BAB I PENDAHULUAN
Sesuai teori demokrasi klasik pemilu adalah sebuah "Transmission of Belt" sehingga kekuasaan yg berasal dari rakyat bisa bergeser menjadi kekuasaan negara yg kemudian berubah bentuk menjadi wewenang pemerintah untuk melaksanakan pemerintahan dan memimpin rakyat. Berikut adalah pendapat beberapa para ahli tentang pemilihan umum: Moh. Kusnardi & Harmaily Ibrahim - Pemilihan umum merupakan sebuah cara untuk memilih wakil-wakil rakyat. oleh karenanya bagi sebuah negara yang mennganggap dirinya sebagai negara demokratis, pemilihan umum itu wajib dilaksanakan dalam periode tertentu. Bagir Manan - Pemilhan umum yang diselenggarakan dalam periode lima 5 tahun sekali adalah saat ataupun momentum memperlihatkan secara langsung dan nyata pemerintahan oleh rakyat.
Ketika pemilihan umum itulah semua calon yang bermimpi duduk sebagai penyelenggara negara dan juga pemerintahan bergantung sepenuhnya pada kehendak atau keinginan rakyatnya. Sistem Pemilihan Umum merupakan metode yang mengatur serta memungkinkan warga negara memilih/mencoblos para wakil rakyat diantara mereka sendiri. Metode berhubungan erat dengan aturan dan prosedur merubah atau mentransformasi suara ke kursi di parlemen. Mereka sendiri maksudnya adalah yang memilih ataupun yang hendak dipilih juga merupakan bagian dari sebuah entitas yang sama. Terdapat bagian-bagian atau komponen-komponen yang merupakan sistem itu sendiri dalam melaksanakan pemilihan umum diantaranya:
Sistem hak pilih.
Sistem pembagian daerah pemilihan. Sistem pemilihan
Bidang ilmu politik mengenal beberapa sistem pemilihan umum yang berbeda-beda dan memiliki cirikhas masing-masing akan tetapi, pada umumnya berpegang pada dua prinsip pokok, yaitu: Sistem Pemilihan Mekanis Pada sistem ini, rakyat dianggap sebagai suatu massa individu-individu yang sama. Individu-individu inilah sebagai pengendali hak pilih masing-masing dalam mengeluarkan satu suara di tiap pemilihan umum untuk satu lembaga perwakilan. Kedua Sistem pemilihan Organis Pada sistem ini, rakyat dianggap sebagai sekelompok individu yang hidup bersama-sama dalam beraneka ragam persekutuan hidup. Jadi persekuuan-persekutuan inilah yang diutamakan menjadi pengendali hak pilih.
Sementara itu ada semacam kartelisasi dalam sistem pemilu Indonesia saat iini sehingga memungkinkan setiap partai politik mengeruk keuntungan dalam negara. Artinya dalam paham kartel ini, negara dianggap sebagai satu komoditas yang dikeruk keuntungannya untuk kepentingan partai politik maupun individu.
Daniel Dhakidae memiliki penekanan yang berbeda dalam membahas kartel politik ini. Menurutnya "kartel" adalah istilah yang sangat formal dan dikenal dalam konsep ekonomi. Kartel bertujuan mengontrol sesuatu misalnya tujuan mengontrol harga. Kartel hanya hidup dalam masyarakat kapitalis. Telah terjadi transmutasi istilah kartel dari konsep ekonomi ke konsep politik. Sebenarnya oligarkhi merupakan tempat asal muasal kartel dalam konsep politik. Konsep mengenai oligarkhi ini telah berumur seratus tahun lebih dan memiliki ruang yang lebih besar dan luas dari pada kartel. Sistem politik di Indonesia memungkinkan semua partai membentuk oligarkhi dan makin lama praktek-praktek ini makin menguat, sehingga gejala yang muncul memperlihatkan kecenderungan hanya pihak yang mengontrol kapital yang akan mendapatkan suara.
Rumusan Masalah
2. Bagaimana dampak dari politik kartel terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara?
BAB II PEMBAHASAN Sistem Pemilihan Umum di Indonesia
Bangsa Indonesia telah menyelenggarakan pemilihan umum sejak zaman kemerdekaan. Semua pemilihan umum itu tidak diselenggarakan dalam kondisi yang vacuum, tetapi berlangsung di dalam lingkungan yang turut menentukan hasil pemilihan umum tersebut. Dari pemilu yang telah diselenggarakan juga dapat diketahui adanya usaha untuk menemukan sistem pemilihan umum yang sesuai untuk diterapkan di Indonesia.
1. Zaman Demokrasi Parlementer (1945-1959) Pada masa ini pemilu diselenggarakan oleh kabinet BH-Baharuddin Harahap (tahun 1955). Pada pemilu ini pemungutan suara dilaksanakan 2 kali yaitu yang pertama untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat pada bulan September dan yang kedua untuk memilih anggota Konstituante pada bulan Desember. Sistem yang diterapkan pada pemilu ini adalahsistem pemilu proporsional. Pelaksanaan pemilu pertama ini berlangsung dengan demokratis dan khidmat, Tidak ada pembatasan partai politik dan tidak ada upaya dari pemerintah mengadakan intervensi atau campur tangan terhadap partai politik dan kampanye berjalan menarik. Pemilu ini diikuti 27 partai dan satu perorangan. Akan tetapi stabilitas politik yang begitu diharapkan dari pemilu tidak tercapai. Kabinet Ali (I dan II) yang terdiri atas koalisi tiga besar: NU, PNI dan Masyumi terbukti tidak sejalan dalam menghadapi beberapa masalah terutama yang berkaitan dengan konsepsi Presiden Soekarno zaman Demokrasi Parlementer berakhir.
10 parpol. Pada periode Demokrasi Terpimpin tidak diselanggarakan pemilihan umum.
3. Zaman Demokrasi Pancasila (1965-1998) Setelah turunnya era Demokrasi Terpimpin yang semi-otoriter, rakyat berharap bisa merasakan sebuah sistem politik yang demokratis & stabil. Upaya yang ditempuh untuk mencapai keinginan tersebut diantaranya melakukan berbagai forum diskusi yang membicarakan tentang sistem distrik yang terdengan baru di telinga bangsa Indonesia. Pendapat yang dihasilkan dari forum diskusi ini menyatakan bahwa sistem distrik dapat menekan jumlah partai politik secara alamiah tanpa paksaan, dengan tujuan partai-partai kecil akan merasa berkepentingan untuk bekerjasama dalam upaya meraih kursi dalam sebuah distrik. Berkurangnya jumlah partai politik diharapkan akan menciptakan stabilitas politik dan pemerintah akan lebih kuat dalam melaksanakan program-programnya, terutama di bidang ekonomi. Karena gagal menyederhanakan jumlah partai politik lewat sistem pemilihan umum, Presiden Soeharto melakukan beberapa tindakan untuk menguasai kehidupan kepartaian. Tindakan pertama yang dijalankan adalah mengadakan fusi atau penggabungan diantara partai politik, mengelompokkan partai-partai menjadi tiga golongan yakni Golongan Karya (Golkar), Golongan Nasional (PDI), dan Golongan Spiritual (PPP). Pemilu tahun1977 diadakan dengan menyertakan tiga partai, dan hasilnya perolehan suara terbanyak selalu diraih Golkar.
mengatur bahwa partai politik yang berhak mengikuti pemilu selanjtnya adalah parpol yang meraih sekurang-kurangnya 2% dari jumlah kursi DPR. Partai politikyang tidak mencapai ambang batas boleh mengikuti pemilu selanjutnya dengan cara bergabung dengan partai lainnya dan mendirikan parpol baru. Parlementary threshold dapat dinaikkan jika dirasa perlu seperti persentasi Electroral Threshold 2009 menjadi 3% setelah sebelumnya pemilu 2004 hanya 2%. Begitu juga selanjutnya pemilu 2014 ambang batas bisa juga dinaikan lagi atau diturunkan.
Pemilu dianggap sebagai bentuk paling riil dari demokrasi serta wujud paling konkret keiktsertaan(partisipasi) rakyat dalam penyelenggaraan negara. Oleh sebab itu, sistem & penyelenggaraan pemilu hampir selalu menjadi pusat perhatian utama karena melalui penataan, sistem & kualitas penyelenggaraan pemilu diharapkan dapat benar-benar mewujudkan pemerintahan demokratis. Pemilu sangatlah penting bagi sebuah negara, dikarenakan:
Pemilu merupakan sarana perwujudan kedaulatan rakyat.
Pemilu merupakan sarana bagi pemimpin politik untuk memperoleh legitimasi.
Pemilu merupakan sarana bagi rakyat untuk berpartisipasi dalam proses politik.
Pemilu merupakan sarana untuk melakukan penggantian pemimpin secara konstitusional.
Kartelisasi Partai Politik
ini adalah partai-partai politik telah mengembangkan satu pola kerja sama yang serupa dengan sistem kepartaian yang terkartelisasi. Kebutuhan partai-partai politik di era reformasi atas perburuan rente (rent-seeking) di sumber-sumber dana non-bujeter mengakibatkan terbentuknya dan langgengnya sistem partai yang terkartelisasi (cartelized party system).
Seiring berjalannya waktu, pola koalisi yang muncul di Indonesia pasca runtuhnya Orde Baru cenderung mengarah pada kartelisasi sistem kepartaian. Perlu digarisbawahi bahwa fenomena kartelisasi tidak selesai hanya pada beberapa partai politik tertentu, namun juga menjangkau hampir semua (jikalau tidak semua) partai politik di tanah air. Akibat kartelisasi, partai politik menjadi kehilangan ideologi dan program, mudah bergonta-ganti arah kebijakan, dan pola koalisi yang dibangun pun cenderung bersifat serbaboleh (promiscuous) dan turah (oversized). Sebenarnya dalam konteks theory building atau kontribusi teoretik dalam studi-studi tentang kartelisasi dan sistem kepartaian kontribusi buku ini cenderung minim; buku ini sekedar memberi tambahan dukungan empirik terhadap thesis-nya Katz dan Mair tentang kartelisasi partai.
Pertama, kartelisasi tidak hanya terjadi pada satu atau dua partai namun juga terjadi pada sistem kepartaian secara kesuluruhan. Kedua, dalam konteks Indonesia, penyebab utama kartelisasi bukanlah perburuan rente atas dana ‘legal’ atau bujeter melainkan atas dana ‘bawah tangan’, ‘bawah meja’ atau non-bujeter. Saat ini, semakin terlihat dilema-dilema yang akan dihadapi partai, politisi dan publik di dalam sistem demokrasi dan logika politik elektoral. Pertama, karya klasik Przeworski dan Sprague (1986), Paper Stones, adalah sebuah contoh baik tentang bagaimana partai dengan militansi yang tangguh, yaitu partai-partai Kiri, Buruh, Sosialis dan Sosial-Demokrat di Eropa Barat, terpaksa harus “memoderasi” agenda-agenda politiknya setelah memasuki laga politik elektoral. Begitupun juga partai-partai Kanan seperti partai Kristen Demokrat, sebagaimana digambarkan oleh Stathis Kalyvas (1996).
Indonesian Multy Party System; A Cartelized Party System and Its Origin, dari The Ohio State University tahun 2008. Disertasi tersebut dipublikasikan dalam buku berjudul Mengungkap Politik Kartel. Pemotretan terhadap dinamika politik kepartaian itu tidak hanya berhenti dalam kontestasi politik pemilu legislatif dan pemilu presiden saja, tetapi jauh memasuki bagian terdalam dari ranah kekuasaan, dimana disetiap sudut kekuasaan (DPR juga Pemerintah) partai politik memainkan peran penting dalam rangka memperebutkan sumberdaya politik dan ekonomi.
Keterlibatan partai politik dalam setiap sudut ruang kekuasaan tersebut sebagai bagian yang sangat penting bagi mereka untuk menjaga kelangsungan hidup partai, sekaligus menjaga keseimbangan kekuasaan. Era reformasi terjadi perubahan perilaku partai politik yang secara signifikan pada akhirnya merubah sistem kepartaian di Indonesia. Perubahan perilaku partai politik tersebut berkaitan dengan faktor-faktor kepentingan setiap partai berkaitan dengan sumber daya kekuasaan dan ekonomi yang menarik perhatian seluruh partai politik untuk terlibat dan saling berinteraksi untuk mendapatkan bagian dari proses bagi-bagi kekuasaan dan keuntungan ekonomi dalam setiap keputusan politik pemerintah maupun lembaga legislatif.
Hal tersebut pada akhirnya melahirkan sikap-sikap dari partai politik itu sudah tidak lagi memperbincangkan sesuatu yang bersifat ideologis kepartaian. Isu-isu ideologis hanya bersifat pinggiran dalam struktur kekuasaan, tergeser oleh perbincangan politik yang lebih konkrit berkaitan dengan kepentingan pembagian kekuasaan dan sumber daya ekonomi. Ideologi kepartaian hanya menjadi isu menonjol dalam arena pertarungan politik memperebutkan suara pemilih pada saat pemilu saja. Setelah pesta pemilu, partai politik segera melakukan penyesuaian diri di dalam lingkungan struktur politik yang mengakomodasi berbagai kepentingan partai untuk masuk ke dalam pusat-pusat kekuasaan.
dalam sistem itu (Budiardjo, 2008: 415). Kiranya perlu dilakukan kajian kritis (review) terhadap hasil dari temuan studi sistem kepartaian ini, oleh karena ada beberapa hal yang masih perlu dilakukan klarifikasi dan pengujian ulang terhadap temuan-temuan tersebut. Utamanya berkaitan dengan apa yang disebut dengan analisa sistem kepartaian tersebut. Pertama, pada level interaksi antar partai, mengandaikan adanya aktor atau agen-agen partai politik yang berperan menjadi wakil partai, mewakili sebuah struktur partai. Artinya perlu dibicarakan bagaimana dengan peran agen dalam kontek sistem itu.
Kedua, pada level partai politik, adanya agen politik dan struktur politik dalam partai politik, memiliki dinamikanya sendiri interaksi antar agen dan agen dengan struktur partai. Diskusi di dalam partai mencakup nilai-nilai yang disepakati bersama sebagai ideologi menjadi landasan terbentuknya partai dan berfungsi sebagai “jantung” hidup-matinya partai itu. Sebagaimana para sarjana ilmu politik mendefiniskan tentang partai politik bahwa pentingnya nilai-nilai (ideologi) itu sebagai daya gerak partai. Ideologi juga menjadi kajian tersendiri dalam ilmu politik. Tumbuhnya politik kartel menandai berakhirnya ideologi partai. Sebagimana Daniel Bell mempunyai kesimpulan bahwa kemenangan kapitalisme menandai berakhirnya ideologi (the end of ideology) dan Fukuyama menambahkan bahwa pada tahap berikutnya menjadi kemenangan demokrasi liberal menandai berakhirnya sejarah (the end of history).
politik itu. Studi tentang perubahan sistem kepartaian ini menjadi kebutuhan bagi upaya penyempurnaan teoritis dan upaya perbaikan kepartaian secara praktis.
Dengan demikian ketiga hal tersebut mempunyai signifikansi dalam upaya review ini. Berakhirnya kekuasaan rezim orde baru (1998) menandai terbukanya kebebasan politik dan saluran-saluran politik, serta partai politik untuk memobilisasi semua cleavage tersebut. Era demokratisasi itu membawa dampak bagi terbentuknya sistem kepartaian baru dengan dasar persaingan politik dengan memobilisasi ketikg cleavage tersebut. (Ambardi, 2008: 91-92). Paska lengsernya kekuasaan Soeharto (1998), maka kebutuhan berikutnya adalah menata aturan main untuk membangun sistem politik baru melalui pemilu yang adil dan demokratis. Akhirnya disusunlah beberapa kebutuhan-politik sebagai aturan main dalam pemilu, meliputi penyelenggara pemilu, peserta pemilu dan keterlibatan warga dalam pemilu.
Netralitas militer dan korps pegawai negeri sipil menjadi bagian yang dituntaskan. Demikian pula adanya jaminan kebebasan ideologi sebagai basis kepentingan kolektif digunakan sebagai asas partai diakomodasi dengan baik. Hal lain yang menempati porsi besar adalah diakomodasinya kepentingan daerah. Dengan diakomodasinya kepentingan daerah, maka partai-partai politik ideologis mengalami kesulitan untuk melakukan mobilisasi cleavage kedaerahan. (Ambardi, 2008: 123). Arena politik dalam pemilu 1999 diwarnai persaingan antara dua kubu ideologis: Islam dan sekuler. Terjadi pertarungan yang sangat keras antara golongan Islam dan sekuler tersebut. Menurut Ambardi sistem kepartaian di Indonesia bergerak kearah system kepartaian yang terkartelisasi dengan beberapa bukti.
ideologis pada saat pemilu bergerak kearah kerjasama antar partai dalam rangka meraih sumber daya politik kekuasaan dan sumber daya ekonomi demi keuntungan pragmatis masing-masing partai politik.
Kedua, adanya migrasi ideologis yang dilakukan secara kolektif oleh partai-partai politik, dimana mereka bertindak secara kolektif sebagai satu kelompok dan secara kolektif meninggalkan program-program partai mereka, terjadi perubahan komitmen politik dari komitmen populis ke komitmen pro-pasar. Sistem kepartaian yang terkartelisasi ini juga menemukan bentuknya kembali dalam medan politik pemilu 2004. Meski masih tetap muncul adanya isu ideologis dalam pemilu legislatif, hingga tahap pertama pilres 2004, namun ketika masuk pilpres tahap kedua dan dalam arena politik penyusunan kabinet, semua partai secara berkelompok pula memperjuangkan kepentingan politik, posisinya masing-masing untuk memperoleh jabatan dalam kabinet. Upaya kolektif partai-partai ini terus berhasil dan semakin menemukan bentuknya dalam sebuah system politik kartel dan terabaikannya program-program ideologis partai. (Ambardi, 2008: 235, 281).
Ketiga, partai-partai politik secara meyakinkan dalam beberapa hal mengabaikan “ideologi kepartaian” yang telah digembor-gemborkan menjadi lansdasan perjuangan, namun dalam tataran praktik politik partai-partai politik “mengakhianati” ideologi partainya oleh karena kepentingan yang bersifat politik dan ekonomi. Berkaitan dengan kepentingan ekonomi, seluruh partai politik berkepentingan terlibat dalam proses politik dalam DPR maupun pemerintahan untuk memperoleh sumber daya ekonomi sebagai “amunisi” bagi mesin partai politik tersebut. Hal ini sekaligus dapat dikatakan menandai berakhirnya ideologi kepartaian menuju kerjasama.
Selubung Kartel Partai Politik
peta politik pemilu 1955. Euforia pendirian parpol tidak bisa dilepaskan dari keterkekangan sejak tahun 1975, melalui UU No 3/1975, lalu diubah dengan UU No 3/1985 tentang Partai Politik dan Golongan Karya. Peserta pemilu hanya parpol PPP dan PDI serta Golkar. Berdasarkan UU No 2 Tahun 1999 tentang Partai Politik, di Departemen Kehakiman tercatat 93 parpol, namun hanya 48 parpol yang bisa mengikuti pemilu 7 Juni 1999.
Jumlah parpol makin meningkat menjelang pemilu 2004, yakni mencapai 237. Kemudian, berkurang menjadi 50 dan hanya 24 yang ikut mengikuti pemilu 2004. Pada pemilu 2009, peserta pemilu menjadi 38 dan 4 partai lokal. Sedangkan pada 2014 ini, terdapat 12 parpol dan 3 partai lokal. Reformasi juga memper-banyak ideologi partai, tak hanya Pancasila. Berdasar ideologi, parpol tak hanya mencantumkan Pancasila sebagai tujuan dan cita-cita. Ditilik dari warnanya, ideologi partai pada pemilu 2004 dapat dipilah menjadi enam bagian. Ideologi disusun dengan maksud menarik konstituen. Tetapi dalam praktik, hanya cantolan artifisial tanpa implementasi. Begitu pertarungan dan penggalangan suara usai, kompetisi dengan sendirinya tutup buku.
Semua ingin terlibat dalam penyusunan dan pembentukan pemerintahan. Koalisi dibangun. Ideologi tak jadi soal. Aroma kepentingan kekuasaan terasa lebih kental daripada persaingan. Ideologi, program, dan platform tak lagi menjadi penghalang dalam membangun pemerintahan kuat. Partai-partai yang kalah berusaha merapat ke pemenang. Sebaliknya, para pemenang, demi stabilitas pemerintahan, menggandeng seluruh stakeholder yang hendak bergabung. Ideologi telah dikesampingkan, bahkan mati. Kepentingan, kekuasaan, dan jabatan lebih nyaman dipilih. Bahkan, posisi oposisi tidak dipilih secara tegas oleh parpol yang mengatasnamakan oposisi, nyaris tanpa oposisi berarti. Seluruh faktor persaingan luruh.
suara. Pemilu pertama reformasi tahun 1999 sebetulnya juga telah mengindikasikan berakhirnya tipologi partai ideologis, elite, dan massa. Sebagai gantinya, muncul partai lintas kelompok, catch-all party. Pemilihan langsung membuat partai harus bisa meraup suara berbagai kelompok. Tak ada yang benar-benar berbasis ideologis. Dalam konteks Indonesia, basis-basis ideologis yang sedang diusung parpol seperti digembar-gemborkan tidak lebih sekadar cara menarik suara.
Ada yang menilai parpol sejak reformasi bergulir telah membangun sistem mirip kartel, antara lain ditandai dengan hilangnya peran idelogi partai sebagai penentu koalisi, sikap permisif pembentukan partai, ketiadaan oposisi, hasil-hasil pemilu yang hampir-hampir tidak berpengaruh dalam menentukan perilaku parpol, serta kecenderungan partai bertindak secara kolektif. Tak ada ruang penga-deran. Kepemimpinan partai hanya beredar pada elite-elite tertentu, pemilik modal, atau anak biologis pendiri partai. Kartelisasi sangat erat kaitanya dengan tumbuhnya oligarki dalam tubuh partai. Hal itu makin nyata ketika parpol dipimpin segelintir elite dengan legitimasi kekuasaan sangat besar. Legitimasi lain karena karisma, pendukung fanatik, kekuatan modal, manajemen yang baik.
Modal finansial juga telah menjadi panglima. Akibatnya, ketika oligarki telah tumbuh subur, parpol hanya dijadikan kendaraan politik untuk meraih kekuasaan. Kekuasaan selanjutnya bukan sebagai lahan pengabdian, melainkan sarana mencari penghasilan, pengamanan bisnis, dan penguatan kelompok. Akhir-nya elite partai yang memiliki kewenangan lebih menyelewengkan kekuasaan untuk kepentingan sendiri. Watak kartel dalam tubuh partai-partai makin mengemuka bila dianalisis dari penerapan sistem presidensial dengan multipartai. Secara teoretis, multipartai sangat tidak memungkinkan. Kemungkinan kemacetan antara legislatif dan eksekutif sangat besar. Deadlock akan sangat sering terjadi, apalagi di tengah perbedaan ideologi partai-partai di parlemen.
ada kekuatan tersembunyi yang mengatur gerak kebijakan parpol, yaitu pemimpin-pemimpin partai yang bisa terhubung dalam satu kepentingan kekuasaan ansich. Kartelisasi yang tumbuh bersama dengan oligarki dalam tubuh partai-partai menyiratkan ada sesuatu di baliknya. Tak sekadar kepentingan kekuasaan, perebutan konstituen, massa, dan kepemimpinan, tetapi merembet pada aset-aset ekonomi, yang berkaitan erat dengan sumber-sumber pendapatan dan bisnis.
BAB III KESIMPULAN
Partai politik seharusnya menjalankan fungsi-fungsinya, seperti menjadi pusat pendidikan politik warga negara. Pendidikan politik seharusnya bertujuan menciptakan pemahaman ide atau gagasan politik dalam konteks bernegara. Dari pendidikan politik inilah seharusnya anggota partai politik diasah sense of humanity dan rasa memiliki bangsanya. Agar tindakan ketika dipercaya memegang jabatan-jabatan publik sesuai dengan aspirasi atau kehendak rakyat yang diwakili. Selain itu pendidikan politik adalah strategi mempertajam ideologi para anggotanya.
Fungsi partai politik lain yang tidak berjalan adalah Kaderisasi. Program pelatihan dan kaderisasi partai sangat penting. Hal ini disebabkan tidak mungkin partai politik modern hanya mengandalkan satu atau dua orang figur untuk membesarkan partai politiknya. Selain itu kaderisasi juga disiapkan untuk mendorong pemimpin besar lahir dari rahim partai. Kegagalan kaderisasi partai politik di Indonesia hari ini terlihat dengan masih sedikitnya jumlah caleg atau calon kepala daera berusia muda dan bergagasan baru. Kita masih menyaksikan muka-muka lama bertarung merebut kekuasaan politik, walaupun dengan gamblang periode kepemimpinan sebelumnya mereka tidak melakukan hal-hal besar untuk kepentingan rakyat. Selain itu fungsi kaderisasi partai politik bermanfaat mengisi kepemimpinan di internal partainya. Banyak partai politik yang mekanisme organisasinya tidak berjalan karena gagalnya kaderisasi
persoalan disfungsinya partai politik secara ideal. Melahirkan proses dan hasil pemilu yang tidak berkualitas. Ketika kampanye jualannya bukan gagasan yang diberikan kepada rakyat dan negara, melainkan hanya ajakan-ajakan kosong diisi hiburan tidak mendidik. Kondisi ini semakin diperparah dengan pragmatisnya sikap warga terhadap politik, orang baik dalam partai politik disamakan bandit-bandit politik. Mereka mau tergerak jika dibayar untuk menghadiri kampanye atau memilih.
Masalah lainnya pemilu di Indonesia saat ini mempunyai cost politik tinggi. Bahkan tingginya ongkos politik diperparah dengan diamininya sistem pemilihan umum terbuka menggunakan nomor urut. Para calon legislatif yang bertarung saling jegal bukan hanya dengan pesaingnya di partai lain, bahkan rekannya satu partai harus disikatnya untuk merebutkan kursi anggota dewan. Sistem terbuka dengan no urut digunakan karena kegagalan partai politik untuk menjalankan fungsinya, secara khusus Kaderisasi.
oligarkhi terlibat dalam kapital, oleh karena itu kasus-kasus besar tidak akan selesai karena saling menutupi.
DAFTAR PUSTAKA
Ambardi, K. (2009). Mengungkap Politik Kartel: Studi tentang Sistem Kepartaian di Indonesia Era Reformasi. Jakarta: Penerbit KPG
Duverger, Maurice. (1981). Partai Politik dan Kelompok-kelompok penekan. Yogyakarta : BINA AKSARA.
Dahl, Robert. (1994). Analisis Politik Modern. Jakarta : BUMI AKSARA.
Kurnia, Ferry. (2007). Mengawal Pemilu, Menatap Demokrasi. Bandung : Idea Publishing.
http://www.harianhaluan.com/index.php/opini/29275-selubung-kartel-parpol
http://politik.kompasiana.com/2014/04/10/analisa-kegagalan-fungsi-partai-politik-hubungannya-dengan-pemilu-2014-646343.html