• Tidak ada hasil yang ditemukan

Citra Guru Tugas katekese Profil Guru

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Citra Guru Tugas katekese Profil Guru"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

Citra Guru

Tugas katekese Profil Guru

Oleh :

Dwi Putra Nugraha Satria Adi, Bonaentura

FT. 3764/166114039

Progam Studi IlmuTeologi

Jurusan Teologi Fakultas Teologi

Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta

(2)

A. Pendahuluan

“Guru: digugu lan ditiru” arti dari falsafaf jawa tersebut adalah “guru : dianut dan ditiru”. Falsafaf jawa tersebut sekilas terdengar sederhana dan ringan tetapi sebenarnya mengandung makna mendalam berkenaan dengan guru dan profil atau citra guru. Dewasa ini, banyak guru yang kehilangan jati dirinya bukan hanya sebagai pengajar tetapi juga sebagai pendidik. Ditinjau dari pelbagai kondisi persoalan yang berada di lapangan, tidak sedikit dari para guru lebih mengutamakan faktor finansial sebagai penentu kualitas kinerja dalam bekerja sebagai pendidik, akibatnya guru kurang memaknai dan mulai kehilangan identitas akan pekerjaan mereka. Guru hanya berhenti pada sebatas profesi semata.

Berdasar keprihatinan tersebut bagaimana relevansinya dengan citra guru terkhusus citra guru PAK? Dalam konteks PAK, para guru diharapkan tidak hanya memenuhi standar sebagai guru ideal tetapi juga harus mampu membantu mendewasakan naradidik dengan memberikan pendidikan yang baik. Menurut TH. Groome pendidikan yang baik berpusat pada hidup serta kepentingan naradidik, maka nilai-nilai kemanusiaan harus dikembangkan dan yang terpenting memanusiakan manusia1. Lewat memamusiakan manusia sebagai contoh dengan menghormati

sesama, nilai-nilai kristiani mulai ditanamkan oleh pendidik sehingga iman naradidik secara bertahap berkembang.

B. Peran Guru PAK

Seiring dengan tujuan pendidikan agama katolik sebagai proses pendidikan dalam iman, guru atau pendidik PAK berperan sebagai media untuk membantu naradidik agar semakin beriman kepada Tuhan Yesus Kristus sehingga nilai-nilai kristiani diresapi, dihidupi, dan terwujud di tenggah-tengah mereka2.

Untuk memenuhi peran tersebut, guru perlu menempatkan diri dalam berelasi dengan naradidik. Posisi guru-murid di kelas bukan dan tidak berhenti hanya pada status pengajar dan yang diajar tetapi lebih jauh dalam mengembangkan relasi melalui ketrampilan berkomunikasi yang harus dimiliki oleh guru3, salah satunya dengan menyediakan diri sebagai sahabat. Sahabat

1 Kursus Katekese Sekolah Tingkat I, Pokok-pokok pendidikan agama katolik (PAK) di sekolah

(Yogyakarta : Universitas Sanata Dharma , 2017), 8.

2 Kursus Katekese Sekolah Tingkat I, Pokok-pokok pendidikan agama katolik (PAK) di sekolah, 13.

(3)

dalam konteks pengajaran PAK adalah guru mampu untuk mendidik dengan komunikatif, dialogis, kreatif, dan menyampaikan materi secara bertahap serta serius tapi santai4. Dengan

menjadi sahabat, naradidik akan merasa lebih nyaman, enjoy, terbuka, diterima, dan yang paling terpenting naradidik merasa dibutuhkan oleh guru. Selain itu, karena naradidik bervariatif para guru akan terbantu dalam mengetahui keperluan apa yang dibutuhkan setiap naradidiknya dalam proses pendidikan iman.

Dari segi afeksi menjadi seorang sahabat mengandaikan bahwa sahabat satu sama lain saling percaya, dari kepercayaan ini akan muncul kesedian untuk berbagi salah satunya berbagi perhatian. Naradidik sebagai sahabat pendidik akan membagikan pengalaman mereka dalam pergulatan iman, mulai bertanya akan kegundahan kemudian solusi untuk pergulatan yang sedang dialami. Pendidik sebagai sahabat naradidik yang sudah dan terus mengalami pergulatan iman memberikan perhatian dengan membagikan pengalaman mereka. Pada situasi ini, pendidik diandaikan tidak hanya sekedar tahu tetapi juga mengalami sendiri pergulatan iman disertai dengan penerapan ajaran magisterium gereja.

Penempatan diri sebagai sahabat juga memudahkan guru dalam segi spiritual untuk menemani dan mendampingi tatkala naradidik sedang berkesusahan. Ketika sedang mengalami kesusahan peran pendidik adalah meneguhkan dan memberikan penharapan sama seperti Yesus sendiri kepada dua murid ketika perjalanan ke Emaus “…datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka”. (Lukas 24:13-35).

Pendidik sebagai sahabat dalam segi kognitif senantiasa memberdayakan naradidik serta dapat menambahkan wawasan intelektual akan iman naradidik dengan membangun sisi kreativitas dan keaktifan melalui pelbagai bahan ajar materi yang dikemas secara menarik, menyenangkan, tidak membosankan tetapi tetap menyampaikan materi pokok pembelajaran PAK sesuai dengan rentang usia naradidik.

Segi psikomotorik juga dibantu melalui penempatan pendidik sebagai sahabat karena secara tidak langsung posisi pendidik sebagai sahabat memacu naradidik untuk terlibat dalam pembelajaran PAK dengan aktif, mandiri, jujur, peduli dan bertanggung jawab.

(4)

C. Konsekwensi

Setiap relasi pasti terdapat celah akan adanya suatu kekuarangan, baik kekurangan yang berasal dari faktor ekstern maupun yang berasal dari faktor intern. Dalam konteks citra guru sebagai pendidik faktor ekstern dapat disebabkan oleh pelbagai macam hal seperti : perkembangan teknologi, jarak rentan usia anatara guru dengan murid, proses pembelajaran yang diterima sang guru sewaktu menjadi murid, dll. Sedangkan faktor intern yang sering terjadi adalah kesulitan guru dalam menyesuaikan zaman dengan dunia naradidik atau keengganan guru untuk terus memperbaharui diri dengan tetap belajar.

Sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Heinz Kock bahwa guru harus selalu pemebelajar5, Yesus sebagai Sang Guru pun meneladani para murid untuk tetap meneruskan

spiritualitas sebagai murid yaitu spiritualitas pembelajar “Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, tetapi barangsiapa yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya” (Luk 6:40). Oleh karena itu baik guru maupun murid alangkah lebih baik jika saling belajar satu sama lain dalam situasi relasi sebagai sahabat. Dengan begitu, murid tidak hanya mendapatkan pembelajaran sebatas materi di kelas dan untuk guru mendapatkan lebih dari materi yang disampaikan di kelas yakni makna sebagai pembelajar yang saling melengkapi.

Daftar Pustaka : Buku

Gordon, T. Guru yang Efektif : Cara untuk Mengatasi Kesulitan dalam Kelas. Jakarta : Rajawali, 1984.

Kock,H. Saya Guru yang Baik? Yogyakarta : Kanisius, 1981.

Diktat

Kursus Katekese Sekolah Tingkat I, Pokok-pokok pendidikan agama katolik (PAK) di sekolah Yogyakarta : Universitas Sanata Dharma , 2017.

Internet

Mohmmad Rusdi. “Langkah-langkah menjadi guru ideal dan inovatif”. diakses Senin 30 Januari, 2017. https://ibnurus.blogspot.co.id/2014/09/langkah-langkah-menjadi-guru-ideal-dan.html

Referensi

Dokumen terkait

Menurut saya, terwujudnya kinerja yang baik karena disiplinnya tinggi, terutama untuk pegawai lab yang kedisiplinannya terkenal nomor satu di rumah sakit ini, kemudian

windows release versi 21.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Perhatian orang tua memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap perilaku belajar PAI. Hal

Pada SMP (3) aspek pengembangan /pengelolaan sarana pendukung sekolah yang ramah lingkungan belum sepenuhnya dapat menerapkan komponen dan sub komponen yang

Selanjutnya didefinisikan bahwa µ subgrup fuzzy dan dibuktikan beberapa sifat dari subgrup fuzzy tersebut seperti subgrup fuzzy normal, normalizer fuzzy, serta syarat perlu dan

Hal ini juga harusnya disambut dengan antusias, dan pemahaman akan kurikulum PAK yang menjawab kebutuhan anak didik akan menolong seorang guru untuk bisa

Taman Bacaan Masyarakat sebagai medium pengembangan budaya baca merupakan tempat mengakses berbagai bahan bacaan: seperti buku pelajaran, buku keterampilan praktis,

Desain ini dibuat berdasarkan pengembangan bentuk lambung untuk autonomous boat. Ukuran utama ditentukan dengan proses optimasi sederhana dengan menggunakan referensi data kapal

Pemaknaan siswa terhadap pembelajaran geografi mencakup beberapa aspek yaitu bagaimana siswa memaknai mata pelajaran geografi, bagaimana siswa memaknai pembelajaran