• Tidak ada hasil yang ditemukan

Media Literacy dan Pemilu 2004 Jurnal Pa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Media Literacy dan Pemilu 2004 Jurnal Pa"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

MEDIA LITERACY DAN PEMILU 2004: TINJAUAN AKADEMIS

Prayudi1

Abstract

Changes in the political and economic realities at the end of 1990s shifted the development of media industries in Indonesia. Issues of freedom of information and expression resulted in the variety of texts presented in the media. The ability and capacity of the media to shape the thoughts and expression of public about realities has led to the understanding of the necessity of media literacy. Media literacy is the ability to interpret symbols and meanings of the media texts received through communication media. This paper examines the importance of media literacy and how to develop media literacy skill. Attention is given to how to practice media literacy skill in relation to the 2004 General Election in Indonesia.

Keywords: media literacy, teks, konteks, Pemilu 2004

Pendahuluan

Dalam lima tahun terakhir perubahan politik yang terjadi di Indonesia membawa pengaruh yang signifikan pada praktek kebebasan berekspresi dan kebebasan

memperoleh informasi. Menjamurnya industri media menawarkan beragam informasi yang bisa diakses oleh publik. Media sering disebut sebagai ‘conciousness industries’ dikarenakan media membantu membangun cara berpikir, melihat, mendengar dan berbicara mengenai relaitas sosial politik yang dihadapi publik. Teks media membentuk

beragam makna sosial. Sering kali publik secara langsung mengadopsi pesan ke dalam kerangka berpikirnya yang mempengaruhi cara pandang publik atas realitas sosial, tanpa berupaya untuk memahami konteks bagaimana sebuah pesan dibentuk. Lebih lanjut, pola berpikir publik lebih sering ditentukan oleh media tanpa ada sikap kritis atau upaya untuk memahami makna dibalik pesan yang disampaikan media. Hal ini bisa

dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan yang rendah dan kultur sosial masyarakat sehingga partisipasi aktif atas pesan yang sampai ke publik tidak dipahami secara kritis (aktif), namun cenderung menerima apa adanya (pasif).

Sementara itu, institusi media adalah sebuah lembaga yang tidak bisa lepas dari berbagai pengaruh baik eksternal maupun internal. Kenyataan ini menjadikan institusi

media tidak bebas nilai, walau seharusnya media berpihak pada kepentingan pubik.

(2)

Dalam pesan yang disampaikan ke publik, ada nilai atau kepentingan tertentu yang sesungguhnya hendak disampaikan. Oleh karena itu, publik perlu untuk selektif dan kritis dalam mengkonsumsi pesan media (teks). Upaya untuk membentuk sikap kritis ini

dikenal dengan terminologi media literacy atau ‘sadar media’. Pada prinsipnya media literacy merupakan kemampuan untuk mengakses, menganalisis, menilai dan memproduksi komunikasi dalam beragam bentuk (Aufderheide, http://www.kff.org). Dalam konteks yang lebih luas, orang yang sudah ‘sadar media’ dapat berpikir kritis atas apa yang dia lihat, dengar dan baca dari televisi, radio, suratkabar, buku, majalah,

internet, film dan segala bentuk teknologi media baru lainnya. Kritisisme atas teks akan membuat publik lebih bijak dan objektif dalam melakukan penilaian atau memberikan pendapat atas isu.

Keahlian media literacy menjadi penting bagi publik untuk dikembangkan

karena beberapa argumen berikut:

1. Media mendominasi kehidupan sosial, politik dan kultural. 2. Hampir semua pesan selain pengalaman langsung ‘dimediasikan’. 3. Media memberikan model prilaku dan nilai yang kuat.

4. Media mempengaruhi publik baik secara sadar maupun tidak sadar.

5. Media didorong oleh profit dalam konteks politik dan ekonomi.

6. Media litercay membantu pemahaman atas pesan yang disampaikan oleh media. 7. Media literacy membuat hubungan yang pasif menjadi aktif (media vs audience). Melalui media literacy, publik diharapkan akan lebih bertanggung jawab dalam

mensikapi pesan yang diterima dan dapat mempengaruhi kehidupan sosial dan politik mereka. Media literacy juga merupakan cara untuk mengurangi dampak potensial yang beragam dari pengaruh media dan meningkatkan manfaatnya. Juga menjadikan publik konsumen yang kritis sekaligus sebagai warga negara yang well-informed sehingga dapat berpartisipasi aktif dalam masyarakat. Apalagi bila dihubungkan dengan

pelaksanaan Pemilu Legislatif dan Presiden dan Wakil Presiden 2004 yang dilaksanakan tanggal 5 april dan 5 Juli 2004. Pertarungan politik yang begitu kuat sangat terlihat baik antar partai politik maupun antar capres-cawapres. Media massa pun menjadi arena pertarungan ideologis dari berbagai kelompok kepentingan politik tersebut.

Pemilu 2004 merupakan salah satu agenda politik terpenting bangsa ini karena

(3)

DPRD) dan presiden dan wakil presiden yang diharapkan mampu membawa bangsa ini keluar dari krisis multidimensi yang berkepanjangan. Peran media massa pun menjadi sangat signifikan dalam hubungannya dengan pelaksanaan pemilu karena partai-partai

politik dan para kandidat presiden dan wakil presiden berlomba-lomba mendapatkan dukungan dan simpati dari publik; dan media massa merupakan instrumen yang tepat. Media massa pun menjadi arena pertarungan ideologis dari berbagai kelompok kepentingan politik tersebut. Hal ini sesungguhnya menjadi tantangan tersendiri bagi institusi media apakah media bisa lepas dari berbagai kepentingan sehingga dapat

menyampaikan informasi atau pesan yang independen, obyektif dan bebas nilai. Kalaupun media harus berpihak, maka media harus berorientasi pada kepentingan publik.

Pada hari Kamis, tanggal 19 Februari 2004, Komisi Pemilihan Umum (KPU)

dan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menandatangani Surat Kesepakatan Bersama (SKB) tentang Siaran Kampanye Pemilu dan Kampanye Peserta Pemilu. SKB ini menekankan semua lembaga penyiaran harus berlaku adil kepada peserta Pemilu 2004 selama masa kampanye. Keadilan meliputi pemberian kesempatan yang sama dalam penyiaran berita dan pemasangan iklan. Bila melanggar, lembaga penyiaran tersebut

dapat diancam sanksi administratif sesuai UU No. 32/2002 tentang penyiaran (Republika, 19 Februari 2004). Adanya kesepakatan ini sesungguhnya dapat dijadikan kerangka berpikir – dalam konteks media literacy - bagi publik untuk bersikap kritis atas beragam teks yang muncul melalui media televisi. Faktor lainnya yang dapat

dijadikan kerangka berpikir tentu saja Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 yang mengatur tentang Pers.

Walaupun telah ada kesepakatan antara KPU dan KPI dalam bentuk SKB dan adanya undang-undang yang mengatur tentang penyiaran dan pers, ini hanyalah tiga dari sekian banyak faktor yang menjadi pertimbangan pihak institusi pers dan media

(4)

Bagaimana Mengembangkan Keahlian Media Literacy?

Untuk membaca atau memahami teks yang muncul pada berita televisi, suratkabar, radio dan iklan, paling tidak ada dua pendekatan yang dapat digunakan:

akademis dan praktis.

Pendekatan akademis misalnya dapat dipahami dalam relasi teks-konteks. Pemahaman klasikal bahwa teks hanya identik dengan tulisan atau kata telah bergeser ke pemahaman yang lebih luas. Teks bisa saja dalam bentuk tulisan, pidato, gambar, musik atau segala bentuk simbol lainnya (Lehtonen, 2000:73). Intinya adalah

simbol-simbol ini terorganisasikan dan ada kombinasi simbol-simbolik yang didefinisikan dengan jelas. Pesan, informasi atau berita (teks) yang disampaikan oleh sebuah media tidak akan lepas dari konteksnya. Artinya proses rekonstruksi pesan sebelum pesan disebarluaskan akan dipengaruhi oleh berbagai aspek, seperti situasi sosial politik, latar

belakang pendidikan reporter, misi dan visi institusi media atau bahkan kepentingan pemilik modal sekalipun.

Pada masa Orde Baru, media massa sangat berhati-hati dalam memberitakan isu-isu politik yang berhubungan dengan pemerintah. Kritik pun harus disampaikan dengan metode pelaporan tertutup, sopan dan melalui pujian. Berdasarkan penelitian yang

dilakukan penulis terhadap pemberitaan Harian Kompas periode Orde Baru atas isu kerusuhan etnis di Kalbar, Kompas cenderung menggunakan eufimisme dan pelaporan tertutup dalam merepresentasikan isu kerusuhan (Prayudi 2003). Sehingga publik dituntut untuk membaca makna tersirat atau apa yang tidak ditulis oleh media untuk

memahami konteks berita yang disampaikan oleh media massa. Pada era reformasi, media massa kadangkala harus berhadapan dengan massa partai politik atau tokoh politik tertentu jika mereka merasa pemberitaan oleh media massa dianggap tidak sesuai dengan keinginan mereka. Hal ini mau tidak mau membuat media massa tidak bebas nilai. Ada kepentingan lain yang akhirnya mempengaruhi proses pelaporan berita

kepada publik. Bisa jadi pemberitaan seorang calon presiden dari partai tertentu oleh sebuah stasiun televisi cukup dominan dikarenakan calon presiden tersebut memiliki saham yang dominan pada stasiun tevlevisi yang bersangkutan. Bisa juga pemberitaan oleh sebuah stasiun televisi mengenai kampanye salah satu capres lebih dominan dikarenakan capres tersebut sekaligus merupakan presiden yang sedang berkuasa dan

(5)

untuk memahami teks dari pesan yang disampaikan oleh media massa, publik harus kritis dengan melihat konteksnya dari berbagai aspek. Melalui pemahaman ini, konsep ‘konteks’ dapat dipahami mengandung penekanan mendalam pada aktivitas publik.

Konteks mengacu pada fakta bahwa makna dalam teks berita diciptakan tidak hanya di dalam aktivitas yang secara tradisional dianggap memproduksi makna – teks lisan, tertulis, audiovisual – tapi juga dalam menerima teks. Jadi ada prinsip interaksi dengan teks (Lehtonen, 2000:116).

Pendapat diatas didukung oleh Grossberg et al. yang menyatakan bahwa media

tidak dapat dipahami terpisah dari hubungan-hubungan aktif dimana mereka selalu terlibat: kita tidak dapat memahami media terlepas dari konteks hubungan ekonomi, politik, historis dan kultural (1998:7). Kita tidak bisa memahami media terlebih dahulu baru memikirkan pengaruh media pada politik dan ekonomi. Pada waktu yang

bersamaan, kita tidak bisa memahami peristiwa politik atau ekonomi dan kemudian berharap memahami peran media dalam merepresentasikan peristiwa-peristiwa tersebut. Sehingga makna representasi sebuah teks berhubungan terbalik dengan konteksnya.

Pendekatan lain yang lebih sistematis adalah pendekatan studi media. Upaya untuk memahami bagaimana teks media dikonstruksi, faktor-faktor apa yang

mempengaruhi konstruksi teks media, mengapa media merepresentasikan sebuah peristiwa melalui perspektif tertentu dan kepentingan apa yang dibawanya dikenal dengan istilah sosiologi media. Istilah ini seringkali digunakan untuk melihat pengaruh sosial atau politik pada teks media. Studi ini berkembang dari studi awal David

Manning White mengenai ide gatekeeper pesan media pada tahun 1950 dan penjelasan Warren Breed tentang bagaimana jurnalis menjadi tersosialisasi akan pekerjaan mereka pada tahun 1955.

Dalam upaya mengembangkan keahlian media literacy, ada tiga kerangka berpikir kritis dari beragam pendekatan mengenai pengaruh atas konstruksi teks media:

ekonomi politik, organisasi dan kultural. Penjelasan lebih detail mengenai beragam faktor yang mempengaruhi rekonstruksi isi teks media lihat Shoemaker dan Reese (1996). Pendekatan ekonomi politik menekankan bahwa proses rekonstruksi teks media merupakan hasil interaksi kekuatan-kekuatan ekonomi dan politik diluar media. Pendekatan ini melihat sistem regulasi yang mengatur faktor-faktor seperti kepemilikan,

(6)

dan isi dari iklan (Newbold, 2002:34). Bisa jadi mereka yang memiliki modal atas media dapat mempolitisir media yang bersangkutan untuk membentuk opini publik positif atas si pemilik modal. Orientasi makna sebuah teks bisa diarahkan sesuai dengan

mereka yang memiliki kekuasaan dari segi ekonomi atau politik.

Pendekatan organisasi lebih melihat teks media sebagai hasil dari interaksi beragam anggota institusi media. Pendekatan ini menolak adanya faktor-faktor ekonomi politik dalam proses produksi teks media. Pendekatan ini memfokuskan teks media sebagai hasil dari interaksi beragam anggota institusi media (kultur profesional) dan

struktur yang mempengaruhi proses konstruksi teks media, seperti etika objektivitas, bentuk berita, tekanan deadline, dan elemen rutin lainnya dari praktek jurnalisme dalam institusi media massa. Dengan demikian, mengapa isu tertentu direpresentasikan sedemikian rupa harus dilihat dari sistem kerja yang ada di institusi media yang bisa

meliputi norma, nilai atau rutinitas yang berlaku.

Paul Rock menekankan bahwa ‘berita merupakan hasil dari respon yang terorganisir dari masalah birokratis rutin’ seperti kebutuhan untuk menghasilkan materi sesuai dengan ketentuan ruang dan waktu dalam industri media (dalam Mc Nair 1999). Baik jurnalis koran maupun siaran harus mempresentasikan berita dalam batas tertentu

ruang dan tata letak (space dan layout) untuk koran dan masalah waktu siaran untuk media televisi dan radio. Keterbatasan ini menentukan sistem prioritas yang akan dialokasikan bagi deskripsi peristiwa, menentukan proporsi laporan dari keseluruhan presentasi teks; dan membatasi keseluruhan isi peristiwa yang dapat memicu reaksi

jurnalistik. Ketersediaan ruang (space) menjadi faktor organisasional mendasar yang dapat menjelaskan mengapa isu dengan nilai berita tertentu menghilang dari surat kabar dan program siaran berita. Sedangkan waktu juga menjadi faktor organisasi yang penting. Peristiwa akan cenderung dimasukkan dalam agenda berita jika bingkai waktunya sesuai dengan pola terbit dan deadline dari media yang relevan.

Oleh karena itu, jurnalis harus mengkonstruksi berita mereka agar sesuai dengan tuntutan ruang dan waktu yang ditetapkan oleh institusi media. Kenyataan ini tidak hanya menjelaskan mengapa karakteristik berita lebih mengenai peristiwa daripada proses, dan pengaruh daripada sebab; tapi juga dapat menjadi alasan mengapa media berita cenderung berorientasi pada pernyataan pihak yang berkuasa ketika

(7)

Pendekatan kultural menerangkan bahwa teks media merupakan sebuah interaksi yang kompleks antara faktor ekonomi politik dan organisasi. Pertanyaan utama dari pendekatan ini adalah ‘Bagaimana teks dikonstruksi sehingga memiliki kekuatan

makna?’. Bisa jadi pada beberapa kasus pengaruh internal lebih besar daripada faktor ekonomi politik atau kebalikannya. Menurut Mc Nair, pendekatan ini memfokuskan bukan pada siapa yang memiliki media, tapi bagaimana media diposisikan berhubungan dengan elit kekuasaan di dalam msayarakat. Jadi teks media tidak hanya merupakan sebuah fungsi kepemilikan, atau praktek dan ritual jurnalistik, tapi juga merupakan

interaksi antara institusi media, sumber informasi dan institusi sosial lainnya (McNair , 1999).

Pendekatan-pendekatan dalam mengembangkan keahlian media literacy diatas cenderung dari sisi akademis dan bersifat teoritis sehingga bisa jadi agak menyulitkan

publik awam dalam menganalisis isi teks media. Dengan demikian, untuk pendekatan praktis, publik perlu membangun sikap kritis terhadap isi teks media. Keahlian media literacy yang mendasar adalah belajar mempertanyakan pesan media. Pertanyaan-pertanyaan inti dibawah ini didasarkan pada pengembangan Center for Media Literacy (http://www.medialit.org/reading_room/CMLskiilsandstrat.pdf):

1. Siapa yang menciptakan pesan (teks) dan mengapa mereka menyebarkan pesan tersebut? Siapa yang memiliki media dan siapa yang mengambil keuntungan dari pesan tersebut?

2. Tehnik apa yang digunakan untuk menarik dan mempertahankan perhatian?

3. Gaya hidup, nilai dan pandangan apa yang direpresentasikan dalam pesan (teks)? 4. Apa yang dihilangkan dalam pesan ( teks)? Mengapa bagian ini dihilangkan? 5. Bagaimana orang yang berbeda menginterpretasikan pesan ini?

Mempertanyakan teks berita yang ada di media massa merupakan kemampuan yang mendasar dari membangun keahlian media literacy. Paling tidak, publik akan kritis atas

isu yang direpresentasikan oleh teks media, sehingga dalam membangun kerangka berpikir politis, publik tidak hanya secara pasif menerima informasi dari media, tapi juga terlibat interaksi aktif dengan teks media dengan mempertimbangkan secara kritis analisis konteks yang membuat sebuah teks dimunculkan.

Dalam hubungannya dengan pemilu, media massa tentu akan merepresentasikan

(8)

teks media, publik seharusnya lebih bertanggung jawab dalam mengambil sikap politik pada saat pelaksanaan pemilu tanggal 5 April dan 5 juli 2004 nanti. Media massa yang cenderung memberikan sebagian besar porsi pemberitaannya pada suatu partai tertentu,

publik yang kritis akan melihat media tersebut tidak adil dan memiliki kepentingan politik tertentu untuk memenangkan calon legislatif atau calon presiden dari partai tersebut misalnya. Atau ketika tokoh partai tertentu muncul dalam bentuk iklan, publik yang sadar media akan melihat simbol-simbol yang muncul pada iklan tersebut dalam konteks politik yang lebih luas.

Pada prinsipnya, tiap bentuk media massa memiliki seperangkat aturan unik tersendiri dalam mengkonstruksi pesan. Walaupun media massa dituntut untuk objektif dan hanya mengorientasikan kepentingannya pada publik, institusi media juga didorong oleh orientasi profit dalam konteks ekonomi dan politik.

Media Literacy: Analisis Kritis

Implementasi keahlian media literacy misalnya dapat dilihat pada kasus dominannya pemberitaan mengenai Surya Paloh sebagai kandidat calon presiden dari

Partai Golkar di Stasiun Televisi Metro TV. Suryo Paloh merupakan pemilik modal dominan dari stasiun televisi tersebut dan Harian Media Indonesia. Berdasarkan hasil analisa, pemberitaan mengenai kampanye Suryo Paloh dilakukan berulang-ulang dan melebihi ketentuan yang disepakati antara Komisi Penyiaran dan para pengelola stasiun

televisi yang tertuang dalam Surat Kesepakatan Bersama yang ditandatangani tanggal 19 Februari 2004. Pada kasus yang lain Metro TV juga menyiarkan acara Indonesia on the Move yang secara jelas didesain guna mendongkrak popularitas pasangan dari PDIP. Marisa Haque, si pembawa acara, merupakan kader PDIP sehingga secara eksplisit acara didesain untuk menunjukkan sisi keberhasilan pembangunan yang dijalankan oleh

Megawati. Dampak lebih jauhnya diharapkan masyarakat memilih Megawati pada Pemilihan Presiden 5 Juli 2004. Pihak redaksi siaran Metro TV terjebak pada kepentingan pemilik modal dan akhirnya mengabaikan kepentingan publik dimana fair and balance dalam pemberitaan harusnya ditaati. Hal ini bisa berdampak pada label stasiun televisi Metro TV yang dianggap sebagai ‘stasiun berita’ akhirnya menjadi tidak

(9)

Pada hari Minggu, tanggal 6 Juni 2004, Republika Online memberitakan kampanye Megawati sebagai berikut:

Mega: Pilih Capres yang Punya Tahi Lalat

Medan-RoL -- Calon Presiden dari PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri minta kepada masyarakat agar dapat memilih seorang capres yang memiliki tahi lalat yang terletak di bagian bibir sebelah kanan.

"Ingat dan pilihlah capres yang ada tanda tahi lalat dan lagi pula orangnya kelihatan cantik dan juga diharapkan mampu memberikan perobahan serta membangun masyarakat yang lebih baik," ujar Megawati saat menyampaikan orasi kampanyenya di Lapangan Merdeka Medan, Minggu sore...

Oleh karena itu, katanya, masyarakat jangan sampai tidak memilih Capres yang punya tahi lalat pada Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 5 Juli 2004 mendatang...

Ia mengatakan, selama ini ia (Megawati-Red) sering mengurus kaum Ibu, namun pada saat Pemilu yang dipilih adalah kaum Bapak.

"Pada Pemilu 5 Juli 2004, kaum Ibu harus memilih nomor dua dan kalau diluar negeri artinya 'viktory' yang maksudnya adalah kemenangan dan ini perlu diingat," kata Megawati Soekarnoputri dalam orasi kampanyenya di Medan.

ant/aih

Walaupun Republika mengambil berita dari Kantor Berita Antara, namun

Republika melihat adanya nilai berita (news value) didalamnya. Inilah pertama kalinya dalam sejarah kampanye presiden di Indonesia atau bahkan di dunia, seorang kandidat presiden meminta masyarakat untuk menjadikan tahi lalat sebagai indikator dipilihnya sang kandidat. Secara implisit dengan headline berita seperti diatas, Republika ingin menunjukkan pada masyarakat bahwa mereka masih dianggap tidak berpendidikan

sehingga sang kandidat presiden tidak merasa perlu untuk menyodorkan program atau kebijakan yang akan dilaksanakan seandainya dia menjadi presiden. Sang kandidat mengandalkan kharisma dan nama besar sang bapak yang mantan presiden pertama Republik Indonesia. Tidak ada upaya dari sang kandidat untuk mengedukasi masyarakat

melalui kampanye yang dilakukannya. Keluhan yang disampaikan dapat direpresentasikan sebagai bias gender dan tidak pantas. Analisis lebih jauh, sebagai sebuah institusi media yang berbasis Islam dan dekat dengan Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia yang didominasi oleh kader dari Organisasi Massa Muhammadiyah, bukan tidak mungkin mempengaruhi kebijakan media online Republika, sehingga bisa

saja pemberitaan diatas bertendensi memojokkan satu calon kandidat dalam rangka mendukung calon kandidat lain, Amien Rais, yang berlatar belakang Muhammadiyah.

(10)

bagaimana keahlian media literacy diterapkan terhadap teks media. Perlu dipahami sekali lagi bahwa teks tidak hanya berujud tulisan, sehingga media literacy dapat juga diterapkan pada teks media radio dan televisi.

Penutup

Berkembangnya industri media massa di Indonesia tentu merupakan hal yang

menggembirakan apalagi dilihat dari konteks kebebasan berbicara dan berekspresi yang sesuai dengan pasal 19 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia. Seiring dengan maraknya insitusi media, profit yang diperebutkan oleh institusi media inipun, khususnya stasiun televisi, menjadi berkurang karena rendahnya peningkatan belanja iklan perusahaan. Konsekuensinya, institusi media akan berlomba-lomba menciptakan

program (teks media) yang bisa menarik lebih banyak publik untuk mengkonsumsinya. Dalam konteks ini, oreintasi profit kadang lebih menonjol daripada upaya pihak institusi media untuk mendidik publik. Bukan tidak mungkin sisi ini menjadikan institusi media tidak bebas nilai dan akibatnya teks media sebagai representasi realitas sosial melekat bersamanya nilai dan pandangan dari kepentingan pihak-pihak tertentu.

Institusi media massa seharusnya tidak hanya berorientasi pada profit semata, tapi juga bertanggung jawab kepada publik untuk mengedukasi publik melalui teks media yang disampaikan karena sesungguhnya institusi media, khususnya televisi dan radio, menggunakan ‘ranah publik’ (public sphere). Menurut McKenna, public sphere

adalah forum komunikasi publik: sebuah forum dimana indidvidu sebagai warga negara secara bersama-sama dapat datang sebagai publik dan secara bebas mengemukakan berbagai persoalan yang menyangkut kepentingan umum (Dalam Newbold et al., 2002:22). Sehingga dalam proses rekonstruksi pesan, perlu kiranya institusi media untuk juga mempertimbangkan kepentingan publik dan berfungsi sebagai forum

komunikasi politik bagi semua pihak. Realitas media yang terbentuk pun akan menciptakan kerangka berpikir yang kritis.

Tantangan yang lain adalah sebagai sebuah negara berkembang dengan mayoritas penduduknya tinggal di pedesaan dan berpendidikan rendah, pengembangan keahlian media literacy agak sulit dilakukan melalui jalur pendidikan. Oleh karenanya

(11)

rasional tanpa mengedepankan sisi kekerasan, sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi. Keberadaan lembaga pemantau media yang mencermati dan menganalisis teks media dan pembentukan tim ombudsman sebagaimana dilakukan oleh Harian Kompas dan

Jawa Pos yang pada prinsipnya untuk membela hak-hak sipil dan hak-hak kewarganegaraan terhadap kesewenangan pemerintah atau bahkan kesewenangan pers sendiri sesungguhnya merupakan upaya untuk memastikan bahwa kepentingan publik tidak dipolitisir untuk kepentingan pihak tertentu melalui proses konstruksi teks media.

Sebagai sebuah wacana, perlu kiranya pendidikan media dimasukkan kedalam

kurikulum sebagai konsekuensi dari kebebasan pers dan kebebasan informasi. Di Hawai misalnya, pihak legislatif telah memperkenalkan Media Litercay Bill sejak tahun 1994 yang dipengaruhi oleh penerapan yang sama oleh pemerintah Kanada. Intinya bahwa program pendidikan media literacy diperlukan karena media memainkan peran yang

sangat signifikan dalam bagaimana publik memandang realitas yang ada di tengah masyarakat (http://interact.uoregon.edu/MediaLit/mlr/readings/articles/hawii04.html). Melalui media literacy, selain memungkinkan publik bersikap kritis dan analisis terhadap teks media, juga memungkinkan semua suara memiliki akses ke berbagai bentuk media dengan tujuan menginformasikan ke publik massa. Media literacy juga

(12)

REFERENSI

Aufderheide, Patricia, ‘National Leadership Conference on Media literacy’, in the Henry J. Kaiser Family Foundation, Media literacy, [Online]. Available at: http://www.kff.org [2004, February 10]

Center for Media literacy, [Online]. Available at:

http://www.medialit.org/reading_room/CMLskiilsandstrat.pdf.

Grossberg, Lawrence, Ellen Wartella, dan D. Charles Whitney, 1998, Mediamaking: Mass Media in A Popular Culture, Sage Publications: California.

Harian Republika, edisi Kamis/19 Februari 2004.

Harian Republika, edisi Jum’at/ 9 Juli 2004.

Lehtonen, Mikko, 2000, Cultural Analysis of Text, Sage Publications: London.

McNair, Brian, 1999, News and Journalism in the UK: A Textbook (3rd edition), Routledge: London.

Newbold, Chris, 2002, The Media Book, Oxford University Press: New York.

Prayudi, 2003, Press Coverage of Ethnic Violence in Indonesia, RMIT University, Melbourne, Australia, Unpublished Thesis.

Shoemaker, Pamela J. and Stephen D. Reese, 1996, Mediating The Message: Theories of Influences on Mass Media Content, Longman: New York.

Referensi

Dokumen terkait