PENGUJIAN FORMULASI BIOFERTILIZER PADA TANAMAN PADI DI LAHAN PASANG SURUT

Download (0)

Teks penuh

(1)

PENGUJIAN FORMULASI BIOFERTILIZER PADA TANAMAN PADI DI LAHAN

PASANG SURUT

Nurita, Muhammad Saleh

Balai Penelitian Petanian Lahan Rawa, Jalan Kebun Karet Loktabat Utara Banjarbaru

Abstract. The objective of the experiment was to get the best biofertilizer formula in increas the production of rice plants.

Tests carried out at The Screen House of Indonesian Swampland Agricultural Research Institute at Growing Season of 2015. Media plant used is the land of the tidal swamp land at Belandean Experimental station. Inpara 2 variety seedlings aged to 15 days after the seedlings planted on each pot experiments included insoil weighing 10 kg in pots. Treatment Formulation biofiltelizer given the day before planting a dose of 10 grams. The experiment was arranged in randomized design with three replications. As the treatment was 12 biofiltelizer formulation, biotara and control. The treatment consisted of: 1). Rice husks biochar + Microbial decomposers; 2). Rice husks biochar +P solvent; 3). Rice husks biochar + N fastening; 4). Rice husks biochar + Consortium; 5). Coconut shell biochar + Microbial decomposers; 6). Coconut shell biochar + P solvent; 7). Coconut shell biochar + N fastening; 8). Coconut shell biochar + Consortium; 9). Empty oil palm fruit bunches biochar + Microbial decomposers; 10). Empty oil palm fruit bunches biochar + P solvent: 11). Empty oil palm fruit bunches biochar+ N fastening; 12). Empty oil palm bunches biochar + Consortium: 13). Biotara. and 14). Control. The results showed that the formulation of empty oilpalm fruit bunches biochar + microbial decomposers and formulation of empty oil palm fruit bunches biochar +P solventware selected.

Keywords: biofiltelizer formulation, production, rice, tidal swamp land

1. PENDAHULUAN

Permasalahan utama yang dihadapi dalam pengembangan lahan rawa pasang surut diantaranya kemasaman tanah tinggi, ketersediaan unsur hara dalam tanah relatif rendah, kandungan zat beracun (Al, Fe, H2S. Lahan sulfat masam, umumnya memiliki ketersediaan phosphor rendah karena besarnya fiksasi oleh Al dan Fe (Dent, 1986; Sanchez, 1976). Pengelolaan lahan merupakan salah satu faktor terpenting dalam mencapai hasil yang optimal dan berkelanjutan. Oleh karena itu, pengelolaan lahan (tanah) harus diupayakan tanpa menyebabkan kerusakan terhadap lingkungan maupun menurunkan kualitas sumber daya lahan, dan sebaiknya diarahkan pada perbaikan struktur fisik, komposisi kimia, dan aktivitas biologi tanah yang optimum bagi tanaman. Dengan demikian, interaksi antara komponen-komponen biotik dan abiotik tanah pada lahan memberikan keseimbangan yang optimal bagi ketersediaan hara dalam tanah, yang selanjutnya menjamin keberlangsungan produktivitas lahan, dan keberhasilan usaha tani. Melalui system tersebut diharapkan akan terbentuk agroekosistem yang stabil dengan masukan dari luar yang minim, tetapi dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman tanpa menurunkan kualitas lingkungan.

Salah satu usaha meningkatkan

produktivitas lahan (tanah) adalah dengan pemupukan. Ketergantungan yang besar terhadap

pupuk kimia sebagai sumber hara berpotensi menurunkan kesuburan tanah, sehingga penggunaannya perlu dikurangi dengan memanfaatkan pupuk hayati yang unggul dan adaptif pada lahan pasang surut. Fungsi pupuk kimia akan digantikan oleh sejumlah mikroba yang mempunyai potensi dalam mendukung kesuburan tanah. Kesuburan tanah ini sangat berkaitan erat dengan ketersediaan unsur hara yang tersedia dan dapat di serap oleh tanaman.

Biofertilizer (pupuk yang berisi mikroba penyubur tanah dikenal dengan pupuk hayati) merupakan suatu zat yang digunakan untuk meningkatkan kesuburan tanah dengan menggunakan limbah biologis, bermanfaat dalam memperkaya tanah dengan kandungan mikro-organisme yang menghasilkan nutrisi organik untuk tanah dan membantu memerangi penyakit (Parr et al., 2002). Penggunaan pupuk hayati sangat effektif untuk meningkatkan efisiensi pemupukan dan peningkatan produktivitas dengan biaya yang relatif murah. Pupuk hayati yang sesuai untuk tanah sawah dengan sistem intensifikasi padi aerop terkendali berbasis organik adalah a). Bakteri penembat N, B). Mikroba pelarut P dan C). Mikroba penghasil Fitohormon (Simarmata dan Yuyun Yuwariah, 2007).

Biotara (biologi tanah rawa) adalah teknologi pupuk hayati untuk tanaman padi yang terdiri dari konsorsium mikroba dekomposer, pelarut P dan penambat N. Formula pupuk hayati tersebut menggunakan bahan pembawa serbuk jerami padi.

(2)

Biotara dapat menggefisienkan pemberian pupuk N dan P anorganik > 30% dan meningkatkan hasil 20% dan ramah lingkungan (Mukhlis, 2010).

Sedangkan mikroba dekomposer adalah makhluk hidup yang berfungsi untuk menguraikan makhluk hidup yang telah mati, sehingga materi yang diuraikan menjadi unsur hara yang dapat diserap oleh tumbuhan yang hidup disekitar daerah tersebut

Disamping itu, biochar merupakan limbah bahan organik yang diproses melalui pembakaran tidak sempurna (pyrolisis) dan dapat bertahan lama sampai ratusan tahun. Bahan utama untuk pembuatan biochar adalah limbah-limbah pertanian dan perkebunan seperti sekam padi, tempurung kelapa, tandan kosong kelapa sawit dan atau kayu-kayu dari tanaman industry. Dalam tanah, biochar menyediakan habitat bagi mikroba tanah, tapi tidak dikonsumsi dan umumnya biochar yang diaplikasikan dapat tinggal dalam tanah selama ratusan atau bahkan ribuan tahun. Dalam jangka panjang biochar tidak mengganggu keseimbangan karbon-nitrogen, tapi bisa menahan dan menjadikan air dan nutrisi lebih tersedia bagi tanaman. Bila digunakan sebagai pembenah tanah bersama pupuk organik dan inorganik, biochar dapat meningkatkan produktivitas, serta retensi dan ketersediaan hara bagi tanaman.

Penambahan biochar ke tanah meningkatkan ketersediaan kation utama P, dan total N dan kapasitas tukar kation tanah (KTK) yang pada akhimya meningkatkan hasil. Tingginya ketersediaan hara bagi tanaman merupakan hasil dari bertambahnya nutrisi secara langsung dari biochar, meningkatnya retensi hara, dan perubahan dinamika mikroba tanah. Aplikasi biochar akan menurunkan kepadatan tanah, Al-dd dan Fe, dan meningkatkan porositas, kandungan air tersedia, C-organik, P-tersedia, KTK, K-dd dan Ca-dd (Steiner et al., 2007). Sehubungan dengan hal tersebut formulasi pupuk hayati dengan biochar sebagai bahan pembawa diharapkan dapat memberikan fungsi ganda, yaitu sebagai pupuk hayati yang dapat meningkatkan ketersediaan hara, dan juga sebagai pembenah tanah yang adaptif dan efektif di lahan rawa pasang surut.

Penelitian bertujuan mendapatkan formula biofertilizer yang terbaik yang dapat meningkatkan produktivitas lahan pasang surut.

2. METODE

Pengujian dilaksanakan di rumah kawat Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa, MT. 2015.

Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak kelompok dengan 3 ulangan. Sebagai perlakuan adalah 12 formulasi biofiltelizer, pupuk hayati biotara dan kontrol (Tabel1).

Tabel 1. Perlakuan formulasi biofiltelizer pada pengujian media tanah sulfat masam

No. Perlakuan

1 Biochar sekam padi + Mikroba dekomposer 2 Biochar sekam padi + pelarut P

3 Biochar sekam padi + penambat N 4 Biochar sekam padi + Konsorsium

5 Biochar tempurung kelapa + Mikroba dekomposer 6 Biochar tempurung kelapa + pelarut P

7 Biochar tempurung kelapa + penambat N 8 Biochar tempurung kelapa + Konsorsium

9 Biochar tandan kosong kelapa sawit + Mikroba dekomposer

10 Biochar tandan kosong kelapa sawit + pelarut P 11 Biochar tandan kosong kelapa sawit + penambat N 12 Biochar tandan kosong kelapa sawit + Konsorsium 13 Biotara

14 Kontrol

Media tanaman yang digunakan adalah tanah dari lahan pasang surut pada Kebun Percobaan Belandean. Tiap pot percobaan dimasukkan tanah seberat 10 kg. Perlakuan Formulasi biofiltelizer diberikan sehari sebelum tanam dengan dosis 10 gram. Bibit padi Inpara 2 yang berumur 15 hari setelah semai, ditanam pada pot, sebanyak 2 tan/pot. Kemudian diberi pupuk NPK dengan dosis 0,5 g N, 0,3 g P2O5, dan 0,25 g K2O per pot. Setengah dosis N diberikan pada saat tanam dan sisanya pada 30 hari setelah tanam. Sedangkan pupuk P dan K diberikan pada saat tanam. Pemeliharaan tanaman di pot dilaksanakan secara intensif. Pengamatan dilakukan terhadap komponen hasi yang meliputi dan hasil.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil analisis ragam terhadap tinggi tanaman pada umur 60 HST menunjukkan perbedaan yang nyata. Ada 5 perlakuan yang sebanding terhadap kontol, sedang 8 perlakuan lainnya menunjukkan perbedaan terhadap kontrol (53,00 cm).

Hasil analisis menunjukkan bahwa pemberin perlakuan menunjukkan jumlah anakan yang nyata dibanding kontrol (9,7 anakan), terdapat 10 perlakuan yang menunjukkan jumlah anakan yang lebih tinggi dibanding kontol. Skor pertumbuhan pada semua perlakuan tergolong 5 (sedang), tidak terlihat adanya gejala keracunan pada tanaman.

(3)

Tabel 2. Tinggi tanaman, jumlah anakan dan skor pertumbuhan vegetatif pada berbagai formulasi bahan pembawa pada media tanah sulfat masam, umur 60 HST Musim Tanam 2015

No. Perlakuan Tinggi tanaman (cm) Jumah anakan vegetatif Skor per tumbuhan

1 Biochar sekam padi + Mikroba dekomposer 60,00tn 17,00* 5

2 Biochar sekam padi + pelarut P 57,17tn 16,00* 5

3 Biochar sekam padi + penambat N 69,67* 10,83tn 5

4 Biochar sekam padi + Konsorsium 56,17tn 15,50tn 5 5 Biochar tempurung kelapa + Mikroba dekomposer 70,17* 21,00* 5 6 Biochar tempurung kelapa + pelarut P 64,20* 20,70* 5 7 Biochar tempurung kelapa + penambat N 67,80* 13,80tn 5 8 Biochar tempurung kelapa + Konsorsium 68,80* 17,70* 5 9 Biochar tandan kosong kelapa sawit + Mikroba dekomposer 67,80* 19,30* 5 10 Biochar tandan kosong kelapa sawit + pelarut P 67,00* 18,50* 5 11 Biochar tandan kosong kelapa sawit + penambat N 58,90tn 18,40* 5 12 Biochar tandan kosong kelapa sawit + Konsorsium 59,20 tn 18,70* 5

13 Biotara 63,50* 16,60* 5

14 Kontrol 53,00 9,70 5

Keterangan: * = nyata, tn = tidak nyata; skor 1 = Sangat baik, 3 = baik, 5 = sedang, 7= jelek Hasil analisis ragam terhadap jumlah anakan

produktif pada tanah sulfat masam, perlakuan formulasi bahan pembawa tidak menunjukkan perbedaan terhadap kontrol (12,00 anakan), semua perlakuan menunjukkan hal yang sebanding. Jumlah anakan produktif yang dicapai berkisar antara 10,00 sampai dengan 20,30 anakan. Menurut IRRI (1996), kriteria jumlah malai (anakan produktif) sebagai berikut, sangat rendah : < 5,0,

rendah : 5 - 9, sedang : 10 - 19, tinggi : 20 - 25 dan sangat tinggi : > 25. Dari kriteria tersebut diatas, perlakuan kontrol dan perlakuan pemberian formula biofertilizer pada umumnya menunjukkan jumlah anakan produktif tergolong sedang, hanya satu perlakuan yaitu Biochar tandan kosong kelapa sawit + Mikroba dekomposer menunjukkan jumlah anakan produktif dengan kriteria tergolong tinggi. Tabel 3. Jumlah anakan produktif, jumlah gabah/malai, bobot 100 gabah padi varietas Inpara 2, berbagai

formula pada media tanah sulfat masam. Musim Tanam 2015

No. Perlakuan Jumlah anakan prod. Jumlah gabah/ malai Bobot 100 gabah (g)

1 Biochar sekam padi + Mikroba dekomposer 12,33 tn 65,00 tn 2,17 tn 2 Biochar sekam padi + pelarut P 12,33 tn 63,00 tn 2,13 tn 3 Biochar sekam padi + penambat N 12,33 tn 69,67 tn 1,93 tn 4 Biochar sekam padi + Konsorsium 12,00 tn 83,00 * 1,93 tn 5 Biochar tempurung kelapa + Mikroba dekomposer 14,33 tn 86,67 * 1,87 tn 6 Biochar tempurung kelapa + pelarut P 10,00 tn 89,00 * 2,10 tn 7 Biochar tempurung kelapa + penambat N 13,30 tn 87,30 * 2,00 tn 8 Biochar tempurung kelapa + Konsorsium 17,00 tn 81,30 * 2,10 tn 9 Biochar tandan kosong kelapa sawit + Mikroba dekomposer 20,30 tn 94,00 * 2,30 tn 10 Biochar tandan kosong kelapa sawit + pelarut P 19,70 tn 89,00 * 2,30 tn 11 Biochar tandan kosong kelapa sawit + penambat N 15,00 tn 75,00 * 2,30 tn 12 Biochar tandan kosong kelapa sawit + Konsorsium 14,30 tn 84,70 * 2,30 tn

13 Biotara 16,00 tn 82,00 * 2,00 tn

14 Kontrol 12,00 48,00 1,900

Keterangan : * = nyata, tn = tidak nyata

Hasil yang terjadi pada pengujian Djasmara 2007, pemberian pupuk hayati, berupa Enhanching Microbial Aktivities in the soil, tidak dapat meningkatkan jumlah malai/rumpun, sedangkan

jumlah gabah/malai menunjukkan perbedaan terhadap kontrol, terdapat 3 perlakuan yang sebanding dan 11 perlakuan yang mempunyai jumlah gabah /malai yang lebih tinggi dari kontrol.

(4)

Hasil analisis terhadap variabel bobot 100 gabah, perlakuan formula biofertilizer tidak membarikan pengaruh, semua perlakuan menunjukkan hal yang sebanding dengan kontrol. Hal yang sama juga terjadi pada tanaman hanjeli

pulut, dimana pemberian pupuk hayati yang mengandung bakteri pelarut fosfat tidak berpengaruh terhadap bobot 100 biji (Nurmala et al, 2013).

Gambar 1. Hasil (g/pot) pada tanaman padi inpara 2, pada berbagai formula pada media tanah sulfat masam MT 2015. Keterangan: bsp= biochar sekam padi, btk= biochar tempurung kelapa, biochar tandan kosong kelapa

m.dek= mikroba dekomposer, Pel.p= pelarut fosfat, pen N= penambat N, kons= konsorsium

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata terhadap hasil yang dicapai pada media tanah sulfat masam. Meningkatnya hasil berhubungan erat dengan meningkatnya jumlah anakan dan jumlah gabah/ malai. Perlakuan biochar tandan kosong kelapa sawit + mikroba dekomposer dan yang ditambah pelarut P, menunjukkan hasil yang lebih tinggi di banding kontrol. Meningkatnya hasil pada perlakuan ini di sebabkan mikroba pelarut Fosfat yang dapat melarutkan P yang terikat sehingga menjadi tersedia di dalam tanah maupun dari pupuk P yang diberikan (Badan Litbang Pertanian, 1997), dan menurut Fauzi dan Yan (2008), kompos kosong kelapa sawit kaya dengan hara Kalium. Hasil pengujian Bintora et al 2007, pemberian pupuk hayati, berupa pupuk mikroba pelarut Fosfat dapat meningkatkan bobot kering jerami, bobot gabah, dan bobot beras.

4. SIMPULAN

Pemberian biofiltelizer berpengaruh terhadap hasil. Formulasi terpilih adalah biochar tandan kosong kelapa sawit + mikroba dekomposer dan formula biochar tandan kosong kelapa sawit + pelarut P.

5. DAFTAR PUSTAKA

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. (1997). Biofosfat Pupuk Mikroba Penyedia Fosfat. Bogor: Liptan Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

Bintoro, H.M.H. (2007). Efek pupuk hayati dan organik terhadap pertumbuhan dan produksi padi. Dalam Neni R, Tati N., Agung K., Anne N., Suseno, Dedi R. & Warid. A.Q. (Eds). Prosiding Simposiun dan Seminar. Kongres IX. Perhimpunan Agronomi Indonesia. Bandung: Fakultas Pertanian. Universitas Padjadjaran. h. 73 – 77.

Djasmadi, M.S. (2007). Peningkatan produktivitas padi gogo varietas Situ Bagendit yang dipupuk dengan NPK dan pupuk hayati pda iseptisol di Jalekong, Bale Indah, Bandung. Dalam Neni R, Tati N., Agung K., Anne N., Suseno, Dedi. R. & Warid.A.Q. (eds). Prosiding Simposiun dan Seminar. Kongres IX. Perhimpunan Agronomi Indonesia. Bandung: Fakultas Pertanian. Universitas Padjadjaran. h. 101 – 104

Dent, D. (1986). Acid sulphate soils. A base line for research and development. Publication No. 39 ILR. Wageningan. The Netherlands.

Fauzi dan Yan. (2008). Kelapa Sawit. Jakarta: Penebar Swadaya.. 20.15 17.25 19.80 23.58 29.12 19.70 28.10 31.70 50.10 42.60 24.90 27.60 29.60 13.10 0 10 20 30 40 50 60 Hasil (g/pot)

(5)

IRRI. (1996). Standard Evaluation System for Rice. Los Banos, Philippines: The Int. Ric. Tes. Prog and the Int. Ric. Res. Inst.

Nurmala, T., Ruminta, Wicaksono, F.K., & Permadi, B.P. (2013). Pengurangan dosis pupuk majemuk NPK dengan pemberian pupuk hayati terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman hanjeli pulut. Dalam Djoko Purnomo et al (eds). Prosiding Seminar Nasional “Akselerasi Pembangunan Pertanian Berkelanjutan Menuju Kemandirian Pangan dan Energi. Surakarta: Fakultas Pertanian. Universutas Sebelas Maret Surakarta. h. 565 – 569.

Mukhlis. (2010). Formulasi Pupuk Mikroba “BIOTARA” untuk Meningkatkan Produksi Padi dan Efisiensi Pemupukan di Lahan Sulfat Masam. Banjarbaru : Laporan Hasil Penelitian Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra).

Simartata, T. & Yuwariah, Y. (2007). Teknologi Intensifikasi padi aerob terkendali berbasis organik untuk melipat gandakan produksi padi dan mempercepat kemandirian pangan dan ketahanan pangan.Dalam Neni R., Tati N., Agung K., Anne. N., Suseno, Dedi. R. & Warid A.Q. (Eds). Prosiding Simposiun dan Seminar. Kongres IX. Perhimpunan Agronomi Indonesia. Bandung: Fakultas Pertanian. Universitas Padjadjaran. h. 78-85.

Steiner, C., Teixeira, W,G,, Lehmann, J., Nehls, T., Macedo, J.L.V., Blum, W.E.H. & Zech, W. (2007). Long Term Effects of Manure, Charcoal and Mineral Fertilization on Crop Production and Fertility on A Highly Weathered Central Amazonian Upland Soil. Plant and Soil.

Figur

Tabel 2.  Tinggi tanaman, jumlah anakan dan skor pertumbuhan vegetatif pada berbagai formulasi bahan  pembawa pada media tanah sulfat masam,  umur 60 HST  Musim Tanam 2015

Tabel 2.

Tinggi tanaman, jumlah anakan dan skor pertumbuhan vegetatif pada berbagai formulasi bahan pembawa pada media tanah sulfat masam, umur 60 HST Musim Tanam 2015 p.3
Tabel 3. Jumlah anakan produktif, jumlah gabah/malai, bobot 100 gabah padi varietas Inpara 2, berbagai  formula pada media  tanah sulfat masam

Tabel 3.

Jumlah anakan produktif, jumlah gabah/malai, bobot 100 gabah padi varietas Inpara 2, berbagai formula pada media tanah sulfat masam p.3
Gambar 1.  Hasil  (g/pot) pada tanaman padi inpara 2, pada berbagai formula pada media  tanah sulfat masam MT 2015

Gambar 1.

Hasil (g/pot) pada tanaman padi inpara 2, pada berbagai formula pada media tanah sulfat masam MT 2015 p.4

Referensi

Related subjects :

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di