• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jamaluddin Al Afghani | Abu Dzakwan's Blog

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Jamaluddin Al Afghani | Abu Dzakwan's Blog"

Copied!
296
0
0

Teks penuh

(1)

Bismillahirrahmanirrahim Jamaluddin Al-Afghani

Milenium Pertama (1897-1997) Dr. Hasan Hanafi

Muqaddimah

Saya tidak ingin kalau peringatan milenium pertama Jamaluddin al-Afghani (1897-1997) berlalu begitu saja tanpa saya hidupkan, walau hanya melalui sebuah catatan kecil dan walau saya sedang sibuk menulis proyek “Turats dan Pembaharuan”, yang tidak bisa menjaga pernyataan rasional dalam “Dari Aqidah ke Revolusi”, walaupun terdapat mimbar-mimbar pidato dalam “Agama dan Revolusi di Mesir” dan dalam “Kiri Islam”.1

Oleh sebab itu, saya berpendapat untuk mengkhususkan sisa umur ini pada sesuatu yang bermanfaat bagi khalayak umum dan meninggalkan bentuk terakhir “Dari Naql ke Inovasi”(Min al-Naql ila al-ibda’), yang telah saya mulai sejak Oktober 1984 dan belum diterbitkan hingga sekarang, karena melihat kesibukan saya dalam kehidupan budaya baru pada waktu terjadinya perpecahan bangsa dan popularisasi kebudayaan antara wacana Salaf dan wacana Sekuler (al-khithab as-salafi dan al-khitab al-‘almani),2 untuk

1 Agama dan Revolusi di Mesir (1952-1988), terdiri dari delapan jilid: 1-Agama dan Budaya Nasionalisme, 2-Agama dan pembebasan kebudayaan, 3-Agama dan perjuangan bangsa, 4-Agama dan pembangunan Nasional, 5-Gerakan-gerakan Islam Kontemporer, 6-Ushuliah Islam, 7-Kanan dan Kiri dalam Pemikiran Agama, 8-Kiri Islam dan Persatuan Bangsa, Madbuli, Kairo, 1989

Kiri Islam,

2 Pada saat tersebut, telah diterbitkan:

(2)

menghidupkan peringatan Milenium Pertama Jamaluddin al-Afghani.

Beliau adalah pelopor gerakan pembaharuan modern dan pendiri Madrasah Mesir, setelah melemahnya gerakan pembaharuan dari generasi ke generasi; dari Afghani ke Muhammad Abduh disebabkan gagalnya Revolusi Arab, dari Muhammad Abduh ke Rasyid Ridha disebabkan berhasilnya Revolusi Kamaliah pada tahun 1923 dan dihilangkannya sistem kekhalifahan, dari Rasyid Ridha ke Hasan Al-Banna, hingga terbunuhnya pada tahun 1949 dan pertentangan antara Ikhwan dan Revolusi tahun 1954, dari Hasan al-Banna ke Sayyid Qutub yang merubah dari “Keadilan Sosial dalam Islam”, “Pertempuran antara Islam dengan Kapitalis”, “Perdamaian Dunia dan Islam” ke “Petunjuk-petunjuk Jalan” dan berakhirnya gerakan pembaharuan ke gerakan Islam Modern; seperti Jama’ah Jihad, tulisan-tulisan Muhammad Abdussalam Farj dan Umar Abdurrahman, melemahnya Islam yang tercerahkan, ketidakmampuannya untuk membentuk aliran yang independen, atau garis liberal dalam gerakan Ikhwan Muslimin, walaupun adanya

Madbuli, 1991.

2. Muqaddiman Oksidentalisme, Ad-Dar al-Faniah, Kairo, 1991.

3. Islam di zaman modern (dua juz). Pertama,”Agama, Ideologi dan Pembangunan”. Kedua, “Turats, Revolusi dan Kebudayaan”, Anglo Mesir, Kairo, 1995 (dengan bahasa Inggris).

4. Kegundahan Pemikiran dan Negara (dua juz).Pertama, “Turats, Modernisasi dan Zaman”. Kedua, “Pemikiran Arab Kontemporer”, Dar Quba lithiba’ah, Kairo, 1998. 5. Dialog antar generasi, Kairo, Dar al-Quba

(3)

beberapa tulisan yang berbeda dengan berbagai ragam dan bentuk.3

Ini adalah akhir masa saya dalam tulisan-tulisan yang merakyat setelah bergumul dalam tulisan-tulisan yang ilmiah. Saya telah bertekad dan semoga kondisi ini membantu saya, baik itu kondisi mesir dan Dunia Arab, untuk mengkhususkan sisa umur saya dalam menyelesaikan sisa dari proyek “Turats dan Revolusi” dengan ketiga frontnya. Saya berharap dapat kemudahan untuk berurusan dengan penerbit Darul Quba, sebagai penerbit terakhir yang terbaik setelah banyaknya penerbit-penerbit lain.

Hasan Hanafi

Nasr City, November 1997

Pasal Pertama:

Objek Bahasan dan Metodologi 1. Petunjuk Afghani

Jamaluddin Afghani adalah pelopor gerakan pembaharuan, pencetus kebangkitan Islam sebagaimana tertulis dalam kuburannya di Kabul. Beliau adalah orang yang pertama membentuk proyek pembaharuan modern pada paruh kedua abad lalu, saat Islam menghadapi kekuatan imprealisme dari luar dan tekanan dari dalam. Karena ajaran-ajarannyalah muncul Revolusi Arab yang

(4)

dikumandangkan di depan Khudeva Taufiq, di halaman depan Istana Abidin (Kairo) “Allah telah menciptakan kita dalam keadaan bebas, Dia tidak menciptakan kita dengan terbelenggu, kita tidak akan mewarisinya setelah hari ini”. Afganilah yang mengangkat sologan “Mesir untuk orang-orang Mesir”. Ia adalah bapak spiritual Partai Nasionalis Mesir, dimana program-programnya ditulis oleh muridnya Muhammad Abduh. Beliau orang pertama yang membentuk konsep-konsep persatuan pada zaman modern dan berpusat di Mesir, sebagai negara pangkalan.

Mesir berbatasan dengan Sudan di wilayah selatannya dengan batasan lembah Nil, Mesir berbatasan dengan Maroko di wilayah utaranya. Mesir berbatasan dengan Suria di wilayah baratnya dengan batasan Syam. Mesir berbatasan dengan semenanjung Arab di wilayah Timurnya. Mesir dengan sekitarnya itulah kesatuan Arab. Mesir dengan bagian timurnya berada di Jam’iah Syarqiah. Mesir adalah kiblatnya Islam, mercusuarnya al-Azhar dalam kesatuan Islam yang menyeluruh.

Ketika kebangkitan Islam muncul kembali saat ini, Islam mempunyai semangat yang baru dengan kembalinya gerakan pembaharuan Islam yang revolusioner. Pengaruhnya adalah perlawanan Islam di Palestina, Selatan Libanon, di Afghanistan sebelum perlawanan orang-orang Afghan terhadap pendudukan Sovyet, hingga perang sipil dan perlawanan Bosnia, juga Herzecovina terhadap Serbia.

Dari sini nampaklah pengaruh petunjuk Afghani pada saat peringatannya yang keseratus tahun pertama. Hasil-hasilnya dapat dilihat dengan adanya pertentangan antara generasi keenam dari para pembaharu dengan para pelopor pertama.

(5)

kekuasaan, mereka tidak mencari akar pemikiran, sehingga umat terbagi menjadi dua golongan yang saling bertentangan, saling mengkafirkan dan mengosongkan. Padahal secara tidak disadari, musuh telah mengepung pintu-pintu dan pengepungan itupun semakin merajalela hari demi hari.

Afghani memulai pembaharuan setelah beliau mendirikan gerakan Islam yang revolusioner, untuk membebaskan Dunia Islam dan mempersatukannya kembali dengan sologan yang sederhana dan jelas. Islam menghadapi penjajahan dari luar dan tekanan dari dalam. Ide-ide Afghani menyebar di kalangan para tokoh agama, para perwira, sastrawan dan para pemikir yang hijrah dari Syam. Maka meletuslah revolusi di Mesir menuntut kebebasan, konstitusi, dan persamaan antara masyarakat pribumi dengan orang asing. Jiwa revolusi itu terus berlanjut hingga pada masa Abdullah An-Nadim; seorang orator revolusi yang bersembunyi berpuluh-puluh tahun.4

Ketika revolusi Arab gagal dan Mesir diduduki, Arabi dan para pembantunya diasingkan ke Sarnadib di Samudra Hindia. Muridnya Muhammad Abduhpun kembali dan menyesal telah ikut serta dalam kecerobohan Arabi dan fitnah orang-orang Arab.5 Ia diasingkan ke Bairut sebagai guru besar di Universitas Maqasid Al-Islamiah dengan terhormat, ia juga berteman dengan Lord Karmer.

4 Lihat kajian kita: Sandungan Pembaharuan dalam “Kajian Filsafat”, Anglo Mesir, Kairo 1987, hal:177-190

(6)

Muhammad Abduh merubah arena perjuangannya dari politik ke pendidikan, dari revolusi politik ke perubahan sosial, dari jiwa yang pendek ke jiwa yang panjang. Dimulai dengan pembaharuan dalam Bahasa Arab dan peradilan-peradilan syariah. Perubahan dari realitas Mesir yang terpaku pada konstitusi ke tulisan-tulisan yang kritis dan membangun.

Dengan itu terjadilah revolusi 1919 oleh muridnya Sa’ad Zaglul; mulai adanya pembebasan wanita Mesir oleh Qasim Amin, mulai adanya liberalisme politik oleh Ali Abdurraziq, mulai adanya kritik baru oleh Thaha Husein dan kembalinya turath filsafat oleh Musthafa Abdurraziq.

Ketika revolusi Kamaliah di Turki terjadi, Nasionalisme Tirani menang atas Jami’ah Islamiah dan hizb al-ittihad wa taraqqi (partai persatuan dan kemajuan) menang atas partai pembaharu. Ketika Turki menghapuskan sistem kekhalifahan, maka terjadilah reaksi yang keras dari Rasyid Ridha, murid Muhammad Abduh, ia takut percobaan Turki itu berulang di seluruh Dunia Islam. Maka ia mempertahankan sistem Imamah dan kekhalifahan yang Agung untuk melawan sekularisme Turki, mempertahankan wahyu Muhammad melawan Rasionalisme Ilmiah Barat dan mempertahankan dalil-dalil Islam dari tuduhan-tuduhan Kristen.

Gerakan pembaharuan kembali mundur untuk kedua kalinya dari Salafiah yang bersemangat pada Afghani, ke Salafiah yang konservatif pada Muhammad bin Abdul Wahab, yang dapat dikembalikan pada Ibnu Taimiah dan terus pada Ahmad bin Hanbal atas nama nash (teks). Maka negara pangkalan pindah dari Mesir ke Saudi Arabia, begitu juga konstitusi berubah dari parlemen ke kabilah dan keluarga.

(7)

impiannya, maka ia membuat partai Islam yang revolusioner, yang akan menerapkan ideologi Islam yang revolusioner juga. Maka dibentuklah Ikhwan Muslimin di Ismailiah; di pinggiran terusan Suez, di hadapan tentara-tentara pendudukan Inggris di Syarqiah dan di hadapan para perwiranya di perbukitan besar.

Perkumpulannya ini kemudian menjadi organisasi terbesar yang merakyat pada tahun empat puluhan sebelum revolusi (1952) dan dua tahun setelah revolusi.

Ketika Hasan Al-Banna dibunuh pada tahun 1949, maka muncullah organisasi rahasia. Yaitu setelah terjadinya pertentangan antara para pemimpin Ikhwan dengan perwira-perwira pembebas (Dhubbath al-Ahrar) pada tahun 1954. sebagian dari pemimpin Ikhwan mati syahid, para pengikutnya disiksa dalam penjara dan Ikhwanpun mundur.

Terbentuklah setelah itu generasi dari masyarakat yang menolak dan marah, yang ingin membalas dendam pada sistem sekuler liberal, nasionalis dan Marxisme, terutama setelah Sayyid Qutub masuk penjara.

Di bawah kekejaman penyiksaan, berubahlah sistem dari “Keadilan Sosial dalam Islam”, “Pertempuran Islam dengan Kapitalisme” dan “Perdamaian Dunia dan Islam” kepada sistem “Petunjuk-petunjuk jalan”, yang mengkafirkan masyarakat dan membaginya menjadi dua; iman dan kafir, Islam dan Jahiliah, iman dan tirani.

(8)

Gerakan pembaharuan kembali mundur untuk ketiga kalinya dalam membentuk generasi Jama’ah Islamiah, yang sekarang sering melakukan kekerasan, membawa senjata dan mengkafirkan orang-orang yang keluar dari Jama’ah (kelompok) itu. Mereka punya prinsip bahwa kebenaran yang mutlak tidak akan menerima perundingan.6

Kepada Afghanilah kembalinya pengaruh yang ada pada gerakan Islam modern di Afghanistan, saat perang kemerdekaan melawan invasi Sovyet, sebelum akhirnya berubah menjadi perang sipil antar kelompok. Setiap kelompok mengira bahwa dialah kelompok yang selamat(Firqah An-najiah).

Di Bosnia dan Hercegovina, kaum muslimin tidak mampu melawan selama tiga tahun dan menunggu kutub penolong dari dunia, untuk menyelesaikan pertikaian mereka. Di Libanon dan Palestina, mereka melawan kependudukan Israel tanpa pencerahan Afghani; liberalisme dan ajakannya kepada kebebasan berpikir, sistem parlemen dan konstitusi.

Jarak yang telah jauh antara liberalisme abad lampau dan awal abad ini, sejak revolusi 1882 hingga revolusi 1919. Berakhirnya revolusi-revolusi Arab sejak awal tahun lima puluhan pada sistem liberal Arab dan menjauhnya sistem kerajaan yang turun temurun, yang telah kuat setelah berkurangnya pengaruh revolusi Arab. Walaupun ada bentuk-bentuk demokrasi dalam Majlis Permusyawaratan, Dewan Perwakilan, umat, parlemen dan adanya multi partai di beberapa wilayah.

(9)

Jelas, setelah panjangnya penderitaan gerakan Islam dan jauhnya ia dari kerja untuk bangsa selama setengah abad, yang telah merubahnya menjadi gerakan perlawanan yang saling menjauh; kekerasan dilawan dengan kekerasan, senjata dilawan dengan senjata.

Mereka tidak membedakan antara musuh luar; kolonial dan Zionisme dengan musuh dalam; kerajaan dan militer, juga tidak membedakan antara dua periode sejarah; periode pembebasan negara dari penjajahan dan periode kebebasan sosial yang anti keterbelakangan.

Setelah kemerdekaan negara, bahkan sebagian dari mereka memberikan prioritas untuk berjuang melawan orang yang masuk dalam perjuangan dan melawan orang yang keluar dari perjuangan, serta memerdekakan organisasi-organisasi Arab dari Tirani untuk membebaskan Palestina dari penjajahan kependudukan.

Bahwa “Sesungguhnya Allah tidak merubah suatu kaum hingga mereka merubah dirinya sendiri”. Kadang Al-Quran juga memberikan prioritas perlawanan terhadap pihak luar daripada perlawanan terhadap pihak yang di dalam. “Mereka bersikap keras pada orang kafir yang saling menyayangi diantara mereka”.

Mereka menjadikan jihad yang terbesar adalah jihad terhadap jiwa dan jihad yang paling kecil adalah jihad terhadap musuh dari luar. Walaupun ada peringatan dari para tokoh Ikhwan pertama tentang jeleknya pentakwilan mereka terhadap beberapa hadits yang tidak diyakini keshahihannya, karena ia berbahaya pada jihad melawan penjajah dan zionis.7

Petunjuk Afghani muncul pada zaman popularisasi antara dua khithab, yang keduanya bersandar pada pemikiran Arab Modern. Antara khithab Salafi yang tahu

(10)

bagaimana mengatakan tetapi tidak tahu apa yang dikatakan, dengan khithab Sekuler, yang tahu apa yang dikatakan tetapi tidak tahu bagaimana mengatakannya. Afghani memberikan solusi khithab ketiga; yang tahu bagaimana mengatakan dan apa yang dikatakan. Yaitu khithab yang sedang diusahakan oleh “Kiri Islam” untuk kembali dibentuk pada awal tahun delapan puluhan, pada awal popularisasi.

Popularisasi itu menjadikan perubahan dari perang sipil di Aljazair; pertumpahan darah dengan korban beribu-ribu orang, darah yang tidak berdosa dari anak-anak, perempuan, orang tua dan para pemuda; menjadikan ancaman bagi Turki dengan pertikaian antara tentara dan partai Rafah; menyebabkan kerusuhan di Mesir, Yaman, Teluk, Libia dan sampai adanya penindasan di Suria, Irak, Maroko dan Tunis. Maka petunjuk khithab ketiga menurut Afghani menjadikan solusi Islam Nasionalis, atau Islam Revolusi, atau Islam Politik, yang sangat dibutuhkan baik di dalam maupun di luar dan di zaman pergantian dari abad lalu ke abad yang akan datang.

Telah muncul saat ini usaha-usaha untuk merusak gambaran Afghani pada generasi kita, agar dapat memutuskan akar perjuangan nasional kita, menghancurkan Islam Revolusi, membiarkan adanya popularisasi antara Islam Salafi dan Revolusi Sekuler Barat. Hal ini akan menimbulkan sikap dingin pada Islam Salafi dan bersikap bangga pada Revolusi Sekuler Barat.

(11)

Seorang revolusioner tidak boleh kecuali orang Barat dan orang Islam hanyalah keterbelakangan. Pada Afghani segalanya dipandang jelek, hingga idenya tentang nasionalisme dan menentang penjajahan serta ajakannya pada Liga Timur dalam menghadapi Barat. Maka peneliti adalah orang Koptik dan yang diteliti adalah orang Islam; peneliti adalah orang sekuler dan yang diteliti adalah tokoh agama; peneliti adalah orang Barat dan yang diteliti adalah orang Timur.8

Gambaran ini telah saya ambil dari arsip intelegen Britania, seakan gambaran Afghani lebih benar di dalam file-file musuh daripada di dalam tulisan-tulisan Afghani sendiri, murid-muridnya, dalam buku-buku orientalis yang memusuhi gerakan Islam modern untuk mempertahankan Barat dan nilai-nilainya, yang merupakan objek dari kritik Afghani.

Laporan-laporan intelegen Britania, sama seperti laporan-laporan intelegen secara umum tentang orang-orang nasionalis yang dirusakkan citranya, agar mendapatkan alasan untuk menangkap dan menyiksa mereka. Orang nasionalis menjadi teroris, orang sosialis menjadi komunis dan liberal yang menghalalkan segala cara.9 Arsip itu telah menyebutkan Afghani sebagai:

1. Orang Iran dan bukan orang Afghan. Kewarganegaraan adalah unsur penting dalam hidup, misi dan ide-idenya. Beliau yang memerangi kewarganegaraan sebagai ikatan antar kelompok dan sebagai faktor

8 Luwis ‘Iwadh: Orang Iran yang tidak bisa ditebak, Majalah Tadhamun, mulai dari 24/4/83 hingga sepuluh edisi setiap minggunya.

9 Dan itu seperti: A- Irag Fasher, Ashgar Mahdir: Dokumen yang tidak diterbitkan yang berhubungan dengan Jamaluddin Afghani (dengan bahasa Prancis), Tehran, 1963.

(12)

untuk mempersatukan beberapa kaum. Beliaulah yang membantah Rinen dalam ikatan antar kebudayaan dan ras, juga teorinya tentang rasisme yang berkembang pada abad lalu. Rasionalisme Aria Barat meningkat dan Rasionalisme Semit Timur mengalami kemunduran. Maka pendekatan pada kebangsaan adalah menjatuhkan masa ini pada masa lalu, dari seorang peneliti menjadi yang diteliti, dari negara nasional modern menjadi masa kekhalifahan. Pembicaraan tentang gender berubah menjadi pembicaraan tentang biologi ras dari raut muka, warna kulit, golongan darah dalam budaya yang sama antara masyarakat. Menjadikannya tidak ada kelebihan bagi Bangsa Arab atas orang asing kecuali dengan taqwa dan amal shaleh.

2. Seorang sektarian dan bermadzhab syiah, mengaku Ahli sunah untuk mendapatkan simpati dari mayoritas kaum muslimin. Beliau seorang Baba Bahai, dua golongan dari Syiah modern yang keduanya dikeluarkan dari umat Islam karena Baba dan Bahaullah, keduanya mengaku nabi. Beliau melakukan itu untuk mendapat keuntungan dari pertikaian lama yang turun temurun antara Ahli Sunnah dan Syiah. Afghani sendiri menyeru pada kesatuan umat dan melampaui perbedaan sejarah ini.

(13)

perlawanan Palestina yang legal melawan Zionisme sebagai teroris. Teroris adalah tindakan individual atau kelompok yang tertutup, yang tidak ada pendukungnya. Tetapi revolusi adalah gerakan rakyat, dengan alasan banyaknya revolusi yang terjadi di dunia Islam karena pengaruh dari ajaran-ajarannya. Seperti Revolusi Arab di Mesir dan revolusi Mahdiah di Sudan. Telah terjadi kudeta-kudeta di negara-negara berkembang karena pengaruh tentara dengan menggerakkan masyarakatnya pada tahun lima puluhan dan enam puluhan, sebagaimana terjadinya revolusi-revolusi Arab yang terakhir. Juga berhasilnya revolusi Islam di Iran terhadap teroris Syah dan Savak. Oleh sebab itu, maka Afghani adalah salah satu tokoh yang mempertahankan sistem parlemen, multi partai, konstitusi dan sistem kerajaan yang terikat hingga Liberalisme Barat menjadi bentuk dari modernisasi gerakan pembaharuan. Tidak ada perbedaan antara Liberalisme Barat dengan liberalisme politik menurut Thahthawi, Khairuddin At-Tunisi, atau sekulerisme menurut Syabli Syamil, Fatah Anthon, Salamah Musa dan Zaki Najib Mahmud. Aliran bercorak Ikhwan telah muncul dan kembali pada contoh liberal di Yordania, Yaman dan Kuwait dan partai moderat (dalam pembentukan) di Mesir.

(14)

kekagumannya pada Muhammad Ali, pada kebangkitan Jepang dan Basmark di Jerman. Hal itu bersandarkan pada hukum syari yang lama, dengan menggabungkan dua sifat yaitu kemampuan dan keadilan dalam diri imam. Memperioritaskan yang pertama pada yang kedua jika terjadi pertentangan. Bagi seorang penguasa yang kuat, sangat penting baginya untuk mempertahankan negara dan dunia dapat memperingatkan dia untuk menjaga keadilan dan melawan kedhaliman.

5. Seorang konspirator yang suka bermanuver, sama dengan Riyadh di Isntanbul. Beliau membuat rencana bersamanya, berkonspirasi untuk menjatuhkan Ismail dan mengangkat Abbas Hilmi. Beliau membuat manuver melawan manuver lain, anti Turki dan suka kekhalifahan, anti khilafah utsmaniah dan suka khilafah Quraisyiah. Beliau membuat “Urwatul Wutsqa” untuk mempertankan kekhalifahan. Surat pembentukan yang ditulis Sultan untuknya telah hilang dalam mencapai tujuan itu. Peneliti lain mengakui hilangnya surat berbahaya dari Muhammad Abduh kepada Toulstwi. Jika surat itu ada, maka tersingkaplah tabir dan terlihatlah yang tertutup. 6. Seorang opportunis. Beliau tidak tetap pada satu

(15)

gambarannya dalam benak orang. Ia berkata tentang dirinya dengan prosa Parsi: “Inggris menyangka bahwa aku adalah orang Rusia; kaum muslimin menyangka bahwa aku adalah seorang Majusi; Ahlussunah menyangka bahwa aku adalah orang Rafidhah; Syiah menyangka bahwa aku adalah orang Nashibi (musuh Ali); sebagian kawan-kawan Rifaq al-‘Arba’ah menyangka bahwa aku Wahabi; sebagian pengikut Atsimah menyangka bahwa aku adalah pengikut Baba; orang yang percaya pada Allah menyangka bahwa aku seorang materialis; orang-orang yang bertqwa mempersepsikanku sebagai orang yang bersalah, tidak ada ketaqwaan; para ulama memasukkanku sebagai orang yang bodoh; orang-orang mukmin mengira bahwa aku kafir. Tidak ada seorang kafirpun yang mengajakku dan tidak seorang muslimpun yang mengajakku. Aku terusir dari Masjid dan terasingkan dari tempat ibadah”. Dalam waktu yang sama, beliau juga digambarkan sebagai seorang ahli agama, kuat imannya, pemikir yang bebas, yang berfilsafat dan Atheis. Ini adalah gambaran yang sama pada setiap pemikir dengan corak ini, yang berusaha untuk menyatukan semua golongan umat dan menyatukan khithab wathani. Beliau menurut Salafiyun adalah komunis yang tersembunyi, menurut komunis beliau adalah Salafi yang tersembunyi dan menurut negara ia adalah seorang Ikhwan yang komunis.

(16)

adalah yang hendak menyatukan Timur untuk melawan Barat. Pan-Islamisme telah masuk padanya bersama Liga Timur. Kemudian dilanjutkan oleh Sultan Galyif. Ini adalah ilham terbesar untuk mengikatkan Mesir dengan timur, dimulai sejak Hafidz Ibrahim “Aku adalah mahkota yang mulia di persimpangan timur” dan surat kabar mesir seperti “Cermin Timur” hingga “Bintang Timur”, “Aroma Timur”, menurut Nedham dan Anwar Abdul Malik.

8. Freemasoni yang Yahudi. Ia bergabung dalam beberapa pertemuan Freemasoni bahkan ia salah satu dari pimpinannya, selama ia mau menguasai dunia sepertinya. Afghani adalah seorang Yahudi Zionis; walaupun ia wafat pada tahun yang sama dengan diadakannya muktamar zionis pertama di Bazel di bawah pimpinan Hartzel, sahabat dari Ya’qub Shanu’, walaupun ia juga bersahabat dengan orang-orang Nasrani di Syam yang berhijrah seperti Salim Adh-Dhamuri, Salim Nuqash, Lewis Shabungi, Syabli Syamil, sastrawan Ishaq adalah muridnya yang paling dekat. Afghani tidak dituduh kalau ia adalah seorang Nasrani. Tuduhan ini memaksakan kepicikan yang dibenci peneliti dan menjauhkannya dari yang diteliti. Mengingatkan akan persahabatannya dengan orang-orang Syam, untuk menurunkan derajat kemesirannya pada budaya yang berdiri atas nasionalisme dan bagi seorang pemikir yang berusaha menyatukan umat antara Mesir dan Syam.

(17)

nasionalis bahwa ia bekerja untuk kepentingannya bukan untuk negera. Yang mendorong beberapa pemimpin untuk mempersatukan antara mereka dengan negara. Sebagaimana yang dilakukan Deigul dengan pernyataannya yang terkenal “Aku adalah Perancis”. 10. Seorang idealis yang tidak sadar dengan realitas

regionalnya; orang yang bersemangat, yang orator, tidak meninggalkan pemikiran politik yang teoritis dan teratur. Sebenarnya ini adalah gambaran untuk membaca masa sekarang di masa yang lalu. Masa Afghani masih dalam masa kekhilafahan, walaupun ada usaha-usaha di beberapa wilayah untuk melepaskan diri setelah lemahnya pusat kekhalifahan. Pembelaan Afghani untuk kesatuan umat adalah untuk menjaga kekhalifahan dari penjajah yang bersatu, untuk menghancurkannya setelah sebelumnya terpecah-pecah. Tidak ada bedanya antara penjajahan Inggris, Rusia dan Perancis. Khithab Arab modern masih dalam tingkatan secara teori, karena ini adalah khithab rakyat yang dipilih para elite untuk perjuangan negara dan bukan khithab teoritis dalam masyarakat yang stabil, yang telah mencapai tujuan dari pengajaran dan memutus dari warisannya yang lalu. Ini adalah bentuk yang sama dari khithab dalam revolusi Perancis, revolusi Amerika, revolusi Rusia, dengan perbedaan pada tingkatannya bukan pada bentuknya.

(18)

pun seperti sikap memusuhi kolonial dan perbudakan serta membangkitkan semangat kaum muslimin dan menyatukan mereka sebagai kekuatan revolusi. Sulit bagi hati untuk mengetahui dukungannya dan ini juga terjadi pada penulis sendiri.

Konsepsi nasionalismenya jatuh dalam sejarah hidupnya, dari periode Afganistan hingga periode Turki dan sampai pada periode Mesir. Yang terakhir ini adalah periode paling terbesar untuk menggoyangkan dan mencabutnya dari nasionalisme.10

Afghani merubah pemikiran menjadi sejarah. Seorang cendekiawan dalam perjalanannya menuju pembebasan berpikir dan kemampuannya untuk memberikan pengaruh terhadap dirinya yang merupakan anak dari situasi tertentu dan pengaruh dari perjalanannya. Ia menilai pemikirannya dari perilaku pribadinya karena mudahnya menolak pemikiran dengan cara memberikan hujjah terhadap orang lain. Bahkan seorang ateis yang mempunyai hubungan dengan Ahmad Khan, seorang agen Inggris menjadi suatu kepicikan dari warisan Timur lama tanpa memiliki sikap politik. Terjadilah sindiran tajam akan filsafatnya dalam sejarah, kebangkitan umat dan kejatuhannya kemudian kebangkitannya kembali, dari seminar-seminar yang disampaikan tentang kenabian dan industri, padahal itu adalah warisan para philosop lama terutama Al-Farabi dan Ibnu Sina, yang bergabung pada sikap musuh yang menuduh Afghani dengan ateis, mengingkari kenabian dan menyerupakannya dengan industri, membagi manusia manjadi elit dan umum, mendekatkan antara Nabi dan philosop.

Penulis adalah seorang yang progresif sekuler, tidak melihat progresifism dan sekulerism kecuali sebagai

(19)

warisan barat tanpa ada akar keduanya dalam warisan filsafat lama.

2. Riwayat Hidup dan Kepribadian

Tulisan Afghani, walaupun hanya dalam tiga paragraf tentang sejarah pribadinya menjadi suatu petunjuk besar. Di dalamnya disebutkan tanggal kelahirannya, ini tidak mempunyai manfaat yang besar, hidup dalam setengah masa atau setengah abad, sejarah ini tidak penting dan yang penting adalah pribadi-pribadi pada masanya. Ia terpaksa meninggalkan negerinya Afghanistan, dengan itu ia mengaku sebagai Afghani (seorang Afghanistan) dan bukan orang Iran, walaupun tidaklah penting keturunan biologisnya itu.

Ia meninggalkan Turki menuju Mesir kemudian ke Astana. Semua perjalanan ini tidaklah berguna bagi orang, hanya sekedar konsepsi. Penjara adalah olahraga dalam mencari kebenaran, pengasingan adalah perjalanan wisata, dan pembunuhan adalah persaksian. Ia tidak rela dengan dirinya karena kelambanan dan ketidaksampaiannya kepada tingkat syuhada, ia hanya mencapai pada tingkat penjara dan pengasingan. Dengan itu, ia belum melaksanakan misi pertamanya, dengan tugasnya yang mulia yang dibebankan kepadanya. Ia belum meninggalkan suatu tugas mulia untuk kepentingan manusia secara umum dan untuk orang-orang Timur secara khusus kecuali ia telah melakukannya sampai pada batas kewajaran dan terkesan gegabah.

(20)

personnya satu, pemikirannya bersambung, ia adalah orang Timur melawan Barat. Ia membawa kegelisahan Timur:

“Aku merasakan baik, kita berbeda tempat tinggal, tetapi setiap dari kita adalah bagian dari kegelisahan Timur.11

Muhammad Al-Makhzumi telah munulis dalam sebuah pembukaan yang pendek tentang hidupnya, yang dikenal baik oleh dirinya tanpa harus meminta kepercayaan akan apa yang telah ditulisnya dari orang lain. Tidak ada bedanya antara riwayat hidup Afghani atau kepribadiannya, antara pemikirannya dan ciri-cirinya. Sebagaimana diungkapkan oleh Georgy Zaidan, pemilik Al-Hilal, ia salah seorang pengagumnya. Ia mempunyai keinginan untuk menulis riwayat hidup pribadi Afghani, yang biasanya ditulis setelah meninggalnya. Untuk itu al-Makhzumi telah mengirimkan kepada Georgy Zaidan setelah Afghani wafat, bahkan sebagiannya telah diterbitkan dalam “Al-Hilal”.

Ketika Al-Makhzumi mengutarakan keinginannya kepada Jamaluddin, ia berkata: “Orang yang terlihat dengan kasat mata tidak perlu penerjemah”. Cukuplah apa yang dikatan orang lain tentangnya bersifat rahasia atau berpetualang dan tersesat di bumi ini. Inilah gambaran tentang Afghani menurut para musuh-musuhnya dan para pendengkinya setelah Sultan Abdul Hamid menerima dirinya.

Ia beraqidah yang benar, beriman dengan ketuhanan, sangat berpegang teguh dengan hikmah agama, maka itu ia sangat jauh dari sikap fanatis dan taqlid pada madzhab. Ia seorang mujtahid pada tingkatan yang kadang aneh dan keluar dari yang biasa dikenal dalam penafsiran. Ingatannya sangat kuat, cepat dalam menghapal dan lambat lupa. Ia memberikan khutbah secara spontan atau membuat makalah yang langsung ia diktekan atau menyusun suatu buku yang dibuatnya bertahun-tahun. Argumentatif yang

(21)

menarik lawan bicaranya dan memberikan bukti yang kuat walaupun kadang kurang jelas. Ia mempunyai gaya bahasa yang khas dalam memberikan premis-premis, yang tentu melahirkan premis yang baru. Sangat sulit meyakinkannya dalam berdebat karena gaya bahasanya yang khas dalam mematahkan argumen-argumen lawan, tanpa harus berkeras kepala. Menjadikan lawannya mengakui kebenaran setelah membantahnya, lalu ia menunjukkannya apa yang terlupakan dari argumen-argumen itu. Ia sangat kuat pikirannya, yang tidak lepas dari tabiatnya. Membawa lawan bicaranya pada hal-hal yang besar dan meringankan hal-hal yang sulit.

Jiwanya besar, keinginannya kuat dan sangat pemberani. Ia tampil saat orang lain berpantang, ia berbicara saat yang lain diam, baik dengan membuat mereka tertarik atau takut, ia juga cepat dalam mengambil inisiatif. Ia diterima oleh setiap kalangan dan juga dicintai, disaat yang sama ia juga rendah hati dengan orang yang di bawahnya, membanggakan diri di depan para raja dan para pembesar, tetapi tidak menyombongkan dirinya atau merendahkan lawan bicaranya dengan nama-nama panggilan mereka seperti; yang mulia atau yang dipertuan agung. Ia juga tidak memuji pemikiran, hikmah dan pidato mereka dan merendahkan orang yang sudah meninggal.

Tujuannya adalah mendapatkan ketenangan hati bahwa ia mengatakan yang benar dan tidak menyembunyikannya. Mengingatkan kaum muslimin karena mereka adalah unsur mayoritas di Timur dan agama para kerajaan. Timur adalah kata yang menunjukkan pada Umat Islam. Ia ingin membangunkan orang-orang Timur, mengingatkan dan mendekatkan mereka, pada saat yang sama ia juga mencintai kebaikan seluruh manusia, ia menyamaratakan mereka semua dalam hak-hak umum yang berdasarkan pada kebebasan yang logis.12

(22)

Orang yang terbaik dalam menuliskan riwayat hidupnya adalah muridnya yaitu Muhammad Abduh, seperti halnya Al-Jauzani menuliskan riwayat hidup gurunya Ibnu Sina. Abduh menulis sebagian dari hidupnya, lupa sebagian yang lainnya dan juga menyembunyian sebagian yang lainnya lagi karena faktor politik.

Afghani lahir di desa Sa’adAbad, tahun 1839 pindah bersama ayahnya ke Kabul. Ia mulai belajar sejak umur delapan tahun. Orang tuanya sangat memperhatikannya karena melihat pada dirinya ada kekuatan fitrah, kamauan dan kepintaran otak. Ia sangat pintar dalam ilmu-ilmu Arab, sejarah, syariah, tafsir, hadits, fiqih, ushulfiqh, ilmu kalam dan tasawuf. Ia juga pintar dalam sebagian ilmu-ilmu rasional seperti logika, politik, ekonomi dan ilmu-ilmu matematika seperti hisab, ilmu ukur, al-jabar, falak, kedokteran dan anatomi. Ia mengumpulkan antara dua hikmat.

Muhammad Al-Makhzumi Basya, yang menyertainya di tahun-tahun terakhir hidupnya di Astana menjelaskan tentang masa kanak-kanaknya. Afghani adalah putra Sayyid Shafar dari keluarga Afghan. Keluarganya dinisbatkan kepada Tirmidzi ahli hadits dan terus ke atas hingga kepada Husein bin Ali. Afghani hidup di Kanar, sebuah kota di Kabul, di rumah yang menghormati ilmu. Keluarganya juga mempunyai hak perintah kepada beberapa daerah Afghanistan, yang kemudian diambil oleh pemerintahan Daoust Muhammad Khan, yang memindahkan orang tua Jamaluddin dan sebagian dari pamannya ke Kabul.

(23)

pergi ke Hijaz untuk melaksanakan kewajiban haji, ia mengenal kebiasaan-kebiasaan bangsa lain dan akhlak-akhlak mereka selama satu tahun. Kemudian kembali ke Kabul menjadi pegawai dalam pemerintahan Daoust Muhammad Khan.

Aghani menyertai Khan untuk membebaskan kota Herah yang dikuasai oleh Ahmad Syah, menantu dan putra pamannya. Ia ikut serta dalam pengepungannya hingga wafatnya Amir dan kota itu akhirnya dapat dibebaskan yang kemudian diperintah oleh putra mahkotanya Syir Ali Khan. Ali Khan memerintah menterinya untuk menangkap saudara-saudaranya Afghani yaitu Muhammad A’dham, Muhammad Aslam dan Muhammad Ayat. Afghani membantu Muhammad A’dham dan keduanya lari hingga dapat mengalahkan saingannya itu. Setelah itu pemerintahan dikuasai oleh Muhammad A’dham, ia mengagungkan Afghani dan menjadikannya sebagai menteri pertama dan penasehatnnya, dengan tidak bersikap diktator dari berpendapat, ia melapangkan dadanya untuk Afghani. Ia mempersiapkan pemerintahan untuk anak-anaknya yang baru yang menyebabkan kekalahannya. Setelah itu Afghani meninggalkannya pergi ke tanah Hijaz untuk berhaji melalui India. Pemerintah Inggris menyambutnya dengan sambutan hangat. Setelah kegiatannya di India membuat pemerintah Inggris terpojok dan mengeluarkannya dari India. Sebelum keluar, ia memberikan seruannya yang terkenal kepada orang-orang India bahwa kalaupun mereka itu lalat maka ia dapat menggigit telinga orang Britania, kalaupun mereka kura-kura maka mereka dapat mengarungi lautan dan menenggelamkan pulau Britania. Dan Sultan Gazanswi tidaklah datang ke India dengan menangis mengeluarkan air mata tetapi ia datang sebagai pembebas dan menghunuskan pedang.13

(24)

Dari India Afghani diasingkan ke Mesir, dan tinggal di Mesir selama empat puluh hari. Selama disana ia mondar-mandir ke masjid Al-Azhar. Ia bergaul dengan pencari ilmu dari Suria, mereka sangat tertarik dengannya, mereka memintanya untuk membacakan penjelasan kitab Al-Adhhar. Lalu ia membacakan untuk mereka sebagian dari kitab itu di rumahnya.

Walaupun ia pertama kali tinggal di Mesir dengan waktu yang sangat pendek, tetapi ia memberikan pengaruh besar dalam memberikan pencerahan kepada orang-orang Azhar dengan ilmu baru dan keberanian untuk memberikan penjelasan karya-karya orang lama dengan penjelasan yang baru. Inilah yang dicari oleh Thaha Husein setelah itu, ia tidak menemukannya kecuali di Universitas Mesir.

Kemudian ia pergi ke Astana dan bertemu dengan Shadr A’dham Ali Basya. Orang-orang Turki menyambutnya dengan pakaian Afghanistan. Setelah enam bulan, ia ditetapkan menjadi anggota Majlis Ilmu Pengetahuan. Ide-ide Afghani membuat kemarahan syaikhul Islam pada saat itu yang menyentuh lapangan rejekinya. Direncanakanlah dengan membuat permintaan kepada direktur Dar-Al-Funun (Rumah Seni) meminta kepadanya untuk memberikan ceramah yang menganjurkan untuk industri. Lalu ia menulis surat dan disampaikan kepada Menteri Ilmu Pengetahuan dan para petinggi kepolisian serta sebagian anggota Majlis Ilmu Pengetahuan, dan mereka menyatakan kebaikannya.

(25)

Tidak akan ada badan tanpa roh, maka roh itu adalah kenabian atau hikmah. Yang pertama adalah pemberian Tuhan, kedua adalah usaha manusia. Yang pertama adalah keyakinan dan kedua adalah dugaan (dhan). Yang pertama adalah kebenaran mutlak, yang kedua adalah kebenaran yang bisa salah dan benar. Yang pertama harus diikuti dan kedua adalah sunnah dari sisi pertama. Tetapi yang terbaik adalah jangan sampai hikmah itu tidak menyalami syariat ilahi.

Dengan itu Syaikhul Islam marah dan menuduh Afghani menganggap kenabian itu adalah keahlian (shina’ah). Ia memberikan himbauan-himbauan kepada para khatib di masjid, yang merupakan media yang sudah siap di tangan para agamawan dan politikus, mengeritik Afghani dan meminta agar ia dihukum dan di tuduh dengan kakafiran serta mengingkari hal-hal yang harus diketahui dalam agama. Terjadilah fitnah, masyarakatpun terbagi menjadi dua kelompok; kelompok yang bersama Afghani dan kelompok yang menentangnya.

Al-Shadar A’dham merasa cemas dan meminta Afghani untuk meninggalkan Astanah agar mereka tenang dan ia meminta maaf atas perilaku orang yang jumud dan dengan kebaikan hatinya ia dijadikan Syaikhul Islam. Afghanilah yang menentang dua kekuasaan agama dan politik dan membongkar kerjasama keduanya yang terselubung dan yang terang-terangan.

(26)

ia terus berusaha untuk menghancurkan mitos-mitos, ilusi dan mempertahankan rasio. Murid-muridnya pun muncul dan berpengaruh. Maka pertemuan-pertemuannya makin meluas, dan membuat iri orang-orang yang iri, sebagaimana yang terjadi pada setiap zaman. Ia dituduh membacakan filsafat yang telah diharamkan oleh ulama muta’akhirin dengan fatwa Ibnu Shalah. Mereka merusak citra apa yang disampaikan darinya dengan melalui para pelajar.

Setelah itu yang berkuasa di Mesir adalah Taufiq Hakim, Afghani mendukungnya dan mengumpulkan simpati untuknya. Afghani mempunyai kecendrungan kepada politik dengan fitrahnya, maka ia memperhatikan keadaan Mesir dan melihat bertambahnya interfensi asing ke dalam urusannya. Maka ia mulai berpikir bagaimana keadaan ini bisa berubah dengan cara mendukung penguasa yang shaleh, atau dengan memberikan pencerahan pada akal, atau mendirikan organisasi reformasi dan mengaktifkan organisasi yang ada.

Maka ia bergabung dengan organisasi Freemasonri dan perkumpulan Scotland, ia juga menjadi salah satu ketuanya, tanpa harus ia sembunyikan. Setelah hidup di dalamnya, Afghani mengkritiknya sebagai jawaban kepada orang yang mengatakan bahwa organisasi itu tidak berhubungan dengan politik, dan ia takut terkena kekejaman pemerintah. Perkumpulan tersebut dipenuhi dengan ide-idenya, mengkritiknya bahwa perkumpulan itu tidak jelas, takut dan pengecut. Ia mendirikan perkumpulan nasional, ikut ke Timur Perancis untuk menggantikan Fremesonry Barat menjadi gerakan nasional Mesir.

(27)

untuk mengingatkan pengawas jihad, meminta keadilan bagi perwira-perwira nasional Mesir yang bertugas di Sudan, yang melebihi apa yang dibolehkan oleh Undang-undang khusus mengenai pergantinan antara orang-orang Mesir, Syarakisa dan orang-orang yang kemesir-mesiran. Ia meminta waktu paling lama yaitu dua tahun untuk para perwira Mesir, yang kemudian diganti oleh perwira Syarkisi. Sebelumnya mereka selama empat tahun tanpa ada pergantian, atau diganti dengan perwira mesir lain, yang tidak ada dasar hukumnya dari Amir atau dengan perantaraan menteri.

Bagian kedua untuk mengingatkan pengawas keadilan, bagian ketiga untuk keuangan, bagian keempat untuk pekerjaan umum, bagian-bagian lain untuk pengawasan-pengawasan lain dan untuk kepentingan Amir. Tujuannya adalah untuk melaksanakan kebenaran dan menegakkan keadilan dengan para pegawai Mesir dan persamaan dalam gaji dengan orang bukan Mesir. Rakyatpun melaksanakan kewajibannya dengan sebaik-baiknya.

Masalah ini sampai pada Taufiq, yang sebelumnya tidak peduli dengan Freemasonri. Ia cemas dengan usaha Afghani merubah Freemansonri menjadi gerakan nasional Mesir. Maka ia bolak-balik mengunjungi Afghani, kemudian Khadiyu memanggilnya dan memberitahukan bahwa ia menyukai kebaikan bagi seluruh orang Mesir dan mencari kemajuan Mesir. Dengan itu pemikiran-pemikiran Afghani telah membahayakan revolusi rakyat Mesir karena ia masih pendek dalam memahaminya, seperti biasa para penguasa memberikan nasehat-nasehatnya kepada rakyat.

(28)

tidak rela dengan ucapan Afghani yang telah membahayakannya.

Afghani terus memberikan himbauannya di perkumpulan Fremasonri untuk memberi pengajaran kepada orang bodoh, menyiagakan orang lalai dan memberikan anjuran kepada orang-orang yang mendengar untuk mempertahankan hak-hak rakyat yang tertindas. Diantara oang yang berada di barisan paling depan dari mereka adalah sastrawan Ishaq, model Arab dan orang termuka dalam sastra. Sebagaimana yang Afghani sebutkan, ia adalah muridnya yang paling dekat di hatinya, walaupun ia seorang Nasrani. Ia yang memegang kerah Muhammad Abduh dan berteriak,“Demi Allah kamu adalah orang yang gagal”, sedangkan Muhammad Abduh adalah seorang Muslim.

Mulailah gerakan nasional muncul di Mesir, pemerintah mengambil sikap dan langkah darinya. Ia menangguh-nangguhkannya, memberi pujian dan mendekati rakyat dengan memberikan janji akan Majlis Perwakilan Rakyat jika rakyat mau tenang. Orang-orang Mesir yang bebas meminta Jamaluddin untuk membuat rencana dengan Majlis Perwakilan tersebut.14

Inilah awal dari revolusi Arab, mengganti Freemasonri menjadi gerakan politik dan bukan gerakan sufistik, menjadi gerakan nasional bukan gerakan barat. Afghani berubah dari reformis para penguasa, para menteri, pemimpin dan kelompok elit menjadi ahli hukum umat dan revolusioner rakyat.

Ide-idenya menyebar di tengah-tengah nasionalis Mesir. Kritik-kritiknya terhadap politik Britania tersebar, yang diterjemahkan ke bahasa Inggris dan diterbitkan di media masa Inggris, yang menjadikan perdebatan luas, Gladston ikut dalam perdebatan tersebut.

(29)

Ketika bahaya perkumpulan itu makin besar, konsulat Inggris melakukan intervensi melalui mata-matanya dalam perkumpulannya, yang menjadikan Khaodiyu menjadi takut akan bahaya. Maka dikeluarkanlah perintah untuk mengusir Afghani dari Mesir pada tahun 1879 dan dievakuasi ke India.

Di Suez ia disambut oleh beberapa muridnya dan oleh konsulat Iran, mereka memberikannya beberapa harta namun ditolaknya sambil berkata: “Kalian dengan harta ini lebih membutuhkan dan singa akan menemukan mangsanya kemanapun dia pergi”. Lalu ia tinggal di Haidar Abad. Di tempat itu, ia menulis esainya tentang jawaban terhadap Atheis (ad-dahriyyun).

Pemerintah India memaksanya untuk tidak meninggalkannya dan tetap tinggal di Kalkata hingga berakhirnya revolusi Arab. Setelah revolusi ia diizinkan untuk meninggalkannya dan pergi ke Eropa untuk beberapa hari di London dan setelah itu ke Paris. Tinggal di Paris selama tiga tahun, lalu Muhammad Abduh menyusulnya.

Di Mesir dibentuklah organisasi orang-orang terhormat, organisasi Urwatul Wutsqa. Organisasi ini memberikan tugas kepada Afghani untuk membuat surat kabar yang menyeru pada kesatuan Islam di bawah bendera kekhalifahan. Kemudian menugaskan Abduh untuk menerbitkannya, surat kabar itu terbit sebanyak delapan belas kali sebelum akhirnya berhenti. Di India surat kabar itu disita, di Mesir diberi pengawasan ketat dengan perintah dari Nubar Armenia, lalu keluarlah keputusan dari Majlis pengawas untuk melarang surat kabar tersebut masuk ke tanah Mesir. Bagi yang ditemukan di tangannya memiliki naskah dari surat kabar tersebut didenda dengan lima pound sampai dua puluh lima pound.

(30)

itu baik muslimin atau bukan muslimin, orang-orang Mesir atau orang-orang Timur, karena surat kabar itu mempertahankan orang-orang Mesir dan orang-orang Timur, menyeru untuk menghilangkan pertikaian diantara mereka, membereskan rumahtangga dari dalam sebelum dari luar.

Misi surat kabar itu adalah menentang politik Britania. Kepolisian Inggris di India memanggil tersangka yang membaca surat kabar, mengujinya dengan ayat jihad atau hadits tentangnya. Jika tersangka tidak bisa menjawab dan menjelaskan bahwa ia adalah seorang sufi darwis, pengikut madzhab muktazilah, ia diberi waktu berpikir empat hari. Jika sangkaan itu ditetapkan, ia diasingkan selamanya ke pulau Anduman, hingga pulau tersebut penuh dengan ulama.

Kemudian meletuslah revolusi Mahdi di Sudan, interfensi Inggris makin bertambah di Mesir dengan alasan untuk memadamkan revolusi Sudan. Afghani memperingatkan Gladiston akan keburukan akhir Ghurdon. Ia terus menulis tentang Sudan, mengingatkan Britania dan mengungkapkan intrik-intriknya. Hingga ia dipanggil oleh Salzburi dan Tsyarsyal ke London dan ditanyakan pendapatnya tentang Al-Mahdi. Ia menjelaskan kepada keduanya kesalahan politik Inggris terhadap Islam, Mesir dan Timur. Mereka mengusulkan untuk memberinya kekuasaan politik atas Sudan untuk menghentikan revolusi Mahdi dan untuk melaksanakan tujuan-tujuan Inggris. Ia menolak karena Britania memberikan apa yang tidak dimilikinya kepada yang tidak berhak, seperti dilakukan Bolfour dengan janjinya kepada Waizman untuk mendirikan negara Palestina.

(31)

Akhirnya ia kembali pulang ke Perancis, dan Inggris terus menerus menarik peredaran “Urwatul Wutsqa”. Ia tinggal di Paris lebih dari tiga tahun, diterbitkan dalam majalah itu beberapa esainya tentang politik Rusia, Inggris dan negeri kekhalifahan di Mesir. Ia juga berdialog dengan failosof Perancis Reenand tentang ilmu pengetahuan, Islam, hakekat Al-Quran dan mukjizat. Reenand bersaksi untuknya akan kebenaran ilmu dan kekuatan argumennya. Ia banyak menarik kembali pendapat-pendapatnya tentang Islam, Al-Quran, kebudayaan dan peradaban. Ia mengembalikan sebab keterbelakangan kaum muslimin kepada para pemuka agamanya (Rijaluddin).

Kemudian ia dipanggil oleh Nashiruddin Syah Faris ke Tehran. Ia meninggalkan Paris dan bertemu dengan Amir yang mengagungkannya di Asfahan dan terus dibawanya ke Tehran. Dianugrahkan kepadanya sebagai pengawas peperangan (menteri pertahanan) dengan gelar penasehat khusus Syah. Afghani berusaha merubah yang lama, Syah menasehatinya untuk melakukannya bertahap, tidak terburu-buru. Kemudian Syah pun takut dengan popularitasnya dan cemas akan kekuasaanya, lalu ia menghinakannya dan memberikan izin kepada Afghani untuk pergi ke Rusia.

(32)

dan ibukota-ibukota yang lainnya, ia selalu mendapatkan kehormatan di setiap tempat yang ia singgahi.

Ia mengkritik diktatorisme Syah Iran, mendukung kebebasan Iran untuk mengadakan kudeta terhadap pemerintahan tirani tanpa ikut campur Inggris. Secara tidak sengaja Afghani bertemu dengan Syah Iran dalam pameran Paris tahun 1889 di Munikh. Syah meminta maaf kepadanya dan memintanya untuk kembali bersamanya ke Tehran. Ia pun pulang ke Tehran untuk mengurus negara, ia membuat undang-undang, yang dengannya pemerintah menjadi kerajaan syuriah (berdasarkan syura). Syah kembali merasa tersindir dan cemas dengan kedudukannya. Lalu Afghani pergi ke kampung dekat dari Tehran, yang diikuti oleh para ulama. Ketika masalah menjadi besar, Syah menangkapnya dan polisi mengeluarkannya ke Basrah dalam keadaan sakit. Terjadilah revolusi di Iran yang dilakukan murid-muridnya tetapi dapat dipadamkan oleh Syah. Syah terbunuh dengan tikaman oleh penduduk Parsi sebagai balas dendam untuk Jamaluddin.15

Setelah itu ia pergi ke London dan menerima undangan dari Sultan Abdul Hamid untuk mengunjungi Astana. Setelah didesak, Afghani menerima undangan tersebut dan pergi ke Astana pada tahun 1892, ia tidak membawa sesuatupun kecuali satu pakaian jubah dan buku-buku yang ada di kepalanya karena ia sudah terlalu sering diasingkan dari satu tempat ke tempat lain. Ia terus menerus mengkritik kediktatoran Sultan Nashiruddin yang diharapkan Sultan Abdul Hamid untuk menghentikan serangan kepadanya. Ketika seorang munafiq memperingatkan bahwa ia memainkan tasbih di depan sultan, kemudian ia menjawabnya bahwa sultan memainkan kekuatan berjuta-juta orang tanpa ada seorangpun yang merasa keberatan.

(33)

Sultan Abdul Hamid mengagungkan Afghani walaupun banyak desas-desus sumbang. Ketika Jamaluddin meminta tambahan gaji salah seorang Mesir di Astana, sultan menjanjikannya tetapi tidak pernah melaksanakan. Jamaluddin meminta izin agar ia dapat bertemu langsung dengan sultan, biasanya sultan selalu menyambutnya. Jamaluddin masuk dengan mengerutkan dahi dan sultan pun menyambutnya dengan tersenyum. Afghani meminta untuk meninggalkan baiat kepada sultan, sultan pun heran lalu ia pun melaksanakan janjinya dan meminta maaf kepada Jamaluddin. Ketika ia keluar, penjaga pintu memberinya satu kantong dinar, tetapi ia menolak. Biasanya pemberian sultan itu tidak pernah ditolak, maka ia membagikannya kepada para pencari ilmu, orang-orang mulia dan beradab yang miskin.

Hubungan Jamaluddin dengan Sultan terus berlanjut walaupun banyak desas-desus para Amir dan orang-orang yang dengki. Jamaluddin meminta untuk memberesihkan para penghianat yang menyebarkan desas-desus. Maka Sultan mengagungkan Jamaluddin, ia menyebut-nyebut kakeknya Mahmud ketika terjadinya kerusakan di Ankisyariah. Kerusakan akhirnya telah menyeluruh di seluruh negeri, tetapi tanggungjawab ada pada Jamaluddin yang tidak menerima jabatan Syaikh untuk dapat memperbaiki kerusakan itu. Sekarang tidak ada lagi solusi kecuali jika terjadi suatu hal yang besar di Eropa, yang diaktifkan oleh Sultan dan diberi kesempatan untuk memperbaiki negara.

Jamaluddin meminta maaf karena tugas orang berilmu hanya memberi nasehat, petunjuk dan pengajaran. Ia kemudian tinggal empat tahun, ia mengajar dan memberi peringatan hingga ia terserang kanker dalam persendian bawah. Tiga kali operasi telah dilakukan untuknya, tetapi tidak berhasil. Kemudian ia wafat pada tanggal 9/3/1897.16

(34)

Disamping itu, perjalanan-perjalanannya telah menjadikan Afghani sebagai seorang teoritis dan praktis, orang yang berpikir dan yang melaksanakan. Juga terdapat padanya sifat-sifat dan aliran, harapan, tujuan, akhlak-akhlaknya yang mulia, dan kedudukannya dalam ilmu yang menentukan kepribadiannya.17 Barangkali dapat dibuat peta perjalanan Afghani sebagai berikut:

London Turki Afghanistan Rusia

Paris

Mesir Basrah Hijaz Iran India Munich

Dari sifat-sifat dan ciri-cirinya bahwa ia seorang bangsa Arab, kulitnya kuning langsat, kepalanya besar, jidatnya lebar, matanya besar, biji matanya besar, pipinya besar, dadanya lebar, pandangannya tajam, rambutnya terurai, menarik perhatian siapa saja yang

(35)

melihatnya dengan ciri-ciri seperti ini, sampaipun ia belum berbicara.

Ia bermadzhab Hanafi tetapi tidak bertaklid, aqidahnya adalah aqidah Sunni, yang mempunyai kecondongan pada tasawuf. Sangat taat dalam menjalankan kewajiban, menjaga agama. Harapan dan tujuan-tujuannya adalah membangkitkan negara Islam dari kelemahannya agar dapat menyusul umat-umat yang maju, menghilangkan ilusi-khayalan dari benaknya, mempersatukan Timur agar dapat mengembalikan keagungannya, menentang politik Britania di Timur, dan membangkitkan harapan hidup pada manusia, jauh dari kelemahan dan kemalasan.

Dari sifat-sifatnya yang mulia, ia menyambut dengan ramah orang yang berkunjung kepadanya, ia bangkit untuk menerima dan mengantarkannya keluar, berziarah kepada yang kecil dan besar. Ia tidak berbicara kecuali dengan bahasa fushhah, tidak berbicara dengan bahasa pasaran kecuali dengan orang biasa. Ia menjelaskan tujuannya agar ide-idenya sampai pada orang, ia berkhutbah tanpa banyak bercanda. Ia seorang yang tenang, pendiam dan zuhud dari keduniaan, ia tidak banyak permintaan dalam pernikahan, anak, jabatan atau kehormatan. Maka itu ia tidak pernah menikah dan tidak mempunyai jabatan yang tetap.

Dari akhlaknya adalah hatinya bersih, dhamirnya bebas, argumentasinya jujur, jiwanya baik dan lemah lembut. Ia orang yang lembut dan sabar, jika seseorang menyentuh harga dirinya maka ia akan berubah menjadi marah. Ia hanya bersandah pada Allah semata tanpa peduli akan perhatian orang lain. Sangat menjaga amanat, ramah kepada orang yang lembut padanya, sulit kepada orang yang mempersulit dirinya.

(36)

kemegahannya dan sangat sibuk dengan urusan-urusan yang besar serta meninggalkan urusan yang kecil. Ia orang yang kuat pendiriannya, pemberani tidak takut mati, tabiatnya kuat sampai, bangga dengan garis keturunannya yang mulia dengan tidak membesar-besarkannya.

Kadang sebagian akhlaknya ada kontradiksi, ia mulia sampai berlebihan, kikir hingga sangat hemat sekali, rendah diri sampai terhina, sombong sampai angkuh, dan sangat pemalu. Ini adalah kontradiktif yang ada pada setiap kepribadian yang agung.18

Sedangkan keilmuannya, tidak ada canda dan main-main, pengetahuannya luas dan makna-maknanya sangat teliti. Ia mampu untuk memberikan solusi permasalahan-permasalahan dengan pandangan yang menyeluruh hingga jelas, memasukkan bagian-bagian masalah itu pada komulasi masalah.

Ia spesialis dalam setiap bidang, wawasannya luas, daya hayalnya subur, argumentasinya kuat, dan kuat dalam berdebat. Tidak seorangpun yang dapat mengalahkannya, ingatannya hidup dan kuat. Pengetahuannya luas dalam ilmu-ilmu aqliah, naqliah, filsafat kuno dan peradaban Islam. Tahu betul akan kondisi kaum muslimin dan situasi-situasi pada masa mereka. Ia bisa berbahasa Afghanistan, Parsi, Arab, Turki dan Perancis yang dipelajarinya dalam tiga bulan, juga tahu bahasa Inggris dan Rusia.

Afghani telah menjawab orang-orang yang mengkritiknya bahwa hikmahnya dengan ucapan lebih banyak daripada yang ada dalam hatinya. Setiap orang muslim itu sedang sakit, obatnya adalah Al-Quran, dan bagi para pencari hikmah hendaknya untuk merenungkan makna-maknanya. Al-Quran adalah hujjah (dalil argumen) tradisionalis Salafiah. Muhammad adalah seorang yang bijaksana (hakim) dan hikmah-hikmahnya ada dalam hatinya.

(37)

Maka bagaimana orang yang sakit hatinya, orang yang tidak punya harapan dan terhina dapat menolaknya?.

Ini adalah argumen rethorik yang menuduh sebagaimana yang dilakukan para pembicara dalam shalat jum’at. Apakah kaum muslimin sekarang melaksanakan apa yang dibawa Rasulullah? Apakah mereka mengikuti beliau sebagaimana para sahabat mengikutinya? Ini adalah argumentasi retorik yang lain dalam mengikuti Rasulullah dan dalam mengikuti para salaf shaleh sebagaimana dilakukan oleh orang-orang yang suka memberi nasehat. Celakalah orang yang sekarang (khalaf) dan bahagialah orang-orang yang terdahulu (salaf). Takut ketahuan akan kehinaannya, lalu kembali kepada perkataan yang dingin dan pendapat yang rendahan.19

Ia adalah seorang yang terbuka, cepat dalam berpikir, terbuka dalam menyampaikan pendapatnya sampaipun hal itu dapat membahayakannya. Baik dalam berdebat dan berargumen, ia salah seorang tokoh dari ulama ahli kalam, maka ia tahu akan bentuk-bentuk sophism (safsathah) hingga ia merasa puas dalam kondisi negatif dan positif, ia dapat mempengaruhi lawan bicaranya, dapat membawa orang lambat untuk mengurusi hal-hal besar dan membawa orang-orang pengecut menjadi pemberani. Yang dapat membantu hal itu adalah hikmah dan kecepatan bertindaknya, kecerdasannya, luasnya pengalaman menguji akhlak orang lain, banyak bergaul dengan umat-umat lain, dan ia mempunyai kemampuan retorika serta paham betul akan tradisi-tradisi bangsa Arab, Turki, Parsi dan bangsa-bangsa Eropa. Ia melebih-lebihkan dalam menyanjung dan tidak bertele-tele dalam menghina. Ia menggunakan bentuk-bentuk perdebatan dalam memuji dan menghina seperti kucing dan anjing.

(38)

Orang berbeda pendapat tentangnya, gambaran tentang dirinya berjauhan walaupun dia adalah kepribadian yang satu, yang mempunyai kelebihan dengan kejernihan hati dan kecerdasannya.

Sastrawan Ishaq telah menggambarkan tentang dirinya bahwa ia melewati manusia beberapa hari hingga ia paham betul akan kebutuhan-kebutuhan manusia, atau ia dapat menyingkap rahasia-rahasia alam pada setiap zaman. Yang seperti itu adalah Jamaluddin seorang filosof, politikus seperti Sokrates. Ia tidak mengarang buku kecuali satu essai, yang tetap ada pada murid-muridnya. Ia duduk di tempat-tempat umum dan merubahnya menjadi pusat ilmu dan pengajian hingga menjadikan iri para fuqaha Sultan, fuqaha tentang haid dan nifas.

3. Membaca karya-karyanya

Karya-karya Afghani bermacam-macam antara lain essai, khathirat (ungkapan hati) dan makalah ilmiah. Essai adalah karya yang ditulis langsung oleh tangan Afghani. Dan ia tidak menulis kecuali hanya satu essai yaitu “Ar-Raddu ‘al dahriyyin” (jawaban kepada orang-orang Atheis), ditulis ketika ia tinggal di India untuk kedua kalinya. Ia menulisnya dengan bahasa Parsi, yang kemudian diterjemahkan oleh Muhammad Abduh ke dalam bahasa Arab dengan pertolongan Abu Thurab, pengikut dan kawannya Afghani.

(39)

Atheis dan mentapkan bahwa agama adalah dasar peradaban, dan kekafiran adalah perusak peradaban.20

Khathirat adalah nama yang lebih disukai Afghani untuk kumpulan ucapan-ucapannya yang tersebar, yang dikumpulkan oleh Al-Makhzumi darinya pada empat tahun terakhir ketika di Astana, yaitu antara tahun 1892-1897. Yaitu ucapannya yang ditujukan kepada Syaikh Bani Makhzum. Al-Makhzumi telah menamakannya dengan “Jamaluddin Afghani fi al-balath as-Sulthani” (Jamaluddin Afghani di negeri Sultan), tetapi Afghani menolak penamaan itu karena tidak sesuai dengan isinya. Dan ia lebih suka dengan kata “Khathirat” (ungkapan hati), seperti halnya “Khathirat Bascal” dan “Faidh al-Khaathir” nya Ahmad Amin. Kata itu lebih baik dari kata “Khawathir” dan lebih terkenal. Yang artinya obsesi jiwa, kebajikan, kekalauan dan cucuran air mata menurut ungkapan kaum sufi, apa yang terdetik dalam jiwa dan apa yang muncul dalam hati, jauh dari segala konsepsi rasionalis-filosofis dan jauh dari sejarah yang mati. Tidak penting bagi para penyeru yang mempunyai lisan yang kering, yang tidak memiliki sentuhan pada hati. Ia adalah kumpulan-kumpulan hikmah, bentuk sastra, kata-kata yang ringkas, perumpamaan-perumpamaan yang mengandung hikmah, semuanya telah dikenal oleh orang-orang dulu. Mubasyir bin Bek telah menulis tentangnya.21 Yang dijaga, dikumpulkan dan digunakan sebagai perumpamaan seperti hikmah-hikmah dan peribahasa umum. Sebab dipilihnya bentuk sastra ini karena menjaga pemiliknya dari penganiayaan para Sultan dan menjaganya dari ketatnya pengawasan, banyak mata-mata dan kebohongan orang yang tidak berdosa.

(40)

Sebab diterbitkannya adalah ketika Afghani datang dari Inggris ke Astana, ia tidak memiliki satu pun karyanya yang dicetak karena kesibukannya dalam perjuangan melawan setiap bentuk tekanan, perlawanan para penguasa dan kekejaman mereka dalam membangkitkan Timur, untuk mempertahankan kebebasan dan keadilan. Maka Al-Makhzumi ikut serta dengannya, ia menyampaikan keinginannya untuk menerbitkannya. Afghani akhirnya menyetujui hal itu. Ia mengizinkan Makhzumi untuk bertanya apapun yang diinginkan “Tulis apa yang kamu dengar dan jagalah apa yang kamu lihat”, sambil mengingatkan dari bahaya penerbitannya, dari bahaya tirani dan mata-mata Abdul Hamid serta dari sikap keras kepada orang-orang jumud. Mereka itu semua adalah penyebab kehancuran manusia pada setiap tempat dan waktu hingga muncullah kebenaran dan manusia lain, para kritikus dan peneliti. Maka penelitian sejarah mampu mengungkapkan kebenaran.

Penerbitan buku itu terlambat selama tiga abad, kemungkinan diterbitkannya adalah setelah keluarnya Konstitusi Utsmani atas permintaan para ulama Mesir dan India, tetapi kondisi kepartaian di Timur sekarang ini sesuai juga dengan Organisasi Persatuan dan Kemajuan atau juga karena kurang diperhatikan. Kemudian permintaan penerbitan itu kembali muncul pada tahun 1912, tetapi iklim politik telah berubah dan orang-orang persatuan melemah, padahal Afghani tidak menyerang pribadi seseorang atau organisasi-organisasi atau menyeru untuk menggulingkan sistem kekuasaan tetapi ia hanya menyelamatkan situasi. Ketika perang Eropa pertama terjadi, Aliansi memecah Turkia menjadi negara-negara kecil, maka penerbitan pun terundurkan.22

(41)

Walaupun jelas bahwa Afghani bukanlah seorang Arab dan longgar dari menerapkan kaidah-kaidah bahasa tetapi Arabic adalah bahasa bukan ras. Fairuz Abdi telah mengatakan: “Belajarlah bahasa kalian dari orang bukan Arab”23. Yang menjadi kekurangannya dari khathirat itu adalah terdiri dari tema-tema yang terpisah-pisah, tidak tertib, jawaban atas soal-soal sebagaimana yang didapatkan dalm kitab fiqih lama yang berisikan soal dan jawaban. Disini muncullah kesulitan untuk membaginya dalam bab-bab yang terpisah dari tema-tema Afghani dalam makalah-makalahnya di majalah Urwatul Wutsqa atau sampaipun dalam essai tanggapannya atas orang Atheis.

Untuk mempelajari bentuk sastranya, mungkin bisa dilihat dalam bingkai sastra Timur yang lama. Untuk mempelajari kandungan etika, social dan politik serta kembali menertibkannya dalam tema-tema tertentu mungkin sebagai penekanan akan kejelasan berpikir dan ungkapannya yang baik.

Kesulitan Urwatul Wutsqa bahwa ia merupakan jelmaan roh Afghani dalam bentuk Muhammad Abduh, sebagaimana dalam dialog Plato, yang merupakan roh dari Socrates dalam bentuk Plato, juga seperti dalam kitab-kitab Injil, rohnya adalah Al-Masih dan bentuknya adalah kitab-kitab injil itu.

Bentuk hanyalah sekedar kata-kata dan ungkapan-ungkapan, walaupun adanya keterkaitan kuat antara makna dan kata. Telah diterbitkan darinya sebanyak delapan belas edisi, dimulai sejak 13/3/1984 hingga 16/10/1984, selama tujuh bulan dalam satu tahun setelah dua tahun dari revolusi Arab. Diterbitkannya atas biaya dari Organisasi “Urwatul Wutsqa” untuk membuat surat kabar yang menyeru kaum muslimin agar bersatu di bawah bendera kekhilafahan.

(42)

Bentuk-bentuk kesusastraannya juga bermacam-macam dari makalah, berita, analisa politik, dan seni-seni sastra seperti keajaiban-keajaiban, dongeng dan cerita-cerita aneh…dst. Makalahnya yang terpenting, bentuknya adalah pemaparan teoritis yaitu makalahnya tentang ide reformasi yang kadang juga dinisbahkan kepada Muhammad Abduh. Pidato prosa yang bersemangat ditujukan secara langsung kepada rakyat untuk melakukan revolusi melawan Inggris di Mesir, Sudan, India dan Afghanistan. Mayoritas dari makalahnya dimulai dengan ayat-ayat Al-Quran secara terpisah atau dengan hadits Nabawi.24 Dan kadang dimulai

24 Pertama: Makalah-makalah yang ditambahkan pada tema-temanya ayat-ayat Al-Quran, seperti:

- Harapan dan memohon kemuliaan: “…Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir” (Yusuf: 87). “…Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat”, (Al-Hijr:56). Al-A’mal, hal. 389-394, Al-Urwah, juz 1, hal. 29-39.

- Fanatisme: “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya” (Al-A’raf:3).

- Nasrani, Islam dan para pemeluknya, “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya” (Qaf:37).A’mal, hal. 282, Al-Urwah, juz 1, hal.86

- Sifat pengecut, “Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkanmu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh…”(an-Nisa:78).

(43)

dengan ayat Al-Quran tanpa memberi judul makalah, ini yang lebih sering terjadi, atau dengan judul dalam satu ungkapan, atau hanya sekedar sebuah kata, itu lebih sedikit.

Ini menunjukkan tentang Metode Afghani dalam tafsir. Yaitu dimulai dengan ayat-ayat Al-Quran yang lebih banyak atau dengan hadits Nabi yang lebih sedikit. Ia

kekuatanmu…”(Al-Anfal:46). Al-A’mal, hal.341, al-urwah,juz1,hal.251-223

Kedua adalah makalah-makalah yang judulnya hanya ayat-ayat Al-Quran, seperti:

- “Dan jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak dapat melemahkan Allah. Dan beritakanlah kepada orang-orang kafir (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih”(At-Taubah:3). Al-Urwah,juz 2,hal.2-109.

- “Dan tiadalah mereka menganiaya Allah, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri”(Al-A’raf: 159).

- “Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”. (Al-Ankabut:1-3). Al-Urwah,juz 2, hal. 13

- “Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi”(Al-Qashash:5).Al-Urwah,juz 2,hal. 168.

(44)

menafsirkannya dengan merujuk pada pengalaman pribadi atau kelompoknya kemudian merubahnya menjadi prinsip-prinsip pribadi, kelompok atau prinsip-prinsip sejarah, seakan-akan bahwa ayat itu adalah realitas dan hukum syariat itu adalah prinsip sejarah. Ia tidak memberi makna teks dengan merujuk pada kaidah-kaidah bahasa Arab sebagaimana yang biasa dilakukan oleh para mufassir. Tetapi ia

keterangan yang jelas kepada kamu. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.”(Ali-Imran:195).Al-Urwah,juz 2,hal.172.

- “Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati”.(Ali-Imran:13). Al-Urwah,juz 2, hal.188.

- “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”(Ar-Ra’d:11). Al-Urwah,juz 2, hal.2-14

- “Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai harti yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada” (Al-Hajj:46). Al-Urwah,juz 2, hal. 160-167.

Ketiga: Makalah-makalah yang menggabungkan antara judul, ibarah dan ayat Al-Quran, seperti:

Referensi

Dokumen terkait

Beberapa penyebab pada perdarahan ini antara lain karena kelainan anatomis rahim (seperti adanya polip rahim, mioma uteri), adanya siklus anovulatoir

Izin Kelas adalah hak yang diberikan pada setiap orang perseorangan dan/atau badan hukum untuk dapat mengoperasikan suatu perangkat telekomunikasi yang menggunakan spektrum

Pertambahan berat badan harian (PBBH) yang didapatkan pada perlakuan T1 dalam kajian ini hampir sama dengan hasil yang didapatkan oleh Ella dkk (2004), yaitu didapatkan PBBH sapi

Salah satu program unggulan kegiatan pendaftaran tanah yang dilaksanakan oleh pemerintah adalah Program Layanan Rakyat untuk Sertipikasi Tanah atau disingkat LARASITA.Program

(2) Peraturan dan/atau Surat Keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini, tidak boleh bertentangan dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Lembaga. (3)

Sehingga penyemprotan pestisida organic yang tidak terlalu sering yaitu dengan interval 6 hari sekali lebih disukai oleh Plutella xylostella yang dilihat dari lebih banyaknya

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa disiplin pegawai negeri sipil dalam melayani pembuatan surat keterangan ganti rugi pada Kantor Camat Tampan Kota

Dalam ketentuan Pasal 1 angka (1) PMNA/KBPN Nomor 5 Tahun 1999 tentang Pedoman Penyelesaian Masalah Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat, menentukan bahwa “hak ulayat adalah