• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERAPAN TEORI SOLIDARITAS EMILE DURKHE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENERAPAN TEORI SOLIDARITAS EMILE DURKHE"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

Page | 1 MAKALAH KELOMPOK

PENGANTAR SOSIOLOGI PEDESAAN

PENERAPAN TEORI SOLIDARITAS EMILE DURKHEIM PADA MASYARAKAT DI WILAYAH MENDAWAI

ANGGOTA KELOMPOK :

1. TRISNA VIOLANITA NIM : GAA 112 037 2. ARLINDA SINTIYA A. NIM : GAA 112 043 3. ELVI NIM : GAA 112 045 4. AGUSTINE CAROLINA NIM : GAA 112 063 5. BAHTIAR EDY FAISAL NIM : GAA 112 082

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS PALANGKA RAYA

PROGRAM STUDI SOSIOLOGI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK

(2)

Page | 2 KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena berkat rahmat-Nya lah sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah Pengantar Sosiologi Pedesaan mengenai “Penerapan Teori Solidaritas Emile Durkheim Pada Masyarakat di Wilayah Mendawai” dengan baik dan tepat waktu.

Dalam pembuatan makalah ini tentunya tidak mungkin dapat terselesaikan dengan sempurna tanpa bantuan berbagai pihak, oleh karena itu penyusun mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampu mata kuliah Pengantar Sosiologi Pedesaan pak Dedy Ilham Perdana, MA yang telah banyak memberikan masukan dan pembelajaran kepada penulis. Selain itu penulis mengucapkan terima kasih juga kepada semua warga serta pimpinan di wilayah Mendawai I RT. 03, RW. IV, Kel. Palangka, Kec. Jekan Raya atas bantuan dan partisipasinya dalam kegiatan observasi yang dilaksanakan oleh penulis.

Penulis berharap kepada pembaca yang intelektual untuk memberikan kritikan dan saran demi kesempurnaan makalah mengenai “Penerapan Teori Solidaritas Emile Durkheim Pada Masyarakat di Wilayah Mendawai” ini. Akhirnya semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis maupun pihak lain yang membacanya.

Palangka Raya, Oktober 2014

(3)

Page | 3 DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang 1

B. Rumusan Masalah 2

C. Tujuan Penulisan 2

D. Manfaat Penulisan 2

BAB II LANDASAN TEORI

A. Definisi Solidaritas Menurut Emile Durkheim 4 B. Definisi Solidaritas Mekanik dan Solidaritas Organik 4 C. Ciri-ciri Solidaritas Mekanik dan Solidaritas Organik 4 D. Perbedaan Solidaritas Mekanik dan Solidaritas Organik 6

BAB III ANALISA

A. Hasil Analisa 8

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan 12

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

1. Dokumentasi Foto 15

(4)

Page | 4 BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Emile Durkheim pernah mengatakan bahwa di dalam masyarakat terdapat dua jenis solidaritas yang dapat membedakan masyarakat ke dalam dua wilayah tempat tinggal yaitu perkotaan atau pedesaan, dan jenis-jenis solidaritas yang dimaksudkan oleh Emile Durkheim tersebut antara lain solidaritas organik dan solidaritas mekanik. Emile Durkheim mengemukakan bahwa semua masyarakat yang tinggal di perkotaan kecenderungannya menganut solidaritas organik yang mana hubungan masyarakatnya lebih terasa individualistis dan dilandaskan kepada asas untung dan rugi ketimbang menganut solidaritas mekanik dimana hubungan masyarakatnya terjalin akrab dan kekeluargaan serta masih menerapkan sistem gotong-royong yang umumnya hanya terdapat pada masyarakat di wilayah pedesaan saja. Kota Palangka Raya termasuk ke dalam wilayah perkotaan yang pembangunannya mulai menuju ke arah yang modern, dan sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Emile Durkheim bahwa di kota ini pun masyarakatnya rata-rata menganut sistem solidaritas organik. Namun pernyataan tersebut berbeda bila kita melihat fakta bahwa ternyata di ruang lingkup perkotaan Palangka Raya ini masih terdapat wilayah-wilayah tertentu yang menerapkan solidaritas mekanik dalam kehidupan bermasyarakatnya. Salah satu contoh wilayah yang masih menerapkan solidaritas mekanik di lingkungan masyarakatnya adalah di wilayah Mendawai.

Wilayah Mendawai terletak di Jl. Tjilik Riwut dekat Pasar Modern Kahayan Market. Wilayah Mendawai ini terbagi atas 10 wilayah dengan 15 Rukun Tetangga yang tersebar di

(5)

Page | 5 diterapkan oleh masyarakat di wilayah ini namun ternyata warga masyarakat disini cenderung menggunakan solidaritas mekanik dalam kehidupan bermasyarakatnya, hal inilah yang membuat kami tertarik untuk menyoroti jenis solidaritas yang diterapkan oleh para warga di wilayah tersebut sebagai bahan observasi penulis untuk membuat makalah pengantar sosiologi pedesaan.

Dengan tema makalah yaitu penerapan teori-teori sosiologi pedesaan di wilayah Mendawai, berdasarkan hasil observasi pada wilayah tersebut penulis lebih mengkhususkan untuk membahas tentang penerapan Teori Solidaritas Emile Durkheim pada masyarakat di wilayah Mendawai khususnya wilayah Mendawai I RT. 03, RW. IV, Kel. Palangka, Kec. Jekan Raya.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, adapun rumusan masalah makalah ini adalah sebagai

berikut:

1. Apa yang dimaksud dengan solidaritas menurut Emile Durkheim dalam The Division of

Labour in Society?

2. Dalam bukunya yang berjudul The Division of Labour in Society ke dalam berapa jenis kah Emile Durkheim membagi solidaritas tersebut?

3. Jenis solidaritas manakah yang diterapkan oleh masyarakat di Mendawai I RT. 03, RW. IV, Kel. Palangka, Kec. Jekan Raya.

C. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini antara lain:

1. Mengetahui dan memahami pengertian dari solidaritas menurut Emile Durkheim 2. Mengetahui dan memahami jenis-jenis dari solidaritas menurut Emile Durkheim.

3. Mengetahui dan menganalisa jenis solidaritas yang diterapkan di Mendawai I RT.03, RW. IV, Kel. Palangka, Kec. Jekan Raya.

D. Manfaat Penulisan

Adapun manfaat dari penulisan makalah ini antara lain:

(6)

Page | 6 yang diterapkan di daerah Mendawai serta dapat memberikan sumbangsih ilmu pengetahuan kepada kolega-kolega sejawat dalam bidang sosiologi pedesaan.

(7)

Page | 7 BAB II

LANDASAN TEORI A. Definisi Solidaritas Menurut Emile Durkheim

Emile Durkheim (1859 – 1917) mengatakan bahwa solidaritas menunjuk pada suatu keadaan hubungan antara individu dan / atau kelompok yang didasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan yang dianut bersama dan diperkuat oleh pengalaman emosional bersama. Solidaritas dalam berbagai lapisan masyarakat bekerja seperti "perekat sosial", dalam hal ini dapat berupa, nilai, adat istiadat dan kepercayaan yang dianut bersama oleh anggota masyarakat dalam ikatan kolektif.

Dalam bukunya yang berjudul The Division of Labour in Society dikatakan bahwa masyarakat modern tidak diikat oleh kesamaan antara orang-orang yang melakukan pekerjaaan yang sama, akan tetapi pembagian kerjalah yang mengikat masyarakat dengan memaksa mereka agar tergantung satu sama lain. Kemudian Emile Durkheim membagi solidaritas tersebut ke dalam 2 (dua) kategori yaitu Solidaritas Mekanik dan Solidaritas Organik.

B. Definisi Solidaritas Mekanik dan Organik

a. Solidaritas Mekanik adalah solidaritas yang muncul pada masyarakat yang masih sederhana dan diikat oleh kesadaran kolektif yang sama dan kuat serta belum mengenal adanya pembagian kerja diantara para anggota kelompok karena itu individualitas tidak berkembang karena dilumpuhkan dengan tekanan besar untuk menerima konformitas dan umumnya solidaritas seperti ini sering dijumpai pada wilayah masyarakat pedesaan. b. Solidaritas Organik adalah solidaritas yang mengikat masyarakat yang sudah kompleks

dan telah mengenal pembagian kerja yang teratur sehingga disatukan oleh saling ketergantungan antar anggota, solidaritas seperti ini sering dijumpai pada wilayah masyarakat perkotaan.

C. Ciri-ciri Solidaritas Mekanik dan Solidaritas Organik. Solidaritas Mekanik:

Pembagian kerja rendah

Kesadaran kolektif kuat

(8)

Page | 8 Individualitas rendah

Konsensus terhadap pola normatif penting

Adanya keterlibatan komunitas dalam menghukum orang yang menyimpang

Secara relatif sifat ketergantungan rendah

Bersifat primitif atau pedesaan.

Merujuk kepada ikatan sosial yang dibangun atas kesamaan, kepercayaan dan adat bersama.

Disebut mekanik, karena orang yang hidup dalam kelompok tersebut relatif dapat berdiri

sendiri dan juga memenuhi semua kebutuhan hidup tanpa tergantung pada kelompok lain.

Solidaritas Organik:

Menguraikan tatanan sosial berdasarkan perbedaan individual diantara rakyat.

Merupakan ciri dari masyarakat modern, khususnya kota .

Bersandar pada pembagian kerja (division of labour) yang rumit dan didalamnya orang terspesialisasi dalam pekerjaan yang berbeda-beda.

Seperti dalam organ tubuh, orang lebih banyak saling bergantung untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Dalam Division of labour yang rumit ini, Durkheim melihat adanya kebebasan yang lebih

besar untuk semua masyarakat yaitu kemampuan untuk melakukan lebih banyak pilihan dalam kehidupan mereka. Meskipun Durkheim mengakui bahwa kota-kota dapat menciptakan impersonality (sifat tidak mengenal orang lain), alienasi, disagreement dan konflik, ia mengatakan bahwa solidaritas organik lebih baik dari pada solidaritas mekanik. Beban yang diberikan dalam masyarakat modern lebih ringan daripada masyarakat pedesaan dan memberikan lebih banyak ruang kepada anggota masyarakat untuk bergerak bebas.

(9)

Page | 9 bertambahnya spesialisasi dalam pembagian pekerjaan, yang memungkinkan juga memunculkan bertambahnya perbedaan di kalangan individu.

D. Perbedaan Solidaritas Mekanik dan Solidaritas Organik Solidaritas Mekanik

Relatif berdiri sendiri (tidak bergantung pada orang lain) dalam keefisienan kerja

Terjadi di Masyarakat Sederhana

Saling Keterkaitan dan mempengaruhi dalam keefisienan kerja

Dilangsungkan oleh Masyarakat yang kompleks

Ciri dari Masyarakat Modern (Perkotaan)

Kerja terorganisir dengan baik

Beban ringan

Banyak saling bergantungan dengan yang lain

Analisis terhadap struktur masyarakat secara keseluruhan dapat dibedakan sebagai berikut : 2.Solidaritas ini tergantung dari individu –

(10)

Page | 10 yang sama. Individualitas tidak

berkembang, yang ada konformitas (kepentingan bersama)

3.Hukum yang ada bersifat Represif (menekan) mengancam bagi pelanggar kesadaran kolektif.

3. Solidaritas organik hukum yang ada bersifat restutif (berusaha

(11)

Page | 11 BAB III

ANALISA A. Hasil Analisa

Berdasarkan hasil observasi kelompok terhadap masyarakat di wilayah Mendawai khususnya di wilayah Mendawai I RT 03, RW IV, Kel. Palangka, Kec. Jekan Raya, kami menganalisis bahwa masyarakat di wilayah ini cenderung memiliki rasa solidaritas mekanik yang kuat padahal seharusnya masyarakat disini menerapkan solidaritas organik mengingat bahwa letak wilayah ini sangat berdekatan dengan pusat kota serta keberagaman suku dan agama yang dianut dari

masyarakat yang tinggal di wilayah ini. Hal itu dibuktikan dengan hasil jawaban kuesioner yang mana dari 20 orang responden, hampir keseluruhan responden menjawab bahwa mereka masih melakukan gotong-royong bahkan ketika ada salah satu warga yang mengalami musibah seperti kebakaran atau ada warganya yang meninggal dunia maka seluruh warga di daerah tersebut akan secara kolektif mengumpulkan sumbangan baik berupa uang, barang-barang seperti pakaian, kebutuhan pokok ataupun bantuan tenaga secara sukarela untuk membangun rumah warga yang terkena musibah kebakaran tersebut atau untuk menyiapkan acara seperti tiwah (Hindu Kaharingan), kebaktian penghiburan (Kristen), atau tahlil‟an (Islam) bagi warga yang meninggal tersebut tanpa memandang suku, ras, atau agama.

Dari hasil observasi tersebut terlihat juga bahwa masyarakat pendatang diluar masyarakat lokal (Suku Dayak) seperti Suku Banjar dan Suku Jawa ternyata mampu beradaptasi dengan baik terhadap semua adat-istiadat yang dimiliki oleh masyarakat lokal. Karena kemampuan beradaptasi tersebut lah yang membuat rasa kekeluargaan antara masyarakat lokal dengan masyarakat pendatang terjalin yang akhirnya memunculkan rasa solidaritas dan gotong-royong yang kuat karena masyarakat pendatang juga menganggap bahwa mereka termasuk kedalam bagian Oloh Itah.

Dalam melakukan kegiatan sosial, masyarakat wilayah ini masih memegang teguh rasa solidaritas dan gotong royong. Sehingga, apabila ada kematian, kelahiran dan orang sakit,

(12)

Page | 12 mereka akan memberi sumbangan seikhlasnya, serta adanya ikut campur masyarakat sekitar apabila ada warganya yang akan membangun rumah, begitupun dengan kegiatan pembangunan suatu instansi atau sarana umum sebagai fasilitas di wilayah tersebut dari pemerintah daerah maupun dalam kegiatan pembersihan lingkungan.

Semua yang dilakukan itu didasari oleh perasaan solidaritas dan gotong royong, masyarakat memainkan peranannya sesuai dengan apa yang telah ada di wilayah tersebut, karena ternyata ada berbagai macam bentuk sanksi apabila ada anggota masyarakat yang tidak melakukan hal tersebut. Biasanya ini berlaku pada tetangga yang jaraknya dekat. Jika tidak ikut berkontribusi,

maka anggota masyarakat tersebut akan digunjingkan oleh anggota masyarakat yang lain, dianggap „sok‟ sibuk, angkuh maupun egois, dan dikemudian hari jikalau orang yang demikian ini menemui kesulitan, dan membutuhkan bantuan semacam itu dari tetangga-tetangganya, maka mereka akan memiliki seribu alasan untuk menolak membantunya, yang tentunya secara halus dan berbasa-basi ala orang desa, seperti mengaku tidak enak badan, ada acara lain maupun mencari-cari alasan lain yang sebenarnya tidak perlu ada.

Ini mengidentifikasikan bahwa dalam masyarakat di wilayah ini memiliki rasa timbal balik yang ditunjukkan melalui tindakan-tindakan yang mereka lakukan untuk sesama anggota masyarakatnya, maka menurut masyarakat tersebut tidaklah salah jika ada suatu „pembalasan‟ yang sepadan yang akan diberikan masyarakat di wilayah ini kepada anggota masyarakat yang tidak suka membantu anggota masyarakat yang lain dalam kasus solidaritas dan gotong royong khas masyarakat desa. Hal ini menyebabkan rasa individualitas antara anggota masyarakat menjadi sangat rendah karena anggota masyarakatnya memiliki rasa akan konformitas (kepentingan bersama) yang tinggi dan membuat kesadaran kolektif diantara anggota masyarakat menjadi sangat kuat.

Selain itu, masyarakat di wilayah ini juga memiliki rasa toleransi antar umat beragama yang

cukup tinggi. Sebagai contoh, ketika ada anggota masyarakatnya yang beragama Islam menyelenggarakan acara syukuran maka tetangganya yang beragama Kristen dan Hindu

(13)

Page | 13 masyarakat yang beragama Islam pun akan ikut membantu dalam menyiapkan acara tersebut. Dan hal itu pun dilakukan secara sukarela dan haroyong oleh para anggota masyarakat tersebut.

Hasil observasi di lapangan juga menunjukkan penerapan teori solidaritas mekanik Emile Durkheim ini sangat terlihat dari cara para anggota masyarakatnya ketika melakukan atau mengadakan sebuah kegiatan atau acara di wilayah ini. Semua anggota masyarakatnya sangat berpartisipasi dalam mendukung kegiatan atau acara tersebut agar dapat terlaksana dengan baik dan lancar. Partisipasi ditunjukkan oleh para anggota masyarakatnya dengan berbagai cara, seperti bersedia menjadi petugas keamanan yang menjamin keamanan pada saat acara atau

kegiatan tersebut dilaksanakan, ada pula anggota masyarakatnya yang menyumbangkan uang atau benda-benda yang diperlukan untuk acara atau kegiatan tersebut, serta ada juga anggota masyarakatnya yang bersedia „menyumbangkan‟ tenaganya untuk mempersiapkan acara atau kegiatan tersebut dengan cara membantu menata dekorasi ataupun membantu mempersiapkan makanan untuk acara atau kegiatan tersebut.

Selain itu terlihat pula bahwa masyarakat di wilayah ini memegang teguh prinsip konformitas sehingga mereka akan menerapkan sanksi sosial bagi anggota masyarakatnya yang tidak ikut berpartisipasi dalam melaksanakan ataupun mendukung acara atau kegiatan tersebut. Biasanya sanksi sosial yang diterapkan bisa berupa penggunjingan oleh anggota masyarakat yang lain sebagai sanksi sosial yang ringan bahkan sanksi sosial yang terberat adalah ketika anggota masyarakat tersebut mengalami musibah dan memerlukan bantuan namun anggota masyarakat yang lain enggan untuk menolong.

Meskipun para anggota masyarakat disini sangat menerima kehadiran para masyarakat pendatang yang ingin bermukim di wilayah tersebut, namun karena adanya kesadaran kolektif yang kuat diantara para anggota masyarakatnya berupa sentimen terhadap hal-hal yang dianggap dapat memecah rasa persatuan dan solidaritas mekanik mereka selama ini, membuat para

anggota masyarakat ini sangat berhati-hati terhadap orang-orang non anggota masyarakat yang masuk ke dalam wilayah mereka. Mereka akan sangat mencurigai maksud kedatangan

(14)

Page | 14 Pada awalnya mereka akan mulai mengamati cara berpakaian orang-orang baru tersebut, kemudian mereka akan menayakan maksud kedatangan orang-orang tersebut ke wilayah ini. Jika mereka melihat bahwa maksud dan tujuan yang dibawa oleh orang-orang tersebut baik, maka mereka akan mulai menyambut dengan ramah tetapi apabila mereka melihat bahwa ada maksud tersembunyi dari orang-orang tersebut yang sifatnya dapat membawa pengaruh yang buruk bagi lingkungan masyarakat sekitar (meskipun orang-orang baru tersebut „berlagak‟ baik dan melakukan pendekatan secara personal kepada pimpinan wilayah setempat) maka para anggota masyarakat melalui ketua RT (Rukun Tetangga) akan dengan tegas menolak kehadiran

(15)

Page | 15 BAB IV

PENUTUP A. Kesimpulan

Dapat disimpulkan bahwa solidaritas dalam berbagai lapisan masyarakat bekerja sebagai “perekat sosial”, yang dalam hal ini dapat berupa, nilai, adat istiadat dan kepercayaan yang dianut bersama oleh anggota masyarakat dalam ikatan kolektif. Di dalam masyarakat perkotaan seperti di Kota Palangka Raya ini yang rata-rata masyarakatnya menerapkan solidaritas organik dalam hubungan antar anggota masyarakatnya, ternyata masih terdapat wilayah-wilayah yang

sampai saat ini masih menerapkan solidaritas mekanik dan salah satu contohnya adalah wilayah Mendawai khususnya wilayah Mendawai I RT 03, RW IV, Kel. Palangka, Kec. Jekan Raya, Kota Palangka Raya, yang mana para warganya masih menerapkan sistem gotong-royong dan memiliki rasa solidaritas yang cukup tinggi kepada anggota-anggota warganya yang mengalami musibah seperti kebakaran ataupun yang meninggal dunia meskipun wilayah tempat tinggal mereka terletak di dekat pusat kota dan masyarakat yang bermukim di wilayah tersebut terdiri atas berbagai suku dan agama.

Rasa solidaritas dan gotong-royong yang tinggi tersebut disebabkan karena masyarakat pendatang mampu beradaptasi dengan masyarakat lokal (Suku Dayak) serta menganggap diri mereka sendiri sebagai Oloh Itah. Selain itu, jika ada anggota masyarakat di wilayah ini yang tidak ikut ambil bagian dalam melaksanakan kegiatan seperti bersih-bersih lingkungan atau membantu tetangganya dalam menyiapkan acara-acara seperti pernikahan maupun dukacita, maka anggota masyarakat itu akan diberikan sanksi sosial berupa penggunjingan atau ketika anggota tersebut mengalami kesusahan maka anggota masyarakat yang lainnya enggan untuk menolong sebagai balasan atas tindakan anggota itu. Ini mengidentifikasikan bahwa dalam masyarakat di wilayah ini terdapat rasa timbal balik yang ditunjukkan melalui tindakan-tindakan

yang mereka lakukan untuk sesama anggota masyarakat, maka menurut masyarakat tersebut tidaklah salah jika ada suatu „pembalasan‟ yang dianggap sepadan kepada anggota

(16)

Page | 16 Selain itu, tingkat toleransi antar umat beragama masyarakat di wilayah ini cukup tinggi, yang mana ketika ada anggota masyarakat yang mengadakan suatu acara atau kegiatan keagamaannya di wilayah tersebut, maka para anggota masyarakat yang beragama lain pun juga ikut membantu mempersiapkan acara tersebut secara sukarela dan haroyong. Meskipun masyarakat di wilayah ini sangat menerima akan kehadiran para anggota masyarakat pendatang yang ingin bermukim di wilayah tersebut, namun karena mereka memiliki kesadaran kolektif yang sangat kuat maka masyarakat di wilayah ini pun juga sangat gampang curiga kepada kehadiran orang-orang baru yang datang tetapi tidak mempunyai maksud untuk bermukim disitu. Masyarakat tersebut akan

(17)

Page | 17 DAFTAR PUSTAKA

Baswori M.Si. 2005. Pengantar Sosiologi. Depok: Ghalia Indonesia.

(18)

Page | 18 LAMPIRAN

A. Dokumentasi Foto

(Gbr. 1.1. Wilayah Mendawai I RT 03, RW IV, Kel. Palangka, Kec. Jekan Raya)

(19)

Page | 19 (Gbr.1.3, Foto Bersama Pak Hardy, Ketua RT 03, RW IV)

(20)

Page | 20 (Gbr.1.5, Warga Setempat yang Sedang Diwawancarai)

Referensi

Dokumen terkait

dapat dibuktikan melalui data kuesioner yang telah diolah, dimana sebagian.. besar jawaban responden adalah setuju (positif) pada saat

Analisis perbedaan persepsi antara peran responden yang terbagi menjadi kontraktor dan konsultan dalam menjawab kuesioner dilakukan untuk mengetahui perbedaan

Analisis perbedaan persepsi antara peran responden yang terbagi menjadi kontraktor dan konsultan dalam menjawab kuesioner dilakukan untuk mengetahui perbedaan

Analisis perbedaan persepsi antara peran responden yang terbagi menjadi kontraktor dan konsultan dalam menjawab kuesioner dilakukan untuk mengetahui perbedaan

Berdasakan jawaban responden pada tabel diatas menunjukkan bahwa mereka yang berjumlah 11 siswa ( 55 % ) menjawab biasannya mereka mengupdate status, 6 siswa ( 30% ) menjawab

Sebagian besar siswi yang kurang mendapat informasi dari teman sebaya karena dapat dilihat dari jawaban kuesioner, mereka banyak menjawab tidak pada kuesioner

Hasil kognitif kurang baik masyarakat juga dapat dibuktikan dari jawaban kuesioner sebanyak 8 responden (80.0%) tidak setuju dan 2 responden (20.0%) sangat tidak setuju

Namun perbedaan yang ada tetap menjadikan mereka tetap solid karena ikatan bersama yang dibangun antara masyarakat beragama Islam dengan bergama Hindu adalah