diakses 17 November
2015, pukul 09.00 WIB
Dalam sejarah filsafat ada saat-saat yang dianggap penting suatu era (zaman) sebagai patokan dan bahan pembelajaan, karena selain memiliki suatu ke-khas-an, suatu aliran filsafat bisa meninggalkan pengaruh yang sangat bersejarah pada peradaban manusia. Baik peradaban budaya, sosiologi, seni, kepercayaan/iman, ilmu pengetahuan dan teknologi dan lain sebagainya. Ada beberapa penggolongan dalam sejarah Filsafat di bumi yang kita kenal atau sering dipelajari. Seperti:
1. Filsafat India 2. Filsafat Barat 3. Filsafat China
4. Filsafat Abad Pertengahan 5. Filsafat Islam
6. Filsafat Timur
7. Filsafat Zaman Modern
8. Hingga abad kini yang biasa disebut sebagai post-modern, Filsafat Post-Modern.
Namun pada makalah ini kami membahas hal-hal yang berhubungan/bersinggungan dengan Filsafat Abad Pertengahan. Dari data yang kami peroleh, sejarah Filsafat Abad Pertengahan dimulai kira-kira pada akhir abad ke-5 sampai akhir abad ke-14. Sejarawan menentukan tahun 476 masehi (berakhirnya kerajaan Romawi Barat berpusat di Roma dan munculnya Kerajaan Romawi Timur di Konstantinopel (Istanbul) hingga tahun 1492 (penemuan benua Amerika oleh Christopher Columbus (1450 – 1506) sebagai batas akhir abad pertengahan(1).
kecerdasan logis yang mendukung iman religius. Namun iman sama sekali tidak disamakan dengan mistisisme.
Abad Pertengahan ini sangat menarik juga bila diamati dinamika religiusitas antara Agama Kristen dengan Agama Islam pada saat itu. Agama Kristen memang bagian sejarah yang tidak terpisahkan dari zaman kekaisaran Romawi, agama Kristen yang mulai berkembang pada permulaan masehi atau abad ke-1 pada awalnya agama Kristen monotheisme tidak anggap sebagai agama resmi, karena romawi menganut konsep Politeisme yang menyembah banyak dewa atau kaisar karena itu pengikut Kristen diburu dan dihabisi. Pada tahun 313 kaisar konstantinus mengeluarkan dekrit Milan yang menyebabkan agama Kristen diakui sebagai agama negara.
Bizantyum yang merupakan kelanjutan dari romawi barat pada abad pertengahan merupakan kekaisaran yang berlandaskan Kristen pada jaman kaisar Justinianus Byzantium yang beribu kota di Konstantinopel yang merupakan pusat dari Byzantium memiliki struktur pertahanan yang kuat karena selain memiliki selat Dardanela di sekitar Konstantinopel juga dibangun tembok dan parit agar Konstantinopel memiliki benteng yang kuat sebagai pertahanan dari serangan musuh. Konstantinopel sangat kuat berbeda dengan romawi barat. Byzantium mampu bertahan 10 abad dan baru runtuh pada tahun 1453 M oleh serangan Turki Ottoman(2).
Abad pertengahan didominasi filsafat Kristiani di daratan Eropa (walaupun di daratan Timur Tengah juga memiliki ragam pengetahuan yang justru berbeda). Hampir semua pemikir atau filsuf adalah seorang klerus,
golongan rohaniawan atau biarawan dalam Gereja Katolik (Uskup, Imam, Rahib, Pimpinan Biara). Para klerus berusaha untuk menyoroti pokok-pokok iman Kristiani (secara Alkitabiah) dari sudut pengertian dan akal budi dan memberi pemahaman yang rasional untuk membuat pembelaan atas serangan-serangan dari para orang-orang yang dianggap “kafir” yang bersifat ideologi yang meruntuhkan keimanan terhadap Allah(3).
Gereja (para klerus) saat itu sangat membelenggu kehidupan manusia, sehingga manusia tidak lagi memiliki kebebasan untuk mengembangkan potensi dirinya. Semua hasil-hasil pemikiran manusia diawasi oleh kaum gereja dan apabila terdapat pemikiran yang bertentangan dengan ajaran gereja, maka orang yang mengemukakannya akan mendapatkan hukuman yang berat.
Tema yang paling hangat (paling laris) dibahas adalah perdebatan antara Iman/Faith dengan Akal/Reason. Pemahaman-pemahan para Klerus ini sebenarnya adalah pemahaman lama dan bukan hal yang baru. Karena filsuf Yahudi beraliran Helenistik, Philo dari Alexandria (abad 25SM – abad 50M) pernah memabahas masalah yang sama tatkala ia bersemboyan(4), “Coniuge
fidem rationemque si possibie!” yang memiliki arti “Hubungkanlah Iman dengan rasio sebisa mungkin!”.
Masa Patristik dan Masa Skolastik
Filsafat abad pertengahan menggambarkan suatu zaman yang baru ditengah-tengah suatu perkumpulan bangsa yang baru, yaitu bangsa Eropa Barat. Pada abad pertengahan sendiri terdapat dua masa (periode) yang mewarnai perkembangan Filsafat Abad Pertengahan. Pertama, masa (periode) Patristik dan yang kedua, masa (periode) Skolastik. Namun, masa Skolastik lebih banyak dipelajari karena masa ini bisa kami katakan merupakan masa-masa Emas, dimana Filsafat dimasukan, dipelajari secara menyeluruh pada sekolah-sekolah.
I.
Masa Patristik
dengan ajaran-ajaran Alkitab. Pada hakikatnya, ajaran Gnosis (Gnosisisme) adalah ajaran yang dualistis tentang kosmos dan manusia, mempertentangkan antara roh (nous) sebagai asas segala yang baik dan materi (hyle) sebagai asas yang jahat. Manusia adalah makhluk rohani yang terbelenggu dalam penjara materi (hyle).
Pada abad ini, di kota Alexandria berdiri sekolah kristen dan memiliki mazhab/faham Mazhab Alexandria. Mazhab ini memiliki rancangan teologi yang tersusun secara ilmiah menggunakan unsur-unsur filsafat Yunani (Platonisme dan Stoisisme) menjunjung tinggi keterangan alegoris (berdasar kiasan0kiasan). Tokoh penting dari mazhab ini adalah Clement dari Alexandria (150 – 251) dan Origenes (185 – 254). Pemikiran mazhab Alexandria tidak selalu sama dengan ajaran Gereja resmi (Katolik) terutama Origenes(5). Menurut Origenes, wahyu ilahi adalah akhir dari filsafat manusiawi yang bisa salah. Orang hanya boleh mempercayai sesuatu sebagai kebenaran bila tak menyimpang dari tradisi Gereja dan ajaran para rasul. Masa Patristik sendiri terbagi dalam dua bagian. Patristik Yunani (Patristik Timur) dan Patristik Latin (Patristik Barat).
Patristik Yunani (Patristik Timur)
Pemikiran filsafati Kristen dimulai dengan orang-orang yang disebut para apologit, para pembela agama Kristen yang membela iman Kristen terhadap filsafat Yunani dengan menggunakan alas an dari filsafat Yunani sendiri dengan kata lain, mesintetiskan filsafat Yunani dengan pemahaman teologi Alkitab.
Beberapa tokoh yang berpengaruh pada Patristik Yunani (Patristik Timur), ialah:
1. Justin Martyr (100 – 165) juga dikenal sebagai Saint Justin 2. Santo Irenaeus (130 – 202)
3. Clement dari Alexandria (150-215) 4. Origenes (185-254)
9. Santo Yohanes dari Damasku (676 – 749)
Patristik Latin (Patristik Barat)
Ajaran falsafi-teologis dari Bapa-bapa Gereja menunjukkan pengaruh Plotinos yang berusaha memperlihatkan bahwa iman sesuai dengan pikiran-pikiran paling dalam dari manusia. Mereka berhasil membela ajaran Kristiani terhadap tuduhan dari pemiki-pemikir kafir(7).
Beberapa tokoh utama Patristik Latin (Patristik Barat), ialah: 1. Lucius Caecilius Firmianus Lactantius (240 – 320) 2. Hilarius dari Poiters (310 – 367)
3. Santo Ambrosius (339 – 397)
4. Hieronimus atau dikenal sebagai Santo Jerome (sekitar 347 – 420) 5. Agustinus dari Hippo (Latin: Aurelius Augustinus Hipponensis) dikenal
Santo Agustinus ( 354 - 430)
Beberapa patres ada yang menolak dan ada juga yang menerima filsafat Yunani. Mereka yang menerima justru menganggap filsafat Yunani sebagai persiapan menuju ke Injil (praeparatio evangelica). Salah satunya Justin Martyr (100 – 165) juga dikenal sebagai Saint Justin yang digelari filsuf kristen pertama, melihat diri Sokrates bagai "Nabi dan Martir" kristus. Ia meninggal sebagai martir kristen tahun 165 di Roma. Juga Clement dari Alexandria (150 – 215) menjunjung tinggi filsafat (terutama filsafat Plato) yang memiliki fungsi rangkap. Bagi orang yang bukan Kristen, filsafat mempersiapkan orang untuk percaya kepada Injil. Dengan memberikan batasan-batasan kepada ajaran Kristen guna mempertahankan diri terhadap filsafat Yunani dan aliran Gnostik serta menerangi ajaran Kristen melalui pemikiran Yunani(6).
atau dibawah-Nya. Pencipta adalah Allah sendiri dengan perantara Logos, bukan "ilahi" yang lebih rendah atau eon-eon atau sinar dari diri-Nya sendiri(6).
Jaman Keemasan Patristik
Jaman keemasan pada masa Patristik baik Yunani dan Latin diawali dengan keputusan radikal Kaisar Konstantinus Agung tahun 313 disebut "Edik Milano" yang isi utamanya adalah menjamin kebebasan beragama semua orang Kristen. Yang sebelumnya umat Kristen selalu dianiaya dan terdiskriminasi hak dan tak ada pengakuan sebagai agama dari para Kaisar Romawi yang berkuasa.
Pada Patristik Yunani bisa kita lihat dari tiga patres yang semua berasal dari daerah Kapadosia: Gregorius dari Nyssa (335 – 395), Santo Basillius Agung (329 – 379) dan Gregorius dari Nanzianzus (329 – 389). Mereka membuat suatu sintesa antara agama Kristen dengan kebudayaan Hellenistis, tanpa mengurbankan sesuatu pun dari kebenaran agama Kristen. Dari ketiganya, yang paling pandai dalam bidang filsafat adalah Gregorius dari Nyssa (335 – 395) yang mengenal dan menggunakan filsafat neoplatonisme. Tetapi ia menolak gagasan neoplatonistis yang memandang rendah materi (manusia). Dengan kata lain, semua kejahatan berasal dari kehendak manusia, bukan dari manusia secara subtansial (materi).
Sejak mudanya ia telah mempelajari bermacam-macam aliran filsafat, antara lain Plantoniasme dan Skeptisisme juga pengaruh aliran Gnostik (Maniisme/Manikheisme). Ia telah diakui keberhasilannya dalam membentuk filsafat Kristen yang berpengaruh besar dalam filsafat abad pertengahan sehingga ia dijuluki sebagai guru skolastik yang sejati. Ia seorang tokoh besar di bidang teologi dan filsafat. Setelah mempelajari aliran Skeptisisme, ia kemudian menentang aliran skeptisisme (aliran yang meragukan kebenaran).Menurut Agustinus skeptisisme itu sebetulnya merupakan bukti bahwa ada kebenaran. Orang dapat meragukan segalanya, tapi tak dapat meragukan bahwa ia ragu-ragu.
Agustinus memiliki penafsiran atau figuratif dari Kitab Kejadian tentang Penciptaan. Bahwa, Allah menciptakan dunia secara ex nihilo dalam enam hari dan beristirahat pada hari ke tujuh seperti dalam Kitab Kejadian (konsep yang kemudian juga diikuti oleh Thomas Aquinas). Istilah ex nihilo tak berarti bahwa “tiada” itu merupakan materi, seperti patung yang dibuat dari perunggu. Namun, “tidak terjadi dari sesuatu yang sudah ada”.
Dari sudut pandang Tuhan (pencipta), menciptakan ialah sebagai tindakan aktif dan bersifat kontinue. Tetapi dari sudut pandang ciptaan dipandang pasif yang tergantung dari kuasa Tuhan yang terjadi dalam arus waktu. Maka ia menafsirkan tidak benar bahwa setelah penciptaan Tuhan tak bekerja (mengundurkan diri), jika sebaliknya maka hasil penciptaan tersebut kembali ke ketiadaan (nihilum). Apa yang dilakukan Tuhan sebelum penciptaan, ia menjawab “tidak ada artinya, karena tidak ada waktu sebelum penciptaan”(8).
Catatan kaki:
(1) Simon Petrus L. Tjahjadi. 2004. Petualangan Intelektual. Yogyakarta: Kanisius. Hal 102 (2) Henry S. Lucas. September 1993. Sejarah Peradaban Abad Pertengahan. PT. Tiara Wacana
Yogya
(3) Bernadien Usuluddin Win. Agustus 2011. Membuka Gerbang Filsafat. Pustaka Pelajar. Hal: 117
(4) Simon Petrus L. Tjahjadi. 2004. Petualangan Intelektual. Yogyakarta: Kanisius. Hal 103 (5) Bertens, K. 1998. Ringkasan Sejarah Filsafat. Yogyakarta: Kanisius. Hal : 20-21
(6) Harun Hadijiwo. 1980. Sari Sejarah Filsafat Barat 1. Yogyakarta: Kanisius. Hal : 73 (7) Hamersma Harry. 2008. Pintu Masuk ke Dunia Filsafat. Yogyakarta: Kanisius. Hal : 55
(8) Bernadien Usuluddin Win. Agustus 2011. Membuka Gerbang Filsafat. Pustaka Pelajar. Hal: 118
(9) Simon Petrus L. Tjahjadi. 2004. Petualangan Intelektual. Yogyakarta: Kanisius. Hal 104
II.
Masa SkolastikAlarik (Raja suku Got-Barat). Pada tengah Abad Pertengahan perpindahan bangsa-bangsa berlangsung terus menurus mengubah Eropa secara radikal, kebudayaan Romawi di Eropa dan Afrika Utara dihancurkan(4).
Pada awal abad ke-9 dibawah pemerintahan Kaisar Karel yang Agung, stabilitas politik, budaya, pengetahuan dapat berkembang lagi dan masa ini awal mula masa Soloastik lahir dan berkembang. Masa Skolastik dimulai sejak abad ke-9. Hal yang membedakan antara masa Patristik dengan Skolastik ialah, masa Patristik bisa dikatakan pribadi-pribadi yang lewat tulisannya memberikan bentuk pada pemikiran filsafat dan teologi pada zamannya sedangkan para tokoh zaman Skolastik terutama adalah para pelajar dari lingkungan sekolah-kerajaan dan sekolah-katedral yang didirikan Raja Karel yang Agung (742 - 814) dan juga dari lingkungan universitas dan ordo-ordo biarawan(3). Dimasa Skolastik, filsafat masih berkaitan dengan teologi, tetapi tidak terlalu intens dipelajari para pelajar karena sudah ada peningkatan kemandirian yang disebabkan dibukanya universitas-univesitas baru, ordo-ordo biara, disebarluaskannya karya-karya filsafat Yunani
Istilah skolastik adalah kata sifat yang berasal dari kata school, yang berarti sekolah. Atau dari kata schuler yang mempunyai arti kurang lebih sama yaitu ajaran atau sekolahan. Yang demikian karena sekolah yang diadakan oleh Karel Agung yang mengajarkan apa yang diistilahkan sebagai artes liberales (seni bebas) meliputi mata pelajaran gramatika, geometria, arithmatika, astronomi, musika, dan dialektika. Dialektika ini sekarang disebut logika dan kemudian meliputi seluruh filsafat(1). Jadi, skolastik berarti aliran atau yang berkaitan dengan sekolah.
Para sejarahwan filsafat membagi masa Skolastik ini menjaid 3 periode, yaitu skolastik Awal, Skolastik Puncak/Keemasaan dan Skolastik Akhir/Lanjut(3). Namun, bila dipandangan dari sudut geografis pada saat itu, kami melihat bahwa Skolastik juga terbagi dalam dua wilayah/bagian penting. Yaitu, Skolastik Barat dan Skolastik Timur. Skolastik Barat (Dunia Barat) berisikan teologi-teologi/filsafat-filsafat Kristiani dan Skolastik Timur (Dunia Islam) berisikan teologi-teologi/filsafat-filsafat Islami. Berikut uraian singkat tentang perkembangan Skolastik dari masa ke masa dan serta wilayah antar wilayah.
A. Skolastik Awal (tahun 800 – 1200)
Masa Skolastik awal berkiasar antara abad ke-8 hingga abad ke-12 di wilayah barat, ajaran Agustinus dan neo-Platonisme memilki pengaruh luas dan kuat dalam pemikiran para filsuf. Masa ini mengupayakan merasionalisasikan Tuhan dengan akal tanpa berdasarkan atau berlandaskan Kitab Suci (contohnya Anselmus dan Canterbury. Pada masa ini pun filsafat Aristoteles baru dipelajari dan pahami logika-logika Aristoteles.karya Aristoteles yang berkisar Logika diterjamahkan dari bahasa Yunani ke bahasa Latin oleh Boethius (480 – 524), filsuf yang dianggap “guru Logika” hingga abad ke-12. Karya lain dari Aristoteles datang kedunia barat bersamaan dengan para pengikut Islam ke dunia Barat melalui Spanyol dan pulau Sisilia (Eropa).
Namun, ada beberapa tokoh dan situasi penting yang harus diperhatikan dalam memahami filsafat masa Skolastik awal di dunia Barat.
I. Santo Agustinus ( 354 - 430)
Menurutnya, dibalik keteraturan dan ketertiban alam semesta ini pasti ada yang mengendalikan, yaitu Tuhan. Kebenaran mutlak ada pada ajaran agama. Kebenaran berpangkal pada aksioma bahwa segala sesuatu diciptakan oleh Allah dari yang tidak ada (creatio ex nihilo). Kehidupan yang terbaik adalah kehidupan bertapa, dan yang terpenting adalah cinta pada Tuhan.
II. Anicius Manlius Severinus Boethius (480-524 M)
Dalam usianya yang ke 44 tahun, mendapat hukuman mati dengan tuduhan berkomplot. Ia dianggap sebagai filosof akhir Romawi dan filosof pertama Skolastik. Jasanya adalah menterjemahkan logika Aristoteles ke dalam bahasa latin dan menulis beberapa traktat logika Aristoteles. Ia adalah seorang guru logika pada abad pertengahan dan mengarang beberapa traktat teologi yang dipelajari sepanjang abad pertengahan. Oleh karenanya, Boethius dapat disebut sebagai filsuf zaman Romawi atau filsuf Skolastik pertama di dunia Barat.
III. Charlemagne atau Kaisar Karel yang Agung (742 – 814)
Seperti pengenalan masa Skolastik diatas. Kaisar Karel yang Agung memerintah pada awal abad ke-9 yang telah berhasil mencapai stabilitas politik yang besar, kehidupan sosial hingga perkembangan pada bidang ilmu pengetahuan. Hal ini menyebabkan perkembangan pemikiran kultural berjalan pesat. Pendidikan yang dibangunnya terdiri dari tiga jenis yaitu pendidikan yang digabungkan dengan biara, pendidikan yang ditanggun keuskupan, dan pendidikan yang dibangun raja atau kerabat kerajaan(5). Sekolah yang diadakan oleh Karel Agung yang mengajarkan apa yang diistilahkan sebagai artes liberales (seni bebas) meliputi mata pelajaran gramatika, geometria, arithmatika, astronomi, musika, dan dialektika. Dialektika ini sekarang disebut logika dan kemudian meliputi seluruh filsafat(7).
Ciri khas filsafat abad pertengahan ini terletak pada rumusan Santo Anselmus yaitu credo ut intelligam (saya percaya agar saya paham). Filsafat ini jelas berbeda dengan sifat filsafat rasional yang lebih mendahulukan pengertian dari pada iman. Ia memiliki gagasan bahwa iman berikhtiar menemukan pemahaman atau pengertian (fides quaerenes intellectum). Anselmus ingin menunjukan bahwa ajaran Kristiani dapat dikembangkan dengan rasional tanpa tunduk terhadap otoritas lain (Kitab Suci, wahyu, ajaran para Bapa Gereja). Ia membuat suatu argumen yang dimuat dalam bukunya Proslogion yang menjelaskan eksistensi Allah tanpa harus beriman kepada Allah. Yang pada abad modern di kenalkan oleh Immanuel Kant dengan nama “Argumen Ontologis”(6).
V. Peter Abaelardus (1079-1142)
Catatan kaki:
(1) Ahmad Sadali dan Mudzakir. 1999. Filsafat Umum, Bandung: Pustaka Setia. Hal: 80-91
(2)Http://www.homeartikel.co.cc/2009/06/filsafat-skolastik.html
(3) Simon Petrus L. Tjahjadi. 2004. Petualangan Intelektual. Yogyakarta: Kanisius. Hal 105 (4) Bertens, K. 1998. Ringkasan Sejarah Filsafat. Yogyakarta: Kanisius. Hal : 25
(5) Atang Abdul Hakim dan Beni Ahmad Saebani. 2008. Filsafat Umum. Bandung: Pustaka Setia. Hal : 73
(6) Simon Petrus L. Tjahjadi. 2004. Petualangan Intelektual. Yogyakarta: Kanisius. Hal 124 (7) Atang Abdul Hakim dan Beni Ahmad Saebani. 2008. Filsafat Umum. Bandung: Pustaka Setia.
Hal : 81
B. Skolastik Puncak/Keemasan (1200 – 1300)
Pada masa Skolastik awal, filsafat bertumpu pada alam pikiran dan karya-karya Kristianai. Tetapi sejak pertengahan abad ke-12 karya-karya non Kristiani mulai muncul dan filosuf Islam mulai berpengaruh. Dan pada masa in merupakan kejayaan Skolastik yang berlangsung dari abad ke-12 sampai abad ke-13, yang disebut juga masa kejayaan karena bersamaan dengan munculnya beberapa universitas dan ordo-ordo yang menyelenggarakan pendidikan ilmu pengetahuan. Dalam masa Skolastik puncak, filsafat Aristoteles sangat mendominasi para pemikir Abad Pertengahan yang sebelumnya didominasi filsafat Plato/neo-Platonisme. Pada abad ini Aristoteles diakui sebagai “Sang Filsuf”, gaya pemikiran Yunani semakin meluas melalui Perang Salib. Universitas (universitas magistorum et scolarium (keseluruhan yang meliputi para pengajar dan mahasiswa) ternama didirikan pada abad ini, seperti di Bologna (1158), di Paris (1170), di Oxford (1200) dan beberapa lainnya (1).
Fidanza (Bonaventura 1221 - 1257), Albertus Magnus (1206 - 1280), dan yang pemikirannya paling berpengaruh ialah Thomas Aquinas (1225 - 1274) (1).
Ada beberapa faktor penting yang memberi sumbangan yang berguna bagi kejayaan skolastik dan antara lain:
1. Masuknya pemikiran/filsafat Yunani melalui “sang komentator” Ibn Rusyd dan dunia pemikiran Arab dengan peradaban Yunani dari Italia Selatan dan Silsilia dan dengan kerajaan Bizantium di satu pihak, dan peradaban arab yang ada di Spanyol di lain pihak. Melalui karya orang-orang Arab dan Yahudi, Eropa Barat mulai lebih mengenal karya-karya Aristoteles yang semula memang kurang dikenal. Kecuali melalui karya orang-orang Arab tulisan-tulisan Aristoteles dikenal melalui karya para bapak gereja Timur, yang sejak zaman itu dikenal juga.
2. Timbulnya universitas-universitas. Didirikannya Universitas Almamater di Paris yang merupakan gabungan dari beberapa sekolah. Dan universitas inilah yang menjadi awal (embrio) berdirinya universitas di Paris, Oxford, Mont Pellier, Cambridge dan lainnya(2). Pada abad pertengahan, umumnya universitas terdiri atas empat fakultas, yaitu kedokteran, hukum, sastra (fakultas Atrium), dan teologi (3).
3. Timbulnya ordo-ordo baru, yaitu ordo Fransiskan (didirikan 1209 M) dan ordo Dominikan (didirikan 1215) (4). Ordo-ordo ini muncul karena banyaknya perhatian orang terhadap ilmu pengetahuan, sehingga menimbulkan dorongan yang kuat untuk memberikan suasana yang semarak pada abad ke-13.
Tokoh-tokoh yang ada pada masa Keemasan Skolastik ini diantaranya:
I. Albertus Magnus (1203-1280 M)
II. Yohanes Fidanza dikenal sebagai Santo Bonaventura (1221 -1274)
Dikenal sebagai pengkotbah dan satrawan. Karya teologis yang terpenting dari Bonaventura adalah Sentence karya Lombardus dan Breviloguium. Yang mengurai tentang Trinitas, Penciptaan, Dosa, Inakarnasi, karunia Roh Kudus, Sakramen dan Negara(5). Di dalam Breviloquium, Bonaventura mengemukakan suatu teori mengenai 3 tingkat pengetahuan, yaitu:
1. Tingkat pertama adalah pengetahuan partikular, individual, dan diperlukan indera fisik untuk merasakan pengalaman tertentu dari pengetahuan ini.
2. Tingkat kedua adalah pengetahuan yang universal, ide, dan semua yang diperoleh manusia dari refleksi dirinya sendiri. Pengetahuan ini tidak datang dari abstraksi seperti yang dikemukakan oleh Aristoteles dan Aquinas, namun merupakan hasil iluminasi dari kerjasama langsung dengan Allah.
3. Tingkat ketiga adalah pemahaman tentang hal superior yang terjadi pada diri manusia sendiri, yaitu Tuhan, dimana pemahaman tersebut hanya akan diperoleh melalui mata kontemplasi.
Dalam beberapa bidang, Bonaventura memiliki pemikiran yang berbeda dengan Aristoteles, seperti pada bidang kosmologi dimana Bonaventura tidak menerima konsep Aristoteles akan kekekalan dunia dan materi yang disebutkan juga kekal bersama dengan Allah.[6] Dalam bidang psikologi, Bonaventura juga bertentangan dengan Aristoteles yang hanya berpegang pada fakta pengetahuan, tetapi Bonaventura juga menilai hubungan antara jiwa dan tubuh serta jiwa dan fakultasnya.
III. Thomas Aquinas (1225-1274)
Puncak kejayaan masa skolastik dicapai melalui pemikiran Thomas Aquinas (1225-1274) lahir di Roccasecca, Italia tahun 1225 dari kedua orang tua bangsawan(6). Ia mendapat gelar ”The Angelic Doctor”, karena banyak pikirannya, terutama dalam “Summa Theologia” menjadi bagian yang tak terpisahkan dari gereja. Menurutnya, pengetahuan berbeda dengan kepercayaan. Pengetahuan didapat melalui indera dan diolah akal. Namun, akal tidak mampu mencapai realitas tertinggi yang ada pada daerah adikodrati.
Pengertian metafisisnya banyak menggunakan pemikiran Aristoteles, seperti materi dan bentuk. Thomas juga mengajarkan tentang theologia naturalis, yang ialah manusia dapat membuktikan Allah dengan pengajaran dan pertolongan Allah. Ada 5 daya jiwani dalam tiap perbuatan manusia, diantaranya:
1. Daya Jiwani vegetatif 2. Daya Jiwani yang sensitif
3. Daya Jiwani yang mengarahkan 4. Daya Jiwani untuk memikir 5. Daya Jiwani untuk mengenal
Aquinas merupakan theolog skolastik yang terbesar. Ia adalah murid Albertus Magnus. Albertus mengajarkan kepadanya filsafat Aristoteles sehingga ia sangat mahir dalam filsafat itu. Pandangan-pandangan filsafat Aristoteles diselaraskannya dengan pandangan-pandangan Alkitab. Ialah yang sangat berhasil menyelaraskan keduanya sehingga filsafat Aristoteles tidak menjadi unsur yang berbahaya bagi iman Kristen.
manusia terbagi atas dua tingkat, yaitu tingkat adikodrati dan kodrati, tingkat atas dan bawah. Tingkat bawah (kodrati) hanya dapat dipahami dengan mempergunakan akal. Hidup kodrati ini kurang sempurna dan ia bisa menjadi sempurna kalau disempurnakan oleh hidup rahmat (adikodrati).
Catatan Kaki:
(1) Simon Petrus L. Tjahjadi. 2004. Petualangan Intelektual. Yogyakarta: Kanisius. Hal 107 (2) Ahmad Sadali dan Mudzakir. 1999. Filsafat Umum, Bandung: Pustaka Setia. Hal: 94
(3) Atang Abdul Hakim dan Beni Ahmad Saebani. 2008. Filsafat Umum. Bandung: Pustaka Setia. Hal : 75
(4) Harun Hadijiwo. 1980. Sari Sejarah Filsafat Barat 1. Yogyakarta: Kanisius. Hal : 99 – 100 (5) Wellem, F.D. Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh. Jakarta : BPK Gunung Mulia. Hal : 40 (6) Ahmad Sadali dan Mudzakir. 1999. Filsafat Umum, Bandung: Pustaka Setia. Hal: 95
(7) Wattimena A.A, Reza. 2008. Filsafat & Sains(Sebuah Pengantar). Jakarta : Grasindo. Hal : 127
C. Skolastik Akhir atau Lanjutan (1300 – 1450)
Masa Skolastik akhir ditandai dengan kemalasan berpikir filsafati sehingga menyebabkan stagnasi (kemandegan) pemikiran filsafat Skolastik Kristen. Periode Skolastik Akhir atau Lanjut, membuat kemampuan rasio memberi jawaban atas masalah iman mulai berkurang. Gagasan lama tentang iman dan pengetahuan yang tak dapat bersatu muncul kembali. Rasio kembali dielakkan dalam iman. Uraian dan refleksi logis atas Gereja menggantikan pengetahuan spekulatif tentang Tuhan(1).
1. Thomas Hemerken dikenal sebagai Thomas A. Kempis (1379 -1471)
Ia menghabiskan waktunya dengan giat menyalin naskah-naskah kuno, menulis, berkotbah dan latihan-latihan rohani. Dari beberapa karyanya, karya terpenting yang sangat terkenal ialah. Buku yang terdiri dari empat jilid sejak tahun 1427 yang mengalami penyetakan ulang hingga 99 kali cetak pada abad ke-15 yang mulanya dianggap sebagai karya Jean Gerson. Beberapa isi dari buku ini ialah; kewaspadaan hidup, kerendahan hati, penyangkalan diri, kelemahlembutan, panjang sabar, ikhlas yang terakhir percaya kepada Kristus serta mengasihi-Nya(3). Buku tersebut menentang metafisis tradisional secara habis-habisan banyak digandrungi pada saat itu dengan judul Imitatio Christi
atau Meneladani Kristus (1).
2. Nicolaus Cusanus (1401 – 1464) Nicholas of Kues/Nicholas of Cusa
Seorang filsuf dari Jerman yang juga merupakan seorang Platonis. Dari filsafatnya ia beranggapan bahwa Allah adalah obyek sentral bagi intuisi manusia. Karena menurutnya dengan intuisi manusia dapat mencapai yang terhingga, obyek tertinggi filsafat, dimana tidak ada hal-hal yang berlawanan. Dalam diri Allah semua hal yang berlawanan mencapai kesatuan. Semua makhluk berhingga berasal dari Allah pencipta, dan segalanya akan kembali pula pada pencipta-Nya (2).
Nicolous Cusanus sebagai tokoh pemikir yang berada paling akhir masa Skolastik memiliki tiga gagasan cara untuk mengenal sesuatu, yaitu; Dengan Indrawi kita akan mendapat pengetahuan tentang benda berjasad, yang sifatnya tak sempurna. Dengan Akal kita akan mendapatkan bentuk-bentuk pengertian yang abstrak berdasarkan pada sajian atau tangkapan Inderawi. Dalam Intuisi kita akan mendapatkan pengetahuan yang lebih tinggi sebagaiamana dijelaskan pada paragraf sebelumnya.
3. William Occam (1285-1349)
disukai dan kemudian dipenjarakan oleh Paus. Namun, ia berhasil meloloskan diri dan meminta suaka politik kepada Pangeran Bavaria, Louis IV, sehingga ia terlibat konflik berkepanjangan dengan gereja dan negara. William Occam merasa membela agama dengan menceraikan ilmu dari teologi. Tuhan harus diterima atas dasar keimanan, bukan dengan pembuktian, karena kepercayaan teologis tidak dapat didemonstrasikan.
Occam memiliki semboyan dalam konsep teologisnya, “Aku percaya sebab mustahil”(4). Dari tempat perlindungannya di Bavaria Occam menghasilkan bermacam tulisan yang menyerang Paus dengan sangat tajam. Diantaranya(4):
1. Iya menyerang kehidupan mewah Paus.
2. Raja (Kaisar) mendapat kekuasaan Allah secara langsung dan tak memerlukan pengukuhan dari Paus.
3. Gereja adalah lembaga Imamat, penyelenggara sakramen dan menunjukan jalan keselamatan, tapi tidak memiliki kekuasaan sipil (pemerintahan). 4. Paus dan konsili bisa salah, hanya Alkitab yang tak mungkin salah.
Kepausan bukan lembaga yang dibutuhkan.
5. Akal manusia menggantungkan hidupnya kepada Allah dan tidak dapat mengerti pernyataan Allah karena akal tidak dapat memasuki dunia.
Berkat Occam, secara intelektual membuka jalan baru menuju pengetahuan manusia, dengan suatu pendekatan yang membawa untuk berpikir secara ilmiah(5). Dengan nama prinsip "Pisau Occam". Menurut prinsip ini, dari dua alternatif penjelasan terhadap fenomena yang sama, yang lebih rumitlah yang cendrung mengandung ketidakberesan. Dengan kata lain, ilmu pengetahuan berkembang untuk menyederhanakan suatu hal yang rumit, bukan menjelaskan suatu hal dari yang rumit menjadi semakin rumit. Penjelasan sederhana lebih cendrung benar ketimbang penjelasan yang rumit. Hal yang sama yang pernah diungkapkan Einstein, “Segalanya harus dibuat sesederhana mungkin, namun jangan disederhanakan”.
Catatan Kaki:
(1) Simon Petrus L. Tjahjadi. 2004. Petualangan Intelektual. Yogyakarta: Kanisius. Hal 108 (2) Ahmad Sadali dan Mudzakir. 1999. Filsafat Umum, Bandung: Pustaka Setia. Hal: 99
(3) Wellem, F.D. Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh. Jakarta : BPK Gunung Mulia. Hal :
(4) Wellem, F.D. Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh. Jakarta : BPK Gunung Mulia. Hal :
148
(5) Bryan Magee. 2008. The Story of Philosophy. Yogyakarta: Kanisius. Hal : 61
II.
3. Tokoh Abad Pertengahan dan Hasil Pemikirannya
Refleksi filsafat di Abad Pertengahan mengalami progresifitas dalam dunia ilmu pengetahuan secara umum. Filsafat natural yang dirumuskan Aristoteles menjadi dasar berkembangnya ilmu pengetahuan. Semua benda fisik memiliki empat unsur element kesatuan yakni, tanah, air, udara, api(1). Tiap elemen memiliki sikap alamiah gerak dan perubahan alaminya. Seperti tanah bergerak (merosot) kebawah, air mengalir dari ke tempat yang lebih rendah, api yang bergerak ke atas.
Surga yang berada diatas bulan dan bersifat sempurna dan abadi kerena pengaruh autoritas Gereja dan mendapat hukuman jika berlawanan menjadi problematis ketika pada ilmuwan berupaya mengamati gerak planet dan bintang-bintang. Juga pada bidang kedokteran dan biologi (1).
Sebagai contohnya, Para dokter pada abad pertengahan menyatakan bahwa jantung merupakan alat pemompa darah, sehingga darah dapat tersebar ke seluruh tubuh, bertentangan dengan pandangan religius yang tak patut hal semacam itu dikatakan manusia, karena manusia adalagh makhluk tertinggi dalam konstelasi ciptaan Tuhan, manusia adalah citra dari Tuhan itu sendiri (imago dei).
Mungkin, salah satu penyebab semua hambatan para pemikir abad pertengahan memprioritaskan logika yang bersfiat deduktif dalam analisisnya. Memulai analisis dan refleksi dengan prinsip dan teori yang kemudian pengalaman mengikuti prinsip dan teori tersbut. Seperti contoh bahwa para ilmuwan yakin bahwa surga itu bersifat sempurna, adadi maka orientasi penelitiannya pada planet dan bintang-bintang. Metode yang berlawan dengan ilmu pengetahuan modern yang menggunakan metode induktif dengan membuat analisisnya melalui pengalaman untuk merumuskan teori atau prinsip ilmu pengetahuan. Pertempuran intelektual terjadi untuk menghancurkan dominasi paradigma kosmologi dan filsafat Aristoteles yang pada waktu itu dianggap memiliki kebenaran mutlak(1).
Akan tetapi, kesimpulan yang ditariknya sering kali tidak berdasarkan bukti-bukti, sebaliknya bukti-bukti yang menyesuaikan kesimpulannya seperti bahasan sebelumnya tentang filsafat natural Aristoteles.
Tidak mudah menentukan tanggal pasti berakhirnya Abad Pertengahan (Age of Dark) dunia Eropa. Namun, kita dapat melihat dengan munculnya para pemikir yag menghidupkan kembali kebudayaan – kebudayaan serta pemikiran – pemikiran Yunani-Romawi menuju Abad Pencerahan (Renaissance). Bermula dari Revolusi Copernican yang dipelopori Nicolaus Copernicus dengan “Teori Heliosentris” secara ilmiah yang mendobrak ilmu pengetahuan secara universal terkhusus pada pemikiran tentang astronomi yang dilegitimasi oleh autoritas Gereja yang “mengkultuskan” bahwa Bumi adalah pusat tata surya dengan sebutan Teori Geosentris.
Revolusi besar-besaran dalam pengertian manusia tentang ilmu pengetahuan modern, tentang alam semesta pada akhir Abad Pertengahan yang dipelopori Revolusi Copernican merupakan pembaharuan terhadap paradigma filosofis otoritatif yang didominasi pemikiran filsafat Aristoteles terutama karena legitimasi dari Gereja. Dalam hal ini terkhususkan pada sistem astronomi yang dikembangkan selama beberapa generasi oleh orang-orang Yunani kuno dikenal sebagai sistem Ptolemaik (Teori Geosentris), menurut nama Ptolemius atau Claudius Ptomely (100 – 170), seorang astronom Alexandria pada abad ke-2 masehi yang bertahan di Eropa sampai abad ke-16 masehi.
Tokoh dan Biografi
Nicolaus Copernicus
Nicolaus Copernicus lahir di Torun, tepi Sungai Vistula, Polandia pada tanggal 19 Februari 1473 dari keluarga terpandang dikotanya. Nama aslinya (nama Polandia) adalah Mikolaj Kopernik (2). Anak bungsu dari pasangan Nicholas Koppernigk dengan Barbara Waczenrode . Ayahnya bernama Nicholas Koppernigk, pedagang kaya dan terpandang di Torun. Ibunya bernama Barbara Waczenrode, yang juga berasal dari keluarga kaya. Kakaknya bernama Barbara, yang kemudian jadi biarawan dan kepala biara di Kulm. Adik Barbara bernama Katherina. Adik Katherina bernama Andrew. Ibu Capernicus meninggal ketika Capernicus berumur 2 tahun.
Ayah Copernicus meninggal pada tahun 1483 ketika Copernicus berumur 10 tahun. Copernicus dan kakak-kakaknya lalu dibesarkan dan disekolahkan oleh pamannya yang kemudian jadi uskup di Ermeland. Nama pamannya Lucas Watzenrode (1447 - 1512) (3). Nama kecil Copernicus adalah Nicholas Koppernigk seperti nama ayahnya. Tapi ketika kuliah di Universitas Cracow ia mengganti namanya ke dalam bahasa Latin jadi Nicolaus Copernicus.
Copernicus kuliah di Universitas Cracow belajar filsafat, astronomi, astrologi, geometri dan geografi. Dari semua pembelajarannya di Universitas Cracow, ilmu perbintangan (astronomi) yang paling diminati. Pada tahun 1491, Copernicus belajar ilmu budaya selama empat tahun tanpa memperoleh gelar, belajar ilmu kedokteran dan hukum juga di Italia(2). Sebelumnya, pamannya Bishop Lucas Watzenrode melantik dia menjadi pastor di Katedral Frauenburg untuk mengurus keuangan. Sebagai pelopor astoronomi modern, dia membuat revolusi pemikiran tentang semesta alam dengan karya ilmiahnya yang berjudul De Revolutionibus Orbium Celestium (Revolusi Orbit Langit) tahun 1543 yang sangat memukul nama baik (autoritas) Gereja, namun dia tetap menjadi seorang Katolik Ortodoks selama hidupnya.
Tahun mendapat kesempatan belajar ilmu kedokteran di Universitas Padua dan menjadi pengajar disana. Namun, Copernicus tak menyelesaikan kuliahnya. Kemudian ia kembali ke Polandia untuk mengurus tugas-tugas administratif/keungan katedral Frauenburg.
Selama belajar di Italia, Copernicus mempelajari hipotesis yang disampaikan oleh filsuf Yunani, Aristarkhos dari Samos (310 SM – 230 SM) tentang astronomi yang dikenal dengan Heliosentris. Bahwa Bumi, Bulan dan planet lain berputar mengelilingi Matahari. Hal yang bertolak belakang dari pengetahuan manusia pada saat itu, setidaknnya sudah dipercaya sejak abad ke-2 yang menyatakan bahwa bumi tidak bergerak, yang bergerak adalah Matahari, Bulan dan semua benda-benda angkasa lainnya terhadap Bumi, yang dikenal dengan nama Geosentris.
Ada beberapa hal-hal lain yang menakjubkan selama hidup Nicolaus Copernicus, setidaknya ada 8 hal penting yang tak umum orang ketahui (5). Diantaranya adalah:
1. Dia tidak pernah meraih gelar sarjana.
Semasa hidupnya, Copernicus memang banyak belajar ke berbagai perguruan tinggi, tetapi tidak ada catatan dia pernah mendapatkan gelar sarjana. Dia kuliah di Universitas Cracow, Universitas Bologna dan Universitas Padua. Pada saat itu, orang-orang tidak perlu mendapatkan sarjana untuk meniti karir dalam gerejawi atau untuk belajar untuk tingkat yang lebih tinggi dan bukan merupakan hal yang aneh.
2. Melakukan praktek kedokteran tanpa gelar medis.
Ayah Copernicus meninggal ketika ia masih sekitar 10 – 11 tahun, jadi pamannya Lucas Watzenrode, seorang uskup/Bishop, membawanya dan tiga saudara-saudaranya untuk tinggal bersamanya. Ketika pamannya menjadi tua dan jatuh sakit, Copernicus bertindak sebagai dokter nya. Copernicus juga seorang dokter untuk uskup yang adalah pamannya dan untuk anggota gereja lainnya yang notabennya dia tidak pernah menerima gelar medis.
3. Dia seperti ekonom.
4. Dia tidak benar-benar berpikir bumi berputar mengelilingi matahari.
Sebelum teori Heliosentrinya beredar dan dibukukan dalam De Revolutionibus Orbium Celestium, didahului 7 postulat dalam The Commentariolus tahun 1514 yang mengawali pemikirannya tentang Heliosentris diusia 41 tahun yang hanya beredar pada kalangan terbatas, rekan-rekan sepemikiran Copernicus saja, yang salah satunya menyatakan Bumi dan planet-planet berputar mengelilingi suatu pusat, tapi belum tentu matahari (4).
5. Melanjutkan pemikiran orang lain.
Copernicus bukanlah orang pertama kali berpikir bahwa planet, bulan di langit berputar mengelilingi bumi. Sebelumnya ada matematikawan Pythagoras yang berpikir bumi bukan pusat orbit yang dikelilingi pusat api (matahari), sementara astronom Yunani kuno Aristarchus dari Samos juga mengagas bahwa Bumi berputar 360 derajat selama sehari dan mengorbit matahari.
6. Banyak yang memusuhi Copernicus dari yang dibayangkan.
Copernicus mengirim naskah tentang teorinya untuk para stronom dan sarjana lainnya, beberapa di antaranya menyebutkan bahwa ide-idenya tampaknya bertentangan dengan Alkitab, tetapi kebanyakan dari mereka mendorongnya.
7. Tidak benar-benar.
Georg Joachim Rheticus, seorang profesor matematika, menerbitkan dan mengedarkan pengenalan ide-ide heliosentris Copernicus sebagai stimulun kecil. Itu sebabnya Copernicus memutuskan untuk menerbitkan “On The Rovolution” yang mempunyai kemungkinan berkembang di masa depan, yang mengemukakan bahwa Bumi berputar mengelilingi titik dekat matahari.
8. Copernicus jauh lebih beruntung dari Galileo Galilei, terlebih dari Giordano Bruno.
dihukum mati di Roma dengan cara dibakar oleh Kardinal Robert Bellamine pada 17 Februari 1600(7). Lain halnya dengan Copernicus yang selama hidup memiliki para pendukung/pengagum dan pengkritik teorinya yang tidak lebih ekstrim dari kedua ilmuwan setelah Copernicus.
Perselisihan dengan Autoritas Gereja-gereja
Copernicus dengan teori Heliosentrisnya muncul pada zaman kegelapan atau dikenal dengan Abad Pertengahan, menuju pada abad pencerahan atau dikenal dengan Renaissance. Seperti yang kita ketahui sebelumnya, Abad Pertengahan ini sangat didominasi oleh autoritas Gereja, segalanya memerlukan afirmasi atau persetujuan dari pihak Gereja (terutama Katolik Roma). Karena tanpa adanya legaitas dari pihak Gereja akan dianggap sesat, pemberontak, bahkan bisa dimusnahkan dari kehidupan.
Selama Abad Pertengahan ini, Gereja memasukkan sistem Ptolemaik (geosentris) ke dalam pandangan Kristen tentang Bumi. Alasannya cukup logis pada zamannya, dikarena Tuhan menciptakan bumi dengan segala isinya ada dan terutama menciptakan manusia sesuai “citra-Nya” (imago dei) serta pengusiran Adam dan Hawa dari Surga atas dosanya yang tercatat dalam Kitab Suci (Alkitab). Disisi matematis, perhitungan sistem Ptolemaik ini cukup rumit, muncul lah Copernicus dengan gagasan Heliosentrisnya yang menyelesaikan kerumitan matematis mengenai sistem astronomi yang sekaligus membenturkan keimanan Kristen tentang penciptaan.
Copernicus memiliki gagasan bahwa kerumitan perhitungan matematis terhadap sistem astronomi itu akan lenyap apabila menempatkan matahari sebagai pusat semesta, bukan bumi, gagasan ini masih bersifat hipotesis pada awalnya. Gagasan baru (walau sudah ada yang mengawali sejak zaman Yunani Kuno) sukar diterima untuk menganti gagasan lama yang sudah usang (keliru) seperti gagasan Heliosentris yang menggantikan Geosentris, terlebih atas autoritas Gereja.
pada kitab Mazmur ayat 93 yg berbunyi, “Sungguh telah tegak dunia, tidak bergoyang”(6). Maka dari itu, Copernicus menunda penerbitan bukunya De
Revolutionibus Orbium Celestium untuk menghindari perselisihan. Bukunya dipersembakan juga kepada Paus pada tahun yang sama pada saat diterbitkan tahun 1543 di kota Nürnberg, kota negara bagian Bayern, Jerman.
Pada tahun pertama, bukunya tak menimbulkan kontroversi di masyarakat. Namun, pada tiga tahun berikutnya tahun 1546, seorang imam dari Dominika, Giovanni Maria Tolosani (1471 – 1549) menulis naskah “De coelo supremo immobile et terra infima stabili, ceterisque coelis et elementis intermediis mobilibus” yang merupakan kecaman terhadap buku De Revolutionibus Orbium Celestium (7).
Beberapa dekade kemudian, pada bulan maret 1616, autoritas Gereja Katolik Roma mengeluarkan dekrit yang isinya melarang buku De Revolutionibus Orbium Celestium serta karya-karya atau buku-buku ilmiah lainnya tentang Heliosentris, yang bertentangan dengan doktrin Gereja. Dekrit Gereja Katolik itu atas dasar anti-tesis dari seorang biarawan Dominika, Tommaso Caccini (1574 – 1648) terhadap tesis atau karya ilmiah Galileo Galilei (1564 – 1642) yang berjudul “Dialogo sopra i due massimi sistemi del mondo”
(Dialog Mengenai Dua Sistem Terkemuka) tahun 1632 tentang Teori Heliosentris warisan keilmuan dari Copernicus, yangmana tesis Galileo ini memiliki bukti lebih ilmiah dari Copernicus karena adanya observasi pengamatan bintang-bintang melalui pengamatan teleskop(7). Paus Paulus V memerintahkan Kardinal Roma dan seorang imam Yesuit di Roma, Robert Bellamine atau Santo Robertus Bellarminus (1542 – 1621) untuk mengoreksi Galileo dan teori Heliosentris serta menerbitkan edisi koreksi buku De Revolutionibus Orbium Celestium pada tahun 1620 dengan pengubahan pada sembilan kalimat (7).
Bukan hanya pada kalangan atau lingkungan Gereja Katolik saja yang merasa “dilecehkan” oleh pemikiran Copernicus (Teori Heliosentris). Beberapa pemimpin Kristen Protestan juga berang, marah terhadap gagasan Copernicus tersebut, salah satunya pelopor berdirinya gerakan Reformasi teologi (Gereja Reformasi) dan seorang pendiri Gereja Lutheran, Martin Luther (1483 – 1546). Perkataan yang keras dari seorang teolog terkemuka, ia berkata(6):
“Dengarlah, wahai saudara-saudara, ada seorang astrologo pemula (maksudnya Copernicus) yang berusaha menunjukan bahwa bumilah, bukan langit ataupun benda-benda di angkasa, yang mengitari matahari…..Orang bodoh ini ingin memutarbalikkan seluruh ilmu perbintangan; padahal Kitab Suci telah menyatakan kepada kita bahwa Yoshua memerintahkan agar matahari berhenti bergerak, bukan bumi.”
Reaksi yang serupa juga dilontarkan oleh teolog Kristen Protestan pendiri aliran Calvinisme (sebuah sistem teologis dan pendekatan hidup Kristiani yang menekankan kedaualatan pemerintahan Allah atas segala sesuatu), Yohanes Calvin (nama lahir: Jehan Cauvin) 1509 – 1564) dengan mengatakan , “Siapa yang berani menempatkan Copernicus di atas kuasa Roh Kudus?” (6).
Copernicus dengan Heliosentrisnya
Dikembangkan pertama kalinya oleh filsuf sezaman Aristarkos, yaitu Archimedes dari Sirakus (287 SM – 212 SM) dalam karyanya yang berjudul The Sand Reckoner. The Sand zreckoner (Yunani: Ψαμμίτης (Αρχιμήδης), Psammites) adalah karya untuk menentukan batas atas semesta dengn menggunakan analogi jumlah butiran-butiran pasir sebanyak 8 halaman. Archimedes kemudian memperkirakan batas atas untuk jumlah butir pasir yang dibutuhkan untuk mengisi alam semesta. Untuk melakukan hal ini, ia menggunakan model heliosentris dari Aristarkhos dari Samos.
The Sand Reckoner adalah sebuah karya yang luar biasa dari Archimedes yang mengagas sistem nomor yang menggunakan kekuatan dari ribuan nomor (base 100.000.000) dan mampu mengekspresikan angka hingga 8 x 1063 dalam notasi modern (8). Dalam rangka untuk mendapatkan batas atas, Archimedes membuat asumsi sebagai berikut:
- Perimeter (lingkaran) Bumi tidak lebih besar dari 300 ribuan stadia (ukuran bobot Yuanani Kuno) 5,55 x 105 km).
- Bulan adalah tidak lebih besar dari Bumi dan Matahari tidak lebih besar dari tiga puluh kali dari Bulan.
- Diameter Matahari seperti yang terlihat dari Bumi, lebih besar dari 1/200 dari sudut kanan (π /400 radian = 0.45 ° derajat).
Kemudian pada tahun 1543 seorang pejabat (kanon) gereja, gubernur dan administrator, hakim, filsuf dan tabib, Nicolaus Copernicus menggunakan suatu model matematis dapat memprediksi secara lengkap sistem heliosentris dan diterbitkan secara resmi yang dibukukan dengan judul De Revolutionibus Orbium Celestium. Gagasan yang mengawali terbitnya De Revolutionibus ada pada 7 tujuh aksioma atau hipotesis dalam naskah The Commentariolus
dengan judul lengkapnya, Titel Nicolai Copernici de hypothesibus motuum Coelestium a se constitutes commentariolus sebanyak 40 halaman yang hanya dibagikan pada rekan-rekan sepemikirannya saja, tidak dipublikasikan secara umum karena gagasannya berlawan dengan doktrin Gereja-Gereja saat itu.
Berikut aksioma dari hipotesis Copernicus dalam The Commentariolus:
1. Planet-planet berputar (ber-Revolusi) tidak hanya pada satu titik saja. 2. Bumi adalah pusat dari garis orbit Bulan.
4. Jarak antara Bumi dengan Matahari lebih dekat daripada jarak bintang-bintang lainnya terhadap Bumi.
5. Bintang-bintang tidak bergerak, pergerakan Bumi lah yang seolah-olah menampak pergerakan bintang-bintang.
6. Pergerakan satu putaran Bumi terhadap Matahari adalah satu tahun. 7. Orbit Bumi yang mengelilingi Matahari menyebabkan planet-planet
mengorbit Matahari dengan arah yang berlawanan.
Tak bisa dipungkiri, konsekuensi dari gagasan Copernicus ini memiliki setidaknya yang dapat kami simpulkan, 3 (tiga) hal penting.
- Pertama, berakhirnya atau runtuhnya autoritas atau leagalitas, Kitab Suci, para Ilmuwan dan orang-orang bijak, terutama Gerejawi atas dasar Alkitabiah terhadap penafsirannya mengenai Astronomi, yang sangat mungkin menimbulkan “mosi tidak percaya” kepada Gerejawi.
- Kedua, runtuhnya kepercayaan dan keistimewaan bahwa manusia dalam hal ini, Bumi adalah pusat semesta (hilangnya keistimewaan bumi yang sudah diagung-agungkan sejak abad ke-2) yang berdampak juga pada keimanan manusia terhadap Agama.
- Ketiga, awal mula sains modern (ilmu pengetahunan yang objektif) terutama soal astronomi (ilmu perbintangan) yang melahirkan Abad Pencerahan atau biasa disebut “Renaissance”.
Catatan Kaki:
(1) Wattimena A.A, Reza. 2008. Grasindo. Jakarta : Filsafat & Sains(Sebuah Pengantar). Hal : 125 - 128
(2) Anggraini Dasa Febi, Yani Huri, Budi Setyo Sigit. 2008. Ensiklopedia Tokoh Fisika. Jakarta : Balai Pustaka. Hal : 44-45
(3)http://plato.stanford.edu/entries/copernicus/
(4) Goddu, André. 2010. Copernicus and the Aristotelian Tradition. Leiden, Netherlands: Brill. Hal : 245 – 246
(5)http://www.popsci.com/science/article/2013-02/8-things-you-didnt-know-about-copernicus.