• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH KEGIATAN PENGEMBANGAN KEPROFESIA docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MAKALAH KEGIATAN PENGEMBANGAN KEPROFESIA docx"

Copied!
39
0
0

Teks penuh

(1)

KEPROFESIAN BERKELANJUTAN (PKB)

Disusun dan Disajikan sebagai Salah Satu Syarat untuk Pengajuan Kenaikan Pangkat dan Golongan dari IV c ke IV d

Oleh :

Drs. Bambang Sugiri, SH., M.Pd. NIP. 19630313 199512 1001

PEMERINTAH KABUPATEN SUKOHARJO

DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

(2)

ii

MAKALAH KEGIATAN PENGEMBANGAN

KEPROFESIAN BERKELANJUTAN (PKB)

Disusun Oleh :

Drs. Bambang Sugiri,S.H., M.Pd. NIP. 19630313 199512 1 001

Disetujui Oleh :

Kepala SMP Negeri 3 Nguter

Kabupaten Sukoharjo

(3)

iii

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas limpahan rahmat

dan hidayah-Nya,penulis dapat menyelesaikan Makalah Pengembangan

Keprofesian Berkelanjutan (PKB) sebagai salah satu syarat yang dibutuhkan

untuk naik pangkat/golongan dari IV/c ke IV/d. Pengembangan Diri lima angka

kredit dan Publikasi Ilmiah, Karya Inovatif empat belas angka kredit.

Di dalam penyusunan makalah ini, penulis telah mendapat banyak

kesempatan, menerima bimbingan, petunjuk, bantuan serta saran-saran yang

bermanfaat dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis

mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya, kepada yang terhormat:

1. Drs. Darno, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sukoharjo,

yang telah memberikan kesempatan untuk mengajukan permohonan kenaikan

Pangkat dan Golongan dari IV/c ke IV/d.

2. Drs. Gazing Margono R., S. Pd., Kepala SMP Negeri 3 Nguter Kabupaten

Sukoharjo, yang telah memberikan kesempatan untuk mengajukan permohonan

kenaikan Pangkat dan Golongan dari IV/c ke IV/d.

3. Rekan-rekan Guru dan Staf SMP Negeri 3 Nguter Kabupaten Sukoharjo, yang

telah memberikan dukungan.

Penulis menyadari, bahwa tulisan ini masih jauh dari sempurna. Oleh

karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi

perbaikan di masa mendatang.

Akhirnya, penulis berharap tulisan ini dapat bermanfaat bagi pembaca

pada umumnya dan bagi penulis sendiri khususnya.

Sukoharjo, 6 Oktober 2017

(4)

iv

Halaman

HALAMAN SAMPUL ... i

PERSETUJUAN... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR TABEL ... vi

BAB I PENGEMBANGAN DIRI DAN DAMPAKNYA TERHADAP PENINGKATAN KUALITAS DIRI GURU... 1

A. Pengembangan Diri yang Dilakukan ... 1

1. Diklat Fungsional ... 3

2. Kegiatan Kolektif Guru ... 5

B. Dampak Pengembangan Diri terhadap Peningkatan Kualitas Guru dalam Menjalankan Tupoksi... 8

1. Tugas Pokok dan Fungsi Guru... 8

2. Dampak Pengembangan Diri terhadap Peningkatan Kualitas dalam Menjalankan Tupoksi Guru ... 10

BAB II PUBLIKASI ILMIAH DAN DAMPAKNYA TERHADAP PENINGKATAN KUALITAS DIRI GURU... 17

A. Publikasi Ilmiah ... 17

1. Karya Tulis ... 17

2. Tulisan Ilmiah Populer ... 17

3. Publikasi Buku Teks Pelajaran ... 18

4. Modul/ Diktat Pembelajaran ... 18

5. Buku dalam Bidang Pendidikan... 18

B. Publikasi Ilmiah yang Disusun Penulis ... 18

1. Laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)... 18

2. Publikasi Ilmiah Hasil Penelitian (Jurnal) Bidang Pendidikan ... 19

(5)

v

C. Dampak Penyusunan Publikasi Ilmiah terhadap Peningkatan

Kualitas Guru dalam Menjalankan Tupoksi ... 20

BAB III KARYA INOVATIF DAN DAMPAKNYA TERHADAP PENINGKATAN KUALITAS DIRI GURU... 23

A. Karya Inovatif ... 23

1. Menemukan Teknologi Tepat Guna... 23

2. Menemukan/ Menciptakan Karya Seni ... 23

3. Membuat/memodifikasi alat pelajaran/peraga/ praktikum 24 4. Mengikuti pengembangan penyusunan standar, pedoman, soal, dan sejenisnya ... 24

B. Karya Inovatif yang Disusun Penulis... 24

1. Karya SeniNovel dengan judul ”Misteri Bintang Yang Hilang” Tahun 2014 (Ditolak/ Tidak Dinilai)... 25

C. Dampak Penyusunan Karya Inovatif terhadap Peningkatan Kualitas Guru dalam Menjalankan Tupoksi... 25

BAB IV PEMBAHASAN... 27

A. Dampak Pengembangan Diri terhadap Peningkatan Kualitas Guru dalam Menjalankan Tupoksi... 27

B. Dampak Pembuatan Publikasi Ilmiah terhadap Peningkatan Kualitas Guru dalam Menjalankan Tupoksi ... 30

C. Dampak Penyusunan Karya Inovatif terhadap Peningkatan Kualitas Guru dalam Menjalankan Tupoksi ... 31

(6)

vi

Halaman

Tabel IV.1 Jenis Pelaksanaan Kegiatan Kolektif Guru yang Diikuti

(7)

1

PENINGKATAN KUALITAS DIRI GURU

A. Pengembangan Diri yang Dilakukan

Profesi guru merupakan tenaga profesional. Hal ini dituangkan dalam

Pasal 39 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem

Pendidikan Nasional menyatakan bahwa pendidik merupakan tenaga

profesional. Profesionalisme guru tersebut dipertegas melalui Pasal 1 Ayat (1)

Undang Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang

menyatakan “Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi

peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal,

pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.”

Amanat yang termuat dalam Pasal 1 Ayat (1) UU No. 14 Tahun 2005

tersebut dapat dimaknai bahwa guru profesional adalah guru yang memenuhi

standar kualifikasi yang diatur dalam pasal 8 Undang-undang No. 14 Tahun

2005 tentang Guru dan Dosen (UUGD) yang menyebutkan bahwa Guru wajib

memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani

dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan

nasional. Dengan demikian maka guru profesional adalah guru yang memiliki

kompetensi sebagaimana dijelaskan dalam Pasal 28 Ayat (3) PP 19 tahun 2005

tentang Standar Nasional Pendidikan bahwa kompetensi guru yang dimaksud

meliputi kompetensi-kompetensi: (1) pedagogik, (2) kepribadian, (3)

profesi-onal, dan (4) sosial.

Terkait profesionalisme guru, Usman (2006) menjelaskan bahwa“guru profesional adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus

dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya

(8)

adalah yang menguasai karakteristik bahan ajar dan karakteristik pesreta didik.

Karakteristik bahan ajar meliputi konsep, prinsip, teori yang terdapat dalam

bahan ajar. Karakteristik peserta didik meliputi potensi, sikap, minat, akhlak

mulia, dan personaliti peserta didik.”

Profesionalisme guru tersebut dapat ditingkatkan dengan beberapa

strategi. Terkait dengan strategi peningkatan profesionalisme guru, Mardapi

(2012) mengemukakan beberapa strategi yang dapat ditempuh, yaitu antara

lain: (1) melalui pelatihan yang efektif, (2) magang pada guru yang

profesional, (3) membaca buku atau hasil penelitian tentang guru yang

profesional, (4) melakukan refleksi diri terhadap proses pembelajaran yang

telah dilakukan, (5) melakukan refleksi diri terhadap perilaku yang ditampilkan

di depan kelas dan di sekolah, dan (6) melakukan evaluasi diri terhadap kinerja

yang telah dicapai.

Pengembangan profesi guru secara yuridis diatur dalam Permenneg

PAN dan RB Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan

Angka Kreditnya. Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB)

merupakan pengembangan kompetensi guru yang dilaksanakan sesuai dengan

kebutuhan, bertahap, berkelanjutan untuk meningkatkan profesioanlismenya

(Kemdikbud, 2016).

Adapun unsur, sub-unsur, dan kegiatan pengembangan keprofesian

berkelanjutan bagi guru tersebut diatur dalam Pasal 11 Permenneg PAN dan

RB No. 16 Tahun 2009. Unsur Pengembangan Profesi Guru Pembelajar

meliputi tiga subunsur, yaitu: (1) Melaksanakan Pengembangan Diri, (2)

Publi-kasi Ilmiah, dan (3) Karya Inovatif.

Sub-unsur pertama adalah melaksanakan pengembangan diri.

Pengembangan diri guru merupakan upaya-upaya yang dilakukan oleh seorang

guru dalam rangka meningkatkan profesionalismenya. Melalui kegiatan

pengembangan diri, guru akan mempunyai kompetensi yang sesuai dengan

peraturan perundang-undangan yang pada gilirannya diharapkan guru akan

(9)

pembimbingan, termasuk pula dalam melaksanakan tugas-tugas tambahan yang

relevan dengan fungsi sekolah/ madrasah.

Terkait dengan pengembangan diri guru, ada dua jenis kegiatan yang

diatur dalam Permenneg PAN dan RB No. 16 Tahun 2009 tersebut. Kedua

jenis kegiatan tersebut meliputi: (1) Mengikuti Diklat Fungsional, dan (2)

Melaksanakan Kegiatan Kolektif Guru.

Kegiatan pertama adalah mengikuti Diklat Fungsional. Pendidikan dan

pelatihan (diklat) fungsional adalah upaya peningkatan kompetensi guru

dan/atau pemantapan wawasan, pengetahuan, sikap, nilai, dan keterampilan

yang sesuai dengan profesi guru yang bermanfaat dalam pelaksanaan tugas

guru melalui lembaga yang memiliki ijin penyelenggaraan dari instansi yang

berwenang (Kemdikbud, 2016). Adapun kegiatan kedua, yaitu kegiatan

kolektif guru adalah kegiatan guru dalam mengikuti kegiatan pertemuan ilmiah

atau mengikuti kegiatan bersama yang dilakukan guru baik di sekolah/

madrasah maupun di luar sekolah/madrasah (seperti KKG/MGMP, KKKS/

MKKS, asosiasi profesi guru lainnya) yang bertujuan untuk meningkatkan

keprofesian guru yang bersangkutan (Kemdikbud, 2016).

Berdasarkan penjelasan tentang unsur, sub-unsur, dan kegiatan

pengembangan keprofesian berkelanjutan bagi guru sebagaimana diatur dalam

Pasal 11 Permenneg PAN dan RB No. 16 Tahun 2009, pada bagian ini akan

dipaparkan mengenai pengembangan diri yang sudah dilakukan oleh penulis.

Sub-unsur pengembangan diri dikelompokkan ke dalam dua jenis kegiatan

yang meliputi: (1) Mengikuti Diklat Fungsional, dan (2) Melaksanakan

Kegiatan Kolektif Guru.

1. Diklat Fungsional

Kegiatan Diklat Fungsional yang diikuti penulis mengikuti dua

aturan, yaitu sesuai dengan Kemenpan No. 84 Tahun 1993 dan Permenpan

dan RB No 16 Tahun 2009. Hal ini dikarenakan Diklat Fungsional yang

(10)

Kemenpan No. 84 Tahun 1993, yaitu sebelum tanggal 1 Januari 2013 dan

setelah diberlakukannya Permenpan dan RB No 16 Tahun 2009.

Kegiatan-kegiatan Diklat Fungsional yang diikuti penulis dapat

dipaparkan sebagai berikut ini.

a. Diklat Kepala Laboratorium IPA SMP/MTs (Kemenpan No 84 Tahun

1993)

Penyelenggara : MGMP IPA SMP Kabupaten Sukoharjo bekerja

sama dengan Fakultas MIPA Universitas Negeri

Yogyakarta (UNY)

Hari/ Tanggal : 1. Sabtu-Minggu, 8-9 September 2012

2. Sabtu-Minggu, 15-16 September 2012

Tempat Kegiatan : Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

Jumlah Jam : 60 Jam

b. Bimbingan Teknis Calon Tim Penilai Jabatan Fungsional Guru dan

Angka Kreditnya (Permenpan dan RB No 16 Tahun 2009)

Penyelenggara : Direktorat Pembinaan Pendidik dan Tenaga

Kependidikan Pendidikan Dasar

Hari/ Tanggal : Senin–Minggu, 21 s.d. 27 Oktober 2013 Tempat Kegiatan : Hotel Lor In Solo, Jawa Tengah

Jumlah Jam : 62 Jam

c. Bimbingan Teknis Persiapan Programme For International Student

Assessment (PISA) (Permenpan dan RB No 16 Tahun 2009)

Penyelenggara : Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah

Pertama, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar,

Kementerian Pendikan dan Kebudayaan

Hari/ Tanggal : Senin–Kamis, 27 s.d. 30 Oktober 2014 Tempat Kegiatan : Hotel Utami Surabaya Jawa Timur

Jumlah Jam : 32 Jam

d. Pelatihan Kurikulum 2013 (Permenpan dan RB No 16 Tahun 2009)

Penyelenggara : Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik

dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK),

(11)

Hari/ Tanggal : Selasa–Sabtu, 25 s.d. 29 November 2014 Tempat Kegiatan : SMP Negeri 1 Sukoharjo

Jumlah Jam : 52 Jam

e. Bimbingan Teknis Peningkatan Mutu Pembelajaran untuk Persiapan

Survey PISA (Permenpan dan RB No 16 Tahun 2009)

Penyelenggara : Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah

Pertama, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar,

Kementerian Pendikan dan Kebudayaan

Hari/ Tanggal : 4 s/d 11 Februari 2015

Tempat Kegiatan : Hotel Grand Cempaka, Cipayung - Bogor Jawa

Barat

Jumlah Jam : 52 Jam

2. Kegiatan Kolektif Guru

Kegiatan kolektif guru adalah kegiatan guru dalam mengikuti

kegiatan pertemuan ilmiah atau kegiatan bersama yang bertujuan untuk

mencapai standar atau di atas standar kompetensi profesi yang telah

ditetapkan. Kegiatan kolektif guru mencakup: (1) kegiatan lokakarya atau

kegiatan kelompok guru untuk penyusunan kelompok kurikulum dan/atau

pembelajaran; (2) pembahas atau peserta pada seminar, koloqium, diskusi

pannel atau bentuk pertemuan ilmiah yang lain; dan (3) kegiatan kolektif

lain yang sesuai dengan tugas dan kewajiban guru.

Kegiatan kolektif guru yang sudah dilakukan penulis meliputi 11

jenis kegiatan baik sebagai nara sumber maupun sebagai peserta.

Kegiatan-kegiatan tersebut meliputi sebagai berikut:

a. Workshop Penilaian Kinerja Guru dan Pengembangan Keprofesian

Berkelanjutan SMP Negeri 3 Nguter

Pelaksana : SMP Negeri 3 Nguter Sukoharjo

Waktu : 1, 4, 6, 8, 11, 13 Februari 2013

Tempat : SMP Negeri 3 Nguter Sukoharjo

Kapasitas : Nara Sumber

(12)

2. Pedoman PKB dan Angka Kreditnya

b. Workshop Pengembangan Diri Guru IPA SMP/MTs Kabupaten

Sukoharjo dengan tema “Implementasi Kurikulum 2013”

Pelaksana : MGMP IPA SMP/MTs Kabupaten Sukoharjo

bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten

Sukoharjo

Waktu : 7, 14, 21 September 2013

Tempat : SMP Negeri 2 Polokarto, Kabupaten Sukoharjo

Kapasitas : Peserta

Materi : 1. Konsep Kurikulum 2013

2. Analisis Materi Ajar

3. Model Rancangan Pembelajaran

4. Praktek Pembelajaran Terbimbing

c. Diklat Implementasi Kurikulum 2013 dan Pengembangan Keprofesian

Berkelanjutan (PKB)

Pelaksana : SMP Negeri 1 Sukoharjo

Waktu : 1, 4, 6, 8, 11, 13 Februari 2013

Tempat : SMP Negeri 3 Nguter Sukoharjo

Kapasitas : Nara Sumber

Materi : 1. Penilaian Angka Kredit (PAK)

2. Perhitungan Angka Kredit

3. Pengisian DUPAK

d. Seminar Hasil Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Pelaksana : MTs Negeri Sukoharjo, Kabupaten Sukoharjo

Waktu : 9 Mei 2015

Tempat : MTs Negeri Sukoharjo, Kabupaten Sukoharjo

Kapasitas : Peserta

Materi : Hasil Penelitian Tindakan Kelas (PTK) karya

Drs. Mujiyono, S.Ag., M.Pd

e. Sosialisasi Permenpan dan RB Nomor 16 Tahun 2009

Pelaksana : Dinas Pendidikan Kabupaten Sukoharjo

Waktu : 11, 15 dan 16 Juni 2015

(13)

Kapasitas : Nara Sumber

Materi : Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB)

f. In House Training (IHT) Implementasi Permen PAN dan RB No. 16

Tahun 2009 dan Pembelajaran dengan Pendekatan Scientific SMA

Negeri 1 Nguter Sukoharjo

Pelaksana : SMA Negeri 1 Nguter Sukoharjo

Waktu : 15 dan 17 Juli 2015

Tempat : SMA Negeri 1 Nguter Sukoharjo

Kapasitas : Nara Sumber

Materi : 1. Penilaian Kinerja Guru (PKG)

2. DUPAK

3. Publikasi Ilmiah (PI)

4. Pengembangan Diri (PD) dan Karya Ilmiah (KI)

g. Workshop Implementasi Permenpan dan RB No. 16 Tahun 2009 SMP

Negeri 3 Kartasura Sukoharjo

Pelaksana : SMP Negeri 3 Kartasura Kabupaten Sukoharjo

Waktu : 8–10 Oktober 2015

Tempat : SMP Negeri 3 Kartasura Kabupaten Sukoharjo

Kapasitas : Nara Sumber

Materi : 1. Penilaian Kinerja Guru (PKG)

2. Menyusun DUPAK dan Penilaian Angka Kredit

(PAK)

3. Pengembangan Diri (PD)

4. Publikasi Ilmiah (PI)

5. Karya Inovatif (KI)

h. Pemberdayaan MGMP IPA SMP/MTs Kabupaten Sukoharjo Tahun

2015

Pelaksana : MGMP IPA SMP/MTs Kabupaten Sukoharjo

Waktu : 31 Oktober 2015

Tempat : SMP Negeri 1 Sukoharjo

Kapasitas : Nara Sumber

(14)

i. Workshop Implementasi Permen PAN dan RB No. 19 Tahun 2009

MGMP IPS SMP Kabupaten Sukoharjo

Pelaksana : MGMP IPS SMP Kabupaten Sukoharjo Waktu : 5 November 2015

Tempat : SMP Negeri 3 Nguter Sukoharjo Kapasitas : Nara Sumber

Materi : 1. Pengembangan Diri

2. Cara menyusun Daftar Usul Penilaian Angka Kredit

j. Program Kegiatan Pemberdayaan dan Pengembangan Potensi Guru

IPA, MGMP IPA SMP/MTs Kabupaten Sukoharjo

Pelaksana : MGMP IPA SMP/MTs Kabupaten Sukoharjo

Waktu : 7 November 2015

Tempat : SMP Negeri 1 Sukoharjo

Kapasitas : Nara Sumber

Materi : Penilaian Kinerja Guru (PKG)

k. Pelatihan Penyusunan Kurikulum SMP Mata Pelajaran TIK,

MGMP TIK SMP Kabupaten Sukoharjo

Pelaksana : MGMP TIK SMP Kabupaten Sukoharjo Waktu : 11 November 2015

Tempat : SMP Negeri 1 Sukoharjo Kapasitas : Nara Sumber

Materi : 1. Pengembangan Profesionalisme Guru

2. Analisis situasi sekolah dalam pengembangan KTSP

B. Dampak Pengembangan Diri terhadap Peningkatan Kualitas Guru dalam Menjalankan Tupoksi

1. Tugas Pokok dan Fungsi Guru a. Tugas Pokok Guru

Tugas guru, menurut Permendiknas No. 35 Tahun 2010 tentang

Petunjuk Teknis Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya,

diantaranya meliputi:

(15)

2) Menyusun silabus pembelajaran;

3) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP);

4) Melaksanakan kegiatan pembelajaran;

5) Menyusun alat ukur/soal sesuai mata pelajaran;

6) Menilai dan mengevaluasi proses dan hasil belajar pada mata

pelajajaran di kelasnya;

7) Menganalisis hasil penilaian pembelajaran;

8) Melaksanakan pembelajaran/perbaikan dan pengayaan dengan

memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi;

9) Melaksanakan bimbingan dan konseling di kelas yang menjadi

tanggungjawabnya (khusus guru kelas);

10) Menjadi pengawas penilaian dan evaluasi terhadap proses dan hasil

belajar tingkat sekolah/ madrasah dan nasional;

11) Membimbing guru pemula dalam program induksi;

12) Membimbing siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler proses

pembelajaran;

13) Melaksanakan pengembangan diri;

14) Melaksanakan publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif; dan

15) Melakukan presentasi ilmiah.

b. Fungsi Guru

Fungsi guru yang dimaksudkan disini juga sudah termasuk dalam

tugas guru yang telah dijabarkan diatas, namun terdapat beberapa fungsi

lain yang terkandung dalam poin (d) dan (e) Pasal 20 Undang-Undang

No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen serta poin (a), (b) dan (c)

Pasal 40 Ayat (2) Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem

Pendidikan Nasional, yaitu:

1) Memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa;

2) Menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum, dan kode

etik guru, serta nilai-nilai agama dan etika;

3) Menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan,

(16)

4) Memelihara komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu

pendidikan; dan

5) Memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi, dan

kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya.

2. Dampak Pengembangan Diri terhadap Peningkatan Kualitas dalam Menjalankan Tupoksi Guru

a. Dampak-dampak dari Kegiatan Diklat Fungsional yang Diikuti dalam

Menjalankan Tupoksi Guru

1) Diklat Kepala Laboratorium IPA SMP/MTs (Kemenpan No 84

Tahun 1993)

a) Peningkatan kompetensi guru-guru IPA SMP/MTs kabupaten

Sukoharjo dalam mengelola laboratorium IPA;

b) Pemenuhan kualifikasi akademik guru-guru IPA SMP/MTs

kabupaten Sukoharjo sehingga dapat ditugasi sebagai Kepala

Laboratorium IPA; dan

c) Peningkatan mutu pembelajaran IPA SMP/MTs Kabupaten

Sukoharjo.

2) Bimbingan Teknis Calon Tim Penilai Jabatan Fungsional Guru dan

Angka Kreditnya (Permenpan dan RB No 16 Tahun 2009)

a) Pemenuhan kualifikasi penilai jabatan fungsional guru dan

angka kreditnya bagi guru-guru Kabupaten sehingga dapat

ditugasi sebagai tim penilai;

b) Memotivasi para guru untuk naik jabatan/pangkat sesuai dengan

prosedur dan ketentuan yang berlaku;

c) Peningkatan kompetensi guru sehingga lebih profesional dalam

melaksanakan tugasnya; dan

d) Peningkatan mutu pembelajaran seiring dengan meningkatnya

jabatan/pangkat guru, hal ini akan berpengaruh langsung pada

(17)

3) Bimbingan Teknis Persiapan Programme For International Student

Assessment (PISA) (Permenpan dan RB No 16 Tahun 2009)

a) Guru mampu dan terbiasa menyusun soal-soal tes pemahaman

tingkat tinggi (Higher Order Thinking);

b) Siswa mampu dan terbiasa menyelesaikan soal-soal tes

pemahaman tingkat tinggi (Higher Order Thinking); dan

c) Hasil tes siswa Indonesia di PISA 2015 mendatang akan

meningkat.

4) Pelatihan Kurikulum 2013 (Permenpan dan RB No 16 Tahun 2009)

a) Guru mata pelajaran melaksanakan tugas sesuai dengan tuntutan

Standar Kompetensi Lulusan, Standar Isi, Standar Proses

Pembelajaran, dan Standar Penilaian Kurikulum 2013;

b) Pengelolaan sekolah semakin baik, terutama dalam mengelola

pembelajaran yang berorientasi pada 4 elemen perubahan

Kurikulum 2013;

c) Siswa semakin kreatif dan memiliki pola pikir yang High Order

Thinking (HOT); Guru BK mampu melaksanakan praktik

Bimbingan Konseling dengan baik sesuai dengan Kurikulum

2013; dan

d) Pengelolaan sekolah khususnya dalam hal Bimbingan Konseling

pada peserta didik semakin baik.

5) Bimbingan Teknis Peningkatan Mutu Pembelajaran untuk Persiapan

Survey PISA (Permenpan dan RB No 16 Tahun 2009)

a) Guru mampu dan terbiasa menyusun soal-soal tes pemahaman

tingkat tinggi (Higher Order Thinking);

b) Siswa mampu dan terbiasa menyelesaikan soal-soal tes

pemahaman tingkat tinggi (Higher Order Thinking); dan

c) Hasil tes siswa Indonesia di PISA 2015 mendatang akan

(18)

b. Dampak-dampak dari Kegiatan Kolektif Guru yang Diikuti dalam

Menjalankan Tupoksi Guru

1) Workshop Penilaian Kinerja Guru dan Pengembangan Keprofesian

Berkelanjutan SMP Negeri 3 Nguter

a) Peningkatan kinerja guru dalam pembelajaran, sehingga siswa

lebih antusias dalam mengikuti pembelajaran;

b) Peningkatan umpan balik sebagai masukan perencanaan

program/kegiatan dalam pengembangan profesionalisme dan

karir guru; dan

c) Peningkatan profesionalitas guru yang dibuktikan dengan

perubahan perilaku, tingginya kreativitas, dan inovasi dalam

pengembangan karir.

2) Workshop Pengembangan Diri Guru IPA SMP/MTs Kabupaten

Sukoharjo dengan tema “Implementasi Kurikulum 2013”

a) Guru memahami bahwa Perubahan kurikulum sebagai penataan

perbukuan, penataan LPTK, penataan pelatihan guru,

memperkuat budaya sekolah, memperkuat integrasi

pengetahuan, dan budaya;

b) Guru lebih siap untuk menghadapi tantangan global, karena

kurikulum berkaitan dengan standar isi. Yang mana, tujuan

kurikulum 2013 adalah menghasilkan siswa yang selalu

bertanya akan sesuatu hal atau meningkatkan jiwa kritis dalam

diri siswa;

c) Guru memahami bahwa dasar kurikum 2013 adalah attitude dan

aktualisasi diri. Sistem penilaian kurikulum tidak hanya dinilai

dari guru dan siswa, namun pemerintah dan sekolah mempunyai

fungsi yang signifikan untuk keefektifan kurikulum;

d) Guru memahami perubahan kurikulum 2013 dibandingkan

(19)

e) Perlu adanya persiapan sejak dini baik diri sendiri, pihak

sekolah dan instansi terkait dalam menyongsong diterapkannya

kurikulum.

3) Diklat Implementasi Kurikulum 2013 dan Pengembangan

Keprofesian Berkelanjutan (PKB)

a) Guru memahami bahwa Perubahan kurikulum sebagai penataan

perbukuan, penataan LPTK, penataan pelatihan guru,

memperkuat budaya sekolah, memperkuat integrasi

pengetahuan, dan budaya;

b) Guru lebih siap untuk menghadapi tantangan global, karena

kurikulum berkaitan dengan standar isi. Yang mana, tujuan

kurikulum 2013 adalah menghasilkan siswa yang selalu

bertanya akan sesuatu hal atau meningkatkan jiwa kritis dalam

diri siswa;

c) Guru memahami bahwa dasar kurikum 2013 adalah attitude dan

aktualisasi diri. Sistem penilaian kurikulum tidak hanya dinilai

dari guru dan siswa, namun pemerintah dan sekolah mempunyai

fungsi yang signifikan untuk keefektifan kurikulum;

d) Guru memahami perubahan kurikulum 2013 dibandingkan

kurikulum sebelumnya;

e) Perlu adanya persiapan sejak dini baik diri sendiri, pihak

sekolah dan instansi terkait dalam menyongsong diterapkannya

kurikulum;

f) Peningkatan kinerja guru dalam pembelajaran, sehingga siswa

lebih antusias dalam mengikuti pembelajaran;

g) Peningkatan umpan balik sebagai masukan perencanaan

program/kegiatan dalam pengembangan profesionalisme dan

karir guru; dan

h) Peningkatan profesionalitas guru yang dibuktikan dengan

perubahan perilaku, tingginya kreativitas, dan inovasi dalam

(20)

4) Seminar Hasil Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

a) Penulis memahami sistematika penulisan PTK yang baik dan

benar;

b) Penulis memahami bahwa untuk meningkatkan mutu

pembelajaran haruslah menggunakan metode pembelajaran

yang sesuai dengan permasalahan yang dihadapi. Setiap model

pembelajaran mempunyai kekurangan dan kelebihan; dan

c) Penulis mengerti bahwa sebuah PTK akan dinilai baik apabila

memenuhi unsur APIK (Asli, Perlu, Ilmiah dan Konsisten).

PTK hendaknya disertai lampiran selengkap mungkin agar tidak

dianggap plagiat.

5) Sosialisasi Permenpan dan RB Nomor 16 Tahun 2009

a) Menyadari bahwa dengan diberlakukannya peraturan yang baru

dalam jabatan fungsional guru dan angka kreditnya maka

diperlukan sosialisasi yang lebih intensif guna meningkatkan

pemahaman para guru;

b) Memahami bahwa Penilaian kinerja Guru adalah penilaian dari

tiap butir kegiatan tugas utama Guru dalam rangka pembinaan

karier kepangkatan dan jabatannya; dan

c) Mempersiapkan diri untuk pengajuan kenaikan pangkat.

6) In House Training (IHT) Implementasi Permen PAN dan RB No.

16 Tahun 2009 dan Pembelajaran dengan Pendekatan Scientific

a) Peningkatan kinerja guru dalam pembelajaran, sehingga siswa

lebih antusias dalam mengikuti pembelajaran;

b) Peningkatan umpan balik sebagai masukan perencanaan

program/kegiatan dalam pengembangan profesionalisme dan

karir guru; dan

c) Peningkatan profesionalitas guru yang dibuktikan dengan

perubahan perilaku, tingginya kreativitas, dan inovasi dalam

(21)

7) Workshop Implementasi Permenpan dan RB No. 16 Tahun 2009

SMP Negeri 3 Kartasura Sukoharjo

a) Peningkatan kinerja guru dalam pembelajaran, sehingga siswa

lebih antusias dalam mengikuti pembelajaran;

b) Peningkatan umpan balik sebagai masukan perencanaan

program/kegiatan dalam pengembangan profesionalisme dan

karir guru; dan

c) Peningkatan profesionalitas guru yang dibuktikan dengan

perubahan perilaku, tingginya kreativitas, dan inovasi dalam

pengembangan karir.

8) Pemberdayaan MGMP IPA SMP/MTs Kabupaten Sukoharjo Tahun

2015

a) Peningkatan profesional guru, sehingga lebih mudah dalam

kenaikan pangkat;

b) Angka kredit yang dipersyaratkan untuk kenaikan pangkat dari

sub unsur pengembangan diri dapat dipenuhi oleh guru;

c) Guru tidak mengalami kesulitan dalam perolehan nilai angka

kredit pengembangan diri; dan

d) Peningkatan profesionalitas guru yang dibuktikan dengan

perubahan perilaku, tingginya kreativitas, dan inovasi dalam

pengembangan karir.

9) Workshop Implementasi Permen PAN dan RB No. 19 Tahun 2009

MGMP IPS SMP Kabupaten Sukoharjo

a) Peningkatan profesional guru, sehingga lebih mudah dalam

kenaikan pangkat;

b) Angka kredit yang dipersyaratkan untuk kenaikan pangkat dari

sub unsur pengembangan diri dapat dipenuhi oleh guru;

c) Guru tidak mengalami kesulitan dalam perolehan nilai angka

(22)

d) Peningkatan profesionalitas guru yang dibuktikan dengan

perubahan perilaku, tingginya kreativitas, dan inovasi dalam

pengembangan karir.

10) Program Kegiatan Pemberdayaan dan Pengembangan Potensi Guru

IPA, MGMP IPA SMP/MTs Kabupaten Sukoharjo

a) Peningkatan profesional guru, sehingga lebih mudah dalam

kenaikan pangkat;

b) Angka kredit yang dipersyaratkan untuk kenaikan pangkat dari

sub unsur publikasi ilmiah dapat dipenuhi oleh guru;

c) Guru tidak mengalami kesulitan dalam perolehan nilai angka

kredit pengembangan diri; dan

d) Peningkatan profesionalitas guru yang dibuktikan dengan

perubahan perilaku, tingginya kreativitas, dan inovasi dalam

pengembangan karir.

11) Pelatihan Penyusunan Kurikulum SMP Mata Pelajaran TIK,

MGMP TIK SMP Kabupaten Sukoharjo

a) Peningkatan profesional guru, sehingga lebih mudah dalam

kenaikan pangkat;

b) Guru memahami dan melaksanakan pengembangan profesi

sesuai dengan karirnya;

c) Guru mengembangan perangkat pembelajaran, bahan ajar dan

media pembelajaran sesuai KTSP; dan

d) Peningkatan profesionalitas guru yang dibuktikan dengan

perubahan perilaku, tingginya kreativitas, dan inovasi dalam

(23)

17

KUALITAS DIRI GURU

A. Publikasi Ilmiah

Publikasi ilmiah adalah karya tulis ilmiah yang telah dipublikasikan

kepada masyarakat sebagai bentuk kontribusi guru terhadap peningkatan

kualitas proses pembelajaran di sekolah dan pengembangan dunia pendidikan

secara umum. Publikasi ilmiah mencakup 3 kelompok kegiatan, yaitu: (1)

presentasi pada forum ilmiah; (2) sebagai pemrasaran/nara sumber pada

seminar, lokakarya ilmiah, koloqium atau diskusi ilmiah; dan (3) publikasi

ilmiah hasil penelitian atau gagasan inovatif pada bidang pendidikan formal.

Publikasi ilmiah publikasi ilmiah hasil penelitian atau gagasan inovatif

pada bidang pendidikan formal mencakup pembuatan:

1. Karya Tulis

Karya tulis berupa laporan hasil penelitian pada bidang pendidikan

di sekolahnya yang diterbitkan/dipublikasikan dalam bentuk buku yang

ber-ISBN dan diedarkan secara nasional atau telah lulus dari penilaian ber-ISBN,

atau diterbitkan/dipublikasikan dalam majalah/jurnal ilmiah tingkat nasional

yang terakreditasi, provinsi, dan tingkat kabupaten/kota, diseminarkan di

sekolah atau disimpan di perpustakaan (Kemdikbud, 2016).

2. Tulisan Ilmiah Populer

Tulisan ilmiah populer di bidang pendidikan formal dan

pembelajaran pada satuan pendidikanyang dimuat di:jurnal tingkat nasional

yang terakreditasi; jurnal tingkat nasional yang tidak terakreditasi/tingkat

provinsi; jurnal tingkat lokal (kabupaten/ kota/ sekolah/ madrasah, dsb

(24)

3. Publikasi Buku Teks Pelajaran

Publikasi buku teks pelajaran, buku pengayaan dan/atau pedoman

guru. Publikasi ini mencakup pembuatan: buku pelajaran per tingkat atau

buku pendidikan per judul yang lolos penilaian BSNP, atau dicetak oleh

penerbit dan ber-ISBN, atau dicetak oleh penerbit dan belum ber-ISBN

(Kemdikbud, 2016).

4. Modul/ Diktat Pembelajaran

Modul/diklat pembelajaran per semester yang digunakan di tingkat:

provinsi dengan pengesahan dari Dinas Pendidikan Provinsi; atau

kabupaten/kota dengan pengesahan dari Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota;

atau sekolah/madrasah setempat (Kemdikbud, 2016).

5. Buku dalam Bidang Pendidikan

Buku dalam bidang pendidikan dicetak oleh penerbit yang

ber-ISBN dan/atau tidak ber-ber-ISBN; karya hasil terjemahan yang dinyatakan oleh

kepala sekolah/ madrasah tiap karya; buku pedoman guru (Kemdikbud,

2016).

B. Publikasi Ilmiah yang Disusun Penulis

Adapun unsur, sub-unsur, dan kegiatan pengembangan keprofesian

berkelanjutan bagi guru tersebut diatur dalam Pasal 11 Permenneg PAN dan

RB No. 16 Tahun 2009. Unsur Pengembangan Profesi Guru Pembelajar

meliputi tiga subunsur, yaitu: (1) Melaksanakan Pengembangan Diri, (2)

Publi-kasi Ilmiah, dan (3) Karya Inovatif.

Berdasarkan penjelasan tentang publikasi ilmiah sebagaimana diatur

dalam Pasal 11 Permenneg PAN dan RB No. 16 Tahun 2009, pada bagian ini

akan dipaparkan mengenai publikasi ilmiah yang sudah dilakukan oleh penulis.

1. Laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

a. Pembelajaran Model LC 5 E (The 5 E Learning Cycle ) Untuk

(25)

Daya Listrik Bagi Siswa Kelas IX D Semester I SMP Negeri 3 Nguter

Sukoharjo Tahun Pelajaran 2012/2013

b. Pembelajaran Inkuiri dengan Media Interaktif Untuk Meningkatkan

Motivasi dan Hasil Belajar IPA Konsep Tata Surya Siswa Kelas IX A

Semester II Smp Negeri 3 Nguter Sukoharjo Tahun Pelajaran

2013/2014

2. Publikasi Ilmiah Hasil Penelitian (Jurnal) Bidang Pendidikan

a. Jurnal Pendidikan (Pembelajaran Model LC 5 E (The 5 E Learning

Cycle) Untukmeningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Fisika). Jurnal

Pendidikan “Java Education” Jilid 1 Nomor 4, Februari 2014, halaman 327–340.

b. Jurnal Pendidikan (Pembelajaran Inkuiri dengan Media Interaktif

Untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar IPA Konsep Tata

Surya). Jurnal Pendidikan “ Aktivitas” Volume 1 Nomor 1 Bulan Mei Tahun 2014, Halaman 7–28.

c. Optimalisasi Peran Guru dalam Membentuk Karakter Traffic Awareness”). Jurnal Pendidikan “AKTIVITAS”, ISSN : 2355-9101, Vol. 4, No. 3, Februari 2017, Hal 440-453 (Baru)

d. Kendala yang Dihadapi Guru dalam Pelaksanaan Pembelajaran IPA GamitanKurikulum 2013”.Jurnal Pendidikan “PENGAJARAN”, ISSN : 2442-7543, Vol. 3, No. 3, Maret 2017, Hal 302–310 (Baru)

3. Tinjauan Ilmiah (Perbaikan)

Optimalisasi Peran Guru dalam Membentuk Karakter Traffic Awareness

Bagi Peserta Didik di Sekolah

4. Tulisan Ilmiah Populer

a. Pendidikan Inklusi Salah Satu Upaya Pemerintah dalam Menangani

Anak Berkebutuhan Khusus. Majalah “Derap Guru” Edisi

(26)

b. Sekolah Sebagai Pelopor Pencegahan Aksi Vandalisme. Majalah

“Derap Guru” Edisi 177/Th.XIV/Oktober 2014 Halaman 36–37.

5. Buku Pedoman Guru Tahun Pelajaran 2014/2015

Buku Pedoman Guru yang secara singkat berisi program kerja yang

direncanakan selama satu tahun pelajaran baik sebagai guru maupun tugas

tambahan yang di embannya.

C. Dampak Penyusunan Publikasi Ilmiah terhadap Peningkatan Kualitas Guru dalam Menjalankan Tupoksi

Salah satu jenis pengembangan keprofesian berkelanjutan adalah

publikasi ilmiah berupa hasil penelitian atau gagasan ilmu bidang pendidikan

formal. Karya tulis ilmiah guru dapat dipublikasikan dalam bentuk laporan

hasil penelitian atau laporan/gagasan ilmiah yang ditulis berdasar pada

pengalaman dan sesuai dengan tugas pokok serta fungsi guru (Kemdikbud,

2016).

Kegiatan pengembangan profesi melalui penulisan KTI berupa makalah

yang disusun berdasarkan: Penelitian Tindakan Kelas (PTK), hasil eksperimen

di kelas, penelitian deskriptif; kegiatan nyata yang dilakukan di kelas; di

bidang pendidikan formal dan pembelajaran pada satuan pendidikan; berupa

gagasan ilmiah dalam bidang pendidikan formal dan pembelajaran pada satuan

pendidikan; disajikan pada forum ilmiah di tingkat nasional maupun, dan di

tingkat kabupaten/kota. Selain karya tulis tersebut, guru dapat melakukan

pengembangan dengan menyusun KTI berupa: buku pelajaran dicetak oleh

penerbit dan ber- ISBN, buku pelajaran dicetak oleh penerbit tetapi belum

ISBN, buku dalam bidang pendidikan dicetak oleh penerbit dan

ISBN, buku dalam bidang pendidikan dicetak oleh penerbit tetapi belum

ber-ISBN, modul yang digunakan di tingkat provinsi dengan pengesyahan dari

dinas pendidikan provinsi, modul yang digunakan di tingkat kota/kabupaten

dengan pengesyahan dari dinas pendidikan kota/kabupaten, modul yang

(27)

di media masa tingkat provinsi (koran daerah), tulisan ilmiah populer di

bidang pendidikan formal dan pembelajaran pada satuan pendidikan dimuat di

jurnal/terbitan nasional yang terakreditasi; dimuat di jurnal/terbitan nasional

yang tidak terakreditasi, dan dimuat di jurnal tingkat lokal (sekolah/madrasah).

KTI lainya yang dapat dilakukan oleh guru dapat menulis diktat yang

diedarkan dan digunakan dalam pembelajaran untuk setiap semester, karya

terjemahan yang dinyatakan kegunaannya oleh kepala sekolah/madrasah tiap

karya. KTI yang beragam tersebut idealnya juga dapat dioptimalkan

penulisannya oleh para guru. Secara lebih spesifik dan merujuk pada

(PermenPAN & RB) Nomor 16 Tahun 2009, guru yang ingin naik jenjang

menjadi golongan III-b ke atas, wajib karya tulis, pasalnya regulasi yang

dibebankan kepada guru untuk kenaikan pangkat karya tulis, sebagai bukti

profesional dalam tugas.

Dampak yang dihasilkan dari jenis pengembangan keprofesian

berkelanjutan publikasi ilmiah yang dilakukan guru sangat berkaitan dengan

salah satu standar kompetensi yang harus dimiliki tenaga pendidik. Merujuk

pada Permendiknas RI Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi

Akademik dan Kompetensi Guru disebutkan bahwa salah satu kompetensi

yang harus dimiliki tenaga pendidik adalah kompetensi profesional.

Salah satu kompetensi inti yang dikembangkan dari kompetensi

profesional guru adalah “Mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif.” Kompetensi inti tersebut dijabarkan ke dalam empat kompetensi, yaitu: (1) Melakukan refleksi terhadap

kinerja sendiri secara terus menerus; (2) Memanfaatkan hasil refleksi dalam

rangka peningkatan keprofesionalan; (3) Melakukan penelitian tindakan kelas

untuk peningkatan keprofesionalan; dan (4) Mengikuti kemajuan zaman

dengan belajar dari berbagai sumber.

Atas dasar hal tersebut, karya tulis ilmiah sebagai suatu karya yang

memuat dan mengkaji suatu masalah tertentu dengan menggunakan

kaidah-kaidah keilmuan, menjadi salah satu tolok ukur kemampuan guru dalam

(28)

dimaksud bahwa karya ilmiah menggunakan metode ilmiah di dalam

membahas permasalahan, menyajikan kajian dengan menggunakan bahasa

baku dan tata tulis ilmiah, serta menggunakan prinsip-prinsip keilmuan yakni

bersifat objektif, logis, empiris, sistematis, lugas, jelas dan konsisten (Prayitno,

dkk. 2001).

Pengembangan keprofesian berkelanjutan melalui penyusunan publikasi

ilmiah tersebut mendukung tupoksi guru. Hal ini sejalan dengan amanat

Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi

Birokrasi Nomor 6 Tahun 2009 Tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka

Kreditnya bahwa kompetensi yang harus dimiliki guru untuk mengembangkan

keprofesian melalui tindakan reflektif terdiri atas enam indikator. Keenam

indikaror tersebut meliputi: (1) melakukan refleksi terhadap kinerja sendiri

se-cara terus menerus; (2) memanfaatkan hasil refleksi dalam rangka peningkatan

keprofesionalan; (3) melakukan penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan

keprofesionalan; (4) mengikuti kemajuan zaman dengan belajar dari bernbagai

sumber; (5) memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam

berko-munikasi; (6) memanfaatkan teknologi komunikasi dan informasi untuk

(29)

23

KUALITAS DIRI GURU

A. Karya Inovatif

Karya inovasi adalah karya yang bersifat pengembangan, modifikasi

atau penemuan baru sebagai bentuk kontribusi guru terhadap peningkatan

kualitas proses pembelajaran di sekolah dan pengembangan dunia pendidikan,

sains/teknologi, dan seni. Jika dibandingkan dengan PKB yang berupa

publikasi ilmiah keduanya memiliki perbedaan. Karya inovatif yang utama

berupa benda tertentu, sedangkan publikasi ilmiah berupa karya tulis ilmiah

(Kemendikbud, 2016).

Kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB) yang berupa

karya inovatif, terdiri atas empat kelompok, yakni (Kemendikbud, 2016):

1. Menemukan Teknologi Tepat Guna

Karya teknologi tepat guna yang selanjutnya disebut karya

sains/teknologi adalah karya hasil rancangan/pengembangan/percobaan

dalam bidang sains dan/atau teknologi yang dibuat atau dihasilkan dengan

menggunakan bahan, sistem, atau metodologi tertentu dan dimanfaatkan

untuk pendidikan atau masyarakat sehingga pendidikan terbantu

kelancarannya atau masyarakat terbantu kehidupannya. Karya sains bisa

dibuat oleh guru mata pelajaran apapun pada semua jenjang. Karya sains

bermanfaat untuk kepentingan pendidikan atau kepentingan masyarakat di

luar sekolah (Kemdikbud, 2016).

2. Menemukan/ Menciptakan Karya Seni

Menemukan/menciptaan karya seni adalah proses perefleksian

nilai-nilai dan gagasan manusia yang diekspresikan secara estetik dalam berbagai

medium seperti rupa, gerak, bunyi, dan kata yang mampu memberi makna

(30)

kemanusiaan. Sebagaimana karya sains, karya seni juga bisa dibuat oleh

semua guru, tidak harus guru seni atau guru bahasa dan sastra (Kemdikbud,

2016).

3. Membuat/memodifikasi alat pelajaran/peraga/ praktikum

Membuat/memodifikasi alat pelajaran/peraga/praktikum merupakan

jenis ketiga dari karya inovatif. Macamnya berupa membuat alat pelajaran,

membuat alat peraga, dan membuat alat praktikum. Alat pelajaran adalah

alat yang digunakan untuk membantu kelancaran proses pembelajaran/

bimbingan pada khususnya dan proses pendidikan di sekolah/madrasah pada

umumnya. Alat peraga adalah alat yang digunakan untuk memperjelas

konsep/teori/cara kerja tertentu yang dipergunakan dalam proses

pembelajaran atau bimbingan (Kemdikbud, 2016).

4. Mengikuti pengembangan penyusunan standar, pedoman, soal, dan sejenisnya

Karya inovasi lainnya adalah mengikuti pengembangan penyusunan

standar, pedoman, soal, dan sejenisnya. Kegiatan penyusunan

standar/pedoman/soal ini diselenggarakan oleh instansi tingkat nasional atau

provinsi. Dengan demikian jika guru melakukan kegiatan tersebut namun

penyelenggaranya instansi tingkat kabupaten belum dihargai dengan angka

kredit. Kriteria kegiatan penyusunan standar/pedoman/soal yang

diselenggarakan oleh instansi tingkat nasional atau provinsi adalah (1) Guru

yang bersangkutan aktif dalam kegiatan tersebut dan (2) Hasil kegiatan

tersebut digunakan secara nasional/provinsi (Kemdikbud, 2016).

B. Karya Inovatif yang Disusun Penulis

Salah satu kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan bagi guru

yang diatur dalam Pasal 11 Permenneg PAN dan RB No. 16 Tahun 2009.

Unsur Pengembangan Profesi Guru Pembelajar adalah Karya Inovatif.

Berdasarkan penjelasan tersebut di atas pada bagian ini akan dipaparkan

(31)

1. Karya SeniNovel dengan judul ”Misteri Bintang Yang Hilang” Tahun 2014 (Ditolak/ Tidak Dinilai)

Novel dengan judul “Misteri Bintang Yang Hilang” diterbitkan pada bulan April tahun 2014 terdiri dari viii + 84 halaman. Novel ini

mengisahkan tentang perubahan drastis yang dialami oleh seorang anak

yang awalnya dari anak yang terkenal nakal kemudian berubah menjadi

anak yang santun. Kisah dalam novel ini adalah tentang Bintang Kejora,

tokoh utama dalam novel, seorang anak kelas V Sekolah Dasar. Bintang

Kejora adalah anak yang pandai namun terkenal nakal di rumah ataupun di

sekolahan, kurang menghargai bila bicara dengan orang tuanya.

Bintang pergi ke rumah kakeknya di desa untuk mengisi waktu

liburan semester. Di desa itulah Bintang mendapatkan pengalaman yang

tidak terduga yang akhirnya mampu mengubah tabiatnya dari seorang anak

yang nakal menjadi seorang anak yang santun, dan bahkan ia dengan

kegigihannya berlatih mampu menjadi juara 1 lomba pidato bahasa Jawa.

Karya inovatif yang disusun penulis berupa novel yang sudah diterbitkan

dan memperoleh ISBN dengan nomor ISBN 978-602-9318-53-1 diterbitkan

oleh Penerbit Panembahan Senopati, Sukoharjo. Karya inovatif tersebut tidak

dapat dinilai dengan alasan tidak sesuai dengan Tupoksi Guru.

C. Dampak Penyusunan Karya Inovatif terhadap Peningkatan Kualitas Guru dalam Menjalankan Tupoksi

Salah satu jenis pengembangan keprofesian berkelanjutan adalah

pembuatan karya inovatif. Karya inovatif yang dapat disusun guru terdiri atas

empat kelompok, yakni: (1) menemukan teknologi tepat guna; (2) menemukan/

membuat karya sastra; (3) membuat/ memodifikasi Alat Pelajaran/Peraga/

Praktikum; dan (4) mengikuti pengembangan penyusunan standar, pedoman,

soal, dan sejenisnya (Kemdikbud, 2016).

Kegiatan pengembangan profesi berkelanjutan melalui pembuatan

karya inovatif diatur lebih melalui (PermenPAN & RB) Nomor 16 Tahun 2009,

(32)

pasalnya regulasi yang dibebankan kepada guru untuk kenaikan pangkat karya

tulis, sebagai bukti profesional dalam tugas.

Dampak yang dihasilkan dari jenis pengembangan keprofesian

berkelanjutan melalui pembuatan karya inovatif yang dilakukan guru sangat

berkaitan dengan salah satu standar kompetensi yang harus dimiliki tenaga

pendidik. Berdasarkan Permendiknas RI Nomor 16 Tahun 2007 tentang

Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru disebutkan bahwa salah

satu kompetensi yang harus dimiliki tenaga pendidik adalah kompetensi

profesional.

Salah satu kompetensi inti yang dikembangkan dari kompetensi

profesional guru adalah “Mengembangkan keprofesionalan secara

berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif.” Kompetensi inti tersebut dijabarkan ke dalam empat kompetensi, yaitu: (1) Melakukan refleksi terhadap

kinerja sendiri secara terus menerus; (2) Memanfaatkan hasil refleksi dalam

rangka peningkatan keprofesionalan; (3) Melakukan penelitian tindakan kelas

untuk peningkatan keprofesionalan; dan (4) Mengikuti kemajuan zaman

dengan belajar dari berbagai sumber. Atas dasar hal tersebut, karya inovatif,

menjadi salah satu tolok ukur kemampuan guru dalam melaksanakan

kompetensi profesional tersebut.

Pengembangan keprofesian berkelanjutan melalui penyusunan karya

inovatif tersebut mendukung tupoksi guru. Hal ini sejalan dengan amanat

Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi

Birokrasi Nomor 6 Tahun 2009 Tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka

(33)

27

A. Dampak Pengembangan Diri terhadap Peningkatan Kualitas Guru dalam Menjalankan Tupoksi

Pengembangan profesi guru secara yuridis diatur dalam Permenneg

PAN dan RB Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan

Angka Kreditnya. Adapun unsur, sub-unsur, dan kegiatan pengembangan

keprofesian berkelanjutan bagi guru tersebut diatur dalam Pasal 11 Permenneg

PAN dan RB No. 16 Tahun 2009. Unsur Pengembangan Profesi Guru

Pembelajar meliputi tiga subunsur, yaitu: (1) Melaksanakan Pengembangan

Diri, (2) Publikasi Ilmiah, dan (3) Karya Inovatif.

Terkait dengan pengembangan diri guru, ada dua jenis kegiatan yang

diatur dalam Permenneg PAN dan RB No. 16 Tahun 2009 tersebut. Kedua

jenis kegiatan tersebut meliputi: (1) Mengikuti Diklat Fungsional, dan (2)

Melaksanakan Kegiatan Kolektif Guru.

Kegiatan pengembangan diri yang diikuti penulis dalam bentuk

melaksanakan kegiatan kolektif guru selama berada di Golongan Ruang IV c

terdiri dari 11 jenis kegiatan. Selama mengikuti kegiatan-kegiatan kolektif guru

tersebut, penulis ikut berkontribusi sebagai narasumber dalam kegiatan yang

dilakukan.

Kegiatan-kegiatan kolektif guru yang diikuti penulis selama berada di

Golongan Ruang IV c dan kapasitas penulis dalam kegiatan tersebut dapat

(34)

Tabel 4.1

Jenis Pelaksanaan Kegiatan Kolektif Guru yang Diikuti Penulis di Golongan Ruang IV c

No. Nama Kegiatan Kapasitas

1. Workshop Penilaian Kinerja Guru dan PKB Narasumber

2. Workshop Pengembangan Diri Guru IPA Peserta

3. Diklat Implementasi Kurikulum 2013 dan PKB Narasumber 4. Seminar Hasil Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Peserta 5. Sosialisasi Permenpan dan RB Nomor 16 Tahun 2009 Narasumber 6. In House Training (IHT) Implementasi Permen PAN dan

RB No. 16 Tahun 2009 dan Pembelajaran dengan

8. Pemberdayaan MGMP IPA SMP/MTs Kabupaten Sukoharjo

Narasumber

9. Workshop Implementasi Permen PAN dan RB No. 19 Tahun 2009 MGMP IPS

Narasumber

10. Program Kegiatan Pemberdayaan dan Pengembangan Potensi Guru IPA, MGMP IPA

Narasumber

11. Pelatihan Penyusunan Kurikulum SMP Mata Pelajaran TIK, MGMP TIK

Narasumber

Aktivitas yang dilakukan penulis sebagai narasumber dalam beberapa

kegiatan kolektif guru tersebut di atas dapat dimaknai bahwa penulis telah

berupaya untuk memenuhi kewajiban menjalankan tugas pokok guru

sebagaimana diatur dalam Permendiknas No. 35 Tahun 2010 tentang Petunjuk

Teknis Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Tugas pokok yang

dilakukan penulis dalam kerangka tersebut meliputi: (1) Menjadi pengawas

penilaian dan evaluasi terhadap proses dan hasil belajar tingkat sekolah/

madrasah dan nasional; (2) Membimbing guru pemula dalam program induksi;

dan (3) Melaksanakan pengembangan diri. Selain melaksanakan tiga tugas

pokok tersebut, penulis juga menjalankan fungsi dalam kerangka memelihara

(35)

Peraturan Menteri pemberdayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi

Birokrasi No.16/2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya,

Pasal 1 ayat (5) menyebutkan pengembangan keprofesian berkelanjutan adalah

pengembangan kompetensi guru yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan,

bertahap, berkelanjutan untuk meningkatkan profesionalitasnya.

Terkait profesionalisme, Zainal Aqib dan Elham Rohmanto (2007)

menyebutkan profesionalisme ditunjukkan oleh lima unjuk kerja sebagai

berikut: a) Keinginan untuk selalu menampilkan perilaku yang mendekati

standar ideal, b) Meningkatkan dan memelihara citra profesi, 3) Keinginan

untuk senantiasa mengejar kesempatan pengembangan professional yang dapat

meningkatkan dan memperbaiki kualitas pengetahuan dan keterampilan, 4)

Mengejar kualitas dan cita-cita dalam profesi, 5) Memiliki kebanggaan

terhadap profesinya.

Kapasitas penulis sebagai narasumber dalam beberapa kegiatan kolektif

guru dapat dimaknai bahwa penulis berupaya melakukan pengembangan

profesi yang tepat untuk guru yang belum lama menjadi guru adalah dengan

mentoring guru. Hal ini sejalan dengan pendapat Barnawi dan Arifin (2014)

program mentoring guru merupakan sarana penting untuk menjaga standar

kualitas sekolah disaat suatu sekolah menerima guru pemula. Dengan adanya

mentoring guru yang terarah dan terencana seseorang guru dapat memiliki

keterampilan yang memadai untuk melaksanakan tugasnya dengan baik. Selain

itu, mentoring guru sangat memungkinkan guru yang bersangkutan

membangun jaringan (networking) dan kerja sama antar guru untuk

mengembangkan profesi secara berkelanjutan.

Barnawi dan Arifin (2014) lebih lanjut menyebutkan pelatihan teman

sebaya merupakan wahana pengembangan profesional yang berfungsi sebagai

katalisator untuk meningkatkan kinerja yang berdasar pada kesadaran dan

tanggung jawab pribadi. Pelatihan merupakan proses yang memungkinkan

terjadinya peningkatan kinerja seseorang (peserta latihan) dengan bantuan

(36)

B. Dampak Pembuatan Publikasi Ilmiah terhadap Peningkatan Kualitas Guru dalam Menjalankan Tupoksi

Salah satu jenis pengembangan keprofesian berkelanjutan adalah

publikasi ilmiah berupa hasil penelitian atau gagasan ilmu bidang pendidikan

formal. Karya tulis ilmiah guru dapat dipublikasikan dalam bentuk laporan

hasil penelitian atau laporan/ gagasan ilmiah yang ditulis berdasar pada

pengalaman dan sesuai dengan tugas pokok serta fungsi guru (Kemdikbud,

2016).

Dampak yang dihasilkan dari jenis pengembangan keprofesian

berkelanjutan publikasi ilmiah yang dilakukan guru sangat berkaitan dengan

salah satu standar kompetensi yang harus dimiliki tenaga pendidik. Merujuk

pada Permendiknas RI Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi

Akademik dan Kompetensi Guru disebutkan bahwa salah satu kompetensi

yang harus dimiliki tenaga pendidik adalah kompetensi profesional.

Salah satu kompetensi inti yang dikembangkan dari kompetensi

profesional guru adalah “Mengembangkan keprofesionalan secara

berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif.” Kompetensi inti tersebut dijabarkan ke dalam empat kompetensi, yaitu: (1) Melakukan refleksi terhadap

kinerja sendiri secara terus menerus; (2) Memanfaatkan hasil refleksi dalam

rangka peningkatan keprofesionalan; (3) Melakukan penelitian tindakan kelas

untuk peningkatan keprofesionalan; dan (4) Mengikuti kemajuan zaman

dengan belajar dari berbagai sumber.

Atas dasar hal tersebut, karya tulis ilmiah sebagai suatu karya yang

memuat dan mengkaji suatu masalah tertentu dengan menggunakan

kaidah-kaidah keilmuan, menjadi salah satu tolok ukur kemampuan guru dalam

melaksanakan kompetensi profesional tersebut. Kaidah keilmuan yang

dimaksud bahwa karya ilmiah menggunakan metode ilmiah di dalam

membahas permasalahan, menyajikan kajian dengan menggunakan bahasa

(37)

bersifat objektif, logis, empiris, sistematis, lugas, jelas dan konsisten (Prayitno,

dkk. 2001).

Pandangan tersebut sesuai dengan pendapat Daryanto (2013) yang

menyebutkan bahwa publikasi ilmiah adalah karya tulis ilmiah yang telah

dipublikasikan kepada masyarakat sebagai bentuk kontribusi guru terhadap

peningkatan kualitas proses pembelajaran di sekolah dan pengembangan dunia

pendidikan secara umum. Publikasi ilmiah meliputi 3 kelompok yaitu: 1)

presentasi pada forum ilmiah, 2) publikasi ilmiah berupa hasil penelitian atau

gagasan ilmu bidang pendidikan formal, 3) publikasi buku teks pelajaran, buku

pengayaan, dan atau pedoman guru. Dalam presentasi forum ilmiah guru

menjadi narasumber dalam kegiatan seminar, lokakarya, koloqium, diskusi

ilmiah baik tingkat regional, nasional, maupun internasional. Dalam publikasi

ilmiah, guru menghasilkan penelitian atau makalah sesuai bidang pendidikan

yang telah dipublikasikan dalam bentuk jurnal ilmiah. Selain itu, guru juga

membuat buku pelajaran, modul pembelajaran, buku dalam bidang pendidikan,

karya terjemahan, dan buku pedoman guru. Buku tersebut harus tersedia di

perpustakaan sekolah tempat guru bertugas.

C. Dampak Penyusunan Karya Inovatif terhadap Peningkatan Kualitas Guru dalam Menjalankan Tupoksi

Salah satu jenis pengembangan keprofesian berkelanjutan adalah

pembuatan karya inovatif. Karya inovatif yang dapat disusun guru terdiri atas

empat kelompok, yakni: (1) menemukan teknologi tepat guna; (2) menemukan/

membuat karya sastra; (3) membuat/ memodifikasi Alat Pelajaran/Peraga/

Praktikum; dan (4) mengikuti pengembangan penyusunan standar, pedoman,

soal, dan sejenisnya (Kemdikbud, 2016).

Kegiatan pengembangan profesi berkelanjutan melalui pembuatan

karya inovatif diatur lebih melalui (PermenPAN & RB) Nomor 16 Tahun 2009,

guru yang ingin naik jenjang menjadi golongan III-b ke atas, wajib karya tulis,

pasalnya regulasi yang dibebankan kepada guru untuk kenaikan pangkat karya

(38)

Dampak yang dihasilkan dari jenis pengembangan keprofesian

berkelanjutan melalui pembuatan karya inovatif yang dilakukan guru sangat

berkaitan dengan salah satu standar kompetensi yang harus dimiliki tenaga

pendidik. Berdasarkan Permendiknas RI Nomor 16 Tahun 2007 tentang

Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru disebutkan bahwa salah

satu kompetensi yang harus dimiliki tenaga pendidik adalah kompetensi

profesional. Atas dasar hal tersebut, karya inovatif, menjadi salah satu tolok

ukur kemampuan guru dalam melaksanakan kompetensi profesional tersebut.

Pengembangan keprofesian berkelanjutan melalui penyusunan karya

inovatif tersebut mendukung tupoksi guru. Hal ini sejalan dengan amanat

Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi

Birokrasi Nomor 6 Tahun 2009 Tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka

Kreditnya.

Karya inovatif adalah karya yang bersifat pengembangan, modifikasi

atau penemuan baru sebagai kontribusi guru terhadap peningkatan kualitas

proses pembelajaran di sekolah dan pengembangan dunia pendidikan. karya

inovatif dapat berupa penemuan teknologi tepat guna, penemuan atau

pengembangan karya seni, pembuatan atau modifikasi alat pelajaran atau

peraga atau praktikum, penyusunan standar, pedoman, soal dan sejenisnya pada

tingkat nasional maupun provinsi (Daryanto, 2013). Seorang guru dapat

membangun program pembelajaran yang unik terkait pembelajaran hal tertentu

sebagai bentuk karya inovatif dalam strategi pengembangan keprofesian

berkelanjutan. Guru sebagai individu yang selalu harus berinovasi dan

meningkatkan kapasitas pembelajaran akan menjadikan guru kreatif, inovatif,

(39)

33

Aqib, Zainal & Elham Rahmanto. 2007. Membangun Profesionalisme Guru dan Pengawas Sekolah. Bandung: Yrama Widya.

Barnawi & Arifin. 2014. Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Bagi Guru. Yogyakarta: Penerbit Gava Media.

Daryanto. 2013. Guru Profesional. Yogyakarta: Penerbit Gava Media.

Kemdikbud. 2016. Buku 4: Pedoman Kegiatan Pengembangan Keprofesian

Berkelanjutan Bagi Guru Pembelajar. Jakarta: Ditjen Guru dan Tendik

Kemdikbud RI.

Mardapi, Djemari. 2012. “Strategi Meningkatkan Profesionalisme Guru.”

Makalah. Disampaikan pada Seminar Regional Pendidikan Pusat Kajian

dan Advokasi Pendidikan Yogyakarta19 Januari 2012.

Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 6 Tahun 2009 Tentang Jabatan Fungsional Guru dan

Angka Kreditnya.

Peraturan Pemerintah No. 74 Tahun 2008 tentang Guru.

Permendiknas No. 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru.

Permendiknas No. 35 Tahun 2010 tentang Petunjuk Teknis Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya

Prayitno, Harun Djoko. dkk. 2001. Pembudayaan Penulisan Karya Ilmiah. Surakarta: Muhammadiyah University Press

Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Undang-Undang Republik Indonesia No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen. Bandung: Citra Umbara.

Gambar

Tabel 4.1

Referensi

Dokumen terkait

Yang dimaksud dengan pelaksanaan perjanjian masih mungkin untuk dilakukan adalah berhentinya kewajiban debitur bersifat sementara dikarenakan debitur berhenti bekerja

Sedangkan Jumadi/ sejak tiga puluh tahun yang lalu bertani bunga/ khususnya bunga mawar// Lima bulan sekali Jumadi panen// Lebih dari 40 ribu bunga mawar terjual// Dia tidak

Di SDN Panjerejo III sekolah yang terletak di Kecamatan Rejotangan yang secara wilayah adminitratif terletak didaerah pinggiran, dalam pembelajaran olahraga juga menerapkan

Penggunaan protokol sinkronisasi yang berbeda pada kerbau betina yang sudah beranak memberikan perbedaan yang nyata pada intensitas estrus, kecepatan munculnya

Pengertian penyelenggara Pemilu menurut Undang Undang tentang Penyelenggara Pemilu adalah lembaga yang menyelenggarakan Pemilu yang terdiri atas KPU dan Bawaslu

Lanjut usia (lansia) merupakan tahap terakhir dalam kehidupan manusia. Lansia merupakan proses yang terjadi secara alami pada setiap individu dimana dalam setiap

Dalam pelaksanaan pembelajaran, guru perlu melakukan langkah-langkah dalam bercerita menggunakan boneka tangan antara lain menata tempat dan alat main yang aman dan nyaman bagi

Instrumen yang digunakan pada penelitian ini menggunakan Skala Likert (skala kontrol diri dan intensi merokok) dan uji statistik yang digunakan non- parametris