• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISA PENGARUH PEMBANGUNAN GEDUNG GEDU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ANALISA PENGARUH PEMBANGUNAN GEDUNG GEDU"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISA PENGARUH PEMBANGUNAN GEDUNG-GEDUNG BERTINGKAT DI DIY TERHADAP KEADAAN LINGKUNNGAN DI SEKITAR

(Bagus Subkhan)

Pendahuluan

Daerah Istimewa Yogyakarta atau biasa disingkat dengan DIY adalah salah satu daerah otonom setingkat provinsi yang ada di Indonesia. Status sebagai Daerah Istimewa memiliki hubungan erat dengan runtutan sejarah berdirinya provinsi ini, baik sebelum maupun sesudah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Menurut Babad Gianti, Yogyakarta atau Ngayogyakarta (bahasa Jawa) adalah nama yang diberikan Paku Buwono II (raja Mataram tahun 1719-1727) sebagai pengganti nama pesanggrahan Gartitawati. Yogyakarta berarti Yogya yang kerta, Yogya yang makmur, sedangkan Ngayogyakarta Hadiningrat berarti Yogya yang makmur dan yang paling utama. Sumber lain mengatakan, nama Yogyakarta diambil dari nama (ibu) kota Sanskrit Ayodhya dalam epos Ramayana. Dalam penggunaannya sehari-hari, Yogyakarta lazim diucapkan Jogja(karta) atau Ngayogyakarta (bahasa Jawa).

Pada saat Proklamasi Kemerdekaan RI, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII mengetok kawat kepada Presiden RI, menyatakan bahwa Daerah Kasultanan Yogyakarta dan Daerah Pakualaman menjadi bagian wilayah Negara Republik Indonesia, serta bergabung menjadi satu mewujudkan satu kesatuan Daerah Istimewa Yogyakarta. Sri sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII sebagai Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah bertanggung jawab langsung kepada Presiden Republik Indonesia.1

(2)

sebagai kota perjuangan, kota kebudayaan, kota pelajar, dan kota pariwisata. Namun dengan segala predikatnya tentu Yogyakarta juga menorehkan berbagai permasalahannya.

Seperti yang telah kita ketahui bahwa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan salah satu kota besar di Indonesia dengan luas wilayah 3.185,80 km dan jumlah penduduk 3.679.176 berdasarkan sensus penduduk pada tahun 2015.2 Berdasarkan fakta tersebut, tingkat

kepadatan penduduk di wilayah D.I. Yogyakarta khususnya di wilayah kota Yogyakarta cukup padat. Dalam suatu wilayah dengan kepadatan penduduk seperti itu tentu memunculkan banyak permasalahan sosial di masyarakat, contohnya seperti masalah ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan lingkungan.

Saat ini D.I. Yogayakarta kembali di benturkan dengan gejolak pergerakan zaman yang semakin moderat dan global. Dampak dari hal tersebut cukup beragam dan kurang lebih sangat di rasakan masyarakat Yogyakarta sendiri. Mulai dari makin banyaknya pelaku ekonomi-ekonomi besar, banyaknya papan iklan berjajar di setiap pinggir jalan, dan pembangunan gedung-gedung besar berskala masif. Tanpa di sadari, tawaran-tawaran liberal sudah terlalu memikat dan menenggelamkan wajah lama Yogyakarta yang khas dengan keistimewaannya. Proyek pembangunan gedung-gedung bertingkat seakan menjadi ajang perlombaan antar pengusaha demi meraih predikat mana yang lebih mewah dan memikat konsumen mereka.

Pada tahun 2010, ada 26 hotel bintang di Kota Yogyakarta yang berdiri dan beroperasi, dengan 2.411 kamar. Jumlah ini naik pada tahun-tahun berikutnya, menjadi 31 hotel bintang dengan 2.979 kamar (2011), 37 hotel bintang dengan 3.356 kamar (2012), dan 43 hotel bintang dengan 4.002 kamar (2013). Ajaibnya, permohonan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) gedung untuk fungsi hotel kepada Dinas Perizinan Kota Yogyakarta melonjak drastis pada bulan November – Desember 2013 yang mencapai 104 aplikasi. Hingga per 31 Desember 2014, dari 104 aplikasi permohonan IMB itu, 77 di antaranya sudah diterbitkan dan proses membangun telah dimulai. Berdasarkan data Skyscrapercity Forum Indonesia sudah ada 55 bangunan bertingkat di atas enam hingga 18 lantai yang ada di Yogyakarta. Dari 55 bangunan tertinggi di Yogyakarta 33 di antaranya adalah hotel dan apartemen. Lima besar bangunan tertinggi di Yogyakarta tersebut yakni Alana Hotel at Mataram City 18 lantai, Alana Condotel at Mataram

(3)

City 18 lantai, Indoluxe Hotel Jogja 15 lantai, Jogja City Mall & Hotel 14 lantai dan Grand Aston Hotel 10 lantai.

Jumlah bangunan bertingkat tersebut diperkirakan akan semakin bertambah. Saat ini ada 25 bangunan bertingkat di atas delapan lantai yang sedang dalam proses pembangunan. Sementara itu bangunan tinggi yang masih dalam tahap proposal ada 16 bangunan dengan tinggi dari 10 sampai 16 lantai. Sehingga diperkirakan total akan ada 96 bangunan di atas enam lantai yang berdiri di Yogyakarta.3 Kota Yogyakarta telah berusia 260 tahun semenjak 7 Oktober 1756,

namun masih terdapat banyak hal yang perlu di benahi lagi untuk Yogyakarta yang lebih bermasyarakat.

Jika ditelaah lebih dalam, alasan pembangunan tersebut hanya mengarah pada sektor komersial. Keuntungan financial menjadi prioritas utama, yang agaknya tanpa mempertimbangkan dampak dari pembangunan yang dilakukan. Ibaratnya, ketika muncul aksi akan timbul pula reaksi. Selain memperburuk sifat konsumtif masyarakat, pembangunan mall, hotel, dan apartemen tersebut akan mengurangi daerah resapan air bahkan lahan terbuka hijau.

Dari sekian banyaknya bangunan bertingkat yang ada, hampir semuanya mengambil air langsung dari bawah tanah dimana bangunan itu berdiri untuk kebutuhan air baku usaha perhotelan. Artinya operasi hotel berpotensi pada masyarakat disekitarnya yang akan kehilangan akses dan kontrol terhadap hak atas air, kualitas dan jumlah air. Air merupakan kebutuhan dasar manusia yang sangat penting bagi keberlangsungan hidup, tanpa tercukupinya kebutuhan air maka masyarakat tidak akan bisa untuk hidup nyaman lagi di Yogyakarta. Akibat dari adanya pembangunan gedung bertingkat secara masif tentu tidak bisa dibiarkan mengingat resiko kekeringan yang akan terjadi cukup besar.

Ciri khas dan ikon – ikon Yogyakarta pun juga semakin dilupakan, bahkan terancam tenggelam. Coba kita lihat tugu Yogyakarta yang semakin hari semakin tenggelam tak terlihat karena kalah tinggi dengan bangunan-bangunan tinggi seperti apartemen, mall, dan hotel berbintang.

(4)

Menipisnya Lahan Bebas

Tidak dapat di pungkiri bahwa lahan bebas yang ada di Yogyakarta sekarang semakin sempit, terutama di daerah padat penduduk yang saat ini di perparah lagi dengan hadirnya bangunan gedung-gedung bertingkat yang jumlahnya sangat banyak. Lahan sendiri merupakan lingkungan fisik dan biotik yang berkaitan dengan daya dukungnya terhadap kehidupan dan kesejahteraan hidup manusia. Lingkungan fisik berupa relief atau topografi, iklim, tanah dan air, sedangkan lingkungan biotik adalah manusia, hewan, dan tumbuhan.4

Fungsi dari lahan bebas untuk keberlangsungan hidup masyarakat Yogyakarta saat ini sudah mulai di abaikan oleh pemerintah DIY itu sendiri. Terlebih ketika kita melihat ke jantung kota, padatnya penduduk diadu dengan banyaknya bangunan-bangunan bertingkat membuat keadaan lingkungan di sekitar terasa amat sangat panas ketika siang dan cukup menyiksa bagi para masyarakat yang sedang melakukan aktivitas di ruas-ruas jalan. Lahan yang seharusnya digunakan untuk lahan pertanian, tanah yang seharusnya menjadi tempat berdirinya rumah penduduk, menjadi alam lestarinya budaya – budaya lokal Yogyakarta justru semakin hari semakin terancam oleh pembangunan apartemen dan hotel berbintang.5 Pohon yang seharusnya

menyerap gas racun seperti karbondioksida dan penghasil gas oksigen yang dibutuhkan manusia semakin hari semakin lenyap tergusur oleh pohon berbentuk beton.

Pemerintah dan masyarakat seperti saling tunggu dalam menangani permasalahan tersebut, perubahan lingkungan yang semakin memburuk jika terus di biarkan bisa berakibat fatal di kemudian hari jika terus di biarkan.

Persaingan Antara Pengusaha Besar dan Kecil

Gejolak pembangunan gedung-gedung bertingkat di D.I. Yogyakarta identik dengan aksi usaha dari para pemilik modal besar. Sudah bukan rahasia lagi jika aktor yang dapat membangun gedung-gedung bertingka adalah para pemilik modal besar, terlepas dari tujuan mereka dalam melakukan kegiatan ekonomi itu untuk investasi atau hal lainnya. Keberadaan raksasa ekonomi di Yogyakarta ini sedikit banyak mempengaruhi keberadaan pemilik usaha kecil dan menengah. Hal itu di karenakan sasaran konsumen mereka relatif sama, yakni masyarakat Yogyakarta dan

4 “Defnisi Lahan”, diakses dari : www.artikelsiana.com/2014/11/pengertian-lahan -definisi-penjelasan-arti.htm , pada tanggal 13 Desember 2016

5 “Kondisi Jogja Saat Ini, Jogja Ora Didol”, diakses dari :

(5)

wisatawan lokal maupun asing. Untuk kelas masyarakat Yogyakarta sendiri, nilainya masih agak seimbang dalam memilih mana produsen yang akan mereka pilih dalam melakukan aktivitas ekonomi. Mungkin yang membedakan hanyalah mayoritas remaja dan mahasiswa lebih banyak memilih ke pelaku modal besar karena produk yang mereka tawarkan lekat dengan label kekinian. Sedangkan untuk pelaku modal kecil, lebih banyak memiliki konsumen golongan tua yang sudah sukar terhadap hal-hal yang ditawarkan oleh zaman.

Pengusaha ekonomi besar menawarkan mall, apartemen, restaurant dan lain-lain yang berkonsep moderat kepada konsumen mereka, tanpa menunjukkan sisi gelap dari adanya mereka disini. Sebenarnya bangunan-bangunan bertingkat yang telah ada tidak akan bertahan apabila mereka kehilangan konsumen. Permasalahan yang muncul lagi adalah pola perilaku konsumen di Yogyakarta saat ini justru mendukung eksistensi dari produk-produk pelaku ekonomi besar yang sebenarnya memiliki dampak buruk kedepannya untuk lingkungan sekitar.

Ketika kita mencari ini salah siapa, tentu ada banyak faktor yang melatarbelakangi munculnya pola perilaku ekonomi masyarakat yang seperti ini. Namun satu hal yang jelas, pengusaha ekonomi skala besar telah berhasil menjalankan taktinya dalam meraup konsumen secara masif, di lain sisi mereka juga berhasil menutupi kesalahan mereka yang merugikan lingkungan sekitarnya.

Resiko Bencana

(6)

Selain krisis air, banjir pun menjadi ancaman yang tidak bisa terelakan saat musim penghujan. Hal itu diakibatkan daerah resapan air yang habis untuk pembangunan hotel. Kondisi itu diperparah dengan tingkah nakal sejumlah hotel yang tidak tertib aturan. Dari survei yang dilakukan oleh Lembaga Ombudsmen Swasta (LOS) Yogyakarta pada tahun 2014 dari 23 hotel yang mereka survei secara acak, ada 10 hotel yang melanggar Perda No 2/2012 karena tidak memiliki ruang hijau dan daerah resapan air yang memadai.

Menurut Perda tersebut, semua bangunan di Yogyakarta harus memiliki ruang terbuka hijau dan daerah resapan air. Dalam pasal 40 disebutkan setiap bangunan dengan luas 60 meter persegi harus dilengkapi minimal 1 sumur resapan dengan diameter 1 meter sedalam 4 meter. Selain itu, halaman gedung tidak boleh diplester atau dikonblok. 7 Kita semua tentu masih ingat

dengan peristiwa gempa yang melanda Yogyakarta pada tahun 2006 silam, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Yogyakarta melihat munculnya bangunan tinggi tersebut membuat risiko bencana menjadi tinggi. Berkaca dari gempa tahun 2006, bukan tidak mungkin gempa serupa terjadi dan kembali meluluh-lantakan Yogyakarta, termasuk merobohkan bangunan bertingkat.

Bangunan tinggi tersebut pun menjadi perhatian khusus bagi BPBD. BPBD Yogyakarta sudah memetakan potensi bencana yang ada di Yogyakarta. Gempa bumi merupakan satu-satu bencana yang berpotensi di semua daerah di Yogyakarta. Belajar dari gempa sepuluh tahun lalu, BPBD Yogyakarta terus memantau pergerakan sesar Kali Opak yang sampai sekarang masih aktif. Jika ada pergerakan lagi, dimungkinkan akan terjadi gempa. Inilah yang membuat BPBD khawatir jika terlalu banyak bangunan tinggi. Meski sudah mengantongi izin yang berarti sudah memenuhi standar bangunan di daerah rawan gempa, namun risiko itu tetap ada. Belum lagi di tambah dengan tidak terbukanya pembangunan bangunan-bangunan tersebut. Mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan. Jika itu terjadi, maka BPBD akan kesulitan melakukan evakuasi ketika terjadi bencana. Di sisi lain, BPBD ditargetkan untuk mengurangi risiko dari bencana, khususnya gempa yang pernah menelan ribuan jiwa. BPBD pun tidak ingin hal tersebut terulang lagi. 8

7 “Regulasi, Perda DIY”, diakses dari : http://yogyakarta.bpk.go.id/?p=3000, pada tanggal

13Desember 2016.

8 “Data BPBD DIY”, diakses dari : http://bpbd.jogjakota.go.id/web/page/16/regulasi, pada

(7)

Dibandingkan dengan Jepang, Indonesia belum sepenuhnya menerapkan standar bangunan di daerah rawan gempa. Jika melihat Jepang, sejak tahun 1924 merintis aturan bangunan standar gempa. Aturan tersebut diberlakukan setelah gempa besar Kanto yang menghancurkan 450.000 bangunan dan menewaskan sekitar 143.000 jiwa. Pada 1950, aturan itu pun dijadikan undang-undang Building Standard Law (BSL). 9

Pada 1995, Jepang kembali dilanda gempa di Kobe. Meski sudah memiliki BSL, namun rupanya belum semua bangunan menerapkannya. Akibatnya 6.433 orang meninggal dunia. Pasca kejadian itu, pemerintah Jepang meminta semua bangunan yang dibangun sebelum tahun 1981 disesuaikan dengan BSL. Hal itu yang tidak terjadi di Indonesia. Pasca gempa Yogyakarta pada 2006, masih banyak bangunan yang tidak disesuaikan dengan Standar Nasional Indonesia untuk bangunan tahan gempa. Hanya bangunan baru saja yang disesuaikan.

Oleh karena itu, dari segala potensi resiko bencana yang bisa terjadi akibat adanya bangunan-bangunan bertingkat, seyogyanya disikapi secara dewasa dengan tidak menutup mata akan fakta-fakta yang di munculkan. Memang tidak bisa secara spontan kita membuat perubahan pola pikir dan sikap dari masyarakat tersebut, namun alangkah baiknya jika hal ini di infokan sedini mungkin sebab ada banyak tipe-tipe masyarakat yang tinggal di Yogyakarta ini. Lebih tepat jika masyarakat menjadi sadar dan juga ikut menyadarkan masyarakat yang lain akan bahaya dan resiko bencana yang di timbulkan oleh keberadaan bangunan-bangunan bertingkat, karena disini masyarakatlah yang akan menjadi korban pertama jika bencana-bencana tersebut terjadi.

Akhirnya, pembangunan hotel pun harus dipikirkan ulang. Risiko bencana yang ditimbulkan bukan hanya sekadar berdampak nasib warga tapi juga para pengelola hotel. Risiko warga menjadi korban bencana makin besar ketika hotel menjamur. Sementara hotel terancam merugi karena okupansi yang rendah akibat persaingan.

(8)

Membatasi Jumlah Pembangunan Gedung Bertingkat

Hal pertama yang harus di lakukan sesegara mungkin adalah dengan membatasi jumlah pembangunan bangunan baru bertingkat di D.I. Yogyakarta. Langkah tersebut sebagai langkah awal agar masalah yang telah di timbulkan oleh pembangunan gedung-gedung bertingkat yang lama tidak di tambah lagi dengan munculnya pembangunan gedung baru. Disini peran pemerintah selaku pembiri izin pembangunan diperlukan, pemerintah harus memperketat dan menekan jumlah masuknya surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB).

Meskipun kerap mendapat protes dari masyarakat, pembangunan hotel baru di Kota Yogyakarta terus dilakukan. Selama 2014, Dinas Perizinan Kota Yogyakarta menerbitkan 67 izin mendirikan bangunan hotel baru. Jumlah hotel di Kota Pelajar kemungkinan terus bertambah karena masih ada permohonan IMB yang sedang diproses. Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta sebenarnya sudah berupaya mengendalikan pembangunan hotel, dengan moratorium penerbitan IMB hotel mulai 1 Januari 2014 hingga 31 Desember 2016.

Moratorium itu diatur dalam Peraturan Wali Kota Yogyakarta Nomor 77 Tahun 2013 tentang Pengendalian Pembangunan Hotel. Namun, sebelum moratorium itu berlaku, Pemkot Yogyakarta menerima 104 permohonan IMB hotel. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik DIY, sampai awal 2014, di Gedongtengen berdiri 125 hotel, di Gondokusuman 24 hotel, dan di Mergangsan 63 hotel. Secara keseluruhan, hingga awal 2014, hotel di Yogyakarta 399 unit, terdiri atas 43 hotel bintang dan 356 hotel nonbintang. Pemerintah hanya melakukan pencekalan surat izin kepada mereka yang belum melengkapi berkas-berkas surat perizinannya.10

Membenahi Tata Ruang

Konflik yang sering terjadi dan yang sekarang juga terjadi di Kota Yogyakarta ialah konflik antarpelaku pembangunan yang terdiri dari pemerintah (public sector), pengusaha atau pengembang (private sector), profesional (expert). Pemerintah atau pengusaha cenderung mengguanakan kewenangan dan kekuasaannya dengan didasari pada aturan-aturan hukum atau

10 “Statistik Data Bangunan DIY”, diakses dari :

(9)

perundang-undangan. Sialnya, Indonesia sudah terkenal bukan karena rule of law, melainkan law of the rule.11

Pengusaha atau pengembang biasanya dipandang hanya berorientasi pada perolehan keuntungan sebesar-besarnya, dengan modal sekecil-kecilnya, dan dalam kurun waktu yang sesingkat-singkatnya. Tidak jauh beda memang antara private sector dengan profit sector. Sedangkan posisi profesional dikenal sebagai kelompok yang handal dalam menerapkan ilmu dan tori yang dimilikinya untuk memecahkan masalah yang aktual di lapangan.

Dalam hal ini, Prof. Emil Salim (dalam Azis, dkk. 2010: 297-298) mengusulkan beberapa peningkatan kualitas perencanaan tata ruang dan lingkungan di kemudian hari, yakni:

1. Perencanaan tata ruang sebaiknya tidak lagi sekadar Management of changes dan management of growth, melainkan lebih sebagai management of conflicts dan management of action. Orientasi tujuan jangka panjang yang ideal perlu disenyawakan dengan pemecahan amsalah jangka pendek yang bersifat inkremental dengan wawasan pada pelaksanaan atau action-oriented paln, yang dikawal melalui sistem advokasi.

2. Mekanisme development control harus ditegakkan lengkap dengan sanksinya.

3. Penataan ruang dan lingkungan hidup secara total, menyeluruh, dan terpadu dengan model-model perencanaan lintas sektoral.

4. Perencanaan tata ruang dan lingkungan hidup wajib diperhatikan perihal kekayaan lingkungan alam. Dengan kata lain, kita harus tanggap dengan fenomena perubahan iklim.

Menyadarkan dan Menggarakkan Masyarakat

(10)

sebenarnya di lapangan dan menyebarkannya terhadap sesame maka akan semakin banyak jumlah masyarakat yang tersadarkan.

Ketika masyarakat sudah mulai sadar dengan posisinya, selanjutnya perlu dibentuk satu forum yang mewadahi aspirasi dan keinginan mereka, hal tersebut bisa disalurkan melalui diskusi, pembuatan karya-karya seni, atau bahkan moratorium yang dijalankan secara efektif. Masyarakat harus melakukan pengawasan terhadap setiap keputusan dan kebijakan yang di ambil oleh pemerintah DIY. Jangan sampai timbul penyeselan di kemudian hari setelah semua hal buruk dan kurang bermanfaat bagi masyarakat benar-benar terjadi. Akan lebih sulit merubah yang telah terjadi daripada melakukan control terhadap apa yang akan terjadi.

Pada 6 Agustus 2014, muncul aksi pertama kali perlawanan warga terhadap hotel Fave di Jalan Kusumanegara, Kota Yogyakarta. Saat itu mereka melakukan aksi demonstrasi karena sumur warga kering setelah hotel Fave beroperasi. Dodok Putra Bangsa, salah seorang warga Miliran yang sumurnya kering melakukan aksi mandi pasir di depan hotel Fave. Dodok pun mengusung tema Jogja Asat (Yogya kering) yang kemudian menjadi gerakan bersama. Gerakan ini memberikan efek yang besar. Pasca aksi Dodok, muncul perlawanan serupa di beberapa tempat. Salah satunya di Gowongan, Kota Yogyakarta. Warga pun melakukan aksi serupa.

Tidak sekedar soal sumur asat, mereka juga merasa dirugikan dengan bangunan tinggi yang menyebabkan rumah-rumah warga tidak mendapat cahaya matahari karena tertutup bangunan tinggi. Sebelumnya, warga di Karangwuni, Sleman juga sudah melakukan penolakan terhadap pembangunan Apartemen Uttara. Namun, gerakan itu belum memberikan efek pada gerakan warga. Salah satu aktivis lingkungan, Aji Kusumo bahkan sempat dikriminalisasi karena dengan tuduhan merusak banner milik apartemen Uttara. Dia pun divonis Pengadilan Negeri tiga bulan 15 hari penjara potong masa tahanan pada Juni 2014.

(11)

Sleman untuk menolak pembangunan M-Icon. 12 Kita bisa melihat bahwa ketika masyakat

bergerak, pemerintah baru akan mau mendengar dan merespon keadaan tersebut.

Pendekatan Ekohidrologi

Persoalan sumber daya air di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) belakangan ini semakin meningkat. Bisa di lihat, perkembangan aktivitas di wilayah itu saat ini semakin kompleks. Pembangunan hotel dan apartemen, berkurangnya kawasan konservasi, serta perubahan tata guna lahan dari pertanian menjadi non pertanian menjadi penyebab kawasan imbuhan air semakin menurun luas dan kapasitasnya. Tentu ini menjadi persoalan serius yang harus segera dicarikan solusinya apalagi konsumsi air terus meningkat, sementara ketersediaanya semakin terbatas.

Oleh karena itu, diperlukan pendekatan menyeluruh untuk mengatasi permasalahan air tersebut yakni dengan pendekatan ekohidrologi. Pendekatan ini diharapkan menjadi solusi utama untuk mengatasi persoalan air di Yogyakarta. Pemerintah Provinsi DIY maupun pemerintah kota dan kabupaten tentu saja telah mempunyai visi, program, proyek dan kegiatan untuk menjaga tata kelola air secara bersama-sama dengan kelembagaan yang berasal dari pemerintah pusat. Tentunya upaya-upaya ini perlu didukung oleh semua pihak.

Sayangnya, berbagai upaya tersebut masih belum maksimal. Permasalahan yang sering terjadi karena tata kelola air masih bersifat sektoral, parsial dan terperangkap pada persoalan teknis, sehingga belum mampu menjawab keberlanjutan ketersediaan air. Padahal sebuah tata kelola pada intinya adalah interaksi antara arena pembuat kebijakan (kepala daerah dan DPRD), pelaksana kebijakan (Satuan Kerja Perangkat Daerah), kelompok masyarakat ekonomi yang melaksanakan proyek-proyek pemerintah, kelompok masyarakat sipil yang menjadi kelompok penekan agar kebijakan dan implementasinya lebih baik.

(12)

ekohidrologi sebagai sistem solusi yang menjamin keberlanjutan sumber daya air di DIY.13

Selain itu, diperlukan juga untuk membangun sistem informasi sumber daya air permukaan dan bawah permukaan yang terdapat di DIY agar dapat diakses oleh masyarakat.

Perlu juga kita mendukung upaya selain yang bersifat struktural dari pemerintah dalam pengelolaan sumber daya air. Upaya yang berasal dari kalangan komunitas masyarakat maupun organisasi non pemerintah atau lembaga swadaya masyarakat, kalangan akademisi maupun aktivis lingkungan juga perlu diakomodasi masuk ke dalam grand design tata kelola air di DIY. Munculnya komunitas-komunitas peduli atau penggiat restorasi sungai seperti Komunitas Peduli Sungai Code-Boyong, Gadjah Wong, Winongo, Tambak Bayan dan Sungai Oyo bisa menjadikan masukan baru bagi pengelolaan air berkelanjutan.

Kesimpulan

Dari uraian diatas, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Proyek pembangunan Gedung-gedung bertingkat di D.I. Yogyakarta hanyalah sekedar

mengenai permainan komersial antar pemilik modal besar yang ingin mengembangkan usahanya.

2. Pemerintah DIY dapat dikatakan terlalu longgar dalam memberikan surat izin mendirikan bangunan yang berakibat pada banyak munculnya gedung-gedung bertingkat yang semakin tak terkendali. Pemerintah juga perlu mengefektifkan kinerjanya, lebih baik lagi ketika pemerintah mampu menjaga kepercayaan masyarakat dan bersinergi dengan masyarakat.

3. Akibat dari banyaknya pembangunan gedung di Yogyakarta berakibat buruk pada banyak hal, salah satu yang terparah adalah faktor lingkungan. Air menjadi salah satu hal penting kebutuhan masyarakat yang terkena imbasnya.

4. Masyarakat perlu bersatu, berwawasan luas dan sadar terhadap apa yang terjadi di lingkungan sekarang, agar kedepannya tidak muncul hal-hal yang mengkhawatirkan.

13 “Pendekatan Ekohidrologi Diharapkan Jadi Solusi Persoalan Air di Yogyakarta” , diakses

(13)
(14)

DAFTAR PUSTAKA

Salim, Emil dkk. Paradigma pembangunan berkelanjutan, dalam Pembangunan Berkelanjutan Peran & Kontribusi. Gramedia : Jakarta. 2010.

Risiko dan Nasib Kota Yogyakarta Di Usia 260 Tahun” diakses dari : https://tirto.id/risiko-dan-nasib-kota-yogyakarta-di-usia-260-tahun-bR6N, pada tanggal 13 Desember 2016

“Pendekatan Ekohidrologi Diharapkan Jadi Solusi Persoalan Air di Yogyakarta” , diakses dari : http://lipi.go.id/siaranpress/Pendekatan-Ekohidrologi-Diharapkan-Jadi-Solusi-Persoalan-Air-di-Yogyakarta/16568, pada tanggal 13 Desember 2016

“Sejarah Yogyakarta”, diakses dari http://www.pendidikan-diy.go.id/dinas_v4/? view=baca_isi_lengkap&id_p=1 pada tanggal 13 Desember 2016.

Statistik Jumlah Penduduk DIY” diakses dari : https://yogyakarta.bps.go.id/linkTabelStatis/view/ id/70 pada tanggal 13 Desember 2016

“Definisi Lahan”, diakses dari : www.artikelsiana.com/2014/11/pengertian-lahan -definisi-penjelasan-arti.htm , pada tanggal 13 Desember 2016

“Kondisi Jogja Saat Ini, Jogja Ora Didol”, diakses dari :

http://www.kompasiana.com/imamso/kondisi-jogja-saat-ini-jogja-ora-didol_5643004e557b6170048b4569 , pada tanggal 13 Desember 2016

Regulasi, Perda DIY”, diakses dari : http://yogyakarta.bpk.go.id/?p=3000, pada tanggal 13Desember 2016.

“Data BPBD DIY”, diakses dari : http://bpbd.jogjakota.go.id/web/page/16/regulasi, pada tanggal 13 Desember 2016

Statistik Data Bangunan DIY”, diakses dari :

https://yogyakarta.bps.go.id/Subjek/view/id/29#subjekViewTab3|accordion-daftar-subjek1, pada tanggal 13 Desember 2016

Yohana Fitri, “Pembangunan Hotel dan Mall di Yogyakarta”, diakses dari :

(15)

http://www.kompasiana.com/yohanafitri/pembangunan-hotel-dan-mall-di-yogyakarta-

Referensi

Dokumen terkait

Sehubungan telah dilaksanakannya evaluasi penawaran dan evaluasi kualifikasi serta sebelum menetapkan calon pemenang pekerjaan Pembangunan Gedung Badan Penanggulangan Bencana

ketentuan yang ditetapkan dalam PERPRES 54 Tahun 2010 dan yang dirubah dengan PEMERINTAH KOTA MAKASSAR. BADAN PENANGGULANGAN

Bencana gempa bumi dan gelombang tsunami yang melanda Provinsi Aceh pada tanggal 26 Desember 2004 mengakibatkan Badan Arsip dan Perpustakaan Provinsi Aceh juga

Bencana gempa dapat mengakibatkan kerusakan struktur bangunan, oleh karena itu perlu dilakukan evaluasi kinerja bangunan gedung untuk memprediksikan perilaku

[2] Pasca gempa 27 Mei 2006 gedung Reaktor Kartini telah dilengkapi dengan alat detektor gempa (Geosig), dengan demikian apabila terjadi gempa dimungkinkan untuk mengetahui

Bencana gempa bumi yang melanda yogyakarta dan jateng beberapa waktu yang lalu/ternyata juga mengguncang sendi-sendi kehidupan masyarakat dengan hilangnya atau kerugian harta benda

Bangunan tahan gempa dirancang karena mengingat sering terjadinya gempa di Indonesia, Kardiyono (2002: 10) menjelaskan “Pada prinsipnya gempa ialah suatu peristiwa

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh desain kamar mandi terhadap kemudahan aksesesibilitas toileting paraplegi pasca bencana gempa bumi di Yogyakarta tahun