BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dapat tercapai salah satunya dengan meningkatkan pertumbuhan tulang.

Teks penuh

(1)

1

A. Latar Belakang Masalah

Memiliki tubuh yang ideal merupakan keinginan bagi setiap orang. Tubuh yang ideal tidak terlepas dari tinggi badan. Seseorang masih bisa mencapai tinggi badan yang ideal jika masih dalam masa pertumbuhan. Tinggi badan yang ideal dapat tercapai salah satunya dengan meningkatkan pertumbuhan tulang. Meningkatkan pertumbuhan tulang bisa dilakukan dengan cara menambah asupan kalsium dan mengkonsumsi suplemen penunjang (Suplemen Peninggi Badan). Suplemen menurut BPOM (2015) adalah produk yang dimaksudkan untuk melengkapi kebutuhan zat gizi, memelihara, meningkatkan dan/atau memperbaiki fungsi kesehatan, mempunyai nilai gizi dan/atau efek fisiologis, mengandung satu atau lebih bahan berupa vitamin, mineral, asam amino dan/atau bahan lain bukan tumbuhan yang dapat dikombinasi dengan tumbuhan. Suplemen Peninggi Badan (SPB) mengandung kalsium ikan dan YGF251 sebagai bahan utama yang diharapkan mampu memberikan asupan tambahan kalsium untuk meningkatkan pertumbuhan tulang terutama dalam masa pertumbuhan.

YGF251 merupakan campuran ekstrak tumbuhan yang diproduksi oleh Doosan Feed Inc (Bucheon, Korea). YGF251 terdiri atas beberapa ekstrak dari tumbuhan antara lain ekstrak dari Phlomis umbrosa Turez, Cynancum wilfordii Hem, Zingiber officinale Rosc dan Platycodi Radix ekstrak (25: 30: 15: 30; 5,2%). YGF251 ini memiliki efek herbal alami untuk menginduksi IGF-1 yang memiliki fungsi pertumbuhan (Kim et al, 2002)

(2)

Belum banyak penelitian toksisitas dari ekstrak tumbuhan Phlomis umbrosa Turez, Cynancum wilfordii Hem, Zingiber officinale Rosc serta Platycodi Radix. Penelitian terdahulu tentang toksisitas subkronis dari tumbuhan jahe, didapatkan hasil bahwa minyak gingerol dalam dosis 100 mg/kgBB, 250 mg/kgBB dan 500 mg/kgBB per hari tidak toksik terhadap parameter hematologi dan histopatologi (Jeena, 2011). Minyak gingerol jahe memiliki LD50 sebesar 5 gram/kgBB (Rehman, 2011).

Pada ektrak Cynancum wilfordii Hem didapatkan penelitian tentang toksisitas akut dan subakut dari akar tumbuhan ini yang dilakukan pada hewan uji tikus. Parameter yang diambil pada penelitian ini adalah hematologi, leukosit dalam serum (Chung, 2007). Platycodi radix akar dari tumbuhan Platycodon grandiflorum sudah dilakukan penelitian tentang toksisitas akut yang dilakukan pada hewan uji tikus. LD50 dari Platycodon terhadap tikus adalah 24 gram/kgBB (Dharmananda, 2000). Tumbuhan Phlomis umbrosa Turez sudah memiliki penelitian tentang uji toksisitas akut yang diberikan secara intraperitoneal, dengan LD50 dari ekstrak

Phlomis umbrosa Turez diperkirakan lebih dari 1000 mg/kgBB (Shang et al.,

2011).

Selain ekstrak YGF sebagai komponen utama Suplemen Peninggi Badan (SPB) juga mengandung kalsium ikan. Ikan memberikan suatu presentase tinggi kalsium yang berasal dari tulang belulangnya. Tulang ikan mengandung mineral essensial yang berguna bagi fungsi tubuh seperti pertumbuhan tulang, pembekuan darah, dan neurotransmisi. Ikan merupakan sumber yang penting untuk kalsium bagi anak-anak yang sedang mengalami masa pertumbuhan. Maka dari itu tulang

(3)

ikan dapat digunakan sebagai suplemen makanan untuk meningkatkan kandungan kalsium di dalam tubuh (Sediaoetama, 1997).

Berdasarkan penelitian sebelumnya uji toksisitas akut dari sediaan SPB menunjukan tidak menyebabkan kematian hewan uji pada dosis 5000 mg/kgBB (Kusumaningtyas, 2016). Keamanan produk SPB belum diketahui jika digunakan untuk pemakaian jangka panjang, untuk itu diperlukan suatu uji toksisitas. Uji toksisitas subkronis dilakukan untuk memperoleh informasi ketoksikan apabila dipejankan dalam waktu 90 hari dengan dosis pemakaian efektif. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi ketoksikan subkronis suplemen peninggi badan. Penelitian dilakukan secara in vivo, menggunakan hewan coba tikus jantan galur Wistar menggunakan metode OECD 408 yaitu suatu pedoman untuk uji toksisitas subkronis dan mengacu pada Peraturan Kepala BPOM No.7 tahun 2014. Evaluasi yang dilakukan dalam uji ini adalah untuk mengidentifikasi paparan komponen senyawa zat aktif dalam komponen bahan uji terhadap aktivitas kimia darah yaitu kadar glukosa darah, kolesterol total, urea, kreatinin, albumin, protein total, bilirubin total, SGPT dan SGOT.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang, maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan dalam penelitian ini :

1. Apakah sediaan SPB memberikan efek toksis pada pemberian berulang selama 90 hari terhadap hewan uji tikus jantan galur Wistar?

(4)

2. Apa saja gejala- gejala klinis, wujud dan spektrum efek toksis yang timbul setelah pemberian per oral selama 90 hari SPB pada hewan uji tikus jantan galur Wistar?

3. Bagaimana pengaruh pemberian SPB terhadap parameter biokimia darah (glukosa darah, kolesterol, urea, kreatinin total, albumin, protein total, bilirubin total, SGPT dan SGOT) hewan uji tikus jantan galur Wistar setelah pemberian SPB selama 90 hari?

C. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk :

1. Mengetahui toksisitas yang ditimbulkan pada pemberian berulang selama 90 hari SPB terhadap hewan uji tikus jantan galur Wistar.

2. Mengetahui apa saja gejala klinis, wujud dan spektrum efek toksis yang timbul setelah pemberian per oral selama 90 hari SPB pada hewan uji tikus jantan galur Wistar.

3. Mengetahui pengaruh pemberian SPB terhadap parameter biokimia darah (glukosa darah, kolesterol total, urea, kreatinin, albumin, protein total, bilirubin total, SGPT dan SGOT) hewan uji tikus jantan galur Wistar setelah pemberian SPB selama 90 hari.

D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Masyarakat

Masyarakat mendapatkan solusi yang praktis dan efisien dalam mengatasi masalah dalam penampilan yang berkaitan dengan tinggi badan, secara aman dan nyaman digunakan.

(5)

2. Bagi Industri Obat

Industri dapat memiliki produk baru yang dapat diunggulkan dan aman digunakan dengan jangkauan pemasaran yang lebih luas.

3. Bagi Akademisi

Adanya tulisan ini dapat menjadi sebuah referensi dan ide untuk terus mengembangkan penelitian mengenai toksisitas subkronis kombinasi Kalsium Ikan dan YGF251 sebagai produk suplemen peninggi badan sehingga dapat dimanfaatkan secara lebih bermanfaat, aman dan efisien dengan berbagai kemungkinan alternative.

E. Tinjauan Pustaka

1. Suplemen Peninggi Badan (YGF 251 dan Kalsum Ikan)

Sediaan SPB ini mengandung dua komponen utama yaitu YGF251 dan kalsium ikan, serta beberapa senyawa lain yaitu Microcrystalline Cellulose,

Hydroxypropylmethyl Cellulose, Magnesium Stearate dan Silica Dioxide. Produk

ini memiliki bobot pertablet sebesar 800 mg, serta memiliki aturan pemakaian dua tablet sekali sehari atau sebanyak 1600 mg setiap hari. SPB diharapkan dapat memberikan efek farmakologi yang optimal tanpa memberikan kerugian bagi penggunanya.

Berdasarkan penelitian terdahulu menyatakan bahwa konversi umur manusia ke tikus jika dilihat berdasarkan waktu hidupnya adalah 13,8 hari umur tikus setara dengan 1 tahun umur manusia (Sengupta, 2013). Pada penelitian efek farmakologi SPB digunakan tikus yang mempunyai bobot rata-rata 130 g dan

(6)

berumur 6-8 minggu. Perhitungan= 6 s/d 8 minggu x 7 = 42 s/d 56 (hari) / 13,8 hari (lifespan) = 3 s/d 4 tahun pada manusia. Hal ini merepresentasikan tikus yang digunakan dengan hasil umur yang telah dikonversikan menunjukkan bahwa rentang umur tersebut masih dalam proses pertumbuhan (Vidyaningrum, 2016).Pada penelitian efek farmakologi SPB menunjukan hasil bahwa SPB dapat mempengaruhi profil pertumbuhan Nose to Anus,Nose to Tail, bobot jenis tulang tungkai, dan panjang tulang tungkai pada tikus galur Wistar (Vidyaningrum, 2016).

2. YGF 251

YGF251 (Young Growth Faktor 251) merupakan campuran ekstrak tumbuhan yang diproduksi oleh Doosan Feed Inc (Bucheon, Korea). YGF251 terdiri atas beberapa ekstrak dari tumbuhan antara lain ekstrak dari Phlomis

umbrosa Turez, Cynancum wilfordii Hem, Zingiber officinale Rosc dan Platycodi

Radix (25: 30: 15: 30; 5,2%). YGF251 ini memiliki efek herbal alami untuk menginduksi IGF-1 yang memiliki fungsi pertumbuhan.

YGF251 diproses dalam air panas (60° C hingga 95° C). Dipilih suhu tersebut karena jika diproses di bawah 60° C hasil ekstraksi hanya mengandung bahan aktif sangat kecil sedangkan jika diproses diatas dari 95° C akan mengurangi kadar bahan aktif. Hasil dari ekstrak kasar kemudian didinginkan dan disentrifuge. Disaring dengan kertas filtrasi untuk mendapatkan ekstrak murni (Kim et al., 2002). Dalam beberapa penelitian ekstrak YGF251 telah terbukti dapat meningkatkan IGF-1 yang berfungsi dalam pertumbuhan tulang.

(7)

a. Phlomis umbrosa Turez

Phlomis umbrosa Turez merupakan tanaman yang termasuk dalam famili

Lamiaceae dan telah digunakan sebagai obat tradisional selama ribuan tahun di Cina. Akar Phlomis umbrosa Turez telah digunakan sebagai obat untuk mengurangi edema dan menyembuhkan nyeri, menghilangkan dahak dan detoksifikasi selama ribuan tahun. Iridoid dan glikosida phenylethanoid adalah dua komponen utama dari tumbuhan Phlomis umbrosa Turez. Tanaman ini banyak terdapat di beberapa negara Asia Tenggara (Shang et al., 2011).

Gambar 1. Phlomis umbrosa (Anonimb, 2015)

b. Cynancum wilfordii Hem

Akar dari Cynanchum wilfordii telah digunakan sebagai obat tradisional selama ratusan tahun di Asia Timur. Spesies ini termasuk dalam famili Asclepiadaceae. C. wilfordii sudah terdaftar di Korea Herbal Pharmacopoeia (Li et

al., 2013).

C. wilfordii memiliki tinggi 1-3 meter. Sampai saat ini lebih dari 300

senyawa telah diisolasi dari C. wilfordii diantaranya adalah steroid, alkaloid, flavonoid, polisakarida dan glikosida steroid sebagai komponen utama (Shan, 2008). Penelitian farmakologi modern menunjukan bahwa ekstrak dari Cynanchum

(8)

wilfordii memiliki manfaat sebagai antioksidan serta memiliki aktivitas anti tumor

(Shan et al., 2006).

Gambar 2. Cynanchum wilfordii (Anonimc, 2015)

c. Zingiber officinale Rosc

Zingiber officinale Rosc adalah tanaman yang biasa dikonsumsi sebagai

penyedap makanan atau sebagai ramuan tradisional. Bagian yang biasa digunakan adalah rimpang dari tumbuhan Zingiber officinale Rosc. Tumbuhan ini bisa mencapai tinggi lebih kurang 90 cm. Karakteristik bau dan rasa jahe yang khas disebabkan oleh kombinasi senyawa yang terdapat dalam rimpang jahe yaitu zingerone, shogaols dan gingerol. Campuran ketiga senyawa ini dapat meningkatkan motilitas saluran pencernaan dan memiliki efek sebagai analgesik, sedatif, antipiretik dan antimikroba (Rehman et al., 2011)

Rimpang jahe mengandung 2 komponen utama yaitu komponen volatile dan komponen non-volatile. Komponen volatile terdiri dari oleoresin (4,0-7,5%), yang bertanggung jawab terhadap aroma jahe (minyak atsiri) dengan komponen terbanyak adalah zingiberene dan zingiberol. Rasa pedas dari jahe disebabkan oleh komponen non-volatile pada jahe turunan fenilpropanoid yaitu gingerol (Rehman

(9)

Gambar 3. Zingiber officinale Rosc (Anonim, 2016)

d. Platycodi radix (Platycodon grandiflorum)

Platycodi radix adalah akar dari tumbuhan Platycodon grandiflorum. Tanaman ini terdistribusi secara geografis di Asia (China, Korea dan Jepang) serta di Rusia. Platycodi radix telah digunakan sebagai bahan makanan dan obat tradisional untuk asma dan obat penenang. Akar dari tanaman ini memiliki kandungan triterpenoid saponin tidak kurang dari 2 %. Selain saponin, dalam tumbuhan ini mengandung senyawa non saponin yang berhasil diisolasi dari Platycodi radix yaitu sterol dan pati atau inulin (Dharmananda, 2000).

Pada zaman dahulu Platycodi radix biasa digunakan sebagai obat batuk, pilek, sakit tenggorokan (ekspektoran dan antitusif) (WHO, 1999). Pembuatan ramuan dengan cara merebus irisan akar Platycodon grandiflorum dengan tumbuhan herbal lain. Dosis yang biasa digunakan adalah sekitar 3-9 gram untuk dosis satu hari. Jumlah ini secara teoritis menghasilkan 180-540 mg saponin (Dharmananda, 2000).

Secara klinis Platycodi radix ini berkhasiat sebagai anti peradangan atau antiinflamasi. Triterpenoid saponin yang ada dalam akar tumbuhan Platycodon

(10)

kelenjar adrenal yang akan menghasilkan efek antiinflamasi (Dharmananda, 2000). Ekstrak dari tumbuhan Platycodon grandiflorum memiliki efek hemolitik yang sangat jelas sehingga obat yang mengandung ekstrak tumbuhan ini tidak boleh diberikan secara intravena (WHO, 1999).

Gambar 4. Platycodon grandiflorum (Anonim, 2010)

3. Kalsium Ikan

Kalsium merupakan mineral yang paling banyak terdapat di dalam tubuh, yaitu 1,5%-2% dari berat badan orang dewasa. Dari jumlah ini 99% berada dalam jaringan keras, yaitu tulang dan gigi. Kalsium tulang berada dalam keadaan seimbang dengan kalsium plasma pada konsentrasi kurang lebih 2,25-2,60 mmol/l. Densitas tulang berbeda menurut umur, meningkat pada bagian pertama kehidupan dan menurun secara berangsur setelah dewasa. Kalsium mengatur pekerjaan hormon-hormon dan faktor pertumbuhan (Almatsier, 2005).

Kalsium yang beredar dalam darah akan menyuplai kebutuhan kalsium bagi sel tubuh. Jumlah kalsium dalam tubuh sangat tergantung pada banyaknya kalsium yang diserap dari makana. Namun demikian kandungan kalsium dalam darah terdapat dalam batas tertentu. Apabila kandungan kalsium dalam darah lebih kecil atau lebih besar dari batas normal, maka metabolisme akan terganggu. Sedangkan

(11)

kelebihan kalsium dapat menyebabkan batu ginjal atau gangguan ginjal (Wordlaw, 2004).

Ikan memberikan suatu presentase tinggi kalsium yang berasal dari tulang belulangnya. Tulang ikan mengandung mineral essensial yang berguna bagi fungsi tubuh seperti pertumbuhan tulang, pembekuan darah, dan neurotransmisi. Ikan merupakan sumber yang penting untuk kalsium bagi anak-anak yang sedang mengalami masa pertumbuhan, maka dari itu tulang ikan dapat digunakan sebagai suplemen makanan untuk meningkatkan kandungan kalsium di dalam tubuh (Sediaoetama, 1997).

4. Hormon Pertumbuhan

Hormon pertumbuhan atau Growth hormone adalah hormon polipeptida yang terdiri dari 191 asam amino dengan berat molekul 22 kDa yang disintesis oleh sel somatotrof di pituitari anterior. Hormon ini di sekresikan secara pulsatil dengan rata-rata frekuensi 13 kali perhari, puncaknya terjadi pada malam hari. Sekresi GH diatur secara sentral oleh hormon hipotalamus, yaitu Growth hormone relasing hormone (GHRH) dan somatostatin. GHRH berfungsi untuk merangsang produksi GH sedangkan somatostatin menghambat sekresi GH (Ratnayanti, 2012).

Pengaruh hormon pertumbuhan terhadap proses fisiologi tubuh sangat kompleks. Ada dua mekanisme hormon pertumbuhan dalam bekerja, yaitu secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung hormon pertumbuhan menyebabkan lipolisis, meningkatkan transportasi asam amino ke jaringan, síntesis protein dan glukosa di hati serta beberapa efek langsung pada pertumbuhan tulang rawan. Sedangkan secara tidak langsung hormon pertumbuhan bekerja melalui IGF-1

(12)

(insulin like growth factor-1) yang dihasilkan oleh berbagai jaringan sebagai respon terhadap hormon pertumbuhan. IGF-1 dalam sirkulasi terkait pada 6 spesific binding protein dalam beberapa kombinasi. IGF-1 binding protein (IGFBP) yang utama adala IGFBP-3 yang merupakan 95% dari semua binding protein. Jaringan yang memproduksi IGF-1 antara lain hati, otot, tulang, tulang rawan, ginjal dan kulit. Sebagian besar IGF-1 yang dilepas disirkulasi berasal dari hati (Ratnayanti, 2012).

5. IGF-1

Kebanyakan IGF-1 diproduksi dalam hepatosit dan dirangsang oleh hormon pertumbuhan. IGF-1 biasanya ada dalam serum sebagai kompleks 150-kDa dari sebuah molekul IGF-1, IGFBP-3 dan empedu subunit asam. Senyawa kompleks ini memfasilitasi pengangkutan IGF dari darah ke dalam sel (Yakar et al., 2002)

Hormon pertumbuhan sendiri menghambat pelepasannya melalui mekanisme umpan balik. Hal ini terjadi melalui beberapa jalur yang diperankan oleh GH maupun Insulin like growth faktor-1 (IGF-1). IGF-1 tersebut dapat menghambat sintesis GHRH dan merangsang sintesis somatostatin (Ratnayanti, 2012).

Tujuan utama IGF-1 adalah untuk menstimulasi pertumbuhan sel. IGF-1 juga dapat mencegah degenerasi otot akibat penuaan, jaringan kulit dan tulang (Ratnayanti, 2012).

6. Toksikologi

a. Definisi Toksikologi

Istilah toksikologi berasal bahasa latin yang terdiri dari dua kata yaitu toxicus yang berarti racun dan logos yang artinya pengetahuan. Pada mulanya toksikologi didefinisikan sebagai ilmu tentang racun (Donatus, 2005). Definisi tersebut dinilai

(13)

kurang tepat setelah Paracelsus (1493-1541) menyatakan bahwa yang membedakan antara racun dan bukan racun adalah takaran nya (Doull, 1986 ; Gallo, 2008).

Toksikologi adalah ilmu yang mempelajari efek merugikan dari zat kimia, baik saat digunakan atau saat berada di lingkungan, terutama dampaknya pada manusia, baik yang masuk secara sengaja atau tidak disengaja (Priyanto, 2009).

b. Asas Umum Toksikologi

Toksikologi didefinisikan sebagai ilmu tentang aksi berbahaya zat kimia atas jaringan biologi dan dampaknya. Definisi ini mengandung arti bahwa jaringan biologi (tubuh) dalam kondisi tertentu, zat kimia dapat berinteraksi menimbulkan efek berbahaya dengan wujud dan sifat tertentu. Berdasarkan alur peristiwa timbulnya efek toksik, maka ada empat asas utama dalam toksikologi. Empat asas tersebut meliputi kondisi pemejanan dan kondisi makhluk hidup, mekanisme aksi, wujud dan sifat efek toksik atau pengaruh berbahaya racun (Donatus, 2005).

1) Kondisi efek toksik

Kondisi efek toksik menentukan keberadaan zat racun di dalam tubuh yang terdiri dari kondisi pemejanan dan kondisi makhluk hidup. Kondisi pemejanan meliputi jenis, jalur, lama, kekerapan, saat dan takaran pemejanan. Kondisi makhluk hidup mencakup keadaan fisiologi dan patologi yang mempengaruhi ketersediaan xenobiotik di sel sasaran. Terdapat dua jenis pemejanan yaitu akut dan kronis (Donatus, 2005). 2) Mekanisme efek toksik

Mekanisme aksi toksik berdasarkan sifat dan tempat kejadian awal dibagi menjadi dua, yaitu mekanisme luka intrasel dan mekanisme luka

(14)

ekstrasel. Mekanisme luka intrasel atau mekanisme primer adalah luka sel yang diawali oleh aksi langsung zat beracun atau metabolitnya pada tempat aksi tertentu di tempat sel sasaran. Sebaliknya mekanisme luka ekstrasel terjadi secara tidak langsung. Artinya zat beracun pada awalnya beraksi di lingkungan luar sel yang berakibat terjadinya luka di dalam sel (Sulistyowati, 2008).

3) Wujud efek toksik

Wujud efek toksik suatu racun dapat berwujud perubahan biokimia, fisiologi (fungsional) dan struktural. Perubahan ini memiliki sifat yang khas, yaitu terbalikkan dan tak terbalikkan (Donatus, 2005).

4) Sifat efek toksik

Sifat efek toksik suatu racun dapat dibedakan menjadi terbalikkan

(reversible) dan tak terbalikkan (irreversible) (Priyanto, 2009). Ciri dari

efek toksik yang terbalikkan adalah apabila kadar racun yang ada dalam tempat aksi maka reseptor akan kembali kepada keadaan semula, efek toksik yang ditumbulkan akan segera kembali kepada kondisi normal (Sulistyowati, 2008). Ciri dari efek toksik yang tak terbalikkan yaitu kerusakan yang terjadi sifatnya menetap, pemejanan berikutnya akan menimbulkan kerusakan yang sifatnya sama sehingga memungkinkan terjadinya penumpukan efek toksik (Priyanto, 2009).

c. Uji Toksikologi

Uji toksisitas merupakan salah satu uji pra klinik yang dilakukan pada hewan uji untuk tes keamanan suatu obat baru yang akan dikembangkan. Uji toksisitas

(15)

mengungkapkan serangkaian efek akibat pemejanan zat toksik pada berbagai peringkat dosis dengan waktu pemberian bervariasi serta menunjukkan organ sasaran, sistem yang terpengaruh atau toksisitas khusus yang muncul (Lu, 2002).

Uji toksisitas dibagi menjadi uji toksisitas tak khas dan khas (Donatus, 2005). Uji toksisitas khas adalah uji toksikologi yang dirancang untuk mengevaluasi secara rinci efek yang khas sesuatu senyawa atas fungsi organ atau kelenjar tertentu pada aneka ragam hewan uji. Uji toksisitas tak khas bertujuan untuk mengevaluasi keseluruhan efek toksik suatu zat beracun pada aneka ragam hewan uji (Priyanto, 2009).

d. Uji Toksisitas Subkronis

Uji ketoksikan subkronis adalah uji ketoksikan suatu senyawa yang diberikan dengan dosis berulang pada hewan uji tertentu, selama kurang dari tiga bulan. Uji ini ditujukan untuk mengungkapkan spectrum efek toksik senyawa uji, serta untuk memperlihatkan apakah spektrum efek toksik itu berkaitan dengan takaran atau dosis (Donatus, 2005).

Hewan uji yang digunakan disarankan paling tidak satu jenis hewan dewasa, sehat baik jantan maupun betina. Takaran dosis senyawa ini, diberikan sekali sehari selama kurun waktu uji ketoksikan subkronis berlangsung, melalui jalur pemberian sesuai dengan yang akan digunakan oleh manusia (Donatus, 2005).

Takaran dosis yang diberikan paling tidak tiga peringkat dosis dan sekurang-kurangnya satu kelompok perlakuan harus menerima dosis toksik yang dapat membunuh beberapa hewan uji atau yang memperlihatkan gejala-gejala toksik yang nyata, sedang kelompok lainnya, harus menerima takaran dosis yang sama sekali

(16)

tidak menimbulkan efeka tau gejala toksik. Takaran dosis senyawa ini diberikan sekali sehari selama kurun waktu uji ketoksikan subkronis berlangsung melalui jalur pemberian sesuai dengan yang akan digunakan oleh manusia (Donatus, 2005). Pengamatan dan pemeriksaan yang dilakukan dalam uji ketoksikan subkronis meliputi, perubahan berat badan yang diperiksa paling tidak 7 hari sekali, masukan makanan dan minuman untuk masing-masing hewan atau kelompok hewan yang diukur paling tidak 7 hari sekali, gejala-gejala klinis umum yang diamati setiap hari, pemeriksaan hematologi paling tidak diperiksa dua kali pada awal dan akhir uji coba, pemeriksaan kimia darah paling tidak sekali dan pemeriksaan histopatologi organ pada akhir uji coba (Looms, 1978; Auletta, 2002). Pengamatan dan pemeriksaan yang dilakukan pada uji toksisitas subkronis menurut Donatus (2001) antara lain adalah :

1. Perubahan berat badan diperiksa paling tidak tujuh hari sekali

2. Asupan makanan dan minuman untuk masing-masing hewan atau kelompok hewan diukur paling tidak tujuh hari sekali

3. Gejala-gejala klinis umum diamati setiap hari

4. Pemeriksaan hematologi darah diperiksa paling tidak dua kali pada awal dan akhir uji

5. Pemeriksaan kimia darah diperiksa paling tidak dua kali pada awal dan akhir uji

6. Analisis urin paling tidak sekali

(17)

e. Kimia Darah

Analisis parameter kimia darah merupakan analisis yang penting dalam toksikologi. Analisis ini dapat digunakan untuk menetapkan, mendeteksi dan mengkarakterisasi efek toksik yang ditimbulkan oleh senyawa toksik dilihat dari abnormalitas biokimiawi (Street, 1970). Selain itu, analisis ini juga berperan penting dalam evaluasi organ target spesifik dari senyawa toksik dan memberikan informasi yang penting untuk memahami proses terjadinya penyakit (Gad, 2007). Oleh karena itu, pengamatan perubahan konsentrasi kimia darah dapat memberikan gambaran pathogenesis dari organ yang menjadi target spesifik senyawa, selain itu juga memberikan informasi tentang perkembangan atau perbaikan jaringan yang terluka (Grasso,2002).

1) Glukosa

Glukosa merupakan bahan bakar bagi sebagian besar fungsi sel, sehingga prioritas utama dalam homeostasis adalah penyediaan glukosa. Pengukuran kadar glukosa darah dapat memberikan informasi apakah homeostasis tubuh berjalan normal atau tidak. Jika kadar glukosa darah tidak berada pada kisaran normal berarti proses homeostasis terganggu (Widmann, 1989).

Tiga proses fisiologis dasar dalam homeostasis glukosa yaitu sekresi insulin, pengambilan glukosa ke jaringan dan produksi glukosa hepatik. Kadar glukosa yang normal menunjukan adanya keseimbangan dari pemasukan glukosa (absorbsi melalui usus), pemanfaatan oleh jaringan

(18)

(glikolisis, jalur pentose fosfat, sintesis glikogen) dan produksi glukosa secara endogen (glukoneogenesis dan glikogenolisis) (Meyer et al., 2002).

Abnormalitas kadar glukosa baik hipoglikemia atau hiperglikemia akan memberikan pengaruh buruk terhadap homeostasis organ dan jaringan-jaringan yang lain (Kawahito et al., 2009). Hipoglikemia mempunyai penyebab yang luas seperti adanya penyakit liver, ginjal, gastrointestinal dan kelenjar endokrin, selain itu juga dapat disebabkan karena asupan yang kurang (Field, 1989).

2) Kolesterol Total

Kolesterol merupakan senyawa lipid amfipatik yang merupakan komponen esensial pembentuk membrane sel serta lapisan eksterna lipoprotein plasma. Sebagian besar kolesterol disimpan dalam bentuk ester kolesteril. Kolesterol merupakan perkusor utama asam empedu, dan hormon steroid (Murray, 2003).

Hati merupakan tempat utama pemeliharaan homeostasis kolesterol dengan beberapa mekanisme seperti pelepasan lipoprotein dalam darah, penyimpanan melalui esterifikasi dan degradasi, serta konversi menjadi asam empedu (Weber et al., 2004)

Menurut Weatherby dan Fergusson (2002), penurunan kadar kolesterol lebih mengarah pada ganguan system syaraf dan sintesis hormonal yang rendah. Kadar kolesterol total yang rendah juga dapat dipengaruhi kondisi hati/kelenjar empedu yang mengalami gangguan, malnutrisi, dan hiperfungsi kenlenjar tiroid.

(19)

3) Urea

Dibanyak jaringan tubuh, terjadi pertukaran gugus-gugus amino antara asam-asam amino yang dikatalisis oleh aminotransferase. Daur ulang asam-asam amino membebaskan gugus amino. Gugus amino yang dibebaskan diubah menjadi ammonia yang mengalir ke hati, di mana gugus tersebut digabungkan ke urea (Widmann, 1989).

Tingkat produksi urea tidak konstan. Hal ini bisa meningkat pada seseorang yang mengkonsumsi diet protein yang cukup tinggi dan kondisi yang ditandai dengan kerusakan jaringan (misalnya perdarahan, trauma). Penyakit hati mungkin terkait dengan nilai yang mendekati normal dari urea darah (karena produksi urea menurun) dan serum nitrogen (karena pengecilan otot), meskipun penurunan signifikan yang berhubungan dengan fungsi ginjal dimanifestasikan dengan penurunaan laju filtrasi glomerulus (Sherman et al., 2003).

4) Kreatinin

Kreatinin serum merupakan indikator yang paling umum digunakan untuk mengetahui fungsi ginjal, akan tetapi terdapat beberapa gangguan analitis dan masalah standarisasi yang signifikan (Lawson et al., 2002;Perrone et al., 1992). Menurut Lee (2009), kadar kreatinin serum tidak selalu menggambarkan fungsi ginjal yang sebenarnya. Kadar keratin serum yang normal belum tentu fungsi ginjal normal. Kadar kreatinin rendah bisa terjadi karena massa otot yang rendah tetapi jarang terjadi, sintesis kreatinin yang rendah di hati, atau pada keadaan

(20)

hiperbilirubinemia. Secara teoritis, adanya gangguan fungsi ginjal yang menyebabkan turunnya laju filtrasi glomerulus akan meningkatkan kadar kreatinin serum (Lee, 2009).

5) Albumin

Albumin merupakan protein plasma dengan jumlah dan kelarutan dalam air paling besar. Albumin memiliki peranan penting pada regulasi tekanan osmosis koloidal dalam darah. Gugus reaktif yang banyak pada albumin menyebabkan albumin dapat berikatan secara reversible dengan berbagai anion dan kation (Feldman et al., 2000).

Albumin disintesis di hepar dan dikatabolisme oleh berbagai jaringan. Mekanisme pengaturan sintesis albumin belum diketahui secara pasti, namun sering disebutkan bahwa pengaturan tersebut berdasarkan perubahan tekanan osmotik koloidal. Pertukaran albumin yang konstan antara intravaskular dan ekstravaskular, maka kemungkinan sintesis albumin dipengaruhi oleh konsentrasi albumin di dalam ruang intestisial hepar (Feldman et al., 2000).

Perubahan konsentrasi albumin dalam darah dibedakan menjadi hipoalbuminemia dan hiperalbuminemia. Hipoalbuminemia dapat disebabkan karena adanya penurunan sintesis albumin karena insufisiensi hati, sehingga kadar albumin plasma dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi kronisitas dan keparahan dari beberapa penyakit hati. Hiperalbuminemia merupakan hasil hemoconcetration karena tidak terjadi

(21)

peningkatan kadar albumin plasma misalnya pada keadaaan dehidrasi (Feldman et al., 2000).

6) Protein Total

Protein total serum terdiri dari albumin dan globulin total. Karena nilai protein total terdiri dari nilai albumin dan nilai globulin total, maka kenaikan nilai protein total juga harus seiring dengan kenaikan salah satu atau kedua nilai tersebut. Kenaikan nilai protein total dapat terjadi pada kondisi dehidrasi, gangguan fungsi hati/kelenjar empedu, adrenal

hypofunction, dan asam amino yang tinggi (Weatherby& Fergusson,

2002).

Penyerapan protein dipengaruhi oleh gangguan fungsi lambung, pancreas, dan usus halus. Oleh karena itu, protein total dapat menggambarkan defisiensi nutrisi dan masalah fungsi pencernaan. Penurunan nilai protein total dapat menjadi indikasi adanya malnutrisi, gangguan fungsi pencernaan atau gangguan fungsi hati (Weatherby& Fergusson, 2002).

7) Bilirubin Total

Pengolahan normal metabolik hemoglobin setelah pembebasannya dari eritrosit yang sudah tua menyebabkan terbentuknya molekul hem. Hem pada gilirannya kehilangan atom besi dan teroksidasi untuk membentuk pigmen kuning bilirubin (Widmann, 1989). Bilirubin digunakan sebagai marker dalam diagnose penyakit hati dan gangguan

(22)

darah (Berk et al., 1969) keadaan dimana kadar bilirubin dalam plasma tinggi disebut hiperbilirubinemia (Fevery, 2008).

8) Serum Glutamic Pyruvic Transaminase (SGPT)

SGPT merupakan enzim transaminase yang terdapat pada serum dan jaringan tubuh. Secara klinis SGPT digunakan dalam evaluasi diagnosis cedera hati untuk menentukan tingkat kesehatan hati (Wang, 2012). SGPT sebagian besar berada di sitosol sel-sel hati. Sel hati yang mengalami nekrosis akan menyebabkan SGPT yang ada didalam sitosol keluar karena rusaknya membran sel. Sehingga kadar SGPT di dalam plasma menjadi tinggi (Zakim & Boyer, 1982). Hanya hati yang memiliki aktivitas SGPT tinggi, meskipun ginjal, jantung dan otot lurik juga mengandung SGPT dalam jumlah yang sedikit (Widmann, 1989).

9) Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase (SGOT)

SGOT merupakan enzim transaminase yang berfungsi mengkatalisis perpindahan gugus amino aspartate ke asam α-ketoglutarat membentuk oksaloasetat dan glutamat (Burtis et al., 2008).

SGOT berada di mitokondria dan sitosol sel-sel hati. Membrane sel yang pecah atau rusak akan menyebabkan keluarnya SGOT yang ada di dalam sel, hal ini terjadi apabila sel hati mengalami kerusakan atau nekrosis. Keluarnya SGOT tersebut akan menyebabkan SGOT berada di dalam plasma dengan konsentrasi tinggi. SGOT kurang spesifik dibandingkan SGPT, karena SGOT tidak hanya berada di dalam hati (mitokondria dan

(23)

sitosol) melainkan juga ada di jantung, ginjal, otak, dan tulang (Zakim, 1982).

f. Metode Uji Toksisitas Subkronis Guideline OECD 408

OECD (Organization for Economic Co-Operation and Development) adalah sebuah lembaga multinasional yang bekerjasama dalam bidang ekonomi dan pembangunan. Guidelines OECD ditujukan untuk terbentuknya standar operasional prosedur dalam penelitian (Anonim, 2013).

Untuk Guidelines OECD 408 ini menjelaskan secara spesifik mengenai tatalaksana prosedur penelitian dosis berulang selama 90 hari. Guidelines ini memuat tatacara seleksi spesies hewan, kondisi dan tempat pengujian, persiapan hewan, penyiapan dosis uji, jumlah hewan uji, cara adminstrasi dosis kepada hewan uji, pengamatan yang dilakukan serta pelaporan data (Anonim, 2013).

Hewan uji yang digunakan setidaknya 20 hewan dengan rincian 10 ekor jantan dan 10 ekor betina setiap peringkat dosis, ditambah dengan kelompok satelit sebanyak 5 ekor jantan dan 5 ekor betina. Peringkat dosis yang digunakan setidaknya ada 3 peringkat termasuk kelompok kontrol. Pengamatan yang dilakukan meliputi pengamatan gejala klinik sesaat setelah pemejanan, perbahan bobot badan, asupan makanan dan minuman, biokimia darah, hematologi serta histopatologi (Anonim, 2013).

Menurut peraturan BPOM No.7 tahun 2014 uji toksisitas subkronis memilki prinsip sediaan uji dalam beberapa tingkat dosis diberikan setiap hari pada beberapa kelompok hewan uji. Selama waktu pemberian sediaan uji, hewan harus diamati setiap hari untuk menentukan adanya toksisitas. Hewan yang mati selama periode

(24)

pemberian sediaan uji, bila belum melewati periode rigor mortis (kaku) segera diotopsi, organ dan jaringan diamati secara makropatologi dan histopatologi. Pada akhir periode pemberian sediaan uji, semua hewan yang masih hidup diotopsi selanjutnya dilakukan pengamatan secara makropatologi pada setiap organ maupun jaringan, serta dilakukan pemeriksaan hematologi, biokimia klinis dan histopatologi.

F. Keterangan Empiris

Penelitian in bersifat eksploratif untuk mengetahui gambaran toksisitas pemberian sediaan SPB pada tikus jantan galur Wistar dilihat dari wujud efek toksik serta pengaruh dosis terhadap luas spectrum efek toksik ditinjau dari parameter berat badan, asupan makan, minum, dan kimia darah jika sediaan diberikan sekali sehari secara oral selama 90 hari.

Figur

Gambar 1. Phlomis umbrosa (Anonim b , 2015)

Gambar 1.

Phlomis umbrosa (Anonim b , 2015) p.7
Gambar 2. Cynanchum wilfordii (Anonim c , 2015)

Gambar 2.

Cynanchum wilfordii (Anonim c , 2015) p.8
Gambar 3. Zingiber officinale Rosc (Anonim, 2016)

Gambar 3.

Zingiber officinale Rosc (Anonim, 2016) p.9
Gambar 4. Platycodon grandiflorum (Anonim, 2010)

Gambar 4.

Platycodon grandiflorum (Anonim, 2010) p.10

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :