SKRIPSI. Diajukan Kepada Fakultas Syari ah dan Hukum Sebagai Salah Satu Syarat Guna Mencapai Gelar Sarjana Hukum (S.H) Oleh : Ravika Anggraeni

109  Download (0)

Full text

(1)

PELAKSANAAN ZAKAT TAMBANG PASIR PERSPEKTIF HUKUM ISLAM DAN UNDANG-UNDANG NO. 23 TAHUN 2011 (STUDI KASUS

DESA MULYOSARI KEC. PASIR SAKTI KAB. LAMPUNG TIMUR) SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Syari’ah dan Hukum Sebagai Salah Satu Syarat Guna Mencapai Gelar Sarjana Hukum (S.H)

Oleh : Ravika Anggraeni

11150430000002

PROGRAM STUDI PERBANDINGAN MAZHAB FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

(2)
(3)
(4)
(5)

iv ABSTRAK

Ravika Anggraeni, NIM 11150430000002. Pelaksanaan Zakat Tambang Pasir Perspektif Hukum Islam Dan Undang-Undang No. 23 Tahun 2011 (Studi Kasus Desa Mulyosari Kec. Pasir Sakti Kab. Lampung Timur). Program Studi Perbandingan Mazhab, Fakultas Syari’ah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 1441 / 2019.

Zakat merupakan satu kewajiban yang dibebankan oleh Allah SWT kepada umatnya. Dalam harta yang diberikan oleh Allah SWT terdapat hak orang lain yaitu zakat yang harus diberikan kepada yang berhak menerima sesuai dengan ketentuan-ketentuan agama Islam. akan tetapi pada kenyataannya terjadi ketidakseimbangan antara teori dan praktek, masyarakat di Desa Mulyosari Kecamatan Pasir Sakti Kabupaten Lampung Timur terkait dengan ketentuan zakat hasil tambnag pasir belum sesuai dengan ketentuan hukum Islam.

Dalam penulisan skripsi ini penulis menggunakan jenis penelitian lapangan (fiel research) yang disebut juga dengan penelitian kasus. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yaitu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa data tertulis ataupun lisan dari objek yang diamati. Sumber data penelitian ini terdiri dari dua jenis sumber data, yaitu primer dan sekunder. Data primer yaitu data yang diambil langsung di lapangan dari responden melalui wawancara dan data-data kependudukan terkait pekerjaan, agama serta pendidikan yang ada di Desa Mulyosari Kecamatan Pasir Sakti Kabupaten Lampung Timur. Dan data sekunder yaitu data yang didapatkan dari al-Qur’’an, Hadits, UU No. 23 Tahun 2011 serta beberapa data yang berhubungan langsung dengan maslah yang diteliti.

Dari hasil penelitian penulis bahwa pelaksanaan zakat tambang pasir di Desa Mulyosari Kecamatan Pasir Sakti Kabupaten Lampung Timur masih kurang sesuai dengan ketentuan yang ada yaitu hukum Islam dan Undang-Undang No. 23 Tahun 2011 tentang pengelolaan zakat. Masyarakat melaksanakan zakat tambang pasir dengan sepengetahuan dan kebiasaan-kebiasaan yang ada tanpa mengetahui dasar hukum zakat yang sebenarnya.

Kata kunci : Zakat, Tambang Pasir, Mulyosari, Pasir Sakti, Lampung Timur. Pembimbing : Ahmad Chairul Hadi, M.A.

(6)

v

Hal yang dimaksud dengan transliterasi adalah alih aksara dari tulisan asing (terutama Arab) ke dalam tulisan Latin. Pedoman ini diperlukan terutama bagi mereka yang dalam teks karya tulisnya ingin menggunakan beberapa istilah Arab yang belum dapat diakui sebagai kata bahasa Indonesia atau lingkup masih penggunaannya terbatas.

a. Padanan Aksara

Berikut ini adalah daftar aksara Arab dan padanannya dalam aksara Latin:

Huruf

Arab Huruf Latin Keterangan

ا

Tidak dilambangkan

ب

b be

ت

t te

ث

ts te dan es

ج

j Je

ح

h ha dengan garis bawah

خ

kh ka dan ha

د

d de

ذ

dz de dan zet

ر

r Er

(7)

vi

س

s es

ش

sy es dan ye

ص

s es dengan garis bawah

ض

d de dengan garis bawah

ط

t te dengan garis bawah

ظ

z zet dengan garis bawah

ع

koma terbalik di atas hadap kanan

غ

gh ge dan ha

ف

f ef

ق

q Qo

ك

k ka

ل

l el

م

m em

ن

n en

و

w we

ه

h ha

ء

apostrop

ي

y ya

(8)

vii Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangan ـــــَـــــ a fathah ـــــِـــــ i kasrah ـــــُـــــ u dammah

Sementara itu, untuk vokal rangkap atau diftong, ketentuan alih aksaranya sebagai berikut: Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangan

َي

ـــــَـــــ ai a dan i

و

ـــــَـــــ au a dan u c. Vokal Panjang

Ketentuan alih aksara vokal panjang (madd), yang dalam bahasa Arab dilambangkan dengan harakat dan huruf, yaitu:

Tanda Vokal Arab

Tanda Vokal Latin

Keterangan

ــــَـا

â a dengan topi diatas

ــــِـى

î i dengan topi atas

ـــُــو

û u dengan topi diatas

(9)

viii d. Kata Sandang

Kata sandang, yang dalam bahasa Arab dilambangkan dengan huruf alif dan lam )لا), dialih aksarakan menjadi huruf “l” (el), baik diikuti huruf syamsiyyahatau huruf qamariyyah. Misalnya: داهثجلإا =al-ijtihâd

ةصخرلا = al-rukhsah, bukan ar-rukhsah

e. Tasydîd (Syaddah)

Dalam alih aksara, syaddah atau tasydîd dilambangkan dengan huruf, yaitu dengan menggandakan huruf yang diberi tanda syaddah. Tetapi, hal ini tidak berlaku jika huruf yang menerima tanda syaddah itu terletak setelah kata sandang yang diikuti oleh huruf-huruf syamsiyyah. Misalnya: ةعفشلا = al-syuî ‘ah, tidak ditulis asy-syuf ‘ah

f. Ta Marbûtah

Jika ta marbûtah terdapat pada kata yang berdiri sendiri (lihat contoh 1) atau diikuti oleh kata sifat (na’t) (lihat contoh 2), maka huruf ta marbûtah tersebut dialihaksarakan menjadi huruf “h” (ha). Jika huruf ta marbûtah tersebut diikuti dengan kata benda (ism), maka huruf tersebut dialihasarakan menjadi huruf “t” (te)(lihat contoh 3).

No Kata Arab Alih Aksara

1

ةعيرش

syarî ‘ah

2

ةيملاسلإا ةعيرشلا

al- syarî ‘ah al-islâmiyyah

3

بهاذملا ةنراقم

Muqâranat al-madzâhib

g. Huruf Kapital

Walau dalam tulisan Arab tidak dikenal adanya huruf kapital, namun dalam transliterasi, huruf kapital ini tetap digunakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Perlu diperhatikan bahwa jika nama diri didahului oleh kata sandang, maka huruf yang ditulis dengan huruf kapital tetap huruf awal nama diri tersebut, bukan huruf awal kata sandangnya. Misalnya, يراخبلا= al-Bukhâri, tidak ditulis al-Bukhâri.

Beberapa ketentuan lain dalam EYD juga dapat diterapkan dalam alih aksara ini, misalnya ketentuan mengenai huruf cetak miring atau cetak tebal.

(10)

ix h. Cara Penulisan Kata

Setiap kata, baik kata kerja (fi’l), kata benda (ism) atau huruf (harf), ditulis secara terpisah. Berikut adalah beberapa contoh alih aksara dengan berpedoman pada ketentuan-ketentuan di atas:

No Kata Arab Alih Aksara

1

تاروظحملا حيبت ةرورضلا

al-darûrah tubîhu almahzûrât 2

يملاسلإا داصتقلإا

al-iqtisâd al-islâmî

3

هقفلا لوصأ

usûl al-fiqh

4

ةحابلإا ءايشلأا ىف لصلأا

al-‘asl fi al-asyyâ’ al-ibâhah 5

ةلسرملا ةحلصملا

al-maslahah al-mursalah

(11)

x

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Illahi Robbi yang telah melimpahkan segala rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan kewajiban studinya. Shalawat teriring salam semoga tercurahkan kepada pembawa amanah, tauladan umat, Nabi Muhammad SAW, para keluarga, sahabat dan orang-orang yang tercerahkan untuk membumikan hukum-hukumnya.

Penulisan skripsi ini tidak akan terselesaikan tanpa banyak tangan yang terulur memberikan bantuan. Ucapan rasa hormat dan terima kasih atas segala kepedulian mereka yang telah memberikan bantuan, baik berupa sapaan moril, kritik, masukan, dorongan semangat, dukungan finansial maupun sumbangan pemikiran dalam penulisan skripsi ini. Oleh karena itu, penulis secara khusus mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Dr. Ahmad Tholabi Kharlie, S.H., M.A., M.H. selaku Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Ibu Siti Hanna, M.A. dan Bapak Hidayatullah, M.H. selaku ketua dan sekretaris Program Studi Perbandingan Mazhab .

3. Bapak Ahmad Chairul Hadi, M.A. selaku dosen pembimbing skripsi yang telah banyak membantu meluangkan waktu, pikiran dan tenaga serta kesabarannya untuk memberikan bimbingan, pengarahan dan nasihat kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

4. Bapak Drs. Ahmad Yani, M.Ag. dan Siti Hanna, Lc., M.A. selaku dosen penguji sidang munaqasyah penulis yang telah banyak memberikan saran dan pandangan yang luas untuk melengkapi isi karya tulis ini.

5. Seluruh dosen serta civitas akademika Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah mendidik dan memberikan ilmunya kepada penulis.

6. Bapak Abdul Majid pemilik tambang pasir yang telah mengizinkan penulis untuk melakukan penelitian dalam menyelesaikan skripsi ini.

(12)

xi

Allah SWT berikan, yaitu Wulan Wahyu Ningsih dan Daffa Baihaqi yang selalu memberikan suntikan semangat.

8. Sahabat-sahabat penulis yang selalu mendukung secara moril dan memotivasi penulis untuk segera menyelesaikan skripsi ini, yaitu Eka Susiyanti S. Ked. dan Ratna Sari, A.Md.Ak.

9. Sahabat seperjuangan penulis yang selalu memberi semangat, motivasi dan dukungan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini, yaitu Firda Nur Fildzah, Millah Zumrotul Akmali, Visca Melyana, Vicca Sagita, Rizka Aulia Puspita dan Diaz Ajeng Khairunnisa.

10. Teman-teman seperjuangan di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, khususnya mahasiswa/i Perbandingan Mazhab Angkatan 2015 yang telah membantu dan memberikan motivasi dalam skripsi ini. Terima kasih atas semua kenangan yang tidak pernah terlupakan, semoga silaturahim kita dapat tetap terjalin sampai kapanpun.

Akhirnya kepada semua pihak yang telah membantu selesainya skripsi ini, penulis ucapkan terima kasih sebesar-besarnya. Semoga Allah SWT mencatatnya sebagai amal dan membalasnya dengan yang lebih baik. Selain itu, penulis sadar bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, besar harapan penulis adanya saran untuk menunjang kesempurnaan atas skripsi ini di waktu mendatang. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi semua kalangan khususnya bagi para pembaca. Aamiin ya Robbal’alamin.

Jakarta, 23 Oktober 2019

(13)

xii DAFTAR ISI

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

LEMBAR PERNYATAAN ... iii

ABSTRAK ... iv

PEDOMAN TRANSLITERASI ... v

KATA PENGANTAR ... xi

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ...xiv

DAFTAR LAMPIRAN ...xv

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ...1

B. Rumusan Masalah ...7

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ...7

D. Kajian Pustaka Terdahulu ...8

E. Metode Penelitian ...9

F. Sistematika Penelitian ...11

BAB II KAJIAN TEORI TENTANG ZAKAT TAMBANG A. Pengertian dan Dasar Hukum ...13

B. Harta yang di Zakati ...18

C. Zakat Barang Tambang dan Barang Temuan ...18

D. Pengelolaan Zakat menurut Undang-Undang No. 38 Tahun 1999 ...22

(14)

xiii

BAB III IMPLEMENTASI PELAKSANAAN ZAKAT TAMBANG PASIR

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ...30 B. Geografi dan Demografi Desa Mulyosari ...31 C. Implementasi Zakat Tambang Pasir di Desa Mulyosari Kecamatan Pasir Sakti Kabupaten Lampung Timur ...35

BAB IV ANALISIS PELAKSANAAN ZAKAT TAMBANG PASIR

A. Analisis pelaksanaan zakat tambang pasir di Desa Mulyosari Kecamatan Pasir Sakti Kabupaten Lampung Timur ...40 B. Pandangan hukum Islam (fiqih) dan Undang-Undang No. 23 Tahun 2011 terhadap pelaksanaan zakat tambang pasir di Desa Mulyosari Kecamatan Pasir Sakti Kabupaten Lampung Timur ...45

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ...51 B. Saran ...52 DAFTAR PUSTAKA ...54 LAMPIRAN-LAMPIRAN A. HASIL WAWANCARA

(15)

xiv

DAFTAR TABEL

Tabel I data Kepala Desa Mulyosari

Tabel II Jumlah Penduduk Menurut Golongna Usia dan Jenis Kelamin

Tabel III Keadaan Penduduk Desa Mulyosari Menurut Mata Pencahariannya

Tabel IV Jumlah Penduduk Berdasarkan Pendidikan

(16)

xv

2. Surat Permohonan Wawancara Kepada Bapak Kepala Desa Mulyosari. 3. Hasil Wawancara

4. Undang-Undang No. 38 Tahun 1999 Tentang Pengelolaan Zakat 5. Undang-Undang No. 23 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Zakat

(17)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Harta berarti sesuatu barang yang dimiliki, dipunyai, oleh seorang, suatu badan, ataupun suatu perusahaan. Harta berperan besar dalam kehidupan manusia, semakin banyak harta seseorang semakin mudah ia memenuhi kebutuhan hidupnya.1 Dalam Islam, hak milik sebagai fungsi harta kekayaan terdapat ketentuan. Ketentuan tersebut antara lain, rizki adalah tiang kehidupan manusia yang disediakan oleh Allah SWT.2

Dalam al-Qur’an disebutkan bahwa pada harta yang dimiliki seseorang, didalamnya terdapat hak bagi orang lain. Hak yang utama berupa zakat, sedangkan Islam juga menganjurkan agar manusia bersedekah, berwaqaf, berinfaq, berqurban, serta beraqiqah. Perintah mengeluarkan zakat dalam al-Qur’an, seringkali menggunakan istilah shadaqah dan zakat, yang dalam pengertian sehari-hari juga disebut dengan infaq.3 Sedangkan dalam tatanan urusan negara, perintah mengeluarkan zakat terbukti dengan adanya Undang-Undang No. 38 tahun 1999 yang di sempurnakan dengan Undang-Undang No. 23 tahun 2011 tentang pengelolaan zakat. Harta disebut zakat, karena ia membersihkan orang yang mengeluarkannya dari dosa, membuat hartanya berkat dan bertambah banyak.4 Allah SWT berfirman dalam Q.s. Adz-Dzariyat (51): 19:

َ وَ

َي ِف

ََ ا

َيم

َ و

َِلا

َِهَيم

َ

َ ح

َ ق

ََِل

َ س

آَِئ

َِلَ

َ و

َيلا

َ م

َيح

َ ر

َيو

َِمَ

﴿

19

َ

Artinya: “dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian”.

1 Zakiah Daradjat, Zakat Pembersih Harta dan Jiwa (Jakarta: CV Ruhama, 1994), h. 34. 2 Sjechul Hadi Permono, Sumber Sumber Penggalian Zakat (Jakarta: Pustaka Firdaus,

1994), h. 1.

3 Djamal Doa, Pengelolaan Zakat Oleh Negara Untuk Memerangi Kemiskinan (Jakarta:

Nuansa Madani Publisher, 2004), h. 101.

(18)

Islam adalah agama yang mengajarkan kepada umatnya berbagai nilai-nilai kebaikan universal. Nilai-nilai-nilai kebaikan itu dapat kita jumpai dalam 5 (lima) ajaran pokok Islam yang disebut dengan rukun Islam, yaitu bersyahadat tauhid dan syahadat rasul, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah Mekah. Di antara rukun Islam tersebut adalah menunaikan zakat. Zakat adalah salah satu ibadah yang syarat dengan nilai-nilai sosial dan spiritual.5 Menurut hukum Islam, semua yang dimiliki (harta kekayaan) bila sudah mencapai nisab maka harus dikeluarkan zakatnya.

Zakat merupakan satu nama yang diberikan untuk harta yang dikeluarkan oleh seorang manusia sebagai hak Allah SWT. Dinamakan zakat karena di dalamnya terdapat harapan akan keberkahan, kesucian jiwa, dan berkembang di dalam kebaikan.6

Allah SWT berfirman dalam Q.s. At-Taubah (9): 103:

َ خ

َيذ

ََِم

َين

ََ ا

َيم

َ و

َِلا

َِهَيم

َ

َ ص

َ د

َ قَ ة

ََ ت

َ ط

َ ه

َ ر

َ ه

َيم

ََ و

َ تَ ز

َ كَيي

َِهَيم

ََِبَ ه

َ وَا

َ ص

َ ل

ََ ع

َ لَيي

َِهَيم

َِاَ،

َ ن

َ

َ ص

َ ل

َ ت

َ ك

َ

َ س

َ ك

َ ن

َ

َ لَ ه

َيم

َ وَ،

َ

َ للا

ََ س

َِمَيي

َ عَ

َ ع

َِلَيي

َ مَ

﴿

103

َ

Artinya:“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Zakat adalah kewajiban bagi umat Islam yang telah ditetapkan dalam al Qur’an, Sunnah Nabi, dan ijma’ para ulama.7 Zakat merupakan ibadah maaliyyah ijtima’iyyah yang memiliki posisi sangat penting, strategis, dan

5 Abdul Karim, “Dimensi Sosial dan Spiritual Ibadah Zakat”, Jurnal Zakat dan Wakaf

Vol. 2, No. 1, (Juni 2015), h. 1-2.

6 Syaikh as-Sayyid Sabiq, Panduan Zakat Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah (Bogor:

Pustaka Ibnu Katsir, 2005), h. 1.

7 Abdul Al-Hamid Mahmud al-Ba’ly, Ekonomi Zakat (Jakarta: PT. Raja Grafindo

(19)

3

menentukan, baik dilihat dari sisi ajaran Islam maupun dari sisi pembangunan kesehjateraan umat. Sebagai suatu ibadah pokok, zakat termasuk dalam salah satu rukun Islam yang lima, sebagaimana diungkapkan dalam berbagai hadist Nabi, sehingga keberadaannya dianggap sebagai ma’luum minad-diin bidh-dharuurah atau diketahui secara otomatis adanya dan merupakan bagian mutlak dari keislaman seseorang.8

Zakat merupakan salah satu dari lima rukun Islam dan disebutkan secara beriringan dengan kata shalat dalam al-Qur’an. Allah SWT mewajibkan zakat sebagaimana dijelaskan di dalam al-Qur’an, Sunnah rasul-Nya, dan kesepakatan ulama kaum muslimin.9

Sebagaimana terdapat dalam firman Allah Q.s. Al-Baqarah (2): 43:

َ وَ ا

َِقَيي

َ مَ

َ صلا

َ ل

َ ةَ

َ وَ ا

َ تَيو

َ زلاَا

َ ك

َ ةَ

َ و

َيرا

َ ك

َ ع

َيوا

ََ م

َ عَ

َ رلا

َِكا

َِع

َ يي

َ

﴿

43

َ

Artinya:“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku'.”

Adapun dalil berupa ijma’ ialah kesepakatan semua (ulama) umat Islam di semua negara kesepakatan bahwa zakat adalah wajib. Bahkan para sahabat Nabi saw. sepakat untuk membunuh orang-orang yang enggan mengeluarkan zakat. Dengan demikian barang siapa yang mengingkari kefarduannya, berarti dia kafir atau jika sebelumnya dia merupakan seorang Muslim yang dibesarkan di daerah Muslim, menurut kalangan ulama berarti dia murtad.10

Secara umum harta manusia haram untuk diambil berdasarkan nash al-Qur’an dan as-Sunnah. Tidak ada yang membuatnya halal untuk diambil

8 Didin Hafidhuddin, Anda Bertanya tentang Zakat Infak & Sedekah Kami Menjawab

(Jakarta: Badan Amil Zakat Nasional, 2005), h. 11.

9 Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah (Jakarta: Cakrawala Publishing, 2012, Cet.3), h., 56 10 Wahbah Al-Zuhayly, Zakat Kajian Berbagai Mazhab (Bandung: PT Remaja

(20)

kecuali dengan adanya keridhaan, kerelaan hati, atau adanya perintah syari’at seperti zakat, diyat, denda, syuf’ah dan sejenisnya.11

Allah SWT menegaskan bahwa ciri utama orang-orang yang bersifat mulia adalah suka berbuat baik. Amal kebaikan ini dapat dilihat dengan nyata pada ibadah mereka di waktu malam hari, membaca istiqfar di waktu tengah malam dengan menghambakan diri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Disamping itu, amal kebaikan mereka dapat dilihat pada pemberian zakat kepada fakir miskin karena didorong rasa belas kasihan dan cinta kasih kepada mereka.12

Allah SWT. berfirman Q.s. At-Taubah (9): 71:

َ و

َيلا

َ ؤ

َِمَ ن

َيو

َ ن

ََ و

َيلا

َ م

َيؤ

َِمَ ن

َِتا

ََ ب

َيع

َ ض

َ ه

َيمَ

َ اَيو

َ ِل

َ ءا

ََ ب

َيع

َ ِض

ََ يَ

ي

أَ م

َ ر

َيو

َ ن

ََِبَ

يلاَ م

َيع

َ ر

َيو

َ ِف

ََ و

َ يَين

َ ه

َيو

َ ن

ََ ع

َِنَ

َيلا

َ مَين

َ ك

َِرَ

َ وَ ي

َِقَيي

َ مَ

َ صلا

َ ل

َ ةَ

َ وَ ي

َيؤَ ت

َيو

َ ن

َ

َ زلا

َ ك

َ ة

ََ و

َ ي

َِط

َييَ ع

َيو

َ ن

َ

َ للا

ََ و

َ ر

َ س

َيو

َ

ل

َ اَ،

َِ لو

َ ك

ََ س

َي ي

َ ح

َ ه

َ مَ

َ للا

َِاَ،

َ ن

َ

َ للا

َ

َ ع

َِزَيي

َ زَ

َ ح

َِك

َييَ م

َ

﴿

71

ََ

Artinya:“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Menurut garis besarnya, zakat dibagi menjadi dua bagian: pertama, zakat harta yaitu zakat yang diwajibkan atas harta yang memenuhi syarat-syarat tertentu dan kedua, zakat jiwa zakat ini populer di masyarakat dengan

11 Syaikh Shiddiq Hasan Khaan, Fiqh Islam dari al-Kitab dan as-Sunnah (Jakarta: Griya

Ilmu, 2012), h. 6.

(21)

5

nama zakatul fitrah yaitu zakat yang diwajibkan kepada setiap muslim pada bulan Ramadhan.13

Zakat juga merupakan ibadah yang bersifat sosial yang dimana manfaatnya dirasakan oleh pelakunya dan dirasakan oleh orang lain pula seperti halnya menyantuni anak yatim. Zakat menjadi bukti nyata terhadap rasa kemanusiaan dan keadilan, persaudaraan dalam Islam, serta pengikat persaudaraan umat dan bangsa. Terlebih sebagai pengikat hubungan antara kaya dan miskin. Sehingga sangat ditekankan pelaksanaannya. Adapun zakat yang diwajibkan terhadap kelima jenis harta, yaitu nuqud (emas, perak, dan uang), barang tambang dan barang temuan, harta perdagangan, tanaman dan buah-buahan, dan binatang ternak.14

Khusus untuk zakat tambang terdapat perbedaan pendapat dikalangan mazhab. Namun pada prinsipnya, seluruh ulama tanpa terkecuali menegaskan bahwa hasil tambang wajib dizakati, berdasarkan dalil-dalil umum yang mewajibkan zakat terhadap sesuatu yang dikeluarkan dari perut bumi atau hasil bumi.15

Firman Allah SWT Q.s. Al-Baqarah (2): 267:

َ يَ

ااَ ي

َ ه

َِ

لّاَا

َيي

َ ن

ََ ا

َ مَ ن

َيو

َ اَا

َينَِف

َ ق

َيو

َِمَا

َين

ََ ط

َ يَ ب

َِت

ََ م

َ كَا

َ س

َيبَ ت

َيمَ

َ و

َِم

َ م

َ اَا

َيخ

َ ر

َيج

َ ن

َ لَا

َ ك

َيمَ

َِم

َ ن

َ

َ

ي

لا

َير

َ ِض

َ،

َ و

َ

ل

َ تَ

َ يَ م

َ م

َيو

َ

ي

لاَا

َِبَيي

َ ث

ََِم

َينَ ه

ََ ت

َينَِف

َ ق

َيو

َ ن

ََ و

َ ل

َيس

َ تَيم

ََِبَ

اَِخ

َِذَيي

َِهَ

َِا

َ

ل

َ اَ

َين

ََ ت

َيغ

َِم

َ ض

َيو

َِفَا

َييَِه

َ وَ،

َيعا

َ لَ م

َيو

َ ن

ََ ا

َ ن

َ

َ للا

ََ غ

َ ِن

َ

َِ ح

َيي

َ دَ

﴿

267

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. dan janganlah kamu memilih

13 Aimatul Khoiriyah, “Zakat Tambang Pasir (Studi Kasus di Desa Ngloram Kecamatan

Cepu Kabupaten Blora)” (Skripsi S-1 Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Walisongo, 2015), h. 4.

14 Wahbah al-Zuhayly, Zakat Kajian Berbagai Mazhab, h. 126.

15 Oni Sahroni dkk, Fikih Zakat Kontemporer (Depok: PT Raja Grafindo Persada, 2018),

(22)

yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, Padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”

Adapun menurut Imam Ahmad, Imam Syafi’i dan Imam Malik menjelaskan kadar wajib yang dizakati adalah 2,5%, sama dengan emas dan perak (85 gram) yang ditegaskan dalam nash dan ijma’.16 Namun barang tambang ini tidak disyaratkan haul (cukup setahun). Akan tetapi manakala hasil tambang sampai nisab, maka saat itu pula wajib dikeluarkan zakatnya 1/40 (2,5%) dari jumlah ma’din yang sudah dibersihkan dari kotorannya.17

Desa Mulyosari adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Pasir Sakti Kabupaten Lampung Timur. Mayoritas masyarakatnya beragama Islam, dengan mata pencaharian sebagai petani dan buruh tani. Daerah dengan geografis tanah berpasir sehingga banyak dari masyarakat bekerja sebagai penambang pasir. Mereka mengambil pasir dari pekarangan-pekarangan yang kosong, dengan menyedot pasir dari dalam, sehingga banyak meninggalkan bekas berupa danau-danau galian pasir. Pasir-pasir yang dihasilkan rata-rata sudah mencapai kadar zakat yang wajib dikeluarkan. Akan tetapi, baru sedikit kesadaran untuk mengeluarkan zakat. Ada yang mengeluarkan zakat dengan cara menyalurkan ke masjid, mushola, anak yatim, dan kerabat yang kurang mampu tanpa mengetahui ketentuan zakatnya.

Oleh karenanya, penulis mencoba meneliti bagaimana pelaksanaan zakat tambang pasir di Desa Mulyosari Kecamatan Pasir Sakti dan bagaimana pandangan hukum Islam serta Undang-Undang RI No. 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat, serta bagaimana peran BAZNAS daerah dalam pengelolaan dan penyaluran zakat tambang pasir di desa tersebut.

16 Wahbah Az-Zuhaili, Fiqih Islam wa Adillatuhu 3 (Jakarta: Gema Insani, 2011), h., 211. 17 Wiwit Martaleli, “Pelaksanaan Zakat Tambang Emas Ditinjau Menurut Hukum Islam

(Studi Di Desa Koto Kombu Kecamatan Hulu Kuantan Kabupaten Kuantan Singingi).” (Skripsi S-1 Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim, 2011), h., 3.

(23)

7

B. Rumusan Masalah.

Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan di atas, maka rumusan masalah yang akan dikaji dalam penelitian yaitu:

1. Bagaimana pelaksanaan zakat tambang pasir menurut hukum Islam dan Undang-Undang No.23 Tahun 2011 di Desa Mulyosari Kecamatan Pasir Sakti Kabupaten Lampung Timur?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan penelitian

Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah:

a. Untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan zakat tambang pasir di Desa Mulyosari Kecamatan Pasir Sakti Kabupaten Lampung Timur.

b. Untuk mengetahui bagaimana pandangan hukum Islam terkait pelaksanaan zakat tambang pasir di Desa Mulyosari Kecamatan Pasir Sakti Kabupaten Lampung Timur.

c. Untuk mengetahui bagaimana pandangan Undang-Undang RI No.23 Tahun 2011 terkait pelaksanaan zakat tambang pasir di Desa Mulyosari Kecamatan Pasir Sakti Kabupaten Lampung Timur. 2. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah: a. Sebagai persyaratan untuk memperoleh gelar sarjana hukum (S.H) b. Untuk menambah pengetahuan dan wawasan penulis dalam

masalah zakat tambang pasir.

c. Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan acuan bagi para penambang untuk pelaksanaan zakat tambang pasir di Desa Mulyosari Kecamatan Pasir Sakti Kabupaten Lampung Timur. d. Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran

masyarakat untuk menunaikan zakat melalui Badan Amil Zakat yang ada di daerah mereka.

(24)

D. Kajian Pustaka Terdahulu.

Untuk menghindari penelitian dengan objek yang sama, maka diperlukan kajian terdahulu. sebelum melakukan penelitian, penulis melakukan kajian pustaka yang berupa judul-judul skripsi yang telah ada sebagai pembanding dari skripsi ini, antara lain:

1. Aimatul Khoiriyah, Tahun 2015 (Universitas Islam Negeri Walisongo). Dengan judul “Zakat Tambang Pasir (Studi Kasus di Desa Ngloram Kec. Cepu Kab. Blora)”. Skripsi ini menjelaskan pembahasan mengenai bagaimana tinjauan hukum Islam terhadap pelaksanaan zakat tambang pasir yang mengambil pasir dari Bengawan Solo. Perbedaan skripsi ini dengan penulis adalah penulis membahas tentang bagaimana Pelaksanaan Zakat Tambang Pasir Perspektif Hukum Islam dan Undang-Undang No. 23 Tahun 2011 (Studi Kasus Desa Mulyosari Kec. Pasir Sakti Kab. Lampung Timur).

2. Bayu Setyadipraja, Tahun 2017 (Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Darussalam). Dengan judul “Pembatasan Zakat Tambang pada Emas dan Perak (Suatu Analisis Terhadap Fatwa MPU Aceh Nomor 9 tahun 2013)”. Skripsi ini menjelaskan pembahasan mengenai pembatasan zakat tambang hanya pada emas dan perak berdasarkan fatwa Majelis Permusyawaratan Umum nomor 9 tahun 2013. Perbedaan skripsi dengan penulis adalah penulis membahas tentang bagaimana Pelaksanaan Zakat Tambang Pasir Perspektif Hukum Islam dan Undang-Undang No. 23 Tahun 2011 (Studi Kasus Desa Mulyosari Kec. Pasir Sakti Kab. Lampung Timur).

3. Wiwit Martaleli, Tahun 2011 (Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau). Dengan judul “Pelaksanaan Zakat Tambang Emas Ditinjau Menurut Hukum Islam (Studi di Desa Kombu Kec. Hulu Kuantan Kab. Kuantan Singingi)”. Skripsi ini menjelaskan pembahasan mengenai bagaimana pelaksanaan zakat tambang emas di daerah tersebut karena masih minimnya kesadaran untuk mengeluarkan zakat. Perbedaan skripsi dengan penulis adalah penulis membahas tentang

(25)

9

bagaimana Pelaksanaan Zakat Tambang Pasir Perspektif Hukum Islam dan Undang-Undang No. 23 Tahun 2011 (Studi Kasus Desa Mulyosari Kec. Pasir Sakti Kab. Lampung Timur).

E. Metode Penelitian.

Metodologi yang digunakan oleh penulis untuk sampai pada rumusan yang tepat dalam penelitian ini adalah:

1. Jenis Penelitian.

Penelitian ini adalah bersifat yuridis empiris yaitu penelitian lapangan (field reaserch), yaitu di Desa Mulyosari Kecamatan Pasir Sakti Kabupaten Lampung Timur.

2. Sumber Data.

a. Data Primer yaitu data yang diambil langsung di lapangan dari responden melalui wawancara dan data-data kependudukan terkait pekerjaan, agama serta tingkat pendidikan.

b. Data Sekunder

1) Bahan buku primer terdiri dari al-Qur’an, Hadist, Undang-Undang No. 38 tahun 1999 dan Undang-Undang-Undang-Undang No. 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat.

2) Bahan buku tersier yaitu data yang diambil dari beberapa buku yang berhubungan langsung dengan masalah yang diteliti.

3. Teknik Pengumpulan Data.

Pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan, menggunakan beberapa metode, yaitu:

(26)

a. Observasi.

Adalah metode pengumpulan data dimana peneliti atau kolaboratornya mencatat informasi sebagaimana yang mereka saksikan selama penelitian.18

b. Interview.

Interview dikenal dengan istilah wawancara, yang berarti suatu proses tanya jawab lisan antara dua orang atau lebih berhadapan secara fisik.19

Dapat pula dikatakan bahwa wawancara merupakan percakapan tatap muka antara pewawancara dengan sumber informasi, dimana pewawancara bertanya langsung tentang sesuatu objek yang diteliti dan telah dirancang sebelumnya.20 Wawancara dilakukan kepada Pemerintah setempat dalam hal ini Kepala Desa dan BAZNAS yang berada di daerah tersebut serta para penambang pasir di Desa Mulyosari Kecamatan Pasir Sakti Kabupaten Lampung Timur.

c. Dokumentasi.

Menurut Irawan, dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data yang ditujukan kepada subyek penelitian.21 Dokumen itu dapat berupa teks tertulis, artefak, gambar, maupun foto.22 Disini peneliti mencatat data-data yang ada di Kantor Desa. 4. Teknik Analisis Data.

Analisis data merupakan suatu proses sistematis pencarian dan pengaturan transkip wawancara, observasi, catatan lapangan, dokumen, foto, dan material lainnya untuk meningkatkan pemahaman peneliti

18 W. Gulo, Metodologi Penelitian, (Jakarta: PT. Grasindo, 2010), h. 116.

19 Sukandarrumidi, Metodologi Penelitian: Petunjuk Praktis Untuk Peneliti Pemula

(Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2004), h. 88.

20 Muri Yusuf, Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif & Penelitian Gabungan

(Jakarta: Prenadamedia Group, 2014), h. 372.

21 Sukandarrumidi, Metodologi Penelitian: Petunjuk Praktis Untuk Peneliti Pemula, h.

(27)

11

tentang data yang telah dikumpulkan, sehingga memungkinkan temuan penelitian dapat disajikan dan diinformasikan kepada orang lain.23

5. Teknik Penulisan Skripsi.

Teknik penulisan dalam penelitian ini menggunakan buku pedoman penulisan skripsi Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta terbitan tahun 2017.

F. Sistematika Penulisan.

Agar memperoleh gambaran yang runtun serta logis seperti yang dikehendaki dalam dunia ilmu pengetahuan, maka sistematika penulisan ini dibagi menjadi beberapa sub, yaitu:

Bab pertama, berisi tentang Latar Belakang, Rumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian, Kajian Pustaka Terdahulu, Metode Penelitian, dan Sistematika Penelitian.

Bab kedua, berisi tentang Pengertian dan Dasar Hukum Zakat, Harta yang Wajib dizakati, Zakat Barang Tambang dan Barang Temuan, Pengelolaan Zakat Menurut Undang-Undang No. 38 tahun 1999, Pengelolaan Zakat Menurut Undang-Undang No. 23 Tahun 2011, Orang yang berhak menerima Zakat, serta Tujuan dan Hikmah Zakat.

Bab ketiga, gambaran umum lokasi penelitian, geografi dan demografi tentang Desa Mulyosari, dan implementasi zakat tambang pasir di Desa Mulyosari Kecamatan Pasir Sakti Kabupaten Lampung Timur.

Bab keempat, menjelaskan analisis tentang bagaimana pelaksanaan zakat tambang pasir yang ada di Desa Mulyosari serta pandangan hukum Islam dan Undang-Undang No. 23 Tahun 2011 terhadap pelaksanan zakat tambang pasir di Desa Mulyosari Kecamatan Pasir Sakti Kabupaten Lampung Timur.

Bab kelima, yang merupkan bab penutup, yang diisi kesimpulan dan saran. Dari bab ini dikemukakan dari keseluruhan kajian yang merupakan

23Muri Yusuf, Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif & Penelitian Gabungan,h.,

(28)

jawaban dari permasalahan dan dikemukakan pula tentang saran-saran, penutup sebagai tindak lanjut dari rangkaian penutup.

(29)

13 BAB II

TINJAUAN UMUM TENTANG ZAKAT TAMBANG A. PENGERTIAN DAN DASAR HUKUM ZAKAT.

1. Pengertian Zakat.

Zakat menurut bahasa berarti kesuburan (nama’), kesucian (thaharah), keberkatan (barakah), dan berarti juga mensucikan (tazkiyah, tathhier).24 Sedangkan secara istilah, zakat adalah bagian dari harta dengan persyaratan tertentu yang Allah SWT mewajibkan kepada pemiliknya, untuk diserahkan kepada yang berhak menerimanya, dengan persyaratan tertentu pula. 25

Adapun pengertian zakat menurut para mazhab yaitu: Mazhab Hanafi mendefinisikan zakat dengan “Menjadikaan sebagian harta yang khusus dari harta yang khusus sebagai milik orang yang khusus, yang ditentukan oleh syariat karena Allah SWT”. Mazhab Maliki mendefinisikannya dengan, “Mengeluarkan sebagian yang khusus dari harta yang khusus pula yang telah mencapai nishab (batas kuantitas yang mewajibkan zakat) kepada orang-orang yang berhak menerimanya (mustahiqq). Dengan catatan, kepemilikan itu penuh dan mencapai haul (setahun), bukan barang tambang dan bukan pertanian”.

Mazhab Syafi’i mendefinisikan zakat dengan sebuah ungkapan untuk keluarnya harta atau tubuh sesuai dengan cara khusus. Sedangkan mazhab Hambali, zakat ialah hak yang wajib (dikeluarkan)dari harta yang khusus untuk kelompok yang khusus pula.26

24 Teungku Muhammad Hasbi ash Shiddieqy, Pedoman Zakat (Semarang: PT. Pustaka

Rizki Putra, 1999), h. 3.

25 Didin Hafidhuddin, Anda Bertanya tentang Zakat Infak dan Sedekah Kami Menjawab

(Jakarta: Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), 2005), h. 17.

26 Wahbah Al- Zuhayly, Zakat Kajian Berbagai Mazhab (Bandung: PT Remaja

(30)

Kelompok tertentu yang dimaksudkan adalah delapan golongan yang disebut oleh firman Allah SWT Q.s. At-Taubah (9): 60:

َِاَ ن

َ م

َ صلاَا

َ د

َ ق

َ ت

ََِلَ

يلَ فَ ق

َ ر

َِءا

ََ و

َيلا

َ م

َ س

َِك

َِ يي

ََ و

َ

ي

لا

َ ع

َِما

َِل

َ يي

ََ ع

َ لَيي

َ ه

َ وَا

َيلا

َ م

َ ؤَ ل

َ ف

َِةَ

َ قَ ل

َيوَِب

َِهَيم

ََ و

َِف

َ رلاَ

َ ق

َِبا

َ

َ و

َ

ي

لا

َ غ

َِرا

َِم

َ يي

ََ و

َ ِف

َ سَ

َِبَيي

َِلَ

َِللا

ََ و

َيبا

َِنَ

َ سلا

َِبَيي

َِل

َ فَ،

َِرَيي

َ ض

َ ةَ

َ م

َ ن

َ

َِللا

َ وَ،

َ للا

ََ ع

َِلَيي

َ مَ

َ ح

َِك

َييَ م

ََ

﴿

60

َ

Artinya: “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin....”27

Dalam peraturan perundang-undangan Indonesia, dikemukakan: “Zakat adalah harta yang wajib disisihkan oleh seorang muslim atau badan yang dimiliki oleh orang muslim sesuai dengan ketentuan agama untuk diberikan kepada yang berkah menerimanya.”28 Pengertian zakat ini kemudian disempurnakan dengan: “Zakat adalah harta yang wajib dikeluarkan oleh seorang muslim atau badan usaha untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya sesuai dengan syariat Islam.29

Disamping itu zakat dapat meningkatkan derajat ketaqwaan seseorang terhadap Allah SWT30, seperti dijelaskan dalam Q.s. At- Taubah (9): 103:

َ،يم ه لَ ن ك سَ ك ت ل صَ نِاَ،يمِهيي ل عَ ل ص وَا هِبَيمِهيي ك ز ت وَيم ه ر ه ط تَ ة ق د صَيمِهِلا ويم اَينِمَيذ خ

َ مييِل عَ عييِم سَ للاَ و

﴿

103

َ

Artinya: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka...”

27 Orang fakir, orang miskin, pengurus zakat, muallaf, orang berhutang, pada jalan Allah

(sabilillah), orang yang sedang dalam perjalanan (musafir).

28 UU RI No. 39 tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat, Pasal 1 angka 2. 29 UU RI No. 23 tahun 2011, tentang Pengelolaan Zakat, Pasal 1 angka 2.

30 Zurinal Z, Aminuddin, Fiqih Ibadah (Jakarta: Lembaga Penelitian Universitas Islam

(31)

15

Maksud dari ayat tersebut adalah zakat dapat membersihkan diri dari kekikiran dan menyuburkan sifat-sifat kebaikan dalam hati serta memperkrmbangkan harta benda.

Ketentuan syariah mewajibkan orang-orang yang tergolong kaya menunaikan zakat sebagai rukun Islam dan ibadah yang berkaitan dengan harta dan sesama manusia termasuk negara.31 Sebab dalam al-Qur’an menjelaskan tentang orang-orang fakir, bahwa mereka merupakan suatu kelompok yang mempunyai hak atas harta benda orang-orang kaya. Seperti dijelaskan dalam Q.s. Al-Dzarriyat (51): 19:

َ وَ

َي ِف

ََ ا

َيم

َ و

َِلا

َِهَيم

َ

َ ح

َ ق

ََِل

َ س

آَِئ

َِلَ

َ و

َيلا

َ م

َيح

َ ر

َيو

َِمَ

﴿

19

Artinya: “dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian (orang miskin yang tidak meminta-minta).”

2. Dasar Hukum Zakat.

Zakat merupakan salah satu rukun Islam dan merupakan ibadah wajib seperti ibadah yang lainnya yaitu shalat, puasa, dan haji. Zakat sendiri disebut secara beriringan dengan shalat dalam 82 ayat pada al-Qur’an. Allah SWT telah menetapkan hukum zakat yaitu wajib, baik dengan al-Qur’an, Sunnah, maupun ijma’ dari umatnya. Hukum zakat yaitu wajib ‘aini yaitu kewajiban yang tidak dapat dibebankan kepada orang lain.

Dalam beberapa ayat al-Qur’an yang memerintahkan untuk menunaikan zakat, Allah SWT berfirman Q.s. Al-Taubah (9): 60:

31 Sumuran Harahap, Kajian Zakat Berdasarkan Al-Qur’an (Jakarta: Gaung Persada Press

(32)

َِاَ ن

َ م

َ صلاَا

َ د

َ ق

َ ت

ََِلَ

يلَ فَ ق

َ ر

َِءا

ََ و

َيلا

َ م

َ س

َِك

َِ يي

ََ و

َ

ي

لا

َ ع

َِما

َِل

َ يي

ََ ع

َ لَيي

َ ه

َ وَا

َيلا

َ م

َ ؤَ ل

َ ف

َِةَ

َ قَ ل

َيوَِب

َِهَيم

ََ و

َِف

َ رلاَ

َ ق

َِبا

َ

َ و

َ

ي

لا

َ غ

َِرا

َِم

َ يي

ََ و

َ ِف

َ سَ

َِبَيي

َِلَ

َِللا

ََ و

َيبا

َِنَ

َ سلا

َِبَيي

َِل

َ فَ،

َِرَيي

َ ض

َ ةَ

َ م

َ ن

َ

َِللا

َ وَ،

َ للا

ََ ع

َِلَيي

َ مَ

َ ح

َِك

َييَ م

ََ

﴿

60

َ

Artinya: “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, Para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” Q.s. Al-Baqarah (2): 43:

َ وَ ا

َِقَيي

َ مَ

َ صلا

َ ل

َ ةَ

َ وَ ا

َ تَيو

َ زلاَا

َ ك

َ ةَ

َ و

َيرا

َ ك

َ ع

َيوا

ََ م

َ عَ

َ رلا

َِكا

َِع

َ يي

َ

﴿

43

َ

Artinya: “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku'.”

Q.s. Al-Taubah (9): 103:

َ،يم ه لَ ن ك سَ ك ت ل صَ نِاَ،يمِهيي ل عَ ل ص وَا هِبَيمِهيي ك ز ت وَيم ه ر ه ط تَ ة ق د صَيمِهِلا ويم اَينِمَيذ خ

َ مييِل عَ عييِم سَ للاَ و

﴿

103

َ

Artinya: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”

(33)

17 Q.s. Al-Baqarah (2): 267:

َ يَ

ااَ ي

َ ه

َِ

لّاَا

َيي

َ ن

ََ ا

َ مَ ن

َيو

َ اَا

َينَِف

َ ق

َيو

َِمَا

َين

ََ ط

َ يَ ب

َِت

ََ م

َ كَا

َ س

َيبَ ت

َيمَ

َ و

َِم

َ م

َ اَا

َيخ

َ ر

َيج

َ ن

َ لَا

َ ك

َيمَ

َِم

َ ن

َ

َ

ي

لا

َير

َ ِض

َ،

َ و

َ

ل

َ تَ

َ يَ م

َ م

َيو

َ

ي

لاَا

َِبَيي

َ ث

ََِم

َينَ ه

ََ ت

َينَِف

َ ق

َيو

َ ن

ََ و

َ ل

َيس

َ تَيم

ََِبَ

اَِخ

َِذَيي

َِهَ

َِا

َ

ل

َ اَ

َين

ََ ت

َيغ

َِم

َ ض

َيو

َِفَا

َييَِه

َ وَ،

َيعا

َ لَ م

َيو

َ ن

ََ ا

َ ن

َ

َ للا

ََ غ

َ ِن

َ

َِ ح

َيي

َ دَ

﴿

267

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, Padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”

Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa zakat adalah wajib. Dalam suatu hadits dari Abdullah bin Umar:

َ ب

َ ِن

َ

َِ

ي

لا

َيس

َ ل

َ مَ

َ

عَ

َي خَ

َ ِس

َ

َ ش

َ ه

َ دا

َ ةََ

أ

َين

َ

َ

ل

َِإَ

ل

ََِإ

َ

ل

َ

َ للا

ََ و

َ

أ

َ ن

َ

َ م

َ م

َ دا

ََ ر

َ س

َيو

َ لَ

َِللا

ََ و

َِإَ

قَ ما

َ

َ صلا

َ ل

َ ةَ

َ وَِإَ

ييَ ت

َ ءا

َ

َ زلا

َ ك

َ ةَ

َ و

َِح

َ جَ

َ

ي

لا

َيي

َِت

ََ و

َ ص

َيو

َ مَ

َ ر

َ م

َ ض

َ نا

32

Artinya: “Islam dibangun atas lima perkara, bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji dan puasa ramadhan.” (H.R. Muslim).

Dari hadits diatas, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa rukun Islam dibangun dengan lima dasar, yang dimulai dengan syahadat, kedua shalat, ketiga zakat, keempat puasa dan kelima haji. Yang mana zakat merupakan dasar yang ketiga dalam Islam, yang apabila tanpa dasar tersebut maka bangunan Islam tidak akan berdiri dengan kokoh.

32 Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusyairi, Al-Jami’ Al-Shahih Al-Musamma

(34)

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar kewajiban zakat dapat dibebankan pada harta kekayaan yang dipunyai seorang muslim yaitu, kepemilikan yang pasti/milik penuh (almilkuttam), berkembang (an-namaa), melebihi kebutuhan pokok, bebas dari hutang, mencapai nishab, mencapai haul.33 Para ulama sepakat bahwa yang wajib membayar zakat adalah orang Islam yang merdeka (bukan budak), baligh, berakal sehat, dan mempunyai hak milik penuh atas harta benda yang telah mencapai satu nishab.34

B. HARTA YANG DIZAKATI.

Secara umum zakat terbagi menjadi dua macam yaitu, pertama zakat jiwa (nafs) yang berarti dalam zakat ini adalah zakat fitri, kedua zakat harta (maal) yang terdiri dari zakat emas dan perak, pertanian, peternakan, hasil tambang dan barang temuan, serta barang perniagaan. Dari kedua jenis zakat tersebut yang wajib dizakati adalah zakat yang berkaitan dengan harta.

Dalam Undang Undang No. 38 tahun 1999 tentang pengelolaan zakat, pasal 11 angka 2, menyebutkan bahwa harta yang dikenakan zakat yaitu:

1. Emas, perak dan uang

2. Perdagangan dan perusahaan

3. Hasil pertanian, hasil perkebunan, dan hasil perikanan 4. Hasil pertambangan

5. Hasil perternakan

6. Hasil pendapatan dan jasa 7. Rikaz 35

C. Zakat Barang Tambang dan Barang Temuan.

Ma’din menurut bahasa ialah tempat asal tiap-tiap sesuatu, tempat pertambangan emas, perak, besi, intan, belerang, timah, minyak, hidrogen, batu bara, kapur, dan sebagainya. Menurut istilah syara’ adalah benda-benda yang

33 Elsi Kartika Sari, Pengantar Hukum Zakat Dan Wakaf (Jakarta: PT Grasindo, 2006),

h., 15.

34 Ibn. Rusyd, Bidayatul Mujtahid, hal 509. 35 UU RI No. 38 tahun 1999, Pasal 11 Angka 2.

(35)

19

telah diciptakan Allah SWT didalam bumi seperti emas, perak, tembaga, timah, intan, minyak, belerang, batu bara, kapur, dan sebagainya.36

Menurut mayoritas ulama hasil tambang adalah harta yang diciptakan Allah SWT yang ada dalam bumi, baik berupa emas, perak, atau timah, kuningan atau belerang dan lain-lain sebagainya. Sedangkan menurut ulama dari mazhab Syafi’i harta tambang itu hanya emas dan perak saja.37

Dalam buku Zakat Kajian Berbagai Mazhab Wahbah Al-Zuhayly mengutip beberapa pendapat ulama mengenai zakat hasil tambang adalah sebagai berikut:

a. Mazhab Hanafi.

Barang tambang, rikaz, dan harta terpendam adalah satu, yakni setiap harta yang terpendam dibawah bumi. Hanya saja, barang tambang adalah harta yang diciptakan Allah SWT ketika bumi ini diciptakan sedangkan rikaz dan harta simpanan adalah harta yang dipendam oleh orang-orang kafir.

Barang tambang terdiri atas tiga jenis menurut mazhab Hanafi, yaitu:

1. Barang padat yang mencair dan bisa dicetak dengan cara memanaskannya dengan api, seperti emas dan perak, besi, tembaga, timah, dan air raksa. Inilah harta yang wajib dizakati sebanyak seperlima, walaupun belum mencapai nishab.

2. Barang tambang padat yang tidak mencair dan tidak bisa dicetak dengan cara memanaskannyadengan api. Seperti kapur, batu celak, dan semua jenis bebatuan lainnya seperti yaqut dan garam.

3. Barang tambang cair, tidak padat. Misalkan, aspal dan minyak tanah.

36 Elsi Kartika Sari, Pengantar Hukum Zakat dan Wakaf, h. 33. 37 Zurinal, Aminuddin, Fiqih Ibadah, h. 175.

(36)

Menurut mazhab Hanafi, zakat yang wajib dikeluarkan hanya pada macam pertama, baik barang tersebut ditemukan pada tanah yang dibebaskan secara paksa (diperangi) maupun tanah tersebut didapatkan karena penduduknya menyerah (belum diperangi).

b. Mazhab Maliki.

Barang tambang tidak sama dengan rikaz. Barang tambang adalah harta yang diciptakan oleh Allah SWT di dalam tanah, baik berupa emas, perak, maupun yang lainnya. Untuk mengeluarkannya diperlukan pekerjaan yang berat dan pembersihan. Sedangkan rikaz atau harta terpendam adalah harta pendaman jahiliyah baik berupa emas, perak maupun yang lainnya. Barang tambang yang wajib dizakati hanya emas dan perak. Barang yang lainnya tidak wajib dizakati, misalnya tembaga, timah, air raksa dan yang lainnya kecuali jika barang-barang tambang tersebut diperdagangkan.38

c. Mazhab Syafi’i.

Menurut mazhab Syafi’i barang tambang adalah harta yang dikeluarkan dari suatu tempat yang diciptakan Allah SWT dan hanya khusus berkaitan dengan emas dan perak. Barang tambang lainnya tidak wajib dikeluarkan zakatnya.39

d. Mazhab Hanbali

Mazhab Hanbali berpendapat barang tambbang adalah harta yang dikeluarkan dari dalam bumi yang diciptakan oleh Allah. Kepemilikan barang-barang tambang yang berbentuk padat sama dengan kepemilikan emas, perak dan tembaga. Harta-harta tersebut dimiliki sesuai dengan kedudukan tanah yang mengandungnya karena

38 Wahbah Al-Zuhayly, Zakat Kajian Berbagai Mazhab, h. 148-154.

39 Wahbah Az-Zuhaili, Fiqh Islam Wa Adillatuhu, Jilid 3 (Jakarta: Gema Insani, 2011), h.

(37)

21

barang tambang merupakan salah satu bagian yang terdapat dalam tanah.40

Islam selalu menetapkan kewajiban kepada umatnya yang memiliki standar umum, begitu juga dengan kewajiban berzakat atas harta hasil tambang yang harus dipenuhi. Apabila standar (syarat) umum tersebut tidak terpenuhi, maka harta tersebut belum menjadi objek yang wajib dizakati. Syarat-syarat umum barang hasil tambang menjadi objek zakat adalah:

1. Harta tersebut harus dimiliki dengan pemilikan yang sempurna oleh muzakki (orang yang mengeluarkan zakat).

2. Harta tersebut harus berkembang (baik berkembang secara riil ataupun berkembang secara hukum).

3. Harta yang tunduk pada zakat tersebut harus mencapai jumlah tertentu yang dinamakan nishab.

4. Tidak ditentukan haul artinya zakat barang tambang harus dikeluarkan pada saat memetiknya atau memanennya jika mencapai nishab.41

Para ulama berbeda pendapat mengenai berapa kadar wajib zakat untuk barang tambang. Dalam hal ini sebagian berpendapat 1/5 bagian atau 20% seperti zakat rikaz, sebagian berpendapat 1/40 bagian atau 2,5% seperti zakat emas.

Kalangan yang berpendapat bahwa zakat ma’din ini besarnya adalah 1/5 atau 20 %, sebagaimana zakat rikaz diantaranya adalah mazhab al-Hanafiyah. Mereka juga tidak mensyaratkan haul untuk zakat ma’din. Maka zakatnya langsung dikeluarkan begitu seseorang mendapatkannya, tanpa harus menunggu masa kepemilikan selama satu tahun, seperti layaknya zakat emas dan perdagangan. Pendapat kedua untuk besar zakat ma’din 1/40 bagian atau 2,5% adalah pendapat dari sebagian kalangan ulama mazhab Syafi’i.

40 Wahbah Al-Zuhayly, Zakat Kajian Berbagai Mazhab, h. 158.

41 Aimatul Khoiriyah, “Zakat Tambang Pasir (Studi Kasus di Desa Ngloram Kecamatan

Cepu Kabupaten Blora)” (Skripsi S-1 Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Walisongo, 2015), h. 35-36.

(38)

Pendapat ketiga adalah pendapat yang menyebutkan bahwa besar prosentase zakat ma’din kadang-kadang 20% dan kadang-kadang 2,5%. Semua tergantung dari bagaimana cara mendapatkannya. Kalau untuk mendapatkannya harus melalui proses yang menyulitkan atau memberatkan (ta’ab), maka kadar zakatnya cukup 2,5% atau 1/40 bagian saja. Sebaliknya, bila cara mendapatkan manfaatnya tidak menyulitkan dan juga tidak memberatkan, kadar zakatnya adalah 20% atau 1/5 bagian.42

Rikaz adalah harta (emas atau perak) yang ditanam oleh kaum Jahiliah (sebelum Islam).43 Bagi yang menemukan harta rikaz itu berupa emas dan perak harus mengeluarkan zakatnya sebesar 1/5 bagian atau 20%. Disyaratkan bahwa harta rikaz merupakan harta terpendam sejak jaman Jahiliyah, harta tersebut ditemukan oleh orang-orang yang wajib zakat, baik ditemukan dengan menggali, pengairan karena tanah longsor atau sebab lainnya.44

D. Pengelolaan Zakat Menurut Undang-Undang No 38 Tahun 1999.

Pengelolaan zakat merupakan suatu kegiatan perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan terhadap pengumpulan dan pendistribusian serta pendayagunaan zakat.45 Setiap warga negara Indonesia yang beragama Islam dan mampu (harta yang dimiliki telah mencukupi batas nishab) berkewajiban untuk menunaikan zakat. Pengelolaan zakat haruslah berasaskan iman dan takwa, keterbukaan serta adanya kepastian hukum yang sesuai dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Menurut pasal 6 UU No. 38 Tahun 1999 organisasi pengelola zakat adalah:

42 Ahmad Sarwat, Seri Fiqih Kehidupan (4) Zakat (Jakarta: DU Publishing, 2011), h.

197-198.

43 Sulaiman Rasjid, Fiqh Islam cet.39 (Bandung: Sinar Baru Algesindo,2006), h. 206. 44 Abdul Aziz Muhammad Azzam dan Abdul Wahhab Sayyed Hawwas, Al-wasithu fi

al-Fiqh al-‘ibadat,Terjemah Kamran As’at Irsyady dkk .al-Fiqh Ibadah, cet 3, Jakarta: Amzah:

2013. H. 363.

(39)

23

1. Pengelolaan zakat dilakukan oleh badan amil zakat yang dibentuk oleh pemerintah.

2. Pembentukan badan amil zakat:

a. Nasional oleh Presiden atas usul Menteri;

b. Daerah propinsi oleh gubernur atas usul kepala kantor wilayah departemen agama propinsi;

c. Daerah kabupaten aatau daerah kota oleh bupati atau wali kota atas usul kepala kantor departemen agama kabupaten atau kota;

d. Kecamatan oleh camatatas usul kepala kantor urusan agama kecamatan.

3. Badan amil zakat disemua tingkatan memiliki hubungan kerja yang bersifat koordinatif, konsultif dan informatif.

4. Pengurus badan amil zakat terdiri atas unsur masyarakat dan pemerintah yang memenuhi persyaratan tertentu.

5. Organisasi badan amil zakat terdiri atas unsur pertimbangan, unsur pengawas dan unsur pelaksana.

Pengumpulan zakat tercantum dalam pasal 11, 12, 13, 14, 15 Undang-Undang No. 38 Tahun 1999.

Pasal 11

(1) Zakat terdiri atas zakat mal dan zakat fitrah (2) Harta yang dikenai zakat adalah :

a. emas, perak dan uang;

b. perdagangan dan perusahaan;

c. hasil pertanian, hasil perkebunan, dan hasil perikanan; d. hasil pertambangah;

e. hasil peternakan;

f. hasil pendapatan dan jasa; g. rikaz.

(40)

(3) Penghitungan zakat mal menurut nishab, kadar, dan waktunya ditetapkan berdasarkan hukum agama.

Pasal 12

(1) Pengumpulan zakat dilakukan oleh badan amil zakat dengan cara menerima atau mengambil dari muzakki atas dasar pemberitahuan muzakki;

(2) Badan amil zakat dapat bekerja sama dengan bank dalam pengumpulan zakat harta muzakki yang berada di bank atas permintaan muzakki.

E. Pengelolaan Zakat Menurut Undang-Undang No. 23 Tahun 2011.

Terbentuknya Undang-Undang No. 23 Tahun 2011 sejatinya untuk menata pengelolaan zakat yang lebih baik lagi. Penataan yang sebagaimana dimaksud tidak terlepas dari kepentingan guna menjadikan amil zakat yang lebih profesional, memiliki legalitas secara yuridis formal dan mengikuti sistem pertanggungjawaban kepada pemerintah dan masyarakat. Tugas dan tanggung jawab sebagai amil zakat tidak dapat dilepaskan dari prinsip syariah yang mengaitkan zakat dengan kewenangan pemerintah untuk mengangkat amil zakat.46

Dengan kata lain, pengelolaan zakat oleh pemerintah (negara) bukanlah tujuan, melainkan sarana. Tujuan utama pengelolaan zakat yaitu tersampaikannya zakat kepada mustahik secara tepat sasaran dan dengan kemanfaatan yang paling optimal, melindungi kemaslahatan dengan

46 Luthfi Hidayat, “Implementasi Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 Tentang

Pengelolaan Zakat Di Baznas Kabupaten Tangerang” (Skripsi S-1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2017), h. 48.

(41)

25

mendorong lahirnya kebijakan berorientasi syariah yang berfokuskan pada kemanfaatan dan menjauhkan dari kerusakan.47

BAZNAS merupakan lembaga yang dibentuk pemerintah dalam melaksanakan pengelolaan zakat secara nasional. Dalam melaksanakan tugasn dan fungsinya, BAZNAS dapat bekerjasama dengan pihak terkait sesuai dengan aturan yang berlaku. Dalam pemerataan tugas pengelolaan zakat, BAZNAS membentuk BAZNAS propinsi dan BAZNAS kabupaten/kota.

Allah SWT telah memerintahkan kepada umat muslim untuk menunaikan zakat dan diserahkan kepada yang berhak menerimanya. Selain mengandung hubungan secara vertikal yaitu manusia dan Tuhannya, zakat juga mengandung hubungan secara horizontal yaitu manusia dengan manusia. Dengan adanya zakat diharapkan dapat memperkecil jurang pemisah antara si miskin dan si kaya, mengembangkan solidaritas sosial, menghilangkan sikap matrealisme serta individualisme.

Dalam hal pengelolaan zakat yaitu pengumpulan, pendayagunaan, pengawasan, dan sanksi atas pelanggaran pengelolaan zakat, pemerintah telah mengeluarkan aturan pengelolaan zakat yang tercantum dalam Undang-Undang No. 23 tahun 2011 yang mana menyempurnakan Undang-Undang-Undang-Undang sebelumnya yaitu Undang-Undang No. 38 tahun 1999.

F. Orang yang Berhak Menerima Zakat.

Al-Qur’an menyatakan bahwa yang berhak menerima zakat terbagi menjadi delapan golongan. Hal tersebut dijelaskan di dalam Q.s. At-Taubah (9): 60:

47 Yusuf Wibisono, Mengelola Zakat Indonesia Diskursus Pengelolaan Zakat Nasional

dari Rezim Undang-Undang Nomor 38 tahun 1999 ke Rezim Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 (Jakarta: Prenadamedia Gruop, 2015), h. 145.

(42)

َِاَ ن

َ م

َ صلاَا

َ د

َ ق

َ ت

ََِلَ

يلَ فَ ق

َ ر

َِءا

ََ و

َيلا

َ م

َ س

َِك

َِ يي

ََ و

َ

ي

لا

َ ع

َِما

َِل

َ يي

ََ ع

َ لَيي

َ ه

َ وَا

َيلا

َ م

َ ؤَ ل

َ ف

َِةَ

َ قَ ل

َيوَِب

َِهَيم

ََ و

َِف

َ رلاَ

َ ق

َِبا

َ

َ و

َ

ي

لا

َ غ

َِرا

َِم

َ يي

ََ و

َ ِف

َ سَ

َِبَيي

َِلَ

َِللا

ََ و

َيبا

َِنَ

َ سلا

َِبَيي

َِل

َ فَ،

َِرَيي

َ ض

َ ةَ

َ م

َ ن

َ

َِللا

َ وَ،

َ للا

ََ ع

َِلَيي

َ مَ

َ ح

َِك

َييَ م

ََ

﴿

60

َ

Artinya: “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, Para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Ayat tersebut menjelaskan bahwa orang-orang yang berhak menerima zakat terbagi menjadi delapan golongan. Yang mana, apabila tidak termasuk kedalam golongan tersebut, tidak berhak untuk menerima zakat.

1. Fakir.

Merupakan orang yang tidak memiliki harta ataupun usaha iyang memadai, sehingga sebagian besar kebutuhannya tidak dapat dipenuhinya.48

2. Miskin.

Adalah orang-orang yang tidak dapat mencukupi hidupnya, meskipun ia memiliki pekerjaan atau usaha tetap, tetapi hasil usahanya belum mencukupi kebutuhannya dan orang yang menanggungnya tidak ada.49

3. Amil Zakat.

Adalah orang-orang yang ditugaskan oleh pemerintah atau imam untuk memungut zakat dari pewajib zakat, memelihara dan kemudian mendistribusikannya kepada orang yang berhak menerimanya.50

48 Lahmuddin Nasution, Fiqh 1. (T.t, t.tp, t.th) h. 175.

49 Elsi Kartika Sari, Pengantar Hukum zakat dan Wakaf, h. 37.

50 Rahman Ritonga. Zainuddin, Fiqh Ibadah (Jakarta: Gaya Media pratama, 1997), h.

(43)

27

4. Muallaf.

Adalah orang-orang yang dijinakkan hatinya untuk tetap berada dalam Islam. Maksudnya adalah orang-orang yang baru masuk Islam dan memerlukan masa pemantapan dalam agama barunya dan untuk itu memerlukan biaya.51

5. Riqab (Budak).

Riqab merupakan bentuk jamak dari riqabah yang mengacu kepada para budak atau hamba sahaya. Zakat tersebut dapat diberikan secara langsung ataupun kepada majikannya, dengan imbalan bahwa budak tersebut akan dimerdekakan.52

6. Gharimin (orang yang berhutang).

Adalah orang-orang yang terlilit hutang. Dan ia tidak dapat keluar dari lilitan hutangnya, kecuali dengan bantuan zakat.53

7. Fiisabilillah.

Sabil berarti jalan. Sabilillah adalah orang-orang yang berjuang dijalan Allah SWT, namun pada saat sekarang ini konteks fisabilillah tidak hanya dalam peperangan saja namun juga meliputi upaya yang lebih luas seperti dakwah, badan penggunaan sarana apapun dalam upaya demi tegaknya agama Allah SWT.54

Menurut jumhur ulama, adalah membelanjakan dana zakat untuk orang-orang yang berperang dan petugas-petugas jaga perbatasan.55 8. Ibnu Sabil.

Kata Ibnu Sabil secara harfiah berarti anak jalanan. Namun yang dimaksud Ibnu Sabil disini adalah orang-orang yang kehabisan bekal

51 Amir Syarifuddin, Garis-Garis Besar Fiqh (Jakarta Timur: Prenada Media, 2003), h.

49.

52 Abd. Somad, Hukum Islam Penormaan Prinsip Syariah Dalam Hukum Indonesia edisi

revisi (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012), h. 408-409.

53 Hassan Saleh, Kajian Fiqh Nabawi dan Fiqh Kontemporer ( Jakarta: Rajawali Pers,

2008), h. 162.

54 Abd. Somad, Hukum Islam Penormaan Prinsip Syariah Dalam Hukum Indonesia edisi

revisi, h. 409.

55 Muhammad Abu Zahrah, Zakat dalam Perspektif Sosial (Jakarta: Pustaka Firdaus,

Figure

Tabel II Jumlah Penduduk Menurut Golongna Usia dan Jenis Kelamin  Tabel III Keadaan Penduduk Desa Mulyosari Menurut Mata Pencahariannya  Tabel IV Jumlah Penduduk Berdasarkan Pendidikan

Tabel II

Jumlah Penduduk Menurut Golongna Usia dan Jenis Kelamin Tabel III Keadaan Penduduk Desa Mulyosari Menurut Mata Pencahariannya Tabel IV Jumlah Penduduk Berdasarkan Pendidikan p.15
TABEL II

TABEL II

p.48
Tabel III

Tabel III

p.49

References

Related subjects :

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in