• Tidak ada hasil yang ditemukan

POLITIK NETRAL AKTIF Reformulasi Peran B

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "POLITIK NETRAL AKTIF Reformulasi Peran B"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

POLITIK NETRAL-AKTIF:

Reformulasi Peran Birokrasi dalam Seleksi

Kepala Daerah dan Kepala Pemerintahan

1

   

 

Purwo Santoso

2

 

([email protected])   

   

Netralitas  birokrasi  harus  dijaga  dalam  demokrasi.  Dalam  proses  demokratisasi  yang  diperlukan  bukan  sikap  netral  namun  pasif  atau  menjauh  dari  agenda  demokratisasi,  melainkan  sebaliknya:  secara  pro‐aktif  ambil  bagian  dalam  mengembangkan kekuatan penyangga perubahan sosial‐politik  yang berlangsung. 

   

Setiap  kali  membicarakan  penyelenggaraan  pemilihan  umum,  pemilihan  presiden  dan  pemilihan  kepala  daerah  di  satu  fihak,  dengan  netralitas  birokrasi,  difihak  lain,  hal  yang  disebut  terakhir  kita  dudukkan  sebagai dependent variable.  

   

   

Kita  terbiasa  berfikir,  netralitas  birokrasi  adalah  konsekuensi  dari  penyelenggaraan  pemilihan  tersebut. 3 Seolah‐olah,  birokrasi  tidak  memiliki 

       1

Disampaikan dalam Seminar Netralitas Pegawai Negeri Sipil dalam Pemilihan Umum & Pemilitan Kepala Daerah di Propinsi Bangka Belitung, yang diselenggarakan melalui kerjasama antara Pemerintahan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan Masyarakat Ilmu Pemerintahan Indonesia (MIPI) di Novotel Bangka Golf & Convention Center, Jl. Soekarno Hatta KM 5, Pangkalan Baru, Kabupaten Bangka Tengah, pada tanggal 5 Juni 2013.

2 Guru besar dan Ketua Jurusan Politik dan Pemerintahan pada Fakultas Ilmu Sosial dan

Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

3Terms of Reference yang diberikan oleh Panitia Seminar ini mangandaikan netralitas

birokrasi sebagai hal yang given, dan bahkan berkonotasi negatif. Yang diminta untuk dibahas dalam makalah ini adalah Pemilihan Kepada Daerah Langsung dan Implikasi Poltiknya terhadap Birokrasi Daerah. Sehubungan dengan urgensi untuk mengembangkan ‘politik netral aktif’ birokrasi, amanah panitia ini terpaksa dilanggar atau dibalik. Yang dibahas disini adalah justru bagaimana netralitas dikembangkan agar kualitas pilkada membaik.

Penyelenggaraan pemilu,  pilpres dan pilkada 

(2)

kekuatan dan tidak pula memiliki daya ubah. Seolah‐olah, netralitas birokrasi  adalah  kondisi  yang  harus  diterima:  suka  atau  tidak  suka.  Hal  ini  menandakan  bahwa,  dalam  pemikiran  kita  netralitas  birokrasi  senantiasa  kita  fahami  secara  pasif.  Justru  karena  keharusannya  untuk  netral  itulah  maka  birokrasi  harus  kita  bayangkan  secara  pasif.  Ini  adalah  pertanda  bahwa,  pemilihan‐pemilihan  tersebut  kita  sikapi  sebagai  beban.  Birokrasi  pemerintahan,  khususnya  birokrasi  di  tingkat  lokal,  diasumsikan  hanya  dapat  berperan  sebagai  penanggung  akibat.  Apalagi  kalau,  setelah  mengetahui  berbagai  dampak  negatif  yang  terjadi,  lalu  mengajak  untuk  menyurutkan  niat  berdemokrasi.  Belakangan  ini  bergulir  wacana  untuk  meniadakan  pemilihan  pilkada  langsung  karena  kesadaran  akan  dampak  negatif yang ditemukan. 

 

1. Menolak Surutnya Demokratisasi. 

Kita tahu bahwa ada pilkada menghasilkan sederetan dampak negatif:  praktek vote buying (yang populer dengan istilah money politics) merajalela,  terjadi  kekerasan  antar  kubu  kontestan  dalam  skala  besar,  ada  ketegangan  antara  kepala  daerah  dengan  wakilnya,  dan  sejenisnya.  Pembuktian  dari  adanya  dampak  negatif  ini  tidak  lagi  diperlukan.  Yang  menjadi  pertanyaan  adalah, bagaimana menyikapi adanya dampak negatif tersebut. 

Yang  mengemuka  belakangan  ini  adalah  agenda  untuk  menyurutkan  agenda  demokratisasi.  Alasannya:  demokratisasi  kita  kebablasan  !  Kalaulah  demikian  adanya, point  yang  hendak  diajukan  di  sini  adalah  bahwa,  secara  keilmuan, tidak cukup alasan untuk surut dari agenda demokratisasi karena  dampak  negatif  muncul  adalah  konsekuensi  dari  kesalahan  memaknai  demokratisasi  itu  sendiri.  Kalau  sumber  persoalannya  adalah  cara  kita  memaknai  demokratisasi  itu  sendiri,  maka  solusiya  adalah  reformulasi  langkah  demokratisasi.  Kalaulah  langkah  mundur  diambil,  langkah  itu  haruslah  dalam  rangka  maju  beberapa  langkah  ke  depan.  Langkah  mundur  hanya masuk akal jika didedikasikan untuk mengatasi kealphaan yang telah  terjadi.  

Usulan  untuk  meniadakan  pilkada  langsung  pada  dasarnya  setara  dengan  strategi  burung  unta  dalam  mengatasi  masalah.  Ketika  burung  unta  dalam  keadaan  terancam,  yang  dilakukan  bukannya  menghadapi  musuhnya  melainkan  menenggelamkan  kepalanya  ke  dalam  pasir.  Keberanian  untuk  memberlakukan  skema  seleksi  pemimpin  melalui  kontestasi  mengharuskan  kita  berani  membayar  harganya:  memenuhi  persyaratan  untuk  mudah  dan  murahnya  kontestasi  itu.  Mengambil  langkah  surut  sebelum  mecoba  membayar  harga  yang  harus  dibayar  bagi  berlangsungnya  demokrasi,  tidaklah jauh berbeda dengan cara burung unta menghadapi ancaman. 

(3)

kita sebagai bangsa. Bagaimanapun juga, birokrasi adakah kekuatan politik di  negeri  ini,  dan  dalam  posisi  dan  perannya  sebagai  kekuatan  politik,  harus  dirajut dalam pemikiran dan proses demokratisasi itu sendiri. 

 

2. Diagnosa 

Papara  di  atas  menandai  adanya  kejanggalan  berdemokrasi,  dan  mengharuskan  kita  melakukan  refleksi  secara  seksama.  Sebagai  petunjuk  awal,  demokrasi  pada  intinya  adalah  kedaulatan  rakyat,  dan  situasinya,  rakyat justru bermasalah ketika diberi peran sentral. Ini menandakan bahwa,  birokrasi diperlukan untuk secara luas mengekspresikan kedaulatan rakyat.  Kealphaan  kita  adalah  membiarkan  proses  demokratisasi  berjalan  sebatas  pada  tataran  prosedural  dan  kelangsungannya  bersifat top  down.  Pemilu,  pilpres  dan  pilkada  mau  tidak  mau  melibatkan  pemberlakukan  serangkaian  peraturan  perundang‐undangan  sejak  dari  level  nasional  hingga  ke  desa‐ desa.  Hanya  saja,  pemberlakuan  tersebut  demokrasi  manifest  sebagai  semacam  disposisi  peraturan  perundang‐undangan.  Roh  demokrasi,  yakni  aktualisasi popular  control,  tidak  tergalang.  Sungguh  sangat  ironis,  bahwa  yang  kita  seriusi  dalam  demokratisasi  adalah  pengisian  jabatan  publik  melalui pemilu legislatif, pilpres dan pilkada, dan pada saat yang sama tidak  ada  keseriusan  dalam  mengembangkan  popular  control.  Pertanyaannya,  tanggung jawab siapakah pengembangan popular control ini ? 

Kalau  demokrasi  kita  perlakukan  sebagai  agenda  publik,  maka  pengagendaan  berkembangnya popular  control  harus  ada  dalam  dokumen  perencanaan  pemerintah.  Dalam  konteks  ini,  fihak  yang  paling  dekat  dalam  agenda  setting  adalah  birokrasi  pemerintahan.  Apalagi  kalau  pengganggarannya  harus  difikirkan.  Kendali  pengenggaran  ada  pada  birokrasi  pemerintah.  Di  satu  sisi  kita  melihat  ada  lobang  kosong  dalam  agenda  setting  demokratisasi,  di  sisi  lain  ada  antusiasme  yang  luar  biasa  dalam  menjabarkannya:  pengisian  jabatan  publik:  presiden  (kepala  negara  dan  pemerintahan),  kepala  daerah.  Di  sini  ada  semacam  pembiaran  bahwa  proses demokratisasi dilakukan sesuka hati fihak‐fihak yang berkepentingan.  Mereka yang mau dan mampu untuk memperebutkan jabatan publik sangat  antusias  menggunakan  hak‐haknya,  dan  pada  diri  mereka  seakan  tidak  terbebani  kewajiban  untuk  menjamin  berlangsungnya  popular  control  yang  menjamin dirinya amanah dalam memegang tampuk kekuasaan.  

(4)

diseriusi  adalah  pengisian  jabatan‐jabatan  strategis  tersebut  melalui  berbagai  bentuk  pemilu.  Pembiaran  adalah  penyelenggaraan  model  prasmanan  ini,  esensinya  adalah  bunuh  diri  politik  bagi  birokrasi.  Jelasnya,  pretensi  netral  dalam  pengertian  tidak  ikut‐ikutan  dalam  politik  tidaklah  masuk akal. Justru harus ada strategi politik agar birokrasi tetap “berdaulat”  di  domainnya  sendiri.  Sebagaimana  dijelaskan  di  sub‐bab  berikut,  birokrasi  dalam batas‐batas tertentu, harus mengawal agenda setting demokratisasi di  dalam dan melalui domain birokrasi itu sendiri. 

Bermasalahnya  penyelenggaraan  pemilu,  pilpres  dan  pilkada  adalah  karena  netral  dan  pasifnya  birokrasi.  Oleh  karena  itu,  birokrasi  harus  didudukkan  dirinya  sebagai  lokus  dan  partisipan  proses  demokratisasi.  Birokrasi menjadi poros vital demokrasi melalui pengadministrasian hak dan  kewajiban  rakyat  dan  negara.  Hal  inilah  yang  selama  ini  kita  abaikan  pada  level  pemikiran,  lalu  pada  gilirannya  menggiring  kesan  bahwa  kita  menghadapi jalan buntu ketika hendak melakukan demokratisasi. Untuk itu,  perlu  pembalikan  nalar.  Reformulasi  netralitas  birokrasi,  yang  nantinya  didetailkan  pembahasannya,  membuka  peluang  untuk  perbaikan  tata  pemerintahan,  baik  dari  sisi  birokrasi  maupun  pemilihan  pucuk  pimpinan  birokrasi pemerintahan. 

Dahsyatnya dampak negatif pemilihan pucuk pimpinan pemerintahan  secara langsung, menandakan bahwa problematika penyelenggaraan pilpres,  pilkada dan pemilu di negeri ini tidaklah sekedar problematika pada tataran  aktor  ataupun  oknum.  Oleh  karena  itu,  tidaklah  proporsional  kalau  kita  reduksi  persoalan  dampak  negatif  pemilihan  pucuk  pimpimpinan  birokrasi  ini sekedar sebagai persoalan kedisiplinan Pegawai Negeri Sipil (PNS). Hal ini  harus  menjadi  agenda  penting  dari  reformasi  birokrasi  yang  santer  digulirkan belakangan ini.  

(5)

Demokratisasi menghasilkan tragedi ketika, dalam serunya kontestasi  tersebut,  kita  cenderung  mereduksi  birokrasi  pemerintahan  “sekedar”  sebagai  Pegawai  Negeri  Sipil  (PNS).  Perlu  dicatat  bahwa,  kealphaan  kita  bukan  hanya  manifest  pada  abainya  kita  tentang  dimensi  sistemik  yang  melekat pada pengelolaan kontestasi, namun juga tidak antisipatif kita dalam  mempraktekkan  butir‐butir  gagaran  liberal  dalam  kerangka  penyelenggaraan pemerintahan di negeri ini. 

Pertama, liberalisme menaruh kecurigaan yang luar biasa besar pada  negara  dan  pemerintah,  dan  penguatan  kadar  liberty  melalui  kontestasi  dalam  pemilihan,  secara  diam‐diam  menyeret  kita  pada  peminggiran  peran  negara  dan  pemerintah.  Normalnya  nalar  netral‐pasif  dalam  birokrasi  kita,  sedikit  banyak,  terkait  dengan  hal  itu.  Cara  khas  kita  dalam  menyikapi  kontestasi  tadi  adalah:  ‘tidak  ikut‐ikutan’.  PNS  diharapkan  ‘tidak  terlibat’  dalam  kontestasi.  Di  sini  tersirat  anggapan  bahwa  birokrasi  harus  dijaga  sebagai wilayah yang steril dari politik. Yang jelas, netralitas birokrasi, dalam  banyak kasus berimplikasi pada pembebas tugasan PNS yang terlibat dalam  politik, tepatnya politik kepartaian. 

Kedua,  penjaminan liberty  yang  dilakukan  atas  nama  demokrasi  tadi,  resminya  memang  dialamatkan  pada  setiap  warga  negara.  Kealphaan  kita  adalah  menyadari  bahwa,  kemampuan  setiap  warga  negara  untuk  memetik  manfaat dari penjaminan liberty tersebut tidaklah sama. Ada kelompok kaya,  yang  dengan  kekayaannya  mampu  mengoptimalkan  pengaruh  politiknya.  Ada  tokoh‐tokoh  informal,  yang  dengan  jejaring  informal  yang  dimilikinya,  bisa  memetik  keuntungan  politik  besar‐besaran.  Orang  bilang,  demokrasi  dibajak  elit.  Ada  lagi  yang  bilang,  pemilihan  pemimpin  pemerintahan  sudah  terbeli oleh pemodal dan sebagainya.  

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, perlu kita sadari bahwa kata  ‘netral’ dalam terminologi netralitas birokrasi memiliki dua konotasi. Dalam  konotasi  pertama,  netral  adalah  tidak  terlibat.  Asumsinya,  politik  adalah  wilayah  “kotor”  namun  tak  terhindarkan,  dan  oleh  karenanya  harus  dijauhi  oleh  para  PNS  yang  juga  dijuluki  (menyebut  dirinya  sebagai)  abdi  negara.4 

Dalam konotasi kedua, netral adalah fair: menjaga jarak yang sama terhadap  setiap kontestan. Oleh karena bias liberal dalam pemikiran pemerintahan di  negeri ini bermuara pada penekanan pada konotasi pertama maka kita perlu  serius  mengembangkan  konotasi  yang  kedua.  Tatkala  netral  dijabarkan  sebagai fairness,  maka  sikap  netral  tidak  harus  menjauh  atau  menarik  diri.        

4 Ironisnya, proses yang harus dihindari ini adalah proses untuk menentukan pucuk

(6)

Mengingat  belum  mapannya electoral  governance  di  negeri  ini,  peran  pro‐ aktif  birokrasi  perlu  didorong.  Sebagai  contoh,  karena  mapannya  tradisi  menghindar  dari  politik,  birokrasi  pemerintah  merasa  tidak  bertanggungjawab  terhadap  hilangnya  hak  warga  negara  karena  tidak  tercatat  dalam  Daftar  Calon  Sementara.  Buruknya  administrasi  yang  diselenggarakan  birokrasi  bermuara  pada  buruknya  kualitas  pemilihan  umum ataupun pemilihan kepala daerah. 

Oleh  karena  pertimbangan  di  atas,  kontestasi  politik  perlu  didudukkan sebagai keniscayaan dalam rangka memastikan berlangsungnya  pemerintahan  hak  setiap  warga  negara  untuk  menjadi  pemimpin.  Justru  birokrasi,  sebagai  organisasi  modern  yang  menjadi  andalan  publik  perlu  mencurahkan  kompetensinya  demi  memastikan  berlangsungnya  perpolitikan  yang  berkualitas.  Netralitas  birokrasi  justru  disangga  dengan  pendayagunaan  kompetensinya.5 Justru  kompetensi  birokrasi  perlu  dijamin 

untuk  menyangga  kontestasi  politik  yang  niscaya  berlangsung,  melalui  penempaan electoral governance.  

 

3. Preskripsi: Politik Netral‐Aktif’ 

Setara  dengan  jargon  ‘bebas‐aktif’  dalam  diplomasi,  Indonesia  perlu  mengembangkan  kaidah  ‘netral‐aktif’  dalam  reformasi  birokrasinya.  Ada  sejumlah bias pewacanaan dan pemaknaan peran birokrasi dalam pemilihan  umum  yang  diproduksi  di  masa  lalu,  yang  luput  refleksi  kritis  kita.  Untuk  menuntaskan, kalau bukan melakukan akselerasi proses demokratisasi yang  kita  usung,  bias  tersebut  perlu  dikoreksi.6 Reframing  ataupun  reformulasi 

tentang  netralitas  birokrasi  sangat  perlu  diusung  sebagai  agenda  advokasi,  setidaknya  oleh  Masyarakat  Ilmu  Pemerintahan  Indonesia.  Netralitas  birokrasi  tidak  boleh  lagi  didorong  oleh  semangat  untuk  menghindar  dari,  apa  yang  dituduhkan  sebagai  politik  kotor  para  politisi  partai.  Langkah  menghindar dari persoalan riel dalam demokratisas ini tidak nampak karena  terbiasanya kita dengan konotasi pasif dalam mewacanakan netralitas. Justru  dengan  mengembangkan  netralitas  itulah  birokrasi  perlu  didorong  untuk  melakukan intrumentasi agar dapat menjinakkan liarnya perpolitikan. Lebih  dari  itu,  netralitas  tidak  boleh  lagi  didudukkan  sebagai  kriteria  pengawasan  PNS  melainkan  harus  dikembangkan  sebagai  elemen  vital  bagi  pengembangan demokratis di negeri ini.  

       5

Francis E. Rourke, “Responsiveness and Neutral Competence in American Bureaucracy”, Public Administration Review, Vol. 52, No. 6 (Nov. - Dec., 1992), pp. 539-546.

6 Pointnya di sini, tidak semua hal yang dilakukan dimasa lalu harus ditinggalkan,

(7)

Untuk  ilustrasi,  mari  kita  merunut  seberapa  serius  kita  menindaklanjuti  Amandemen  Undang‐undang  Dasar.  Kita  tahu  bahwa  salah  satu  kesepakatan  konstitusional  kita  adalah  mewujudkan  demokrasi  dalam  tata  pemerintahan  presidensial,  dan  oleh  karenanya  diselenggarakanlah  pemilihan  presiden  (pilpres)  dan  pemilihan  kepada  daerah  (pilkada)  secara  langsung.  Namun,  karena  kuatnya  arus  pemikiran  ‘netral  pasif’  kita  tidak  cukup  serius,  kalau  memang  sempat  peduli,  untuk  mengkaitkan  kualitas  Pilpres/Pilkada  sebagai  bagian  dari  dari  pengembangan  presidensialisme.  Yang  marak  selama  ini  adalah  mobilisasi  kesepakatan  bahwa  presidensialisme  tidak  berjalan.  Tidak  nampaknya  decisive  policy‐making  Presiden  Susilo  Bambang  Yudhoyono,  dengan  serta  merta  dilekatkan  pada  karakter  personal  pemenang  Pilpres.  Sangat  sedikit,  yang  peduli  untuk  melacak  apakah  hal  itu  bukan  konsekuensi  dari  ketidak  mapanan  sistem  presidensial  yang  berlangsung  di  negeri  ini.7 Sehubungan  dengan  hal  ini, 

yang  penting  untuk  ditanyakan  bukanlah  sekedar  seberapa  netral  birokrasi  kita  dalam  pilpres  dan  pilkada.  Yang  lebih  penting  untuk  dikedepankan  adalah,  bagaimana  caranya  agar  netralitas  birokrasi  dapat  menjadikan  pilpres  dan  pilkada  mengkondisikan  cepatmatangnya  transformasi  menuju  pemerintahan  demokratis  dalam  model  presidensial.  Di  sini,  pucuk  pemerintahan  nasional  maupun  pucuk  pemerintahan  lokal  diharapkan  memiliki  kompetensi policy‐making  dan fully  competent  dalam  memimpin  pemerintahan  dalam  kurun  waktu  lima  tahun  tanpa  direcoki  sejumlah  masalah  struktural  seperti:  ketegangan  antara  Presiden  dengan  Wakil  Presiden,  atau  ketegangan  antara  Kepada  Daerah  dengan  Wakil  Kepala  Daerah. 

Politik  netral‐aktif’  birokrasi  mengharuskan  kita  mendudukkan  pemilu,  pilpres  maupun  pilkada  sebagai  bagian  tak  terpisahkan  dari  disain  besar  demokratisasi.  Lebih  dari  itu,  satuan  hitungnya  bukanlah  sekedar  lancar  dan  absahnya  pemimpin  pemerintahan  yang  terlipih8,  melainkan 

terwujudnya  pemerintahan  demokratis.  Tanpa  kesediaan  untuk  menggunakan  demokrasi  sebagai  satuan  hitung,  maka  pemilu,  pilpres  dan  pilkada manfaat nyata dari kontestasi yang berlangsung hanya terpusat pada  elit.9 Merekalah  yang  menikmati  pewacanaan  karena  dengan  pewacanaan 

seperti  itu,  dominasi  mereka  terjustifikasi  dan  bahkan  terreproduksi.10 Cara 

      

7 Hanta Yuda AR, Presidensialisme Setengah Hati; Dari Dilema ke Kompromi,

Gramedia Pustakan Utama, Jakarta, 2010.

8 Kita tahu bahwa jargon yang dikumandangkan untuk menjaga kualitas pemilu, pilpres

dan pilkada selama ini adalah LUBER (langsung, umum, bebas, rahasia) dan JURDIL (jujur dan adil). Jargon ini hanya peduli dengan kelancaran penyelenggaraan pemilihan pemimpin pemerintahan, dan keabsahan fihak yang memang. Amanat untdang-undang terhadap lembaga penyelenggara pemilu, yakni Komisi Pemilihan Umum, pun berhenti disitu.

9 James Petras, “Class Politics, State Power and Legitimacy”, Economic and Political Weekly, Vol. 24, No. 34 (Aug. 26, 1989), pp. 1955-1958.

10 Lebih dari itu, tanpa peluasan satuan hitung ini, tidaklah fair kecaman para ahli ilmu

(8)

berfikir  lama,  yang  membiarkan  elit  memobilisasi  dukungannya  melalui  kelatahan yang diwariskan pemerintahan otoriter, perlu dobrak.  

Politik  netral‐aktif  birokrasi  perlu  dikembangkan  mengingat  problematiknya  pemberlakukan  skema  liberal  di  negeri  ini.  Demokratisasi  dalam mainstream pemikiran politik yang menggejala di negeri ini, dimaknai  peminggiran  peran  negara  dalam  pengelolaan  kepentingan  publik.  Demokratisasi  berlangsung  simultan  dengan  liberalisasi  ekonomi  yang  mengandaikan  bahwa  pemerintahan  yang  baik  adalah  yang  perannya  seminimal  mungkin.  Bersamaan  dengan  hal  itu,  berlaku  asumsi  bahwa  pengalaman  berdemokrasi  akan  dengan  sendirinya  menggulirkan  proses  transformasi  menuju  tatatan  yang  demokratis.  Asumsi  ini,  setelah  ditelaah  secara  seksama,  ternyata  tidak  terbukti.11 Maknya,  terbiasanya  oleh  terlibat 

secara  baik  dalam  kegiatan‐kegiatan  pemilu  yang  didasari  oleh  semangat  peminggiran  peran  negara  ini  tidak  dengan  serta‐merta  menjadikan  nilai‐ nilai demokrasi semakin terlembaga dan membudaya.  

Proses  discursive,  termasuk  reframing  perbincangan  sangat  diperlukan.  Dibalik  maraknya  wacana  netral  pasif  tersirat,  dalam  istilah  James  Scott, hidden  transcript  yang  perlu  dicermati  tentang  peminggiran  peran  negara.12 Point  yang  hendak  dikedepankan  di  sini  adalah  bahwa, 

betapapun birokrasi di negeri ini dirundung masalah, demokratisasi di negeri  ini  memerlukan  netralitas  yang  bersifat  berwatak  pro‐aktif.  Birokrasi,  bagaimanapun  juga  adalah  kekuatan  politik  penting  dalam  tata  pemerintahan  di  negeri  ini,  dan  akselesasi  proses  demokratisasi  bisa  dilakukan  justru  dengan  mengambangkan  netralitas  aktif  (menggantikan  netralitas pasif yang terpelihara selama ini). 

Ada  dua  bentuk  keterlibatan  birokrasi  dalam  penyelenggaraan  pemilu,  pilpres  dan  pilkada.  Bentuk  keterlibatan  yang  pertama,  bersifat  langsung,  yakni  dalam  proses  electoral  governance.  Ada  birokrasi  penyelenggaraan  pemilu  yang  harus  dikembangkan  agar  pemili  berkualitas  terselenggara,  dan  menghasilkan  pemimpin  yang  berkualitas  untuk  memimpin  jalannya  birokrasi  itu  sendiri.  Dalam  konteks  ini,  electoral  governance  bisa  didudukkan  bukan  hanya  sebagai  penjaminan  tersalurkannya hak rakyat dalam menentukan pimpinannya, malainkan juga  sebagai  proses  mencari  pemimpin  terbaik  untuk  berjalannya  birokrasi  pemerintahan.  Bentuk  keterlibatan  yang  kedua  bersifat  tidak  langsung,  namun  justru  memiliki  dampak  yang  besar  bagi  peningkatan  kualitas  demokrasi.  Muara  dari  pelibatan  birokrasi,  dalam  hal  ini,  adalah  berlangsungnya proses policy‐making yang efektif untuk mengatasi masalah  publik. 

 

      

11 Mark Warren, “Democratic Theory and Self-Transformation”, The American Political Science Review, Vol. 86, No. 1 (Mar., 1992), pp. 8-23.

12 Gagasan ini disinapirasi oleh Carol J. Greenhouse, “Hegemony and Hidden

Referensi

Dokumen terkait